• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KEUNTUNGAN USAHA PENGOLAHAN UBI KAYU ABSTRACTS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS KEUNTUNGAN USAHA PENGOLAHAN UBI KAYU ABSTRACTS"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

105

ANALISIS KEUNTUNGAN USAHA PENGOLAHAN UBI KAYU Regia Indah Kemala Sari1) dan Mega Amelia Putri1)

ABSTRACTS

Payakumbuh is the center of the largest agro-industrial cassava in West Sumatra Province. Some cassava produced in Payakumbuh such as Keripik Sanjai, Sanjai Balado, Sanjai manis, Sanjai lidi, keripik talas, karak kaliang and ganepo. West Payakumbuh District is the most of cassava processing industry in Payakumbuh. Most cassava are processed into refined products such as karak kaliang. This study aimed to analyze the profitability of cassava processing where located in the District of West Payakumbuh Payakumbuh City. The choice of location research done intentionally (purposive). The data in this study consisted of primary data and secondary data. The data analysis by quantitative descriptive analysis. The results showed the level of profitability of cassava processing in the District of West Payakumbuh for one production amounted to Rp 2,385,833, - while the level of efficiency of cassava processing businesses acquired R/C of 2.39 so that the business is feasible to be developed.

Keywords: cassava, profit, business

PENDAHULUAN

Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi negara terutama negara yang bercorak agraris seperti Indonesia. Salah satu upaya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, mengurangi pengangguran dan memperbaiki pembagian pendapatan masyarakat dapat ditempuh dengan pengembangkan agroindustri.

Agroindustri merupakan industri yang mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi produk yang mempunyai nilai tambah yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat (Soekartawi, 2001). Berbeda dengan industri lain, agroindustri tidak harus mengimpor sebagian besar bahan bakunya dari luarnegeri melainkan telah tersedia banyak di dalam negeri. Dengan

mengembangkan agroindustri secara tidak langsung dapat membantu meningkatkan perekonomian para petani sebagai penyedia bahan baku untuk industri.

Salah satu usaha industri kecil yang berkembang di Indonesia adalah di bidang pangan. Pengembangan industri pengolahan pangan di Indonesia didukung oleh sumberdaya alam pertanian baik nabati maupun hewani yang mampu menghasilkan berbagai produk olahan yang dapat dibuat dan dikembangkan dari sumber daya alam lokal atau daerah.

Ubi kayu sudah dijadikan sebagai salah satu komoditas agroindustri. Ubi kayu dalam keadaan segar tidak tahan lama dan harganya rendah, namun jika dilakukan pengolahan lebih lanjut dan dikelola secara maksimal maka ubi kayu dapat memberikan nilai ekonomis yang lebih besar sehingga memberikan 1) Staf Pengajar Budidaya Tanaman Pangan

(2)

106 keuntungan yang cukup besar bagi petani dan masyarakat.

Daerah Payakumbuh memiliki potensi besar dalam pengembangan agroindustri ubi kayu. Data BPS Payakumbuh tahun 2015 menunjukkan bahwa selama tahun 2014 total produksi ubi kayu di propinsi Sumatera Barat mencapai 217,9 ribu ton dengan daerah sentra utama produksinya (33,60%) yaitu Kabupaten Limapuluh Kota (73,2 ribu ton). Lebih lanjut diungkapkan selama tahun 2012 sampai 2014, rata-rata pertumbuhan produksi ubi kayu meningkat sebesar 14,29 persen per tahun.

Kecamatan Payakumbuh Barat merupakan pusat industri pengolahan ubi kayu di Kota Payakumbuh. Hal ini dapat terlihat dari total produksi ubi kayu di Kecamatan Payakumbuh Barat selama tahun 2014 mencapai 36,65 persen dari total produksi ubi kayu di Kota Payakumbuh (14 ribu ton) (BPS Kota Payakumbuh, 2015). Selain itu, dari total produsen produk olahan yang ada di Kota Payakumbuh sebanyak 89 persen terletak di Kecamatan Payakumbuh Barat.

Berdasarkan hasil survey awal diketahui bahwa di Kota Payakumbuh terdapat 16 usaha pengolahan ubi kayu dengan rata-rata jumlah tenaga kerja pada masing-masing usaha adalah 15 orang. Beberapa olahan ubi kayu yang dihasilkan antara lain keripik sanjai, sanjai balado, sanjai manis, sanjai lidi, keripik talas, karak kaliang, ganepo dan lainnya.

