• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Hukum Sewa Beli Dalam Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan Studi Atas Sewa Beli Antara PT.PLN (Persero) Wilayah Sumbagut Dengan Karyawan Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kedudukan Hukum Sewa Beli Dalam Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan Studi Atas Sewa Beli Antara PT.PLN (Persero) Wilayah Sumbagut Dengan Karyawan Chapter III V"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

PROSES PERALIHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN YANG TELAH DILAKUKAN PT PLN (PERSERO) DENGAN KARYAWAN

MELALUI PERJANJIAN SEWA BELI

A. Proses Pengalihan Hak Atas Tanah

1. Hak Penguasaan Atas Tanah

Pengertian “Penguasaan” dapat dipakai dalam arti fisik, juga dalam arti

yuridis; juga beraspek privat dan beraspek publik. Penguasaan dalam arti yuridis

adalah penguasaan yang dilandasi hak, yang dilindungi oleh hukum dan pada

umumnya memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik

tanah yang dihaki. Ada penguasaan yuridis, yang biarpun memberi kewenangan

untuk menguasai tanah yang dihaki secara fisik, pada kenyataannya penguasaan

fisiknya dilakukan oleh pihak lain, misalnya yang memiliki tanah tidak

mempergunakan tanahnya sendiri akan tetapi disewakan kepada pihak lain.

Hak penguasaan atas tanah berisi serangkaian wewenang, kewajiban, dan atau

larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang dihaki.

Sesuatu yang boleh, wajib, atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak

penguasaan atau dilarang untuk diperbuat, yang merupakan isi hak penguasaan itulah

yang menjadi kriterium atau tolok ukur pembeda diantara hak-hak penguasaan atas

tanah yang diatur dalam Hukum Tanah.64

(2)

Pengaturan hak-hak penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah dibagi

menjadi 2, yaitu:65

a. Hak Penguasaan atas Tanah sebagai Lembaga Hukum. Hak penguasaan atas tanah ini belum dihubungkan dengan tanah dan orang atau badan hukum tertentu sebagai pemegang haknya. Ketentuan-ketentuan dalam Hak Penguasaan atas Tanah, adalah sebagai berikut:

1) Memberi nama pada hak penguasaan yang bersangkutan;

2) Menetapkan isinya, yaitu mengatur apa saja yang boleh, wajib, dan dilarang untuk diperbuat oleh pemegang hak nya serta jangka waktu penguasaannya;

3) Mengatur hal-hal mengenai subjeknya, siapa yang boleh menjadi pemegang haknya, dan syarat-syarat bagi penguasaannya;

4) Mengatur hal-hal mengenai tanahnya.

b. Hak atas tanah sebagai hubungan hukum yang konkret. Hak Penguasaan atas Tanah ini sudah dihubungkan dengan tanah tertentu sebagai objeknya dan orang atau badan hukum tertentu sebagai subjek atau pemegang haknya. Ketentuan-ketentuan dalam hak penguasaan atas tanah, adalah sebagai berikut:

1) Mengatur hal-hal mengenai penciptaannya menjadi suatu hubungan hukum yang konkret, dengan nama atau sebutan hak penguasaan atas tanah tertentu;

2) Mengatur hal-hal mengenai pembebanannya dengan hak-hak lain; 3) Mengatur hal-hal mengenai pemindahannya kepada pihak lain; 4) Mengatur hal-hal mengenai hapusnya;

5) Mengatur hal-hal mengenai pembuktiannya.

Dasar hukum ketentuan Hak-hak atas Tanah diatur dalam Pasal 4 ayat 1

UUPA, yaitu: “Atas dasar hak menguasai dari Negara atas tanah yang dimaksud

dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang

disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik

sendiri maupun bersama-sama dengan orangorang lain serta badan-badan hukum”.

Hak atas tanah bersumber dari hak menguasai dari Negara atas tanah dapat diberikan

kepada: Perseorangan, baik warga Negara Indonesia maupun warga Negara Asing,

(3)

sekelompok orang secara bersama-sama; dan Badan Hukum baik badan hukum privat

maupun badan hukum publik.

Menurut Soedikno Mertokusumo, wewenang yang dipunyai oleh Pemegang

Hak atas Tanah terhadap tanahnya dibagi menjadi 2, yaitu :66 a. Wewenang Umum.

Wewenang yang bersifat umum yaitu: pemegang hak atas tanah mempunyai wewenang untuk menggunakan tanahnya, termasuk juga tubuh bumi dan air dan ruang yang ada diatasnya sekadar diperlukan untuk kepentingan yang langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu dalam batas-batas menurut UUPA dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi (Pasal 4 ayat (2) UUPA).

c. Wewenang Khusus.

Wewenang yang bersifat khusus yaitu: pemegang hak atas tanah mempunyai wewenang untuk menggunakan tanahnya sesuai dengan macam hak atas tanahnya, misalnya wewenang pada tanah Hak Milik adalah dapat untuk kepentingan pertanian dan atau mendirikan bangunan, wewenang pada tanah Hak Guna Bangunan adalah menggunakan tanah hanya untuk mendirikan dan mempunyai bangunan diatas tanah yang bukan miliknya, wewenang pada tanah Hak Guna Usaha adalah menggunakan tanah hanya untuk kepentingan perusahaan di bidang pertanian, perikanan, peternakan, atau perkebunan.

2. Tata Cara Memperoleh Hak Atas Tanah

Dalam rangka memperoleh tanah harus diperhatikan mengenai Tata Cara

untuk memperoleh Tanah yang tersedia, yang bergantung pada :67 a. Status tanah yang tersedia.

Status tanah yang tersedia dapat dibedakan menjadi :

1) Tanah Negara.

66 Soedikno Mertokusumo, Hukum dan Politik Agraria, (Jakarta : Universitas Terbuka

Karunika, 1998), hlm 45.

67 Sunaryo Basuki, “Landasan Hukum Penguasaan dan Penggunaan Tanah”, Makalah,

(4)

Tanah Negara dapat berasal dari bekas tanah partikelir, bekas tanah hak

barat, bekas tanah hak maupun sejak semula merupakan tanah Negara

yang tidak ada hak pihak tertentu selain Negara. Tanah hak juga dikuasai

oleh Negara, tetapi penguasaannya tidak secara langsung, sebab ada

terdapat hak pihak-pihak tertentu di atasnya. Bila hak pihak-pihak tertentu

itu kemudian hapus, maka tanah itu menjadi tanah yang langsung dikuasai

oleh Negara. Tanah hak dapat menjadi tanah Negara karena hak yang ada

di atas tanah itu dicabut oleh yang berwenang, dilepaskan secara sukarela

oleh yang berhak, habis jangka waktunya dan karena pemegang hak

bukan subjek hak .68

Jika status tanah yang tersedia adalah tanah Negara, maka cara untuk

memperoleh tanah adalah melalui permohonan hak.

2) Tanah Ulayat.

Jika status tanah yang tersedia adalah tanah ulayat, maka cara untuk

memperoleh tanah adalah melalui pembebasan hak yang diikuti dengan

permohonan hak.

3) Tanah Hak Pengelolaan.

Jika status tanah yang tersedia adalah tanah hak pengelolaan, maka cara

untuk memperoleh tanah adalah melalui permohonan hak.

4) Tanah Hak Milik.

(5)

Jika status tanah yang tersedia adalah hak milik, maka cara untuk

memperoleh tanah melalui peralihan hak dan pembebasan hak. Pemilik

tanah hak milik juga dapat memberikan hak baru kepada pihak lain (hak

atas tanah sekunder).

5) Tanah hak lainnya yaitu HGU, HGB, dan hak pakai. Perolehan hak atas

tanah tersebut dapat dilakukan melalui peralihan hak.

b. Status dari para pihak.

Status para pihak dalam memperoleh hak atas tanah juga harus diperhatikan

sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam UUPA. Hak milik atas tanah

hanya dapat dimiliki oleh WNI. HGU dan HGB dapat diberikan kepada WNI

dan badan hukum Indonesia. Hak pakai dapat diberikan kepada WNI, WNA,

badan hukum Indonesia dan badan hukum asing. Jika syarat kepemilikan oleh

para pihak tersebut tidak terpenuhi, maka pihak tersebut tidak dapat

memperoleh tanah yang tidak sesuai dengan statusnya.

c. Ada atau tidaknya kesediaan dari pemilik tanah.

Jika tanah tersebut telah dimiliki oleh pihak tertentu, maka untuk memperoleh

tanah yang telah dimiliki oleh orang lain itu harus ada kesediaan dari pemilik

tanah untuk mengalihkan atau melepaskan hak yang dimilikinya. Jika pihak

yang memiliki hak atas tanah tidak bersedia untuk melepaskan hak atas

tanahnya maka perolehan hak atas tanah tidak dapat dilakukan, karena

penguasaan tanah berdasarkan hak dilindungi oleh hukum terhadap gangguan

(6)

sedangkan tanah tersebut diperlukan untuk penyelenggaraan kepentingan

umum dan tidak dapat dipindahkan ke tempat lain maka oleh pemerintah

sebagai pihak yang berwenang dapat melakukan pencabutan hak atas tanah

disertai dengan pemberian ganti rugi.

