4
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2.1.1. Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan agar dapat melindungi dan menjaga pekerja dari kecelakaan kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas kerjanya (Fridayanti and Kusumasmoro 2016). Menurut Darmayanti (2018) keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu program yang dibuat untuk pekerja dan pengusaha sebagai upaya pencegahan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat pekerjaan yang dilakukan dilingkungan kerja, yaitu dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dari kedua penejelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja merupakan perlindungan bagi pekerja agar terhindar dari kecelakaan kerja yang disebabkan dari hal yang berpotensi diarea kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitas para pekerja.
2.1.2. Tujuan K3
Tujuan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja menurut Paramita and Wijayanto (2012) adalah sebagai berikut :
a) Pegawai terjamin keselamatan dan kesehatan kerjanya.
b) Perlengkapan dan peralatan kerja terjaga dan dapat digunakan sebaik- baiknya.
c) Memelihara keamanan semua hasil produksi.
d) Menjamin atas pemeliharaan serta peningkatan gizi pegawai.
e) Dapat meningkatkan semangat, keserasian kerja, dan kontribusi kerja.
f) Menghindari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan
kerja.
5
g) Pegawai merasa aman dan terlindungi saat bekerja.
2.2.Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja menurut Alfatiyah (2017) merupakan kejadian tidak dikehendaki yang berhubungan dengan suatu pekerjaan yang dapat mengakibatkan cidera bahkan kematian, kerusakan benda atau terhentinya proses produksi. Sedangkan menurut Ramadhan (2017) kecelakaan kerja adalah suatu peristiwa yang tidak direncanakan dan tidak diperkirakan sebelumnya sehingga dapat mengganggu keefektifitasan kerja.
2.2.1. Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak direncanakan sehingga penyebab terjadinya kecelakaan kerja harus diketahui dengan jelas agar usaha keselamatan atau pencegahan dapat dilakukan sehingga kecelakaan kerja tidak terulang kembali dan kerugian dapat dihindari.
Menurut Transiska (2015) penyebab kecelakaan kerja secara umum dapat dibagi menjadi:
a) Penyebab langsung
1. Perbuatan tidak aman (unsafe acts) merupakan segala tindakan atau perilaku manusia yang dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan kerja pada dirinya sendiri maupun orang lain. Perbuatan tidak aman dapat disebabkan oleh kelalaian atau kesalahan dari pekerja serta terbatasnya pengetahuan yang didapat. Kesalahan-kesalahan dari pekerja seperti terlalu berani, menghiraukan peraturan yang ditetapkan perusahaan, kelalaian, mealmun, mengantuk serta kelalahan yang dialami pekerja.
2. Kondisi tidak aman (unsafe condition) diartikan sebagai potensi terjadinya kecelakaan kerja yang disebabkan dari kondisi lingkungan kerja.
b) Penyebab tidak langsung 1. Fungsi manajemen
Fungsi manajemen sangat berpengaruh penting terhadap penyebab
kecelakaan kerja. Misalnya intruksi yang kurang jelas, tidak ada
6
perencanaan keselamatan dan kesehatan kerja, tidak melaksanakan sosialisasi tentang keselamatan kerja dan tidak tersedianya alat pengaman bagi pekerja.
2. Kondisi pekerjaan
Kondisi pekerjaan ini meruapakan kondisi dari pekerja baik itu kondisi mental maupun kondisi fisik pekerja.
2.2.2. Kerugian Kecelakaan Kerja
Kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja dapat berupa kerugian ekonomi secara langsung maupun tidak langsug seperti kerusakan pada mesin atau peralatan yang digunakan, biaya pengobatan atau perawatan bagi pekerja yang mengalami kecelakaan kerja serta hilangnya hari kerja sehingga dapat berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi. Selain kerugian secara ekonomi kecelakaan kerja dapat merugikan bersifat non ekonomi seperti penderitaan yang dialami oleh pekerja baik itu luka berat maupun ringan hingga kematian serta penderitaan dari keluarga pekerja.
