• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM BANK RAKYAT INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "V. GAMBARAN UMUM BANK RAKYAT INDONESIA"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

V. GAMBARAN UMUM BANK RAKYAT INDONESIA

5.1. Sejarah BRI

Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan pada tanggal 16 Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Aria Wirjaatmadja dengan nama Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia (pribumi).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI merupakan bank pemerintah pertama di Republik Indonesia . Adanya situasi perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuk Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintergrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.

Setelah berjalan selama satu bulan keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim). Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai Bank Umum.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-undang Perbankan No. 7 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 Tahun 1992 status BRI berubah menjadi PT. Bank Rakyat Indoneia (Persero) yang kepemilikannya masih 100 persen di tangan pemerintah.PT. BRI (Persero) yang didirikan sejak tahun 1895

(2)

didasarkan pelayanan pada masyarakat kecil sampai sekarang tetap konsisten, yaitu dengan fokus pembiayaan kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Bank Rakyat Indonesia memiliki fungsi seperti bank pemerintah lainnya, yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit. Fokus BRI terhadap pembiayaan kepada UMKM mendorong BRI untuk membentuk Unit Desa yang bertujuan memberikan pelayanan perbankan dalam wilayah kerjanya yang bersifat membantu aktivitas kantor cabang induknya. Hal ini juga berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 4 Tahun 1973 tanggal 5 Mei 1973 tentang unit desa. Pada awal berdirinya, kegiatan BRI Unit Desa memberikan pelayanan kredit Bimas disamping menjalankan usaha mobilisasi dana berupa Tabanas Taska dan pelayanan kredit non Bimas4

5.2. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Jangka Panjang BRI

Visi BRI adalah “Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah” yang kemudian diwujudkan dalam misinya yaitu :

a. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat.

b. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh SDM yang profesional dengan melaksanakan praktek Good Corporate Governance.

c. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder)

BRI juga memiliki tujuan khusus di bidang kredit, yaitu menjadi bank komersial dengan menitikberatkan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kredit yang disalurkan oleh BRI kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah sebesar 80 persen. Bidang pendanaan BRI mengutamakan kepuasan nasabah dengan memberikan pelayanan yan prima

      

4 Ichsan. 2010. Visi-misi & Sejarah Bank BRI. http://tunas63wordpresscom/2010/06/23/visi-misi- dan-sejarah-bank-bri/ . [26 Oktober 2011]

(3)

melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan mengembangkan dukungan teknologi perbankan yang canggih.

Selain itu, BRI juga menetapkan tujuan untuk kepentingan stakeholders baik dari pemerintah maupun publik, yaitu :

a. Pemerintah

BRI berperan serta dalam meningkatkan mutu industri perbankan di Indonesia, memperlancar perputaran uang di masyarakat, menjadi agen pembangunan dan meningkatkan pendapatan pajak.

b. Pemegang Saham

BRI memberikan tambahan penghasilan bagi pemegang saham melalui dividen yang dibagikan sesuai keuntungan dna keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

c. Nasabah

BRI memberikan bantuan di bidang permodalan dan mengamankan dana masyarakat serta member jasa perbankan melalui pelayanan dan kualitas yang terbaik, sehingga memberi nilai tambah yang wajar dan terpeliharanya hubungan kemitraan dengan nasabah.

d. Pekerja

BRI menjadikan pekerja sebagai asset utama perusahaan serta menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang sehat, mengembangkan budaya kerja perusahaan (corporate culture) dan memberikan penghasilan bagi pekerja.

e. Masyarakat

BRI memberikan kontribusi kepada masyarakat untuk membangun ekonomi, sosial maupun lingkungan dengan menyisihkan sebagian laba usaha yang diperoleh.

Sasaran jangka panjang BRI adalah :

a. Menjadi bank sehat dan salah satu dari lima bank terbesar dalam asset maupun keuntungan.

b. Menjadi bank terbesar dan terbaik dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah.

c. Menjadi bank terbesar dan terbaik dalam pengembangan agribisnis.

d. Menjadi bank go public terbaik.

(4)

e. Menjadi bank yang melaksanakan good corporate governance secara konsisten.

5.3. Bidang Usaha dan Produk BRI

Bidang usaha BRI terdiri dari bidang usaha simpanan, pinjaman, jasa bank, produk konsumer, invesment banking dan priority banking5.

a. Bidang simpanan

Bidang simpanan meliputi Deposito BRI (Depobri) baik dalam mata uang rupiah, valuta asing maupun Deposit On Call, Giro BRI baik dalam bentuk mata uang rupiah maupun valuta asing, Britama, Simpedes, Simpedes TKI, Britama Dollar dan Britama Junior.

b. Bidang Pinjaman

Bidang pinjaman meliputi kredit Mikro (Kupedes), kredit ritel (Kredit Agunan Kas, Kredit Express, Kredit Investasi, Kredit Modal Kerja atau KMK, KMK Ekspor KMK Konstruksi, Kredit BRIGuna, Kredit Waralaba, Kredit SPBU, Kredit Resi Gudang, KMK Talangan SPBU, KMK Konstruksi- BO I), Kredit Batubara, KMK Mitra HMCC, Kredit Mitra WIKA, Kredit Waralaba ALFAMART, Kredit Pemilikan Gudang, Kredit Pengadaan Tabung Elpiji 3 kg, KMK Mitra PP, Kredit Kepada Anggota PDGI, Kredit Kepada PPTKIS & TKI, Kredit Waralaba Apotik K24), kredit menengah (agribisnis dan umum), kredit program (KKPEN-RP, KKPE-Tebu, KKPE), dan kredit usaha rakyat (KUR) dan KUR TKI.

