• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMUNOGLOBULIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IMUNOGLOBULIN"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

IMUNOGLOBULIN

(2)

Struktur kimia imunoglobulin

PENGERTIAN

• Immunoglobulin atau Antibodi merupakan

suatu fraksi plasma (serum) yang bereaksi

secara khusus dengan antigen yang

merangsang produksinya. Berat molekulnya

dari terendah sekitar 150.000 (angka

sedimentasi 7S) untuk komponen IgG hingga

fraksi dengan berat molekul 900.000 (19S)

(3)

KELAS IMUNOGLOBULIN

Berdasarkan jenis rantai-H yang dimiliki, maka pengklasifikasian

kelas Imunoglobulin adalah sebagai berikut :

(4)

• Imunoglobulin atau antibodi adalah sekelompok

glikoprotein yang terdapat dalam serum atau

cairan tubuh pada hampir semua mamalia.

Imunoglobulin termasuk dalam famili glikoprotein

yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari

82-96% polipeptida dan 4-18% karbohidrat.

Komponen polipeptida membawa sifat biologik

molekul antibodi tersebut. Molekul antibodi

mempunyai dua fungsi yaitu mengikat antigen

secara spesifik dan memulai reaksi fiksasi

komplemen serta pelepasan histamin dari sel

mast.

(5)

• Pada manusia dikenal 5 kelas imunoglobulin. Tiap

kelas mempunyai perbedaan sifat fisik, tetapi pada

semua kelas terdapat tempat ikatan antigen spesifik

dan aktivitas biologik berlainan.

Struktur dasar imunoglobulin terdiri atas 2 macam

rantai polipeptida yang tersusun dari rangkaian asam

amino yang dikenal sebagai rantai H (rantai berat)

dengan berat molekul 55.000 dan rantai L (rantai

ringan) dengan berat molekul 22.000. Tiap rantai dasar

imunoglobulin (satu unit) terdiri dari 2 rantai H dan 2

rantai L. Kedua rantai ini diikat oleh suatu ikatan

disulfida sedemikian rupa sehingga membentuk

struktur yang simetris.

(6)

• Yang menarik dari susunan imunoglobulin ini adalah

penyusunan daerah simetris rangkaian asam amino

yang dikenal sebagai daerah domain, yaitu bagian dari

rantai H atau rantai L, yang terdiri dari hampir 110

asam amino yang diapit oleh ikatan disulfid interchain,

sedangkan ikatan antara 2 rantai dihubungkan oleh

ikatan disulfid interchain. Rantai L mempunyai 2 tipe

yaitu kappa dan lambda, sedangkan rantai H terdiri dari

5 kelas, yaitu rantai G (γ), rantai A (α), rantai M (μ),

rantai E (ε) dan rantai D (δ). Setiap rantai mempunyai

jumlah domain berbeda. Rantai pendek L mempunyai 2

domain; sedang rantai G, A dan D masing-masing 4

(7)

ImunoglobulinG (IgG)

Adalah reaksi imun yang diproduksi terbanyak sebagai

antibodi utama dalam proses sekunder dan merupakan

pertahanan inang yang penting terhadap bakteri yang

terbungkus dan virus. Mampu menyebar dengan mudah ke

dalam celah ekstravaskuler dan mempunyai peranan

penting menetralisir toksin kuman, serta melekat pada

kuman sebagai persiapan fagositosis.

Merupakan proteksi utama pada bayi terhadap infeksi

selama beberapa minggu pertama setelah lahir,

dikarenakan mampu menembus jaringan plasenta. IgG yang

dikeluarkan melalui cairan kolostrum dapat menembus

(8)

• IgG mempunyai dua tempat pengikatan

antigen yang sama (divalen) dan dikenal 4

subkelas, yaitu IgG1 IgG1, IgG2, IgG3 dan IgG4.

Perbedaannya terletak pada rantai-H dengan

beberapa fungsi biologis serta jumlah dan

lokasi ikatan disulfida. IgG1 merupakan 65%

dari keseluruhan IgG. IgG2 berguna untuk

melawan antigen polisakarida dan menjadi

pertahanan yang penting bagi inang untuk

melawan bakteri yang terbungkus.

