4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Pengambilan data dilakukan di manufaktur kosmetik dan farmasi yang ada di Jawa Timur. Pengambilan data dilakukan terhadap karyawan tetap perusahaan dengan tingkat supervisor up yang minimal telah bekerja selama satu tahun.
Penyebaran data kuesioner sebanyak 72 kuesioner dan diterima sebanyak 72 kuesioner dan terdapat 10 kuesioner yang tidak diisi dengan lengkap atau rusak, sehingga pada proses pemilahan kuesioner maka didapatkan 62 responden yang dapat diolah dengan lebih lanjut dengan response rate sebesar 86,11%.
4.1.1 Deskripsi Profil Perusahaan
Berikut adalah deskriptif profil perusahaan dari 62 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang kosmetik dan farmasi yang berada di Jawa Timur yang menjadi sampel penelitian:
Tabel 4.1. Deskriptif Sifat Perusahaan Sifat Perusahaan Jumlah Persentasi
Terbuka 4 6,55
Tertutup 58 93,45
Total 62 100
Berdasarkan tabel 4.1 dari 62 perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian ini didominasi oleh perusahaan tertutup yaitu sebanyak 58 perusahaan (93,45%) dan 4 perusahaan (6,55%) lainnya bersifat terbuka. Hal ini dikarenakan mayoritas perusahaan kosmetik dan farmasi yang berada di Jawa Timur merupakan usaha kecil dan menengah.
Tabel 4.2. Deskriptif Golongan Industri Sifat Perusahaan Jumlah Persentasi
Industri Sedang (20-99 orang)
38 60,65 Industri Besar
(>100 orang)
24 39,35
Total 62 100
Berdasarkan golongan industri dalam tabel 4.2 perusahaan yang tergolong ke dalam industri sedang dimana perusahaan tersebut memiliki tenaga kerja
sebanyak 20-99 orang sebanyak 38 perusahaan (60,65%) dan 24 perusahaan lainnya (39,35%) tergolong kedalam industri besar dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih.
Dari olah data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan yang sifatnya tertutup juga dapat bersaing dengan perusahaan terbuka dilihat dengan banyaknya perusahaan tertutup yang masuk ke dalam industri besar atau mampu bersaing dalam skala besar dengan kompetitor perusahaan yang bersifat terbuka.
Tabel 4.3. Lokasi Perusahaan
Lokasi Perusahaan Jumlah Persentasi
Sidoarjo 29 45,90
Surabaya 12 19,67
Mojokerto 7 11,47
Pasuruan 5 8,20
Gresik 4 6,56
Malang 3 4,92
Kediri 1 1,64
Jombang 1 1,64
Total 62 100
Dari tabel 4.3 perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang kosmetik dan farmasi yang berada di Jawa Timur, 62 perusahaan yang dijadikan sampel penelitian didominasi oleh perusahaan yang berlokasi di Sidoarjo sebanyak 29 perusahaan (45,90%) hal ini dikarenakan Sidoarjo merupakan salah satu pusat produsen kosmetik terbesar di Indonesia. Perusahaan-perusahaan selanjutnya berasal dari kota-kota industri di Jawa Timur berturut-turut yaitu Surabaya, Mojokerto, Pasuruan, Gresik, Malang, Kediri dan Jombang.
4.1.2 Deskripsi Variabel Penelitian
Pada analisis deskripsi ini akan dijelaskan jawaban responden pada masing- masing item pernyataan pada variabel penelitian yaitu komitmen manajemen (KM), supplier-buyer relationship (SBR), just in time (JIT), dan competitive advantage (CA). Pengukuran diberikan dengan rentang skala 1 hingga 5.
Variabel-variabel akan dituangkan ke dalam pernyataan. Responden diminta untuk memberikan penilaian pada pernyataan-pernyataan terhadap kesesuaian dengan kondisi yang terjadi dalam perusahaan. Ukuran proporsional dari tiap variabel dituangkan dalam tabel indeks presepsi responden terhadap variabel- variabel yang telah ditentukan.
Penelitian pada studi ini dilakukan secara survei, yaitu dengan cara memberikan kuesioner kepada para responden. Besarnya sampel yang terkumpul adalah 61 manufaktur kosmetik dan farmasi. Tahap selanjutnya adalah analisis statistik deskriptif pada variabel, digunakan untuk mengetahui mean (rata-rata) dan deskriptif jawaban responden bila pilihan jawaban merupakan skala Likert.
Nilai mean jawaban responden dikategorikan dengan interval kelas yang dicari dengan rumus sebagai berikut:
𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 = 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 − 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 = 5 − 1
5 = 0,8 Dengan interval kelas 0,8 diperoleh kategori mean jawaban responden sebagai berikut:
Tabel 4.4. Kategori Mean Jawaban Responden
Interval Kategori
4,20 - 5,00 Sangat tinggi atau sangat baik atau sangat sesuai atau sangat setuju 3,41 - 4,20 Tinggi atau baik atau sesuai atau setuju
2,61 - 3,40 Cukup tinggi atau cukup baik atau cukup sesuai atau cukup setuju 1,81 - 2,60 Rendah atau kurang baik atau kurang sesuai atau kurang setuju 1,00 - 1,80 Sangat rendah atau sangat kurang baik atau sangat kurang sesuai
atau sangat kurang setuju
Berdasarkan data hasil survei lapangan, distribusi jawaban responden tentang indikator yang diajukan diuraikan dalam kuesioner akan dideskripsikan secara rinci dibawah ini. Berdasarkan tabel, setiap jawaban responden akan dihitung mean-nya untuk mengetahui kategori dari variabel yang diberikan dalam bentuk pernyataan. Untuk jawaban responden dengan interval nilai mean sebesar 4,20 hingga 5,00 dikategori sangat tinggi, untuk nilai mean 3,41 hingga 4,20 dikategorikan tinggi, untuk nilai mean 2,61 hingga 3,40 dikategorikan cukup, untuk nilai mean 1,80 hingga 2,60 dikategorikan rendah dan untuk nilai mean 1,00 hingga 1,80 dikategorikan sangat rendah.
