• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Dasar Hukum...7 BAB II PERUBAHAN KEBIJAKAN UMUM APBD...10

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Dasar Hukum...7 BAB II PERUBAHAN KEBIJAKAN UMUM APBD...10"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Tujuan ...6

1.3. Dasar Hukum ...7

BAB II PERUBAHAN KEBIJAKAN UMUM APBD ...10

2.1. Perubahan Asumsi Dasar Kebijakan Umum APBD. ...10

2.1.1. Asumsi Makro APBD Perubahan Tahun Anggaran 2018...15

2.1.2. Pertumbbuhan Ekonomi ...19

2.1.3. Laju Inflasi Kabupaten Banyuwangi ...24

2.1.4. Lain - lain ...26

2.2. Perubahan Kebijakan Pendapatan Daerah...28

2.3. Perubahan Kebijakan Belanja Daerah ...35

2.4. Perubahan Kebijakan Pembiayaan Daerah ...40

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan ketentuan Pasal 316 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa perubahan APBD dapat dilakukan jika terjadi :

1. Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA;

2. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organiasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja;

3. Keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan dalam tahun anggaran berjalan;

4. Keadaan darurat dan/atau; 5. Keadaan luar biasa.

Selanjutnya pada Ayat (2) Pasal 316 Undang-Undang tersebut juga diatur bahwa Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran, kecuali dalam keadaan luar biasa. Dengan mendasarkan kedua hal substansi perundangan tersebut, maka disimpulkan bahwa APBD dapat diubah 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran sepanjang memenuhi persyaratan seperti tersebut diatas.

Pelaksanaan perubahan APBD diatur lebih detail dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 155 Ayat (2) menyebutkan bahwa Kepala Daerah

(4)

wajib memformulasikan hal-hal yang mengakibatkan terjadinya perubahan ke dalam rancangan Kebijakan Umum Perubahan APBD (KUPA) serta Plafon dan Prioritas Anggaran Sementara (PPAS) Perubahan APBD.

Berdasarkan ketentuan tersebut maka penyusunan KUPA Tahun Anggaran 2018 untuk menjadi acuan dalam penyusunan Plafon dan Prioritas Anggaran Sementara (PPAS) Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018 serta berdasarkan Perubahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Banyuwangi Nomor 32 Tahun 2018 sebagai upaya untuk menyesuaikan dinamika yang berkembang hingga triwulan II tahun 2018.

Meskipun pemerintah optimis bahwa kondisi pada akhir tahun 2018 membaik, namun fakta yang harus dihadapi pada triwulan I dan II tahun 2018 merupakan kondisi sangat berat yang harus dilewati. Dalam skala nasional, perlu waspada terjadinyaimported inflation dan banyaknya distribusi bahan baku impor. Sehingga neraca perdagangan defisit, nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar US. Kondisi ekonomi yang berat ini membawa implikasi terhadap proyeksi tidak adanya tambahan pendapatan nasional sehingga APBN tidak mengalami perubahan.

Kondisi ini sudah berlangsung sejak triwulan III tahun 2017, defisit transaksi berjalan terus merosot, cadangan devisa juga terus menurun sehingga berimbas pada perekonomian nasional dan lokal. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi konstelasi tingkat lokal di Banyuwangi. Nilai tukar rupiah yang melemah menyebabkan lesunya transaksi ekonomi di Banyuwangi. Untuk itu APBN dan APBD harus dirancang untuk antisipasi dan memecahkan kondisi tersebut.

(5)

Dalam rangka memulihkan dan normalisasi neraca APBD Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 sebagai instrumen dalam pencapaian berbagai target pembangunan daerah, penyesuaian berbagai besaran komponen APBD mendesak untuk dilakukan sejalan dengan dinamika yang terus berkembang; antara lain efisiensi belanja secara maksimal, optimalisasi pendapatan dan pengurangan belanja daerah secara lebih realistis dan memanfaatkan surplus anggaran. Penyesuaian tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga keseimbangan, antara pencapaian sasaran prioritas pembangunan dengan tetap menjaga kesinambungan dan keseimbangan fiskal daerah.

Selanjutnya secara khusus Perubahan APBD Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 diarahkan dalam rangka melaksanakan surplus anggaran yang disebabkan karena tercapainya target pendapatan daerah tahun 2017. Namun pada sisi lain terdapat peningkatan pengeluaran pembiayaan berupa pembayaran pokok utang yang membebani APBD tahun 2018. Sehingga diperlukan juga pengurangan anggaran belanja dalam rangka penyesuaian neraca APBD tahun 2018. Perubahan APBD tahun 2018 ini diarahkan sebagai upaya normalisasi APBD sehingga mampu mengoptimalkan surplus yang terjadi.

Pada KUPA 2018 ini, dituangkan berbagai upaya dalam perubahan APBD antara lain : penyesuaian pembiayaan daerah akibat selisih proyeksi SILPA; perubahan proyeksi pendapatan daerah; serta penyesuaian alokasi belanja daerah guna efisiensi dan peningkatan efektifitas sasaran. Meskipun terdapat perubahan dan penyesuaian, KUPA Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 tetap diarahkan sebagai kesinambungan dari upaya pembangunan daerah yang

(6)

tersedia secara optimal dan akuntabel. Hal ini sebagai upaya dengan tujuan akhir adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Banyuwangi.

Kesinambungan upaya pembangunan ini dapat dilihat dari APBD Kabupaten Banyuwangi tahun anggaran 2018 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 12 Tahun 2017, yang sebelumnya didahului dengan adanya Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan DPRD Kabupaten Banyuwangi Nomor 188/03/429.011/2017 dan Nomor 188/39/429.050/2017 tanggal 10 November 2017 tentang Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018 dan Nota Kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan DPRD Kabupaten Banyuwangi 188/04/429.011/2017 dan Nomor 188/40/429.050/2017 tanggal 10 November 2017 tentang Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018, dengan merujuk pada Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018.

Kesinambungan upaya pembangunan ini juga dapat dilihat dari hasil capaian kinerja pelaksanaan kegiatan APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018 sampai dengan bulan Juni 2018 dan perubahan kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, proyeksi belanja yang menjadi prioritas sesuai aspirasi masyarakat dan permasalahan aktual yang berkembang serta adanya penjadwalan ulang beberapa kegiatan, maka harus dilakukan perubahan dokumen penganggaran daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan tersebut.

(7)

Penyusunan KUPA dilakukan secara menyeluruh guna menampung seluruh perubahan asumsi-asumsi dalam pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah yang terjadi karena perubahan asumsi makro yang berimbas pada struktur APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018, maupun untuk menampung tambahan belanja prioritas yang belum diakomodir dalam APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018.

Selanjutnya sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, substansi dokumen KUPA mencakup hal-hal yang sifatnya kebijakan umum dan tidak menjelaskan hal-hal yang bersifat teknis. Hal-hal yang sifatnya kebijakan umum, seperti: (a) Gambaran kondisi ekonomi makro termasuk perkembangan indikator ekonomi makro daerah; (b) Asumsi dasar penyusunan Rancangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018 termasuk laju inflasi, pertumbuhan PDRB dan asumsi lainnya terkait dengan kondisi ekonomi daerah; (c) Kebijakan pendapatan daerah yang menggambarkan prakiraan rencana sumber dan besaran pendapatan daerah untuk Tahun Anggaran 2018 serta strategi pencapaiannya; (d) Kebijakan belanja daerah yang mencerminkan program dan langkah kebijakan dalam upaya peningkatan pembangunan daerah yang merupakan manifestasi dari sinkronisasi kebijakan antara Pemerintah Daerah dan pemerintah serta strategi pencapaiannya; (e) Kebijakan pembiayaan yang menggambarkan sisi defisit dan surplus anggaran daerah sebagai antisipasi terhadap kondisi pembiayaan daerah dalam rangka menyikapi tuntutan pembangunan daerah serta strategi pencapaiannya.

(8)

1.2 Tujuan

Tujuan penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD Tahun 2018 adalah untuk :

1. memberikan arah dalam penyusunan dan pelaksanaan program kegiatan pembangunan yang merupakan penjabaran kebijakan pembangunan daerah sebagaimana tertuang dalam RPJMD dan RKPD, dengan sumber pendanaan dari pendapatan dan penerimaan daerah dengan asumsi-asumsi indikator ekonomi makro yang disesuaikan dengan perkembangan situasi terakhir;

2. menguraikan perubahan kebijakan pengganggaran terkait dinamika permasalahan yang timbul dalam perencanaan dan penganggaran serta problem yang terjadi di masyarakat sehingga perlu mendapat penanganan secara cepat dengan memperhatikan prioritas nasional, regional dan daerah;

3. menguraikan kebijakan pendapatan, belanja, dan pembiayaan APBD Perubahan 2018;

4. penajaman prioritas kegiatan melalui pergeseran anggaran, penambahan alokasi anggaran dan penjadwalan ulang beberapa kegiatan dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018;

5. memberikan pedoman dalam penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Perubahan APBD Tahun 2018 dan Raperda Perubahan APBD Tahun 2018.

