• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOTAMADYA LHOKSEUMAWE PROVINSI NANGGROE ACEH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KOTAMADYA LHOKSEUMAWE PROVINSI NANGGROE ACEH"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

KOTAMADYA LHOKSEUMAWE PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (2001-2014)

Skripsi Sarjana Dikerjakan O

L E H

NAMA : MAHZAR LUTHFI LUBIS NIM 160706005

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil‟alamin, segala puji bagi Allah.SWT, Tuhan semesta alam yang telah memberikan rahmat, rahmat, nikmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tidak lupa juga shalawat beriring salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW, semoga mendapatkan syafaat di kemudian hari kelak.

Suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri kepada penulis ketika mampu menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini untuk memperoleh Gelar Sarjana Humaniora di Program Studi S-1 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Adapun judul penulisan skripsi ini berjudul Kotamadya Lhokseumawe Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (2001-2014).

Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan pengalaman berharga.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi penulis sendiri. Amiin Yaa Rabbal‟alaamin.

Medan, Januari 2021 Penulis,

MAHZAR LUTHFI LUBIS NIM. 160706005

(7)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulisan skripsi ini tidak akan pernah selesai tanpa adanya bantuan baik moril, semangat, doa, dan materil dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada orang-orang yang berjasa dalam proses penelitian dan penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara. Terima kasih juga kepada para Wakil Dekan beserta seluruh staf pegawai Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum., selaku Ketua Program Studi S-1 Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya USU. Terimaskasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Dra. Nina Karina, M.SP., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya USU.

3. Bapak Drs. Wara Sinuhaji M.Hum. Selaku Dosen pembimbing penulis yang telah membantu penulis dalam peroses penulisan ini, terimakasih untuk ide dan masukan-masukan yang telah diberikan kepada penulis.

4. Bapak Dr. Suprayitno, M.Hum. selaku Dosen penasehat akademik penulis yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam proses perkuliahan .

5. Seluruh staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan penulis banyak pencerahan, pengetahuan, pengalaman, serta wawasan. Juga kepada staf administrasi Program Studi Ilmu Sejarah, Bang Ampera yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan persoalan administrasi selama masa studi.

6. Kepada kedua orang tua saya, Syahrul Lubis dan Dra. Yanti Junitasari S.Ag yang selalu mendukung penulis dalam berbagai keadaan apapun.

Terima kasih yang sedalam-dalamnya atas perjuangan Ayah dan Mama selama ini yang tak akan pernah bisa terbalas oleh apapun.

(8)

7. Kepada Keluarga besar W.S, Bude Su, Bude Ida,Wak Ilik, Imas, Ibu Nunung dan kakak kakak sepupu penulis yang telah mendukung penulis dalam menyelesaikan penulisan ini.

8. Kepada Pak Munir Usman selaku mantan walikota Defenif pertama Lhokseumaue yang telah membantu penulis dalam memberikan informasi yang detail mengenai Lhokseumaue.

9. Kepada Ibu Murniati selaku Kepala Bidang Layanan Arsip Statis Kotamadya Lhokseumawe yang telah membantu penulis dalam mencari dan memperoleh literatur-literatur yang sangat membantu dalam proses penulisan ini.

10. Kepada Teman saya Wisnu Ramadany Nasution S.Sos yang telah membantu saya dalam akses transportasi dan tempat tinggal saya selama di Lhokeseumaue.

11. Kepada Sahabat-sahabat penulis Widya Ummairoh Sudwi, Arkini Sabrina S.S, Ayuna Adha Tanjung S.S, Nurma Sari, Ita Servina Kaban, Marselina Megdewi, Falen Dina Siallagan, Ermanto Nainggolan, Muhammad Ibrahim, Marasutan Pulungan, Agam Adhikara, M. Saoultan Raliby, Dendy Reza, M. Agung Khatami S.S., Muhammad Fazly S.S, Miftah Nugraha Nasution, Dicky Hendardi Girsang S.S dan Agung Matius Simanjuntak S.S, terimakasih telah menjadi sahabat penulis yang selalu ada.

12. Kepada teman-teman Ilmu Sejarah angkatan 2016 yang telah bersama dengan penulis dalam proses perkuliahan hingga saat ini, terimakasih untuk pengelaman-pengalaman yang telah kita lewati bersama

Medan, Januari 2021 Penulis,

MAHZAR LUTHFI LUBIS NIM. 160706005

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

UCAPAN TERIMA KASIH ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

ABSTRAK ... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1.4 Tinjauan Pustaka ... 7

1.5 Metode Penelitian ... 10

BAB II GAMBARAN UMUM KOTAMADYA LHOKSEUMAWE 2.1 Gambaran Geografi ... 12

2.2 Penduduk ... 17

2.3 Pemerintahan ... 22

BAB III PROSES PERALIHAN LHOKSEUMAWE MENJADI KOTAMADYA 2001 3.1 Latar Belakang Peralihan Kotamadya Lhokseumawe ... 26

3.2 Proses Peralihan Lhokseumawe Menjadi Kotamadya tahun 2001 ... 31

(10)

BAB IV PERKEMBANGAN KOTAMADYA LHOKSEUMAWE 2001-2014

4.1 Wilayah ... 37

4.2 Ekonomi ... 41

4.3 Penduduk ... 46

4.4 Pemerintahan ... 52

4.5 Infrastruktur ... 55

4.5.1 Jalan Raya dan Jembatan... 57

4.5.2 Mesjid Islamic Center ... 60

4.5.3 Pendidikan ... 62

4.5.4 Waduk ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan... 67

5.2 Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

DAFTAR INFORMAN ... 73

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Luas Wilayah berdasarkan kecamatan tahun 2010 ... 14

Tabel 2 Jumlah Penduduk Kota Lhokseumawe Tahun 2010 ... 18

Tabel 3 Jumlah Fasilitas Ibadah di Kotamadya Lhokseumawe 2001-2014 ... 19

Tabel 4 Nama Mukim dan Nama Gampong ... 38

Tabel 5 Struktur Perekonomian dengan Minyak & Gas ... 45

Tabel 6 Jumlah Penduduk Kotamadya Lhokseumawe Tahun 2006 ... 47

Tabel 7 Jumlah Penduduk Kotamadya Lhokseumawe Tahun 2010-2012 ... 47

Tabel 8 Tingkat Kepadatan Penduduk di Kotamadya Lhokseumawe 2012 ... 48

Tabel 9 Jumlah Tangga di Kotamadya Lhokseumawe Tahun 2012 ... 49

Tabel 10 Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk menurut Kecamatan di Kotamadya Lhokseumawe ... 50

Tabel 11 Jumlah Sekolah SD, SMP, SMA, - Tahun 2014 ... 65

(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Masjid Islamic Center Kotamadya Lhokseumawe ... 61

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Peta Wilayah Kotamadya Lhokseumawe ... 75

Lampiran 2 Kantor Walikota Lhokseumawe ... 76

Lampiran 3 BAPPEDA Kota Lhokseumawe ... 76

Lampiran 4 Waduk Reservoir Pusong Lhokseumawe ... 77

Lampran 5 PT ARUN GAS NLG Lhokseumawe ... 77

Lampiran 6 Wawancara dengan Pak Munir Usman ... 78

Lampiran 7 Wawancara dengan Pak Asep... 78

Lampiran 8 Wawancara dengan Pak Syaiffudin Saleh ... 79

Lampiran 9 Wawancara dengan Pak Teuku Mohtar Mohammad Said ... 79

(13)

ABSTRAK

Kotamadya Lhokseumawe merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang diresmikan menjadi sebuah kotamadya otonom melalui pemekaran dari Kabupaten Aceh Utara sesuai peraturan perundang-undangan UU No.2 Tahun 2001 dan kemudian direalisasikan pemberlakuannya secara efektif berdasarkan PP No.60 Tahun 2002.

Pemekaran wilayah ini didasari oleh potensi potensi yang dimiliki oleh sebuah wilayah dalam mengatur anggaran dan administrasinya sendiri. Tujuan utama pemekaran sebuah wilayah pada periode reformasi selain alasan politik tentunya juga untuk efisiensi dari urusan-urusan administrasi pemerintahan maupun masyarakat dan akses-aksesnya.

Proses dalam lahirnya Lhokseumawe sebagai sebuah kotamadya mengalami hambatan dan banyak perdebatan karena unsur politiknya, sebelumnya Lhokseumawe yang merupakan kota administratif (pusat) dari administrasi Kabupaten Aceh Utara mengalami penolakan oleh wilayah induk Aceh Utara karena dianggap tidak perlu. Sementara itu Lhokseumawe dengan segala potensialnya dengan sebutan Petro Dolar itu mengalami beberapa konflik kemasyarakatan dan kesenjangan ekonomi. Untuk itu, dirasa perlu melakukan pemekaran untuk mendapatkan pemerintahan yang efisien dan bahkan memicu semangat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi disana.

Pemerintahan kotamadya Lhokseumawe sampai saat ini terus berusaha untuk mengembangkan kotamadya Lhokseumawe serta menyelesaikan konflik terutama dalam penyerahan aset statis kotamadya Lhokseumawe baik yang berupa tanpa syarat dan bersyarat. Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan studi pustaka dan studi wawancara tokoh penting serta masyarakat yang berada di Kotamadya Lhokseumawe dalam pengumpulan data. Sehingga penulis menguraikan data yang bersifat sensitif untuk dituliskan menjadi sebuah data yang objektif dan sesuai dengan kronologis peristiwa.

