TESIS
Oleh:
HELLERY DONCE SIHOLE NIM: 147009018/LNG
FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
FEMINISME RADIKAL DALAM DWILOGI NOVEL SAMAN DAN LARUNG KARYA AYU UTAMI
ABSTRAK
Penelitian ini ditujukan untuk mengungkapkan pemikiran Feminisme Radikal yang terungkap dalam dwilogi Saman dan Larung karya Ayu Utami. Tesis ini berjudul Feminisme Radikal Ayu Utami dalam Dwilogi Novel Saman dan Larung dengan dua permasalahan yang dianalisis yaitu bagaimanakah Feminisme Radikal yang tergambar dalam dwilogi novel Saman dan Larung karya Ayu Utami.
Bagaimana tanggapan para pembaca terhadap dwilogi novel Saman dan Larung.
Tujuan dari penulisan tesis adalah mendiskripsikan dan menganalisa Feminisme Radikal dalam dwilogi novel Saman dan Larung. Mendeskripsikan tanggapan para pembaca terhadap dwilogi novel Saman dan Larung. Sesuai dengan penulisan tesis ini, maka teori yang dipakai adalah teori Feminisme Radikal, Teori Semiotik, dan teori Postmodernisme. Data primer diambil dari studi kepustakaan yaitu kedua novel Saman dan Larung. Sedangkan data lapangan diambil dari tanggapan pembaca yang berjumlah 20 responden. Data sekunder diambil dari buku-buku dan tulisan mengenai Ayu Utami yang ditulis oleh penulis lain, dan Jurnal.
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hal ini sesuai dengan penelitian yang cenderung memakai penjelasan dan keterangan bukan memakai angka-angka untuk membuat analisis dan kesimpulan. Analisis data menggunakan metode miles & Huberman tahun 2014.Dalam analisis digambarkan data-data yang diperoleh dan dianalisa dengan menggunakan teori penafsiran dan juga teori lain yang dipakai dalam tesis ini. Dengan demikian diharapkan analisis telah menjawab permasalahan yang ada di dalam tesis.
Hasil penelitian menunjukkan ada ide dan pemikiran Ayu Utami yang ditolak oleh masyarakat. Dan ada juga ide yang diterima untuk kemajuan masyarakat Indonesia. Hal ini juga berlaku dengan tanggapan pembaca yang masih pro dan kontra terhadap ide dan pemikiran di dalam novel Saman dan Larung.
Kata Kunci: Ideologi Feminisme, Feminisme Radikal, Kontroversional, Kebebasan Seksual.
RADICAL FEMINISM ON DWILOGY NOVEL SAMAN AND LARUNG BY AYU UTAMI.
ABSTRACT
This study observed Ayu Utami thoughts about Radical Feminism on novels Saman and Larung. The topic of this thesis is about Radical Feminism on Dwilogy Novel Saman and Larung. There are two problems determined in this tesis. They are about Radical Feminism and the responses of the readers for both novels. This research is conducted for describing and analyzing Radical Feminism in Saman and Larung , to describe and to analyzed the response of the readers about dwilogy Saman and Larung. Based on the problems and purposes of this tesis, The theory applied are Radical Feminism, Semiotic, and Postmodernism. Primary data are text from two novels, while the field research is taken from the readers of Saman and Larung. There are 20 informants. Secondary data is taken from books, journals, and written by some writers. The methodology used is descriptif qualitative, because this research used description and explanation not to use numbers to make analysis and conclusion. Data analysis used Miles and Huberman 2014 in the analysis of the data is described and explained by using interpretation theory and any other theory. It is hoped that the analysis have answered the problems of this thesis. The result showed that there are ideas and thoughts from Ayu Utami which are refused and accepted by Indonesian society. And there are some ideas from Ayu Utami accepted by society to improve of the Indonesian women.
Keywords : feminism ideology, radical feminism, controversial, free sexual oriented.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan petunjuk dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Judul tesis ini adalah Feminisme Radikal Ayu Utami Dalam Novel Saman dan Larung . Penelitian ini membicarakan tentang pemikiran Feminisme Radikal yang terungkap dalam dwilogi novel Saman dan Larung karya Ayu Utami. Dalam hal ini Ayu Utami dipengaruhi oleh Feminisme Radikal dari barat.
Di dalam penulisan tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.
Penulis berusaha agar dalam penulisan tesis ini tidak terlepas dari keilmiahannya.
Penulis banyak mendapatkan bantuan baik secara moril maupun materil.
Oleh sebab itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S, selaku Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Budi Agustono, M.S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
4. Prof. T. Silvana Sinar, M.A, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang sudah banyak memberikan motivasi dan dukungan agar penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
5. Dosen Pembimbing I Ibu Dr. Siti Norma Nasution, M.Hum yang senantiasa mengoreksi, memberikan bahan untuk rujukan dan contoh, memberikan motivasi yang sangat besar untuk menyempurnakan tesis ini.
6. Dosen Pembimbing II Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A yang telah senantiasa mengoreksi, memberikan bimbingan untuk kesempurnaan tesis ini.
7. Kepada seluruh Dewan Penguji Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si, Dr.
Martha Pardede, M.A, Dr. Nurlela, M.Hum yang telah memberikan saran dan penilaian demi perbaikan tesis ini.
8. Pada kesempatan ini saya mengenang ibunda saya almarhumah S. Sagala, yang selalu menumbuhkan kecintaan saya untuk semangat dan terus belajar.
Ayah saya Pdt. M. Sihole, BA yang selalu memotivasi kami dan memberikan semangat belajar. Juga kepada kedua mertua L. Purba dan R. Situmeang yang tetap mendukung kegiatan pendidikan saya, saya haturkan terima kasih.
9. Terima kasih yang tak terhingga kepada suami tercinta Lidon Purba, SE.,MH yang telah memberikan kasih sayang, pengertian, dan motivasi dimana konsisten atas kesepakatan kami untuk saling menopang dalam menimba ilmu pengetahuan dan berkarya. Kepada anak-anak kami Vladdy, Darrel, dan Jovana yang dapat menambah semangat dalam penyelesaian tesis ini dan selalu mendukung dalam doa.
Penulis menerima saran-saran yang bermanfaat untuk kesempurnaan tesis ini. Semoga hasil karya ini dapat menjadi berkat bagi masyarakat dan kemuliaan bagi nama Tuhan.
Medan, Agustus 2016 Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Pembatasan Masalah ... 12
1.3 Rumusan Masalah ... 12
1.4 Tujuan Penelitian ... 13
1.5 Manfaat Penelitian ... 13
1.5.1 Manfaat Teoretis ... 13
1.5.2 Manfaat Praktis ... 14
1.6 Definisi Operasional Penelitian... 14
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 19
2.1 Tinjauan Pustaka ... 19
2.2 Konsep ... 27
2.3 Landasan Teori ... 28
2.3.1 Teori Semiotik Sastra ... 28
2.3.2 Saussure : Tanda sebagai Semiologi ... 30
2.3.3 Teori Feminisme ... 33
2.3.4 Teori Feminisme Radikal ... 37
2.3.5 Teori Postmodernisme ... 39
2.3.5.1 Latar Belakang Munculnya Postmodernisme ... 39
2.3.5.2 Pengertian Postmodernisme ... 42
2.3.5.3 Postmodern : Perspektif Sosioli ... 47
2.3.5.4 Filsafat dan Teori : Nietzche dan Freud ... 50
2.4 Kerangka Berpikir ... 57
BAB III METODE PENELITIAN ... 59
3.1 Metode Penelitian ... 59
3.2 Data dan Sumber Data ... 64
3.3 Data Penelitian ... 66
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 67
3.5 Teknik Analisis Data ... 68
BAB IV HASIL PEMBAHASAN ... 71
4.1 Feminisme Radikal Dalam Dwilogi Novel Saman dan Larung karya Ayu Utami ... 71
4.2 Tanggapan Tokoh Masyarakat Terhadap Dwilogi Novel Saman dan Larung Yang Telah Mereka Baca ... 94
4.2.1 Analisis Tanggapan Pembaca Terhadap Dwilogi Novel Saman dan Larung yang Pro ... 94
4.2.2 Analisis Tanggapan Masyarakat yang Kontra Terhadap Pemikiran Tentang Kesetaraan orientasi Seksual, Kesetaraan Sosial Ekonomi dan Politik serta Kesetaraan dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ... 102
BAB V DISKUSI ... 111
5.1 Pengantar Diskusi ... 111
5.2 Diskusi Hasil Penelitian ... 111
BAB VI SIMPULAN... 118
DAFTAR PUSTAKA ... 120
Lampiran 1 Sampul Novel Saman dan Larung ... 123
Lampiran 2 Sinopsis Novel Saman dan Larung karya Ayu Utami ... 124
Lampiran 3 Data Informan ... 134
Lampiran 4 Daftar Pertanyaan ... 135
Lampiran 5 Data Hasil Wawancara Pembaca Dwilogi Novel Saman dan Larung karya Ayu Utami ... 136
Lampiran 6 Tabulasi Data ... 180
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ... 58
Gambar 3.1 Komponen-Komponen Analisis Data: Model Interaktif ... 61
Gambar 3.2 Sumber Data Penelitian ... 66
Gambar 3.3 Bagan Penelitian ... 69
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pemikiran feminisme berasal dari Barat, karena itu tidak semua ide-ide dan konsepnya dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang berbudaya Timur.
