IMUNOGLOBULIN
Struktur kimia imunoglobulin
PENGERTIAN
• Immunoglobulin atau Antibodi merupakan
suatu fraksi plasma (serum) yang bereaksi
secara khusus dengan antigen yang
merangsang produksinya. Berat molekulnya
dari terendah sekitar 150.000 (angka
sedimentasi 7S) untuk komponen IgG hingga
fraksi dengan berat molekul 900.000 (19S)
KELAS IMUNOGLOBULIN
Berdasarkan jenis rantai-H yang dimiliki, maka pengklasifikasian
kelas Imunoglobulin adalah sebagai berikut :
• Imunoglobulin atau antibodi adalah sekelompok
glikoprotein yang terdapat dalam serum atau
cairan tubuh pada hampir semua mamalia.
Imunoglobulin termasuk dalam famili glikoprotein
yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari
82-96% polipeptida dan 4-18% karbohidrat.
Komponen polipeptida membawa sifat biologik
molekul antibodi tersebut. Molekul antibodi
mempunyai dua fungsi yaitu mengikat antigen
secara spesifik dan memulai reaksi fiksasi
komplemen serta pelepasan histamin dari sel
mast.
• Pada manusia dikenal 5 kelas imunoglobulin. Tiap
kelas mempunyai perbedaan sifat fisik, tetapi pada
semua kelas terdapat tempat ikatan antigen spesifik
dan aktivitas biologik berlainan.
Struktur dasar imunoglobulin terdiri atas 2 macam
rantai polipeptida yang tersusun dari rangkaian asam
amino yang dikenal sebagai rantai H (rantai berat)
dengan berat molekul 55.000 dan rantai L (rantai
ringan) dengan berat molekul 22.000. Tiap rantai dasar
imunoglobulin (satu unit) terdiri dari 2 rantai H dan 2
rantai L. Kedua rantai ini diikat oleh suatu ikatan
disulfida sedemikian rupa sehingga membentuk
struktur yang simetris.
• Yang menarik dari susunan imunoglobulin ini adalah
penyusunan daerah simetris rangkaian asam amino
yang dikenal sebagai daerah domain, yaitu bagian dari
rantai H atau rantai L, yang terdiri dari hampir 110
asam amino yang diapit oleh ikatan disulfid interchain,
sedangkan ikatan antara 2 rantai dihubungkan oleh
ikatan disulfid interchain. Rantai L mempunyai 2 tipe
yaitu kappa dan lambda, sedangkan rantai H terdiri dari
5 kelas, yaitu rantai G (γ), rantai A (α), rantai M (μ),
rantai E (ε) dan rantai D (δ). Setiap rantai mempunyai
jumlah domain berbeda. Rantai pendek L mempunyai 2
domain; sedang rantai G, A dan D masing-masing 4
ImunoglobulinG (IgG)
Adalah reaksi imun yang diproduksi terbanyak sebagai
antibodi utama dalam proses sekunder dan merupakan
pertahanan inang yang penting terhadap bakteri yang
terbungkus dan virus. Mampu menyebar dengan mudah ke
dalam celah ekstravaskuler dan mempunyai peranan
penting menetralisir toksin kuman, serta melekat pada
kuman sebagai persiapan fagositosis.
Merupakan proteksi utama pada bayi terhadap infeksi
selama beberapa minggu pertama setelah lahir,
dikarenakan mampu menembus jaringan plasenta. IgG yang
dikeluarkan melalui cairan kolostrum dapat menembus
• IgG mempunyai dua tempat pengikatan
antigen yang sama (divalen) dan dikenal 4
subkelas, yaitu IgG1 IgG1, IgG2, IgG3 dan IgG4.
Perbedaannya terletak pada rantai-H dengan
beberapa fungsi biologis serta jumlah dan
lokasi ikatan disulfida. IgG1 merupakan 65%
dari keseluruhan IgG. IgG2 berguna untuk
melawan antigen polisakarida dan menjadi
pertahanan yang penting bagi inang untuk
melawan bakteri yang terbungkus.
Imunoglobulin A (IgA)
Adalah Imunoglobulin utama dalam sekresi selektif,
misalnya pada susu, air liur, air mata dan dalam
sekresi pernapasan, saluran genital serta saluran
pencernaan atau usus (Corpo Antibodies).
