• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA dan PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA dan PEMBAHASAN"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

4.1.Gambaran Umum Perusahaan 4.1.1. Latar Belakang Perusahaan

Perusahaan didirikan pada tanggal 4 September 1987 berdasarkan akta notaris Stefanus Sindhunata S.H. No.13. Akta ini mengesahkan pendirian PT Dharma Forma yang berkedudukan di Jl. Berbek Industri II No 9 Kawasan SIER Surabaya 60293.

Pada awalnya PT Dharma Forma bergerak di bidang persediaan komputer dan percetakan serta jasa. Modal dasar yang digunakan sebesar Rp 500.000.000 yang terbagi atas 2500 saham, masing-masing saham bernilai Rp 200.000 dimana dari modal dasar tersebut telah diambil bagian dan disetor penuh dengan uang tunai melalui kas perseroan sebanyak Rp 100.000.000 atau 5000 saham yaitu oleh :

• Mohamad Hasan sebanyak 150 saham atau Rp 30.000.000

• Ali Hasan sebanyak 125 saham atau Rp 25.000.000

• Henky Hendrato sebanyak 25 saham atau Rp 5.000.000

• Apul Constan Siahaan sebanyak 25 saham atau Rp 5.000.000

• Doktorandus Bahrul Syamsir Saridam sebanyak 25 saham atau Rp 5.000.000

• Nicolas Saoloan Hutabarat sebanyak 25 saham atau Rp 5.000.000

• Ir. Syahrul Taufik Azis sebanyak 125 saham atau Rp 25.000.000

Saham-saham lainnya akan dikeluarkan menurut keperluan modal kerja, pada waktu dan dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh direksi dan persetujuan para komisaris.

Pada tanggal 22 September 1988 dikeluarkan akta pembetulan berdasarkan akta notaris Stefanus Sindhunata S.H. No.106. Berdasarkan Surat Departemen Kehakiman Republik Indonesia Direktorat Jendral Hukum dan Perundangan- undangan di Jakarta tertanggal 30 Mei 1988 Nomor: C2.HT.01.01.1.5297, nama PT Dharma Forma diubah menjadi PT Conti Forma.

Pada tanggal 12 Maret 1998 dibuat akta perubahan berdasarkan akta notaris

Haji Muhammad Afdal Gazali S.H. No.365 yang telah disahkan oleh Menteri

Kehakiman Republik Indonesia No. C2-22346.HT.01.04 Tahun 1998. Akta

(2)

perubahan tersebut berisi perubahan terhadap seluruh anggaran dasar dari PT Conti Forma. Maksud dan tujuan perseroan adalah berusaha dalam bidang industri dan perdagangan, untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut perseroan dapat melaksanakan kegiatan usaha berupa menjalankan industri percetakan yang khusus melayani persediaan komputer meliputi form-form komputer. Modal dasar perseroan berjumlah Rp 1.000.000.000 yang terbagi atas 5000 saham, masing-masing saham bernilai Rp 200.000 dengan 5 orang pemegang saham, yaitu:

• Ir. Syahrul Taufik Azis sebanyak 2125 saham atau Rp 425.000.000

• Ali Hasan sebanyak 2125 saham atau Rp 425.000.000

• Henky Hendrato sebanyak 250 saham atau Rp 50.000.000

• Apul Constan Siahaan sebanyak 250 saham atau Rp 50.000.000

• Doktorandus Bahrul Syamsir Saridam sebanyak 250 saham atau Rp 50.000.000 Pada tanggal 15 Januari 2004 dibuat akta perubahan berdasarkan akta notaris Julia Seloadji S.H. No.36. Perubahan tersebut berupa perubahan kepemilikan 100%

Conti Forma ke tangan Budi Mulyo S.T. dengan modal dasar sebesar Rp 1.000.000.000.

4.1.2. Manajemen Perusahaan

Pada tanggal 31 Desember 2004, susunan komisaris dan direktur perusahaan adalah:

Komisaris Utama: Budi Mulyo S.T.

Direktur : T.S. Tejamulia General Manager: Ratna Puji Indah, S.E.

4.1.3. Kegiatan Operasi

Perusahaan bergerak di bidang percetakan khususnya untuk memproduksi kertas continuous form sebagai penunjang sistem scanner komputer. Pencetakan dengan berbagai macam bentuk sesuai dengan kebutuhan dan pesanan pelanggan.

Perusahaan beserta tempat produksi berkedudukan di Surabaya, Jawa Timur.

Pendapatan utama perusahaan berasal dari produksi kertas continuous form.

(3)

4.1.4. Struktur Organisasi Perusahaan

Pada tanggal 31 Desember 2004, struktur organisasi perusahaan berupa:

Komisaris Utama

Direktur

General Manager

Divisi Administrasi&Keuangan Divisi Operasional Divisi Produksi

Keuangan Akuntansi SDM Pemasaran Pengadaan Produksi Pemeliharaan

Kasir Akuntansi Umum Administrasi Administrasi Administrasi Reproduksi Pemeliharaan SDM Penjualan Pembelian Mesin

Anggaran Akuntansi Biaya Peningkatan Pengembangan Pencetakan Pemeliharaan Mutu SDM & Penelitian Umum

Gudang Laporan Umum Pengiriman Pengepakan Pemeliharaan Listrik

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Perusahaan Sumber: Data PT Conti Forma (2004: 1)

4.1.5. Persaingan

Perusahaan yang berspesialisasi pada bidang continuous form tidak banyak.

Di Indonesia bisa dikatakan jarang terdapat perusahaan yang khusus memproduksi

continuous form. PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk adalah salah satu perusahaan

pesaing PT Conti Forma yang berskala besar. PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk yang

berpusat di Sidoarjo dan mempunyai kantor perwakilan di Jakarta, mempunyai anak

perusahaan yaitu PT Jasuindo Informatika Pratama yang bergerak dalam bidang

solusi teknologi informasi. Selain itu PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk juga membeli

99% saham PT Djakarta Computer Supplies (DCS). PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk

bergerak di bidang industri dokumen niaga yang terintegrasi, yaitu continuous form.

(4)

4.2. Gambaran Industri

4.2.1. Gambaran Umum Perekonomian Indonesia

Setelah mengalami kontraksi yang besar pada tahun 1998 sebesar 13,3%, sejak tahun 1999 perekonomian Indonesia mengalami peningkatan tiap tahun. Pada tahun 1999 ekonomi bertumbuh sekitar 0,79%, tahun 2000 sekitar 4,92%, tahun 2001 3,4%, dan 2002 3,66%. Peningkatan pertumbuhan ini memberikan harapan bagi bangsa Indonesia untuk segera keluar dari krisis ekonomi, walaupun pertumbuhan masih di bawah target yang diinginkan yaitu sebesar 4%. Hal ini memperlihatkan pemulihan perekonomian telah berjalan ke arah yang diharapkan. Tabel berikut memberikan gambaran umum tentang perekonomian Indonesia.

(http://www.batan.go.id/p2en/se/Bab%202.%20Statistik%20Perekonomian%20Indo nesia.pdf#search='gambaran%20perekonomian%20indonesia)

Tabel 4.1 Perkembangan Beberapa Indikator Ekonomi Indonesia, 1999 - 2002

INDIKATOR 1999 2000 2001 2002

Pertumbuhan Ekonomi (%) 0.79 4.92 3.44 3.66

Inflasi (%) 2.01 9.35 12.55 10.03

PDB Harga Konstan 1993 (Milyar

Rp) 379,352.50 398,016.90 411,691.00 426,740.50

PDB per Kapita Harga Berlaku

(Ribu Rp) 5,489.70 6,145.10 6,938.20 7,594.30

Neraca Perdagangan Luar negeri

(Juta US$) 24,662.10 28,609.20 25,248.50 25,762.70

a. Ekspor (Juta US $) 48,665.40 62,124.00 56,035.40 57,002.30 b. Impor (Juta US $) 24,003.30 33,514.80 30,786.90 31,239.60 Investasi:

a. PMDN (Milyar Rupiah) 53,120.20 92,410.40 58,816.00 25,262.30 b. PMA (Juta US $) 10,892.20 15,426.20 15,055.90 9,744.10 Suku bunga deposito Berjangka

Bank Umum

1 tahun (%) 23.97 11.16 14.54 13.06

Kunjungan Wisatawan Asing

(Ribu Orang) 4,727.50 5,064.20 5,153.60 5,033.40

Produksi Padi

a. Sawah (Juta Ton) 48.20 49.20 47.90 48.79

b. Ladang (Juta Ton) 2.67 2.69 2.57 2.58

Nilai Tukar Petani (rata-rata)

a. Jawa Barat 101.40 105.50 109.00 124.60

(5)

b. Jawa Tengah 114.30 91.90 101.90 112.10

c. Sumatera Utara 81.90 88.50 93.10 98.20

Penduduk Miskin (Juta Jiwa) 48.00 38.70 37.90 38.40

Sumber: LAPORAN PEREKONOMIAN INDONESIA 2002, Biro Pusat Statistik, Jakarta, 2002.

