• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

34

BAB III

HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 1. Gambaran Umum Kabupaten Pinrang

Kabupaten Pinrang merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Pinrang yang berasal dari Bahasa bugis

“benrang” yang memiliki arti air genangan karena saat pertama kali

pembukaan daerah Pinrang masih berupa daerah rendah yang sering tergenang dan berawa. Kabupaten Pinrang memiliki luas wilayah mencapai 1.961,77 Km², dengan jumlah penduduk sebesar 407.882 jiwa.

2. Gambaran Umum Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang

a. Visi dan Misi Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang

Kantor pertanahan kabupaten Pinrang memiliki visi, terwujudnya penataan ruang dan pengelolaan pertanahan yang terpercaya dan berstandar dunia dalam melayani masyarakat untuk mendukung terpercayanya: “Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”. Adapun Misi Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang yakni sebagai berikut:

1) Menyelenggarakan penataan ruang dan pengelolaan pertanahan yang produktid berkelanjutan dan berkeadilan.

2) Mewujudkan penyelenggaraan pelayanan pertanahan dan penataan ruang berstandar dunia.

b. Motto kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang

(2)

35 Adapun motto kantor pertanahan pinrang ialah “Melayani, Profesional, Terpercaya”

1) Melayani

a) Melayani dengan kejelasan prosedur biaya dan ketetapan waktu

b) Bersikap sopan, ramah, cermat dan teliti serta peduli terhadap lingkungan sekitar.

2) Profesionalisme

a) bekerjasama dengan cerdas, tujtas dan memberikan nilai tambahan

b) senantiasa mengembangkan diri untuk peningkatan kompetensi dan pendidikan.

3) Terpercaya

a) Bekerja dengan integritas, dapat dipercaya dan diandalkan b) Patuh dan taat peraturan yang ditetapkan sesuai tugas dan

tanggung jawab yang diberikan.

c. Tugas Pokok dan Fungsi Kantor Pertanahan kabupaten Pinrang

Kantor pertanahan Kabupaten Pirang memiliki tugas pokok melaksanakan tugas pemerintahan dibidang pertanahan secara nasionalm regional dan sektoral. Dibentuknya Badan Pertanahan Nasional dengan tugas membantu presiden berdasarkan UUPA maupun peraturan perundang- undangan lain yang mencakup peraturan – peraturan penggunaan, penguasaan, pendaftaran tanah, pengurusan hak-hak atas tanah, pengukuran

(3)

36 dan pendaftaran tanah, dan lain-lain yang berkaitan dengan masalah kebijaksanaan yang ditetapkan Presiden. Dalam melaksanakan tugasnya, Kantor Pertanahan menyelenggarakan fungsi:

1) Penyusunan dan penetapan kebijakan di bidang pertanahan;

2) Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang survei, pengukuran, dan pemetaan;

3) Perumusan dan pelaksanaan kebijkan di bidang penetapan hak tanah, pendaftaran tanah, dan pemberdayaan masyarakat;

4) Perumusan dan pelaksanaan kebijakan dibidang pengaturan, penetaan dan pengendalian kebijakan pertanahan;

5) Perumusan dan pelaksanaan kebijkan di bidang pengadaan tanah;

6) Perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengendalian dan penanganan sengketa dan perkara pertanahan;

7) Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BPN;

8) Pelaksanaan koordinasi tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di lingkungan BPN;

9) Pelaksanaan pengelolaan data informasi lahan pertanian pangan berkelanjutan dan informasi di bidang pertanahan;

10) Pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang pertanahan;

dan

11) Pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanahan.

(4)

37 d. Struktur Organisasi Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang

KEPALA KANTORPERTANAHANKABUPATEN PINTANG

KEPALA SUB TATA USAHA

KORD SUB KEUANGAN DANBARANG MILIK NEGARA

KEPALA SEKSI SURVEI DANPEMETAAN KEPALA SEKSI PENETAPAN HAK DANPENDAFTARANKEPALA SEKSI DANPENATAAN DAN KEPALA SEKSI PENGADAAN TANAH DANPENGEMBANGAN KEPALA SEKSI PENGENDALIAN DANPENANGANAN SENGKETA KOR SUB SURVEI DAN PEMETAAN DASAR DANTEMATIK KOR SUB PENERAPAN HAK TANAHDAN RUANG KOR SUB PENATAGUNAAN TANAHKOR SUB PENILAIAN, PENGADAAN DANPENCADANGAN TANAH KOR SUB PENANGANAN SENGKETA, KONFLIKDAN PERKARA PERTANAHAN KOR SUB PENGUKURAN DAN PEMETAANKADASTRAL KOR SUB PENDAFTARAN TANAH DANRUANG TANAH KOMUNAL DAN HUB. KOR SUB LANDFORM DAN PERMBERDAYAANTANAH MASYARAKAT KOR SUB KONSOLIDASI TANAH DANPENGEMBANGAN PERTANAHANKOR SUB PENGENDALIAN PERTANAHAN

