• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN SKRIPSI. Oleh : INTAN MURINA SITEPU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN SKRIPSI. Oleh : INTAN MURINA SITEPU"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA

JAMINAN HAK TANGGUNGAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

INTAN MURINA SITEPU 150200095

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat dan Salam juga senantiasa Penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia menuju jalan keselamatan dan keberkahan. Skripsi yang diberi judul “TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN” disusun untuk memenuhi tugas dan memenuhi persyaratan mencapai gelar Sarjana Hukum (SH) di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

Secara khusus saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orangtua saya, Ayah tercinta Setia Budi Sitepu dan Ibu tersayang Juliati yang telah mendoakan serta memberikan cinta, kesabaran, perhatian, dukungan, bantuan dan pengorbanan yang tak ternilai sehingga saya dapat melanjutkan dan menyelesaikan studi dengan baik.

Dalam proses penyusunan skripsi ini saya juga mendapat banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sebagai penghargaan dan ucapan terima kasih terhadap semua dukungan dan bantuan yang telah diberikan, saya menyampaikan terima kasih kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu S.H.,M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;

2. Prof. Dr. Budiman Ginting S.H.,M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

(4)

3. Prof. Dr. OK Saidin, S.H.,M.Hum, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Ibu Puspa Melati S.H.,M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H.,M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Ibu Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum Perdata dan Bapak Syamsul Rizal, S.H., M.Hum selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata;

7. Bapak Muhammad Husni, S.H., M.H, selaku Dosen Pembimbing I.

Terima kasih banyak atas saran, arahan, dan masukan yang membangun dalam setiap bimbingan, serta waktu yang Bapak berikan sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini;

8. Ibu Dr. Marianne Magda, S.H., M.Kn, selaku Dosen Pembimbing II.

Terima kasih atas bimbingan, saran, nasihat, dan ilmu yang ibu berikan selama ini disetiap bimbingan dengan penuh kesabaran hingga skripsi ini selesai;

9. Seluruh Dosen-Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan memberikan ilmu yang terbaik, serta membimbing penulis selama menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

10. Seluruh staf pegawai dan tata usaha di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam urusan administrasi;

(5)

11. Adik kandungku yang tercinta Dedy Apriadi Sitepu yang tiada henti memberikan motivasi serta perhatiannya kepada Penulis selama pengerjaan skripsi ini;

12. Kakek dan Nenekku tercinta, sepupu-sepupuku serta keluarga Besar Azhar Budiman yang telah tanpa henti memberikan semangat dan dukungan kepada Penulis;

13. Sahabat-sahabat terbaik Penulis, Muhammad Irsan, S.H, Zola Namora Sembiring A.Md, Anggita Dwi Rizky, Annisa Putri, Gilang Mario Samudra, Reno Reynanda Putra, Arjuna Danu Fauzi, Andre Wijaya, Reka Oktarosadi, Putri Meyriska Utami dan kak Rizkika Amalia yang telah membersamai Penulis dari awal hingga akhir perkuliahan ini, telah memberikan kebahagiaan serta arti dari sebuah persahabatan yang sebenar-benarnya, sungguh Penulis merasa beruntung dipertemukan dengan orang-orang tulus seperti kalian;

14. Rekan kesayangan Penulis selama perkuliahan, Micin Family Iqbal Hadhirat Tridanto, Adhani Ulfa Hardy, Ayu Mega Utami, Lolita Rinelsia, Sigit Karseno, Dinda Namira Matondang, Ahmad Rifky Dalimunthe, Aji Bagus Hamandani, Aulia Prakasa, Gom Banuaran, Fahrul Rizky Kurniawan, Avinda Nadila, Dicky J.H, Sarti Sonia, Muhammad Helzha Indra, terima kasih atas kebahagiaan serta bantuan yang telah kalian berikan selama perkuliahan ini;

15. Rekan-rekan seperjuangan Presidium “Al-Mahbub” BTM Aladdinsyah, S.H., Yudika Dwi Erwanda, Siti Rokhimah, Riska Rianti Nasution, Ami Khairina Jambak, Zairin Nur Aulia, Gita Clara Riska Pratama, Anggi

(6)

Ramadhani, Annisa Rizki Harahap, Riko Handoyo, Dana, Egi Nila Sari, dan Datuk Abdul Jabbar, semoga persahabatan kita terus ada hingga ke Jannah-Nya;

16. Adik-adik BTM Aladdinsyah, SH yang selalu semangat tanpa tapi untuk mendukung setiap kegiatan. Yuni, Dea, Dina, Nisa, Juned, Nida, Irun, Dek Ira, Aci, Annisa, Hazza, dan adik-adik yang lainnya.

17. Keluarga Besar Musholla BTM Aladdinsyah, S.H., yang tak bisa saya sebutkan namanya satu persatu. Terima kasih atas pelajaran serta pengalaman yang sangat luar biasa dalam perkuliahan ini.

Penulis menyadari skripsi ini ibarat sebutir pasir di pantai ilmu nan luas, jauh dari kata sempurna karena hanya Sang Khalik yang memiliki kesempurnaan itu, penulis berusaha memberi kontribusi pemikiran sederhana sebagai upaya latihan dan belajar guna menjadi ilmuwan yang lebih baik nantinya. Penulis berharap pada semua pihak agar dapat memberikan kritik dan saran yang membangun untuk kedepannya, semoga karya ini dapat bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya. Amiin..

Medan, Maret 2019

Intan Murina Sitepu NIM. 150200095

(7)

DAFTAR ISI

JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... v

ABSTRAK ... vii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penulisan ... 7

D. Manfaat Penulisan ... 7

E. Metode Penulisan ... 8

F. Keaslian Penulisan ... 14

G. Sistematika Penulisan ... 15

BAB II : TINJAUAN UMUM MENGENAI GROSSE AKTA DAN LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN ... 17

A. Penjelasan Hukum Mengenai Grosse Akta ... 17

B. Tinjauan Umum Mengenai Hukum Jaminan ... 23

C. Hak Tanggungan Sebagai Objek Jaminan ... 32

BAB III : KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN ... 37

A. Pengertian dan Dasar Hukum Eksekusi ... 37

B. Eksistensi Kekuatan Eksekutorial Grosse Akta dalam Lembaga Jaminan Hak Tanggungan Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan ... 54

C. Urgensi Mengenai Kekuatan Eksekutorial dalam Lembaga Jaminan Hak Tanggungan ... 65

(8)

BAB IV : ANALISIS YURIDIS PENGATURAN HUKUM MENGENAI KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM

LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN ... 74

A. Analisis Yuridis Terhadap Kekuatan Eksekutorial Grosse Akta dalam Lembaga Jaminan Hak Tanggungan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah ... 74

B. Penerapan Mengenai Kekuatan Eksekutorial Grosse Akta dalam Lembaga Jaminan Hak Tanggungan Berdasarkan Peraturan Perundang-Undangan yang Berlaku ... 84

BAB V : PENUTUP ... 90

A. Kesimpulan ... 90

B. Saran ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 94

(9)

ABSTRAK

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN

Intan Murina Sitepu*

Muhammad Husni**

Marianne Magda***

Grosse akta merupakan salinan dari suatu akta yang dibuat secara notariil dengan diberi kepala irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” yang memiliki kekuatan eksekutorial. Mengenai grosse akta dengan irah-irah ini diatur dalam Pasal 224 HIR/258 RBg. Grosse akta terdiri dari grosse akta hipotik dan grosse akta pengakuan utang. Seiring perkembangan hukum, grosse akta hipotik kini telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah (UUHT). Kini grosse akta hipotik telah digantikan dengan sertifikat hak tanggungan yang juga memuat irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Penelitian skripsi ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan menggunakan data sekunder berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan dianalisis secara normatif- kualitatif.

