1 ABSTRAK ANNISAH IRMAYANTI
HUBUNGAN PARITAS DAN PERSEPSI IBU TENTANG DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI IUD DI PUSKESMAS JAMANIS KABUPATEN TASIKMALAYA.
MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) mempunyai banyak kelebihan diantaranya tidak mempengaruhi hubungan seksual, efektif pemasangannya yaitu segera setelah pemasangan, meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil dan dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi dan masih kurang diminati oleh akseptor KB serta target pemerintah yang kurang tercapai sehingga pemerintah selalu mencanangkan dan mempromosikan tentang IUD. Tujuan penelitian yaitu Untuk mengetahui hubungan paritas dan persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya. metode yang digunakan adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini adalah PUS yang menjadi akseptor KB Jamanis yaitu sebanyak yaitu 5776 akseptor dengan teknik accidental sampling jumlah sampel sebanyak 93 responden. Analisis univariat diperoleh bahwa paritas ibu sebagian besar adalah multipara sebanyak 68 orang (73.12%) dan Persepsi ibu tentang dukungan suami sebagian besar adalah baik sebanyak 55 orang (59.14%) serta pemilihan alat kontrasepsi sebagian besar menggunakan alat kontrasepsi non IUD yaitu sebanyak 63 orang (67.74%). hasil analisa bivariat diperoleh bahwa ada hubungan antara paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dengan p value 0.034 dan ada hubungan antara persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dengan p value 0.034.
Kata kunci : Paritas, Persepsi, pemilihan alat kontrasepsi IUD Pustaka : 23 (2004 – 2008)
2 ABSTRAK ANNISAH IRMAYANTI
RELATIONSHIP OF PARITY AND MATERNAL PERCEPTIONS ABOUT SUPPORT THE HUSBAND WITH THE IUD BIRTH CONTROL CLINICS IN TASIKMALAYA REGENCY JAMANIS
MKJP (Long-term Contraceptive Methods) have many advantages including a sexual relationship does not affect the installation, effective immediately after installation, enhances sexual comfort because it does not need to be afraid to get pregnant and can be worn by all women in the reproductive age and still less demand by the acceptors KB and less government target is reached so that the Government has always backed and promoted about the IUD. The purpose of the research is to know the relation of parity and maternal perceptions about support the husband with the IUD birth control in Clinics Jamanis Tasikmalaya Regency.
the method used is a quantitative analytical approach cross sectional. The population in this research is a PUSSY become acceptors KB Jamanis IE as much as IE 5776 acceptors with accidental sampling total sample technique as much as 93 respondents. Univariate analysis were obtained that the parity of the mother most is as many as 68 people multipara (73.12%) and mother's Perception of her husband most of the support is good as many as 55 people (59.14%) and as well as the election of majority use contraception contraceptives IUD i.e. non 63 persons (67.74%) were. analysis of the results obtained that there bivariat relationship between electoral parity with contraceptives IUD contraceptive device selection in Tasikmalaya Regency Jamanis Clinics with p value 0.034 and there is a relationship between the mother's perception of her husband with the election support contraceptives IUD in Tasikmalaya Regency Jamanis Clinics with p value 0.034
Keyword : Parity, perception, choice of birth control IUD Reference : 29 (2002 – 2013)
3 1. PENDAHULUAN
Pembangunan dibidang kesehatan telah berhasil mengurangi angka laju pertumbuhan penduduk di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan cara penurunan angka kelahiran dengan jalan program KB (keluarga berencana). Cara pemerintah dalam menjalankan program KB ini adalah menggunakan alat kontrasepsi, seperti, pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), Implant/Susuk, Kondom, dan lain-lain (Ichwan, 2007).
Tingginya angka kelahiran di Indonesia menggelisahkan banyak pihak. Sejak 2004, program Keluarga Berencana (KB) dinilai berjalan lamban, hingga angka kelahiran mencapai 4,5 juta per tahun. Ledakan penduduk disadari akan berpengaruh pada ketersediaan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Untuk menghindari dampak tersebut, pemerintah berusaha keras menekan angka kelahiran hingga dibawah 4,5 juta jiwa per tahun.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang bertanggung jawab dibidang ini berusaha meningkatkan kinerja dengan meluncurkan program pemberian insentif bagi tenaga medis (BKKBN, 2011).
