Modul Pelatihan untuk Pelatih
MeMbaca kritis
untuk PengeMbangan
suMber daya Manusia unggul
Disusun oleh:
Yayasan Rumah Cerita Indonesia
Jln. Citamiang No. 61, RT 01/RW 08, Kel. Sukamaju Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung
[email protected] www.rumahcerita.org
Desember, 2021
Modul Pelatihan untuk Pelatih
MeMbaca kritis untuk PengeMbangan suMber daya Manusia unggul
© Yayasan Rumah Cerita Indonesia, 2021
Tim Penyusun Modul Aqmarina Andira Febby Kusumawardani Fikri Angga Reksa Indriana Apriani Ira Wulandari W.
Nor Islafatun Tannia Margaret
Tim Ahli Ramayda Akmal
Kontributor Tulisan Dessy Farhany Ega Rezeki Haifa Hamid Meiliana
Editor
Erawati Dwi Lestari
Penata Letak M. Nichal Zaki
Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Yayasan Rumah Cerita Indonesia mengizinkan penggandaan karya ini, sejauh tidak untuk kepentingan ko- mersial dan tetap mencantumkan nama yayasan sebagai pemegang hak cipta.
daFtar isi
Daftar Isi ... iii
Profil ... v
Pengantar ... 1
Linimasa dan Agenda Pembelajaran ... 17
Tujuan Pembelajaran ... 18
Materi ... 19
Contoh Soal dan Lembar Kerja ... 33
Rekomendasi Buku Bacaan Berdasarkan Tema ... 38
Kesimpulan ... 40
Panduan Kunci Jawaban ... 42
Daftar Pustaka ... 47
ProFil
yayasan ruMah cerita indonesia
Yayasan Rumah Cerita Indonesia (YRCI) adalah sebuah organisa- si nonprofit yang bergerak dalam kegiatan literasi, penulisan kreatif, dan penerbitan karya yang kritis dan inklusif untuk anak dan generasi muda di Indonesia. YRCI melakukan kegiatannya melalui dua buah ko- munitas, yaitu Rumah Cerita dan Baca.Rasa.Dengar (BRD).
Rumah Cerita adalah sebuah komunitas yang ditujukan untuk menjadi Creative Writing Center bagi anak-anak dan remaja (usia 6-18 tahun).
Sejak tahun 2014, Rumah Cerita telah melaksanakan berbagai lokakar- ya, festival, penerbitan karya, program kunjungan belajar, pelatihan untuk pelatih, dan donasi buku. Rumah Cerita percaya pada kekuatan cerita, penulisan kreatif, kualitas individu, dan pemberdayaan ekono- mi jangka panjang.
Baca.Rasa.Dengar (BRD) merupakan sebuah klub buku yang didirikan pada tahun 2015 dan telah melaksanakan berbagai kegiatan literasi, di antaranya diskusi buku, diskusi dengan penulis Indonesia dan luar negeri, festival literasi, juga penerbitan karya, baik secara langsung maupun secara daring. Hingga saat ini, BRD telah melaksanakan lebih dari 150 diskusi, diikuti lebih dari 140 anggota, dan memiliki dua ca- bang yaitu di Jakarta dan Ubud.
Setelah sejak tahun 2014 melaksanakan berbagai aktivitas, YRCI dires- mikan sebagai yayasan berbadan hukum pada 28 Mei 2021.
Pengantar
latar belakang
Dalam satu dasawarsa terakhir, pintasan revolusi digital dan teknologi telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia secara signifikan. Di samping menciptakan kemudahan dalam berba- gai bentuk, situasi ini juga membawa serta dampak yang menyulitkan.
Misalnya, munculnya tantangan terhadap budaya literasi di Indonesia.
Literasi atau keberaksaraan, yang merujuk pada kemampuan menu- lis dan membaca, atau mengkonstruksi makna lewat baca-tulis (Pa- dmadewi, 2018), masih menjadi problem besar yang perlu mendapat perhatian tinggi di Indonesia. Berdasarkan laporan penelitian UNESCO pada 2016, literasi Indonesia tergolong sangat rendah dengan pering- katnya yang ke-60 dari 61 negara. Survei PISA oleh OECD pada tahun 2019 juga menengarai kondisi serupa, di mana tingkat literasi Indo- nesia berada di peringkat 10 terbawah dari 79 negara. Sementara itu, penelitian oleh Indonesia sendiri yang dilakukan Kemendikbud pada 2019 juga menunjukkan bahwa indeks Alibaca (aktivitas literasi mem- baca) tingkat nasional Indonesia masih tergolong rendah (Kemendik- bud, 2019).
Kondisi di atas, ditambah dominasi dunia digital, meningkatkan kom- pleksitas permasalahan literasi di Indonesia. Tantangan-tantangan literasi pada level individu bermunculan, seperti minat baca menurun, fokus dan konsentrasi terganggu, serta toleransi dan kemampuan ber- sosialisasi menipis. Sementara pada level yang lebih luas, masyarakat menjadi rentan baik secara fisik maupun mental. Di antara semua itu, permasalahan yang mendesak untuk ditangani adalah ketidakmampu-
an individu atau masyarakat untuk menyaring informasi dan pengeta- huan yang mereka terima. Hal itu dikarenakan arus informasi datang begitu cepat, sementara tidak semua dari mereka memiliki kemampu- an untuk membedakan informasi yang benar dan salah.
Tantangan yang terakhir itulah yang mendesak tim Yayasan Rumah Cerita Indonesia untuk menyusun modul membaca kritis ini. Sela- in bertujuan untuk memajukan literasi masyarakat Indonesia seca- ra umum, modul ini juga diharapkan bisa membantu berbagai pihak untuk meningkatkan daya kritis mereka. Modul ini diharapkan tidak hanya mendorong terciptanya minat baca, tetapi juga minat membaca dengan kritis dan benar sebagai aspek paling puncak sebuah literasi.
Membaca kritis, yang berarti membaca dengan aktif mempertanyakan apa yang ada di dalam teks dan memahami hal-hal di luar teks, memi- liki potensi untuk meredam tantangan-tanganan literasi di masyara- kat Indonesia yang telah terdigitalisasi.
ruMusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, ada lima pertanyaan yang men- jadi dasar pembuatan modul membaca kritis, yaitu:
1. Apa pengertian membaca kritis?
2. Mengapa harus membaca kritis?
3. Siapa subjek yang membaca kritis?
4. Unsur-unsur apa dari suatu bacaan yang harus dibaca secara kritis?
5. Kapan dan di mana kita perlu membaca kritis?
tujuan
Melatih kemampuan membaca adalah tujuan utama dari modul mem- baca kritis ini. Membaca bukan sekadar “bisa baca”, tetapi ada ke-
mampuan memahami suatu bacaan. Mulai dari tulisan di papan rekla- me, tulisan di bungkus makanan yang kita kunyah, bahan pembela- jaran dari sekolah, bimbingan belajar dari kampus, buku panduan alat elektronik yang kita gunakan, berita di akun gosip pada media sosial, berita tentang situasi politik dan ekonomi dalam negeri maupun luar negeri, hingga karya sastra dalam bentuk buku atau yang terbit dalam media daring (Line Webtoon, Storial, Kumparan+).