c. Bidang Jasa Bank

Bidang jasa bank meliputi jasa bisnis (Bank Garansi, Kliring, Remittance, SKBDN), jasa keuangan (Bill Payment, Penerimaan Setoran, Transaksi Online, Transfer dan LLG), jasa lain (Layanan Ekspor dan Impor), Kelembagaan (SPP Online dan Cash Management BRI), E-Banking (ATM, SMS Banking, Phone Banking, Internet Banking, e-Buzz, KIOSK BRI, Mini ATM BRI, BRIZZI, MoCash), treasury (Foreign Exchange, money market, fixed income, produk derivatif), dan jasa bank internasional (BRIfast Remittance, dan lainnya).

      

5[BRI] Bank Rakyat Indonesia. 2008.

http://www.bri.co.id/JasaLayanan/PriorityBanking/tabid/267/Default.aspx [26 Oktober 2011]

(5)

d. Bidang Produk Konsumer

Bidang produk konsumer meliputi kartu kredit, kredit pemilikan rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), dan kredit multiguna (KMG).

e. Bidang Investment Banking

Bidang ini meliputi DPLK BRI (Produk Dana Pensiun Lembaga Keuangan Bank Rakyat Indonesia), ORI & SR (Obligasi Negara Ritel dan Sukuk Negara Ritel), jasa wali amanat dan jasa kustodian.

f. Bidang Priority Banking

Bidang ini merupakan bentuk layanan BRI yang memberikan manfaat maksimal kepada nasabah BRI yang tergolong dalam segmen Affluent &

High Network Individual. Layanan ini berbentuk solusi produk perbankan kepada nasabah hingga pengelolaan kekayaan secara menyeluruh dan komprehensif melalui produk investasi.

5.4. Gambaran Umum Bank Rakyat Indonesia Unit Lalabata Rilau

BRI Unit Lalabata Rilau merupakan salah satu dari 10 unit yang berada di wilayah Kantor Cabang Watansoppeng. BRI Unit Lalabata Rilau terletak di Jalan Kemakmuran, Kelurahan Lemba Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng.

Wilayah kerjanya hanya berkisar di Kecamatan Lalabata. Kabupaten Soppeng merupakan salah satu sentra penghasil produk pertanian, terutama padi. BRI Unit Lalabata Rilau merupakan Unit BRI penyalur KUR Mikro pertanian terbesar kedua di wilayah Kantor Cabang Watansoppeng. Mayoritas nasabah KUR Mikro di BRI Unit Lalabata Rilau memiliki usaha yang bersifat dagang dan jasa, yaitu sebanyak 626 orang debitur KUR Mikro. Namun, nasabah yang bergerak di bidang agribisnis baik on farm maupun off farm hanya BRI Unit Lalabata Rilau dan BRI Unit Pajalesang. Prestasi pengembalian KUR Mikro di BRI Unit Lalabata Rilau lebih baik dibandingkan dengan BRI Unit Pajalesang. Nasabah KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau yang bergerak di bidang pertanian on farm sebagian besar adalah petani padi dan beberapa merupakan peternak, sedangkan untuk nasabah pertanian off farm didominasi oleh pedagang produk pertanian yang meliputi pengusaha warkop, pengusaha rumah makan, penjual sayuran di pasar, industri mebel, maupun pengusaha warung sembako. Nasabah agribisnis di BRI Unit Lalabata Rilau jumlahnya terbesar kedua di wilayah kantor cabang

(6)

Watansoppeng setelah BRI Unit Pajalesang, namun pengembaliannya jauh lebih baik. Realisasi KUR Mikro di wilayah Kantor Cabang Watansoppeng dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro BRI Wilayah Kantor Cabang Watansoppeng hingga Mei 2011

BRI Unit

Realisasi KUR Plafon

(Rp)

Outstanding (Rp)

Penyaluran Kredit Pertanian

(orang)

NPL

Unit Ompo 7.386.500.000 5.150.538.152 - 1,08 Unit Jennae 5.036.500.000 3.271.569.979 - 1,81 Unit Takalala 6.881.520.000 5.034.968.300 - 0,50 Unit Batu-

Batu

6.210.000.000 3.819.583.781 - 1,35

Unit Lalabata Rilau

6.566.500.000 4.607.203.947 10 0,03

Unit Pattojo 4.275.000.000 2.972.229.248 - 0,00 Unit Cennae 5.160.000.000 3.387.671.781 - 1,95 Unit

Pacongkang

3.941.500.000 2.946.130.179 - 0,33

Unit Pajalesang

6.161.500.000 4.508.387.426 16 5,95

Unit Labokong

4.433.500.000 2.940.858.254 - 0,24

Sumber : BRI Unit Lalabata Rilau (2011)

BRI Unit Lalabata menyediakan beberapa produk bagi nasabah, meliputi simpanan, pinjaman, dan jasa bank lainnya.

a. Deposito, merupakan simpanan berjangka yang memiliki suku bunga lebih tinggi dibandingkan dengan tabungan. Deposito BRI tersedia dalam jangka waktu 1, 2, 3, 6, 12, 18, dan 24 bulan dengan setoran minimal 2,5 juta rupiah.

