• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 3 KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

BAB 3

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH A. Pengelolaan Pendapatan Daerah

1. Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendapatan Daerah

Pendapatan daerah, yang merupakan sumber utama pendanaan APBD, terdiri atas semua penerimaan yang diperoleh dari PAD dan dana transfer dari pemerintah pusat. Besaran rencana pendapatan daerah tergantung pada sasaran yang dapat dicapai dari masing-masing jenis penerimaan, setelah dengan seksama memperhitungkan perkembangan realisasi dan estimasi dari penerimaan dimaksud pada tahun berjalan.

Di samping itu, rencana penerimaan juga mempertimbangkan berbagai kebijakan yang akan ditempuh pemerintah dan perkembangan indikator ekonomi yang tercermin pada asumsi dasar ekonomi makro, seperti laju pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dan indikator ekonomi makro lainnya. Pengaruh nilai tukar rupiah, inflasi dan ekonomi makro terhadap pendapatan daerah Provinsi Gorontalo terutama terhadap harga kendaraan bermotor yang nantinya akan berpengaruh kepada penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB) serta besaran dana transfer yang akan dialokasikan kepada Provinsi Gorontalo.

Sejalan dengan upaya optimalisasi pendapatan daerah untuk meningkatkan kemandirian dalam pendanaan pembangunan, secara nominal realisasi pendapatan daerah dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Perkembangan dan dinamika kebutuhan masyarakat Provinsi Gorontalo

menuntut adanya ketersediaan anggaran yang semakin meningkat, sehingga

sumber-sumber pendapatan daerah harus terus dapat dioptimalkan. Dalam kaitan

ini, optimalisasi pendapatan daerah akan tetap menjadi tantangan yang harus

dihadapi. Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi senantiasa berusaha

menempuh berbagai langkah optimalisasi, baik kebijakan (policy measures)

maupun administratif (administrative measures) terkait dengan pendapatan daerah,

(2)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

di bidang pajak dan retribusi daerah.

Upaya-upaya yang dilaksanakan dalam rangka peningkatan pendapatan daerah, khususnya PAD, ditempuh melalui berbagai bentuk terobosan dan strategi agar penerimaan PAD dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Salah satu terobosan paling penting dalam meningkatkan PAD adalah melakukan program intensifikasi dan ekstensifikasi terhadap wajib pajak dan retribusi daerah.

Intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaan pendapatan daerah provinsi sangat dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berkaitan dengan PAD, dana perimbangan serta lain-lain pendapatan daerah. Pajak daerah, retribusi daerah dan lain-lain PAD yang sah yang merupakan komponen dari PAD yang telah ditentukan baik jumlah maupun jenisnya sehingga sulit untuk melakukan ekstensifiksi sumber penerimaan yang baru, apalagi di dalam ketentuan peraturan perundang-undangan ditegaskan bahwa untuk penerimaan pendapatan yang baru agar tidak memberatkan masyarakat serta menghambat pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Provinsi Gorontalo pada Tahun 2014 lebih mengintensifkan sumber-sumber penerimaan yang telah ada. Upaya yang telah dan terus dilakukan dalam meningkatkan pendapatan daerah dilakukan melalui:

1) Penggalian potensi Pendapatan Daerah melalui penyusunan Database Potensi (sipamor);

2) Peningkatan partisipasi publik (swasta dan masyarakat) dalam pendapatan daerah melalui penerapan insentif dan disinsentif;

3) Peningkatan kualitas aparatur pendapatan daerah;

4) Optimalisasi sistem dan tata laksana pendapatan daerah, termasuk kualitas hubungan dan kerja sama antar SKPD penghasil;

5) Peningkatan keterlibatan seluruh stakeholder pendapatan daerah melalui

koordinasi dan kemitraan;

(3)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

6) Penegakan peraturan bidang pendapatan daerah melalui sosialisasi dan penertiban;

7) Menyelenggarakan pelayanan prima melalui pengadaan sarana prasarana yang memberikan kenyamanan dan keamanan serta memberikan pelayanan yang cepat dan sederhana dengan didukung teknologi informasi yang memadai (SIPAMOR).

8) Melaksanakan review terhadap sistem dan prosedur serta peraturan perundangan yang menghambat kelancaran penerimaan pendapatan daerah.

9) Pemantapan kelembagaan, dengan cara :

a) Mengintensifkan pendapatan dari pajak maupun retribusi melalui peningkatan manajemen pajak dan retribusi daerah serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak.

b) Memperjuangkan peningkatan pendapatan daerah yang bersumber dari dana perimbangan kepada pemerintah pusat. Menggali sumber-sumber pendapatan yang baru melalui pengembangan potensi daerah.

c) Memperjuangkan peningkatan pendapatan yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus selain DAK untuk perikanan, pertanian, kesehatan, perhubungan dan infrastruktur.

d) Menjaga dan mengembangkan perekonomian daerah untuk meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat.

Selanjutnya Perda Nomor 5 tahun 2011 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah Provinsi Gorontalo telah dilakukan perubahan dengan Perda Nomor 9 tahun 2014 tentang pajak daerah, ada beberapa perubahan yakni:

1. Pasal 1 angka 3 diubah sehingga pasal 1 berbunyi, “... Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Keuangan dan Asset Daerah Provinsi Gorontalo”

2. Pasal 11 ayat 1 diubah, sehingga Pasal 11 berbunyi sebagai berikut:

1). Tarif PKB pribadi ditetapkan dengan cara sebagai berikut :

(4)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

a. kepemilikan pertama kendaraan bermotor pribadi dikenakan tarif sebesar 1,5 % (satu koma lima persen).

b. kepemilikan kenderaan bermotor pribadi roda 4 (empat) serta kernderaan bermotor roda 2 (dua) yang isi silinder 250 cc keatas, untuk kepemilikan kenderaan bermotor kedua dan seterusnya dikenakan tarif sebesar 2,0 % (dua koma nol persen).

2).Tarif PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan atas nama dan/atau alamat yang sama.

3).Tarif PKB untuk kendaraan bermotor angkutan umum sebesar 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen).

4).Tarif PKB untuk kendaraan bermotor ambulans, pemadam kebakaran, sosial keagamaan, lembaga sosial dan keagamaan, pemerintah/TNI/POLRI, pemerintah daerah sebesar 0,5% (nol koma lima persen).

5).Tarif PKB untuk kendaraan bermotor alat berat/besar sebesar 0,2% (nol koma dua persen).

6).Tarif PKB kendaraan diatas air sebesar 1,5% (satu koma lima persen).

Diantara Pasal 13 dan Pasal 14 disisipkan 3 (tiga) pasal yakni Pasal 13 A, Pasal 13 B dan Pasal 13 C, yang berbunyi sebagai berikut:

1. Pasal 13 A

1).Setiap wajib pajak yang memiliki dan/atau menguasai kenderaan termasuk kenderaan alat berat dan besar wajib mendaftarkan/registrasi kenderaannya pada Kepolisian Daerah Provinsi Gorontalo

2).Batas waktu untuk mendaftarkan kenderaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan sebagai berikut:

a. Bagi kenderaan baru atau belum pernah terdaftar, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender sejak saat kepemilikan dan/atau penguasaan.

b. Bagi kenderaan pindahan yang terdaftar di daerah lain, selambat-lambatnya

30 9tiga puluh) hari sejak diterbitkannya Dokumen Administrasi

pemindahan tempat pengoperasian kenderaan.

(5)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

2. Pasal 13 B

Kenderaan yang terdaftar di daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 A ayat (1) wajib untuk didaftar ulang pada instansi yang ditunjuk di daerah paling lambat pada saat berakhirnya masa pajak.

3. Pasal 13 C

1).Setiap obyek pajak yang didaftarkan atau telah terdaftar, wajib dilaporkan oleh wajib pajak atau kuasanya pada saat pendaftaran atau setiap kali masa pajak berakhir.

2).Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh wajib pajak atau orang yang diberi kuasa.

3).Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk apabila terjadi perubahan atas kenderaan bermotor dalam masa pajak, baik perubahan bentuk, fungsi maupun penggantian mesin.