Masyarakat Indonesia masih memegang teguh tradisi budaya dan agama seperti yang tercantum di dalam Pancasila yaitu, yang berkeTuhanan yang Maha Esa.
Dengan demikian unsur-unsur yang bertentangan dengan prinsip dan falsafah hidup masyarakat Indonesia tidak dapat diterima, misalnya pemikiran feminisme yang radikal, yang memberikan kebebasan orientasi seksual bagi kaum feminis dari Barat. Kaum feminis radikal bersifat sangat keras menentang dominasi laki- laki terhadap perempuan, hal ini dapat terjadi karena sistem budaya patriarkhi bersifat universal terjadi hampir di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Laki-laki yang menganut budaya patriarkhi selalu ingin menunjukkan kekuasaannya atas perempuan. Mereka ingin mengatur kehidupan perempuan menurut kepentingan mereka. Termasuk tubuh perempuan yang ditujukan untuk memenuhi hasrat seksual mereka. Karena beberapa alasan diatas itulah kaum feminis di Barat, menentang keras kekuasaan laki-laki yang dipaksakan terhadap perempuan (Halley, 1998:570).
Para suami yang menganut budaya patriarkhi melarang isterinya untuk bekerja di ranah publik dengan alasan yang klasik yaitu bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dan para istri bekerja di ranah domestik hanya mengurusi pekerjaan rumah tangga. Hal seperti ini masih banyak terjadi di Indonesia. Banyak perempuan yang telah
berhasil lulus dari Perguruan Tinggi harus “terkurung” di dalam rumahnya sendiri. Di era keterbukaan saat sekarang ini masih saja ada kaum laki-laki yang mempertahankan “kekuasaan” mereka, mereka menempatkan dirinya sebagai
“penguasa” dan isterinya sebagai “bawahan”. Kaum perempuan terus berjuang menuntut kesetaraan gender dengan menolak dominasi budaya patriarkhi (Tong, 2004 : 99).
Ayu Utami di dalam dwilogi novelnya Saman dan Larung juga menolak dominasi budaya patriarkhi melalui sikap dan perilaku tokoh-tokoh utamanya.
Kelompok perempuan ini sangat aktif terlibat dalam bidang sosial, ekonomi, politik dan kesejahteraan bagi perempuan, termasuk kebebasan orientasi seksual (lesbianisme). Pemerintahan rezim Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto menjadi latar belakang kondisi sosial untuk kedua novelnya ini.
Penelitian tentang ideologi feminisme radikal ini sangat erat hubungannya dengan impian-impian dan harapan Ayu Utami yang diungkapkan dalam kedua novelnya Saman dan Larung. Ia ingin perempuan Indonesia ikut langsung terlibat dalam kehidupan ranah publik. Agar mencapai keberhasilan secara sosial ekonomi dan material. Ayu Utami dengan berani menggambarkan realita kehidupan sang penulis, yang saat ini menggunakan bahasa yang lugas dan berani.
Novel Saman merupakan rilisan pertama Ayu Utami yang kaya dengan keragaman sudut pandang, pluralnya makna dan pemaknaan, alur yang seakan melompat-lompat, dan perlawanan terhadap hal-hal bersifat konsensus yang ditampilkan dengan baik oleh Ayu Utami melalui tokoh tokohnya. Novel Saman terbit perdana pada April 1998, dan hingga saat ini telah dialihbahasakan tidak kurang dalam enam bahasa asing dan juga telah diverifikasi minat dari penerbit di
Ethiopia yang menginginkan Saman untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Ethiopia.
Beberapa pengakuan dan penghargaan telah didapat melalui novel Saman.
Pada tahun 1998 Saman mendapatkan penghargaan sebagai novel terbaik yang dinobatkan oleh Dewan Kesenian Jakarta sekaligus mengorbitkan nama pengarangnya Ayu Utami sebagai penulis wanita Indonesia dengan tema-tema yang “menantang”.
Saman merupakan sebuah novel yang mengajak pembacanya merasakan keakraban dengan konflik-konflik yang terjadi sepanjang cerita. Kisah percintaan yang membingungkan melalui lika-liku kisah asmara yang dialami oleh tokoh Laila, serta dilemanya ketika harus menjalani sebuah hubungan dengan lelaki yang telah beristri hingga membawanya pada pertemuan dengan teman lelaki semasa remajanya sekaligus lelaki yang dahulu sangat diidolakannya, tokoh Saman.
Rangkaian cerita persahabatan dengan variasi karakteristik tokoh dalam Saman dinarasikan lewat kisah beberapa tokoh wanita dalam novel yakni Laila Gagarin, Shakuntala, Cok, dan Yasmin Moningka yang telah berkawan erat semenjak kecil namun tetap menjaga persahabatan hingga dewasa, dan masing- masing tokoh tersebut memiliki kepribadian, cara pandang terhadap realitas, dan keyakinan personal namun tidak saling menyalahkan apalagi menghakimi satu sama lain. Lalu dapat disimak juga bagaimana kehidupan tokoh Saman diinventarisasikan kehidupan masa kecil, latar belakang keluarga, pengalaman masa kanak-kanak berjumpa dengan kejadian duniawi, religiusitas dan ritus keagamaan yang dieksplorasi dalam beberapa babak, keputusan tokoh Saman
untuk masuk dalam kehidupan parokial menjadi seorang pater, pergelutannya dengan aktivitas kemanusiaan di lapangan bukan di mimbar, pergantian nama, dan pengalaman-pengalamannya khususnya secara seksual adalah hal-hal yang menarik di dalam Saman.
Novel keduanya Larung, yang merupakan seri lanjutan dari novel Saman terbit tahun 2001. Semula novel ini ingin dijadikan sebuah novel dengan judul Laila Tak Mampir di New York. Novel yang ditulis Ayu Utami mengangkat hal tabu untuk disajikan dengan begitu transparan, namun keberanian itulah yang menjadi titik balik suksesnya buku ini sehingga menarik perhatian dan minat pembaca untuk membaca novel ini secara utuh. Menurut pembaca, meskipun novel ini telah berulang kali dibaca tetapi tidak membosankan.
Penelitian ini memberikan perhatian khusus pada gagasan Radikalisme Ayu Utami yang dituangkan dalam Dwilogi novel Saman dan Larung. Ada beberapa permasalahan yang dibahas berhubungan dengan ide-ide radikal diantaranya, (1) pemikiran kesetaraan dalam masalah seksual, (2) pemikiran radikal dalam masalah sosial ekonomi dan politik perempuan dapat terlibat langsung dalam masalah politik di ranah publik.Pemikiran kesetaraan dalam masalah sosial ekonomi, (3) pemikiran kesetaraan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi seperti aktivis perempuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bahwa perempuan dapat melebihi kemampuan laki-laki. Perlakuan tidak adil yang paling kuat adalah kekerasan domestik dan kekerasan publik.
Perempuan yang mengalami kekerasan publik dan domestik seringkali tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Kaum perempuan hanya memiliki kewajiban untuk tunduk dan patuh pada laki-laki yang menguasainya. Deskriminasi gender
merupakan perjuangan yang panjang. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kuasa perempuan dan laki-laki, dan dikotomi privat-publik. “The personal is political” menjadi gagasan baru yang mampu menjangkau permasalahan perempuan sampai ranah privat, masalah yang dianggap paling tabu untuk diangkat ke permukaan (Tong, 2006 : 194 ). Informasi atau pandangan buruk (black propaganda) banyak ditujukan kepada feminis radikal. Padahal, karena pengalaman perempuan membongkar persoalan- persoalan privat inilah Indonesia saat ini memiliki Undang-undang RI No.23 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Ide-ide atau pemikiran feminisme pada umumnya datang dari Barat dan mempengaruhi pemikiran serta sikap masyarakat Indonesia secara umum termasuk para pengarang (novelis) Indonesia seperti Ayu Utami. Para perempuan di Amerika, memulai gerakan feminisme dengan menuntut hak suara (the rights to vote) dalam pemilihan umum. Hak untuk bekerja di sektor publik dan hak untuk mendapatkan upah yang setara. Hal ini mempertanyakan lebih daripada ketidaksetaraan sosial yang dialami wanita, tetapi juga mengamati struktur ideologis dan mempengaruhi pemikiran dan sikap masyarakat Indonesia secara umum.