(9)

Imunoglobulin A (IgA)

Adalah Imunoglobulin utama dalam sekresi selektif,

misalnya pada susu, air liur, air mata dan dalam

sekresi pernapasan, saluran genital serta saluran

pencernaan atau usus (Corpo Antibodies).

Imunoglobulin ini melindungi selaput mukosa

dari serangan bakteri dan virus. Ditemukan pula

sinergisme antara IgA dengan lisozim dan

komplemen untuk mematikan kuman koliform.

Juga kemampuan IgA melekat pada sel polimorf

dan kemudian melancarkan reaksi komplemen

melalui jalan metabolisme alternatif.

(10)

• Tiap molekul IgA sekretorik berbobot molekul

400.000 terdiri atas dua unit polipeptida dan satu

molekul rantai-J serta komponen sekretorik.

Sekurang-kurangnya dalam serum terdapat dua

subkelas IgA1 dan IgA2. Terdapat dalam serum

terutama sebagai monomer 7S tetapi cenderung

membentuk polimer dengan perantaraan

polipeptida yang disintesis oleh sel epitel untuk

memungkinkan IgA melewati permukaan epitel,

disebut rantai-J. Pada sekresi ini IgA ditemukan

dalam bentuk dimer yang tahan terhadap

proteolisis berkat kombinasi dengan suatu

protein khusus, disebut Secretory Component

yang disintesa oleh sel epitel lokal dan juga

diproduksi secara lokal oleh sel plasma.

(11)

Imunoglobulin M (IgM)

Imunoglobulin utama yang pertama dihasilkan dalam

respon imun primer. IgM terdapat pada semua

permukaan sel B yang tidak terikat. Struktur polimer

IgM menurut Hilschman adalah lima subunit molekul

4-peptida yang dihubungkan oleh rantai-J. Pentamer

berbobot molekul 900.000 ini secara keseluruhan

memiliki sepuluh tempat pengikatan antigen Fab

sehingga bervalensi 10, yang dapat dibuktikan dengan

reaksi Hapten. Polimernya berbentuk bintang, tetapi

apabila terikat pada permukaan sel akan berbentuk

kepiting.

(12)

• Disebabkan bervalensi tinggi, maka antibodi

ini paling sering bereaksi di antara semua

Imunoglobulin, sangat efisien untuk reaksi

aglutinasi dan reaksi sitolitik, pengikatan

komplemen, reaksi antibodi-antigen yang lain

dan karena timbulnya cepat setelah terjadi

infeksi dan tetap tinggal dalam darah, maka

IgM merupakan daya tahan tubuh yang

penting untuk bakteremia dan virus. Antibodi

ini dapat diproduksi oleh janin yang terinfeksi.

(13)

ImunoglobulinE (IgE)

Didalam serum ditemukan dalam konsentrasi

sangat rendah. IgE apabila disuntikkan ke dalam

kulit akan terikat pada Mast Cells dan Basofil.

Kontak dengan antigen akan menyebabkan

degranulasi dari Mast Cells dengan pengeluaran

zat amin yang vasoaktif. IgE yang terikat ini

berlaku sebagai reseptor yang merangsang

produksinya dan kompleks antigen-antibodi yang

dihasilkan memicu respon alergi Anafilaktik

(14)

• Pada orang dengan hipersensitivitas alergi

berperantara antibodi, konsentrasi IgE akan

meningkat dan dapat muncul pada sekresi

luar. IgE serum secara khas juga meningkat

selama infeksi parasit cacing.

(15)

ImunoglobulinD (IgD)

Antibodi ini fungsi keseluruhannya belum

diketahui secara jelas. Dalam serum IgD

ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit

dan IgD merupakan antibodi inti sel. Zat ini

juga terdapat pada sel penderita leukemia

getah bening.