Kata Kunci : Lhokseumawe, Aceh Utara, Kotamadya, Otonomi Daerah

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kotamadya Lhokseumawe adalah salah satu kotamadya administratif di Kabupaten Aceh Utara. Kabupaten Aceh Utara tergolong sebagai kawasan industri terbesar di Provinsi NAD dan juga tergolong pusat industri terbesar di luar Pulau Jawa, khususnya industri pengolahan gas alam cair PT. Arun LNG di Lhokseumawe pada tahun 1974. Adapun di wilayah ini terdapat beberapa pabrik seperti Pabrik Kertas Kraft Aceh, Pabrik Pupuk AAF (Aceh Asean Fertilizer), dan Pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM).1

Kabupaten Aceh Utara dalam sektor pertanian, mempunyai reputasi sendiri sebagai penghasil beras yang sangat penting, maka secara keseluruhan Kabupaten tersebut merupakan daerah Tingkat II yang potensial di Provinsi NAD dengan pendapatan perkapita di atas Rp. 1. 400.000 tanpa migas atau Rp. 6.000.000 dengan migas. Ladang gas dan minyak ditemukan di Lhokseumawe, Ibukota Aceh Utara sekitar tahun 1970-an. Kemudian, Aceh pun mulai didatangi para investor luar negeri.

Sejak saat itu, gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) yang diolah oleh di kilang PT. Arun Natural Gas Liquefaction (NGL) Co, yang berasal dari instalasi PT.

Exxon Mobil dan Oil Indonesia (EMOI) di zona industri Lhokseumawe telah menyulap wilayah ini menjadi kawasan industri petrokimia modern.

1Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Utara, Sejarah Kabupaten Aceh Utara.

(15)

Kegiatan ekonomi Kabupaten Aceh Utara didominasi oleh dua sektor pertambangan dan sektor industri pengolahan. Pada sektor pertambangan, sumur- sumur gas yang diolah PT. EMOI tentu menjadi salah satu faktor keunggulan sektor ini. Dengan konstribusi Rp. 8, 6 triliun pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2000, ia menempati peringkat pertama dengan disusul oleh sektor industri sebesar Rp. 4,7 triliun.2 Hal ini yang menyebabkan Kabupaten Aceh Utara menjadi salah satu kabupaten yang diperhitungkan. Sumber daya alam yang melimpah mendukung terjadinya perkembangan bagi daerah-daerah di sekitarnya.

Terlebih daerah Kotamadya Lhokseumawe yang cukup potensial mengalami perkembangan yang signifikan. Kotamadya ini adalah kotamadya yang strategis karena dapat menghubungkan provinsi-provinsi lain di Sumatera bagian Utara dan Barat. Kotamadya Lhokseumawe dengan luas 18.106 Ha terdiri atas 4 Kecamatan yaitu Kecamatan Banda Sakti, Kecamatan Muara Dua, Kecamatan Muara Satu, Kecamatan Mangat.3

Kotamadya Lhokseumawe sebelah Utara berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Kotamadya Lhokseumawe terletak di antara 4’-5’ Lintang Utara dan Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata 13 meter di atas permukaan laut. Batas-batas wilayah Kotamadya Lhokseumawe sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kuta Makmur (Aceh Utara), sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Syamtalira

2Ibid.

3 A. Muhyi .Tata Kotamadya Daerah Perkembangan Fisik Kotamadya Lhokseumawe : Tinjauan Terhadap Penataan Ruang Kawasan Pusat Kta “Jurnal ., Vol.8 No.2 . Desember 2016.

(16)

Bayu (Aceh Utara).4 Lhokseumawe ditetapkan statusnya menjadi Kotamadya berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001, tanggal 21 Juni 2001 yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid. Pemekaran Kotamadya Lhokseumawe dengan statusnya sebagai ibukota pemerintah Kotamadya Lhokseumawe dan Ibukota kabupaten Aceh Utara serta sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi dan transpotasi. Perkembangan fasilitas perkotaan terutama perdagangan dan perkantoran umumnya berkembang di pusat kotamadya jalur kotamadya utama saja.5

Lhokseumawe sebagai daerah mempunyai sumber daya alam mineral dan tambang menjadikan banyak perusahaan besar menempati daerah tersebut sejak beberapa tahun yang lalu, sayangnya kekayaan sumber daya alam tersebut tidak dibarengi dengan angka kemiskinan yang setiap tahunnya justru semakin melonjak.6 Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini akan diberi judul Kotamadya Lhokseumawe Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam 2001 – 2014. Penulis tertarik membahas Kotamadya Lhokseumawe sebagai suatu tinjauan Sejarah Kotamadya karena penelitian ini membahas bagaimana kotamadya Lhokseumawe yang awalnya merupakan Ibukota administrative kabupaten Aceh Utara dan kemudian menjadi kotamadya tersendiri. Sementara itu, ibukota administratif Kabupaten Aceh Utara dipindahkan ke Lhoksukun. Hal tersebut menjadi alasan saya tertarik menulis ini

4Perkembangan Lhokseumawe dalam www. Lhokseumawekotamadya.go.id diakses pada 04 Oktober 2019 Pukul 12:59.

5Ibid.

6Wawancara, Wisnu, Lorong Haji Idris, 04 Oktober 2019.

(17)

untuk mengetahui bagaimana peralihan kotamadya Lhokseumawe yang dulunya sebagai Ibukota administratif Kabupaten dan sekarang sebagai kotamadya, selain itu saya akan melihat bagaimana perkembangan kotamadya Lhokseumawe sebelum dan sesudah menjadi kotamadya.

Adapun pembatasan tahun dalam penelitian ini yang penulis gunakan sebagai awal dari sebuah penelitian ini adalah tahun 2001 karena pada tahun tersebut Lhokseumawe disahkan menjadi sebuah kotamadya, sedangkan batasan akhir yang penulis gunakan adalah tahun 2014 karena disini terlihat bagimana perkembangan kotamadya Lhokseumawe adanya peningkatan lahan pembangunan perumahan, transportasi dan juga perkembangan fasilitas perkotaan terutama perdagangan dan perkantoran umumnya perkembangan di pusat kotamadya dan jalur utama kotamadya. Tahun 2014 juga terjadi perubahan peraturan undang-undang otonomi daerah yang merubah kotamadya menjadi kota otonom berdasarkan Undang-undang No 23 Tahun 2014.

(18)

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah merupakan bagian yang memuat lebih jelas tentang masalah yang ditetapkan dalam latar belakang masalah. Dengan kata lain, masalah itu diidentifikasikan dengan rumusan masalah yang secara eksplisit dalam urutan sesuai dengan rumusan masalah yang secara eksplisit dalam urutan sesuai dengan intensitas terhadap topik penelitian.

Melihat dari latar belakang masalah maka penulis memberikan rumusan masalah, yaitu

1. Bagaimana gambaran umum kotamadya Lhokseumawe ?

2. Bagaimana proses peralihan Lhokseumawe menjadi kotamadya 2001?

3. Bagaimana perkembangan Kotamadya Lhokseumawe tahun 2001-2014 ?

(19)

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Setelah melihat apa yang menjadi akar permasalahan yang akan dikembangkan oleh penulisan maka yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah apa yang menjadi tujuan penulisan dalam penelitian ini, serta manfaat yang di dapat oleh penulisan nantinya, karna pada dasarnya salah satu landasan awal dalam melakukan penelitian ini adalah perlunya diperhatikan beberapa tujuan dan manfaat yang nantinya akan dapat memberikan penjelasan baik kepada penulis sendiri maupun bagi pembaca yang akhirnya dapat dikembangkan dalam masyarakat luas.

Adapun yang menjadi tujuan daripada penelitian ini adalah:

1. Menjelaskan gambaran umum Lhokseumawe sebelum menjadi Kotamadya.

2. Menjelaskan proses peralihan Lhokseumawe menjadi kotamadya.

3. Menjelaskan perkembangan kotamadya Lhokseumawe dari tahun 2001- 2014.

Adapun yang menjadi manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Memberikan rujukan terbaru bagi penelitian sejarah perkotaan khusus Lhokseumawe sebagai kotamadya pada waktu berikutnya.

2. Memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat umum tentang proses perkembangan Kotamadya Lhokseumawe di Provinsi Nangro Aceh Darussalam.

3. Memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang sejarah Kotamadya Lhokseumawe sebelum dan sesudah menjadi Kotamadya.

(20)

1.4 Tinjauan Pustaka

Buku oleh Purnawan Basundoro Pengantar Sejarah Kotamadya (2012) yang membahas tentang pengertian kotamadya, karakteristik kotamadya, jenis-jenis kotamadya, dan seputaran hal yang berkaitan dengan kehidupan di perkotaan. Buku ini akan menjadi referensi dan acuan bagi penulis karena penelitian penulis berkaitan langsung dengan kehidupan perkotaan. Penulis melihat bahwa perkembangan Lhokseumawe sebagai kotamadya dapat dilihat dari beberapa pengetahuan yang berkaitan dengan yang terdapat di buku tersebut.

