ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana gambaran Batak Toba’s Values pada mahasiswa Batak Toba usia 19-23 tahun di Universitas “X” Kota Bandung. Sampel pada penelitian ini adalah 205 orang mahasiswa yang memiliki marga.
Alat ukur yang digunakan adalah Batak Toba’s Values Questionnaire yang merupakan modifikasi dari alat ukur Schwartz Values yaitu Portrait Value Questionnaire (PVQ). Alat ukur ini terdiri atas 36 item berupa kuesioner yang menggambarkan Batak Toba’s Values dalam diri responden. Setiap itemnya terdiri dari tiga komponen values (kognitif, afektif, dan behavioral). Selain itu, setiap item meliputi dua sampai tiga pernyataan yang menggambarkan secara tidak langsung Batak Toba’s Values. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Data yang diperoleh berupa skala ordinal yang diolah menggunakan SPSS 12.0.
Data diolah melalui cara hierarchy Batak Toba’s Value. Values hierarchy pada penelitian ini adalah religi, ilmu pengetahuan, pengayoman, kewibawaan, kekerabatan, keberanian, banyak keturunan-panjang umur, kepatuhan, dan kekayaan. Terdapat perbedaan values hierarchy pada suku ibu dan jenis kelamin.
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI ……… v
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 . Latar Belakang ... 1
1.2 . Identifikasi Masalah ... 4
1.3 . Maksud dan Tujuan Penelitian ... 4
1.3.1. Maksud Penelitian ... 4
1.3.2. Tujuan Peneliitian ... 4
1.4 . Kegunaan Penelitian ...5
1.4.1. Kegunaan Teoretis ... 5
1.4.2. Kegunaan Praktis ...5
1.5 . Kerangka Pemikiran ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 15
2.1. Batak Toba ...15
2.1.1. Sejarah Singkat Suku Batak Toba ... 15
2.1.2. Dalihan Na Tolu ... 16
2.1.3. Nilai Budaya Batak Toba ... 17
2.1.4. Nilai Budaya sebagai Tujuan Hidup Masyarakat Batak Toba ... 21
2.1.5. Nilai Budaya sebagai Identitas Masyarakat Batak Toba ... 23
2.1.6. Urutan Kelahiran pada Keluarga Batak Toba... 26
2.2. Value ... ... 27
2.2.1. Definisi Value... 27
2.2.2. Urutan dan Pusat Value... 31
2.2.3. Perbedaan Terminal Value dan Instrumental Value... 32
2.2.4. Fungsi Value dan Value System... 33
2.2.5. Value dan Konsep-konsep Lain ... 35
2.2.6. Anteseden dan Konsekuensi Values... 37
2.2.7. Transmission Values ... 38
2.2.7.1. Enkulturasi dan Sosialisasi... 38
2.2.7.2. Strategi Akulturasi... 42
2.3. Dewasa Awal ... 43
2.3.1. Pengertian dan Batasan Dewasa ... 43
2.3.2. Ciri-ciri Masa Dewasa Awal ... 44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 48
3.1. Rancangan Penelitian ... 48
3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 49
3.2.1. Variabel Penelitian ... 49
3.2.2. Definisi Operasional ... 49
3.3. Alat Ukur ... 50
3.3.1. Kuesioner ... 50
3.3.2. Prosedur Pengisian ... 51
3.3.3. Sistem Penilaian ... 51
3.3.4. Data Penunjang ... 51
3.3.5. Validitas dan Reliabilitas ... 52
3.4. Populasi Sasaran dan Teknik Penarikan Sampel ... 53
3.4.1. Populasi Sasaran ... 53
3.4.2. Teknik Penarikan Sampel... 53
3.5 Teknik Analisis ... 53
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 54
4.1. Gambaran Responden ... 54
4.2. Hasil ... 57
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
5.1. Kesimpulan ... 66
5.2. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 69
DAFTAR RUJUKAN ... 71
DAFTAR TABEL
3.2 Tabel Kisi-kisi Kuesioner Batak Toba’s Values ... 50
3.3 Tabel Validitas Alat Ukur ... 52
3.4 Tabel Reliabilitas Alat Ukur ... 52
4.1 Tabel Jenis Kelamin Responden ... 54
4.2 Tabel Tempat Lahir Responden ... 55
4.3 Tabel Suku (Ayah dan Ibu) Responden ... 55
4.4 Tabel Usia Responden ... 56
4.5 Tabel Agama Responden ... 56
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I
Kuesioner
Lampiran II
Data Mentah
Lampiran III
Tabel Validitas Tiap Item Values
Lampiran IV
Tabel Frekuensi Data Penunjang
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Suku Batak dari sekian banyak suku yang ada di negeri ini termasuk salah satu suku yang banyak merantau. Suku Batak terdiri dari beberapa subsuku, yaitu: Toba, Mandailing, Angkola-Sipirok Padang Lawas, Simalungun, Karo, dan Pakpak-Dairi. (Rajamarpodang, 1992)
terjadinya pergeseran nilai budaya Batak Toba (Rajamarpodang, 1992).