KOR SUB PEMELIHARAAN TANAH RUANGPEMBINAAN & PPAT

KOR SUB PENERAPAN DAN PENGELOLAANTANAH PEMERINTAH KORD SUB UMUMDAN KEPEGAWAIANKORD SUB PERENCANAAN, EVALUASI DAN PELAPORAN

ST RUK TUR O RG A N ISASI

KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANGBADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA’KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN PINRANG

(5)

38 B. Mekanisme Pelaksanaan Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi

Elektronik di Kabupaten Pinrang

Kantor Pertanahan Kab. Pinrang mulai memberlakukan pendaftaran Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik pada bulan maret 2020.

Permohonan Layanan Hak Tanggunggan Elektronik setiap harinya rata-rata 40-50 berkas permohonan. Jumlah pendaftar setiap bulannya dapat dilihat pada table di bawah ini.

Tabel 1

Data Pendaftar Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik Tahun 2020 - 2021

TAHUN 2020 TAHUN 2021

BULAN TOTAL

PENDAFTARAN BULAN TOTAL

PENDAFTARAN

JANUARI - JANUARI 501

FEBRUARI - FEBRUARI 569

MARET 417 MARET 708

APRIL 412 APRIL 661

MEI 406 MEI 456

JUNI 521 JUNI 738

JULI 552 JULI 761

AGUSTUS 536 AGUSTUS 692

SEPTEMBER 904 SEPTEMBER 768

OKTOBER 530 OKTOBER 730

NOVEMBER 493 NOVEMBER 808

DESEMBER 381 DESEMBER 826

Sumber : Data Primer, 2022

Proses pendaftaran hak tanggungan secara elektronik dilakukan oleh pengguna terdaftar dengan terlebih dahulu mengajukan permohonan layanan

(6)

39 hak tanggungan pada sistem Hak Tanggungan terintegrasi elektronik sesuai dengan apa yang telah diatur pada Pasal 9 Permen ATR/BPN Nomor 9 Tahun 2019, kemudian setelah itu dilakukan pembuatan surat pernyataan mengenai pertanggungjawaban keabsahan dan kebenaran dokumen yang diajukan.1 Setelah penyampaian permohonan diterima oleh sistem Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik maka pemohon akan diberikan tanda bukti permohonan yang memuat Nomor berkas pendaftaran permohonan, tanggal Pendaftaran permohonan, nama Pemohon dan kode Pembayaran. Mengenai tanda bukti dan hal- hal yang terdapat didalam tanda bukti permohonan tersebut, harus sesuai dengan apa yang telah diatur di dalam Pasal 11 ayat (1) dan ayat (2) Permen ATR/KBPN Nomor 9 Tahun 2019.2

Pada awal proses penjaminan Hak Tanggungan teintegrasi elektronik pengguna terlebih dahulu harus terdaftar dengan mematuhi beberapa ketentuan, yaitu Pengguna layanan Sistem Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik yang dalam hal ini sebagai perseorangan/badan hukum selaku kreditur, sementara petugas yang melayani adalah Aparatur Sipil Negara Kementerian. Adapun Syarat administrasi yang harus dipenuhi bagi perseorangan atau badan hukum adalah :

a. Mempunyai keterangan domisili elektronik;

b. Surat keterangan terdaftar di OJK bagi badan hukum

c. Pernyataan pemenuhan persyaratan dan kriteria serta ketentuan sebagai pengguna terdaftar;dan

1 Wawancara dengan Elmi Rosalia Fathony Sub Pendaftaran dan Pemeliharaan Hak Tanah, Ruang dan Pembinaan PPAT, 21 Februari 2022.

2 Ibid

(7)

40 d. Syarat lainnya yang ditentukan oleh Kementerian Agraria dan Tata

Ruang/Badan Pertanahan Nasional yaitu kantor Pertanahan.

Jika syarat-syarat tersebut diatas telah terpenuhi, selanjutnya sesuai dengan standar operasional Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang dalam pelaksanaan pendaftaran Hak Tanggungan terintegrasi elektronik, segala proses didahului dengan pengecekan sertipikat tanah dari objek yang akan dilakukan peralihan hak atau dijaminkan oleh PPAT. Syarat-syarat yang harus dipenuhi pada proses pendaftaran pengecekan adalah sertipikat asli, surat tugas atau surat kuasa pengecekan dari PPAT, permohonan pengecekan sertifikat (formulir) yang sudah disediakan di Kantor Pertanahan dan Foto Copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) pemilik tanah yang tertera pada sertipikat.