Dalam evaluasi pelaksanaan kebijakan Bank Indonesia tahun 2001 dan arah kebijkan tahun 2002 menyebutkan bahwa pada tahun 2001, pertumbuhan perekonomian Indonesia mencapai 3,4%, lebih rendah dari pada pertumbuhan ekonomi pada tahun 2000 sebesar 4,8%. Penurunan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2001 disebabkan oleh memburuknya perekonomian dunia, timbulnya berbagai permasalahan dalam negeri yang mengakibatkan meningkatnya faktor resiko dan ketidakpastian, belum selesainya restrukturisasi hutang dan sektor korporasi dan perbankan serta program privatisasi yang terlambat dari jadwal yang telah ditentukan. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan menurunnya kepercayaan dunia usaha untuk melakukan kegiatan produksi dan investasi sehingga menghambat rencana pertumbuhan ekonomi.

Inflasi pada tahun 2001 mencapai sebesar 12,55%, lebih tinggi dari inflasi pada tahun 2000 sebesar 9,35%. Peningkatan inflasi ini disebabkan oleh dampak kebijakan pemerintah di bidang harga dan pendapatan, depresiasi nilai tukar serta tingginya ekpetasi inflasi. Kebijakan-kebijakan pemerintah pada tahun 2001 yang berdampak langsung atas meningkatnya laju inflasi di Indonesia adalah kenaikan harga bahan bakar dan tarif angkutan, tarif dasar listrik, harga jual minuman dan rokok serta kenaikan gaji pegawai negeri dan UMR (Upah Minimum Regional).

Kenaikan-kenaikan harga tersebut, terutama kenaikan harga bahan bakar dan tarif dasar listrik, menyebabkan peningkatan biaya hampir di seluruh sektor produksi.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing memberikan dampak pass-

through inflasi pada barang jadi impor maupun pada bahan baku impor. Tingginya

kandungan impor pada berbagai jenis barang dan jasa di dalam negeri menyebabkan

meningkatnya biaya produksi yang pada akhirnya menyebabkan kenaikan inflasi

sebesar 9% - 10% sedangkan untuk jangka menengah laju inflasi ini akan diturunkan

secara bertahap pada tingkat 6%-7%.

(6)

Kinerja perekonomian sepanjang tahun 2003 cukup baik. Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2003 4,14% dengan sumber pertumbuhan utama dari sektor konsumsi. Kondisi ini didukung kemembaikan indikator-indikator makro, seperti kestabilan nilai tukar rupiah, kecenderungan penurunan laju inflasi, suku bunga bank, dan kemembaikan indeks harga saham gabungan. Namun selalu yang masih jadi kendala adalah investasi di sektor riil belum membaik. Investasil dalam bentuk portofolio di pasar uang dan pasar modal cukup meningkat pesat, namun itu amat fluktuatif dan belum berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja.

(http://www.suaramerdeka.com/harian/0312/23/tjk1.htm)

Dalam evaluasi perekonomian 2004, prospek dan arah kebijakan Bank Indonesia (http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/6C20CC59-23DF-4C709D4942AB87 4D9923/2011/supplementrwIV04.pdf), tahun 2005 kondisi stabilitas ekonomi makro diperkirakan akan tetap dapat dipelihara meskipun terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai. Perekonomian pada 2005 diperkirakan dapat tumbuh pada level yang cukup optimal sebesar 5-6%, nilai tukar relatif stabil. Inflasi IHK diperkirakan meningkat sejalan dengan meningkatnya ekspektasi inflasi berkenaan dengan rencana kenaikan harga-harga administered, terutama harga BBM. Oleh karena itu, strategi penyesuaian harga-harga administered akan sangat mempengaruhi pencapaian target inflasi tahun 2005 yang ditetapkan Pemerintah sebesar 6% + 1%.

Kebijakan moneter ke depan tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang sedang terjadi. Secara operasional, kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya yakni rata-rata tumbuh sebesar 11,5-12,5% pada tahun 2005. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia akan menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan moneter pada pertengahan tahun 2005.

Stabilitas ekonomi makro yang telah terpelihara di tahun 2004 akan

memberikan pondasi yang semakin kokoh bagi peningkatan ekonomi di tahun 2005

serta tahun-tahun mendatang. Stabilitas ekonomi makro telah terbangun dalam dua

tahun terakhir, sebagaimana tercermin dari relatif rendahnya inflasi yang disertai

dengan nilai tukar yang realistis telah berhasil mengurangi biaya untuk memelihara

(7)

kestabilan tersebut. Kondisi ekonomi makro tersebut telah mendorong peningkatan kegiatan investasi pada semester dua tahun 2004 yang diperkirakan akan berlanjut di tahun 2005. Dengan peningkatan kegiatan investasi tersebut yang dibarengi dengan pertumbuhan konsumsi yang cukup tinggi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mencapai 5-6% pada tahun 2005.

Inflasi IHK tahun 2004 menunjukkan peningkatan namun masih relatif rendah dan sesuai dengan proyeksi yang ditetapkan pada awal tahun yaitu 5,5% + 1%. Peranan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi tersebut tercermin pada relatif stabilnya inflasi inti dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan Bank Indonesia yang berupaya meminimalkan tekanan inflasi, baik yang bersumber dari interaksi permintaan-penawaran (output gap), mengendalikan gejolak nilai tukar maupun mencegah memburuknya ekspektasi.

Dari sisi output gap, walaupun Bank Indonesia cenderung masih mengakomodasikan tumbuhnya permintaan domestik, namun respon dunia usaha yang cukup memadai memungkinkan tekanan inflasi dari sisi tersebut dapat diminimalkan. Sementara itu, tekanan dari nilai tukar meningkat sejalan dengan adanya tekanan terhadap nilai tukar sejak awal triwulan II-2004. Tekanan tersebut relatif dapat dikendalikan sejak Bank Indonesia mengubah stance kebijakan kearah yang cenderung ketat dan diikuti oleh kebijakan lain untuk memperkuat kestabilan nilai tukar rupiah. Sejalan dengan relatif terjaganya pasokan ditengah permintaan domestik yang meningkat dan volatilitas nilai tukar yang rendah, meskipun sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, ekspektasi inflasi masih relatif stabil.

Dalam tahun 2005, kondisi stabilitas ekonomi makro diperkirakan akan tetap dapat dipelihara meskipun terdapat beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai.

Perekonomian pada 2005 diperkirakan dapat tumbuh pada level yang cukup optimal

sebesar 5-6%, nilai tukar relatif stabil. Sementara itu, upaya Pemerintah untuk

menjaga defisit APBN tahun 2005 pada tingkat yang aman akan memberi dampak

positif bagi stabilitas ekonomi makro. Di sisi keseimbangan eksternal, Bank

Indonesia memperkirakan transaksi berjalan masih akan mengalami surplus

sementara transaksi modal diperkirakan akan membaik. Namun, Bank Indonesia

akan tetap mewaspadai beberapa faktor risiko yang berpotensi dapat menimbulkan

tekanan terhadap stabilitas makro ekonomi. Risiko peningkatan tekanan inflasi pada

(8)

tahun ini terutama terkait dengan meningkatnya ekspektasi inflasi berkenaan dengan rencana kenaikan harga-harga administered, terutama harga BBM. Oleh karena itu, strategi penyesuaian harga-harga administered akan sangat mempengaruhi pencapaian target inflasi tahun 2005 yang ditetapkan Pemerintah sebesar 6% + 1%.

Menghadapi meningkatnya potensi tekanan inflasi tersebut, kebijakan moneter ke depan tetap diarahkan pada upaya mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, namun dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan yang sedang terjadi. Secara operasional, kebijakan moneter tersebut dilakukan dengan mengarahkan uang primer berada pada proyeksi indikatifnya yakni rata-rata tumbuh sebesar 11,5 - 12,5% pada tahun 2005. Untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter, Bank Indonesia akan menggunakan suku bunga sebagai instrumen kebijakan moneter pada pertengahan tahun 2005. Penggunaan target operasional suku bunga sebagai pengganti base money dalam pengendalian moneter ini juga dimaksudkan agar kebijakan moneter lebih fleksibel dalam

merespon dinamika perekonomian yang terjadi serta sinyal kebijakan ini yang lebih mudah dibaca oleh pasar.K INDONESIA

Di bidang perbankan, seiring dengan membaiknya perekonomian, kinerja

perbankan pada tahun 2005 diperkirakan akan membaik dan fungsi intermediasi

terus mengalami peningkatan. Kebijakan perbankan akan diarahkan untuk

melanjutkan stabilitas sistem perbankan yang telah ada dan mengakselerasi upaya-

upaya untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan. Selain itu, dengan semakin

meningkatnya persaingan dan mulai diterapkannya skim penjaminan LPS, bank-bank

perlu memperhatikan adanya risiko likuiditas. Dalam mengantisipasi munculnya

risiko tersebut, Bank Indonesia akan mengarahkan industri perbankan nasional untuk

dapat mempercepat proses konsolidasi. Selain itu, dengan semakin meningkatnya

integrasi dan keterlibatan bank dalam kegiatan pasar modal dan besarnya risiko dari

kegiatan ini, Bank Indonesia akan segera menyempurnakan dan memperkuat

monitoring terhadap pelaksanaan berbagai peraturan yang terkait dengan prinsip

kehati-hatian dalam kegiatan tersebut.