4.1.2.1. Komitmen Manajemen
Variabel komitmen manajemen disusun oleh 3 indikator. Indikator-indikator tersebut adalah pembelian merupakan bagian penting dari manajemen dalam menentukan strategi perusahaan, manajemen mendukung penuh dalam usaha
perkembangan departemen pembelian, keputusan bagian pembelian merupakan keputusan manajemen.
Tabel 4.5 Deskripsi Jawaban Responden pada Komitmen Manajemen
Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-
rata STS TS N S SS
KM1. Pembelian merupakan bagian penting dari manajemen dalam menentukan strategi perusahaan
0 0 11 20 31 4,32
KM2. Manajemen mendukung penuh dalam usaha perkembangan departemen pembelian
0 1 9 19 33 4,35 KM3. Keputusan bagian pembelian
merupakan keputusan manajemen
0 2 8 21 31 4,30
Mean Jawaban 4,32
Dengan melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator pembelian merupakan bagian penting dari manajemen dalam menentukan strategi perusahaan didapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,32 yang termasuk dalam kategori jawaban sangat setuju dengan pernyataan ini sehingga hal ini berarti bahwa rata-rata responden sangat setuju bahwa pembelian merupakan bagian penting dari manajemen dalam menentukan strategi perusahaan. Indikator manajemen mendukung penuh dalam usaha perkembangan departemen pembelian mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,35 yang termasuk dalam kategori sangat setuju. Artinya responden sangat setuju manajemen mendukung penuh dalam usaha perkembangan departemen pembelian. Indikator keputusan bagian pembelian merupakan keputusan manajemen mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,30 yang termasuk dalam kategori sangat setuju. Artinya responden sangat setuju keputusan bagian pembelian merupakan keputusan manajemen.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa indikator manajemen mendukung penuh dalam usaha perkembangan departemen pembelian memiliki nilai rata-rata terbesar dengan hanya 1 respoden yang merasa tidak setuju akan poin tersebut. Hal ini berarti saat ini, manajemen industri kosmetik dan farmasi sangat aktif dan responsif akan perkembangan departemen pembelian untuk memberikan dampak bagi perusahaan secara nyata. Dengan kecenderungan tersebut dapat dimengerti bahwa permasalahan harga dan kualitas bahan baku menjadi aset penting untuk daya saing perusahaan di pasaran.
Secara keseluruhan, mean jawaban responden adalah sebesar 4,32 yang termasuk kategori sangat tinggi. Artinya, komitmen manajemen sangat tinggi pada bagian pembelian menurut pendapat para responden
4.1.2.2. Supplier-Buyer Relationship
Variabel supplier-buyer relationship disusun oleh 3 indikator. Indikator- indikator tersebut adalah bagian pembelian melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan pihak supplier, bagian pembelian melakukan pembelian berulang kepada supplier, dan bagian pembelian melakukan kemitraan yang kuat dengan suppliernya.
Tabel 4.6 Deskripsi Jawaban Responden pada Supplier-Buyer Relationship
Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-
rata STS TS N S SS
SB1. Bagian pembelian melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan pihak supplier
0 2 8 19 33 4,34
SB2. Bagian pembelian melakukan pembelian berulang kepada supplier
0 0 12 32 18 4,10 SB3. Bagian pembelian melakukan kemitraan
yang kuat dengan suppliernya
0 1 8 25 28 4,29
Mean Jawaban 4,24
Dengan melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator bagian pembelian melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan pihak supplier didapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,34 yang termasuk dalam kategori jawaban sangat setuju dengan pernyataan ini sehingga dapat diartikan bahwa rata-rata responden sangat setuju bahwa bagian pembelian melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan pihak supplier. Indikator bagian pembelian melakukan pembelian berulang kepada supplier mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,10 yang termasuk dalam kategori setuju. Artinya responden setuju bagian pembelian melakukan pembelian berulang kepada supplier. Indikator bagian pembelian melakukan kemitraan yang kuat dengan suppliernya mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,29 yang termasuk dalam kategori sangat setuju. Artinya responden sangat setuju bagian pembelian melakukan kemitraan yang kuat dengan suppliernya.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa indikator bagian pembelian melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan pihak supplier nilai rata-rata terbesar dengan hanya 2 respoden yang merasa tidak setuju akan poin tersebut.
Hal ini berarti saat ini, industri kosmetik dan farmasi melakukan komunikasi yang intens dengan supplier untuk menunjang proses produksi dan layanan terhadap pelanggannya. Dengan kecenderungan tersebut dapat dimengerti bahwa dengan komunikasi yang berkelanjutan, perusahaan ingin tercipta hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua pihak.
Secara keseluruhan, mean jawaban responden adalah sebesar 4,24 yang termasuk kategori sangat baik. Artinya, menurut para responden telah terjalin hubungan pembeli pemasok yang sangat baik.
4.1.2.3. Just in Time
Variabel just in time disusun oleh 3 indikator. Indikator-indikator tersebut adalah terjadi pengurangan waktu proses produksi, terjadi pengurangan loss produksi, dan kecepatan proses produksi.
