• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN PENGAWASAN INTERN DALAM RANGKA PTN BLU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERAN PENGAWASAN INTERN DALAM RANGKA PTN BLU"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PENGAWASAN INTERN DALAM RANGKA PTN BLU

OLEH :

P ROF . D R . J AMAL W IWOHO , SH, M.H UM .

I NSPEKTUR J ENDERAL K EMENRISTEKDIKTI

Disampaikan di Universitas Tanjungpura Pontianak

Tanggal 17 Maret 2016

(2)

Nama : Prof Dr. H. JAMAL WIWOHO, S.H., M.Hum.

Tempat tgl lahir : Magelang, 8 November 1962

: Jl Manunggal 1/43 Solo, Jateng 0271-856848

: S1 FH UNS, S2 Hukum Ekm & Tek Undip, S3 PDIH Undip : Berkeluarga, 1 Istri , 3 Anak

: 08122601681

: [email protected] atau [email protected] : www.jamalwiwoho.com

: @jamalwiwoho : jamalwiwoho Tempat tinggal

Pendidikan Status

HP e-mail Website Twitter Facebook

Pekerjaan Pengalaman

: - Inspektur Jenderal Kemenristek Dikti : - Wakil Rektor II UNS Surakarta

- Ketua forum PR II / WR II Se – Indonesia - Sekretaris Prodi S3 Ilmu Hukum FH UNS - Dosen S1/S2/S3 FH UNS Solo

- Lain-lain:

 Reviewer Nasional DP2M Dikti, Tim PAK Dikti, Instruktur Brevet, Konsultan DPRD Ngawi- Jatim, DPRD Karanganyar-Jateng, DPRD Surakarta, DPRD Balikpapan, Konsultan IAPI, Konsultan Pemda Ngawi, Pemda Magetan Jatim, Pemkot Gorontalo, Saksi Ahli di beberapa Pengadilan, dll.

 Dosen S2/S3 tidak tetap di Univ Diponegoro, Univ Trisakti Jkt, Univ Taruma

Negara Jkt, Univ Djuanda Bogor, Univ Swadaya Gunung Jati Cirebon, Univ

(3)

Proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan

dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi

melalui kegiatan yang efektif dan efisien,

keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan

perundang-undangan.

(4)

TUJUAN SPI

Dari definisi di atas dapat kita lihat bahwa tujuan adanya

pengendalian intern:

Menjaga kekayaan organisasi.

Memeriksa ketelitian

dan kebenaran

data akuntansi.

Mendorong efisiensi.

Mendorong dipatuhinya

kebijakan

manajemen

(5)

1) Pengendalian Intern Akuntansi (Preventive Controls)

Pengendalian Intern Akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa keakuratan data akuntansi. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi.

2) Pengendalian Intern Administratif (Feedback Controls).

Pengendalian Administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakkan manajemen.(dikerjakan

akuntansi) Contoh :

setelah pemeriksaan

adanya pengendalian

laporan untuk mencari

penyimpangan yang ada, untuk kemudian diambil tindakan.

(6)

Membantu manajemen dalam mengendalikan dan

memastikan keberhasilan kegiatan organisasi

Menciptakan pengawasan melekat,

menutupi kelemahan dan keterbatasan

personel, serta mengurangi

kemungkinan terjadinya kesalahan dan

kecurangan.

Membantu auditor dalam menentukan ukuran sampel dan pendekatan audit yang

akan diterapkan

Membantu auditor dalam memastikan

efektifitas Audit, dengan

keterbatasan waktu

dan biaya audit

(7)

•Satuan Pengawasan yang dibentuk untuk

terlaksananya pengawasan terhadap satuan tugas unit kerja

SPI

•Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, yang selanjutnya disingkat BPKP adalah aparat Pengawasan Intern pemerintah yang bertanggungjaewab langsung kepada Presiden

BPKP

•Inspektorat Jenderal atau nama lainnya yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern adalah aparat pengawasan intern pemerintah yang bertanggungjawab langsung kepada

Menteri/pimpinan lembaga

Inspektorat Jenderal

•Inspektorat Propinsi adalah aparat pengawasan intern pemerintah bertanggung jawab langsung kepada Gubernur

Inspektorat Propinsi

•Inspektorat Kabupaten /kota adalah aparat

pengawasan intern pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada bupati/walikota

Inspektorat

Kabupaten/kota

(8)

