11 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Pada penelitian ini penulis menggunakan beberapa jurnal penelitian terdahulu sebagai salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian.
Berikut merupakan beberapa penelitian terdahulu berupa jurnal yang terkait dengan penelitian ini:
Penelitian Grima dkk. (2020) dengan judul “The Impact of A Stock Split and the Economic Value Added on Stock Return”. Dari penelitian tersebut menghasilkan bahwa EVA berpengaruh signifikan sebesar 9,6% dan sisanya sebanyak 90,4% dipengaruhi oleh variable lain seperti EPS, PER, MVA, ROE, ROA atau DER.
Penelitian Nugroho (2018) dengan judul “The Effect of Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA), Refined Economic Value Added (REVA) on Stock Prices and Returns Stock at Manufacturing Industries Who Listed on Indonesia Stock Exchange (BEI)”. Dari penelitian tersebut menghasilkan bahwa EVA berpengaruh terhadap return saham sebesar 0,852.
Penelitian Badaruddin dkk. (2017) dnegan judul “Analisis Economic Value Added (Eva) Dan Market Value Added (Mva) Terhadap Return Saham”
dari penelitian tersebut menghasilkan bahwa EVA berpengaruh negative dan signifikan.
Penelitian Firdausia (2019) dengan judul “Analisis Economic Value
Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) Terhadap Return Saham Pada
Perusahaan Pertambangan Yang Terdatar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2014-2018”. Dari penelitian tersebut menghasilkan bahwa MVA berpengaruh positif terhadap return saham. Dari hasil perhitungan uji secara parsial di peroleh nilai t hitung regresi sebesar 3,545 dengan nilai signifikansinya 0,000.
Karena nilai signifikansinya lebih kecil dari 5% maka hipotesis di diterima berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara MVA dengan return saham pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI periode 2014-2018.
Penelitian Putri dkk. (2017) dengan judul “Pengaruh Net Working Capital (NWC), Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Cash Flow Liquidity Ratio (CELR) dan Market Value Added (MVA) Terhadap Return Saham (Studi Pada Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang Go Public di BEI periode 2013-2015). Dari peneitian terebut menghasilkan bahwa Hasil secara simultan NWC, CR, QR, CFLR dan MVA berpengaruh signifikan terhadap Return Saham pada perusahaan sektor industri barang konsumsi periode 2013- 2015 sebesar 0,027.
Penelitian Natalia et. al. (2020) dengan judul “Pengaruh MVA, DER, Serta EPS Terhadap Harga Saham Perusahaan Restoran, Hotel dan Pariwisata”
dari penelitian tersebut menghasilkan bahwa MVA berpengaruh positif terhadap return saham.
Penelitian Pandaya dkk. (2020) dengan judul “Pengaruh Fundamental
Terhadap Return Saham” menghasilkan bahwa PBV berpengaruh positif
terhadap Return Saham. Semakin tinggi PBV semakin besar kepercayaan pasar
terhadap perusahaan, sehingga permintaan saham perusahaan akan meningkat
dan akan mendorong harga saham, return saham yang diperoleh pun meningkat.
Penelitian Daniswara (2019) dengan judul “Earning Per Share (Eps), Price Book Value (PBV), Return On Asset (Roa), Return On Equity (Roe), And Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Effect On Stock Return” menghasilkan bahwa PBV berpengaruh positif terhadap return saham.
Penelitian Antara dan Suryantini (2019) dengan judul “Pengaruh Rasio Pasar Terhadap Retur Saham Pada Saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia”.
Dari hasil penelitian ini menghasilkan bahwa PBV berpengaruh positif terhadap return saham.
2.2 Tinjuan Teori
1. Teori Sinyal (Signaling Theory)
Teori sinyal (signalling theory) berawal dari tulisan George Akerlof pada karyanya ditahun 1970 “The Market for Lemons”, yang memperkenalkan istilah informasi asimetris (assymetri information).