Subjek utama dalam modul membaca kritis adalah semua kalangan, mulai dari anak sekolah, mahasiswa, pengajar, ibu rumah tangga, para lansia, dan para pekerja, baik kerah putih maupun kerah biru. Untuk mencapai tingkat pemahaman literasi tingkat tinggi, Yayasan Rumah Cerita Indonesia percaya kemampuan membaca kritis tidak boleh ber- henti di bangku sekolah. Itulah tujuan utama dari modul membaca kri- tis.
daFtar istilah
Alibaca Aktivitas Literasi Membaca adalah Indeks yang disusun oleh Kemendikbud yang bertu- juan untuk (1) menelaah dimensi dan indika- tor yang dapat merepresentasikan aktivitas membaca; dan (2) menyusun indeks untuk mengukur tingkat aktivitas literasi mem- baca. Indeks Alibaca bertujuan untuk me- metakan persoalan literasi secara nasional, sehingga program Gerakan Literasi Nasional (GLN) dapat lebih tepat sasaran.
Biodegradable Kemampuan sebuah benda, objek, atau sub- stansi untuk terurai atau hancur oleh orga- nisme hidup, seperti bakteri atau jamur.
Civitas Akademika Sekelompok orang yang terlibat pada aktivi- tas pendidikan tinggi dan penelitian.
Cyber Bullying Perundungan yang dilakukan menggunakan teknologi digital, seperti media sosial, media pesan singkat, game, dan ponsel.
Distraksi Gangguan atau kondisi yang menyebabkan hilangnya konsentrasi dan mengalihkan perhatian atau fokus terhadap sesuatu.
Disinformasi Informasi yang tidak benar atau tidak aku- rat yang sengaja direkayasa dan disebarkan untuk mengelabui atau atau membahayakan orang lain.
False Assumption Asumsi yang dibentuk berdasarkan logi- ka dan pengalaman diri kita sendiri tanpa mempertimbangkan pengalaman, kenyata- an, dan fakta yang terjadi sebenarnya.
Gimik Suatu cara atau trik yang digunakan untuk menarik perhatian.
Hermeneutika Ilmu atau metode dalam menginterpretasi atau memberi makna sebuah teks.
Hoaks Berita bohong atau berita palsu yang dibuat seolah-olah sebagai berita yang benar. Ho- aks biasanya disebarkan untuk menimbul- kan rasa tidak aman pada masyarakat atau untuk menimbulkan rumor.
Konteks Bacaan Tema besar yang menjadi latar belakang dalam suatu uraian bacaan sehingga suatu uraian bacaan dapat memiliki makna tertentu.
Literasi kemampuan dan keterampilan individu da- lam membaca, menulis, dan menghitung, atau bisa juga disebut dengan istilah melek
Literasi Digital Pengetahuan dan kecakapan individu untuk menggunakan media digital, alat-alat ko- munikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat in- formasi, dan memanfaatkannya secara se- hat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
Misinformasi Informasi yang tidak benar atau tidak akurat, namun diyakini kebenarannya oleh orang yang menyebarkan informasi dan tersebar luas tanpa ada niat untuk mengelabui atau membahayakan orang lain.
Malinformasi Informasi yang benar, baik sebagian atau- pun keseluruhan, namun disebarkan dengan maksud untuk mengelabui atau membaha- yakan orang lain.
Makna Peyoratif Perbedaan makna pada suatu kata yang me- miliki arti yang sama namun lebih buruk atau kasar kedudukannya dari makna kata lainnya. Contohnya adalah kata ‘minggat’
memiliki makna yang lebih kasar dibanding- kan dengan ‘pergi’.
Multikulturalisme Istilah yang digunakan untuk menjelaskan penerimaan terhadap adanya keberagaman budaya, nilai-nilai, dan norma yang ada di dunia.
Pekerja Kerah Putih Istilah yang ditujukan kepada pekerja terdi- dik atau profesional yang bekerja di perkan- toran yang memiliki gaji dan tarif yang tetap.
Pekerja Kerah Biru Istilah yang ditujukan kepada pekerja yang melakukan jenis pekerjaan manual dan men- dapat upah per jam/harian atau biasa disebut buruh.
Premature Judgment Penilaian yang diberikan kepada sesuatu atau seseorang sebelum benar-benar terbukti.
Propaganda Suatu bentuk komunikasi massa yang ber- sifat persuasif yang bertujuan untuk me- mengaruhi pandangan, reaksi, atau tingkah laku agar sesuai dengan ketetapan komuni- katornya.
Referensi Silang Verifikasi atau peninjauan kembali sumber bacaan untuk mengetahui tingkat kredibili- tas bacaan tersebut.
Revolusi Digital Perkembangan teknologi yang sangat pesat, serta perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital dengan fokus pada interkonektivitas, otomatisasi, machine learning, dan real time data.
Scanning Teknik membaca yang digunakan untuk me- nemukan informasi spesifik dari sebuah ba- caan panjang.
Skimming Teknik membaca cepat untuk mencari ga- gasan dan inti utama dari sebuah bacaan.
Ujaran Kebencian Ujaran yang mengandung kebencian yang diberikan oleh suatu individu atau kelompok kepada suatu individu atau kelompok lainnya untuk memberikan suatu dampak tertentu.
tentang literasi dan Minat baca
Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis. Literasi berkaitan erat dengan kemampuan seseorang mengolah dan memahami infor- masi saat membaca dan menulis. Secara etimologis, literasi berasal dari bahasa Latin literatus, yang berarti ‘orang yang belajar’.
Menurut Elizabeth Sulzby (1986), literasi adalah kemampuan berba- hasa yang dimiliki oleh seseorang dalam berkomunikasi, yaitu mem- baca, berbicara, menyimak, dan menulis, dengan cara yang berbeda sesuai dengan tujuannya.
Sementara itu, di kamus digital Merriam-Webster, literasi adalah ke- mampuan atau kualitas melek aksara di mana di dalamnya terdapat kemampuan membaca, menulis, dan mengenali serta memahami ide- ide secara visual.
UNESCO mendefinisikan literasi sebagai kemampuan untuk mengi- dentifikasi, memahami, menafsirkan, membuat, mengomunikasikan, dan menghitung, menggunakan materi cetak dan tertulis yang terkait dengan berbagai konteks.
National Institute for Literacy, memberikan pemahaman bahwa lite- rasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat. Pemahaman ini memosisikan literasi secara kontekstual lingkungan. Tidak hanya terbatas pada membaca dan menulis, tetapi juga merespons lingkung- an.
Literasi terdiri dari berbagai jenis, antara lain literasi dasar, media, vi- sual, perpustakaan, dan teknologi. Menurut Kylene Beers, pada prin- sipnya literasi mengangkat empat hal penting, yaitu:
a. Berimbang, setiap orang memiliki kebutuhan literasi yang berbeda sehingga dibutuhkan strategi dalam membaca dan menyediakan variasi bacaan
b. Bahasa lisan, setelah membaca, ada baiknya informasi yang diperoleh dibagikan dan didiskusikan bersama teman. Hal ini membuat kemampuan berkomunikasi dan membangun opini semakin terasah sehingga mendorong terbentuknya kebia- saan berpikir kritis
c. Berlangsung pada suatu kurikulum, kegiatan literasi sebaik- nya tidak perlu bergantung pada program kurikulum terten- tu. Kegiatan literasi dapat dilakukan di mana saja bersama siapa saja tanpa perlu dimasukkan ke dalam kurikulum. Hal ini dapat menjadi kegiatan wajib bagi para murid dan guru d. Pentingnya keberagaman, literasi dapat menjadi media un-
tuk memperkenalkan multikulturalisme baik melalui buku- buku fiksi maupun nonfiksi
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh World Culture Index Score pada tahun 2018, kegemaran masyarakat Indonesia dalam hal literasi mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Indonesia me- nempati urutan ke-17 dari 30 negara. Padahal di tahun 2016, menurut penelitian Central Connecticut State University, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara dalam The World’s Most Literate Nations.