Dengan lahirnya UUHT, ternyata tidak menjawab seluruh permasalahan yang terjadi terkait dengan grosse akta hipotik/sertifikat hak tanggungan, terutama dalam proses pelaksanaan eksekusi objek jaminan hak tanggungan. Dalam Pasal 6 UUHT menegaskan bahwa pihak kreditur dapat menjual objek jaminan hak tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum untuk mempermudah proses pelaksanaannya. Namun, terkait dengan arti dari menjual atas kekuasaan sendiri atau disebut dengan parate eksekusi, terjadi kesesatan berpikir serta kesimpangsiuran pendapat sehingga pelaksanaannya menjadi rumit dan tidak mudah. Telah terjadi pencampuradukan makna dalam pelaksanaan eksekusi objek jaminan hak tanggungan yang terdapat dalam Pasal 224 HIR/258 RBg dengan UUHT yang pada hakikatnya berbeda. Tentu hal ini, menghilangkan semangat dari lahirnya UUHT untuk memudahkan para kreditur pemegang hak tanggungan untuk melaksanakan eksekusi objek jaminan hak tanggungan, sehingga kepastian hukum pun tidak ditemukan karena apa yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan tidak sejalan dengan praktik yang selama ini terjadi.

Kata Kunci : Grosse Akta, Hak Tanggungan, Parate Eksekusi

*Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

**Dosen Pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

***Dosen Pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ketidakpastian hukum merupakan masalah utama di Indonesia pada zaman modern ini. Ketidakpastian hukum merupakan masalah besar yang mencakup keseluruhan unsur masyarakat. Ketidakpastian hukum juga merupakan hambatan untuk mewujudkan perkembangan politik, sosial dan ekonomi yang stabil dan adil. Singkat kata, jika seseorang ditanya apa hukum Indonesia tentang subjek tertentu, sangat sulit bagi orang tersebut untuk menjelaskannya dengan pasti, apalagi bagaimana hukum tersebut nanti diterapkan. Ketidakpastian ini banyak yang bersumber dari hukum tertulis yang umumnya tidak jelas dan kontradiktif satu sama lain. Selain itu, ketidakpastian dalam penerapan hukum oleh institusi pemerintah maupun pengadilan. Yang menjadi garis bawah dari ketidakpastian hukum adalah lemahnya lembaga dan profesi hukum. Itu dapat kita lihat di lingkungan peradilan, di mana hakim terus-menerus tidak menjaga konsistensi dalam putusan mereka. Advokasi pun tidak berhasil untuk betul-betul jaga standar profesi mereka. Ketidakpastian hukum juga bersumber dari dunia akademik yang ternyata kurang berhasil untuk membangun suatu disiplin ilmiah terpadu dalam analisis peraturan perundangan dan putusan pengadilan. Lemahnya “legal method” di dunia akademik adalah alasan pokok kenapa akuntabilitas pengadilan dan lembaga negara tetap lemah.1

Padahal sudah jelas bahwa salah satu ciri yang menonjol dari hukum pada masyarakat modern adalah penggunaannya secara sadar oleh masyarakatnya. Di

1 Ahmad Fikri Assegaf dan Elijana Tanzah, Penjelasan Hukum tentang Grosse Akte, (Jakarta:Percetakan PT Gramedia, 2010), hal V.

(11)

sini hukum tidak hanya dipakai untuk mengukuhkan pola-pola kebiasaan dan tingkah laku yang terdapat dalam masyarakat, melainkan juga untuk mengarahkannya kepada tujuan-tujuan yang dikehendaki, menghapuskan kebiasaan yang dipandangnya tidak sesuai lagi, menciptakan pola-pola kelakuan baru dan sebagainya. Inilah yang disebut sebagai pandangan modern tentang hukum itu yang menjurus kepada penggunaan hukum sebagai suatu instrumen.2 Maka sudah sepatutnya para akademisi dan juga praktisi berupaya untuk mewujudkan suatu gambaran yang jelas tentang beberapa konsep penting hukum Indonesia pada masyarakat modern untuk menjawab isu ketidakpastian hukum tersebut.

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional Indonesia untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, kiranya perlu dilaksanakan pembangunan di segala bidang, termasuk dalam hal ini adalah pembangunan dalam bidang ekonomi.

Dalam melaksanakan pembangunan di bidang ekonomi ini, faktor permodalan merupakan syarat yang mempunyai peranan yang sangat penting. Masyarakat berusaha menunjang pembangunan dengan cara mengembangkan berbagai usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Sementara tidak selamanya masyarakat memiliki modalnya sendiri untuk meningkatkan perekonomiannya sehingga membutuhkan pihak lain untuk memberikan pinjaman kepadanya.

Namun dalam hal ini, tidak sedikit perkara mengenai cidera janji yang terjadi akibat si peminjam (debitor) tidak mengembalikan dana yang telah dipinjamnya pada kreditor. Sehingga perlu adanya jaminan dari debitor agar kreditor mendapat

2 Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H., Ilmu Hukum, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2006), hal.

206.

(12)

kepastian hukum atas dana yang telah dipinjamkannya kepada debitor. Terkait jaminan ini, lahirlah hak tanggungan yang merupakan hak jaminan atas tanah untuk pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. Terkait hak tanggungan ini, diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah (UUHT).

Kemudahan yang disediakan oleh UUHT bagi para kreditor pemegang hak tanggungan manakala debitor cidera janji, berdasarkan Pasal 20 ayat (1) huruf a dan b UUHT, eksekusi atas benda jaminan hak tanggungan dapat ditempuh melalui 3 (tiga) cara yaitu:

1. Parate executie;

2. Title executorial; dan 3. Penjualan di bawah tangan.

Ketiga eksekusi hak tanggungan tersebut di atas masing-masing memiliki perbedaan dalam prosedur pelaksanaannya. Istilah parate eksekusi secara tersurat tidak pernah tertuang dalam peraturan perundang-undangan. Istilah parate eksekusi sebagaimana yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya secara etimologis berasal dari kata “paraat” artinya siap ditangan, sehingga parate eksekusi dikatakan sebagai sarana yang siap di tangan. Menurut kamus hukum, parate eksekusi mempunyai arti pelaksanaan yang langsung tanpa melewati proses pengadilan atau hakim. Pengertian parate eksekusi yang diberikan oleh doktrin, “kewenangan untuk menjual atas kekuasaan sendiri atau parate eksekusi, diberikan arti, bahwa kalau debitor wanprestasi, kreditor dapat melaksanakan eksekusi objek jaminan, tanpa harus minta fiat dari Ketua Pengadilan Negeri,

(13)

tanpa harus mengikuti aturan main dalam Hukum Acara Perdata, untuk itu ada aturan mainnya sendiri. Tidak perlu ada sita terlebih dahulu, tidak perlu melibatkan juru sita dan karenanya prosedurnya lebih mudah dan biaya lebih ringan. Sehingga istilah parate eksekusi dapat dikatakan sebagai kewenangan untuk menjual atas kekuasaan sendiri melalui lembaga pelelangan umum tanpa melalui fiat Ketua Pengadilan Negeri. Dalam UUHT, istilah parate eksekusi secara implisit justru tersurat dan tersirat, khususnya diatur dalam Penjelasan Umum angka 9 UUHT yang menyebutkan bahwa salah satu ciri hak tanggungan yang kuat adalah mudah dan pasti dalam pelaksanaan eksekusinya, jika debitor cidera janji. Walaupun secara umum ketentuan tentang eksekusi telah diatur dalam Hukum Acara Perdata yang berlaku, dipandang perlu untuk memasukkan secara khusus ketentuan tentang eksekusi hak tanggungan dalam Undang-Undang Hak Tanggungan.3

Untuk eksekusi yang menggunakan title executorial berdasarkan sertifikat hak tanggungan (sebelumnya menggunakan Grosse Akta Hipotek), pelaksanaan penjualan benda jaminan tunduk dan patuh pada Hukum Acara Perdata sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 224 HIR/ 258 Rbg.4

Mengenai grosse akta hipotek, terdapat dua pertanyaan mendasar yang sering muncul sehubungan dengan permasalahan eksekusinya yang sebenarnya cukup sederhana, yaitu bagaimanakah kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan dan apakah grosse akta hipotek dapat langsung dieksekusi serta bagaimana eksekusi grosse akta hipotek itu dilakukan.