4).Berdasarkan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Gubernur atau pejabat yang ditunjuk menetapkan besarnya pajak kenderaan bermotor, dengan menerbitkan SKPD atau dokumen lain yang dipersamakan.

5).Tata cara pelaporan obyek pajak diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur

Ketentuan Pasal 14 ayat (2) dalam Perda Nomor 5 tahun 2011, dihapus sehingga Pasal 14 dalam Perda Nomor 9 Tahun 2014, berbunyi sebagai berikut:

1. Pasal 14:

1).Masa pajak PKB adalah 12 (dua belas) bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran kenderaan bermotor.

2).PKB dibayar sekaligus dimuka.

3).Untuk PKB yang karena keadaan kahar(force majeure) masa pajaknya tidak

sampai 12 (dua belas) bulan, dapat dilakukan restitusi atas pajak yang sudah

dibayar untuk porsi masa pajak yang belum dilalui.

(6)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

4).Terhadap wajib pajak yang melakukan mutasi kenderaan keluar daerah Provinsi Gorontalo, sebelum berakhir masa pajak diberikan restitusi.

5).Pemberian restitusi atas keadaan kahar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan mutasi kenderaan sebagaimana dimaksud ayat (4) perhitungan restitusi sebagai berikut:

a. Kurang atau sama dengan 15 (lima belas) hari tidak dihitung masa pajak.

b. Diatas 15 (lima belas) hari dihitung satu bulan penuh masa pajak.

Ketentuan Pasal 23 ayat (4) dalam Perda Nomor 5 tahun 2011, dihapus sehingga Pasal 23 dalam Perda Nomor 9 Tahun 2014, berbunyi sebagai berikut:

1. Pasal 23:

1).Tarif BBNKB ditetapkan sebagai berikut:

a. penyerahan pertama sebesar 12,5 % (dua belas koma lima persen).

b. penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1 % (satu persen).

2).khusus untuk kenderaan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang tidak menggunakan jalan umum tariff BBNKB masing-masing sebagai berikut:

a. penyerahan pertama sebesar 0,75 % (nol koma tujuh puluh lima persen).

b. penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0,075 % (nol koma nol tujuh puluh lima persen).

3).Tarif kenderaan di air ditetapkan sebagai berikut:

a. penyerahan pertama sebesar 12,5 % (dua belas koma lima persen).

b. penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 1 % (satu persen).

Ketentuan Pasal 33 ayat (1) dalam Perda Nomor 5 tahun 2011, dihapus sehingga Pasal 33 dalam Perda Nomor 9 Tahun 2014, berbunyi sebagai berikut:

1. Pasal 33:

1). Tarif PBBKB bersubsidi ditetapkan sebesar 5 % (lima persen).

2). Tarif PBBKB Non Subsidi ditetapkan sebesar 7,5 % (tujuh koma lima persen).

3). Dalam hal terjadinya perubahan tariff yang dilakukan oleh pemerintah,

maka tariff sebagaimana dimaksud pada ayat (1), menyesuaikan dengan

tariff yang ditetapkan oleh pemerintah.

(7)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Untuk potensi kendaraan bermotor di air dan kendaraan bermotor alat-alat berat/besar masih dalam proses penggalian data dan pengkajian yang mendalam sebagai potensi sumber pendapatan asli daerah. Terhadap potensi Pajak Rokok sesuai dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 potensi ini akan diberlakukan mulai 1 Januari 2014.

Sementara didalam Nota Keuangan APBN Tahun 2014 dijelaskan bahwa, mengingat tax base Pajak Rokok adalah cukai yang ditetapkan oleh Pemerintah terhadap rokok, maka pelaksanaan pemungutan Pajak Rokok dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai bukan oleh Pemerintah Daerah sebagaimana pajak daerah lainnya. Hasil penerimaan Pajak Rokok yang dipungut tersebut selanjutnya disetorkan ke Rekening Kas Umum Provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk. Untuk bisa mendapatkan pajak rokok, pemerintah provinsi, harus menyusun dan menetapkan peraturan daerah mengenai pajak rokok.

Penerimaan Pajak Rokok, baik bagian provinsi maupun bagian kabupaten/kota, dialokasikan paling sedikit 50 persen yang dipergunakan untuk:

a) Mendanai pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan masyarakat, antara lain: pembangunan/pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana unit pelayanan kesehatan, penyediaan sarana umum yang memadai bagi perokok (smoking area), kegiatan memasyarakatkan tentang bahaya merokok, dan iklan layanan masyarakat mengenai bahaya merokok.

b) Penegakkan hukum oleh aparat yang berwenang. Penegakan hukum sesuai dengan kewenangan Pemerintah Daerah yang dapat dikerjasamakan dengan pihak/instansi lain, antara lain: pemberantasan peredaran rokok ilegal dan penegakan aturan mengenai larangan merokok sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dalam UU Nomor 28 Tahun 2009, juga diatur bahwa hasil penerimaan

Pajak Rokok diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 70 persen. Bagian

kabupaten/kota tersebut ditetapkan dan dialokasikan provinsi dengan

memperhatikan aspek pemerataan dan/atau potensi antarkabupaten/kota. Ketentuan

lebih lanjut mengenai bagi hasil penerimaan Pajak Rokok ditetapkan dengan

Peraturan Daerah Provinsi.

(8)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

2) Target dan Realisasi Pendapatan

Target dan realisasi pendapatan daerah dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013 (hasil audit BPK-RI) disajikan pada Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1

Perkembangan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2009-2013

2 0 0 9 2 0 10 % 2 0 11 % 2 0 12 % 2 0 13 % Rata2

(Rp) (Rp) + (Rp) + (RP) + (RP) + Kenaikan

1 PENDAPATAN 56 1,18 6 ,3 2 6 ,559 .12 59 3 ,3 9 2 ,3 57,9 4 3 .0 7 5.74 6 9 2 ,3 6 1,2 13 ,9 3 6 .9 1 16 .6 8 9 3 3 ,16 9 ,9 3 5,4 57.8 3 3 4 .78 1,0 52 ,555,9 2 8 ,6 9 6 .13 12 .79 17.50 1.1 PAD 10 2 ,6 2 6 ,0 18 ,112 .12 13 3 ,12 4 ,9 17,18 6 .0 7 2 9 .72 157,4 72 ,3 2 6 ,552 .9 1 18 .2 9 18 0 ,0 3 9 ,3 76 ,12 2 .8 3 14 .3 3 2 14 ,6 14 ,52 7,4 8 1.13 19 .2 0 2 0 .3 9 1.1.1 Pajak Daerah 86,443,156,011.00 120,748,491,227.00 3 9 .6 9 144,753,701,685.00 19 .8 8 168,068,663,005.00 16 .11 200,883,464,795.00 19.52 23.80 1.1.2 Retribusi Daerah - - - - - 88,420,000.00 - 571,212,007.00 - -

1.1.3

Hasil Pengelolaan Keuangan Daerah yg

dipisahkan - - - - - - - - - -

1.1.4 Lain-lain PAD yang sah 16,182,862,101.12 12,376,425,959.07 (2 3 .52 ) 12,718,624,867.91 2 .76 11,882,293,117.83 (6 .58 ) 13,159,850,679.13 10.75 (4.15) 1.2 Dana Perimbangan 4 58 ,56 0 ,3 0 8 ,4 4 7.0 0 4 3 8 ,4 19 ,4 15,757.0 0 (4 .3 9 ) 515,9 8 8 ,8 8 7,3 8 4 .0 0 17.6 9 6 3 7,0 0 7,0 8 9 ,3 3 5.0 0 2 3 .4 5 72 2 ,0 9 8 ,4 8 8 ,8 9 8 .0 0 13 .3 6 12 .53 1.2.1