Sementara dalam hal membaca, rata-rata orang Indonesia mengha- biskan waktu membaca enam jam per minggu, mengalahkan Brazil, Argentina, Mexico, Turki, Kanada, Spanyol, Jerman, Italia, Ameri- ka Serikat, Jepang, dan Taiwan, dengan masing-masing tiga jam per minggu. Artinya, Indonesia sudah memiliki dasar yang baik untuk me- ningkatkan kualitas literasi dan minat baca. Dibutuhkan lebih banyak dorongan dan upaya ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu kemampuan membaca kritis dalam memahami konteks secara lebih menyeluruh dan mengkritisi bacaan dan informasi yang diterima.
Data penelitian mengenai kemampuan literasi dan minat baca di In- donesia serta perbandingannya dengan negara-negara di Asia Teng- gara dan dunia
Minat baca indonesia (Perpustakaan Nasional (Perpusnas), 2020)
55,74% BOOK-OPEN Indeks kegemaran membaca Indonesia (kategori sedang)
1.9
poin EXTERNAL-LINK-SQUARE-ALT Kenaikan dibandingkan tahun
2019
4 kali dalam sepekan
REDO
Rata-rata kegiatan membaca masyarakat Indonesia
1 jam 36 menit
per hari
Clock
Durasi membacamasyarakat Indonesia
2 buku per
3 bulan Book
Rata-rata jumlah buku yang dibaca masyarakat Indonesia
Minat baca indonesia (UNESCO, 2016)
1 dari 1,000
orang Indonesia user-alt
Memiliki minat membaca yang tinggi124 dari 187
Negara FLAG
Peringkat Indonesia dalam Human Development Index (HDI)
Peringkat literasi indonesia di dunia
60 dari 61
Negara Landmark
Peringkat Literasi Indonesia (Penelitian Central Connecticut State University, 2016)
17 dari 30
Negara Laugh-Beam
Peringkat kegemaran masyarakat Indonesia dalam hal literasi (World Culture Index Score, 2018)
72 dari 79
Negara FLAG
Peringkat Literasi Indonesia (Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co- operation and Development (OECD), 2019)
skor kemampuan Membaca Pelajar berusia 15 tahun di 10 negara asia (2018)
(Economic Co-operation and Development (OECD), 2019)
indeks aktivitas literasi Membaca (alibaca) kemendikbud, 2019
37,32% LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Rata-rata indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) nasional (kategori rendah)
0 Provinsi LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Masuk kategori sangat tinggi dan tinggi9 Provinsi LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Masuk kategori sedang24 Provinsi LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Masuk kategori rendah1 Provinsi LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Masuk kategori sangat rendahredeFinisi kata kritis
Sebelum jauh membahas apa itu membaca kritis, penting kiranya kita memahami terlebih dahulu makna kritis itu sendiri. Ketika pertama kali mendengar kata kritis, apa yang terlintas di pikiran teman-teman?
Dalam sebuah webinar YRCI bersama mahasiswa Universitas Nasional (14 Oktober 2021), ketika diberi pertanyaan tersebut, beberapa peserta masih memberikan jawaban yang mengarah pada kesan negatif dari membaca kritis, “bingung, susah, ribet, sensitif,” dan lain-lain. Dari jawaban tersebut, kita bisa melihat bahwa aktivitas membaca kritis masih menjadi momok yang sulit dan menakutkan.
Hingga saat ini, persepsi masyarakat tentang makna kritis memang masih buram. Di Indonesia, orang yang kritis justru dianggap meng- ancam, membahayakan, dan merepotkan. Ketika ada murid atau ma- hasiswa kritis, guru atau dosen justru seringkali was-was. Murid yang kritis akan banyak bertanya, mengonfirmasi, memberikan argumen, yang bagi sebagian pendidik itu amat merepotkan. Selain itu, dalam lingkungan pertemanan, anak yang kritis juga rentan mengalami ali- enasi karena dianggap terlalu banyak komentar, terlalu banyak mau, atau bahkan sok pintar, hingga akhirnya dijauhi teman-temannya. Fe- nomena-fenomena tersebut menunjukkan adanya miskonsepsi ten- tang makna kritis sehingga makna kata ini cenderung peyoratif atau mengalami perubahan makna menjadi negatif.
Kesalahpahaman dan perubahan makna kata kritis juga bisa kita li- hat dari fenomena pemaknaan kata kritis yang sering disandingkan dengan kata “nyinyir”. Orang yang kritis dianggap suka nyinyir. Pa- dahal, ada garis tegas yang membedakan keduanya. Kritis selalu ber- landaskan pada argumen dan logika, sementara nyinyir hanya berbasis perasaan dan prasangka. Tidak ada sumber valid yang bisa digunakan untuk memvalidasi nyinyir, sementara aktivitas berpikir atau memba- ca kritis punya landasan dan pedoman yang logis. Mengkritisi berar-
ti memberikan komentar dengan penuh tanggung jawab dan disertai alasan-alasan rasional.
Lalu, apa sebenarnya makna kritis? Jika merujuk pada KBBI, kata kritis yang masuk dalam kelompok kata adjektiva berarti bersifat tidak le- kas percaya; bersifat selalu berusaha menemukan kesalahan atau ke- keliruan; dan tajam dalam penganalisisan. Makna bahwa menjadi kri- tis adalah tak lekas percaya dan tajam dalam melakukan analisis atau pembacaan suatu isu tepat adanya. Orang yang kritis pasti akan skeptis terhadap apa yang dilihatnya. Ia penuh keingintahuan, tidak meneri- ma suatu isu dengan begitu saja. Dari situ kemudian memunculkan ke- tajaman berpikir dan kedalaman dalam menganalisis sesuatu.
Namun, bagaimana dengan definisi bahwa kritis adalah bersifat selalu menemukan kesalahan atau kekeliruan? Mari kita tarik definisi ter- sebut dalam konteks membaca kritis. Benarkah membaca kritis sama dengan mencari kesalahan atau kekeliruan dalam teks? Tidak selalu.
Menjadi kritis tidak selalu menuntut kita untuk menemukan kesalahan dan kekeliruan. Membaca kritis adalah sebuah cara atau metode yang bisa kita gunakan untuk memahami sebuah teks secara mendalam.
Membaca kritis menuntut kita untuk aktif, tapi tidak reaktif. Dalam artian, ketika membaca kritis kita memang diharuskan secara aktif memahami, memeriksa, atau menganalisis teks tersebut, tapi tidak berarti kita harus selalu menemukan kesalahan atau kekeliruan dalam teks itu. Menemukan kesalahan tidak selalu menjadi tujuan dari mem- baca kritis. Bisa jadi, setelah melakukan serangkaian cara dan metode tertentu dalam membaca kritis, kita justru bersepakat dan menyetujui isi sebuah teks.