Dwilogi novel Ayu Utami yang berjudul Saman dan Larung banyak mengutarakan pemikiran dan pandangannya tentang kesetaraan gender yang memihak kaum perempuan. Superioritas laki-laki atas perempuan dapat disebut sebagai budaya patriarki. Fenomena perbedaan status sosial perempuan membuat sistem patriarki mendominasi di kalangan masyarakat. Patriarki menurut Bhasin
(dalam Sugihastuti dan Suharto, 2002:94) merupakan sebuah sistem dominasi dan superioritas laki-laki, sistem kontrol terhadap perempuan, yang perempuan itu dikuasai. Perempuan dinilai memiliki posisi lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Patriarki juga dapat diartikan sebagai sistem pengelompokan sosial yang sangat mementingkan garis turunan bapak (KBBI, 2008:1031).
Sistem patriarki dapat merugikan kaum perempuan karena membatasi hak- hak perempuan. Budaya patriarki dapat juga disebut sebagai hasil dari pola pikir masyarakat yang konservatif atau tradisional (Sofia, 2000: 21-22). Budaya tersebut menempatkan kedudukan perempuan selalu di bawah laki-laki. Dwilogi novel Saman dan Larung karya Ayu Utama adalah wujud tindakan protes atas ketertindasan kaum perempuan dari sistem patriarki yang ada di Indonesia.
Melalui karya-karyanya ia utarakan pemikiran-pemikiran atau pandangan mengenai pembelaannya atas kaum perempuan.
Di dalam feminisme radikal ada perbedaan pendapat tentang lesbianisme, ada yang setuju dan ada yang menolak. Kelompok yang menolak merasa khawatir masyarakat akan menjauhi gerakan feminisme karena sikap seksual kelompok lesbian. Sedangkan yang setuju berpendapat bahwa perempuan tidak memerlukan tubuh laki-laki untuk mencapai kenikmatan seksual. Bahkan mereka berpendapat jika seorang perempuan ingin menjadi feminis yang sesungguhnya ia harus menjadi seorang lesbian, melakukan sesuatu yang alamiah, berbeda dengan pendapat masyarakat yang menyatakan mereka dengan istilah abnormal, sakit jiwa, dan seterusnya. Seorang perempuan mungkin menginginkan hubungan seksual dengan seorang laki-laki karena alasan psikologis, atau masih mengkhawatirkan pandangan masyarakat.
Keterangan diatas menunjukkan bahwa para aktivitis feminisme radikal ada juga yang tidak setuju dengan lesbianisme, padahal feminisme Barat itu sangat dekat dengan lesbianisme. Salah satu alasan mengapa masyarakat Indonesia “trauma” dan “alergi” dengan feminisme dari Barat yaitu karena gaya hidup bebas dan lesbianisme. Pemikiran feminisme radikal seringkali dianggap tidak sesuai dengan “budaya Timur” karena membicarakan seksualitas yang bagi pemikiran Timur adalah tabu (tidak bermoral), sementara pemikiran feminis postmodern dianggap tidak “membumi” karena tidak menghasilkan resep untuk mencapai suatu pemecahan masalah. Pada faktanya opresi terhadap kaum perempuan itu ada, tetapi berbeda-beda tingkatannya.
Dalam novel-novel yang bertema feminisme selalu ada tolong-menolong atau persaudaraan antar perempuan. Sayangnya, baik di dalam novel maupun dalam dunia nyata masih banyak perempuan yang belum menyadari tentang gender. Di dalam keluarga seorang ibu memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuan secara berbeda, ibu memberikan fasilitas utama kepada laki-laki karena dia akan “meneruskan” garis keturunan dan harapan-harapan lainya. Jika penerimaan terhadap supremasi laki-laki sebagai hak sejak lahir dan tidak dihilangkan, sistem oppress akan terus berlangsung, karena kendali laki-laki di dunia publik dan privat menimbulkan patriarkhi, penguasaan oleh laki-laki harus dihapuskan jika perempuan ingin mendapatkan kebebasan (Tong, 2004 : 347).
Ideologi patriarkhi membesar-besarkan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, dan memastikan bahwa laki-laki selalu mempunyai peran yang maskulin dan dominan. Sedangkan perempuan selalu mempunyai peran yang subordinat atau feminin. Ideologi ini begitu kuat hingga laki-laki mampu
hal tersebut melalui lembaga seperti keluarga, gereja, akademi yang semuanya membenarkan dan menegaskan subordinasi perempuan terhadap laki-laki yang menimbulkan perasaan inferior.
Seperti yang telah diterangkan di atas masih banyak perempuan yang belum sadar tentang kesetaraan gender karena keterbatasan pengetahuan dan pendidikan. Mereka menerima apa saja dengan pasrah diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, juga tidak berkeberatan jika dikatakan “praktik kerja”
mereka itu hanya berurusan dengan kasur, sumur dan dapur. Perempuan muslim bahkan percaya saja jika dikatakan bahwa dia akan masuk surga jika mengabdi penuh kepada suaminya. Dalam ungkapan masyarakat budaya Jawa malahan ada istilah surga nunut, neraka katut (jika suami masuk surga istri ikut, bahkan ke neraka sekali pun). Jadi, sebenarnya dominasi laki-laki atas perempuan, disetujui oleh karena ketidaksadaran perempuan yang telah lama dimanfaatkan dan dinikmati oleh banyak laki-laki.
Banyak ide-ide dan pemikiran feminisme Radikal yang diserap dan diungkapkan oleh Ayu Utami dalam kedua novelnya yaitu Saman dan Larung.
Yang paling terlihat jelas adalah idenya meliputi perjuangan kesetaraan dalam orientasi seksual, perjuangan kesetaraan dalam sosial ekonomi dan politik serta perjuangan kesetaraan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang pada intinya yaitu mendekonstruksi sikap seksual perempuan Indonesia yang selama ini hanya diperlakukan sebagai objek.
Dalam impiannya seorang perempuan juga mempunyai kekuatan dan kekuasaan dalam persoalan seksual. Ayu Utami berusaha mendobrak konstruksi sosial tentang isu seksual yang sudah mapan dan berakar dalam masyarakat
dengan semangat tokoh perempuan itu “menggerayangi” tubuh hingga kelihatan leher dan badannya merah-merah dan lebam-lebam. Hal ini menunjukkan kepada pembaca bahwa Ayu Utami sangat ingin mengubah sikap perempuan yang lemah, pasif, dan inferior menjadi agresif, kuat dan mungkin dapat menjadi superior.
Ungkapan berikut menggambarkan perjuangan kesetaraan perempuan dalam sosial ekonomi dan politik.
Tak bisa kulupakan ketika kamu telentang, bayang-bayang yang terbentuk dilekuknya karena cahaya dan keringat, dadamu telanjang, rentan terhadap telapakku yang gemas, badanku yang gelisah. Tak bisa kulupakan geliat tubuhmu. Kamu seumpama Santo Sebastian dengan tangan terpancang pada tiang dihadapan para pemanah. Seperti Santa Agnes yang daging perawannya mengundang syahwat para algojo. Namun tak ada yang menyelamatkan kamu dari rasa tegang yang akan mengeksploitasi badanmu hingga batas. Kamu merintih seperti Theresa yang tertusuk panah ilahi pada dadanya. Bukankah tubuh mengejang oleh rasa sakit maupun nikmat? (Larung, 2004: 155).
Ayu Utami juga berharap seorang perempuan dapat berubah sikap menjadi maskulin karena suatu kondisi seorang perempuan menjadi seperti laki-laki. Batas antara laki-laki dan perempuan menjadi kabur, semuanya dapat berubah bergantung situasi dan kepentingan. Sikap kesetaraan dalam seksual terungkap dalam kutipan berikut :
Namaku hanya satu: Shakuntala. Tapi sering aku merasa ada dua dalam diriku. Seorang perempuan, seorang laki-laki, yang saling berbagi sebuah nama yang tak mereka pilih. Tetapi laki-laki dalam diriku datang suatu hari. Tak ada yang memberi tahu dan ia tak memperkenalkan diri, tapi kutahu dia adalah diriku laki-laki. Ia muncul sejak usiaku amat muda, ketika itu aku menari baling-baling. Berputar-putar aku menirukan para darwis sehingga rokku menggembung seperti bunga kecubung, dan kelaminku seperti kembang telang (Saman, 2005: 133).