Keluarga Berencana (KB) adalah suatu tindakan untuk menghindari atau mendapatkan kelahiran, mengatur interval kehamilan, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. KB merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah angka kematian ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi, dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesakitan. Program KB nasional mempunyai arti penting dalam pelaksanaan pembangunan dibidang kependudukan dan keluarga kecil berkualitas yang dilaksanakan secara berkesinambungan (BKKBN, 2005).
IUD merupakan salah satu MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) yang mempunyai banyak kelebihan diantaranya tidak mempengaruhi hubungan seksual, efektif pemasangannya yaitu segera setelah pemasangan, meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil dan dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi. dan masih kurang diminati oleh akseptor KB serta target pemerintah yang kurang tercapai sehingga pemerintah selalu mencanangkan dan mempromosikan tentang IUD.
Menurut data dari WHO (World Health Organization), lebih dari 100 juta wanita di dunia memakai metode kontrasepsi yang memiliki efektivitas, lebih dari 75% yang memakai alat kontrasepsi hormonal dan 25% memakai kontrasepsi non hormonal dalam mencegah kehamilan (WHO 2012).
Prevalensi KB menurut alat atau cara KB berdasarkan hasil mini survey peserta aktif tahun 2010 menunjukkan bahwa prevalensi KB di Indonesia adalah 66,2%. Alat atau cara KB yang dominan dipakai adalah suntikan (34%), pil (17%), IUD (Intra uteri Device) 9%, implant (4%), MOW (Metode Operasi Wanita) (2,6%), MOP (Metode Operasi Pria) (0,3%), kondom (0,6% ) dan data di Jawa Barat akseptor IUD sebanyak 11.12% (Budiadi, 2013).
Jumlah penduduk Kabupaten Tasikmalaya berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2010 berjumlah 1.675.554 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk 0,88% dan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 637 jiwa/Km2.
Pada tahun 2010, penduduk laki-laki sebanyak 835.052 jiwa dan perempuan sebanyak 840.492 jiwa. Adanya sedikit perbedaan jumlah penduduk antara tahun 2010 dan 2009 dikarenakan jumlah penduduk tahun 2009 didapatkan
4
dari proyeksi hasil Sensus Penduduk tahun 2000 (Sensus Penduduk Tahun 2010).
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya tahun 2012, cakupan peserta KB aktif menurut Kabupaten/Kota yaitu jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 351.935 jiwa. Untuk akseptor suntikan baru 166.424 peserta (47,29%) dan akseptor suntikan lama 416.271 peserta (118,20%), akseptor pil baru 135.061 peserta (38,37%) dan pil lama 324.935 peserta (92,32%), akseptor kondom baru sebanyak 50.234 peserta (14,27%) dan akseptor kondom lama sebanyak 74.051 peserta (21,041%), IUD sebanyak 18.310 (5.2%), Metode Operasi Wanita (MOW) baru sebanyak 16.201 peserta (4,603%) dan Metode Operasi Wanita (MOW) lama sebanyak 1.155 peserta (0,33%) serta Metode Operasi Pria (MOP) baru sebanyak 504 peserta (0,014%) dan Metode Operasi Pria (MOP) lama sebanyak 1.155 peserta (1,53%).
Target untuk penggunaan KB IUD sebanyak 65%. Data penggunaan alat kontrasepsi di PKM Jamanis pada tahun 2013 jumlah PUS 5776 akseptor. Akseptor lama sebanyak 522 PUS, akseptor KB baru sebanyak 5254 PUS. Untuk akseptor suntikan 4072 peserta (77.54%), akseptor pil 910 peserta (17.32%), akseptor kondom sebanyak 40 peserta (0.76%), akseptor MOP 32 peserta (0.61%), akseptor MOW 42 peserta (0.80%), akseptor IUD sebanyak 648 peserta (12.33%), akseptor implan sebanyak 30 peserta (0.57%). (Puskesmas Jamanis, 2013)
Hasil penelitian (Maryatun 2009) tentang Faktor yang dapat mempengaruhi terhadap pemilihan IUD yang sama dengan penelitian diantaranya paritas, persepsi ibu tentang dukungan suami dan pemilihan alat kontrasepsi serta perbedaannya adalah terletak pada variabel kualitas pelayanan, biaya pelayanan, demand/alasan KB. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara analisis bivariat umur, paritas, demand/alasan KB, biaya pelayanan KB, kualitas pelayanan KB, akses pelayanan KB, persepsi tentang metode kontrasepsi IUD dan dukungan suami berhubungan dengan pemakaian metode kontrasepsi IUD (p<0,05), sedangkan pada faktor tingkat pendidikan ibu diperoleh nilai p > 0,05. Faktor yang paling berpengaruh terhadap pemakaian metode kontrasepsi IUD adalah persepsi ibu tentang metode kontrasepsi IUD.