Kritis adalah adjektiva yang kaya akan nilai positif. Menjadi kritis tidak berarti berbahaya, kemampuan itu justru akan menambah value kita sebagai manusia yang mampu berpikir secara rasional. Membaca kri- tis adalah sebuah keterampilan—dan oleh karena itu, bisa diasah dan
nyak dari apa yang terlihat secara struktur bacaan, karena kita punya kapasitas untuk melihat lebih jauh, termasuk konteks bacaan. Konteks yang dimaksud di sini adalah seluruh aspek di luar bacaan yang me- mengaruhi isi bacaan. Misalnya, siapa penulis dan bagaimana latar be- lakang sosial budayanya; kapan bacaan itu ditulis, apa tujuannya, dan siapa sasaran pembacanya; juga respons-respons apa yang muncul terhadap bacaan itu, dan aspek-aspek eksternal lainnya. Kemampuan melihat konteks bacaan ini akan menjadi bekal utama agar kita tidak mudah termanipulasi dan termakan isu yang simpang siur, karena kita akan terbiasa untuk mempertanyakan dan memvalidasi setiap isu yang kita baca.
daMPak kurangnya budaya MeMbaca kritis
Kurangnya budaya membaca kritis tentu telah menyebabkan berbagai dampak yang dapat kita lihat pada kehidupan sehari-hari. Misalnya adalah terjadinya misinformasi dan maraknya penyebaran hoaks di te- ngah masyarakat. Salah satu contohnya adalah pesan yang diteruskan berulang pada aplikasi telepon genggam (Whatsapp) mengenai bahan makanan yang dikonsumsi dengan dosis tertentu dinyatakan dapat mencegah orang-orang tertular virus Covid-19. Namun demikian, ba- han makanan tersebut belum terbukti secara klinis khasiatnya terha- dap pencegahan penularan virus Covid-19. Akan tetapi, orang-orang yang tidak menerapkan budaya membaca kritis langsung memercayai informasi pada pesan berantai tersebut sehingga mereka membeli se- banyak-banyaknya bahan makanan dan berebutan dengan warga la- innya. Hal ini tentu saja merugikan karena masyarakat telah menge- luarkan sejumlah biaya untuk membeli bahan makanan tersebut tanpa mendapatkan khasiat yang diharapkan.
Lebih lanjut, dampak lain yang terasa di sekitar kita adalah meluntur- nya kepekaan sosial serta toleransi. Hal ini dapat kita jumpai dalam perbedaan masyarakat terutama terkait dengan isu multikulturalisme.
Lagi-lagi, bermula dari pesan aplikasi Whatsapp yang dikirimkan ke berbagai kontak di daftar anggota telepon genggam mengenai ujaran kebencian atau tuduhan-tuduhan yang belum terbukti secara benar.
Namun, kerap kali karena kurangnya membaca kritis di kalangan ma- syarakat kita, mengakibatkan sejumlah orang memiliki prasangka bu- ruk terhadap satu kaum atau komunitas tertentu bahkan sampai me- lakukan hal-hal yang menyulut pertikaian seperti ucapan yang tidak baik atau tindakan/serangan secara fisik.
Dampak lainnya yang juga perlu kita cermati adalah terkait dengan tantangan dalam menerapkan demokrasi. Sebagai contoh yaitu pada masa pemilihan wakil rakyat, informasi mengenai pengalaman ser- ta prestasi para calon wakil rakyat sebenarnya telah tersedia. Namun demikian, banyak dari pemilih belum menerapkan budaya membaca kritis sehingga sering kali kekurangan informasi yang akurat terhadap calon wakil rakyat yang dapat mewakili aspirasinya. Tak jarang, pemi- lih pada akhirnya merasa kecewa atau sampai kehilangan kepercayaan kepada para calon wakil rakyat yang tentu saja hal ini dapat membaha- yakan keberlangsungan demokrasi di negara ini.
Berbagai dampak yang telah disebutkan di atas dapat menjadi bahan refleksi bagi kita semua untuk mulai bersama-sama meningkatkan motivasi dalam melatih budaya membaca kritis. Bisa jadi sebagian dari kita berpendapat bahwa dampak dari kurangnya membaca kritis tergolong kecil atau ringan, tetapi apabila hal ini terjadi selama terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama, maka tentu saja dampak tersebut menjadi semakin besar, merugikan, bahkan membahayakan kita sendiri, masyarakat, dan dalam level yang lebih besar, bangsa dan negara kita.
liniMasa dan agenda PeMbelajaran
durasi total: 150 Menit
durasi aktivitas
5 menit
LONG-ARROW-ALT-RIGHT
• Pembukaan• Tujuan Pembelajaran
• Agenda Pembelajaran 5 menit
LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Ice Breaking• Online - Polling/Perkenalan
• Offline - Games Perkenalan 20 menit
LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Paparan Materi5 menit
LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Penjelasan Lembar Kerja 15 menitLONG-ARROW-ALT-RIGHT
Pengisian Lembar Kerja 30 menitLONG-ARROW-ALT-RIGHT
Diskusi Kelompok 20 menitLONG-ARROW-ALT-RIGHT
Presentasi Kelompok 20 menitLONG-ARROW-ALT-RIGHT
Tanya Jawab15 menit
LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Tanggapan dari Pelatih 10 menitLONG-ARROW-ALT-RIGHT
Kesimpulan5 menit
LONG-ARROW-ALT-RIGHT
Penutuptujuan
PeMbelajaran
Tujuan pembelajaran modul membaca kritis bagi penerima manfaat akhir adalah:
Ī Peserta dapat memahami definisi dan makna membaca kritis;
Ī Peserta mengetahui latar belakang, tujuan, dan manfaat memba- ca kritis;
Ī Peserta menyadari dan mampu memosisikan diri sebagai subjek yang harus mampu membaca kritis dalam kehidupan sehari- harinya;
Ī Peserta mampu mempraktikkan aktivitas membaca kritis dan secara peka mampu menemukan unsur-unsur dalam teks yang perlu dibaca dengan kritis dalam keseharian mereka; dan Ī Peserta mengetahui kapan dan di mana harus membaca kritis
sehingga dapat menghindari false assumption/premature judgment dan dapat menyaring kembali serta membaca teks secara utuh, tidak sepotong atau sebagian saja.
Materi
aPa itu MeMbaca kritis?
Saat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, kita diajari untuk membaca skimming, yaitu teknik membaca cepat yang bertujuan untuk mencari gagasan dan inti utama dari sebuah bacaan; dan membaca scanning, yaitu teknik membaca cepat yang bertujuan untuk menemukan infor- masi yang spesifik dari sebuah bacaan panjang. Kedua teknik memba- ca tersebut sangat berguna saat kita hendak membaca sesuatu dalam waktu yang cepat ataupun mengambil inti permasalahan/kesimpulan dari bacaan panjang. Akan tetapi, selama mengenyam bangku pendi- dikan formal, kita tidak diajari untuk membaca kritis. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan membaca kritis?
Membaca kritis berbeda dengan kegiatan sekadar membaca sekilas, atau membaca cepat (skimming/scanning). Membaca kritis adalah se- buah proses membaca yang menuntut seorang pembaca untuk meng- analisis dan mengevaluasi isi bacaan sehingga memberi pemahaman mendalam terhadap sebuah bacaan, tidak hanya mengambil inti/ke- simpulan dari sebuah bacaan. Berdasarkan konsep Siklus Hermeneu- tika, untuk memahami sebuah bacaan, seorang pembaca tidak dapat hanya menangkap kata per kata tapi juga perlu memahami keseluruh- an konteks bacaan, begitu pula sebaliknya. Lalu, untuk memahami ke- seluruhan konteks bacaan, kita perlu membaca seluruh tulisan dengan seksama, tidak hanya mengambil ataupun mengutip beberapa kalimat saja, karena kalimat yang hanya dikutip tanpa memahami konteks bisa memunculkan asumsi atau perspektif lain yang berlawanan dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penulis.