(7)

Sebagian besar nasabah BRI Unit Lalabata yang memiliki deposito memilih deposito dengan jangka waktu 1 bulan.

b. Giro, merupakan rekening yang uangnya dapat diambil setiap saat dimana rekening ini dilengkapi fasilitas pembayaran dengan cek dan giro bilyet6. Nasabah yang menggunakan produk giro di BRI Unit Lalabata Rilau sebanyak empat orang.

c. Simpedes, merupakan produk tabungan dalam mata uang rupiah yang dapat dilayani baik di kantor cabang khusus BRI (Kanca BRI), KCP BRI, BRI Unit, maupun Teras BRI dimana jumlah penyetoran dan pengambilannya tidak dibatasi jumlah maupun frekuensi pengambilannya selama memenuhi kekentuan yang berlaku. Pada bulan Mei 2011, jumlah nasabah Simpedes BRI Unit Lalabata sebanyak 7.735 orang dengan jumlah simpanan sebesar Rp 34.627.995.661,24.

d. Britama, merupakan produk tabungan BRI dengan setoran awal sebesar 250 ribu rupiah. Berbeda dengan Simpedes, nasabah Britama yang memiliki saldo tabungan minimal 500 ribu rupiah berhak mendapatkan fasilitas asuransi kecelakaan diri dengan nilai pertanggungan sebesar 250 persen dari jumlah saldo dan maksimal pertanggungan 150 juta rupiah. Hingga bulan Mei 2011, tercatat jumlah simpanan Britama di BRI Unit Lalabata Rilau sebesar Rp 694.443.576 dengan total nasabah sebanyak 106 orang.

e. Kupedes, merupakan produk pinjaman BRI bagi bidang usaha mikro dengan plafon maksimal 100 juta rupiah. Pada bulan Mei 2011, BRI Unit Lalabata Rilau memiliki nasabah Kupedes aktif sebanyak 187 orang.

f. KUR Mikro, merupakan produk pinjaman BRI tanpa agunan bagi bidang usaha mikro dengan plafon maksimal 20 juta rupiah. Jumlah nasabah aktif KUR Miko di BRI Unit Lalabata Rilau hingga bulan Meil 2011 sebanyak 343 orang dan yang bergerak di bidang agribisnis sebanyak 255 orang.

g. Jasa Perbankan, BRI Unit Lalabata Rilau menyediakan jasa layanan berupa ATM BRI.

BRI Unit Lalabata Rilau dipimpin oleh seorang kepala unit yang membawahi dua orang mantri, dua orang customer service, dua orang teller dan       

6 Senduk S. 2000. http://www.perencanakeuangan.com/files/ProdukSimpanan.html. [26 Oktober 2011]

(8)

satu orang satpam. Struktur organisasi BRI Unit Lalabata dapat dilihat pada Gambar 2. Setiap jabatan memiliki tugas dan wewenang masing-masing, yaitu : a. Kepala Unit memiliki tanggung jawab menyusun rencana kerja dan anggaran

tahunan BRI Unit yang dipimpinnya, mengkoordinir pelaksanaan kerja para petugas BRI Unit yang menjadi bawahannya dan seluruh kegiatan operasional lainnya di BRI Unit tersebut. Wewenang kepala unit dalam hal pinjaman adalah memutuskan untuk menyetujui atau menolak permintaan pinjaman.

b. Mantri bertugas sebagai lending dan funding officer. Dalam bidang pinjaman, mantri berfungsi sebagai pembina debitur dan analis kredit yang menganalisis calon debitur dan kemudian merekomensasikan putusan kredit kepada kepala unit.

c. Customer service bertugas melayani nasabah yang terbatas pada pelayanan secara administratif dan juga memberikan informasi produk perbankan kepada nasabah. Customer service juga melakukan registrasi dan pembuatan laporan yang diperlukan oleh Kantor Cabang.

d. Teller bertugas melayani nasabah dalam bentuk transaksi tunai perbankan yang meliputi setoran dan penarikan simpanan, setoran pinjaman, setoran transfer dan kliring, serta transaksi tunai lainnya.

e. Petugas kemanan merangkap office boy bertugas menjaga keamanan kantor BRI Unit dan membantu kelancaran tugas kepala unit, mantri, customer service, dan teller.

Gambar 2. Struktur Organisasi BRI Unit Lalabata Rilau Sumber : BRI Unit Lalabata Rilau

Kepala Unit

Mantri Customer

Service

Teller Petugas

keamanan

(9)

5.5. Persyaratan, Mekanisme Penyaluran dan Cara Pembayaran KUR KUR merupakan kredit program pemerintah dan BRI serta bank penyalur KUR lainnya dalam bentuk Kredit Modal Kerja (KMK) maupun Kredit Investasi (KI) dengan plafon kredit maksimal sebesar 500 juta rupiah. Namun, bagi usaha mikro plafon kredit maksimal KUR adalah 20 juta rupiah. KUR dimaksudkan untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi UMKMK yang melakukan usaha produktif dan layak (feasible) namun belum bankable (tidak memenuhi syarat dalam hal agunan dan syarat perkreditan lain yang sesuai dengan ketentuan bank) yang sebagian dijamin oleh perusahaan penjamin. KUR bertujuan untuk tercapainya percepatan pengembangan sektor riil dan pemberdayaan UMKMK dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja.