Menurut Waruwu and Yuamita (2016) kecelakaan kerja dapat menyebabkan beberapa kerugian:
a) Kerugian yang disebabkan atas kerusakan pada peralatan atau mesin yang digunakan dalam proses produksi.
b) Kekacauan organisasi yang berdampak adanya keterlambatan proses produksi, penggantian alat atau mesin hingga perekrutan tenaga kerja baru.
c) Keluhan dan kesedihan yang merupakan kerugian yang dialami oleh tenaga kerja secara psikis.
d) Kelainan atau kecacatan merupakan kerugian yang dialami oleh tenaga kerja secara fisik berupa penyakit yang dapat terobati maupun yang lebih fatal.
e) Kematian, merupakan kerugian yang sangat fatal bagi tenaga kerja
terhadap fisik maupun psikis.
7
2.2.3. Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja menurut Piri, Sompie et al. (2012) sebagai berikut :
a) Bagi calon pekerja harus melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja untuk mengetahui keserasian dengan pekerjaan barunya, baik itu secara fisik maupun secara mental.
b) Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dengan tujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja telah menimbulkan gagngguan pada kerja atau tidak.
c) Melakukan pelatihan atau pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kerja secara kontinu agar para pegawai tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya.
d) Menyampaikan peraturan yang berlaku di tempat kerja sebelum melakukan pekerjaan agar mereka mentaatinya.
e) Selalu menggunakan alat pelindung diri saat bekerja.
f) Menyediakan tempat khusus terhadap proses yang membahayakan, misalnya proses pencampuran bahan kimia yang berbahaya dan mengoperasian mesin yang sangat bising.
g) Mengatur ventelisasi area kerja agar bahan atau gas sisa dapat dikeluarkan.
h) Mengganti bahan yang berbahaya dengan bahan yang tidak berbahaya.
i) Membuat ventilasi umum agar udara dapat masuk ke ruang kerja sesuai kebutuhan.
2.3. Risiko
Risiko merupakan kemungkinan terjadinya sesuatu yang akan
berdampak pada tujuan yang ingin dicapai. Risiko biasanya diukur
berdasarkan kemungkinan dan konsekuansi. Risiko dapat terjadi dari setiap
kejadian tetapi dapat dikelola berdasarkan kebutuhan dari suatu organisasi
(Badariah, Surjasa et al. 2012).
8
2.3.1. Identifikasi Risiko
Tujuan dari identifikasi risiko adalah untuk mengetahui daftar risiko yang potensial yang dapat mempengaruhi proses dilingkungan kerja. Tahap identifikasi risiko melakukan pencarian risiko-risiko beserta karakteristik dari risiko. Berikut merupakan teknik dalam melakukan identifikasi risiko:
a) Brainstorming
Pada teknik Brainstorming dilakukan pendataan dan pengelompokkan dari ide-ide kemungkinan dari risiko yang dapat terjadi. Selain mendata dan mengelompokkan juga menambahkan informasi terkait masalah yang dapat terjadi dan juga cara penanganannya.
b) Wawancara
Melakukan wawancara atau interview dengan para pekerja atau orang sudah berpengalaman dibidangnya.
c) Penyebaran Kuisioner
Teknik penyebaran kuisioner digunakan untuk mendapatkan masukan atau saran dari para ahli yang relevan dengan bidang yang akan diteliti.
Ide-ide mengenai kemungkinan dari risiko yang dapat terjadi dalam kuisioner kemudian meminta pendapat dan komentar dari para ahli terhadap kuisioner tersebut.
