1 BAB I
PENDAHULUAN
Saat Perang Dingin berlangsung, konstelasi politik, serta hubungan internasional sangat didominasi oleh pengaruh realisme politik yang lebih menekankan pada masalah keamanan dan perang. Pasca Perang Dingin, segenap umat di penjuru dunia tentu saja ingin hidup dalam situasi yang lebih damai, harmonis, dan juga aman. Pada tahun 1989, Francis Fukuyama pernah menulis sebuah artikel berjudul the End of History? dalam jurnal the National Interest yang menjadi fenomenal. Ia berargumen, bahwa dengan berakhirnya Perang Dingin, maka dunia akan lebih damai karena meredanya konflik dan perang yang telah disebabkan oleh persaingan ideologi.1 Meskipun argumen tersebut menyebutkan konflik dan perang telah mereda, namun keresahan akan isu-isu keamanan non-tradisional semakin bergejolak di tengah kehidupan sosial masyarakat dunia, terutama yang berkaitan dengan kejahatan transnasional.
A. Latar Belakang
Mengemukanya isu-isu keamanan non-tradisional pasca Perang Dingin merupakan sebuah fenomena besar dalam sejarah hidup sosial manusia dunia, terutama masalah kejahatan transnasional. Konsep kejahatan transnasional pertama kali diperkenalkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1990-an, dalam sebuah pertemuan yang membahas tentang pencegahan aksi kejahatan. Di tahun 1995, PBB mengidentifikasi adanya beragam jenis kejahatan transnasional, antara lain, pencucian uang, aktifitas terorisme, pencurian benda-benda seni dan budaya, pencurian kekayaan intelektual, peredaran gelap senjata, pembajakan laut, pembajakan di tanah, penipuan asuransi, kejahatan komputer, kejahatan lingkungan, perdagangan manusia, perdagangan bagian tubuh manusia, perdagangan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba), kebangkrutan atas
2 penipuan, infiltrasi bisnis yang legal, korupsi dan suap pejabat publik, serta pelanggaran lainnya yang dilakukan terorganisir oleh kelompok kriminal.2
Perkembangan dan kemajuan teknologi, informasi, transportasi, serta inovasi-inovasi baru lainnya telah menciptakan borderless yang dijadikan kesempatan para pelaku kejahatan untuk melancarkan aksi demi keuntungan pribadi dan atau kelompoknya semata. Ironisnya, aktifitas kejahatan transnasional yang sudah eksis didukung juga oleh akuntan, ahli hukum, penasehat keuangan, bankir, ahli kimia, politisasi korup, hakim, pejabat pemerintah daerah, anggota militer, eksekutif muda, profesional, dan pengusaha.3
Merespon beragam hal tersebut, negara-negara di dunia semakin meningkatkan pengawasan dan kerja sama antar negara, tidak terkecuali negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam Association of Southeast
Asian Nations (ASEAN). ASEAN telah berdiri sejak tahun 1967, di tengah situasi
regional dan internasional yang dinamis. ASEAN dibentuk sebagai reaksi atas menyebarnya pengaruh bipolaritas Perang Dingin ke dalam kawasan, yang ditakuti oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan berpengaruh pada stabilitas keamanan di kawasan.4 Sejak akhir tahun 1997, kondisi ekonomi di beberapa negara ASEAN telah memperburuk situasi keamanan dalam kawasan ini, yang ditandai dengan semakin pesatnya aktifitas kejahatan transnasional. Melalui ASEAN Ministerial Meeting (AMM) ke-30, bulan Juli 1997, di Kuala Lumpur, telah diputuskan bahwa penanganan masalah kejahatan transnasional, seperti terorisme, perdagangan orang, perdagangan narkoba, perdagangan senjata, serta pembajakkan perlu ditingkatkan.
Berangkat dari beragam permasalahan tersebut, secara khusus, tesis ini akan membahas tentang masalah narkoba di kawasan Asia Tenggara. Masalah ini amat penting dan layak untuk diteliti karena hingga saat tesis ini ditulis, masalah narkoba di kawasan Asia Tenggara masih kerap terjadi. Masalah narkoba di kawasan ini disebut strange karena beragam upaya telah dilakukan untuk
2 Ninth United Nations Congress on The Prevention of Crime and The Treatment of
Offenders, Cairo, Egypt, 29 April-8 May 1995, p. 6-14.
3
Bambang Cipto, Hubungan Internasional di Asia Tenggara: Teropong Terhadap Dinamika, Kondisi Rill dan Masa Depan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, p. 224.
4 Citra Hennida, Rezim dan Organisasi Internasional: Interaksi Negara, Kedaulatan, dan
3 menanggulanginya, baik pada tingkat nasional, regional, maupun internasional, namun masalah ini masih tetap eksis hingga saat ini. Bersamaan dengan hal tersebut, kondisi penyalahgunaan narkoba semakin tidak bisa dibendung. Teridentifikasi bahwa penyalahguna narkoba di kawasan ini banyak merasuk pada kalangan anak muda usia produktif. Penggunaan narkoba tanpa pengawasan medis tentu akan sangat berpengaruh signifikan bagi kesehatan dan keselamatan manusia. Penggunaan narkoba dalam jangka panjang dapat menyebabkan organ tubuh manusia bisa tidak berfungsi dengan baik dan menimbulkan berbagai penyakit berbahaya yang sulit untuk disembuhkan, seperti kangker, paru, hepatitis, Human Immunodeficiency Virus Infection (HIV)/ Acquired Immune
Deficiency Syndrome (AIDS), penyakit jiwa, hingga berujung pada kematian.