(16)

• Telah dibuktikan pula bahwa IgD dapat

bertindak sebagai reseptor antigen apabila

berada pada permukaan limfosit B tertentu

dalam darah tali pusar janin dan mungkin

merupakan reseptor pertama dalam

permulaan kehidupan sebelum diambil alih

fungsinya IgM dan Imunoglobulin lainnya,

setelah sel tubuh berdiferensiasi lebih jauh.

(17)

IMUNITAS

• Imunitas : Daya tahan tubuh untuk melawan penyakit  melawan infeksi.

Semua sel dan molekul yang terlibat dalam imunitas tubuh, merupakan suatu kesatuan fungsional disebut :

sistem imun.

Tanggap (respon) terhadap substansi asing yang masuk ke dalam tubuh, secara kolektif disebut respon imun .

Definisi spesifik :

Imunitas adalah reaksi untuk melawan substansi asing yang masuk ke dalam tubuh seperti mikroorganisme (bakteri, virus, parasit) & molekul besar (protein, polisakharida). Reaksi yang terjadi meliputi reaksi seluler dan molekul.

(18)

• Manfaat imunologi untuk kesehatan / kedokteran

1. Sistem imun dapat dimanipulasi agar fungsi sistem

imun dapat dikontrol untuk melawan penyakit.

Manipulasi sistem imun dapat dilakukan dengan:

- memanipulasi antigen asing yang masuk – vaksinasi

- memanipulasi pertemuan substansi asing dengan

sel/molekul sistem imun – imunoterapi.

Contoh : vaksinasi terhadap smallpox oleh Edward

Jenners (1758).

Observasi Jenners

pemerah susu yang menderita

smallpox setelah sembuh jarang/tidak pernah terkena

smallpox untuk kedua kalinya.

(19)

• Suntikkan cairan dari lesi cowpox ke anak umur 8

th

beberapa minggu.

- Setelah selesai, anak tersebut diinfeksi virus

smallpox

tidak sakit (kebal terhadap smallpox).

Metoda Jenners disebut vaksinasi (vaccine – dari

sapi)

metoda vaksinasi dipakai secara luas untuk

mengin-duksi imunitas terhadap

bermacam-macam penyakit.

(20)

• 2. Reaksi imun in vitro dan in vivo dapat dimanfaatkan

untuk : diagnosis & terapi penyakit infeksi dan/atau

terpapar toksin.

Contoh : antibodi terhadap virus/bakteri dalam darah

dipakai sebagai indikator perkembangan

penyakit.

Antibodi terhadap toksin/bisa digunakan untuk

mengobati penderita terpapar toksin/bisa i.e

pasien digigit ular, dsb.

(21)

• Komponen imunitas tubuh : 1. Innate/natural immunity

- imunitas yang sudah ada sejak fetus/dilahirkan. - bersifat nonspesifik  imunitas nonspesifik - berperan sebagai garis pertahanan pertama terhadap invasi substansi asing ke dalam tubuh. 2. Acquired/adaptive immunity

- imunitas yang didapat

- bersifat spesifik  imunitas spesifik

- berkembang karena diinduksi/distimulasi oleh intervensi substansi asing yang masuk ke dalam tubuh.

- substansi asing yg menginduksi imunitas spesifik disebut antigen.

(22)

Elemen/struktur yang mendukung imunitas tubuh.

Innate / natural

immunity

Adaptive/acquired

immunity

Resistensi Resistensi tidak

berubah pada infeksi

berikutnya

Resistensi menjadi

lebih baik pada infeksi

berikutnya

Soluble

factors

Lisozim, komplemen,

interferon

Antibodi

Cells

Epitel permukaan &

mukosa, fagosit, sel

NK

(23)

• Patogen (infectious agents) bila mengintervensi tubuh

mula-mula akan berhadapan dengan elemen sistem

imun natural (innate).

Bila sistem imun natural dapat dirusak, patogen akan

berhadapan dengan sistem imun adaptif

bereaksi

secara spesifik untuk mengeliminasi & menghancurkan

patogen.

Sistem imun adaptif menghasilkan imun memory

memberi reaksi sejenis yang lebih baik pada infeksi/

intervensi patogen yang sama berikutnya.

