PEKERJAAN
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE
(INSPEKTUR LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN)
MODUL
SIB – 01 : KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)
-i-KATA PENGANTAR
Pekerjaan Konstruksi adalah suatu pekerjaan yang mempunyai resiko tinggi. Berbagai proyek dengan skala besar mempunyai potensi rawan kecelakaan terutama pada saat pelaksanaan. Untuk itu diperlukan ketentuan dan pedoman tentang Keselamatan dan Kesehatan kerja agar kecelakaan kerja dapat dibuat seminimal mungkin.
Bentuk kecelakaan bidang konstruksi antara lain terpeleset jatuh dari lantai yang lebih tinggi, kena benda jatuh dari atas, terpukul, kena benda tajam, terbakar, kena aliran listrik, terbakar, kekurangan oksigen dan sebagainya. Yang semuanya mengakibatkan beberapa bagian tubuh pekerja kurang atau tidak berfungsi secara maksimal. Hal ini jelas akan mengakibatkan berkurangnya produktivitas pelaksana bidang kosntruksi.
Penyebab utama kecelakaan secara umum terdiri dari 2 kelompok yaitu pertama faktor manusia dan kedua adalah factor konstruksi, alat dan lingkungan. Sebagai contoh, beberapa sifat manusia seperti emosional, kejenuhan, kecerobohan, kelengahan adalah menjadi penyebab utama kecelakaan.
Modul keselamatan dan kesehatan Kerja ini memberikan pokok-pokok ketentuan hukum yang berkaitan dengan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja bidang konstruksi dan ketentuan administrasi serta ketentuan teknik yang harus dipenuhi oleh setiap pelaksana yang bergerak bidang konstruksi
Secara umum disajikan pula pola pelaksanaan dan pengawasan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja, termasuk proses evaluasi melalui audit internal dalam bentuk yang praktis seperti lembaran daftar simak, sehingga memudahkan implementasinya bagi pelaksana konstruksi.
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)
-iii-LEMBAR TUJUAN
JUDUL PELATIHAN
: Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan
Jembatan (Site Inspector of Bridge)
MODEL PELATIHAN
: Lokakarya terstruktur
TUJUAN UMUM PELATIHAN :
Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan pengawasan dan perlaporan pekerjaan konstruksi jembatan untuk memastikan kesesuaian dengan rencana, metode kerja dan dokumen kontrak.
TUJUAN KHUSUS PELATIHAN :
Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu:
1. Mengawasi pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2. Membaca Data Geoteknik
3. Mengawasi penggunaan Bahan Jembatan 4. Membaca Gambar
5. Mengawasi penggunaan Alat-alat Berat
6. Mengawasi pelaksanaan Pengukuran dan Pematokan 7. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Tanah
8. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Beton
9. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jembatan
10. Mengawasi pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas
11. Mengawasi pelaksanaan Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan 12. Membuat Laporan Pengawasan Pekerjaan
NOMOR MODUL : SIB – 01
JUDUL MODUL : KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)
Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu mengimplementasikan materi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, serta mampu melakukan kegiatan K3 mulai persiapan dan pelaksanaan serta pengawasan proyek
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Pada akhir pelatihan peserta mampu :
1. Menjelaskan landasan hukum kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja
2. Menjelaskan ketentuan administratif 3. Menjelaskan ketentuan teknis
4. Menjelaskan alat pelindung diri
5. Menjelaskan kecelakan kerja pada pekerjaan jalan 6. Menjelaskan pemadaman kebakaran
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)
-v-DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR i LEMBAR TUJUAN ii DAFTAR ISI ivDESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN
MODUL PELATIHAN
INSPEKTOR LAPANGAN
PEKERJAAN JEMBATAN (Site
Inspector of Bridge) vi
DAFTAR MODUL vii
PANDUAN INSTRUKTUR viii
BAB I : LATAR BELAKANG DAN LANDASAN HUKUM K3 I-1
1.1. Latar Belakang I-1
1.2. Ketentuan Hukum yang berlaku di Indonesia I-1
BAB II : KETENTUAN ADMINISTRATIF II-1
2.1 Kewajiban Umum II-1
2.2 Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja II-1
2.3 Laporan Kecelakaan II-2
2.4 Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan II-2
2.5 Pembiayaan Keselamatan dan Kesehatan kerja II-4
BAB III : KETENTUAN TEKNIS III-1
3.1 Tempat Kerja dan Peralatan III-1