(9)

4.2.2. Analisa Industri

Salah satu sektor industri yang mendapat prioritas dalam rencana pembangunan jangka panjang-menengah (RPJM), pengembangan industri bubur kertas (pulp) dan kertas harus didukung sepenuhnya.

(http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=477&_dad=portal30&_schema=PORT AL30&pared_id=349580&patop_id=O08)

Dengan luas hutan sekitar 120,3 juta hektar, tentunya pengadaan bahan baku untuk sektor usaha ini tidak ada masalah, walaupun pada saat ini sudah ada jatah hutan tanaman industri (HTI) yaitu sebanyak 9 juta hektar. Meskipun hingga sekarang jatah yang diberikan oleh Departemen Kehutanan belum dimanfaatkan maksimal oleh industri, namun pelaku usaha berkomitmen pada 2009 mendatang akan terealisasi seluruhnya.

Persoalan bahan baku, sebenarnya bukan permasalahan utama di sektor industri kertas dan pulp, karena hanya dengan luas tanaman sekitar 2 juta hektare, tujuh pabrik kertas dan pulp sudah merasa cukup. Yang menjadi permasalahan utama di sektor ini adalah rendahnya investasi. Bahkan sejak beberapa waktu yang lalu tidak ada penambahan pabrik pulp baru, sementara permintaan terus meningkat.

Data Asosiasi Perusahaan Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menyebutkan tingkat konsumsi kertas sejak 2001 selalu tumbuh signifikan. Pada 2001 konsumsi dalam negeri mencapai 4,8 juta ton, pada 2002 sebanyak 5,3 juta ton dan 2003 sebanyak 5,8 juta ton, pada 2004 sebanyak 6 juta ton.

Sementara berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi di sektor kertas dan percetakan untuk PMDN sepanjang 2004 mencapai Rp264 miliar naik signifikan dibandingkan 2003 yaitu senilai Rp51,2 miliar, dan PMA pada 2004 mencapai US$412,8 juta, naik tajam dari 2003 yaitu US$5,3 juta.

Artinya, dengan pertambahan investasi di sektor kertas dan percetakan yang

cukup besar akan mendorong kebutuhan kertas dan bahan baku pulp. Padahal,

dalam kurun waktu yang sama tidak ada investasi baru di industri pulp sebagai

sektor hulu sehingga dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan pasokan di masa

mendatang. Akibat ketiadaan investasi, pertumbuhan industri kertas menjadi

terpasung.

(10)

Menurut Ketua Presidium Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Muhammad Mansur, penambahan investasi pada tahun lalu lebih difokuskan pada revitalisasi permesinan, dan bukan peningkatan kapasitas terpasang atau pembangunan pabrik baru. Menurut dia, pemerintah mutlak harus mendorong peningkatan investasi di sektor ini. Karena jika tidak, dalam kurun waktu 10 tahun mendatang sangat mungkin Indonesia berubah status dari negara produsen kertas menjadi importir, akibat kebutuhan yang terus naik tapi tak diimbangi pasokan secara cukup.

Mansur mengatakan jika kebutuhan kertas di dalam negeri mencapai 50 kg per kapita maka sedikitnya Indonesia harus mengimpor US$2 miliar per tahun, dan dengan perhitungan 10 tahun yang akan datang tidak ada investasi baru, maka total impor kertas mencapai US$7 miliar per tahun. Sementara konsumsi per kapita penduduk Indonesia yang sekarang baru mencapai 26 kg, masih jauh di bawah Malaysia yang mencapai 106 kg. Padahal negara tetangga tersebut tidak memiliki sumber bahan baku dalam jumlah yang terlalu besar.

Di sisi lain, makin tingginya akselerasi perekonomian dan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan kertas sebagai salah satu alat penunjang tentunya akan terus meningkat. Banyak investor, baik dari dalam negeri maupun asing, yang menunjukkan minatnya untuk membangun pabrik baru di dalam negeri. Namun akibat iklim investasi yang tidak juga menunjukkan perbaikan, menjadi penyebab keenganan mereka untuk segera merealisasikan penanaman modal.

Untuk membangun pabrik pulp dengan kapasitas 500.000 ton per tahun dibutuhkan dana sekitar US$1 miliar, dengan jangka waktu pembangunan sekitar 2 tahun

Sekjen APKI Kahar Muzakar mengatakan dalam membangun pabrik baru

maka setiap pelaku usaha harus memiliki hutan tanam industri sebagai sumber

bahan baku, sebelum pabrik dibangun. Sementara jika realisasi jatah HTI itu tidak

juga tercapai hingga 2009, maka dikhawatirkan investor baru tersebut tidak

memperoleh lahan yang dapat mensuplai kebutuhan. Dia menerangkan kepastian

suplai bahan baku menjadi prioritas dalam pelaksanaan pembangunan pabrik

tersebut, karena tanpa itu maka akan menyulitkan pelaku usaha.

(11)

Saat ini telah dikembangkan pemanfaatan daur ulang kertas dan limbah kayu lainnya untuk bahan baku, dan diperkirakan kegiatan itu akan terus meningkat mengingat kebutuhan yang terus meningkat.

Kebijakan Departemen Perindustrian (Depperin) yang memfokuskan pada industri agro, termasuk di dalamnya, industri kertas tentunya harus diikuti dengan berbagai kebijakan yang mendukung. Namun, karena suplai bahan baku yang dibutuhkan sangat terkait dengan departemen lain khususnya departemen kehutanan, maka kesinambungan dan dukungan kebijakan dari institusi itu sangat dibutuhkan.

Menteri Kehutanan M.S. Kaban mengatakan pemerintah akan mengusahakan untuk menciptakan iklim usaha yang pro dunia usaha, namun dengan tetap memperhatikan kaidah kelestarian alam. Bahkan dia menandaskan agar Depperin lebih selektif untuk mengizinkan produsen baru yang berminat di sektor itu, karena tidak menginginkan ada produsen baru di industri kehutanan namun tidak memiliki hutan tanaman industri.

Untuk itu dia meminta jika bahan baku menjadi satu permasalahan maka beberapa pelaku usaha dapat memanfaatkan replanting tanaman kayu karet milik rakyat seluas 2 juta hingga 4 juta hektar yang saat ini sedang dilakukan di beberapa wilayah khususnya Medan. Kalau saja setiap 1 hektar menghasilkan 150 meter kubik kayu maka dengan lahan seluas itu akan menghasilkan jutaan meter kubik kayu, volume yang sangat besar untuk dimanfaatkan oleh industri kehutanan.

Indonesia untuk saat ini menduduki sepuluh besar penghasil kertas dunia, dan untuk masuk dalam lima besar harus ada dukungan kongkrit dari pemerintah berupa kebijakan yang mampu menjadi akselerator investasi di sektor ini.

Dengan meningkatnya konsumsi kertas dan perbaikan iklim investasi di bidang kertas dan percetakan secara tidak langsung berkaitan dengan peningkatan pada industri pembuatan continuous form. Peningkatan pada industri pembuatan continuous form berdampak pada PT Conti Forma sebagai salah satu industri pembuatan continuous form di Surabaya.

Continuous form merupakan kertas berkarbon rangkap 1, 2, 3 atau 4 untuk

pencetakan dengan printer dot matriks. Continuous form cocok untuk pencetakan

data dengan jumlah besar atau berkecepatan tinggi atau pencetakan faktur, surat jalan

dan dokumen lainnya yang memerlukan tembusan karbon. Kelebihan continuous

(12)

form yaitu mempunyai pinggiran berperforasi yang dapat dirobek dengan rapi, dapat masuk dengan lancar ke printer dan terlipat kembali dengan rapi, hasil cetak sangat jelas dan bersih.

Perkembangan continuous form ditandai dengan banyaknya pemakaian continuous form dalam beberapa sektor, diantaranya sektor pemerintah, perbankan, dan pendidikan. Continuous form digunakan sebagai rekening listrik, telepon, dan PDAM di sektor pemerintah. Di sektor perbankan digunakan untuk mencetak rekening koran harian dan berbagai laporan lainnya. Sedangkan di sektor pendidikan, continuous form digunakan untuk pendaftaran studi dan lembar jawaban ujian, dan kartu hasil studi.

Perusahaan yang berspesialisasi pada bidang continuous form tidak banyak.

Di Indonesia bisa dikatakan jarang terdapat perusahaan yang khusus memproduksi continuous form. PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk adalah salah satu perusahaan pesaing PT Conti Forma yang berskala besar. PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk yang berpusat di Sidoarjo dan mempunyai kantor perwakilan di Jakarta, mempunyai anak perusahaan yaitu PT Jasuindo Informatika Pratama yang bergerak dalam bidang solusi teknologi informasi. Selain itu PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk juga membeli 99% saham PT Djakarta Computer Supplies (DCS). PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk bergerak di bidang industri dokumen niaga yang terintegrasi yaitu continuous form.

Untuk memperkuat jaringan global, PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk melakukan asosiasi dengan Standard Register yaitu sebuah perusahaan percetakan ternama dari Amerika Serikat (listed company) dalam rangka mengambil alih teknologi. Asosiasi tersebut menghasilkan jaringan pemasaran dikarenakan Standard Register telah membentuk jaringan percetakan berskala dunia yang terdiri dari 29 perusahaan percetakan di seluruh dunia (satu negara diwakili oleh satu perusahaan percetakan) dengan nama Global Printing Network. Masuknya PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk dalam Global Printing Network menghasilkan sinergi dari segi ahli kemampuan dan pemasaran. Dalam tahun 2004 PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk telah melakukan ekspor ke manca Negara sebagai bagian dari Global Printing Network.