Persyaratan KUR Mikro adalah sebagai berikut :

a. Calon debitur adalah individu yang melakukan usaha produktif yang layak.

b. Calon debitur memiliki legalitas yang lengkap dengan adanya KTP/SIM dan Kartu Keluarga.

c. Lama usaha minimal 6 bulan.

d. Plafon kredit maksimal Rp 20 juta.

e. Suku bunga efektif maksimal 22 persen per tahun.

f. Jangka waktu dan jenis kredit, untuk KMK maksimal 3 tahun dan KI maksimal 5 tahun. Dalam hal perpanjangan, suplesi, dan restrukturisasi jangka waktunya lebih lama, yaitu maksimal 6 tahun untuk KMK dan 10 tahun untuk KI.

g. Agunan pokok, dapat hanya berupa agunan pokok apabila sesuai keyakinan bank bahwa proyek yang dibiayai cashflow-nya mampu memenuhi seluruh kewajiban kepada bank (layak). Agunan tambahan sesuai dengan ketentuan bank pelaksana7.

Calon nasabah yang ingin mengajukan permohonan KUR harus mengikuti mekanisme penyaluran KUR yang telah ditetapkan oleh BRI. Mekanisme penyaluran KUR di BRI Unit Lalabata Rilau adalah sebagai berikut :

      

7 [BRI] Bank Rakyat Indonesia.2008. KUR.

http://www.bri.co.id/JasaLayanan/Pinjaman/KreditUsahaRakyat/KURBRI/tabid/212/Default.aspx [28 Februari 2011]

(10)

1. Calon nasabah datang ke kantor BRI Unit lalu bertemu dengan customer service untuk mengajukan permohonan KUR.

2. Berkas-berkas dari customer service diserahkan kepada kepala unit untuk diperiksa kelengkapannya.

3. Jika kelengkapan berkas sudah lengkap, kepala unit memberikan berkas- berkas tersebut kepada customer service yang kemudian memberikannya kepada mantri KUR untuk dianalisis.

4. Mantri KUR melakukan survei ke tempat usaha nasabah dan menilai kelayakan usahanya.

5. Mantri KUR memberikan laporan kepada kepala unit. Jika usaha tersebut layak untuk mendapatkan pembiayaan, keputusan pemberian kredit dilakukan oleh kepala unit.

Nasabah yang disetujui untuk mendapatkan pinjaman KUR harus mengembalikan pinjamannya dalam jangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Pembayaran angsuran kreditdapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Membayar angsuran langsung kepada teller.

2. Membayar angsurandengan cara menitipkan uang angsuran kepada mantri KUR untuk kemudian dibayarkan kepada teller jika antrian teller penuh. Bagi nasabah yang menunggak, mantri KUR akan mendatangi nasabah, kemudian nasabah membayar angsuran kreditnya melalui mantri KUR yang mendatanginya. Cara pembayaran kredit di BRI Unit Lalabata Rilau dapat dilihat pada Gambar 3.

2

1 2

Gambar 3. Mekanisme Pembayaran Kredit Sumber : BRI Unit Lalabata Rilau (2011) Keterangan : 1) Membayar kepada teller

2) Menitipkan kepada mantri KUR

Pada bulan Mei 2011, total jumlah nasabah aktif KUR Mikro di BRI Unit Lalabata Rilau sebanyak 343 orang yang terdiri dari 238 orang mengambil KMK (Kredit Modal Kerja) dan 5 orang mengambil KI (Kredit Investasi) dengan total

Teller Nasabah Mantri KUR

(11)

kredit sebesar Rp 2.488.766. Tingkat NPL di BRI Unit Lalabata tergolong rendah walaupun realisasi terhadap bidang pertanian cukup besar, hal ini dapat dilihat dari nilai NPL nya yang masih dibawah 3 persen, yaitu sebesar 0,03 persen. BRI Unit Lalabata Rilau selalu memperhatikan nilai NPL agar tidak mencapai lebih dari 3 persen sehingga selalu dapat menyalurkan KUR Mikro. Walaupun pada awal tahun 2011 nilai NPL hampir mencapai 1 persen yang disebabkan kurang telitinya mantri KUR dalam memilih debitur.

5.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pengembalian KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau

Responden yang dimaksud dalam penelitian ini adalah 60 orang nasabah KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau yang bergerak dalam bidang agribisnis dan tergolong nasabah aktif hingga akhir bulan Mei 2011. Nasabah KUR Mikro dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan tingkat pengembaliannya, yaitu kelompok nasabah dengan kolektibilitas pinjaman lancar dan kelompok nasabah yang menunggak. Kelompok nasabah dengan kolektibilitas pinjaman lancar merupakan nasabah yang mengembalikan pinjaman sesuai dengan tanggal jatuh tempo pinjaman tetapi masih dalam bulan wajib bayar. Kelompok ini memiliki proporsi 80 persen dari jumlah responden. Kelompok nasabah yang menunggak merupakan kelompok nasabah yang mengembalikan pinjaman lewat dari bulan wajib bayar sampai umur tunggakan lebih dari enam bulan. Kelompok nasabah ini memiliki proporsi 20 persen dari jumlah responden.

Karakteristik responden diidentifikasi berdasarkan faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pengembalian, yaitu karakteristik individu, karakteristik usaha dan karakteristik kredit. Karakteristik individu meliputi faktor usia, jumlah tanggungan keluarga dan jarak tempat tinggal nasabah dari BRI.

Karakteristik usaha meliputi faktor omzet usaha, dan repayment capacity (RPC).

