1
PEMBOBOLAN ATM DENGAN METODE SKIMMING DITINJAU DARI HUKUM PIDANA ISLAM
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
pada Fakultas Syari‟ah
Oleh :
YOGA KENNI RAYMON NIM. 1415.034
POGRAM STUDI HUKUM PIDANAISLAM (JINAYAH) FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI
1440 H/ 2019 M
i
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama/NIM : Yoga Kenni Raymon/ 1415.034
Tempat/Tanggal Lahir : Panji/ 02 Agustus 1997 Program Studi : Hukum Pidana Islam
Judul Skripsi : Pembobolan ATM Dengan Metode Skimming Ditinjau Dari Hukum Pidana Islam
Menyatakan dengan ini sesungguhnya bahwa karya ilmiah (skripsi) saya dengan judul di atas adalah karya ilmiah penulis. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa skripsi ini bukan karya sendiri, maka penulis bersedia diproses sesuai hukum yang berlaku dan gelar kesarjanaan penulis dicopot hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.
Bukittinggi, 30 Juli 2019 Yang menyatakan,
Yoga Kenni Raymon NIM. 1415.034
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi dengan judul: “Pembobolan ATM Dengan Metode Skimming Ditinjau Dari Hukum Pidana Islam” yang disusun oleh Yoga Kenni Raymon, NIM: 1415.034, telah memenuhi persyaratan ilmiah untuk dilanjutkan ke sidang Munaqasah pada program studi Hukum Pidana Islam (Jinayah) Fakultas Syari‟ah IAIN Bukittinggi
Demikianlah surat persetujuan ini di buat, agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Pembimbing I
Dr. Busyro, M.Ag
NIP. 197409061999031002
Bukittinggi, 27 Juni 2019 Pembimbing II
Dahyul Daipon, M.Ag NIP. 197704202006041002
iii
PENGESAHAN TIM PENGUJI
Skripsi yang berjudul: “PEMBOBOLAN ATM DENGAN METODE SKIMMING DITINJAU DARI HUKUM PIDANA ISLAM”, yang disusun oleh YOGA KENNI RAYMON, NIM.1415.034, telah diuji dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Syariah IAIN Bukittinggi, pada hari Senin tanggal 22 Juli 2019 dan dinyatakan telah dapat diterima sebagai salah satu syarat dalam mencapai gelar Sarjana Program Strata Satu (S-I) pada Fultas Syari‟ah dengan Program Studi Hukum Pidana Islam (Jinayah).
Bukittinggi,30 Juli 2019 Tim Penguji
Ketua
Dr. Busyro,M.Ag NIP.197409061999031002
Sekretaris
Beni Firdaus, S.HI.,MA NIP.197907142005011005 Anggota
Ali Rahman, SH.,MH NIP. 197112261999031002
Beni Firdaus, S.HI.,MA NIP.197907142005011005
Dr. Busyro,M.Ag NIP.197409061999031002
Dahyul Daipon,M.Ag NIP. 197704202006041002 Mengetahui,
Dekan Fakultas Syari‟ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Bukittinggi
Dr. H. Ismail, M.Ag NIP.196804091994031008
iv ABSTRAK
Skripsi ini berjudul “PEMBOBOLAN ATM DENGAN METODE SKIMMING DITINJAU DARI HUKUM PIDANA ISLAM”. Ditulis oleh Yoga Kenni Raymon, NIM: 1415.034. Adapun maksud judul diatas ialah untuk mengetahui apa hukuman dari pembobolan ATM dengan metode skimming menurut hukum pidana Islam (Jinayah).
Penelitian ini pada dasarnya dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi yang mempengaruhi pikiran dan gaya hidup masyarakat. Dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kemajuan teknologi infomasi selain memiliki dampak positif, teknologi informasi ini juga memiliki sisi negatifnya. Sisi negatif dari kemajuan teknologi informasi melalui sistem komputerisasi dan jaringan internet disebut Cybercrime atau disingkat dengan “CC”. Salah satu kejahatan dari Cybercrime adalah Pembobolan ATM dengan Metode Skimming, yaitu tindakan pencurian informasi kartu ATM para nasabah dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu ATM secara ilegal. Kejahatan skimming ini merupakan suatu kejahatan baru yang belum ada diatur dalam hukum Pidana Islam, dan belum tahu apa hukuman dari kejahatan skimming ini berdasarkan Hukum Pidana Islam. Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan apa itu hukuman dari pembobolan ATM dengan metode skimming. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengtahui hukuman atau sanksi dari tindak pidana pembobolan ATM dengan metode skimming berdasarkan hukum pidana Islam.
Jenis penelitian yang penulis pakai adalah penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu data-data yang diperoleh dengan cara membaca dan menganalisa buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan, dengan menjadikan bahan pustaka sebagai data utama, seperti kitab hukum, buku, skripsi, jurnal, majalah dan lain-lain yang masih bersangkutan dengan pembahasan dari penelitan ini.
Dalam penganalisaan data ini menggunakan content analisis, yaitu dengan cara mendalami isi suatu informasi tertulis serta membandingkan hasil-hasil temuan dari sumber kepustakaan.
Dari hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan, bahwa hukuman dari pembobolan ATM dengan Metode Skimming ini, adalah hukuman had potong tangan dan ganti rugi. Hukuman ini didasarkan pada sumber hukum pidana Islam yaitu dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah, yang mana di dalam Al-Qur‟an terdapat pada surah Al-Maidah ayat 38.Selain itu, dalam menetapkan hukuman dari pembobolan ATM dengan metode skimming ini, juga berdasarkan dari persamaan dari rukun dan syarat-syarat sariqah yang terdapat dalam hukum pidana Islam.
v
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukut penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat taufiq, serta hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berbentuk skripsi ini sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta seluruh keluarga dan sahabatnya yang selalu membantu perjuangan beliau dalam menegakkan agama Islam di muka bumi ini.
Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu langkah penulis untuk mendapatkan gelar sarjana pada Fakultas Syari‟ah IAIN Bukittinggi.
Dalam penulisan skripsi ini tentunya banyak pihak-pihak yang telah memberikan bantuan baik itu bantuan moril maupun bantuan materil. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tiada tandingannya di muka bumi ini kepada orang tua, ayahanda Firman yang selalu memotivasi dikala penulis dalam penyelesaian ini dan teruntuk ibunda yang tercinta Ernita yang telah mengasuh dan senantiasa sabar dalam mendidik penulis dengan segala pengorbanan dan kesabaran sampai pada akhir penulisan ini, dan terima kasih kepada kakak Wenni Rahma Puspita dan adek Rizky Ermansyah yang sangat dicintai karna kehadiran kalian berdua telah memberikan semangat kepada penulis menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah membalas semua kebaikan yang diberikan. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada:
vi
1. Dr. Ridha Ahida, M.Hum selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi beserta wakilnya.
2. Dr. Ismail, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari‟ah IAIN Bukittinggi beserta wakilnya.
3. M. Ridho, Lc, M.Ag, selaku Ketua Program Studi Hukum Pidana Islam Fakultas Syari‟ah IAIN Bukittinggi
4. Bapak Dr. Busyro, M.Ag (pembimbing I) dan Bapak Dahyul Daipon, M.Ag, (pembimbing II)yang telah sabar dan berkenaan meluangkan waktu di tengah-tengah kesibukannnya untuk memberikan bimbingan, arahan dan masukan hingga akhir penulisan ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Kepada bapak Gusril Basir,SH, M.Hum, Dosen Penasehat Akadaemik yang selalu membantu, menasehati dan memberikan banyak motivasi demi kelancaran proses belajar penulis.
6. Seluruh dosen, pimpinan perpustakaan dan staff-staff Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi dan khususnya di Fakultas Syari‟ah.
