• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL SIB 01 : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODUL SIB 01 : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PEKERJAAN

PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE

(INSPEKTUR LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN)

MODUL

SIB – 01 : KESELAMATAN DAN

KESEHATAN KERJA

(2)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

-i-KATA PENGANTAR

Pekerjaan Konstruksi adalah suatu pekerjaan yang mempunyai resiko tinggi. Berbagai proyek dengan skala besar mempunyai potensi rawan kecelakaan terutama pada saat pelaksanaan. Untuk itu diperlukan ketentuan dan pedoman tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja agar kecelakaan kerja dapat dibuat seminimal mungkin.

Bentuk kecelakaan bidang konstruksi antara lain terpeleset jatuh dari lantai yang lebih tinggi, kena benda jatuh dari atas, terpukul, kena benda tajam, terbakar, kena aliran listrik, terbakar, kekurangan oksigen dan sebagainya. Yang semuanya mengakibatkan beberapa bagian tubuh pekerja kurang atau tidak berfungsi secara maksimal. Hal ini jelas akan mengakibatkan berkurangnya produktivitas pelaksana bidang kosntruksi.

Penyebab utama kecelakaan secara umum terdiri dari 2 kelompok yaitu pertama faktor manusia dan kedua adalah factor konstruksi, alat dan lingkungan. Sebagai contoh, beberapa sifat manusia seperti emosional, kejenuhan, kecerobohan, kelengahan adalah menjadi penyebab utama kecelakaan.

Modul keselamatan dan kesehatan Kerja ini memberikan pokok-pokok ketentuan hukum yang berkaitan dengan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja bidang konstruksi dan ketentuan administrasi serta ketentuan teknik yang harus dipenuhi oleh setiap pelaksana yang bergerak bidang konstruksi

Secara umum disajikan pula pola pelaksanaan dan pengawasan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja, termasuk proses evaluasi melalui audit internal dalam bentuk yang praktis seperti lembaran daftar simak, sehingga memudahkan implementasinya bagi pelaksana konstruksi.

(3)
(4)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

-iii-LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN

: Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan

Jembatan (Site Inspector of Bridge)

MODEL PELATIHAN

: Lokakarya terstruktur

TUJUAN UMUM PELATIHAN :

Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan pengawasan dan perlaporan pekerjaan konstruksi jembatan untuk memastikan kesesuaian dengan rencana, metode kerja dan dokumen kontrak.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :

Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:

1. Mengawasi pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2. Membaca Data Geoteknik

3. Mengawasi penggunaan Bahan Jembatan 4. Membaca Gambar

5. Mengawasi penggunaan Alat-alat Berat

6. Mengawasi pelaksanaan Pengukuran dan Pematokan 7. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Tanah

8. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Beton

9. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jembatan

10. Mengawasi pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas

11. Mengawasi pelaksanaan Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan 12. Membuat Laporan Pengawasan Pekerjaan

(5)

NOMOR MODUL : SIB – 01

JUDUL MODUL : KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu mengimplementasikan materi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta mampu melakukan kegiatan K3 mulai persiapan dan pelaksanaan serta pengawasan proyek

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Pada akhir pelatihan peserta mampu :

1. Menjelaskan landasan hukum kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja

2. Menjelaskan ketentuan administratif 3. Menjelaskan ketentuan teknis

4. Menjelaskan alat pelindung diri

5. Menjelaskan kecelakan kerja pada pekerjaan jalan 6. Menjelaskan pemadaman kebakaran

(6)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

-v-DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR i LEMBAR TUJUAN ii DAFTAR ISI iv

DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN

MODUL PELATIHAN

INSPEKTOR LAPANGAN

PEKERJAAN JEMBATAN (Site

Inspector of Bridge) vi

DAFTAR MODUL vii

PANDUAN INSTRUKTUR viii

BAB I : LATAR BELAKANG DAN LANDASAN HUKUM K3 I-1

1.1. Latar Belakang I-1

1.2. Ketentuan Hukum yang berlaku di Indonesia I-1

BAB II : KETENTUAN ADMINISTRATIF II-1

2.1 Kewajiban Umum II-1

2.2 Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja II-1

2.3 Laporan Kecelakaan II-2

2.4 Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama Pada

Kecelakaan II-2

2.5 Pembiayaan Keselamatan dan Kesehatan kerja II-4

BAB III : KETENTUAN TEKNIS III-1

3.1 Tempat Kerja dan Peralatan III-1

3.2 Pencegahan Terhadap Kebakaran dan alat pemadam

kebakaran III-2

3.3 Alat Pemanas (Heating Appliances) III-3

3.4 Bahan-bahan yang mudah terbakar III-3

3.5 Inspeksi dan pengawasan III-3

3.6 Perlengkapan, Peringatan III-4

3.7 Perlindungan terhadap benda-benda jatuh dan bagian

bangunan yang roboh III-4

3.8 Perlindungan agar orang tidak jatuh/Terali Pengaman

dan pinggir Pengaman III-4

3.9 Lantai Terbuka, Lubang pada Lantai III-5

3.10 Lubang pada dinding III-5

3.11 Tempat-tempat Kerja Yang Tinggi III-6

3.12 Pencegahan terhadap Bahaya Jatuh Ke dalam Air III-6

3.13 Kebisingan dan Getaran (Vibrasi) III-6

3.14 Penghindaran Terhadap Orang yang Tidak Berwenang III-6 3.15 Struktur Bangunan dan Peralatan. Konstruksi Bangunan III-7

(7)

3.16 Pemeriksaan, Pengujian pemeliharaan III-7

3.17 Perlengkapan Keselamatan Kerja III-8

BAB IV : ALAT PELINDUNG DIRI (APD) IV-1

4.1 Jenis Alat Perlindungan Diri IV-1

4.2 Masalah Umum APD IV-1

4.3 Masalah Pemakaian Apd Secara Umum IV-1

4.4 Masalah Khusus APD IV-2

BAB V : KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJAAN JALAN V-1

5.1 Faktor Manusia V-1

5.2 Faktor peralatan dan lingkungan V-1

5.3 Kecelakaan yang umum terjadi dan upaya

pencegahannya V-1

BAB VI : PEMADAMAN KEBAKARAN VI-1

6.1 Umum VI-1

6.2 Timbulnya Kebakaran VI-1

6.3 Klasifikasi Kebakaran VI-2

6.4. Menghadapi Bahaya Kebakaran VI-2

6.5 Peralatan Pemadam Kebakaran VI-4

BAB VII : PENGAWASAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN

KESEHATAN KERJA VII-1

7.1 Umum VII-1

7.2. Aspek Penting Dalam Keselamatan Kerja Konstruksi VII-2 7.3. Keselamatan Kerja Konstruksi Dalam Manajemen Proyek VII-4 7.4. Pengawasan Pelaksanaan Keselamatan Dan Kesehatan

Kerja Konstruksi VII-4

RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT

(8)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

-vii-DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL

PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN

JEMBATAN (Site Inspector of Bridge)

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja

Inspektor

Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge)

dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan

Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge)

unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.

2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.

3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan

Inspektor Lapangan

Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge)

.

(9)

DAFTAR MODUL

Jabatan Kerja : Site Inspector of Bridge (SIB)

Nomor

Modul Kode Judul Modul

1

SIB – 01 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2 SIB – 02 Membaca Data Geoteknik 3 SIB – 03 Bahan Jembatan

4 SIB – 04 Membaca Gambar 5 SIB – 05 Alat Berat

6 SIB – 06 Pengukuran dan Pematokan 7 SIB – 07 Pekerjaan Tanah

8 SIB – 08 Pekerjaan Beton

9 SIB – 09 Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan 10 SIB – 10 Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas 11 SIB – 11 Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan

(10)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

-ix-PANDUAN INSTRUKTUR

A. BATASAN

NAMA PELATIHAN : Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge )

KODE MODUL : SIB-01

JUDUL MODUL : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DESKRIPSI : Modul ini membahas landasan hukum kegiatan

keselamatan dan kesehatan kerja; ketentuan administratif; ketentuan teknis; alat pelindung diri; kecelakan kerja pada pekerjaan jalan; pemadaman kebakaran; pengawasan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja untuk pelatihan Inspektur Lapangan Pekerjaan Jalan.

TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya. WAKTU PEMBELAJARAN : 2 (Dua) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit)

(11)

B. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

1. Ceramah : Pembukaan

 Menjelaskan tujuan instruksional (TIU dan TIK)

 Merangsang motivasi peserta de-ngan pertanyaan ataupun penga-lamannya dalam melakukan pe-kerjaan jembatan

Waktu : 5 menit

 Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif

 Latar Belakang K3  Ketentuan Hukum yang

berlaku di Indonesia  Mengajukan pertanyaan

a-pabila ada yang kurang jelas

OHT.

2. Ceramah : Bab II, Ketentuan Administratif

Memberikan uraian dan bahasan mengenai :

1. Kewajiban umum

2. Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja

3. Laporan kecelakaan

4. Keselamatan kerja dan pertolongan pertama pada kecelakaan

5. Pembiayaan keselamatan dan kesehatan kerja

Waktu : 10 menit

 Mengikuti penjelasan atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif

 Mengajukan pertanyaan a-pabila ada yang kurang jelas

OHT.

3. Ceramah : Bab III, Ketentuan Teknis

Memberikan penjelasan, uraian ataupun bahasan mengenai :

1. Tempat kerja dan peralatan

2. Pencegahan terhadap kebakaran dan alat pemadam kebakaran

3. Alat pemanas (heating appliances)

 Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif  Mengajukan pertanyaan

a-pabila ada yang kurang jelas

(12)

Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)

-xi-Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung

konstruksi bangunan. 17. Pemeriksaan dan pengujian

pemeliharaan Waktu : 15 menit

4. Ceramah : Bab IV, Alat pelindung diri (APD)

Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :

1. Jenis APD 2. Masalah umum

3. Masalah pemakaian APD secara umum

4. Masalah khusus APD

Waktu : 15 menit

 Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif  Mengajukan pertanyaan

a-pabila ada yang kurang jelas

OHT.

5. Ceramah : Bab V, Kecelakaan kerja pada pekerjaan jalan

Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :

1. Faktor manusia

2. Faktor peralatan dan lingkungan 3. Kecelakaan yang umum terjadi dan

upaya pencegahannya Waktu : 15 menit

 Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif  Mengajukan pertanyaan

a-pabila ada yang kurang jelas

OHT.

6. Ceramah : Bab VI, Pemadam Kebakaran

Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :

1. Timbulnya kebakaran 2. Klasifikasi kebakaran

3. Menghadapi bahaya kebakaran 4. Alat pemadam kebakaran

Waktu : 15 menit

 Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif  Mengajukan pertanyaan

a-pabila ada yang kurang jelas

OHT.

7. Ceramah : Bab VII, Pengawasan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja

Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :

1. Umum

2. Aspek penting dalam keselamatan kerja konstruksi

3. Keselamatan kerja konstruksi dalam manajemen proyek

4. Pengawasan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi

Waktu : 15 menit

 Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif  Mengajukan pertanyaan

a-pabila ada yang kurang jelas

(13)
(14)

BAB IV

ALAT PELINDUNG DIRI (APD)

4.1

JENIS ALAT PERLINDUNGAN DIRI

 Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari

benturan benda keras selama mengoperasikan atau memelihara AMP.

 Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan

terpeleset karena licin atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.

 Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk

melindungi mata pada lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.

 Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup

rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai.

 Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan

dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya.

