FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA
SISA MAKANAN PADA PASIEN RAWAT INAP KELAS III DI
RSUD KOTA SEMARANG
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh
Oki Hadi Priyanto NIM. 6450403131
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2009
ii
Oki Hadi Priyanto, 2009, Faktor yang Berhubungan dengan Terjadimya Sisa Makanan pada Pasien Rawat Inap Kelas III di RSUD Kota Semarang, Skripsi, Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Pembimbing: I. Drs. Sugiharto, M.Kes., II. Irwan Budiono, S.KM., M.Kes.
Kata Kunci: Faktor Sisa Makanan, Sisa Makanan
Survei pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 17 Juli 2008 di RSUD Kota Semarang ditemukan adanya sisa makanan berupa makanan pokok (nasi atau bubur), lauk hewani, lauk nabati dan sayuran yang cukup banyak baik makan pagi, makan siang maupun makan sore, dengan rata-rata prosentase sebesar 48,29% yang terdiri dari pasien rawat inap kelas I ditemukan adanya sisa makanan sebesar 4,67%, kelas II sebesar 15,59%, dan kelas III sebesar 28,03%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang.
Jenis penelitian ini adalah eksplanatori dengan metode survei dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien rawat inap di kelas III dengan jumlah pasien sebanyak 82 orang. Jumlah sampel penelitian sebanyak 45 pasien. Teknik pemilihan sampel dengan cara simple random sampling. Data di analisis dengan menggunakan uji chi square atau uji fisher sebagai alternatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah kuesioner, timbangan makanan dan formulir pengamatan sisa makanan.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa faktor yang berhubungan dengan terjadinya sisa makanan yaitu jadual penyajian makanan (p value=0,010), makanan luar RS (p value=0,002), mutu makanan (p value=0,000).
iii
ABSTRACT
Oki Hadi Priyanto, 2009, Factor Relating To Thus Food Waste At Takes Care Of Lodging Patients Third Class In Local Public Hospital Semarang, Final Project, Public Hygiene, Sportman Science Faculty, University State of Semarang, Counsellor : 1st. Drs. Sugiharto, M. Kes, 2nd. Irwan Budiono, S. KM, M. Kes.
Keyword: Food Waste Factor, Food Waste
Antecedent survey done by date of 17 Julies 2008 in local public hospital Semarang is found existence of Food Waste in the form of staple food (rice or mush), animal side dish, vegetable side dish and quite a lot vegetable either lunch, breakfast and also evening eats, with average of procentage equal to 48,29% consisted of by patients in first class is found existence of Food Waste equal to 4,67%, second class equal to 15,59%, and third class equal to 29,03%. Purpose of this research is to know factor relating to thus Food Waste at takes care of lodging patients third class in local public hospital Semarang.
This research type is eksplanatori with survey method with research of cross sectional design. Population from this research is all takes care of lodging patients in third class with 82 number of patients. Number of research samples 45 patients. sample choosing technique by the way of simple random sampling. Data in analysis by using test chi square or test fisher alternatively Instrumen applied in research is questionaire, food weighing-machine and observation form of Food Waste.
Based on research bacillus it is got that factor relating to the happening of Food Waste that is presentation schedule of food (p value = 0,010), food outside RS (p value=0,002), quality of food (p value=0,000).
iv
PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul “Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Sisa Makanan pada Pasien Rawat Inap Kelas III di RSUD Kota Semarang” telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Pada hari : Tanggal :
Panitia Ujian
Ketua, Sekretaris,
Drs. H. Harry Pramono, M.Si. dr. H. Mahalul Azam, M.Kes.
NIP. 131 469 638 NIP. 132 297 151
Penguji,
1. Drs. Bambang Wahyono, M.Kes. (Utama) NIP. 131 674 366
2. Drs. Sugiharto, M.Kes. (Anggota) NIP. 131 571 557
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto:
“Percaya anda dapat berhasil, maka anda pun akan benar-benar berhasil
karena jika anda percaya, pikiran anda akan mencari jalan untuk
mencapainya”(David J. Schwartz, 1996:1).