Buku oleh Raldi Hendro Koestoer dkk, Dimensi Keruangan Kotamadya (2001) buku ini menjadi rujukan bagi penulis karena didalam buku ini kita diarahkan bagaimana untuk memahami organisasi struktur keruangan kotamadya, didalam buku ini menjelaskan bahwa komponen dasar dalam terbentuknya mempunyai beberapa dasar unsur komponen seperti: penyebaran penduduk serta pola penyebaran pembangunan kesejahteraan, pola penyebaran pemukiman merupakan salah satu indikasi penyebaran konsentrasi penduduk sedangkan manusia sebagai pemegang peran penting dalam perubahan dimensi spasial perkotaan , khususnya dalam aspek nonfisik kotamadya, sehingga buku ini akan sangat membantu dalam menopang kebutuhan sumber dalam penulisan penulis.

Buku Riyono Pratikto dalam Komunikasi Pembangunan (1979) buku ini membahas tentang sosial dan pembangunan serta peran pembangunan dalam perubahan sosial serta komunikasi masyarakat dengan individu, komunikasi pembangunan atau perubahan tidak dapat dijalankan dengan seragam, melainkan harus pula diadakan pendekatan ekosistem di samping mempergunakan berbagai ilmu

(21)

pengetahuan yang lain, atau setidak-tidaknya bagian-bagian dari ilmu-ilmu pengetahuan lain itu yang bisa menunjang, bagian-bagian yang “action-oriented” dan

“goal-directed” (berorientasi kepada tujuan dan memiliki arah tujuan) sehingga buku ini akan sangat membantu penulis dalam pengerjaan karya ilmiah penulis.

Buku Melville C. Branch yang berjudul Perencanaan Kotamadya Komprehensif (1995), buku ini membahas tentang kajian sejarah yang akan

meyakinkan kita tentang adanya dua akar perencanaan kotamadya secara komprehensif, kajian didalam buku ini juga akan menyingkap tabir seberapa sering sejarah melakukan berulang kembali, untuk mencapai kemajuan secara ajeg yang sering diabaikan atau dilupakan, dan digantikan oleh pembatasan yang sama pada beberapa tahun atau beberapa abad kemudian, sehingga buku ini akan sangat membantu penulis dalam melihat arah pembangunan suatu kotamadya.

Buku Sirojuzilam yang berjudul Problematika Wilayah (2011), buku ini membahas tentang bagaimana tantangan dalam penanganan pembangunan suatu wilayah, bagaimana wilayah ditangani dengan sistem manajemen yang baik dan terararh, perencanaan wilayah yang baik hendaklah disusun sedemikian rupa sehingga permasalahan disuatu wilayah dapat diminimalisir, secara singkat buku ini menjelaskan bagimana permasalahan wilayah hendaklah ditangani secara terkoordinasi dan terencana yang dimana hal ini sangat kurang dirasakan oleh masyarakat sehingga buku ini menjadi salah satu dalam tinjauan pustaka penulis dalam memberikan arahan pembangunan kotamadya yang minim akan resiko baik penggusuran dan segala hal lainnya.

(22)

Buku oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang berjudul Pengembangan Wilayah dan Otonomi Daerah (2002) didalam buku ini menjelaskan secara ringkas apa apa saja yang harus dilakukan dalam suatu wilayah otonom untuk menuju kemandirian wilayah.

(23)

1.5 Metode Penelitian

Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan sejarah.7 Maka metode penelitian sejarah adalah instrumen untuk mengkontruksi peristiwa sejarah (history as past actully) menjadi sejarah sebagai sebuah kisah (history as written).8 Berdasarkan hal tersebut penulisan sejarah bertumpuh pada empat kegiatan yaitu heuristik, kritik, interprestasi, dan historiografi yang menjadi langkah operasional dalam penulisan sejarah.9

Istilah heuristik10 berasal dari kata “heuriskien” yang dalam bahasa Yunani berarti “menemukan”. Heuristik merupakan langkah pertama yang akan penulisan gunakan dalam penulisan ini. Pada tahap mengumpulkan data-data maka sumber- sumber yan dipakai berupa sumber primer maupun sekunder. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui studi kepustakaan (libraryresearch), yaitu berusaha mengumpulkan data melalui buku-buku, arsip, dokumen, majalah, artikel, dan media elektronik yang dianggap mempunyai kaitan dan dapat membantu penulisan untuk memahami permasalahan sehingga dalam hal ini sumber diperoleh dari Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Kotamadya Medan, Perpustakaan Universitas Malikulsalleh, Perpustakan Kabupaten Aceh Utara, Perpustakaan Kotamadya Lhokseumawe, Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Utara dan

7 Louis Gottschalk, 1998. Mengerti sejarah, terjemahan Nugroho Notousanto, Jakarta: UI pres hlm. 32.

8 A.Sobana, HS, 2008. Metode Penelitian Sejarah, Bandung, tanpa penerbit, hlm. 1.

9 M. Dien Madjid dan Johan Wahyudi, 2014. Ilmu sejarah : Sebuah Pengantar, Jakarta:

Prenada Media Grup, hlm. 217.

10 Suhartono W. Pranoto,2001. Teori dan Metologi Sejarah, Yogyakarta: Graha Ilmu, hlm.15.

(24)

Lhokseumawe, Jurnal, artikel, atau yang lainnya jika masih berkaitan terhadap penelitian. Selanjutnya pengumpulan data melalui kegiatan studi lapangan (field research), yaitu mengadakan wawancara terhadap tokoh-tokoh yang dianggap

mampu memberikan masukan-masukan yang berarti sebagai sumber penelitian dan penulisan melakukan wawancara terhadap staff pengurus administrasi Kotamadya Lhokseumawe dan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah Lhoksemauwe tersebut.

Kritik merupakan teknik berikutnya yang akan penulis gunakan. Sumber yang telah didapatkan akan dikritik secara internal dan eksternal untuk mendapatkan sumber yang objektif. Kritik internal ialah kritik yang akan menguji kebenaran dari suatu sumber berdasarkan isi sumber ataun isi dari informasi yang diberikan dan kritik eksternal ialah kritik penulis yang akan memilih sumber-sumber mana yang akan dijadikan sumber tulisan berdasarkan keaslian cetakan, tahun terbit, ejaan, bahasa. Sedangkan untuk wawancara penulis akan memilih keaslian infomasi melalui keterlibatan, sudah tinggal berapa lama, umur, dan lainnya.

Interpretasi yaitu tahap dimana penulis telah menuangkan semua ide yang didapatkan melalui sumber-sumber yang telah diuji keabsahannya serta membandingkan informasi dari beberapa narasumber dan asumsi masyarakat sehingga data yang dituliskan sesuai dengan objek yang diteliti.

Historiografi merupakan tahap akhir dalam metode yang telah digunakan untuk penulisan ini. Di tahap ini penulis telah menuliskan hasilnya secara deskripsi yang menjelaskan Kotamadya Lhokseumawe Tahun 2001 – 2014.

(25)

BAB II

Gambaran umum Kotamadya Lhokseumawe

2.1 Gambaran Geografi

Kotamadya Lhokseumawe adalah salah satu kotamadya di Provinsi Aceh yang berada persis ditengah-tengah jalur timur selatan, diantara Banda Aceh dan Medan, sehingga Kotamadya Lhokseumawe merupakan jalur distribusi dan perdangan yang sangat penting bagi Aceh. Nama Lhokseumawe berasal dari dua suku kata “Lhok” dan “Seumawe”. Lhok berarti : dalam, teluk, atau palung, sedangkan Seumawe artinya air yang berputar atau pusat mata air yang terletak pada laut sepanjang pantai Banda Sakti dan sekitarnya. Sehingga Lhokseumawe dapat diartikan sebagai wilayah yang berbentuk seperti Teluk yang dikelilingi oleh perairan.

Secara geografis Kotamadya Lhokseumawe berada pada posisi 04054- 05018 Lintang Utara dan 96021 – 97021’ Bujur Timur, dengan ketinggian tanah rata-rata

±24 meter di atas permukaan laut yang diapit oleh Selat malaka. Selain itu kotamadya ini secara regional memiliki letak yang strategis. terletak pada jalan utama yang menghubungkan Medan-Banda Aceh.11

Adapun batas-batas Kotamadya Lhokseumawe sebagai berikut : Sebelah Utara : berbatasan dengan dengan Selat Malaka, Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Kuta Makmur

(Kabupaten Aceh Utara),

11 Badan Pusat Statistik Kotamadya Lhokseumawe, 2010, Lhokseumawe dalam Angka 2010, Lhokseumawe. Pemerintah Kotamadya Lhokseumawe. hlm 13

(26)

Sebelah Timur : berbatasan dengan Kecamatan Syamtalira Bayu (Kabupaten Aceh Utara),

Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Dewantara (Kabupaten Aceh Utara).