Penelitian lainnya oleh Maya (2012) hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan menjadi 7 variabel (keamanan IUD, ketersediaan alat kontrasepsi IUD, tempat pelayanan KB, petugas kesehatan, media informasi, biaya pemasangan dan dukungan suami) yang dapat dilakukan proses analisis faktor. Dari 7 variabel tersebut terbentuk 3 faktor yaitu faktor 1 terdiri dari jumlah anak dan dukungan suami dinamakan faktor motivasi. Faktor 2 terdiri dari keamanan IUD, ketersediaan alat kontrasepsi IUD, dan media informasi dinamakan faktor kebutuhan. Faktor 3 terdiri dari petugas kesehatan dan biaya pemasangan dinamakan faktor sosioekonomi.
Menurut Nandang (2010) meneliti tentang hubungan persepsi suami tentang KB IUD dengan keikutsertaan istri menjadi akseptor KB di Kabupaten di Kelurahan Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara persepsi suami tentang KB IUD dengan keikutsertaan istri menjadi akseptor KB IUD.
Sementara dalam penelitian ini, penulis mengambil faktor paritas dan persepsi ibu tentang dukungan suami. Paritas merupakan banyaknya anak
5
yang dilahirkan sehingga dalam menentukan angka kelahiran keluarga yaitu dengan memilih alat kontrasepsi semakin banyak anak, semakin tinggi pula untuk menggunakan alat kontrasepsi. Serta persepsi ibu tentang dukungan suami merupakan persepsi tentang aktivitas, mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada perilaku suami dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya.
Aktivitas perilaku suami akan diolah bersama-sama dengan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya baik hal itu berupa harapan-harapan, nilai-nilai, sikap ingatan dan lain-lain (Maryatun 2009).
Persepsi mengenai dukungan suami merupakan salah satu dorongan atau motivasi untuk dapat memilih alat kontrasepsi dalam rahim, hal ini dikarenakan ada persepsi bahwa dengan menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim dapat mengganggu kenyamanan suami dalam berhubungan suami istri, oleh karena itu, ibu harus mengetahui apa reaksi serta apakah ada dukungan dari suami dalam menggunakan alat kontrasepsi IUD.
Studi pendahuluan di Puskesmas Jamanis kepada 10 orang akseptor baru dalam pemilihan alat kontrasepsi IUD diperoleh bahwa sebanyak 4 orang ibu memilih alat kontrasepsi IUD dan 6 orang memilih alat kontrasepsi non IUD, 4 orang tersebut mempunyai anak lebih dari 2 atau dengan paritas multipara dan sebanyak 3 orang ibu mempunyai persepsi tentang dukungan suami mengatakan bahwa suami mendukung dengan pemilihan alat kontrasepsi dan 1 orang ibu berpersepsi suami kurang mendukung dan tidak melarang dalam menggunakan alat kontrasepsi IUD dan sebanyak 6 orang akseptor Non IUD berpersepsi bahwa takut ada suatu benda diletakkan dalam rahimnya, kemudian ibu mengatakan masih tabu jika harus di pegang- pegang alat kelaminnya.
Dari uraian tersebut di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian hubungan paritas dan persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya.
2. Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan paritas dan persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
3. Metode Penelitian
Penelitian yang digunakan adalah survey dengan metode analitik kuantitatif yaitu penelitian yang berdasarkan data yang dikumpulkan selama penelitian secara sistematis mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat dari obyek yang diteliti dengan menggabungkan hubungan antar variabel yang terlibat didalamnya, kemudian diinterpretasikan berdasarkan teori-teori dan literatur-literatur yang berhubungan penelitian (Notoatmodjo, 2007) dengan pendekatan cross sectional. Data-data yang diteliti dan diolah merupakan data temuan di lapangan yang diperoleh dari pengisian kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah PUS yang menjadi akseptor KB Jamanis yaitu sebanyak yaitu 5776 akseptor dengan teknik accidental sampling jumlah sampel sebanyak 93 orang
6 4. Hasil Penelitian
a. Karakteristik Responden 1) Umur Ibu
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya Berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 1
Frekuensi Umur Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Umur f %
< 20 Tahun 2 2.2
20 – 35 tahun 65 69.9
> 35 Tahun 26 28
Jumlah 93 100
Berdasarkan tabel diperoleh umur ibu dalam pemilihan alat kontrasepsi IUD di wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar mempunyai umur 20 – 35 tahun sebanyak 65 orang (69.9%).
2) Tingkat pendidikan Ibu
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya Berdasarkan tingkat pendidikan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2
Frekuensi Tingkat Pendidikan Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten
Tasikmalaya
Pendidikan f %
SD 8 8.60
SMP 28 30.11
SMA 53 56.99
PT 4 4.30
Jumlah 93 100
Berdasarkan tabel 2 diperoleh bahwa tingkat pendidikan Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah SMA sebanyak 53 orang (56.99%).
3) Tingkat pendidikan Suami
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya Berdasarkan tingkat pendidikan suami dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
7
Tabel 3
Frekuensi Tingkat Pendidikan Suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis
Kabupaten Tasikmalaya
Pendidikan f %
SD 19 20.43
SMP 28 30.11
SMA 40 43.01
PT 6 6.45
Jumlah 93 100
Berdasarkan tabel 4.3 diperoleh bahwa tingkat pendidikan suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah SMA sebanyak 40 orang (43.01%).
4) Pekerjaan Ibu
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya jenis pekerjaan ibu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4
Frekuensi Pekerjaan Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Pekerjaan f %
IRT 46 49.46
Wiraswasta 23 24.73
Buruh 19 20.43
PNS 5 5.38
Jumlah 93 100
Berdasarkan tabel 4 diperoleh bahwa pekerjaan ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah ibu rumah tangga sebanyak 46 orang (49.46%).
5) Pekerjaan Suami
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya jenis pekerjaan suami dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5
Frekuensi Pekerjaan Suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Pekerjaan f %
Wiraswasta 65 69.89
Buruh 25 26.88
PNS 3 3.23
Jumlah 93 100
8
Berdasarkan tabel 5 diperoleh bahwa pekerjaan suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar pekerjaan suami adalah wiraswasta sebanyak 65 orang (69.89%)
b. Paritas
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya tentang paritas ibu adalah sebagaimana pada tabel 6 di bawah ini :
Tabel 6
Distribusi Frekuensi Paritas Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Paritas f %
Primipara (1 Anak) 11 11.83
Multipara (2 – 4 Anak) 68 73.12
Grande Multipara (> 4 Anak) 14 15.05
Jumlah 93 100.00
Berdasarkan tabel 4.6 diatas diperoleh bahwa paritas ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah multipara (2 – 4 anak) sebanyak 68 orang (73.12%).
c. Persepsi Ibu tentang Dukungan Suami
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya tentang paritas ibu adalah . untuk lebih jelasnya dilihat pada tabel 7 di bawah ini :
Tabel 7
Distribusi Frekuensi Persepsi Ibu Tentang Dukungan Suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis
Kabupaten Tasikmalaya
Ya Tidak
No Pernyataan
f % f %
1
Suami selalu memberikan waktunya untuk bersama- sama ke puskesmas melakukan Pemeriksaan tentang alat kontrasepsi yang ibu gunakan
61 65.59 32 34.41
2
Suami selalu memberikan
dorongan untuk
menggunakan alat
kontrasepsi
63 67.74 30 32.26
3
Suami selalu mengingatkan jadwal Pemeriksaan alat kontrasepsi
78 83.87 15 16.13
9
Ya Tidak
No Pernyataan
f % f %
4
Suami mendukung alat kontrasepsi ibu yang digunakan
74 79.57 19 20.43
5
Pembayaran pemeriksaan dibayar oleh suami ketika memeriksakan atau memilih alat kontrasepsi
63 67.74 30 32.26
6
Suami selalu menganggarkan guna Pemeriksaan alat kontrasepsi atau dalam pemilihan alat kontrasepsi.