Selanjutnya proses pembuatan APHT yang harus didahului dengan pengecekan sertipikat di Kantor Pertanahan yang bertujuan untuk menghindari jaminan yang tidak sesuai dalam pembuatan APHT atau bahkan palsu. Setelah membuat APHT, PPAT yang ingin mendaftarkan Hak Tanggungan pada sistem Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik harus segera menyampaikan APHT dan dokumen lainnya dengan mengunggah dokumen tersebut pada aplikasi HT-el Mitra BPN. Pelaporan APHT diawali dengan membuat kode akta sebagai pengenal akta, kemudian dilanjutkan dengan mengisi data yang termuat pada akta.

Pada tahap berikutnya, PPAT kemudian mengunduh surat pengantar akta yang berisi nama PPAT, Nomor Akta atau Kode Akta. Surat pengantar akta harus dicetak sebanyak 3 rangkap, ditandatangani dan diberi cap stempel oleh PPAT.

Setelah proses dari PPAT, kemudian dilanjutkan dengan pelaporan APHT oleh

(8)

41 pihak bank yang akan memproses pendaftaran HT berdasarkan APHT tanpa harus kembali mendatangi Kantor Pertanahan. Setelah berkas dinyatakan lengkap maka pihak bank mencetak surat perintah setor dan melakukan pembayaran PNPB.

Gambar 1. Mekanisme Pemberian Hak Tanggungan Elektrnik

Sumber: Data Primer, 2022

Secara garis besar, mekanisme pelayanan Hak Tanggungan dengan system Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik di Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang sebagai berikut :

a. Pengguna yang telah terdaftar mengajukan permohonan layanan hak tanggungan terintegrasi elektronik pada sistem Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik.

b. Pemohon diharuskan membuat Surat Pernyataan Pertanggungjawaban keabsahan dan kebenaran data dokumen elektronik yang diajukan.

(9)

42 c. Permohonan layanan yang telah diterima oleh Sistem Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik akan diberikan tanda bukti pendaftaran permohonan yang diterbitkan oleh system.

d. Permohonan diproses setelah data permohonan dan biaya pendaftaran permohonan terkonfirmasi oleh system elektronik.

e. Setelah bukti pendaftaran diterima, pemohon melakukan pembayaran biaya melalui bank, dengan ketentuan paling lambat 3 hari setelah tanggal pendaftaran permohonan.

f. Permohonan akan diproses setelah data permohonan dan biaya pendaftaran permohonan terkonfirmasi oleh system elektronik.

g. Penerbitan hasil layanan hak tanggungan akan dilakukan pada hari ke 7 setelah permohonan terkonfirmasi.

Adapun perbandingan antara pelayanan hak tanggungan konvensional dengan hak tanggungan terintegrasi elektronik dapat dilihat pada kolom di bawah ini:

Tabel 2

Perbedaan Hak Tanggungan Konvensional dengan Hak Tanggungan Elekronik

SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN

TERINTEGRASI ELEKTRONIK

SERTIFIKAT HAK TANGGUNGAN KONVENSIONAL Hak Tanggungan Teintegrasi

Elektronik tidak lagi memerlukan interaksi tatap muka karena

Pelayanan hak tanggungan konvensional dibutuhkan interaksi

(10)

43 permhonan dilakukan melalui sistem

berbasis teknologi informasi.

dan tatap muka antara kreditor, PPAT dan pihak kantor pertanahan Hak Tanggungan Teintegrasi

Elektronik tidak lagi memerlukan interaksi tatap muka karena permhonan dilakukan melalui sistem berbasis teknologi informasi.

Loket pendaftaran pada hak tanggungan konvensional hanya dibuka pada hari kerja

Pendaftaran Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik kelengkapan dokumen discan dan diupload pada sistem.

Pendaftaran Hak Tanggungan Konvensional dibutuhkan kelengkapan administrasi berupa fotokopi dan dokumen asli

Sertifikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik terbit tepat pada 7 hari

Sertifikat Hak Tanggungan Konvensional dirpses selama 7 hari kerja bahkan lebih

Sertifikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik dikirimkan melalui email.

Sertifikat Hak Tanggungan Konvensional diambil pada Kantor Pertanahan.

Sertifikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik dikirimkan melalui email, sehingga tidak memerlukan ruang penyimpanan.

Sertifikat Hak Tanggungan Konvensional membutuhkan ruang penyimpanan warkah

Sumber: Hasil Wawancara dan Observasi Peneliti, 2022.

Jamida Amir, S.H., M.Kn. berdasarkan hasil wawancara mejelaskan bahwa Layanan Sertifikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik yaitu Sistem pelayanan hak tanggungan terintegrasi elektronik memiliki manfaat dan keunggulan.