Dalam hukum tanah nasional terdapat berbagai cara untuk memperoleh

tanah yang diperlukan baik untuk keperluan pribadi maupun untuk keperluan

kegiatan usaha dan pembangunan. Adapun cara yang disediakan oleh hukum

tanah nasional untuk memperoleh tanah, yaitu :69 a. Permohonan hak atas tanah

Permohonan hak adalah: cara yang harus digunakan bagi perorangan,

yaitu orang sebagai individu atau badan hukum untuk memperoleh sesuatu

hak atas tanah Negara.

Tata cara untuk memperoleh hak atas tanah melalui permohonan hak atas

tanah digunakan untuk memperoleh hak atas tanah apabila yang tersedia

adalah tanah Negara atau tanah hak pengelolaan. Peraturan yang mengatur tata

cara tersebut adalah Peraturan Menteri Agraria / Kepala Badan Pertanahan

Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan

Hak atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan, yang mulai berlaku tanggal 24

Oktober 1999, sebagai pengganti dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor

5 Tahun 1973 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1977

tentang Tata Cara Permohonan dan Penyelesaian Pemberian Hak atas

(7)

Bagian Tanah Hak Pengelolaan serta Pendaftarannya. Pasal 2 Ayat (1) PMNA

/ Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999 menyatakan bahwa Permohonan hak atas

tanah dilakukan dalam rangka pemberian hak atas tanah yang primer, yaitu

pemberian hak atas tanah yang terdiri dari hak milik, HGU, HGB, hak pakai

dan hak pengelolaan.

Pasal 2 Ayat (2) PMNA / Kepala BPN Nomor 9 Tahun 1999 menyatakan

bahwa pemberian hak atas tanah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dapat

dilaksanakan dengan Keputusan pemberian hak secara individual atau kolektif

atau secara umum.

b. Pemberian hak baru

Yang dimaksud dengan hak baru adalah: hak atas tanah yang diberikan

oleh pemilik tanah kepada pihak lain atau hak atas tanah sekunder. Dari

berbagai jenis hak atas tanah yang ditetapkan dalam UUPA, hanya hak milik

yang dapat dibebani dengan hak baru. Dengan demikian sebidang tanah yang

dikuasai dengan hak milik dapat dipergunakan sendiri oleh pemiliknya

maupun dapat digunakan oleh pihak lain dengan dilandasi hak baru atau hak

atas tanah yang sekunder.

Hak-hak atas tanah sekunder yang diberikan di atas tanah hak milik yaitu

HGB sebagaimana diatur dalam Pasal 37 UUPA, hak pakai sebagaimana

diatur dalam Pasal 41 UUPA, hak sewa sesuai dengan Pasal 44 UUPA, hak

usaha bagi hasil sebagaimana diatur dalam Pasal 53 UUPA junctoUU Nomor

(8)

diatur dalam Pasal 53 UUPA juncto UU Nomor 56 Prp Tahun 1960 dan hak

menumpang.70

Dalam ketentuan yang diatur dalam PP Nomor 24 Tahun 1997, ditetapkan

bahwa HGB dan hak pakai atas tanah hak milik terjadi dengan pemberian oleh

pemegang hak milik dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta

Tanah (PPAT). Hak sekunder atas tanah berupa HGB dan hak pakai wajib

didaftarkan di Kantor Pertanahan sebagaimana diatur dalam Pasal 24 juncto

Pasal 44 PP Nomor 24 Tahun 1997. Pemberian hak sekunder tersebut dicatat

pada Buku Tanah dan sertipikat hak milik, serta kepada pemegang hak

sekunder (HGB atau Hak Pakai) dibuatkan Buku Tanah dan sertifikatnya.

c. Peralihak hak (pemberian hak baru)

Peralihan hak atau pemindahan hak adalah perbuatan hukum yang

tujuannya untuk memindahkan hak atas tanah kepada pihak lain (penerima

hak). Peralihan hak atas tanah dapat terjadi karena pewarisan tanpa wasiat dan

perbuatan hukum yaitu pemindahan hak.71 Yang dimaksud dengan Peralihan Hak karena pewarisan tanpa wasiat adalah peralihan hak atas tanah yang

terjadi dikarenakan seseorang yang mempunyai salah satu hak meninggal

dunia maka haknya itu dengan sendirinya menjadi hak ahli warisnya. Berbeda

dengan perbuatan hukum pemindahan hak dimana peralihan hak dilakukan

70Ibid., hlm. 55.

(9)

dengan sengaja supaya hak tersebut terlepas dari pemegangnya yang semula

dan menjadi hak pihak lain.72

Perbuatan hukum Peralihan Hak untuk memindahkan hak atas tanah yang

dimiliki kepada orang lain dapat dilakukan dengan cara:

1) Jual beli.

Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa

jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu

mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak

yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.

2) Pemasukkan dalam Perusahaan atau Inbreng.

3) Tukar-menukar.

Pasal 1541 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa

tukar-menukar ialah suatu perjanjian, dengan mana kedua belah pihak

mengikatkan dirinya untuk saling memberikan suatu barang secara

bertimbal-balik, sebagai gantinya suatu barang lain.

4) Hibah.

Pasal 1666 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa

hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, diwaktu

hidupnya, dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali,

menyerahkan sesuatu benda guna keperluan si penerima hibah yang

menerima penyerahan itu.

(10)

5) Hibah wasiat (legaat).

Hibah wasiat adalah suatu pemberian yang dinyatakan ketika yang

memberi itu masih hidup tetapi pelaksanaannya setelah yang memberi itu

meninggal dunia.73

Peralihan hak atas tanah melalui jual beli mengandung pengertian yaitu

perbuatan hukum pemindahan hak selama-lamanya dari si penjual kepada

pembeli dan pembayaran harga baik selurunya maupun sebagian dari pembeli

dilakukan dengan syarat terang dan tunai. Syarat terang berarti bahwa

perjanjian jual beli tersebut harus dilakukan dihadapan pejabat yang

berwenang membuat Akta Jual Belinya yaitu PPAT dan disaksikan oleh dua

orang saksi. Syarat tunai berarti adanya dua perbuatan yang dilakukan secara

bersamaan yaitu pemindahan hak dari si penjual kepada si pembeli dan

pembayaran harga baik sebagian maupun seluruhnya dari pembeli kepada

penjual. Pembayaran harga jual beli bisa dibayarkan seluruhnya maupun

sebagian.74

d. Pembebasan hak (pelepasan hak)

Pembebasan hak adalah: setiap perbuatan melepaskan hubungan hukum

yang semula, yang terdapat antara pemegang hak dengan tanahnya disertai

dengan pembayaran ganti kerugian kepada pemegang haknya atau yang

berhak atas tanah yang bersangkutan yang disepakati atas dasar musyawarah.

(11)

Pembebasan Hak pada dasarnya mengandung dua unsur, yaitu :75 1) Adanya kesediaan pemegang hak untuk melepaskan haknya.

2) Ganti kerugian yang diberikan kepada pemegang hak yang ditetapkan atas

dasar musyawarah.

Pembebasan Hak merupakan salah satu sarana bagi suatu badan hukum

untuk memperoleh tanah yang diperlukan, jika tanah yang tersedia berstatus

hak milik, karena badan hukum tidak boleh mempunyai hak milik dan jika

badan hukum tersebut membeli tanah hak milik, maka jual beli (peralihan

hak) batal demi hukum. Hak miliknya akan menjadi hapus dan tanahnya

menjadi tanah milik Negara, sedangkan harga yang telah dibayarkan kepada

penjual tidak dapat dituntut kembali sesuai dengan ketentuan Pasal 26 Ayat

(2) UUPA. Atas dasar ketentuan tersebut, agar badan hukum dapat

memperoleh tanah hak milik yang tersedia tanpa melanggar hukum, maka

disediakan tata cara memperoleh tanah melalui pembebasan hak.

e. Pencabutan hak

Pasal 18 UUPA menyatakan bahwa untuk kepentingan umum, termasuk

kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari dan untuk

Rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian

yang layak dan menurut cara yang diatur dengan UndangUndang. Pencabutan

Hak adalah: pengambilan tanah hak kepunyaan orang atau badan hukum oleh

pemerintah secara paksa, untuk penyelenggaraan kepentingan umum disertai

(12)

pemberian ganti kerugian yang layak kepada pemilik tanah. Dengan dilakukan

pencabutan hak atas tanah milik seseorang, maka tanah tersebut menjadi tanah

Negara.76

Pencabutan hak (Eminent domein atau Expropriation) merupakan suatu

upaya hukum terakhir dalam rangka memperoleh tanah yang diperlukan untuk

kepentingan umum, maupun kepentingan bersama bangsa dan Negara, ketika

melalui cara musyawarah dengan pemegang haknya tidak berhasil atau

mencapai kata sepakat, sedangkan Negara sangat memerlukan tanah tersebut

untuk menyelenggarakan kepentingan umum dan proyeknya tidak dapat

dibangun di lokasi lain, selain di atas bidang tanah yang bersangkutan.77 Pencabutan hak hanya dapat dilakukan oleh Presiden dengan menerbitkan

Keputusan Presiden yang berisi tentang pencabutan hak sekaligus menetapkan

bentuk dan besarnya jumlah ganti kerugian.