Selain itu, terdapat faktor jumlah pinjaman, kewajiban per enam bulan dan jangka waktu pengembalian kredit yang merupakan karakteristik kredit.

(12)

5.6.1. Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Berdasarkan Karakteristik Individu

Karakteristik individu diidentifikasi berdasarkan beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap tingkat pengembalian, yaitu faktor usia, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga dan jarak tempat tinggal nasabah dari BRI Unit. Berikut ini merupakan perbandingan karakteristik individu responden : a. Usia

Tingkat kematangan seseorang dalam berpikir, bertindak dan mengambil keputusan biasanya dilihat dari tingkatan usia. Seiring meningkatnya usia, maka pengalaman hidup dan mengelola usaha pun menjadi lebih banyak sehingga memungkinkan untuk terjaminnya keberlangsungan usaha yang dikelola. Usia nasabah yang lebih tua diharapkan akan lebih bertanggung jawab dalam mengembalikan pinjaman. Jumlah dan proporsi responden debitur KUR Mikro lancar dan menunggak menurut usia dapat dilihat pada Tabel 10.

Berdasarkan Tabel 10, responden pada kisaran usia antara 33 tahun hingga 43 tahun merupakan responden dengan jumlah terbesar, yaitu mencapai 48,33 persen. Pada kisaran usia tersebut, jumlah responden lancar lebih besar dibandingkan dengan responden menunggak. Hal ini menunjukkan bahwa usia yang lebih tua tidak menjamin bahwa seseorang akan lebih berpengalaman dalam mengelola usaha maupun lebih tinggi tanggung jawabnya. Dalam hal ini, usia produktif cukup bertanggung jawab terhadap pengembalian pinjaman. Seseorang dengan usia yang lebih muda memiliki pemahaman dan sikap ketaatan terhadap peraturan yang diberikan oleh bank, walaupun pengalaman mengelola usahanya lebih singkat. Di BRI Unit Lalabata Rilau banyak usia produktif yang menjadi nasabah karena banyak di antara mereka yang baru membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya pada tingkat usia produktif.

(13)

Tabel 10. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Usia pada Tahun 2011

Usia (Tahun)

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

≤ 32 12 20 5 8,33 17 28,33

33-43 25 41,67 4 6,66 29 48,33

44-54 10 16,67 1 1,66 11 18,33

54 1 1,67 2 3,33 3 5

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata 38 tahun 39 tahun 38 tahun Nilai maksimum 60 tahun 69 tahun 69 tahun Nilai minimum 23 tahun 27 tahun 23 tahun

b. Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah anggota keluarga yang kebutuhan hidupnya harus ditanggung oleh seorang kepala keluarga mempengaruhi besarnya jumlah pengeluaran dalam keluarga tersebut. Semakin besar jumlah anggota keluarga akan semakin besar pula proporsi pendapatan yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hal ini akan mengurangi proporsi pendapatan yang dikeluarkan untuk membayar angsuran kredit sehingga ada kemungkinan terjadinya kredit macet jika pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk membayar angsuran kredit.

Berdasarkan Tabel 11 terlihat bahwa proporsi terbesar berada pada responden dengan jumlah tanggungan keluarga sebanyak 3 hingga lima orang, yaitu mencapai 65 persen dari total keseluruhan nasabah. Hal ini menunjukkan bahwa responden sebagian besar memiliki keluarga kecil dimana hanya terdapat tiga hingga lima orang yang harus dibiayai oleh kepala keluarga. Proporsi antara responden lancar dan menunggak pada kisaran tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang nyata karena sama-sama memiliki nilai rata-rata jumlah tanggungan keluarga sebesar tiga orang. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa jumlah tanggungan keluarga tidak mempengaruhi kelancaran pengembalian KUR Mikro Unit Lalabata Rilau.

(14)

Tabel 11. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Jumlah Tanggungan Keluarga pada Tahun 2011

Jumlah Tanggungan

Keluarga

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

≤ 2 13 21,67 5 8,33 18 30

3-5 32 53,33 7 11,67 39 65

> 5 3 5 0 0 3 5

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata 3,4 = 3 orang 2,8 = 3 orang 3,4 = 3 orang Nilai maksimum 7 orang 5 orang 7 orang

Nilai minimum Tidak ada tanggungan 1 orang Tidak ada tanggungan

c. Jarak Tempat Tinggal Responden dengan BRI Unit Lalabata Rilau

Penyaluran KUR Mikro telah dibagi-bagi berdasarkan wilayah kerja masing-masing BRI Unit yang telah ditetapkan oleh Kantor Cabang BRI.

Wilayah kerja BRI Unit Lalabata Rilau hanya meliputi kecamatan Lalabata Rilau dimana jarak terjauhnya adalah desa Jolle yang berjarak 30 km. Namun, untuk nasabah KUR saat ini yang paling jauh adalah nasabah yang bertempat tinggal di desa Panincong Lempa yang berjarak 15 km. Jumlah dan proporsi responden nasabah lancar dan menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut jarak tempat tinggal responden dengan BRI Unit Lalabata Rilau dilihat pada Tabel 12.