Persembahan:
Kupersembahkan skripsi ini kepada :
1. Ayahanda dan Ibunda tercinta
sebagai dharma bakti ananda
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “Faktor yang Berhubungan dengan
Terjadinya Sisa Makanan pada Pasien Rawat Inap Kelas III di RSUD Kota
Semarang” dapat terselesaikan dengan baik. Penyelesaian skripsi ini dimaksudkan
untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
pada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
Sehubungan dengan pelaksanaan penelitian sampai tersusunnya skripsi ini,
dengan rasa rendah hati disampaikan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Pembantu Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas
Negeri Semarang, Bapak Drs. Moh. Nasution, M.Kes., atas ijin penelitian.
2. Ketua Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang, Bapak dr. H. Mahalul Azam, M.Kes., atas
persetujuan penelitian.
3. Pembimbing I, Bapak Drs. Sugiharto, M.Kes., atas arahan, bimbingan, dan
masukannya dalam penyelesaian skripsi ini.
4. Pembimbing II, Bapak Irwan Budiono, S.KM., M.Kes., atas arahan,
bimbingan, dan masukannya dalam penyelesaian skripsi ini.
5. Wakil Direktur Umum dan Keuangan RSUD Kota Semarang, Ibu Dr. Sis Eka
Tjahjana atas ijin penelitiannya.
6. Kepala Bidang Ideologi dan Kewapadaan Nasional Kesbangpolinmas, Bapak
Winarsono, SH atas ijin penelitiannya.
vii
8. Ayahanda dan Ibunda tercinta, atas dukungannya baik secara material maupun
spiritual dalam penyelesaian skripsi ini.
9. Seluruh Pegawai dan Staf Instalasi Gizi RSUD Kota Semarang atas bantuan
dalam pengambilan data dan pelaksanaan penelitian.
10.Teman-temanku khususnya Rini, Ifan, Maulida, Wawan, Dika, Hendra,
Lasmi dan Didik atas bantuan dan motivasinya dalam penyelesaian skripsi ini.
11.Semua pihak yang terlibat, atas bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga amal baik dari semua pihak mendapatkan pahala yang berlipat
ganda dari Allah SWT. Disadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan guna
penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Semarang, Agustus 2009
viii
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
ABSTRAK ... ii
ABSTRACT ... iii
PENGESAHAN ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 4
1.3Tujuan penelitian ... 5
1.4Manfaat Penelitian ... 5
1.5Keaslian Penelitian ... 6
1.6Ruang Lingkup Penelitian ... 9
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori ... 10
2.1.1 Pelayanan Gizi Rumah Sakit ... 10
ix
2.1.3 Sumber Daya Pelayanan Gizi RS... 12
2.1.4 Penyelenggaraan Makanan RS ... 13
2.1.5 Sisa Makanan dan Faktor yang Mempengaruhi ... 17
2.1.6 Cara Penentuan Sisa Makanan ... 21
2.2 Kerangka Teori ... 22
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep ... 23
3.2 Hipotesis Penelitian ... 24
3.3 Jenis dan Rancangan Penelitian ... 24
3.4 Variabel Penelitian ... 25
3.5 Definisi Operasional... 26
3.6 Populasi dan Sampel ... 27
3.7 Instrumen Penelitian ... 29
3.8 Sumber Data Penelitian ... 32
3.9 Teknik Pengambilan Data ... 32
3.10 Analisis Data ... 33
BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Analisis Univariat ... 36
4.2 Analisis Bivariat ... 39
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Hubungan antara Tata Cara Penyajian Makanan Rumah Sakit dengan Terjadinya Sisa Makanan ... 44
x
5.3 Hubungan antara Suasana Lingkungan Tempat Perawatan RS dengan
Terjadinya Sisa Makanan ... 46
5.4 Hubungan antara Makanan Luar Rumah Sakit dengan Terjadinya Sisa Makanan ... 46
5.5 Hubungan antara Mutu Makanan Rumah Sakit dengan Terjadinya Sisa Makanan ... 47
5.6 Kelemahan Penelitian ... 48
