PEMBAHASAN
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling
Secara etimologi kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata “guidance”
berasal dari kata kerja “to guide” yang berarti menunjukkan, membimbing, menuntun, atau membantu. Bimbingan adalah suatu istilah yang sudah umum digunakan dalam dunia pendidikan. Sesuai dengan istilahnya, bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntutan.
Philip L. Tarriman dalam bukunya Handbook of Psychological Terms (1977), menyatakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang bermanfaat dan sistematis dalam penemuan diri yang diberikan dalam hal pendidikan atau pekerjaan oleh seorang ahli secara profesional. Kemudian Miller (1955) juga menyatakan bimbingan sebagai bagian dari seluruh proses pendidikan yang terkait dengan bantuan individual untuk membuat rencana dan keputusan demi perkembangan yang sesuai dengan pola kehidupan individu itu.
Lalu Smith (dalam McDaniel, 1959) menyatakan bimbingan sebagai proses yang diberikan kepada individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan, rencana, dan interpretasi yang diperlukan untuk penyesuaian diri yang baik. Kemudian dalam buku Materi Dasar Pendidikan Program Akta mengajar V, Buku III E, Bimbingan dan Konseling yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1981), menyatakan bahwa bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus-menerus dan sistematis dari pembimbing kepada terbimbing agar tercapai pemahaman diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli, maka pengertian
bimbingan pada intinya adalah proses membantu individu yang bertujuan agar dapat
mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya serta
agar dapat mencapai kemandirian yang menggunakan teknik bimbingan tertentu dari seorang ahli.
Sedangkan istilah konseling berasal dari bahasa inggris “to counsel” yang secara etimologis berarti “to give advise” atau memberi saran dan nasehat. Dalam Dictionary of Psychology, J.P. Chaplin (1985) menyatakan bahwa konseling adalah suatu nama dalam arti luas untuk aneka ragam prosedur bantuan kepada individu-individu mencapai penyesuaiaan seperti pemberian nasihat, diskusi yang bersifat terapi, kegiatan administrasi dan interpretasi berbagai tes, serta bantuan vokasional. Winkel (2005) mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.
Rogers (1942) mendefinisikan konseling yaitu serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu untuk merubah sikap dan tingkah lakunya.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli maka konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan, dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara konselor dengan klien dengan tujuan agar klien mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
B. Tujuan Bimbingan Konseling
Secara umum tujuan bimbingan dan konseling dalam keseluruhan program
pendidikan di sekolah adalah untuk membantu para siswa agar mencapai tahap
perkembangan yang optimal, baik secara akademik yaitu agar setiap siswa memperoleh
kesesuaian antara kemampuan dengan program studi yang dipilihnya sehingga
mencapai prestasi belajar yang optimal. Kemudian secara psikologis diharapkan
pelayanan ini bertujuan agar setiap siswa mencapai tahap perkembangan yang ditandai
dengan kematangan dan kemandirian. Lalu yang terakhir secara sosial pelayanan ini
juga diharapkan agar setiap siswa dapat mencapai penyesuaian diri dan memiliki
keterampilan sosial secara memadai sehingga tercapai kesejahteraan pribadi. Secara
operasional tujuan bimbingan dan konseling disekolah ada 3, yaitu:
1. Membantu perkembangan siswa 2. Mencegah munculnya masalah siswa
3. Membantu mangatasi masalah siswa atau memperbaiki seseorang dari gangguan psikologis
Tujuan layanan pertama dan kedua bersifat preventif dan itu merupakan tujuan utama layanan bimbingan yaitu untuk kelangsungan perkembangan individu dan untuk mencegah masalah yang mengganggu. Sedangkan tujuan layanan yang ketiga bersifat korektif dan tujuan utama konseling ditekankan pada tujuan ketiga ini yaitu bermaksud memperbaiki kebiasaan-kebiasaan yang salah atau mengoreksi perilaku yang buruk.
Berdasarkan sumber lain tujuan bimbingan konseling dalam rangka agar siswa dapat menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan (Prayitno,1997 : 23).
11. Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, dimaksudkan agar peserta didik mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut.
2. Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan, dimaksudkan agar peserta mengenal lingkungannya secara objektif, baik lingkungan sosial dan ekonomi, lingkungan budaya yang sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma, maupun lingkungan fisik dan menerima lingkungan kondisi itu secara positif dan dinamis pula. Dengan kata lain individu yang sehat selalu berusaha bersikap positif terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Perpaduan yang tepat dan serasi antara unsur-unsur lingkungan akan dapat membawa keuntungan pribadi dan unsur-unsur lingkungan timbal balik antara individu dengan lingkungannya.
(Moh. Surya, 1998 : 44).
3. Bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan, dimaksudkan agar peserta didik mampu mempertimbangkan dan mengambil keputuasan tentang masa
1