Negara-negara ASEAN berada di wilayah geografis yang strategis, maka tidak mengherankan apabila wilayah ini sangat rentan terhadap aktifitas produksi, perdagangan, dan penyalahgunaan narkoba. Hal tersebut diperkuat dengan keberadaan “Segitiga Emas” atau the Golden Triangle, yakni imagine branding yang disematkan kepada Myanmar, Laos, dan Thailand sebagai negara-negara penghasil opium terbesar di kawasan Asia Tenggara, kedua setelah Afganistan. Pada tahun 1987, di Amerika Serikat, sebanyak 20 % heroin yang berasal dari the
Golden Triangle telah disita (sebagian besar lainnya, yakni 80 % berasal dari
mafia dan Corsican Gangs di Eropa).5 Di samping itu, data oleh United Nations
Office on Drugs and Crime (UNODC) menjelaskan bahwa antara tahun
1998-2009, produksi opium global meningkat hampir 80 % dan hampir semua produksi gelap dunia opium serta heroin terkonsentrasi di negara-negara, seperti Afghanistan, Asia Tenggara (kebanyakan di Myanmar) dan Amerika Latin (Meksiko dan Kolombia).6
Masalah narkoba di kawasan Asia Tenggara memilki pembahasan yang cukup luas, sehingga fokus dalam tesis ini akan dipersempit pada analisis terhadap efektifitas ASEAN Senior Officials on Drug Matters (ASOD) dalam mewujudkan
5 Peter Chalk, „Grey-Area Phenomena in Southeast Asia: Piracy, Drug Trafficking and
Political Terrorism,‟ Canberra Papers On Strategy And Defence, no. 123, Strategic and Defence Studies Centre, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University, 1997, p. 46.
6 Zhang Yong-an, Asia, International Drug Trafficking, and U.S.-China Counternarcotics
4
Drug-Free ASEAN 2015. ASOD adalah pilar utama bagi negara-negara anggota
ASEAN untuk menanggulangi masalah narkoba di kawasan Asia Tenggara. Secara resmi, ASOD dibentuk pada tahun 1984 di Jakarta, yang mulanya merupakan sebuah pertemuan rutin ASEAN Experts Group on the Prevention and
Control of Drug Abuse, sejak 1972, di bawah koordinasi Committee on Social Development (COSD) dan Narcotic Desk di Sekretariat ASEAN.7 Secara umum, mekanisme kerja ASOD yakni, membuat agenda, merencanakan proyek kerja sama yang terkait dengan penanggulangan masalah narkoba, menghasilkan rekomendasi-rekomendasi dari hasil working group yang diwadahi oleh ASOD.
Sementara, Drug-Free ASEAN 2015 merupakan kesepakatan negara-negara anggota ASEAN untuk menjadikan kawasan Asia Tenggara terbebas dari narkoba pada tahun 2015. Awal kesepakatan tersebut dimulai tahun 1998 di Manila, pada saat itu negara-negara ASEAN menetapkan deklarasi bersama, yakni
Join Declaration For a Drug-Free ASEAN untuk menjadikan kawasan Asia
Tenggara sebagai kawasan yang bebas dari narkoba tahun 2020 (Drug-Free
ASEAN 2020).8 Namun, pada tahun 2000, saat pertemuan AMM ke-33, di Bangkok, tercapai kesepakatan baru oleh para delegasi untuk mempercepat realisasi Drug-Free ASEAN dari tahun 2020 ke tahun 2015, yang dilatarbelakangi oleh meningkatnya perdagangan dan penyalahgunaan narkoba jenis
Amphetamine-Type Stimulants (ATS) di kawasan Asia Tenggara dan akan
memasuki integrasi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015. Pada saat berlangsungnya penyusunan tesis ini, pencapaian visi bersama
Drug-Free ASEAN 2015 sudah menunjukkan hasilnya. Berdasarkan informasi
serta fakta yang penulis telusuri dalam berbagai sumber memperlihatkan bahwa visi tersebut belum dapat terwujud. Hingga akhir tahun 2015 masalah narkoba masih kerap terjadi di kawasan Asia Tenggara. Seperti di Indonesia, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan bahwa pada tahun 2015, Indonesia merupakan negara dengan transaksi narkoba tertinggi di antara negara-negara
7 „Cooperation On Drugs And Narcotics Overview,‟ ASEAN (daring), October 12, 2012
dalam <http://asean.org/?static_post=cooperation-on-drugs-and-narcotics-overview>, diakses pada 18 Januari 2017.
8 „Join Declaration For A Drug-Free ASEAN,‟ ASEAN (daring),
< http://www.asean.org/communities/asean-political-security-community/item/joint-declaration-for-a-drug-free-asean >, diakses pada 12 Juni 2016.
5 ASEAN lainnya. Diketahui dari 100 % transaksi narkoba di wilayah ASEAN, 40 % berada di Indonesia.9 Di samping itu, selain tren perdagangan dan penyalahgunaan ATS, kini penemuan narkoba jenis New Psychoactive Substances (NPS) juga semakin marak terjadi di negara-negara ASEAN.