Selain itu PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk juga ikut dalam asosiasi yang bernama

Business Form Management Association (BFMA) dalam rangka mempertajam

keahlian dalam inovasi pembuatan dokumen niaga. PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk

(13)

menerima Sertifikasi ISO 9001:2000 tentang sistem manajemen mutu dari SGS International Certivication Services pada tanggal 6 Maret 2003.

Tabel 4.2. Analisa Rasio

2000 2001 2002 2003 2004 PBD TS BM

Efektivitas

Assets Turnover 2.58 2.43 2.42 2.70 2.08 0.92 B B

Net Fixed Turnover 10.20 9.66 13.49 14.74 17.43 1.60 B B

Working Capital Turnover 4.85 9.10 10.90 4.58 4.40 9.07 TB TB

Finished Good Turnover 6.07 6.11 4.75 4.82 4.60 S

Finished Good Period 60 60 77 76 79 TB

Work In Process Turnover 119.79 79.81 64.96 51.23 24.95 TB

Work In Process Period 3 5 6 7 15 TB

Raw Material Turnover 1.12 1.12 1.14 1.10 1.04 S

Raw Material Period 327 327 320 331 351 TB

Account Receivable Turnover 10.35 10.60 7.20 10.24 4.87 TB

Account Receivable Period 35 34 51 36 75 TB

Likuiditas

Current Ratio 3.46 1.55 1.37 3.56 2.16 1.32 S B

Quick Ratio 1.59 0.74 0.69 1.53 1.15 S

Account Payable Turnover 95.60 28.18 8.47 10.71 4.97 TB

Payment Period 4 13 43 34 74 TB

Cash Ratio 0.0035 0.0021 0.0032 0.0066 0.0071 B

NWC to Total Asset 0.53 0.27 0.22 0.59 0.47 S

Solvabilitas

Equity Multiplier 2.56 3.92 3.70 4.26 7.48 1.61 B B

Debt To Total Asset 0.61 0.74 0.73 0.77 0.87 0.35 S TB

Debt To Total Equity 1.56 2.92 2.70 3.26 6.48 0.56 TB TB

Time Interest Earned -27.08 -2.24 1.71 -0.37 -0.27 TB

Profitabilitas

Net Profit Margin -1.10% -4.84% 2.19% -3.84% -1.38% -1.53% S S

Gross Profit Margin 16.82% 14.21% 22.71% 16.48% 8.81% 21.26% TB TB Operating Profit Margin -1.95% -3.60% 4.74% -1.13% -0.31% 2.13% TB TB

ROA -5.03% -8.74% 11.48% -3.03% -0.65% 1.96% TB TB

ROE -7.28% -46.07% 19.56% -44.07% -21.45% -2.27% TB TB

Keterangan:

TS (Time Series) = Perbandingan rasio dari tahun ke tahun

BM (Bench Mark) = Perbandingan rasio perusahaan dengan rasio pesaing

(14)

PBD = Analisa perusahaan pesaing B = Baik

TB = Tidak Baik S = Sedang

Penjelasan analisa rasio:

1. Efektifitas:

• Asset turnover

Asset turnover merupakan ukuran kemampuan total asset yang dimiliki perusahaan untuk mendukung aktifitas penjualan perusahaan. Asset turnover PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 2,58 kali dimana setiap satu rupiah asset dapat menghasilkan penjualan Rp 2,58. Tahun 2001 sebanyak 2,43 kali dimana setiap satu rupiah asset dapat menghasilkan penjualan Rp 2,43. Tahun 2002 sebanyak 2.42 kali dimana setiap satu rupiah asset dapat menghasilkan penjualan Rp 2,42. Tahun 2003 sebanyak 2,7 kali dimana setiap satu rupiah asset dapat menghasilkan penjualan Rp 2,7. Tahun 2004 sebanyak 2.08 kali dimana setiap satu rupiah asset dapat menghasilkan penjualan Rp 2,08.

Perbandingan asset turnover perusahaan dari tahun ke tahun baik dan cukup stabil karena setiap rupiah asset yang dimiliki perusahaan dapat menghasilkan penjualan sampai dengan 2 kali lipat. Peningkatan asset turnover dapat meningkatkan penjualan secara umum untuk setiap rupiah dalam satu asset.

Perusahaan pesaing memiliki asset turnover sebesar 0,92 kali dimana setiap satu rupiah assetnya hanya menghasilkan penjualan sebesar Rp 0,92. Dengan demikian, asset turnover perusahaan lebih baik daripada asset turnover perusahaan pesaing.

• Net Fixed Asset Turnover

Net fixed asset turnover merupakan ukuran kemampuan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan untuk mendukung penjualan. Net fixed asset turnover PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 10,2 kali dimana setiap satu rupiah aktiva tetap dapat menghasilkan penjualan Rp 10,2. Tahun 2001 sebanyak 9,66 kali dimana setiap satu rupiah aktiva tetap dapat menghasilkan penjualan Rp 9,66.

Tahun 2002 sebanyak 13,49 kali dimana setiap satu rupiah aktiva tetap dapat

menghasilkan Rp 13,49. Tahun 2003 sebanyak 14,74 kali dimana setiap satu

(15)

rupiah aktiva tetap dapat menghasilkan penjualan Rp 14,74. Tahun 2004 sebanyak 17,43 kali dimana setiap satu rupiah aktiva tetap dapat menghasilkan Rp 17,43. Perbandingan net fixed asset turnover perusahaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan hal ini merupakan indikasi yang bagus karena kemampuan aktiva tetap perusahaan untuk mendukung penjualan semakin meningkat. Net fixed asset turnover perusahaan pesaing sebanyak 1,6 kali dimana setiap satu rupiah aktiva tetapnya hanya menghasilkan Rp 1,6. Dengan demikian maka net fixed asset turnover perusahaan lebih baik jika dibandingkan dengan perusahaan pesaing.

• Working Capital Turnover

Working capital turnover merupakan ukuran kemampuan modal kerja perusahaan untuk mendukung penjualannya. Working capital turnover PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 4,85 dimana setiap satu rupiah modal kerja dapat menghasilkan penjualan Rp 4,85. Tahun 2001 sebanyak 9,1 dimana setiap satu rupiah modal kerja dapat menghasilkan penjualan Rp 9,1. Tahun 2002 sebanyak 10,9 dimana setiap satu rupiah modal kerja dapat menghasilkan penjualan Rp 10,9. Tahun 2003 sebanyak 4,58 dimana setiap satu rupiah modal kerja dapat menghasilkan penjualan Rp 4,58. Tahun 2004 sebanyak 4,40 dimana setiap rupiah modal kerja dapat menghasilkan penjualan Rp 4,40.

Perbandingan working capital turnover perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan perbandingan time series ini tidak baik. Perusahaan pesaing memiliki working capital turnover sebanyak 9,07 kali dimana setiap satu rupiah modal kerja dapat menghasilkan penjualan Rp 9,07. Dengan demikian working capital turnover perusahaan dibandingkan dengan pesaing tidak baik.

• Finished Good Turnover

Finished good turnover merupakan ukuran tingkat efisiensi perusahaan dalam

mengatur persediaan barang jadi. Finished good turnover PT Conti Forma

tahun 2000 sebanyak 6,07 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dijual

sebanyak 6,07 kali. Tahun 2001 sebanyak 6,11 dimana setiap persediaan

barang jadi dapat dijual sebanyak 6,11 kali. Dengan meningkatnya finished

good turnover pada tahun 2001 dapat berarti bahwa perusahaan lebih efisien

(16)

dalam mengatur persediaan barang jadinya. Tahun 2002 sebanyak 4,75 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dijual sebanyak 4,75 kali. Tahun 2003 sebanyak 4,82 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dijual sebanyak 4,82 kali. Tahun 2004 sebanyak 4,6 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dijual sebanyak 4,6 kali. Perbandingan finished good turnover perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan namun penurunan tersebut masih stabil dan perbandingan time series ini sedang.

• Finished Good Period

Finished good period merupakan ukuran berapa kali persediaan barang jadi dikeluarkan atau dapat dijual dalam 1 tahun. Finished good period PT Conti Forma tahun 2000 dan tahun 2001 sebanyak 60 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dikeluarkan 60 hari dalam 1 tahun. Tahun 2002 sebanyak 77 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dikeluarkan 77 hari dalam 1 tahun.

Tahun 2003 sebanyak 76 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dikeluarkan 76 hari dalam 1 tahun. Tahun 2004 sebanyak 79 dimana setiap persediaan barang jadi dapat dikeluarkan 79 hari dalam 1 tahun. Perbandingan finished good period perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena persediaan barang jadi semakin lama berada dalam perusahaan, dan perbandingan time series ini tidak baik.

• Work In Process Turnover

Work in process turnover merupakan ukuran tingkat efisiensi perusahaan dalam mengatur persediaan barang dalam proses. Work in process turnover PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 119,79 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 119,79 kali. Tahun 2001 sebanyak 79,81 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 79,81 kali. Tahun 2002 sebanyak 64,96 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 64,96 kali. Tahun 2003 sebanyak 51,23 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 51,23 kali. Tahun 2004 sebanyak 24,95 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 24,95 kali.