Luas Kotamadya Lhokseumawe adalah 181,06 KM, tanah di kotamadya Lhokseumawe digunakan untuk permukiman seluas 10 877 ha atau sekitar 60% dari luas yang ada. Kebutuhan lahan yang paling menonjol adalah untuk usaha kebun campuran, luasnya 4.590 ha atau sekitar 25,35% wilayah kotamadya, selain itu untuk kebutuhan persawahan seluas 3 747 ha atau sekitar 21%. Kemudian untuk kebutuhan perkebunan rakyat telah dimanfaatkan seluas 749 ha atau sekitar 4% dan untuk lain–

lainnya.12

Secara administratif, Kotamadya Lhokseumawe dibagi ke dalam 4 (empat) wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Banda Sakti, Banda Muara Dua, Blang Mangat dan Muara Satu yang merupakan wilayah pemekaran dari kecamatan Muara Dua sejak tahun 2006. Keempat kecamatan ini melingkupi 9 pemukiman, dan 68 desa.

Muara Dua merupakan kecamatan yang memiliki wilayah yang luas. Kecamatan ini memiliki luas 57,80 Km atau luas wilah seluas 58,12 Km dan 31% dari luas Kotamadya Lhokseumawe. Sementara Banda sakti adalah kecamatan paling kecil luas wilayahnya yaitu hanya 11.24 Km atau 6,21% dari total luas daerah. kecamatan

12 Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja, 2018, Buku Profil Investasi Kotamadya Lhokseumawe, Lhokseumawe, Pemerintah Kotamadya Lhokseumawe. hlm 12.

(27)

Muara Satu sebagai wilayah pemekaran dari kecamatan Muara Dua memiliki luas 55,90 Km atau 30,87%.13

Tabel 1. Luas Wilayah berdasarkan kecamatan tahun 2010.

No. Kecamatan/Sub Distrik

Luas Wilayah / Area (Km2)

Persentase

%

1 Blang Mangat 56,12 31,00

2 Muara Dua 57,80 31,92

3 Muara Satu 55,90 30,87

4 Banda Sakti 11,24 6,21

Jumlah 181,06 100,00

Sumber: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kotamadya Lhokseumawe

Kondisi geologi14 wilayah Kotamadya Lhokseumawe merupakan lapisan geologi kepulauan yang terbentuk dari formasi vulkanik yang membeku dan membentuk gelombang dan mendatar kearah pantai, daerah bagian barat (daratan) lapisan tanah tersusun berupa batuan sedimen muda, yang terdiri dari lapisan lempung,lanua, krikil-kerikil licin, sisa-sisa tumbuhan.sedangkan pada bagian sebaran disepanjang pesisir pantai melebar keadarah daratan, termasuk wilayah Banda Sakti

13 https://bappeda.lhokseumawekotamadya.go.id/ diakses pada 5 Mei 2020 pukul : 17.25 WIB

14 Geologi adalah suatu daerah /wilayah/ kawasan dengan tingkat kualitas berdasarkan skkala yang menggambarkan informasi sebaran dan jenis serta sifat batuan, umur stratigrafi, struktur tektonik, fisiografi dan sumberdaya mineral serta energi.

(28)

sebagian merupakan daerah rawa,tambak, dengan lapisan tanah berupa silty clay, silty sandy berbutir halus dan bahan organis.15

Pembangunan yang sedang dan akan dilaksanakan di kotamadya Lhokseumawe selalu mempertimbangkan faktor lingkungan dan faktor sumber daya alam yang ada. Pembangunan wilayah ini hendaknya selalu didasarkan kepada pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana. Potensi sumber daya alam di Kotamadya Lhokseumawe mempunyai daerah perairan laut yang luas. Sumber daya alam laut yang masih sangat besar untuk dikembangakan antara lain aneka jenis ikan, budidaya kerapu, ikan kerapu, ikan hias, ramput laut, udang, kepiting dan mutira laut.

Lahan di daerah Kotamadya Lhokseumawe masi terbuka luas untuk dikelola,baik oleh pengusaha lokal maupun asing. Pusat pemerintahan Kotamadya Lhokseumawe sendiri berada di kecamatan Banda Sakti, dimana kegiatan perdangan sangat menonjol di daerah ini. Sedangkan kegiatan industri menonjol pada kecamatan Muara Dua dan Muara Satu. Kecamatan Blang Mangat menyimpan pontesi pertanian dan sumber daya alam.16

Dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung dikotamadya ini adalah industri dan perdagangan dimana perdagangan merupakan sektor yang utama. Terutama kegiatan transaksi pada jual beli kebutuhan sehari-hari. Wilayah kecamatan Blang Mangat mempunyai potensi pertanian dan sumber daya alam yang besar. Maka tidak heran jika di wilayah Kecamatan Blang Mangat masyarakatnya banyak berkerja

15 Op.cit. Buku Profil Investasi Kotamadya Lhokseumawe, hlm 13.

16 Ibid.hlm 14

(29)

dilapangan usaha dalam bidang pertanian. Kecamatan ini juga menjadi wilayah yang memiliki luas tanaman padi terluas di Kotamadya Lhokseumawe. Selain tanaman padi, wilayah ini terdapat juga menghasilkan produk tanaman pangan lain yang banyak dihasilakan dari kecamatan Blang Mangat seperti kacang tanah, kacang hijau dan ubi jalar. Terdapat juga hasil-hasil pertanian lainnya seperti ubi kayu di Meunasah Dayah, cabai di Paloh Pineng, Paloh Batee, Paloh Punti, Meunasah Alue, pepaya di Padang Sakti, lada di Blang Panyang dan Blang Puloh.17

17 Dinas Penanaman Modal Kotamadya Lhokseumawe, 2013, ”Buku Profil Investasi Kotamadya Lhokseumawe”, Pemerintah Kotamadya Lhokseumawe, Kuta Blang Lhokseumawe, hlm 22.

(30)

2.2 Penduduk

Penduduk di Kotamadya Lhokseumawe sangat heterogen, hal ini disebabkan karena terjadinya migrasi penduduk desa ke kotamadya tersebut. Setelah Kotamadya Lhokseumawe ditetapkan sebagai kotamadya otonomi maka banyak masyarakat dari luar Aceh bermigrasi untuk mencari pekerjaan dan menetap disini. Etnis asli penduduk yang bermukim di Lhokseumawe awalnya adalah etnis Aceh, kemudian setelah berkembang hingga menjadi kotamadya banyak etnis pendatang yang bermukin di wilayah ini sehingga menjadi heterogen seperti etnis Jawa, Minang, Toba, Tionghoa.

Pada tahun-tahun awal pembentukan kota Lhokseumawe belum diadakannya sensus penduduk dikarenakan masih berfokus pada penyusunan structural pemerintahan. Penduduk di Kotamadya Lhokseumawe pada tahun 2010 tercatat berjumlah 171.163 jiwa, terdiri dari 85.436 jiwa laki-laki dan 85.727 jiwa perempuan.

Persebaran penduduk lebih banyak berada di Kecamatan Banda Sakti sebagai pusat Pemerintahan Kotamadya Lhokseumawe dan sekaligus masih merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Aceh Utara.

(31)

Tabel 2 Jumlah Penduduk Kota Lhokseumawe Tahun 2010

Kecamatan Jumlah Persentase

Banda Sakti 72.977 (42,89%)

Muara Dua 44.209 (26,11%)

Muara Satu 31.723 (18,34%)

Blang Mangat 21.689 (12,65%)

Sumber : Lhokseumawe dalam angka Tahun 2010

Dibandingkan dengan tahun 2009, penduduk Kotamadya Lhokseumawe pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 0,37%.18

Meskipun wilayah Kotamadya Lhokseumawe penduduknya mayoritas beragama Islam, terdapat pula masyarakat yang memeluk agama Katolik,Protestan, Buddha, dan Hindu. Penduduk di Kotamadya Lhokseumawe menetap atau bertempat tinggal secara terpisah berdasarkan agama yang mereka anut. Hal ini juga sering terjadi di kotamadya-kotamadya lainya, wilayah agar terciptanya keteraturan letak tempat ibadah masing-masing pemeluk agama. Penduduk yang non muslim dari segi budaya berpakaian justru cenderung mengikuti atau menyesuaikan dengan penduduk setempat sebagai bentuk saling menghargai.

18 Badan Pusat Statistik Kotamadya Lhokseumawe, 2014, Lhokseumawe dalam Angka 2014, Lhokseumawe. Pemerintah Kotamadya Lhokseumawe. hlm 21

(32)

Tabel 3. Jumlah Fasilitas Ibadah di Kotamadya Lhokseumawe 2001- 2014.

Fasilitas Ibadah Total Unit

Masjid 118 Unit

Mushala 76 Unit

Gereja 1 Unit

Biara 1 Unit

Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka 2013.

Kondisi wilayah kotamadya Lhokseumawe yang berbentuk seperti teluk dan dikelilingi oleh air sangat cocok bagi pelabuhan, mulai dari Banda Sakti, sampai Ujong Blang, Pusong dan Cunda. Jembatan Cunda yang menghubungkan kotamadya Lhokseumawe dengan perbatasan wilayah Sumatera Utara menghubungkan perdagangan antara wilayah Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara, oleh karena itu sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai pedagang. Mata pencaharian penduduk selain berdagang adalah Pegawai Negeri Sipil, Karyawan Swasta, Nelayan, Guru, dan lainnya.

Pekerjaan yang menjanjikan atau yang memberikan pendapatan kepada penduduk lebih besar adalah pekerjaan sebagai karyawan swasta dan nelayan.