PERGESERAN FUNGSI PENGAWASAN INTERNAL

Lingkup Paradigma Lama Paradigma Baru

Fungsi Watchdog

Mengungkap temuan Menggangu obyek Reaktif

Watchdog, Konsultan &

Katalisator

Memecahkan Masalah Membantu Klien

Proaktif Sifat/Rekomendasi Post Audit

Korektif

Post & Prea Audit

Korektif, Preventif, Prediktif Pendekatan Subyek-Obyek

Win-Lose

Subyek-Subyek (Patnership) Win-win

Organisasi Memenuhi Ketentuan Alat/Tools Manajemen Pusat Unggulan

Indikator Kinerja Jumlah Temuan Jumlah Bantuan/Manfaat

Pencapaian Good Govermance

(9)

Menristekdikti wajib melakukan pengendalian atas

penyelenggaraan kegiatan pemerintahan dengan berpedoman pada SPIP

PENGENDALIAN INTERN

PP NOMOR 60 TAHUN 2008

(10)

KEMRISTEKDIKTI:

Menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan

negara

PERPRES NO. 13 TAHUN 2015

UUD 45: sebagian

fungsi pendidikan dengan -/- 20%

dari APBN dan mencerdaskan kehidupan bangsa

150 satker

120.000 orang pegawai Mengendalikan

Rp41,507 T APBN P Rp92,478 T Aset

Penerimaan dan penggabungan

P3D Ristek dengan Dikti

(11)

118

38 35

5 14 11

PTN

Unit Utama

Program Nasional Kegiatan Mandatori Satker non PTN Kopertis

 Dari data lingkup audit tersebut, disusun Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) dengan menggunakan pendekatan Audit Berbasis Risiko

 Hibah dan PHLN termasuk dalam data Program Nasional yang menjadi salah satu

(12)

Belanja Negara APBNP 2015

Rp.406,70 T

Anggaran Pendidikan (20.39%)

Belanja Pemerintah Pusat

152.451 ,7

1. Kementerian Ristek dan Dikti

41.507,7

2. Kementerian Dikbud 53.278,5

3. Kementerian Agama 48.662,0 4. K/L lainnya 9.003,4

Belanja Transfer Daerah 254.252,3 1. Anggaran Pendidikan dalam DBH 1,337.7

2. DAK Pendidikan 10,041.3

3. Anggaran Pendidikan dalam DAU 134,970.3 4. Dana Tambahan Penghasilan Guru

PNSD

1,096.0 5. Tunjangan Profesi Guru 70,252.7 6. Anggaran Pendidikan dalam OTSUS 4,234.7

7. Dana Insentif Daerah 1,664.5

8. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 31,298.3

(62,5%)

(37,5%) (Rp. Milyar) p. Milyar)

(13)

 Untuk Pelayanan Umum

Rp. 975.881.712.000,-

 Untuk Pendidikan

Rp.37.022.096.900.000,-

KEMRISTEKDIKTI 2016 RP. 37.987.978.612.000,-

 Penerimaan

Rp. 1. 898 T

 Belanja

Rp. 2. 121 T

 Defisit

Rp. 273,2 T

(14)

PAGU ANGGARAN KEMRISTEKDIKTI TAHUN 2016 (PER PROGRAM PER FUNGSI)

*)

Catatan: *) Alokasi anggaran untuk PTN yang terdiri dari: a) Gaji dan Tunjangan PNS dan Operasional Perkantoran Rp. 9,3 T b) Tunjangan profesi dosen dan kehormatan Guru Besar Rp. 4,4 T c) Tunjangan Kinerja Rp. 950 M

NO PROGRAM / FUNGSI

PAGU ANGGARAN 2016 (SEBELUM RAKER DAN RDP)

PAGU ANGGARAN 2016

(SETELAH RAKER DAN RDP) SELISH

(1) (2) (3) (4=3-2)

1 Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya 28.354.264.876.000 28.327.184.876.000 (27.080.000.000)

Pelayanan Umum (Ristek) 175.842.812.000 175.842.812.000 -

Pendidikan 28.178.422.064.000 28.151.342.064.000 (27.080.000.000)