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan ... 50
6.2 Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
xi
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Keaslian Penelitian ... 6
2. Definisi Operasional dan Skala Pengukuran ... 26
3. Distribusi Responden berdasarkan Umur ... 37
4. Distribusi Responden berdasarkan Tata Cara Penyajian Makanan ... ... 37
5. Distribusi Responden berdasarkan Jadual Penyajian Makanan ... ... 37
6. Distribusi Responden berdasarkan Keadaan Lingkungan Tempat Pera- watan ... ... 38
7. Distribusi Responden berdasarkan Makanan Luar RS ... ... 38
8. Distribusi Responden berdasarkan Mutu Makanan RS ... 39
9. Distribusi Responden berdasarkan Sisa Makanan ... ... 39
10. Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Tata Cara Penyajian Maka-nan dengan Terjadinya Sisa MakaMaka-nan... 40
11.Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Jadual Penyajian Makanan dengan Terjadinya Sisa Makanan ... ... 41
12.Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Suasana Lingkungan Tem- pat Perawatan dengan Terjadinya Sisa Makanan ... ... 41
13.Hubungan antara Makanan Luar Rumah Sakit dengan Terjadinya Sisa Makanan ... ... 42
14.Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Mutu Makanan RS dengan Terjadinya Sisa Makanan ... ... 43
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kerangka Teori ... 22
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 54
2. Formulir Pengamatan Sisa Makanan ... 58
3. Identitas Responden ... 59
4. Persepsi Pasien Mengenai Tata Cara Penyajian Makanan di RS ... 62
5. Persepsi Pasien Mengenai Jadual Penyajian Makanan di RS ... 63
6. Persepsi Pasien Mengenai Suasana Lingkungan Tempat Perawatan di RS ... 64
7. Persepsi Pasien Mengenai Makanan dari Luar RS ... 65
8. Persepsi Pasien Mengenai Mutu Makanan RS ... 66
9. Persentase Sisa Makanan Pasien Rawat Inap Kelas III di RSUD Kota Semarang ... 67
10.Siklus Menu 10 Hari RSUD Kota Semarang ... 69
11.Cara Penghitungan Sisa makanan ... 71
12.Analisis Univariat ... 72
13.Analisis Bivariat ... 75
14.Surat Keputusan Dosen Pembimbing Skripsi ... 80
15.Melaksanakan Uji Validitas Kuesioner ... 81
16.Surat Permohonan Ijin Penelitian dari Fakultas ... 82
17.Surat Keterangan Ijin Penelitian dari Kesbangpolinmas ... 83
18.Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari RSUD Kota Semarang ... 84
19.Surat Keputusan Dosen Penguji Skripsi ... 85
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Tujuan umum pembangunan kesehatan seperti yang tercantum dalam
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah mengusahakan kesempatan
yang lebih luas, merata dan dapat diterima serta terjangkau oleh seluruh
masyarakat (Depkes RI., 1991:1).
Salah satu faktor pendukung agar masyarakat memperoleh derajat
kesehatan yang optimal adalah dengan meningkatkan upaya pelayanan kesehatan
di rumah sakit. Rumah sakit merupakan tempat rujukan tertinggi dalam upaya
pelayanan kesehatan dan sangat berperan di dalam upaya penyembuhan serta
pemulihan pasien (Depkes RI., 1991:3).
Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS) merupakan salah satu komponen
dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit. Untuk meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan di rumah sakit, maka antara komponen satu dengan komponen yang
lainnya harus saling berkaitan (Depkes RI., 1991:10). Menurut Kusindrati
Sudibyo (1993:4), Pelayanan Gizi Rumah Sakit adalah pelayanan yang diberikan
di rumah sakit bagi pasien rawat jalan dan rawat inap agar dapat memilih dan
memperoleh makanan yang sesuai guna mencapai status gizi yang optimal.