Dana Bagi Hasil Pajak /

bagi hasil bukan pajak 18,889,052,447.00 26,933,695,757.00 4 2 .59 26,813,585,384.00 (0 .4 5) 30,858,457,335.00 15.0 9 26,800,697,898.00 (13.15) 11.02 1.2.2 DAU 388,325,256,000.00 400,750,820,000.00 3 .2 0 461,118,102,000.00 15.0 6 582,140,302,000.00 2 6 .2 5 652,284,261,000.00 12.05 14.14 1.2.3 DAK 51,346,000,000.00 10,734,900,000.00 (79 .0 9 ) 28,057,200,000.00 16 1.3 6 24,008,330,000.00 (14 .4 3 ) 43,013,530,000.00 79.16 36.75

1.3 Lain-lain Pendapatan Daerah yg Sah

-

2 1,8 4 8 ,0 2 5,0 0 0 .0 0 - 18 ,9 0 0 ,0 0 0 ,0 0 0 .0 0 (13 .4 9 ) 116 ,12 3 ,4 70 ,0 0 0 .0 0 514 .4 1 115,8 4 2 ,9 12 ,3 17.0 0 (0 .2 4 ) 12 5.17

1.3.1 Hibah - - - - - 453,872,317.00 - - 1.3.2

Dana penyesuaian dan

otonomi khusus - - - 18,900,000,000.00 - 116,123,470,000.00 - 115,389,040,000.00 (0.63) (0.16)

1.3.3

Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemda Lainnya

- - - - - - - -

1.3.4

Dana penguatan infrastruktur dan prasana daerah

- 21,765,000,000.00 - - - - -

1.3.5 Dana tambahan penghasilan bagi GURU PNSD

- 83,025,000.00 - - - - -

1.3.6 Pendapatan dana

darurat - - - - - - -

No Uraian

(9)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Tabel 3.2

Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2014 (Sebelum Pemeriksaan BPK RI)

Dari tabel 3.2 terlihat bahwa prosentase kenaikan realisasi pendapatan terbesar terjadi pada tahun anggaran 2012, yaitu naik sebesar 34,78% yang disebabkan antara lain karena beralihnya dana BOS sebesar Rp116.123.470.000,00 yang sebelumnya disalurkan ke Kabupaten/ Kota. Beralihnya dana bos tersebut, disebabkan antara lain oleh banyaknya permasalahan yang muncul dalam penyaluran, sehingga pada tahun anggaran 2012 pemerintah pusat mengambil kebijakan untuk menyalurkan dana BOS melalui pemerintah provinsi yang selanjutnya langsung disalurkan kepada seluruh sekolah yang ada pada Kabupaten/

Kota di Provinsi Gorontalo, sedangkan kenaikan terendah pendapatan daerah terjadi pada tahun 2010 yang disebabkan oleh berkurangnya dana alokasi khusus yang diterima oleh Provinsi Gorontalo, yaitu turun sebesar 79,09% dibanding tahun 2009.

Sementara hal sebaliknya terjadi pada komponen pendapatan asli daerah, dimana kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2010, yaitu naik sebesar 29,72 % yang

%

1,218,762,778,436.41 1,207,843,603,705.53 1,207,843,603,705.53 (10,919,174,730.88) 99.10 291,096,154,035.41 280,714,324,481.53 280,714,324,481.53 (10,381,829,553.88) 96.43 259,943,069,515.65 247,216,592,910.00 247,216,592,910.00 (12,726,476,605.65) 95.10 1,629,000,000.00 1,064,721,893.00 1,064,721,893.00 (564,278,107.00) 65.36 4,000,000,000.00 1,946,292,181.00 1,946,292,181.00 (2,053,707,819.00) 48.66 25,524,084,519.76 30,486,717,497.53 30,486,717,497.53 4,962,632,977.77 119.44 800,445,594,401.00 800,313,828,654.00 800,313,828,654.00 (131,765,747.00) 99.98 23,792,096,401.00 23,660,330,654.00 23,660,330,654.00 (131,765,747.00) 99.45

734,279,438,000.00 734,279,438,000.00 734,279,438,000.00 0.00 100.00

42,374,060,000.00 42,374,060,000.00 42,374,060,000.00 0.00 100.00

127,221,030,000.00 126,815,450,570.00 126,815,450,570.00 (405,579,430.00) 99.68

375,000,000.00 513,944,633.00 513,944,633.00 138,944,633.00 137.05

126,846,030,000.00 126,301,505,937.00 126,301,505,937.00 (544,524,063.00) 99.57

Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 0.00

LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH 0.00

Pendapatan Hibah 0.00

Dana Alokasi Umum 0.00

Dana Alokasi Khusus 0.00

DANA PERIMBANGAN 0.00

Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 0.00

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 0.00

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 0.00

Pajak Daerah 0.00

Retribusi Daerah 0.00

REALISASI

URAIAN ANGGARAN

PERIODE INI TOTAL LEBIH / (KURANG) s/d

PERIODE LALU

PENDAPATAN ASLI DAERAH 0.00

PENDAPATAN 0.00

(10)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

disumbangkan sebagian besar dari jenis pajak daerah, yaitu naik sebesar 39,69%.

Kenaikan tertinggi tersebut terjadi sebelum pemerintah melakukan kebijakan pajak progresif dan kebijakan menaikan uang muka pembelian kendaraan bermotor. Pada tahun 2013 terlihat kelompok PAD, khususnya dari pajak daerah mulai mengalami peningkatan yang disebabkan oleh beberapa kebijakan pemerintah seperti subsidi untuk mobil murah dan konsumen yang mulai menyesuaikan diri dengan kebijakan pajak progresif, uang muka kendaraan bermotor serta kenaikan harga BBM.

Selanjutnya prosentase kenaikan tertinggi dana perimbangan terjadi pada tahun 2012 yang disebabkan antara lain oleh meningkatnya dana bagi hasil pajak/bukan pajak dan dana alokasi umum, sedangkan untuk tahun 2013 beberapa perubahan kebijakan pemerintah pusat terkait dengan dana bagi hasil pajak seperti untuk pajak bumi dan bangunan, menyebabkan terjadinya penurunan pada jenis dana bagi hasil pajak/bukan pajak tersebut.

Untuk tahun 2014 dari tabel diatas dapat dilihat bahwa realisasi pendapatan daerah tahun 2014 belum sesuai dengan apa yang diharapkan, yang disebabkan antara lain oleh situasi perekonomian daerah, perekonomian nasional, adanya kenaikan harga BBM, pengalihan wajib pajak kendaraan bermotor khususnya kerndaraan truck/ pick up, dari kendaraan pribadi menjadi kendaraan umum (plat hitam ke plat kuning) dan beberapa penyebab lain yang tidak dapat diperkirakan pada waktu penetapan target pendapatan. Pada sisi dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah disesuaikan dengan transfer pemerintah pusat. Pada waktu penyusunan LKPJ ini untuk sementara realisasi dana transfer telah mencapai 99,98% untuk dana perimbangan, sedangkan lain-lain pendapatan daerah yang sah mencapai 99,68% dari target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Permasalahan dan Solusi pendapatan daerah akan diuraikan dibawah ini.

[

3). Permasalahan dan Solusi

Salah satu komponen pendapatan daerah yang sangat perlu untuk digali

dan dikembangkan adalah PAD, dimana salah satu jenisnya adalah penerimaan pajak

daerah yang relatif besar sumbangannya terhadap PAD, namun Pemerintah Provinsi

tetap mengalami kesulitan membiayai tambahan kebutuhan pengeluarannya. Hal

(11)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

tersebut disebabkan antara lain karena Pemerintah Provinsi tidak memiliki kewenangan menetapkan tarif pajaknya. Penetapan tarif pajak yang seragam untuk provinsi selama ini dilakukan untuk menghindari perang tarif yang berlebihan antar- daerah. Perbedaan tarif akan berdampak terhadap pelarian objek, karena objek pajak Provinsi relatif lebih tinggi tingkat mobilitasnya dibandingkan pajak kabupaten/kota.