Tabel 4.7 Deskripsi Jawaban Responden pada Just in time
Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-
rata STS TS N S SS
JIT1. Terjadi pengurangan waktu proses produksi
0 0 5 26 31 4,42 JIT2. Terjadi pengurangan loss produksi 0 2 6 26 28 4,29 JIT3. Kecepatan proses produksi 0 0 5 26 31 4,42
Mean Jawaban 4,38
Dengan melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator terjadi pengurangan waktu proses produksi didapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,42 yang termasuk dalam kategori jawaban sangat setuju dengan pernyataan ini, hal ini berarti bahwa rata-rata responden sangat setuju bahwa terjadi pengurangan waktu proses produksi. Indikator terjadi pengurangan loss produksi mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,29 yang termasuk dalam kategori sangat setuju. Artinya responden sangat setuju terjadi pengurangan loss produksi. Indikator kecepatan proses produksi mendapatkan nilai mean jawaban
sebesar 4,42 yang termasuk dalam kategori sangat setuju. Artinya responden sangat setuju kecepatan proses produksi meningkat dengan aplikasi just in time.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa indikator terjadi pengurangan waktu proses produksi dan kecepatan proses produski memiliki nilai rata-rata terbesar dengan tidak ada respoden yang merasa tidak setuju akan poin tersebut. Hal ini berarti saat ini, manajemen industri kosmetik dan farmasi merasakan pengaruh yang positif dan signifikan implementasi JIT dalam mempercepat waktu produksi. Sehingga implementasi JIT merupakan nilai tambah bagi perusahaan
Secara keseluruhan, mean jawaban responden adalah sebesar 4,38 yang termasuk kategori sangat baik. Artinya, menurut para responden aplikasi JIT sudah berjalan dengan sangat baik.
4.1.2.4. Competitive Advantage
Variabel just in time disusun oleh 5 indikator. Indikator-indikator tersebut adalah harga yang kompetitif ditawarkan oleh perusahaan, produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan kompetitor, pesanan yang dikirimkan tepat waktu, produk yang disediakan di perusahaan bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen dan pengenalan produk yang cepat dilakukan oleh perusahaan.
Tabel 4.8 Deskripsi Jawaban Responden pada Competitive Advantage
Pernyataan Frekuensi Jawaban Rata-
rata STS TS N S SS
CA1. Harga yang kompetitif ditawarkan oleh perusahaan
0 0 4 43 15 4,18 CA2. Produk yang ditawarkan memiliki
kualitas yang lebih baik dibandingkan kompetitor
0 1 4 39 18 4,19
CA3. Pesanan yang dikirimkan tepat waktu 0 1 7 33 21 4,19 CA4. Produk yang disediakan di perusahaan
bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen
0 0 11 32 19 4,13 CA5. Pengenalan produk yang cepat
dilakukan oleh perusahaan
0 3 13 29 17 3,97
Mean Jawaban 4,13
Dengan melihat jawaban responden dalam mengisi kuesioner, indikator harga yang kompetitif ditawarkan oleh perusahaan didapatkan nilai mean jawaban
sebesar 4,18 yang termasuk dalam kategori jawaban setuju dengan pernyataan ini sehingga dapat diartikan bahwa rata-rata responden setuju harga yang kompetitif ditawarkan oleh perusahaan. Indikator produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan kompetitor mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,19 yang termasuk dalam kategori setuju. Artinya responden setuju produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan kompetitor. Indikator pesanan yang dikirimkan tepat waktu mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,19 yang termasuk dalam kategori setuju. Artinya responden setuju pesanan yang dikirimkan tepat waktu. Indikator produk yang disediakan di perusahaan bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 4,13 yang termasuk dalam kategori setuju. Artinya responden setuju produk yang disediakan di perusahaan bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Indikator pengenalan produk yang cepat dilakukan oleh perusahaan mendapatkan nilai mean jawaban sebesar 3,97 yang termasuk dalam kategori setuju. Artinya responden setuju pengenalan produk yang cepat dilakukan oleh perusahaan.
Secara keseluruhan, mean jawaban responden adalah sebesar 4,13 yang termasuk kategori baik. Artinya, menurut para responden perusahaan memiliki keunggulan kompetitif yang baik dibandingkan dengan kompetitor.
1.2. Hasil Uji Validitas dan Realibilitas
Sebuah instrumen dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat.
Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang variabel yang dimaksud. Teknik yang digunakan untuk uji validitas ini yakni teknik korelasi product moment (berdasarkan tabel koefesien korelasi, Bhattacharya, et.al., 1972) butir dinyatakan valid jika koefisien korelasi hitung ≥ koefisien korelasi tabel.
Uji validitas digunakan untuk mengetahui valid tidaknya suatu instrumen pengukuran. Validitas adalah taraf sejauh mana alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Prinsip validitas mengandung dua unsur yang tidak dapat dipisahkan yaitu kecermatan dan ketelitian. Alat ukur yang valid tidak sekedar
mampu mengungkapkan data dengan tepat, tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Valid tidaknya suatu instrumen dapat diihat dari nilai koefisien korelasi antara skor item dengan skor totalnya pada taraf signifikansi 5%. Pengujian terhadap kesesuaian model melalui pengujian validasi pada PLS dilakukan dengan Goodness of fit outer model.
Model pengukuran atau outer model dengan indikator refleksif dievaluasi dengan convergent dan discriminant validity dari indikatornya dan composite realibility untuk blok indikator. Sedangkan outer model dengan indikator formatif dievaluasi berdasarkan pada substantive content-nya yaitu dengan membandingkan besarnya relative weight dan melihat signifikansi dari ukuran weight tersebut (Solimun, 2007). Outer model sering juga disebut dengan outer relation atau measurement model yang didefenisikan bagaimana setiap blok indikator berhubungan dengan variabel latennya.
4.2.1. Convergent validity
Korelasi antara skor indikator refleksif dengan skor variabel latennya.
Indikator individu dianggap reliable jika memiliki nilai korelasi atau loading 0.5 sampai 0.6. Nilai korelasi ini dianggap cukup karena merupakan tahap awal pengembangan skala pengukuran dan jumlah indikator per konstruk tidak besar, berkisar antara 3 sampai 7 indikator. Hal ini terlihat pada hubungan antara indikator dengan konstruk yang terdapat pada Tabel 4.4. yang ditunjukkan pada nilai outer loadings. Hasil model struktural yang diteliti menunjukkan hubungan antara indikator dengan masing-masing variabel yang ditunjukkan dengan besarnya nilai bobot faktor.
