3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mucuna bracteata 2.1.1 Botani
Mucuna bracteata adalah jenis kacangan penutup tanah yang berasal dari
dataran tinggi Kerala India Selatan, dapat juga dijumpai di beberapa dataran tinggi Pulau Sumatera, seperti di sepanjang Bukit Barisan, di daerah Sipirok dengan nama daerah Biobio. Walaupun termasuk kedalam jenis kacangan penutup tanah baru, namun jenis kacangan ini sudah pernah dipelajari dan telah disusun sistem klasifikasinya menurut Germplasm Resources
Information Network Amerika (Harahap dkk, 2011).
Kingdom : Plantae
Division : Spermatophyta
Sub Division : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Sub Famili : Faboideae
Genus : Mucuna
Species : Mucuna bracteata
Selain Mucuna bracteata, jenis kacangan ini juga memiliki spesies lain dalam genus yang sama seperti Mucuna cochinchinensis yang sudah di kenal sebelumnya sebagai kacangan penutup tanah, Mucuna pruriens, Mucuna
macrocarpa, Mucuna hubery, Mucuna killipian, Mucuna gigantean, dan lain
sebagainya yang sampai saat ini masih belum di eksplorasi (Harahap dkk, 2011).
4 2.1.2 Morfologi
a. Akar
Mucuna bracteata memiliki sistem perakaran tunggang sebagai mana
kacangan lain, berwarna putih kecokelatan, tersebar di atas permukaan tanah dan dapat mencapai kedalaman 1 meter di bawah permukaan tanah. Tanaman ini juga memiliki bintil akar. Bintil akar ini berwarna merah muda segar dan relatif sangat banyak, berbentuk bulat dan berukuran diameter sangat bervariasi antara 0,2-2.0 cm (Harahap dkk, 2011).
b. Batang
Tumbuhan menjalar, merambat, membelit, atau memanjat, berwarna hijau muda sampai hijau kecoklatan. Batang ini memiliki diameter 0,4-1,5 cm berbentuk bulat berbuku dengan panjang buku 25-34 cm, teksturnya cukup lunak, mengandung banyak serat dan berair. Batang yang telah tua akan mengeluarkan bintil-bintil kecil berwarna putih yang bila bersinggungan dengan tanah akan berdiferensiasi menjadi akar baru (Harahap dkk, 2011).
c. Bunga
Bunga berbentuk tandan menyerupai rangkaian bunga anggur dengan panjang 20-35 cm, terdiri dari tangkai bunga 15-20 tangkai dengan 3 buah bunga setiap tangkainya. Bunga Monoceus ini berwarna biru terong, dengan bau yang sangat menyengat untuk menarik perhatian kumbang penyerbuk (Harahap dkk, 2011).
d. Biji
Dalam satu rangkaian bunga yang berhasil menjadi polong sebanyak 4-15 polong, tergantung dari umur tanaman dan lingkungan setempat termasuk perubahan musim. Polong yang berbulu ini memiliki 2-4 biji untuk setiap polongnya. Biji berwarna coklat tua sampai hitam mengkilap, dari 1 kg polong basah dapat menghasilkan 250 gram biji kering dengan berat 45 biji
5
kering/100 gram. Dari mulai munculnya bunga sampai polong siap dipanen dibutuhkan waktu sekitar 50-60 hari (Harahap dkk, 2011).
d. Daun
Helaian daun tanaman Mucuna bracteata berbentuk oval, satu tangkai daun terdiri dari 3 helain anak daun (trifoliat), berwarna hijau, muncul disetiap ruas batang. Ukuran daun dewasa dapat mencapai 15 x 10 cm. Helai daun akan menutup apabila suhu lingkungan tinggi (termonasti), sehingga sangat efisien dalam mengurangi penguapan di permukaan daun tanaman (Harahap dkk, 2011).
2.2 Syarat Tumbuh Mucuna bracteata
Mucuna bracteata merupakan kacangan yang cukup toleran terhadap semua
lokasi tumbuh, namun untuk tumbuh secara optimal kacangan ini juga memerlukan syarat tumbuh tertentu yang berkaitan dengan faktor iklim dan tanah (Harahap dkk, 2011).