Dengan demikian kewenangan perpajakan yang ada saat ini tidak memberikan peluang bagi daerah untuk menyesuaikan pendapatannya bila dana transfer tidak mencukupi. Pemberian tanggung jawab yang semakin besar kepada daerah akan berdampak terhadap makin besarnya tuntutan masyarakat akan pelayanan yang semakin baik, yang tentunya tidak selamanya dapat dipenuhi dari dana transfer. Masyarakat akan selalu menuntut pelayanan lebih baik sesuai pajak yang dibayarnya.

Untuk meningkatkan kemampuan daerah dalam membiayai kebutuhan pengeluarannya, sekaligus untuk meningkatkan akuntabilitas daerah perlu upaya penguatan perpajakan daerah. Upaya penguatan perpajakan tersebut perlu dikaji terus-menerus agar tetap sejalan prinsip-prinsip perpajakan, dan sekaligus dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

Permasalahan utama yang lain terkait dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari pajak daerah dan retribusi daerah disebabkan masih rendahnya kemampuan dan dukungan operasional aparatur pelaksana. Selain itu tingkat kesadaran masyarakat masih relatif rendah sehingga sangat diperlukan sosialisasi terhadap penerapan pajak dan retribusi sebagaimana perda tentang pajak dan retribusi daerah, demikian pula peningkatan penerapan sanksi hukum bagi para penunggak pajak.

Permasalahan lain yang dihadapi dalam pengelolaan pendapatan daerah yaitu,

setelah berlakunya close list system dalam ketentuan jenis pajak dan retribusi sesuai

UU Nomor 28 Tahun 2009, perlu dilakukan penyesuaian dari perangkat regulasi,

kelembagaan pendapatan daerah serta personil agar tidak berimplikasi pada

penurunan pendapatan daerah.

(12)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Adapun permasalahan penerimaan Dana Perimbangan berada pada dana DAK yang memerlukan dana pendamping dari daerah minimal 10% dari jumlah DAK yang pada hakekatnya akan mengurangi porsi pemanfaatan DAU sesuai dengan kebutuhan daerah. Adapun lain-lain pendapatan daerah yang sah untuk dana bos telah jelas peruntukannya, sedangkan untuk komponen lain-lain pendapatan daerah yang sah seperti dana penguatan infrastruktur dan beberapa penerimaan lainnya tidak diketahui secara persis potensi penerimaannya karena bersifat penerimaan insidental.

Potensi yang diharapkan kedepan adalah semakin meningkatnya penerimaan daerah sesuai dengan semakin berkembangnya basis penerimaan daerah yang dimungkinkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang baru. Disamping itu kedepan potensi penerimaan daerah dari penerimaan deviden Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan yaitu dari penyertaan modal pada Bank Sulut, juga menjadi harapan sumber penerimaan daerah yang potensial.

Secara ringkas permasalahan–permasalahan utama yang dihadapi di bidang pendapatan daerah antara lain :

1) Potensi Pajak Daerah sesuai dengan UU 28 Tahun 2009 telah dibatasi.

2) Retribusi Daerah belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PAD, karena potensi Retribusi Daerah juga dibatasi.

3) Belum optimalnya pemanfaatan aset Pemerintah Daerah sebagai salah satu sumber PAD.

4) Belum optimalnya pengelolaan Perusahaan Daerah Provinsi Gorontalo sebagai salah satu penghasil PAD.

5) Hak-hak pemerintah daerah yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Pajak dan Bagi Hasil SDA sering terhambat karena tidak akuratnya besaran alokasi untuk pemerintah daerah yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Selain itu, besaran alokasinya pun sering berubah turun dari PMK perkiraan alokasi ke PMK alokasi definitif sehingga mengganggu stabilitas anggaran daerah.

6) Pendapatan asli daerah masih relatif kecil;

(13)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

7) Dana Perimbangan relatif kecil dibandingkan dengan dana APBN, yang langsung disalurkan kementerian/lembaga di Provinsi Gorontalo.

Dengan memperhatikan permasalahan tersebut, maka solusi yang akan dilakukan untuk meningkatkan pendapatan antara lain sebagai berikut:

1. Membuat ’komitmen tingkatkan pelayanan’ untuk meningkatkan pendapatan daerah bersama polda dan Perum Jasa Raharja;

2. Meningkatkan koordinasi dengan SKPD penghasil dalam upaya optimalisasi pendapatan daerah (baik aspek hukum, administrasi, ketersediaan sarana dan prasarana);

3. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan menyempurnakan dan melengkapi sarana prasarana penunjang pada UPTD penghasil untuk meningkatkan pendapatan daerah, diantaranya pembuatan samsat drive tru, samsat delivery dan pembukaan samsat pembantu;

4. Melakukan fasilitasi, asistensi, dan koordinasi ke kabupaten/kota untuk menghindari adanya tumpang-tindih pungutan dan optimalisasi pendapatan daerah;

5. mengupdate data base dan pemetaan data tentang potensi pendapatan daerah sebagai data dasar penghitungan PAD;

6. Memberikan perhatian yang lebih besar kepada peningkatan pemenuhan sarana dan prasarana baik berupa pembangunan maupun penyediaan kebutuhan UPTD yang dilaksanakan secara bertahap, mendekatkan unit- unit pelayanan melalui penambahan UPTD/SAMSAT PEMBANTU;

7. Melakukan pembebasan biaya mutasi untuk BBNKB II dan bebas pajak selama setahun untuk kendaraan yang berasal dari luar daerah;

8. Meningkatkan peran BUMD dalam memberikan kontribusi secara signifikan terhadap pendapatan daerah.

9. Melakukan inovasi pelayanan penerimaan pajak daerah melalui penyederhanaan sistem dan prosedur di SAMSAT dengan sistem satu atap satu pintu dan satu meja;

10. Penggunaan teknologi informasi untuk mendukung informasi kewajiban

dan pemanfaat pajak daerah;

(14)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

B. PENGELOLAAN BELANJA DAERAH

1). KEBIJAKAN UMUM BELANJA DAERAH

Dalam Permendagri Nomor 27 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2014 menyatakan, bahwa belanja daerah harus digunakan untuk pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Pelaksanaan urusan wajib dimaksud berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan.

Pemerintah daerah menetapkan target capaian kinerja setiap belanja, baik dalam konteks daerah, satuan kerja perangkat daerah, maupun program dan kegiatan, yang bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran dan memperjelas efektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran. Program dan kegiatan harus memberikan informasi yang jelas dan terukur serta memiliki korelasi langsung dengan keluaran yang diharapkan dari program dan kegiatan dimaksud ditinjau dari aspek indikator, tolok ukur dan target kinerjanya.

Terkait dengan hal tersebut secara normatif, pemerintah mempunyai dua kelompok fungsi yang harus dijalankan, yaitu fungsi nonekonomi dan fungsi ekonomi. Fungsi nonekonomi yang harus dijalankan Pemerintah adalah fungsi pertahanan dan keamanan serta fungsi peradilan (Pemerintah pusat) yang harus didukung oleh pemerintahan di daerah (MUSPIDA) dan fungsi pelayanan umum, sedangkan fungsi ekonomi pemerintah yang lahir karena kegagalan pasar adalah fungsi alokasi, fungsi distribusi, dan fungsi stabilisasi.

Terkait dengan upaya pencapaian kesejahteraan rakyat (social welfare),

fungsi ekonomi pemerintah lebih mengarah pada aspek kuantitas kesejahteraan

(antara lain tingkat pendapatan dan pertumbuhan), sedangkan fungsi nonekonomi

lebih mengarah kepada aspek kualitas kesejahteraan (antara lain keamanan,

(15)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

kenyamanan, dan kualitas lingkungan).

Dengan demikian, dalam mencapai kesejahteraan masyarakat yang ideal, dua aspek tersebut harus mendapat perhatian yang setara. Konsekuensinya, alokasi anggaran dalam APBD harus memberikan bobot yang sepadan untuk dua aspek kesejahteraan rakyat tersebut. Sejalan dengan itu, anggaran belanja Pemerintah Daerah setidaknya memiliki dua peranan yang sangat penting dalam pencapaian tujuan daerah dan nasional, terutama tujuan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. Pertama, besaran dan komposisi belanja Pemerintah provinsi dalam operasi fiskal Pemerintah, memiliki dampak yang signifikan pada permintaan agregat yang merupakan penentu output daerah dan nasional, serta dapat mempengaruhi alokasi dan efisiensi sumber daya dalam perekonomian.