2 Penyelenggaraan Pengawasan dan Pemeriksaan Akuntabilitas 50.475.000.000 50.475.000.000 -

Pelayanan Umum (Ristek) - - -

Pendidikan 50.475.000.000 50.475.000.000 -

3 Peningkatan Kualitas Kelembagaan Iptek dan Dikti 939.920.000.000 967.000.000.000 27.080.000.000

Pelayanan Umum (Ristek) 169.500.000.000 169.500.000.000 -

Pendidikan 770.420.000.000 797.500.000.000 27.080.000.000

4 Pembelajaran dan Kemahasiswaan 6.062.976.061.000 6.062.976.061.000 -

Pelayanan Umum (Ristek) - - -

Pendidikan 6.062.976.061.000 6.062.976.061.000 -

5 Peningkatan Kualitas Sumber Daya Iptek dan Dikti 1.436.981.771.000 1.436.981.771.000 -

Pelayanan Umum (Ristek) 356.930.000.000 356.930.000.000 -

Pendidikan 1.080.051.771.000 1.080.051.771.000 -

6 Penguatan Riset dan Pengembangan 1.052.752.004.000 1.052.752.004.000 -

Pelayanan Umum (Ristek) 173.000.000.000 173.000.000.000 -

Pendidikan 879.752.004.000 879.752.004.000 -

7 Penguatan Inovasi 90.608.900.000 90.608.900.000 -

Pelayanan Umum (Ristek) 90.608.900.000 90.608.900.000 -

Pendidikan - - -

Total Fungsi Pelayanan Umum ( Ristek) 965.881.712.000 965.881.712.000 -

Total Fungsi Pendidikan 37.022.096.900.000 37.022.096.900.000 -

TOTAL 37.987.978.612.000 37.987.978.612.000 -

(15)

Ribu Rp

N O . U R A I A N P A G U A P B N - P 2 015 P A G U A N G G A R A N

2016

U S U L A N S E T E L A H R A K E R D A N R D P

P E R U B A H A N S E T E L A H R A K E R

D A N R D P T E R H A D A P P A G U

A N G A R A N 2 0 1 6

U S U L A N S E T E L A H R A K E R D A N R D P V S P A G U A P B N - P 2 015

1 2 3 4 5 6 =( 5 - 4) 7 =( 5 - 3)

A . P R I O R I T A S N A S I O N A L 17.654.340.509 8.963.474.171 8.977.744.171 14.270.000 (8.676.596.338)

1 B e a s i s w a B i d i k m i s i d a n B e a s i s w a L a i n n y a 3.093.576.260 3.337.002.400 3.337.002.400 - 243.426.140

2 B e a s i s w a S M 3 T 365.610.000 290.000.000 290.000.000 - (75.610.000)

3 B e a s i s w a K N B 33.720.000 73.270.000 66.770.000 (6.500.000) 33.050.000

4 B O P T N 4.550.000.000 3.790.000.000 3.762.920.000 (27.080.000) (787.080.000)

B O P T N N o n P e n e l i t i a n ( N o n P T N - B H ) 1.935.000.000 1.750.000.000 1.750.000.000 - (185.000.000)

B O P T N ( P e n e l i t i a n ) N o n P T N - B H 944.593.524 790.000.000 740.000.000 (50.000.000) (204.593.524)

B O P T N ( P e n e l i t i a n ) P T N - B H 320.406.476 - - - (320.406.476)

B O P T N ( P e n e l i t i a n I n o v a s i ) N o n P T N B H ( D e s a I n o v a s i )

- - 50.000.000 50.000.000 50.000.000

B a n t u a n P e n d a n a a n P T N - B H 1.250.000.000 1.250.000.000 1.222.920.000 (27.080.000) (27.080.000)

5 S N M P T N d a n S B M P T N 200.000.000 - - - (200.000.000)

6 L P T K y a n g d i r e v i t a l i s a s i - 26.000.000 26.000.000 - 26.000.000

7 B e a s i s w a D o s e n S 2 / S 3 1.651.708.576 919.051.771 919.051.771 - (732.656.805)

8 P e n i n g k a t a n s a r a n a d a n p r a s a r a n a P T 6.901.800.000 - - - (6.901.800.000)

9 P e n g a b d i a n P a d a M a s y a r a k a t 32.075.000 - - - (32.075.000)

10 P e n d i r i a n P T B a r u d a n A k a d e m i K o m u n i t a s 525.850.673 328.150.000 326.000.000 (2.150.000) (199.850.673)

11 P e l a k s a n a a n P r o g r a m H i b a h P e m b i n a a n P T S 300.000.000 - 50.000.000 50.000.000 (250.000.000)