Akerlof (1970) mempelajari fenomena ketidakseimbangan informasi
mengenai kualitas produk antara pembeli dan penjual, dengan melakukan
pengujian terhadap pasar mobil bekas (used car). Dari penelitiannya
tersebut, Akerlof (1970) menemukan bahwa ketika pembeli tidak memiliki
informasi terkait spesifikasi produk dan hanya memiliki persepsi umum
mengenai produk tersebut, maka pembeli akan menilai semua produk pada
harga yang sama, baik produk yang berkualitas tinggi maupun yang
berkualitas rendah, sehingga merugikan penjual produk berkualitas tinggi.
Kondisi dimana salah satu pihak (penjual) yang melangsungkan transaksi usaha memiliki informasi lebih atas pihak lain (pembeli) ini disebut adverse selection (Scott, 2009).
Menurut Akerlof (1970), adverse selection dapat dikurangi apabila penjual mengkomunikasikan produk mereka dengan memberikan sinyal berupa informasi tentang kualitas produk yang mereka miliki. Pemikiran Akerlof (1970) tersebut dikembangkan oleh Spence (1973) dalam model keseimbangan sinyal (basic equilibrium signaling model). Spence (1973) memberikan ilustrasi pada pasar tenaga kerja (job market) dan mengemukakan bahwa perusahaan yang memiliki kinerja yang baik (superior performance) menggunakan informasi finansial untuk mengirimkan sinyal ke pasar. Dari penelitiannya tersebut, Spence (1973) juga menemukan bahwa cost of signal pada bad news lebih tinggi dari pada good news dan perusahaan yang memiliki bad news mengirimkan sinyal yang tidak kredibel. Hal tersebut memotivasi manajer untuk mengungkapkan informasi private untuk mengurangi asimetri informasi dengan harapan dapat mengirimkan sinyal yang baik (good news) tentang kinerja perusahaan ke pasar.
Jika pengumuman informasi tersebut dianggap sebagai signal baik,
maka investor akan tertarik untuk melakukan perdagangan saham, dengan
demikian pasar akan bereaksi yang tercermin melalui perubahan dalam
volume perdagangan saham (Novalia and Nindito, 2016). Salah satu jenis
informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat menjadi signal
bagi pihak di luar perusahaan adalah laporan keuangan. Informasi yang diungkapkan dalam laporan keuangan dapat berupa informasi akuntansi yaitu informasi yang berkaitan dengan laporan keuangan maupun informasi yang tidak berkaitan dengan laporan keuangan. Signalling theory menjelaskan bahwa perusahaan mempunyai dorongan untuk memberikan informasi laporan keuangan kepada pihak eksternal perusahaan (Novalia and Nindito, 2016).
Dorongan perusahaan untuk memberikan informasi adalah karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dengan pihak eksternal.
Pihak eksternal kemudian menilai perusahaan sebagai fungsi dari mekanisme signalling yang berbeda-beda. Kurangnya informasi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan memberikan harga yang rendah untuk perusahaan, dan kemungkinan lain pihak eksternal yang tidak memiliki informasi akan berpersepsi sama tentang nilai semua perusahaan. Pandangan seperti ini akan merugikan perusahaan yang memiliki kondisi yang lebih baik karena pihak eksternal akan menilai perusahaan lebih rendah dari yang seharusnya dan demikian juga sebaliknya (Taufiq, 2016).
Sinyal ini berupa informasi mengenai upaya yang sudah dilakukan
oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat
berupa promosi atau informasi lain yang dapat menyatakan bahwa
perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Manajemen
selalu berusaha untuk mengungkapkan informasi private yang menurut
pertimbangannya sangat diminati investor dan pemegang saham khususnya jika informasi tersebut merupakan berita baik (good news).
Manajemen juga berminat menyampaikan informasi yang dapat meningkatkan kredibilitasnya dan kesuksesan perusahaan meskipun informasi tersebut tidak diwajibkan. Pengungkapan yang bersifat sukarela merupakan signal positif bagi perusahaan (Vernando and Halmawati, 2016).