7. Pimpinan perpustakaan Bung Hatta dan petugas yang telah melayani dan memberikan fasilitas dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
8. Semua pihak yang tidak bisa disebut satu persatu, terimakasih atas dukungan dan kasih sayang yang begitu luar biasa
Semoga amal dan jasa yang dikorbankan dan diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah kita kembalikan semua urusan dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis
vii
dan para pembaca pada umumnya, semoga Allah SWT meridhoi dan dicatat sebagai ibadah disisinya, amin.
Bukittinggi, 29 Juni 2019
Yoga Kenni Raymon 1415034
viii DAFTAR ISI
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS ... i
PERSETUJUAN PEBIMBING ... ii
LEMBARAN PENGESAHAN ... iii
ABSTRAK ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 7
D. Tinjauan Kepustakaan ... 8
E. Penjelasan Judul ... 9
F. Metode Penelitian ... ...10
G. Sistematika Penelitian ... 13
BAB II. TINDAK PIDANA SKIMMING A. Pengertian Tindak Pidana ... 16
B. Pengertian Skimming ... 21
C. Modus Operandi Tindak Pidana Skimming ... 23
D. Unsur-Unsur Tindak Pidana Skimming ... 24
E. Pembuktian dan Pencegahan Tindak Pidana Skimming ... 27
BAB III. SARIQAH A. Pengertian Sirqah ... 35
B. Sumber Dalil Sariqah ... 39
C. Syarat-Syarat dan Rukun Sariqah ... 47
D. Nisab Sariqah ... 57
E. Hikmah/Tujuan Hukuman Bagi Pencuri ... 60
ix BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Pandangan Hukum Islam Terhadap Hukuman Tindak Pidana Skimming ... 64 BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan... 80 B. Saran ... 81 DAFTAR PUSTAKA ... 82 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi telah mendorong masyarat ke arah kehidupan yang lebih maju, karena penggunaan teknologi selalu mempengaruhi pikiran dan gaya hidup masyarakat. Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mempermudah aktivitas manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa selain memiliki sisi positif, teknologi juga memiliki sisi negatifnya. Bahkan dalam berbagai kajian penelitian kemajuan teknologi membuat peningkatan angka kriminalitas, misalnya dalam penggunaan komputer. Sikap ketergantungan, keteledoran dan kesengajaan dalam menggunakan komputer akan menimbulkan dampak negatif, jika tidak diimbangi dengan sikap dan tindakan yang positif.1
Salah satu hasil kemajuan teknologi informasi yang diciptakan pada akhir abad ke-20 adalah internet.Teknologi internet membawa manusia pada peradaban yang baru yang mana perpindahan aktivitas yang nyata ke aktivitas virtual yang seiring waktu dikenal dengan istilah cyberspace.2Dalam dunia virtual ini metode kehidupannya tidaklah jauh berbeda dari kehidupan nyata, masih ada proses sosial, interaksi sosial, komunikasi dan pengembangan sistem kejahatan.
1 Widyopramono, Kejahatan di Bidang Komputer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1994), hal.28
2 Http://www.bogor.net/idkf/idkf-2/public-space-dan -public-cyberspace-ruang-publik- dalam-era inf, Diakses pada: Rabu/ 11 Juni 2018.
2
Internet memberikan banyak kemudahan dalam aspek kehidupan manusia karena banyaknya fasilitas yang bisa didapatkan dalam internet, misalnya fasilitas chatting, e-mail, web-cam yang merupakan solusi dalam permasalahan komunikasi jarak jauh yang lebih terjangkau biayanya. Sedangkan dalam dunia perbankkan, internet dimanfaatkan untuk memberikan kemudahan transaksi bagi nasabahnya tanpa harus pergi ke bank.
Kemudahan ini merupakan sisi positif dari penggunaan dan pemanfaatan internet. Namun selain itu internet juga mempunyai dampak negatif, yaitu banyaknya oknum-oknum yang secara sengaja memanfaatkan media ini untuk melakukan bentuk-bentuk kejahatan.1 Teknologi juga dikenal berwajah ganda yang mana disatu sisi memberikan manfaat yang besar bagi manusia dan disisi lain juga memberikan kemudahan dalam melakukan tindak kejahatan.
Dalam perspektif kriminologi, teknologi bisa dikatakan sebagai faktor kriminogen, yaitu faktor yang menyebabkan timbulnya keinginan orang untuk berbuat jahat atau memudahkan terjadinya kejahatan2. Penyalahgunaan negatif teknologi informasi melalui sistem komputerisasi dan jaringan internet dikenal dengan istilahCybercrime.
Cybercrime merupakan salah satu bentuk atau dimensi baru dari kejahatan masa kini yang mendapat perhatian yang luas di dunia Internasional. Volodymyr Golubev menyebutkan sebagai “The New Form of Antu-Social Behavior”.
Beberapa julukan/sebutan lainnya yang cukup keren diberikan kepada jenis
1 Andi Hamza, Aspek-Aspek Pidana di Bidang Komputer, (Jakarta: Sinar Grafika, 1992), hal.10
2 Abdul Wahid dan Mohhammad Labib, Kejahatan Mayantara (Cybercrime), (Bandung:
Refika Aditama, 2005), hal.59
kejahatan baru ini didalam berbagai tulisan, dan pada akhirnya cybercrime disingkat dengan “CC”.3
Suatu hal yang perlu diketahui tentang kejahatan yang baru-baru ini terjadi didalam dunia perbankkan (e-banking) di Indonesia, dikejutkan dengan telah terjadinya tindak kejahatan dengan membobol ATM menggunakan metode skimming di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dikenal dengan BRI dan PT Bank Mandiri Tbk. Yang mana dilansir dari media massa bahwasanya para nasabah dari bank-bank tersebut melakukan pemblokiran rekening lantaran saldo mereka terkuras secara misterius. Beberapa nasabah tersebut mengaku kehilangan dana mulai dari Rp 178.000, Rp 700.000, Rp 2.000.000, hingga ada yang mencapai Rp 5.000.0004.
Pembobolan ATM metode skimming ini adalah tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal, melalui proses penyalinan pada saat memasukkan kartu ATM ke slot mesin ATM. Skimming juga adalah salah satu penipuan teknologi yang masuk ke dalam metode phishing.
Dalam menyikapi hal ini, hukum positif di Indonesia dan hukum Islam dituntut untuk bisa merespon terhadap fenomena-fenomena kejahatan yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi tersebut. mencermati hal tersebut dapat disepakati bahwa kejahatan cybercrime memiliki karakter yang berbeda dengan tindak pidana umum baik dari segi pelaku, korban, modus operasi dan
3 Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal.251
4Galvan Yudistira, Tribunnews.com, Jakarta, Selasa/20 Maret 2018
4
tempat kejadian perkara sehingga membutuhkan penanganan dan pengaturan khusus di luar KUHP dan KUHAP.
Didalam hukum pidana Indonesia telah ada yang mengatur tentang pelaku pembobolan ATM dengan metode skimming ini yaitu dalam UU ITE No.11 Tahun 2008 dalam pasal 30, yaitu sebagai berikut:
(1) Bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apa pun.
(2) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/atau sistem elektronik dengan cara apa pun dengan tujuan untuk memperoleh Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik.
(3) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/atau sistem elektronik dengan cara apapun dangan melanggar, menerobos, melampaui atau menjebol sistem pengamanan.