(9)

1.3 Dasar Hukum

Dalam penyusunan Kebijakan Umum Perubahan APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 ini dilandasi oleh beberapa payung hukum sebagai berikut:

1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional;

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah;

4. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

5. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana

Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025;

6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;

7. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, aturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

10. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah ;

(10)

11. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

12. Peraturan Pemerintah Nomor 1 8 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah;

13. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan;

14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2007 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah dan Rancangan Peraturan

Kepala Daerah tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Perubahaan Kedua Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 Tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2018;

17. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2014-2019;

18. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 28 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2018.

(11)

19. Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 7 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 – 2021;

20. Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Banyuwangi; 21. Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2017 tentang

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018;

22. Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 32 Tahun 2018 tentang Perubahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018.

(12)

BAB II

PERUBAHAN KEBIJAKAN UMUM APBD

2.1 Perubahan Asumsi Dasar Kebijakan Umum APBD

Kondisi ekonomi global pada akhir tahun 2018 diperkirakan mampu tumbuh lebih tinggi dari realisasi tahun 2017 yang mencapai 3,9 persen, namun masih diwarnai ketidakpastian. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi politik dunia dan ketegangan yang terjadi di Turki dan belahan dunia lainnya, mengakibatkan melambatnya perekonomian dunia. Nilai tukar mata uang Turki lira merosot tajam, posisi lira anjlok 15,88 persen ke level 6,4323 per dollar Amerika Serikat (AS). Dihitung sejak awal tahun, lira telah melemah 42 persen terhadap dollar AS. Sementara pada sisi lain negara berkembang masih menjadi motor utama pemulihan ekonomi global, dengan proyeksi pertumbuhan 5,1 persen, atau meningkat dibandingkan proyeksi pertumbuhan tahun 2018 sebesar 4,9 persen.

Krisis keuangan di beberapa negara Eropa, kebijakan moneter di AS, dan rebalancing ekonomi Tiongkok menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi dinamika perekonomian domestik. Lemahnya volume perdagangan dunia serta penurunan harga komoditas juga sempat menekan kinerja ekspor dan impor. Namun demikian, kondisi fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi mencapai titik balik pada tahun 2016, dengan tumbuh sebesar 5,0 persen dan terus melanjutkan tren peningkatan sampai dengan tahun 2017. Hal ini ditunjukkan dengan kinerja konsumsi rumah tangga yang tumbuh relatif stabil dan didukung oleh perbaikan kinerja investasi dan perdagangan. Sejalan dengan itu, kinerja sektoral juga terus membaik sehingga memberikan optimisme terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi secara bertahap.

(13)

Memasuki tahun 2018, momentum perbaikan pertumbuhan ekonomi di tahun 2017 diperkirakan akan terus berlanjut. Kinerja perekonomian nasional masih akan didorong oleh kinerja pertumbuhan investasi dan perdagangan internasional yang lebih baik. Penciptaan iklim investasi yang semakin baik dan percepatan pembangunan infrastruktur yang didukung oleh membaiknya volume perdagangan global diperkirakan tetap berlanjut dan mendukung kinerja ekonomi di tahun 2018. Bauran kebijakan untuk mendorong investasi dan daya saing serta keberlanjutan penyelesaian pembangunan infrastruktur akan terus didorong untuk meningkatkan kinerja investasi nasional. Peningkatan kinerja investasi diharapkan mampu meningkatkan penciptaan lapangan kerja yang nantinya dapat memperbaiki tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat.

Bank Dunia memprediksi bahwa kinerja perdagangan internasional tidak optimal - sebagai akibat perang dagang, pengetatan ekonomi AS, China dan sebagainya - sehingga merevisi turun pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 dari 5,3 persen menjadi 5,2 persen. Hasil proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 tersebut sebagaimana juga yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dan Kementerian Keuangan. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi nasional mengalami penurunan dari 5,0 persen pada tahun 2014 menjadi 4,9 persen pada tahun 2015. Kemudian cenderung naik dalam beberapa tahun berikutnya. Dimana pertumbuhan ekonomi tahun 2016 sebesar 5,0 persen, tahun 2017 sebesar 5,1 persen, dan proyeksi tahun 2018 sebesar 5,2 persen. Hal ini seiring kondisi nasional dengan investasi yang sarat impor akan terus membebani pertumbuhan ekonomi dan menurunnya perdagangan global. Selain itu perkembangan nilai rupiah yang terus merosot dibandingkan dollar US dan saat ini telah melampaui 14.500 rupiah per 1 dollar US.

(14)

Risiko global pada semester I tahun 2018, masih cenderung sama dengan semester sebelumnya dengan penekanan pada risiko negatif. Kebijakan Amerika Serikat mengenakan tarif pada beberapa komoditas Tiongkok seperti aluminium dan baja, begitu juga retaliasi yang dilakukan Tiongkok untuk Amerika Serikat, pengetatan keuangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, tensi geopolitik, dan perubahan iklim menjadi risiko negatif untuk periode kedepan.

Untuk mengantisipasi risiko sebagaimana terjadi pada semester I tahun 2018 diperlukan penguatan keyakinan bisnis dan konsumen, perbaikan investasi untuk meningkatkan produktivitas, dan peningkatan output potensial. Selain itu, perbaikan pada perdagangan global, peningkatan pertumbuhan ekonomi AS sebagai dampak kebijakan fiskal stimulus, produktivitas global membaik, peningkatan harga komoditas yang mendorong pertumbuhan negara berkembang merupakan risiko positif pada periode mendatang.

Namun dinamika kondisi ini diperkirakan akan berubah pada semester II tahun 2018. Pemerintah mewaspadai adanya imported inflation atau inflasi yang berasal dari luar negeri pada semester II tahun 2018 sebagai akibat dari pelemahan rupiah. Inflasi yang berasal dari luar negeri disebabkan peningkatan harga di luar negeri atau depresiasi nilai tukar. Ketika harga impor meningkat, harga barang domestik yang menggunakan impor sebagai bahan mentah juga turut meningkat sehingga menyebabkan kenaikan harga barang dan jasa. Untuk itu diperlukan upaya yang lebih kuat sebagai antisipasi dan perbaikan kondisi. Langkah pertama yang harus dilakukan terhadap kondisi ini adalah upaya pemulihan.

Menimbang berbagai dinamika global dan nasional sebagaimana uraian di atas, dan dengan mempertimbangkan fondasi ekonomi di Banyuwangi maka pada tahun 2018 diperkirakan kondisi perekonomian di Banyuwangi masih mampu berjalan lebih baik dari kondisi tahun 2017. Pertumbuhan ini

(15)

terutama akan didorong oleh perekonomian nasional yang diprediksi bisa membaik, meskipun belum benar-benar pulih. Berbagai kebijakan dan stimulus ekonomi nasional yang telah dilakukan selama ini telah berhasil mengurangi kerentanan perekonomian. Kinerja perekonomian daerah diperkirakan akan berjalan lebih baik. Pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2018 diperkirakan dapat lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2017. Selanjutnya, momentum membaiknya kinerja perekonomian ke depan akan diarahkan pada peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi terutama yang tercermin pada penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran.

Sesuai amanat Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2018, Kebijakan Umum Perubahan APBD adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. Sehubungan dengan itu, telah dilakukan evaluasi menyeluruh capaian kinerja hingga triwulan II tahun 2018 dalam rangka mengetahui perkembangan keluaran, hasil, dan kesesuaian arah antara pencapaian visi, misi, dan sasaran prioritas pembangunan daerah yang telah dicapai.