Pencabutan hak atas tanah dilakukan disertai dengan pemberian ganti

kerugian yang layak dan dilakukan menurut tata cara yang diatur dengan UU

Nomor 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak atas Tanah dan

Benda-Benda yang Ada Di atasnya jo. PP Nomor 39 Tahun 1973 tentang Acara

Penetapan Ganti Rugi oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan

Pencabutan Hak-Hak atas Tanah dan Benda -Benda yang Ada Di atasnya.

(13)

Pencabutan hak atas tanah tidak diperlukan persetujuan pemegang

haknya, artinya: keputusan pencabutan hak tidak dapat diganggu gugat. Tetapi

pemegang hak masih dapat menolak penggantian kerugian yang ditetapkan

oleh Presiden, yang dianggap kurang layak, dengan mengajukan banding pada

Pengadilan Tinggi selambat-lambatnya 30 hari sejak keputusan pencabutan

hak.78 Prosedur pencabutan hak dimulai dengan mengajukan permohonan kepada Presiden RI dengan perantara Menteri Dalam Negeri, melalui

Gubernur Kepala Daerah Provinsi. Presiden akan menerbitkan Keputusan

Pencabutan Hak yang setelah mendapat pertimbangan dari Gubernur Kepala

Daerah Provinsi, Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehakiman dan Menteri

yang bidangnya meliputi usaha atau proyek yang memerlukan tanah yang

diusulkan untuk pencabutan hak.

3. Peralihan Hak Atas Tanah Melalui Sewa Beli

Istilah perjanjian berasal dari bahasa Inggris yaitucontracts. Sedangkan dalam

bahasa Belanda disebut dengan overeenkomst. Pasal 1313 Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata menyatakan :

“Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih

mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.”

Batasan yang diberikan oleh Pasal 1313 KUH Perdata menurut Mariam Darus

Badrulzaman adalah tidak lengkap dan terlampau luas. Tidak lengkap karena yang

dirumuskan itu hanya mengenai perjanjian sepihak saja, dan dikatakan terlampau luas

(14)

karena dapat mencakup perbuatan di dalam lapangan hukum keluarga seperti janji

kawin yang merupakan perjanjian juga tapi sifatnya berbeda dengan perjanjian yang

diatur dalam KUHPerdata Buku III. Perjanjian yang diatur dalam KUHPerdata Buku

III kriterianya dapat dinilai secara materiil.79

Latar belakang timbulnya sewa beli pertama kali adalah untuk menampung

persoalan bagaimanakah caranya memberikan jalan keluar, apabila pihak penjual

menghadapi banyaknya permintaan untuk membeli barangnya, tetapi calon pembeli

tidak mampu membayar harga barang secara tunai. Pihak penjual bersedia menerima

harga barang itu dicicil atau diangsur, tetapi ia memerlukan jaminan bahwa

barangnya, sebelum harga dibayar lunas, tidak akan dijual lagi oleh pembeli.80

Disamping itu, yang menjadi latar belakang lahirnya kontrak sewa beli karena

adanya asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam pasal 1338 ayat (1)

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal ini memberikan kebebasan pada para

pihak untuk:

a. Membuat atau tidak membuat kontrak;

b. Mengadakan kontrak dengan siapapun;

c. Menentukan substansi kontrak, pelaksanaan, dan persyaratannya;

d. Menentuan bentuk kontrak, apakah lisan atau tertulis.

Keberadaan asas kebebasan berkontrak dalam pelaksanaan kontrak sewa beli

memberikan inspirasi bagi para pengusaha untuk mengembangkan bisnis dengan cara

sewa beli. Karena dengan menggunakan konstruksi jual beli semata-mata, maka

79Mariam Darus Badrulzaman,Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bhakti,

Bandung, 2001, Hlm 65

(15)

barang dari para pengusaha tidak akan laku. Ini disebabkan kondisi sosial ekonomi

masyarakat yang rendah dan tidak mempunyai banyak uang kontan.81

Para ahli berbeda pandangan mengenai tentang definisi atau pengertian sewa

beli, yang kemudian dibagi menjadi 3 macam definisi, yaitu :82

a. Definisi pertama, berpendapat bahwa sewa beli sama dengan jual beli angsuran;

Dalam Artikel 1576 h Buku VI NBW dikatan bahwahuurkopatau sewa beli

adalah:

“Jual beli dengan angsuran (op afbetaling) dimana para pihak sepakat, bahwa

barang yang dijual tidak langsung menjadi milik si pembeli dengan

penyerahan barangnya.”

Dalam definisi ini, sewa beli dikonstruksikan sebagai:

1) Jual beli dengan angsuran;

2) Objek beli sewa tidak langsung menjadi pemilik;

3) Pemilikan barang setelah pembayaran terakhir.

Pasal 1 huruf a Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor

34/KP/II/80 tentang Perizinan Beli Sewa, Jual Beli dengan Angsuran, dan Sewa,

menyebutkan mengenai pengertian sewa beli, yaitu:

“Jual beli barang dimana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan atas harga yang telah disepakati bersama dan diikat dalam suatu perjanjian, serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli setelah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual.”

81Salim H. S.,Perkembangan Hukum Kontrak Innominat Di Indonesia, 2008, Jakarta: Sinar

Grafika, Hlm. 128.

(16)

Unsur atau elemen perjanjian sewa beli menurut Keputusan Bersama tersebut

adalah:

1) Adanya jual beli barang;

2) Penjualan dengan memperhitungkan setiap pembayaran;

3) Objek beli sewa diserahkan kepada pembeli;

4) Momentum peralihan hak milik setelah pelunasan terakhir.

b. Definisi kedua, berpendapat bahwa sewa beli sama dengan sewa-menyewa;

Hire Purchase Act1965 mengonstruksikan sewa beli sebagai suatu :83

“Perjanjian sewa-menyewa dengan hak opsi dan si penyewa untuk membeli

brang yang disewanya.”

Sedangkan Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa sewa beli adalah :84 “Pokoknya persetujuan dinamakan sewa-menyewa barang, dengan akibat bahwa si penerima tidak menjadi pemilik, melainkan pemakai belaka. Baru kalau uang sewa telah dibayar, berjumlah sama dengan harga pembelian, si penyewa beralih menjadi pembeli, yaitu brangnya menjadi miliknya.”

c. Definisi ketiga, berpendapat bahwa sewa beli merupakan campuran jual beli dan sewa-menyewa.

Subekti berpendapat bahwa sewa beli adalah :85

“Sebenarnya suatu macam jual beli, setidak-tidaknya mendekati jual beli

daripada sewa-menyewa, meskipun ia merupakan campuran keduanya dan

kontraknya diberi judul sewa-menyewa.”

83Subekti, R.,Loc. Cit.

84Wirjono Prodjodikoro,Hukum Perdata Tentang Persetujuan Tertentu, 1981, Bandung:

Sumur, Hlm. 65.

85Subekti, R. dan R. Tjitrosudibio,Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, 1984, Jakarta:

(17)

Salim H. S. berpendapat bahwa sewa beli merupakan gabungan dari 2 macam

konstruksi hukum, yaitu konstruksi hukum sewa-menyewa dan jual beli. Apabila

barang yang dijadikan objek sewa beli tidak mampu dibayar oleh penyewa beli sesuai

kesepakatan, maka barang itu dapat ditarik oleh si penjual sewa. Akan tetapi, apabila

barang itu angsurannya telah lunas, maka barang itu menjadi objek jual beli. Maka

dari para pihak dapat mengurus balik nama objek sewa beli tersebut.86

Di Indonesia, yang menjadi landasan hukum perjanjian beli sewa adalah:

a. Yurisprudensi Mahkamah Agung tanggal 16 Desember 1957 dalam

perkara N. V.HandelsmaatschappijAuto (penggugat) melawan Yordan

(tergugat);

b. Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi Nomor 34/KP/II/80

tentang Perizinan Sewa BeIi (Hire Purchase), Jual Beli dengan Angsuran,

dan Sewa (Renting).

