1
PENERAPAN MODEL SIMULASI MELALUI CONTEXTUAL TEACHING LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS MATERI
TEKNOLOGI PRODUKSI, KOMUNIKASI, DAN TPRANSPORTASI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 SROYO
TAHUN PELAJARAN 2015/2016 Oleh : Siti Murdiyah
ABSTRAK
Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial materi teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi pada siswa kelas IV di SD Negeri I sroyo.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas dengan model simulasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri 1 Sroyo semester II tahun pelajaran 2015/2016 yang terdiri dari 38 siswa. Prosedur penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus, yaitu siklus yaitu siklus I dan Siklus II. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, dokumen, dan tes yang didapatkan dari sekolah sesuai dengan kondisi yang ada di sekolah.
Berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan teman sejawat diperoleh hasil nilai yang diperoleh siswa dari 38 nilai terendah 50, nilai tertinggi 90, dan nilai rata-rata mereka adalah 62,5%. Menindak lanjuti temuan hasil penelitian pada siklus II peneliti dan teman sejawat melakukan diskusi dan diketahui bahwa pelaksanaan pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan kemajuan dimana ada 5 siswa yang mendapat nilai ulangan harian dibawah 68, dan ada 33 siswa yang mendapat nilai ulangan harian diatas 68 dengan nilai rata-rata 82,5%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan model simulasi pada mata pelajaran IPS materi perkembangan teknologi produksi, komunikasi dan transportasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 1 Sroyo.
Kata Kunci : Model Simulasi, Hasil Belajar, Materi IPS
2 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam melaksanakan proses belajar mengajar diperlukan langkah- langkah sistematis untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Hal yang harus dilakukan salah satunya dengan menggunakan metode yang cocok dengan kondisi siswa agar siswa dapat berfikir kritis, logis dan dapat memecahkan masalah dengan sikap terbuka, kreatif dan inovatif. Pembelajaran dikenal sebagai model pembelajaran salah satunya adalah model simulasi yaitu tiruan. Simulasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau latihan yang menggambarkan keadaan sebenarnya.
Kegiatan ini bisa dilakukan melalui strategi pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) yaitu dalam pembelajaran siswa diajarkan melalui dunia nyata.
Melihat kondisi kelas IV semester 2 pada SD Negeri 1 Sroyo, yakni melalui pengamatan langsung oleh penulis terlihat kurang terlibatnya siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Hal ini mengakibatkan hasil belajar yang rendah yaitu dengan nilai rata-rata hanya sebesar 6.5. Jumlah siswa 38 di kelas IV hanya 11 orang yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 68.00. Dilihat rendahnya nilai IPS di SD Negeri 1 Sroyo disebabkan oleh banyak faktor antara lain: faktor internal (peserta didik) berupa motivasi siswa, minat siswa, kesiapan siswa, kecerdasan siswa dan keadaan fisik siswa. Sedangkan faktor eksternal antara lain: kesiapan guru, sarana dan prasarana, kurikulum, buku penunjang, materi pokok, lingkungan dan yang paling berpengaruh adalah cara penyampaian guru dalam proses pembelajaran. Hal ini akan
menimbulkan berbagai macam keluhan seperti malas belajar, membosankan, kurang bergairah, tidak menarik dan akan mempengaruhi hasil belajar siswa.
Kondisi ini merupakan suatu permasalahan dasar yang harus segera diatasi.
Pembatasan Masalah
Agar pembahasan masalah dalam penelitian ini tidak meluas dan menyimpang dari permasalahan, maka perlu dibatasi masalahnya pada
“Penerapan Model Simulasi Melalui Contextual Teaching Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Dalam Materi Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi Pada Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Sroyo Tahun Pelajaran 2015/2016”.
Perumusan Masalah
1. Apakah penerapan model simulasi melalui Contextual Teaching Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPS materi Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Sroyo pada tahun ajaran 2015/2016?
