Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 40
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA PENGARUH PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT
TERHADAP PENDAPATAN USAHA MIKRO KECIL SEKTOR PERTANIAN
Oleh : Yayat Fitriani
Darmansyah
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian kredit usaha rakyat (KUR) terhadap pendapatan usaha mikro kecil (UMK) sektor pertanian. KUR yang dimaksud dalam penelitian ini adalah KUR yang disalurkan oleh BRI cabang Sumbawa di Kecamatan Moyo Utara. Adapun jenis penelitian ini yaitu asosiatif, sumber data berasal dari data primer yang diperoleh dari 32 orang nasabah yang menjadi responden dalam penelitian ini. Metode analisis data menggunakan regresi sederhana. Hasil peelitan menunjukkan bahwa KUR mempunyai pengaruh yang positif terhadap pendapatan UMK sektor pertanian.
Kata Kunci: KUR, UMK, dan Regresi Sederhana
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Pada dasarnya fungsi pokok dari kredit adalah untuk pemenuhan jasa pelayanan terhadap kebutuhan masyarakat (to Service the Society) dalam rangka mendorong dan melancarkan perdagangan, produksi dan jasa-jasa yang kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Namun tidak sedikit pula pemberian kredit kepada masyarakat tersebut mengalami kendala dikarenakan bank tidak memberikan pinjaman tanpa jaminan serta neraca untung rugi sementara usaha- usaha kecil maupun koperasi tidak memiliki itu semua.
Oleh karena itu Bank Rakyat Indonesia (BRI) meluncurkan kredit bagi pelaku usaha mikro dan kecil (UMK), dan koperasi berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Program ini diluncurkan untuk mendukung program pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Kredit bagi usaha mikro dan kecil dan koperasi dengan pola penjaminan ini disalurkan untuk sektor ekonomi produktif, dengan suku bunga kredit masksimum 16 persen, dan jumlah plafon kredit maksimum Rp.500 juta/debitur. KUR adalah program yang dicanangkan oleh pemerintah namun sumber dananya berasal sepenuhnya dari dana bank. Pemerintah memberikan penjaminan terhadap resiko KUR sebesar 70% sementara sisanya sebesar 30% ditanggung oleh bank pelaksana. Penjaminan KUR diberikan untuk meningkatkan akses UMK pada sumber pembiayaan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Di Kabupaten Sumbawa khususnya di daerah Kecamatan Moyo Utara
berjalannya pinjaman modal KUR kepada masyarakat untuk membentuk suatu usaha
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 41
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA agar bisa berkembang dengan baik bertujuan supaya bisa membangun usaha sendiri dengan tujuan bisa menekan perekonomian lemah yang melanda masyarakat sumbawa pada saat ini, adanya program KUR ditujukan untuk membantu ekonomi usaha rakyat kecil dengan cara memberi pinjaman modal untuk usaha yang didirikannya. Dengan adanya program KUR masyarakat bisa menjalankan usaha pertanian dengan maksimal didukung akses permodalan dari KUR dari pembelian bibit dan juga pembelian bahan baku seperti pupuk serta obat-obatan untuk pertanian. Dengan adanya KUR yang diluncurkan pemerintah, para pengelola UMK dapat meminjam modal hanya dengan jaminan kelayakan usaha dan diharapkan kepada pengelola UMK tersebut dapat mengembangkan usahanya.
1.2. Rumusan masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada pengaruh pemberian KUR terhadap pendapatan UMK sektor pertanian di Kecamatan Moyo Utara?”.
1.3. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian KUR terhadap pendapatan UMK sektor pertanian di Kecamatan Moyo Utara.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Sebelumnya
Penelitian tentang KUR telah banyak dilakukan sebelumnya, sehingga studi tersebut dapat dipakai sebagai rujukan yang sangat relevan bagi penelitian ini. Beberapa diantaranya yaitu penelitian:
1) Enggar Pradipta Widyasepti (2012), dengan judul penelitian “ Analisis Peran BRI Unit Ketandan Dalam Pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Kepada Usaha Mikro dan Kecil di Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten“.
2) Frenky Tanni Wijaya (2012), denagn judul penelitian “Pengaruh Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) PT.Bank Rakyat Indonesia Unit Teluk Panji Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Didesa Teluk Panji Kecamatan Kampung Rakyat Kabupaten Labuhanbatu Selatan”.