B. Penerapan Perjanjian Sewa Beli Di Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa perjanjian sewa beli merupakan

perjanjian yang tidak bernama (contract innominat). Sehingga selain Hukum kontrak

innominaat diatur dalam Buku III KUH Perdata. Di dalam Buku III KUH Perdata,

hanya ada satu pasal yang mengatur tentang kontrak innominaat, yaitu Pasal 1319

KUH Perdata berbunyi;87 “Semua perjanjian baik yang mempunyai nama khusus maupun yang tidak dikenal dengan nama tertentu tunduk pada peraturan umum yang

86Salim H. S.,Op. Cit, Hlm. 128.

87Salim H.S,Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat Di Indonesia, Sinar grafika Jakarta,

(18)

termuat dalam bab yang lalu”.88 Selain itu secara umum Pasal 1338 memberikan dasar yang sangat penting dalam mana para pihak membuat kontrak diluar yang

tertulis dalam KUHPerdata. Pasal 1338 KUHPerdata menegaskan bahwa “Semua

perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang

membuatnya”. Artinya, semua perjanjian mengikat bagi mereka yang membuatnya,

mempunyai hak yang oleh perjanjian itu diberikan kepadanya dan berkewajiban

melakukan hal-hal yang ditentukan dalam perjanjian. Setiap orang dapat mengadakan

perjanjian, asalkan memenuhi syarat yang ditetapkan dalam Pasal 1320 KUHPerdata.

Sehubungan dengan hal-hal yang telah dijelaskan di atas, intinya bahwa

kontrak atau perjanjianinnominaatmuncul karena adanya asas kebebasan berkontrak,

dimana asas kebebasan berkontrak membolehkan seseorang itu membuat perjanjian

diluar yang dicantumkan dalam KUHPerdata asalkan perjanjian tersebut tidak

melanggar syarat sahnya suatu perjanjian, asas-asas hukum perjanjian, serta tidak

boleh bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, kesusilaan dan

kepatutan. Ini hal-hal yang penting yang tidak boleh diabikan oleh setiap orang yang

yang hendak membuat perjanjian Innominaat. Jadi pada dasarnya perjanjian

innominaatsama dengan perjanjiannominaat. Kebebasan untuk membuat kontrak itu

dibatasi oleh undang-undang, ketertiban umum, kesusilaan dan kepatutan. Dengan

demikian asas-asas hukum kontrak innominaat pun mengikuti asas-asas yang

tercantum dalam Buku III KUH Perdata. jadi yang dimaksudkan di sini bahwa dasar

kontrakinnominaatyaitu asas kebebasan berkontrak dalam Pasal 1338 KUH Perdata.

(19)

Sebelum lebih jauh lagi menjelaskan mengenai penerapan perjanjian sewa

beli, terlebih dahulu penulis perlu menjelaskan mengenai latar belakang munculnya

perjanjian jual beli. Latar belakang timbulnya sewa beli pertama kali adalah untuk

menampung persoalan, yang dikarenakan kebanyakan para calon pembeli tidak

mampu membayar jumlah uang yang ditentukan secara tunai. Kesimpulan dari uraian

ini bahwa penyebab lahirnya kontrak sewa beli adalah pasaran barang industry

semakin menyempit, dan daya beli masyarakat kurang.89Selain itu yang menjadi latar belakang lahirnya kontrak sewa beli adalah karena adanya asas kebebasan berkontrak.

Berbagai kontrak sewa beli tidak ditentukan secara tegas tentang saat

terjadinya kontrak sewa beli. Namun, apabila kita mengkaji pasal 1320 KUHPerdata,

maka momentum terjadinya kontrak sewa beli adalah pada saat terjadinya

persesuaian kehendak antara penjual sewa dan pembeli sewa.90 Pada dasarnya tidak ada suatu peraturan yang mengharuskan perjanjian sewa beli dibuat dalam bentuk

tertulis.Perjanjian termasuk perjanjian sewa beli adalah bebas bentuk, sehingga dapat

berbentuk lisan maupun berbentuk tulisan (akta). Apabila bentuk perjanjian itu

tertulis, maka perjajian sewa beli tersebut terjadi saat ditandatanganinya kontrak

tersebut. Namun untuk mencegah terjadinya kemungkinan terburuk melakukan

perbuatan melawan hukum atau wanprestasi, sebaiknya dibuat secara tertulis. Namun

agar para pihak yang terlibat dalam perjanjian sewa beli itu merasa aman dari

(20)

penyelewengan atau penipuan, maka perjanjian sewa beli harus dituangkan dalam

bentuk tertulis, baik itu dengan akta notaris maupun akta dibawah tangan.

Semua perjanjian sewa beli, diterangkan bahwa peralihan hak kepemilikan

barang baru terjadi pada hari pembayaran sewa bulan terakhir atau apabila dilakukan

pelunasan harga barang sebelum waktu yang ditentukan berakhir. Selama harga

barang belum dibayar lunas, maka barang yang menjadi obyek perjanjian, misalnya

tanah dan bangunan, tetap berstatus barang sewa yang hak kepemilikannya dipegang

oleh PT PLN (Persero), walaupun semua surat-surat dan Bukti Pemilikan hak atas

tanah (sertipikat) adalah atas nama PT PLN (Persero), sehingga status karyawan

adalah penyewa, agar karyawan tidak dapat menjual atau memindahtangankan barang

tersebut dalam bentuk apapun kepada pihak lain, tetapi dalam perjanjian juga di

sebutkan hal yang dapat dikatakan berlawanan, yaitu pada saat bersamaan dengan

lunasnya pembayaran angsuran sewa beli seluruhnya, maka karyawan PT PLN

(Persero) akan menjadi pemilik. Klausula tersebut menunjukan adanya sikap

pengamanan(security)yang berlebihan dari PT PLN (Persero) terhadap kemungkinan

terjadinya peralihan hak. Dengan ditandatanganinya surat perjanjian oleh kedua

pihak, maka terjadilah perjanjian sewa beli. Jadi tidak memerlukan beberapa saksi,

pada umumnya surat perjanjian sewa beli tersebut cukup ditempeli dengan materai

minimal Rp.6000,- (enam ribu rupiah) agar kekuatan hukum lebih kuat.

Pada dasarnya penerapan perjanjian sewa beli di Indonesia dilakukan seperti

perjanian-perjanjian lain pada umumnya. Perjanjian sewa beli bukan seperti

(21)

gabungan dari keduanya yang diaplikasikan dengan cara para pihak melakukan hak

dan kewajiaban dalam perjanjian seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Biasanya

penerapan perjajian sewa beli di Indonesia contohnya misalnya A ingin membeli

sewa sebuah rumah kepada B, yaitu dengan cara membayar uang muka terlebih

dahulu, kemudian membayar angsuran/cicilan sampai lunas. Dengan membayar uang

muka hak milik atas rumah tersebut belum beralih, namun rumah tersebut sudah

dikuasai atau ditempati dan pembeli sewa wajib merawat memelihara rumah tersebut.

Dan ketika angsuran/cicilan lunas, maka barulah hak milik berali kepada Pembeli

sewa dengan penjual sewa menyerahkan bukti kepemilikan atas rumah tersebut.

Untuk itu sewa beli adalah suatu perjanjian campuran dimana terkandung unsur jual

beli dan perjanjian sewa menyewa. Dalam perjanjian sewa beli selama harga belum

dibayar lunas maka hak milik atas barang tetap berada pada si penjual sewa meski

barang sudah berada ditangan pembeli sewa. Hak milik baru beralih dari penjual sewa

kepada pembeli sewa, setelah pembeli sewa setelah membayar angsuran terakhir

untuk melunasi harga barang.91

C. Pengaturan Hukum Sewa Beli Rumas Dinas PT PLN (Persero)

1. Dasar Hukum Perjanjian Sewa Beli

Sebagaimana telah dikemukakan pada awal bab ini bahwa, perjanjian sewa

beli saat ini cukup berkembang dikalangan masyarakat luas, pada umumnya belum

diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan, sehingga banyak menimbulkan

berbagai ketidakpastian tentang lembaga sewa beli. Namun, perjanjian sewa beli ini

(22)

muncul sebagai kebiasaan dalam praktik perdagangan yang bersumber pada asas

kebebasan berkontrak (pasal 1338 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Perdata).

Di negara-negara tetangga kita, yang umumnya menganut sistem hukum

Anglo-Saxon, lembaga sewa beli ini juga disebut “hire purchase” dan sudah diatur

secara khusus di dalam undang-undang tersendiri. Contohnya, di Malaysia, diatur

dalam “Hire Purchase Act, 1976” dan di Singapura diatur dalam “Hire Purchase Act,

1969”.92

Karena Indonesia belum memiliki ketentuan yang merupakan pedoman dalam

mengatur lalu lintas perjanjian sewa beli, di samping terjadinya peningkatan akan

kebutuhan konsumsi masyarakat akan suatu barang maka, melalui pemerintah

dikeluarkan suatu Surat Keputusan yang antara lain mengatur perjanjian sewa beli di

Indonesia, melalui keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi nomor 34/KP/II/80

tentang Perizinan Kegiatan Sewa Beli (Hire Purchase), jual beli dengan angsuran,

dan sewa (renting). Karena belum ada ketentuan yang mengatur, seringkali di dalam

praktik masih ditemukan kesulitan. Misalnya, yang menyangkut obyek dari perjanjian

sewa beli, bagaimana pengaturan perjanjiannya, risikonya dan sebagainya.