Disamping itu, juga dapat dijerat dengan pasal 32 ayat (2) yang menyebutkan,
“Bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apapun memindahkan atau mentransfer informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak”.5
Dalam KUHP menjelaskan pelaku yang diduga telah melakukan pembobolan rekening nasabah Bank tersebut juga dapat dianggap melanggar ketentuan yang diatur dalam pasal 362, yang menyebutkan;
5 https://web.kominfo.go.id (diakses pada tanggal 02 Maret 2018)
“Barangsiapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagiannya milik orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak sembilan ratus rupiah”
Dalam hukum pidana Islam disebutkan bahwa hukum pidana dalam Islam ada beberapa macam, seperti hudud,qhisas, diyat dan ta‟zir. Tujuan pokok pensyariatan agama Islam adalah sebagai rahmat bagi alam semesta yang mengatur tentang kemaslahatan umum, diantaranya adalah tentang pemeliharaan harta benda (hifzul mal).
Oleh karena itu, dalam Islam ada beberapa aturan yang mengatur tentang mencari harta, mendayagunakan dan juga terdapat aturan-aturan tentang cara menjaga harta tersebut dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran hukum dalam memperoleh harta dengan cara melanggar hukum atau dalam istilah hukum umum disebut dengan on recht daad.
Islam memberikan hukuman berat atas perbuatan mencuri dengan melakukan hukuman potong tangan atas pelaku. Dalam hukuman itu terdapat hikmah yang sudah jelas yaitu bahwa tangan yang khianat dan mencuri merupakan perbuatan kejahatan, dan oleh sebab itu, tangan yang khianat harus dipotong dan hukuman potong tangan dapat dijadikan pula peringatan bagi orang yang dalam hatinya tersirat niat hendak mencuri harta orang lain. Hal ini dipertegas oleh Allah SWT dalam firmannya pada surat Al-Maidah ayat 38 yang berbunyi:
6
Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”6
Dalam hukum Islam sama pendiriannya dengan hukum positif dalam menetapkan jarimah atau tindak pidana serta hukumnya, yaitu dari segi tujuannya, karena kedua hukum tersebut sama-sama memelihara kepentingan dan ketentraman masayarakat serta menjamin kelangsungan hidup manusia.
Dalam uraian diatas tentunya menarik untuk dibahas terkait tindak pidana skimming ini karna dalam perpektif hukum Islam, kejahatan memiliki unsur- unsur dari jarimah atau tindak pidananya. Karena tindak pidana skimming ini tergolong baru, dan belum ada aturan yang mengatur tentang tindak pidana ini di hukum pidana Islam, sehingga perlu dicermati juga dalam tinjauan hukum pidana Islamnya merespon perubahan-perubahan hukum yang disebabkan perkembangan zaman.
Dengan demikian, berdasarkan apa yang telah penulis paparkan di atas mengenai tindak kejahatan pembobolan ATM dengan metode skimming, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian analisis yang akan penulis tuangkan dalam bentuk skripsi dengan judul : “Pembobolan ATM Dengan Metode Skimming Ditinjau Dari Hukum Pidana Islam”.
6 H. Mahmud Jumus, Al-Qur‟an Terjemahan, (Bandung: PT. Alma „Arif, 1989), hal.97.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis jabarkan diatas, dapat dirumuskan beberapa pokok masalah yang menjadi kajian dalam penelitian ini.
Rincian dari pokok masalah ini dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yaitu sebagai berikut: “Bagaimana pandangan Hukum Pidana Islam tentang pembobolan ATM dengan metode skimming ini ?”
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan
Sesuai dengan permasalahan yangtimbul di atas, maka dalam skripsi ini pembahasannya bertujuan untuk mengetahui hukuman atau sanksi dari tindak pidana pembobolan ATM dengan metode skimming berdasarkan hukum pidana Islam.
2. Kegunaan
a. Sebagai sumbangan pemikiran terhadap dunia ilmu pengetahuan dalam rangka memperkaya khazanah intelektual dalam hukum pidana Islam.
b. Secara teoritis, untuk memperluas dan mengembangkan wawasan pengetahuan serta pola pikir tentang tindak pidana pembobolan ATM dengan metode skimming bagi penulis dan pembaca yang tertarik dengan pembahasan ini.
c. Secara praktis, berguna bagi semua orang yang ingin mengetahui sejauh mana hukum pidana Islam dalam penjatuhan hukuman pembobolan ATM dengan metode skimming.
8
d. Untuk memenuhi salah satu syarat guna mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Syari‟ah Program Studi Hukum Pidana Islam.
D. Tinjauan Kepustakaan
Dalam kajian kepustakaan ini, belum ada penelitian yang membahas tentang pembobolan ATM. Namun penulis menemukan tentang masalah yang hampir mirip dengan tulisan penulis, adalah tulisan:
1. Fakhridal, BP. 491.006, tentang “Penggelapan dengan Menggunakan Komputer Ditinjau dari Hukum Pidana Umum dan Hukum Islam”.
Penelitian ini berisi tentang bagaima penerapan hukuman terhadap pelaku tindak pidana penggelapan menggunakan komputer ditinjau dari hukum pidana Islam dan hukum pidana umum.
2. Aditya Nur Ferdansyah, Universitas Pasundan, tentang “Pemboblan ATM Melalui Teknik Skimming Dihubungkan dengan UU No.19 tahun 2016 Tentang Perubahan atas UU No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik”. Penelitian ini berisi tentang kualifikasi, pertanggung jawaban pidana dan cara menanggulangi kasus pembobolan ATM dengan Teknik Skimming dihubungkan dengan UU No.19 tahun 2016 Tentang Perubahan atas UU No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
3. Muhammad Romi Ridlo, UIN Kalijaga, tentang “Pembobolan ATM dalam Perspektif Hukum Pidana Islam”. Penelitian ini berisi tentang Putusan Pengadilan Negeri Denpasar terhadap Pembobolan ATM dalam
Direktori Putusan Mahkamah Agung RI ( Studi Putusan Nomor:688/Pid.B/2012/PN.Dps.
Pembahasan diatas jelas sekali perbedaannya dengan penulisan yang akan penulis teliti. Pembahasan yang penulis bahas ini lebih fokus mengkaji tentang hukuman dari pembobolan ATM dengan metode skimming ditinjau dari hukum pidana Islam.
E. Penjelasan Judul
Untuk menghindari kesulitan dalam memahami judul skripsi ini, dan juga untuk mendapatkan pemahaman awal dalam skripsi ini. Maka akan penulis jelaskan kata-kata yang dianggap meragukan dalam skripsi ini yang mana judul dari skripsi ini adalah pembobolan ATM dengan metode skimming ditinjau dari hukum pidana Islam.
Pembobolan adalah suatuproses, cara atau perbuatan dalam membobol.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Membobol berarti menjebol, merusak dan menembus. Sedangkan menurut Istilah, bobol hampir satu konteks dengan rampok atau curi, yakni sama-sama mengambil milik orang lain yang bukan haknya.7
ATM adalah kependekan dari Automatic Teller Machine yang berarti Suatu alat elektronik yang malayani nasabah bank untuk mengambil uang dan mengecek rekening tabungan mereka tanpa perlu dilayani oleh seorang teller manusia.8ATM
7 Http://tekno.liputan6.com/read/2302264/mengenal-modus-pembobolan-atm -melalui- teknik-skimming. 20 Maret 2018
8Https://id.m.wikipedia.org/wiki/ATM .07 Januari 2019
10
juga melayani penyimpanan uang atau cek, transfer uang bahkan juga bisa untuk membayar BPJS.