3) Nurul Whardani (2010), dengan judul penelitian “Pelaksanaan Pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pada Bank Rakyat Indonesia Unit Kuwarasan Cabang Gombong”.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Kredit Usaha Rakyat (KUR)
Kredit Usaha Rakyat, yang selanjutnya disingkat KUR, adalah kredit/
pembiayaan kepada Usaha Mikro Kecil Menengah Koperasi (UMKM-K) dalam bentuk
pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha
produktif. KUR adalah program yang dicanangkan oleh pemerintah namun sumber
dananya berasal sepenuhnya dari dana bank. Pemerintah memberikan penjaminan
terhadap resiko KUR sebesar 70% sementara sisanya sebesar 30% ditanggung oleh
bank pelaksana. Penjaminan KUR diberikan dalam rangka meningkatkan akses
UMKM-K pada sumber pembiayaan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 42
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA nasional.KUR disalurkan oleh 6 bank pelaksana yaitu Mandiri, BRI, BNI, Bukopin, BTN, dan Bank Syariah Mandiri (BSM).
Penyaluran KUR diatur oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan No. 135/PMK.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan Kredit Usaha Rakyat yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 10/PMK.05/2009. Beberapa ketentuan yang dipersyaratkan oleh pemerintah dalam penyaluran KUR adalah sebagai berikut : a. UMKM-K yang dapat menerima fasilitas penjaminan adalah usaha produktif yang
feasible namun belum bankable dengan ketentuan :
1. Merupakan debitur baru yang belum pernah mendapat kredit/ pembiayaan dari perbankan yang dibuktikan dengan melalui Sistem Informasi Debitur (SID) pada saat Permohonan Kredit/Pembiayaan diajukan dan/ atau belum pernah memperoleh fasilitas Kredit Program dari Pemerintah
2. Khusus untuk penutupan pembiayaan KUR antara tanggal Nota Kesepakatan Bersama (MoU) Penjaminan KUR dan sebelum addendum I (tanggal 9 Oktober 2007 s.d. 14 Mei 2008), maka fasilitas penjaminan dapat diberikan kepada debitur yang belum pernah mendapatkan pembiayaan kredit program lainnya 3. KUR yang diperjanjikan antara Bank Pelaksana dengan UMKM-K yang
bersangkutan.
b. KUR disalurkan kepada UMKM-K untuk modal kerja dan investasi dengan ketentuan :
1. Untuk kredit sampai dengan Rp.5 juta, tingkat bunga kredit atau margin pembiayaan yang dikenakan maksimal sebesar atau setara 24% efektif pertahun 2. Untuk kredit di atas Rp.5 juta rupiah sampai dengan Rp.500 juta, tingkat bunga
kredit atau margin pembiayaan yang dikenakan maksimal sebesar atau setara 16% efektif pertahun.
3. Bank pelaksana memutuskan pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR) berdasarkan penilaian terhadap kelayakan usaha sesuai dengan asas-asas perkreditan yang sehat, serta dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.
2.2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelancaran Pengembalian Kredit Usaha Rakyat
Aspek kelayakan usaha merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan kredit ini. Namun, ternyata dalam pelaksanaannya masih terdapat ketidak lancaran debitur dalam pengembalian kredit maupun pelunasan kredit. Faktor-faktor yangdiduga berpengaruh terhadap kelancaran pengembalian KUR Mikro BRI ini diturunkan dari prinsip-prinsip yang digunakan dalam pertimbangan pengajuan kredit yang menurut Dendawijaya (2000) analisis kredit dilakukan dengan menggunakan metode penilaian
“6C” yaitu character, capital,capacity, conditions of economy, collateral, constraints, serta menambah kanfactor demografi dan karakteristik individu seperti usia dan tingkat pendidikan.
Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi tingkat pengembalian kredit tersebut menurut Triwibowo (2009) dikelompokkan berdasarkan karekteristiknya menjadi:
1. Faktor demografi dan karakteristik individu seperti usia dan tingkat
pendidikan.Karekteristik personal terdiri atas usia. tingkat pendidikan dan jumlah
tanggungan dalam keluarga.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 43
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA 2. Karekteristik usaha terdiri atas omzet usaha dan pengalaman usaha. Karekteristik
terdiri atas jumlah pinjaman.
Ada tiga (3) pilar penting dalam pelaksanaan program ini. Pertama adalah pemerintah, yaitu Bank Indonesia (BI) dan Departemen Teknis (Departemen Keuangan, Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perindustrian, dan Kementerian Koperasi dan UKM).Pemerintah berfungsi membantu dan mendukung pelaksanaan pemberian berikut penjaminan kredit.Kedua, lembaga penjaminan yang berfungsi sebagai penjamin atas kredit dan pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan.Ketiga, perbankan sebagai penerima jaminan berfungsi menyalurkan kredit kepada UMKM dan Koperasi.