Kegiatan membaca kritis juga tidak dapat lepas dari proses berpikir kritis. Saat membaca kritis kita perlu berpikir secara rasional, melihat segala hal dalam sudut pandang skeptis, dan membangun kebiasaan untuk mengajukan pertanyaan dari tulisan yang kita baca. Misalnya saat membaca sebuah artikel, kita dapat bertanya tentang topik yang diangkat dalam tulisan itu, bertanya apakah penjelasan terkait topik tersebut masuk akal atau tidak, bertanya tentang relevansi topik ter- sebut pada kehidupan bermasyarakat, bertanya tentang sumber-sum- ber yang digunakan dalam artikel itu, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat membangun rasa ingin tahu lebih dalam terhadap topik dari tulisan itu. Dengan begitu, kita jadi bisa mendapat bukti-bukti konkret dari berbagai sumber yang kredibel dan valid serta memung- kinkan kita memperoleh pemahaman lebih dalam terkait dengan topik yang sedang kita baca.
Membaca kritis bukanlah kemampuan eksklusif yang hanya dimiliki oleh cendekiawan ataupun orang-orang yang bergerak dalam bidang akademik saja, melainkan kemampuan yang wajib dimiliki oleh seti- ap orang. Dengan demikian, apa yang kita baca bukan hanya sekadar memunculkan persepsi dari apa yang kita pikirkan atau bahkan asumsi yang mengandung bias yang bisa jadi menyesatkan pihak lain.
siaPa yang Perlu MeMbaca kritis?
Siapa yang perlu membaca kritis? Kita.
Tidak ada lagi jawaban yang lebih tepat. Membaca adalah salah satu dari sedikit kegiatan yang membedakan kita—umat manusia—dengan spesies lainnya di bumi. Tidak seperti kemampuan alamiah manusia dalam berbicara dan mendengar, manusia perlu melatih kemampuan membaca dan menulis sejak kecil. Kita perlu melibatkan lingkungan, pengetahuan, dan pengalaman kita ketika membaca.
Membaca kritis sering kali dikaitkan dengan kegiatan membaca spe- sifik yang bertujuan akademik. Siswa, mahasiswa, dan pendidik adalah orang-orang yang dituntut untuk terhubung dengan teks secara men- dalam dan aktif. Kebutuhan membaca kritis di dunia akademis ini se- benarnya melampaui kepentingan membaca kritis dalam ruang kelas.
Terhubungnya individu dengan karya tulis secara efektif merupakan hal yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan profesional per- sonal dan dirinya sebagai bagian dari masyarakat (Sutherland & Ince- ra, 2021). Kebutuhan ini makin didesak dengan adanya 1.470 isu hoaks yang terjadi di Indonesia per 10 Maret 2021 (CNN Indonesia, 2021) yang di antara 64% - 79% masyarakat Indonesia tidak dapat mengidentifi- kasi misinformasi dalam jaringan (Kruglinski, 2021). Misinformasi ini berpotensi membunuh sebagian masyarakat (Ravelo, 2021) dan meng- ancam kedaulatan demokrasi Indonesia (Nadzir et al., 2019).
Data-data tersebut menunjukkan urgensi kemampuan berpikir kritis ketika membaca bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya keti- ka membaca informasi. Seorang ibu perlu membaca kritis agar dapat mengarahkan dan melindungi buah hatinya. Seorang warga nega- ra perlu kritis ketika membaca berita agar terhindar dari propaganda yang secara tidak langsung mengarahkan mereka kepada kebenaran yang ditunggangi kepentingan individu/kelompok tertentu. Seorang pembaca novel perlu kritis ketika membaca agar dapat memahami niat dan pesan tersirat yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca- nya.
di Mana kita Perlu MeneraPkan MeMbaca kritis?
Membaca kritis harus diterapkan di mana saja. Tidak hanya dalam membaca karya sastra ataupun berita di koran, membaca kritis juga harus diterapkan pada tulisan-tulisan yang dibaca di sekolah, di ru- mah, maupun di tempat kerja.
Berikut beberapa contoh penerapan membaca kritis untuk tempat- tempat tertentu:
sekolah
Di sekolah, siswa, guru, maupun civitas akademika lainnya akan ter- papar dengan tulisan-tulisan akademis, misalnya buku teks pelajaran, jurnal ilmiah, maupun soal ujian. Tentu saja menerapkan membaca kritis sangat penting dalam menelaah informasi penting dari tulisan- tulisan tersebut agar ilmu yang ingin disampaikan oleh penulis ma- upun pengajar dapat diterima pembaca dengan baik. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, maka teks-teks akademis yang harus dipa- hami akan semakin kompleks. Untuk mengatasi kompleksitas terse- but diperlukan strategi membaca kritis yang dapat disesuaikan dengan gaya membaca masing-masing orang yang bisa didapatkan di berba- gai sumber seperti internet dan buku. Yang lebih penting lagi, mem- baca kritis pada lingkungan akademis juga dibutuhkan untuk mencip- takan jarak antara siswa dengan teks bacaannya. Semisal mereka per- lu mempelajari sesuatu yang dianggap tabu atau tidak sesuai dengan nilai-nilai etika dan sosial masyarakatnya, mereka tetap bisa objektif, berjarak, dan tidak emosional. Sebab, membaca kritis mampu membu- at mereka sadar dan mengetahui info-info di luar teks yang bisa men- jadi informasi tambahan untuk memahami teks tersebut.
ruMah
Membaca kritis tentu saja diperlukan dalam urusan domestik. Tulisan- tulisan terkait urusan domestik yang kadang terlihat sepele justru membuat pembaca lengah dalam menerapkan membaca kritis. Misal- nya pada teks-teks grup komunikasi keluarga, di mana sering terjadi terusan-terusan teks yang bersifat hoaks atau tidak benar. Selain itu,
dan peralatan lainnya, informasi terkait label seperti zero-fat, unswe- etened, less calorie, recyclables, plant-based dan lainnya perlu ditela- ah lebih mendalam, untuk menjauhi jebakan pemasaran. Begitu pun dengan informasi terkait pembelian barang ataupun properti seperti kontrak serta syarat dan ketentuan. Sebelum mengambil keputusan besar terkait urusan domestik, semua informasi-informasi tertulis yang mencantumkan hak dan kewajiban harus dicerna dengan kritis terlebih dahulu.
teMPat kerja
Lain hal dengan tempat kerja, teks-teks yang harus dikonsumsi setiap harinya berbeda dengan teks-teks yang ada di sekolah ataupun yang berhubungan dengan urusan domestik. Membaca kritis perlu diterap- kan ketika membaca surel pekerjaan, membaca instruksi dari atasan, maupun membaca laporan yang dikerjakan. Bahasa yang digunakan di tempat kerja menggunakan bahasa yang formal dan struktur tulisan yang baku sehingga berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari- hari. Oleh sebab itu, membaca kritis perlu diterapkan untuk menyerap informasi dari teks-teks tersebut.
kaPan kita Perlu MeneraPkan MeMbaca kritis?
Membaca kritis penting untuk diterapkan pada masa-masa seperti pandemi Covid-19 ini, di mana banyak berita simpang siur yang tidak jelas kebenarannya sehingga dengan mudahnya opini masyarakat ter- giring ke sisi negatif yang menghambat penanganan pandemi tersebut.