Sebagian besar (50%) pelaku usaha pengolahan ubi kayu di Kota Payakumbuh melakukan proses pengolahan ubi kayu menjadi produk olahan berupa karak kaliang. Karak kaliang merupakan salah satu makanan khas Sumatera Barat yang

terbuat dari ubi kayu yang dihaluskan dengan campuran bumbu seperti bawang putih, garam dan merica.

Usaha pengolahan ubi kayu di Kota Payakumbuh meski masih dalam skala kecil namun keberadaannya telah mampu menyerap tenaga kerja. Adapun tujuan keseluruhan aktifitas dari suatu usaha adalah untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian agar keberlangsungan usaha kecil tetap terjaga maka analisis keuntungan perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keuntungan usaha pengolahan ubi kayu di Kota Payakumbuh.

METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa daerah ini merupakan sentra produsen olahan pangan ubi kayu terbesar di Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian populasi. Arikunto (2010) menyatakan jika subjek penelitian sedikit maka seluruh subjek dijadikan sampel dan penelitian menjadi penelitian populasi. Responden pada penelitian ini adalah produsen yang mengolah ubi kayu menjadi karak kaliang di Kota Payakumbuh. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data di analisis secara deskriptif kuantitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Karakteristik responden akan membantu menggambarkan kondisi usaha yang dijalankan oleh produsen yang

(3)

107 memanfaatkan bahan baku utama ubi kayu sebagai bahan olahan produk pangan. Responden yang diambil sebanyak 14 orang yang beralamat di Kecamatan Payakumbuh Barat. Daerah ini dipilih dengan pertimbangan merupakan sentra

produksi ubi kayu di Kota Payakumbuh. Karakteristik responden diidentifikasi berdasarkan umur, pendidikan, lamanya usaha, jenis badan usaha serta jumlah tenaga kerja yang digunakan.

Tabel 1. Identitas Responden di Kota Payakumbuh, Tahun 2016

No. Keterangan Jumlah (Orang) Persentase (%) 1. Kelompok Umur (Tahun)

25-39 7 50,00 40-54 5 35,71 > 55 2 14,29 Jumlah 14 100,00 2. Tingkat Pendidikan SD 3 21,43 SMP 3 21,43 SMA 7 50,00 S1 1 7,14 Jumlah 14 100,00

3. Lama Usaha ( Tahun)

4-14 9 64,29

15-25 4 28,57

> 25 1 7,14

Jumlah 14 100,00

Tabel 1 menggambarkan persentase jumlah responden berdasarkan kelompok umur, tingkat pendidikan dan lamanya usaha. Sebagian besar (50%) pemilik usaha agroindustri ubi kayu ini berusia antara 25 sampai 39 tahun. Sedangkan 35,71 persen responden berada antara 40 sampai 54 tahun. Sisanya (14,29%) berada diusia 55 tahun ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi umur, pelaku usaha tergolong pada usia produktif dan mampu mengembangkan inovasi dan strategi pemasaran yang lebih agresif. Hal ini tentu saja perlu didukung dengan sumber daya manusianya, dari segi pendidikan sebagian besar (50%) menempuh pendidikan selama 12 tahun atau setara tingat SMA, dan sisanya masing-masing 21,43 persen menempuh pendidikan setingkat SD dan SMP.

Selain itu, hasil survey menunjukkan bahwa seluruh badan usaha yang dimiliki responden berbentuk perusahaan keluarga, dengan kata lain usaha ini sudah dirintis turun temurun dan menjadi suatu kebanggaan bagi penerus usaha untuk menjalankan dan mengembangkan usaha yang sudah ada. Walaupun demikian, ada juga kendala dan hambatan yang dihadapi pelaku, karena bentuk usaha yang didasarkan pada kekeluargaan. Maka, tidak jarang perbedaan pendapat dan cara pandang dalam menentukan suatu sikap terjadi. Oleh karena itu, diperlukan strategi khusus dalam menjalankan usaha yang berbadan usaha perusahaan keluarga sebagai contoh dalam pembagian hasil usaha, mengambil keputusan terkait rencana kedepan dan sebagainya.