Kebanyakan penduduk setelah selesai atau lulus sekolah maupun sarjana lebih memutuskan untuk beralih menjadi nelayan. Pekerjaan nelayan tidak semerta-merta dijalankan sendiri / per individu, hasil pendapatan dari menangkap hasil laut

(33)

kemudian dibagi berdasarkan tugas dan peran dari masing-masing yang ikut serta baik sebagai penangkap ikan, penyedia kapal, nakhoda, pedagang pasar, dan lainnya.

Hal ini dikenal oleh masyarakat pesisir Lhokseumawe dengan istilah rakan.19

Selain itu, alasan penduduk lebih memilih bekerja sebagai nelayan dikarenakan sebelumnya pusat industri kotamadya Lhokseumawe memakai tenaga kerja dari luar. Hanya beberapa saja yang dapat mengisi atau bekerja di perusahaan- perusahaan swasta basis industri di Kotamadya Lhokseumawe ini dengan posisi sebagai satpam/security. Putra daerah atau penduduk asli sangat jarang sekali diterima menjadi pegawai / karyawan swasta di perusahaan disebabkan oleh perbedaan skill serta lintas ilmu yang diajarkan sehingga tidak dapat bersaing di perindustrian kotamadya Lhokseumawe.20

Penduduk yang mata pencahariannya berdagang biasanya adalah orang-orang Tionghoa yang sudah menetap di sini. Kemudian Pegawai Negeri Sipil dan Karyawan Swasta kebanyakan adalah orang-orang pendatang seperti orang Toba dan Jawa.

Sedangkan untuk profesi Guru kebanyakan orang-orang Lhokseumawe asli.

Selebihnya masih mengandalkan pekerjaan sebagai nelayan karena letak geografisnya yang seperti teluk dan merupakan pesisir pantai.

Terdapat kesenjangan sosial antara penduduk di Lhokseumawe bahkan sudah dimulai sebelum disahkannya wilayah ini menjadi kotamadya. Terjadi persaingan daya beli yang dihadapi oleh masyarakat yang bekerja sebagai karyawan swasta dan

19 Wawancara dengan Syatriah 12 Juli 2020

20 Ibid.

(34)

masyarakat yang bekerja sebagai nelayan, pegawai negeri sipil, guru, dan lainnya.

Sebelumnya para pedagang lebih mempercayai pembeli yang bekerja sebagai karyawan swasta pabrik dan melayaninya dengan baik. Sedangkan, untuk profesi lainnya bahkan untuk berhutang saja pun tidak dipercayai oleh pedagan meskipun bekerja sebagai pegawai negeri sipil sekalipun.21

21 Ibid.

(35)

2.3 Pemerintahan

Berdasarkan sejarah pemerintahannya wilayah Lhokseumawe merupakan salah satu Kewedanan di Afdeeling Noord Kust Aceh.22 Pasca kemerdekaan kewedanan diganti menjadi kecamatan dan Afdeeling menjadi kabupaten. Selanjutnya semenjak wilayah-wilayah di provinsi Sumatera Utara ditetapkan sebagai Kabupaten- kabupaten berdasarkan Undang-undang DRT Nomor 7 Tahun 1956 maka ditetapkan pula Aceh Utara sebagai kabupaten di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dipimpin oleh seorang Bupati pertama bernama Teuku Wahab Dahlawy dan Lhokseumawe direncanakan sebagai ibukota administrasinya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, wilayah Lhokseumawe berpeluang menjadi kotamadya administratif.

Pada tanggal 14 Agustus 1986, dengan Peraturan Daerah Nomor 32 Tahun 1986 pembentukan kotamadya administratif Lhokseumawe ditanda tangani oleh Presiden Soeharto, dan kemudian diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Soeparjo Roestam pada tanggal 31 Agustus 1987. Tujuan dalam pembentukan kotamadya Administratif Lhokseumawe dalam rangka untuk meningkatkan kegiatan penyelenggaran pemerintah secara tertata rapi, dan merupakan sarana bagi pembinaan wilayah serta merupakan unsur pendorong yang kuat bagi usaha peningkatan laju pembangunan. Lahirnya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, Bupati Aceh Utara Ir. Tarmizi Karim melanjutkan usaha-usaha untuk

22 Afdeeling Noord Kust Aceh Utara dibagi dalam 3 Onderafdeeling (Kewedanan) yang dikepalai seorang Controleur (wedana) yaitu : Onderafdeeling Bireun Onderafdeeling Lhokseumawe Onderafdeeling Lhoksukon.

(36)

meningkatkan status Lhokseumawe dari kotamadya Administratif menjadi Kotamadya yang setara dengan tingkat II lainnya. Pejabat Walikota administratif Drs.

H. Rahmadsyah, M.M pada saat itu ditunjuk sebagai pelaksana Negossiator.23

Drs. Rahmadsyah, M.M mengusulkan 5 kecamatan yang akan dijadikan sebagai wilayah administratif Kotamadya Lhokseumawe yaitu :

1. Kecamatan Banda Sakti 2. Kecamatan Muara Dua 3. Kecamatan Dewantara 4. Kecamatan Muara Batu 5. Kecamatan Blang Mangat

Dengan kegigihan dan sikap pantang menyerah Drs. H. Rahmadsyah dalam kurun waktu singkat kurang lebih 1 tahun Lhokseumawe berhasil ditingkatkan statusnya dari ibukota administratif menjadi Kotamadya Defenitif (maksudnya adalah yang independent atau berdiri sendiri). Pada tanggal 17 Oktober 2001 , Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid meresmikan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2001, dan baru ditanda tangani oleh Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri pada 21 Juni 2001. Setelah itu secara resmi kotamadya Lhokseumawe berkedudukan sebagai Daerah Tingkat II yang sah dengan 3 Kecamatan yang diakui meskipun sebelumnya mengsulkan 5, adapun kecamatan tersebut yaitu :

1. Kecamatan Banda Sakti 2. Kecamatan Muara Dua

23 Wawancara dengan Syaiffudin Saleh pada tanggal 18 November 2020

(37)

3. Kecamatan Blang Mangat

Berdasarkan peraturan tersebut pada 2 Nvember 2001 oleh Gubernur Ir. H Abdullah Puteh, M.Si atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik pejabat Walikota Lhokseumawe yaitu menunjuk Bapak Drs. Rahmatsyah, M.M sebagai walikota pertama Kotamadya Lhokseumawe. Setelah pelantikan Plt.

Walikota Lhokseumawe dalam jangka waktu yang relatif singkat kurang lebih 3 bulan Walikota Lhokseumawe membentuk Struktur Organisasinya sendiri dan kantor dibawah kepemimpinan Kotamadya Lhokseumawe yang terdiri atas 3 Asisten, 4 Kepala bagian, 5 Dinas, dan 2 Kantor. Adapun pembagian sebagai berikut :

(38)

Posisi Nama

Asisten 1. Drs. Bachtiar Abdullah (sebagai Asisten Tatapraja / AS.1)

2. M.Rizal, S.H, M.Si (sebagai Asisten Ekobang / AS.II)

3. Drs. T.M. Yunus (sebagai AS III merangkap setdako)

Kepala Bagian 1. Taufan, S.H, M.Si (Sebagai Kabag Umum)

2. Dra. Agustina Purjanti, M.Si ( Kabag Pemerintahan)

3. Drs. Thantawi Ishak dan Drs. T.

Maimun (Kabag Keuangan) 4. Ir. Maimun (Kabag Pembangunan) Kepala Dinas 1. Kepala Dinas Kimpraswil (Ir. Surya

Darma)

2. Kepala Dinas Kesehatan (Dr. Rahmat Suryadi)

3. Kepala Dinas P dan K (Mohammad Ilyas, S.E, M.M)

4. Kepala Dinas Pendapatan dan PSDA (Drs. Ismail Haji)

Kantor 1. Kepala Kantor Kebersihan : M.Yusuf

2. BAWASD : Drs. Ridwan Alamsyah

Camat 1. Drs Zakaria (Banda Sakti)

2. Saifudding Saleh,, S.H (Muara Dua) 3. Drs. Musli (Blang Mangat).

(39)

BAB III

PROSES PERALIHAN LHOKSEUMAWE MENJADI KOTAMADYA 2001

3.1 Latar Belakang Peralihan Kotamadya Lhokseumawe

Pada awalnya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemerintahan daerah pasca kemerdekaan diatur dalam Undang-undang No. 1 tahun 1945. Peraturan perundang-undangan yang kemudian diberlakukan ini masih terfokus pada cita-cita kedaulatan rakyat melalui pembentukan badan perwakilan tiap daerah.

Dalam undang-undang ini ditetapkan tiga jenis daerah otonom, yaitu keresidenan, kabupaten, dan kotamadya. Periode berlakunya undang-undang ini sangat terbatas.

Sehingga dalam kurun waktu tiga tahun belum jelas peraturan pemerintahan yang mengatur mengenai penyerahan urusan (desentralisasi) kepada daerah.