Di bidang pendapatan, kebijakan pendapatan antara lain: (1) Optimalisasi pendapatan melalui reward and punishment akan ditempuh untuk optimalisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah; (2) Optimalisasi sumber-sumber pendapatan melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi melalui peningkatan monitoring dan pemeriksaan (audit) kepada wajib pajak dan wajib retribusi; (3) Optimalisasi pengelolaan aset daerah dengan manajemen profesional; dan (4) Pelepasan

(16)

Pada sisi belanja dalam APBD Perubahan Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 disusun dengan berpedoman pada kebijakan efisiensi belanja daerah, yang dilakukan melalui efisiensi maksimal belanja yang kurang prioritas, sebagaimana dilakukan juga oleh seluruh kementerian dan lembaga di Pemerintah Pusat. Pergeseran alokasi Belanja Daerah yang dimungkinkan pada sebagian besar Perangkat Daerah sebagai upaya peningkatan efisiensi Belanja. Belanja dioptimalkan dengan pemanfaatan anggaran-anggaran sisa lelang yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan prioritas dan untuk memanfaatkan surplus. Belanja juga diarahkan sebagai langkah “defence

mechanism”, upaya bertahan untuk tetap menjaga keberlangsungan pelayanan

publik, perlindungan sosial, pemeliharaan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta sektor prioritas strategis lainnya. Untuk itu beberapa rencana perlebaran jalan, peningkatan ruang terbuka hijau, dan pembangunan berbagai fasilitas publik lainnya, dengan terpaksa harus ditunda mengingat terbatasnya kapasitas fiskal.

Walaupun demikian, spirit optimisme untuk menguatkan daya beli dan kapasitas produksi masyarakat harus tetap dijaga. Beberapa kebijakan baru diharapkan dapat meningkatkan stimulasi pergerakan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga terus berupaya mendorong industri kecil menengah, meningkatkan fasilitasi dan kemudahan berusaha untuk UMKM seperti kemudahan izin memulai usaha, akses terhadap ketersediaan infrastruktur dasar, dan kemudahan mendapatkan kredit. Selain itu, Pemerintah daerah juga terus berupaya mendorong investasi untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi Banyuwangi.

Penetapan SILPA pada APBD induk tahun 2018 sebesar Rp.

(17)

38.102.160.824,65 sehingga terdapat selisih (surplus) sebesar Rp. 9.102.160.824,65 .

Pada aspek belanja mengalami perubahan (pengurangan) karena harus dilakukan penyesuaian antara proyeksi pendapatan dan pembiayaan. Penurunan belanja sebesar Rp. (125.187.492.585,31) atau sebesar (4,16) persen sebagai upaya untuk normalisasi dan pemulihan APBD Tahun Anggaran 2018. Kinerja pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Banyuwangi terus ditingkatkan, sebagai salah satu veriabel argumentasi dan penilaian pemerintah kepada daerah. Penyerapan belanja APBD Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Periode Semester I Tahun Anggaran 2018 telah mencapai 37,49% atau sebesar Rp. 1.128.314.196.178,58 dari anggaran sebesar Rp. 3.009.735.899.319,91 . Percepatan penyerapan, sebagai indikasi perbaikan pengelolaan keuangan daerah, serta mempercepat stimulasi pertumbuhan ekonomi yang memberi keuntungan bagi seluruh lapisan masyarakat, mendorong perdagangan serta meningkatkan transaksi ekonomi masyarakat.

2.1.1. Asumsi Makro APBD Perubahan Tahun Anggaran 2018

Selama periode tahun 2013-2017, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi mengalami trend fluktuatif. Pada tahun 2018, diperkirakan kondisi perekonomian di Banyuwangi dapat membaik di tengah kondisi yang masih naik-turun. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 pada KUA Tahun 2018 diproyeksi meningkat dari kisaran 5,37 menjadi 5,75. Belanja Pemerintah tetap diarahkan untuk pemenuhan program prioritas Pemerintah dengan memperhatikan kemampuan fiskal tahun berjalan. Komitmen Pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan akan terus dijaga, meskipun di tengah situasi sulit, melalui pengalokasian anggaran yang lebih efektif. Berikut ini disajikan tabel pertumbuhan ekonomi Banyuwangi, Jawa Timur, dan Nasional

(18)

Tabel. 2.1 Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2013 – 2018** Pertumbuhan ekonomi Tahun 2013 2014 2015 2016 2017 2018* 2018** Banyuwangi 6,71 5,91 6,01 5,38 5,6 5,22-5,52 5,75 Jawa Timur 6,08 5,86 5,49 5,55 5,45 5,40-5,60 5,40-5,60 Nasional 5,78 5,02 4,79 5,02 5,1 5,3 5,2 Sumber : BPS

*Proyeksi pada RKPD Tahun 2018

** Proyeksi pada Perubahan RKPD Tahun 2018

Pada periode tahun 2013-2017, Ekonomi Banyuwangi rata-rata tumbuh sebesar 5,92 persen. Fluktuasi terjadi antara lain disebabkan oleh ketidakpastian dan belum stabilnya perekonomian global yang berpengaruh terhadap penerimaan negara. Namun demikian, diperkirakan kinerja makro ekonomi dan pengelolaan keuangan daerah tetap mampu tumbuh positif seiring dengan stimulasi pembangunan infrastruktur, serta kebijakan perbaikan iklim usaha dan berbagai upaya analisis lainnya.

Perekonomian domestik pada akhir tahun 2018 diperkirakan meningkat sebab relatif terjaganya konsumsi rumah tangga. Dari sisi global, perdagangan dunia diperkirakan meningkat meskipun tidak terlalu signifikan. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan dorongan aktivitas ekonomi global yang pada gilirannya juga dapat mendukung kinerja ekonomi domestik. Meskipun demikian, masih terdapat risiko-risiko ekonomi yang patut diwaspadai sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap kinerja perekonomian seperti perkiraan harga komoditas yang masih cukup rendah.

Berdasarkan kondisi tersebut, nampak bahwa tantangan eksternal yang dihadapi sisi perekonomian pada akhir tahun 2018 masih cukup signifikan akan mempengaruhi perekonomian domestik sehingga diperkirakan akan kembali

(19)

mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi jika tidak diantisipasi. Dalam merespon kondisi eksternal tersebut, maka dipandang perlu untuk dilakukan penyesuaian terhadap beberapa asumsi dasar ekonomi makro dari APBD Kabupaten Banyuwangi tahun 2018. Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah mengusulkan perubahan atas asumsi dasar ekonomi makro tahun 2018, sebagai berikut:

1. Pertumbuhan ekonomi ;

Pertumbuhan ekonomi dalam APBD Tahun Anggaran 2018 yang ditargetkan akan mencapai kisaran 5,37 persen, diproyeksi mampu naik dalam kisaran 5,75 persen. Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum; Transportasi dan Pergudangan; Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; serta Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor diharapkan tetap menjadi pendorong utama dan terus mengalami peningkatan, sebagai multiplier effect berbagai aktifitas pemerintah dan seluruh elemen masyarakat.

2. Laju Inflasi ;

Laju inflasi pada bulan Juni Tahun 2017 pada posisi 0,47 persen dan pada Juni 2018 laju inflasi sebesar 0,50 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Walaupun demikian, asumsi laju inflasi APBD 2018 dalam kisaran 4 persen, diproyeksikan sedikit menurun dan stabil pada kisaran 3 persen dalam APBD Perubahan Tahun Anggaran 2018. Pemerintah akan terus berupaya mengendalikan inflasi berbagai upaya antara lain pemantauan harga di pasar-pasar dan mencegah ketidaksesuaian harga, Memastikan stok kebutuhan pokok memadai untuk menghindari kelangkaan bahan kebutuhan pokok, penetapan harga acuan untuk menghindari tingginya lonjakan harga yang ditentukan oleh pedagang, penyelenggaraan

(20)

pasar murah untuk membantu menekan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok.

3. Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar ;

Rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sangat mempengaruhi ekonomi domestik Kabupaten Banyuwangi. Di pertengahan tahun 2018 nilai tukar rupiah yang terus merosot dibandingkan dollar US dan saat ini telah melampaui 14.500 rupiah per 1 dollar US. Hal ini seiring kondisi nasional dengan investasi yang sarat impor yang akan terus membebani pertumbuhan ekonomi dan menurunnya perdagangan global. 4. Suku Bunga.

Faktor penting yang mempengaruhi tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan adalah tingkat kesehatan dan kondisi fiskal Pemerintah. Dalam kaitan ini, pergerakan tingkat suku bunga SPN 3 bulan mencerminkan perspektif pelaku pasar keuangan terhadap posisi serta tingkat kesehatan fiskal dan APBN. Dengan terjaganya kondisi fiskal yang sehat dan stabilitas ekonomi, perbaikan kondisi pasar keuangan serta memperhatikan risiko-risiko yang ada, rata-rata tingkat suku bunga SPN 3 bulan diperkirakan relatif stabil pada tingkat 5,3 persen di tahun 2018. Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus memegang komitmen untuk melakukan pengelolaan fiskal yang sehat dan kredibel di antaranya dengan menjaga tingkat defisit yang sehat, pengelolaan belanja yang efektif, dan efisiensi pengelolaan hutang. Selanjutnya, tingkat kesehatan dan efektifitas pengelolaan kebijakan fiskal akan memberikan dampak positif pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal-hal tersebut merupakan faktor fundamental dalam menjaga tingkat suku bunga SPN 3 bulan yang aman.