Variabel pertama yakni komitmen manajemen sebagai variabel diukur dari tiga item indikator yakni pembelian merupakan bagian penting dari manajemen dalam menentukan strategi perusahaan (KM1) dengan bobot faktor 0,910;
manajemen mendukung penuh dalam usaha perkembangan departemen pembelian (KM2) dengan bobot faktor 0,910; dan keputusan bagian pembelian merupakan keputusan manajemen (KM3) dengan bobot faktor 0,933. Melihat hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity karena semua loading factor berada di atas 0,5.
Variabel kedua yaitu supplier-buyer relationship sebagai variabel diukur dari tiga item indikator yakni komunikasi secara berkelanjutan dengan supplier (SB1) dengan bobot faktor 0,920; bagian pembelian melakukan pembelian berulang kepada supplier (SB2) dengan bobot faktor 0,844; dan bagian pembelian melakukan kemitraan yang kuat dengan suppliernya dengan bobot faktor 0,906.
Melihat hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity karena semua loading factor berada di atas 0,5.
Variabel ketiga just in time sebagai variabel diukur dari tiga item indikator yakni terjadi pengurangan waktu proses produksi (JIT1) dengan bobot faktor 0,855; pengurangan loss produksi (JIT2) dengan bobot faktor 0,878; dan kecepatan proses produksi (JIT3) dengan bobot faktor 0,838. Melihat hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity karena semua loading factor berada di atas 0,5.
Variabel keempat competitive advantage sebagai variabel diukur dari lima item indikator yakni harga yang kompetitif ditawarkan perusahaan (CA1) dengan bobot faktor 0,648; produk yang perusahaan kami tawarkan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan kompetitor (CA2) dengan bobot faktor 0,692;
pesanan pelanggan yang diantarkan tepat waktu (CA3) dengan bobot faktor 0,616; produk yang disediakan di perusahaan disesuaikan dengan kebutuhan konsumen (CA4) dengan bobot faktor 0,891: dan pengenalan produk ke pasar dilakukan dengan cepat oleh perusahaan (CA5) dengan bobot faktor 0,621;
melihat hasil korelasi antara indikator dengan variabelnya telah memenuhi convergent validity karena semua loading factor berada di atas 0,5.
Secara keseluruhan untuk korelasi antara skor indikator refleksif dengan skor variabel latennya telah dipenuhi.
Tabel 4.9. Nilai Outer loadings (measurement model) KM SBR JIT Competitive Advantage KM.1 0,910
KM.2 0,910 KM.3 0,933
SB.1 0,920
SB.2 0,844
SB.3 0,906
JIT.1 0,855
JIT.2 0,878
JIT.3 0,838
CA.1 0,648
CA.2 0,692
CA.3 0,616
CA.4 0,891
CA.5 0,621
4.2.2. Discriminant validity
Pengukuran indikator refleksif berdasarkan cross loading dengan variabel latennya. Pada Tabel 4.10 nilai cross loading output PLS menunjukkan sejumlah data bahwa korelasi indikator dengan variabelnya lebih tinggi dibandingkan korelasi indikator dengan variabel lainnya.
Tabel 4.10. Nilai Cross Loading PLS
KM SBR JIT Competitive Advantage KM.1 -0.008 0.102 0.292 0.648
KM.2 0.241 0.085 0.217 0.692 KM.3 0.091 0.033 0.115 0.616 SB.1 0.456 0.228 0.396 0.891 SB.2 0.213 0.199 0.254 0.621 SB.3 0.342 0.459 0.855 0.395 JIT.1 0.562 0.519 0.878 0.360 JIT.2 0.267 0.421 0.838 0.310 JIT.3 0.910 0.396 0.283 0.282 CA.1 0.910 0.378 0.285 0.273 CA.2 0.933 0.656 0.485 0.280 CA.3 0.623 0.920 0.465 0.194 CA.4 0.490 0.844 0.427 0.187 CA.5 0.511 0.906 0.539 0.183
Metode lain dilakukan dengan membandingkan nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap konstruk, dengan korelasi antar konstruk lainnya dalam model. Jika nilai pengukuran awal kedua metode tersebut lebih baik dibandingkan dengan nilai konstruk lainnya dalam model, maka dapat diartikan konstruk tersebut memiliki nilai discriminant validity yang baik, dan sebaliknya.
Direkomendasikan nilai pengukuran harus lebih besar dari 0.50; hal ini terlihat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11. Hasil Average Variance Extracted pada Output PLS Variabel Average variance extracted (AVE) Root AVE
KM 0,843 0,92
SBR 0,793 0,89
JIT 0,735 0,86
CA 0,492 0,70 Sumber: Lampiran
Discriminant validity dapat juga dilakukan dengan membandingkan nilai akar Average Variance Extracted (AVE) pada Tabel 4.11, setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya.
Berdasarkan penjelasan diatas bahwa korelasi antara variabel dengan indikatornya yang telah memenuhi discriminant validity dengan nilai AVE lebih besar dari 0,50; dan nilai akar AVE lebih besar dari nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya.
4.2.3. Composite Reliability
Indikator blok yang mengukur konsistensi internal dari indikator pembentuk konstruk, menunjukkan derajat yang mengindikasikan common latent (unobserved). Nilai batas yang diterima untuk tingkat reliabilitas komposit adalah 0.7, walaupun bukan merupakan standar absolut. Pada Tabel 4.7; yang merupakan output dari software PLS didapatkan data sebagai berikut: untuk komitmen manajemen sebesar 0,94; supplier buyer relationship sebesar 0,92; just in time sebesar 0,89; dan competitive advantage sebesar 0,82. Persyaratan nilai composite reliability telah terpenuhi oleh semua variabel dengan nilai berada diatas 0,7.