Imunoglobulin ini melindungi selaput mukosa
dari serangan bakteri dan virus. Ditemukan pula
sinergisme antara IgA dengan lisozim dan
komplemen untuk mematikan kuman koliform.
Juga kemampuan IgA melekat pada sel polimorf
dan kemudian melancarkan reaksi komplemen
melalui jalan metabolisme alternatif.
• Tiap molekul IgA sekretorik berbobot molekul
400.000 terdiri atas dua unit polipeptida dan satu
molekul rantai-J serta komponen sekretorik.
Sekurang-kurangnya dalam serum terdapat dua
subkelas IgA1 dan IgA2. Terdapat dalam serum
terutama sebagai monomer 7S tetapi cenderung
membentuk polimer dengan perantaraan
polipeptida yang disintesis oleh sel epitel untuk
memungkinkan IgA melewati permukaan epitel,
disebut rantai-J. Pada sekresi ini IgA ditemukan
dalam bentuk dimer yang tahan terhadap
proteolisis berkat kombinasi dengan suatu
protein khusus, disebut Secretory Component
yang disintesa oleh sel epitel lokal dan juga
diproduksi secara lokal oleh sel plasma.
Imunoglobulin M (IgM)
Imunoglobulin utama yang pertama dihasilkan dalam
respon imun primer. IgM terdapat pada semua
permukaan sel B yang tidak terikat. Struktur polimer
IgM menurut Hilschman adalah lima subunit molekul
4-peptida yang dihubungkan oleh rantai-J. Pentamer
berbobot molekul 900.000 ini secara keseluruhan
memiliki sepuluh tempat pengikatan antigen Fab
sehingga bervalensi 10, yang dapat dibuktikan dengan
reaksi Hapten. Polimernya berbentuk bintang, tetapi
apabila terikat pada permukaan sel akan berbentuk
kepiting.
• Disebabkan bervalensi tinggi, maka antibodi
ini paling sering bereaksi di antara semua
Imunoglobulin, sangat efisien untuk reaksi
aglutinasi dan reaksi sitolitik, pengikatan
komplemen, reaksi antibodi-antigen yang lain
dan karena timbulnya cepat setelah terjadi
infeksi dan tetap tinggal dalam darah, maka
IgM merupakan daya tahan tubuh yang
penting untuk bakteremia dan virus. Antibodi
ini dapat diproduksi oleh janin yang terinfeksi.
ImunoglobulinE (IgE)
Didalam serum ditemukan dalam konsentrasi
sangat rendah. IgE apabila disuntikkan ke dalam
kulit akan terikat pada Mast Cells dan Basofil.
Kontak dengan antigen akan menyebabkan
degranulasi dari Mast Cells dengan pengeluaran
zat amin yang vasoaktif. IgE yang terikat ini
berlaku sebagai reseptor yang merangsang
produksinya dan kompleks antigen-antibodi yang
dihasilkan memicu respon alergi Anafilaktik
• Pada orang dengan hipersensitivitas alergi
berperantara antibodi, konsentrasi IgE akan
meningkat dan dapat muncul pada sekresi
luar. IgE serum secara khas juga meningkat
selama infeksi parasit cacing.
ImunoglobulinD (IgD)
Antibodi ini fungsi keseluruhannya belum
diketahui secara jelas. Dalam serum IgD
ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit
dan IgD merupakan antibodi inti sel. Zat ini
juga terdapat pada sel penderita leukemia
getah bening.
• Telah dibuktikan pula bahwa IgD dapat
bertindak sebagai reseptor antigen apabila
berada pada permukaan limfosit B tertentu
dalam darah tali pusar janin dan mungkin
merupakan reseptor pertama dalam
permulaan kehidupan sebelum diambil alih
fungsinya IgM dan Imunoglobulin lainnya,
setelah sel tubuh berdiferensiasi lebih jauh.
IMUNITAS
• Imunitas : Daya tahan tubuh untuk melawan penyakit melawan infeksi.
Semua sel dan molekul yang terlibat dalam imunitas tubuh, merupakan suatu kesatuan fungsional disebut :
sistem imun.
Tanggap (respon) terhadap substansi asing yang masuk ke dalam tubuh, secara kolektif disebut respon imun .