Selanjutnya, peran yang kedua berkaitan dengan menyediakan dana untuk melaksanakan ketiga fungsi ekonomi pemerintah, yaitu fungsi alokasi, fungsi distribusi, dan fungsi stabilisasi. Oleh karena itu, kualitas kebijakan dan alokasi anggaran belanja pemerintah daerah, menempati posisi yang sangat strategis dalam mendukung pencapaian tujuan Provinsi sebagaimana digariskan, baik dalam rencana pembangunan jangka panjang, jangka menengah maupun rencana pembangunan tahunan.

Dalam operasi fiskal pemerintah, peranan belanja pemerintah daerah terkait fungsi alokasi dilakukan melalui pendanaan untuk berbagai program dan kegiatan investasi produktif, seperti belanja untuk penyediaan berbagai infrastruktur, maupun untuk membiayai berbagai pengeluaran atau belanja barang dan jasa (konsumsi) pemerintah dalam mendorong permintaan agregat.

Selanjutnya, peranan terkait fungsi stabilisasi dilakukan melalui penyediaan

subsidi, maupun subsidi langsung ke objek sasaran (targeted subsidies). Peranan ini

sangat penting untuk meringankan beban masyarakat dalam memperoleh

pelayanan, seperti subsidi untuk jamaah haji melalui maskapai penerbangan dan

menjaga agar produsen mampu menghasilkan produk, dengan harga yang

terjangkau seperti kebijakan pemerintah provinsi dalam mempertahankan harga

jagung.

(16)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Selanjutnya, peranan terkait fungsi distribusi dilakukan melalui dukungan untuk pemberdayaan berbagai kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah, kurang beruntung atau berkemampuan ekonomi terbatas. Dukungan tersebut diberikan dalam berbagai bentuk, baik bantuan langsung maupun alokasi anggaran bagi program-program dan kegiatan-kegiatan yang mendukung upaya pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan kerja, dan kesempatan berusaha, seperti program Mahyani, pengembangan UMKM serta berbagai program perluasan kesempatan memperoleh pelayanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan seperti bantuan PRODIRA dan jaminan kesehatan (Jamkesta).

Sejalan dengan hal tersebut, kebijakan alokasi anggaran belanja Pemerintah daerah juga dapat berperan sebagai stabilisator bagi perekonomian atau menjadi kebijakan countercyclical yang efektif dalam meredam siklus bisnis atau gejolak ekonomi. Apabila kondisi perekonomian sedang mengalami kelesuan usaha dan perlambatan aktivitas bisnis akibat resesi atau bahkan depresi, besaran dan kebijakan alokasi anggaran belanja daerah, perlu dirancang lebih ekspansif agar mampu berperan dalam memberikan stimulasi pada pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas dan memperkuat fundamental ekonomi makro.

Hal tersebut secara khusus pernah ditempuh oleh Provinsi Gorontalo melalui kebijakan menjaga stabilitas harga jagung. Sebaliknya, pada saat kondisi ekonomi terlalu ekspansif (overheating), kebijakan dan alokasi anggaran belanja Pemerintah daerah dapat dijadikan alat kebijakan yang efektif dalam mendinginkan roda kegiatan perekonomian menuju kondisi yang lebih kondusif. Secara sinergi, pelaksanaan ketiga fungsi ekonomi Pemerintah tersebut, selain memainkan peranan yang sangat strategis dalam meningkatkan kinerja ekonomi makro, juga dapat mendukung tercapainya perbaikan dan penguatan fundamental perekonomian, seperti mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan; mengendalikan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi khususnya stabilitas harga; menciptakan dan memperluas lapangan kerja produktif untuk menurunkan tingkat pengangguran;

serta memperbaiki distribusi pendapatan dalam mengurangi tingkat kemiskinan.

Dalam prakteknya untuk tahun 2014, penyusunan kebijakan dan alokasi

(17)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

anggaran belanja daerah mengacu pada prioritas, program dan kegiatan yang tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2014, yang merupakan satu mata rantai dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2012–2017.

Terkait dengan hal tersebut maka, desain dari kebijakan dan alokasi belanja daerah tahun 2014 juga, diarahkan pada pencapaian prioritas utama dan strategi RPJMD 2012–2017 yang ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Provinsi Gorontalo di segala bidang dengan menekankan pada upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dititik beratkan pada sektor pendidikan dan kesehatan, percepatan pembangunan infrastruktur serta pengembangan ekonomi kerakyatan. Prioritas utama dan strategi tersebut akan dicapai melalui pelaksanaan agenda pembangunan daerah, yang merupakan arah kebijakan pembangunan jangka menengah, yaitu:

1) Mengembangkan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal di masing- masing wilayah.

2) Pengembangan koperasi, usaha kecil menengah dan kredit usaha rakyat.

3) Meningkatkan laju serta kwalitas iklim investasi.

4) Meningkatkan kwalitas sumberdaya manusia.

5) Penyelenggaraan pendidikan dan kesehatan gratis.

6) Percepatan pembangunan infrastruktur pedesaan dan penunjang sektor produksi, pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan kelautan dan pariwisata.

7) Meningkatkan integrasi manajemen pengelolaan lingkungan, khususnya tata kelola potensi sumberdaya kelautan, hutan, tanah, air dan danau limboto secara lebih baik.

8) Peningkatan nilai-nilai pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

9) Mengembangkan nilai-nilai religi serta keragaman agama dan budaya.

10) Meningkatkan kwalitas manajemen tata pemerintahan yang baik terhadap kualitas pelayanan publik.

Kesepuluh arah pembangunan tersebut, secara berkesinambungan

(18)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

dilaksanakan untuk menghadapi berbagai tantangan pembangunan daerah, baik dalam jangka menengah maupun tahunan. Untuk tahun 2014, tantangan yang akan dihadapi terutama terkait dengan jaminan terciptanya kesempatan kerja yang signifikan, terutama untuk sektor-sektor yang bersifat padat karya, mendorong program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat (terutama di perdesaan) yang efektif dengan program "Membangun Desa", memperbaiki program-program pengentasan kemiskinan diantaranya memperbaiki program perlindungan sosial, meningkatkan akses terhadap pelayanan dasar (seperti akses terhadap pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi dan sebagainya) serta upaya penciptaan program pembangunan yang inklusif, yang dilaksanakan melalui empat jalur strategi, yaitu pertumbuhan (pro-growth), kesempatan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor) dan pelestarian lingkungan hidup (pro-environment) yang diartikan sebagai pembangunan yang mengikutsertakan dan sekaligus memberi manfaat kepada seluruh masyarakat.

Selain tantangan diatas, kedepan tantangan ekonomi Gorontalo masih cukup tinggi, bila dilihat dari beberapa hal dibawah ini :

- Belum adanya indikasi pergeseran struktur ekonomi Provinsi Gorontalo dari pertanian primer ke sektor industri;

- Masih besarnya besaran investasi pemerintah dibandingkan swasta;

- Infrastruktur dan energi yang masih terbatas;

- Belum terbangunnya dan berkembangnya netwotking pelaku UMKM dan agribisnis;

- Belum optimalnya dukungan perbankan untuk membiayai sektor UMKM;

- Proporsi angka kemiskinan dan pengangguran, walaupun ada kecenderungan menurun tetapi pada beberapa tahun kedepan diperkirakan masih relatif besar, sehingga program program pembangunan yang berdampak langsung ke masyarakat dan penciptaan lapangan kerja harus tetap menjadi prioritas;

- Perubahan iklim dan out break hama penyakit, dikawatirkan akan

menggangu produksi pangan. Perlu adanya upaya peningkatan produksi

(19)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

pangan melalui perbaikan sistem perbenihan, intensifikasi, proteksi, pengolahan hasil, fasilitasi sarana produksi;

- Kelangkaan Energi pada beberapa tahun mendatang diperkirakan akan semakin terasa, sehingga untuk antisipasinya perlu ada upaya peningkatan eksplorasi dan pengembangan sumber energi alternative;

- Pada tahun 2014 akan dilaksanakan Pemilihan Umum (Pemilu). Ada beberapa hal yang perlu dicermati antara lain stabilitas politik dan keamanan;

- Dibidang teknologi, Peran Perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam pemacuan inovasi untuk pembangunan masih relative rendah, sehingga perlu adanya upaya peningkatan Peran Perguruan tinggi dan lembaga litbang dalam pemacuan inovasi untuk pembangunan Provinsi Gorontalo.