3.2 Pencegahan Terhadap Kebakaran dan alat pemadam
kebakaran III-2
3.3 Alat Pemanas (Heating Appliances) III-3
3.4 Bahan-bahan yang mudah terbakar III-3
3.5 Inspeksi dan pengawasan III-3
3.6 Perlengkapan, Peringatan III-4
3.7 Perlindungan terhadap benda-benda jatuh dan bagian
bangunan yang roboh III-4
3.8 Perlindungan agar orang tidak jatuh/Terali Pengaman
dan pinggir Pengaman III-4
3.9 Lantai Terbuka, Lubang pada Lantai III-5
3.10 Lubang pada dinding III-5
3.11 Tempat-tempat Kerja Yang Tinggi III-6
3.12 Pencegahan terhadap Bahaya Jatuh Ke dalam Air III-6
3.13 Kebisingan dan Getaran (Vibrasi) III-6
3.14 Penghindaran Terhadap Orang yang Tidak Berwenang III-6 3.15 Struktur Bangunan dan Peralatan. Konstruksi Bangunan III-7
3.16 Pemeriksaan, Pengujian pemeliharaan III-7
3.17 Perlengkapan Keselamatan Kerja III-8
BAB IV : ALAT PELINDUNG DIRI (APD) IV-1
4.1 Jenis Alat Perlindungan Diri IV-1
4.2 Masalah Umum APD IV-1
4.3 Masalah Pemakaian Apd Secara Umum IV-1
4.4 Masalah Khusus APD IV-2
BAB V : KECELAKAAN KERJA PADA PEKERJAAN JALAN V-1
5.1 Faktor Manusia V-1
5.2 Faktor peralatan dan lingkungan V-1
5.3 Kecelakaan yang umum terjadi dan upaya
pencegahannya V-1
BAB VI : PEMADAMAN KEBAKARAN VI-1
6.1 Umum VI-1
6.2 Timbulnya Kebakaran VI-1
6.3 Klasifikasi Kebakaran VI-2
6.4. Menghadapi Bahaya Kebakaran VI-2
6.5 Peralatan Pemadam Kebakaran VI-4
BAB VII : PENGAWASAN PENERAPAN KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA VII-1
7.1 Umum VII-1
7.2. Aspek Penting Dalam Keselamatan Kerja Konstruksi VII-2 7.3. Keselamatan Kerja Konstruksi Dalam Manajemen Proyek VII-4 7.4. Pengawasan Pelaksanaan Keselamatan Dan Kesehatan
Kerja Konstruksi VII-4
RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)
-vii-DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL
PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN
JEMBATAN (Site Inspector of Bridge)
1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja
Inspektor
Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge)
dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam PelatihanInspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge)
unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan.
2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut.
3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan
Inspektor Lapangan
Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge)
.DAFTAR MODUL
Jabatan Kerja : Site Inspector of Bridge (SIB)
Nomor
Modul Kode Judul Modul
1
SIB – 01 Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2 SIB – 02 Membaca Data Geoteknik 3 SIB – 03 Bahan Jembatan
4 SIB – 04 Membaca Gambar 5 SIB – 05 Alat Berat
6 SIB – 06 Pengukuran dan Pematokan 7 SIB – 07 Pekerjaan Tanah
8 SIB – 08 Pekerjaan Beton
9 SIB – 09 Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan 10 SIB – 10 Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas 11 SIB – 11 Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)
-ix-PANDUAN INSTRUKTUR
A. BATASAN
NAMA PELATIHAN : Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge )
KODE MODUL : SIB-01
JUDUL MODUL : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DESKRIPSI : Modul ini membahas landasan hukum kegiatan
keselamatan dan kesehatan kerja; ketentuan administratif; ketentuan teknis; alat pelindung diri; kecelakan kerja pada pekerjaan jalan; pemadaman kebakaran; pengawasan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja untuk pelatihan Inspektur Lapangan Pekerjaan Jalan.
TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya. WAKTU PEMBELAJARAN : 2 (Dua) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit)
B. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung
1. Ceramah : Pembukaan
Menjelaskan tujuan instruksional (TIU dan TIK)
Merangsang motivasi peserta de-ngan pertanyaan ataupun penga-lamannya dalam melakukan pe-kerjaan jembatan
Waktu : 5 menit
Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif
Latar Belakang K3 Ketentuan Hukum yang
berlaku di Indonesia Mengajukan pertanyaan
a-pabila ada yang kurang jelas
OHT.
2. Ceramah : Bab II, Ketentuan Administratif
Memberikan uraian dan bahasan mengenai :
1. Kewajiban umum
2. Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja
3. Laporan kecelakaan
4. Keselamatan kerja dan pertolongan pertama pada kecelakaan
5. Pembiayaan keselamatan dan kesehatan kerja
Waktu : 10 menit
Mengikuti penjelasan atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif
Mengajukan pertanyaan a-pabila ada yang kurang jelas
OHT.