Kemudian pada tahun 1948 peraturan Undang-undang No.1 tahun 1945 digantikan dengan Undang-undang Nomor 22 tahun 1948. Dalam peraturan perundang-undangan ini ditetapkan dua bentuk wilayah otonom yakni daerah otonom biasa dan daerah otonom istimewa, juga tingkatan daerah dibagi menjadi provinsi, kabupaten/kotamadya besar, dan desa/kotamadya kecil. Beberapa daerah ditetapkan menjadi daerah otonom istimewa seperti Yogyakarta, Jakarta, Bulungan, Kalimantan Barat, Aceh, dan lainnya. Setelahnya beberapa undang-undang yang menggantikan produk perundang-undangan ini dianggap sebagai “eksperimen politik” UU Nomor 1 tahun 1957 (yaitu pengaturan tunggal pertama yang berlaku seragam untuk seluruh Indonesia), UU Nomor 18 tahun 1965, dan UU Nomor 5 tahun 1974. Dianggap

(40)

sebagai eksperimen politik dikarenakan anggapan terhadap peraturan otonomi ini dapat menimbulkan pemikiran-pemikiran yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 5 tahun 1974 adalah yang paling lama bertahan selama 25 tahun hingga akhirnya diganti oleh Undang-undang Nomor 22 tahun 1999.

Kehadiran Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tidak terlepas dari perkembangan situasi yang terjadi pada masa itu, dimana rezim otoriter orde baru lengser dan semua pihak berkehendak untuk melakukan reformasi disemua aspek negara. Berdasarkan kehendak reformasi itu, sidang Istimewa MPR tahun 1998 yang lalu menetapkan ketetapan MPR Nomor XV/MPR/1998 Tentang penyelenggaraan otonomi daerah;

pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya nasional, yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pelaksanaan otonomi daerah secara nyata diterapkan dikarenakan ketidakpuasan masyarakat yang berada di daerah yang kaya sumber daya alam namun kehidupan masyarakatnya tetap berada dibawah garis kemiskinan. Walaupun secara Undang-Undang sudah sering diterbitkan namun dalam kenyataannya pengelolaan kekayaan alam dan sumber daya alam daerah masih diatur oleh pusat. Sehingga masyarakat daerah yang kaya sumber daya alamnya merasa sangat dirugikan. Pada masa reformasi mereka menuntut dilaksanakannya otonomi daerah. Sehingga lahirlah UU no 22 tahun 1999 dan pelaksanaan otonomi daerah mulai terealisasi sejak tahun 2000 secara bertahap. Pada pasal 2 Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi, Daerah

(41)

Kabupaten, dan Daerah Kotamadya yang bersifat otonom. Setelah sebelumnya Aceh Utara dijadikan Kabupaten pada tahun 1974 dan Lhokseumawe ditetapkan sebagai kotamadya administratifnya, kemudian setelah disahkannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 Lhokseumawe berpotensi sebagai Kotamadya otonom dengan beberapa pertimbangan yang ditetapkan pada Undang-undang No.2 tahun 2001 yaitu :

1. Bahwa dengan perkembangan dan kemajuan Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada umumnya, dan Kabupaten Aceh Utara pada khususnya, serta adanya aspirasi yang berkembang dalam masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dengan mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri, perlu meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan guna menjamin perkembangan dan kemajuan pada masa yang akan datang;

2. Bahwa dengan memperhatikan hal tersebut di atas dan kemajuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, jumlah penduduk, luas daerah, dan pertimbangan lainnya di Kotamadya Administratif Lhokseumawe Kabupaten Aceh Utara, serta meningkatnya beban tugas dan volume kerja di bidang penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah di Kabupaten Aceh Utara, perlu membentuk Kotamadya Lhokseumawe sebagai daerah otonom.

Berdasarkan pertimbangan tersebut dalam pasal 2 dan pasal 3 Undang-undang Nomor 2 tahun 2001 Kotamadya Lhokseumawe ditetapkan sebagai Kotamadya di

(42)

wilayah Provinsi Daerah Istimewa Aceh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Kotamadya Lhokseumawe terdiri dari sebagian Aceh Utara yaitu :

a. Kecamatan Muara Dua;

b. Kecamatan Banda Sakti; dan c. Kecamatan Blang Mangat.

Salah satu faktor lainnya yang menjadi latar belakang ditetapkannya Lhokseumawe sebagai Kotamadya otonom adalah berkembangnya zona industri seperti pabrik gas alam, pabrik pupuk, serta sektor pertambangan dan penggalian.

Sekitar tahun 1970-an ditemukan lading gas dan minyak di Lhokseumawe yang pada saat itu merupakan ibukota administratif Kabupaten Aceh Utara. PT Arun Natural Gas Liquefaction merupakan perusahaan gas terbesar yang dibuka pada tahun 1974 di Lhokseumawe. Perusahaan ini merupakan penyumbang devisa terbesar bagi wilayah Lhokseumawe dan Indonesia. Setelahnya Aceh mulai didatangi para investor luar negeri yang tertarik pada sumber daya alam disini dan kemudian wilayah Lhokseumawe berubah menjadi kawasan industri petrokimia modern.

Selain itu pada sektor pertambangan yang paling unggul didominasi oleh PT.

Exxon Mobil Oil, perusahaan ini tercatat berkontribusi sebanyak 8,6 triliun pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2000. Beberapa perusahaan lainnya membentuk zona industri lainnya seperti PT Pertamina, PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM), PT Pelindo 1, dan Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) terdiri dari 3 (tiga) kawasan, yaitu kompleks kilang Arun, Kecamatan Dewantara serta Desa Jamuan yang merupakan lokasi pabrik PT KKA. Sebagai faktor pendukungnya telah dibangun prasarana secara fisik seperti jalan dan infrastruktur logistik juga

(43)

ditingkatkan seperti pelabuhan dan dermaga di desain khusus untuk standar internasional, serta pembangunan bangunan administrasi lainnya. Selanjutnya perkembangan inilah yang menjadi wajah baru bagi Lhokseumawe dan mencirikannya sebagai daerah yang berpotensi menjadi kotamadya otonom.

Selain itu adapun tujuan dalam pembangunan menciptakan pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi, perubahan social, mengurangi atau menghapuskan kemiskinan, mengurangi ketimbangan dan pengangguran. Sejalan dengan hal tersebut,maka pembangunan ekonomi yang ada di kotamadya Lhokseumawe menghendaki adanya kerjasama diantar pemerintah. Masyarakat juga ikut dalam mengelola sumber daya yang dimiliki oleh kotamadya Lhokesumawe tersebut dalam rangka meningkatkan pertumbahan ekonomi dan lapangan kerja secara seluas- luasnya. Indikator dalam keberhasilan pembangunan ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya ketimpangan baik di dalam distribusi pendapatan pendudukan maupun antar wilayah.

(44)

3.2 Proses peralihan Lhokseumawe menjadi Kotamadya tahun 2001

Pada tahun 1974 setelah kotamadya Lhokseumawe ditetapkan sebagai kotamadya administratif dari Kabupaten Aceh Utara menjadi pusat dari segala urusan administrasi baik pemerintahan, ekonomi, penduduk, industri, dan lainnya. Industri di Kabupaten Aceh Utara juga kebanyakan terletak di beberapa kecamatan yang notabenenya saat ini berada di lingkup administratif Kotamadya Lhokseumawe.

Lhokseumawe yang awalnya sangat terkenal dengan potensi alamnya yaitu gas alam cair (Liquefied Natural Gas). Seluruh perusahaan yang berkembang di wilayah ini menggunakan gas alam cair ini sebagai bahan dasar atau tenaga utama untuk menjalankan pabrik-pabriknya.

Seiring dengan pesatnya perkembangan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam sektor industri sedikit banyaknya sangat-sangat berperan besar dalam menjadi potensi vital bagi kotamadya Lhokseumawe. Wilayah Lhokseumawe tercatat merupakan wilayah dengan penghasilan industri terbesar di provinsi Aceh sehingga orang-orang banyak menyebut wilayah ini sebagai negeri “Petro Dolar”. Julukan petro dolar ini melekat sebagai identitas kotamadya Lhokseumawe yang hingga dalam prosesnya menjadi kotamadya.24

Akan tetapi, selain bergantung pada julukan petro dolar yang artinya didominasi akan pusat industri. Wilayah Lhokseumawe juga dipertimbangkan untuk dijadikan kotamadya berdasarkan potensi kelautan, dimana wilayah Lhokseumawe memiliki garis pantai lebih dari 18 Km. Kotamadya Lhokseumawe memiliki hasil

24 Wawancara dengan Syaiffudin Saleh pada tanggal 27 Agustus 2020

(45)

laut yang cukup besar mengingat wilayah ini berbentuk teluk dan dialiri oleh dua muara sungai.25

Penghasilan dari potensi-potensi tersebut membuat kotamadya Lhokseumawe dijadikan sebagai pusat dari kabupaten Aceh utara. Padahal sebelumnya lingkup pemerintahan Aceh Utara juga mencakup wilayah Bireun, dan Lhoksukon.

Lhokseumawe menyumbangkan PDRB yang sangat besar untuk kabupaten Aceh Utara. Untuk itu, anggaran daerah yang diperoleh oleh kabupaten Aceh Utara pada saat itu berlebih dan tidak mampu untuk dihabiskan.

