• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. total penduduk di hampir setiap negara di dunia (World Bank, 2012). Namun, kontribusi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. total penduduk di hampir setiap negara di dunia (World Bank, 2012). Namun, kontribusi"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam tiga dekade terakhir, populasi wanita di dunia telah mencapai setengah dari total penduduk di hampir setiap negara di dunia (World Bank, 2012). Namun, kontribusi wanita secara kuantitatif masih lebih sedikit dibanding pria terhadap nilai produksi yang tercatat ––baik secara kuantitatif, dalam partisipasi angkatan kerja, dan secara kualitatif, dalam pencapaian tingkat pendidikan dan keahlian1. Rendahnya partisipasi wanita jika dibandingkan dengan jumlah wanita secara keseluruhan tentunya sangat disayangkan karena hal ini menandakan adanya sumber daya yang belum dimanfaatkan dengan baik. Padahal, tenaga kerja wanita dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai sebuah negara yang sedang berkembang, Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 237 juta jiwa, dengan populasi wanita sebanyak 49 persen dari total penduduk2. Besarnya populasi wanita tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya manusia yang besar untuk dimanfaatkan sebagai tenaga kerja. Bagi penduduk yang telah berusia 15 tahun dan lebih, mereka sudah dikelompokkan sebagai penduduk usia kerja yang dirasa sudah mampu dan layak untuk bekerja. Namun, dikarenakan tidak semua penduduk usia kerja memilih untuk bekerja ––mereka memiliki pilihan untuk menempuh pendidikan atau mengurus rumah tangga–– melihat jumlah penduduk usia kerja saja dianggap tidak dapat menggambarkan potensi sumber daya tenaga kerja yang sesungguhnya yaitu penduduk yang aktif secara ekonomi (economically active).

1 G. Psacharopoulos dan Z. Tzannatos, “Female Labor Force Participation: an International Perspective”, The World Bank Research Observer, Vol. 4, No. 2 (Jul., 1989), hlm. 187.

2 Sumber: Sensus Penduduk 2010, Badan Pusat Statistik (BPS), 2013.

(2)

2 Untuk dapat mengetahui gambaran penduduk yang aktif secara ekonomi, yaitu penduduk yang mampu memproduksi barang dan jasa, digunakan lah tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) yang membandingkan jumlah penduduk yang masuk ke dalam angkatan kerja dengan jumlah penduduk usia kerja. Dengan mengetahui besarnya TPAK di suatu negara, pemerintah dapat merencanakan dan membuat kebijakan terkait penawaran tenaga kerja dan pasar tenaga kerja di negara tersebut agar tenaga kerja dapat diserap dengan baik serta tepat sasaran sehinggga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi barang dan jasa.

Di Indonesia, setidaknya selama lima dekade terakhir, TPAK wanita mengalami peningkatan secara terus menerus. Berdasarkan laporan ―Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Tahun 1961-1980‖ yang diterbitkan oleh BPS, TPAK wanita Indonesia pada tahun 1961 baru mencapai 29,35 persen. Apabila angka ini dibandingkan dengan TPAK laki-laki pada tahun yang sama, yang mencapai 79,79 persen, partisipasi wanita saat itu jelas terlihat jauh lebih rendah. Namun, seiring dengan berjalannya proses pembangunan dan modernisasi, partisipasi angkatan kerja wanita pada lima puluh tahun berikutnya menunjukkan peningkatan yang hampir mencapai dua kali lipat dibanding tahun 1961. Pada tahun 2011, TPAK wanita sudah mencapai 52,44 persen sedangkan TPAK laki-laki hanya mencapai 84,3 persen.

Berdasar Gambar 1.1, dapat dilihat perbandingan antara TPAK wanita dan TPAK laki-laki di Indonesia selama kurun waktu lima puluh tahun terakhir. Pada mulanya, TPAK wanita berada pada posisi yang jauh lebih rendah dibanding TPAK laki-laki. Namun, pada tahun-tahun berikutnya partisipasi angkatan kerja wanita mulai mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 12 persen pada periode 1961-1971. Kesenjangan TPAK wanita dengan TPAK laki-laki mulai terlihat mengalami penurunan yang jelas sejak tahun 1991.

