BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Paradigma Penelitian
Paradigma memiliki arti sebagai sebuah sudut pandang untuk menilai fenomen-fenomena yang terjadi di sekitar serta pedoman cara bersikap menanggapi fenomena yang terjadi. Menurut Bhaskar dan Roy, paradigma diartikan sebagai sebuah rangkaian asumsi dan sebuah keyakinan. Asumsi inikemudian dianggap sebagai sebuah kebenaran yang dapat dipercaya, serta kebenarannya dapat dibuktikan secara empirik hingga akhirnya asumsi tersebut bisa divaidasi sebagai accepted assume to be true (Salim, 2016, h.63)
Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini merupak post positivistik yang memiliki ciri reduksi data ionistis, berdasarkan logika, empiris, serta menelaah secara mendalam mengenai sebab dan akibat (Creswell, 2014, h.31).
Pengertian paradigma Post-Positivisme menurut Denzin dan Lincoln (2009, h. 8), adalah paradigma yang mengandalkan beragam metode sebagai cara untuk memahami realitas yang ada sebanyak mungkin, pada waktu yang sama, penekanan dititikberatkan pada temuan baru dan verifikasi teori.
Paradigma ini memberi pandangan bahwa sebuah penelitian mampu terbangun baik apabila didapatkan langsung dari sumber yang terpercaya.
Langkah awal yang dilakukan adalah dengan pengumpulan bukti berupa fakta dan pengetahuan sebagai dasar membangun penelitian. Data-data yang didapatkan
dianggap berdiri sendiri, orisinal dan memiliki latar belakang yang berbeda beda.
Penelitian dengan paradigma ini biasanya menghindari penggunaan teori.
Kedudukan teori tidak menjadi batasan untuk mengeksplorasi, melainkan lebih menjadi panduan dalam meneliti (Fitrah & Luthfiyah, 2018, h. 205).
Menurut Phillips dan Burbules (Creswell, 2014, h. 36) terdapat beberapa asumsi yang menjadi kunci bagi sebuah paradigma post positivistik, yakni:
a. Kebenaran dari pengetahuan hanya sebuah asumsi yang belum bisa dikatakan mutlak kebenarannya. Pada konteks penelitian, hipotesis yang dimiliki peneliti tidak berfokus untuk dibuktikan kebenarannya, melainkan mencoba mencari kesalahan untuk kemudian menolak atau disandingkan dengan hipotesis yang ada.
b. Melalui penelitian, kita bisa menjadikannya sebuah proses untuk meng-claimsuatu asumsi, untuk kemudian asumsi tersebut dikembangkan menjadi sebuah klaim yang lebih kuat dan berdasar
c. Dalam membuat sebuah pengetahuan, terdapat aspek kunci yang harus ada, yakni; data, bukti, serta pertimbangan yang rasional. Pada kenyataan di lapangan, untuk mendapatkan informasi atau data, peneliti harus melakukan observasi, kemudian observasi tersebut akan memiliki bukti (rekaman, foto, dsb) yang diharapkan hasil tersebut mampu ditelaah secara rasional untuk kemudian disebut sebagai sebuah pengetahuan.
d. Penelitian berusaha untuk menjelaskan sebab dan akibat dari sebuah proses yang ada, tentunya didukung dengan pernyataan yang relevan dan benar untuk dapat diuji.
e. Objektivitas hasil merupakan sebuah keharusan dalam penelitian.
3.2 Jenis dan Sifat Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk meneliti secara lebih mendalam bagaimana strategi Tokopedia dalam menciptakan niat beli melalui personal selling. Menurut Creswell dalam buku Paradigma dan Model Penelitian Komunikasi (Ardial, 2014, h.24), pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan juga pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu masalah manusia dan fenomena sosial, di mana peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci yang diambil dari pandangan informan dan melakukan studi pada situasi lapangan yang terjadi.
Menurut Nawawi (Nawawi, 2012, h. 35) pendekatan kualitatif menggunakan data dan dinyatakan secara verbal dan kualifikasinya bersifat teoritis. Data sebagai bukti untuk menguji kebenaran dari sebuah hipotesis, tidak diolah melalui perhitungan matematik dan juga rumus statistika. Pengolahan data dilakukan secara rasional menurut hukum logika dengan menggunakan pola berfikir tertentu.