Sekarang, dalam hal pelaksanaan upacara keagamaan, terdapat kekuranghikmatan dari setiap upacara keagamaan yang dilaksanakan. Masyarakat Batak Toba sekarang ini kurang dapat merasakan kesucian dan kesakralan dari setiap upacara keagamaan. Diduga terjadi pergeseran value dari budaya hikmat dan sakral keagamaan saat ini bila dibandingkan dengan “keagamaan” yang diciptakan nenek moyang Batak Toba dulu. (Rajamarpodang, 1992)
Dalam kekerabatan masyarakat Batak Toba, orang yang lahir dan berdiam di kota, diduga terjadi pergeseran value. Kekerabatan “namarito”, jarang terasa lagi hikmatnya karena sekarang mereka lebih senang memanggil abang, “inang” dengan mama atau mami, atau “amang” dengan papa atau papi (Rajamarpodang, 1992).
pekerjaan itu (Rajamarpodang, 1992).
Saat ini, pernikahan semarga atau satu rumpun marga sudah ada yang melakukannya. Hal tersebut menunjukkan kurangnya kepatuhan pada hukum adat Batak Toba yang berlaku umum di masyarakat Batak Toba. Biasanya pasangan yang melakukan pernikahan seperti ini dikucilkan oleh kerabat-kerabatnya. Sejajar dengan kemajuan jaman sekarang, pembangunan perumahan tempat tinggal dibuat sepanjang jalan raya dan penghuni desanya sudah terdiri dari berbagai marga. Pembangunan pemukiman tersebut membuat kepatuhan terhadap hukum adat memudar. Orang Batak Toba yang baru tinggal di permukiman tersebut membuat hukum adat sendiri yang mungkin bertentangan dengan adat orang Batak Toba yang sudah terlebih dulu tinggal di pemukiman tersebut (Rajamarpodang, 1992).
Batak Toba’s Values (BTV) adalah keyakinan (belief) yang mendasari cara bertingkah laku atau keadaan akhir yang dianggap ideal, yang secara pribadi lebih disukai dan dianggap penting oleh masyarakat Batak Toba. BTV ini diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui beberapa proses transmisi yang terbagi menjadi beberapa tipe berdasarkan sumbernya yaitu: melalui orang tua kandung (transmisi vertikal), orang dewasa lain (transmisi oblique), teman sebaya (transmisi horisontal).