(3)

3 Gambar 1.1

Perbandingan TPAK Wanita dan TPAK Laki-Laki di Indonesia, 1961-2011

Sumber: Diolah dari BPS (2013)

Terjadinya peningkatan TPAK wanita yang cukup tinggi selama tiga dekade terakhir menjadi perhatian bagi penulis untuk meneliti bagaimana perilaku angkatan kerja wanita di Indonesia. Peningkatan ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendorong para wanita di Indonesia masuk ke dalam angkatan kerja dan bersaing di pasar tenaga kerja.

Seperti yang digambarkan dalam Gambar 1.2, TPAK wanita Indonesia sempat mengalami kenaikan dan penurunan. TPAK wanita yang pada tahun 1978 sempat mencapai 39,8 persen dalam kurun waktu dua tahun mengalami penurunan yang cukup terjal menjadi 32,6 persen.

Jika hanya membandingkan TPAK pada tahun 1978 dan 1980 angka tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda, tetapi jika angka pada tahun 1980 tersebut dibandingkan dengan tahun- tahun berikutnya, kenyataannya angka tersebut merupakan angka partisipasi terendah.

TPAK wanita pada tahun 1980 yang merupakan angka partisipasi terendah selama tiga dekade terakhir kembali menarik perhatian penulis untuk meneliti partisipasi angkatan kerja wanita khususnya pada pola partisipasi yang terjadi di Indonesia. Karena, setelah titik

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

1961 1971 1980 1991 2001 2011

Persen

Tahun

TPAK Wanita TPAK Laki-Laki

(4)

4 terendah tersebut angka partisipasi angkatan kerja wanita di Indonesia terus mengalami peningkatan hingga melampaui lima puluh persen dari penduduk usia kerja di tahun 2011.

Gambar 1.2

TPAK Wanita Indonesia

Sumber: Diolah dari BPS (2013)

Secara umum, Payaman JS (1998) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi TPAK yaitu jumlah penduduk, jumlah penduduk dalam usia kerja atau produktif, jumlah penduduk yang bersekolah dan mengurus rumah tangga, struktur umur, tingkat penghasilan keluarga relatif terhadap kebutuhan, tingkat upah, tingkat pendidikan, serta kegiatan ekonomi pada umumnya. Jika ditarik garis besar, faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor ekonomi dan faktor sosial kependudukan. Dari faktor-faktor ini lah penulis akan mempersempit ruang lingkup penelitian terfokus pada faktor ekonomi dan tingkat pendidikan saja.

Dengan melihat berbagai referensi terkait partisipasi angkatan kerja wanita, ditemukan sebuah teori mengenai pola partisipasi angkatan kerja wanita yang terjadi di berbagai negara di dunia, yang dikenal sebagai the U-Shaped Female Participation Curve atau dikenal pula sebagai U-Curve Hypothesis. Teori ini berawal dari sebuah penelitian yang

0 10 20 30 40 50 60

1961 1976 1980 1985 1989 1992 1996 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010

Persen

TPAK WANITA

(5)

5 dilakukan oleh Sinha (1967) yang menemukan bahwa negara yang berpenghasilan rendah memiliki TPAK wanita yang tinggi, yang cenderung menurun selama tahap awal proses pembangunan. Sedangkan negara berpenghasilan menengah memiliki TPAK wanita yang relatif rendah dan negara maju memiliki TPAK wanita yang tinggi, menciptakan kurva berbentuk U yang menggambarkan hubungan antara pembangunan ekonomi dengan TPAK wanita3.