3 Rinaldi, Yosua dan Martin Roestamy, “Analisis Yuridis Perlawanan Pelaksanaan atas Executorial Titel Hak Tanggungan pada Pengadilan Negeri”, Jurnal Living Law ISSN 2087-4936, Vol. 8, No. 1, Januari 2016.

4 Ibid., hal. 4.

(14)

Apabila kita perhatikan baik-baik bunyi pasal 224 HIR/258 RBg, maka pertanyaan diatas yang tampaknya sederhana itu ternyata mengandung banyak permasalahan yang mesti diperjelas. Menurut ketentuan pasal 224 HIR/258 RBg, sebenarnya pihak kreditor dapat langsung mengeksekusi tanpa perantaraan putusan hakim. Tetapi dalam prakteknya pengadilan ikut campur tangan dalam pelaksanaan (eksekusi) grosse akta hipotek. Padahal grosse akta hipotek itu sendiri kekuatannya sama dengan dengan putusan hakim yang tidak dapat dibanding, kasasi maupun verzet oleh pihak ketiga, yang tidak memakan waktu dan mengeluarkan biaya yang sangat besar.5

Dalam hal ini, agaknya cukup jelas bahwa grosse akta, apabila tidak dipenuhi secara baik-baik oleh debitor, dapat langsung dieksekusi oleh kreditor, dengan meminta fiat (perintah) eksekusi dari Ketua Pengadilan Negeri. Artinya, bahwa grosse akta dapat langsung dieksekusi sebagaimana layaknya putusan hakim, serta mekanisme eksekusinya mengikuti eksekusi putusan hakim sebagaimana tersebut dalam HIR/RBg, yaitu dengan peringatan kepada debitor, penyitaan, dan penjualan.6

Namun pada kenyataannya, sejak dekade 1980-an pengadilan di Indonesia mengambil sikap berbeda. Antara lain bisa ditelusuri dari surat-surat yang pada waktu itu dikeluarkan oleh Ketua Muda Perdata Tertulis Prof. Z. Asikin Kusumah Atmadja, S.H. (catatan No. VII/1988/Perdata, Februari 1988 yang diselipkan di bawah Putusan No. 1520K/Pdt/1984, 31 Mei 1986). Prof. Asikin berpendapat bahwa hakim tetap berwenang untuk menentukan apakah pelaksanaan eksekusi

5 Iluna Tirza Palar, Pelaksanaan (Eksekusi) Grosse Akta Hipotek Menurut Ketentuan Hukum dan Prakteknya, (Surabaya : Universitas Airlangga Surabaya, 1986), hal. 1.

6 Imam Nasima, Titel Eksekutorial Grosse Akta: Ketika Nama Tuhan Tidak Lagi Bermakna, https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4bce9ab50b7e9/titel-eksekutorial-grosse-akta-ketika- nama-tuhan-tidak-lagi-bermakna--, diakses Rabu, 30 Januari 2019 Pukul 22.06 WIB.

(15)

grosse akta tersebut dapat dikabulkan atau tidak. Pada kesempatan lain, Prof.

Asikin kembali menegaskan bahwa dapat dilaksanakannya atau tidak suatu eksekusi atas suatu akta grosse seperti yang dimaksudkan oleh Pasal 224 HIR/258 RBg merupakan wewenang sepenuhnya dari hakim yang bersangkutan (Surat No.

041/098/89/II/UM-TU/Pdt, 21 Januari 1989). Pendapat ini secara umum diikuti oleh pengadilan, sehingga pada akhirnya eksekusi mengenai grosse akta yang sebenarnya telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan pada prakteknya tidak berjalan efektif. 7

Problematika eksekusi atas grosse akta hipotek tesebut hendak diselesaikan oleh pembentuk undang-undang melalui Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah (UUHT), dengan cara membuat konstruksi hukum baru, yaitu bahwa sertifikat hak tanggungan mempunyai kekuatan eksekutorial setelah diberi irah-irah (Pasal 14 ayat 2). Sertifikat hak tanggungan tersebut dipersamakan kualitasnya dengan putusan hakim dan dapat dieksekusi secara paksa dengan menggunakan Pasal 224 HIR/258 RBg. Sertifikat hak tanggungan berlaku sebagai pengganti grosse akta hipotek sepanjang mengenai hak atas tanah (Pasal 14 ayat 3). Konstruksi hukum seperti itu sama dengan konstruksi hukum dalam Pasal 14 (5) UU Rumah Susun No. 16/1985 yang juga memberikan titel eksekutorial pada sertifikat hipotek.8

Kendati pemberian kekuatan eksekutorial kepada sertifikat hipotek telah dikukuhkan dalam Pasal 14 (5) UU No. 16/1985, ternyata oleh lembaga peradilan konstruksi hukum seperti itu tetap tidak dibenarkan. Putusan PT Semarang No.

7 Ibid.

8 Ahmad Fikri Assegaf dan Elijana Tanzah, Op. Cit., hal. 50.

(16)

534/Pdt/1990 yang dikuatkan oleh Putusan Mahkamah Agung No.

1986.K/Pdt/1991 menyatakan bahwa jika pada akta hipotek tidak diberi titel eksekutorial maka tidak dapat dieksekusi berdasarkan Pasal 224 HIR/258 RBg yang bersifat limitatif. Demikian pula dengan eksekusi pada hak tanggungan jika hendak dilaksanakan dengan mendasarkan Pasal 224 HIR/258 Rbg maka titel eksekutorialnya harus ditempatkan pada (grosse) akta pemberian hak tanggungan (APHT), bukan pada sertifikat hak tanggungannya.9

Fenomena ini cukup menarik untuk diteliti, karena bukankah hakekat dari adanya irah-irah pada grosse akta justru untuk menegaskan kekuatan eksekutorialnya, yaitu bahwa surat atau akta tersebut harus dilaksanakan atas nama kekuasaan tertentu. Sehingga bagaimana kegunaan irah-irah tersebut jika kenyataan dalam praktek surat atau akta terkait tidak mempunyai kekuatan eksekutorial. Padahal jika diperhatikan dari tahun ke tahun, pembuat undang- undang cenderung ingin selalu menegaskan kekuatan eksekutorial ini, diantaranya dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah (UUHT), Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Namun dalam prakteknya tidak pernah diperhatikan secara serius bagaimana grosse akta dibuat dan kemudian dilaksanakan secara efektif. Sehingga membuat kita bertanya-tanya apakah benar akta berirah-irah seperti itu masih ampuh.10

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian terkait “Tinjauan Yuridis Terhadap Kekuatan Eksekutorial

9 Ibid., hal. 51.

10 Imam Nasima , Op.Cit.

(17)

Grosse Akta dalam Lembaga Jaminan Hak Tanggungan” agar dapat memberikan penjelasan mengenai adanya kesimpangsiuran antara peraturan perundang- undangan dengan praktek yang selama ini terjadi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pengamatan dan uraian yang telah penulis lakukan yang bersumber dari berbagai literatur peraturan perundang-undangan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah tinjauan umum mengenai grosse akta dan lembaga jaminan hak tanggungan?

2. Bagaimanakah kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan?

3. Bagaimanakah analisis yuridis pengaturan hukum mengenai kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:

1. Untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai grosse akta dan lembaga jaminan hak tanggungan.

2. Untuk memahami bagaimana kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan.

3. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan hukum mengenai kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan.

(18)

D. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan ini adalah:

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran yang bermanfaat dalam perkembangan Hukum Perdata khususnya mengenai Hukum Jaminan serta kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan saat ini.

2. Manfaat Praktis

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis dan juga pembaca berupa pengetahuan dan masukan terkait grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan, kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan serta pengaturan hukum mengenai kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan. Tulisan ini juga diharapkan dapat menjadi bahan kajian bagi pemerintah sebagai pembuat kebijakan agar dapat dijadikan pertimbangan dalam pembuatan regulasi terkait grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan, agar tidak terjadi lagi kesimpangsiuran antar peraturan yang ada selama ini.

E. Metode Penulisan

Metode merupakan suatu unsur yang mutlak harus ada dalam suatu penelitian yang berfungsi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.11 Karena untuk memperoleh suatu kebenaran yang dapat diyakini suatu keabsahannya, suatu penelitian harus menggunakan suatu metode yang tepat dengan tujuan yang

11 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta: Universitas Indonesia-Press, 1986), hal. 7.

(19)

hendak dicapai sebelumnya. Dalam suatu penulisan skripsi, posisi metode penelitian sangatlah penting sebagai suatu pedoman. Pedoman ini nantinya akan menjelaskan mengenai apa yang seharusnya atau yang tidak seharusnya dilakukan dalam penelitian.

Maka berdasarkan uraian-uraian tersebut, penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah yuridis normatif, yaitu peneliti menelaah bahan hukum primer, sekunder maupun tersier untuk menjawab permasalahan yang menjadi fokus penelitian. Bahan-bahan hukum tersebut kemudian disusun secara sistematis, dikaji dan ditarik suatu kesimpulan dalam hubungannya dengan permasalahan yang diteliti. Adapun metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Pendekatan perundang-undangan (statue-approach), yaitu dengan menelaah Peraturan Perundang-undangan12 yang berkaitan dengan grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan.

b. Pendekatan konsep (conseptual-approach), yaitu dengan menelaah dan memahami konsep-konsep13 mengenai kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif, yang bertujuan untuk menyajikan, menggambarkan, dan memaparkan secara tepat mengenai peraturan hukum dalam konteks teori-teori hukum dan pelaksanaannya serta menganalisis fakta secara

12 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta : Kencana, 2007), hal. 96.

13 Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang : Bayumedia, 2007), hal. 391.

(20)

cermat tentang keadaan yang menjadi fokus penelitian sehingga akan membantu menemukan implikasi penerapan suatu kaidah hukum yang berlaku terhadap permasalahan yang diteliti.

3. Jenis dan Sumber Data

Jenis bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan hukum utama, yakni terdiri dari:

a. Bahan Hukum Primer, adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas.

Bahan hukum tersebut terdiri dari peraturan perundang-undangan, catatan resmi atau risalah dalam pembuatan suatu peraturan perundang-undangan, dan putusan hakim.14

b. Bahan Hukum Sekunder, adalah semua publikasi tentang hukum yang merupakan dokumen yang tidak resmi, yang terdiri atas buku-buku teks yang membicarakan suatu atau beberapa permasalahan hukum termasuk skripsi, tesis, disertasi, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar atas putusan hakim. 15Meliputi pula presentasi pakar dalam seminar (makalah), dan artikel internet.

c. Bahan Hukum Tersier atau penunjang, berupa kamus yang terdiri dari kamus bahasa Indonesia, kamus hukum, dan data lainnya yang dibutuhkan untuk melengkapi bahan bagi penulis dalam penelitian ini.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan di dalam pengumpulan data adalah library research atau studi kepustakaan, yaitu serangkaian usaha untuk memperoleh data dengan jalan membaca, menelaah, mengklarifikasi, mengidentifikasi, dan dilakukan

14 Prof. Dr. H. Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal. 47.

15 Ibid., hal. 54.

(21)

pemahaman terhadap bahan-bahan hukum yang berupa peraturan perundang- undangan serta buku-buku literatur yang ada relevansinya dengan permasalahan penelitian. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan landasan dalam menganalisis data-data yang diperoleh dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, langsung maupun tidak langsung (internet). Maka dengan demikian akan diperoleh suatu kesimpulan yang lebih terarah dari pokok bahasan. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi dokumen terkait dengan topik penulisan.

5. Analisis Data

Dalam suatu penelitian, analisis data merupakan suatu tahap yang sangat penting.

Seluruh data yang telah dikumpulkan, selanjutnya akan diinventarisasi, diklasifikasi, dan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif yang bertujuan untuk menguraikan berbagai permasalahan yang ada dan menemukan solusi untuk permasalahan tersebut. Metode deskriptif, yaitu suatu metode yang digunakan untuk mempelajari permasalahan yang ada dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat sehari-hari serta situasi-situasi tertentu.16 Adapun tujuan dari penulisan deskriptif ini adalah untuk memberikan gambaran yang sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta- fakta, sifat-sifat, serta hubungan yang ada dengan fenomena yang diteliti untuk mendapatkan suatu pemecahan. Setelah proses analisis, maka ditarik kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang berasal dari studi kepustakaan serta ditarik hubungan antar rumusan masalah dengan tujuan penulisan serta pembahasan yang dilakukan. Dan terakhir ditarik kesimpulan yang bersifat

16 Moh Nazir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 2005), hal. 35.

(22)

umum kemudian direkomendasikan beberapa hal yang diharap dapat menjadi solusi untuk menjawab permasalahan yang ada.

F. Keaslian Penulisan

Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara pada tanggal 12 Juli 2018 diketahui bahwa skripsi yang berjudul

“Tinjauan Umum Terhadap Kekuatan Eksekutorial Grosse Akta dalam Lembaga Jaminan Hak Tanggungan”, belum pernah ditulis atau diteliti dalam bentuk yang sama persis, dan tulisan ini merupakah asli dari hasil buah pikir serta usaha dari penulis tanpa adanya usaha penjiplakan ataupun usaha penipuan yang dapat merugikan pihak tertentu. Untuk itu penulis bertanggung jawab atas penulisan skripsi ini.

Penulisan skripsi ini dimulai dengan mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan hukum perdata yang meliputi tentang grosse akta, lembaga jaminan dan hak tanggungan. Kemudian ide serta gagasan dari penulis dituangkan ke dalam skripsi yang merupakan karya ilmiah untuk meraih gelar Sarjana Hukum.

Oleh karena itu, berdasarkan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional dan terbuka, penulis menyatakan bahwa skripsi ini adalah murni karya asli penulis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan dalam skripsi ini merupakan suatu rangkaian tulisan yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya, yang akan diberikan gambaran secara ringkas dari bab ke bab, untuk dapat memudahkan penulis dalam

(23)

menyelesaikannya sehingga menjadi satu kesatuan tulisan yang sistematis.

Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan dari skripsi ini terdiri dari latar belakang mengenai gambaran umum yang menjadi dasar penulisan skripsi, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penelitian, tinjauan pustaka, keaslian penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN UMUM MENGENAI GROSSE AKTA

DAN LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN

Dalam bab ini, penulis membahas tentang hal-hal yang dapat memberikan gambaran yang dapat membantu memperkuat topik permasalahan skripsi ini, yakni mengenai gambaran umum tentang grosse akta, hukum jaminan dan hak tanggungan.

BAB III : KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA

DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN

Bab ini membahas mengenai pengertian dan dasar hukum eksekusi, eksistensi kekuatan eksekutorial grosse akta berdasarkan peratuan perundang-undangan serta urgensi kekuatan eksekutorial dalam lembaga jaminan hak tanggungan.

BAB IV : ANALISIS YURIDIS PENGATURAN HUKUM

MENGENAI KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN

Dalam bab ini, penulis akan melakukan analisis yuridis terhadap kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak

(24)

tanggungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah. Dan juga membahas bagaimanan sebenarnya penerapan mengenai kekuatan eksekutorial grosse akta dalam lembaga jaminan hak tanggungan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB V : PENUTUP

Bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dan sekaligus merupakan bab penutup dari seluruh rangkaian dari bab-bab sebelumnya.

(25)

BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI GROSSE AKTA DAN LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN

A. Penjelasan Hukum Mengenai Grosse Akta

Grosse akta adalah salah satu akta notaris yang mempunyai sifat dan karakteristik yang khusus yang juga semakin banyak dibutuhkan dalam praktek sehari-hari.17 Grosse akta ini berbeda dengan akta-akta notaris lain, sebab di samping merupakan alat bukti yang sempurna bagi para pihak, juga memiliki kekuatan eksekutorial.18 Dalam proses peradilan grosse akta dapat merupakan bagian dari pembuktian. Apabila dilihat pada masa sebelum digalakkannya usaha pembangunan boleh dikatakan bahwa pasal 224 HIR/ 258 RBg (grosse akta) ini jarang disentuh dan berperan dalam praktek peradilan. Hal ini karena dunia bisnis pada waktu itu mungkin masih berada dalam taraf/tingkat konvensional dan belum membutuhkan atau menuntut modal yang besar dan orang atau masyarakat juga pada saat itu belum banyak atau masih jarang yang berkecimpung dalam dunia bisnis. Demikian pula badan-badan penyediaan modal, seperti lembaga perbankan masih dapat dihitung dengan jari.19

Grosse akta berbeda dengan akta otentik lain. Dengan dimintakannya grosse akta, maka hal ini akan menimbulkan perbedaan akta tersebut dengan akta otentik lainnya. Sebagai dasar dari grosse akta itu merupakan akta otentik adalah dengan melihat Pasal 1868 BW jo Pasal 38 PJN. Adapun perbedaan yang timbul dari

17 Situmorang V.M & Sitanggang Cormentyna, Grosse Akta dalam Pembuktian dan Eksekusi, (Jakarta : RinekaCipta, 1993), hal. 3.

18 Ibid.

19 Witri Aprilia K. Sari, Keberadaan Grosse Akta dalam Pembuktian dan Eksekusi, Jurnal Lex Privatium, Vol. III/No.3/Jul-Sep/2015, hal.52.

(26)

grosse akta dengan akta otentik lainnya disebabkan terhadap akta otentik ini, dalam menghadapi pihak debitor yang ingkar janji (wanprestasi) apabila menggunakan akta otentik, maka kreditor harus terlebih dahulu mengajukan gugatan ke pengadilan, sedangkan dengan penggunaan grosse akta tidaklah demikian di mana pihak kreditor tidak perlu mengajukan gugatan ke pengadilan tetapi cukup dengan mengajukan permohonan untuk melaksanakan isi dari grosse akta tersebut.20

Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa penyelesaian perkara menggunakan grosse akta, pelaksanaannya lebih cepat dan tidak berbelit-belit karena terdapat hak privilege (hak istimewa). Dari prosedur permohonan akan pelaksanaan perjanjian juga sangat sederhana sehingga biaya yang diperlukan juga tidak terlalu besar. Dengan meminta fiat (perintah) kepada Ketua Pengadilan Negeri, kreditor dapat melaksanakan eksekusi dalam waktu yang relatif singkat, sehingga akan memberikan kemudahan bagi masyarakat.

Penggunaan grosse akta ini, sangat efektif dalam menghadapi debitor yang melakukan wanprestasi. Sehingga kreditor dapat dengan cepat memperoleh haknya dan bisa dijadikan jalan pintas bagi masyarakat yang diberikan oleh Undang-Undang dalam rangka melindungi kepentingan kreditor dan debitor.

1. Pengertian Grosse Akta

Dari penelusuran literatur yang ada, ditemukan penjelasan dari beberapa sarjana hukum mengenai apa yang dimaksud dengan grosse akta. Menurut J. Satrio, grosse akta merupakan Salinan akta otentik, yang pada bagian atasnya diberikan

20 Ibid.

(27)

judul “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang dapat dieksekusi sebagaimana layaknya suatu keputusan pengadilan yang telah mendapat kekuatan hukum yang pasti. Grosse akta berbentuk akte otentik dan mempunyai kekuatan sebagai suatu keputusan pengadilan. Diberikannya kekuatan tersebut atas dasar bahwa pejabat yang menetapkan hak yang ada dalam akta yang bersangkutan mempunyai integritas tinggi.21 Sementara menurut Herowati Poesoko, Pengertian grosse akta dapat dibagi dua, yaitu salinan pertama dari akta asli /minuta yang dibuat oleh notaris dan salinan pertama dari akta asli/minuta yang dibuat oleh notaris yang memakai kop surat yang beredaksional “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” atau dengan pengertian lain adalah grosse pertama dari akta notaris yang mempunyai kekuatan eksekutorial.22

Jadi, berdasarkan kedua pendapat ahli tersebut tentang pengertian grosse akta, maka dapat disimpulkan bahwa grosse akta merupakan salinan pertama dari akta asli yang dibuat oleh Notaris yang terdapat irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga memiliki kekuatan eksekutorial layaknya putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap.

2. Ruang Lingkup Grosse Akta

Dengan berlakunya UUHT, hipotek hanya berlaku atas kapal, sedangkan hipotek mengenai hak atas tanah dihapuskan dan diganti dengan hak tanggungan. Pasal 14

21 J.Satrio, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hal. 238.

22 Herowati Poesoko, Parate Executie Obyek Hak Tanggungan (Inkonsisten, Konflik Norma dan Kesesatan Penalaran dalam UUHT), (Yogyakarta : LaksBang PRESSIndo, 2007).

(28)

angka (3) UUHT menyatakan bahwa sertifikat hak tanggungan berlaku sebagai pengganti grosse akta hipotek sepanjang mengenai hak atas tanah.23

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup grosse akta meliputi:

a. Akta pengakuan utang b. Sertifikat hak tanggungan c. Akta hipotek kapal.

3. Syarat-Syarat Keabsahan Grosse Akta a. Grosse akta pengakuan utang

Berdasarkan penelusuran literatur, syarat-syarat grosse akta pengakuan utang meliputi syarat materiil dan syarat formil. Adapun syarat materiil adalah sebagai berikut:

1) Grosse akta pengakuan utang berbentuk pengakuan sepihak dari debitor.

2) Grosse akta pengakuan utang harus murni berisi pengakuan utang, tidak boleh ditambahkan persyaratan lain ataupun dicampuradukkan dengan perjanjian jaminan atau hak tanggungan.

3) Dalam grosse akta pengakuan utang, jumlah utang harus disebutkan secara pasti.

Sementara syarat formil adalah sebagai berikut:

23 Ibid.

(29)

1) Grosse akta pengakuan utang harus berirah-irah atau berkepala

“Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa’

2) Di bawah grosse akta pengakuan utang harus dicantumkan kata- kata “diberikan sebagai grosse pertama”; dengan menyebutkan nama orang yang memintanya dan untuk siapa grosse dikeluarkan serta tanggal pengeluarannya.

3) Grosse akta pengakuan utang wajib dibubuhi teraan atau cap stempel.

Beberapa literatur mensyaratkan kalau grosse akta pengakuan utang harus berbentuk accesoir, yaitu didasarkan pada perjanjian pokok berupa perjanjian kredit/ utang piutang.24 Namun, ada juga yang menyatakan bahwa pernyataan pengakuan tersebut bisa didasarkan pada perjanjian pokok atau tanpa perjanjian pokok.25

b. Sertifikat Hak Tanggungan

Untuk melihat keabsahan sertifikat hak tanggungan, kita harus melihat kembali proses pembebanan hak tanggungan, yakni pada saat pemberian hak tanggungan dan pendaftaran hak tanggungan.26 Pada proses pemberian hak tanggungan, hal yang harus diperhatikan adalah isi APHT yang berdasarkan ketentuan Pasal 11 ayat (1) UUHT sifatnya wajib untuk keabsahan APHT. Isi APHT tersebut meliputi:

24 Komang Nunuk Sulasih, Eksekusi Grosse Akta Pengakuan Hutang Sebagai Upaya Melindungi Kepentingan PT Bank Artha Graha Cabang Denpasar Bali (Studi Kasus Putusan No.

62/Pdt.G/2001.PN.Dps), (Yogyakarta : Tesis, Universitas Gadjah Mada, 2004) .

25 I Nyoman Raka, Beberapa Masalah Hukum Eksekusi Grosse Akta Pengakuan Hutang dan Hipotek dalam Teori dan Praktek di Indonesia, Tesis, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1996.

26 Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, (Jakarta : Penerbit Djambatan, 2003), hal. 433.

(30)

1) Nama dan identitas pemberi dan pemegang hak tanggungan 2) Domisili pihak-pihak tesebut

3) Penunjukan secara jelas utang atau utang-utang yang dijamin 4) Nilai tanggungan, dan

5) Uraian yang jelas mengenai objek hak tanggungan.

Tidak dicantumkannya hal-hal tersebut dalam APHT mengakibatkan akta yang bersangkutan batal demi hukum. Proses selanjutnya adalah pendaftaran hak tanggungan. PPAT berkewajiban untuk mendaftarkan APHT paling lambat tujuh hari kerja setelah penandatanganan APHT, dengan melampirka berkas-berkas sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 1996 tentang Pendaftaran Hak Tanggungan.

Apabila berkas-berkas tersebut telah lengkap, Kantor Pertanahan akan membuatkan Buku Tanah Hak Tanggungan, yang tanggalnya merupakan tanggal hari ketujuh setelah berkas-berkas yang diperlukan diterima secara lengkap.

Dalam waktu tujuh hari kerja setelah itu, Kantor Pertanahan mengeluarkan Sertifikat Hak Tanggungan sebagai bukti adanya hak tanggungan.27

B. Tinjauan Umum Mengenai Hukum Jaminan 1. Pengertian Hukum Jaminan

Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda yaitu zekerheid atau cautie. Zekerheid atau cautie mencakup secara umum cara-cara Kreditor menjamin dipenuhinya tagihannya di samping pertanggungjawaban umum debitor terhadap barang-barangnya.28 Sementara istilah hukum jaminan berasal dari

27 Ahmad Fikri Assegaf dan Elijana Tanzah, Op. cit., hal. 56-57.

28 Salim HS, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Pers, 2004), hal. 21.

(31)

terjemahan zakerheidesstelling atau security law.29 Dalam literatur juga ditemukan istilah zekerheidsrechten yang bisa juga diterjemahkan menjadi hukum Jaminan.30

Pitlo memberikan perumusan zekerheidsrechten sebagai hak (een recht) yang memberikan kepada Kreditor kedudukan yang lebih baik daripada Kreditor- keditur lain. Lebih lanjut, Pitlo menyimpulkan bahwa kata “recht” dalam zekerheidsrechten adalah hak-hak jaminan, bukan “hukum” jaminan, sehingga dapat diartikan sebagai peraturan hukum yang mengatur tentang jaminan piutang- piutang seseorang terhadap seorang debitor.31 Ringkasnya, hukum jaminan mengatur tentang jaminan piutang seseorang.32

Menurut Salim HS, hukum jaminan adalah keseluruhan kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan antara pemberi dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit.33

Pada dasarnya harta kekayaan seseorang merupakan jaminan dari hutang- hutangnya. Dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, semua harta milik debitor menjadi jaminan bersama-sama bagi semua Kreditornya. Jadi, jaminan adalah jaminan yang diberikan bagi kepentingan semua Kreditor dan menyangkut semua harta kekayaan debitor. Singkatnya, hukum jaminan adalah sekumpulan peraturan yang mengatur tentang jaminan atas piutang-piutang Kreditor terhadap debitor.

29 Ibid, hal. 5.

30 J.Satrio, Op. cit., hal.2.

31 Ibid, hal. 3.

32 Ibid.

33 Salim HS, Op. Cit., hal. 7-8.

(32)

2. Fungsi Jaminan

Fungsi jaminan yang ideal menurut Soebekti adalah jaminan yang antara lain:34

a. Dapat secara mudah membantu perolehan kredit oleh pihak yang memerlukannya.

b. Tidak melemahkan potensi (kekuatan) penerima kredit untuk melakukan (meneruskan) usahanya.

c. Memberikan kepastian kepada Kreditor dalam arti mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya debitor.

Djuhaendah Hasan mengatakan bahwasanya fungsi jaminan secara yuridis adalah kepastian hukum pelunasan utang di dalam perjanjian kredit atau dalam utang piutang atau kepastian realisasi suatu prestasi dalam suatu perjanjian.

Kepastian hukum ini adalah dengan mengikat perjanjian jaminan melalui lembaga-lembaga jaminan.35

Jadi, berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan fungsi jaminan sebagai berikut:

a. Jaminan dapat memberikan kepastian hukum bagai para pihak, baik Kreditor maupun debitor.

b. Memberikan rasa aman terhadap suatu perjanjian utang-piutang apabila terjadi cedera janji di kemudian hari sesuai dengan kesepakatan bersama.

c. Memberikan kemudahan dalam memperoleh dana bagi debitor, serta kepercayaan bagi Kreditor.

34 Soebekti, Jaminan-Jaminan untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, (Jakarta : Alumni, 1986), hal. 29.

35 Djuhaendah Hasan, Perjanjian Jaminan dalam Perjanjian Kredit, (Jakarta : Proyek Elips dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia,1998), hal. 68.

(33)

3. Peraturan Mengenai Hukum Jaminan

Ketentuan yang secara khusus atau berkaitan dengan jaminan dapat ditemukan dalam:36

1. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).

Ketentuan dalam Pasal-Pasal Buku II dan Buku III KUH Perdata.

2. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD).

Ketentuan dalam Pasal-Pasal KUHD berkaitan dengan pengaturan hukum jaminan, dalam hal ini pembebanan hipotek atau kapal laut.

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria.

4. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.

5. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

4. Jenis-Jenis Jaminan

Menurut sifatnya, ada jaminan yang bersifat umum, yaitu jaminan yang diberikan bagi kepentingan semua Kreditor dan menyangkut semua harta debitor, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang menyatakan bahwa segala kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Selanjutnya, ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata menyatakan kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang

36 Rachmadi Usman, Hukum Jaminan Keperdataan, (Jakarta : Sinar Grafika,2008), hal. 3-14.

(34)

mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.

Dengan demikian, selain jaminan yang bersifat umum ada pula jaminan yang bersifat khusus yang merupakan jaminan dalam bentuk penunjukan atau penyerahan barang tertentu secara khusus, sebagai jaminan atas pelunasan kewajiban/utang debitor kepada Kreditor tertentu, yang hanya berlaku untuk Kreditor tertentu tersebut baik secara kebendaan maupun perorangan.

Timbulnya jaminan khusus ini adalah karena adanya perjanjian yang khusus diadakan antara debitor dan Kreditor yang dapat berupa:

1. Jaminan perseorangan (personlijk), yaitu adanya orang tertentu yang sanggup membayar atau memenuhi prestasi jika debitor cedera janji.

Jaminan perorangan ini tunduk pada ketentuan hukum perjanjian yang diatur dalam Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2. Jaminan yang bersifat kebendaan yaitu adanya benda tertentu yang dijadikan jaminan (zakelijk). Ilmu Hukum tidak membatasi kebendaan yang dapat dijadikan jaminan, hanya saja kebendaan yang dijaminkan tersebut haruslah merupakan milik dari pihak yang memberikan jaminan kebendaan tersebut. Jenis jaminan ini tunduk dan diatur dalam ketentuan Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.37

37 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Harta Kekayaan: Hak Istimewa, Gadai, dan Hipotek, (Jakarta : Kencana, 2004), hal. 65-66.

(35)

Jaminan kebendaan itu dapat berupa jaminan kebendaan bergerak dan jaminan kebendaan tidak bergerak. Untuk kebendaan bergerak, dapat dibebankan dengan lembaga hak jaminan gadai dan fidusia sebagai jaminan utang, sementara untuk kebendaan tidak bergerak, dapat dibebankan dengan hipotek, hak tanggungan dan fidusia sebagai jaminan utang. Adapun jaminan perseorangan ini dapat berupa penjaminan utang atau borgtocht (personal guarantee), jaminan perusahaan (corporate guarantee), perikatan tanggung-menanggung, dan garansi bank (bank guarantee). Dalam borgtocht, pemberi jaminannya pihak ketiga secara perseorangan, sebaliknya corporate guarantee, pemberi jaminannya badan usaha yang berbadan hukum. Garansi bank diberikan oleh bank guna menjamin pembayaran suatu jumlah tertentu apabila pihak yang dijamin wanprestasi.38

Jaminan yang bersifat umum ditujukan kepada seluruh kreditor dan mengenai segala kebendaan debitor. Setiap kreditor mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pelunasan utang dari hasil pendapatan penjualan segala kebendaan yang dipunyai debitor. Dalam hak jaminan yang bersifat umum ini semua kreditornya mempunyai kedudukan yang sama terhadap kreditor lain (kreditor konkuren), tidak ada kreditor yang diutamakan, diistimewakan dari kreditor lain.

Para kreditor tersebut tidak mendapatkan hak preferen. Karenanya pelunasan utang mereka dibagi secara “seimbang” berdasarkan besar kecilnya jumlah tagihan dari masing-masing kreditor dibandingkan dengan jumlah keseluruhan utang debitor. Hak jaminan yang bersifat umum ini dilahirkan atau timbul karena undang-undang, sehingga jaminan yang bersifat umum tidak perlu diperjanjikan

38 Ibid, hal. 77.

(36)

sebelumnya. Ini berarti kreditor konkuren secara bersamaan memperoleh hak jaminan yang bersifat umum dikarenakan undang-undang.39

Secara garis besar, pranata jaminan yang ada di negara Indonesia dapat kita bedakan ke dalam:40

1. Cara terjadinya:

a. Yang lahir karena undang-undang;

b. Yang lahir karena diperjanjikan;

2. Objeknya:

a. Yang berobjek benda bergerak;

b. Yang berobjek benda tidak bergerak/benda tetap; atau c. Yang berobjek benda berupa tanah;

3. Sifatnya:

a. Yang termasuk jaminan umum;

b. Yang termasuk jaminan khusus;

c. Yang bersifat kebendaan;

d. Yang bersifat perorangan;

4. Kewenangan menguasai benda jaminannya:

a. Yang menguasai benda jaminannya;

b. Yang menguasai benda jaminannya.

C. Hak Tanggungan Sebagai Objek Jaminan

Setelah menunggu selama 36 tahun sejak Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Pokok-Pokok Agraria menjanjikan akan adanya Undang- Undang tentang Hak tanggungan, pada tanggal 9 April 1996, lahirlah Undang-

39 Rachmadi Usman, Op. Cit., hal.74.

40 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Op.cit., hal. 63-64.

(37)

Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah.41

Kehadiran lembaga hak tanggungan ini dimaksudkan sebagai pengganti dari Hypotheek (selanjutnya disebut dengan hipotek) sebagaimana yang diatur dalam Buku II Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia sepanjang mengenai tanah, dan Credietverband yang diatur dalam Staatsblad 1937-190, yang berdasarkan Pasal 51 UUPA Nomor 5 Tahun 1960, masih diberlakukan sementara sampai dengan terbentuknya Undang-Undang Hak Tanggungan tersebut.

Kehadiran Undang-Undang Hak Tanggungan ini telah lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Undang-undang tidak memberikan penjelasan resmi mengenai apa yang dimaksud dengan “kedudukan yang diutamakan” dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Hak Tanggungan, tetapi mengingat akan kedudukan pemegang hipotek dalam KUH Perdata sebagai kreditor preferen, kiranya kita boleh menduga, bahwa yang dimaksud dengan “kedudukan yang diutamakan” adalah sama dengan “kedudukan sebagai kreditor preferen”.42

Kedudukan sebagai kreditor preferen berarti, bahwa kreditor yang bersangkutan didahulukan di dalam mengambil pelunasan atas hasil eksekusi benda pemberi jaminan tertentu secara khusus diperikatkan untuk menjamin tagihan kreditor.

Dengan demikian, kedudukan sebagai kreditor preferen baru mempunyai

41 Sutan Remy Sjahdeini, Hak Tanggungan, Asas, Ketentuan-Ketentuan Pokok dan Masalah yang Dihadapi oleh Perbankan (Suatu Kajian Mengenai Undang-Undang Hak Tanggungan), (Bandung: Alumni, 1999), hal. 1.

42 J. Satrio, Op. cit., hal. 12-13.

(38)

peranannya dalam suatu eksekusi. Itu pun kalau harta debitor tidak cukup untuk memenuhi semua utangnya.43

Kemudian, dalam Penjelasan Umum UUHT dikemukakan bahwa ketentuan- ketentuan dalam peraturan perundang-undangan mengenai Hypotheek dan Credietverband berasal dari zaman kolonial Belanda dan didasarkan pada hukum tanah yang berlaku sebelum berlakunya hukum tanah nasional, sebagaimana ketentuannya telah diatur dalam UUPA dan dimaksudkan diberlakukan untuk sementara waktu, sambil menunggu terbentuknya undang-undang yang dimaksud dalam Pasal 51 UUPA.44

Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah, maka terpenuhilah sudah amanah dari Pasal 57 Undang-Undang Pokok Agraria.

Pasal 57 Undang-Undang Pokok Agraria tersebut menghendaki segera dibentuk suatu Undang-Undang tentang Hak Tanggungan. Sebelum terbentuk Undang- Undang tentang Hak Tanggungan, maka untuk sementara berlakulah hipotek dan credietverband. Dan kata-kata “sementara” dalam pasal tersebut ternyata berlaku sampai 36 (tiga puluh enam) tahun (dari tahun 1960-1996). Memang seakan Undang-Undang Hak Tanggungan ini pernah menjadi sebuah agenda yang tertunda. Akan tetapi, bagaimanapun terlambat tentu jauh masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.45

43 Ibid, hal. 303.

44 Ibid, hal. 2-3.

45 Munir Fuady, S.H., M.H., LL.M., Hukum Perkreditan Kontemporer, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2002), hal. 59-60.

(39)

Adapun yang merupakan ciri-ciri hak tanggungan menurut Undang-Undang Hak Tanggungan Nomor 4 Tahun 1996 adalah seperti yang disebutkan dalam memori penjelasannya, yaitu sebagai berikut:

1. Memberikan hak preferensi kepada pemegangnya.

2. Mengikuti objek yang dijamin, dalam tangan siapapun objek itu berada.

3. Memenuhi asas spesialitas dan publisitas sehingga mengikat pihak ketiga dan memberikan kepastian hukum.

4. Mudah dan pasti pelaksanaan eksekusinya.

Kemudian, Undang-Undang Hak Tanggungan Nomor 4 Tahun 1996 tersebut meletakkan beberapa dasar, yang sebelumnya tidak jelas atau simpang-siur dalam praktek. Dasar-dasar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Disesuaikan dengan perkembangan ekonomi.

2. Dimungkinkan adanya Hak Tanggungan atas Hak Pakai atas Tanah.

3. Pemberlakuan prinsip pemisahan horizontal antara tanah dengan segala sesuatu yang ada diatasnya.

4. Ketegasan tentang Kuasa Pembebanan Hak Tanggungan (SKPHT), yakni harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Dibuat di depan PPAT atau Notaris.

b. Tidak dapat disubstitusi.

c. Harus berbentuk kuasa khusus, tidak dapat dicampur dengan perbuatan hukum lain.

d. Tidak dapat ditarik kembali oleh pemberi kuasa.

e. Jangka waktu kuasa terbatas.

f. Tegasnya konsekuensi hukum jika jangka waktu lewat, yaitu kuasa tersebut batal demi hukum.