 Alat pelindung telinga, digunakan untuk melindungi telingan dari kebisingan yang

ditimbulkan dari pengoperasian peralatan kerja.

4.2 MASALAH UMUM APD

 Adanya APD yang tidak melalui pengujian laboratorium, sehingga tidak diketahui

derajat perlindungannya atau tidak memenuhi ketentuan keselamatan.

 Pekerja merasa tidak nyaman dan kadang-kadang pemakai merasa terganggu.  Terdapat kemungkinan menimbulkan bahaya baru atas penggunaan APD  Pengawasan terhadap keharusan penggunaan APD sangat lemah.

 Kewajiban untuk memelihara APD yang menjadi tanggung jawab perusahaan sering

dialihkan kepada pekerja.

4.3 MASALAH PEMAKAIAN APD SECARA UMUM

 Pekerja tidak mau memakai APD dengan alasan:

 Yang bersangkutan tidak mengerti atas maksud keharusan pemakaian APD.

 Pemakaian APD dirasakan pekerja tidak nyaman seperti panas, sesak dan tidak memenuhi nilai keindahan

 Pekerja merasa terganggu dalam melaksanakan pekerjaan.

Gambar 4.1. Alat Perlindungan Diri

(15)

 Jenis APD yang dipakai tidak sesuai dengan jenis bahaya yang dihadapi.

 Tidak dikenakan sanksi terhadap pekerja yang tidak memakai APD

 Atasannya juga tidak memakai APD tanpa dikenakan sanksi.

 Perusahaan tidak menyediakan APD dengan alasan:

 Perusahaan tidak mengerti adanya ketentuan pemakaian APD.

 Rendahnya kesadaran perusahaan atas pentingnya K3 dan secara sengaja melalaikan kewajibannya untuk menyediakan APD.

 Perusahaan merasa sia-sia menyediakan APD, karena pada akhirnya APD tidak dipakai oleh pekerja.

 Jenis APD yang disediakan oleh perusahaan tdak sesuai dengan jenis bahaya yang

dihadapi pekerja

 Perusahaan mengadakan APD hanya sekedar memenuhi persyaratan formal tanpa

mempertimbangkan kesesuaiannya dengan maksud pemakaiannya.

4.4 MASALAH KHUSUS APD

Masker

 Sering ditemukan adanya kerusakan atau sumbatan pada filter

 Pemakaian alat ini dirasakan tidak nyaman oleh pekerja.

 Pemakaian alat ini menimbulkan efek psikologis dan kecemasan terhadap pemakainya dan meningkatkan beban kerja pada jantung dan hati.

 Pemakai alat ini harus menghirup udara yang dihembuskannya.

 Pemakaian alat ini menimbulkan kesulitan berkomunikasi pada pemakainya.

 Cara pemakaiannya kurang tepat seperti longgarnya/lepasnya tali pengikat sehingga pengamanan terhadap pemakainya kurang berdaya guna.

(16)

 Sering menyebabkan adanya bahan kimia tertentu tanpa diketahui pemakainya yang mungkin membahayakan pemakainya.

Kaca Mata Keselamatan

 Dapat membatasi pandangan pemakainya.

 Adanya noda, kabut dan goresan kecil pada kaca yang mengakibatkan kaburnya pandangan pemakainya.

 Alat ini menimbulkan kesulitan pada pemakainya untuk melihat kerusakan secara visual.

 Kondisi kacamata yang tidak baik sering menimbulkan kemungkinan benda masuk dari samping

(17)

RANGKUMAN

Pengaturan terkait dengan aspek legal, administrative dan teknis operasional atas seluruh kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja bidang konstruksi.

Masalah umum APD

 Adanya APD yang tidak melalui pengujian laboratorium, sehingga tidak diketahui derajat perlindungannya atau tidak memenuhi ketentuan keselamatan.