2.2.3. Usaha Mikro dan Kecil (UMK)
Usaha Mikro dan Kecil (UMK) tidak saja berbeda dengan Usaha Besar (UB), tetapi di dalam kelompok Usaha Mikro dan Kecil itu sendiri terdapat perbedaan karakteristik antara Usaha Mikro dengan Usaha Kecil dan Usaha Menengah dalam sejumlah aspek. Aspek-aspek tersebut termasuk orientasi pasar, profil dari pemilik usaha, sifat dari kesempatan kerja di dalam perusahaan, sistem organisasi dan manajemen yang diterapkan di dalam usaha, derajat mekanisme di dalam proses produksi, sumber-sumber dari bahan-bahan baku dan modal, lokasi tempat usaha, hubungan-hubungan eksternal, dan derajat dari keterlibatan wanita sebagai pengusaha.
Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Keputusan Menteri Keuangan pada tanggal 29 Januari 2003, adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp.100 juta per tahun. Usaha Mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp.50 juta.
Karakteristik-karakteristik usaha mikro adalah sebagai berikut :
a. Jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti.
b. Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat.
c. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.
d. Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai
e. Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah.
f. Umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank.
g. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.
Dilihat dari kepentingan perbankan, usaha mikro adalah suatu segmen pasar yang cukup potensial untuk dilayani dalam upaya meningkatkan fungsi intermediasi- nya karena usaha mikro mempunyai karakteristik positif dan unik yang tidak selalu dimiliki oleh usaha non mikro, antara lain :
a. Perputaran usaha (turn over) cukup tinggi, kemampuannya menyerap dana yang mahal dan dalam situasi krisis ekonomi kegiatan usaha masih tetap berjalan bahkan terus berkembang
b. Tidak sensitive terhadap suku bunga
c. Tetap berkembang walau dalam situasi krisis ekonomi dan moneter
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 44
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA d. Pada umumnya berkarakter jujur, ulet, lugu dan dapat menerima bimbingan asal
dilakukan dengan pendekatan yang tepat.
Usaha kecil merupakan usaha yang integral dalam dunia usaha nasional yang memiliki kedudukan, potensi, dan peranan yang signifikan dalam mewujudkan tujuan pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan ekonomi pada khususnya.
Selain itu, usaha kecil juga merupakan kegiatan usaha dalam memperluas lapangan pekerjaan dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas, agar dapat mempercapat proses pemerataan dan pendapatan ekonomi masyarakat. Secara otentik, pengertian usaha kecil diatur dalam Undang-Undang Pasal 1 ayat (1) Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil. Yaitu: "kegiatan ekonomi masyarakat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil pendapatan tahunan, serta kepemilikan, sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang ini". Pengertian disini mencakup usaha kecil informal, yaitu usaha yang belum di daftar, belum dicatat, dan belum berbadan hukum, sebagaimana yang ditentukan oleh instansi yang berwenang.
Usaha Kecil sebagaimana dimaksud Undang-undang No.9 Tahun 1995 adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 1 milyar per tahun serta dapat menerima kredit dari bank maksimal di atas Rp. 50 juta sampai dengan Rp. 500 juta. Karakteristik usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut : a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 Juta tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1 Milyar c. Milik Warga Negara Indonesia
d. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar
e. Berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.
2.2.4. Permasalahan UMK
Perkembangan Usaha Mikro dan Kecil dihalangi oleh banyaknya hambatan.
Hambatan-hambatan tersebut bisa berbeda di satu daerah dengan daerah lain, antara
perdesaan dan perkotaan, antarsektor, ataupun antarsesama perusahaan di sektor yang
sama. Namum demikian, ada sejumlah persoalan yang umum untuk semua Usaha Mikro
dan kecil di Negara manapun juga. Rintangan-rintangan yang umum tersebut termasuk
keterbatasan modal kerja maupun investasi, kesulitan-kesulitan dalam pemasaran,
distribusi dan pengadaan bahan baku dan input, keterbatasan akses ke informasi
mengenai peluang pasar, keterbatasan pekerja dengan keahlian tinggi, kualitas sumber
daya manusia yang rendah, kemampuan teknologi, biaya transportasi dan energy yang
tinggi, keterbatasan komunikasi, biaya yang tinggi akibat prosedur administrasi dan
birokrasi yang kompleks, khususnya dalam pengurusan izin usaha, dan ketidakpastian
akibat peraturan-peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi yang tidak jelas
atau tak tentu arah. Permasalahan umum yang biasa terjadi pada Usaha Mikro dan Kecil
tersebut secara garis besar antara lain :
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 45
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA a. Kesulitan dalam Pemasaran
Pemasaran sering dianggap sebagai salah satu kendala yang paling kritis bagi perkembangan Usaha Kecil dan Mikro. Dari hasil studi yang dilakukan Kenneth James dan Narongchai Akrasanee pada tahun 1988 di sejumlah Negara ASEAN, dalam bukunya menyimpulkan bahwa Usaha Mikro dan Kecil tidak melakukan perbaikan yang cukup di semua aspek yang terkait dengan pemasaran seperti penigkatan kualitas produk dan kegiatan promosi. Akibatnya, sulit sekali bagi Usaha Kecil dan Mikro untuk dapat turut berpartisipasi dalam era perdagangan bebas.