Penelitian kualitatif adalah riset yang memiliki objek penelitian terbatas, tetapi karena objek penelitiannya terbatas, data dapat digali sebanyak mungkin.
Dengan begitu kualitas data bisa menjadi semakin baik dan dapat menyebabkan semakin baik juga kualitas penelitian (Bungin, 2013, h.29).
Menurut Anggito dan Setiawan (2018, h. 11) bahwa penelitian kualitatif memiliki beberapa karakteristik yang dirangkum menurut beberapa ahli, yakni:
a. Bersifat alamiah, sumber datanya aktual dan penelitian menjadi instrument kunci. Artinya seorang peneliti yang menggunakan metode kualitatif harus datang langsung ke lapangan untuk melakukan observasi yang mendalam agar mendapat hasil data yang rinci.
b. Memiliki sifat deskriptif. Isi yang dijabarkan dari hasil penelitian berbentuk tulisan yang mendeskripsikan suatu fenomena, setting sosial, serta objek yang dijelaskan dalam sebuah paragraph naratif.
c. Focus studi merupakan batasan penelitian. Hasil penelitian yang mendalam mampu mengakibatkan penjelasan yang terlalu melebar. Oleh sebab itu fokus studi dijadikan sebuah batasan agar dapat memverifikasi, mereduksi serta menganalisis data.
d. Ukuran keabsahan data didapatkan melalui kriteria khusus. Karena penelitian tidak melibatkan angkascientific, maka kriteria khusus bagi pari pemberi informasi (informan) menjadi tolak ukur bahwa data yang didapat bisa diverifikasi dan bersifat objektif sebagai suatu penelitian.
Pada kesimpulannya, dapat diartikan bahwa penelitian kualitatif merupakan sebuah metode dalam mengumpulkan data dari sebuah fenomena yang bertujuan untuk memberi intepretasi terhadap suatu kejadian dan dikaji berdasarkan konsep atau model yang digunakan selama penelitian.
Penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus.
Penelitian yang menggunakan metode studi kasus memiliki dua payung paradigma yang menaunginya. Paradigma adalah landasan penulis untuk memilih metode dan teori untuk mengungkap sebuah perilaku komunikasi sehingga pertanyaannya terjawab. Contoh jenis paradigma yang biasa digunakan adalah potivistik, post positivistik dan interpretif. Bagi penelitian kualitatif seperti penelitian penulis, paradigma yang lebih cocok digunakan adalah postpotivistik.
3.3 Metode Penelitian
Pengertian kata metode sebelumnya harus dipahami sebagai sesuatu yang merujuk pada cara apa yang digunakan dalam sebuah penelitian ketika mengumpulkan data, misalnya melalui survey, observasi lapangan, maupun wawancara mendalam.
Secara garis besar, definisi dari metode penelitian adalah sebuah rangkaian kegiatan ilmiah yang terstruktur dan terencana, dijalankan secara runtut atau sistematis serta memiliki tujuan praktis ataupun teoritis. Pembuatan metode penelitian dilakukan dengan landasan ilmu pengetahuan juga teori, konsep, atau model. Hal tersebut membuat penelitian dikatakan sebagai sebuah kegiatan yang
ilmiah. Sedangkan target waktu yang disusun oleh peneliti, rincian dana yang mungkin dikeluarkan serta pertimbangan keterjangkauan data dan wilayah merupakan aspek yang membuat penelitian dapat dikatakan terencana (R.
Semiawan, 2009, h. 5)
Metode penelitian yang digunakan dari penelitian ini adalah studi kasus.
Penelitian studi kasus ini memusatkan diri secara intensif terhadap suatu objek tertentu, dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus. Seorang peneliti harus mengumpulkan data secermat dan selengkap mungkin untuk mengetahui sebab-sebab yang sesungguhnya apabila terdapat aspek-aspek yang perlu diperbaiki (Nawawi, 2012, h.77).
Robert K Yin dalam buku Teknis Praktis Riset Komunikasi (Kriyantono, 2009, h.56) memberikan batasan mengenai metode studi kasus sebagai riset yang menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, jika batas antar fenomena dan konteks kurang jelas dan lebih dari satu sumber bukti dimanfaatkan dalam penelitian ini.