2. Bagaimana cara pelaksanaan penerapan model simulasi melalui Contextual Teaching Learning dalam meningkatkan hasil belajar IPS materiTeknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Sroyo pada tahun ajaran 2015/2016?
Tujuan Penelitian
1. Mengetahui apakah melalui penerapan model simulasi melalui Contextual Teaching Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPS materi Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasipada siswa kelas IV SD Negeri 1 Sroyo pada tahun ajaran 2015/2016.
3 2. Memaparkan cara pelaksanaan
model simulasi melalui Contextual Teaching Learning dalam meningkatkan hasil belajar IPS materi Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasipada siswa kelas IV SD Negeri 1 Sroyo pada tahun ajaran 2015/2016.
Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil penelitian ini :
a. Dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam hal model pembelajaran IPS.
b. Dapat bermanfaat bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap factor-faktor penyebab timbulnya masalah belajar yang telah teridentifikasi dan belum diteliti dalam rangka pengembangan pelajaran IPS.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa
1) Meningkatkan hasil belajar siswa
2) Menjadikan siswa lebih aktifid dalam kegiatan pembelajaran dan memberikan rasa berani serta percaya diri pada siswa.
b. Bagi Penulis dan Guru
1) Memperbaiki pembelajaran,
meningkatkan, dan
mengembangkan profesionalisme diri.
2) Sebagai bahan masukan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan di kelasnya terutama sumber informasi tentang efektivitas penggunaan model pembelajaran simulasi melalui Contextual Teaching Learning pada suatu pokok bahasan tertentu.
c. Bagi Sekolah
1) Membantu meningkatkan mutu pendidikan dan reputasi sekolah.
2) Sebagai bahan masukan dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, terutama dalam suatu pokok pembahasan tertentu.
d. Bagi Kepala Sekolah
1) Membantu kepala sekolah untuk memperbaiki kinerja guru.
2) Sebagai sumber informasi mengenai proses pembelajaran.
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS Landasan Teori
1. Tinjauan Tentang Pembelajaran Menurut Rudy Gunawan, (2014:49), pembelajaran adalah usaha sadar yang dilakukan oleh guru agar mampu membuat peserta didik untuk belajar sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada diri peserta didik dan melalui perubahan tersebut peserta didik mendapatkan kemampuan yang baru untuk kehidupan yang akan dihadapi di masa yang akan datang.
Menurut Zainal Aqib, (2013:66-67) belajar adalah upaya unuk membangun pemahaman atau persepsi atas dasar pengalaman yang di alami siswa, oleh sebab itu belajar menurut pandangan teori ini merupakan proses memberikan pengalaman nyata bagi siswa.
2. Tinjauan Tentang Hasi Belajar Hasil belajar yaitu perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar.
Menurut Ngalimun, (2016:24), model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola
4 yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.
Model pembelajaran simulasi adalah bentuk model pembelajaran praktik yang sifatnya mengembangkan kertampilan peserta didik (ketetampilan mental maupun fisik atau teknis). Model pembelajaran ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktik.
Menurut Aris Shoimin, (2014:170) model pembelajaran simulasi merupakan model pembelajaran yang membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang nyata, terhadap keadaan sekelilingnya, atau proses. Model simulasi dirancang untuk membantu siswa mengalami bermacam-macam proses dan kenyataan sosial dan untuk menguji reaksi peserta didik untuk memperoleh konsep keterampilan pembuatan keputusan.
Menuru Zainal Aqib, (2013:1) Strategi pembelajaran CTL merupakan konsep belajar yang membanu guru mengaitkan antara materi yang di ajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Menurut Ahmad Susanto, (2014:92) strategi pembelajaran CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Kerangka Berfikir
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berikir yang telah dijelaskan di atas, maka hipotesis permasalahan yang diangkat sebagai berikut, “Dengan metode simulasi melalui pembelajaran Contextual Teaching Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPS materi Teknologi Produksi, Komunikasi, dan Transportasi pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Sroyo Tahun pelajaran 2015/2016 “
Kondisi Awal
Tindak an
Kondisi Akir
Sebelum guru menerapkan model simulasi melalui strategi pembelajaran Contextual Teaching Learning
Penerapan model simulasi melalui strategi pembelajaran Contextual Teaching Learning
Dengan penerapan model simulasi melalui strategi pembelajaran Contextual Teaching Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Minat belajar siswa kurang, siswa pasif dalam belajar, dan hasil belajar rendah
Siklus I
Hasil belajar siswa meningkat
Siklus II
Siswa berminat belajar IPS, siswa aktif dalam belajar, dan hasil belajar siswa lebih meningkat.