Ayu Utami juga ingin membalikkan kebiasaan yang sudah dikonstruksi secara sosial tentang perselingkuhan, masyarakat selalu dapat menerima jika laki- laki berselingkuh walaupun ia telah menikah dan bahkan memiliki beberapa orang
istri. Ayu Utami dengan berani membangun seorang tokoh perempuan yang memulai inisiatif untuk berselingkuh.
Di dalam novel ini Laila selalu menggoda Sihar, seorang insinyur muda yang tampan dan cerdas, walaupun Laila tahu kalau Sihar sudah beristri ia tidak perduli, terus saja merayu dan mendekatinya. Berikut ini gambaran seksual yang terdapat dalam novel Saman dan Larung, yaitu :
Lalu kami berbaring di ranjang, yang tudungnya pun belum disibakkan, sebab kami memang tak hendak tidur siang. Dia katakan, dada saya besar.
Saya jawab tidak sepatah kata. Dia katakan, apakah saya siap. Saya jawab, tolong, saya masih perawan. (Adakah cara lain.) Dia katakan, bibir saya indah. Ciumlah. Cium di sini. Saya menjawab tanpa kata-kata. Tapi saya telah berdosa. Meskipun masih perawan. Di perjalanan pulang dia bilang, sebaiknya kita tak usah berkencan lagi (saya tidak menyangka). “Saya sudah punya istri.” (Saman, 2005: 4).
Sihar tidak tega melakukan hubungan badan karena Laila masih perawan, meskipun secara tersirat Laila sangat menginnginkannya. Laila merasa terikat dengan adat dan norma yang berlaku, apalagi Sihar sudah beristri dan Sihar juga merasa mengkhianati istrinya.
Feminisme radikal menganjurkan perempuan untuk membenci laki-laki, dan hidup tanpa bantuan laki-laki. Mereka bersikap dan bertindak maskulin karena itu muncul pasangan sesama jenis yang disebut lesbian. Anjuran seperti ini tidak dapat diterima masyarakat Indonesia khususnya komunitas perempuan Indonesia. Seperti yang diketahui aktivis feminis Indonesia hidup normal, mempunyai suami dan anak-anak. Aktivis feminis Indonesia berjuang untuk keadilan dan kesetaraan gender dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai tradisi dan ajaran agama yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.
Penulis senior Indonesia, Nh. Dini dalam novel-novelnya juga menyuarakan tentang perjuangan kesetaraan gender untuk mengangkat harkat dan
martabat perempuan Indonesia. Sebagai wakil dari kelompoknya, ia mengungkapkan keinginan dan impian perempuan untuk hidup lebih bermakna dengan terlibat dalam usaha memajukan kehidupan bangsa (Nasution, 2012).
Para aktivis feminis Indonesia baik sebagai praktisi maupun sebagai akademisi berusaha untuk memberdayakan potensi perempuan agar dapat hidup mandiri, tidak bergantung pada siapapun. Juga berusaha untuk mengubah posisi perempuan dari beban pembangunan menjadi aset bangsa yang bernilai.
Perempuan Indonesia berkeinginan untuk terlibat dalam memajukan kehidupan bangsa. Untuk mencapai tujuan ini, banyak komunitas perempuan bekerja sama, tolong menolong hidup berkelompok yang dalam kajian feminisme disebut dengan istilah sisterhood. Perempuan yang lebih kuat dan beruntung memberikan pertolongan bagi mereka yang lemah dan belum beruntung.
Para tokoh utama dalam novel Saman dan Larung adalah sekelompok perempuan yang berpendidikan cukup dan menguasai keahlian dalam penggunaan teknologi canggih seperti komunikasi media massa, hubungan internet dan teknologi mutakhir lainnya. Mereka bersifat agresif dan radikal, tidak membenci laki-laki tetapi mempermainkan dan melecehkan peran laki-laki. Kelompok mereka selalu berinisiatif untuk memulai gerakan dan nampak ingin “melindungi”
laki-laki, dan “menyelamatkan” teman laki-laki mereka.
Ada beberapa alasan mengapa topik ini penting untuk dibahas, yaitu:
1. Karya Ayu Utami ini masih sangat kontroversial (diperdebatkan) dan masih pro-kontra di dalam masyarakat.
2. Pemikiran radikal berasal dari Barat yang belum dapat diterima oleh masyarakat Indonesia.
3. Kajian wanita Indonesia yang berhubungan dengan teori feminisme radikal perlu diperdebatkan.
Teori yang digunakan untuk permasalahan ini adalah teori Feminisme Radikal di mana di dalam teori ini perempuan menganggap laki-laki adalah superioritas atas perempuan karena berusaha mendominasi dan menguasai kehidupan perempuan secara sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
1.2 Pembatasan Masalah
Penelitian ini membahas fenomena radikalisme dalam dwilogi novel saman dan larung karya Ayu Utami. Untuk lebih memperjelas objek yang diteliti maka harus dirumuskan pembatasannya.Masalah penelitian ini dibatasi pada 1) Kesetaraan dalam orientasi seksual, 2) Kesetaraan dalam sosial ekonomi dan politik, 3) Kesetaraan perempuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
1.3 Rumusan Masalah
Latar belakang yang telah diuraikan dalam penelitian ini menjadi dasar peneliti dalam membahas judul penelitian Feminisme Radikal Dalam Dwilogi Novel Saman dan Larung. Masalah penelitian dirumuskan secara jelas, operasional, dan spesifik. Pokok permasalahan yang akan dibahas akan diuraikan dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah feminisme radikal yang tergambar dalam dwilogi novel Saman dan Larung?
2. Bagaimanakah tanggapan pembaca terhadap dwilogi novel Saman dan Larung yang telah mereka baca?
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan dan menganalisis feminisme radikal yang tergambar dalam dwilogi novel Saman dan Larung.
2. Mendeskripsikan tanggapan pembaca terhadap dwilogi novel Saman dan Larung yang telah mereka baca.
1.5 Manfaat Penelitian
Keberhasilan suatu penelitian adalah bila bermanfaat bagi peneliti, masyarakat dan menjadi perluasan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat secara teoretis maupun praktis seperti :
1.5.1 Manfaat Teoretis
1. Dapat Memperkaya referensi ilmu sastra yang berhubungan dengan gambaran feminisme radikal dan tanggapan tokoh masyarakat dalam novel Saman dan Larung.
2. Menjadi referensi bagi penelitian sastra mengenai adanya kondisi sosial di masyarakat yang digambarkan dalam suatu karya sastra seperti novel.
3. Sebagai model untuk pengkajian yang memakai teori Feminisme Radikal dan Postmodernisme. Pengungkapan kondisi sosial masyarakat pada suatu karya sastra.
4. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran perjuangan kesetaraan perempuan Indonesia dalam bidang seksual, perjuangan
kesetaraan dalam bidang sosial ekonomi dan politik, perjuangan kesetaraan dalam bidang IPTEK di dalam novel tentang feminisme radikal.
1.5.2 Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengarang lainnya dan kehidupan manusia secara umum agar :
1. Memberikan informasi kepada pembaca tentang perjuangan kesetaraan perempuan dalam seksual, sosial ekonomi politik, dan IPTEK juga tanggapan masyarakat terhadap Feminisme Radikal dikaitkan dengan realitas sosial.
2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi perbandingan dan acuan bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan Feminisme Radikal dalam karya sastra Indonesia.
3. Meningkatkan apresiasi terhadap karya bangsa Indonesia sebagai produk sastra yang berkualitas dan sarana pengembangan pendidikan pada bidang sastra.
1.6 Definisi Operasional Penelitian 1. Feminisme
Feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan disegala bidang baik politik, ekonomi, pendidikan, sosial, IPTEK dan kegiatan terorganisasi yang mempertahankan hak-hak serta kepentingan perempuan. Feminisme merupakan kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, baik di tempat kerja dan rumah tangga. Dan memandang perempuan memiliki aktivitas dan
inisiatif sendiri untuk memperjuangkan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai gerakan.
2. Radikal
Radikal artinya berpikir sampai ke akar persoalan. Hal itu bisa dilakukan dengan cara bertanya terus-menerus hingga mendapat suatu jawaban yang lebih hakiki. Juga, menghubungkan satu konsep atau gagasan dengan yang lainnya, menanyakan “mengapa?” dan mencari jawaban yang lebih baik di banding dengan jawaban yang sudah tersedia pada pandangan pertama.