(24)

• Elemen/unsur yang terlibat dalam innate immunity 1. Permukaan luar tubuh

- epidermis kulit adalah barier efektif untuk mencegah penetrasi mikroorganisme.

- mukosa nasofaring, saluran pencernaan, saluran

pernafasan dan genitourinarius dilengkapi barier fisik (silia) dan kimia (enzim) untuk melawan/ mengham bat masuknya mikroorganisme.

2. Fagosit

sel yang memfagosit mikroorganisme/partikel yang melewati epitel  sistem retikuloendotelial 

diproduksi oleh sel-sel primordia (stem cells) dalam sumsum tulang: sel makrofag dlm jaringan

(25)

• 3. Sel NK

leukosit yg dapat mengenali perubahan-

perubahan permukaan sel yg diinfeksi virus

NK

akan berkontak (bind) dan membunuh sel terinfeksi.

4. Soluble factors

- interferon

protein diproduksi sel terinfeksi virus &

limfosit

mengaktifkan sel NK & menginduksi

resistensi sel yang berdekatan dg sel terinfeksi.

- komplemen

protein serum

aktifasi komplemen dpt menyelubungi bakteri shg

menarik (ready) utk difagosit

opsonosasi.

menyebabkan lisis membran sel bakteri

lytic pathway

(26)

• Inflamasi

Adalah reaksi respon tubuh terhadap injury (cedera) karena invasi mikroorganisma/partikel asing atau jejas lain. Reaksi inflamasi

menyebabkan elemen sistem imun dikerahkan ke situs infeksi Reaksi inflamasi meliputi :

1. Peningkatan suplai darah ke tempat infeksi.

2. Peningkatan permeabilitas kapiler darah karena retraksi endotel kapiler darah  menyebabkan molekul besar (protein serum) keluar menuju ke tempat infeksi.

3. Leukosit terutama neutrofil dan monosit keluar dari kapiler menuju ke situs infeksi karena chemotaksis.

(27)

• Tanda-tanda inflamasi :

rubor

merah

tumor

bengkak

kalor

panas

dolor

sakit

functio laesa (kehilangan fungsi) jaringan

yang terinfeksi.

(28)

• Specific/acquired immunity

Imunitas yang didapat karena induksi & pemaparan

(exposure) pada substansi asing (antigen).

Sifat dasar imunitas spesifik

- menghasilkan “immune memory”

memberi respon

lebih efektif pada infeksi yang sama berikutnya

prinsip dasar vaksinasi.

- menghasilkan respon yang fokus pada antigen yang

menginvasi tubuh dan mengeliminasinya



(29)

• Imunitas spesifik diperankan oleh 2 sistem imun :

1. Imunitas humoral : dibawakan oleh molekul (protein) serum yang mengenal dan mengeliminasi antigen bebas (tidak terikat/bukan bagian) sel  disebut antibodi  mengikat dan bereaksi dengan antigen secara spesifik.

2. Imunitas seluler (cell mediated immunity) : dibawakan oleh sel  limfosit T, mengenal antigen dipermukaan sel atau antigen nonself dan menghancurkan sel yang mengekspresikan antigen tsb.

Antibodi dan limfosit T spesifik dapat ditransfer secara pasif ke individu yang belum imun (naive)

(30)

• Respon humoral dan seluler terhadap stimulasi antigen mempunyai ciri/sifat yang mendasar (fundamental).

1. Specificity

Respon imun adalah spesifik terhadap antigen tertentu. Antibodi atau limfosit dapat mengenal bagian dari protein komplex atau molekul besar lainnya. Bagian molekul yang dikenali antibodi atau limfosit secara spesifik disebut determinan atau epitop.

2. Diversity

Tubuh manusia mempunyai sistem imun yang berpotensi mengenal antigen di lingkungan hidupnya.

Limfosit yang mempunyai spesifisitas thd antigen di dlm tubuh

seluruhnya disebut “lymphocyte repertoire”  diperkirakan dapat mendeferensiasi 109 determinan.