Sudah tentu semuanya ini belum ada yang dapat mengaturnya di dalam suatu

ketentuan sehingga dalam praktik sering terdapat kesimpangsiuran. Penting untuk

dikemukakan pula dalam hal ini bahwa, surat keputusan yang dimaksudkan tersebut

pada prinsipnya belum mengatur secara terperinci mengenai sewa beli. Oleh karena

(23)

itu sampai sekarang dapatlah dipahami bahwa, ketentuan mengenai sewa beli belum

dapat menjamin kepastian hukum.

Dapatlah dikemukakan di sini beberapa hal yang telah diatur dalam Surat

Keputusan tersebut yang antara lain adalah:

Dalam pasal 1.a. dikemukakan definisi dari sewa beli, yaitu; ‘Sewa beli adalah

jual beli barang di mana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara

memperhitungkan setiap pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dengan pelunasan

atas harga yang telah disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian, serta

hak milik atas barang tersebut baru beralih dari penjual kepada pembeli setelah

jumlah harganya dibayar lunas oleh pembeli kepada penjual.”

Pasal 1.b. menyebutkan bahwa: “Jual beli dengan angsuran adalah jual beli

barang di mana penjual melaksanakan penjualan barang dengan cara menerima

pelunasan pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dalam beberapa kali angsuran

atas harga barang yang disepakati bersama dan yang diikat dalam suatu perjanjian

serta hak milik atas barang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli pada saat

barangnya diserahkan oleh penjual kepada pembeli.”

Pada pasal 1.b. tersebut, barangnya seketika diserahkan dalam miliknya si

pembeli, namun harganya boleh diangsur. Dengan demikian si pembeli seketika

sudah menjadi pemilik mutlak dari barangnya dan tinggallah ia mempunyai utang

kepada si penjual berupa harga atau sebagian dari harga yang belum dibayarnya,

(24)

Pada pasal 1.c. menyebutkan bahwa “Sewa (renting) adalah kegiatan dagang

di bidang sewa menyewa atas barang, di mana hak milik atas barang yang disewakan

tetap berada dalam pemilikan barang.”

Dari ketentuan pasal 1.a dan 1.b. dapat dilihat dua jenis perjanjian yang

hampir serupa namun, mempunyai perbedaan yang prinsipil, yakni dalam hal

peralihan hak atas obyek.

Kedua jenis perjanjian tersebut adalah “sewa beli” dan “jual beli dengan

angsuran.” Bila diamati dari ketentuan hukumnya maka secara jelas dapat dikatakan

bahwa, bagi pihak pembeli, jual beli dengan angsuran lebih menguntungkan oleh

karena itu dalam hal jual beli dengan angsuran, begitu telah terjadi kesepakatan yang

kemudian diikuti pembayaran uang muka dan barang diserahkan, saat itu pula hak

milik atas barang tersebut beralih. Jadi di sini peralihan hak milik ditandai dengan

penyerahan barang dari pihak penjual kepada pihak pembeli. Lain halnya pada sewa

beli, peralihan hak milik baru menjadi setelah angsuran terakhir dari harga barang

dilunasi oleh pembeli.

2. Dasar Hukum Sewa Beli Rumah Dinas PT PLN (Persero)

Pengaturan mekanisme yang berkaitan dengan rumah negara terdapat dalam

Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992

Tentang Perumahan Dan Pemukiman yang telah diganti dengan Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Pemukiman, Peraturan Pemerintah

Nomor 40 Tahun 1994 Tentang Rumah Negara, Keputusan Direksi PT PLN (Persero)

(25)

Menurut surat keputusan direksi PT PLN (Persero) tersebut banhwa penyediaan

rumah dinas di PT PLN (Persero) untuk mendukung efektifitas tugas-tugas

operasional di PT PLN (Persero), penyedian rumah dinas dilakukan dengan

memperhatikan hal-hal antara lain lokasi strategis, tingkat jabatan, ukuran luas tanah

dan bangunn yang disesuaikan dengan lokasi daerah. Persyaratan penjualan rumah

dinas dan/atau tanah kosong adalah

a. Rumah dinas telah ditetapkan dalam Keputusan Direksi dan telah dimiliki PT

PLN (Persero) sekurang-kurangnya 10 Tahun.

b. Penghuni sah atau calon pembeli rumah dinas telah memenuhi syarat :

1) Memegang surat ijin penempatan (SIP) atau ijin tertulis lainnya yang sah

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2) Telah bekerja pada PT PLN (Persero) sekurang-kurangnya selama 10

Tahun.

3) Belum pernah membeli rumah dari PT PLN (Persero)

4) Telah menempati rumah PT PLN berturut-turut selama 2 tahun.

c. Atas tanah milik PT PLN (Persero) yang sebelum diterbitkannya keputusan ini

telah dibangun oleh pemegang surat ijin memanfaatkan atau sejenisnya dapat

dijual kepada pemegang surat ijin memanfaatkan atau sejenisnya tersebut,

dengan memenuhi syarat :

1) Memegang surat ijin memanfaatkan atau sejenisnya atas tanah kosong.

2) Telah bekerja pada PT PLN (Persero) sekurang-kurangnya selama 10

(26)

3) Belum pernah membeli rumah atau tanah dari PT PLN (Persero).

4) Tahun perolehan tanah sekurang-kurangnya 15 tahun.

d. Pemindahantanganan atas tanah atau rumah dinas milik PT PLN (Persero)

sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mengikuti tata cara sebagaimana diatur

dalam Pasal 11 keputusan ini.

Dalam hal penjualan rumah dinas tidak dapat dilaksanakan, maka penjualan

rumah dinas dapat dilakukan dengan cara penawaran umum, penawaran terbatas, dan

penunjukan langsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Pengadaan,

Penetapan Status, Pengalihan Status, dan Pengalihan Hak atas Rumah Negara.

Disebutkan bahwa pengadaan rumah negara yang diperuntukan bagi perorangan

dapat dilakukan dengan cara pembangunan, pembelian, tukar menukar atau tukar

bangun, Pengadaan rumah negara ini harus sesuai dengan standar tipe dan klas rumah

negara, yaitu:

Tabel 1. Peruntukan rumah negara menurut Perpres No. 11 Tahun 2008

No Tipe dan Klas Peruntukan

1 Tipe Khusus

(luas bangunan 400m2 dan luas tanah 1000m2 )

Menteri, Kepala LPND,

(luas bangunan 250m2 dan luas tanah 600m2 )

Sekretaris Jendral,

(27)

(Luas bangunan 120 m2 dan luas tanah 350m2 ) Inspektur, Kepala pusat,

(luas bangunan 70m2 dan luas tanah 120m2 )

Kepala Sub Direktorat,

(luas bangunan 50m2 dan luas tanah 120m2)

Kepala Seksi, Kepala Sub

(luas bangunan 36m2 dan luas tanah 100m2)

Kepala Sub Seksi, Pejabat Setingkat atau PNS Golongan II/d ke bawah

Penjelasan tabel 1 diatas mengklasifikasikan rumah negara menurut golongan/

jabatan yang diterima. Tetapi di PT PLN (Persero) berpedoman kepada Keputusan

Direksi PT PLN (PERSERO) Nomor : 1234.K/DIR/2011. Dipertegas lagi oleh

Keputusan Direksi PLN No. 037.K/7850/DIR/1992 tanggal 11 April 1992 tentang

Kebijakan Perumahan Di lingkungan PLN. Dan penjualan rumah dinas yang

ditempati karyawan PT PLN (Persero) oleh PT PLN (Persero) diatur dalam surat

edaran direksi PT. PLN (Persero) Nomor : 002.E/7850/DIR/1995 Tentang Petunjuk

(28)

Dalam Surat Edaran Direksi PT. PLN (Persero) Nomor :

002.E/7850/DIR/1995 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penjualan Rumah Dinas

PT.PLN (Persero) tersebut mengatur tentang :

a. Persyaratan penjualan rumah dinas

b. Proses penjualan

c. Pemberian keringanan harga dan kompensasi

d. Laporan pelaksanaan penjualan

e. Penutup.