3. Feminisme Radikal
Feminisme Radikal adalah mereka yang skeptis dan tidak percaya bahwa upaya reformasi sistem hukum maupun sosial yang diupayakan kaum feminis liberal telah menjawab dan menyelesaikan opresi terhadap perempuan. Ada sesuatu yang lebih fundamental bagi mereka. Yakni sistem Seks dan sistem Gender yang berakar pada Seksusalitas. Faham feminisme radikal semuanya berawal dari dominasi atas seksualitas perempuan yang ditemui di ranah privat. Jadi penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki, seperti hubungan seksual, adalah bentuk dasar penindasan terhadap perempuan. Bagi gerakan feminisme radikal, revolusi terjadi pada setiap perempuan yang telah mengambil aksi untuk merubah gaya hidup, pengalaman dan hubungan mereka sendiri terhadap kaum laki-laki.
Feminisme Radikal ingin memadukan kualitas maskulin dan juga feminim yang disebut juga dengan androgin. Menurut mereka seorang perempuan harus bersifat ganas, tidak bertele-tele, arogan, dan juga egoistik.
Feminis Radikal tidak menyukai hidup yang penuh kepura-puraan, namun
lebih memilih yang bersifat alamiah dan menginginkan kehidupannya sendiri.
Tokoh lain berpendapat bahwa sebaiknya perempuan tidak mencoba untuk menjadi seperti laki-laki, tetapi harus menjadi lebih “seperti perempuan” dan menekankan nilai-nilai dan sifat-sifat yang secara kultural berhubungan dengan perempuan, seperti suka berbagi, suka berkelompok, menekankan emosi, suka perdamaian dan seterusnya (Tong, 2004: 70).
Perbedaan seks atau gender bukan semata-mata karena perbedaan biologis, tetapi juga dari sosialisasi dan sejarah menjadi perempuan dalam masyarakat patriarkhi. Feminis Radikal menginginkan perempuan untuk menjaga sifat-sifat feminimnya dan tidak menambahkan sifat-sifat maskulin yang buruk. Pemikiran feminisme Radikal di atas tidak bertentangan dengan cara hidup perempuan Indonesia secara umum, terutama mengenai sifat-sifat yang positif seperti suka berkelompok, suka perdamaian, suka berbagi, dan tolong menolong. Dalam novel-novel yang bertema feminisme selalu ada tolong-menolong atau persaudaraan antar perempuan. Sayangnya, baik di dalam novel maupun dalam dunia nyata masih banyak perempuan yang belum menyadari tentang gender. Di dalam keluarga seorang ibu memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuan secara berbeda, ibu memberikan fasilitas utama kepada laki-laki karena dia akan “meneruskan”
garis keturunan dan harapan-harapan lainnya.
Jika penerimaan terhadap supremasi laki-laki sebagai hak sejak lahir tidak dihilangkan, semua sistem opresi akan terus berlangsung, karena kendali laki-laki di dunia publik dan privat menimbulkan patriarkhi, penguasaan oleh laki-laki harus dihapuskan jika perempuan ingin
mendapatkan kebebasan. Ideologi patriarkhi membesar-besarkan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, dan memastikan bahwa laki-laki selalu mempunyai peran yang maskulin dan dominan. Sedangkan perempuan selalu mempunyai peran yang subordinat atau feminin. Ideologi ini begitu kuat hingga laki-laki mampu mendapatkan persetujuan dari perempuan yang mereka opresi. Mereka melakukan hal tersebut melalui lembaga seperti keluarga, gereja, akademi yang semuanya membenarkan dan menegaskan subordinasi perempuan terhadap laki-laki yang mengakibatkan perasaan inferior.
Sampai sekarang ini, pemikiran dan realita di atas masih sangat besar memengaruhi pemikiran dan cara hidup perempuan Indonesia. Seperti yang telah diterangkan di atas masih banyak perempuan yang belum sadar tentang kesetaraan gender karena keterbatasan pengetahuan dan pendidikan mereka.
Mereka menerima saja dengan pasrah diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, juga tidak berkeberatan jika dikatakan “praktik kerja” mereka itu hanya berurusan dengan kasur, sumur, dan dapur.
4. Dwilogi Novel
Dwilogi adalah kumpulan buku yang ceritanya saling berkesinambungan dan terdiri dari dua seri. Novel ialah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif dan biasanya ditulis dalam bentuk cerita. Sehingga dwilogi novel dalam penelitian ini novel Saman dan Larung. Novel Saman ini menampilkan beberapa tokoh, yaitu tokoh utama Saman (Wisanggeni) dan Laila. Tokoh Saman mempunyai kadar keutamaan yang lebih besar dari pada tokoh Laila, hal ini terjadi karena tokoh Saman adalah pusat cerita. Sedangkan keberadaan
tokoh Laila sebagai perantara munculnya tokoh utama, yaitu Saman. Selain itu ada beberapa tokoh bawahan yang keberadaannya sebagai pendukung tokoh utama, yaitu: Yasmin, Shakuntala, dan Cok.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan yang akan mengungkapkan pemikiran fenimisme radikal dalam novel Saman dan Larung. Masalah yang akan dibahas mencakup tuntutan kesetaraan gender dalam orientasi seksual, kesetaraan dalam sosial ekonomi, kesetaraan dalam IPTEK. Termasuk penolakan terhadap fungsi tradisional perempuan. Banyak pemikiran Ayu Utami yang asil diperdebatkan yang tergambar di dalam dwilogi novel Saman dan Larung seperti kebebasan untuk memiliki pasangan bahkan untuk berselingkuh dengan suami orang. Pemakaian bahasa yang lugas juga masih ditolak oleh sebagian masyarakat Indonesia karena tidak sesuai dengan ajaran agama dan tradisi budaya timur.
Ayu Utami juga menyarankan agar wanita Indonesia menjadi kuat dan bahkan lebih kuat daripada kaum laki-laki sehingga dapat memimpin kelompoknya untuk kegiatan di ranah publik.Ada beberapa referensi yang dipilih sebagai rujukan yang berkaitan dengan topik dalam penelitian ini. Terdapat poin- poin penting yang mendukung penelitian dan prinsip-prinsip yang digunakan dalam penelitian ini. Semua referensi ini menunjukkan keterkaitan dengan masalah-masalah yang ada di dalam novel Saman dan Larung yang berkontribusi untuk membantu peneliti untuk membahas topik yang telah ditetapkan.
Sebuah karya ilmiah mutlak membutuhkan referensi atau acuan yang menopang penelitian yang sedang dikerjakannya. Penelitian terhadap dwilogi novel Saman dan Larung karya Ayu Utami telah banyak dilakukan baik dalam bentuk Jurnal, Tesis maupun Disertasi. Penelitian yang dilakukan Ikhwanuddin
Nasution (UNUD, 2007), dengan judul Dwilogi Novel Saman dan Larung Karya Ayu Utami; Perspektif Kajian Budaya. Bertujuan untuk memahami cara pengungkapan peristiwa dwilogi novel, memahami representasi peristiwa politik dan seksualitas, memahami makna Saman dan Larung dalam khasanah kebudayaan kontemporer Indonesia dan nilai estetikanya. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam menganalisis feminisme radikal dalam dwilogi novel Saman dan Larung.
Sedangkan penelitian disertasi lainnya yaitu Khadijah (USU, 2015), dengan judul Citra Perempuan dan Ideologi Feminisme dalam Novel-Novel A.
Hasjmy yang menunjukkan bahwa di dalam novel dan dunia nyata citra perempuan Aceh menunjukkan keberanian dan kekuatannya dengan mengikuti kemajuan zaman seperti penguasaan ilmu pengetahuan dan penggunaan teknologi canggih di dalam era globalisasi, informasi dan komunikasi berjalan sangat lancar dan mempermudah kehidupan perempuan Aceh dan manusia pada umumnya.
Dari penelitian Khadijah didapati ada refleksi tentang perjuangan kesetaraan perempuan di bidang penguasaan ilmu pengetahuan dan penggunaan teknologi canggih di era globalisasi Penelitian ini membahas novel Saman dan Larung karya Ayu Utami yang menggambarkan kondisi sosial ekonomi perempuan pada zaman orde baru dan harapan-harapan Ayu Utami yang terungkap dalam Dwilogi novel Saman dan Larung.
Kondisi sosial adalah keadaan masyarakat suatu Negara pada saat tertentu.
Novel karya sastra Ayu Utami banyak mengungkapkan masalah sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Masalah sosial budaya yang banyak disoroti dalam dwilogi novel Saman dan Larung Novelis Ayu Utami adalah
sosial masyarakat diIndonesia dalam cara pandang feminisme dan feminisme radikal. Pandangan masyarakat Indonesia dan kondisi sosial yang digambarkan dalam dwilogi novel ini adalah masih tidak umum dan dilarang atau masih bersifat tabu dibicarakan dalam kehidupan sehari hari. Sedangkan di luar masyarakat Indonesia adalah hal yang umum terjadi, bahkan disahkan oleh negara secara hukum.