Berdasarkan mekanisme kerjanya, pelayanan gizi di rumah sakit
mencakup empat kegiatan pokok. Kegiatan pokok tersebut meliputi pengadaan
rawat inap, penyuluhan atau konsultasi dan rujukan gizi, serta penelitian dan
pengembangan gizi terapan (Depkes RI., 1991:14).
Kegiatan pelayanan gizi di ruang rawat inap, merupakan rangkaian
kegiatan yang dimulai dari upaya perencanaan penyusunan diet pasien hingga
pelaksanaan evaluasi di ruang perawatan. Tujuan kegiatan pelayanan gizi tersebut
adalah untuk memberi terapi diet yang sesuai dengan perubahan sikap pasien, dan
untuk mencegah kambuhnya penyakit pasien (Depkes RI., 1991:24).
Pelayanan gizi rumah sakit atau lebih dikenal dengan kegiatan usaha
pemberian makanan atau pengobatan dengan diet atau terapi bagi pasien di rumah
sakit dihadapkan pada beberapa masalah yang tidak ditemui pada
penyelenggaraan makanan institusi lain. Masalah penyajian makanan kepada
orang sakit lebih komplek dari pada penyajian makanan untuk orang sehat. Hal ini
disebabkan terutama oleh nafsu makan, kondisi mental pasien yang berubah
akibat penyakit yang dideritanya, aktivitas fisik yang menurun, selain itu sebagian
dari pasien harus menjalani terapi diet (Sunita Almatsier, 1992:31).
Peningkatan mutu makanan dan mutu pelayanan rumah sakit belum
terlaksana dengan maksimal, sehingga berpengaruh kurang baik terhadap mutu
makanan yang disajikan, akibatnya pasien meninggalkan banyak sisa makanannya
(Sunita Almatsier, 1992:35). Apabila makanan yang disajikan sesuai kebutuhan
tetapi tidak dihabiskan akan menyebabkan pasien mengalami defisiensi gizi yang
berarti pelayanan gizi tidak tercapai secara optimal (Dewi Komalawati, dkk.,
2005:37).
Berdasarkan penelitian di beberapa RS, antara lain: RS Hasan Sadikin
Sunan Kalijaga Demak (RS tipe C) ditemukan adanya sisa makanan dari pasien
rawat inap meliputi makanan pokok (nasi atau bubur), lauk hewani, lauk nabati,
dan sayuran (Nurjawati Akmal, 1995:13).
Sisa makanan dapat terjadi di rumah sakit milik pemerintah maupun
rumah sakit swasta. Besarnya sisa makanan yang terjadi dipengaruhi oleh
pelayanan gizi atau penyelenggaraan makanan di rumah sakit yang sangat
tergantung kepada kemampuan dan keadaan rumah sakit.
RSUD Kota Semarang merupakan salah satu rumah sakit pemerintah di
Semarang yang memiliki pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Alasan peneliti
memilih RSUD Kota Semarang menjadi tempat penelitian karena selama ini
RSUD Kota Semarang menjadi salah satu tempat rujukan bagi masyarakat kota
Semarang untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Selain itu penelitian mengenai
sisa makanan belum pernah dilakukan di RSUD Kota Semarang. Dari hasil survei
pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 17 Juli 2008, jumlah keseluruhan
pasien rawat inap di RSUD Kota Semarang sebanyak 107 pasien dimana tempat
perawatan dibagi menjadi tiga kelas yaitu kelas I, kelas II, dan kelas III.
Sedangkan untuk mengetahui ada tidaknya sisa makanan di RSUD Kota
Semarang dilakukan dengan cara pengamatan secara kasar di bagian ruang rawat
inap RSUD Kota Semarang. Pada saat survei ditemukan adanya sisa makanan
berupa makanan pokok (nasi atau bubur), lauk hewani, lauk nabati dan sayuran
yang cukup banyak baik makan pagi, makan siang maupun makan sore, dengan
sisa makanan sebesar 4,67%, kelas II sebesar 15,59%, dan kelas III sebesar
28,03%.