Definisi spesifik :
Imunitas adalah reaksi untuk melawan substansi asing yang masuk ke dalam tubuh seperti mikroorganisme (bakteri, virus, parasit) & molekul besar (protein, polisakharida). Reaksi yang terjadi meliputi reaksi seluler dan molekul.
• Manfaat imunologi untuk kesehatan / kedokteran
1. Sistem imun dapat dimanipulasi agar fungsi sistem
imun dapat dikontrol untuk melawan penyakit.
Manipulasi sistem imun dapat dilakukan dengan:
- memanipulasi antigen asing yang masuk – vaksinasi
- memanipulasi pertemuan substansi asing dengan
sel/molekul sistem imun – imunoterapi.
Contoh : vaksinasi terhadap smallpox oleh Edward
Jenners (1758).
Observasi Jenners
pemerah susu yang menderita
smallpox setelah sembuh jarang/tidak pernah terkena
smallpox untuk kedua kalinya.
• Suntikkan cairan dari lesi cowpox ke anak umur 8
th
beberapa minggu.
- Setelah selesai, anak tersebut diinfeksi virus
smallpox
tidak sakit (kebal terhadap smallpox).
Metoda Jenners disebut vaksinasi (vaccine – dari
sapi)
metoda vaksinasi dipakai secara luas untuk
mengin-duksi imunitas terhadap
bermacam-macam penyakit.
• 2. Reaksi imun in vitro dan in vivo dapat dimanfaatkan
untuk : diagnosis & terapi penyakit infeksi dan/atau
terpapar toksin.
Contoh : antibodi terhadap virus/bakteri dalam darah
dipakai sebagai indikator perkembangan
penyakit.
Antibodi terhadap toksin/bisa digunakan untuk
mengobati penderita terpapar toksin/bisa i.e
pasien digigit ular, dsb.
• Komponen imunitas tubuh : 1. Innate/natural immunity
- imunitas yang sudah ada sejak fetus/dilahirkan. - bersifat nonspesifik imunitas nonspesifik - berperan sebagai garis pertahanan pertama terhadap invasi substansi asing ke dalam tubuh. 2. Acquired/adaptive immunity
- imunitas yang didapat
- bersifat spesifik imunitas spesifik
- berkembang karena diinduksi/distimulasi oleh intervensi substansi asing yang masuk ke dalam tubuh.
- substansi asing yg menginduksi imunitas spesifik disebut antigen.
Elemen/struktur yang mendukung imunitas tubuh.
Innate / natural
immunity
Adaptive/acquired
immunity
Resistensi Resistensi tidak
berubah pada infeksi
berikutnya
Resistensi menjadi
lebih baik pada infeksi
berikutnya
Soluble
factors
Lisozim, komplemen,
interferon
Antibodi
Cells
Epitel permukaan &
mukosa, fagosit, sel
NK
• Patogen (infectious agents) bila mengintervensi tubuh
mula-mula akan berhadapan dengan elemen sistem
imun natural (innate).
Bila sistem imun natural dapat dirusak, patogen akan
berhadapan dengan sistem imun adaptif
bereaksi
secara spesifik untuk mengeliminasi & menghancurkan
patogen.
Sistem imun adaptif menghasilkan imun memory
memberi reaksi sejenis yang lebih baik pada infeksi/
intervensi patogen yang sama berikutnya.
• Elemen/unsur yang terlibat dalam innate immunity 1. Permukaan luar tubuh
- epidermis kulit adalah barier efektif untuk mencegah penetrasi mikroorganisme.
- mukosa nasofaring, saluran pencernaan, saluran
pernafasan dan genitourinarius dilengkapi barier fisik (silia) dan kimia (enzim) untuk melawan/ mengham bat masuknya mikroorganisme.
2. Fagosit
sel yang memfagosit mikroorganisme/partikel yang melewati epitel sistem retikuloendotelial
diproduksi oleh sel-sel primordia (stem cells) dalam sumsum tulang: sel makrofag dlm jaringan
• 3. Sel NK
leukosit yg dapat mengenali perubahan-
perubahan permukaan sel yg diinfeksi virus
NK
akan berkontak (bind) dan membunuh sel terinfeksi.
4. Soluble factors
- interferon
protein diproduksi sel terinfeksi virus &
limfosit
mengaktifkan sel NK & menginduksi
resistensi sel yang berdekatan dg sel terinfeksi.