Metode skimming adalah suatu tindalan pencurian kart kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara ilegal. Dan juga metode skimming ini dapat dikatakan juga dengan suatu aktivitas yang berkaitan dengan upaya pelaku untuk mencuri data dari pita magnetik kartu ATM/ debit secara illegal untuk memiliki kendali terhadap kartu ATM milik korban.9
Hukum Pidana Islam yang mana Secara Bahasa berasal dari kata jinayat adalah bentuk jama‟ dari kata jinayah yang berasal dari janaa dzanba yajniihi jinaayatan yang berarti melakukan dosa, kejahatan atau pelanggaran. Bab Al- Jinayah dalam fiqh Islam membicarakan bermacam-macam perbuatan pidana (jarimah) dan hukumnya10. Jinayat dalam istilah hukum Islam sering disebut dengan delik atau tindak pidana. Secara. Menurut Abd al Qodir Audah bahwa Jinayat adalah perbuatan yang dilarang oleh syara‟ baik perbuatan itu mengenai jiwa, harta benda, atau lainnya.
F. Metode Penelitan
Untuk memperoleh data dan penjelasan mengenai “Pembobolan ATM dengan Metode Skimming Ditinjau menurut Hukum Pidana Islam” dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pokok permasalahan dari judul ini di atas diperlukan suatu pedoman penelitian yang disebut metodologi penelitian.
9 Http://tekno.liputan6.com/read/2302264/mengenal-modus-pembobolan-atm -melalui- teknik-skimming. 20 Maret 2018
10 Sulaiman Rasyid, Fiqh Islam, (Banding: PT Sinar Baru Algensindo, 1988), Hal. 173
Metodologi penelitian adalah suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala permasalahan.
Dalam melakukan penelitian membutuhkan data-data yang dapat memberikan kebenaran dari suatu ilmu pengetahuan. Dimana penelitian itu sendiri mempunyai arti yaitu, suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha mana dilakukan dengan metode- metode ilmiah.
Metode-metode tersebut sangatlah penting untuk menunjang hasil yang nantinya diperoleh dari penelitian yang dilakukan, sehingga mendapatkan data dengan gambaran yang jelas mengenai permasalahan yang diteliti. Pemilihan metode juga menjadi salah satu penentuan dan kesempurnaan suatu penelitian, metode-metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Dalam pengumpulan data untuk penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode Library Research yaitu menggunakan penelitian kepustakaaan dengan membaca dan mengumpulkan data yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas yang terdapat dalam buku-buku hukum dan buku-buku lain yang berkaitan langsung dengan masalah ini.
2. Sumber Data
Sesuai dengan jenis penelitian ini maka teknik pengumpulan data adalah menelaah bahan-bahan pustaka yang terkait dengan
12
permasalahan yang diangkatkan. Oleh karena itu adapun sumber data dalam penelitan ini adalah sebagai berikut:
a. Primer
Kitab Hukum Pidana Islam olehAbdul Qadir Awdah yaitu Tasyri‟ Al-Jina‟i Al-Islami, dan Undang-undang ITE No.8 Tahun 2008
b. Sekunder
Buku-buku yang berkaitan dengan tindak pidana pembobolan ATM dengan metode skimming ini. Dan juga artikel-artikel serta media lain yang menyinggung tentang masalah tindak pindana pembobolan ATM dengan metode skimming menurut hukum Islam.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam mengumpulan data untuk dihimpun dalam bentuk bahasan yang terstruktur dan sistematis. Penulis menggunakan teknik di antaranya:
a. Reading
Membaca dan mempelajari literatur-literatur yang berkenaan dengan tema penelitian.
b. Writing
Mencatat data-data yang berkenaan atau menyakut tentang permasalan dalam penelitian ini.
4. Teknik Analisa Data
Analisa data yang dilakukan secara kualitatif, yaitu data-data yang ada dibuat dalam kata-kata dan atau kalimat-kalimat. Dalam analisa data ini menggunakan metode content analisis (analisis isi), yaitu dengan cara mendalami isi suatu informasi tertulis serta membandingkan hasil-hasil temuan dari sumber kepustakaan. Setelah mendalami isi suatu informasi, kemudian penulis menggunakan metode komperatif (perbandingan). Dimana penulis membandingkan antara satu informasi yang menjadi data utama penulis dengan data pendukung, yang nantinya akan diberikan relevansi antara data utama dengan data pendukung.
Selanjutnya untuk menarik kesimpulan, digunakan metode induktif dimana data yang telah terkumpul diolah secara selektif dan sistematis, dan kemudian ditariklah kesimpulan akhir yang bersifat umum yang merupakan kristalisasi dari hasil analisis data dari penelitian, tanpa menggunakan rumusan statistik.11
G. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah pembahasan dan pemahaman dalam penulisan skripsi ini, penulis membagi masing-masing pembahasan menjadi lima bab, dan tiap bab sebagian akan diuraikan menjadi-sub-sub bab. Untuk lebih jelasnya secara garis besarnya akan dijelaskan sebagai berikut;
11 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Ghatia Indonesia, 1990), Hal.98
14
Bab pertama dari penelitian ini berisi tentang pendahuluan yang memuat latar belakang permasalahan, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan dari penelitian ini, tinjauan pustaka yang menyangkut tentang masalah dalam penelitian ini, serta penjelasan judul penelian, metode penelitian yang digunakan dalam meneliti permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini, dan sistematika pembahasan yang mana berguna mempermudah dalam pemahaman dari penelitian ini.
Bab kedua berisi tentang tindak pidana skiming, yang mana pada bab ini penulis akan menjelaskan pengertian tindak pidana, pengertian skimming, unsur- unsur tindak pidana skimming yang terdapat dalam UU No.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, serta modus-modus yang dilakukan oleh pelaku dari tindak pidana skimming dan juga cara pembuktian dari tindak pidana skimming ini yang didasarkan pada UU No.11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.
Bab ketiga dalam penelitian ini, penulis lebih mengkaji penelitian dari permasalahan pembobolan ATM dengan metode skimming berdasarkan pandangan hukum Islam, yang manaberisi tentang pengertian sariqah, sumber dan dalil hukumsariqah yang didasarkan pada Al-Qur‟an dan As-Sunnah, syarat- syarat dan rukun dari sariqah, nisab atau batas dari sariqah dan juga hikmah atau tujuan hukuman bagi pencuri ini yang didasarkan pada syari‟at Islam.
Bab keempat dalam penelitian ini merupakan hasil dari penelitian dari masalah yang terdapat dalam skripsi ini yang mana permasalahannnya adalah
padangan hukum Islam tehadap hukuman bagi tindak pidana pembobolan ATM dengan metode skimming.
Sedangkan Bab kelima dari penulisan skripsi ini merupakan penutup yang berisi tentang kesimpulan dari masalah yang terdapat dalam skripsi ini dan juga saran.
16 BAB II
TINDAK PIDANA SKIMMING
A. Pengertian Tindak Pidana
Istilah tindak berasal dari bahasa Belanda yaitu “srafbaar feit”, yang menurut Wirjono Prodjodikoro merupakan istilah resmi dalam “Straf Wetboek”
atau kitab undang-undang hukum pidana, yang sekarang berlaku di Indonesia.1 Moeljatno dan Roeslan Saleh, sebagaimana dikutip oleh Andi Hamzah, memakai istilah perbuatan pidana, meskipun tidak dimaksudkan untuk menerjemahkan
“Strafbaar feit”.2 Utrecht menyalin istilah “strafbaar feit”, menjadi peristiwa hukum.
Selain istilah tindak pidana yang sekarang dipakai oleh undang-undang pidana di Indonesia, terdapat pula istilah “delik” yang berasal dari bahasa latin
“delictum”. Dalam bahasa Indonesia, selain istilah-istilah tersebut diatas, dikenal pula beberapa istilah lain, yang dapat dianggap sebagai terjemahan dari “strafbaar feit”, seperti:3
1. Pelanggaran pidana,
2. Perbuatan yang boleh dihukum, 3. Perbuatan yang dapat dihukum,
Baik istilah tindak pidana peristiwa pidana, delik maupun istilah-istilah lainnya, dan pada dasarnya semuanya itu mempunyai pengertian dan maksud dan
1Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, (Jakarta:PT Eresco, 1981), hlm.50.