3. Ceramah : Bab III, Ketentuan Teknis
Memberikan penjelasan, uraian ataupun bahasan mengenai :
1. Tempat kerja dan peralatan
2. Pencegahan terhadap kebakaran dan alat pemadam kebakaran
3. Alat pemanas (heating appliances)
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif Mengajukan pertanyaan
a-pabila ada yang kurang jelas
Pelatihan Site Inspector of Bridge (SIB)
-xi-Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung
konstruksi bangunan. 17. Pemeriksaan dan pengujian
pemeliharaan Waktu : 15 menit
4. Ceramah : Bab IV, Alat pelindung diri (APD)
Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :
1. Jenis APD 2. Masalah umum
3. Masalah pemakaian APD secara umum
4. Masalah khusus APD
Waktu : 15 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif Mengajukan pertanyaan
a-pabila ada yang kurang jelas
OHT.
5. Ceramah : Bab V, Kecelakaan kerja pada pekerjaan jalan
Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :
1. Faktor manusia
2. Faktor peralatan dan lingkungan 3. Kecelakaan yang umum terjadi dan
upaya pencegahannya Waktu : 15 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif Mengajukan pertanyaan
a-pabila ada yang kurang jelas
OHT.
6. Ceramah : Bab VI, Pemadam Kebakaran
Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :
1. Timbulnya kebakaran 2. Klasifikasi kebakaran
3. Menghadapi bahaya kebakaran 4. Alat pemadam kebakaran
Waktu : 15 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif Mengajukan pertanyaan
a-pabila ada yang kurang jelas
OHT.
7. Ceramah : Bab VII, Pengawasan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja
Memberikan penjelasan ataupun bahasan mengenai :
1. Umum
2. Aspek penting dalam keselamatan kerja konstruksi
3. Keselamatan kerja konstruksi dalam manajemen proyek
4. Pengawasan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi
Waktu : 15 menit
Mengikuti penjelasan, uraian atau bahasan instruktur dengan tekun dan aktif Mengajukan pertanyaan
a-pabila ada yang kurang jelas
BAB IV
ALAT PELINDUNG DIRI (APD)
4.1
JENIS ALAT PERLINDUNGAN DIRI
Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari
benturan benda keras selama mengoperasikan atau memelihara AMP.
Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan
terpeleset karena licin atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk
melindungi mata pada lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.
Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah tertutup
rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai.
Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang berhubungan
dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau mengencangkan baut dan sebagainya.
Alat pelindung telinga, digunakan untuk melindungi telingan dari kebisingan yang
ditimbulkan dari pengoperasian peralatan kerja.
4.2 MASALAH UMUM APD
Adanya APD yang tidak melalui pengujian laboratorium, sehingga tidak diketahui
derajat perlindungannya atau tidak memenuhi ketentuan keselamatan.
Pekerja merasa tidak nyaman dan kadang-kadang pemakai merasa terganggu. Terdapat kemungkinan menimbulkan bahaya baru atas penggunaan APD Pengawasan terhadap keharusan penggunaan APD sangat lemah.
Kewajiban untuk memelihara APD yang menjadi tanggung jawab perusahaan sering
dialihkan kepada pekerja.
4.3 MASALAH PEMAKAIAN APD SECARA UMUM
Pekerja tidak mau memakai APD dengan alasan:
Yang bersangkutan tidak mengerti atas maksud keharusan pemakaian APD.
Pemakaian APD dirasakan pekerja tidak nyaman seperti panas, sesak dan tidak memenuhi nilai keindahan
Pekerja merasa terganggu dalam melaksanakan pekerjaan.
Gambar 4.1. Alat Perlindungan Diri
Jenis APD yang dipakai tidak sesuai dengan jenis bahaya yang dihadapi.
Tidak dikenakan sanksi terhadap pekerja yang tidak memakai APD
Atasannya juga tidak memakai APD tanpa dikenakan sanksi.
Perusahaan tidak menyediakan APD dengan alasan:
Perusahaan tidak mengerti adanya ketentuan pemakaian APD.
Rendahnya kesadaran perusahaan atas pentingnya K3 dan secara sengaja melalaikan kewajibannya untuk menyediakan APD.
Perusahaan merasa sia-sia menyediakan APD, karena pada akhirnya APD tidak dipakai oleh pekerja.
Jenis APD yang disediakan oleh perusahaan tdak sesuai dengan jenis bahaya yang
dihadapi pekerja
Perusahaan mengadakan APD hanya sekedar memenuhi persyaratan formal tanpa
mempertimbangkan kesesuaiannya dengan maksud pemakaiannya.