Masalh pemasaran yang dialami yaitu tekanan persaingan baik di pasar domestik dari produk yang serupa buatan sendiri dan impor, maupun di pasar internasional, dan kekurangan informasi yang akurat serta up to date mengenai peluang pasar di dalam maupun luar negeri.
b. Keterbatasan Finansial
Ada dua masalah utama di dalam kegiatan Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia, yaitu dalam aspek finansial (mobilisasi modal awal dan akses ke modal kerja) dan finansial jangka panjang untuk investasi yang sangat dibutuhkan demi pertumbuhan output jangka panjang. Walaupun pada umunya modal awal bersumber dari modal atau tabungan sendiri atau sumber-sumber informal, namun sumber-sumber permodalan ini sering tidak memadai dalam kegiatan produksi maupun investasi.
Walaupun banyak skim-skim kredit dari perbankan dan bantuan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sumber pendanaan dari sektor informal masih tetap dominan dalam pembiayaan kegiatan Usaha Mikro dan Kecil. Hal ini disebabkan karena lokasi bank terlalu jauh bagi pengusaha yang tinggal di daerah, persyaratan yang terlalu berat, urusan administrasi yang rumit, dan kurang informasi mengenai skim- skim perkreditan yang ada beserta prosedurnya.Lagipula, sistem pembukuan yang belum layak secara teknis perbankan menyebabkan Usaha Mikro dan Kecil juga sulit memperoleh kredit.
c. Keterbatasan SDM
Salah satu kendala serius bagi banyak Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia ialah keterbatasanSumber Daya Manusia (SDM) terutama dalam aspek-aspek entrepreneurship, manajemen, teknik produksi, pengembangan produk, engineering design, quality control, organisasi bisnis akuntansi, data processing, teknik pemasaran, dan penelitian pasar. Semua keahlian ini sangat dibutuhkan untuk mempertahankan atau memperbaiki kualitas produk, meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam produksi, memperluas pangsa pasar dan menembus pasar barang.
d. Masalah Bahan Baku
Keterbatasan bahan baku serta kesulitan dalam memperolehnya dapat menjadi salah satu kendala yang serius bagi pertumbuhan output ataupun kelangsungan produksi bagi banyak Usaha Mikro dan Kecil di Indonesia. Hal ini dapat disebabkan karena harga yang relatif mahal. Banyak pengusaha yang terpaksa berhenti dari usahanya dan berpindah profesi ke kegiatan ekonomi lainnya akibat masalah keterbatsan bahan baku.
e. Keterbatasan Teknologi
Usaha Kecil dan Mikro di Indonesia umumnya masih menggunakan teknologi yang
tradisional, seperti mesin-mesin tua atau alat-alat produksi yang bersifat manual.Hal
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 46
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA ini membuat produksi menjadi rendah, efisiensi menjadi kurang maksimal dan kualitas produk relatif rendah.
f. Kemampuan Manajemen
Kekurangmampuan pengusaha kecil untuk menentukan pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap pengembangan usahanya membuat pengelolaan usaha menjadi terbatas.Dalam hal ini, manajemen merupakan seni yang dapat digunakan atau diterapkan dalam penyelenggaraan kegiatan Usaha Mikro dan Kecil, baik dari unsur perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan.
g. Kemitraan
Kemitraan mengacu pada pengertian bekerja sama antara pengusaha dengan tingkatan yang berbeda yaitu antara pengusaha kecil dan pengusaha besar. Istilah kemitraan sendiri mengandung arti walaupun tingkatannya berbeda, hubungan yang terjadi adalah hubungan yang setara sebagai mitra kerja.
III. KERANGKA KONSEPTUAL
Berdasarkan latar belakang masalah, penelitian terdahulu dan kajian teori maka dapat dirumuskan kerangka konseptual sebagai berikut :
Gambar 1.