Perbandingan work in process turnover perusahaan dari tahun ke tahun

mengalami penurunan karena setiap tahun persediaan barang dalam proses

(17)

semakin kecil dikeluarkan atau dipakai lebih lanjut, dan perbandingan time series ini tidak baik.

• Work In Process Period

Work in process period merupakan ukuran berapa kali persediaan barang dalam proses dikeluarkan dalam 1 tahun. Work in process period PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 3 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 3 hari dalam 1 tahun. Tahun 2001 sebanyak 5 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 5 hari dalam 1 tahun. Tahun 2002 sebanyak 6 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 6 hari dalam 1 tahun. Tahun 2003 sebanyak 7 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 7 hari dalam 1 tahun. Tahun 2004 sebanyak 15 dimana setiap persediaan barang dalam proses dapat dikeluarkan sebanyak 15 hari dalam 1 tahun. Perbandingan work in process period perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena persediaan barang dalam proses semakin lama untuk dikeluarkan dalam 1 tahun, dan perbandingan time series ini tidak baik.

• Raw Material Turnover

Raw material turnover merupakan ukuran tingkat efisiensi perusahaan dalam mengatur persediaan bahan baku. Raw material turnover PT Conti Forma tahun 2000 dan tahun 2001 sebanyak 1,12 dimana setiap persediaan bahan baku dapat dikeluarkan sebanyak 1,12 kali. Tahun 2002 sebanyak 1,14 dimana setiap persediaan bahan baku dapat dikeluarkan sebanyak 1,14 kali. Tahun 2003 sebanyak 1,1 dimana setiap persediaan bahan baku dapat dikeluarkan sebanyak 1,1 kali. Tahun 2004 sebanyak 1,04 dimana setiap persediaan bahan baku dapat dikeluarkan sebanyak 1,04 kali. Perbandingan raw material turnover perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan tetapi masih stabil karena persediaan bahan baku perusahaan masih dalam dikeluarkan sedikitnya sekali, dan perbandingan time series ini sedang.

• Raw Material Period

Raw material period merupakan ukuran berapa kali persediaan bahan baku

dikeluarkan dalam 1 tahun. Raw material period PT Conti Forma tahun 2000

dan tahun 2001 sebanyak 327 dimana setiap persediaan bahan baku dapat

(18)

dikeluarkan sebanyak 327 hari dalam 1 tahun. Tahun 2002 sebanyak 320 dimana setiap persediaan bahan baku dapat dikeluarkan sebanyak 320 hari dalam 1 tahun. Tahun 2003 sebanyak 331 dimana setiap persediaan bahan baku dapat dikeluarkan sebanyak 331 hari dalam 1 tahun. Tahun 2004 sebanyak 351 dimana setiap persediaan bahan baku dapat dikeluarkan sebanyak 351 hari dalam 1 tahun. Perbandingan raw material period perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena persediaan bahan baku perusahaan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dikeluarkan, perbandingan time series ini tidak baik.

• Account Receivable Turnover

Account receivable turnover merupakan ukuran seberapa cepat perusahaan menerima pelunasan piutang dagang dari customer. Account receivable turnover PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 10,35 dimana dalam 1 tahun terdapat pelunasan piutang dagang sebanyak 10,35 kali. Tahun 2001 sebanyak 10,6 dimana dalam 1 tahun terdapat pelunasan piutang dagang sebanyak 10,6 kali. Tahun 2002 sebanyak 7,2 dimana dalam 1 tahun terdapat pelunasan piutang dagang sebanyak 7,2 kali. Tahun 2003 sebanyak 10,24 dimana dalam 1 tahun terdapat pelunasan piutang dagang sebanyak 10,24 kali. Tahun 2004 sebanyak 4,87 dimana dalam 1 tahun terdapat pelunasan piutang dagang sebanyak 4,87 kali. Perbandingan account receivable turnover perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena perusahaan menerima pembayaran piutang lebih sedikit setiap tahunnya, sehingga perusahaan tidak efektif dalam memberikan piutang kepada customer-nya dan perbandingan time series ini tidak baik.

• Account Receivable Period

Account receivable period merupakan ukuran waktu pelunasan piutang dagang dari customer. Account receivable period PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 35 dimana piutang dagang dapat terlunasi dalam 35 hari. Tahun 2001 sebanyak 34 dimana piutang dagang dapat terlunasi dalam 34 hari. Tahun 2002 sebanyak 51 dimana piutang dagang dapat terlunasi dalam 51 hari.

Tahun 2003 sebanyak 36 dimana piutang dagang dapat terlunasi dalam 36 hari.

Tahun 2004 sebanyak 75 dimana piutang dagang dapat terlunasi dalam 75 hari.

(19)

Perbandingan account receivable period perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena perusahaan semakin lama menerima pembayaran piutang dari customer-nya dan perbandingan time series ini tidak baik.

Dari perbandingan rasio-rasio diatas, efektivitas perusahaan dari perbandingan time series tidak baik karena kemampuan perusahaan dalam perputaran modal kerja bersih, barang jadi, barang dalam proses, bahan mentah dan piutang tidak baik.

Efektivitas perusahaan dari perbandingan time series maupun perbandingan dengan perusahaan pesaing baik dalam kemampuan total asset dan aktiva tetap dalam mendukung penjualan. Sedangkan efektivitas perusahaan dari perbandingan dengan perusahaan pesaing dalam perputaran modal kerja bersih tidak baik.

2. Likuiditas

• Current Ratio

Current ratio merupakan ukuran kemampuan aktiva lancar perusahaan untuk melunasi hutang lancar. Current Ratio PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 3,46 dimana hutang lancar dapat di-cover sebanyak 3,46 kali. Tahun 2001 sebanyak 1,55 dimana hutang lancar dapat di-cover sebanyak 1,55 kali. Dengan menurunnya current ratio tahun 2001 dapat berarti bahwa perusahaan tidak liquid. Tetapi apabila perusahaan mempunyai current ratio yang tinggi dapat berarti juga perusahaan tidak efisien dalam menggunakan kas dan aktiva jangka pendek lainnya. Tahun 2002 sebanyak 1,37 dimana hutang lancar dapat di- cover sebanyak 1,37 kali. Tahun 2003 sebanyak 3,56 dimana hutang lancar dapat di-cover sebanyak 3,56 kali. Tahun 2004 sebanyak 2,16 dimana hutang lancar dapat di-cover sebanyak 2,16 kali. Perbandingan current ratio perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan tetapi masih stabil dan perbandingan time series ini sedang karena current ratio masih diatas 1. Tetapi apabila current ratio dibawah 1 berarti bahwa modal kerja bersihnya negatif, yang berarti perusahaan yang tidak sehat. Current ratio perusahaan pesaing sebanyak 1,32 kali. Sehingga current ratio perusahaan dibandingkan dengan perusahaan pesaing lebih baik.

(20)

• Quick Ratio

Quick ratio merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang tanpa persediaan karena persediaan merupakan aktiva lancar yang paling tidak liquid (karena persediaan dapat rusak dan hilang). Quick ratio PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 1,59 dimana hutang lancar dapat di-cover oleh aktiva lancar sebanyak 1,59 kali tanpa persediaan. Tahun 2001 sebanyak 0,74 dimana hutang lancar dapat di-cover oleh aktiva lancar sebanyak 0,74 kali tanpa persediaan. Tahun 2002 sebanyak 0,69 dimana hutang lancar dapat di- cover oleh aktiva lancar sebanyak 0,69 kali tanpa persediaan. Tahun 2003 sebanyak 1,53 dimana hutang lancar dapat di-cover oleh aktiva lancar sebanyak 1,53 kali tanpa persediaan. Tahun 2004 sebanyak 1,15 dimana hutang lancar dapat di-cover oleh aktiva lancar sebanyak 1,15 kali tanpa persediaan.

Perbandingan quick ratio perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan tetapi masih stabil hal ini dikarenakan aktiva lancar masih dapat meng-cover hutang lancar meskipun tanpa persediaan dan perbandingan time series ini sedang.

• Account Payable Turnover

Account Payable Turnover merupakan ukuran kemampuan penjualan perusahaan untuk melunasi hutang usaha. Account Payable Turnover PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 95,6 dimana hutang usaha dapat dilunasi sebanyak 95,6 kali dalam 1 tahun. Tahun 2001 sebanyak 28,18 dimana hutang usaha dapat dilunasi sebanyak 28,18 kali dalam 1 tahun. Tahun 2002 sebanyak 8,47 dimana hutang usaha dapat dilunasi sebanyak 8,47 kali dalam 1 tahun. Tahun 2003 sebanyak 10,71 dimana hutang usaha dapat dilunasi sebanyak 10,71 kali dalam 1 tahun. Tahun 2004 sebanyak 4,97 dimana hutang usaha dapat dilunasi sebanyak 4,97 kali dalam 1 tahun. Perbandingan account payable turnover perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena kemampuan perusahaan untuk melunasi hutangnya semakin kecil dan perbandingan time series ini tidak baik.