Penelitian-penelitian selanjutnya pun terus dilakukan dengan mengikutsertakan ratusan negara di dunia ke dalam penelitian. Boserup (1970), Pampel dan Tanaka (1986), Psacharopoulus dan Tzannatos (1989), Goldin (1994), Lincove (2008), Mujahid dan Zafar (2013) merupakan beberapa peneliti yang melakukan studi terkait hubungan antara pembangunan ekonomi dengan TPAK wanita. Tujuan utama dari penelitian-penelitian tersebut adalah untuk membuktikan adanya hubungan yang membentuk kurva U antara pembangunan ekonomi dengan TPAK wanita. Dari penelitian-penelitian tersebut juga didapatkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi pembentukan kurva yang awalnya menurun hingga mencapai titik balik lalu menaik sehingga membentuk U.

Untuk dapat menggambarkan bagaimana hubungan antara proses pembangunan ekonomi dengan partisipasi wanita yang membentuk kurva U dibutuhkan penelitian dengan jangka waktu yang cukup panjang dimana negara yang diteliti sudah berhasil menyelesaikan proses pembangunan. Namun, penelitian seperti ini sulit untuk dilakukan mengingat keterbatasan data yang tersedia sejak sebuah negara baru berdiri dan memulai proses pembangunan sampai negara tersebut berhasil menjadi sebuah negara maju. Hingga saat ini, Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu negara yang dapat dijadikan sebagai subjek tunggal dalam penelitian, seperti yang telah dilakukan oleh Goldin (1994). Goldin menggunakan sejarah AS untuk membuktikan pembentukan kurva U selama proses

3 Dalam Jane A Lincove, “Growth, Girl’s Education, and Female Labor: A Longitudinal Analysis”, The Journal of Developing Areas, Vol. 41, No.2, (Spring, 2008), hlm. 46.

(6)

6 pembangunan dimulai hingga selesai. Sedangkan untuk penelitian-penelitian lain, digunakan data cross section dengan mengikutsertakan ratusan negara di dunia, baik negara miskin, sedang berkembang dan negara maju, untuk dapat menggambarkan pembentukan kurva U dimana keadaan ekonomi negara-negara tersebut mewakili terjadinya proses pembangunan.

Berdasarkan hasil penelitian-penelitian terdahulu dibuktikan bahwa pembangunan ekonomi memang mempengaruhi TPAK wanita suatu negara. Bagi negara-negara yang kondisi perekonomiannya masih miskin, dilihat dari rendahnya GDP per kapita negara tersebut, TPAK wanita di negara tersebut tergolong tinggi. Kecilnya penghasilan di dalam keluarga mendorong wanita untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan, menyebabkan tingginya TPAK wanita. Keadaan yang berbeda ditunjukkan oleh negara-negara yang sedang berkembang, dimana TPAK wanita di negara-negara tersebut justru relatif rendah. Proses industrialisasi di negara yang sedang berkembang diduga menjadi penyebab dari rendahnya partisipasi wanita karena adanya efek pendapatan yang mendorong wanita untuk keluar dari angkatan kerja. Selain itu, faktor-faktor sosial dan budaya serta fisik diduga juga mempengaruhi keputusan tersebut. Seperti di negara miskin, partisipasi angkatan kerja wanita di negara-negara maju rupanya relatif tinggi. Pendidikan diduga menjadi penyebab utama yang mendorong para wanita untuk kembali masuk ke dalam angkatan kerja dan bekerja.

Setelah proses pembangunan selesai, kesempatan pekerjaan kerah putih yang menghargai pendidikan menjadi semakin terbuka bagi wanita, mendorong naiknya TPAK wanita di negara tersebut. Dengan demikian, terbentuk lah kurva U yang menggambarkan hubungan pembangunan ekonomi dengan TPAK wanita.

Mengacu pada penelitian-penelitian tersebut, penulis mencoba untuk menerapkan penelitian serupa di Indonesia. Penggunaan variabel pertumbuhan ekonomi, yaitu keadaan ketika Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kenaikan dibandingkan dengan PDB periode sebelumnya, ditujukan sebagai indikator proses pembangunan, dimana PDB

(7)

7 digunakan sebagai indikator untuk mengukur kemampuan ekonomi. Dugaan bahwa pendapatan memiliki pengaruh yang kuat terhadap keputusan individu untuk masuk ke dalam angkatan kerja menjadikan variabel pendapatan sebagai variabel independen yang pertama.