(4)

108 Secara umum agroindustri pengolahan ubi kayu telah mampu menyerap tenaga kerja antara 3 sampai 45 orang. Besar kecilnya jumlah tenaga kerja tergantung pada skala usaha yang dijalankan. Upah yang diterima setiap pekerja juga beragam, sebagian besar responden memilih membayar upah pekerja dalam bentuk harian antara Rp 10.000 sampai Rp 40.000 per hari. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan aktifitas produksi yang dilakukan tidak konsisten. Kondisi saat liburan seperti hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, liburan sekolah dan liburan tanggal merah yang cukup panjang. Banyak masyarakat dari luar daerah seperti Medan, Riau, Jambi, Lampung bahkan dari Pulau Jawa berdatangan ke Sumatera Barat dengan berbagai tujuan daerah. Hal ini tentu saja berpengaruh terhadap tingkat produksi yang dihasilkan, akibat banyaknya permintaan dari pedagang oleh-oleh khas minang. Sehingga, perusahaan harus mampu memenuhi permintaan yang meningkat mencapai 60 sampai 100 persen. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan jumlah tenaga kerja,

sehingga upah harian dianggap lebih efektif dalam menentukan bayaran bagi pekerja. Namun, ada pula tenaga kerja tetap yang telah terikat kontrak dengan pemilik dan memiliki jasa berbeda dengan tenaga kerja lainnya. Sehingga bentuk upah yang dilakukan dalam bulanan sebesar Rp 1.200.000 sampai Rp 1.800.000, diluar bonus-bonus lain yang diberikan akibat banyaknya permintaan terhadap produk.

Aspek Produksi Agroindustri Ubi Kayu Aspek produksi menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan produk inti yang dihasilkan dengan menggunakan bahan baku utama yaitu ubi kayu. Beberapa hal yang akan dikaji seperti jenis produk, bahan dan alat yang digunakan, sumber perolehan bahan baku serta proses produksi yang dilakukan. Tabel 2 menunjukkan hasil survey terhadap 14 responden yang melakukan pengolahan produk dengan bahan baku utama ubi kayu.

Tabel 2. Data Responden Berdasarkan Jenis Produk Inti yang Diproduksi

Keterangan Jenis Produk Jumlah (Orang) Persentase (%)

Produk Inti 1. Kerupuk Sanjai 6 37,50

2. Karak Kaliang 8 50,00

3. Kerupuk Cancang 1 6,25

4. Sarang Balam 1 6,25

Jumlah 16 100,00

Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah pelaku yang melakukan usaha agroindustri ubi kayu sebanyak 16 orang. Hal ini disebabkan ada dua industri yang memproduksi sanjai dan karak kaliang sebagai produk inti usaha mereka. Hasil survey menunjukkan bahwa sebagian besar (50%) pelaku usaha melakukan proses pengolahan ubi kayu menjadi produk

karak kaliang, untuk produk kerupuk sanjai sebanyak 37,50 persen, sedangkan kerupuk cancang dan sarang balam masing-masing 6,25 persen. Berdasarkan hasil survey ini maka peneliti memilih produk inti olahan ubi kayu yaitu karak kaliang sebagai objek penelitian.

(5)

109 Proses Produksi Karak Kaliang

Proses produksi merupakan kegiatan inti yang dilakukan dalam suatu unit usaha. Kemampuan perusahaan dalam menentukan produk utama yang akan

diproduksi adalah hal penting yang akan menentukan tingkat biaya dan keuntungan yang akan diperoleh. Tabel 3 dan 4 akan diuraikan kebutuhan bahan dan alat untuk satu kali produksi atau satu adonan.