Tabel.4.12 Hasil Composite Reliability pada Output PLS Variabel Composite Realibility
KM 0,94
SBR 0,92
JIT 0,89
CA 0,82
4.2.4. Cronbach’s Alpha
Uji reliabilitas diperkuat dengan Cronbach Alpha. Nilai batas yang diterima untuk cronbach’s alpha adalah 0.7. Pada Tabel 4.13; yang merupakan output dari software PLS didapatkan data sebagai berikut: untuk komitmen manajemen sebesar 0,91; supplier buyer relationship sebesar 0,87; just in time sebesar 0,82;
dan competitive advantage sebesar 0,75. Persyaratan nilai cronbach’s alpha telah terpenuhi oleh semua variabel dengan nilai berada diatas 0,7.
Tabel.4.13 Hasil Cronbach Alpha pada Output PLS Variabel Composite Realibility
KM 0,91
SBR 0,87
JIT 0,82
CA 0,75
Ringkasan hasil yang diperoleh dalam model struktural dan nilai yang direkomendasikan untuk mengukur kelayakan model. Hasil-hasil yang ada model struktural telah menunjukkan bahwa seluruh kriteria yang digunakan mempunyai nilai yang baik dan oleh karena itu model ini telah dapat diterima (Tabel 4.14).
Tabel.4.14. Evaluasi Kriteria Indeks-Indeks Kesesuaian Model Struktural
Kriteria Hasil Nilai
Kritis
Evaluasi Model Outer Model
Convergent Validity
Komitmen Manajemen (terendah = 0,910) Supplier-Buyer Relationship (terendah = 0,844)
Just in Time (terendah = 0,838)
Competitive Advantage (terendah = 0,616)
0,5 Baik
Discriminant Validity (Akar AVE semua lebih besar nilai
hubungan antar konstruk)
Komitmen Manajemen = 0,92 Supplier-Buyer Relationship = 0,89 Just in Time = 0,86
Competitive Advantage = 0,70
AVE
0,5 Baik
Composite Reliability
Komitmen Manajemen = 0,94 Supplier-Buyer Relationship = 0,92 Just in Time = 0,89
Competitive Advantage = 0,82
0,7 Baik
Cronbach’s Alpha
Komitmen Manajemen = 0,91 Supplier-Buyer Relationship = 0,87 Just in Time = 0,82
Competitive Advantage = 0,75
0,7 Baik
4.3. Uji Goodness of Fit Inner Model
PLS tidak mengasumsikan adanya distribusi tertentu untuk estimasi parameter sehingga teknik parametrik untuk menguji signifikansi parameter tidak diperlukan. Uji Goodness of Fit model struktural atau inner model dievaluasi
dengan melihat persentase varian yang dijelaskan yaitu dengan melihat R2 untuk konstruk laten dependen dengan menggunakan ukuran Stone-Geisser Q Square test dan juga melihat besarnya koefisien jalur strukturalnya. Stabilitas dari estimasi ini dievaluasi dengan menggunakan uji t-statistik yang didapat lewat prosedur bootstrapping. Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R- square variabel laten dependen dengan interpretasi yang sama dengan regresi; Q- Square predictive relevance untuk model konstruk, mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-square lebih besar dari nol (0) menunjukkan model struktural memiliki predictive relevance; sebaliknya jika nilai Q-Square lebih kecil dari 0 (nol) menunjukkan model kurang memiliki predictive relevance.
Tabel 4.15. Hasil R-Square pada Output PLS Variabel R-square
SBR 0,311
JIT 0,119
CA 0,193
KM
Dari tabel 4.15 diketahui nilai R-square untuk Supplier-Buyer Relationship sebesar 0,311 memiliki arti bahwa presentase besarnya supplier-buyer relationship yang dapat dijelaskan oleh komitmen manajemen, just in time, dan competitive advantage adalah sebesar 31,1%, sedangkan sisa 68,9% dijelaskan oleh variabel lain selain variabel tersebut.
Besarnya nilai R-square untuk variabel just in time adalah sebesar 0,119 artinya presentase besarnya just in time yang dapat dijelaskan oleh komitmen manajemen, supplier-buyer relationship, dan competitive advantage adalah sebesar 11,9%, sedangkan sisa 88,1% dijelaskan oleh variabel lain selain variabel tersebut.
Besarnya nilai R-square untuk variabel competitive advantage adalah sebesar 0,193 artinya presentase besarnya competitive advantage yang dapat dijelaskan oleh komitmen manajemen, supplier-buyer relationship, dan just in time adalah sebesar 19,3%, sedangkan sisa 81,7% dijelaskan oleh variabel lain selain variabel tersebut.
Kesesuaian mode struktural dapat dilihat dari Q-square. Sementara nilai Q2 dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Q2 = 1 – (Pe12 × Pe22 × Pe32) dimana ; Q2 : Koefisien determinasi total
Pe2 : Parameter error masing-masing persamaan Pei : √1 − 𝑅𝑖2
Pe1 = 0,83 ; Pe2 = 0,94 ;
Pe3 = 0,90 ; sehingga didapat Q2 sebesar 0,51
Dari hasil perhitungan didapat nilai koefisien determinasi total sebesar 0,51 yang berarti model PLS yang dikembangkan dapat menjelaskan fenomena mengenai komitmen manajemen, just in time, supplier buyer relationship, dan competitive advantage di perusahaan manufaktur kosmetik dan farmasi sebesar 51%. Sedangkan sisanya 49% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dipergunakan di dalam model.