Yang tidak kalah penting lagi adalah pada masa Pemilihan Umum (Pe- milu) maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Di momen tersebut banyak sekali perpecahan terjadi akibat misinformasi dan malinfor-
masi. Membaca kritis bisa juga diterapkan dalam memaknai informasi terkait agama, kesehatan, lingkungan, dan juga isu lainnya.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini terdapat beberapa contoh kondisi dan isu-isu di mana kita perlu menerapkan pembacaan kritis terhadap semua informasi terkait dengannya:
PandeMi covid-19
Kita semua tahu bahwa Pademi Covid-19 membawa banyak berita duka yang menimbulkan kecemasan bagi hampir semua orang di du- nia. Pada masa-masa yang diliputi bermacam kekalutan, orang-orang tentu sangat mudah merasa takut terhadap apa pun, termasuk infor- masi-informasi simpang siur yang penuh dengan “katanya … katanya
…” dan tidak tentu kebenarannya. Untuk dapat membaca kritis, diper- lukan pikiran yang terbuka dan tidak bias, agar informasi yang didapat tidak langsung dibenarkan oleh pembaca, melainkan dilakukan refe- rensi silang lebih lanjut untuk meyakini kebenarannya. Pasalnya, pada saat-saat krusial seperti pandemi ini, langkah dan sikap masyarakat, yang saat ini juga berperan sebagai penerima informasi, sangat berpe- ran penting dalam penanganan pandemi ini. Perlu diingat, membaca kritis tidak hanya diterapkan pada saat pandemi Covid-19 saja, mela- inkan pada masa-masa endemi, epidemi, serta kondisi krisis lainnya.
Politik
Membaca kritis juga tidak kalah pentingnya diterapkan pada momen- momen politik seperti Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Ke- pala Daerah (Pilkada), maupun pengesanan regulasi seperti Undang- undang, Peraturan Presiden, Peraturan Pemerintah, dsb. Pada masa- masa ini, media informasi akan berlomba-lomba untuk menggiring
golongan) hingga menguak rumor serta isu-isu yang tidak jelas kebe- narannya. Oleh sebab itu, perlu diterapkan membaca kritis pada masa- masa ini untuk menentukan pendapat pribadi, pun untuk mencegah terjadinya perpecahan antar kelompok, keluarga, dan lainnya.
agaMa
Informasi terkait agama seringkali muncul pada saat menjelang hari raya keagamaan, pada saat munculnya berita kontroversial dari pe- muka agama, maupun saat terjadi konflik yang diwarnai oleh isu aga- ma. Pada masa-masa ini, pembaca perlu menerapkan membaca kritis untuk menamengi diri dari informasi-informasi tidak jelas seperti in- terpretasi ayat-ayat suci yang diberikan oleh sembarang orang untuk menggiring opini pembaca ke arah yang diinginkan penulis, bukan ke arah yang merefleksikan kebenaran.
lingkungan
Akhir-akhir ini, kesadaran terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim semakin membumi di kalangan masyarakat. Gerakan-gerakan seperti anti tas plastik, anti alat makan sekali pakai, peralatan biode- gradable, pemilahan sampah dan lainnya sudah semakin banyak di- gaungkan oleh aktivis-aktivis lingkungan maupun brand-brand ko- mersial. Kesadaran tersebut perlu dibarengi dengan membaca kritis untuk membedakan antara gimik dengan informasi sesungguhnya.
Misalnya, untuk menghindari penggunaan tas plastik, orang-orang berbondong-bondong membeli tas kain karena tas kain lebih ramah lingkungan. Namun, pembaca tidak sadar telah banyak mengumpul- kan tas kain sehingga tas kain tersebut menumpuk dan akhirnya men- jadi sampah juga. Contoh lain, maraknya penggunaan bahan-bahan yang dicap biodegradable, meskipun kenyataannya bahan tersebut te- tap memakan waktu penguraian puluhan tahun.
gender dan kekerasan seksual
Wacana kesetaraan gender semakin mengemuka, seiring masih terja- dinya banyak kasus kekerasan terhadap perempuan. Sayangnya, pe- rempuan sebagai korban kerap berada di posisi yang terpojok dan di- salahkan sehingga untuk berbicara dan mengadu pun sulit. Ketakukan dan kesulitan ini tercipta karena padangan bias gender yang meng- anggap perempuan berada pada posisi yang inferior ketimbang laki- laki, yang submisif dan menjadi sumber yang memancing kekerasan.
Bahkan, informasi dan berita-berita terkait kasus tersebut pun tidak luput dari bias gender ini. Untuk bisa melihat kasus secara adil dan menghindari bias tersebut, kita perlu terbiasa membaca kritis berita- berita tersebut.
MengaPa kita Perlu MeMbaca kritis?
Berdasarkan data UNESCO Institute for Statistic tahun 2015, terdapat 99,67% masyarakat Indonesia (usia 15-24 tahun) yang fasih memba- ca. Tapi, hasil Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) yang dike- luarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indo- nesia pada tahun 2019 menunjukkan hasil rata-rata sebesar 32.32 saja, dengan posisi tertinggi ditempati oleh Kota Jakarta sebesar 58.16 yang mengacu pada kategori “medium”. Hasil riset PISA Test tahun 2018 menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia (usia 15 tahun) termasuk ke dalam kategori “functionally illiterate” yang berarti anak-anak Indonesia sudah fasih membaca tapi tidak dapat memahami apa yang mereka baca. Selain itu, hasil riset dari The World’s Most Literate Na- tions yang dikeluarkan oleh Central Connecticut State University tahun 2016 menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara, hanya terpaut satu peringkat dengan Bostwana. Hasil riset tersebut membuktikan bahwa kemampuan membaca tidak membuat kita serta merta memiliki kemampuan untuk memahami bacaan, juga
Apa yang membuat tingkat literasi masyarakat Indonesia begitu ren- dah? Salah satunya adalah kurangnya kemampuan masyarakat dalam membaca kritis. Berikut beberapa alasan mengapa kita perlu membaca kritis:
1. Mengasah kemampuan menelaah, memahami, dan mengevaluasi konteks
Kemampuan membaca kritis dapat mengasah kemampuan me- nelaah, memahami, dan mengevaluasi konteks yang dapat mem- bantu kita untuk lebih kritis dalam menyikapi topik bacaan, be- rita, konten, ataupun pesan yang beredar di internet ataupun di media sosial. Membaca kritis dapat mendorong kita mencari tahu kebenaran di balik sebuah hal. Misalnya, kita dapat mencari opi- ni kedua atau ketiga dari orang lain, dapat mendorong kita me- lakukan diskusi dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan lebih, dan dapat mendorong kita untuk mengambil keputusan se- cara rasional.
2. Melatih melihat banyak hal secara objektif dan netral
Membaca kritis dapat melatih kita untuk melihat banyak hal se- cara objektif dan netral, terutama di era internet dan media so- sial yang semakin merajalela, yang membuat semua hal berjalan serba cepat sehingga kita jadi tidak mudah terombang-ambing di tengah arus informasi. Selain itu, membaca kritis juga membuat kita tidak mudah tersulut emosi ataupun melakukan tindakan im- pulsif jika membaca topik yang sedang dibicarakan oleh banyak orang. Terlebih lagi dengan semakin berkembangnya era internet, semakin marak juga media online yang melakukan framing terha- dap suatu berita, judul-judul artikel yang terkesan click bait, dan kasus-kasus penipuan melalui pesan email atau media sosial.
3. Melatih kemampuan berpikir secara rasional dan logis
Dengan membaca kritis, kita dapat melatih kemampuan berpi- kir secara rasional dan logis. Membaca kritis membuat kita me- ngembangkan sifat skeptis secara sehat sehingga kita dapat mulai mempertanyakan segala hal yang kita baca dengan tujuan untuk mencari kebenaran sumber ataupun informasi tambahan terka- it dengan topik bacaan. Kemampuan membaca kritis juga sangat berguna dalam pengambilan keputusan sehari-hari, baik kepu- tusan besar ataupun keputusan kecil.