Tabel 3. Kebutuhan Bahan untuk Kegiatan Satu Kali Produksi

No. Bahan Satuan Kebutuhan Perbandingan

1. Tepung Ubi Kayu Kg/ hari 100-150 -

2. Minyak Kg/ hari 29 -

3. Garam Bungkus 14 300 kg tepung

4. Ajinomoto dan Masako Kg ½ 20 kg tepung

5. Kunyit Kg ½ 20 kg tepung

6. Pewarna Kuning - Secukupnya -

7. Air Bersih - Secukupnya -

Tabel 4. Kebutuhan Alat untuk Kegiatan Produksi

No. Alat Jumlah Kebutuhan Keterangan

1. Wadah adonan 2 buah Menampung adonan induk yang telah dimasak

Berbahan plastik 2. Kuali 2 buah Tempat membuat adonan induk dan

tempat penggorengan

Besi 3. Mesin pemarut 1 buah Memarut ubi sehingga menjadi tepung ubi Daya listrik 4. Mesin pengaduk adonan 1 buah Mengaduk adonan induk menjadi kalis Daya listrik 5. Nampan 5 buah Tempat karak kaliang yang sudah

dibentuk

Berbahan plastik 6. Talenan 5 buah Tempat memilin adonan Plastik

7. Sendok penggorengan 2 buah Alat untuk menggoreng Kayu dan besi 8. Peniris 2 buah Meniriskan karak kaliang yang sudah

matang

Besi

Penggunaan Peralatan

Kegiatan produksi yang efisien ditentukan juga oleh kemampuan perusahaan dalam melakukan perencanaan

penggunaan peralatan sesuai bahan baku yang digunakan. Tabel 5 menunjukkan biaya penyusutan peralatan pada produk karak kaliang di Kota Payakumbuh Tahun 2016.

Tabel 5. Penyusuatan Peralatan untuk produk Karak Kaliang, Tahun 2016 Jenis

Peralatan Juml Satuan

Harga Baru (Rp/@) Juml Biaya (Rp) Lama Pemakaian (Tahun) Harga Lama (Rp) Nilai Penyusutan (Rp/Thn) Mesin pemarut 1 unit 250.000 250.000 2,00 150.000 50.000 Mesin pengepres 1 unit 350.000 350.000 2,00 200.000 75.000

(6)

110 Lanjutan Tabel 5. Mesin pengaduk adonan 1 unit 375.000 375.000 2,00 200.000 87.500 Pisau 10 buah 20.000 200.000 2,00 10.000 5.000 Nampan 5 buah 25.000 125.000 2,00 15.000 5.000 Talenan 5 buah 30.000 150.000 2,00 15.000 7.500 Wajan 4 buah 250.000 1.000.000 2,00 150.000 50.000 Kompor 5 unit 200.000 1.000.000 2,00 100.000 50.000 Peniris 5 buah 15.000 75.000 2,00 5.000 5.000 Kemasan plastik 5 pak 35.000 175.000 0,42 30.000 12.000

Sealer Listrik 1 unit 165.000 165.000 3,00 100.000 21.667 Sendok

penggoreng 4 buah 35.000 140.000 2,00 20.000 7.500

Blender 1 unit 200.000 200.000 2,00 150.000 25.000

Jumlah 4.205.000 401.167

Sumber : Data primer diolah

I. Tahapan Pengolahan Adonan

Gambar 1. Tahapan Pengolahan Adonan Karak Kaliang Bahan utama : 20 Kg tepung ubi + 14 bungkus garam ditambah ¼ Kg ajinomoto (untuk setiap 20 Kg tepung ubi) + masako ¼ Kg (untuk setiap

20 Kg tepung ubi) + ½ Kg kunyit + air secukupnya. (diaduk rata)

Di masak dalam kuali hingga adonan kental – Dinginkan dalam wadah adonan (Adonan Induk Karak Kaliang)

Dimasukkan dalam mesin pengaduk adonan dengan ditambahkan sedikit demi sedikit tepung ubi hingga berbentuk agak kalis

Adonan induk yang agak kalis diambil sedikit dan ditambahkan dengan tepung ubi hingga adonan menjadi benar-benar kalis

Adonan kalis kemudian dipilin dengan talenan sebagai alas untuk memilin, dan dibentuk menjadi angka delapan, lalu diletakkan dan

(7)

111 II. Tahapan Penggorengan dan Pengemasan

 Karak kaliang mentah kemudian digoreng dan ditiriskan

 Karak kaliang yang sudah matang kemudian dikemas, dengan kemasan per Kg atau sesuai permintaan konsumen.