Menurut penelitian dari (Regina, 2013), faktor terbesar yang mempengaruhi keunggulan bersaing perusahaan kosmetik dan farmasi adalah research dan development, dimana industri kosmetik berjalan sangat dinamis dan development produk baru sangat berpengaruh kepada konsumen. Didukung dengan persaingan dengan impor kosmetik yang massal sehingga seluruh manufaktur berlomba- lomba untuk memberikan produk yang lebih baru dan segar kepada konsumennya.
Hasil angka tersebut juga lebih besar dari 0 sehingga menunjukkan model memiliki predictive relevance. Hal ini menunjukkan variabel laten eksogen mempunyai predictive relevance yang cukup terhadap variabel laten endogen.
4.4. Signifikansi dan Pengaruh antar Variabel
Nilai koefisien path atau inner model menuunjukkan tingkat signifikansi dalam pengujian hipotesis. Skor koefisien path ditunjukkan oleh nilai T-statistik.
Nilai T-statistik yang digunakan (two-tailed) t-value 1,96 dengan significance level yaitu 5%. Selain T-statistik, hasil iterasi yang dilakukan PLS menghasilkan original sample, sample mean, dan standart deviation. Original sampel adalah skor beta unstandardize yang digunakan untuk melihat sifat prediksi variabel
independen terhadap variabel dependen. Sample mean adalah nilai rata-rata sampel yang dihasilkan dari proses iterasi. Standard deviation adalah standar error (Latan & Ghozali, 2013). Hasil bootstrapping dengan iterasi sebanyak 100 untuk penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.16 Path Coefficient Origin
Sample (O)
Sample Mean (M)
Standard Deviation (STDEV)
T Statistics
KM SBR 0,283 0,338 0,109 2,593
KM JIT 0,393 0,386 0,124 3,163
SBR JIT 0,345 0,408 0,141 2,450
KM CA 0,152 0,164 0,185 0,817
SBR CA -0,068 -0,122 0,189 0,358
JIT CA 0,398 0,492 0,131 3,046
Koefisien path pengaruh antara Komitmen Manajemen terhadap Supplier Buyer Relationship sebesar 0,283 dengan t-statistic sebesar 2,593 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara komitmen manajemen terhadap Supplier-Buyer Relationship pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti bahwa peningkatan komitmen oleh manajemen akan meningkatkan secara signifikan supplier-buyer relationship pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.
Koefisien path pengaruh antara Komitmen Manajemen terhadap just in time sebesar 0,393 dengan t-statistic sebesar 3,163 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara komitmen manajemen terhadap aplikasi just in time pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti bahwa peningkatan komitmen oleh manajemen akan meningkatkan secara signifikan just in time pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.
Koefisien path pengaruh antara Supplier-Buyer Relationship terhadap just in time sebesar 0,345 dengan t-statistic sebesar 2,45 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara supplier buyer relationship
terhadap aplikasi just in time pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti bahwa peningkatan supplier-buyer relationship akan meningkatkan secara signifikan just in time pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.
Koefisien path pengaruh antara Komitmen Manajemen terhadap competitive advantage sebesar 0,152 dengan t-statistic sebesar 0,817 < 1,96. Hasil ini menyimpulkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara komitmen manajemen terhadap aplikasi just in time pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.
Koefisien path pengaruh antara supplier-buyer relationship terhadap competitive advantage sebesar -0,068 dengan t-statistic sebesar 0,358 < 1,96.
Hasil ini menyimpulkan tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara supplier buyer relationship terhadap competitive advantage pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.
Koefisien path pengaruh antara just in time terhadap competitive advantage sebesar 0,398 dengan t-statistic sebesar 3,046 > 1,96. Hasil ini menyimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara just in time terhadap competitive advantage pada perusahaan manufaktur sampel penelitian. Hal ini berarti bahwa peningkatan just in time akan meningkatkan secara signifikan competitive advantage pada perusahaan manufaktur sampel penelitian dengan level signifikan 0,05.
4.5. Pengujian Hipotesis Penelitian
Dari hasil pengolahan data dapat dilihat pada Gambar 4.1. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa pada variabel komitmen manajemen memiliki nilai indikator tertinggi pada KM.3 (keputusan bagian pembelian merupakan keputusan manajemen) dengan nilai sebesar 0,933.
Gambar 4.1. Hasil Pengolahan
Variabel kedua, supplier buyer relationship memiliki nilai indikator tertinggi pada SB.1 (bagian pembelian melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan pihak supplier) dengan nilai sebesar 0,920. Variabel ketiga, just in time memiliki nilai indikator tertinggi pada JIT.2 (terjadi pengurangan loss produksi) dengan nilai 0,878. Variabel terakhir yaitu competitive advantage memiliki nilai indikator tetinggi pada CA.4 (produk yang ditawarkan perusahaan bisa sesuai dengan kebutuhan pasar). Nilai-nilai pada indikator-indikator yang tertinggi ini memiliki pengaruh dan menentukan keberhasilan dalam penelitian
4.6. Pembahasan
Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan model persamaan structural (PLS) melalui program smartPLS menghasilkan bahwa ada empat hipotesis yang diterima dan dua hipotesis yang tidak diterima.
3.6.1. Terdapat pengaruh signifikan antara komitmen manajemen dengan supplier buyer relationship
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukan nilai estimasi parameter pengaruh Komitmen Manajemen terhadap supplier buyer relationship adalah sebesar 0,283 dengan critical ratio sebesar 2,593. Hal ini menunjukan bahwa komitmen manajemen berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap supplier buyer relationship. Berdasarkan hasil pengolahan data diatas dapat
dinyatakan bahwa semakin baik komitmen manajemen sebuah perusahaan dapat meningkatkan supplier-buyer relationship. Komitmen manajemen dapat dinyatakan dalam bentuk seperti berkomitmen pada ketepatan waktu, biaya maupun sumber daya dengan adanya komitmen tersebut maka akan terjadi kemitraan jangka panjang dengan para supplier yang akan meningkatkan kestabilan perusahaan. Komitmen dari manajemen sebuah perusahaan juga dapat meningkatkan kepercayaan para supplier untuk tetap terus bekerjasama dalam jangka panjang dengan perusahaan. Dengan adanya komitmen tersebut maka ada pembagian informasi yang terbuka dari perusahaan dengan supplier sehingga terjalin hubungan yang semakin terbuka dan harmonis (Hausman, 2010).