Selanjutnya atas dasar perhitungan ekonomi dan anggaran tersebut muncul beberapa gagasan dari penduduk kotamadya Lhokseumawe bahwa anggaran dana yang berlebihan tersebut dapat membiayai sebuah daerah baru. Oleh karena itu muncul pengusulan untuk memekarkan wilayah Aceh Utara, sehingga Lhokseumawe, Bireun, Aceh Utara berpotensi dipecah menjadi wilayah otonom yang berbeda.

Beberapa anggapan mengatakan hal tersebut adalah sebuah permasalahan politik dalam mencari kekuasaan atau posisi di pemerintahan Aceh Utara. Namun pada dasarnya tujuan dimekarkannya wilayah-wilayah tersebut untuk mendapatkan efisiensi pemerintahan dalam pengelolaan anggaran.

Pada prosesnya pemerintah RI setelah menerbitkan UUD No. 02 tahun 2001 sebagai peraturan penetapan wilayah-wilayah otonom di Indonesia diperjelas dengan PP No. 60 tahun 2002 tentang pemberlakuan secara efektif UUD No. 02 tahun 2001 dan tentang pembentukan Lhokseumawe sebagai kotamadya. Pada tanggal 17

25 Ibid.

(46)

Oktober 2001 kotamadya Lhokseumawe dicanangkan sebagai salah satu dari 12 kotamadya yang akan diresmikan sebagai kotamadyamdya di Indonesia. Peraturan ini dikeluarkan oleh departemen dalam negeri yang saat itu dijabat oleh H. Sabarno.26

Proses ini mengalami beberapa hambatan sebelum mencapai peresmiannya.

Hambatan dalam meresmikan Lhokseumawe sebagai kotamadya justru datang pada daerah induk kabupaten Aceh Utara yang tidak ingin melepas Lhokseumawe menjadi kotamadya dengan otonomi tersendiri.pihak Aceh Utara membentuk sebuah tim dan mengirim surat pembatalan ke departemen dalam negeri agar tidak meemkarkan wilayah Lhokseumawe. mereka memberikan pendapat di UI pada tahun 2001 saat siding pembahasan. Peresmian kotamadya Lhokseumawe yang difasilitasi oleh departemen dalam negeri. Statemen atau alasan yang diberikan oleh pemerintah kabupaten Aceh Utara untuk membatalkan peresmian kotamadya Lhokseumawe sebagai kotamadya adalah karena kondisi Aceh Utara pada saat itu sedang menghadapi konflik. Konflik dimana penduduk asli menganggap tidak makmur karena industri yang berada di Lhokseumawe tidak mempekerjakan penduduk asli dengan kata lain mendatangkan pekerja dari kotamadya Lhokseumawe sehingga tidak mungkin rasanya untuk melahirkan daerah baru tanpa membenahi hal tersebut terlebih dahulu.27

26 Ibid.

27 Wawancara dengan Teuku Mohtar Mohammad Said pada tanggal 18 Desember 2020

(47)

Namun pihak Lhokseumawe mengutus tim dan membantah alasan pembatalan hal tersebut. Terdapat anggapan bahwa perlu dilakukannya pemberdayaan pemerintahan untuk melahirkan semangat baru dan bahkan menghentikan konflik.

Mendengar hal tersebut pihak departemen dalam negeri mengadakan akses lanjutan siding dengar pendapat dengan DPR-RI. Hasilnya DPR memutuskan untuk tetap melanjutkan pembahasan mengenai pembentukan Lhokseumawe menjadi kotamadya dengan membentuk panjah untuk menginput inventarisasi masalah yang berada di Lhokseumawe. Pihak yang memperjuangkan Lhokseumawe menjadi kotamadya termasuk adalah walikota administratif Lhokseumawe bapak. Drs. H. T. Rahmadsyah MM. Untuk memberikan data-data kepada departemen dalam negeri. Dalam timnya pak Rahmadsyah dibantu oleh bapak Syaiffudin Saleh sebagai subag informasi dan perundang-undangan kabupaten Aceh Utara, Drs. Zakaria sebagai kaseksi pemerintah kotamadya Lhokseumawe, dan Drs. T. Maimun sebagai subag keuangan.28

Bapak Drs. T. Rahmadsyah dan bapak Marzuki Amin ditunjuk sebagi PJ atau penanggung jawab sebagi walikota kotamadya Lhokseumawe. mereka merupakan orang-orang yang ditugaskan dalam merintis tata kelola pemerintahan, penyusuna suprastruktur pemerintahan, dan beberapa program pembangunan. Tetapi pada periode awal penanggung jawab hanya ditugaskan untuk memilih kepala daerah serta meletakkan kerangka dasar dari tata kelola pemerintahan baik legislative maupun

28 Wawancara dengan Syaiffudin Saleh pada tanggal 9 September 2020

(48)

eksekutif, dibandingkan dengan memulai pembangunan infrastruktur meskipun penanggung jawab sudah punya rencana pembanguan kedepannya.29

Setelah menjadi kotamadya, wilayah Lhokseumawe justru tidak mengalami masalah apapun seperti yang dikhawatirkan oleh wilayah Induk Aceh Utara. Pada periode awal pemerintahan kotamadya Lhokseumawe menghadapi situasi dimana harus fokus dalam menata pemerintahan serta kepegawaian di setiap daerah kecamatan maupun desa-desa sebagai penanggungjawab untuk menginventarisasi masalah-masalah skala kecil.

Pelaksanaan fokus pada penataan kepegawaian dan pemerintahan dimaksudkan untuk menciptakan efisiensi pemerintahan dalam pengelolaan anggaran.

Bukan berarti pada masa sebelumnya terjadi penyelewengan dan tidak mampu dalam mengelola anggaran. Akan tetapi melihat kesempatan dan peluang lebih dalam menghasilkan anggaran dan bahkan memisahkan anggaran guna menambah pembangunan secara fisik.

Pembangunan secara fisik hanya dapat dilihat sedikit saja seperti renovasi bangunan dan pembangunan beberapa Gedung kantor administrasi pemerintahan kotamadya Lhokseumawe. Sudah terbentuk BAPPEDA, sekolah, jalan, taman, dan Gedung lainnya. Kantor walikota yang menjadi kantor resmi kotamadya Lhokseumawe menggunakan kantor lama bekas kantor Kotib sebelumnya.30

29 Ibid.

30 Ibid.

(49)

Sementara itu kabupaten Aceh Utara menempatkan pusat administrasi pemerintahannya di Lhoksukon. Lhoksukon dipilih karena wilayahnya strategis dan dapat menjangkau urusan-urusan administrasi kependudukan dan lebih dekat dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang industri gas alam cair. Selain itu juga terjadi tolak-tarik aset antara kotamadya Lhokseumawe dengan wilayah Aceh Utara yang masih belum menerima sepenuhnya kotamadya Lhokseumawe menjadi kotamadya yang berdiri sendiri.

Sementara itu, di tingkat internal kotamadya tantangan juga muncul dalam upaya memenuhi tingkatan permintaan terhadap pelayanan publik, seperti transportasi massal, air bersih dan sanitasi, energi, perumahan dan pekerjaan yang layak, serta lingkungan yang aman, bersih dan sehat. Kondisi lapangan menunjukkan bahwa perkembangan kotamadya yang terjadi selalu ditandai dengan meningkatnya kemacetan, polusi, kriminalitas, dan rendahnya mutu pelayanan publik. Pada bidang manajemen perkotaan, kotamadya-kotamadya lainnya juga masih mengalami problem penanganan kemiskinan perkotaan, semrawutnya sektor informal, lemahnya antisipasi terhadap pendatang (migran masuk) lemahnya penegakan tata ruang dan pasar tanah perkotaan, dan meningkatnya segregasi sosial.31

31 Budhy Tjahj , dkk,2005, Pembangunan Kotamadya Indonesia dalam Abad 21 Konsep dan Pendekatan Pembangunan Perkotamadyaan di Indonesia, Jakarta, Urban and Regional Development Instituut, hlm 14.

(50)

BAB IV

PERKEMBANGAN KOTAMADYA LHOKSEUMAWE 2001-2012

4.1 Wilayah

Pasca ditetapkannya Lhokseumawe menjadi sebuah kotamadya yang terpisah urusan administrasi pemerintahannya terhadap Kabupaten Aceh Utara. Berdasarkan Undang-undang No.2 Tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001 tentang pembentukan kotamadya Lhokseumawe yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia saat itu Abdurrahman Wahid dimana kotamadya Lhokseumawe mencakup tiga kecamatan yaitu :

1. Kecamatan Banda Sakti 2. Kecamatan Muara Dua 3. Kecamatan Blang Mangat

Pada tahun 2006 Kecamatan Muara Dua mengalami pemekaran sehingga menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Muara Dua dan Muara Satu sehingga Kecamatan di kotamadya Lhokseumawe mengalami perubahan menjadi 4 kecamatan.

Melalui 4 kecamatan tersebut kemudian dibagi lagi menjadi 9 kemukiman, 68 gampong, dan 272 dusun.32

Topografi wilayah kotamadya Lhokseumawe khususnya di wilayah kecamatan Banda Sakti sebagian besar merupakan dataran rendah berbentuk oval dengan ketinggian kurang lebih 1 meter dan menurun hingga ketinggian 0-0,5 meter

32 Buku profil Investasi Kotamadya Lhokseumawe, Op.cit, hlm 11

(51)

ke arah tenggara. Tidak ada kemiringan ekstrim di kecamatan Banda Sakti kecuali di bagian luar wilayah pusat Kotamadya.