5 METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 1 Sroyo, Karanganyar. Penelitian akan dilakukan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Januari sampai bulan Maret. Penentuan tempat penelitian ini karena mempertimbangkan kemudahan kerja sama antara peneliti, pihak sekolah, dan objek yang diteliti serta penghematan waktu dan biaya karena lokasi penelitian merupakan tempat mengajar.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah guru dan siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 1 Sroyo, Karanganyar tahun ajaran 2015/2016, dengan jumlah siswa 38.
Data dan Sumber Data
1. Sumber datanya yaitu siswa kelas IV, guru kelas IV, kepala sekolah, teman atau pihak lain yang berhubungan.
2. Kemudian ada juga lembar observasi dan teks wawancara.
3. Dokumen
Dokumen merupakan data skunder, yaitu data yang digunakan sebagai pelengkap. Dokumen ini berupa nilai siswa.
Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi
Observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan, dimana peneliti berperan aktif mengamati dan mengikuti semua kegiatan yang sedang dilakukan. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data mengenai partisipasi dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dan untuk mengetahui kemampuan guru dalam mengelola KBM.
2. Dokumen
Peneliti mengumpulkan data-data tertulis berupa daftar nilai formatif tentang nilai IPS siswa.
3. Tes
Menurut Sarwiji Suwandi, (2009:39) tes adalah suatu bentuk pemberian tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan siswa yang sedang dites.
Menurut Djemari Mardapi, (2012:108), tes merupakan salah satu bentuk instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran. Tes terdiri atas sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau salah, atau semua benar atau sebagian benar.
Validitas Data
Menurut Hopkin dalam Rochiati dalam Kunandar, (2008:107- 108) berpendapat bahwa untuk menguji derajat keterpercayaan atau derajat kebenaran peneliti yaitu dengan melakukan validasi triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk atau analisis dari si peneliti dengn membandingkan hasil dari mitra peneliti. Triangulasi dilakukan berdasarkan 3 sudut pandang, yakni sudut pandang peneliti, sudut pandang siswa dan sudut pandang mitra (sekolah) kepada peneliti yang melakukan pengamatan atau observasi.
Teknik Analisis Data
Pengumpulan data nilai tes diperoleh dari nilai hasil tes. Data yang bentuknya kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, siklus I dan siklus II. Data yang diperoleh melalui observasi berbentuk data kualitatif, data yang bentuknya dianalisis, menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi untuk direfleksi.
6 Prosedur Penelitian
Rancangan Siklus I a. Tahap Perencanaan b. Tahap Pelaksanaan c. Tahap Pengamatan
d. Tahap Releksi dan Analisis Rancangan Siklus II
a. Tahap Perencanaan b. Tahap Pelaksanaan c. Tahap Pengamatan d. Tahap Refleksi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Siklus I
Adanya penerapan model pembelajaran yang bervariasi, walaupun belum tercapai dengan sempurna tapi membuat siswa semangan dan aktif untuk belajar IPS.