Dalam rangka mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015, negara-negara ASEAN semakin mempererat kerja sama melalui ASOD. Hal ini dapat diartikan bahwa kerja sama pada tingkat regional masih dianggap negara-negara ASEAN sebagai cara paling efektif untuk menanggulangi masalah narkoba yang berkaitan erat dengan agenda stabilitas keamanan dalam kawasan ini. Akan tetapi, fakta ketidakberhasilan dalam mewujudkan visi bersama tersebut membuat pentingnya pengkajian lebih mendalam terhadap efektifitas ASOD dalam mewujudkan
Drug-Free ASEAN 2015. Hal ini dilakukan agar penanganan masalah narkoba melalui
kerja sama yang dilakukan oleh lembaga ASEAN di masa yang akan datang dapat lebih ditingkatkan.
B. Pertanyaan Penelitian
Dinamika kehidupan sosial pada abad 21 sangat dipengaruhi oleh kehadiran globalisasi dengan seklumit permasalahan di dalamnya. Memasuki dunia yang ultra kompetitif beragam masalah keamanan, terutama yang berkaitan dengan kejahatan transnasional mulai bermunculan dan cukup menyita perhatian beragam kalangan, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Masalah narkoba merupakan salah satu isu yang termasuk dalam kategori kejahatan transnasional. Keuntungan yang diperoleh dari aktifitas ini sangat besar dan menggiurkan, namun nyawa adalah taruhannya.
Kawasan Asia Tenggara berada dalam kondisi geografis yang strategis dan sangat berpotensi sebagai jalur transit sekaligus wilayah penghasil narkoba, terutama opium. The Golden Triangle merupakan bukti bahwa wilayah ini sangat lekat dengan masalah narkoba yang terus diperangi negara-negara di dunia, tidak terkecuali negara ASEAN. Sejak tahun 2000, melalui ASOD,
9 R. Prayoga, „BNN: Transaksi Narkoba Indonesia Tertinggi se-ASEAN,‟ Antara News
(daring), 16 Januari 2015, dalam < http://www.antaranews.com/berita/474528/bnn-transaksi-narkoba-indonesia-tertinggi-se-asean>, diakses pada 24 Januari 2017.
6 negara ASEAN berkomitmen untuk saling kerja sama dalam mewujudkan
Drug-Free ASEAN 2015. Namun realitanya hingga akhir tahun 2015, masalah narkoba
masih kerap terjadi di negara-negara ASEAN. Oleh sebab itu, dalam tesis ini penulis mengajukan pertanyaan, yakni mengapa ASOD tidak efektif dalam mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015?
C. Batasan Penelitian
Jangkauan penelitian sangat penting untuk dibatasi dalam penulisan tesis ini. Hal ini penting agar penelitian ini menjadi lebih fokus dan untuk menghindari perluasan permasalahan. Analisis yang akan dilakukan dalam tesis ini berfokus pada efektifitas ASOD dalam mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015. Rentan waktu yang diambil adalah antara tahun 2000 hingga tahun 2015. Penulis memilih batasan tahun 2000 karena merupakan tahun dimana pertemuan AMM ke-33 di Bangkok menghasilkan kesepakatan baru mengenai percepatan realisasi visi
Drug-Free ASEAN dari tahun 2020 ke tahun 2015. Tahun 2015 sebagai akhir dari
batasan penelitian mengingat target negara-negara ASEAN untuk mewujudkan visi tersebut adalah pada tahun 2015.
D. Studi Literatur
Masalah narkoba merupakan salah satu isu kejahatan transnasional yang sangat meresahkan bagi kehidupan sosial masyarakat dunia. Kemajuan pesat di bidang teknologi, krisis ekonomi, korupsi, iming-iming akan mendapat keuntungan besar, ditambah lagi drug traffickers yang semakin kreatif menggunakan metode atau teknik baru untuk dapat tetap memproduksi dan memperdagangkannya membuat masalah ini semakin sulit dibendung.