(11)

44 Manfaat yang begitu dirasakan adalah PPAT/Kreditor tidak lagi harus menghabiskan waktu di Kantor Pertanahan, kemudian terkait dengan sertifikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik yang berisi data hak tanggungan dan diterbitkan dalam bentuk dokumen elektronik cukup disahkan dengan tanda tangan elektronik sebagai tanda bukti hak tanggungan. Selain itu terkait dengan kepastian waktu proses pengajuan hak tanggungan. Melalui Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik juga bisa dilakukan pengecekan status kepemilikan dan informasi zona nilai tanah oleh pengguna Layanan Sistem Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) serta kreditor.

C. Kendala-Kendala Pelayanan Pendaftaran Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik Pada Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang

Proses pemberlakukan layanan secara nasional serentak dilakukan pada tahun 2020, pemberlakukan tersebut dianggap tanpa melalui masa transisi dan sosialisasi yang memadai. Hal ini tentunya menjadi salah satu alasan munculnya berbagai persoalan terutama kendala/problematika yang dihadapi pengguna Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik di Kabupaten Pinrang.3

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan beberapa koresponden dan hasil dari kuesioner terkait kendala-kendala dalam pelayanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik, peneliti memperoleh beberapa kendala yang sering terjadi.

3 Wawancara dengan Elmi Rosalia Fathony (Pegawai Kantor Pertanahan Kab. Pinrang)

(12)

45 Tabel 3

Kendala Pada Penerapan Pelayanan yang Tidak Sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP)

Pernyataan Frekuensi Persentase (%) Sangat Setuju

Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

6 2 1 1 0

60 20 10 10 0

Jumlah (n) 9 100

Sumber: Data Primer yang diolah, 2022.

Data diatas menunjukkan 6 (enam) dari 10 (sepuluh) responden setuju bahwa kandala terkait dengan validasi Sertipikat dan jangka waktu pengecekan Sertipikat Hak Atas Tanah yang ingin dibebani Hak Tanggungan pada Kantor Pertanahan sering lama dan belum sesuai dengan jangka waktu dalam SOP. Namun, jika dilihat pada Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah telah mengatur batas maksimal pendaftaran hak tanggungan.

Yakni, paling lambat tujuh hari. Kendala lain yang berkaitan dengan kinerja pelayanan dari pihak kantor pertanahan yang sering terjadi adalah respon yang lambat dari pihak kantor pertanahan pada tahap penyesuaian data fisik dan data digital. Dimana dapat dilihat pada table berikut ini:

(13)

46 Tabel 4

Kendala : Respon yang lambat dari pihak Kantor Pertanahan pada tahap persetujuan data fisik dan data digital

Pernyataan Frekuensi Persentase (%) Sangat Setuju

Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

5 4 0 1 0

50 40 0 10

0

Jumlah (n) 10 100

Sumber: Data Primer yang diolah, 2022.

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa responden yang menjawab sangat setuju bahwa ada kendala dari pihak kantor pertanahan terkait respon yang lambat, yaitu sebanyak 5 orang atau 50% responden. Pasal 6 Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2020 menegaskan bahwa penerbitan sertipikat Hak Tanggungan Elektronik dilakukan pada hari ke-7 (tujuh) setelah permohonan pelayanan Hak Tanggungan Elektronik terkonfirmasi sistem Hak Tanggungan Elektronik. Respon pelayanan yang diberikan oleh pihak Kantor Pertanahan yang lambat tentulah berdampak pada batas waktu yang telah ditetapkan.

Kendala lainnya terkait dengan sistem yang sering eror dan harus dilakukan perbaikan saat itu juga mengingat setiap harinya ada Hak Tanggungan Elektronik yang diupload PPAT dan Kreditor, hal ini perlu diperhatikan untuk melakukan perbaikan bagi Kementrian Pertanahan Nasional

(14)

47 Tabel 5

Kendala Penginputan Data Pada Sistem Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik

Pernyataan Frekuensi Persentase (%) Sangat Setuju

Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

4 2 1 3 0

40 20 10 30 0

Jumlah (n) 10 100

Sumber: Data Primer yang diolah, 2022.

Data diatas mengenai jawaban responden tentang kendala pada saat melakukan penginputan data berdasar APHT yang dibuat PPAT dan data pendukung lainnya. Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa dari 10 responden ada 4 orang yang menjawab sangat setuju, dengan persentase 55,6%.