Hasil ulangan harian pada siklus I dari 38 siswa yaitu, yang mendapatkan nilai 60 ada 13 orang, nilai 70 ada 10 orang, nilai 80 ada 13 orang, dan nilai 100 ada 2 orang. Jumlah nilai dari 38 siswa adalah 2720 dengan nilai rata-rata 71,5 %. Agar lebih jelas dapat disajikan tabel sebagai berikut :
Tabel Hasil Tes Siklus I
No Nilai Frekuensi Jumlah Ket
1 60 13 780 Nilai
Rata- rata 71,5
2 70 10 700
3 80 13 1040
4 100 2 200
38 2720
Hasil observasi yang berupa nilai ulangan pada siklus pertama jika dibandingkan dengan nilai rata-rata ulangan harian pada kondisi awal sebelum penelitian dapat digambarkan seperti tabel di bawah ini
Tabel Perbandingan Nilai Ulangan Harian Kondisi Awal dan Siklus I
N0 Uraian Kondisi
Awal
Siklus I
1 Nilai Terendah 50 60
2 Nilai Rata-rata 62,3 71,5 3 Nilai Tertinggi 90 100
Berdasarkan uraian tabel di atas dapat diperoleh bahwa nilai ulangan harian pada pada siklus I meningkat dibandingkan pada kondisi awal dengan nilai rata-rata peningkatanya sebesar 9,2%.
Peningkatan ini belum terlalu besar karena model pembelajaran simulasi melalui CTL sebelumnya belum pernah diterapkan dalam pembelajaran di SD Negeri I Sroyo.
Tabel di atas digambar pada diagram di bawah ini :
Gambar Perbandingan Nilai Kondisi Awal dan Siklus I
Hasil Penelitian Siklus II
Siklus II guru telah melaksanakan pembelajaran dengan baik, karena dalam siklus II guru sudah mulai menggunakan media pembelajaran yang rill sehingga siswa mudah untuk memahami materi yang diberikan.
Hasil ulangan harian pada siklus II dari 38 siswa yaitu, yang mendapatkan nilai 60 ada 6 orang, nilai 70 ada 2 orang, nilai 75 ada 2 orang, nilai 80 ada 13 orang, dan nilai 85 ada 1 orang, nilai 90 ada 2 orang, nilai 95 ada 4 orang, nilai 100 ada 7 orang. Jumlah nilai dari 38 siswa adalah 3135 dengan
0 50 100
Nilai
Terendah Nilai
Rata-rata Nilai Tertinggi
KONDISI AWAL
7 nilai rata-rata 82,5%. Agar lebih jelas dapat disajikan tabel sebagai berikut :
Tabel Hasil Tes Siklus II
No Nilai Frekuensi Jumlah Ket
1 60 6 360 Nilai
Rata- rata 82,5
2 70 2 140
3 75 2 150
4 80 13 1040
5 85 1 85
6 90 2 180
7 95 4 380
8 100 8 800
38 3135
Hasil observasi yang berupa nilai ulangan pada siklus II jika dibandingkan dengan nilai rata-rata ulangan harian pada siklus I sebelum penelitian dapat digambarkan seperti tabel di bawah ini
Tabel Perbandingan Nilai Ulangan Harian Siklus I dan Siklus II
N0 Uraian Siklus I Siklus II
1 Nilai Terendah 60 60
2 Nilai Rata-rata 71,5 82,5 3 Nilai Tertinggi 100 100
Berdasarkan uraian tabel 7 diatas dapat diperoleh bahwa nilai rata- rata ulangan harian pada pada siklus II mengalami peningkatan dari nilai pada siklus I yaitu sebesar 11%. Peningkatan yang terjadi sudah cukup baik, karena sudah ada peningkatan yang banyak dibanding siklus I. Hal ini karena siswa sudah memahami materi yang diberikan oleh guru.
Tabel di atas dapat kita lihat juga pada sebuah diagram seperti di bawah.
Gambar Perbandingan siklus I dan Siklus 2
Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil ulangan siklus I mengalami peningkatan yang siknifikan baik nilai rata-rata maupun nilai tertinggi, sedangkan untuk nilai terendah tidak mengalami peningkatan dari kondisi awal.
Berbeda dengan siklus II dan siklus I ada peningkatan untuk nilai terendah dan juga nilai rata-rata, sedangkan nilai tertinggi tidak mengalami peningkatan karena nilai yang paling tinggi adalah nilai 100. Hal ini dapat kita lihat dari tabel.