Dalam penelitian yang dilakukan Basyrah Hamidi Harahap dan Hotman Siahaan tentang orientasi nilai budaya Batak Toba, mengatakan dalam Dalihan Na Tolu itu mengandung values kekerabatan, religi, hagabeon (banyak keturunan-panjang umur), kepatuhan, ilmu pengetahuan, keberanian, hasangapon (kewibawaan), hamoraon (kekayaan), danpengayoman (Siagian, 1992).
penting value ilmu pengetahuan, dan 1 satu orang menganggap penting value kepatuhan. Terdapat juga beberapa BTV yang dianggap kurang penting, yaitu 3 orang menganggap kurang penting value keberanian, 3 orang menganggap kurang penting value kekayaan, 2 orang menganggap kurang penting banyak keturunan-panjang umur, dan masing-masing 1 orang menganggap kurang penting values pengayoman dan kewibawaan. Semua mahasiswa (10 orang) mengaku kesulitan berbicara menggunakan bahasa Batak Toba. Selain itu, beberapa dari mereka kurang mengerti mengenai hukum adat Batak Toba, lebih mengikuti budaya Sunda, kurang mengerti mengenai makna di balik upacara adat yang dilakukan, dan ada hal-hal yang bertentangan dengan agama yang dianut oleh mahasiswa saat melakukan ritual adat bersama keluarganya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Batak Toba’s Values pada Mahasiswa Batak Toba di Universitas “X” Kota Bandung.
1.2. Identifikasi Masalah
Dari penelitian ini ingin diketahui bagaimana gambaran Batak Toba’s Values pada mahasiswa Universitas “X” di kota Bandung.
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1.Maksud Penelitian
Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai hirarki Batak Toba’s Values
pada mahasiswa Universitas “X” di Kota Bandung. 1.3.2.Tujuan Penelitian
Toba’s Values pada mahasiswa Universitas “X" di Kota Bandung dengan melihat pula faktor-faktor yang berkaitan dengan Batak Toba’s Values tersebut.
1.4. Kegunaan Penelitian
1.4.1.Kegunaan Teoretis
Memberikan masukan bagi ilmu psikologi sosial dan psikologi lintas budaya mengenai
Batak Toba’s Values.
Memberikan informasi bagi peneliti lain yang berminat untuk meneliti lebih lanjut
mengenai Batak Toba’s Values. 1.4.2.Kegunaan Praktis
Memberi informasi bagi masyarakat Batak Toba khususnya mahasiswa mengenai Batak
Toba’s Values agar dapat mempertahankan Batak Toba’s Values dengan tetap menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi setempat.
Bagi masyarakat Batak Toba agar dapat mempertahankan Batak Toba’s Values dengan cara
belajar berbicara bahasa Batak Toba, belajar menulis dan membaca aksara Batak Toba, atau
1.5. Kerangka Pemikiran
Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya dan suku bangsanya. Suku Batak adalah salah satu suku yang ada di Indonesia. Suku Batak terdiri dari beberapa subsuku, yaitu: Toba, Mandailing, Angkola-Sipirok Padang Lawas, Simalungun, Karo, dan Pakpak-Dairi. Perkataan Batak pada masyarakat Batak Toba memiliki dua pengertian, yaitu batahan (tumpuan kekuatan), dan batahi (kebenaran). Di bahasa Karo, Batak berarti suci dan kekuatan, sedangkan di bahasa Dairi berarti asli, sejati, murni. (Rajamarpodang, 1992)
Mahasiswa yang adalah kalangan terpelajar, pada umumya berada pada masa dewasa awal dalam tahap perkembangannya. Tahap perkembangan ini dikenal juga sebagai masa perubahan values. Ada dua alasan yang menyebabkan perubahan values pada masa dewasa awal, yang pertama, jika mahasiswa ingin diterima oleh anggota-anggota kelompok orang dewasa Batak Toba, mahasiswa tersebut harus menerima values kelompok ini yang berpedoman pada values konvensional dalam hal keyakinan-keyakinan dan perilaku. Yang kedua, mahasiswa Batak Toba yang menjadi orang tua tidak hanya cenderung mengubah values mereka lebih cepat daripada mereka yang tidak kawin atau tidak punya anak, tetapi mereka juga bergeser ke values Batak Toba yang lebih konservatif dan lebih tradisional. Biasanya, values mahasiswa ini bergeser dari egosentris ke sosial. Mahasiswa generasi “aku”- yaitu mereka yang terutama memikirkan kebahagiaan dan kepuasan diri sendiri – lambat laun akan mengembangkan kesadaran dan keterlibatan sosial apabila mereka sudah mengemban tugas sebagai suami atau istri dan orang tua (Hurlock, 1980).