Permasalahan lain terkait dengan sistem adalah aplikasi HT-el sering mengalami masalah yang terjadi pada saat jam kerja, dimana seringkali sulit mengupload dokumen ataupun mendaftar sehingga perlu dilakukan pengulangan dari awal.4 Kendala pada sistem ini memiliki dampak bagi PPAT dimana PPAT diharuskan untuk mengulang proses pendaftaran Hak Tanggungan Elektronik dari awal dan biaya pelayanan yang telah dibayar menjadi hangus dan harus membayar ulang. Hingga saat ini belum ada aturan yang mengatur secara tegas terkait pertanggungjawaban pihak Kantor Pertanahan dalam pelayanan Hak Tanggungan Elektronik jika terdapat kendala pada sistem pendaftarannya.

4 Wawancara dengan Sri Rahmawati, S.H.,M.Kn. (PPAT Kab. Pinrang)

(15)

48 Menurut keterangan Elmi Rosalia Fathony5 bahwa permasalahan atau kendala yang disebabkan oleh sistem kerja IT yang disiapkan Pemerintah (Kementerian ATR/BPN) PUSDATIN (Pusat Data Informasi Pertanahan dan Tata Ruang). Permasalahan-permasalahan tersebut tentu tidak dapat dihindari karena merupakan keadaan diluar kendali manusia (Force Major), akibatnya tahap verifikasi yang melewati batas waktu mengharuskan PPAT untuk melakukan pengecekan kembali dan mengupload ulang APHT dan dokumen- dokumen, mengganti nomor APHT dengan nomor baru. Hal ini berdampak dengan tidak adanya jaminan kepastian hukum bagi kreditur karena harus mengikuti alur kerja sistem sehingga berakibat kepada lemahnya perlindungan hukum bagi kreditur sebagai pihak yang berpiutang. Proses pendaftaran Akta Hak Tanggungan yang lambat tentu akan mempengaruhi lahirnya Hak Tanggungan, karena pada masa Hak Tanggungan belum terdaftar bisa saja muncul berbagai gugatan yang ditujukan terhadap objek tersebut.

Lebih lanjut Elmi Rosalia Fathony mengemukakan bahwa Kementerian ATR/BPN sebenarnya telah menerbitkan petunjuk teknis pada tanggal 29 April 2020, yaitu kendala yang terjadi dilaporkan pada PUSDATIN (Pusat Data Informasi Pertanahan dan Tata Ruang), Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang memiliki keterbatasan akses dalam akses pendaftaran Hak Tanggungan Elektronik, Kantor Pertanahan Kabupaten Pinrang hanya melakukan tugas memeriksa kembali permohonan yang telah diupload oleh

5 Wawanca dengan Elmi Rosalia Fathony (Pegawai Kantor Pertanahan Kab. Pinrang)

(16)

49 PPAT untuk memastikan data yang diupload sudah sesuai dengan persyaratan yang menjadi syarat permohonan pendaftaran Hak Tanggungan Elektronik.

Dalam hal ini Kantor Pertanahan hanya berhak menolak dan menyetujui permohonan Hak Tanggungan Eletronik yang telah dimohonkan oleh PPAT.

Terkait dengan permasalahan sistem pendaftaran Hak Tanggungan Elektronik yang eror hanya dapat diperbaiki oleh pihak Pusat Data Informasi Pertanahan dan Tata Ruang (PUSDATIN), dengan demikian kendala teknis atas pelaksanaan layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik masih seringkali terjadi.

Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan, sebagai jaminan adanya kepastian bagi pemberi didalam pelaksanaan tugas dan fungsinya dan bagi penerima pelayanan dalam proses pengajuan permohonannya. Standar pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraanpelayanan pelayanan publik sebagai pedoman yang wajib ditaati dan dialkasanakan oleh penyelenggara pelayanan dan menjadi pedoman bagi penerima pelayanan dalam proses pengajuan permohonan, serta sebagai alat kontrol masyarakat dan/atau penerima layanan atas kinerja penyelenggara layanan. Oleh karena itu, perlu disusun dan ditetapkan standar pelayanan sesuai dengan sifat, jenis dan karakteristik layanan yang diselenggarakan, serta memperhatikan kebutuhan dan kondisi lingkungan.

Menurut Ibrahim (dalam Hardiyansyah), kualitas pelayanan publik merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,

(17)

50 manusia, proses dan lingkungan dimana penilaian kualitasnya ditentukan pada saat terjadinya pemberian pelayanan publik tersebut. Untuk mencapai kepuasan itu, dituntut kualitas pelayanan yang tercermin dari:6

a. Transparansi, yakni pelayanan yang bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai dan mudah dimengerti.

b. Akuntabilitas, yakni pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Kondisional, yakni pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.

d. Partisipatif, yakni pelayanan yang dapat mendorong peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan peleyanan publik dengan memperhatikan aspirasi kebutuhan dan harapan masyarakat.

e. Kesamaan hak, yaitu pelayanan yang tidak diskriminatif dilihat dari aspek apa pun khususnya suku, ras, agama, golongan, status sosial dan lain-lain.