4. Membantu menangkis hoaks/berita bohong, ujaran kebencian, dan menyaring informasi yang tidak benar
Pada era internet di mana semua hal berjalan serba cepat, sering- kali kita terburu-buru membaca sebuah informasi dan langsung percaya tanpa mencari second opinion dari sumber lain yang dapat dipercaya keakuratannya. Tidak jarang juga kita merasa penasar- an dengan judul-judul artikel/konten yang click bait, yang sebe- narnya berisi hal-hal yang tidak benar atau misinformasi.
Belum lagi jika muncul figur-figur tertentu yang memiliki keku- atan (power) atau pengikut (followers) banyak, di mana jika me- reka menyebarkan sebuah informasi, banyak orang yang mudah percaya. Menggunakan hoaks/ujaran kebencian untuk mempe- ngaruhi orang yang belum memiliki kritisisme mendalam terha- dap isu tertentu pun dapat menimbulkan tindakan-tindakan im- pulsif bahkan menimbulkan konflik dalam masyarakat. Kemam- puan membaca kritis dapat menjadi “filter” dalam diri kita agar kita tidak mudah percaya pada berita bohong/ujaran kebencian.
5. Membantu melatih empati
Di era media sosial pun banyak orang yang mudah menghakimi orang lain karena membaca berita yang hanya sepotong. Media sosial membuat kita “merasa dekat” dengan orang lain yang sebe- narnya tidak kita kenal sehingga banyak orang merasa berhak un- tuk berkomentar atau ikut campur atas kehidupan orang lain yang terlihat di media sosial yang dapat menimbulkan permasalahan serius seperti cyber bullying. Kemampuan membaca kritis dapat membantu kita untuk berjeda saat ingin berkomentar di media sosial sehingga kita tidak meninggalkan komentar-komentar ja- hat hanya karena “tersulut” pada berita yang hanya sepotong atau belum terbukti kebenarannya.
bagaiMana cara MeneraPkan MeMbaca kritis?
Untuk menjadi pembaca kritis, ada beberapa hal yang dapat dilakukan:
bersikaP aktiF tetaPi tidak reaktiF
Menurut KBBI kata reaktif memiliki makna sifat cenderung, tanggap, atau segera bereaksi terhadap sesuatu yang timbul atau muncul. Dalam kaitannya dengan sikap, reaktif merupakan reaksi negatif seseorang terhadap lingkungan. Sikap reaktif cenderung menghasilkan reaksi spontan tanpa pikir panjang. Misalnya dalam menyikapi sebuah infor- masi yang tidak sesuai dengan pemahaman pembaca, pembaca menilai yang dia baca tersebut mutlak salahnya tanpa melihat garis besar in- formasinya. Begitu pun sebaliknya, di saat pembaca membaca sebuah informasi yang sesuai dengan pemahamannya, pembaca serta merta menilai informasi tersebut mutlak benarnya. Untuk itu, penting mem- pertanyakan keabsahan setiap informasi yang dibaca dengan pikiran
terbuka tanpa bersikap reaktif, sehingga pesan yang ingin disampai- kan dapat diterima secara utuh.
skePtis
Menurut KBBI, skeptis memiliki makna kurang percaya; ragu-ragu (terhadap keberhasilan ajaran dan sebagainya). Sikap ini penting di- terapkan dalam menyikapi semua informasi yang masuk sebagai pe- nyaring hoaks. Seringkali pembaca menelan bulat-bulat informasi yang tidak ada kejelasan sumbernya. Fenomena ini pasti sudah sering disaksikan oleh banyak orang, apalagi pada era digital di mana infor- masi, apa pun dan bagaimanapun isinya, dapat berseliweran dengan sangat mudah. Oleh sebab itu, setidaknya cari tahu dan yakini dulu sumber informasi tersebut sebelum membenarkan atau menyalahkan informasinya.
bertujuan
Yang dimaksud dengan bertujuan misalnya membaca untuk penge- tahuan dan kepentingan akademis, membaca untuk hiburan, dan se- bagainya. Seringkali di era media sosial seperti sekarang, informasi muncul tanpa dicari, misalnya mendapatkan pesan di grup obrolan ataupun berdasarkan hasil rekomendasi mesin pencari di media sosial.
Pada saat pembaca menerima informasi tersebut, pembaca kemung- kinan tidak berada pada pola pikir yang siap untuk menerima infor- masi tersebut. Oleh sebab itu, sangat dianjurkan untuk menentukan tujuan membaca sebelum menerima informasi dalam tulisan.
Mengetahui konteks luar tulisan
Tulisan tidak hanya terdiri dari kumpulan teks, tetapi juga konteks.
definisi tersebut berujung pada sesuatu yang menyertai teks. Segala sesuatu yang berhubungan dengan teks, apakah itu berkaitan dengan arti, maksud, maupun informasinya, sangat tergantung pada konteks yang melatarbelakangi teks tersebut. Karena sebuah kalimat dapat memiliki banyak interpretasi, perdebatan terkait kalimat tersebut se- ringkali meluas akibat konteks yang terlupakan. Sebagai contoh, ka- limat “Ibu bekerja itu hebat.” jika masing-masing pembaca memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda, kalimat tersebut bisa menjadi sumber perdebatan.
Menggunakan PersPektiF dan Metode tertentu
Setiap orang memiliki gaya membaca masing-masing. Khususnya dalam menggali informasi seperti pengetahuan dan akademis. Da- lam membaca, pembaca memang tidak harus membaca kata per kata lengkap dari awal hingga akhir, walaupun harus hati-hati juga dalam mencegah penyerapan informasi yang parsial. Untuk teks akademis, pembaca dapat mengaplikasikan beberapa metode mulai dari memba- ca aktif, membaca cepat, hingga membaca kritis. Metode dan strategi- strategi lain dapat dicari dan dipahami lebih lanjut dari sumber-sum- ber yang tersedia.
Melihat kaMus dan reFerensi
Mungkin melihat kamus adalah yang sepele dan sering dipandang se- belah mata. Namun, harus diakui, semenjak era informasi digital di mana setiap orang mudah sekali terpapar akan informasi, pemaham- an kata maupun istilah bahasa tidak seragam pada setiap orang. Selain itu, jika tulisan tersebut mencantumkan sebuah kutipan dari referensi, baik jika melihat referensi yang dikutip untuk mengetahui tujuan awal dari kutipan tersebut, sehingga kita dapat memastikan bahwa kutipan tersebut tidak disalahartikan oleh penulis.
MeresePsi dengan catatan
Resepsi mungkin lebih cocok untuk karya sastra. Namun dalam kon- teks membaca kritis, meresepsi tulisan dapat diartikan sebagai me- nanggapi tulisan tersebut. Sebagai pembaca, kita dapat menelaah per- nyataan-pernyataan yang dituliskan di dalam tulisan tersebut, terkait tujuan dan fungsinya dalam penyampaian informasi tersebut.
Secara garis besar, langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menjadi pembaca kritis adalah:
Ī Membiasakan diri untuk bertanya. Tidak malu dan membiasakan diri untuk menggali lebih jauh; Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan oleh pembaca kritis:
Ă Apakah sumber (website, koran, buku) dan tujuannya jelas?
Ă Apakah identitas dan status penulisnya jelas?
Ă Apa yang melatarbelakangi pembuatan teks? Apa konteks- nya?
Ă Apakah ada bukti teksnya bias?