Menurut Rokeach (1973) value adalah keyakinan (belief) yang bertahan yang mendasari cara
laku atau keadaan akhir yang dianggap ideal, yang secara pribadi lebih disukai dan dianggap penting oleh orang Batak Toba.
Pada masyarakat Batak Toba ada sembilan nilai budaya yang utama, yaitu mencakup kekerabatan, religi, banyak keturunan dan panjang umur, kewibawaan, kekayaan, ilmu pengetahuan, kepatuhan, pengayoman, dan keberanian. Value kekerabatan merupakan keyakinan mahasiswa Batak Toba untuk mengutamakan hubungan primordial suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur kerabat yang meliputi Dalihan Na Tolu (Hula-hula, Boru, dan Dongan Sabutuha), Hatobangon (Cendikiawan) dan segala yang berkaitan hubungan karena solidaritas marga. Value religi merupakan keyakinan mahasiswa Batak Toba untuk mengutamakan kehidupan keagamaan, yang mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya. Value banyak keturunan dan panjang umur merupakan keyakinan mahasiswa Batak Toba untuk mengutamakan hidup yang memiliki banyak anak dan usia panjang dalam menjalani hidup. Value kewibawaan merupakan keyakinan mahasiswa Batak Toba untuk mengutamakan kemuliaan, wibawa, kharisma, yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan.
(http://habatakon01.blogspot.com/2005/06/nilai-budaya-batak-toba.html).
Kesembilan values tersebut akan disusun dan diorganisasikan oleh mahasiswa Batak Toba
dalam suatu value system. Value system merupakan organisasi dari beliefs mahasiswa Batak Toba pada suatu kontinum berdasarkan derajat kepentingannya secara relatif. Batak Toba’s Values mempunyai karakteristik yang relatif stabil, namun juga dapat berubah dalam derajat kepentingannya akibat perubahan budaya, masyarakat, dan pengalaman pribadi mahasiswa Batak Toba di Universitas “X” (Rokeach, dalam Hollander, 1976).
Batak Toba’s Values, sama seperti semua beliefs, memiliki komponen cognitive, affective, dan behavioral (Rokeach, dalam Hollander, 1976). Komponen pertama dalam Batak Toba’s Values adalah cognitive, yaitu muncul dalam bentuk pemikiran atau pemahaman tentang values mengenai baik-buruk, diinginkan-tidak diinginkan, mengenai suatu objek atau kejadian yang ada di sekitar orang yang bersangkutan. Komponen yang kedua adalah affective, yaitu value yang awalnya hanya berupa pemahaman mulai menjadi suatu penghayatan tentang suatu objek atau kejadian, seperti suka atau tidak suka, senang atau tidak senang. Komponen yang terakhir yaitu behavioral, komponen ini adalah komponen yang sudah semakin mendalam. Seringkali behavior ini muncul dalam bentuk tingkah laku sesuai dengan value Batak Tobayang dimiliki mahasiswa.
berasal dari budaya sendiri (enkulturasi) maupun berasal dari budaya lain (akulturasi) yang disebabkan adanya interaksi dengan budaya lain. Enkulturasi ialah proses yang memungkinkan kelompok memasukkan mahasiswa ke dalam budaya Batak Toba sehingga memungkinkan ia membawakan perilaku sesuai harapan budaya Batak Toba. Sebaliknya, akulturasi menunjuk pada perubahan budaya dan psikologis karena perjumpaan dengan orang berbudaya lain yang juga memperlihatkan perilaku berbeda. Pada transmisi vertikal, orang tua mahasiswa Batak Toba mewariskan Batak Toba’s Values kepada mahasiswa melalui pola asuh orang tua terhadap mahasiswa dan pengamatan mahasiswa terhadap orang tua sejak kecil.