67 72.04 26 27.96
7
Suami selalu mengantar pada saat Pemeriksaan sampai
dengan selesai Pemeriksaan. 73 78.49 20 21.51
8
Suami selalu mengingatkan hari untuk Pemeriksaan alat
kontrasepsi 76 81.72 17 18.28
9
Suami berdiskusi mau mencarikan informasi tentang alat kontrasepsi yang digunakan
73 78.49 20 21.51
10
Suami membantu mencari informasi dari media cetak/tenaga kesehatan ketika ibu ada keluhan
59 63.44 34 36.56
11
Pemilihan alat kontrasepsi
yang ibu gunakan
berdasarkan kesepakatan bersama
73 78.49 20 21.51
12
Penggunaan alat kontrasepsi yang ibu gunakan atas dukungan suami.
78 83.87 15 16.13
13
Suami selalu membuat situasi yang menyenangkan ketika
mengalami keluhan 49 52.69 44 47.31
Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa bentuk dukungan suami menurut persepsi ibu diantaranya perolehan tertinggi yaitu mengenai Penggunaan alat kontrasepsi yang ibu gunakan atas dukungan suami dan suami selalu mengingatkan jadwal Pemeriksaan alat kontrasepsi yaitu sebanyak 78 orang (83.87%).
Selanjutnya dilakukan skoring atas dasar kategori dapat dibagi menjadi dua yaitu baik dan kurang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
10 Tabel 9
Distribusi Frekuensi Persepsi Ibu Tentang Dukungan Suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis
Kabupaten Tasikmalaya Persepsi
dukungan suami f %
Baik 55 59.14
Kurang 38 40.86
Jumlah 93 100.00
Berdasarkan tabel 9 diatas diperoleh bahwa persepsi ibu tentang dukungan suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah baik sebanyak 55 orang (59.14%).
d. Pemilihan alat kontrasepsi
Berdasarkan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya distribusi frekuensi pemilihan alat kontrasepsi seperti pada tabel 10 di bawah ini :
Tabel 10
Distribusi Frekuensi Pemilihan Alat Kontrasepsi di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis
Kabupaten Tasikmalaya
Alat Kontrasepsi f %
IUD 30 32.26
Pil 21 22.58
Suntik 41 44.09
Implan 1 1.08
MOW 0 0
Jumlah 93 100.00
Berdasarkan tabel 10 diatas diperoleh bahwa pemilihan alat kontrasepsi di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah menggunakan alat kontrasepsi suntik yaitu sebanyak 41 orang (30%).
Untuk keperluan analisis, dilakukan penggolongan IUD dan Non IUD adalah sebagai berikut :
Tabel 4.11
Distribusi Frekuensi Pemilihan Alat Kontrasepsi Berdasarkan IUD dan Non IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan
Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Alat Kontrasepsi f %
Non IUD 63 67.74
IUD 30 32.26
Jumlah 93 100.00
11
Berdasarkan tabel 4.10 diatas diperoleh bahwa pemilihan alat kontrasepsi berdasarkan IUD dan Non IUD di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah menggunakan alat kontrasepsi non IUD yaitu sebanyak 63 orang (67.74%).
e. Hubungan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Untuk mengetahui hubungan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada tabulasi silang di bawah ini
Tabel 12
Hubungan paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Pemilihan Alat kontrasepsi
Non IUD IUD Jumlah
Paritas
f % f % f %
Grande multipara 13 92.9 1 7.1 14 100
Multipara 41 60.3 27 39.7 68 100
Primipara 9 81.8 2 18.2 11 100
Total 63 67.7 30 32.3 93 100
p = 0.034
Berdasarkan tabel 4.11 diperoleh bahwa yang menggunakan IUD lebih banyak yang multipara (39.7%) dibandingkan primipara (2%) dan grande multipara sebanyak (7.1%).