• Payment Period

Payment period merupakan ukuran waktu pelunasan hutang usaha. Payment

period PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 4 dimana hutang usaha dapat

(21)

dilunasi dalam 4 hari. Tahun 2001 sebanyak 13 dimana hutang usaha dapat dilunasi dalam 13 hari. Tahun 2002 sebanyak 43 dimana hutang usaha dapat dilunasi dalam 43 hari. Tahun 2003 sebanyak 34 dimana hutang usaha dapat dilunasi dalam 34 hari. Tahun 2004 sebanyak 74 dimana hutang usaha dapat dilunasi dalam 74 hari. Perbandingan payment period perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan karena kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya semakin kecil dan perbandingan time series ini tidak baik.

• Cash Ratio

Cash ratio merupakan ukuran kemampuan kas perusahaan untuk melunasi hutang lancar dalam 1 tahun. Cash ratio PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 0,0035 dimana hutang lancar dapat dilunasi oleh kas sebanyak 0,0035 kali dalam 1 tahun. Tahun 2001 sebanyak 0,0021 dimana hutang lancar dapat dilunasi oleh kas sebanyak 0,0021 kali dalam 1 tahun. Tahun 2002 sebanyak 0,0032 dimana hutang lancar dapat dilunasi oleh kas sebanyak 0,0032 kali dalam 1 tahun. Tahun 2003 sebanyak 0,0066 dimana hutang lancar dapat dilunasi oleh kas sebanyak 0,0066 kali dalam 1 tahun. Tahun 2004 sebanyak 0,0071 dimana hutang lancar dapat dilunasi oleh kas sebanyak 0,0071 kali dalam 1 tahun. Perbandingan cash ratio perusahaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan karena kemampuan kas perusahaan untuk membayar hutang lancar meningkat dan perbandingan time series ini baik.

• NWC to Total Asset

NWC to total asset merupakan ukuran kemampuan modal kerja bersih perusahaan terhadap total asset. NWC to total asset PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 0,53 kali. Tahun 2001 sebanyak 0,27 kali. Tahun 2002 sebanyak 0,22 kali. Tahun 2003 sebanyak 0,59 kali. Tahun 2004 sebanyak 0,47 kali. Perbandingan NWC to total asset perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan tetapi masih stabil. Hal ini mungkin dikarenakan jumlah asset yang makin besar dan atau jumlah modal kerja bersih yang besar juga sehingga perbandingan time series ini sedang.

Dari perbandingan rasio-rasio diatas, likuiditas perusahaan dari perbandingan

time series sedang karena kemampuan perusahaan untuk melunasi hutangnya

meningkat secara stabil tetapi dari tahun ke tahun kemampuan penjualan perusahaan

(22)

untuk melunasi hutangnya menurun atau tidak baik. Sedangkan likuiditas perusahaan dari perbandingan dengan perusahaan pesaing lebih baik dari kemampuan aktiva lancar terhadap hutang lancar.

3. Solvabilitas

• Equity Multiplier

Equity multiplier merupakan ukuran kemampuan total asset perusahaan terhadap total ekuitas perusahaan. Equity multiplier PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 2,56 kali. Tahun 2001 sebanyak 3,92 kali. Tahun 2002 sebanyak 3,7 kali. Tahun 2003 sebanyak 4,26 kali. Tahun 2004 sebanyak 7,48 kali. Perbandingan equity multiplier perusahaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan perbandingan time series ini baik. Hal ini mungkin dikarenakan jumlah total asset yang makin besar dan atau jumlah ekuitas yang makin kecil. Equity multiplier perusahaan pesaing sebanyak 1,61 kali. Sehingga equity multiplier perusahaan lebih baik daripada perusahaan pesaing.

• Debt to Total Asset

Debt to total asset merupakan ukuran kemampuan total asset perusahaan terhadap hutang perusahaan. Debt to total asset PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 0,61 kali. Tahun 2001 sebanyak 0,74 kali. Tahun 2002 sebanyak 0,73 kali. Tahun 2003 sebanyak 0,77 kali. Tahun 2004 sebanyak 0,87 kali.

Perbandingan debt to total asset perusahaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang stabil dan perbandingan time series ini tidak baik. Karena setiap tahun total asset makin berkurang dan total hutang makin bertambah.

Debt to total asset perusahaan pesaing sebanyak 0,35 kali. Sehingga equity multiplier perusahaan lebih jelek (tidak baik) daripada perusahaan pesaing.

• Debt to Total Equity

Debt to total equity merupakan ukuran kemampuan total ekuitas perusahaan terhadap hutang perusahaan. Debt to total equity PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 1,56 kali. Tahun 2001 sebanyak 2,92 kali. Tahun 2002 sebanyak 2,7 kali. Tahun 2003 sebanyak 3,26 kali. Tahun 2004 sebanyak 6,48 kali.

Perbandingan debt to total equity perusahaan dari tahun ke tahun mengalami

penurunan dan perbandingan time series ini tidak baik. Karena setiap tahun

(23)

total ekuitasnya makin berkurang sedangkan jumlah hutang makin bertambah.

Debt to total equity perusahaan pesaing sebanyak 0,56 kali. Sehingga equity multiplier perusahaan lebih jelek (tidak baik) daripada perusahaan pesaing.

• Time Interest Earned

Time interest earned merupakan ukuran kemampuan laba kotor perusahaan untuk membayar bunga hutang. Time interest earned PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak -27,08 kali. Tahun 2001 sebanyak -2,24 kali. Tahun 2002 sebanyak 1,71 kali. Tahun 2003 sebanyak -0,37 kali. Tahun 2004 sebanyak - 0,27 kali. Perbandingan time series ini tidak baik, karena kemampuan laba kotor perusahaan untuk membayar bunga hutang masih dibawah 1 walaupun pada tahun 2004 mengalami kenaikan.

Dari perbandingan rasio-rasio diatas, solvabilitas perusahaan dari perbandingan time series cenderung tidak baik dari kemampuan total ekuitas dan laba kotor perusahaan terhadap hutang dan bunga hutang. Tetapi solvabilitas perusahaan dari perbandingan time series juga cenderung baik dari kemampuan total asset terhadap total ekuitas maupun kemampuan total asset terhadap hutang. Sedangkan solvabilitas perusahaan dari perbandingan dengan perusahaan pesaing cenderung tidak baik dari kemampuan total asset dan total ekuitas terhadap hutang, tetapi cenderung baik dari kemampuan total asset terhadap total ekuitas.

4. Profitabilitas

• Net Profit Margin

Net profit margin merupakan ukuran kemampuan penjualan dalam menghasilkan laba bersih. Net profit margin PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak -1,1%. Tahun 2001 sebanyak -4,84%. Tahun 2002 sebanyak 2,19%.

Tahun 2003 sebanyak -3,84%. Tahun 2004 sebanyak -1,38%. Perbandingan net

profit margin perusahaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan

perbandingan time series ini sedang. Net profit margin perusahaan pesaing

sebanyak -1,53%. Sehingga net profit margin perusahaan tidak jauh berbeda

dengan perusahaan pesaing (sedang).

(24)

• Gross Profit Margin

Gross profit margin merupakan ukuran kemampuan penjualan dalam menghasilkan laba kotor. Gross profit margin PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak 16,82%. Tahun 2001 sebanyak 14,21%. Tahun 2002 sebanyak 22,71%. Tahun 2003 sebanyak 16,48%. Tahun 2004 sebanyak 8,81%.

Perbandingan gross profit margin perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan perbandingan time series ini tidak baik, karena kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor menurun setiap tahunnya. Gross profit margin perusahaan pesaing sebanyak 21,26%. Sehingga gross profit margin perusahaan lebih jelek (tidak baik) daripada perusahaan pesaing.

• Operating Profit Margin

Operating profit margin merupakan ukuran kemampuan penjualan dalam menghasilkan laba operasi. Operating profit margin PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak -1,95%. Tahun 2001 sebanyak -3,6%. Tahun 2002 sebanyak 4,74%. Tahun 2003 sebanyak -1,13%. Tahun 2004 sebanyak -0,31%.

Perbandingan operating profit margin perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan perbandingan time series ini tidak baik. Operating profit margin perusahaan pesaing sebanyak -1,53%. Sehingga operating profit margin perusahaan lebih jelek (tidak baik) daripada perusahaan pesaing.

• ROA

Return on asset (ROA) merupakan ukuran kemampuan asset perusahaan dalam menghasilkan laba bersih. Return on asset PT Conti Forma tahun 2000 sebanyak -5,03%. Tahun 2001 sebanyak -8,74%. Tahun 2002 sebanyak 11,48%. Tahun 2003 sebanyak -3,03%. Tahun 2004 sebanyak -0,65%.

Perbandingan return on asset perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan perbandingan time series ini tidak baik, karena return on asset perusahaan masih dibawah 1 walaupun tahun 2004 mengalami peningkatan.

Return on asset perusahaan pesaing sebanyak 1,96%. Sehingga return on asset perusahaan lebih jelek (tidak baik) daripada perusahaan pesaing.

• ROE

Return on equity (ROE) merupakan ukuran kemampuan ekuitas perusahaan

dalam menghasilkan laba bersih. Return on equity PT Conti Forma tahun 2000

(25)

sebanyak -7,28%. Tahun 2001 sebanyak -46,07%. Tahun 2002 sebanyak 19,56%. Tahun 2003 sebanyak -44,07%. Tahun 2004 sebanyak -21,45%.