(21)

2.1.2. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi merupakan salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai peningkatan kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barang dan jasa. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan output, sehingga berdasarkan definisi tersebut Pertumbuhan Ekonomi dibentuk dan ditinjau dari perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pendekatan produksi dengan perhitungan rumus yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur bulan Juli tahun 2018, kondisi perekonomian Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2017 mencapai 5,6 persen mengalami kenaikan dari tahun 2016 sebesar 5,38 persen. Berbagai upaya stimulasi dipertahankan dan ditingkatkan untuk menciptakan fundamental ekonomi daerah yang lebih kokoh guna pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan di masa depan. Di tengah ketidakpastian kondisi perekonomian nasional dan global, diproyeksikan hingga akhir 2018 pertumbuhan ekonomi Banyuwangi dapat meningkat berada dalam kisaran 5,75 persen, yang distimulasi melalui berbagai program peningkatan dan penguatan kualitas belanja daerah. Angka ini meningkat dari proyeksi sebelumnya dalam kisaran 5,37 persen.

Dalam struktur ekonomi Banyuwangi, nampak pertumbuhan setiap sektor mengalami perkembangan signifikan. Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi terutama ditopang dari sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan

(22)

Minum yang pada tahun 2018 diproyeksi tumbuh sebesar 9,34 persen, Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,7 persen serta sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial tumbuh 8,57 persen. Sektor-sektor tersebut merupakan sektor yang tumbuh dari berkembangnya pariwisata sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah di Kabupaten Banyuwangi. Angka-angka proyeksi pada sektor tersebut lebih tinggi dari proyeksi tahun 2018 sebelumnya.

Tabel 2.2. Pertumbuhan PDRB (ADHK) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 – 2018*

Kat URAIAN PDRB ADHK (%)

2016 2017 2018* 2018** A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2,92 4,27 4.08 4,28 B Pertambangan dan Penggalian 5,31 3,70 3.21 3,73 C Industri Pengolahan 5,69 5,87 4.86 5,69 D Pengadaan Listrik dan

Gas 4,20 5,79 4.62 5,83

E

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

5,05 5,08 4.17 5,34

F Konstruksi 7,51 6,31 5.77 6,36

G

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

6,86 6,80 7.54 7,59

H Transportasi dan

Pergudangan 7,68 8,49 5.62 8,70

I Penyediaan Akomodasi

dan Makan Minum 9,50 9,46 8.23 9,34

J Informasi dan Komunikasi 6,92 6,40 6.16 7,27 K Jasa Keuangan dan

Asuransi 5,80 7,16 9.26 7,87 L Real Estate 5,21 6,28 5.63 6,31 M,N Jasa Perusahaan 5,77 6,58 5.14 6,26 O Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

5,54 5,50 2.95 5,88

(23)

Kat URAIAN PDRB ADHK (%)

2016 2017 2018* 2018** Q Jasa Kesehatan dan

Kegiatan Sosial 8,66 8,24 6.13 8,57

R,S,T,U Jasa lainnya 9,02 5,97 4.59 5,44

KAB. BANYUWANGI 5,38 5,60 5,22-5,52 5,75-5,85 JAWA TIMUR 5,55 5,45 5,40-5,60 5,40-5,60

NASIONAL 5,02 5,10 5,30 5,20

*Proyeksi pada RKPD Tahun 2018

**Proyeksi pada Perubahan RKPD Tahun 2018 Sumber : BPS Kabupaten Banyuwangi, 2017

Dari tabel 2.3 dibawah ini nampak bahwa Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih mendominasi dalam sebaran PDRB Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2016 – 2017, kontribusi sektor ini di atas 34 persen. Kinerja sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan harus terus dioptimalkan, sebab sebagian besar rakyat Banyuwangi hidup di sektor ini sebagai petani dan nelayan. Namun demikian Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan kedepan mengalami tantangan yang semakin berat. Hal ini nampak dari pertumbuhannya yang cenderung semakin menurun dan berada dibawah pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi. Proyeksi PDRB ADHB sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan tahun 2018 turun dari proyeksi sebelumnya yaitu dari 36,12 persen menjadi 34,47 persen.

Tabel 2.3 Distribusi PDRB (ADHB) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016-2018*

Kat URAIAN PDRB ADHB (%)

2016 2017 2018* 2018** A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 35,39 34,94 36.12 34,47 B Pertambangan dan Penggalian 7,61 7,47 7.26 7,32 C Industri Pengolahan 10,90 10,94 10.70 10,99

D Pengadaan Listrik dan

Gas 0,04 0,04 0.04 0,04

E

Pengadaan Air,

(24)

Kat URAIAN PDRB ADHB (%)

2016 2017 2018* 2018**

G

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

14,50 14,67 14.51 14,84

H Transportasi dan

Pergudangan 3,13 3,24 3.12 3,35

I Penyediaan Akomodasi

dan Makan Minum 2,47 2,56 2.45 2,65

J Informasi dan

Komunikasi 4,03 4,07 3.91 4,10

K Jasa Keuangan dan

Asuransi 1,78 1,80 1.80 1,83 L Real Estate 1,47 1,47 1.47 1,48 M,N Jasa Perusahaan 0,23 0,23 0.22 0,23 O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

2,25 2,25 2.16 2,25

P Jasa Pendidikan 2,98 3,01 3.01 3,03

Q Jasa Kesehatan dan

Kegiatan Sosial 0,33 0,34 0.32 0,34

R,S,T,U Jasa lainnya 1,11 1,12 1.05 1,12

*Proyeksi pada RKPD Tahun 2018

**Proyeksi pada Perubahan RKPD Tahun 2018 Sumber : BPS Kabupaten Banyuwangi, 2017

Capaian PDRB ADHK pada tahun 2017 (milyar rupiah) mengalami peningkatan di semua sektor. Realisasi PDRB ADHK tahun 2016-2017 dan proyeksi tahun 2018 dapat dilihat pada tabel 2.4 berikut :

Tabel 2.4 PDRB (ADHK) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016-2018*

Kat URAIAN PDRB ADHK (Rp. Milyar)

2016 2017 2018* 2018**

A Pertanian, Kehutanan, danPerikanan 15.395,28 16.053,12 16,804.79 16.739,70 B Pertambangan danPenggalian 3.885,61 4.029,36 4,079.30 4.179,54

C Industri Pengolahan 5.425,59 5.743,98 5,943.05 6.070,89

D Pengadaan Listrik dan Gas 26,13 27,61 28.70 29,22

(25)

Kat URAIAN PDRB ADHK (Rp. Milyar)

2016 2017 2018* 2018**

Limbah dan Daur Ulang

F Konstruksi 5.362,84 5.701,24 6,003.00 6.064,07

G Perdagangan Besar danEceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

6.842,62 7.308,09

7,864.50 7.863,11

H Transportasi danPergudangan 1.393,25 1.511,42 1,541.76 1.642,88

I Penyediaan Akomodasidan Makan Minum 1.141,97 1.250,02 1,354.27 1.366,73

J Informasi dan Komunikasi 2.426,59 2.581,89 2,743.27 2.769,65

K Jasa Keuangan danAsuransi 839,24 899,27 979.73 970,03

L Real Estate 727,64 773,30 815.94 822,09

M,N Jasa Perusahaan 109,58 116,81 120.89 124,12

O Administrasi Pemerintahan,Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

1.041,54 1.098,83

1,081.43 1.163,41

P Jasa Pendidikan 1.526,16 1.624,91 1,698.70 1.736,87

Q Jasa Kesehatan danKegiatan Sosial 177,84 192,45 197.94 208,95

R,S,T,U Jasa lainnya 570,96 605,07 609.39 637,97

PDRB ADHB 46.924,58 49.552,00 51,901.10 52.424,32

*Proyeksi pada RKPD Tahun 2018

**Proyeksi pada Perubahan RKPD Tahun 2018 Sumber : BPS Kabupaten Banyuwangi, 2017

Perkembangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, sudah dapat diprediksi, mengingat upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam mendorong pergerakan ekonomi sebagai dampak dari perkembangan pariwisata di Banyuwangi. Selain itu, berbagai upaya dilakukan untuk mendorong peningkatan arus perdagangan lokal, regional dan antar pulau turut serta memberikan kontribusi pada sektor ini. Upaya pemerintah melalui

(26)

kemudahan proses perijinan dan promosi pariwisata Kabupaten Banyuwangi juga meningkatkan sektor ini.