Astrid (dalam Suharto, 2009:12), menjelaskan bahwa kritik sosial adalah penilaian ilmiah ataupun pengujian terhadap situasi masyarakat pada suatu saat.
Sedangkan menurut Jassin (dalam Tjahjono, 1988:171), kritik adalah hal-hal berupa tanggapan, komentar yang membicarakan tanggapan, Komentar yang membicarakan soal-soal manusia dan hidup, yang dijiwai oleh subjektivitas pengarang. Secara tidak langsung pengertian kritik sosial adalah penilaian dan tanggapan seseorang mengenai sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat. Penilaian atau tanggapan tersebut dapat bernuansa ejekan, cemooh, sindiran, dan sejenisnya (Sudewa, 2012:42).
Selanjutnya Yulianda Pertiwi (2015), Representasi Feminisme Radikal pada Tokoh Aomame dalam Novel 1Q84 Karya Murakami Haruki. Penelitian ini difokuskan hanya kepada Aomametokoh utama wanita yang memiliki peran yang cukup penting di dalam alur cerita novel 1Q84. Aomame adalah seorang pembunuh bayaran yang hanya membunuh laki-laki pelaku kekerasan terhadap perempuan. Semua korban Aomame adalah laki-laki yang suka menyiksa istri dan/anak-anak secara fisik dan seksual. Di dalam kajian teori feminisme, teori yang mengutamakan pembebasan perempuan dari segala bentuk dan tindak penindasan yang dilakukan oleh laki-laki sebagai landasan utama adalah teori
untuk mencapai kesetaraan secara hukum, politis dan sosial bagi perempuan.
Selain itu, para feminis liberal beranggapan bahwa tujuan dari pembebasan perempuan adalah kesetaraan seksual dan keadilan gender. Diharapkan penelitian ini menjadi refleksi tentang feminisme radikal dan perjuangan kesetaraan perempuan yang mengacu kepada pokok bahasan yang akan ditelaah dalam dwilogi novel Saman dan Larung.
Catatan sejarah kaum perempuan telah memberikan sebuah kenyataan bahwa sejak dahulu perempuan menjadi anggota masyarakat yang lemah, tidak berdaya, bahkan menjadi yang ke-2 setelah kaum lelaki. Berbagai bentuk diskriminasi dan perlakuan yang tidak adil kerap diterima dalam kehidupan mereka. Diskriminasi dalam keluarga yang lebih mengutamakan lelaki, diskrimisnasi lingkungan, tidak adanya hak politik, permasalahan ekonomi dan lain sebagainya adalah beberapa wujud nyata dari posisi perempuan yang tidak menguntungkan. Berangkat dari kenyataan tersebut, muncullah beberapa gerakan- gerakan perempuan dengan isu anti diskriminasi (Pesada, 2010:2).
Moore dalam Irwan Abdullah (2003:266), menyatakan gender berbeda dengan seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis dan bukanlah sebuah korelasi yang absolut. Hal ini sebabkan oleh kebudayaan yang dianut masyarakat berbeda-beda dalam penafsiran feminine atau maskulin. Secara universal perempuan memang berbeda dari laki-laki tidak hanya dilihat dari jenis kelamin tetapi dari pembawaan sifat keduanya. Gender sendiri diartikan sebagai konstruksi sosio kultural yang membedakan antara karateristik feminin untuk perempuan dan maskulin untuk laki-laki. Hal inilah yang kemudian menjadi sebuah pembagian peran di dalam masyarakat secara keseluruhan.
Menurut Saparinah Sadli (2010:216), menyatakan dari perspektif psikologi, dapat disimpulkan bahwa seksualitas selalu ditempatkan pada konteks hubungan seksual antar gender. Apa yang dipandang sebagai “normal” pada intinya merupakan hasil belajar seseorang dan karenanya adalah buatan manusia.
Teori inilah yang membuat penulis melihat tokoh Aomame sebagai representasi feminisme radikal. Hal ini disebabkan karena dasar pemikiran teori feminisme radikal adalah pemusnahan segala bentuk dan tindakan penindasan terhadap perempuan. Sehingga penulis berpendapat bahwa pembunuhan yang dilakukan Aomame adalah bentuk tindakan feminisme radikal. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukannya bukti bahwa tokoh Aomame memiliki gambaran feminisme radikal dalam memaknai sistem seks/gender, seksualitas, dan lesbianisme.
Selanjutnya penelitian Rosmalita Umy (2014), tentang Konstruksi Feminisme dalam Novel Saman Karya Ayu Utami danBuku Sastra, Perempuan, Seks Karya Katrin Bandel.Terbitnya novel Saman dan Ayu Utami sebagai pengarang perempuan yang dianggap pionir penulis yang menyuarakan kebebasan menuai kontroversi. Banyak kritik yang ditujukan untuk novel Saman, dan salah satu yang cukup lugas dan tegas mengritik Saman adalah Katrin Bandel.
Penelitian ini bertujuan menjelaskan konstruksi feminisme dalam novel Saman dan kritik terhadap feminisme ala Ayu Utami oleh Katrin Bandel, serta menjelaskan perbandingan perspektif feminisme berdasarkan karya Ayu Utami dan Katrin Bandel. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang mengkaji teks dengan berpedoman pada tiga konsep dasar strukturalisme genetik, yaitu fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia strukturasi dan homologi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, fakta kemanusiaan dalam novel Saman mengungkap perlawanan terhadap budaya patriarki yang ditunjukkan dengan penciptaan tokoh perempuan yang mampu berperan aktif disaat terjadinya carut-marut yang membatasi ruang gerak perempuan, serta pemberontakan terhadap kultur budaya Timur yang mengikat dan membatasi ruang gerak perempuan. Namun, menurut Katrin Bandel, perlawanan Ayu merupakan pelegalan terhadap mitos yang melekat pada perempuan dalam budaya Timur.
Subjek kolektif dalam novel Saman, Ayu menciptakan perempuan metropolitan yang mewakili kelas menengah atas sebagai simbol perempuan yang melakukan pemberontakan terhadap nilai-nilai yang telah mapan seperti nilai-nilai tentang keperawanan dan kesakralan dalam perkawinan. Namun, Katrin Bandel menentang pemberontakan yang disampaikan Ayu. Menurutnya, pemikiran yang diungkap Ayu Utami bias kelas menengah atas, tidak mewakili semua perempuan, seakan-akan hanya perempuan kelas menengah atas yang mampu melakukan pemberontakan. Pandangan dunia dalam penelitian ini yaitu Ayu berusaha mengungkap seksualitas yang lebih perempuan. Ayu ingin merebut kendali atas seksualitas yang selama ini didominasi laki-laki. Perempuan berhak menuntut untuk melakukan apa pun untuk dapat memberi kenikmatan dan kepuasan pada dirinya.
Menurut Bandel, pemikiran Ayu Utami representasi seksual yang lebih perempuan tidak sesuai dengan fakta yang ada. Perlawanan dalam hal mengungkapkan seksualitas justru telah mengesampingkan anatomi tubuh dan fungsi seksualitas perempuan yang sebenarnya. Ayu Utami menggambarkan
perlawanan terhadap ideologi patriarki dengan cara radikal, sedangkan Bandel dipengaruhi oleh feminisme liberal dan juga pascakolonial. Kesalahpahaman tentang arti dari gerakan feminisme kerap menimbulkan perlawanan yang tidak sesuai dengan komitmen feminis itu sendiri. Artinya, anggapan bahwa feminisme bertujuan untuk mengungguli atau mendominasi laki-laki justru kerap menghambat pergerakan feminis. Akibatnya muncul pihak yang kontra terhadap feminis dan berusaha mematikan gerakan tersebut dengan terus menanamkan nilai-nilai patriarki di masyarakat. Feminisme bertujuan untuk membuka kesadaran perempuan untuk dapat memahami kemampuan yang ada pada dirinya, dan tentunya tetap pada kodratnya sebagai perempuan. Jika salah menafsirkan feminisme, hasilnya justru kontra produktif.
Dalam penelitian Yuni Purwanti (2009), dengan judul Novel Saman Dan Larung Karya Ayu Utami dalam Perspektif Gender, penulis menyatakan nilai feminisme dalam novel Saman dan Larung karya Ayu Utami ini adalah feminis radikal. Asumsi dasar pemikirannya, mereka menganggap penindasan terhadap perempuan oleh laki-laki berakar pada jenis kelamin laki-laki itu sendiri serta ideologi patriarki. Aliran ini menganggap bahwa penguasaan fisik perempuan oleh laki-laki, seperti hubungan seksual adalah bentuk dasar penindasan terhadap kaum perempuan. Bahkan feminis radiakal biasanya heteroseksual atau lesbian.