2 Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Tiara, 1994), hlm.86.
3Musthafa Abdullah dan Ruben Ahmad, Intisari Hukum Pidana, (Jakarta:Ghalia Indonesai, 1983), hlm.25.
yang sama. Menurut Simmons sebagaimana yang dikutip oleh Musthafa Abdullah dan Rubne Ahmad adalah perbuatan salah dan melawan hukum, yang diancam dipidana dan dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.
Definisi yang dikemukakan oleh Simons tersebut menurut Andi Hamzah dipandang oleh Jonkers dan Utrecht sebagai rumusan yang lengkap, karena didalamnya di terangkan unsur-unsur yang penting dari suatu tindak pidana, yaitu:
1. Perbuatan itu diancam dengan pidana oleh hukum;
2. Perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum;
3. Perbuatan tersebut dilakukan oleh orang yang bersalah;
4. Orang itu dipandang bertanggung jawab atas perbuatannya;1
Menurut Vos, tindak pidana adalah salah kelakuan yang diancam oleh peraturan perundang-undangan, jadi suatu kelakuan yang pada umumnya dilarang dengan ancaman pidana.2 Unsur-unsur pidana yang terangkum dalam pengertian nya disini adalah:
1. Unsur melawan hukum;
2. Unsur dilakukan oleh orang yang bersalah;
3. Unsur dapat dipertanggungjawabkan;
Menurut Moeljatno, tindak pidana adalah suatu perbuatan yang memiliki unsur dan dua sifat yang berkaitan, unsur-unsur yang dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1 Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Tiara, 1994), hlm.88.
2 Tri Andrisman, Hukum Pidana, (Bandar Lampung: Unveristas Lampung, 2007), hlm.81.
18
1. Subyektif adalah berhubungan dengan diri si pelaku dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung dihatinya.
2. Obyektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaaannya, yaitu dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan.3
Menurut Djoko Prakoso bahwa tindak pidana adalah suatu pengertian yuridis, lain halnya dengan istilah “perbuatan jahat” atau “kejahatan” (crime atau verbrechen atau misdaad) yang diartikan secara kriminologis dan psikologis.
Pengertian kejahatan atau tindak pidana yang dikemukakan oleh Djoko Prakoso bahwa secara yuridis pengertian kejahatan atau tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan pelanggarannya dikenakan sanksi.
Selanjutnya Djoko Prakoso menyatakan bahwa secara kriminologis kejahatan atau tindak pidana adalah perbuatan yang melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat, dan secara psikologis kejahatan atau tindak pidana adalah perbuatan manusia yang abnormal yang bersifat melanggar hukum, yang disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dari si pelaku perbuatan tersebut.4
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tindak pidana adalah perbuatan salah dan melawan hukum, yang diancam pidana, dan dilakukan oleh
3 Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, (Jakarta:Rineka Cipta, 1993), hlm.69
4 Djoko Prakosos dan Agus Imunarso, Hak Asasi Tersangka dan Peranan Psikologi dalam Konteks KUHP, (Jakarta:Bina Aksara, 1987), hlm.137.
seseorang yang mampu bertanggung jawab. Dalam pengertian itu dapat dipahami bahwa unsur-unsur tindak pidana ini adalah:5
1. Adanya perbuatan manusia
Untuk bisa dinggap sebagai delik, maka harus ada perbuatan manusia. Apabila tidak ada perbuatan manusia, maka tidak ada delik atau tindak pidana.
2. Perbuatan itu harus melawan hukum
Suatu perbuatan baru dianggap sebagai tindak pidana, apabila perbuatannya itu melanggar norma-norma hukum yang berlaku, baik hukum pidana, hukum perdata, hukum tatanegara, maupun hukum tatausaha negara.
3. Perbuatan itu diancam dengan pidana oleh Undang-Undang
Perbuatan seseorang dapat dianggap sebagai tindak pidana, apabila perbuatan itu diancam dengan pidana oleh Undang-Undang.
Disamping perbuatan itu dilarang, juga diancam dengan hukuman.
4. Perbuatan itu dilakukakan oleh orang yang mampu bertanggung jawab Kemampuan seseorang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya merupakan unsur yang penting dalam penerapan pidana.
Karna syarat untuk adanya pertanggungjawaban pidana ialah dewasa dan berakal sehat, apabila si pelaku belum dewasa atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sehat, maka ia tidak bisa dibebani pertanggung jawaban pidana.
5 Musthafa Abdullah dan Ruben Ahmad, Intisari Hukum Pidana, (Jakarta:Ghalia Indonesai, 1983), hlm.26-27.
20
5. Perbuatan itu harus terjadi karena kesalahan si pembuat
Kesalahan ini menurut Wirjono Prodjodikoro ada dua macam, yaitu sebagai berikut:6
a. Kesengajaan (opzet)
Kesengajaan adalah kehendak yang disadari yang ditujukan untuk melakukan kejahatan tertentu.
b. Kurang hati-hati (culpa)
Arti kata culpa adalah kesalahan pada umumnya. Di dalam ilmu pengetahuan hukum culpa adalah suatu macam kesalahan sebagai akibat kurang berhati-hati, sehingga secara tidak sengaja sesuatu terjadi.
Sedangkan Andi Hamzah mengatakan kesalahan itu meliputi tiga hal, yaitu sebagai berikut:
a. Sengaja
Sengaja berarti kehendak yang disadari yang ditunjukan untuk melakukan kejahatan tertentu.
b. Kelalaian (culpa)
Kelalain terbagi atas dua jenis yaitu, kurang hati-hati dan kurang melihat ke depan yang perlu.
c. Dapat dipertanggung jawabkan7
Orang yang melakukan perbuatan kejahatan dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya.
6 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesai, (Jakarta:PT Eresco, 1981), hlm.55.
7 Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, (Jakarta: PT. Tiara, 1994), hlm.86.
B. Pengertian Skimming
Tindak pidana skimming merupakan perbuatan pidana yang baru yang mana perbuatan ini melanggar hukum pidana yang diatur dalam hukum pidana khusus tentang kejahatan dunia maya (Cybercrime). Tindak pidana ini dilakukan menggunakan kemajuan teknologi komputer dan jaringan yang mengakibatkan kerugian bagi korbannya.
Skimming adalah suatu tindakan pencurian informasi kartu kredit atau debit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu kredit atau debit secara illegal. Dapat disimpulkan bahwa skimming adalah aktivitas yang berkaitan dengan upaya pelaku untuk mencuri data dari pita magnetik kartu ATM/debit secara illegal untuk memiliki kendali atas kendali korban8 pelaku cybercime ini memiliki latar belakang kemampuan yang tinggi di bidangnya sehingga sulit untuk melacak dan memberantasnya secara tuntas.9
Teknik pembobolan kartu ATM nasabah melalui teknik skimming pertama kali teridentifikasi pada tahun 2009 lalu di ATM Citibank, Woodland, California. Sedangkan di Indonesia juga terjadi tindak kejahatan skiming pada tahun 2018, yang mana tindak kejahatan ini, membobol ATM menggunakan metode skimming di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dikenal dengan BRI dan PT Bank Mandiri Tbk. Yang mana dilansir dari media massa bahwasanya para nasabah dari bank-bank tersebut melakukan pemblokiran rekening lantaran saldo mereka terkuras secara misterius. Beberapa nasabah tersebut mengaku kehilangan
8http://tekno.liputan6.com (Diakses pada tanggal 17 Mei 2018)
9 Budi Suhariyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cybercrime): Urgensi Pengaturan dan Celah Hukum, (Jakarta: Rajawali, 2013), hlm.17.