Jarak tempat tinggal nasabah dengan BRI Unit dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya tunggakan kredit. Semakin jauh tempat tinggal seorang nasabah maka biaya yang dikeluarkan untuk melakukan pembayaran kredit akan lebih besar serta membutuhkan waktu yang lebih lama. Berdasarkan Tabel 12, dapat dikatakan bahwa sebagian besar debitur KUR Mikro bertempat tinggal di wilayah yang berdekatan dengan kantor BRI Unit Lalabata Rilau yaitu kurang dari dan sama dengan dua kilometer, baik untuk responden melancar maupun menunggak. Dari nilai rata-rata yang diperoleh, terlihat bahwa nasabah yang lancar memiliki tempat tinggal yang lebih jauh dibandingkan dengan yang menunggak. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal dimana jarak yang lebih jauh akan meningkatkan peluang nasabah untuk menunggak. Nasabah BRI Unit

(15)

Lalabata Rilau yang bertempat tinggal jauh lebih disiplin untuk membayar angsuran karena mereka khawatir pihak BRI tidak akan memberikan kredit lagi kepada mereka dikarenakan pihak BRI akan memakan waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar untuk menagih hutang kepada nasabah yang rumahnya jauh.

Tabel 12. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Jarak Tempat Tinggal pada Tahun 2011

Jarak Tempat Tinggal Responden

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

≤ 2 32 53,33 9 15 41 68,33

3-5 6 10 2 3,33 8 13,33

≥ 10 10 16,67 1 1,66 11 18,33

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata 3,4 km 2,6 km 3,3 km Nilai maksimum 15 km 10 km 15 km Nilai minimum 0,5 km 0,5 km 0,5 km

5.6.2. Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Berdasarkan Karakteristik Usaha

Responden dari masing-masing kategori pengembalian diidentifikasi berdasarkan faktor jenis usaha, omset usaha per 6 bulan, dan nilai RPC per 6 bulan sebagai berikut :

a. Jenis Usaha Responden

Jenis usaha dapat berpengaruh terhadap kelancaran pengembalian kredit karena setiap jenis usaha memiliki tingkat risiko yang berbeda. Jenis usaha di bidang on farm diduga memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan off farm sehingga debitur pada usaha off farm diharapkan lebih lancar dalam mengembalikan kredit. Jumlah dan proporsi responden nasabah lancar dan menunggak KUR BRI Unit Lalabata menurut jenis usaha dapat dilihat pada Tabel 13.

(16)

Tabel 13. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Jenis Usaha pada Tahun 2011

Jenis Usaha

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

On farm 2 3,33 1 1,67 3 5

Off farm 46 76,67 11 18,33 57 95

Total 48 80 12 20 60 100

Berdasarkan Tabel 13, terlihat bahwa jenis usaha responden didominasi oleh usaha off farm dengan proporsi 95 persen dan sisanya merupakan usaha on farm. Jumlah responden yang menunggak pada usaha on farm pun tidak besar jumlahnya, hanya terdapat satu responden. Nasabah pertanian on farm di BRI Unit Lalabata Rilau termasuk disiplin dalam mengembalikan kredit. Hal ini dikarenakan nasabah KUR Mikro di bidang pertanian on farm merupakan nasabah yang termasuk dalam sebuah kelompok tani yang sudah dipercaya oleh pihak BRI untuk diberikan KUR Mikro.

b. Omset Usaha

Omset usaha merupakan total penjualan kotor yang diperoleh seorang pengusaha dalam satuan waktu tertentu, misalnya harian, bulanan maupun tahunan. Faktor omset untuk debitur KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau ini diakumulasi per enam bulan untuk menyamaratakan nilai omset usaha budidaya padi dengan jenis usaha lainnya. Omset usaha diduga berpengaruh positif terhadap kelancaran pengembalian kredit. Semakin tinggi jumlah omset yang diterima oleh seorang debitur diharapkan semakin lancar debitur tersebut dalam mengembalikan pinjamannya. Jumlah dan proporsi responden nasabah lancar dan menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut omset usaha per enam bulan dapat dilihat pada Tabel 14.

(17)

Tabel 14. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Omset Usaha pada Tahun 2011

Omset Usahaper 6 bulan

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

20 2 3,33 3 5 5 8,33

21 – 30 9 15 5 8,33 14 23,33

31 – 40 16 26,67 3 5 19 31,67

> 40 21 35 1 1,67 22 36,67

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata Rp 37.677.500 Rp 26.091.667 Rp 35.360.333 Nilai maksimum Rp 54.000.000 Rp 43.290.000 Rp 54.000.000 Nilai minimum Rp 18.200.000 Rp 18.200.000 Rp 18.200.000

Jumlah omset usaha dengan nilai lebih dari 40 juta rupiah per enam bulan merupakan proporsi terbesar yang dimiliki oleh responden nasabah KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau. Responden debitur lancar didominasi oleh nasabah yang memiliki omset usaha di atas 40 juta rupiah per enam bulan, sedangkan responden debitur menunggak didominasi oleh nasabah yang memiliki omset pada kisaran 21 sampai 30 juta rupiah per enam bulan. Hal ini mengindikasikan bahwa debitur yang lancar dalam mengembalikan pinjaman memiliki omset yang lebih besar.

Sebagian besar debitur KUR Mikro di BRI Unit Lalabata Rilau membayarkan angsuran langsung dikurangi dari pendapatan kotor yang diterima, sehingga nasabah yang membayar angsuran dengan lancar jumlahnya besar. Analisis ini juga didukung oleh perhitungan rata-rata omset per enam bulan pada debitur lancar lebih besar daripada debitur menunggak.

c. Nilai RPC

RPC (Repayment Capacity) merupakan kapasitas pengembalian kredit yang dimiliki oleh seorang nasabah yang nilainya sebesar 75 persen dari penghasilan bersih per bulan. Nilai RPC diduga berpengaruh positif terhadap pengembalian kredit yang artinya semakin besar nilai RPC seorang debitur semakin lancar dalam mengembalikan kredit. Jumlah dan proporsi responden nasabah lancar dan menunggak KUR BRI Unit Lalabata Rilau menurut nilai RPC per enam bulan dapat dilihat pada Tabel 15.