Masalah narkoba juga telah banyak mendapat perhatian kalangan akademisi, terutama minat kajian ilmu hubungan internasional. Tulisan Zhang Yong-an yang berjudul Asia, International Drug Trafficking, and U.S.-China
Counternarcotics Cooperation telah membahas tentang kerja sama antara Cina
7 Dalam tulisan tersebut Yong-an menerangkan bahwa kerja sama antara Cina dan Amerika Serikat secara khusus ditegakkan melalui penegak hukum yang ditandai dengan penandatanganan Mutual Legal Assistance Agreement (MLAA) pada bulan Juni 2000. Meskipun telah terjalin kerja sama di antara Cina dan Amerika Serikat melalui MLAA, namun dalam prosesnya masih didapati hal-hal yang membatasi kerja sama kedua negara, antara lain: (a) memberantas perdagangan dan peredaran narkoba bukan menjadi prioritas utama dalam hubungan Cina dan Amerika Serikat, (b) metode yang digunakan dalam aktifitas narkoba selalu berkembang dan sering kali membuat kedua negara harus tetap berjuang, (c) adanya rasa kurang percaya di antara kedua negara sehingga dapat menyebabkan kesenjangan dalam intelijen dan interaksi multi-level dalam penegakan hukum, dan (d) perbedaan sistem peradilan kedua negara sering kali menghambat proses hukum.10
Tulisan lain oleh Elvira Ferbrian Palimbongan berjudul “Upaya ASEAN Dalam Menanggulangi Perdagangan dan Peredaran Narkotika Ilegal di Kawasan Asia Tenggara” mengajukan sebuah pertanyaan, yakni bagaimana kebijakan ASEAN dalam menanggulangi perdagangan ilegal narkotika di kawasan Asia Tenggara dari tahun 2009 hingga 2012. Palimbongan memaparkan bahwa peran ASEAN dalam rangka menanggulangi perdagangan dan peredaran narkotika ilegal di kawasan Asia Tenggara adalah hanya sebagai fasilitator. Lebih lanjut, Palimbongan menjelaskan bahwa ASEAN mengajak negara-negara anggota untuk turut aktif dalam menanggulangi kejahatan transnasional perdagangan narkotika dan mendorong untuk melakukan kerja sama, baik di tingkat regional ASEAN, bilateral, dan internasional, seperti kerja sama dengan Cina, United Nation
International Drug Control Programme (UNDCP), United Nations Development Programme (UNDP), dan Uni Eropa yang telah memberi beberapa keuntungan,
seperti adanya pertukaran informasi dan keahlian (expertise) dalam hal manajemen pengelolaan permasalahan perdagangan narkotika ilegal.11
10
Yong-an, pp. 14-17.
11 Elvira Ferbrian Palimbongan, „Upaya ASEAN Dalam Menanggulangi Perdagangan dan
Peredaran Narkotika Ilegal di Kawasan Asia Tenggara,‟ eJurnal Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman, vol. 1, no. 3, 2013, pp. 862-865.
8 Di Universitas Gadjah Mada (UGM), sudah ada beberapa tulisan yang mengangkat isu yang terkait dengan narkoba, salah satunya tesis oleh Arifianto Rifki berjudul “Sekuritisasi Drug-Free ASEAN” dengan mengajukan dua pertanyaan penelitian, yakni: (a) bagaimana proses sekuritisasi Drug-Free ASEAN
2015 berlangsung di level regional dan nasional, dan (b) apa implikasi dari proses
sekuritisasi di level nasional terhadap proses sekuritisasi di level regional. Dalam tesis tersebut, Rifki memaparkan bahwa dalam proses sekuritisasi di level regional, ASEAN telah melakukan kerja sama melalui ASOD sebagai pilar utama untuk menangani masalah drugs trafficking. Namun, dalam implementasi kerja samanya terdapat beragam tantangan yang harus dihadapi oleh negara-negara ASEAN, antara lain kurangnya komitmen dari negara-negara ASEAN, permasalahan dana, faktor geografis ASEAN, penggunaan narkotika yang dilegalkan di beberapa negara kawasan Asia Tenggara, serta bisnis narkotika yang menguntungkan para pengedar. Sedangkan pada level nasional, pemerintah Indonesia sebagai selaku aktor sekuritisasi membentuk BNN dengan dibekali dasar hukum yang kuat berupa Undang-Undang untuk menangani permasalahan narkotika di Indonesia. Proses sekuritisasi di level nasional juga menemui hambatan, yakni masalah kecukupan anggaran. Pada akhirnya, proses sekuritisasi yang terjadi di Indonesia memberikan implikasi terhadap proses sekuritisasi di kawasan Asia Tenggara. BNN selaku speech act dalam proses sekuritisasi terus melakukan kerja sama penegak hukum dengan pemerintah di kawasan Asia Tenggara serta melakukan operasi dengan mitra internasional.12
Di samping itu, ada juga tesis oleh Olivia Arta Liza berjudul “Kerja sama Regional Untuk Menanggulangi Drugs Trafficking di Asia Tenggara (Studi Kasus Segitiga Emas)”, Liza mengajukan sebuah pertanyaan, yakni bagaimana Thailand, Myanmar, dan Laos yang berada dalam kawasan Segitiga Emas melakukan kerja sama regional dalam upaya mengatasi masalah drugs trafficking. Dalam pemaparannya tersebut Liza menjelaskan bahwa selain memberlakukan kebijakan dan Undang-Undang di dalam negeri, Segitiga Emas juga melakukan kerja sama regional. Kerja sama ini terjalin karena dua negara atau lebih memiliki kedekatan geografis dan memiliki kesamaan persepsi terkait dengan drugs trafficking.
12 Arifianto Rifki, Sekuritisasi Drug-Free ASEAN, tesis Universitas Gadjah Mada,
9 Implementasi kerja sama penanggulangan drugs trafficking di Segitiga Emas lebih difokuskan pada upaya pembasmian terhadap penanaman opium, ganja, dan produksi narkotika, serta mengadakan kegiatan pendidikan, pencegahan, penyembuhan dan rehabilitasi terhadap penyalahgunaan narkotika.
Dalam analisisnya, Liza menemukan beberapa kerja sama regional yang telah dilakukan Segitiga Emas, yakni: (a) program pembangunan alternatif yang merupakan upaya untuk mencegah dan memusnahkan penanaman tanaman-tanaman yang mengandung unsur narkotika melalui kebijakan pembangunan yang dirancang khusus dalam konteks pembangunan berkelanjutan, (b) Mekong Law
Enforment Cooperation adalah kerja sama yang ditandatangani oleh Segitiga
Emas dengan Cina. Kerja sama tersebut dilakukan melalui kegiatan, seperti pelatihan oleh ekspertis Cina bagi petugas asal Segitiga Emas dalam hal pengoprasian kapal patroli, dan bersama-sama menjaga keamanan dan stabilitas Sungai Mekong melalui patroli oleh polisi air serta mendirikan komando militer bersama di sana. (c) pendirian Border Liaison Office (BLO) yang mengurusi urusan perlintasan perbatasan dua negara atau lebih.13
Bertolak dari beragam tulisan yang telah mengangkat masalah narkoba tersebut, dalam tesis ini penulis akan mengangkat topik atau isu yang sama, yakni mengenai masalah narkoba. Akan tetapi, hal yang akan membedakan tesis ini dengan tulisan lainnya adalah penulis lebih berfokus pada analisis efektifitas ASOD itu sendiri, yang merupakan pilar sekaligus wadah kerja sama bagi negara-negara ASEAN dalam mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015. Analisis tersebut dilakukan dengan menggunakan konsep efektifitas rezim yang dikembangkan oleh seorang ilmuan politik di bidang analisis kebijakan dari Universitas Oslo, yakni Arild Underdal.
E. Kerangka Pemikiran
Teori dan konsep merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah penelitian ilmiah. Teori dan konsep dapat membantu penulis untuk melihat
13 Olivia Arta Liza, Kerja sama Regional Untuk Menanggulangi Drugs Trafficking Di Asia
Tenggara (Studi Kasus Segitiga Emas), tesis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2016, pp. 63-65.
10 fenomena-fenomena yang telah terjadi secara akademis dengan berfikir secara logis. Jerald Hage berargumen bahwa teori harus mengandung tidak hanya konsep-konsep dan pertanyaan-pertanyaan, akan tetapi juga defenisi-defenisi baik teoritis maupun operasional dan pertalian, konsep dan defenisi harus dituangkan ke dalam sejumlah istilah yang sederhana dan tegas serta pertanyaan dan pertalian harus dituangkan ke dalam dasar-dasar pemikirian dan persamaan-persamaan.14
Seperti yang telah penulis ungkapkan sebelumnya bahwa untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam tesis ini, penulis menggunakan konsep efektifitas rezim yang dikembangkan oleh Arild Underdal. Namun, sebelum membahas konsep tersebut lebih lanjut, terlebih dahulu akan penulis jelaskan mengenai definisi rezim internasional oleh beberapa akademisi internasional, seperti Stephen D. Krasner yang berargumen bahwa rezim internasional merupakan serangkaian prinsip, norma, peraturan, dan prosedur pembuatan keputusan, dimana ekspektasi dari para aktornya bertemu pada area tertentu dalam hubungan internasional.15 Di sisi lain, Jhon G. Ruggie berargumen bahwa xrezim internasional merupakan perilaku internasional yang terinstitusi, di mana negara pasti akan melakukan serangkaian kerja sama dan membuat peraturan sehingga rezim internasional tercipta.16 Sementara, Oran Young berargumen rezim internasional merupakan sebuah institusi sosial yang mengatur aksi kepada aktivitas-aktivitas spesifik tertentu yang beranggotakan aktor-aktor dalam sistem internasional.17 Di lain pihak, Robert Keohane berargumen rezim internasional merupakan contoh dari perilaku kerja sama dan merupakan upaya untuk memfasilitasi kerja sama, namun rezim internasional belum tentu sama dengan kerja sama karena bisa saja kerja sama tidak didasari oleh rezim-rezim internasional.18
Lebih lanjut, Keohane menjelaskan, apabila dilihat dari jenis institusi internasional tertentu terdapat perbedaan fundamental antara rezim dan organisasi internasional, yakni: (a) rezim tidak memiliki kapasitas untuk bertindak,
14 James A. Black & Dean J. Champion, Metode dan Masalah Penelitian, Refika Aditama,
Bandung, 1999, p. 49. 15 Hennida, pp. 3-4. 16 Hennida, p. 4. 17 Hennida, p. 5. 18 Hennida, p. 5.
11 sebaliknya organisasi internasional memiliki kapasitas untuk bereaksi dan bertindak atas situasi tertentu, (b) rezim membatasi pada isu-isu tertentu, sebaliknya isu-isu yang dibahas dalam sebuah organisasi internasional tidak selalu terbatas pada isu tertentu. Namun demikian, rezim tidak dapat berjalan tanpa dukungan dari organisasi internasional, seperi misalnya terkait dengan fungsi pengumpulan dan diseminasi informasi.19
Secara analitis, signifikansi rezim dapat dilihat dari dua hal, yaitu efektifitas dan daya tahan. Efektifitas mengandung arti kemampuan rezim dalam mengikat perilaku anggota dan mencapai tujuan yang diinginkannya. Sedangkan, daya tahan (kekuatan untuk bertahan) sebuah rezim dapat dilihat dari: (a) ada-tidaknya atau sering-ada-tidaknya terjadi perubahan isi “aturan” dalam rezim, dan (b) bertambah atau berkurangnya pendukung rezim, baik berupa entitas negara, badan-badan internasional maupun komunitas lainnya.20
Dalam melakukan analisis terhadap efektifitas sebuah rezim, Underdal melakukan pemilahan atas dua variabel, yakni: (a) variabel dependen (dependent
variable) yang merupakan efektifitas rezim itu sendiri, dan (b) variabel
independen (independent variable) yang terdiri dari tipe permasalahan dan kemampuan rezim untuk menguraikan serta menyelesaikan masalah yang ada di dalam rezim tersebut. Di samping itu, Underdal juga melakukan identifikasi pada
intervening variable atau yang biasa disebutnya sebagai tingkat kolaborasi (level of collaboration). Dalam hal ini, tingkat kolaborasi terbentuk dari
variabel-variabel independen yang memiliki pengaruh terhadap variabel-variabel dependen.21
Ketika akan menganalisis variabel dependen, ada tiga komponen penting yang dilihat, yakni: (a) keluaran (output) merupakan hal-hal yang berkaitan dengan pengorganisasian, program, serta aturan yang ditetapkan anggota untuk mengoprasionalkan ketentuan yang terdapat dalam rezim tersebut, hal ini berarti, hal-hal yang pada awalnya hanya berupa kesepakatan bisa diwujudkan dalam sebuah proses pembentukan yang dapat berwujud secara tertulis maupun tidak
19 Hennida, p. 7.
20 Andreas Hasenclever, et.al., Theories of Internasional Regimes, Cambridge University
Press, Cambridge, 1997, pp 9-10.
21 Arild Underdal, „One Question, Two Answer,‟ dalam Edward L. Miles et.al. (eds.),
Environmental Regime Effectiveness: Confronting Theory with Evidence, MIT Press, Cambridge, 2002, pp. 4-37.
12 tertulis, (b) hasil (outcome) merupakan perubahan perilaku pada suatu obyek yang terkena dampak dari ketentuan yang berlaku dalam rezim, baik berupa penghentian tindakan yang bisa dilakukan (sebelum ada rezim), maupun upaya dalam melakukan tindakan yang ditentukan dalam rezim (sebelumnya tidak dilakukan), (c) dampak (impact) merupakan hal-hal yang berkaitan dengan tingkat keberhasilan rezim dalam mengatasi masalah yang menjadi dasar dari pemikiran dalam pembentukan rezim, dari masa ini akan nampak apakah obyek akan mengikuti rezim yang diikuti atau tidak. Pengukuran terhadap efektifitas rezim
(dependent variable) juga dapat dibedakan menjadi dua kategori, yakni: (a)
membandingkan keadaan sebelum adanya rezim dengan keadaan sesudah rezim, (b) membandingkan keadaan yang ada sekarang dengan keadaan optimal yang seharusnya bisa dicapai dengan adanya rezim.
Untuk menganalisis variabel independen, hal pertama yang dilihat adalah tipe permasalahan, yakni: (a) permasalahan yang secara intelektual tergolong kompleks ataupun kurang dipahami, dan (b) permasalahan yang secara politik tergolong malign atau sebaliknya benign. Masalah yang muncul dalam sebuah rezim akan menjadi sangat rumit ketika masalah tersebut justru membuat anggota tidak mau bekerja sama, baik secara politis, maupun kesepahaman. Hal ini dikarenakan dalam situasi seperti ini akan sulit bagi anggota untuk mencapai titik temu.
Masalah malign memiliki tiga karakter, yakni: (a) incongruity berarti
ketidaksepahaman terjadi akibat tidak semua anggota rezim menganggap bahwa suatu masalah atau isu yang diangkat sebagai masalah darurat, (b) asymmetry berarti dalam rezim terdapat kepentingan nasional yang berbeda di antara anggota rezim, (c) cumulative cleavages berarti suatu kondisi dimana segala perbedaan yang ada di antara anggota rezim sudah berada pada tahap yang terakumulasi, sehingga dapat menimbulkan perpecahan di antara anggota. Sedangkan, masalah
benign memiliki tiga karakter, yakni: (a) coordination berarti masalah itu sendiri
mengarah pada koordinasi di antara anggota rezim, (b) symmetry berarti seluruh anggota rezim memiliki kepentingan nasional yang sama, (c) croos-cutting
13 satu sisi, belum tentu menang atau kalah di sisi lain. Secara rinci, karakteristik masalah malign dan benign dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Masalah Malign dan Benign
Kondisi Hubungan
Antar Aktor Malign Benign
Tipe Incongruity Coordination
Arah Asymmetry Symmetry
Bentuk cleavages Cumulative Cross-cutting
Sumber: Arild Underdal, „One Question, Two Answer,‟ dalam Edward L. Miles et.al. (eds.), Environmental Regime Effectiveness: Confronting Theory with Evidence, MIT Press, Cambridge, 2002, p. 21.