Perbandingan return on equity perusahaan dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan perbandingan time series ini tidak baik, karena return on equity perusahaan masih dibawah 1 walaupun tahun 2004 mengalami peningkatan.

Return on equity perusahaan pesaing sebanyak -2,27%. Sehingga return on asset perusahaan lebih jelek (tidak baik) daripada perusahaan pesaing.

Dilihat dari perbandingan-perbandingan rasio di atas, profitabilitas perusahaan baik dari perbandingan time series atau perbandingan dengan perusahaan pesaing tidak baik. Hal ini mungkin disebabkan laba penjualan dari perusahaan kurang baik dan laba penjualan perusahaan pesaing jauh lebih baik. Dan penurunan profitabilitas perusahaan sangat berpengaruh terhadap penurunan kemampuan perusahaan dalam mengatur keuangan secara internal.

4.3. Asumsi-asumsi 4.3.1. Asumsi Umum

Dalam penyusunan proyeksi keuangan, berbagai asumsi dikembangkan berdasarkan kinerja perusahaan pada periode sebelumnya dan berdasarkan rencana manajemen di masa yang akan datang. Di samping itu, berbagai informasi dan saran yang relevan diberikan oleh manajemen perusahaan sehubungan dengan perubahan- perubahan pada setiap faktor dalam jangka waktu yang telah ditetapkan juga turut menjadi bahan pertimbangan.

a. Tidak akan ada perubahan yang material mengenai kondisi politik, ekonomi hukum atau undang-undang yang akan mempengaruhi aktivitas perusahaan, industri atau negara dimana perusahaan beroperasi.

b. Tidak akan ada perubahan yang material mengenai tarif pajak, bea cukai, nilai tukar mata uang, dan suku bunga yang dipergunakan dalam proyeksi yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

c. Tidak akan ada perubahan yang material pada struktur dan aktivitas utama perusahaan atau sumber utama penghasilan perusahaan.

d. Tidak akan ada perubahan yang material pada manajemen perusahaan.

(26)

e. Tidak akan ada hambatan-hambatan yang berarti yang berasal dari perselisihan industri yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha perusahaan.

f. Tidak akan ada perubahan yang material terhadap harga jasa perusahaan dan biaya-biaya lain seperti yang berlaku sekarang ini dan yang diproyeksikan.

g. Tidak ada perubahan yang material terhadap perjanjian-perjanjian dan ketentuan- ketentuan yang ada.

h. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS diasumsikan tetap sebesar Rp 9.790 per 1 Dolar AS selama periode proyeksi berdasarkan nilai tukar per 31 Desember 2004.

i. Nilai inflasi diasumsikan sebesar 6,4% selama periode proyeksi berdasarkan nilai inflasi pada bulan Desember 2004.

j. Tidak akan ada hambatan-hambatan yang berarti terhadap fungsi dan kualitas peralatan-peralatan pabrik yang digunakan untuk kegiatan produksi perusahaan selama periode proyeksi.

k. Tidak akan ada hambatan-hambatan yang berarti dalam pengadaan tenaga kerja yang berkualitas untuk menunjang operasional perusahaan selama periode proyeksi.

l. Dalam masa proyeksi diasumsikan perusahaan menggunakan 3 skenario, yaitu best case scenario, base case scenario dan worst case scenario.

4.3.2. Asumsi Proyeksi

Proyeksi laba rugi, neraca ditentukan atas dasar-dasar dan asumsi-asumsi sebagai berikut:

a. Laporan Laba Rugi 1. Penjualan

Penjualan utama perusahaan berasal dari penjualan kertas komputer.

Penjualan untuk masa proyeksi dalam best case scenario diasumsikan meningkat

sebesar 11,77% selama periode proyeksi. Penjualan untuk masa proyeksi dalam

base case scenario diasumsikan meningkat sebesar 6,79% selama periode

proyeksi. Penjualan untuk masa proyeksi dalam worst case scenario diasumsikan

meningkat sebesar 5,4% selama periode proyeksi.

(27)

2. Pemakaian Bahan Dasar

Pemakaian bahan dasar perusahaan adalah kertas yang diasumsikan meningkat sebesar 4,96% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

3. Pemakaian Bahan Pembantu

Pemakaian bahan pembantu diasumsikan meningkat sebesar 3,02% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

4. Eksploitasi

Eksploitasi diasumsikan meningkat sebesar 1,86% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

5. Barang Dalam Proses Awal

Barang dalam proses awal diasumsikan meningkat sebesar 0,67% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario. Karena pada tahun 2004 terjadi pergantian pemilik sehingga pemilik baru melakukan kebijakan untuk menurunkan harga barang dalam proses awal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

6. Barang Dalam Proses Akhir

Barang dalam proses akhir diasumsikan meningkat sebesar 2,99% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario. Karena pada tahun 2004 terjadi pergantian pemilik sehingga pemilik baru melakukan kebijakan untuk meningkatkan harga barang dalam proses akhir dibandingkan dengan tahun- tahun sebelumnya.

7. Barang Jadi Awal

Barang jadi awal diasumsikan meningkat sebesar 2,52% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario. Karena pada tahun 2004 terjadi pergantian pemilik sehingga pemilik baru melakukan kebijakan untuk menurunkan harga barang jadi awal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

8. Barang Jadi Dari Jakarta

Barang jadi dari Jakarta diasumsikan meningkat sebesar 4,80% selama

periode proyeksi untuk ketiga skenario. Karena pada tahun 2004 terjadi

pergantian pemilik sehingga pemilik baru melakukan kebijakan untuk

menurunkan pembelian barang jadi dari Jakarta dibandingkan dengan tahun-

tahun sebelumnya.

(28)

9. Barang Jadi Akhir

Barang jadi akhir diasumsikan meningkat sebesar 1,41% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario. Karena pada tahun 2004 terjadi pergantian pemilik sehingga pemilik baru melakukan kebijakan untuk menurunkan harga barang jadi akhir dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

10. Biaya Penjualan

Biaya penjualan diasumsikan meningkat sebesar 3,00% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario. Karena pada tahun 2004 terjadi pergantian pemilik sehingga pemilik baru melakukan kebijakan untuk menurunkan biaya penjualan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

11. Biaya Umum dan Administrasi

Biaya umum dan administrasi diasumsikan meningkat sebesar 6,13% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario. Karena pada tahun 2004 terjadi pergantian pemilik sehingga pemilik baru melakukan kebijakan untuk menurunkan biaya umum dan administrasi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

12. Biaya Lain-lain

Biaya lain-lain adalah biaya bunga. Biaya lain-lain diasumsikan sebesar angsuran hutang bank tetap dan hutang bank rekening koran selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

13. Pendapatan Lain-lain

Pendapatan lain-lain diasumsikan tetap selama periode proyeksi sebesar Rp 1.589.134,12 untuk ketiga skenario.

14. Kompensasi Kerugian

Kompensasi kerugian diasumsikan dikenakan pada periode proyeksi untuk ketiga skenario karena pada tahun 2004 perusahaan mengalami kerugian sehingga perusahaan tidak dikenakan pajak.

b. Neraca

5. Piutang Dagang

Piutang dagang diasumsikan meningkat sebesar 11,29 kali terhadap penjualan

selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

(29)

6. Piutang Lain-lain

Piutang lain-lain diasumsikan meningkat sebesar 30,76% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

7. Biaya Dibayar Dimuka

Biaya dibayar dimuka diasumsikan menurun sebesar 13,24% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

8. Uang Muka

Uang muka diasumsikan meningkat sebesar 2,73% selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

9. Persediaan

Persediaan diasumsikan meningkat sebesar 5,67 kali terhadap harga pokok penjualan selama periode proyeksi untuk ketiga skenario.

10. Tanah

Aktiva tetap ini diasumsikan tetap selama periode proyeksi sebesar Rp.

146.442.260,00 untuk ketiga skenario.

11. Bangunan

Aktiva tetap ini diasumsikan terdapat penambahan bangunan sebesar Rp.

25.000.000,00 pada tahun 2005 untuk ketiga skenario. Untuk tahun-tahun berikutnya diasumsikan tidak terdapat penambahan bangunan. Aktiva tetap ini memakai metode penyusutan saldo menurun.

12. Mesin dan Peralatan Pabrik

Aktiva tetap ini diasumsikan terdapat penambahan mesin dan peralatan pabrik untuk meningkatkan kinerja produksi perusahaan sebesar Rp.

75.000.000,00 pada tahun 2005 untuk ketiga skenario. Untuk tahun-tahun berikutnya diasumsikan tidak terdapat penambahan mesin dan peralatan pabrik.

Aktiva tetap ini memakai metode penyusutan saldo menurun.

13. Inventaris Kantor

Aktiva tetap ini diasumsikan terdapat penambahan inventaris kantor sebesar

Rp. 7.000.000,00 pada tahun 2005 untuk ketiga skenario. Untuk tahun-tahun

berikutnya diasumsikan tidak terdapat penambahan inventaris kantor. Aktiva

tetap ini memakai metode penyusutan saldo menurun.

(30)

14. Kendaraan

Aktiva tetap ini diasumsikan terdapat penambahan kendaraan sebesar Rp.