Kerangka Konseptual Penelitian IV. METODELOGI PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variable atau lebih.
Dalam penelitian asosiatif ini maka dapat di bangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol suatu gejala (Sugiyono, 2004).
4.2. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan primer.
Data sekunder dapat diperoleh dari dokumen dan laporan tahunan yang diperlukan dalam penelitian ini di BRI Cabang Sumbawa, sumber literatur, internet, dokumentasi dan data pendukung lainnya. Sedangkan data primer adalah data yang dihimpun langsung dari responden penelitian
4.3. Tehnik pengumpulan data
Dalam rangka mengumpukan data yang diperlukan dalam penelitian ini, dipergunakan beberapa tehnik pengumpulan data yang diperlukan yaitu wawancara, langkah ini dilakukan dalam rangka memperoleh data yang benar-benar akurat, yang selanjutnya dalam penelitian ini digunakan sebagai metode utama adalah tehnik wawancara tersruktur digunakan sebagai tehnik pengumpulan data peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi yang diperoleh.
KUR (Kredit Usaha
Rakyat) (X)
Pendapatan
Usaha Mikro Kecil
Bidang Pertanian (Y)
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 47
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA 4.4. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang menerima pinjaman dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang ada di kecamatan Moyo Utara yaitu sebanyak 114 nasabah dan 28% nasabah dijadikan sampel atau 32 nasabah.
4.5. Klasifikasi dan Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini dapat diklasifikasi variabel yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Variabel bebas (independen), dalam penelitian ini adalah jumlah Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang merupakan suatu bentuk modal yang diberikan oleh Bank BRI Cabang Sumbawa kepada UMK untuk menjalankan usaha pertanian di Kecamatan Moyo Utara.
2. Variabel terikat (dependent), dalam penelitian ini adalah pendapatan UMK di sektor pertanian. Pendapatan UMK merupakan keuntungan yang didapat oleh UMK dari omzet penjualan hasil pertanian yang telah dikurangi modal pinjaman KUR.
4.6. TeknikAnalisis Data
Untuk menganalisis data yang diperoleh dalam rangka pengujian hipotesis data tersebut diolah terlebih dahulu kemudian dianalisis dengan pendekaatan kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Adapun teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah Regresi Linear Sederhana. Menurut Riduwan (2005:244) pengertian regresi sederhana adalah sebagai berikut: ”Kegunaan uji regresi sederhana adalah untuk meramalkan (memprediksi) variabel terikat (Y) bila variabel bebas (X) diketahui. Regresi sederhana dapat dianalisis karena didasari oleh hubungan fungsional atau hubungan sebab akibat (kausal) variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y)”.
Adapun koefisien regresi linier sederhana ini dapat diketahui dari persamaan:
Ŷ = a + bX
2
22
) (
) )(
( ) )(
(
X X
n
XY X
X
a Y
2
2
( )
) )(
(
X X
n
Y X XY
b n
Keterangan:
Ŷ = Pendapatan Usaha mikrokecil pertanian, X = kredit usaha rakyat.
a = Nilai konstanta harga Y jika X = 0.
b = Nilai arah sebagai penentu nilai predikasi yang menunjukkan nilai peningkatan (+) atau nilai penurunan (-) variabel Y.
n = jangka waktu
Hubungan antar variabel tersebut biasanya dinyatakan dalam suatu model
matematis persamaan regresi. Y merupakan variabel bergantung (dependent variable)
atau biasa juga disebut sebagai variabel yang dipengaruhi (indikator) dan X adalah
variabel bebas (independent variable) atau biasa juga disebut sebagai variabel yang
mempengaruhi (prediktor).
Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Jilid 4 Nomor 7, Desember 2014 48
Pusat Riset Ekonomi dan Pembangunan FE. UNSA a. Uji t
Uji t menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variable independen secaraindividu dalam menerangkan variasi variable independen. Untuk menguji apakah variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen dengan derajat kepercayaan 5%.
b. Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui besarnya variable Y yang dipengaruhi oleh variable X. Koefisien ini diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan : KD = KoefisienDeterminasi
R = NilaiKoefisienKorelasi V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana
Metode regresi linier sederhana dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel terikat yaitu pendapatan UMK sektor pertanian dipenagaruhi oleh variable bebas kredit usaha rakyat. Output SPSS 16. For Windows dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Hasil Analisis Regresi Linier Sederhana
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 1.1386 415385.165 2.739 .010
X .471 .032 .936 14.577 .000 1.000 1.000
a. Dependent Variable: Y