(31)

• Bila suatu limfosit terinduksi antigen

limfosit akan

berproliferasi membentuk satu klon spesifik

“clonal

selection theory”.

3. Memory

Respon imun terhadap antigen akan meningkat

efektifitasnya apabila terpapar/bertemu antigen yang sama

untuk kedua kali dan seterusnya

disebut “immunological

momory” & diperankan oleh “memory cells”.

4. Self limitation

Respon imun yang normal akan menurun dan menghilang

beberapa waktu setelah stimulasi dihentikan.

(32)

• 5. Descrimination of self from nonself

Dapat membedakan antigen asing dari

komponen sendiri. Limfosit akan bereaksi

terhadap stimulasi antigen asing tetapi tidak

memberi respon pada molekul & komponen

sendiri

toleransi imun (immune tolerance).

Kegagalan toleransi imun pada komponen

sendiri

kelainan/penyakit autoimun

menimbulkan

konsekuensi patologi tertentu.

(33)

• Organ-organ yang terlibat dalam sistem imun.

Organ-organ dalam sistem imun dibedakan menjadi 2

golongan berdasarkan fungsinya dlm sistem imun :

- organ limfoid primer (sentral).

- organ limfoid sekunder (periferal).

Limfosit imatur akan mengalami maturasi shg menjadi

matur didalam organ limfoid primer

menjadi sel

imunokompeten.

Pada mamalia organ limfoid primer adalah :

- sumsum tulang (bone marrow)

maturasi sel B

- timus

maturasi sel T

(34)

• Organ limfoid sekunder  mengambil antigen dari jaringan atau dari darah (sirkulasi) & memberi tempat sel imunokompeten untuk berinteraksi secara efektif dengan antigen.

Limfonodus mengkoleksi antigen dari cairan intraseluler jaringan. Lien (limpa/spleen) menyaring antigen dalam darah & sirkulasi  sehingga dapat merespon infeksi sistemik.

Mucosa associated lymphoid tissue (MALT) pada traktus

respiratorius, digestivus, genitourinarius  (Peyer’s patch, tonsil, adenoid) menangkap Ag yang masuk via membran mukosa.

(35)

• Sel-sel yang terlibat dalam sistem imun spesifik.

Semua sel dalam sistem imun (spesifik) berasal dari “stem

cells” yang pluripoten di dalam sumsum tulang (bone

marrow), berkembang melalui proses hematopoeisis.

Terbagi dalam 2 jalur diferensiasi:

1. jalur mieloid

memproduksi fagosit dan sel-sel lain

2. jalur limfoid

memproduksi limfosit

Fagosit dibedakan menjadi 2 jenis :

- monosit



fagosit yang dapat meninggalkan sistem

vaskuler & berubah menjadi fagosit

jaringan

makrofag

(36)

• Limfosit diproduksi dalam sumsum tulang, beredar dalam sirkulasi dan sistem limfoid & menempati organ-organ limfoid.

Limfosit berinteraksi & mengenal antigen melalui reseptor antigen dipermukaan selnya.

Ada 2 macam limfosit : limfosit B & limfosit T  dibedakan berdasarkan marka protein membran sel 

CD3 pada sel T ; CD11 pada sel B.

Limfosit B  diproduksi & berkembang dalam sumsum tulang.

Mempunyai reseptor antigen mol. Ab yang terfiksasi membran sel pada Ch terminalnya. Bila sel B naive kontak dengan Ag, sel B

berproliferasi & berdiferensiasi menjadi sel B memori yang mensekresi Ab spesifik, disebut sel plasma.

(37)

• Limfosit T

Berkembang dari stem cells dalam sumsum tulang,

bermigrasi ke dalam timus dan berdiferensiasi menjadi

sel T matur.

Sel T matur mengekspresikan “antigen binding protein”

dipermukaan selnya, disebut reseptor sel T (TCR)

terdiri dari 2 protein subunit



atau



, dihubungkan

oleh ikatan disulfida.