Adapun yang menjadi dasar hukum penjualan rumah negara secara sewa beli

adalah:

a. Undang-Undang Dasar 1945.

b. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

c. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria.

d. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan Dan Pemukiman

diganti dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan

Dan Pemukiman.

e. UU No. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.

f. PP Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah

g. PP. No. 40 tahun 1994 tentang Rumah Negara.

h. PP No. 31 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas PP No.40 Tahun 1994 tentang

(29)

i. Keppres No. 13 tahun 1974 tentang Perubahan dan Penetapan Status Rumah

Negara.

j. Keppres No. 40 tahun 1974 tentang Tata Cara Penjualan Rumah Negara.

k. Keppres No. 81 tahun 1982 tentang Perubahan Keppres No. 13 tahun 1974

tentang Perubahan Penetapan Status Rumah Negara.

l. Peraturan Presiden No. 11 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengadaan,

Penetapan Status dan Pengalihan Hak Atas Rumah Negara

m. Peraturan Menteri Keuangan No. 138/PMK.06/2010 tentang Pengelolaan

Barang Milik Negara (BMN) Berupa Rumah Negara.

n. Peraturan Menteri Agraria Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Ketentuan

Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang

(30)

BAB IV

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KARYAWAN DALAM PERALIHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN MILIK PT PLN (PERSERO) WILAYAH

SUMBAGUT MELALUI PERJANJIAN SEWA BELI

A. Hak-Hak Dan Kewajiban-Kewajiban Para Pihak

Berdasarkan isi perjanjian dari sewa beli rumah Negara yang dilakukan oleh

PT PLN (Persero) dengan karyawannya, terdapat hal-hal yang mengatur mengenai

hak dan kewajiban dari para pihak. Hal tersebut dapat terlihat dari penjelasan

dibawah ini, yaitu:

1. Hak Pihak Pertama (PT PLN (Persero))

a. Berhak menetapkan harga rumah dan ganti rugi atas tanahnya.

b. Berhak menerima pembayaran sejumlah uang dari pihak kedua.

c. Berhak memberi peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali apabila pihak

kedua tidak memenuhi kewajiban atau melakukan pelanggaran dalam

perjanjian.

d. Berhak menerima denda keterlambatan pembayaran dari pihak kedua.

e. Berhak dibebaskan dari segala tuntutan atas kemungkinan adanya cacat

tersembunyi pada rumah yang bersangkutan.

f. Berhak memutuskan perjanjian secara sepihak apabila pihak kedua tidak

mentaati peringatan terakhir dan melanggar ketentuan-ketentuan yang

(31)

g. Apabila perjanjian diputuskan karena pihak kedua tidak memenuhi

syarat-syarat perjanjian, maka pihak pertama berhak atas 10% (sepuluh

persen) dari pembayaran yang telah dilakukan oleh pihak kedua.

h. Berhak masuk kedalam rumah atau perkarangan yang menjadi objek

perjanjian untuk keperluan pemeriksaan dan pengawasan.

2. Kewajiban Pihak Pertama

a. Menyerahkan hak milik atas rumah negara kepada pihak kedua dengan

cara menerbitkan Surat Keputusan tentang penyerahan hak milik rumah

kepada pihak kedua.

b. Menerbitkan Surat Keputusan Pelepasan Hak Atas Tanah.

c. Apabila perjanjian dibatalkan, maka pihak pertama harus mengembalikan

kepada pihak kedua seluruh angsuran yang telah disetor setelah dikurangi

10% (sepuluh persen) dari jumlah yang disetor.

d. Pihak pertama wajib mengembalikan 50% (lima puluh persen) dari

jumlah angsuran yang telah dibayarkan oleh pihak kedua apabila dalam

masa sewa beli tersebut rumah dan tanahnya musnah atau rusak karena

sesuatu peristiwa yang terjadi diluar kemampuan kedua belah pihak.

3. Hak Pihak Kedua (Karyawan PT PLN (Persero))

a. Berhak menuntut penyerahan hak milik atas rumah kepada pihak pertama

(32)

b. Berhak menerima sisa dari jumlah angsuran yang telah dibayar setelah

dipotong 10% (sepuluh persen) jika perjanjian diputuskan oleh pihak

pertama karena pihak kedua telah melanggar perjanjian.

c. Berhak menerima pengembalian sebesar 50% (lima puluh persen) dari

jumlah angsuran yang telah dibayarkan, apabila objek perjanjian musnah

atau rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi akibat peristiwa diluar

kesalahan kedua belah pihak.

4. Kewajiban Pihak Kedua

a. Membayar angsuran pertama sebesar paling sedikit 5% (lima persen) dari

jumlah yang telah ditetapkan.

b. Membayar sisa angsuran sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam

jangka waktu paling cepat 60 (enam puluh) bulan dan paling lambat 240

(dua ratus empat puluh) bulan, selambat-lambatnya 10 (sepuluh) bulan

berikutnya.

c. Wajib memelihara rumah dan tanahnya dengan sebaik-baiknya selama

sewa beli belum berakhir.

d. Wajib membayar denda 15% (lima belas persen) dari jumlah angsuran

perbulan apabila terjadi keterlambatan membayar dan dibayar pada saat

membayar angsuran yang terlambat tersebut dibayar.

e. Mematuhi larangan yang ditentukan dalam perjanjian sewa beli, antara

(33)

memindahtangankan sebagian atau seluruh rumah selama perjanjian sewa

beli berlangsung tanpa seizin pihak pertama.

f. Membayar biaya yang diperlukan dalam pembuatan perjanjian pada saat

perjanjian sewa beli tersebut ditandatangani.

g. Pihak kedua wajib mengajukan permohonan atas hak tanahnya kepada

kantor pertanahan setempat untuk mendapatkan haknya setelah angsuran

terakhir dilunasi.

B. Perlindungan Hukum Bagi Pembeli Pada Perjanjian Sewa Beli Tanah Dan Bangunan

Dalam melaksanakan haknya seorang kreditor harus memperhatikan

kepentingan debitor dalam situasi tertentu. Jika kreditor menuntut haknya pada saat

yang paling sulit bagi debitor, maka kreditor dapat saja dianggap melaksanakan

perjanjian tidak dengan itikad baik.

Dalam praktik, berdasarkan asas itikad baik, hakim dapat rnenggunakan

wewenangnya untuk mencampuri isi perjanjian, sehingga nampaknya itikad baik

bukan saja harus ada pada pelaksanaan perjanjian, tetapi juga pada saat dibuatnya

atau ditandatanganinya perjanjian.93

Dengan adanya asas itikad baik, sebaiknya harus ada suatu hubungan

keperdataan yang baik, antara para pihak harus ada keseimbangan hak dan kewajiban

juga keseimbangan untung dan rugi. Asas ini sejalan dengan fungsi serta tujuan

hukum pada umumnya yaitu menciptakan serta memberi rasa keadilan kepada

93 Suharnoko, Hukum Perjanjian, Teori dan Analisa Kasus, Prenada Media, Jakarta, 2004,

(34)

masyarakat. Implementasinya lebih lanjut terhadap kajian asas tersebut sebelumnya,

semakin lebih jelas apabila kita menelusuri dan menelaah masalah hubungan

keperdataan terutama yang telah dipakai sebagai hukum positif dan masih berlaku

sampai saat ini di Negara Indonesia yaitu, Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata.Sehingga apabila terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh salah satu pihak,

mereka tunduk kepada buku III KUHPer.

Yang pertama sekali disyaratkan tentang kata sepakat atau konsensus. Dalam

hal ini kedua belah pihak harus benar-benar berada dalam kondisi yang bebas. Bebas

di sini berarti, adanya kemauan diantara para pihak untuk sepakat membuat suatu

perjanjian yang tidak berdasarkan pada suatu paksaan dan pihak lain. Secara tegas

telah disebutkan bahwa di dalam mernbuat suatu perjanjian tidak boleh terjadi

kekhilafan, penipuan apalagi paksaan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal-pasal

1323, 1328, 1329 dan 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Demikian pula

dengan syarat yang kedua disebutkan tentang kecakapan para pihak untuk

mengadakan perjanjian. Unsur kecakapan meliputi unsur kematangan dan

kedewasaan di dalarn berpikir dan bertindak. Unsur ini terutama menentukan layak

atau tidaknya seseorang untuk melakukan suatu perbuatan hukum.

Apabila kita memperhatikan apa yang diuraikan sebelumnya, maka dapatlah

ditarik suatu kesirnpulan bahwa apa yang dimaksudkan dalam pasal 1320 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata tidak lain adalah untuk menghindari suatu bentuk

hubungan keperdataan yang tidak adil dan tidak seimbang, sebagaimana yang

(35)

perjanjian sewa beli yang dibuat haruslah bersumber dan mencerminkan pada asas

keseirnbangan antara para pihak.

Salah satu keadaan yang menyebabkan timbulnya perjanjian sewa beli dapat

disebutkan di sini adalah kedudukan ekonomi para pihak yang tidak seimbang. Jadi

sebenarnya bukan hubungan perikatannya yang tidak adil, tetapi justru kedudukan

pihak yang tidak seirnbang sebagai akibat dan adanya perbedaan kedudukan ekonomi

itulah yang kemudian sering melahirkan isi perjanjian yang tidak adil dan merugikan

satu pihak. Masalah kedudukan pihak yang kuat dan yang lemah secara ekonomi

dalam suatu perjanjian memang merupakan suatu problema, karena justru hal ini

berkaitan dengan masalah penggunaan kekuasaan ekonomi oleh yang kuat terhadap

yang lemah.