Pengertian terakhir dikemukakan Halimi (2014) dalam Fitriah & Luthfiyah (2018, h.208) bahwa metode studi kasus dapat dilakukan pada sebuah organisasi, lembaga, maupun fenomena tertentu yang dilakukan secara internsif dan terperinci.
Menurut Yin (2018, h.84) bahwa sebuah penelitian akan cocok menggunakan metode studi kasus apabila memiliki keadaan seperti berikut:
a. Kasus yang dipilih digunakan untuk membuktikan sebuah teori atau konsep
b. Kasus yang dipilih merupakan sebuah fenomena yang tidak biasa terjadi atau terikat dalam periode waktu tertentu
c. Kasus yang dipilih mumiliki sifat umum yang bertujuan untuk mengamati keadaan atau situasi dalam kehidupan sehari-hari
d. Kasus yang dipilih merupakan sebuah kesempatan khusus yang dapat digunakan untuk mengobservasi suatu fenomena tertentu
e. Kasus yang dipilih mampu bersifat longitudinal, dimana peneliti akan memiliki kesempatan lebih dari satu kali untuk mengobservasi suatu fenomena
Berdasarkan beberapa pengertian dari beberapa ahli, diharapkan penelitian ini mampu menyajikan kajian yang rinci, mendalam, dan menyeluruh dalam kurun waktu tertentu atau peristiwa tertentu. Sebagaimana tujuan dari penelitian studi kasus adalah untuk memberikan upaya dalam mengumpulkan data untuk kemudian dianalisis berdasarkan kasus yang menjadi perhatian penelitian, hingga akhirnya hasil akhir penelitian mampu bersifat holistik dan kontekstual.
3.4 Key Informan dan Informan
Informan secaragaris besar merupakan orang yang mampu memberikan informasi. Karakteristik informan terbagi menjadi dua, yakni informan dan juga key informan. Pengertian Informan menurut Moloeng (2010, h.132) adalah
narasumber tambahan yang bisa memberikan data atau informasi seputar sebuah objek, data tersebut bisa bersifat primer maupun data tambahan atau bersifat sekunder seperti latar tempat, suasana, maupun data sekunder seperti foto atau dokumen. Terdapat beberapa karateristik yang harus diperhatikan saat memilih informan, yakni:
a. Jujur, artinya ketika memberikan suatu pernyataan informan akan berkata benar apa adanya, tanpa ada yang ditambakan, sikurangi, atau bahkan dimanipulasi
b. Taat pada janji, hal ini berkenaan dengan sikap kooperatif dari sang informan
c. Patuh terhadap peraturan, artinya bukan merupakan seseorang yang menganut vandalisme
d. Gemar berbicara, seoang informan idealnya suka berbicara dan bercerita.
Hal ini akan menguntungkan peneliti untuk mendapatkan data yang luas e. Bukan merupakan anggota suatu kelompok yang memungkinkan
terjadinya bias
Jenis informan yang kedua adalah key informan. Poin yang membedakan informan biasa dengan informan kunci adalah pengetahuan dan relevansi data yang dimiliki. Informan kunci akan memiliki data yang lebih komprehensif dan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Merujuk pada Moloeng (2010, h3) seorang informan kunci tidak hanya mampu menjelaskan dan memberikan data akan suatu
subjek, namun juga haruslah seseorang yang turut terjun langsung dan menguasai subjek tersebut.
Pada penelitian ini, peneliti mewawancarai tiga orang narasumber yang dirasa mampu untuk menjelaskan dan memberikan data seputar strategipersonal sellingTokopedia dalam menciptakan niat beli konsumen. Informan dan informan kunci yang dipilih merupakan perwaikalan dari Tokopedia, di mana informan dan key informan terlibat langsung dalam perencanaan strategi program MUB.