(18)

Tabel 15. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Nilai RPCpada Tahun 2011

Repayment Capacityper 6 bulan

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

≤ 2.000.000 7 11,67 6 10 13 21,67 3.000.000 – 5.000.000 22 36,67 5 8,33 27 45

> 5.000.000 19 31,67 1 1,66 20 33,33

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata Rp 4.297.125 Rp 2.300.000 Rp 3.897.700 Nilai maksimum Rp 8.100.000 Rp 5.100.000 Rp 8.100.000 Nilai minimum Rp 1.008.000 Rp 945.000 Rp 945.000

Nilai RPC per enam bulan merupakan RPC per bulan yang dimiliki oleh debitur yang diakumulasi hingga enam bulan agar nilainya sama rata pada semua jenis usaha. Secara keseluruhan, nilai RPC responden berkisar antara Rp 945.000,- hingga Rp 8.100.000,- per enam bulan. Proporsi terbesar dimiliki oleh responden debitur pada kisaran nilai RPC tiga juta sampai lima juta rupiah per enam bulan. Berdasarkan perhitungan rata-rata, nilai RPC debitur lancar lebih tinggi dibandingkan dengan debitur menunggak.

Nilai RPC telah diperhitungkan oleh Mantri KUR sebagai perhitungan bahwa setiap bulannya debitur memiliki dana sebesar nilai RPC terebut untuk membayar pinjaman. Namun, pada kenyataannya masih terdapat debitur yang menunggak bahkan tunggakan masih terjadi pada debitur yang memiliki nilai RPC di atas lima juta rupiah per enam bulan atau di atas delapan ratus ribu rupiah per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat fluktuasi RPC setiap bulannya sehingga pada saat nilai RPC rendah terjadi tunggakan pembayaran. Permasalahan tunggakan yang disebabkan oleh nilai RPC dapat diatasi dengan mempertahankan atau meningkatkan omset penjualan serta menghemat pengeluaran rumah tangga.

5.6.3. Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Berdasarkan Karakteristik Kredit

Karakteristik kredit diidentifikasi berdasarkan beberapa faktor yang diduga berpengaruh, yaitu jumlah pinjaman, angsuran kredit per enam bulan, dan jangka waktu pengembalian kredit sebagai berikut :

(19)

a. Jumlah Pinjaman

Jumlah pinjaman adalah batas jumlah kredit yang diberikan oleh bank kepada debitur dalam satuan rupiah. Faktor ini diduga berpengaruh negatif terhadap kelancaran pengembalian kredit. Semakin besar jumlah pinjaman yang diterima oleh debitur maka semakin besar jumlah angsuran dan bunga yang harus dibayarkan sehingga mempengaruhi kelancaran pembayaran pinjaman. Jumlah dan proporsi responden nasabah lancar dan menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata menurut jumlah pinjaman dapat dilihat pada Tabel 16.

Jumlah pinjaman responden berkisar antara tiga hingga dua puluh juta rupiah. Sebagian besar responden menerima kredit dengan nilai plafon kurang dan sama dengan lima juta rupiah, termasuk debitur yang menunggak sebagian besar berada pada kisaran tersebut. Pernyataan bahwa semakin besar jumlah pinjaman akan mengurangi peluang mengembalikan pinjaman secara lancar ternyata tidak tepat karena proporsi responden debitur menunggak didominasi oleh responden dengan jumlah pinjaman kurang dari lima juta rupiah. Hal ini mengindikasikan bahwa pihak bank tidak akan memberikan kredit dalam jumlah yang lebih besar jika usahanya dinilai berisiko tinggi dan omset maupun RPC yang dimiliki nasabah jumlahnya kecil.

Tabel 16. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Jumlah Pinjamanpada Tahun 2011

Jumlah pinjaman

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

≤ 5.000.000 15 25 10 16,67 25 41,67 6.000.000 – 10.000.000 16 26,67 1 1,66 17 28,33

> 10.000.000 17 28,33 1 1,67 18 30

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata Rp 11.020.833 Rp 6.416.667 Rp 10.100.000 Nilai maksimum Rp 20.000.000 Rp 20.000.000 Rp 20.000.000 Nilai minimum Rp 3.000.000 Rp 3.000.0000 Rp 3.000.0000

b. Angsuran Kredit

Angsuran kredit per bulan merupakan jumlah angsuran pokok dan bunga yang harus dibayarkan oleh debitur setiap bulannya dalam jangka waktu

(20)

pengembalian yang telah ditentukan. Pihak BRI menentukan jangka waktu pengembalian kredit untuk usaha budidaya padi adalah enam bulan dan dibayarkan secara langsung pada bulan keenam. Oleh karena itu, pada bagian ini angsuran kredit diakumulasi hingga enam bulan agar perhitungannya rata untuk setiap jenis usaha.