Pada analisis variabel independen kedua, Underdal memaparkan bahwa permasalahan yang terdapat dalam sebuah rezim dapat diatasi secara efektif apabila masalah tersebut ditangani oleh lembaga atau sistem yang memiliki kekuatan (power) yang kuat dan didukung dengan adanya ketrampilan (skill) dan energi (energy) yang memadai dari rezim tersebut. Apabila sebuah solusi dihasilkan melalui keputusan kolektif, maka problem-solving capacity bisa dipahami sebagai fungsi saling kait-mengait yang terdiri dari tiga unsur, yaitu: (a) aturan kelembagaan (institutional setting) yang terdapat dalam rezim, (b) distribusi kekuasaan (distribution of power) di antara aktor-aktor yang terlibat dalam masalah, (c) ketrampilan dan energi (skill and energy) yang tersedia bagi rezim untuk mencari solusi yang kooperatif.
Sementara, dalam melihat tingkat kolaborasi (level of collaboration) sebuah rezim, Underdal mengemukakan enam skala ukuran yang bisa dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Tingkat Kolaborasi
Skala Deskripsi
0 Terdapat gagasan bersama namun tidak ada tindakan bersama. 1 Terdapat koordinasi dalam bertindak atas dasar kesepahaman
14 2 Terdapat koordinasi dalam bertindak atas dasar aturan-aturan atau
standar-standar yang dirumuskan secara eksplisit, namun implementasi sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing pemerintah nasional. Tidak ada penilaian secara terpusat terhadap ukuran efektifitas yang digunakan.
3 Sama seperti level 2, namun di dalamnya termasuk penilaian secara terpusat.
4 Terdapat perencanaan yang terkoordinasi disertai implementasinya, namun sebatas hanya pada pemerintah nasional tertentu. Di dalamnya termasuk pula penilaian secara terpusat mengenai efektifitas yang diraih.
5 Terdapat koordinasi melalui perencanaan dan implementasi secara terintegrasi disertai penilaian secara terpusat tentang efektifitasnya.
Sumber: Arild Underdal, „One Question, Two Answer,‟ dalam Edward L. Miles et.al. (eds.), Environmental Regime Effectiveness: Confronting Theory with Evidence, MIT Press, Cambridge, 2002, p. 7.
Secara keseluruhan kerangka pemikiran Underdal mengenai efektifitas rezim tergambarkan dalam Bagan 1 di bawah ini.
Bagan 1. Efektifitas Rezim
Sumber : Arild Underdal, „One Question, Two Answer,‟ dalam Edward L. Miles et.al. (eds.), Environmental Regime Effectiveness: Confronting Theory with Evidence, MIT Press, Cambridge, 2002, p. 37. Problem Malignancy Incongruity Asymmetry Cumulative Clevages Problem-Solving Capacity Institutional setting Distribution of power
Skill and energy: instrumental leadership and epeistemic communities Level of Collaboration Regime effectiviness Behavioral change Technical optimum - - + + +
15 Bagan di atas menggambarkan bahwa permasalahan yang masuk dalam kategori malign akan berpengaruh negatif terhadap tingkat kolaborasi. Dalam hal ini, apabila tingkat kolaborasi tinggi, maka akan sangat berpengaruh positif pada pencapaian efektifitas rezim. Oleh karena itu, dengan sendirinya masalah yang tergolong malign akan berpengaruh negatif terhadap pencapaian efektifitas rezim. Di sisi lain, apabila permasalahan dalam rezim masuk dalam kategori benign, maka akan berpengaruh positif terhadap tingkat kolaborasi. Hal ini berarti, tingkat kolaborasi akan mendukung tercapainya efektifitas rezim, oleh sebab itu dengan sendirinya kemampuan mengatasi masalah juga akan berpengaruh positif terjadi efektifitas rezim. Namun demikian, apabila suatu rezim memilki tingkat kolaborasi yang tinggi tetapi masih memilki isu penting di dalamnya, maka dapat dikatakan rezim tersebut tidak efektif.
Penggunaan konsep efektifitas rezim yang dikembangkan Arild Underdal pada tesis ini menurut penulis relevan karena konsep ini menawarkan indikator-indikatior komprehensif untuk melihat efektifitas rezim yang secara langsung terefleksi pada penanggulangan masalah narkoba oleh negara-negara ASEAN, khususnya dalam rangka mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015 yang direpresentasikan dalam kerja sama ASOD. Seperti indikator kapasitas rezim dalam menyelesaikan masalah. Dalam hal ini, Underdal menjelaskan terdapat tiga hal utama yang harus dilihatuntuk mengetahui bagaimana kapasitas rezim dalam menyelesaikan masalah, yakni tatanan kelembagaan, distribusi kekuasaan, serta ketrampilan dan energi yang telah penulis paparkan sebelumnya.
Berkaitan dengan hal tersebut dan dikaitkan dengan kerja sama ASOD dalam rangka mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015, maka akan terlihat kesesuaian antara indikator-indikator yang ditawarkan Underdal dalam ASOD. Pada tatanan kelembagaan akan nampak bagaimana kerja sama menanggulangi masalah narkoba melalui ASOD melibatkan organisasi internasional dan institusi internasional. Lalu, berkaitan dengan distribusi kekuasaan, dalam kerja samanya negara-negara anggota ASOD akan selalu memegang teguh prinsip dasar ASEAN, terutama prinsip non-intervensi, serta akan mengutamakan musyawarah dalam penyelesaian konflik. Berkaitan dengan ketrampilan dan energi, akan
16 terlihat bagaimana epistemic community cukup memberikan pengaruh dalam pembuatan kebijakan ASOD.