- komplemen
protein serum
aktifasi komplemen dpt menyelubungi bakteri shg
menarik (ready) utk difagosit
opsonosasi.
menyebabkan lisis membran sel bakteri
lytic pathway
• Inflamasi
Adalah reaksi respon tubuh terhadap injury (cedera) karena invasi mikroorganisma/partikel asing atau jejas lain. Reaksi inflamasi
menyebabkan elemen sistem imun dikerahkan ke situs infeksi Reaksi inflamasi meliputi :
1. Peningkatan suplai darah ke tempat infeksi.
2. Peningkatan permeabilitas kapiler darah karena retraksi endotel kapiler darah menyebabkan molekul besar (protein serum) keluar menuju ke tempat infeksi.
3. Leukosit terutama neutrofil dan monosit keluar dari kapiler menuju ke situs infeksi karena chemotaksis.
• Tanda-tanda inflamasi :
rubor
merah
tumor
bengkak
kalor
panas
dolor
sakit
functio laesa (kehilangan fungsi) jaringan
yang terinfeksi.
• Specific/acquired immunity
Imunitas yang didapat karena induksi & pemaparan
(exposure) pada substansi asing (antigen).
Sifat dasar imunitas spesifik
- menghasilkan “immune memory”
memberi respon
lebih efektif pada infeksi yang sama berikutnya
prinsip dasar vaksinasi.
- menghasilkan respon yang fokus pada antigen yang
menginvasi tubuh dan mengeliminasinya
• Imunitas spesifik diperankan oleh 2 sistem imun :
1. Imunitas humoral : dibawakan oleh molekul (protein) serum yang mengenal dan mengeliminasi antigen bebas (tidak terikat/bukan bagian) sel disebut antibodi mengikat dan bereaksi dengan antigen secara spesifik.
2. Imunitas seluler (cell mediated immunity) : dibawakan oleh sel limfosit T, mengenal antigen dipermukaan sel atau antigen nonself dan menghancurkan sel yang mengekspresikan antigen tsb.
Antibodi dan limfosit T spesifik dapat ditransfer secara pasif ke individu yang belum imun (naive)
• Respon humoral dan seluler terhadap stimulasi antigen mempunyai ciri/sifat yang mendasar (fundamental).
1. Specificity
Respon imun adalah spesifik terhadap antigen tertentu. Antibodi atau limfosit dapat mengenal bagian dari protein komplex atau molekul besar lainnya. Bagian molekul yang dikenali antibodi atau limfosit secara spesifik disebut determinan atau epitop.
2. Diversity
Tubuh manusia mempunyai sistem imun yang berpotensi mengenal antigen di lingkungan hidupnya.
Limfosit yang mempunyai spesifisitas thd antigen di dlm tubuh
seluruhnya disebut “lymphocyte repertoire” diperkirakan dapat mendeferensiasi 109 determinan.
• Bila suatu limfosit terinduksi antigen
limfosit akan
berproliferasi membentuk satu klon spesifik
“clonal
selection theory”.
3. Memory
Respon imun terhadap antigen akan meningkat
efektifitasnya apabila terpapar/bertemu antigen yang sama
untuk kedua kali dan seterusnya
disebut “immunological
momory” & diperankan oleh “memory cells”.
4. Self limitation
Respon imun yang normal akan menurun dan menghilang
beberapa waktu setelah stimulasi dihentikan.
• 5. Descrimination of self from nonself
Dapat membedakan antigen asing dari
komponen sendiri. Limfosit akan bereaksi
terhadap stimulasi antigen asing tetapi tidak
memberi respon pada molekul & komponen
sendiri
toleransi imun (immune tolerance).
Kegagalan toleransi imun pada komponen
sendiri
kelainan/penyakit autoimun
menimbulkan
konsekuensi patologi tertentu.
• Organ-organ yang terlibat dalam sistem imun.
Organ-organ dalam sistem imun dibedakan menjadi 2
golongan berdasarkan fungsinya dlm sistem imun :
- organ limfoid primer (sentral).
- organ limfoid sekunder (periferal).
Limfosit imatur akan mengalami maturasi shg menjadi
matur didalam organ limfoid primer
menjadi sel
imunokompeten.