22
dana mulai dari Rp 178.000, Rp 700.000, Rp 2.000.000, hingga ada yang mencapai Rp 5.000.00010.
Teknik pembobolan ATM dengan metode skimming dilakukakan dengan cara menggunakan suatu alatyang dikenal dengan skimmer, yang mana alat ini ditempelkan pada slot mesin ATM (tempat memasukkan kartu ATM). Modus operandinya adalah menyalin data dari magnetic stripe yang terdapat pada kartu ATM milik nasabah.11
Sebagai informasi, magnetic stripe adalah garis lebar hitam yang berada di bagian belakang kartu ATM. Fungsinya kurang lebih seperti tape kaset, material ferromagnetic yang dapat dipakai untuk menyimpan data (suara, gambar, atau bit biner). Secara teknis cara kerjanya mirip CD writer pada komputer yang mampu membaca CD berisi data, kemudian menyalinnya ke CD lain yang masih kosong.
Dan isinya dapat dipastikan akan sama persis dengan CD aslinya.
Skimmer berarti alat yang bisa digunakan untuk aktivitas pencurian infromasi yang dilakukan dari kartu nasabah, baik dari kartu ATM maupun kartu kredit. Dengan memasang alat di mulut ATM, pelaku bisa mendapatkan data dari kartu nasabah. Kemudian tinggal memasukkan ke dalam kartu ATM bodong/kartu ATM bank yang telah dipalsukan untuk mendapatkan uang dari korban.12
Tetapi skimmer bukan satu-satunya alat yang digunakan oleh para pelaku biasanya juga memanfaatkan kamera pengintai (spy cam) untuk mengetahui gerakan jari nasabah bank saat memasukkan PIN kartu ATM. Namun kamera
10Galvan Yudistira, Tribunnews.com, Jakarta, Selasa/20 Maret 2018
11 Http://tekno.liputan6.com/read/2302264/mengenal-modus-pembobolan-atm -melalui- teknik-skimming. (diakses pada tanggal 20 Maret 2018)
12 Prasadi T. Susmaatmadja, Komputer dan Hukum, (Jakarta:PT Sinar Grafika, 1993), hlm.162.
pengintai ini sudah jarang digunakan seiring dengan semakin canggih alat skimmer yang digunakan para pelaku. Kini telah beredar pula jenis skimmer yang dilengkapi dengan kemampuan membaca kode PIN kartu ATM, dan hebatnya lagi, skimmer jenis ini juga bisa langsung mengirimkan data-data yang terdapat via SMS pada pelaku.
C. Modus Operandi Tindak Pidana Skimming
Pembobolan ATM dengan metode skimming yang mana merupakan salah satu kejahatan yang menembus keamanan ATM (hacking) dalam sistem perbankan dengan menggunakan sarana dan prasarana serta identitas orang lain guna memalsukan kartu kredit dan juga merupakan salah satu cabang dari kejahatan carding13.
Modus operandi pembobolan ATM dengan Metode ini (skimming) yang digunakan oleh pelaku untuk membobol ATM nasabah, yaitu dengan sebagai berikut:14
1. Teknik skimming pada ATM
Pada saat memasukkan kartu ATM ke mesin ATM, mesin ATM akan mambaca informasi pada kartu ATM untuk digunakan sebagai kunci mengakses fasilitas perbankan. Salah satu jalan untuk mencuri data informasi pada kartu ATM yaitu dengan memasang alat skimmer di depan mulut tempat memasukkan kartu ATM. Dengan terpasangnya
13Carding atau Credit Card Froud, suatu kejahatan kartu kredit, meupakan satu bentuk dari pencurian (thelf) dan kecurangan (froud) di dunia internet yang dilakukan oleh pelakunya dengan menggunakan kartu kredit palsu yang dibuat sendiri.
14http://tekno.liputan6.com (Diakses pada tanggal 27 Agustus 2018)
24
skimmer pada mulut ATM, maka setiap nasabah yang melakukan transaksi dengan memasukkan kartunya ke ATM, sebelum data tersebut dibaca oleh mesin ATM, alat skimmer pun telah membaca dan merekam data kartu anda untuk selanjutnya akan dicopykan ke kartu magnetik lainnya. Selanjutnya sang pencuri tinggal mengambil alat skimmernya, dan menduplikasikan kartu-kartu ATM milik nasabah- nasabah yang sempat mengakses ATM tersebut.
2. Cara mengetahui PIN nasabah
Para pelaku kejahatan ini memasang hidden camera untuk merekam moment saat menekan nomor PIN di ATM tersebut. Camera tersebut bentuknya sangat kecil, dan memiliki internal memory yang cukup besar.Pemasangan camera ini, digunakanuntuk merekam aktifitas pemasukan PIN ATM.
3. Pembuatan kartu Magnetik Palsu
Saat sang pelaku mengambil kembali skimmer dan camera, si pelaku sudah mendapatkan data-data kartu ATM yang telah dibajak lengkap dengan nomor PIN. Selanjutnya, sang pencuri tingggal membuat kartu magnetik baru dengan data-data kartu kita didalamnya dengan alat yang umum. Selanjutnya sang pencuri memiliki akses penuh selayaknya pemilik rekening yang dicuri.
D. Unsur-Unsur Tindak Pidana Skimming
Tentang unsur-unsur tindak pidana skimming ini beberapa sarjana yang masing-masing mempunyai definisi sendiri namun tidak terlepas dari unsur-unsur
hukumnya. Dalam pasal 30 ayat (1) Undang-Undang No.11 tahun 2018 tentang informasi dan transaksi elektronik, yang mana bunyinya :
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun.”
Dari bunyi pasal 30 ayat (1) Undang-Undang No.11 tahun 2018 maka unsur-unsur yang terdapat dalam pasal tersebut adalah:
1. Setiap orang
2. Dengan sengaja dan tanpa hak
3. Mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun
Unsur-unsur yang terdapat di dalam pasal 30 ayat (1) ini untuk lebih jelasnya penulis akan menguraikan satu persatu dari unsur-unsur tersebut:
1. Setiap orang
Menunjukkan pada setiap orang, tidak terbatas pada suatu golongan tertentu atau mereka mempunyai jabatan tertentu, akan tetapi dikenakan terhadap sesuai orang atau siapa saja yang melakukan tindak pidana sebagaimana yang dicantumkan pada pasal tersebut, tidak terbatas pada jenis kelamin apakah dia laki-laki atau perempuan, tua muda, pejabat atau bukan pejabat.
Barang siapa yang dimaksud dalam pasal ini sebagaimana juga dalam pasal-pasal yang lain adalah subjek yang melakukan tindak pidana, dan subjek dalam hukum pidana adalah orang atau manusia atau natuurlijke person.
26
Dari setiap pelaksanaan kaedah hukum manusia merupakan unsur mutlak dari hukum itu sendiri, jadi dalam hal ini peraturan hukum menjamin suatu kepentingan tertentu bagi setiap orang (siapa saja) yang bersangkutan karena terkait kepada suatu peraturan hukum.15
2. Dengan sengaja dan melawan hukum
Istilah sengaja yang berarti opzet (dolus) diketahui dan dikehendaki, disamping mencantumkan unsur-unsur “melawan hukum”.
Dengan sengaja (opzet telijk) dan melawan hukum (wedeerech telijk). Unsur dengan sengaja dan melawan hukum inilah merupakan unsur subjektif pada pasal 30 ayat (1), di samping mencantumkan unsur dengan sengajapasal 30 ayat (1) Undang-Undang No.11 tahun 2018 juga mencantumkan unsur melawan hukum.