2.1.3. Laju Inflasi Kabupaten Banyuwangi

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Dari pengertian dimaksud maka inflasi merupakan proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling mempengaruhi.

Kondisi deflasi adalah kebalikan dimana terjadi penurunan nilai barang dan jasa pada kurun waktu. Kondisi deflasi dalam waktu-waktu tertentu sangat diperlukan untuk mengendalikan perekonomian dan ini biasanya dilaksanakan oleh Bank Sentral. Keseimbangan inflasi dan deflasi dalam bulan ke bulan untuk jangka waktu satu tahun sangat penting (years to years). Hal ini akan menjadikan pertumbuhan ekonomi yang signifikan nampak hasilnya oleh karena tingkat inflasi yang tinggi akan menyebabkan melambatnya laju pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah memprediksi tingkat inflasi di Indonesia tahun 2018 berada pada kisaran 3,5 persen. Dengan dasar kondisi tersebut, Pemerintah

(27)

Kabupaten Banyuwangi memproyeksikan inflasi tahun 2018 dalam kisaran sebesar 3+1 persen. Proyeksi laju inflasi ini terutama dipengaruhi konstelasi perekonomian dan laju inflasi nasional, serta berbagai upaya untuk memacu laju pertumbuhan ekonomi sehingga menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dimana dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Laju inflasi di Kabupaten Banyuwangi diharapkan dapat terkendali melalui pengendalian harga barang dan jasa sehingga tetap stabil sehingga secara akumulasi pertumbuhan ekonomi akan terasa dampaknya serta peningkatan daya beli masyarakat yang semakin nyata. Berikut ini disajikan tabel data inflasi bulanan dalam beberapa tahun terakhir.

Tabel 2.5 Laju Inflasi Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015-2018

No Bulan 2015 2016 2017 2018 1 Januari 0.08 0.67 0,66 0,7 2 Februari -1.02 0.12 0,35 0,17 3 Maret 0.09 0.03 -0,2 0,12 4 April 0.36 -0.61 0,48 0,04 5 Mei 0.55 0.12 0,33 0,13 6 Juni 0.26 0.73 0,47 0,5 7 Juli 0.62 0.43 0,15 -8 Agustus 0.35 -0.14 -0,11 -9 September 0.21 0.02 -0,02 -10 Oktober -0.25 -0.18 0,09 -11 November 0.08 0.25 0,33 -12 Desember 0.8 0.47 0,6 -Tahunan 2,15 1,91 3,17

(28)

2.1.4. Lain – lain

Konstelasi ekonomi regional dan nasional memberikan dampak langsung pada kondisi perekonomian di Kabupaten Banyuwangi. Oleh karena itu isu-isu nasional dan bahkan isu global yang sedang berkembang saat ini perlu mendapatkan perhatian serta menjadi pertimbangan penting dalam menetapkan target capaian ekonomi makro pada tahun mendatang. Kondisi ekonomi global pada tahun 2016 dan tahun 2017 penuh dengan ketidakpastian, hal tersebut disebabkan oleh kondisi politik dunia dan ketegangan yang terjadi di semenanjung Korea dan belahan dunia lainnya, mengakibatkan melambatnya perekonomian dunia. Selain itu ketegangan yang terjadi berimbas pada fluktuatifnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang lainnya terutama terhadap Dolar Amerika Serikat yang mengalami kecenderungan melemah.

Berdasarkan pendekatan growth diagnostic, tantangan utama dalam perekonomian di hampir seluruh wilayah Indonesia bersumber dari permasalahan infrastruktur listrik, konektivitas, dan kualitas sumber daya manusia. Belum terintegrasinya infrastruktur terkait konektivitas menjadi hambatan dalam upaya menurunkan biaya logistik pada rantai nilai domestik, memperkuat integrasi internal, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia. Dari sisi kualitas sumber daya manusia, tingkat pendidikan tenaga kerja yang mayoritas merupakan lulusan pendidikan dasar dan menengah belum kompatibel dengan upaya penguatan struktur ekonomi pada sektor teknologi menengah-tinggi. Di sisi iklim usaha, meski sudah jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya, perbaikan iklim usaha perlu terus ditingkatkan antara lain melalui kemudahan terkait ijin investasi, mekanisme perpajakan,

(29)

penyederhanaan birokrasi, dan perbaikan manajemen pemerintah. Di sisi iptek, belum optimalnya dukungan iptek dalam meningkatkan daya saing sektor produksi dan jasa merupakan permasalahan yang harus terus dicermati.

Prospek perekonomian daerah Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 saat ini antara lain :

a. Ekonomi kreatif yang semakin berkembang, menuntut pelaku ekonomi di Kabupaten Banyuwangi untuk dapat bersaing;

b. Peningkatan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan; c. Kualitas UMKM perlu ditingkatkan agar dapat bersaing di kancah regional

dan nasional;

d. Adanya kecenderungan peningkatan tingkat pengangguran terbuka sedangkan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi cenderung meningkat.

Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa belanja daerah adalah semua kewajiban daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Perkembangan belanja daerah dipengaruhi oleh belanja APBN. Dari segi total belanja APBN 5 tahun terakhir mengalami kenaikan. Hal ini tentunya berakibat pada defisit yang terjadi pada tahun 2017 paling tinggi. Kondisi tersebut dikarenakan total belanja terus mengalami kenaikan, namun pendapatan menurun.

Efisiensi di semua sektor prioritas tetap berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun

(30)

yang berkaitan dengan pelayanan dasar yang terdiri dari pendidikan; kesehatan; pekerjaan umum dan penataan ruang; perumahan rakyat dan kawasan permukiman; ketentraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat; sosial serta beberapa prioritas lainnya.

2.2 Perubahan Kebijakan Pendapatan Daerah

Perubahan APBD Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 diajukan sebagai langkah untuk menyesuaikan perubahan asumsi dasar ekonomi makro, menampung perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal dalam rangka mengamankan pelaksanaan APBD tahun 2018 serta tetap menjaga pencapaian berbagai sasaran pembangunan daerah. Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal dan langkah-langkah pengamanan pelaksanaan APBD tahun 2018 dilakukan baik pada pendapatan, belanja, maupun pembiayaan.

Di bidang pendapatan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus berupaya untuk mengoptimalkan segenap sumberdaya yang dimiliki guna peningkatan aktivitas ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Upaya tersebut membutuhkan sumber daya yang memadai baik dilihat dari kualitas SDM, sistem yang lebih akuntabel, dan audit terhadap wajib pajak maupun wajib retribusi. Optimalisasi pendapatan daerah terus dilakukan, dengan tetap memperhatikan efektifitas pelaksanaan serta memperhatikan kondisi perkembangan perekonomian, potensi yang belum tergali, pelayanan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Potensi yang ada dalam pengumpulan pendapatan daerah diyakini masih banyak yang belum tergali. Dalam rangka peningkatan kemandirian daerah dalam hal penyediaan anggaran maka penggalian potensi tersebut juga harus mendapatkan dukungan dari seluruh stakeholder terkait dan dibingkai dalam sistem dan tata kelola yang baik. Penyusunan anggaran penting untuk dilaksanakan dengan pertimbangan penerimaan pendapatan yang tepat, perkiraan terukur, rasional

(31)

serta memiliki kepastian hukum. Penyediaan anggaran daerah setiap tahunnya secara mandiri diharapkan semakin meningkat sehingga tingkat ketergantungan terhadap dana perimbangan semakin tahun akan semakin berkurang.

Upaya-upaya yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mencapai target pendapatan daerah sebagaimana diproyeksikan di atas adalah dengan melaksanakan beberapa langkah kebijakan yang lebih konkrit melalui law enforcement dengan melibatkan seluruh komponen dalam pengelolaan keuangan daerah dengan tetap tidak memberatkan pada masyarakat dan dunia usaha guna menjaga tingkat konsumsi masyarakat dan pemerintah. Sehingga mampu mendorong laju pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan laju inflasi daerah.

Pendapatan Daerah Kabupaten Banyuwangi dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018 diproyeksikan mengalami perubahan sebesar Rp. 84.570.889.958,69 atau menjadi sebesar Rp. 3.065.306.789.278,60 dibandingkan dengan Pendapatan Daerah dalam APBD Tahun Anggaran 2018 sebesar Rp. 2.980.735.899.319,91 atau dengan perubahan sebesar 2,84 persen. Proyeksi perubahan pendapatan daerah kabupaten Banyuwangi dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018, sebagaimana dimaksud terdiri dari : a. Pendapatan Asli Daerah diproyeksikan meningkat sebesar Rp.