Key informandalam penelitian ini adalah Bapak Yanuar Rakhmad. Beliau merupakan seorang Senior Lead Sulawesi dan Kalimantan. Dalam program MUB, beliau bertanggung jawab atas tiga kota di Sulawesi, yakni kota Makassar, Manado, dan Kendari. Secara garis besar, tanggung jawab Bapak Yanuar dalam program MUB adalah sebagai perancang strategi untuk daerah Sulawesi dan Kalimantan. Sebagai seorang Head of Project MUB terutama yang telah berjalan di kota Sulawesi, Bapak Yanuar tidak hanya merencanakan strategi di balik layar, namun juga turut serta untuk turun ke lapangan. Beliau secara berkala melakukan pengecekan serta mendata semua informasi di lapangan. Hasil data yang Ia peroleh kemudian akan dikembangkan kembali menjadi suatu evaluasi untuk program MUB. Alasan Bapak Yanuar penulis pilih sebagaikey informan adalah karena kecakapan dan keterlibatan beliau. Baik mulai dari perencanaan strategi tahap awal, improvisasi dan inisiatif yang dicetuskan untuk memperbaiki program MUB di daerah Sulawesi serta keterlibatan bapak Yanuar secara langsung yang ikut turun dalam program MUB di Sulawesi.
Penelitian ini juga didukung oleh data yang diberikan informan. Informan yang peneliti wawancara adalah bapak Sien Stefanus Agung Permadi. Posisi beliau di Tokopedia adalah sebagai Senior Acquisition Lead, sedangkan tanggung jawab dalam program MUB adalah sebagai Head Of Project. Tanggung jawab seorang Head of Project program MUB berupa perencanaan strategi awal. Bapak Agung bertugas mengumpulkan semua data yang diperlukan, merumuskan umbrella strategic yang ada, kemudian mendistribusikan strategi tersebut ke semua kota program MUB. Alasan penulis memilih Bapak Agung sebagai informan adalah karena kemahirannya dalam perencanaan strategi MUB secara keseluruhan. Namun, karena Bapak Agung tidak terlibat secara langsung di lapangan makan penulis tidak bisa menjadikannya sebagai key informan.
Informan terakhir adalah Evan Pangestu, seorang senior SPG program MUB yang dijalankan di Makassar. Evan telah ikut dalam program MUB di Makassar sejak bulan Oktober 2019. Tugas yang dijalankan sebagai senior SPG adalah mencari pengguna baru serta menjadi kasir saat ada transaksi. Keterlibatan Evan di lapangan menjadi sebuah kriteria yang cocok. Peneliti merasa penjelasan dari Evan sebagai tim di lapangan mampu membantu proses peneliti melakukan triangulasi data dalam penelitian ini.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Bungin (2013, h.129) menyampaikan persoalan metode dalam
kunci yang dapat menentukan apakah penelitian menyentuh keberhasilan atau tidak. Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini ada dua, yaitu wawancara mendalam untuk mendapatkan data primer dan studi pustaka untuk mendapatkan data sekunder.
Ada beberapa cara dalam pengumpulan data kualitatif serta jenis sumber data menurut Bungin (2013, h. 130).
1. Data Primer : sumber data pertama di mana sebuah data dihasilkan. Salah satu cara mendapatkan data primer bisa dilakukan dengan wawancara langsung dengan narasumber atau melakukan observasi ke subjek yang akan diteliti.
2. Data Sekunder : data yang diperoleh dari sumber data kedua. Data sekunder ini bisa didapatkan melalui berbagai jurnal penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya atau buku-buku penelitian relevan yang telah dilakukan juga sebelumnya.
Wawancara mendalam adalah suatu proses untuk memperoleh keterangan atau informasi untuk tujuan penelitian dengan cara melakukan sesi tanya jawab secara bertatap muka antara pewawancara dan narasumber dengan atau tidak menggunakan pedoman wawancara (guideline).
In Depth Interview atau wawancara mendalam biasanya dilakukan dengan wawancara verbal untuk memahami objek secara mendalam. Dalam proses wawancara, artinya dibutuhkan sejumlah informan. Menurut Moleong, Miles, et al (Goenawan Ananto, 2010, h. 61) bahwa informan sendiri merupakan orang yang
mampu memberikan informasi terkait permasalahan yang akan diteliti serta mampu berperan sebagai narasumber selama masa penelitian.