Biaya dalam Proses Produksi

Biaya dalam proses produksi terdiri atas biaya bahan baku utama, bahan baku

penolong dan biaya tenaga kerja. Secara rinci biaya produksi untuk satu kali proses produksi produk karak kaliang dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Biaya Produksi, Karak Kaliang dalam 1 Kali Proses Produksi, Tahun 2016 Jenis Pengeluaran Volume Satuan Harga

Satuan (Rp) Jumlah (Rp) % Bahan Baku

a. Tepung ubi kayu 100,00 Kg 7.000 700.000 53,31

b. Minyak goreng 29,00 Kg 9.000 261.000 19,88

c. Garam 14,00 Bungkus 8.000 112.000 8,53

d. Ajinomoto/ Masako 0,50 Kg 26.000 13.000 0,99

Jumlah 1.086.000

Bahan Baku Penolong

a. Kunyit 0,25 Kg 4.000 1.000 0,08

b. Pewarna Kuning 1,00 Bungkus 1.000 1.000 0,08

Jumlah 2.000

Biaya Tenaga Kerja

a. Tenaga kerja tetap 3,00 Org/hari 40.000 120.000 9,14 b. Tenaga kerja harian 3,00 Org/hari 35.000 105.000 8,00

Jumlah 225.000

Total Biaya 1.313.000 100,00

Sumber : Data primer diolah

Tabel 6 menunjukkan bahwa bahan baku utama dalam produksi karak kaliang terdiri atas tepung ubi kayu, minyak goreng, garam dan ajinomoto/ masako. Rata-rata biaya bahan baku utama yang dikeluarkan untuk satu kali proses produksi sebesar Rp 1.086.000. Sedangkan bahan baku penolong hanya Rp 2.000 yang terdiri atas kunyit dan pewarna kuning. Adapun biaya tenaga kerja dalam 1 kali produksi, minimal memerlukan 6 orang dengan kapasitas produksi sebesar 100 sampai 150 kg dengan rata-rata biaya sebesar Rp 225.000. Sehingga total biaya

yang dikeluarkan untuk satu kali produksi sebesar Rp 1.313.000.

Biaya produksi terbesar dikeluarkan untuk pembelian bahan baku utama yaitu tepung ubi kayu sebesar 53,31 persen dari total biaya yang dikeluarkan. Sebesar 29,55 persen dari total biaya produksi digunakan untuk pembelian minyak goreng dan bumbu-bumbu lainnya. Sedangkan biaya tenaga kerja minimal (6 orang) yang diperlukan untuk satu kali produksi sebesar 17,14 persen dari total biaya yang dikeluarkan. Kemampuan

(8)

112 perusahaan dalam mengelola bahan baku, serta memaksimalkan kinerja tenaga kerja akan mampu meningkatkan jumlah produksi dan berdampak pada tingkat keuntungan yang diharapkan.

Keuntungan Usaha

Setiap perusahaan dalam menjalankan bisnisnya selalu berharap akan memperoleh keuntungan yang tinggi. Hal ini tentu saja sesuai dengan besarnya pengorbanan (biaya) yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh. Secara sederhana, pendapatan merupakan jumlah uang yang diterima oleh perusahaan dari aktivitasnya. Pendapatan diperoleh dari total produksi yang dihasilkan dikalikan dengan harga produk. Sedangankan keuntungan merupakan pengurangan total pendapatan dengan total biaya yang dikeluarkan. Tabel 7 menunjukkan besarnya keuntungan yang diterima produk olahan ubi kayu menjadi karak kaliang yang diusahakan.

Tabel 7. Keuntungan Agroindustri Ubi Kayu Karak Kaliang dalam Satu Kali Proses Produksi, Tahun 2016

No. Keterangan Harga (Rp) 1. Pendapatan Agroindustri

Total Produksi (TR) 4.100.000 2 Biaya Agroindustri

a. Biaya bahan baku 1.086.000 b. Biaya penyusutan 401.167 c. Biaya bahan penolong 2.000 d. Biaya tenaga kerja 225.000 Total Biaya (TC) 1.714.167 3 Keuntungan (TR-TC) 2.385.833 Sumber : Data primer diolah