Sedangkan variabel independen yang kedua adalah tingkat pendidikan yang diduga memiliki andil dalam porsi menaiknya kurva U. Tingkat pendidikan diangkat menjadi salah satu variabel independen dalam penelitian ini karena peran pendidikan dalam pembentukan sumber daya manusia sangat lah penting yang nantinya akan mempengaruhi kualitas angkatan kerja di Indonesia.

Selanjutnya, variabel pendapatan akan diwakili oleh PDRB riil per kapita dalam penelitian ini. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih detail atas kondisi perekonomian secara individu. Sedangkan untuk variabel tingkat pendidikan akan diwakili oleh tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan untuk menunjukkan akses masuk ke sekolah serta kemampuan dalam menyelesaikan proses pendidikan.

Dengan melihat data 30 provinsi di Indonesia, penulis menemukan kemungkinan terjadinya kurva U di Indonesia dengan membandingkan besarnya pendapatan daerah per kapita dengan tingginya TPAK wanita di provinsi tersebut. Penelitian dengan menggunakan data time series sayangnya tidak dapat dilakukan karena keterbatasan data. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan data panel 30 provinsi di Indonesia selama periode 2002-2011 untuk mendapatkan objek penelitian yang mampu mewakili daerah maju, berkembang dan miskin agar dapat menggambarkan terjadinya proses pembangunan. Berikut ini adalah tabel PDRB riil per kapita dan TPAK wanita untuk daerah-daerah yang dianggap mampu mewakili daerah maju, berkembang, dan miskin di Indonesia dilihat dari besarnya PDRB riil per kapita dari provinsi-provinsi tersebut.

(8)

8 Tabel 1.1

PDRB Riil per Kapita dan TPAK Wanita

Tahun Provinsi PDRB Riil per

Kapita (Rp)

TPAK Wanita (%)

2002

DKI Jakarta

29,863,633 40.88

Sulawesi Utara

5,478,819 36.79

NTT

2,193,984 68.01

2006

DKI Jakarta

34,341,458 46.82

Sulawesi Utara

6,227,557 34.27

NTT

2,394,641 64.85

2011

DKI Jakarta

43,390,000 53.87

Jawa Barat

7,829,000 41.47

NTT

2,774,000 61.25

Sumber: Diolah dari BPS (2013)

Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan pendapatan per kapita tertinggi di Indonesia sehingga provinsi ini dipilih untuk mewakili daerah yang dianggap sudah maju, sedangkan provinsi Sulawesi Utara dan Jawa Barat dipilih untuk mewakili daerah dengan pendapatan per kapita menengah untuk mewakili daerah yang sedang berkembang dan NTT yang memiliki pendapatan per kapita terendah untuk mewakili daerah miskin. Dari keempat provinsi tersebut serta dengan melihat perkembangannya pada tahun 2002, 2006 dan 2011 secara sederhana dapat dikatakan bahwa di Indonesia, hubungan antara pembangunan ekonomi dengan TPAK wanita membentuk kurva U. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya PDRB riil per kapita yang diikuti dengan tingginya TPAK wanita di provinsi DKI Jakarta.

Sedangkan daerah dengan PDRB riil per kapita menengah seperti Sulawesi Utara dan Jawa Barat memiliki TPAK yang relatif rendah dibanding dengan daerah lain. Untuk provinsi NTT dengan PDRB riil per kapita yang kecil, TPAK wanita relatif tinggi. Namun, pernyataan yang hanya didasarkan pada data seperti ini tanpa memperhitungkan adanya kemungkinan-

(9)

9 kemungkinan kesalahan dan faktor lain yang turut mempengaruhi hubungan ini tentunya dapat dianggap kurang valid. Oleh karena itu, penelitian ini akan menggunakan alat ekonometri guna mendapatkan hasil yang lebih valid.