200.000.000,00 pada tahun 2005 untuk ketiga skenario. Untuk tahun-tahun berikutnya diasumsikan tidak terdapat penambahan kendaraan. Aktiva tetap ini memakai metode penyusutan saldo menurun.

15. Hutang Dagang

Hutang dagang diasumsikan meningkat sebesar 4,97 kali terhadap harga pokok penjualan untuk ketiga skenario.

16. Hutang PPH 21

Hutang PPH 21 diasumsikan tidak terdapat hutang selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

17. Hutang PPN

Hutang PPN diasumsikan tidak terdapat hutang selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

18. Hutang Bank Tetap

Hutang bank tetap diasumsikan menurun karena diasumsikan adanya pembayaran hutang sesuai angsuran hutang dengan memakai bunga 12% dan jangka waktu 15 tahun selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

19. Hutang Bank Rekening Koran

Hutang bank rekening koran diasumsikan menurun karena diasumsikan adanya pembayaran hutang sesuai angsuran hutang dengan memakai bunga 11,5% dan jangka waktu 15 tahun selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

20. Hutang Lain-lain

Hutang lain-lain diasumsikan meningkat sebesar 4,80% selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

21. Modal Saham

Diasumsikan tidak terdapat penambahan modal saham selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

c. Perhitungan Nilai Pasar Wajar Ekuitas 1. Cost of Debt

Dalam menghitung cost of debt, diasumsikan: (untuk ketiga skenario)

(31)

• Hutang bank tetap dibagi dengan jumlah hutang bank tetap dan hutang bank rekening koran kemudian dikali dengan bunga bank yaitu 12%

• Hutang bank rekening koran dibagi dengan jumlah hutang bank tetap dan hutang bank rekening koran kemudian dikali dengan bunga bank yaitu 11,5%.

• Pajak sebesar 30%.

2. Cost of Equity

Dalam menghitung cost of equity, diasumsikan: (untuk ketiga skenario)

• Beta levered perusahaan pembanding pada saat tanggal penilaian adalah 0,51879

• Struktur modal perusahaan yang dinilai adalah 77,4% untuk hutang dan 22,6% untuk ekuitas.

• Beta unlevered perusahaan pembanding adalah 0,37411

• Beta levered perusahaan yang dinilai adalah 1,27095

• Tingkat bunga bebas resiko pada tanggal penilaian adalah 10,50%

• Premium resiko pada tanggal penilaian adalah 10%

• Struktur modal perusahaan pembanding adalah 35,59% untuk hutang dan 64,41% untuk ekuitas.

• Struktur modal perusahaan yang dinilai adalah 86,64% untuk hutang dan 13,36% untuk ekuitas.

3. Weighted Average Cost of Capital (untuk Discount Factor)

Dalam menghitung weighted average cost of capital untuk discount factor diasumsikan memakai struktur modal perusahaan pembanding untuk ketiga skenario karena struktur modal harus menggunakan harga pasar.

4. Arus Kas yang Tersedia Untuk Invested Capital

Dalam menghitung arus kas yang tersedia untuk invested capital diasumsikan: (untuk ketiga skenario)

• Laba bersih setelah pajak (setelah penyesuaian) didapat dari proyeksi laporan laba rugi masing-masing skenario.

• Beban bunga (setelah dikurangkan pajak) didapat dari biaya lain-lain dari

proyeksi laporan laba rugi dikurangkan dengan pajak untuk ketiga

skenario.

(32)

• Depresiasi didapat dari selisih penyusutan aktiva tetap setiap tahun selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

• Pengeluaran modal adalah pengeluaran modal untuk pembelian aktiva tetap selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

• Modal kerja bersih adalah selisih aktiva lancar dengan hutang lancar selama masa proyeksi untuk ketiga skenario.

5. Nilai Pasar Wajar Ekuitas

Dalam menghitung nilai pasar wajar ekuitas diasumsikan:

• Arus kas untuk invested capital didapat dari perhitungan arus kas untuk invested capital masing-masing skenario.

• Arus kas untuk invested capital tersebut dikalikan dengan probabilitas dimana jumlahnya adalah 100%, untuk masing-masing skenario kemudian dijumlahkan. Untuk best case scenario probabilitasnya adalah 10%, base case scenario probabilitasnya adalah 50% dan worst case scenario probabilitasnya adalah 40%.

• Discount factor yang digunakan adalah 17.88% yang didapat dari weighted average cost of capital.

• Nilai kekal didapat dari arus kas tahun 2015 dibagi dengan discount factor dikurangi dengan tingkat pertumbuhan dari ketiga skenario dikali dengan bobot masing-masing skenario.

• Arus kas yang tersedia untuk invested capital dijumlahkan dengan nilai kekal. Jumlah tersebut dikalikan dengan discount factor (present value).

Hasil perkalian tersebut adalah nilai kini. Kemudian nilai kini dari masing-masing tahun dijumlah secara keseluruhan.

• Total nilai kini dikurangkan dengan nilai kini hutang (hutang jangka panjang) dan kemudian didapat nilai ekuitas

• Nilai ekuitas harus dikenakan diskon marketabilitas sebesar 30% karena

perusahaan yang dinilai adalah perusahaan tertutup sehingga didapat nilai

pasar wajar ekuitas.

(33)

4.4. Analisa dan Pembahasan

Merencanakan keuangan adalah suatu proses menganalisa investasi dan pilihan keuangan dari suatu perusahaan. Dalam merencanakan keuangan dapat memfokuskan pada peramalan (forecasting), memilih perencanaan keuangan yang optimal dan memperhatikan perencanaan sehingga dapat menghasilkan perencanaan yang efektif. Metode peramalan terdiri dari pengalaman, probabilitas dan korelasi.

Dalam menghitung nilai pasar wajar PT Conti Forma menggunakan probabilitas.

Pertumbuhan (growth) berasal dari keputusan investasi dalam kebutuhan modal kerja ditambah dengan aktiva tetap bersih. Sehingga berdampak pada keputusan keuangan yaitu laba ditahan, hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan paid in capital. Sehingga menghasilkan laporan keuangan pro forma atau laporan keuangan proyeksi.

Laporan keuangan pro forma adalah suatu kumpulan dari asumsi mengenai trend penjualan dan hubungan antara penjualan dengan variabel keuangan yang bermacam-macam, dan antara variabel laporan keuangan lainnya. Dalam membuat laporan keuangan pro forma PT Conti Forma dilakukan dengan 3 skenario, yaitu best case scenario, base case scenario dan worst case scenario.

Langkah-langkah dalam membuat laporan keuangan pro forma:

• Menentukan growth. Untuk best case scenario menggunakan growth sebesar 11,77%. Untuk base case scenario menggunakan growth sebesar 6,79%. Untuk worst case scenario menggunakan growth sebesar 5,40% (Tabel 4.3). Growth tersebut berlaku selama masa proyeksi, yaitu proyeksi periode proyeksi tetap selama 10 tahun (2005-2014) dan proyeksi periode kekal dimulai pada tahun 2015.

• Menghitung proyeksi laba bersih. Untuk menghitung laba bersih, masing-masing perkiraan dalam laporan laba rugi meningkat sebesar yang diasumsikan. (Tabel 4.3)

• Memperkirakan peningkatan atau penurunan dalam aktiva (kecuali kas). Untuk memperkirakan peningkatan dalam aktiva, masing-masing perkiraan dalam aktiva meningkat sebesar yang diasumsikan. (Tabel 4.3)

• Memperkirakan peningkatan atau penurunan dalam kewajiban baik kewajiban

jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Untuk memperkirakan

Gambar

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Perusahaan  Sumber: Data PT Conti Forma (2004: 1)
Tabel 4.1 Perkembangan Beberapa Indikator Ekonomi Indonesia, 1999 - 2002
Tabel 4.2. Analisa Rasio
Tabel 4.3. Asumsi Proyeksi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Aset keuangan dalam kelompok tersedia untuk dijual adalah aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan untuk dimiliki selama periode tertentu, dimana akan dijual dalam rangka pemenuhan

Menurut Sukman dan Yakub (2002) tumbuhan yang cepat tumbuh (lebih tinggi) dan tajuknya lebih rimbun akan memperoleh cahaya yang lebih banyak sedangkan tumbuhan

Dari uaraian-uraian di atas dapat dipersepsikan bahwa sejarah sosial pendidikan Islam adalah cabang ilmu pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan

Sudah umum diakui bahwa suatu perkembangan tidak berhenti pada waktu orang mencapai kedewasaan fisik pada masa remaja atau kedewasaan social pada masa dewasa

Gambar 4.7 Perbandingan antara suhu tabung pendingin, suhu regenerator, dan suhu tabung resonator terhadap waktu pada penggerak mula termoakustik piston air dengan menggunakan

Jika gaya yang dikerjakan pada benda lebih kecil dari batas elastisitas benda maka  benda akan kembali ke bentuk atau ukuran semula ketika gaya itu dihilangkan.

Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengembangkan aplikasi Hot Billing yang dapat digunakan untuk kebutuhan perhitungan tarif pada wartel VoIP yang menawarkan jasa

melakukan penyusunan rencana kegiatan Seksi Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia berdasarkan tugas, permasalahan dan regulasi kebijakan tentang