Berdasarkan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa Ada hubungan antara paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dengan p value 0.034.
f. Hubungan persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Untuk mengetahui hubungan persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada tabulasi silang di bawah ini
Tabel 13
Hubungan Paritas dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya
Pemilihan Alat kontrasepsi
Non IUD IUD Jumlah
Persepsi ibu tentang
dukungan suami f % f % f %
Kurang 31 81.6 7 18.4 38 100
Baik 32 58.2 23 41.8 55 100
Total 63 67.7 30 32.3 93 100
p = 0.032
12
Berdasarkan tabel 4.12 diperoleh bahwa persepsi responden yang menggunakan IUD lebih banyak ditemukan pada persepsi ibu tentang dukungan suaminya baik (41.8%) dibandingkan yang dukungan suaminya kurang (18.4%)
Berdasarkan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa Ada hubungan antara persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dengan p value 0.034.
5. Simpulan
Adapun kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Paritas ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis
Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah multipara sebanyak 68 orang (73.12%)
b. Persepsi ibu tentang dukungan suami di Wilayah Kerja Puskesmas Jamanis Kecamatan Jamanis Kabupaten Tasikmalaya sebagian besar adalah baik sebanyak 55 orang (59.14%)
c. Ada hubungan antara paritas dengan pemilihan alat kontrasepsi pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dengan p value 0.034.
d. Ada hubungan antara persepsi ibu tentang dukungan suami dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Jamanis Kabupaten Tasikmalaya dengan p value 0.034.
B. Saran
a. Diharapkan ibu dapat memberikan informasi kepada suami mengenai alat kontrasepsi IUD sehingga suami selalu membuat situasi yang menyenangkan ketika mengalami keluhan.
b. Bagi Akseptor KB diharapkan mengikuti pemakaian IUD bagi akseptor yang sudah merasa cukup anak (2 Anak atau lebih), tidak mau punya anak lagi, tetapi tidak mau memakai alat kontrasepsi permanen.
13
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik, 2010. Data Statistik Indonesia: Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur, Jenis Kelamin, Provinsi, dan Kabupaten/Kota, 2005.
terdapat di :http://demografi.bps.go.id/versi1/index.php?option=com_
tabel&task=&Itemid=
BKKBN, 2011, Tonggak Baru KB Nasional, Jakarta: BKKBN.
Bobak, dkk. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Desmawati, 2008
Friedman, M. Marilyn.( 1998). Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik. Jakarta : EGC.
Handayani, Sri. (2010). Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta :Pustaka Rihama.
Hartanto, H, 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan,. Jakarta.
Ichwan, R. 2007. Karakteristik Ibu Pasangan Usia Subur yang Menggunakan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim di RSU Dr. Pirngadi Medan Periode Januari- Desember 2006. Medan: Akademi Kebidanan Helvetia Medan.
Kuntjoro, 2002. Dukungan Sosial.
Manuaba, I.A.C., Manuaba, I.B.G.F. 2009. Keluarga Berencana. Dalam:
Manuaba, I.A.C., Manuaba, I.B.G.F. (eds). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC, 235-238.
Maryatun (2009). Faktor yang dapat mempengaruhi terhadap pemilihan IUD yang sama dengan penelitian diantaranya paritas, persepsi ibu tentang dukungan suami dan pemilihan alat kontrasepsi
Mochtar, Rustam : Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Musbikin. 2008. Panduan Kontrasepsi. Jogjakarta : Mitra Pustaka.
Nandang (2010) hubungan persepsi suami tentang KB IUD dengan keikutsertaan istri menjadi akseptor KB di Kabupaten di Kelurahan Pongangan Kecamatan Gunungpati Kota Semarang
Notoatmodjo. 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.
Pastuty R. Hubungan Demand KB dengan Penggunaan Kontrasepsi. Tesis Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Kesehatan MasyarakatUGM, Yogyakarta, 2005
14
Prawirohardjo, Sarwono., (2005). Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina.
Pustaka.
Puskesmas Jamanis, 2013. Laporan Tahunan Puskesmas Jamanis
Rahayu, Sri, 2005, SPSS Versi 12,0 Dalam Riset Pemasaran, Alfabeta : Bandung.
Steadman. (2007). Kamus Ringkas Kedokteran. Jakarta : EGC.
Varney,H., 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta;EGC Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Yogyakarta
Yusuf, H.S. (2002). Psikologi perkembangan anak dan remaja.Bandung : PT.
Remaja Rusdakarya.