Transmisi oblique dibedakan menjadi dua bagian. Pertama adalah transmisi oblique yang berasal dari kebudayaan sendiri (Batak Toba), yang kedua adalah transmisi oblique yang berasal dari kebudayaan yang lain seperti Sunda, Jawa, Betawi, Tionghoa, Minahasa. Jika transmisi oblique terjadi dengan budaya yang sama, maka dapat memperkuat Batak Toba’s Values dalam diri mahasiswa. Jika transmisi oblique terjadi dengan budaya lain dan tidak searah dengan Batak Toba Values, maka dapat memperlemah Batak Toba’s Values pada mahasiswa. Transmisi oblique yang berasal dari kebudayaan Batak Toba merupakan transmisi Batak Toba’s Values dari orang dewasa lain, seperti nenek, paman, bibi, dosen kepada mahasiswa. Sedangkan transmisi oblique yang berasal dari kebudayaan lain merupakan transmisi peraturan, kebiasaan, yang berasal dari teman sebaya melalui proses akulturasi kepada mahasiswa.
bila transmisi horisontal terjadi dengan budaya lain dan tidak searah dengan Batak Toba Values, maka dapat memperlemah Batak Toba Values. Transmisi horisontal yang berasal dari kebudayaan sendiri,
yaitu pewarisan Batak Toba’s Values yang terjadi melalui transmisi dengan teman sebaya (Berry, 1999). Transmisi ini berperan dalam pembentukan Batak Toba’s Values pada mahasiswa. Transmisi horisontal yang sebudaya terjadi ketika mahasiswa berinteraksi dengan teman sebayanya yang berlatarbelakang budaya Batak Toba. Sedangkan transmisi horisontal yang berasal dari kebudayaan lain merupakan transmisi peraturan, kebiasaan, yang berasal dari teman sebaya melalui proses akulturasi.
Batak Toba’s Values pada mahasiswa dipengaruhi juga oleh faktor-faktor internal, yaitu usia, minat, agama, jenis kelamin, dan strategi akulturasi. Mahasiswa pada umumya sedang berada dalam masa dewasa awal. Seiring bertambahnya usia mahasiswa, identitas budaya Batak Toba juga ikut menguat dan identitas budaya Batak Toba yang kuat berhubungan dengan sikap mahasiswa yang positif terhadap budaya Batak Toba. Perkembangan identitas budaya mahasiswa Batak Toba pada masa adolescent akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap identitas budaya Batak Toba pada masa dewasa awal (Phinney, Ferguson dan Tate dalam Santrock, 2004). Diasumsikan mahasiswa Batak Toba pada masa dewasa awal memiliki Batak Toba’s Values yang lebih stabil dan menetap jika dibandingkan dengan orang Batak Toba lain yang usianya lebih muda.
Penelitian yang dilakukan oleh Roccas & Schwartz, 1997; Schwartz & Husmans, 1995 menyebutkan bahwa agama turut berperan dalam pembentukan values (Berry, dkk, 1999). Mahasiswa Batak Toba yang menganut agama tertentu (bukan agama asal) cenderung tidak lagi menjalankan upacara, ritual-ritual sesuai adat dan tradisi Batak Toba. Hal ini dikarenakan upacara dan ritual-ritual tersebut dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran agama yang dianutnya.
Faktor yang keempat adalah jenis kelamin. Perbedaan pengalaman sosial antara pria dan wanita juga dapat mempengaruhi perbedaan derajat Batak Toba’s Values tertentu (Berry, 1999). Kedudukan pria suku Batak Toba pada jaman dahulu sangat tinggi sedangkan wanita sebaliknya. Setelah menikah wanita harus tunduk kepada suami dan mertua mereka, selain itu wanita yang sudah menikah tidak memiliki kehidupan di luar rumah. Keadaan seperti itu pada jaman sekarang sudah banyak ditinggalkan. Wanita sudah banyak yang berkarier, memasuki sekolah tinggi, dan mengikuti perkumpulan-perkumpulan. Walaupun demikian, hanya pria yang dapat meneruskan marga keluarga, oleh karena itu pada masyarakat Batak Toba kelahiran anak laki-laki masih lebih diharapkan daripada anak perempuan. Dampaknya, peluang bergesernya Batak Toba’s Values pada mahasiswi Batak Toba akan cenderung lebih besar bila dibandingkan dengan mahasiswa Batak Toba. Mahasiswi Batak Toba yang ingin berkarier cenderung menginternalisasikan values budaya lain yang lebih menerima, menghargai, dan tidak menomorduakan keberadaan wanita sedangkan mahasiswa Batak Toba cenderung menginternalisasikan Batak Toba’s Values yang mengutamakan keberadaan pria.