Menurut Hasibuan, Purba et al. (2020) keadaan lingkungan kerja para pekerja mengandung banyak bahaya. Bahaya-bahaya tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a) Bahaya getaran b) Bahaya kimia c) Bahaya radiasi d) Bahaya pencahayaan e) Kebisingan
2.3.2. Peniaian Risiko
Penilaian risiko dilakukan setalah mengidentifikasi risiko. Tujuan dari
penilaian risiko adalah untuk mengevaluasi tingkat terjadinya sebuah risiko
9
kecelakaan kerja serta mengetahui skenario dampak yang akan ditimbulkan.
Penilaian risiko digunakan dengan memperhatikan 2 faktor yaitu tingkat dari kemungkinan terjadinya risiko (likelihood) dan keparan yang akan ditimbulkan (severity).
Tabel 2. 1 Tabel Skala Likelihood
Likelihood
Level Kriteria Deskripsi
Kualitatif Semi Kualitatif 1 Jarang
Terjadi
Dapat dipikirkan tetapi tidak hanya saat keadaan ekstrim
Kurang dari 1 kali dalam 10 tahun
2 Kemungkinan Kecil
Belum terjadi tetapi bisa muncul/terjadi pada suatu waktu
Terjadi 1 kali per 10 tahun
3 Mungkin Seharusnya terjadi dan mungkin telah
terjadi/muncul disini atau ditempat lain
1 kali per 5 tahun sampai 1 kali pertahun
4 Kemungkinan Besar
Dapat terjadi dengan mudah, mungkin muncul dalam keadaan yang paling banyak terjadi
Lebih dari 1 kali per tahun hingga 1 kali per bulan
5 Hampir Pasti Sering terjadi, diharapkan muncul dalam keadaan yang paling banyak terjadi
Lebih dari 1 kali per bulan
(Sumber : (Restuputri and Sari 2015)
10 Tabel 2. 2 Tabel Skala Severity
Severity
Level Uraian Deskripsi
Keparahan Cidera Hari Kerja
1 Tidak
Signifikan
Kejadian tidak
menimbulkan kerugian atau cidera pada manusia
Tidak menyebabkan kehilangan hari kerja
2 Kecil Menimbulkan cidera ringan, kerugian kecil dan tidak menimbulkan dampak serius terhadap
kelangsungan bisnis
Masih dapat bekerja pada hari/shift yang sama
3 Sedang Cidera berat dan dirawat dirumah sakit, tidak menimbulkan cacat tetap, kerugian finansial sedang
Kehilangan hari kerja dibawah 3 hari
4 Berat Menimbulkan cidera parah atau cidera tetap dan kerugian finansial besar serta menimbulkan dampak serius terhadap
kelangsungan usaha
Kehilangan hari kerja 3 hari atau lebih
5 Bencana Mengakibatkan korban meninggal dan kerugian parah buhkan dapat menghentikan kegiatan usaha selamanya
Kehilangan hari kerja selamanya
(Sumber : (Restuputri and Sari 2015)
11
2.3.3. Pengendalian Risiko
Menurut Pariyanti (2017) pengertian dari pengendalian risiko merupakan suatu upaya dengan tujuan mengetahui, menganalisis dan mengendalikan risiko setiap pekerjaan di perusahaan untuk meminimalkan kerugian dari kecelakaan kerja yang terjadi. Sedangkan menururt Wijaya, Panjaitan et al.
(2015) pengendalian risiko merupakan suatu cara untuk mencegah potensi bahaya yang dapat terjadi diarea kerja. Potensi bahaya dapat dikendalikan dengan cara menentukan skala prioritas sehingga selanjutnya dapat melakukan pemilihan dalam pengendalian risiko yang biasa diebut dengan hirarki pengendalian risiko. Menurut Handoko and Rahardjo (2017) pengendalian risiko dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti:
a) Mengurangi kemungkinan (Reduce Likelihood) b) Mengurangi Keparahan (Reduce Consequence)
c) Pengalihan risiko sebagaian atau keseluruhan (Risk Transfer) d) Menghindar dari risiko (Risk Avoid)
Menurut Ramli (2010) pengendalian risiko dilakukan dengan memperhatikan hirarki pengendalian bahaya seperti gambar dibawah ini
(Sumber : Ramli (2010))
Gambar 2. 1 Hirarki Pengendalian
a) Eliminasi
Eliminasi merupakan upaya untuk menghilangkan segala sumber bahaya
yang dapat berpotensi terjadinya kecelakaan kerja. Langkah ini sangat
12
ideal untuk dilakukan sehingga menjadi pilihan utama dalam melakukan pengendalian risiko bahaya.