Kebijakan ekonomi Provinsi Gorontalo Tahun 2014 juga didorong untuk memperkuat pelaksanaan berbagai kebijakan Pemerintah tahun 2014 antara lain Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milineum (MDGs); Percepatan Peningkatan Penanggulangan Kemiskinan melalui empat klaster: perlindungan sosial berbasis keluarga, pemberdayaan masyarakat melalui pelaksanaan PNPM Mandiri; peningkatan akses usaha mikro dan kecil pada sumberdaya produktif melalui kredit usaha rakyat, serta Peningkatan Ketahanan Pangan, dan Perluasan Kesempatan Kerja.

Berbagai kebijakan ekonomi yang akan dilaksanakan pada tahun 2014 akan didukung dengan berbagai program dan kegiatan pembangunan yang berpihak kepada rakyat miskin antara lain program pendidikan dan kesehatan gratis, pembangunan rumah layak huni unit rumah bagi masyarakat yang berpenghasilan tidak tetap, bantuan benih/bibit dan sarana produksi pertanian, pengembangan ternak integrasi dengan tanaman perkebunan, dan pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah dan Koperasi (UMKM-K), kemudian program pengembangan Desa Nelayan Tangguh.

Berdasarkan tantangan dan masalah yang dihadapi, serta memerhatikan

capaian kinerja dan potensi yang dimiliki, serta sasaran-sasaran pembangunan yang

(20)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

akan dicapai, maka di dalam RKPD Tahun 2014 tema pembangunan daerah adalah,"Memantapkan Perekonomian Daerah Melalui Penguatan Pembangunan Infrastruktur Dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat".

Sejalan dengan tema tersebut dan sebagai rangkaian dari pelaksanaan RPJMD 2012-2017, maka dalam RKPD 2014 ditetapkan prioritas pembangunan daerah, yaitu:

1. Peningkatan sumber daya manusia yang dititikberatkan pada sektor

- Pendidikan, diarahkan pada peningkatan pelayanan pendidikan dasar, menengah dan atas, serta memberikan subsidi pendidikan (pendidikan gratis) untuk memastikan anak usia sekolah dapat melanjutkan pendidikannya dan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan di seluruh Desa dengan fasilitas dan jumlah guru yang memadai.

- Kesehatan, diarahkan pada pemberian jaminan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin, peningkatan pelayanan pos pelayanan terpadu, pusat kesehatan masyarakat pembantu, dan pusat kesehatan masyarakat di tingkat distrik, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam peningkatan pelayanan pos kesehatan di tingkat desa.

2. Percepatan pembangunan infrastruktur, diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur dasar, dukungan pelayanan transportasi terpadu, energi, penataan permukiman, air bersih dan sanitasi dan persampahan.

3. Pengembangan ekonomi kerakyatan. Program ini diprioritaskan pada pengembangan sektor pertanian secara menyeluruh, kehutanan, Industri dan perdagangan, pariwisata dan budaya serta usaha mikro dan kecil untuk melembagakan kegiatan produktif dan meningkatkan pendapatan warga di tingkat Desa.

Untuk mendukung pencapaian tema, prioritas dan tujuan pembangunan

tersebut, serta dengan memperhatikan dinamika yang berkembang, Pemerintah

memerlukan langkah-langkah terobosan (breakthrough) serta langkah-langkah

strategis untuk mempercepat perwujudan visi pembangunan, diupayakan melalui

(21)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

prinsip penyelenggaraan pemerintahan, yaitu:

1) Kepastian Hukum, yaitu mengutamakan peraturan perundang-ungdangan, kepatutan, dan keadilan, sebagai dasar setiap kebijakan penyelenggaraan pemerintahan.

2) Kepentingan Umum, yaitu mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.

3) Good Governance (tata kelola kepemerintahan), yaitu penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi kolusi dan nepotisme untuk menciptakan penyelenggaraan negara yang solid, bertanggung jawab, efektif dan efisien, dengan menjaga keserasian interaksi yang konstruktif di antara domain pemerintah, swasta dan masyarakat;

4) Integrity (integritas), yaitu suatu kesatuan perilaku yang melekat pada prinsip- prinsip moral dan etika, terutama mengenai karakter moral dan kejujuran, yang dihasilkan dari suatu sistem nilai yang konsisten;

5) Akuntabilitas, yaitu bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku;

6) Pembangunan yang berkeadilan, yaitu pembangunan sebagai wujud pelaksanaan demokrasi ekonomi adalah upaya pembangunan yang dilandasi dengan jiwa dan semangat kebersamaan dan kekeluargaan dengan mewujudkan peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat untuk mengurangi tingkat kemiskinan, kesenjangan antarwilayah, dan kesenjangan sosial antar kelompok masyarakat, melalui pemenuhan kebutuhan akses pelayanan sosial dasar termasuk perumahan beserta sarana dan prasarananya, serta memberikan kesempatan berusaha bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menanggulangi pengangguran dengan menyeimbangkan pengembangan ekonomi skala kecil, menengah, dan besar.

Disamping itu, penyusunan belanja daerah juga diprioritaskan untuk

menunjang efektivitas pelaksanaan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah

(SKPD) dalam rangka melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung

(22)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

jawabnya. Kebijakan belanja daerah adalah dalam rangka memenuhi beban pengeluaran atas belanja tidak langsung dan belanja langsung. belanja tidak langsung yang meliputi belanja pegawai, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada kabupaten/kota, belanja bantuan keuangan kepada kabupaten/kota dan pemerintah desa dan belanja tak terduga.

Belanja langsung yang meliputi belanja pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal. Kebijakan belanja langsung dimaksudkan untuk membiayai 4 (empat) program prioritas yang meliputi pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan pengembangan ekonomi kerakyatan, dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan dan pemecahan masalahnya.

Belanja daerah diarahkan pada peningkatan proporsi belanja untuk memihak kepentingan publik, disamping tetap menjaga eksistensi penyelenggaraan pemerintahan. Dalam penggunaannya, belanja daerah harus tetap mengedepankan efisiensi, efektivitas dan penghematan sesuai dengan prioritas, yang diharapkan dapat memberikan dukungan program-program strategis daerah.

2). TARGET DAN REALISASI BELANJA

Secara umum, anggaran belanja pemerintah daerah menurut organisasi dibagi menjadi dua bagian kelompok besar, yaitu: (1) anggaran yang dialokasikan melalui SKPD dengan Kepala dinas/badan, kantor selaku pengguna anggaran (Chief Operational Officer); dan (2) anggaran yang dialokasikan melalui SKPKD yang dialokasikan melalui kepala dinas keuangan dan aset daerah selaku Bendahara Umum Daerah (Chief Financial Officer).

Dalam periode 2009-2013, belanja daerah cenderung meningkat, yaitu dari

Rp619.327.894.227,18 dalam tahun 2009, menjadi Rp1.050.816.776.902,00 dalam

APBD 2013. Kecenderungan tersebut utamanya disebabkan oleh semakin

meningkatnya alokasi anggaran untuk pelaksanaan program-program pembangunan

(yang dialokasikan melalui SKPD), dan juga diikuti oleh kebijakan untuk

mengendalikan besaran belanja tidak langsung. Perkembangan realisasi anggaran

belanja selama lima tahun terakhir (TA 2009-2013) dan realisasi semester I Tahun

(23)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

2014 yang dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan Tabel 3.4 berikut.