Pada mamalia organ limfoid primer adalah :
- sumsum tulang (bone marrow)
maturasi sel B
- timus
maturasi sel T
• Organ limfoid sekunder mengambil antigen dari jaringan atau dari darah (sirkulasi) & memberi tempat sel imunokompeten untuk berinteraksi secara efektif dengan antigen.
Limfonodus mengkoleksi antigen dari cairan intraseluler jaringan. Lien (limpa/spleen) menyaring antigen dalam darah & sirkulasi sehingga dapat merespon infeksi sistemik.
Mucosa associated lymphoid tissue (MALT) pada traktus
respiratorius, digestivus, genitourinarius (Peyer’s patch, tonsil, adenoid) menangkap Ag yang masuk via membran mukosa.
• Sel-sel yang terlibat dalam sistem imun spesifik.
Semua sel dalam sistem imun (spesifik) berasal dari “stem
cells” yang pluripoten di dalam sumsum tulang (bone
marrow), berkembang melalui proses hematopoeisis.
Terbagi dalam 2 jalur diferensiasi:
1. jalur mieloid
memproduksi fagosit dan sel-sel lain
2. jalur limfoid
memproduksi limfosit
Fagosit dibedakan menjadi 2 jenis :
- monosit
fagosit yang dapat meninggalkan sistem
vaskuler & berubah menjadi fagosit
jaringan
makrofag
• Limfosit diproduksi dalam sumsum tulang, beredar dalam sirkulasi dan sistem limfoid & menempati organ-organ limfoid.
Limfosit berinteraksi & mengenal antigen melalui reseptor antigen dipermukaan selnya.
Ada 2 macam limfosit : limfosit B & limfosit T dibedakan berdasarkan marka protein membran sel
CD3 pada sel T ; CD11 pada sel B.
Limfosit B diproduksi & berkembang dalam sumsum tulang.
Mempunyai reseptor antigen mol. Ab yang terfiksasi membran sel pada Ch terminalnya. Bila sel B naive kontak dengan Ag, sel B
berproliferasi & berdiferensiasi menjadi sel B memori yang mensekresi Ab spesifik, disebut sel plasma.
• Limfosit T
Berkembang dari stem cells dalam sumsum tulang,
bermigrasi ke dalam timus dan berdiferensiasi menjadi
sel T matur.
Sel T matur mengekspresikan “antigen binding protein”
dipermukaan selnya, disebut reseptor sel T (TCR)
terdiri dari 2 protein subunit
atau
, dihubungkan
oleh ikatan disulfida.
TCR mengenal Ag dipermukaan sel yang berasosiasi/
dipresentasikan molekul MHC (HLA).
Bila sel T naive kontak dengan Ag
sel T berproliferasi
& berdiferensiasi menjadi sel T memori dan sel efektor.
• Subpopulasi sel T : Sel T helper (TH) & sel T sitotoksik (TC)
dibedakan berdasarkan marka protein membran sel CD4 pada TH dan CD8 pada TC.
TH setelah kontak dengan Ag berubah menjadi efektor yang mensekresi sitokin (limfokin) mengaktifkan sel B, TC , sel-sel fagosit dan efektor lainnya.
TC setelah kontak dengan Ag berubah menjadi efektor yang memediasi reaksi sitotoksik membunuh/melisis
sel yang mengekspresikan Ag : - sel terinfeksi virus
- sel terinfeksi mikroorganisme intrasel - sel tumor
• Antigen Precenting Cells (APC).
Sistem imun humoral & seluler diaktifkan oleh T
Hyang
mengenal Ag dipermukaan sel berasosiasi dengan
MHC.
Ag dipresentasikan oleh antigen presenting cells (APC)
makrofag, limfosit B, sel-sel dendritik.
APC mengambil Ag dengan fagositosis atau endositosis
mengekspresikannya kembali dalam bentuk
• Major Histocompatibility Complex (MHC)
Protein membran sel, diekspresikan oleh kelompok gen (gene cluster) yang terangkai sempurna (tight linkage).
Produk MHC berperan penting dalam pengenalan Ag antar sel dan diskriminasi self dari nonself menentukan kompatibilitas
jaringan antar individu dalam satu spesies disebut
transplantation antigen.