Pada kenyataannya, faktor kekuasaan ekonomi, memang cukup berperan

penting di dalam mengadakan suatu perjanjian. Apa yang diartikan sebagai kekuasaan

ekonomi yang lemah tidak hanya terbatas pada faktor kemiskinan dan faktor

rendahnya pendapatan saja, tetapi lebih rendah dari pada itu kekuasaan ekonomi yang

lemah dapat pula mencakup faktor minimnya pendidikan dan faktor kebutuhan yang

mendesak.

Menurut Abdurachman, umumnya dalam konsepsi hukum modern, pengertian

tentang perbuatan hukum adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang

terdiri dan berbuat atau tidak berbuat, berdasarkan norma-norma hukum yang berlaku

dengan melihat pada sifat dan perbuatan itu, keadaan dan cara di mana perbuatan itu

(36)

bilamana perbuatan itu bertentangan dengan norma-norma hukum yang berlaku,

dinilai sebagai perbuatan melawan hukum.94

Sebagai suatu perjanjian, berdasarkan pasal 1338 ayat 1 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata, sewa beli juga merupakan suatu perbuatan hukum, karena

setiap perjanjian yang dibuat, secara sah berlaku sebagai Undang-undang, bagi

mereka yang membuatnya.

Ketentuan di atas mengandung pengertian bahwa, setiap perjanjian mengikat

kedua belah pihak dan mempunyai kekuatan hukum yang berlaku sebagai

undang-undang. Penting untuk dikemukakan dalam hal in ketentuan pasal 1338 ayat 1 Kitab

Undang - undang Hukum Perdata, tidaklah berarti bahwa para pihak itu bebas untuk

mengadakan janji sesuai dengan apa yang mereka kehendaki.

Jadi dapatlah dikemukakan bahwa, kebebasan berkontrak itu dibatasi oleh

adanya persyaratan yang diungkapkan di dalam pasal 1320 Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata butir ke-4 yang menyebutkan bahwa, di dalam melakukan suatu

perjanjian harus ada suatu sebab yang halal. Dalam pasal 1335 Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa, “suatu persetujuan tanpa sebab, atau yang

telah dibuat karena sesuatu sebab yang palsu atau terlarang, tidak mempunyai

kekuatan hukurn.”95

94 Abdurrachman, Aneka Masalah Hukum Dalam Pembangunan di Indonesia, Tarsito,

Bandung, 1979, hlm 83

95R. Soetojo Prawirohamijojo dan Martalena Pohan, Hukum Perikatan, Bina Ilmu, Surabaya,

(37)

Selanjutnya pasal 1338 ayat 3 Kitab Undang - undang Hukum Perdata

menyebutkan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik. Maksudnya,

perjanjian tersebut harus berjalan menurut norma kepatutan dan keadilan. Dalam hal

ini yang beritikad baik dalam rnelaksanakan suatu perjanjian berdasarkan kepatutan

dan keadilan perlu dan harus mendapat perlindungan hukum.

Jadi dapatlah dipahami bahwa, kedudukan dan hubungan hukum antara

pembeli dan penjual dalam perjanjian sewa beli umumnya tidak berbeda dengan

kedudukan dan hubungan hukum dalam perjanjian pada urnumnya. Pada prinsipnya

hubungan hukum itu diikat oleh kewajiban dan para pihak sesuai dengan isi dan

perjanjian.

Sebagaimana sudah di kemukakan sebelumnya bahwa, tirnbulnya perjanjian

yang tidak adil dan tidak seimbang sebagai akibat adanya perbedaan kekuatan

ekonomi antara pembeli dan penjual hingga kondisi menjadi tidak berimbang.

Ketidak seimbangnya kondisi inilah yang memungkinkan paksaan secara diam-diam

kehendak sepihak dan pihak yang mempunyai kedudukan ekonomi kuat, kepada

pihak yang lemah kekuatan ekonominya.

Pada umumnya keadaan seperti yang disebutkan sebelumnya sering dijumpai

di dalam praktik perjanjian sewa beli. Jika diamati lebih seksama, bentuk serta isi dan

perjanjian sewa beli, maka dapat dilihat bahwa, perjanjian itu tidak adil dan tidak

berimbang karena terlalu banyak meletakkan kewajiban kepada pembeli, misalnya

(38)

Penjual memberikan kepada pembeli suatu perjanjian standar yang berisi hak

serta kewajiban dan para pihak. Dalam keadaan yang demikian, pilihan pembeli

hanyalah satu di antara dua yaitu menandatangani perjanjian standar tersebut atau

menolaknya. Tidaklah ada kemungkinan bagi pernbeli untuk membicarakan atau

merundingkan tentang syarat yang telah ditentukan dalam perjanjian.

Terhadap bentuk perjanjian semacam ini, Salim H. S., berpendapat bahwa,

terdapat “bermacam-macam dugaan sehubungan dengan latar belakang atau alasan

penjual untuk rnemilih kebijaksanaan membuat perjanjian standar.”96 Disatu pihak didasari atas alasan kegunaan dan biaya, dilain pihak ada pula dugaan bahwa, penjual

menolak untuk membicarakan syarat-syarat perjanjian dengan pembeli dengan

anggapan bahwa, pembeli tidak rnempunyai pilihan lain selain dari pada harus

menerima syarat - syarat perjanjian yang diajukan kepadanya.

“Prof. Dr. Ny. Mariam Darus Badrulzaman, dalam kaitannya antara lain

mengatakan bahwa, perjanjian standar mengandung sifat-sifat yang banyak

menimbulkan kerugian pada pembeli”.97 Adapun ciri-ciri dan perjanjian tersebut adalah:

1. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang ekonominya kuat (penjual),

2. Pembeli (debitor) sama sekali tidak diikut sertakan menentukan isi perjanjian.

3. Terdorong untuk kebutuhannya, debitor terpaksa menerima dan

menandatangani isi perjanjian itu,

96Salim HS,Hukum Kontrak , Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta,

2004, hlm 135

97

(39)

4. Bentuknya tertulis,

5. Dipersiapkan terlebih dahuluh secara massal dan kolektif.

Pada pembahasan sebelumnya, jelasnya bahwa kedudukan dan hubungan

hukum antara penjual dan pembeli, khususnya pernbeli memiliki kedudukan dan

tempat yang kurang menguntungkan bahkan senantiasa berada dalam kedudukan

yang lemah. Dalam Perjanjian Sewa Beli Rumah Negara, klausul atau syarat tentang

denda hampir merupakan suatu kebutuhan utama. Sebab penjual didalam pembuatan

perjanjian, selalu mengantisipasi hal-hal atau keadaan seandainya terjadi

keterlambatan pembayaran. Penjual telah mengantisipasi sebelumnya agar tidak

menimbulkan kerugian baginya dengan pencantuman syarat denda tersebut

diharapkan pembayaran dari pembeli dapat lancar.

Dalam hal resiko merupakan kewajiban untuk memikul kerugian yang

disebabkan karena suatu kejadian diluar kesalahan salah satu pihak. Yang menjadi

masalah dalam resiko ini adalah siapa yang harus memikul kerugian tersebut.

Dalam hukum perjanjian, resiko berkaitan erat dengan kewajiban untuk

memikul kerugian akibat suatu peristiwa yang bukan kesalahan pembeli yang

menimpa barang yang menjadi objek perjanjian. Untuk menghindari hal-hal yang

tidak diinginkan maka dalam surat Perjanjian sewa beli tanah dan bangunan rumah

antara PT PLN (Persero) dengan karyawannya telah mencantumkan klausul tentang

reiko secara jelas sebagaimana tercantum dalam Pasal 10 dan Pasal 11 Perjanjian

Sewa Beli tanah dan bangunan antara PT PLN (Persero) dengan karyawan yang

(40)

Pasal 10

1. Pihak pertama (PT PLN (Persero)) dibebaskan dari segala tuntutan atas terjadinya cacat atau kerusakan bangunan rumah yang terjadi selama jangka waktu berlakunya perjanjian ini.

2. Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalama Pasal 5 ayat (1) perjanjian ini, bangunan rumah dimaksud musnah atau rusak berat sebagai akibat kelalaian Pihak Kedua (karyawan PT PLN (Persero)) atau ahli waris Pihak Kedua, maka Pihak Kedua atau ahli waris Pihak Kedua diwajibkan untuk tetap melunasi sisa pembayaran angsuran harga bangunan rumah tersebut dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1) perjanjian ini.

Pasal 11

1. Yang dimaksud dengan Force Majure adalah peristiwa yang terjadi diluar kemampuan Pihak Pertama dan/atau Pihak Kedua untuk mengatasinya, termasuk didalamnya namun tidak terbatas pada kejadian-kejadian sebagai akibat dari Peraturan Pemerintah baik Pusat maupun Daerah, Departemen, Instansi Sipil atau Militer, dan bencana alam, halilintar, banjir, gempa bumi, tanah longsor, angina topan, kebakaran, perang, sabotase, pemberontakan, huru-hara, dan kejadian-kejadian lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan atau kerugian pada rumah sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 Perjanjian ini.