62.001.271.531,47 atau 11,76 persen dari target yang ditetapkan dalam APBD Tahun Anggaran 2018 sebesar Rp. 527.381.378.134,91 sehingga menjadi Rp. 589.382.649.666,38 dalam Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018. Beberapa hal yang menyebabkan kenaikan pendapatan Asli Daerah

(32)

 Pada pos Pajak Daerah terdapat peningkatan sebesar Rp. 35.572.245.126,71 menjadi Rp. 241.252.156.536,47. Proyeksi peningkatan pendapatan bersumber antara lain dari peningkatan Pajak Hotel, Pajak Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, Pajak Penerangan Jalan (Penerangan Jalan PLN), Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C, Pajak Parkir, Pajak Air Tanah, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Peningkatan perolehan pajak daerah ini merupakan upaya intensifikasi (proyeksi peningkatan tarif, peningkatan kepatuhan) dan ekstensifikasi (perluasan obyek) terhadap obyek pajak dari proyeksi potensi yang ada.

 Pada pos Retribusi Daerah terdapat peningkatan sebesar Rp. 10.798.776.420,47 menjadi Rp.72.654.234.168,01. Proyeksi peningkatan pendapatan bersumber antara lain dari Retribusi Jasa Umum dan Retribusi Jasa Usaha. Sementara untuk Retribusi Perizinan Tertentu diproyeksikan menurun.

 Pada pos Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan tidak terdapat perubahan, sehingga tetap sesuai APBD Tahun Anggaran 2018 yaitu sebesar Rp. 21.965.034.996,47.

 Untuk Pos Lain-Lain PAD Yang Sah diproyeksikan terdapat peningkatan 6,57 persen atau sebesar Rp. 15.630.249.984,30 menjadi Rp. 253.511.223.965,44. Proyeksi peningkatan pendapatan bersumber antara lain dari Pendapatan Pengelolaan Dana Bergulir kepada Koperasi, UMKM, IKM, pendapatan dari PT Merdeka Copper

(33)

Gold Tbk, serta Pendapatan Badan Layanan Umum yang dilaksanakan oleh Unit BLUD yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan.

b. Dana Perimbangan, dana transfer yang diterima Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang berasal dari Pemerintah Pusat pada Tahun Anggaran 2018 tidak mengalami perubahan seiring dengan tidak adanya perubahan APBN di Pemerintah Pusat. Jumlah Dana Perimbangan dalam APBD Induk Tahun Anggaran 2018 yaitu sebesar Rp. 1.918.404.570.033,00 demikian juga pada Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018 tetap sebesar Rp. 1.918.404.570.033,00 .

c. Lain-lain Pendapatan Yang Sah diproyeksikan mengalami peningkatan 22.569.618.427,22 dari Rp. 534.949.951.152,00 menjadi sebesar Rp. 557.519.569.579,22. Peningkatan proyeksi tersebut berasal dari peningkatan Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah Lainnya serta Dana Bagi Hasil dari Pemerintahan Pusat (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) .

Pada tabel berikut ini disajikan rincian proyeksi pendapatan pada perubahan APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018.

Tabel 2.6 Proyeksi Pendapatan Daerah Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018.

No. U R A I A N Penerimaan Bertambah /Berkurang

Sebelum Perubahan Setelah Perubahan

I Pendapatan AsliDaerah 527.381.378.134,91 589.382.649.666,38 62.001.271.531,47 1 Pajak Daerah 205.679.911.409,76 241.252.156.536,47 35.572.245.126,71 2 Retribusi Daerah 61.855.457.747,54 72.654.234.168,01 10.798.776.420,47 3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 21.965.034.996,47 21.965.034.996,47 0,00

4 Lain-lain PAD yang

Sah 237.880.973.981,14 253.511.223.965,44 15.630.249.984,30 II Dana Perimbangan 1.918.404.570.033,00 1.918.404.570.033,00 0,00 1 Dana Bagi Hasil Pajak

(34)

No. U R A I A N Penerimaan Bertambah /Berkurang Sebelum Perubahan Setelah Perubahan

3 Dana Alokasi Khusus 442.593.443.000,00 442.593.443.000,00 0,00 III Lain-lain PendapatanDaerah Yang Sah 534.949.951.152,00 557.519.569.579,22 22.569.618.427,22 1 Pendapatan Hibah 128.751.117.989,00 128.751.117.989,00 0,00

2

Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintahan daerah lainnya

150.532.440.663,00 157.763.095.090,22 7.230.654.427,22

3 Dana Penyesuaian

dan Otonomi khusus 246.094.506.000,00 246.094.506.000,00 0,00

4

Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya

9.571.886.500,00 9.571.886.500,00 0,00

5 Dana Bagi Hasil dari

Pemerintahan Pusat 0,00 15.338.964.000,00 15.338.964.000,00 TOTAL

PENDAPATAN

DAERAH 2.980.735.899.319,91 3.065.306.789.278,60 84.570.889.958,69

Dalam rangka mendukung upaya – upaya peningkatan penerimaan pendapatan daerah tahun 2018, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menetapkan sejumlah kebijakan terkait dengan pengelolaan pendapatan daerah, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Optimalisasi pendapatan melalui reward and punishment akan

ditempuh untuk optimalisasi penerimaan pajak dan retribusi daerah sebagai sumber pendapatan asli daerah.

Upaya penegakan hukum terhadap pelanggaran Peraturan Daerah yang telah menetapkan tarif pajak dan retribusi daerah, diharapkan dapat menjadi solusi terhadap problem rendahnya kesadaran untuk membayar

(awareness to pay) serta untuk mewujudkan keadilan dalam masyarakat.

Pemberian peringatan hingga penutupan tempat usaha, akan dilakukan sebagai punishment sesuai ketentuan yang berlaku. Kenaikan pajak dan retribusi telah disepakati dalam Perda dan harus dilaksanakan, akan

(35)

digunakan untuk membangun fasilitas umum dan memberikan subsidi kepada masyarakat yang kurang mampu.

2. Optimalisasi sumber-sumber pendapatan melalui upaya intensifikasi dan ekstensifikasi berbasis teknologi informasi.

Penggunaa big data belakangan ini kian popular di kalangan penggiat IT maupun perusahaan berbasis teknologi di seluruh dunia. Hadirnya big data dilatarbelakangi oleh perkembangan dunia internet yang kian hari berkembang pesat. Terlebih lagi masuknya era “smart phone”, membuat internet semakin marak di gunakan oleh lapisan masyarakat.

Seperti diketahui pula bahwa jumlah wajib pajak diinventasir lebih banyak. Berarti masih terdapat potensi untuk pertambahan wajib pajak. Melalui pemanfaatan big data, diyakini pemerintah Kabupaten Banyuwangi akan mendapatkan informasi khususnya mengenai kegiatan ekonomi ekonomi yang dilakukan oleh calon/WP. Informasi tersebut dapat digunakan untuk melakukan profiling data WP berdasarkan pola lokasi, penggunaaan transaksi toko online sampai dengan booking kamar hotel online. Dengan mikian terdapat celah bagi pemerintah daerah untuk mengupayakan ekstensifikasi pajak melalui pemanfaatan big data.

3. Optimalisasi pengelolaan aset daerah dengan manajemen yang profesional.

Pengelolaan aset daerah ke depan di tengah pasar bebas setidaknya mengacu pada tiga hal yaitu pembinaan yang profesional, optimalisasi kontribusi untuk ekonomi daerah, dan pelayanan yang berorientasi terhadap kebutuhan masyarakat. Peran aset daerah menjadi sangat

(36)

strategis dalam berbagai hal terutama mendongkrak ekonomi Kabupaten Banyuwangi.

4. Pelepasan right issue atas kepemilikan saham pada PT. Merdeka Copper Gold Tbk

Berdasarkan hasil RUPSLB yang dilaksanakan oleh PT. Merdeka Copper Gold Tbk pada tanggal 21 Mei 2018, pemegang saham perseroan menyetujui rencana ekspansi serta peningkatan modal ditempatkan dan modal disetor Perseroan dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Selanjutnya PT. Merdeka Copper Cold Tbk mengadakan Penawaran Umum Terbatas I (PUT I) Kepada Pemegang Saham Dalam Rangka Penerbitan HMETD. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai pemegang saham sebesar 6,42 persen, memiliki beberapa opsi terkait dengan adanya penawaran tersebut. Berdasarkan pertimbangan atas keterbatasan penyediaan anggaran pada tahun 2018 dan alokasi waktu yang disediakan pada saat proses PUT I maka opsi terbaik bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi adalah melepas right issue tersebut. Kondisi saat ini yang dialami oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terkait pelepasan right issue tersebut adalah penurunan persentase kepemilikan saham, yang semula sebesar 6,42% menjadi 5,59%. Berdasarkan perhitungan teoritis nilai HTEMD, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendapatkan keuntungan sebesar Rp.3.426.406.515,00 berdasarkan harga pasar negosiasi yang berlaku pada saat perdagangan efek.