2. Economic Value Added (EVA)
Menurut Kamaludin (2011:60) mengatakan bahwa Economic Value
Added (EVA) adalah mengukur kinerja keuangan manajerial dalam suatu
tahun tertentu. Economic Value Added (EVA) tidak lain adalah laba operasi
setalah pajak dikurangi biaya modal setelah pajak. Menurut Singgih
(2008:6) menyatakan bahwa jika EVA > 0, maka berarti ada nilai tambah
ekonomi terhadap perusahaan selama masa operasionalnya. Jika EVA = 0,
maka berarti perusahaan berada pada kondisi impas selama
operasionalnya. Jika EVA < 0, maka berarti kinerja operasional perusahaan
gagal memenuhi harapan para investor. EVA yang negatif berarti
menandakan nilai perusahaan berkurang, ini disebabkan oleh laba operasi
setelah pajak lebih rendah daripada tingkat pengembalian yang dituntut,
sebaliknya apabila diperoleh EVA yang positif berarti manandakan bahwa
tingkat pengembalian yang diminta investor atau investasi yang
dilakukannya. Dengan adanya keadaan ini mencerminkan bahwa
perusahaan tersebut berhasil menciptakan nilai (create value) bagi pemilik modal.
Hal ini memperlihatkan bahwa penting bagi perusahaan untuk menghasilkan EVA yang positif karena dapat mempengaruhi harga saham.
Ketika harga saham naik, maka return yang dhasilkan juga akan besar. Hal ini mengindikasikan bahwa kebijaksanaan mengimplementasikan EVA mendorong kenaikan harga saham suatu perusahaan. Semakin tinggi EVA semakin tinggi harga saham perusahaan tersebut, dengan kata lain semakin sejahtera para pemegang harga saham. EVA yang memiliki positif menunjukkan bahwa perusahaan yang bersangkutan dikelola dengan efisien dan efektif.
a. Keunggulan Economic Value Added (EVA)
Keunggulan Economic Value Added (EVA) menurut Mulia (2002) yaitu:
(1) Memfokuskan pada nilai tambah dengan memperhitungkan beban sebagai konsekuensi investasi.
(2) Memperhatikan harapan para penyandang dana secara adil yang dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar bukan pada nilai buku.
(3) Perhitungan Economic Value Added (EVA) digunakan secara
mandiri tanpa memerlukan data pembanding, seperti standar
industri atau data perusahaan lain sebagai konsep penilaian.
(4) Digunakan sebagai dasar penilaian pemberian bonus kepada karyawan terutama divisi yang memberikan nilai tambah lebih.
(5) Pengaplikasian yang mudah menunjukkan bahwa konsep tersebut merupakan ukuran praktis, mudah dihitung, dan mudah digunakan sehingga merupaka salah satu pertimbangan dalam mempercepat pengambilan keputusan bisnis.
b. Kelemahan Economic Value Added (EVA)
Kelemahan Economic Value Added (EVA) menurut Wibowo (2005), yaitu:
(1) Sebagai ukuran kinerja masa lampau tidak mampu memprediksi dampak strategi yang kini diterapkan untuk masa depan perusahaan.
(2) Sifat pengukurannya jangka pendek sehingga manajemen cenderung tidak ingin berinvestasi jangka panjang, karena dapat mengakibatkan penurunan nilai Economic Value Added (EVA) pada periode yang bersangkutan serta mengakibatkan turunnya daya saing perusahaan di masa depan.
(3) Mengabaikan kinerja non-keuangan yang sebenarnya dapat meningkatkan kinerja keuangan.
(4) Penggunaan Economic Value Added (EVA) untuk mengevaluasi
kinerja keuangan mungkin tidak tepat untuk beberapa perusahaan
tertentu, misalkan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang
tinggi seperti pada sektor teknologi.
(5) Tidak dapat diterapkan pada masa inflasi.
(6) Sulit menentukan besarnya biaya modal secara obyektif.
(7) Tergantung pada transparansi internal dalam perhitungan Economic Value Added (EVA) secara akurat.
c. Parameter Economic Value Added (EVA)
Parameter yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya proses penciptaan nilai suatu perusahaan, yaitu:
(1) Jika Economic Value Added (EVA) > 0, yaitu nilai Economic Value Added (EVA) positif, yang menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan.
(2) Jika Economic Value Added (EVA) = 0, yaitu nilai Economic Value Added (EVA) menunjukkan posisi impas atau Break Event Point, berarti tidak ada nilai tambah ekonomis, tetapi perusahaan mampu membayarkan semua kewajibannya kepada para penyandang dana atau kreditur.