2.2.1 Iklim
Dalam salah satu faktor utama yang mempengarui pertumbuhan dan produksi kacangan, namun setiap jenis kacangan juga memiliki respon yang berbeda-beda terhadap faktor iklim tersebut termasuk Mucuna bracteata. Oleh sebab itu pemilihan lokasi untuk penanaman kacangan ini terutama dengan tujuan untuk memproduksi biji harus sesuai dengan kondisi lingkungan yang dikehendaki oleh kacangan itu sendiri. Berikut merupakan komponen-komponen iklim yang dikehendaki oleh kacangan Mucuna bracteata.
a. Ketinggian Tempat
Mucuna bracteata jika di tanam di dataran rendah <1.000 mdpl tanaman akan
tumbuh jagur namun tidak dapat menghasilkan bunga. Jika ditanam di dataran tinggi >1.000 mdpl dapat menghasilkan bunga dan biji. Ketinggian tempat juga mempengaruhi unsur-unsur iklim lain seperti temperatur, curah hujan, dan kelembaban (Hidayat, 2011).
6 b. Temperatur
Mucuna bracteata merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat tumbuh di
daerah temperatur tinggi maupun rendah, namun untuk berbunga, Mucuna
bracteata menghendaki temperatur harian minimum 12°C dan maksimum
23°C. Jika suhu minimum di atas 18°C maka dapat mencegah atau memperlambat proses pembungaan, hal inilah yang menyebabkan kacangan
Mucuna bracteata yang di tanaman di dataran rendah tidak pernah
menghasilkan bunga (Pangaribuan, 2008).
c. Curah Hujan
Air merupakan suatu unsur yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman mulai dari perkecambahan sampai tanaman berproduksi. Namun agar proses pembentukan polong tidak terganggu sebaiknya Mucuna bracteata ditanam di lokasi yang cukup hujan 1000-2500 mm/tahun, dan 3-10 hari hujan/bulan (Pangaribuan, 2008).
d. Kelembaban
Mucuna bracteata tidak menyukai kelembaban udara yang terlalu tinggi. Jika
kelembaban udara terlalu tinggi, maka bunga-bunga yang telah terbentuk akan busuk, layu dan kering. Kelembaban udara yang dikehendaki oleh kacangan ini ialah <80% (Pangaribuan, 2008).
e. Lama Penyinaran Matahari
Kacangan penutup tanah ini termasuk ke dalam tanaman berhari pendek dan hanya membutuhkan 6-7 jam penyinaran matahari penuh untuk setiap harinya. Jika ditanam di daerah panas dengan penyinaran matahari panjang,
Mucuna bracteata dapat beradaptasi dengan baik untuk daerah tropis seperti
7 2.2.2 Tanah
Pada umumnya Mucuna bracteata dapat tumbuh baik pada semua tekstur tanah, yaitu tanah liat, liat berpasir, lempung berpasir atau tanah pasir. Tanaman ini juga dapat tumbuh pada kisaran pH yang cukup luas yaitu antara 4,5-6,5. Pertumbuhan Mucuna bracteata akan lebih baik jika ditanam di tanah yang kaya bahan organik, gembur, dapat menyimpan air, dan tidak tergenang air (Rahutomo, 2008).
2.3 Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)
Pertumbuhan tanaman ditentukan oleh jenis pupuk. Selain unsur hara, zat pengatur tumbuh (ZPT) juga diperlukan untuk memicu pembelahan sel yang selanjutnya berdiferensiasi membentuk jaringan meristem dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Zat pengatur tumbuh merupakan senyawa organik yang mengatur dan mengkoordinasi proses pertumbuhan dan perkembangan. ZPT biasanya aktif dalam konsentrasi kecil dan perkembangan dalam tanaman itu sendiri (endogenous). Selain itu, ZPT juga dapat meningkatkan aktivitas fisiologis tanaman, sehingga dapat mempertinggi efisiensi penggunaan energi surya dan unsur hara (Darwati dkk, 2016).
Aktivitas zat pengatur tumbuh di dalam pertumbuhan tergantung dari jenis, struktur kimia, konsentrasi, genotipe tanaman serta fase fisiologi tanaman. ZPT terdiri dari lima yaitu auksin yang mempunyai kemampuan dalam mendukung perpanjangan sel, giberelin dapat menstimulasi pembelahan sel, pemanjangan sel atau keduanya, sitokinin mendukung terjadinya pembelahan sel, ethilen berperan dalam proses pematangan buah, dan asam absisat (Yunita, 2011).