(37)

2.3 Perubahan Kebijakan Belanja Daerah

Kebijakan pengetatan belanja daerah, dilakukan melalui efisiensi maksimal belanja yang tidak prioritas. Belanja diarahkan sebagai langkah “defence mechanism”, upaya bertahan untuk tetap menjaga keberlangsungan pelayanan publik, perlindungan sosial, pemeliharaan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta sektor prioritas strategis lainnya. Untuk itu beberapa rencana perlebaran jalan, peningkatan ruang terbuka hijau, dan pembangunan berbagai fasilitas publik lainnya, dengan terpaksa harus dipending karena terbatasnya kapasitas fiskal. Mengingat kondisi ekonomi global dan domestik yang terjadi hingga pertengahan 2018 masih banyak memberikan tekanan terhadap perekonomian dan kondisi fiskal Kabupaten Banyuwangi, sehingga Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berupaya dengan segenap sumberdaya untuk melakukan penyesuaian dengan tetap berkomitmen untuk terus berupaya melanjutkan pembangunan serta perbaikan iklim investasi sehingga memberi kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018.

Belanja daerah penganggarannya disusun berdasarkan prestasi kerja yaitu anggaran disusun berdasarkan atas target kinerja yang ditetapkan dengan tetap berlandaskan pada azas umum pengelolaan keuangan daerah yaitu tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efesien, ekonomis, transparan dan bertanggungjawab serta memperhatikan azas keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat. Target prioritas dimaksudkan sebagai panduan dalam meraih kondisi yang diinginkan dalam jangka panjang. Namun demikian tidak semua target indikator yang akan

(38)

Kabupaten, dapat juga dari Pemerintah Propinsi atau Pemerintah pusat serta dari pihak swasta atau dari perbankan.

Peningkatan kualitas belanja daerah diharapkan tidak hanya penyesuaian terhadap harga satuan karena inflasi sehingga nilai harga satuan barang meningkat namun diharapkan adanya inovasi terhadap peningkatan jenis kegiatan dan volume kegiatan. Peningkatan jenis kegiatan menunjukkan adanya peningkatan daya kreatifitas dan inovasi pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. Volume kegiatan menunjukkan meningkatnya coverage (luasan) sasaran kegiatan untuk meningkatkan aksesibilitas (keterjangkauan) masyarakat sehingga pembangunan dapat dirasakan secara merata pada seluruh lapisan dan seluruh wilayah masyarakat di Kabupaten Banyuwangi. Kesinambungan dari program kegiatan diharapkan bukan suatu rutinitas yang akan menghambat kreatifitas akan tetapi merupakan beban tanggungjawab pemerintah daerah dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Rutinitas yang dilakukan diharapkan juga dapat menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang sehingga tidak terjadi stagnasi dalam pelaksanaan pembangunannya.

Setiap item belanja daerah dilaksanakan dalam rangka pencapaian target indikator sebagaimana yang ditetapkan dalam RKPD Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 yang pada hakekatnya adalah penjabaran dari Visi dan Misi Kabupaten Banyuwangi. Target indikator dimaksud berfungsi sebagai panduan dalam meraih kondisi yang diinginkan. Namun demikian tidak semua target indikator yang akan diraih tersebut harus mendapat penyediaan

(39)

anggaran dari Pemerintah Kabupaten, dapat juga dari Pemerintah Provinsi atau Pemerintah pusat serta dari pihak swasta atau dari perbankan.

Penyesuaian besaran target kinerja pada tahun 2018, seiring dengan penyesuaian besaran alokasi anggaran dengan tetap memperhatikan peningkatan harapan dan tuntutan masyarakat guna peningkatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat. Penyesuaian alokasi anggaran belanja daerah dilakukan antara lain dengan penyesuaian terhadap harga satuan karena inflasi sehingga nilai harga satuan barang dengan tetap menjaga inovasi terhadap peningkatanjenis kegiatan dan volume kegiatan.

Belanja daerah diarahkan pada peningkatan proporsi belanja yang memihak kepentingan publik terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar, disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efesiensi, efektivitas dan ekonomis sesuai dengan prioritas, yang diharapkan dapat memberikan dukungan program-program startegis.

Adapun kebijakan belanja daerah Kabupaten Banyuwangi pada Tahun Anggaran 2018, antara lain adalah :

1. Mengalokasikan anggaran-anggaran sisa lelang untuk kegiatan-kegiatan prioritas yang belum terlaksana dan untuk memanfaatkan surplus anggaran.

2. Perubahan alokasi anggaran dari kegiatan-kegiatan yang tidak dapat terealisasikan di tahun 2018 untuk dialihkan ke kegiatan prioritas lainnya. 3. Mengalokasikan anggaran untuk kegiatan rutin/wajib yang belum

(40)

Belanja Daerah pada perubahan APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018 diproyeksikan sebesar Rp. 2.884.548.406.734,60 atau turun sebesar Rp. (125.187.492.585,31), mengalami perubahan seiring dengan perubahan pada proyeksi pendapatan dan pembiayaan daerah. Perubahan belanja daerah dimaksud dilakukan dengan cara mengalokasikan pada belanja tidak langsung yang tersebar dalam belanja pegawai, belanja hibah, belanja bantuan sosial dan belanja bantuan keuangan kepada pemerintahan desa dan belanja langsung yang dipergunakan untuk belanja pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal. Serta pengeluaran pembiayaan daerah yang dipergunakan untuk pembayaraan terhadap beberapa hal yang menjadi kewajiban pemerintah daerah.

Sebagaimana terdapat dalam Kebijakan umum APBD Tahun Anggaran 2018 bahwa belanja daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penangannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.

Setiap item belanja daerah dilaksanakan dalam rangka pencapaian target indikator sebagaimana yang ditetapkan dalam RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun 2016 – 2021 yang pada hakekatnya adalah penjabaran dari Visi dan Misi Kepala Daerah atau Pemerintah Daerah. Target indikator dimaksud berfungsi sebagai panduan dalam meraih kondisi yang diinginkan. Namun demikian tidak semua target indikator yang akan diraih tersebut harus

(41)

mendapat penyediaan anggaran dari Pemerintah Kabupaten, dapat juga dari Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Pusat serta dari pihak swasta.

Selanjutnya dalam rangka sinkronisasi pelaksanaan program kegiatan yang mana indikator capaian program kegiatan telah ditetapkan maka diperlukan kearifan bersama dalam mencermati masing-masing program kegiatan sehingga terdapat simpul kegiatan yang saling menunjang dan melengkapi intern dan ekstern Perangkat Daerah sehingga secara simultan target indikator yang telah ditetapkan dapat tercapai atau bahkan dapat melampaui dari target yang telah ditetapkan.

Perubahan belanja daerah baik belanja tidak langsung maupun belanja langsung sebagaimana dalam permendagri Nomor 13 Tahun 2006 beserta perubahannya dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :

a. Penambahan kegiatan baru yang bersumber dana dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi dengan ketentuan pelaksanaannya yang sudah ditetapkan (spesifik grant) yang dilakukan dengan cara mencatat untuk dimasukkan dalam Perubahan APBD oleh karena kegiatan dimaksud telah ditetapkan ditetapkan pelaksanaan melalui Peraturan Kepala Daerah mendahului Peraturan Daerah.

b. Penambahan kegiatan baru yang bersumber dana dari APBD yang menurut urgensinya cukup penting dan merupakan kebutuhan dalam meningkatkan kinerja Perangkat Daerah dalam menunjang pencapaian target indikator yang telah ditetapkan. Kegiatan baru dimaksud dapat dilaksanakan dengan catatan dari aspek waktu dan tahapan pelaksanaan secara teknis dan kurun waktu pelaksaan mencukupi.

(42)

c. Melakukan pergeseran belanja antar unit organisasi, antar program kegiatan dan antar jenis belanja guna meningkatkan efektifitas kegiatan dan merupakan salah satu upaya efesiensi.

d. Penjadwalan ulang terhadap program kegiatan yang sudah dipastikan tidak dapat dilaksanakan atau secara teknis sudah dilakukan dengan sumber pendanaan dari kegiatan yang lain. Penjadwalan program kegiatan dimaksudkan dalam upaya efektifitas dan efesiensi pelaksanaan belanja sehingga anggaran yang tersedia dapat termanfaatkan guna mendapatkan capaian program,output dan outcome yang lebih mantap.

2.4 Perubahan Kebijakan Pembiayaan Daerah

Pembiayaan daerah adalah semua transaksi keuangan untuk menutup kondisi defisit atau untuk memanfaatkan surplus dalam APBD. Kebijakan umum Pembiayaan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi adalah kebijakan keberlanjutan dan efisiensi pembiayaan, yang dilakukan melalui pengendalian defisit belanja dan penerimaan daerah. Pembiayaan daerah meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus, apabila APBD dalam keadaan surplus, maka kebijakan yang diambil adalah melakukan transfer ke persediaan ke Kas Daerah dalam bentuk Giro, Deposito, Penyertaan Modal atau pembentukan dana cadangan untuk tujuan tertentu atau pemberian pinjaman daerah. Apabila APBD dalam keadaan defisit maka kebijakan yang dilaksanakan adalah memanfaatkan penerimaan pembiayaan secara optimal seperti Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya (SILPA), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, dan penerimaan

(43)

piutang daerah. Sedangkan apabila APBD mengalami surplus tidak selalu berarti daerah tersebut memiliki kelebihan kas, namun hal tersebut terjadi karena anggaran pendapatan daerah lebih besar dari anggaran belanja daerah. Surplus anggaran pendapatan tersebut dapat dianggarkan oleh daerah untuk pembayaran pokok utang, penyertaan modal (investasi) daerah, pemberian pinjaman kepada pemerintah pusat/daerah lain, dan pembentukan dana cadangan (misalnya : untuk dana Pilkada, untuk pembangunan infrastruktur).

Kebijakan penerimaan pembiayaan yang dilaksanakan dalam rangka peningkatan anggaran daerah sebagai salah satu sumber pembiayaan belanja daerah dan belanja pembiayaan sehingga terdapat keseimbangan antara belanja dan pendapatan. Sumber penerimaan pembiayaan pada perubahan APBD Tahun Anggaran 2018 berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SILPA) dianggarkan dan dicatat secara definitif berdasarkan pada hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK-RI) Perwakilan Surabaya dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018. Besarnya Sisa lebih Perhitungan Tahun Anggaran 2018 sebelum hasil audit BPK adalah sebesar Rp. 29.000.000.000,00 . Besarnya Sisa lebih Perhitungan Tahun Anggaran 2018 Hasil Audit BPK RI Perwakilan Surabaya sebesar Rp. 38.102.160.824,65 . Sehingga terdapat selisih SILPA dalam APBD Perubahan Tahun Anggaran 2018 yaitu sebesar Rp. 9.102.160.824,65 . Selisih lebih atas proyeksi SILPA tersebut sebagian besar merupakan anggaran yang harus dijadwalkan untuk melaksanakan pembayaran pokok utang. Anggaran sesuai

(44)

yang berlaku harus dianggarkan kembali dengan mengunakan petunjuk teknis yang berlaku pada tahun berkenaan.

Kebijakan pengeluaran pembiayaan dilaksanakan dengan tujuan tertentu sehingga terdapat keseimbangan antara pendapatan dan belanja daerah. Tujuan tertentu sebagaimana tersebut diatas antara lain adalah untuk penyediaan anggaran untuk kegiatan yang dilaksanakan pada tahun anggaran berikutnya dan untuk peningkatan pendapatan daerah melalui penyertaan (investasi) pemerintah daerah serta untuk memenuhi pembayaran pokok utang yang telah sesuai dengan waktu dan besaran yang telah ditetapkan.

Terdapat koreksi atau penjadwalan atas pengeluaran pembiayaan yaitu semula dianggarkan untuk penggantian atas proses pengadaan pakaian dinas, mengingat proses administrasi dan regulasi yang mengatur tentang pengeluaran pembiayaan dimaksud belum sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah maka guna efektifitas pemanfaatan anggaran kegiatan pengeluaran pembiayaan untuk kegiatan dimaksud ditunda.

Dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan sebagaimana terdapat diatas akan didapatkan pembiayaan netto yang merupakan kondisi surplus atau defisit dari pembiayaan daerah. Selanjutnya kondisi surplus atau defisit pembiayaan daerah dihadapkan pada kondisi surplus atau defisit pada perbandingan antara pendapatan daerah dan belanja daerah sehingga pada akhirnya didapatkan keseimbangan dalam APBD. Proses penganggaran pembiayaan daerah dilaksanakan dengan tidak menganggarkan hutang daerah, walaupun dalam ketentuan pemerintah daerah dapat melakukan hutang dengan mempertimbangkan masa jabatan kepala daerah.

(45)

Tabel 2.8. Proyeksi Pembiayaan Daerah Perubahan APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Anggaran 2018

No URAIAN Pembiayaan Bertambah /berkurang

Sebelum Perubahan Setelah Perubahan

1 2 3 4 5 PEMBIAYAAN NETTO 29.000.000.000,00 (180.758.382.544,00) (209.758.382.544,00) I PenerimaanPembiayaan Daerah 279.000.000.000,00 256.962.704.193,30 (22.037.295.806,70) 1.1 Sisa Lebih Perhitungan Tahun Anggaran Sebelumnya (SILPA) 29.000.000.000,00 38.102.160.824,65 9.102.160.824,65

1.2 PenerimaanKembali Pinjaman 250.000.000.000,00 218.860.543.368,65 (31.139.456.631,35)

1.3 Penerimaan PiutangDaerah - -

-II PengeluaraanPembiayaan

Daerah 250.000.000.000,00 437.721.086.737,30 187.721.086.737,30 2.1 Penyertaan Modal(investasi)

Pemerintah Daerah

0,00 0,00 0,00

2.2 Pembayaran PokokUtang 250.000.000.000,00 437.721.086.737,30 187.721.086.737,30

2.3 PengeluaranKepada Pihak ketiga

- -

-2.4 PembayaranKelebihan penerimaan Dana

(46)

BAB III PENUTUP

Demikian Kebijakan Umum Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2018 ini dibuat untuk menjadi pedoman dalam penyusunan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS) Perubahan APBD Tahun 2018 dan Rancangan Perubahan APBD Tahun Anggaran 2018.

Jika dalam penyusunan PPAS Perubahan APBD Tahun 2018 terdapat kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta hasil pembahasan bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyuwangi yang belum tercantumkan dalam Kebijakan Umum Perubahan APBD Tahun 2018 tetapi mengakibatkan perubahan pada Kebijakan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan, maka akan dilakukan penyesuaian sebagaimana ketentuan perundangan yang berlaku.

Gambar

Tabel 2.2. Pertumbuhan PDRB (ADHK) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 – 2018*
Tabel 2.3 Distribusi PDRB (ADHB) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016-2018*
Tabel 2.4 PDRB (ADHK) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016-2018*
Tabel 2.5 Laju Inflasi Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015-2018
+3

Referensi

Dokumen terkait

Wilayah yang dikaji dalam penelitian ini adalah seluruh Wilayah Kecamatan Telanaipura Kota Jambi Provinsi Jambi yang terdiri atas 11 kelurahan, yakni: Kelurahan Telanaipura,

Dari hasil analisis didapatkan sinyal sinus murni adalah sinyal modulasi yang optimum untuk meminimisasi riak arus keluaran inverter PWM multifasa dengan ggl beban

Program Upaya Kesehatan Masyarakat terdiri dari 1 kegiatan dengan realisasi fisik mencapai 100%... RLPPD Provinsi Lampung Tahun 2019 II.19..

Kebijakan Umum APBD (KUA) dan rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang disepakati bersama antara Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat

Pada multifragmentary complex fracture tidak terdapat kontak antara fragmen proksimal dan distal setelah dilakukan reposisi. Complex spiral fracture terdapat dua atau

Dalam bilik darjah, terdapat pelbagai sudut pembelajaran dan aktiviti yang dapat membantu perkembangan intelek murid seperti sudut boneka, kognitif, kinestetik serta sudut

Berdasarkan tabel 10, rasio pelanggaran yang bernilai 0 menunjukan bahwa perhitungan VaR dengan metode simulasi Monte Carlo dapat digunakan pada semua nilai probabilitas

Gangguan pendengaran disebabkan oleh pertumbuhan abnormal dari spongy bone-like tissue yang menghambat tulang- tulang di telinga tengah, terutama stapes untuk