Dalam dwilogi Novel Saman dan Larung karya Ayu Utami feminisme radikal digambarkan Ayu Utami dengan mengkonstruksi perempuan itu pintar, dan aktif dalam berbagai kegiatan. Penggambaran dari kaum perempuan menentang sistem patriarki dan norma, terutama dalam hal seks, seperti cerita perselingkuhan, hubungan seks pra-nikah, penentangan tentang mitos
keperawanan. Shakuntala mempunyai sikap yang menentang kemapanan, terutama sistem patriarki. Shakuntala sangat membenci ayahnya, seolah kemana- mana dia pergi selalu menyertainya, sampai dalam mencari visa pun nama ayah tetap melekat. Bahkan lebih jauh lagi, ketika dirinya dilabeli kata sundal oleh ayah dan kakak perempuannya karena sering tidur dengan beberapa laki-laki, Pemilihan untuk melakukan hubungan seksual dengan beberapa laki-laki, pilihannya merupakan sebuah pemberontakan terhadap kemapanan patriarki. Dia juga memilih menghilangkan keperawanan dan menolak perkawinan yang dianggapnya memuliakan laki-laki.
Dalam pemikiran feminis radikal, Shakuntala telah merebut kendali atas seksualitas perempuan, dengan menuntut hak untuk mempraktikan apapun yang dapat memberikan kenikmatan dan kepuasan, hubungan seksual yang setara dengan laki-laki. Karena perempuan dalam konstruksi sosial selalu dibayangi kekuasaan laki-laki, Shakuntala mempunyai cara lain dalam membebaskan dirinya dari kungkungan itu, yakni dengan menari. Shakuntala juga merasa dirinya bisa berubah menjadi laki-laki.
Tokoh Yasmin juga berpendapat perempuan bukanlah selalu pasif, dalam feminisme radikal peran laki-laki dan perempuan sama/sederajat dalam seks. Hal ini terlihat ketika Yasmin yang mendatangi Saman, bahkan Yasmin yang aktif.
Tokoh Yasmin merupakan simbol perempuan yang melawan norma dan adat yang berlaku dalam masyarakat. Satu sisi ia masih mengikuti tradisi, menikah dan taat pada suami, tetapi di sisi lain ia mengikuti perkembangan zaman yang masuk dalam masyarakat, yaitu berselingkuh dengan Saman.
Sehingga perspektif gender yang terdapat dalam novel Saman dan Larung adalah perjuangan kesetaraan gender, menentang sistem patriarki, dan mendobrak deskriminasi gender yang dilakukan oleh tokoh Yasmin, Laila, Cok, dan Shakuntala. Nilai feminisme dalam novel Saman dan Larung adalah feminisme radikal.
2.2 Konsep
Berdasarkan rumusan permasalahan dalam penelitian ini dan mengacu pada judul, beberapa terminologi perlu dijelaskan dengan memberikan definisi dan penafsiran yang tepat. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan ambiguitas.Pengertian novel dalam Nurgiantoro (2012:9), menjelaskan bahwa novel adalah karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus. Hal ini juga diharapkan dapat membantu analisis dalam menjawab permasalahan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini.
Point penting yang terdapat di dalam kedua rumusan masalah adalah pemikiran Ayu Utami yang radikal yang tergambar dalam dwilogi novel Saman dan Larung setelah melalui pembacaan yang cermat, peneliti menemukan 3 unsur penting yang terungkap dalam kedua novel yaitu : (1) Perjuangan kesetaraan perempuan dalam orientasi seksual, (2) Perjuangan kesetaraan perempuan dalam sosial ekonomi dan politik, dan (3) Perjuangan kesetaraan perempuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi. Kemudian peneliti menghubungkan ketiga point diatas dengan pemikiran umum yang terdapat dalam masyarakat Indonesia. Berdasarkan pengamatan dan analisis yang menyeluruh, peneliti
menemukan bahwa tidak semua unsur diatas dapat diterima oleh masyarakat Indonesia berdasarkan tradisi budaya dan agamanya.
2.3 Landasan Teori
2.3.1 Teori Semiotik Sastra
Novel adalah sebuah karya sastra yang di dalamnya terkandung sebuah struktur makna atau struktur bermakna. Hal itu juga yang mengingatkan kita bahwa karya sastra adalah sistem tanda yang mempunyai makna dengan menggunakan bahasa sebagai medium pembelajaran. Untuk menganalisis struktur sistem tanda ini perlu adanya kritik struktural untuk memahami makna tanda- tanda yang terjalin dalam sistem (struktur) tersebut. Ilmu pengetahuan tentang tanda ini disebut semiotik. Oleh karena itu, analisis semiotik itu tidak dapat dipisahkan oleh analisis struktural. Penelitian sastra dengan pendekatan semiotik itu sesungguhnya merupakan lanjutan dari pendekatan strukturalisme.
Semiotik itu merupakan lanjutan atau perkembangan strukturalisme.
Strukturalisme itu tidak dapat dipisahkan dengan semiotik. Alasannya adalah karya sastra itu merupakan struktur tanda-tanda yang bermakna. Tanpa memperhatikan sistem tanda, tanda, dan maknanya, dan konvensi tanda, struktur karya sastra (atau karya sastra) tidak dapat dimengerti maknanya secara optimal (Junus dalam Pradopo, 2012: 18).
Strukturalisme dan semiotik umumnya dipandang termasuk dalam suatu bukan teoris yang sama.Sebetulnya apa yang dinamakan semiotik sastra bukan merupakan suatu aliran ilmu sastra. Berbagai aliran seperti strukturalise dan ilmu sastra linguistik dapat dinamakan semiotik (Luxemburg, 1986:44-46).
Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda, sistem-sistem tanda, dan proses suatu tanda diartikan (Hartoko, 1986:131), yang mempelajari berbagai objek, peristiwa, atau seluruh kebudayaan sebagai tanda (Eco, 1997 Dalam Yusuf, 2009:22). Tanda itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang bersifat refrenstatif, mewakili sesuatu yang lain berdasarkan konvesi tertentu.Kovensi yang memungkinkan suatu objek, peristiwa, atau gejala kebudayaan menjadi tanda itu disebut juga sebagai kode sosial.
Bila diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kalimat tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya mengembangkan arti (signifiant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifiant) sesuai dengan konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra biasanya dan apa yang ditandakan (semantik).
Ada beberapa aliran semiotik dalam ilmu sastra, yang diwakili oleh Saussure (Perancis), Jurij Lotman (Russia), dan C.S Pierce (Amerika). Kesamaan utama pandangan mereka adalah bahwa bahasa merupakan salah satu di antara sekian banyak sistem tanda. Ada kalanya ditekankan bahwa bahasa merupakan sistem tanda yang paling fundamental, pokok-pokok pandangan ketika teoritis itu diuraikan berikut ini.
Pierce (1839-1914), adalah seorang filsuf Amerika yang meletakkan dasar bagi sebuah bidang studi yang di sebut semiotik. Pierce menyebutkan tiga macam bagi tanda sesuai dengan jenis hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan.
1. Ikon, yaitu tanda yang secara inheren memiliki kesamaan dengan arti yang ditunjuk: Misalnya, foto dengan orang di foto, atau peta dengan wilayah geografisnya.
2. Indeks, yaitu tanda yang mengandung hubungan kasual dengan apa yang ditandakan. Misalnya asap menandakan adanya api, mendung menandakan bakal turun hujan.
3. Simbol atau tanda, yaitu suatu tanda yang memiliki hubungan makna dengan yang ditandakan bersifat arbitrer, manasuka, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan sosial tertentu,misalnya bahasa.
2.3.2 Saussure :Tanda sebagai Semiologi
Menurut Ferdinand deSaussure (1857-1913), bahasa adalah sistem tanda, dan tanda merupakan kesatuan antara dua aspek yang tak terpisahkan satu dengan lainnya, yakni penanda dan pertanda adalah aspek makna formal atau bunyi pada tanda itu. Sedangkan petanda adalah aspek makna atau konseptual dari suatu penanda. Tanda memiliki ciri arbitrer, kovensional, dan sistematik. Arbitrer atau manasuka misalnya dalam urutan bunyi k-a-c-a-n-g, tidak ada pemikiran atau motif menghubungkan bunyi itu dengan tanaman tertentu, Kombinasi aspek formal dan konseptual (bunyi “kacang” dengan wujud kacang sebenarnya) hanya terjadi berdasarkan konversi sosial yang berlaku dalam bahasa tertentu saja, jika kita menyebut “kacang‟‟ orang Inggris menyebutnya “bean’’ sesuai dengan konvensi bahasa masing-masing.