Berikut nama kecamatan beserta gampong yang berada di kotamadya Lhokseumawe :

Tabel 4 Nama Mukim dan Nama Gampong

Sumber : Lhokseumawe Dalam Angka 2012

(52)

Kotamadya Lhokseumawe mempunyai daerah perairan laut yang luas.

Sumber daya alam laut yang sangat besar dapat dikembangkan antara lain seperti aneka jenis ikan, budidaa kerapu, ikan hias, rumput laut, udang, kepiting dan mutiara laut. Aneka biota laut tersebut selain untuk diijadikan sebagai bahan konsumsi sehari hari, juga mempunyai potensi sebagai bahan baku industri, terutama industri di bidang farmasi.33

Lahan di wilayah Kotamadya Lhokseumawe masih terbuka luas dan banyak tersedia untuk dikelola, baik oleh pengusaha lokal maupun asing. Penggunaan lahan di kotamadya Lhokseumawe yang terbesar digunakan sebagai pemukiman penduduk.

Sekitar 60% dari bagian kotamadya Lhokseumawe adalah pemukiman dari total luas keseluruhannya. Selain itu sisa kebutuhan lahan yang paling menonjol di kotamadya Lhokseumawe adalah untuk usaha kebun campuran disamping untuk kebutuhan persawahan dan perkebunan rakyat.34

Kecamatan Banda Sakti dipilih sebagai pusat perkotaan kotamadya Lhokseumawe itu sendiri, dimana kegiatan perdagangan sangat dominan di daerah ini. Namun, kegiatan seperti industri lebih menonjol berada pada kecamatan Muara Dua dan Muara Satu. Sedangkan kecamatan Blang Mangat didominasi oleh potensi- potensi pertanian dan sumber daya alam lainnya. Kecamatan Blang Mangat menyimpan potensi pertanian dan sumber daya alam yang besar, tidak dapat dipungkiri bahwa penduduk di kecamatan ini paling banyak bekerja di bidang

33 Badan Pusat Statistik Kotamadya Lhokseumawe, 2012, Lhokseumawe dalam Angka 2012, Lhokseumawe. Pemerintah Kotamadya Lhokseumawe. hlm 12

34 Ibid

(53)

pertanian dan SDA lainnya. Kecamatan ini juga merupakan wilayah yang memiliki hasil tanaman padi terbesar untuk kotamadya Lhokseumawe. Selain padi, produk pangan lain yang banyak dihasilkan adalah kacang tanah, kacang hijau, dan ubi jalar.

Sementara itu kehidupan di pusat kotamadya didominasi oleh kegiatan ekonomi pada sektor industri dan pedagangan, dimana perdagangan merupakan sektor utama khususnya pada transaksi jual beli kebutuhan sehari hari.35

Kotamadya Lhokseumawe ini juga sempat terkena dampak dari bencana tsunami Aceh tahun 2004. Total dari jumlah 68 desa dan 3 kecamatan Lhokseumawe pada saat itu, hanya 22 desa yang terkena bencana tsunami tersebut. Sebanyak 616 unit rumah hancur, 873 rumah rusak parah, 100 kapal nelayan hancur. Hal ini membuat traumatik kepada nelayan saat itu karena takut melakukan pelayaran dan ikan menjadi langka di pasaran. Tidak ada aktivitas perdagangan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di Pusong lama dan TPI Pusong Baru. Tempat-tempat ini berhenti sebagai pemasok bahan makanan laut sesaat, dan tak lama kemudian Kotamadya Lhokseumawe ini juga perlahan bangkit dari bencana tersebut.36

35 Wawancara dengan Mukhlis pada tanggal 13 Juli 2020

36 Apridar, 2005, Tsunami Aceh Adzab atau Bencana ?, Pustaka Al Kautsar, NAD, hlm 85

(54)

4.2 Ekonomi

Perkembangan ekonomi setelah Lhokseumawe ditetapkan sebagai kotamadya otonom berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 tidak begitu tampak secara fisik kotamadya. Perkembangan dari segi ekonomi tidak begitu pesat pasca penerapan Lhokseumawe menjadi kotamadya otonom. Perusahaan-perusahaan seperti PT. Arun Natural Gas Liquefaction (NGL) Co, yang berasal dari instalasi PT. Exxon Mobil dan

Oil Indonesia (EMOI) di zona industri Lhokseumawe , Pabrik Kertas Kraft Aceh, Pabrik Pupuk AAF (Aceh Asean Fertilizer), dan Pabrik Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang awalnya berhasil menyulap wilayah ini menjadi kawasan industri modern perlahan menghilang.

Beberapa perusahaan-perusahaan di kotamadya Lhokseumawe dalam administrasi wilayahnya berpindah kepemilikan yang mulanya berada di Lhokseumawe, berpindah menjadi administrasi regional Kabupaten Aceh Utara.

Hanya tersisa PT Arun Natural Gas Liquefaction (NGL) Co, dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) yang masih menjadi perusahaan dengan regional administrasi kotamadya Lhokseumawe.

Seiring perkembangannya meskipun tampaknya sektor industri mengalami penurunan dikarenakan penggunaan gas alam cair yang semakin menipis . Namun, secara garis besar terhitung sampai tahun 2010 melalui sektor ini Lhokseumawe tetap dipandang sebagai Negeri “Petro Dolar”. Hal ini dikarenakan sumbangan pendapatan

(55)

kotamadya Lhokseumawe dari sektor industri yang mengandalkan gas alam cair ini sebesar 49,92 persen.37

Perkembangan lainnya terjadi selama kurun waktu periode 2007-2010, pihak swasta di kotamadya Lhokseumawe yang terdiri atas empat sektor yaitu gas alam cair, pertambangan dan penggalian, pertanian, serta perdagangan. Selama kurun waktu tersebut pihak-pihak swasta mempunyai sumbangsih besar terhadap PDRB kotamadya Lhokseumawe. Tercatat sebanyak 37,33 persen dari total PDRB kotamadya Lhokseumawe disumbangkan oleh pihak swasta dari keempat sektor tersebut.38

Sementara untuk sektor primer yaitu sektor pertanian, pertambangan dan penggalian pada tahun 2008 memberikan kontribusi sebesar 5,36 persen, dimanar 5,20 persen berasal dari sektor pertanian dan sisanya 0,16 persen berasal dari sektor pertambangan dan penggalian. Secara umum struktur ekonomi Kotamadya Lhokseumawe dengan memasukkan unsur migas masih didominasi oleh sektor-sektor pada kelompok sekunder selama periode 2005-2008, walaupun mempunyai mempunyai kecenderungan menurun setiap tahunnya. Sedangkan kelompok primer dan tersier mempunyai kecenderungan meningkat setiap tahunnya pada periode 2005- 2008.

Struktur perekonomian Kotamadya Lhokseumawe dengan tidak memasukkan unsur minyak dan gas pada perhitungan PDRB tahun 2008 didominasi oleh kelompok

37 BAPPEDA Kotamadya Lhokseumawe, 2017, Rencana Program Investasi Jangka Menengah Bidang Cipta Karya Kotamadya Lhokseumawe 2017-2021, Pemerintah Kotamadya Lhokseumawe, Lhokseumawe, hlm 9

38 Ibid. hlm 10

Gambar

Tabel 1. Luas Wilayah berdasarkan kecamatan tahun 2010.
Tabel 2 Jumlah Penduduk Kota Lhokseumawe Tahun 2010
Tabel 3. Jumlah Fasilitas Ibadah di Kotamadya Lhokseumawe 2001-  2014.
Tabel 4 Nama Mukim dan Nama Gampong
+7

Referensi

Dokumen terkait

Diluar Proses Pembelajaran Banyak metode yang dapat dilakukan sebagai upaya pembentukan Budi Pekerti siswa, tidak hanya melalui materi dalam kelas saja, tetapi perlu adanya

Menurut Lupiyoadi dalam Hadiyati (2009), kualitas pelayanan adalah keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk atau jasa dalam hal kemampuannya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial usaha traktor roda empat pada pengolahan tanah lahan rawa pasang surut di daerah Kecamatan Lalan Kabupaten Musi

dari garfik dapat dilihat bahwa kemampuan perusahaan dalam membayar bunga mengalami fluktuasi, yakni pada tahun 2009 kemampuan laba operasi dalam membayar beban bunga

Tantangan utama dalam upaya meningkatkan akses publik terhadap informasi. penyelenggaraan pemerintahan daerah di Kabupaten Sleman adalah

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai sifat dan kualitas papan partikel tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dengan menggunakan perekat likuida TKKS

Dosen Program Magister Ilmu Administrasi Negara Fisip Unmul Samarinda.. mutasi, promosi, pengawasan, Kondisi lingkungan, kerjasama, hubungan antar pegawai, dan ruang

Perkembangan oosit paling bagus pada induk betina ikan tilan yang diimplan LHRH 100 dan testosteron 100 mencapai oosit stadium IV, kadar estradiol dalam darah tertinggi 96,042