Angsuran kredit diduga berpengaruh negatif terhadap kelancaran pengembalian kredit. Semakin besar angsuran yang harus dibayarkan debitur per enam bulannya maka semakin sulit bagi debitur untuk membayar angsuran tersebut karena jumlah pendapatan yang harus disisihkan untuk membayar angsuran akan lebih besar. Angsuran yang harus dibayarkan oleh debitur berkisar antara Rp 933.600 hingga Rp 6.223.800. Jumlah dan proporsi responden nasabah lancar dan menunggak KUR BRI Unit Lalabata menurut angsuran kredit per 6 bulan dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Angsuran Kreditpada Tahun 2011

Angsuran Kredit

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%)

< 2.000.000 13 21,67 10 16,66 23 38,33 2.000.000 – 4.000.000 23 38,33 2 3,33 25 41,67

> 4.000.000 12 20 0 0 12 20

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata Rp 3.243.733 Rp 1.701.350 Rp 2.935.257 Nilai maksimum Rp 6.223.800 Rp 3.313.800 Rp 6.223.800 Nilai minimum Rp 933.600 Rp 933.600 Rp 933.600

Secara keseluruhan proporsi terbesar berada pada responden dengan kisaran angsuran antara dua hingga empat juta rupiah per enam bulan. Proporsi terbesar responden lancar berada pada kisaran angsuran antara dua hingga empat juta rupiah per enam bulan, sedangkan responden menunggak sebagian besar berkewajiban membayar angsuran kurang dari dua juta rupiah per enam bulan.

Jumlah responden lancar cenderung menurun pada tingkat kisaran paling besar yaitu angsuran lebih dari empat juta rupiah per enam bulan, sedangkan pada tingkat kisaran tersebut tidak ada responden yang menunggak. Hal ini membuat

(21)

pernyataan sebelumnya dimana semakin besar angsuran yang harus dibayar oleh debitur per enam bulan akan menghambat kelancaran pengembalian menjadi tidak tepat. Pihak BRI Unit Lalabata Rilau telah memperhitungkan jumlah pinjaman dan angsuran yang diberikan kepada nasabah sesuai dengan kapasitas pengembalian dan omset yang diterima oleh nasabah sehingga pihak BRI akan memberikan pinjaman dalam jumlah besar jika nasabah memiliki omset dan kapasitas pengembalian yang tinggi.

c. Jangka Waktu Pengembalian Kredit

Jangka waktu pengembalian kredit adalah batas waktu yang diberikan oleh bank kepada debitur untuk membayar pinjamannya hingga lunas. Faktor ini diduga berpengaruh positif terhadap pengembalian kredit. Semakin lama jangka waktu pengembalian kredit yang diberikan oleh bank kepada debitur akan memperkecil peluang debitur melakukan tunggakan karena semakin kecil jumlah angsuran yang harus dibayarkan debitur per bulannya. Jumlah dan proporsi responden nasabah lancar dan menunggak KUR Mikro BRI Lalabata Rilau menurut jangka waktu pengembalian kredit dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Jumlah dan Proporsi Responden Nasabah Lancar dan Menunggak KUR Mikro BRI Unit Lalabata Rilau menurut Jangka Waktu Pengembalian pada Tahun 2011

Sebagian besar responden jangka waktu pengembaliannya berkisar antara 24 sampai 36 bulan, baik pada debitur lancar maupun menunggak. Pada Tabel 18 terlihat bahwa rata-rata jangka waktu pengembalian debitur lancar dan menunggak hampir sama. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua kategori

Jangka Waktu Pengembalian Kredit

(bulan)

Lancar Menunggak Total Jumlah (%) Jumlah (%) Jumlah (%) 6 – 18 9 15 1 1,67 10 16,67 24 – 36 33 55 10 16,67 43 71,67 48 – 60 6 10 1 1,67 7 11,67

Total 48 80 12 20 60 100

Rata-rata 28 30 28

Nilai maksimum 60 60 60

Nilai minimum 6 18 6

(22)

pengembalian tersebut memiliki komposisi yang sama sehingga faktor jangka waktu pengembalian tidak mempengaruhi kelancaran pengembalian kredit.

Gambar

Tabel 9. Realisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro BRI Wilayah Kantor  Cabang Watansoppeng hingga Mei 2011

Referensi

Dokumen terkait

Perancangan arah angin pada perangkat ini menggunakan sirip yang dikopel dengan piringan yang diberi 1 lubang agar dapat menentukan hembusan arah angin..

Aset keuangan tersedia untuk dijual merupakan aset yang ditetapkan sebagai tersedia untuk dijual atau tidak diklasifikasikan dalam kategori instrumen keuangan yang lain, dan

terkejut lagi ketika beberapa bulan setelah kejadian tersebut ada beberapa orang yang datang ke pasar simo untuk menawarkan penukaran uang logam tersebut dengan harga seratus

Tidak adanya perubahan ~ o l a konsumsi makanan setelah program tersebut, walaupun diberikan cukup makanan yang mengandung protein dan kalori di Taman Gizi,

dengan itu dapat menjadi bukti bahwa adanya peningkatan pada profesionalisme aparatur sipil negara dalam memberikan pelayanan pembuatan kartu tanda penduduk elektronik di

Tujuan dari metode ini adalah mendapatkan estimasi peluang kejadian ekstrem dengan memperhatikan ekor (tail) dari fungsi distribusi berdasarkan nilai-nilai ekstrem yang

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengembalian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro (Studi pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk Unit Pasirian

Oleh karena itu Bank Rakyat Indonesia (BRI) meluncurkan kredit bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK), dan koperasi berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program ini