6 Ibrahim, Amin. 2008. Teori dan Konsep Pelayanan Publik Serta Implementasinya. Bandung:

Mandar Maju. Hal 40

(18)

51 f. Keseimbangan hak dan kewajiban, yaitu pelayanan yang mempertimbangkan aspek keadilan antara pemberi dan penerima pelayanan publik.

Menurut Zeithaml dkk (dalam Hardiyansyah), kualitas pelayanan dapat diukur dari 10 dimensi, yaitu:7

a. Reliability menyangkut konsistensi dari performance dan dapat dipercaya. Terdiri dari kemampuan unit pelayanan dalam menciptakan pelayanan yang dijanjikan dengan tepat.

b. Responsiveness menyangkut kemauan atau kesiapan karyawan untuk memberikan pelayanan pada konsumen dan bertanggungjawab atas mutu pelayanan yang diberikan.

Hal ini juga menyangkut ketepatan waktu dari pelayanan.

c. Competence yang bermakna memiliki keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan. Terdiri dari tuntutan yang dimilikinya, pengetahuan dan keterampilan yang baik oleh aparatur dalam memberikan layanan.

d. Access menyangkut kemudahan untuk dihubungi serta kemudahan untuk mengadakan kontak dan pendekatan.

7 Zeithaml, Valarie A. Parasuraman & Leonard L. Berry. 1990. Delivering Quality Service. New York: The Free Press. Hal 41

(19)

52 e. Courtesy menyangkut etika kesopanan, rasa hormat, kesungguhan, keramatamahan dari penyedia jasa. Terdiri dari sikap atau perilaku ramah, bersahabat, tanggap, terhadap keinginan konsumen serta mau melakukan kontak atau hubungan pribadi.

f. Communication berarti menjaga agar tiap pelanggan mendapat informasi sesuai dengan bahasa yang mereka pahami dan mendengarkan keinginan serta aspirasi mereka.

Hal ini berarti pemberi layanan tersebut harus menyesuaikan bahasa mereka dengan konsumen yang berbeda-- meningkatkan level bahasa pada pelanggan yang berpendidikan baik serta berbicara secara mudah dan sederhana kepada orang yang baru.

g. Credibility menyangkut dapat dipercaya, kejujuran penyedia jasa untuk menarik kepercayaan masyarakat. Hal ini bermakna konsumen memiliki ketertarikan di hati.

h. Security adalah pelayanan yang diberikan harus dijamin bebas dari bahaya, resiko, ataupun keraguan.

i. Understanding/knowing the customer menyangkut usaha pemberi layanan untuk memahami apa yang konsumen butuhkan.

(20)

53 j. Tangibles menyangkut lingkungan fisik dan gambaran fisik yang berupa peralatan, personil dan komunikasi dari suatu jasa.

Terdapat faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan layanan hak tanggungan elektronik di Kab. Pinrang, sehingga dibutuhkan peningkatan kualitas pelayanan dengan memperhatikan penyelenggaraan pelayanan pblik yang sesuai dengan standar pelayanan, sebagai jaminan adanya kepastian. Hal ini dapat dilihat didalam Keputusan Meneteri Negera Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Menurut KEPMENPAN Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003, standar pelayanan publik sekurang-kurangnya meliputi Prosedur pelayanan, Waktu penyelesaian, Biaya pelayanan., Produk pelayanan, Sarana dan prasarana. Kompetensi petugas pelayanan

Mengingat kuliatas pelayanan publk di bidang jasa bersifat dinamis makan penilian kepuasaan kualitasnya dapat ditentukan pada saat proses pemberian layanan terjadi. Maka untuk mencapai kepuasan itu, kualitas yang diberikan kantor pertanahan harus mencerminkan konsistensi pelayanan (reliability), bertanggung jawab dalam memberikan mutu pelayanan (responsiveness), keahlian, pengetahuan dan keterampilan yang baik oleh

aparatur pemberi layanan (Competence), kemudahan akses dalam menjalin komunikasi (Access), etika kesopanan, sikap atau perilaku yang tanggap terhadap keinginan konsumen (courtesy), meningkatkan level bahasa pada

(21)

54 pelanggan yang berpendidikan baik serta berbicara secar mudah dan sederhana kepada orang yang baru (Communication), sikap dapat dipercaya dan kejujuran pihak kantor pertanahan untuk menarik kepercayaan (Credibility). Pelayanan yang menjami keamanan (security), memahami apa yang dibutuhkan oleh konsumen (understanding/knowing the custumer), dan yang terakhir terkait gambaran terhadap proses pelayanan (ttangbles).