4.4 MASALAH KHUSUS APD
Masker
Sering ditemukan adanya kerusakan atau sumbatan pada filter
Pemakaian alat ini dirasakan tidak nyaman oleh pekerja.
Pemakaian alat ini menimbulkan efek psikologis dan kecemasan terhadap pemakainya dan meningkatkan beban kerja pada jantung dan hati.
Pemakai alat ini harus menghirup udara yang dihembuskannya.
Pemakaian alat ini menimbulkan kesulitan berkomunikasi pada pemakainya.
Cara pemakaiannya kurang tepat seperti longgarnya/lepasnya tali pengikat sehingga pengamanan terhadap pemakainya kurang berdaya guna.
Sering menyebabkan adanya bahan kimia tertentu tanpa diketahui pemakainya yang mungkin membahayakan pemakainya.
Kaca Mata Keselamatan
Dapat membatasi pandangan pemakainya.
Adanya noda, kabut dan goresan kecil pada kaca yang mengakibatkan kaburnya pandangan pemakainya.
Alat ini menimbulkan kesulitan pada pemakainya untuk melihat kerusakan secara visual.
Kondisi kacamata yang tidak baik sering menimbulkan kemungkinan benda masuk dari samping
RANGKUMAN
Pengaturan terkait dengan aspek legal, administrative dan teknis operasional atas seluruh kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja bidang konstruksi.
Masalah umum APD
Adanya APD yang tidak melalui pengujian laboratorium, sehingga tidak diketahui derajat perlindungannya atau tidak memenuhi ketentuan keselamatan.
Pekerja merasa tidak nyaman dan kadang-kadang pemakai merasa terganggu. Terdapat kemungkinan menimbulkan bahaya baru atas penggunaan APD Pengawasan terhadap keharusan penggunaan APD sangat lemah.
Kewajiban untuk memelihara APD yang menjadi tanggung jawab perusahaan sering dialihkan kepada pekerja.
Masalah pemakaian APD secara umum
Pekerja tidak mau memakai APD dengan alasan:
o Yang bersangkutan tidak mengerti atas maksud keharusan pemakaian APD. o Pemakaian APD dirasakan pekerja tidak nyaman seperti panas, sesak dan tidak
memenuhi nilai keindahan
o Pekerja merasa terganggu dalam melaksanakan pekerjaan.
o Jenis APD yang dipakai tidak sesuai dengan jenis bahaya yang dihadapi. o Tidak dikenakan sanksi terhadap pekerja yang tidak memakai APD o Atasannya juga tidak memakai APD tanpa dikenakan sanksi.
Perusahaan tidak menyediakan APD dengan alasan:
o Perusahaan tidak mengerti adanya ketentuan pemakaian APD.
o Rendahnya kesadaran perusahaan atas pentingnya K3 dan secara sengaja
melalaikan kewajibannya untuk menyediakan APD.
Dalam kondisi apapun kebakaran ini harus diatasi sesuai dengan prosedur, baik dilakukan perorangan dengan alat pemadam kebakaran atau unit khusus pemadam kebakaran.
Untuk mengatasi keadaan tersebut, setiap operator perlu dibekali dengan pengetahuan penanggulangan bahaya kebakaran sehingga dapat menghadapi kebakaran dengan benar sesuai prosedur, dilakukan dengan tenaga (tidak panik) dan dapat melakukan pemberitahuan/pelaporan ke unit terkait secara tepat (dinas kebakaran, rumah sakit, poliklinik, dan lain-lain).
Di dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi, banyak pihak yang terlibat, namun yang paling bertangguyng jawab dalam pelaksanaan K-3 tersebut adalah pihak kontraktor, karen pihaknyalah yang secara langsung melaksanakan pekerjaan konstruksinya dan secara langsung melaksanakan manajemen keselamatan kerja.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja konstruksi antar lain: Pelaku-pelaku konstruksi;
Material konstruksi; Peralatan konstruksi; Metode pelaksanaan; Desain struktur.
DAFTAR PUSTAKA
1. Asiyanto, Ir.,MBA, IPM, Manajemen Produksi Untuk Jasa Konstruksi, PT Pradnya Paramita, Jakarta, 2005
2. Santosa, Gempur, Dr.,Drs.,M.Kes., Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, September 2004.
3. Suardi, Rudi, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Penerbit PPM, Jakarta, 2005.
4. , Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: Kep.174/Men/86 dan 104/KPTS/1986 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Tempat Kegiatan Konstruksi. 5. , Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor