1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Menurut Balthazar Valhagen, drama merupakan kesenian yang melukiskan sifat dan sifat manusia dengan gerak. Drama termasuk salah satu bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya.
Namun, percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action (Kebudayaan, 2005, p. 849).
Salah satu bentuk kesenian ini sangat marak di hampir seluruh kalangan tanpa mengenal batasan umur dan profesi. Tak terkecuali drama yang berasal dari Negeri Ginseng, drama-drama yang ditayangkan seakan mendapat tempat tersendiri bagi penggemarnya. Disamping karena narasi atau alur penceritaan yang terkesan out of the box dan sinematografi yang memanjakan mata penikmatnya, drama merupakan media yang mampu menyampaikan pesannya secara efektif kepada penonton. Perkembangan drama juga sangat pesat.
Hallyu atau Korean Wave ini muncul pertama kali saat tayangnya drama serial berjudul Endless Love yang ditayangkan di salah satu TV, yakni Indosiar pada tahun 2001. Setelah itu, drama Korea lain semakin marak di negeri ini dengan ditayangkannya Winter Sonata di SCTV pada tahun 2002, Jewel in Palace atau nama lainnya Dae Jaeng Geum di Indosiar pada tahun 2005, dan drama-drama lain yang menghiasi pertelevisian Indonesia. (Rastati, 2018).
Suksesnya Korea dalam membuat image tertentu ke dunia luar, tentu memiliki sisi lain yang bahkan orang tak akan pernah mengira bahwa kehidupan di Negeri Para Oppa tersebut tak seindah dramanya. Dikutip dari idntimes.com, Korea Selatan memiliki tingkat kesenjangan sosial yang cukup besar. Status sosial menjadi hal yang sangat penting, sehingga siapapun yang memiliki status sosial lebih tinggi akan berbuat semena-mena dan tak segan untuk mem-bully orang dengan status sosial di bawahnya. Korea Selatan juga tergolong negara yang makmur dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat baik, tetapi dalam hal pembagian kekayaan untuk masyarakatnya masih tidak merata. Persaingan antara orang yang memiliki jabatan rendah dengan jabatan yang berada di atasnya tidak
2 mungkin terjadi karena adanya kesenjangan pendapatan yang sangat tinggi (Wijaya, 2017).
Salah satu film yang mengangkat kisah nyata realitas sosial Korea ialah film Parasite. Film ini merupakan karya Bong Joonho ini menceritakan tentang kemiskinan yang dialami oleh tokoh utamanya. Kiwoo dan keluarganya hidup dalam kemiskinan, tidak mempunyai pekerjaan tetap sehingga menjadikan mereka tinggal di apartemen bawah tanah atau biasa disebut dengan Banjinha.
Karena tinggal di hunian yang tak layak, banyak serangga yang masuk ke dalam rumah mereka dan bahkan ketika hujan deras rumah mereka sampai terendam banjir. Kiwoo dan Kijung pun tidak mampu melanjutkan pendidikannya karena keterbatasan ekonomi. Hingga akhirnya mereka bekerja untuk keluarga Park.
Menurut ahli budaya Korea, harga tanah di Korea sangat mahal sehingga hanya orang kaya lah yang mampu tinggal di rumah yang layak dan bersih. Biaya hidup yang tergolong tinggi dan sulitnya membatasi gaya hidup, menjadikan mereka memiliki hutang di setiap kartu kredit dan tidak mampu melunasinya karena penghasilannya yang tak sebanding dengan pengeluaran mereka. (Angela & Winduwati, 2019, pp. 481-483).
Di Gangnam, Seoul yang terkesan dengan mewah dan megahnya bangunan, terdapat kota kumuh ilegal bernama Guryong yang sudah ada sejak pergantian abad ke-21. Kota ini merupakan kota kumuh terakhir yang selamat dari gejolak kebijakan urbanisasi agresif. Terancam untuk dipindahkan ialah isu yang menggentayangi mereka hingga saat ini, selain itu sebagian besar yang menghuni ialah warga dengan umur lebih dari 50 tahun dengan status sosial-ekonomi rendah.
Masyarakat Kota Kumuh ini memiliki penghasilan yang rendah dan mereka tinggal di rumah mereka sendiri sebelum pindah ke Guryong. Mereka diusir paksa oleh pemerintah pada tahun 1980 karena akan dijanjikan tinggal di apartemen mewah jika mereka mau pindah dari rumah aslinya. Padahal tujuan utama pemerintah ialah ingin melakukan perbaikan infrastruktual, meningkatkan perumahan, sekaligus pembangunan gedung Olimpiade. Pemerintah pun menganggarkan hampir 3 miliar dolar AS demi program pengusiran paksa dan pembangunan secara besar-besaran di Seoul. Hingga akhirnya mereka menetap di Kota Kumuh ini dan hidup sebagaimana mestinya. Pemerintah pun pada 2011
3 juga menjanjikan ingin membeli tanah Guryong, namun dengan harga yang sangat murah dan merugikan masyarakat. (Sunwoo, 2017, pp. 8-15). Dengan adanya
“janji palsu”, menjadikan orang-orang yang Guryong cenderung berusaha untuk tidak berekspektasi tinggi serta enggan untuk berkomitmen terutama dengan pihak yang berkuasa.
Sama hal nya dengan Vincenzo, Vincenzo merupakan drama yang menceritakan tentang salah seorang pengacara dan mafia yang berasal dari Italia bernama Vincenzo Cassano. Vincenzo mengalami konflik dengan Paolo yang merupaakan saudara tirinyan sesaat setelah ayah mereka meninggal. Vincenzo enggan untuk menghormati Paolo karena saudara tirinya tersebut telah melanggar aturan yang dibuat oleh ayahnya, yakni melukai perempuan dan anak-anak.
Kemudian, ia menuju Geumga Plaza, untuk mengambil harta berupa 15 ton emas.
Permasalahan muncul ketika Babel Group berusaha untuk merobohkan gedung Geumga dan akan membuat bangunan yang lebih megah, yakni menara Babel.
Vincenzo yang berupaya untuk meyakinkan para penyewa Geumga Plaza dengan berdalih akan memperbaiki gedung dan para penyewa akan dipindahkan ke gedung di sebelahnya, namun para tenant yang tidak percaya selalu menaruh curiga kepada Vincenzo bahwa pengacara mafia itu akan bekerjasama dengan Babel Group dan menjadikan komunikasi di antara kedua belah pihak tidak dapat berjalan dengan semestiny (Sari, 2021)
Meskipun menonjolkan genre criminal dan dark comedy nya, tetapi jika dilihat komunikasi yang terjalin antara Vincenzo dengan para penyewa Geumga Plaza terkendala karena adanya mistrust yang dialami oleh para tenant.
Selain karena pengalaman yang telah dilewati, pondasi kepercayaan seseorang juga dibangun ketika mereka masih anak-anak. Menurut teori psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson (Erikson, 2014) jika mistrust mendominasi, maka seseorang akan beranggapan bahwa dunia tidak bersahabat dan seseorang akan kesulitan dalam hubungan sosial. Manusia adalah makhluk sosial, yang tidak mampu hidup tanpa bantuan orang lain. Maka, kepercayaan di kehidupan manusia sangatlah penting mengingat manusia perlu untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain.
4 Ketika seseorang kesulitan untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain, maka orang tersebut akan merasa bahwa seluruh manusia adalah makhluk yang tidak layak untuk diberi sebuah kepercayaan darinya. Hubungan yang ada selalu diselimuti ketakutan dikhianati oleh orang lain. Isu kepercayaan ini bukanlah hal yang sepele, karena jika seseorang terlalu larut dengan permasalahan ini hal itu justru akan memberikan dampak buruk terhadap dirinya.
Tak jarang, orang dengan mistrust ini akan merasa hidupnya hampa karena ia tidak mau membuka dirinya terhadap orang lain dan merasa bahwa ia hanyalah orang asing. Pengalaman dikhianati, dikecewakan dan diabaikan pun selalu membayang-bayangi ketika ia ingin terbuka dan percaya kepada orang baru di hidupnya yang belum tentu terbukti bahwa orang baru tersebut akan melakukan hal yang sama seperti orang di masa lalu. Dampaknya, hubungan dan komunikasi di antara keduanya menjadi terhambat dan tidak berkembang.
Mengingat pentingnya sebuah kepercayaan dalam komunikasi, menjadikan kedua belah pihak harus berusaha untuk saling percaya agar keduanya bisa terus saling bertukar informasi, pikiran, perasaan dan juga komitmen. Hal ini diyakini penulis bahwa di dalam drama Vincenzo terdapat pesan-pesan mistrust atau isu kepercayaan yang tersirat di dalamnya. Sebagaimana upaya karakter utama dalam meyakinkan orang-orang disekelilingnya bahwa ia tak seperti apa yang mereka bayangkan. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui seberapa besar rata-rata kemunculan pesan mistrust yang ada dalam drama Korea Vincenzo.
Dengan menggunakan analisis isi peneliti mengambil judul “PESAN ISU KEPERCAYAAN (MISTRUST) DALAM DRAMA KOREA (Analisis Isi Terhadap Drama Korea Vincenzo Eps. 1)”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah “seberapa besar kemunculan pesan- pesan mistrust dalam drama Korea Vincenzo eps. 1?”
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kemunculan pesan-pesan mistrust dalam drama Korea Vincenzo eps. 1
5 1.4 Manfaat Penelitian
1.1.1 Akademis
a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan tambahan perkembangan wawasan keilmuan yang berkaitan dengan studi film Korea.
b. Penelitian ini diharapkan mampu menambah referensi kajian keilmuan yang berkaitan dengan penelitian-penelitian terutama penelitian selanjutnya yang membahas penelitian serupa dalam analisis isi dalam nilai drama/film Korea.
1.1.2 Praktis
Manfaat praktis dari hasil penelitian ini adalah dapat digunakan sebagai penambah wawasan baik bagi pembuat maupun para penonton drama/film. Juga menjadi masukan bagi para pembuat drama/film agar kedepannya mampu memasukkan pesan mistrust maupun nilai-nilai lain yang berkaitan dengan kehidupan mereka sehari-hari agar mereka bisa terpengaruh dan belajar dari nilai-nilai yang ada.