TabeI 3.3

Ringkasan Perkembangan Realisasi Belanja APBD 2009-2013

Sumber : LRA 2009-2013 (Hasil Pemeriksaan BPK-RI)

Sementara realisasi belanja tahun 2014 sebelum pemeriksaan BPK-RI dapat dilihat pada tabel 3.4 berikut.

N o U raian 2 0 0 9 2 0 10

% +

2 0 11

% +

2 0 12

% +

2 0 13

% + % rat a2

B elanja 6 19 ,3 2 7,8 9 4 ,2 2 7.18 56 7,0 79 ,52 2 ,6 71.0 0 ( 8 .4 4 ) 719 ,2 2 5,12 9 ,0 55.0 0 2 6 .8 3 8 8 5,0 2 1,16 0 ,78 6 .0 0 2 3 .0 5 1,0 50 ,8 16 ,776 ,9 0 2 .0 0 18 .73 15.0 4 A B elanja T d k Lg sg 2 0 9 ,9 9 3 ,4 13 ,73 0 .0 0 2 58 ,0 8 3 ,4 6 9 ,2 6 2 .0 0 2 2 .9 0 3 2 3 ,9 0 4 ,16 3 ,0 57.0 0 2 5.50 4 6 5,0 9 9 ,9 4 7,6 78 .0 0 4 3 .59 50 6 ,0 4 2 ,8 55,2 3 3 .0 0 8 .8 0 2 5.2 0

1 Belanja Pegawai 136,588,902,386.00 165,232,594,521.00 20.97 187,787,705,012.00 13.65 209,099,424,239.00 11.35

224,332,889,461.00 7.29 13 .3 1 2 Belanja Subsidi 8,755,602,250.00 1,928,000,000.00 (77.98) 1,662,443,865.00 (13.77) 1,506,660,000.00

(9.37)

-

(100.00) ( 50 .2 8 ) 3 Belanja Hibah 14,694,719,000.00 16,142,400,000.00 9.85 66,763,215,789.00 313.59 182,988,988,187.00

174.09

171,421,289,750.00 (6.32) 12 2 .8 0 4 Belanja Bantuan Sosial 2,992,239,648.00 4,266,797,209.00 42.60 6,898,426,209.00 61.68 39,250,000.00

(99.43)

556,000,000.00

1,316.56 3 3 0 .3 5 5 Belanja Bagi Hasil Kpd Propinsi/Kab/Kota & Pemdes 38,157,153,046.00 39,430,332,880.00 3.34 51,024,380,307.00 29.40 55,182,732,653.00

8.15

78,238,394,300.00 41.78 2 0 .6 7

6

Belanja Bantuan Keuangan kepada

Propinsi/Kab/Kota 8,554,797,400.00 30,930,988,075.00 261.56 8,098,192,000.00 (73.82)

16,088,905,599.00 98.67

31,158,408,722.00 93.66

9 5.0 2

7 Belanja Tak Terduga 250,000,000.00 152,356,577.00 (39.06) 1,669,799,875.00 995.98 193,987,000.00 (88.38)

335,873,000.00 73.14 2 3 5.4 2 B . B elanja Lang sung 4 0 9 ,3 3 4 ,4 8 0 ,4 9 7.18 3 0 8 ,9 9 6 ,0 53 ,4 0 9 .0 0 ( 2 4 .51) 3 9 5,3 2 0 ,9 6 5,9 9 8 .0 0 2 7.9 4 4 19 ,9 2 1,2 13 ,10 8 .0 0 6 .2 2 54 4 ,773 ,9 2 1,6 6 9 .0 0 2 9 .73 9 .8 4

Belanja Pegawai 24,664,746,145.18 21,769,939,447.00 (11.74) 27,892,847,745.00 28.13 32,854,601,863.00 17.79

36,434,870,312.00 10.90 11.2 7 Belanja Barang dan Jasa

206,395,927,826.00

178,230,007,850.00 (13.65) 225,443,575,999.00 26.49 248,669,037,594.00 10.30

323,379,711,754.00 30.04 13 .3 0 Belanja M odal 178,273,806,526.00 108,996,106,112.00 (38.86) 141,984,542,254.00 30.27 138,397,573,651.00

(2.53)

184,959,339,603.00

33.64

5.6 3

(24)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

Tabel 3.4

Realisasi Belanja Daerah Tahun 2014 (Sebelum Pemeriksaan BPK RI

Dari tabel 3.4 dapat dilihat bahwa realisasi belanja daerah Provinsi Gorontalo sebesar 92,55% yang dipengaruhi antara lain oleh penyerapan anggaran SKPD, adanya efisiensi penggunaan belanja oleh SKPD, dan beberapa penyebab lain yang tidak dapat diperkirakan pada waktu perencanaan belanja daerah.

Permasalahan dan solusi belanja daerah akan diuraikan dibawah ini.

3). PERMASALAHAN DAN SOLUSI

Dengan melihat kondisi peningkatan kebutuhan pembangunan daerah, jika tidak diikuti dengan upaya peningkatan perolehan pendapatan daerah, maka akan sulit mendorong naiknya tingkat belanja daerah yang semakin meningkat dari tahun ketahun. Dengan memperhatikan kondisi kebutuhan belanja tersebut dan untuk tetap menjamin terselenggaranya kegiatan umum pemerintahan serta pembangunan

%

1,301,534,795,885.28 1,204,521,775,748.00 1,204,521,775,748.00 (97,013,020,137.28) 92.55 587,263,316,464.32 558,162,161,760.00 558,162,161,760.00 (29,101,154,704.32) 95.04 259,166,775,979.12 239,832,528,583.00 239,832,528,583.00 (19,334,247,396.12) 92.54

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

184,600,895,000.00 181,553,834,216.00 181,553,834,216.00 (3,047,060,784.00) 98.35 1,650,000,000.00 1,479,000,000.00 1,479,000,000.00 (171,000,000.00) 89.64 115,379,414,485.20 112,638,501,788.00 112,638,501,788.00 (2,740,912,697.20) 97.62 22,570,000,000.00 21,600,082,173.00 21,600,082,173.00 (969,917,827.00) 95.70

3,896,231,000.00 1,058,215,000.00 1,058,215,000.00 (2,838,016,000.00) 27.16 714,271,479,420.96 646,359,613,988.00 646,359,613,988.00 (67,911,865,432.96) 90.49 37,684,589,100.00 35,275,002,987.00 35,275,002,987.00 (2,409,586,113.00) 93.61 407,438,973,002.96 378,674,718,624.00 378,674,718,624.00 (28,764,254,378.96) 92.94 269,147,917,318.00 232,409,892,377.00 232,409,892,377.00 (36,738,024,941.00) 86.35

Belanja Modal 0.00

Belanja Pegawai 0.00

Belanja Barang dan Jasa 0.00

Belanja Tidak Terduga 0.00

BELANJA LANGSUNG 0.00

Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah Kepada Kabupaten / Kota 0.00

Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota, Pemerintahan Desa dan Partai Politik

0.00

Belanja Hibah 0.00

Belanja Bantuan Sosial 0.00

Belanja Bunga 0.00

Belanja Subsidi 0.00

BELANJA TIDAK LANGSUNG 0.00

Belanja Pegawai 0.00

URAIAN ANGGARAN

PERIODE INI TOTAL LEBIH / (KURANG) s/d

PERIODE LALU

BELANJA 0.00

(25)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

seperti pemberian pelayanan, maka dalam mengalokasikan belanja daerah pada RAPBD tahun 2015 dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa hal, yang juga merupakan bagian dari permasalahan daerah, antara lain :

1) Pengalokasian belanja harus menggunakan pendekatan sistem skala prioritas dengan memfokuskan pada program-program yang mengarah pada pelayanan publik dan menjadi prioritas pada tahun berjalan dengan memperhatikan seperti apa yang tertuang dalam KUA dan PPAS serta RKPD Tahun 2015;

2) Realisasi fisik dan keuangan dari masing-masing target pencapaian kinerja program dan kegiatan;

3) Program dan kegiatan yang sifatnya mendesak dan harus diselesaikan pada tahun berjalan;

4) Kebijakan belanja daerah selalu mengalami perubahan, yang disebabkan oleh berubahnya ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

5) Adanya keharusan bagi pemerintah provinsi untuk mengalokasikan dana bagi hasil pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor (PKB BBN-KB) sebesar 30% dan untuk pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBB-KB) diwajibkan untuk dibagi hasilkan bagi pemerintah kabupaten/kota sebesar 70%, sehingga mempengaruhi kemampuan pemerintah Provinsi Gorontalo untuk mengalokasikan belanja;

6) Gaji PNS direncanakan mengalami kenaikan nominal 6%, berkala 2,5%, dan mengantisipasi pengalihan tenaga kontrak menjadi CPNS.