2.3.1 Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan ZPT
Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemakaian ZPT disebabkan oleh kedewasaan tanaman, lingkungan dan dosis. Penggunaan dosis yang tepat sangat penting. Kalau terlalu rendah pengaruhnya tak akan ada. Sebaliknya kalau berlebih, pertumbuhan tanaman justru terhambat atau
8
bahkan mati sama sekali (Sinaga, 2010). ZPT terdiri dari bahan alami dan bahan kimia. Berikut adalah beberapa bahan alami dan bahan kimia ZPT tersebut :
a. Bawang Merah (Allium cepa L. var. aggregatum)
Salah satu tumbuhan yang dianggap dapat digunakan sebagai zat pengatur tumbuh alami adalah bawang merah (Allium cepa L.) karena bawang merah memiliki kandungan hormon pertumbuhan berupa hormon auksin dan giberalin, sehingga dapat memacu pertumbuhan benih. Hormon giberalin akan menstimulasi pertumbuhan pada daun maupun pada batang (Marfirani, 2014).
b. Growtone
Growtone adalah ZPT campuran berupa bubuk warna putih yang siap pakai dan digunakan sebagai pasta yang di tempelkan pada bagian tanaman yang dirangsang pertumbuhan akarnya. Growtone merupakan salah satu bahan yang mengandung asam asetik naftalen atau naftalen asetik acid yang berperan dalam merangsang pembentukan akar dan tunas. Zat pengatur tumbuh berbentuk tepung yang dapat larut didalam air, berwarna abu-abu, cara aplikasinya sangat menentukan terhadap respon Growtone pada tanaman. Salah satu usaha yang dilakukan dalam aplikasi tersebut adalah dengan menentukan aplikasi yang tepat (Yentina, 2011).
Kelebihan Growtone adalah mudah diperoleh, harganya terjangkau dan yang paling penting sangat cocok digunakan pada berbagai macam stek tanaman dengan fungsinya yaitu merangsang pertumbuhan akar lebih cepat dan mengurangi resiko kematian stek (Jenny, 2015).
c. Air Kelapa (Cocos nucifera)
Pembudidayaan tanaman dengan cara stek memerlukan zat pengatur tumbuh untuk membantu laju pertumbuhan stek. Adapun bahan alami yang dapat digunakan sebagai pengganti zat pengatur tumbuh adalah air kelapa, karena
9
air kelapa mengandung zat hara dan pengatur tumbuhan yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman stek. Kandungan air kelapa yaitu hormon sitokinin (5,8 mg/l), auksin (0,07 mg/l), hormon giberelin dalam jumlah yang sedikit serta senyawa lainnya yang dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan tanaman (Karimah dkk, 2013).
Kandungan pada air kelapa yang sudah tua mengandung auksin 0,07 mg/l, sitokinin 5,8 mg/l. Sementara air kelapa muda memiliki kandungan lebih kecil daripada kelapa tua. Penggunaan air kelapa yang sudah tua sebenarnya dapat memacu pertumbuhan akar pada stek karena mengandung auksin (Marpaung dan Hutabarat, 2015).
2.4 Teknik Perbanyakan dengan Stek Batang
Mucuna bracteata dapat juga diperbanyak melalui stek batang. Prosedur
pembiakan dengan cara stek batang adalah bahan stek diambil dari tanaman di lapangan yang telah berumur 8-12 bulan, bahan stek diambil dari bagian tengah sulur tanaman, sehingga tidak terlalu tua/muda (diameter batang stek berkisar dari 4-6 mm) sebaiknya pada salah satu ruasnya sudah tumbuh bakal akar untuk mempercepat tumbuhnya bakal akar pada ruas, pengambilan stek dilakukan pada pagi hari agar stek tetap segar dan tidak layu oleh matahari, stek yang salah satu ruasnya telah mengandung bakal akar, selanjutnya ditanam di polibag kecil (ukuran 11 x 18 cm) berisi tanah lapisan atas yang telah dipersiapkan sebelumnya, daun dipotong sebagian dan kemudian disungkup menggunakan plastik putih, jika digunakan stek batang yang belum berakar, sebaiknya ujung potongan stek dicelupkan sebentar dalam larutan asam askorbat (50 mg/ liter air) untuk mencegah oksidasi jaringan akibat senyawa fenolat yang dikeluarkan di ujung potongan, setelah seluruh polibag di bedengan tertanami dengan stek, penyiraman kemudian dilakukan lagi sampai benar-benar tanah basah/jenuh (Siagian, 2012).