Menurut penelitian Bullington pada tahun 2007, kesuksesan hubungan antara manajemen dan supplier terjadi apabila terdapat sebuah komitmen sehingga akan timbul adanya kepercayaan supplier terhadap perusahaan. Yang menyatakan bahwa komitmen manajemen berpengaruh positif signifikan terhadap supplier- buyer relationship. Adanya komitmen manajemen pada sebuah perusahaan juga dapat meningkatkan kinerja perusahaan itu sendiri. Komitmen manajemen dapat meningkatkan hubungan yang baik dengan supplier sehingga dapat menekan pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan karena negosiasi berjalan dengan efektif. Pengaruh positif antara komitmen manajemen dan supplier buyer relationship juga senada dinyatakan oleh penelitian menumbuhkan sikap saling percaya Holweg, Disney, Holmström, & Småros pada tahun 2005 yang menyatakan bahwa koordinasi merupakan bagian kolaborasi, baik dengan pihak- pihak di internal perusahaan (antar berbagai fungsi yang menangani logistik) maupun dengan pihak-pihak eksternal (mitra dalam jalur distribusi maupun pelanggan akhir) sangat diperlukan untuk menyamakan persepsi, meneliminasi miskomunikasi dan mis-persepsi, serta menumbuhkan sikap saling percaya (Holweg et al., 2005). Sebuah kepercayaan maupun komitmen memegang peranan penting dalam jalannya sebuah perusahaan. Menurut penelitian yang dilakukan Wu et al. (2004) tingkat dari keseriusan komitmen, kelanjutan komitmen, dan komitmen yang normatif pada mitra rantai persediaan (supply chain) akan sangat membantu dalam pengintegrasian proses supply chain management (SCM).
3.6.2. Terdapat pengaruh signifikan antara komitmen manajemen dengan just in time
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukan nilai estimasi parameter pengaruh Komitmen Manajemen terhadap implementasi just in time adalah sebesar 0,393 dengan critical ratio sebesar 3,163. Hal ini menunjukan bahwa komitmen manajemen berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap implementasi just in time. Berdasarkan hasil pengolahan data diatas dapat dinyatakan bahwa semakin baik komitmen manajemen sebuah perusahaan dapat meningkatkan implementasi just in time dengan baik pula. Adanya komitmen manajemen untuk terus bekerja sesuai dengan kaidah just in time seperti pengimplementasian tepat waktu produksi, zero mistake saat proses pemilihan baku sampai penjualan, dan sebagainya dapat membuat manajemen semakin terbiasa untuk bekerja secara ramping sesuai kaidah just in time. Keseriusan dan komitmen ini akan diikuti oleh setiap unit yang terlibat dalam proses produksi, pembelian, penyimpanan dan penjualan.
Menurut penelitian Ghozali pada tahun 2002, adanya komitmen manajemen akan meningkatkan produktivitas perusahaan sehingga akan semakin membuat kinerja perusahaan menjadi efektif. Adanya peningkatan komitmen manajemen akan membuat perusahaan mengimplementasikan JIT dengan baik sehingga akan berdampak baik pula untuk perusahaan seperti standar mutu produk yang tinggi, memusnahkan segala bentuk aktivitas yang kurang bermanfaat, menjunjung upaya perbaikan berkelanjutan, dan selalu berfokus pada ketepatan waktu.
3.6.3. Terdapat pengaruh signifikan antara supplier buyer relationship dengan just in time
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukan nilai estimasi parameter pengaruh supplier buyer relationship terhadap implementasi just in time adalah sebesar 0,345 dengan critical ratio sebesar 2,45. Hal ini menunjukan bahwa supplier buyer relationship berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap implementasi just in time. Berdasarkan hasil pengolahan data diatas dapat dinyatakan bahwa semakin baik supplier buyer relationship dapat meningkatkan implementasi just in time dengan baik pula. Hubungan yang baik
dengan supplier akan membuat perusahaan menjadi prioritas dan memberikan jaminan dalam ketepatan waktu pengiriman. Dengan komunikasi yang baik maka pembagian informasi dari pemasok ke perusahaan akan terjadi dan perusahaan dapat mengurangi ketidakpastian yang terjadi sehingga meningkatkan implementasi dari just in time.
Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Narasimhan & Das (2001), penelitian DeWitt, Giunipero, & Melton (2006), dan Kaynak (2003) yang mengemukakan hal serupa yaitu hubungan yang baik antara buyer-supplier akan berdampak pada peningkatan kinerja perusahaan manufaktur.
Kinerja perusahaan tersebut dicerminkan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan pelanggan secara tepat waktu dan sesuai.
3.6.4. Tidak terdapat pengaruh signifikan antara komitmen manajemen dengan competitive advantage
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh komitmen manajemen terhadap competitive advantage adalah sebesar 0,152 dengan critical ratio sebesar 0,817. Hal ini menunjukkan komitmen manajemen tidak berpengaruh terhadap competitive advantage. Dikarenakan komitmen manajemen tidak hanya sebuah value namun merupakan suatu tindakan nyata. Tindakan yang diambil manajemen yakni mendukung secara penuh keputusan bagian pembelian dalam membangun relasi dengan pelanggan dan mendukung penuh proses produksi yang tepat waktu sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Melalui kedua hal ini akan membuat ketepatan waktu yang tepat dalam memenuhi kebutuhan dari pelanggan.