1.6. Asumsi
Pada mahasiswa Batak Toba di Universitas “X” Kota Bandung ada sembilan Batak
Toba’s Values, yaitu mencakup kekerabatan, religi, banyak keturunan dan panjang umur, kewibawaan, kekayaan, ilmu pengetahuan, kepatuhan, pengayoman, dan keberanian.
Transmisi budaya dapat berasal dari budaya sendiri (enkulturasi) maupun berasal dari
budaya lain (akulturasi) yang disebabkan adanya interaksi dengan budaya lain.
Berdasarkan sumbernya, Batak Toba’s Values diwariskan kepada mahasiswa melalui
beberapa transmisi: melalui orang tua kandung (transmisi vertikal), orang dewasa lain (transmisi oblique), teman sebaya (transmisi horisontal)
Faktor- faktor internal, yaitu usia, minat, agama, jenis kelamin, dan strategi akulturasi
ikut mempengaruhi Batak Toba Values pada mahasiswa Batak Toba di Universitas “X” Bandung.
Mahasiswa Batak Toba Universitas “X” Bandung menghayati Batak Toba Values dalam
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh melalui pengolahan data Batak Toba’s Values dari
205 mahasiswa Batak Toba usia 19-23 tahun di Universitas “X” kota Bandung, dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Pada penelitian ini Batak Toba’s Values bervariasi dalam derajat kepentingannya, meliputi
penting, cukup penting, dan kurang penting.
2. Batak Toba’s Values pada responden dari posisi teratas sampai posisi terbawah secara berurutan
adalah values religi, ilmu pengetahuan, pengayoman, kewibawaan, kekerabatan, keberanian,
banyak keturunan-panjang umur, kepatuhan, dan kekayaan.
3. Values religi, ilmu pengetahuan, dan pengayoman berada pada kategori penting dalam values
hierarchy dan berdasarkan jenis kelamin, tempat lahir, suku ibu, urutan anak, tetap dianggap
penting bagi responden.
4. Terdapat perbedaan values hierarchy berdasarkan suku ibu. Responden yang ibunya bersuku
Batak Toba memiliki peringkat dan nilai mean yang lebih tinggi dalam value keberanian. Hal ini
disebabkan responden yang ibunya bersuku Batak Toba lebih banyak menginternalisasi value
keberanian ke dalam dirinya dibandingkan responden yang ibunya bukan bersuku Batak Toba.
5. Terdapat perbedaan values hierarchy berdasarkan jenis kelamin. Perempuan memiliki peringkat
peringkat dan nilai mean yang lebih tinggi dalam value kepatuhan. Hal ini disebabkan karena
perempuan memiliki kemungkinan yang lebih besar dalam hal mencari pertolongan. Laki-laki
merupakan penerus utama adat Batak Toba.
5.2.
Saran
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dikemukan sebelumnya maka peneliti
mengajukan beberapa saran, yaitu:
5.2.1. Penelitian Lanjutan
Dalam penelitian ini didapatkan value religi yang dianggap paling penting. Untuk penelitian
selanjutnya dapat diteliti responden yang berada pada usia dewasa madya apakah ada perbedaan
dalam values hierarchy-nya.
Dalam penelitian ini teknik analisis yang digunakan teknik analisis Hierarchy, untuk penelitian
selanjutnya ditambahkan teknik analisis data Content dan Structure.