Ă Apakah jelas pemisahan antara informasi dan iklan?
Ī Memverifikasi dengan sumber lain atau membandingkan dengan perspektif yang berlawanan. Berpikiran terbuka, jangan langsung terkotakkan dengan pandangan awal saja;
Ī Mengondisikan diri untuk fokus dan meminimalisasi distraksi;
Ī Dan yang terpenting, bersikap objektif dan mengesampingkan prasangka.
contoh soal dan leMbar kerja
Contoh Soal 1: PeSan Whatsapp
(gambar contoh Soal 1)
Pertanyaan:
1. Apa reaksi pertama teman-teman jika menerima pesan Whatsapp di atas?
2. Sebutkan hal-hal yang menarik perhatian teman-teman dari pesan Whatsapp di atas!
3. Jika teman-teman menerima pesan Whatsapp di atas, apa respons yang akan teman-teman berikan kepada pengirim pesan?
contoh soal 2: lagu “Mendung tanPo udan” karya ndarboy genk
Awakdewe tau duwe bayangan Besok yen wes wayah omah-omahan Aku moco koran sarungan
Kowe blonjo dasteran
Terjemahan:
Kita pernah punya bayangan
Nanti kalau kita sudah berumah tangga, Aku membaca koran sambil memakai sarung, [dan] Kamu belanja memakai daster.
Di atas merupakan lirik lagu yang dipopulerkan oleh Ndarboy Genk dan sedang hits akhir-akhir ini.
Pertanyaan:
1. Apa yang teman-teman rasakan atau pikirkan ketika mendengar lagu ini?
2. Apakah ada masalah atau isu sosial yang teman-teman tangkap dari lirik lagu tersebut? Isu apa dan bagaimana tanggapan
3. Mengapa isu sosial tersebut penting untuk dikritisi?
4. Bagaimana sikap atau pandangan teman-teman terhadap isu sosial tersebut?
contoh soal 3: Potongan artikel berita
Ingin Cari Kerja di Makassar, Gadis Muda Diperkosa Sejumlah Pema- buk
Impian Mawar (bukan nama sebenarnya) mencari kehidupan yang le- bih baik di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kandas. Bukan peker- jaan yang didapat, gadis 16 tahun itu malah menjadi korban perkosaan sejumlah pemabuk.
Nasib nahas Mawar saat itu hendak pulang bersama teman prianya dari Pantai Losari, Senin 18 Agustus, sekitar pukul 23.00 WIB. Ketika sampai di Jl Rajawali, keduanya dicegat belasan pemuda yang sedang mabuk minuman keras.
Para berandalan tersebut mendekati Mawar dan teman prianya dengan wajah garang. Karena ketakutan, Mawar dan teman prianya langsung melarikan diri. Namun sial bagi Mawar, kaki kecilnya tak mampu membawa lari tubuhnya dengan cepat. Para pemuda mabuk itu berha- sil menangkap dirinya.
Sumber: https://news.detik.com/berita/d-990944/ingin-cari-kerja-di- makassar-gadis-muda-diperkosa-sejumlah-pemabuk
Pertanyaan:
1. Bagaimana pendapat dan perasaan teman-teman saat membaca berita tersebut?
2. Apakah ada hal-hal yang membuat teman-teman merasa tidak nyaman terkait dengan cara penulis menyampaikan berita tentang korban? Berikan argumentasi teman-teman!
3. Menurut teman-teman, mengapa penulis menggunakan nama
“Mawar” sebagai nama samaran korban? Apa alasannya?
Contoh Soal 4: KutiPan novel Na Willa Karya reda Gaudiamo
(gambar contoh soal 4)
Dia melihat aku lalu sambil menunjuk mukaku dia bilang,
“Kamu bukan Cino! Kamu ireng. Matamu tidak sipit, tidak begini...” lalu dia menarik lagi ujung matanya.
Dan dia tertawa lagi. Aku tertawa juga.
“Tapi, bapakku Cino!” kataku lagi.
“Mak-mu bukan Cino,” kata Ida.
“Jadi kamu bukan Cino.”
Melly kami temukan di pelukan Gorila.
Kami lalu lari ke halaman. Main masak-masakan.
Selametan ganti nama.
Hari itu Melly jadi Atik.
Karena aku bukan Cino, jadi anakku juga bukan.
Pertanyaan:
1. Apa tanggapan teman-teman terkait dengan potongan percakapan dalam cerita di atas?
2. Menurut teman-teman bagaimana perasaan Na Willa pada cerita di atas? Berikan argumentasi teman-teman!
3. Menurut kalian apa makna bubur merah putih dan perubahan nama yang berlangsung di dalam cerita? Berikan argumentasi teman-teman!
4. Apakah teman-teman pernah berada dalam situasi atau memiliki pengalaman serupa dengan Na Willa? Ceritakan pengalaman dan perasaan teman-teman!
rekoMendasi buku bacaan berdasarkan teMa
teMa keluarga dan PerteManan
Ī Na Willa karya Reda Gaudiamo
Ī Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto Ī Canting karya Arswendo Atmowiloto
Ī Little Women karya Louisa May Alcott Ī My Sister’s Keeper karya Jodi Picoult
teMa Perjalanan
Ī Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan karya Agustinus Wibowo Ī Negeri Van Oranje karya Wahyuningrat, dkk.
Ī Gentayangan karya Intan Paramaditha Ī Akar karya Dee Lestari
Ī Hippie karya Paulo Coelho
teMa adat dan budaya
Ī Siti Nurbaya karya Marah Rusli
Ī Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari
Ī Pasung Jiwa karya Okky Madasari Ī Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert
teMa Pendidikan
Ī Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata Ī Guru Aini karya Andrea Hirata
Ī Habis Gelap Terbitlah Terang karya R.A. Kartini Ī Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi
Ī Totto-chan Gadis Cilik di Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi
kesiMPulan
Setelah menguraikan seluruh elemen-elemen dalam modul membaca kritis ini, maka pada bagian akhir, kita perlu sekilas melihat dan me- refleksi momen-momen awal yang menjadi titik berangkat terwujud- nya modul ini. Urgensi membuat modul membaca kritis berawal dari kegelisahan para pembaca dan orang-orang yang tergabung dalam Yayasan Rumah Cerita Indonesia. Kegelisahan itu muncul dari penga- laman sehari-hari mereka dan masalah-masalah yang muncul di seki- tarnya. Setelah melewati momen tersebut, kesadaran untuk selalu bisa membaca kritis pun muncul, disusul kemudian niat untuk bisa menye- barkannya ke masyarakat yang lebih luas. Ternyata niat yang sangat spesifik itu kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga komunitas-komunitas lain. Dengan dukungan yang besar itu, modul ini pun tersusun.
Yang membuat penyusunan modul membaca kritis ini menjadi signifi- kan, selain merupakan perwujudan tanggung jawab dan panggilan nu- rani orang-orang yang ada di dalam yayasan, adalah kenyataan bahwa masyarakat sangat membutuhkannya. Membaca kritis diperlukan un- tuk mengurangi efek-efek nyata atas misinformasi dan malinformasi yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia. Jadi, membaca kritis menjawab kebutuhan mendesak masyarakat yang paling kon- kret. Dari level individu sampai level yang lebih besar seperti bangsa dan negara, sangat membutuhkan kemampuan ini untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka.
Secara bersamaan, kemampuan membaca kritis juga bisa meningkat- kan peradaban masyarakat Indonesia melalui tingkat literasi yang juga meninggi. Literasi yang tinggi ini secara tidak langsung menjadi titik