Yang dimaksud dengan unsur subjektif dari tindak pidana adalah kesalahan dari orang yang melanggar hukum atau ketentuan pidana yang artinya bahwa pelanggaran itu harus dapat dipertanggungjawabkan kepada si pelaku.
Dalam teori dikenal 3 macam corak dari kesengajaan, yaitu:
a. Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk)
Apabila yang akan terjadi benar-benar dikehendaki oleh si pelaku.
b. Kesengajaan sebagai keharusan (opzet bijbewuszijn)
15 Van Kan. J.H. Beekhuis, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: PT. Pembangunan Ind Pustaka Sarjana, 1984), hlm.178.
Apabila yang terjadi walaupun secara langsung tidak tunjukkan atau dikehendaki oleh si pelaku, namun ada yang terjadi itu dapat diketahui dengan pasti.
c. Kesengajaan sebagai kemungkinan (obzet bijnogelijk heids bewwuztzijn), atau biasa disebut sebagai “sengaja bersyarat”
atau dalam bahasa latin disebut “dolus oventualis”.16
3. Mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun.17
Mengakses secara melawan hukum berarti bertindak seakan-akan seseorang pemilik atau bertindak sebagai pemilik, sedangkan sebenarnya ia bukan pemilik atau tidak mempunyai hak atas barang yang dimilikinya itu.
E. Pembuktian dan Pencegahan Tindak Pidana Skimnming 1. Pembuktian Tindak Pidana Skimming
Kecanggihan teknologi komputer telah memberikan kemudahan- kemudahan, terutama dalam membantu perkerjaan manusia. Selain itu, perkembangan terknologi komputer menyebabkan munculnya jenis kejahatan-kejahatan baru dengan memanfaatkan komputer sebagai modus operandinya. Penyalahgunaan komputer dalam perkembangannya sangat rumit, terutama kaitan dengan proses pembuktian tindak pidana.
16 Moelianto, Azas-Azas Hukum Pidana, (Jakarta: Renika Cipta, 1983), hlm.177.
17 Barda Nawawi, Pembaruan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kajian Perbandingan, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2011), hlm.133.
28
Maraknya kejahatan yang terjadi dalam bidang perbankan, seperti kejahatan skimming ini, mempengaruhi stabilitas dan rasa aman bagi nasabah bank. Berdasarkan pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dinyatakan bahwa:18
a. Informasi Elektronik dan atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya merupakan alat bukti hukum yang sah.
b. Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perluasan dari alat bukti yang sah seseuai dengan hukum acara yang berlaku di Indonesia.
c. Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan Sistem Elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
d. Ketentuan mengenai indormasi Elektronik dan/atau dokumen Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku untuk:
1) Surat yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk tertulis;dan
2) Surat beserta dokumennya yang menurut undang-undang harus dibuat dalam bentuk akta notaris atau akta yang dibuat oleh pejabat pembuat akte.
Pada pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik di atas merupakan putusan dari alat bukti yang sah segaimana diatur dalam pasal 184 KUHP, yaitu:19
a. Keterangan saksi-saksi, dalam pasal 185 KUHAP ayat (1) disebutkan bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan dalam persidangan. Penjelasan KUHAP menyatakan bahwa dalam keterangan saksi tidak termasuk keterangan yang diperoleh dari orang lain. Pasal 1 angka (27)
18 https://web.kominfo.go.id (UU No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik) (diakses pada tanggal 02 Maret 2018)
19 Andi Hamzah, Hukum Pidana yang Berkaitan dengan komputer, (Jakarta: Sinar Grafika, 1993), hlm. 120.
KUHAP menyatakan bahwa keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa yang ia dengar sendiri, lihat sendiri dan dialami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya.
b. Keterangan ahli, pasal 186 KUHAP menyatakan bahwa keterangan seorang ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan. Selanjutanya penejelasan pasal 186 KUHAP menyatakan bahwa keterangan ahli ini dapat juga diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.20
c. Surat, diatur dalam pasal 187 KUHAP, yang dibedakan atas empat macam surat, yaitu:
1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwewenang atau yang dibuat dihadapannya, didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan tentang keterangan itu;
2) Surat lain yang dibuat menurut peraturan undang-undang atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang
20 Andi Hamzah, Hukum Pidana yang Berkaitan dengan komputer, (Jakarta:Sinar Grafika, 1993), hlm. 121.
30
termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau keadaan;
3) Surat keterangan dari seseorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai suatu hal atau keadaan yang diminta secara resmi dari padanya;dan
4) Surat izin yang hanya dapat berlau jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian yang lain.
d. Petunjuk, pasal 188 ayat (1) KUHAP memberi definisi petunjuk sebagai perbuatan, kejadian atau keadaan, yang karena penyesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya.
Selanjutanya pasal 188 ayat (3) KUHAP dinyatakan bahwa penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif dan bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan berdasarkan hati nuraninya.
e. Keterangan terdakwa, menurut pasal 189 ayat (1) KUHAP adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri dan alami sendiri.
Berdasarkan alat bukti yang disebukan dalam pasal 184 KUHAP, mengenai alat bukti telah diterangkan bahwa dalam kejahatan dengan
menggunakan komputer dapat ditemukan beberapa alat bukti yang tertera di dalam pasal 184 KUHAP, yaitu surat, keterangan ahli, dan petunjuk.
Selain itu berdasarkan pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik mengenai alat bukti berupa informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik, apabila dikaitkan dengan pasal 184 KUHAP termasuk alat bukti surat,21 maka dalam hal ini pelaku kejahatan pencurian dana nasabah bank dengan modus skimming dapat dijerat dengan alat bukti tersebut karena pelaku menggunakan teknologi komputer yang dinamakan skimmer untuk memindahkan data elektronik dari kartu ATM milik korbannya dan memindahkan ke kartu ATM milik pelaku untuk keuntungannya.
Kedua keterangan ahli, peran keterangan ahli merupakan untuk memberikan suatu penjelasan didalam persidangan bahwa dokumen yang diajukan adalah sah dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Ketiga alat bukti petunjuk, alat bukti petunjuk dilakukan oleh hakim dengan melihat dari perbuatan dalam hal ini hakim melihat perbuatan pelaku kejahatan dengan modus pencurian dana nasabah bank dengan modus penggandaan kartu ATM telah merugikan pihak bank dan nasabah.
Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang No.11 tahun 2008 tentanag informasi dan transaksi elektronik (ITE) dapat diakomodasi sebagai upaya hukum dalam kejahatan dengan modus pencurian dana nasabah bank dengan modus skimmer, yang berbunyi:
21www.academia.edu/38049331 (diakses pada tanggal 23 Januari 2019)
32
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apapun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyiakn suatu informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik milik orang lain atau milik publik”
Tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok seperti yang diatur dalam pasal 32 ayat (1) Undang-Undang informasi dan transksi elektronik diatas, terdiri dari unsur subjektif dan unsur objetif, yakni sebagai berikut:
a. Unsur Subjektif:
1) Dengan sengaja;
2) Tanpa hak;
3) Secara melawan hukum;
b. Unsur objektif 1) Setiap orang;
2) Mengubah, manambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan, suatu informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik;
3) Milik orang lain atau publik.
Berdasarkan hal-hal diatas, memang sangat sulit untuk membuktikan pelaku kejahatan yang menggunakan teknologi informasi, seperti kejahatan pencurian dana nasabah dengan modus skimmerini. Tapi dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, diatur tentang ada beberapa yang bisa digunakan untuk dijadikan alat bukti yang mana, dokumen, dan tanda tangan
elektronik merupakan alat bukti hukum yang sah yang dapat diakomodasi sebagai upaya hukum dalam mengatasi kasus ini.22
2. Pencegahan Dari Tindak Pidana Skimming
Upaya atau kebijakan dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan termasuk ke bidang kebijakan kriminal.