Jurij Lotman, seorang ahli semiotik Rusia menyebut bahasa sebagai sistem tanda primer yang membentuk model dunia bagi pemakaiannya. Model ini
mewujudkan sarana konseptual bagi manusia untuk menafsirkan segala sesuatu di dalam dan diluar dirinya. Sastra disebut sebagai sistem tanda sekunder. Sastra dan semua cabang seni lainnya mempergunakan sistem tanda primer seperti terdapat dalam bahasa ilmiah tetapi tidak terbatas pada tanda-tanda primer saja.
Teori semiotik yang di gunakan adalah teori semiotik C.S.Pierce dan Ferdinand de Saussure untuk melihat hubungan kajian linguistik dengan kajian sastra (dalam Zaimar, 2008, Widada 2009). Ferdinand de Saussure menemukan teori tanda bahasa. Sausure merumuskan teorinya berdasarkan tiga hal ketika membicarakan tanda-tanda dalam bahasa, yaitu (a) tanda (sign), penanda (signifier), dan (c) petanda (signifier). Setiap tanda bahasa memiliki dua sisi, yaitu penanda dan petanda.
Konsep Semiotik menurut Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwatanda mempunyai dua aspek, yakni penanda (signifier), dan petanda (signified). Penanda adalah bentuk formal yang menandai suatu petanda. Penanda adalah bentuk formal bahasa, sedangkan petanda adalah arti yang ditimbulkan oleh bentuk formal. Tanda terdiri dari: bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified.
Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut.
Objek bagi Saussure disebut “referent”. Hampir serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai “objek” sebagai referen dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan (Palmer, 1981: 24).
Pierce menciptakan teori umum dalam bentuk mikrofilm (North, 1990: 40) untuk tanda-tanda dan telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut dengan istilah “semiotika” yang ternyata kata semiotika telah digunakan oleh seorang filsafat Jerman, yaitu Lambert. Pada abad ke-18 semiotika diartikan sebagai sinonim “logika”. Menurutnya, logika harus mempelajari bagaimana bernalar, dan penalaran itu dilakukan melalui tanda-tanda. Alasan tanda-tanda itu dapat memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh semesta alam. Dengan demikian, secara harfiah dia mengatakan Kita berpikir dalam tanda”. Oleh sebab itu, semua pikiran haruslah ada dalam tanda. Semiotika bagi Pierce adalah tindakan (action), pengaruh (influence), atau kerjasama tiga subjek yaitu tanda (sign), objek (object), dan interpretan (interpretant). Yang dimaksudkan subjek pada semiotika yang sifatnya abstrak, yang tidak dipengaruhi oleh kebiasaan berkomunikasi secara konkret (Zaimar,2008 : 4).
Pierce membaginya sebagai berikut :
1. Tanda dan ground yaitu qualisign yaitu tanda-tanda merupakan tanda atas dasar tampilannya dalam kenyataan, dan legisign yang merupakan tanda dasar suatu pengaturan yang berlaku umum.
2. Tanda dan Denotatum (icon, indeks, symbol)
3. Tanda dan interpretan-nya (berkembang dari tanda yang telah terlebih dahulu ada dalam benak orang yang menginterpretasikannya).
4. Tanda berfungsi dalam hubungannya dengan tanda yang lain (Sintaksis, Semantik, Pragmatik)
Melalui ketiga hal inilah makna tanda-tanda dalam dwilogi novel Saman
1. Tanda (sign) 2. Penanda (signifier) 3. Petanda (signified) 2.3.3 Teori Feminisme
Dalam pengertian secara umum, feminisme adalah suatu ideologi yang menggerakkan kaum perempuan untuk menolak budaya patriarkhi yang memarginalisasi, mensubordinasi, dan merendahkan posisi perempuan di bidang politik, ekonomi, dan kehidupan sosial pada umumnya. Dalam pengertian yang khusus, yaitu dalam sastra, feminisme dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi.
Berhubungan dengan emansipasi wanita dan persamaan hak, dalam ilmu sosial kontemporer dikenal sebagai gerakan kesetaran gender (Ratna, 2004: 184).
Wolf (Budianta, 2003:200), mengartikan feminisme sebagai sebuah teori yang mengungkapkan harga diri pribadi dan harga diri semua perempuan. Istilah
“menjadi feminis”, bagi Wolf harus diartikan dengan “menjadi manusia”.Pada pemahaman yang demikian, seorang perempuan akan percaya pada diri mereka sendiri. Sementara itu, Budianta (2003: 201), mengartikan feminisme sebagai suatu kritik idiologis terhadap cara pandang yang mengabaikan permasalahan ketimpangan dan ketidakadilan dalam pemberian peran dan identitas sosial berdasarkan perbedaan jenis kelamin. Di samping sebagai gerakan kultural, feminisme juga menjadi salah satu teori sastra yang mengarah pada studi sastra yang memusatkan analisis pada masalah-masalah perempuan. Kritik sastra feminis pada dasarnya merupakan suatu kritik yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin tertentu yang banyak mempengaruhi
dan pencipta dalam karya sastra adalah kaum pria. Kritik sastra feminis diharapkan membawa persepsi baru dan harapan dalam analisis sastra.
Selanjutnya Humm (1986: 12), mengatakan kekuatan kritik feminis terletak pada keberanian perempuan untuk menolak pemisahan sastra dari kegiatan sosial lainnya dan bersikap kritis terhadap kekuatan dalam ideologi budaya. Kritik feminis memusatkan perhatian pada membaca sebagai seorang perempuan. Yang dimaksud dengan perempuan tidak mengacu pada biologis tetapi pada strategi dan ideologi. Seorang perempuan secara biologis belum tentu mempunyai kesadaran akan konstruksi sosial perempuan. Kesadaran tentang peran gender dan konstruksi sosial budaya inilah yang merupakan strategi yang disosialisasikan feminis dalam perjuangan mereka. “We read with a gender role with a consciousness of the social construction of feminity”.
Kate Millet mengutip Moi “Millet argued that social and cultural context must be studied if literature was to be properly understood” (Moi, 1986: 24).
Untuk memahami karya sastra dengan baik, diperlukan pengetahuan yang luas tentang sosial budaya. Sama dengan yang dinyatakan oleh kritikus sastra lainnya bahwa analisis karya sastra tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya masyarakat di mana ia dihasilkan.
Tugas khusus kritikus feminis ialah untuk menganalisis kesan (imaji) perempuan seperti yang dimunculkan dalam karya sastra berdasarkan visi kemanusian yang egaliter, seperti yang dikatakan oleh Spencer (1982: 154) dalam Feminist Criticism And Literature. ”Feminists Criticism may be said to have one of specific tasks on the analiysis of the image of women as they appear in the existing literature, based upon an egalitarian vision of humanity “.
Gamble (1999: 17), membagi pokok perhatian pada empat tahap; feminis gelombang pertama dengan tokohnya Mary Wollistonecraft yang menitik beratkan perjuangan pada peningkatan pendidikan perempuan agar dapat menjadi mandiri dan rasional. Perempuan harus dipersiapkan untuk tidak bergantung secara ekonomi pada siapa pun sehingga dapat bebas dan bermartabat bukan dipersiapkan untuk mencari suami yang kaya, “Girls education to prepare for the possibility of economic independence to give them freedom and dignity, rather than the ability to fascinate potential husbands”. Tokoh-tokoh pada gelombang pertama menuntut hak politik bagi perempuan dan hak untuk bisa bercerai dari suaminya.
Feminis gelombang kedua dengan tokoh-tokohnya Bettye Friedan dan Kate Millet, dengan pokok perjuangan mereka pada penekanan bahwa perempuan harus bersuara untuk menceritakan pengalaman mereka dan mengangkat permasalahan yang dihadapi perempuan. Feminis gelombang kedua ini beranjak dari aktivitas yang sifatnya praktis menuju ke arah kegiatan yang sifatnya lebih teoretis. Feminis periode ini mengangkat permasalahan tentang kelemahan perempuan yang selama ini selalu diperalat dan dimanipulasi laki-laki. Feminis radikal awal ini mengemukakan argumentasi bahwa penindasan terhadap perempuan merupakan penjelasan teoretis, pada tahun 1970-an feminis gelombang kedua mulai memfokuskan diri pada permasalahan yang mengarah pada pemikiran bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama seperti laki- laki (Arivia, 2003: 85).
Feminis gelombang ketiga, tokoh-tokohnya Rebecca Walker, Lesley Heywood dan Jennifer Drake. Mereka tidak lagi risau dengan perbedaan dan