Pada sistem imun MHC berpengaruh pada kreasi respon humoral dan seluler (cell mediated) sel TH & TC mengenal Ag yang
berasosiasi dengan molekul MHC
MHC menentukan repertoire (daftar) Ag yang dapat direspon TH & TC MHC berimplikasi pada suseptibilitas thd penyakit &
•
MHC adalah kumpulan gen (gene array); pada manusia
terletak pada khromosom 6 disebut kompleks HLA, pada
tikus terletak pada khromosom 17 disebut kompleks H2.
HLA mengkode 3 macam molekul : HLA klas I, klas II & klas
III.
HLA klas I dikode oleh regio A, B dan C
HLA klas II dikode oleh regio DP, DQ, DR
Setiap regio mempunyai alel yang sangat majemuk
mempunyai variasi sangat besar, meskipun pada saudara
sekandung.
•
Molekul HLA klas I mempresentasikan Ag yang
dikenal T
C
terdapat pada semua sel berinti.
Molekul HLA klas II mempresentasikan Ag yang
dikenal T
H
terdapat pada antigen presenting cells
Diperankan oleh antibodi, protein yg tdpt dalam serum &
cairan tubuh mamalia
merupakan fraksi
globulin
disebut imunoglobulin (Ig)
Diproduksi dan disekresikan oleh limfosit B yang
distimulasi antigen (sensitized B lymphocytes) sehingga
berubah menjadi sel plasma.
Berfungsi sebagai efektor untuk mengikat antigen yang
bebas (tidak terikat atau merupakan bagian sel),
• Ada 5 klas Ig pada semua spesies (isotip), ditentukan
oleh rantai H yang mengkonstruksinya
IgG – bagian terbesar Ig dalam serum normal, meliputi
70 – 75% total Ig. Terdistribusi intra dan
ekstravaskular. Antibodi dominan pada respon
imun sekunder, terutama sebagai anti-toxin.
IgM – meliputi 10% total Ig. Berbentuk pentamer,
terdistribusi intravaskular, Sebagai antibodi
predominan pada respon awal (“early response”)
infeksi mikroorganisme.
• IgA – meliputi 15 – 20% total Ig. Berbentuk dimer
dilengkapi “secretory component”, disebut sIgA
Predominan pada sekret seromukosa spt saliva
,
sekret tracheobronkhial, genitourinarius dll.
IgD – Kurang dari 1% total Ig. Imunoglobulin yg
terfiksasi pada membran sel limfosit B. Berfungsi
sbg Ag reseptor & menstimulasi deferensiasi sel B
menjadi sel plasma.
IgE – Mempunyai proporsi sangat kecil, berasosiasi
pada permukaan basofil dan sel mast. Berperan
pada imunitas thd parasit (helminthes) dan
• Respon imun berlangsung dalam beberapa fase :
1. Fase kognitif
pengenalan antigen dengan
pengikatan (binding) antigen pada reseptor spesifik
di permukaan limfosit.
limfosit B
mengikat Ag pada Ig permukaan.
limfosit T
mengikat fragmen Ag – MHC (HLA)
pada TCR.
2. Fase aktifasi
- limfosit berproliferasi
expansi klonal dari limfosit
spesifik terhadap antigen tsb.
- limfosit berdiferensiasi
limfosit B
secreting cells (sel plasma)
• limfosit T mediated killing
mengaktifkan makrofag membunuh mikroba intraseluler.
melisis sel yang mengekspresikan Ag asing atau Ag virus.
3. Fase efektor eliminasi dan/atau netralisasi Ag.
Memerlukan partisipasi sel-sel nonlimfoid secara kolektif disebut sel-sel efektor.
Kompleks Ag-Ab difagosit sel-sel polimorfonukleus & mononukleus (dlm sirkulasi).
~ mengaktifkan sistem komplemen utk melisis & fagosit mikroorganisme.
Limfosit T tersensitasi mensekresi sitokin mengaktifkan sitolisis & fagositosis.
• Kelainan / malfungsi sistem imun.
Sistem imun yang bekerja tidak normal memberi respon / reaksi tidak normal menyebabkan konsekuensi patologi tertentu pada individu ybs.
1. Reaksi hipersensitivitas respon berlebihan reaksi alergi. Dipicu overproduksi IgE; kompleks IgE-Ag mengaktifkan sel mast mengalami
degranulasi menghasilkan histamin alergi.
2. Autoimun mengenal komponen self sebagai Ag asing.
Sistemik lupus erimatosus
Rematik Rhematoid arthritis, Diabetes tipe I, Rematik jantung.