(3) Jika Economic Value Added (EVA) < 0, yaitu niali Economic Value Added (EVA) negatif, yang menunjukkan tidak terjadi proses nilai tambah pada perusahaan.
d. Penghitungan EVA
1. Menghitung Economic Value Added (EVA)
Menurut (Sartono, 2010), Rumus EVA adalah :
EVA = NOPAT – (WACC x Invested Capital)
2. Menghitung Net Operating Proft After Tax (NOPAT)
Menurut (Brigham dan Houston, 2010), Rumus NOPAT adalah sebagai berikut:
NOPAT = EBIT – (1-Tax) 3. Biaya Modal (Captal Charges)
Menurut (Margaretha, 2011) Rumus yang digunakan sebagai berikut:
WACC dihitung dengan rumu (Margaretha, 2012):
𝑾𝑾𝑾𝑾𝑾𝑾𝑾𝑾 = 𝑾𝑾
𝒅𝒅𝒙𝒙 𝑲𝑲
𝒅𝒅+ 𝑾𝑾
𝒆𝒆𝒙𝒙 𝑾𝑾
𝒌𝒌𝑾𝑾
𝒅𝒅= 𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻 𝑯𝑯𝑯𝑯𝑻𝑻𝑻𝑻𝑯𝑯𝑯𝑯
𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻 𝑯𝑯𝑯𝑯𝑻𝑻𝑻𝑻𝑯𝑯𝑯𝑯 + 𝑬𝑬𝒌𝒌𝑯𝑯𝑬𝑬𝑻𝑻𝑻𝑻𝑬𝑬 𝑾𝑾
𝒌𝒌= 𝑬𝑬𝒌𝒌𝑯𝑯𝑬𝑬𝑻𝑻𝑻𝑻𝑬𝑬
𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻 𝑯𝑯𝑯𝑯𝑻𝑻𝑻𝑻𝑯𝑯𝑯𝑯 + 𝑬𝑬𝒌𝒌𝑯𝑯𝑬𝑬𝑻𝑻𝑻𝑻𝑬𝑬 Dimana :
WACC : Weighted Average Cost of Capital W
d: Jumlah Hutang terhadap Struktur Modal W
k: Jumlah Modal terhadap struktur Modal K
d: cost of debt
K
e: cost of equity 1) Biaya Utang (Cost of Debt)
Untuk menghitung biaya utang suatu perusahaan adalah sebagai berikut (Margaretha, 2011):
K
d= k
dbt(1-T) K
dbt=
𝒃𝒃𝒆𝒆𝒃𝒃𝑻𝑻𝑯𝑯 𝒃𝒃𝑯𝑯𝑯𝑯𝑯𝑯𝑻𝑻𝒉𝒉𝑯𝑯𝑻𝑻𝑻𝑻𝑯𝑯𝑯𝑯 𝒋𝒋𝑻𝑻𝑯𝑯𝑯𝑯𝒌𝒌𝑻𝑻 𝒑𝒑𝑻𝑻𝑯𝑯𝒋𝒋𝑻𝑻𝑯𝑯𝑯𝑯
T =
𝒃𝒃𝒆𝒆𝒃𝒃𝑻𝑻𝑯𝑯 𝒑𝒑𝑻𝑻𝒋𝒋𝑻𝑻𝒌𝒌𝑻𝑻𝑻𝑻𝒃𝒃𝑻𝑻 𝒃𝒃𝒆𝒆𝒃𝒃𝑬𝑬𝑬𝑬𝒉𝒉 𝑬𝑬𝒆𝒆𝒃𝒃𝒆𝒆𝑻𝑻𝑯𝑯𝒔𝒔 𝒑𝒑𝑻𝑻𝒋𝒋𝑻𝑻𝒌𝒌
𝒙𝒙 𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏𝟏%
Keterangan:
K
d= biaya utang setelah pajak
K
dbt= tingkat bunga biaya utang sebeum pajak T = Tingkat pajak
2) Biaya Ekuitas (Cost of Equity)
Menurut Prawiranegoro (2008), cost of equity dapat dicari dengan menggunakan ROE (Return On Equity). ROE dapat dicari dengan menggunakan rumus:
K
e(ROE) =
𝑳𝑳𝑻𝑻𝒃𝒃𝑻𝑻 𝑩𝑩𝒆𝒆𝒃𝒃𝑬𝑬𝑬𝑬𝒉𝒉 𝑺𝑺𝒆𝒆𝑻𝑻𝒆𝒆𝑻𝑻𝑻𝑻𝒉𝒉 𝑷𝑷𝑻𝑻𝒋𝒋𝑻𝑻𝒌𝒌 𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻𝑻 𝑬𝑬𝒌𝒌𝑯𝑯𝑬𝑬𝑻𝑻𝑻𝑻𝑬𝑬4. Modal yang diinvestasikan (Invested Capital)
Menurut (Young dan O’Byrne, 2008), rumusnya sebagai berikut:
Invested Capital = Utang jangka Panjang + Ekuitas pemegang saham
3. Market Value Added (MVA)
Menurut Steward dalam Rahayu (2007: 32), Market Value Added
(MVA) suatu pengukur kinerja yang tepat untuk menilai sukses tidaknya
perusahaan dalam menciptakan kekayaan bagi pemiliknya. Jadi, kekayaan
atau kesejahteraan pemilik perusahaan (pemegang saham) akan bertambah