2. Dalam hal terjadinya Force Majure sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, Pihak Kedua wajib memberitahukannya secara tertulis kepada Pihak Pertama dalam waktu 14 (empat belas) hari terhitung sejak kejadian dimaksud, disertai surat keterangan dari instansi yang berwenang untuk memberikan penjelasan mengenai terjadinya peristiwa tersebut.

3. Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) Pasal ini, Pihak Kedua tidak memberitahukan mengenai keadaan Force Majure, maka kejadian dimaksud dianggap bukan merupakanForce Majure.

4. Apabila terjadiForce Majure, maka penyelesaiannya adalah sebagai berikut : a. Apabila terjadi sebab Kahar (Force Majure) yang terjadi selama jangka waktu

berlakunya perjanjian ini yang menyebabkan bangunan rumah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 perjanjian ini musnah atau rusak berat, maka Pihak Pertama dibebaskan dari kewajiban untuk memperbaiki atau membangun kembali bangunan rumah tersebut.

b. Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) perjanjian ini, bangunan rumah dan/ atau tanah dimaksud musnah atau rusak berat sebagai akibat kahar (Force Majure) sehingga tidak dapat dipergunakan atau ditempati lagi, maka perjanjian ini batal menurut hukum, dan Pihak Pertama akan mengembalikan angsuran harga tanah dan bangunan yang telah dibayar Pihak Kedua atau ahli waris Pihak Kedua tanpa dipotong apapun, dalam jangka waktu 2 (dua) minggu terhitung sejak terjadinya sebab kahar (Force Majure).

(41)

rusak berat sebagai akibat kahar (Forece Majure) sehingga tidak dapat dipergunakan atau ditempati lagi, sedangkan tanah tempat berdirinya bangunan rumah tersebut masih ada dan masih dapat dipergunakan untuk membangun rumah, maka perjanjian ini masih tetap berlaku dengan membuat perubahan atas bunyi Pasal 1, Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 4, serta Pasal 5 yang dimuat dalam Amandemen Perjanjian yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjanjian ini, dengan tidak memperhitungkan harga bangunan rumah yang musnah atau rusak tersebut.

Karena Telah diperjanjikan dalam perjanjian sewa beli rumah negara, maka

pihak penyewa beli telah mengambil resiko dalam perjanjian ini yaitu menanggung

akibat perjanjian meskipun merupakan suatu kerugian baginya. Dalam Pasal 1266

KUH Perdata menyatakan bahwa suatu peristiwa yang tertentu itu harus dianggap

sebagai syarat yang membebaskan dalam hal ini yaitu wanprestasi. Jadi pasal 1266

KUH Perdata sebenarnya adalah pasal yang mengatur tentang hal-hal yang umum.98 Syarat yang dapat dilakukan oleh pihak lain bila terjadi wanprestasi

berdasarkan Pasal 1267 KUH Perdata. Dalam Pasal tersebut nenyatakan bahwa

”orang terhadap siapaverbintenisitu tidak dipenuhi, maka ia bisa memiliki pihak lain

untuk mengadakan pemenuhan perjanjian dan pemecahan perjanjian dengan

penggantian kerugian.

Dalam Perjanjian Sewa Beli Rumah Negara ini, perjanjian dapat dibatalkan

secara sepihak oleh pihak pertama, apabila pihak kedua tidak mentaati peringatan

terakhir yang ternyata pernah membeli atau memperoleh rumah dari Rumah Negara

berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, dalam masa perjanjian

sewa beli, diberhentikan tidak dengan hormat atau diberhentikan dengan hormat

(42)

kepegawaiannya, tanpa menerima hak pensiun atau dicabut hak pensiunnya dalam

masa perjanjian sewa beli, atas kehendak sendiri tidak memenuhi lagi persyaratan

tersebut dalam Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1994.

Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen

Pasal 18 ayat (1) huruf a menyatakan bahwa :

”pelaku usaha dalam menawarkan barang dan atau jasa yang ditunjukkan untuk diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan dalam klausula baku pada setiap dokumen dan/atau perjanjian apabila menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha”.

Sebagaimana yang tercantum dalam klausul Perjanjian Sewa Beli Rumah

Negara, pada Pasal 10 ayat (1), bahwa Pihak Pertama dibebaskan dari segala tuntutan

hukum atas kemungkinan adanya cacat-cacat yang tersembunyi pada rumah tersebut.

Sehingga dalam hal ini, Pihak Pertama atau pelaku usaha, menyatakan pengalihan

tanggung jawab atas segala kemungkinan adanya cacat tersembunyi pada rumah

(43)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kedudukan hukum karyawan PT PLN (Persero) terhadap perjanjian sewa beli

rumah negara sangat lemah, oleh karena peralihan tanah dan bangunan

digunakan dengan memakai perjanjian sewa beli yang bentuknya bersifat baku

yang isinya telah ditentukan oleh PT PLN (Persero) pihak karyawan PT PLN

(Persero) dan Pejabat Umum (Notaris), dengan demikian perjanjian yang dibuat

tersebut menjadi tidak seimbang antara PT PLN (Persero) dengan karyawannya

dan lebih mementingkan dari pihak PT PLN (Persero) saja dan perjanjian sewa

beli tidak cocok digunakan untuk benda tidak bergerak, khususnya tanah dan

bangunan, sehingga PP No 40 Tahun 1994 perlu dicabut dan perjanjian sewa beli

tetap dilakukan sebaiknya dibuat dihadapan pejabat umum (notaries) yang mana

isinya juga melibatkan kedua belah pihak.

2. Proses peralihan hak atas tanah dan bangunan yang dilakukan oleh PT PLN

(Persero) dengan karyawannya melalui perjanjian sewa beli rumah negara tidak

secara otomatis dapat dilakukan pendaftaran di kantor pertanahan, oleh karena

peralihan hak kepemilikan barang baru terjadi pada hari pembayaran sewa bulan

terakhir, baru kemudian dibuat akta dihadapan PPAT antara PT PLN (Persero)

dengan karyawannya yang mana akta tersebut ditandatangani oleh PT PLN

(44)

kantor PPAT bersangkutan dan juga PPAT tesebut harus memeriksa surat-surat

yang berkaitan dengan objek perjanjian tersebut antara lain tanah telah dipecah

dan telah sesuai nama, letak, luas tanah dan kwitansi pembayaran lunas dari PT

PLN (Persero) serta data-data lain sesuai dengan sebagaimana yang diuraikan

dalam perjanjian sewa beli yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak.

3. Perlindungan hukum bagi Karyawan PT PLN (Persero)dalam perjanjian sewa

beli tanah dan bangunan belum sepenuhnya mencerminkan kepentingan dari

karyawan (sangat lemah) dikarenakan perjanjian sewa beli tersebut belum diatur

lebih rinci oleh pemerintah dan sehingga dalam prakteknya bertentangan dengan

asas perumahan dan permukiman UU No 1 Tahun 2011.

B. Saran

1. Jadi sebaiknya karyawan PT PLN (Persero) bisa menempatkan diri sebagai

pembeli, bukan sebagai karyawan PT PLN (Persero), dikarenakan penjual dan

pembeli sama statusnya dimata hukum.

2. Proses peralihan hak atas tanah dan bangunan tersebut bertele-tele, dikarenakan

perjanjian sewa beli tidak cocok dilakukan terhadap tanah dan bangunan yang

mana memakan biaya yang sangat besar dan ditanggung oleh pihak karyawan.

3. Sebaiknya Pemerintah merancang Peraturan Pemerintah untuk pelasana

Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Pemukiman dan Perumahan, karena agar

Gambar

Tabel 1. Peruntukan rumah negara menurut Perpres No. 11 Tahun 2008

Referensi

Dokumen terkait

3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar atau

Mekanisme pemungutan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dalam kaitannya dengan pendaftaran hak atas tanah atau pendaftaran peralihan hak atas tanah oleh Badan

Peranan PPAT dalam pembuatan akta peralihan hak atas tanah dan/atau bangunan bekas Hak Milik Adat berkaitan dengan Pembayaran Bea Perolehan Hak Atas Tanah

dengan Nilai Jual Objek Pajak tanah dan/atau bangunan yang. bersangkutan sebagaimana dimaksud

a) Dalam penulisan ini penulis menyarankan, bahwa perlu mempercepat terbitnya Peraturan Walikota (PERWALI) mengenai pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Besaran Pokok Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dengan dasar pengenaan

(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterimanya Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang Bayar atau

Peran Notaris dalam mempertahankan kedudukan preferen dari kreditur terhadap Hak Guna Bangunan yang haknya tidak dapat diperpanjang karena berakhirnya jangka waktu dalam penelitian ini