1.2 Rumusan Masalah

Peningkatan TPAK wanita diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi barang dan jasa karena tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting. Apabila TPAK wanita di Indonesia mengikuti pola kurva U, maka dimungkinkan pada periode tertentu TPAK wanita di beberapa provinsi di Indonesia akan mengalami penurunan dan kenaikan seiring dengan pertambahan atau pengurangan pendapatan per kapita di provinsi tersebut. Penurunan dan kenaikan TPAK wanita ini dapat mempengaruhi jumlah tenaga kerja yang tersedia sehingga dapat mempengaruhi jumlah produksi barang dan jasa. Terlebih khusus perubahan TPAK wanita diduga dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan faktor pendidikan. Besar kecilnya pendapatan diduga mempengaruhi keputusan wanita untuk masuk atau keluar dari angkatan kerja. Selain itu tingkat pendidikan juga diperkirakan memainkan peran penting dalam kenaikan atau penurunan TPAK wanita.

Dari uraian di atas, dapat ditarik beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah terdapat hubungan antara pendapatan dan TPAK wanita yang membentuk kurva U di Indonesia?

2. Apakah pendapatan mempengaruhi TPAK wanita di Indonesia secara signifikan?

3. Apakah tingkat pendidikan mempengaruhi TPAK wanita di Indonesia secara signifikan?

(10)

10 1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis dan membuktikan adanya hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan TPAK wanita yang membentuk kurva U di Indonesia.

2. Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap TPAK wanita di Indonesia.

3. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan wanita terhadap TPAK wanita di Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Memperoleh gambaran secara jelas mengenai hubungan dan pengaruh dari pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan dan TPAK wanita di Indonesia.

2. Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya yang juga meneliti partisipasi angkatan kerja, khususnya angkatan kerja wanita.

3. Sebagai referensi bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan terkait penawaran tenaga kerja, khususnya tenaga kerja wanita.

1.5 Sistematika Penulisan

Secara umum, penelitian ini akan mencakup empat bab. Keempat bab tersebut adalah:

BAB I: PENDAHULUAN

Membahas latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

(11)

11 BAB II: KERANGKA TEORITIS DAN METODOLOGI

Membahas landasan teori terkait partisipasi angkatan kerja, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi, studi empiris dari penelitian-penelitian terdahulu, model penelitian dan alat analisis.

BAB III: HASIL DAN PEMBAHASAN

Membahas deskripsi variabel dan data, hasil analisis dari model yang digunakan beserta interpretasi hasil yang diperoleh.

BAB IV: KESIMPULAN DAN SARAN

Membahas hasil penelitian secara keseluruhan serta memberikan beberapa saran yang diperlukan oleh pemerintah dan peneliti selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Saran dari peneliti adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kota Semarang perlu melakukan evaluasi terhadap tarif kapitasi yang ditetapkan karena

Perusahaan Listrik Negara (Persero) Sektor Mahakam mengenai sejauh mana strategi komunikasi Divisi safety yang telah dilakukan untuk memberikan kinerja yang lebih optimal dalam

Dapat disimpulkan bahwa luas lahan, jarak tanam dan teknologi alsintan pada sistem tanam jajar legowo berpengaruh sebesar 92,1% terhadap risiko sistematis, (100%

Sedangkan angkatan kerja adalah penduduk berusia 15 – 64 tahun atau jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada

berupa deskripsi adegan dalam film dan kutipan dialog antartokoh. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik metode analisis teks dengan mengambil bentuk kutipan

Metode pembobotan kata yang dipergunakan dalam skripsi ini ialah Term Frequency–Inverse Document Frequency (TF-IDF) & memakai K-Nearest Neighbor (K-NN) untuk

Hafied Cangara dalam bukunya mengungkapkan bahwa ada tujuh hal yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada komunikasi, yaitu : (1) Gangguan teknis, terjadi jika

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dan kontribusi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Denpasar tahun