TCR mengenal Ag dipermukaan sel yang berasosiasi/

dipresentasikan molekul MHC (HLA).

Bila sel T naive kontak dengan Ag

sel T berproliferasi

& berdiferensiasi menjadi sel T memori dan sel efektor.

(38)

• Subpopulasi sel T : Sel T helper (TH) & sel T sitotoksik (TC) 

dibedakan berdasarkan marka protein membran sel  CD4 pada TH dan CD8 pada TC.

TH setelah kontak dengan Ag berubah menjadi efektor yang mensekresi sitokin (limfokin)  mengaktifkan sel B, TC , sel-sel fagosit dan efektor lainnya.

TC setelah kontak dengan Ag berubah menjadi efektor yang memediasi reaksi sitotoksik  membunuh/melisis

sel yang mengekspresikan Ag : - sel terinfeksi virus

- sel terinfeksi mikroorganisme intrasel - sel tumor

(39)
(40)

• Antigen Precenting Cells (APC).

Sistem imun humoral & seluler diaktifkan oleh T

H

yang

mengenal Ag dipermukaan sel berasosiasi dengan

MHC.

Ag dipresentasikan oleh antigen presenting cells (APC)

makrofag, limfosit B, sel-sel dendritik.

APC mengambil Ag dengan fagositosis atau endositosis

mengekspresikannya kembali dalam bentuk

(41)

• Major Histocompatibility Complex (MHC)

Protein membran sel, diekspresikan oleh kelompok gen (gene cluster) yang terangkai sempurna (tight linkage).

Produk MHC berperan penting dalam pengenalan Ag antar sel dan diskriminasi self dari nonself  menentukan kompatibilitas

jaringan antar individu dalam satu spesies  disebut

transplantation antigen.

Pada sistem imun MHC berpengaruh pada kreasi respon humoral dan seluler (cell mediated)  sel TH & TC mengenal Ag yang

berasosiasi dengan molekul MHC

 MHC menentukan repertoire (daftar) Ag yang dapat direspon TH & TC  MHC berimplikasi pada suseptibilitas thd penyakit &

(42)

MHC adalah kumpulan gen (gene array); pada manusia

terletak pada khromosom 6 disebut kompleks HLA, pada

tikus terletak pada khromosom 17 disebut kompleks H2.

HLA mengkode 3 macam molekul : HLA klas I, klas II & klas

III.

HLA klas I dikode oleh regio A, B dan C

HLA klas II dikode oleh regio DP, DQ, DR

Setiap regio mempunyai alel yang sangat majemuk

mempunyai variasi sangat besar, meskipun pada saudara

sekandung.

(43)

Molekul HLA klas I mempresentasikan Ag yang

dikenal T

C

terdapat pada semua sel berinti.

Molekul HLA klas II mempresentasikan Ag yang

dikenal T

H

terdapat pada antigen presenting cells

(44)
(45)
(46)

Diperankan oleh antibodi, protein yg tdpt dalam serum &

cairan tubuh mamalia

merupakan fraksi

globulin

disebut imunoglobulin (Ig)

Diproduksi dan disekresikan oleh limfosit B yang

distimulasi antigen (sensitized B lymphocytes) sehingga

berubah menjadi sel plasma.

Berfungsi sebagai efektor untuk mengikat antigen yang

bebas (tidak terikat atau merupakan bagian sel),

(47)

• Ada 5 klas Ig pada semua spesies (isotip), ditentukan

oleh rantai H yang mengkonstruksinya

IgG – bagian terbesar Ig dalam serum normal, meliputi

70 – 75% total Ig. Terdistribusi intra dan

ekstravaskular. Antibodi dominan pada respon

imun sekunder, terutama sebagai anti-toxin.

IgM – meliputi 10% total Ig. Berbentuk pentamer,

terdistribusi intravaskular, Sebagai antibodi

predominan pada respon awal (“early response”)

infeksi mikroorganisme.

(48)

• IgA – meliputi 15 – 20% total Ig. Berbentuk dimer

dilengkapi “secretory component”, disebut sIgA

Predominan pada sekret seromukosa spt saliva

,

sekret tracheobronkhial, genitourinarius dll.