b) Subtitusi
Subtitusi daiartikan sebagai penggantian bahan-bahan yang dianggap berbahaya dengan bahan dengan kategori aman. Prinsip dari proses eliminasi merupakan penggantian sumber dari risiko dengan penggantian sarana atau peralatan yang lebih aman atau lebih rendah tingkat terjadinya risiko kecelakaan.
c) Pengendalian Teknis/Enginering
Pengendalian Teknis merupakan suatu upaya menurunkan risiko dengan mendesain atau mengubah area kerja atau proses kerja menjadi lebih aman bagi pekerja.
d) Pengendalian Administratif
Pengendalian secara administratif merupakan upaya pengendalian bahaya dengan mengatur kembali jadwal kerja maupun Standard Operating Procedure (SOP) yang lebih aman.
e) Alat Pelindung Diri (APD)
Langkah yang terakhir merupakan mengahruskan pekerja untuk memakai alat pelindung diri seperti safety head, safety shoes, pelindung telinga, kaca mata keselamatan, masker serta sarung tangan. Penerapan APD bertujuan untuk mengurangi keparahan cidera yang ditimbulkan.
2.4. Importance Index
Importance Index merupakan metode yang digunakan untuk menilai
suatu risiko dari suatu kejadian. Menurut Jannadi (1996) dalam
penggunaaan metode Importance index memperhatikan nilai indeks yang
bertujuan untuk mengurutkan faktor-faktor yang mempengaruhi suatu
kejadian. Faktor dengan indeks tertinggi merupakan faktor yang dianggap
penting dan memerlukan suatu usaha atau tindakan sedangkan faktor
dengan nilai indeks paling rendah merupakan faktor dianggap kurang
penting.
13
Menurut Le-Hoai, Dai Lee et al. (2008) tujuan dari penggunaan metode importance index menentukan atau menilai tingkat kepentingan dari suatu risiko berdasarkan frequency dan severity. Nilai dari importance index didapatkan dari mengalikan nilai frequency index dengan severuty index.
Dalam menilai risiko mengguanakan metode Importance Index terdapat beberapa tahapan antara lain:
1) Menghitung nilai frequency index (FI). Frequency index (FI) merupakan presentase dari penilaian probabilitas atau frekuensi kejadian dari suatu risiko. Nilai frequency index didapatkan berdasarkan persamaan 1
FI =
∑ ai x ni51
5N
x 100% (1)
Keterangan:
FI : Frequency index
ai : Bobot yang diberikan responden dengan nilai i, dimana i = 1,2,3,4 dan 5
ni : Jumlah responden yang menjawab dengan nilai i N : Total responden
2) Menghitung nilai severity index (SI). Pengertian dari Severity index (SI) adalah presentase nilai dari dampak dan tingkat keparahan yang ditimbukan dari faktor-foktor risiko. Nilai severity index didapatkan dengan persamaan 2
SI =
∑ ai x ni51
5N
x 100% (2)
Keterangan:
SI : Severity index
ai : Bobot yang diberikan responden dengan nilai i, dimana i = 1,2,3,4 dan 5
ni : Jumlah responden yang menjawab dengan nilai i
N : Total responden
14
3) Menghitung nilai importance index berdasarkan dari hasil yang didapatkan dari nilai frequency index (FI) dan nilai saverity index (SI). Nilai importance index didapatkan dari persamaan 3
Importance Index (%) = FI (%) x SI (%) (3) 4) Mengaklasifikasikan nilai resiko
Tabel 2. 3 Klasifikasi Risiko
No Kategori Nilai Risiko (%)
1 Low 0 – 20
2 Moderate 21 – 40
3 Significant 41 – 60
4 High 61 – 100
(Sumber : Tobing, Sari et al. (2019))