Tabel Perbandingan Nilai Antara Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II
No Uraian Kondisi
Awal
Siklus I
Siklus II
1 Nilai Terendah 50 60 60
2 Nilai Rata-rata 62,3 71,5 82,5
3 Nilai tertinggi 90 100 100
Tabel di atas juga dapat kita lihat dalam bentuk diagram seperti dibawah ini :
Nilai Terendah Nilai Rata-rata Nilai Tertinggi
60 71,5
100 60
82,5
100 SIKLUS I
8 Gambar Perbandingan Kondisi
Awal, Siklus I, dan Siklus II Berdasarkan hasil penelitian diatas terjadi peningkatan dalam hasil belajar siswa. Kondisi awal ke siklus I ada peningkatan sebesar 9,2%, kemudian pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 11%.
Hal-hal yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu karena guru mampu menciptakan suasana belajar mengajar yang nyaman dan menarik. Yaitu seperti model simulasi melalui CTL.
Guru menerapkan konsep pembelajaran dengan miniatur serta dikaitkan dengan dunia nyata mereka, sehingga siswa lebih memahami dan mudah mengingat materi yang diberikan.
Materi pelajaran dapat diterima siswa karena kreatifitas guru dalam mengelola kelas atau menciptakan suasana belajar mengajar yang nyaman dan kondusif. Selain itu, siswa juga mampu belajar secara optimal sesuai dengan perkembangannya, karena tujuan belajar adalah memperoleh pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, dan nilai yang mampu menunjang perkembangan mereka. Tujuan itu tidak akan tercapai mana kala siswa tidak terlibat dalam proses pembelajaran disekolah. Penerapan model simulasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri I Sroyo, hal ini ditunjukkan pada kondisi awal dengan siklus I mengalami peningkatan sebesar 9,2% dan siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 11%.
Dengan demikian hipotesi yang menyatakan bahwa melalui penerapan
model simulasi melalui contextual teaching learning dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada siswa kelas IV SD Negeri I Sroyo, diterima kebenarannya.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran simulasi melalui strategi CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS pada siswa kelas IV SD Negeri I Sroyo.
Dengan model simulasi siswa lebih aktif, siswa juga berminat dan antusias dalam pembelajaran, hasil belajar siswa juga meningkat. Peningkatan hasil belajar siswa ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ketuntasan jumlah hasil belajar siswa pada siklus awal ke siklus I sekitar 9,2 %. Kemudian siklus I ke siklus II sekitar 11%.
Saran
1. Bagi guru, dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa,maka diharapkan guru dapat menggunakan model simulasi sebagai alternatif dalam proses pembelajaran.
2. Bagi siswa, berdasarkan hasil temuan penelitian masih ditemukan beberapa hambatan, maka bagi siswa yang mengalami kesulitan hendaknya diberikan suatu bimbingan secara individu agar siswa lebih memahami materi.
3. Bagi sekolah, dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa, penelitian ini bisa memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan di SD Negeri I Sroyo.
4. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengadakan penelitian yang sejenis.
200 4060 10080
Nilai Terendah
9 DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Susanto. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran . Jakarta.
Kencana.
Aris Shoimin. 2014. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalamKurikulum 2013. Jakarta.
Ar-Ruzz Media.
Ahmad Susanto. 2014. Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta. Prenadamedia.
Djemari Mardapi. 2012. Pengukuran Penilaian dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta. Nuha Medika.
Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta. PT Rajagrafindo Persada.
Ngalimun. 2016. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta.
Aswaja Pressindo.
Rudy Gunawan. 2014. Pengembangan Kompetesi Guru IPS. Bndung.
Alfabeta.
Sarwiji Suwandi. 2009. Model
Asessmen Dalam
Pembelajaran. Surakarta.
Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 FKIP UNS Surakarta.
Slameto. 2013. Belajar dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi.
Jakarta. Rineka Cipta.
Zainal Aqib. 2013. Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung. Yrama Widya.