 Pekerja merasa tidak nyaman dan kadang-kadang pemakai merasa terganggu.  Terdapat kemungkinan menimbulkan bahaya baru atas penggunaan APD  Pengawasan terhadap keharusan penggunaan APD sangat lemah.

 Kewajiban untuk memelihara APD yang menjadi tanggung jawab perusahaan sering dialihkan kepada pekerja.

Masalah pemakaian APD secara umum

 Pekerja tidak mau memakai APD dengan alasan:

o Yang bersangkutan tidak mengerti atas maksud keharusan pemakaian APD. o Pemakaian APD dirasakan pekerja tidak nyaman seperti panas, sesak dan tidak

memenuhi nilai keindahan

o Pekerja merasa terganggu dalam melaksanakan pekerjaan.

o Jenis APD yang dipakai tidak sesuai dengan jenis bahaya yang dihadapi. o Tidak dikenakan sanksi terhadap pekerja yang tidak memakai APD o Atasannya juga tidak memakai APD tanpa dikenakan sanksi.

 Perusahaan tidak menyediakan APD dengan alasan:

o Perusahaan tidak mengerti adanya ketentuan pemakaian APD.

o Rendahnya kesadaran perusahaan atas pentingnya K3 dan secara sengaja

melalaikan kewajibannya untuk menyediakan APD.

(18)

Dalam kondisi apapun kebakaran ini harus diatasi sesuai dengan prosedur, baik dilakukan perorangan dengan alat pemadam kebakaran atau unit khusus pemadam kebakaran.

Untuk mengatasi keadaan tersebut, setiap operator perlu dibekali dengan pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran sehingga dapat menghadapi kebakaran dengan benar sesuai prosedur, dilakukan dengan tenaga (tidak panik) dan dapat melakukan pemberitahuan/pelaporan ke unit terkait secara tepat (dinas kebakaran, rumah sakit, poliklinik, dan lain-lain).

Di dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi, banyak pihak yang terlibat, namun yang paling bertangguyng jawab dalam pelaksanaan K-3 tersebut adalah pihak kontraktor, karen pihaknyalah yang secara langsung melaksanakan pekerjaan konstruksinya dan secara langsung melaksanakan manajemen keselamatan kerja.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja konstruksi antar lain:  Pelaku-pelaku konstruksi;

 Material konstruksi;  Peralatan konstruksi;  Metode pelaksanaan;  Desain struktur.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

1. Asiyanto, Ir.,MBA, IPM, Manajemen Produksi Untuk Jasa Konstruksi, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 2005

2. Santosa, Gempur, Dr.,Drs.,M.Kes., Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, September 2004.

3. Suardi, Rudi, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Penerbit PPM, Jakarta, 2005.

4. , Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: Kep.174/Men/86 dan 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan Konstruksi. 5. , Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor

Referensi

Dokumen terkait

Kode etik pengelolaan perikanan bertanggung jawab ini pada prinsipnya mengamanahkan beberapa hal penting kepada negara pengguna sumberdaya ikan, yakni: harus

uku#Petunjuk#Pelaksanaan#Penyelenggaraan#Pelatihan#Jarak#Jauh#(Distance# Learning)# merupakan# salah# satu# pedoman# penyelenggaraan# pelatihan# konstruksi# bagi# Manager(

kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan berbeda dengan penelitian Kartikasari (2016) yang menunjukkan bahwa kepemilikan institusional

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif pada kinerja SKPD, budaya organisasi berpengaruh positif pada kinerja SKPD,

Salah satu moda transportasi yang digunakan pada masanya yaitu bergantung dengan menggunakan hewan tunggangan, seperti sapi, kerbau, gajah tapi hewan tunggangan

Bila hanya berpegang pada gejala atau tanda klinis, akan lebih sulit untuk menegakkan diagnosis demam tifoid pada anak, terutama pada penderita yang lebih muda,

Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan penerapan strategi Team Quiz dalam meningkatkan pemahaman teks pada mahasiswa Semester Lima jurusan Bahasa Inggris