Informan dalam penelitian dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni:
a. Informan kunci yakni pelaku utama dalam suatu permasalahan
b. Informan ahli yakni para ahli yang memahami permasalahan dan dapat memberikan keterangan secara ilmiah. Dapat dilakukan oleh akademisi, tokoh masyarakat, budayawan, maupun tokoh agama.
c. Informanincidental adalah seseorang yang secara acak dijumpai di lokasi kejadian yang dirasa mampu memberikan keterangan
Sementara studi pustaka adalah sebuah teknik dalam mengumpulkan data sekunder. Kegiatan studi pustaka melibatkan pencarian sumber data tambahan melalui literatur seperti buku, jurnal, maupun dokumen lain terkait penelitian yang sedang difokuskan. Sumber lain yang bisa dijadikan informasi adalah koran, majalah, maupun artikel internet yang berasal dari sumber terpercaya seperti berita.
3.6 Keabsahan Data
Sebagai bentuk sebuah karya ilmiah, penelitian ini haruslah bersifat objektif sesuai dengan realitas yang ada di lapangan. Penelitian ini dapat dikatakan objektif jika telah memenuhi keabsahan data yang diperoleh (Ardianto, 2011, h. 193). Untuk dapat memenuhi syarat tersebut, penulis menggunakan cara
mengecek kebenaran data tersebut (Ardianto, 2011, h. 197). Data yang dibandingkan oleh penulis adalah hasil wawancara dengan informan yang terpilih.
Penelitian ini dilakukan untuk melengkapi dan melakukan triangulasi data dari wawancara yang sudah didapatkan dan dibandingkan untuk lebih menguatkan temuan-temuan baru dalam penelitian ini.
3.7 Teknik Analisis Data
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, peneliti mengumpulkan data dengan cara melakukan observasi, wawancara, dan studi literatur. Tahap selanjutnya dalam pembuatan penelitian ini adalah menganalisis data. Dalam tahap ini penulis menggunakan model dari Miles dan Huberman (Goenawan Ananto, 2010, h.223). Keduanya menyatakan ada tiga kegiatan yang harus dilakukan untuk menganalisis data yakni :
1. Reduksi
Pereduksian data dilakukan dengan cara menyaring data yang telah didapatkan di objek penelitian, sehingga data yang tersisa adalah data yang benar-benar dibutuhkan untuk melengkapi penelitian ini. Kegiatan reduksi dilakukan dengan cara memprediksikan pereduksian bahkan jauh sebelum pengumpulan data dilakukana dan dilakukan secara berkelanjutan hingga penulisan selesai.
Sesuai dengan yang disebutkan, penulis sudah memulai pereduksian data sebelum mengumpulkan data. Penulis membuat rencana terkait data apa yang
penulis perlukan. Salah satu hasilnya adalah garis besar atau list pertanyaan untuk wawancara yang akan penulis lakukan. Selain itu juga penulis mempersiapkan diri dengan cara membuat sebuah memo singkat terkait hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan lebih lanjut selama observasi.
Selanjutnya, setelah mendapatkan data hasil dari transkrip wawancara penulis menggarisbawahi data yang akan dipaparkan dalam pembahasan dengan cara memfilternya, begitu pula dengan hasil observasi. Sebelum melakukan observasi dan wawancara selanjutnya penulis juga membaca ulang hasil dari data sebelumnya yang sudah didapatkan dan membuat memo berisi informasi apa yang perlu digali secara lebih mendalam lagi.
2. Pemaparan data
Data yang penulis sudah kumpulkan sebelumnya akan dipaparkan untuk membantu penulis dalam menarik kesimpulan. Bentuk pemaparan ini penulis buat dalam bentuk tulisan naratif yang akan dimasukan pada Bab IV. Penulis juga melakukan pemaparan data lain dengan log book dari observasi yang dilakukan dan transkrip wawancara yang telah direduksi untuk dapat disimpulkan di tahap selanjutnya.
3. Penarikan kesimpulan
Berdasarkan data yang telah direduksi oleh penulis dan dipaparkan sebelumnya, kesimpulan akan ditarik. Simpulan yang akan dibuat penulis akan ditujukan untuk mencapai hasil yang komprehensif, oleh sebab itu akan dilakukan