Hasil analisis tingkat keuntungan agroindustri ubi kayu untuk satu kali produksi produk karak kaliang sebesar Rp 2.385.833,-. Nilai ini diperoleh

berdasarkan tingkat pendapatan yang diperoleh dan total biaya yang dikeluarkan. Adapun pada perhitungan pendapatan di asumsikan dalam satu kali proses produksi, total produksi yang dihasilkan sebanyak 150 kg dengan tingkat harga rata-rata yang digunakan berasal dari hasil survey yang diperoleh. Harga rata-rata karak kaliang mencapai Rp. 27.333 per kg, sehingga diperoleh total pendapatan untuk karak kaliang sebesar Rp 4.100.000,-. Tabel 8. Efisiensi Usaha Karak Kaliang

dalam Satu Kali Proses Produksi, Tahun 2016

No. Keterangan Jumlah (Rp) 1. Penerimaan ( R ) 4.100.000 2. Total Biaya ( C ) 1.714.167 Eisiensi ( R/C ) 2,39 Sumber : Data primer diolah

Selanjutnya pada Tabel 8 dapat kita analisis efisiensi usaha agroindustri ubi kayu menjadi karak kaliang dengan menggunakan analsis perhitungan R/C Ratio, yaitu dengan membandingkan antara penerimaan dengan total biaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa agroindustri ubi kayu menjadi produk karak kaliang layak untuk diusahakan dengan tingkat R/C Ratio sebesar 2,39.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keuntungan usaha pengolahan ubi kayu di Kota Payakumbuh untuk satu kali produksi adalah sebesar Rp. 2.385.833,- dengan R/C 2,39

Saran

Diharapkan dengan adanya perkembangan informasi dan inovasi yang

(9)

113 cukup pesat, maka perusahaan dapat meningkatkan penerapan teknologi pengolahan ubi kayu di Kota Payakumbuh dengan teknologi yang lebih efektif dan efisien. Sehigga perusahaan mampu meningkatkan kapasitas produksi yang berdampak terhadap peningkatan keuntungan. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peran pemerintah kota, para peneliti dan praktisi untuk terus meningkatkan kesejahteraan masayarakat terutama untuk agroindustri ubi kayu di kota Payaumbuh.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. (Edisi Revisi). Rineka Cipta. Jakarta

BPS Kota Payakumbuh. 2016. Statistik Daerah Kota Payumbuh 2015. Merapi. Payakumbuh.

____________________. 2016. Statistik Daerah Kecamatan Payakumbuh Barat 2015. Merapi. Payakumbuh.

Soekartawi. 2001. Pengantar Agroindustri. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Tambunan et al. 1990. Pengembangan Agroindustri dan Tenaga Kerja Pedesaan di Indonesia dalam Diversifikasi Pertanian dalam Proses Mempercepat Laju Pembangunan Nasional. Pustaka Sinar Harapan. Indonesia.

Gambar

Gambar 1. Tahapan Pengolahan Adonan Karak Kaliang  Bahan utama : 20 Kg tepung ubi + 14 bungkus garam ditambah ¼ Kg  ajinomoto (untuk setiap 20 Kg tepung ubi) + masako ¼ Kg (untuk setiap

Referensi

Dokumen terkait

Pihak ketiga (pihak yang tidak memiliki hubungan hukum dalam pemberian hak tanggungan) dapat mengajukan permohonan sita jaminan ke Pengadilan atas objek tanah terperkara dengan

antara yang dilakukan dan perbuatan, 2) konsistensi orientasi, yakni adanya kesesuaian antara pandangan dalam satu hal dengan pandangannya dalam bidang yang lain,

Kata Kunci : Strategi Pembelajaran SAVI, dan Hasil Belajar Siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui. 1) hasil belajar siswa sebelum menggunakan strategi

Dengan menggunakan gabungan nama Simon Petrus, para pem- baca bisa terbantu, bahwa di antara ba- nyak nama Simon yang disebut dalam Kitab Suci, Simon Petruslah yang lebih memain-

Metode resitasi juga dapat membantu peserta didik untuk lebih menguasai materi pelajaran, karena hasil belajar peserta didik selalu dipersentasekan didepan kelas,

Selanjutnya dengan makin mendalami tokoh atau raja Singasari yang tercantum dalam Pararaton dengan mencari informasi dari sum- ber lain, siswa juga melakukan koroborasi.. Mereka

promosi pengecer yang dilaksanakan oleh Alfamart Moch. b) Untuk mengetahui gambaran ekuitas merek Alfamart di Bandung. menurut konsumen Alfamart Moch. c) Untuk