Dilihat berdasarkan koefisien faktor loading dalam kedua variabel, indikator keputusan bagian pembelian merupakan keputusan manajemen memiliki nilai faktor loading terbesar yaitu 0,92 dalam variabel komitmen manajemen. Indikator produk yang disediakan di perusahaan bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen memiliki faktor loading terbesar yaitu 0,891 dalam variabel competitive advantage. Dengan kedua data tersebut, dapat dilihat keputusan manajemen berdasarkan pertimbangan dari segi pembelian tidak memberikan pengaruh secara
langsung kepada produk yang dijual oleh pembeli dan kesesuaiaannya terhadap selera pasar.
3.6.5. Tidak terdapat pengaruh signikan antara supplier buyer relationship dengan competitive advantage
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh supplier buyer relationship terhadap competitive advantage adalah sebesar -0,068 dengan critical ratio sebesar 0,358. Hal ini menunjukkan supplier buyer relationship tidak berpengaruh terhadap competitive advantage.
Dikarenakan perusahaan-perusahaan kosmetik dan farmasi di Jawa Timur saat ini masih fokus ke pembelian material sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Material yang diterima akan diproses di bagian produksi dalam menghasilkan produk sesuai kebutuhan pelanggan. Kekuatan yang dibangun purchasing hanya sebatas pengadaan material sehingga memberikan dampak pada ketepatan kebutuhan material. Hal ini merupakan dampak langsung supplier buyer relationship pada just in time.
Hubungan antara supplier dengan perusahaan kosmetik dan farmasi di Jawa Timur hanya sebatas hubungan untuk pemenuhan kebutuhan produksi saja dan belum terjadi adanya kontrak jangka panjang antara buyer dan supplier yang dapat mengikat harga dan terjadi pengelolaan inventory oleh supplier untuk meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan.
Dilihat berdasarkan koefisien faktor loading dalam kedua variabel, indikator bagian pembelian melakukan komunikasi secara berkelanjutan dengan pihak supplier memiliki nilai faktor loading terbesar yaitu 0,92 dalam variabel supplier- buyer relationship. Indikator produk yang disediakan di perusahaan bisa disesuaikan dengan kebutuhan konsumen memiliki faktor loading terbesar yaitu 0,891 dalam variabel competitive advantage. Dengan kedua data tersebut, dapat dilihat komunikasi secara berkelanjutan antar pembeli dan penjual tidak memberikan pengaruh secara langsung kepada produk yang dijual oleh pembeli dan kesesuaiannya terhadap selera pasar.
3.6.6. Terdapat pengaruh signifikan antara just in time dengan competitive advantage
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukan nilai estimasi parameter pengaruh just in time terhadap competitive advantage adalah sebesar 0,398 dengan critical ratio sebesar 3,046. Hal ini menunjukan bahwa just in time berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap competitive advantage.
Berdasarkan hasil pengolahan data diatas dapat dinyatakan bahwa semakin baik just in time dapat meningkatkan competitive advantage dengan baik pula. Dengan implementasi just in time yang baik maka ketepatan waktu dalam memenuhi permintaan pelanggan sangat baik dan meningkatkan keunggulan kompetitif dari perusahaan.
Just in time secara langsung akan dapat memberikan kepuasan kepada konsumen. Menurut Milovanovic (2011), just in time akan memberikan fokus produksi kepada produk spesial yang dapat diproduksi dalam batch kecil yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Selain itu dengan proses just in time akan mengurangi biaya inventory yang tentu saja akan mengurangi harga yang ditawarkan perusahaan kepada pelanggan yang meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan.
Tabel 4.17 Path Coefficient Indirect Effect Origin
Sample (O)
Sample Mean (M)
Standard Deviation (STDEV)
T Statistics
KM SBR JIT 0,177 0,194 0,083 2,129
SBR JIT CA 0,176 0,191 0,087 2,029
3.6.7. Pengaruh Tidak Langsung antara Komitmen Manajemen terhadap Just in Time melalui Supplier-Buyer Relationship
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh komitmen manajemen terhadap just in time melalui supplier buyer relationship adalah sebesar 0,177 dengan critical ratio sebesar 2,129. Hal ini menunjukan bahwa komitmen manajemen berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap just in time melalui supplier buyer relationship. Pengaruh mediasi dapat dilihat pada hasil Q2 dengan tidak adanya variabel supplier buyer
relationship maka Q2 yang didapatkan hanyalah 29%. Oleh karena itu mediator supplier buyer relationship sangat dibutuhkan untuk terlaksananya implementasi just in time.
Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa dengan adanya komitmen manajemen dalam supplier buyer relationship akan mampu meningkatkan ketepatan waktu dan proses produksi untuk implementasi dari konsep just in time.
4.6.8. Pengaruh Tidak Langsung antara Supplier-Buyer Relationship terhadap Competitive Advantage melalui Just in Time
Hasil pengolahan smartPLS pada penelitian ini menunjukkan nilai estimasi parameter pengaruh supplier buyer relationship terhadap competitive advantage melalui just in time adalah sebesar 0,176 dengan critical ratio sebesar 2,029. Hal ini menunjukan bahwa supplier buyer relationship berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap competitive advantage melalui just in time. Pengaruh mediasi dapat dilihat pada hasil Q2 dengan tidak adanya variabel just in timemaka Q2 yang didapatkan hanyalah 44%. Oleh karena itu mediator just in time sangat dibutuhkan untuk terciptanya keunggulan bersaing.
Dengan hubungan yang baik dengan supplier maka pengiriman dapat dilakukan dengan tepat waktu sehingga pada proses produksi akan tepat waktu dan sesuai dengan permintaan konsumen dan juga tidak akan terjadi loss produksi karena perencanaan dan realisasi yang berjalan dengan matang. Dengan hal tersebut maka meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan kosmetik dan farmasi di Jawa Timur.