12 K e g i a t a n B A N P T ( T e r m a s u k L A M P T K e s ) - 200.000.000 200.000.000 - 200.000.000

13 P e r c e p a t a n I n s i n y u r - - - - -

B. P R I O R I T A S K / L 479.181.022 1.006.546.690 992.276.690 (14.270.000) 513.095.668

1 P e l a k s a n a a n K e g i a t a n K e m a h a s i s w a a n d i P T N d a n P o l i t e k n i k & K O P E R T I S

160.983.140 - - - (160.983.140)

2 P e l a k s a n a a n K e g i a t a n d i K o p e r t i s 134.495.200 105.000.000 105.000.000 - (29.495.200)

3 K e g i a t a n T u s i d a n P e n g a w a s a n ( 7 E s e l o n I ) 183.702.682 901.546.690 887.276.690 (14.270.000) 703.574.008

C . B E L A N J A M E N G I K A T 12.906.894.861 14.783.344.896 14.783.344.896 - 1.876.450.035

1 B e l a n j a P e g a w a i . P e m e l i h a r a n d a n O p e r a s i o n a l P e r k a n t o r a n

9.212.495.121 9.368.933.782 9.368.933.782 - 156.438.661

2 T u n j a n g a n K i n e r j a - 950.000.000 950.000.000 - 950.000.000

3 T u n j a n g a n P r o f e s i D o s e n d a n G u r u B e s a r 3.694.399.740 4.464.411.114 4.464.411.114 - 770.011.374

D. P H L N D A N R M P E N D A M P I N G 2.749.273.961 2.162.233.657 2.162.233.657 - (587.040.304)

1 P H L N 2.183.728.700 1.811.164.993 1.811.164.993 - -

2 R M P e n d a m p i n g 565.545.261 351.068.664 351.068.664 - -

E. P N B P / B L U 8.918.074.254 10.106.497.486 10.106.497.486 - 1.188.423.232

(16)

4. Mengoptimalkan Kapasitas dan Peran Satuan Pengawas Intern (SPI) PTN:

a. Meningkatkan peran dan fungsi SPI sebagai pengawal PTN b. Mengupayakan penegasan struktur organisasi SPI PTN

c. Meningkatkan kapabilitas SDM SPI PTN

1. Membangun komitmen seluruh jajaran Kemristekdikti, mulai dari pimpinan sampai staf terbawah.

2. Membangun sinergitas dengan pihak-pihak terkait (BPKP, Auditi, dan pihak ekternal lainnya)

3. Mengoptimalkan Kapasitas Inspektorat Jenderal:

a. Mengoptimalkan peran dan layanan Inspektorat Jenderal audit kinerja, pemberian peringatan dini, dan konsultasi.

b. Mengoptimalkan manajemen sumber daya manusia Inspektorat Jenderal dengan kuantitas dan kualitas yang memadai.

c. Menerapkan praktik-praktik pemeriksaan intern yang profesional.

d. Meningkatkan akuntabilitas dan manajemen kinerja Inspektorat Jenderal secara baik.

e. Membangun hubungan dan budaya organisasi yang baik dengan pihak- pihak lain yang terkait.

f. Menerapkan struktur tata kelola yang baik.

(17)

TUGAS DAN FUNGSI KEMENRISTEK DAN DIKTI

Mencegah

Mengarahkan Menghentikan PENGAWALAN

TUGAS ITJEN:

Menyelenggarakan pengawasan intern di lingkungan Kemristek

dan Dikti

PERPRES NO. 13 TAHUN 2015

KEGIATAN 1. AUDIT

2. REVIU 3. EVALUASI

4. PEMANTAUAN 5. PENGAWASAN

LAINNYA Mendorong

(18)

(1) Pengendalian internal perjalanan dinas, seperti kelemahan penyusunan SOP, TOR dan RAB, pengawasan penerbitan surat tugas, pengawasan pertanggung jawaban

pelaksanaan perjalanan dinas.

(2) Aturan internal yang mengatur narasumber FGD, rapat koordinasi.

(3) Kejelasan output untuk membedakan narasumber dan peserta.

(4) Koordinator Kegiatan seringkali tdk mencatat dan membukukan pengelolaan dana yang diterimanya

(5) Belum adanya SOP baku mengenai mekanisme pembayaran UP dan TUP.