Untuk memperluas ilmu pengetahuan khususnya Psikologi Lintas Budaya, penelitian selanjutnya
dapat berupa studi eksploratif dengan variabel values tradisional seperti, Sunda’s values,
Betawi’s values, dan Dayak’s values.
5.2.2. Guna Laksana
Bagi masyarakat Toba, dapat melestarikan Batak Toba’s Values dengan lebih menyesuaikan diri
terhadap situasi dan kondisi setempat di mana mereka tinggal dan juga agar dapat
mempertahankan Batak Toba’s Values dengan cara belajar berbicara bahasa Batak Toba, belajar
Toba.
Bagi masyarakat yang tidak bersuku Batak Toba agar dapat lebih memahami budaya Batak
Toba.
Kepada GAMSU, agar dapat membuat kegiatan rutin yang bisa mempertahankan budaya Batak
DAFTAR PUSTAKA
Berry, J. W., Poortinga. Y, H., Segall, M. H., Dasen, P. R. 1999. Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Berry, John,W., Poortinga, Ype H., Segall, Marshall H.,& Dasen, Pierre R. 2002. Cross Cultural Psychology, Research and Applications, Second Ed, Cambridge : Cambridge University Press.
Feather N.T. 1975. Values, Value Systems, and Cognitive Structures, Values in Educational and Society. New York: Free Press.
Gulo, W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia.
Hoffman, Lois. 1994. Developmental Psychology Today, 6th Ed. United States of America: McGraw-Hill, Inc.
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Edisi Kelima, Jakarta: Penerbit Erlangga.
Hollander, Edwin P. 1976. Current Perspectives in Social Psychology, Fourth Edition. New York: Oxford University Press.
Maslow, Abraham. 1994. Motivasi dan Kepribadian. Pustaka Binaman Pressindo.
Rajamarpodang, Gultom. 1992. Dalihan Na Tolu Nilai Budaya Suku Batak. Medan: CV Armanda.
Santrock, John W. 2004. Life Span Development, Ninth Ed, New York: McGraw Hill.
Siahaan, N. 1964. Sedjarah Kebudayaan Batak, Suatu Studi tentang Suku Batak (Toba-Angkola-Simalungun-Pakpak-Dairi-Karo). Medan: C.V. Napitupulu & Sons.
Situmorang, H.B. 1983. Ruhut-ruhut ni Adat Batak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Supranto M.A., J. 1998. Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Harahap, D.T. 14 November 2007. Hagabeon. (Online). (http://rumametmet.com, diakses 17 Agustus 2009)
Harahap, M.A. 3 Juli 2007. Menghormati Leluhur. (Online). (http://horasmadina.blogspot.com, diakses 17 Agustus 2009)
Harahap, D.T. 24 Januari 2008. Hamoraon. (Online). (http:// rumametmet.com, diakses 17 Agustus 2009)
Linda. 2007. Studi Deskriptif Mengenai Chinese Values pada Individu Dewasa Madya (45-60 Tahun) Anggota Perkumpulan Tionghoa Marga “X” Bandung. Universitas Kristen Maranatha.
Magdalena, Cory. 2009. Studi Deskriptif Mengenai Orientasi Nilai Individualism Collectivism pada Mahasiswa Batak Toba di Universitas “X” Kota Bandung. Universitas Kristen Maranatha.
Panggabean, I. 28 Juni 2007. Budaya Batak. (Online). (http://igorpanggabean .wordpress.com , diakses 17 Agustus 2009)
Sihombing, Edberg. 7 Juni 2005. Nilai Budaya Batak Toba. (Online). (http://habatakon01.blogspot.com/ 2005/06/nilai-budaya-batak-toba.html, diakses 17 Agustus 2009)
Simbolon, Ernest. Januari 2004. Horas!. (Online) (http://parapat0.tripod.com/sejarah.html, diakses 17 Agustus 2008)
Vivekananda, N.L.A. 2007. Studi Deskriptif Mengenai Value Schwartz pada Masyarakat Hindu Bali