5. Penyusutan Hak Tanggungan, sesuai dengan penyusutan jumlah hutang (atas beberapa hak atas tanah dan jika diperjanjikan).

6. Penjualan Objek (eksekusi) Hak Tanggungan yang beragam.

7. Janji-janji dalam Akta Hak Tanggungan yang lebih beragam.

8. Batas waktu Pendaftaran Hak Tanggungan yang terbatas.

9. Ketegasan tentang saat lahirnya Hak Tanggungan, yakni ketika didaftarkan.

10. Penegasan Tempat Irah-irah, yakni pada Sertifikat Hak Tanggungan, bukan pada Akta Hak Tanggungan.

11. Diperluasnya Wewenang Ketua Pengadilan Negeri, sehingga berwenang dalam hal-hal:

a. Pembersihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3).

b. Perintah pencoretan (roya) jika Kreditor enggan berpartisipasi.

c. Penetapan Ketua Pengadilan Negeri bahwa dapat dilaksanakan janji dalam akta Hak Tanggungan Atas Tanah tentang kewenangan

(40)

pihak Kreditor untuk mengelola objek hak tanggungan apabila debitor wanprestasi.

12. Preferensi yang lebih tegas (hanya piutang kepada negara yang dapat mengalahkannya).

13. Jangka waktu melaksanakan pencoretan (roya) yang lebih tegas kepada para petugas kantor pertanahan.

14. Sanksi yang lebih tegas bagi PPAT dan Notaris.

15. Diperluas dan dipertegas ruang lingkup hak tanggungan sehingga termasuk hak tanggungan atas rumah susun.

16. Jumlah hutang boleh tidak tetap.

17. Perjanjian pokok tidak hanya perjanjian hutang, tetapi boleh juga perjanjian lain, seperti terhadap perjanjian pengelolaan harta kekayaan orang yang belum dewasa atau yang berada di bawah pengampuan, yang diikuti oleh pemberian hak tanggungan oleh pihak pengelola.

18. Bawah permukaan tanah seperti basement dapat dijaminkan, sepanjang ada hubungannya dengan hak atas tanah yang bersangkutan.46

Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hak tanggungan merupakan salah satu lembaga hak jaminan kebendaan yang lahirnya dari perjanjian. Dalam hak tanggungan, terdapat benda tertentu, yaitu hak-hak atas tanah yang dijanjikan secara khusus sebagai jaminan pelunasan utang tertentu, sehingga hak tanggungan merupakan hak jaminan khusus pula.47

46 Ibid, hal. 60-62.

47 Rachmadi Usman, Op. cit., hal. 333-334.

(41)

BAB III

KEKUATAN EKSEKUTORIAL GROSSE AKTA DALAM LEMBAGA JAMINAN HAK TANGGUNGAN

A. Pengertian dan Dasar Hukum Eksekusi dalam Hukum Perdata

Hukum bukanlah semata-mata sekedar sebagai pedoman untuk dibaca, dilihat atau diketahui saja, melainkan untuk dilaksanakan dan ditaati. Pelaksanaan hukum bukanlah monopoli dari pada orang-orang tertentu saja seperti sarjana hukum, pejabat atau penegak hukum, melainkan seharusnya setiap orang mampu sebagai pelaksana hukum, yang setiap hari melaksanakan hukum agar tercapai ketertiban hidup bersama.48

Oleh karena itu, bagi setiap pihak yang haknya dilanggar ataupun dirugikan, maka kepentingannya itu dilindungi oleh hukum dengan cara pihak tersebut mengajukan tuntutan/gugatan ke Pengadilan Negeri dengan tujuan agar perkara yang menjadi sengketa tersebut dapat diselesaikan dengan adil dan pelaksanaan dari putusan pengadilan atau proses eksekusinya juga dapat direalisasikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Adapun pengertian eksekusi adalah hal menjalankan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap. Putusan pengadilan yang dieksekusi adalah putusan pengadilan yang mengandung perintah kepada salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang, atau juga pelaksanaan putusan hakim yang memerintahkan pengosongan benda tetap, sedangkan pihak yang kalah tidak mau

48 Herowati Poesoko, Op. cit, hal. 111.

(42)

melaksanakan putusan itu secara sukarela sehingga memerlukan upaya paksa dari pengadilan untuk melaksanakannya.49

Subekti juga mengartikan eksekusi dengan istilah “pelaksanaan putusan”.50 Retnowulan Sutantio mengartikan eksekusi sebagai “pelaksanaan putusan”. Pihak yang dimenangkan dalam putusan dapat memohon “pelaksanaan putusan” kepada pengadilan yang akan melaksanakannya secara paksa (execution force).51 Pembakuan istilah eksekusi diganti dengan kata “pelaksanaan”, menurut Yahya Harahap dianggap sangat tepat. Sebagai alasannya bertitik tolak dari ketentuan bab sepuluh bagian kelima H.I.R. atau titel keempat bagian keempat R.Bg., pengertian eksekusi sama dengan pengertian “menjalankan putusan” (ten uitvoer legging van vonnissen). Menjalankan putusan pengadilan, tiada lain daripada melaksanakan isi putusan pengadilan, yakni melaksanakan “secara paksa” putusan pengadilan dengan bantuan kekuatan umum apabila pihak yang kalah (tereksekusi atau pihak tergugat) tidak mau menjalankannya secara sukarela.52 Sudikno juga menyatakan bahwa pelaksanaan putusan hakim atau eksekusi berarti menguangkan bagian tertentu dari harta kekayaan pihak yang dikalahkan atau debitor dengan tujuan untuk memenuhi putusan guna kepentingan pihak yang dimenangkan atau keditor.53 Lebih rinci lagi pendapat Darwin Prinst yang memberikan pengertian eksekusi adalah pelaksanaan secara resmi suatu putusan pengadilan di bawah pimpinan Ketua Pengadilan Negeri. Bahwa eksekusi itu

49 Prof. Dr. H. Abdul Manan, S.H., SIP., M.Hum, Eksekusi dan Lelang dalam Hukum Acara Perdata, (Jakarta : Makalah Rakernas MA, 2011), hal. 2.

50 Subekti, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Jakarta : Bina Cipta, 1982), hal. 128.

51 Retnowulan Sutantio, Op. cit.,hal. 111.

52 M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Permasalahan Eksekusi Bidang Perdata, (Jakarta : PT.

Gramedia, 1989), hal. 5.

53 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta : Liberty, 1985), hal.

216.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, jika diperhatikan pada Tabel 1, kurkumin dan analognya memiliki kemiripan struktur dengan bikalutamida karena terdapat gugus fenil (aromatik) pada kedua ligan

Analisis Biaya pada usaha penggilingan padi UD Padi Mulya dilakukan untuk mengetahui biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan dalam usaha ini, serta pendapatan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti 7 terhadap guru kelas V MI Nashrul Fajar Tembalang masih menggunakan metode konvensional, yaitu dalam penyampaian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan volume starter aspergillus niger terhadap konsentrasi asam itakonat yang dihasilkan dari

Dengan kata lain model ECM dalam penelitian ini dapat dipakai untuk manganalisis jangka panjang dari variabel bebas yang terdiri dari Modal (MDL), Return on

Penelitian lain yang dilakukan oleh Dewi (2018) menggambarkan beban psikologis caregiver selama merawat anggota keluarga dengan skizofrenia.. Berbagai beban

Mendudukkan RPJP atau GBHN dengan demikian tidaklah menjadi persoalan selagi ada beberapa prasyarat untuk mengakomodasi kelebihan keduanya: pertama, ada jaminan bahwa

Delapan puluh tujuh sampel serum ayam buras tidak divaksinasi IB dari berbagai umur dalam flok peternakan asal kabupaten Cianjur, Jawa Barat diuji ELISA IB PTS-3,