(6) SOP pengadaan barang

(7) Up dating inventarisasi aset

(8) Lemahnya catatan pendistribusian barang habis pakai

(9) Dokumentasi dan pelaporan kegiatan

(19)

(1) Perjalanan Dinas

a. tidak melakukan perjalanan dinas

b. tidak menerima lumpsum sesuai standard biaya c. tandatangan tidak sesuai

d. pejabat penandatangan lembar SPPD tidak sesuai

e. pelaksana perjalanan dinas melakukan absensi di kantor f. tidak ada surat penugasan

g. salah penjumlahan sehingga terdapat lebih bayar h. pelaksana perjalanan dinas tidak jelas lembaganya (2) Pengadaan Barang

a. tidak diketahui berapa unit barang yg diadakan dan berapa harga per unit barang

b. kelebihan pembayaran atas pelaksanaan kegiatan yg dilaksanakan oleh EO c. pengadaan tidak didukung bukti yg sah

d. pengadaan tidak didukung dokumen penawaran e. pengadaan tidak ada bukti penerimaan barang (3) Pembayaran Narasumber

a. tandatangan berbeda; di daftar hadir, form honor dan lembar pertanggung

jawaban

(20)

1. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah (bukan kekayaan negara yang dipisahkan)

2. Menghasilkan barang/jasa yang seluruhnya/sebagian dijual kepada publik

3. Tidak mengutamakan mencari keuntungan (laba)

4. Dikelola secara otonom dengan prinsip efisiensi dan produktivitas ala korporasi

5. Rencana kerja/anggaran dan pertanggungjawaban dikonsolidasikan pada instansi induk

6. Pendapatan BLU dapat digunakan langsung

7. Pegawai dapat terdiri dari PNS dan Profesional Non- PNS

8. Bukan sebagai subyek pajak

POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

(21)

POLA PENGELOLAAN KEUANGAN PTN

P O L A P E N G ELOLAA N K E U A N G A N P T N SATKER

BLU

BH

Mengandalkan APBN Sebagai Sumber Pendukung Utama PTN

Kombinasi APBN dan PNBP

Pengelolaan Seluas-luasnya Baik

APBN dan Sumber lainnya

(22)

Belanja  flexible budget dengan ambang batas.

Pengelolaan Kas  pemanfaatan idle cash, hasil untuk BLU

Pengelolaan Piutang  dapat memberikan piutang usaha, penghapusan piutang sampai batas tertentu

Utang  dapat melakukan utang sesuai jenjang, tanggung jawab pelunasan pada BLU

Investasi  jangka panjang ijin Menkeu

Pengelolaan Barang  dapat dikecualikan dari aturan umum pengadaan, barang inventaris dapat dihapus BLU

Remunerasi  sesuai tingkat tanggung profesionalisme

1. Pendapatan  dapat digunakan langsung 2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9. Surplus/Defisit  surplus dapat digunakan

jawab untuk

dan tahun berikutnya, defisit dapat dimintakan dari APBN.

10. Pegawai : PNS dan Profesional Non-PNS

11. Organisasi dan nomenklatur (diserahkan kepada K/L & BLU

ybs dengan persetujuan Menpan & RB)

(23)

Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral

Jangan Sampai Seperti ini !!!

(24)

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Kapasitas Sumber Daya Manusia, Pemanfaatan Teknologi Informasi, Pengendalian Intern Akuntansi dan Pengawasan Keuangan Daerah Terhadap Keterandalan Pelaporan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat diketahui sistem pengendalian intern pada aktivitas penjualan kredit dapat mencegah

menyimpulkan bahwa: Pengendalian intern atas penggajian dan pengupahan adalah dalam upaya mencegah kemungkinan terjadinya tindak penyelewengan atau kesalahan-kesalahan dalam proses

Sistem pengendalian intern merupakan sistem atau cara untuk mengamankan aktiva perusahaan, aktiva perusahaan, menjaga ketelitian dan ketepatan data akuntansi serta

Berdasarkan uraian diatas akan pentingnya pengendalian intern dalam menjaga kekayaan dan laba perusahaan serta pentingnya sistem penggajian di suatu perusahaan,

Dengan dilaksanakannya sistem pengendalian intern terhadap penjualan, maka diharapkan perusahaan akan dapat menjaga kekayaan perusahaan, mengecek ketelitian, keandalan data

sistem pengendalian intern. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan sistem pengawasan intern yang baik itu akan berguna untuk menjaga keamanan harta milik suatu

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), dinyatakan bahwa Sistem Pengendalian Intern Pemerintah adalah