Kebijakan kriminal itu pun tidak terlepas dari kebijakan yang luas, yaitu kebijakan sosial, yang terdiri dari upaya-upaya untuk kesejahteraan sosial dan upaya untuk perlindungan masyarakat. Kebijakan penanggulangan kejahatan diakukan dengan menggunakan secara “penal” (hukum pidana), maka kebijakan hukum pidana khususnya pada tahap kebijakan yudikatif harus memperlihatkan dan mempengaruhi agar tercapainya tujuan dari kebijakan sosial, yang berupa social welfare (kesejahteraan masyarakat) dan social defence (perlindungan masyarakat).
Ada beberapa cara untuk mencegah tindak pidana skimming yang bisa dilakukan oleh para nasabah adalah sebagai berikut:
a. Hati-hati dalam menekan PIN
Meski tidak ada orang lain saat berada di ATM, anda tetap harus waspada. Karna kamera tersembunyi bisa saja sedang memantau aktivitas, termasuk untuk mengetahui password PIN korban.
b. Perhatikan lokasi ATM
22https://elib.unikom.ac.id (diakses pada tanggal 23 Januari 2019)
34
Para nasabah harus menghindari ATM di daerah yang sepi dan di malam hari. Seperti ATM yang berada di luar lingkuangan Bank.
c. Periksa saldo rekening secara teratur
Para nasabah harus memeriksa saldo rekening secara teratur. Karna dengan begitu nasabah bisa segera mengetahui jika ada transaksi penarikan uang yang aneh.
d. Perhatikan kondisi ATM
Para nasabah harus memperhatikan seksama ATM, dan juga memastikan keaslian slot kartu ATM bukan tempela.
Terutama pada saat merasakan keanehan ketika memasukkan kartu ATM.23
23 Cyber4mi4c.blogspot.com/2014/06/skimming-teknik-penipuan-kartu-atm.html?m=1 (diakses pada tanggal 12 Maret 2019)
35 BAB III SARIQAH
A. PengertianSariqah
Sariqah termasuk ke salah satu dari jarimah yang hukumannya telah disebutkan di dalam Al-Qur‟an. Disini Sariqahditunjukkan bahwa jarimah ini sangat berbahaya, karena ia mengancam salah satu sendi kehidupan manusia yaitu, harta benda. Dalam syari‟at Islam, harta termasuk salah satu kebutuhan pokok yang harus dilindungi dan dijaga. Setiap perpindahan hak milik dari seseorang ke orang lain dengan cara melawan hukum maka dengan sendirinya dapat dikatakan dengan tindak pidana yang diancam dengan hukuman.
Secara bahasa sariqah adalah bentuk mashdar dari kata saraqa-yasriqu- saraqan dan secara etimologi berarti mengambil harta milik seseorang secara sembunyi-sembunyi.1Sementara secara terminologis definisi sariqahdikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
1. Menurut Ali bin Muhammad Al-Jurjani, Sariqah dalam syariat Islam yang pelakunya harus diberi hukuman potong tangan adalah mengambil sejumlah harta senilai sepuluh dirham yang masih berlaku, disimpan di tempat penyimpanan atau dijaga dan dilakukan oleh seorang mukallaf secara sembunyi-sembunyi serta tidak terdapat unsur syuhbat,2 sehingga kalau barang itu dapat dikategorikan sebagai pencurian yang pelakunya diancam hukuman potong tangan.
1 A.W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997) Cet. Ke -14, hlm.628.
2Nurul Irfan &Masyrofah, Fiqh Jinayah, ( Jakarta: Amzah, 2013), hlm. 99
36
2. Menurut Muhammad Al-Khatib Al Syarbini ( Ulama Mazhab Syafi‟i), Sariqah secara bahasa berarti mengambil harta (orang lain) secara sembunyi-sembunyi, dan secara istilah syara‟ adalah mengambil harta (orang lain) secara sembunyi-sembunyi dan zalim, diambil dari tempar penyimpanan yang biasa digunakan untuk menyimpan dengan berbagai syarat.1
3. Menurut Abdul Qadir Audah, Ada dua macam sariqah menurut syarat Islam, yaitu sariqah yang diancam dengan had dan sariqah diancam dengan ta‟zir. Sariqah yang diancam dengan had dibedakan menjadi dua, yaitu pencurian kecil dan pencurian besar. Pencurian kecil ialah mengambil harta milik orang lain secara diam-diam. Sementara itu, pencurian besar ialah mengambil harta milik orang lain dengan kekerasan. Pencurian jenis ini juga disebut dengan perampokan.2
Ada definisi lain mengatakan bahwa pencurian adalah perbuatan mengambil harta milik orang lain secara diam-diam dengan tujuan tidak baik, yang dimaksud dengan mengambil harta secara diam-diam adalah mengambil barang tanpa sepengetahuan pemiliknya, dan tanpa kerelaannya, seperti mengambil barang dari rumah milik orang lain ketika penghuninya tidak ada di rumah.3 Dari beberapa rumusan definisi sariqah diatas, dapat disimpulkan bahwa sariqah ialah mengambil barang atau harta orang lain secara sembunyi-sembunyi dari tempat
1 Wahbah Al-Zuhaili, Al-fiqh Al-Islami wa Adillatuh, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1997), cet.
Ke-4, jilid VII, hlm.5422.
2 Abdul Qadir Audah, Al-Tasyri‟ Al-Jina i Al-Islami, (Beirut:Mu‟assasah Al-Risalah, 1992), Jilid II, hlm.514.
3 Topo Santoso,Membumikan Hukum Pidana Islam: Penegakan Syari‟at dalam Wacana dan Agenda, (Jakarta:Gema Insani Pres, 203), hlm.28.
penyimpanannya yang biasa digunakan untuk menyimpan barang atau harta kekayaan.4
Melengkapi definisi yang di atas, Abdul Qadir Audah memberikan penjelasan yaitu, perbedaan antara pencurian kecil dan pencurian besar. Pencurian kecil ialah pengambilan harta kekayaan yang tidak disadari oleh korban dan dilakukan tanpa izin. Pencurian kecil itu harus memenuhi dua unsur tersebut secara bersamaan. Kalau salah satu dari kedua unsur tersebut tidak ada, tidak dapat disebut dengan pencurian kecil. Jika ada seseorang yang mencuri harta benda dari sebuah rumah dengan disaksikan si pemilik dan pencuri tidak menggunakan kekuatan fisik dan kekerasan, maka kasus seperti ini tidak termasuk pencurian kecil, tetapi penjarahan. Demikian juga sesorang yang merebut harta orang lain, tidak masuk dalam jenis pencurian kecil, tetapi disebut dengan pemalakan dan perampasan. Baik penjarahan, penjambretan, maupun perampasan, semuanya termasuk ke dalam lingkup pencurian. Meskipun, jarimah itu tidak termasuk ke dalam lingkup pencurian. Meskipun demikian, jarimah itu tidak dikenakan hukuman had (tetapi hukuman ta‟zir). Seseorang yang mengambil harta dari sebuah rumah dengan direlakan pemiliknya dan tanpa disaksikan olehnya, tidak dapat dianggap pencuri.5
Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa jenis dan modus operandi pencurian kecil itu beragam. Selain itu, pengklasifikasikan jarimah ini juga penting untuk menentukan jenis sanksi yang akan dijatuhkan. Selanjutnya Abdul Qadir Audah menjelaskan mengenai pencurian besar.Adapun pencurian besar
4 M. Nurul Irfan, Korupsi dalam Hukum Pidana Islam, (Jakarta:Amzah, 2012), cet.I, hlm.117.
5 Abdul Qadir Audah, Al-Tasyri‟ Al-Jina i Al-Islami...., hlm.514.