D. Solusi dalam menangani kendala dalam Pelaksanaan Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik di Kab. Pinrang

Meskipun dalam masa pengembangan, baik dari segi peraturan, petunjuk teknis maupun sistemnya, Kantor Pertanahan Kab. Pinrang telah melaksanakan seluruh tahapan yang ada, sebagaimana yang telah diatur dalam perundangan yang berlaku.

Setiap kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah tidak selamanya berjalan dengan baik, hal tersebut disebabkan suatu implementasi yang bersifat komplek.

Situasi ini mendorong timbulnya kendala-kendala dalam pelaksanaan suatu kebijakan.8 Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan penulis pada Kantor Pertanahan Kab. Pinrang disebutkan ada beberapa Langkah yang

8 Winarno, 2012:210

(22)

55 dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala yang timbul pada proses pelayanan Hak Tanggungan teintegrasi elektronik.

Pihak Pertanahan Kab. Pinrang menggunakan 3 demensi indikator perbaikan pelayanan publik, yaitu9 :

1. Peningkatan Kualitas Data Pertanahan

Menurut Petunjuk Teknis Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap Tahun No. 1/Juknis-100.JK.02.01/III/2020 tentang Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap mengatur tentang data spasial dan data yuridis yang disajikan baik dalam bentuk analog maupun digital. Data spasial merupakan data yang menyajikan informasi mengenai letak, batas, luas bidang tanah sedangkan data yuridis merupakan status hukum suatu bidang tanah pemegang hak, serta beban lain yang membebaninya.

Kualitas data yang buruk akan mengakibatkan terjadinya kesalahan pada saat proses layanan, pengambilan kebijakan, dan ketidakpuasan penerima layanan. Kesalahan saat proses layanan dan pengambilan keputusan mengakibatkan buruknya produk yang dihasilkan, sehingga menimbulkan permasalahan dikemudian hari.

Berdasarkan hal tersebut Pihak kantor Pertanahan ATR/BPN berupaya untuk meningkatkan kualitas data agar dapat menghasilkan informasi pertanahan yang valid dan akurat, serta menghasilkan layanan yang

9 Hasil observasi dan Wawancara dengan Elmi Rosalia Fathony (Pegawai Kantor Pertanahan Kab.

Pinrang)

(23)

56 berkualitas. Peningkatan kualitas data merupakan penunjang terlaksananya layanan elektronik demi menopang arah kebijakan atau keputusan. Data yang berkualitas tentunya akan menghasilkan produk yang berkualitas dan dapat meminimalisir bahkan terhindar dari permasalahan dikemudian hari. Selain itu, ketika proses pelayanan berjalan dengan lancar tentu pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu dan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan tetap berkualitas.10

Peningkatan kualitas data dimaksudkan untuk meningkat seluruh kualitas data pertahanan baik secara fisik maupun yuridis menjadi valid.

Peningkatan kualitas data dilakukan dengan cara mencocokkan data fisik yuridis pada system komputerisasi kegiatan pertanahan (KKP) sehingga memperoleh data pertanahan yang sesuai. Kantor Pertanahan Kab. Pinrang terus berusaha untuk meningkatkan kualitas data dengan terus melakukan validasi data pertanahan.

Setelah data informasi pada komputerisasi Kantor Pertanahan (KKP) sudah valid maka layanan berbasis elektronik dapat dilaksanakan. Bentuk kesiapan data elektronik adalah dengan tervalidasinya data tekstual dan data spasial.

Berdasarkan rekapitulasi validasi data pertanahan per-juli 202111, persentase kesiapan data elektronik mencapai 54,48%. hal ini berarti bahwa kesiapan data elektronik masih perlu ditingkatkan.

10 Ibid

11 www.statistik.atrbpn.go.id

(24)

57 2. Peningkatan Komitmen Pengguna Layanan Hak Tanggunggan

Elektronik

Menurut Soekidjan, komitmen adalah kemampuan dan kemauan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dengan kebutuhan, prioritas dan tujuan organisasi. Hal ini termasuk kedalam cara-cara mengembangkan tujuan atau memenuhi kebutuhan organisasi yang intinya mendahulukan misi organisasi dari pada kepentingan yang bersifat pribadi.12

Komitmen berbentuk tanggung jawab dan memiliki rasa kewajiban terhadap Tindakan tertentu, minimal mencakup profesionalisme dan etika dalam melakukan Tindakan. Apabila pengguna layanan tidak mempunyai komitmen maka akan menimbulkan hambatan pada proses pelayanan sehingga membutuhkan waktu dan biaya tambahan karena harus mengulang pekerjaan. Sebagaimana yang diketahui bahwa Sertipikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik akat diterbitkan secara otomatis pada hari ke-7 (tujuh) terhitung sejak Surat Perintah Setoran (SPS) dibayarkan, maka komitmen PPAT dan kreditor menjadi faktor penunjang dalam pelaksanaan Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik.13

Selama proses pemeriksaan sampai dengan diterbitkannya Sertifikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik PPAT maupun pihak kreditor

12 Soekidjan, S., & Kj. S. 2009. Komitmen Organisasi Sudahkah Menjadi Bagian dari Kita.

Jakarta: RIneka Cipta.