Solusi terhadap permasalahan belanja daerah adalah:

 Bekerja sama dengan pemerintah daerah kabupaten/kota untuk melakukan pemeliharaan sumber-sumber pendapatan daerah sehingga mengurangi beban belanja Pemerintah Provinsi pada UPTB/ instansi penghasil PAD.

 Membatasi jumlah PNS (moratorium) sehingga dapat mengurangi beban belanja pegawai.

 Membatasi belanja bantuan sosial, hibah dan subsidi serta hanya diberikan

pada masyarakat/ organisasi yang benar-benar sesuai dengan syarat dan

ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(26)

KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

%

1,218,762,778,436.41 1,207,843,603,705.53 1,207,843,603,705.53 (10,919,174,730.88) 99.10 291,096,154,035.41 280,714,324,481.53 280,714,324,481.53 (10,381,829,553.88) 96.43 259,943,069,515.65 247,216,592,910.00 247,216,592,910.00 (12,726,476,605.65) 95.10 1,629,000,000.00 1,064,721,893.00 1,064,721,893.00 (564,278,107.00) 65.36 4,000,000,000.00 1,946,292,181.00 1,946,292,181.00 (2,053,707,819.00) 48.66 25,524,084,519.76 30,486,717,497.53 30,486,717,497.53 4,962,632,977.77 119.44 800,445,594,401.00 800,313,828,654.00 800,313,828,654.00 (131,765,747.00) 99.98 23,792,096,401.00 23,660,330,654.00 23,660,330,654.00 (131,765,747.00) 99.45

734,279,438,000.00 734,279,438,000.00 734,279,438,000.00 0.00 100.00

42,374,060,000.00 42,374,060,000.00 42,374,060,000.00 0.00 100.00

127,221,030,000.00 126,815,450,570.00 126,815,450,570.00 (405,579,430.00) 99.68

375,000,000.00 513,944,633.00 513,944,633.00 138,944,633.00 137.05

126,846,030,000.00 126,301,505,937.00 126,301,505,937.00 (544,524,063.00) 99.57 1,301,534,795,885.28 1,204,521,775,748.00 1,204,521,775,748.00 (97,013,020,137.28) 92.55 587,263,316,464.32 558,162,161,760.00 558,162,161,760.00 (29,101,154,704.32) 95.04 259,166,775,979.12 239,832,528,583.00 239,832,528,583.00 (19,334,247,396.12) 92.54

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

184,600,895,000.00 181,553,834,216.00 181,553,834,216.00 (3,047,060,784.00) 98.35 1,650,000,000.00 1,479,000,000.00 1,479,000,000.00 (171,000,000.00) 89.64 115,379,414,485.20 112,638,501,788.00 112,638,501,788.00 (2,740,912,697.20) 97.62 22,570,000,000.00 21,600,082,173.00 21,600,082,173.00 (969,917,827.00) 95.70

3,896,231,000.00 1,058,215,000.00 1,058,215,000.00 (2,838,016,000.00) 27.16 714,271,479,420.96 646,359,613,988.00 646,359,613,988.00 (67,911,865,432.96) 90.49 37,684,589,100.00 35,275,002,987.00 35,275,002,987.00 (2,409,586,113.00) 93.61 407,438,973,002.96 378,674,718,624.00 378,674,718,624.00 (28,764,254,378.96) 92.94 269,147,917,318.00 232,409,892,377.00 232,409,892,377.00 (36,738,024,941.00) 86.35 (82,772,017,448.87) 3,321,827,957.53 3,321,827,957.53 86,093,845,406.40 -4.01

92,772,017,448.87 92,772,017,448.87 92,772,017,448.87 0.00 100.00

92,772,017,448.87 92,772,017,448.87 92,772,017,448.87 0.00 100.00

0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

10,000,000,000.00 10,000,000,000.00 10,000,000,000.00 0.00 100.00

10,000,000,000.00 10,000,000,000.00 10,000,000,000.00 0.00 100.00

82,772,017,448.87 82,772,017,448.87 82,772,017,448.87 0.00 100.00

0.00 86,093,845,406.40 86,093,845,406.40 86,093,845,406.40 0.00

PEMBIAYAAN NETTO 0.00

SISA LEBIH/KURANG PEMBIAYAAN TAHUN BERKENAAN 0.00

PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH 0.00

Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah 0.00

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya 0.00

Penerimaan Pinjaman Daerah 0.00

Belanja Modal 0.00

SURPLUS / DEFISIT 0.00

PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH 0.00

Belanja Pegawai 0.00

Belanja Barang dan Jasa 0.00

Belanja Tidak Terduga 0.00

BELANJA LANGSUNG 0.00

Belanja Bagi Hasil Pajak Daerah Kepada Kabupaten / Kota 0.00

Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota, Pemerintahan Desa dan Partai Politik

0.00

Belanja Hibah 0.00

Belanja Bantuan Sosial 0.00

Belanja Bunga 0.00

Belanja Subsidi 0.00

BELANJA TIDAK LANGSUNG 0.00

Belanja Pegawai 0.00

Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 0.00

BELANJA 0.00

LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH 0.00

Pendapatan Hibah 0.00

Dana Alokasi Umum 0.00

Dana Alokasi Khusus 0.00

DANA PERIMBANGAN 0.00

Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 0.00

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 0.00

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 0.00

Pajak Daerah 0.00

Retribusi Daerah 0.00

URAIAN ANGGARAN

PERIODE INI TOTAL LEBIH / (KURANG) s/d

PERIODE LALU

PENDAPATAN ASLI DAERAH 0.00

PENDAPATAN 0.00

 Membuat standar satuan harga yang sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan.

 Meningkatkan kinerja aparatur yang berhubungan dengan proses pengadaan barang dan jasa.

 Membuat kebijakan yang membatasi pergeseran anggaran yang bisa dilakukan pada bulan April tahun berjalan.

Ringkasan realisasi pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah pada tahun 2014 sebelum pemeriksaan BPK-RI dapat dilihat pada tabel 3.5 berikut

Tabel 3.5

Realisasi Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan Daerah Tahun 2014 (Sebelum Pemeriksaan BPK-RI)

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo

Referensi

Dokumen terkait

Manusia hidup di bumi yang kaya akan sumber daya alam, yang sejak awal diciptakan alam dengan kekayaan dan keindahan yang merupakan penunjang kesejahteraan

[r]

Hubungan Kebiasaan Olahraga dengan Kejadian Kanker Payudara Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan tidak ada hubungan yang bermakna antara kebiasaan

Data keaktifan siswa pada tabel IV.4 tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan belajar siswa yang dilihat dari tiga indikator keaktifan meliputi tanya jawab kepada guru dan

Tetapi, bila koordinat dari suatu vektor disajikan sebagai baris atau kolom dalam suatu matriks, maka secara esensi penyajian bergantung pada urutan vektor-vektor basis. Begitu

Aripriharta, Nur Hasanah, Utomo, Pemodelan SVPWM Inverter Sebagai Penggerak Motor Induksi Tiga Fasa Rotor Sangkar Berbasis Metode Vector Control.. Aripriharta adalah Dosen

Pengujian yang akan dilakukan adalah pengujian validasi dengan metode Black Box, pengujian usabilitas dengan metode System Usability Scale (SUS) dan pengujian