2.5. Metode Bow Tie Analysis
Bow Tie Analysis merupakan bentuk analisis menggunakan diagram yang meneyerupai bentuk dasi kupu-kupu yang menyatakan hubungan antara bahaya, ancaman, kendali dan dampak. Metode ini dapat digunakan untuk menganalisis dalam hal keselamatan, proses hazard dan penyelenggaraan manajemen risiko (Erajati, Subekti et al. 2017). Bow Tie Analysis digunakan untuk mencegah, mengendalikan dan mengurangi kejadian yang tidak diinginkan dengan menghubungkan antara sebab dan akibat dari suatu kejadian yang tidak diinginkan (De Dianous and Fievez 2006). Menurut Chevreau, Wybo et al. (2006) bow tie merupakan kombinasi dari Fault Tree Analysis (FTA) yang menyatakan penyebab dari suatu kejadian dengan Event Tree Analysis (ETA) yang menyatakan akibat dari suatu kejadian.
Bow Tie analysis dimulai dari titik pusat yang biasa disebut top event
yang merupakan suatu risiko dari kegiatan yang berbahaya, kemudian
menentukan penyebab dan akibat yang ditimbulkan dari top event, setelah
itu mencari tindakan pengendalian yang dapat mengurangi kemungkinan
kejadian (kontrol preventif) serta mengurangi keparahan yang diakibatkan
dari kejadian tersebut (kontrol mitigasi).
15 Gambar 2. 2 Contoh Bow Tie Analysis
Langkah-langkah dalam menggunakan metode bowtie analysis antara lain:
1) Mengidentifikasi hazard dan top event
Bow tie hazard terdiri dari 2 item yaitu bahaya dan event dari
kemungkinan risiko yang akan terjadi. Hazard atau bahaya mempunyai
potensi menyebabkan terjadinya kerusakan, sakit atau cidera,
kerusakan properti dan kerugian produksi. Sedangkan event merupakan
kejadian yang tidak diinginkan.
16
2) Mengidetifikasi ancaman (threats)
Ancaman merupakan sesuatu yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya bahaya dan suatu event. Ancaman biasanya terletak di sisi paling kiri dari diagram.
3) Mengidentifikasi konsekuensi (consequence)
Konsekuensi merupakan akibat yang ditimbulkan dari terjadinya suatu bahaya atau event yang telah diidentifikasi. Biasanya konsekuensi berada di sisi paling kanan dari diagram
4) Menentukan kontrol pencegahan (prevention control)
Kontrol merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya suatu risiko atau event. Pada bow tie kontrol terletak diantara threats dan top event.
5) Menentukan kendali recovery (recovery control)
Recovery adalah suatu kegiatan atau usaha yang dapat dilakukan jika sebuah risiko terjadi dengan tujuan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan risiko. Recovery terletak diantara consequences dan top event.
6) Mengidentifikasi ancaman untuk kontrol (Escalation factor)
Escalation factor adalah faktor yang membuat prevention control maupun recovery control menjadi gagal. Escalation factor terletak di sisi kiri atau kanan jika terdapat ancaman pada kontrol tersebut.
7) Mengidentifikasi kontrol untuk ancaman pada kontrol (Escalation factor control)
Escalation factor control merupakan kontrol dari faktor eskalasi yang
digunakan untuk mencegah faktor eskalasi tidak terjadi.
17
2.6. Metode-metode lain berkaitan dengan risiko kecelakaan kerja
Berikut merupakan metode-metode lain berkaitan dengan risiko kecelakaan kerja
Tabel 2. 4 Metode Lain