13 Hasil Observasi & Wawancara dengan Elmi Rosalia Fathony (Pegawai Kantor Pertanahan Kab.

Pinrang)

(25)

58 diberikan waktu untuk melakukan perbaikan. Menurut Juknis Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik, jika tidak dilakukan perbaikan maka konsekuensinya adalah proses akan ditutup dan biaya yang telah disetor tidak dapat dikembalikan. Oleh karena itu kebenaran data dan kelengkapan serta kejelasan berkas harus lebih diperhatikan oleh pemohon dalam hal ini PPAT dan pihak kreditor sehingga kesalahan yang timbul bisa diminimalisir. Selain itu, data dan kelengkapan yang disajikan oleh PPAT dan kreditor merupakan syarat utama terbitnya Sertifikat Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik, sehingga pihak Kantor Pertanahan Kab. Pinrang memastikan PPAT maupun kreditor untuk selalu memegang komitmen bahwa data dan kelengkapan berkas yang disampaikan merupakan data yang telah sesuai dan dapat dipercaya serta dapat dipertanggungjawabkan.14

3. Peningkatan Sosialisasi dan Komunikasi

Sosialisasi dan komunikasi yang baik akan memberikan kemudahan proses layanan dan meminimalisir terjadinya kesalahan. Sosialisasi yang berkaitan dengan pengenalan layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik telah dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan Kab. Pinrang yang dihadiri oleh pengguna layanan yaitu PPAT dan Kreditor. Pada saat pelaksanaan sosialisasi pengguna layanan secara langsung mempraktikkan proses layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik Terintegrasi Elektronik, seperti pembuatan akun sampai mengunggah dokumen. Pada saat melakukan sosialisasi pihak kantor juga membuka sesi interaksi yang

14 Ibid

(26)

59 bertujuan agar pengguna layanan dapat memahami dan melaksanakan pendaftaran Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik dengan sebaik mungkin. Selain itu, kerja sama dan koordinasi yang aktif antara penyedia layanan dan pengguna layanan pada pelaksanan layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik pada Kantor ATR/BPN Kab. Pirang, hal ini merupakan kunci utama dalam melaksanakan layanan yang terintegrasi elektronik agar dapat berjalan dengan efektif.

Komunikasi antara Kantor Pertanahan dengan pengguna layanan dalam hal ini PPAT dan Kreditor tidak hanya dilakukan disaat awal dimulainya pengenalan Sistem Layanan Hak Tanggungan Terintegrasi Elektronik saja, tetapi komunikasi tetap dapat terjalin. Pihak Kantor Pertanahan Kab. Pinrang berkomunikasi dengan pengguna layanan melalui aplikasi telepon yang berbasi internet yaitu whatsapp secara aktif.15 Komunikasi tersebut bertujuan meminimalisisr terjadinya kesalahan saat pelaksanaan pendaftaran, dalam proses pemeriksaan dan perbaikan, begitu juga dengan kendala-kendala atau permasalahan yang terjadi bisa disampaikan oleh pihak PPAT dan Kreditor agar dapat diketahui oleh pihak Kantor Pertanahan sehingga dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat. Komunikasi ini juga menjadi bagian penting sehingga sertipikat elektronik yang terbit nantinya merupakan sertipikat yang telah melalui proses pemeriksaan serta menjadi produk yang dapat dipertanggung jawabkan.

15 Wawanca dengan Elmi Rosalia Fathony (Pegawai Kantor Pertanahan Kab. Pinrang).

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu metode adalah menggunakan perhitungan korelasi dalam mengenali pola karakter yang dapat dimanfaatkan dalam pengenalan catatan penjualan [1,2]..

Usahakan menarik empat garis lurus yang menghubungkan sembilan titik tanpa mengangkat pena atau pensil anda. Tantangan sembilan

Jurnal yang dipilih dalam penelitian ini adalah jurnal yang melaporkan jumlah pengganti jagung yang berpengaruh terhadap kualitas daging, atau jagung sebagai bahan

Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia 1945 pasal 36, secara umum belum menjadi kebanggaan bagi

Kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan Student Centered daripada Teacher Centered. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengkaji

Bantuan Keuangan adalah bantuan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota yang diberikan secara proporsional kepada Partai Politik

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah : 1) Untuk membuktikan secara empiris pengaruh Budgetary Goal Characteristics terhadap kinerja aparat Pemda

[r]