IgD – Kurang dari 1% total Ig. Imunoglobulin yg

terfiksasi pada membran sel limfosit B. Berfungsi

sbg Ag reseptor & menstimulasi deferensiasi sel B

menjadi sel plasma.

IgE – Mempunyai proporsi sangat kecil, berasosiasi

pada permukaan basofil dan sel mast. Berperan

pada imunitas thd parasit (helminthes) dan

(49)

• Respon imun berlangsung dalam beberapa fase :

1. Fase kognitif

pengenalan antigen dengan

pengikatan (binding) antigen pada reseptor spesifik

di permukaan limfosit.

limfosit B

mengikat Ag pada Ig permukaan.

limfosit T

mengikat fragmen Ag – MHC (HLA)

pada TCR.

2. Fase aktifasi

- limfosit berproliferasi

expansi klonal dari limfosit

spesifik terhadap antigen tsb.

- limfosit berdiferensiasi

limfosit B

secreting cells (sel plasma)

(50)

• limfosit T  mediated killing

 mengaktifkan makrofag membunuh mikroba intraseluler.

 melisis sel yang mengekspresikan Ag asing atau Ag virus.

3. Fase efektor  eliminasi dan/atau netralisasi Ag.

Memerlukan partisipasi sel-sel nonlimfoid  secara kolektif disebut sel-sel efektor.

Kompleks Ag-Ab difagosit sel-sel polimorfonukleus & mononukleus (dlm sirkulasi).

~ mengaktifkan sistem komplemen utk melisis & fagosit mikroorganisme.

Limfosit T tersensitasi mensekresi sitokin  mengaktifkan sitolisis & fagositosis.

(51)

• Kelainan / malfungsi sistem imun.

Sistem imun yang bekerja tidak normal  memberi respon / reaksi tidak normal  menyebabkan konsekuensi patologi tertentu pada individu ybs.

1. Reaksi hipersensitivitas  respon berlebihan  reaksi alergi. Dipicu overproduksi IgE; kompleks IgE-Ag mengaktifkan sel mast mengalami

degranulasi menghasilkan histamin  alergi.

2. Autoimun  mengenal komponen self sebagai Ag asing.

Sistemik lupus erimatosus

Rematik  Rhematoid arthritis, Diabetes tipe I, Rematik jantung.

(52)

• 3. Imunodefisiensi

sistem imun kehilangan

kapasitasnya mengenal dan mengeliminasi Ag.

Ex. Bayi lahir dengan kegagalan sintesis enzim

adenosin deaminase (ADA)

sistem imun gagal

bereaksi dengan hampir semua jenis Ag

diisolasi dalam ruang steril

hanya dapat diatasi

dengan terapi gen.

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS)

sel T

H

dirusak oleh infeksi HIV

immune

paralysis

suseptibel terhadap infeksi

mikroorganisme, virus dan maligna.

(53)

Referensi

Dokumen terkait

Antibodi monoclonal adalah adalah antibodi yang diperoleh dari suatu sumber tunggal atau sel klonal yang hanya mengenal satu jenis antigen. Teknik hibridoma adalah penggabungan

 Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang

 Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya.. Sehingga, orang

o Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum

Sel B dan T mengenal berbagai epitop pada molekul antigen yang sama.Limfosit juga dapat berinteraksi dengan antigen yang kompleks pada berbagai tahap struktur antigen.Oleh Karena

Cara kerja antibodi dalam mengikat antigen ada empat macam. Prinsipnya adalah terjadi pengikatan antigen oleh antibodi, yang selanjutnya antigen yang telah diikat

Memicu penstimulasian sel B oleh Memicu penstimulasian sel B oleh antigen yang merupakan awal dari antigen yang merupakan awal dari respon imunitas.

Pada makalah ini dapat disimpulakan bahwa antibodi merupakan protein globulin yang disekresi oleh sel B yang teaktifasi oleh antigen, dimana terdapat didalam serum atau