bila Market Value Added (MVA) bertambah. Peningkatan Market Value
Added (MVA) dapat dilakukan dengan cara meningkatkan Economic Value
Added (EVA) yang merupakan pengukuran internal kinerja operasional
tahunan, dengan demikian Economic Value Added (EVA) mempunyai hubungan yang kuat dengan Market Value Added (MVA).
a. Indikator Market Value Added (MVA)
Indikator yang digunakan untuk mengukur Market Value Added (MVA) menururt Young dan O’Byrne (2001: 27), yaitu:
(1) Jika Market Value Added (MVA) > 0, bernilai positif, perusahaan berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana.
(2) Jika Market Value Added (MVA) < 0, bernilai negatif, perusahaan tidak berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana.
b. Perhitungan Market Value Added (MVA)
Berikut ini adalah rumus MVA menurut Husnan (2012)
MVA= Nilai pasar saham – Ekuitas yang diberikan oleh pemegang saham
= (saham beredar) x (harga saham) – total ekuitas saham biasa 4. (Price to Book Value) PBV
PBV adalah perhitungan atau perbandingan antara market value
dengan book value suatu saham. Dengan rasio PBV ini, investor dapat
mengetahui langsung sudah berapa kali market value suatu saham dihargai
dari book valuenya. Rasio ini dapat memberikan gambaran potensi
pergerakan harga suatu saham sehingga dari gambaran tersebut, secara
tidak langsung rasio PBV ini juga memberikan pengaruh terhadap harga
saham (Tryfino, 2009: 11). Rasio ini berfungsi untuk melengkapi analisis book value. Jika pada analisis book value, investor hanya mengetahui kapasitas per lembar dari nilai saham, pada rasio PBV investor dapat mengetahui langsung sudah berapa kali market value suatu saham dihargai dari book value-nya. Untuk membandingkannya, kedua perusahaan harus dari satu kelompok usaha yang memiliki sifat bisnis yang sama. Sawir (2000:22) berpendapat bahwa Rasio PBV menggambarkan nilai pasar keuangan terhadap manajemen dan organisasi dari perusahaan yang sedang berjalan (going concern). PBV adalah rasio pasar yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya (Azis dkk, 2015). PBV dihitung dengan :
𝑷𝑷𝑩𝑩𝑷𝑷 = 𝑯𝑯𝑻𝑻𝒃𝒃𝑯𝑯𝑻𝑻 𝑺𝑺𝑻𝑻𝒉𝒉𝑻𝑻𝒔𝒔 𝑵𝑵𝑬𝑬𝑻𝑻𝑻𝑻𝑬𝑬 𝑩𝑩𝑯𝑯𝒌𝒌𝑯𝑯
Keterangan
Harga saham : Harga akhir di bursa
Nilai Buku :
𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐽𝐽𝐸𝐸𝐽𝐽𝐽𝐽𝐸𝐸ℎ 𝑆𝑆𝐸𝐸ℎ𝐸𝐸𝐽𝐽 𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐸𝐸𝐵𝐵