F. Hipotesis
Hipotesis yang ingin dibuktikan dalam tesis ini adalah bahwa ASOD tidak efektif, sehingga ASOD tidak mampu mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015. ASOD yang memilki karakteristik tidak mengikat dan good governance berbeda pada masing-masing negara anggota cenderung membuat upaya dalam mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015 tidak maksimal. Hal ini dibuktikan meskipunASOD memiliki tipe permasalahan benign, serta kapasitas penyelesaian masalah dan tingkat kolaborasi tinggi. Namun, hingga akhir tahun 2015, masalah narkoba masih kerap terjadi di negara-negara anggota ASOD.
G. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis menggunakan konsep efektifitas rezim yang dikembangkan oleh Arild Underdal. Penelitian kualitatif merupakan studi literatur yang dibagi dalam tiga tahapan utama, yakni: (a) pengumpulan data, dalam hal ini akan ditetapkan batasan parameter data yang akan dikumpulkan dengan menyeleksi informasi yang penulis peroleh dari data sekunder dan primer. Pengumpulan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini akan menggunakan sumber-sumber referensi tertulis dalam bentuk cetak, seperti buku, jurnal, artikel dan juga dilengkapi dengan data tertulis dalam bentuk elektronik, seperti e-book dan website tentang hal-hal yang berkaitan dengan ASOD dan Drug-Free ASEAN 2015. (b) pengolahan data, dalam hal ini informasi yang telah diidentifikasi kesesuaiannya akan diklasifikasikan dalam kategori sekaligus dianalisis dengan konsep efektifitas rezim, (c) penulis akan membuat kesimpulan dari data yang telah dianalisis.
17 H. Sistematika Penulisan Tesis
Tesis yang penulis beri judul “Efektifitas ASEAN Senior Officials on
Drug Matters (ASOD) dalam mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015” akan
dibahas secara komprehensif melalui lima bab yang terstruktur dengan metode yang dikembangkan oleh Arild Underdal.
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini, akan dipaparkan mengenai latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, batasan penelitian, studi literatur, kerangka pemikiran, hipotesis, metode penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II : MASALAH NARKOBA DI KAWASAN ASIA TENGGARA
Pada bab ini, pembahasan akan berfokus pada masalah narkoba di kawasan Asia Tenggara. Pemaparan awal akan mengulas tentang gambaran umum masalah narkoba di kawasan Asia Tenggara. Ulasan berikutnya akan berbicara tentang perkembangan jenis narkoba yang marak beredar dan digunakan di kawasan Asia Tenggara. Selanjutnya, akan dibahas tentang sentral produksi dan perdagangan narkoba terbesar di kawasan Asia Tenggara. Lebih lanjut, akan disajikan ulasan tentang penyalahgunaan narkoba di kawasan Asia Tenggara. Pemaparan dalam bab ini akan ditutup dengan membahas dampak yang diakibatkan dari masalah narkoba bagi dimensi ekonomi, politik dan sosial di kawasan Asia Tenggara.
BAB III : RESPON NEGARA-NEGARA ASEAN TERHADAP MASALAH NARKOBA DI KAWASAN ASIA TENGARA
Pembahasan dalam bab ini akan difokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan respon negara-negara ASEAN terhadap masalah narkoba di kawasan Asia Tenggara. Untuk itu akan dibahas mengenai komunikasi politik dan hukum sebagai mekanisme yang digunakan negara-negara ASEAN terkait menanggulangi masalah narkoba di kawasan ini. Pembahasan selanjutnya akan berbicara mengenai kerja sama negara-negara ASEAN dalam menanggulangi masalah narkoba melalui ASOD. Pembahasan tersebut juga akan berbicara mengenai
18 kerangka kerja dan mekanisme kerja ASOD. Akhir pembahasan dalam bab ini akan ditutup dengan ulasan mengenai keterlibatan mitra wicara ASEAN dalam kerja sama ASOD menanggulangi masalah narkoba di Asia Tenggara.
BAB IV : EFEKTIFITAS ASOD DALAM MEWUJUDKAN DRUG-FREE
ASEAN 2015
Pada bab ini, pembahasan akan berfokus pada analisis efektifitas ASOD dalam mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015 yang diselaraskan dengan konsep efektifitas rezim Arild Underdal. Pertama-tama akan dilakukan analisis terhadap indikator tipe masalah dan kapasitas ASOD dalam mengatasi masalah. Setelah melakukan analisis terhadap kedua indikator tersebut, tahapan selanjutnya adalah melakukan pengukuran terhadap tingkat kolaborasi ASOD yang merupakan hasil dari hubungan saling kait-mengkait antara tipe masalah dan kapasitas ASOD dalam mengatasi masalah. Analisis awal terhadap ketiga indikator tersebut akan sangat berpengaruh pada efektifitas ASOD. Oleh sebab itu, analisis berikutnya akan melihat bagaimana perubahan perilaku negara-negara anggota dan hasil optimum yang dicapai ASOD dalam rangka mewujudkan Drug-Free ASEAN 2015. Keseluruhan hasil analisis pada bab ini lalu akan menuntun penulis kepada jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan dalam tesis ini. BAB V : KESIMPULAN
Pada bab ini, akan dibahas kesimpulan yang merupakan intisari dari keseluruhan pemaparan.