Berdasarkan alasan tersebut, maka dilakukan penelitian dengan judul
“FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TERJADINYA SISA
MAKANAN PADA PASIEN RAWAT INAP KELAS III DI RSUD KOTA
SEMARANG”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, ditemukan adanya sisa
makanan pada kelas III di RSUD Kota Semarang sebesar 28,03% yang lebih
tinggi dibandingkan kelas I dan II, maka dapat dirumuskan masalah penelitian
sebagai berikut:
1.2.1 Rumusan Masalah Umum
Faktor apakah yang berhubungan dengan terjadinya sisa makanan pada
pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang?
1.2.2 Rumusan Masalah Khusus
1. Adakah hubungan antara persepsi pasien mengenai tata cara penyajian
makanan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di
RSUD Kota Semarang?
2. Adakah hubungan antara persepsi pasien mengenai jadual makan rumah sakit
dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD
Kota Semarang?
3. Adakah hubungan antara persepsi pasien mengenai suasana lingkungan
tempat perawatan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap
4. Adakah hubungan antara makanan luar rumah sakit dengan terjadinya sisa
makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang?
5. Adakah hubungan antara persepsi pasien mengenai mutu makanan yang
disajikan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di
RSUD Kota Semarang?
1.3Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui faktor yang berhubungan dengan terjadinya sisa makanan
pada pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui hubungan antara persepsi pasien mengenai tata cara penyajian
makanan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di
RSUD Kota Semarang.
2. Mengetahui hubungan antara persepsi pasien mengenai jadual makan rumah
sakit dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di
RSUD Kota Semarang.
3. Mengetahui hubungan antara persepsi pasien mengenai keadaan atau suasana
lingkungan tempat perawatan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien
rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang.
4. Mengetahui hubungan antara makanan luar rumah sakit dengan terjadinya sisa
makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang.
5. Mengetahui hubungan antara persepsi pasien mengenai mutu makanan yang
disajikan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di
1.4Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Tenaga Kesehatan Bagian Gizi di RSUD Semarang
Memberikan informasi mengenai persentase sisa makanan pada pasien
rawat inap sehingga dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk lebih
meningkatkan mutu penyelenggaraan makanan rumah sakit melalui penyediaan
makanan yang bermutu tinggi dan bergizi.
1.4.2 Bagi Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi akademik khususnya bagi
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES serta sebagai bahan informasi,
bahan pembanding, bahan pustaka dan sebagai bahan masukan bagi penulis
selanjutnya.
1.4.3 Bagi penulis
Menambah wawasan mengenai penyelenggaraan makanan di RS, mutu
makanan yang disajikan RS, tata cara penyajian makanan RS, jadual penyajian
makanan RS, suasana tempat perawatan, dan kebiasaan makan pasien.
1.5Keaslian Penelitian
Penelitian sejenis dengan penelitian ini telah ada sebelumnya, namun
terdapat perbedaan baik dari variabel yang diteliti maupun tempat dilakukannya
Tabel 1
Keaslian Penelitian No Perbedaa
n
Penelitian
Toto Raharjo Candrasari
Ratnaningrum Soeselo Slawi dan RSU Harapan Anda Tegal ditinjau dari sisa makanan biasa pasien rawat inap
Hubungan antara Persepsi Pasien dan Sisa Makanan dengan Diet Biasa yang disajikan pada Pasien Rawat Inap di RS Banyumanik Semarang
Beberapa Faktor Penyebab Terjadinya Sisa Makanan Biasa pada Pasien Rawat Inap Di RSUD Kraton Pekalongan
2
RSU Dr. Soeselo Slawi dan RSU Harapan Anda Tegal
Penelitian eksplanatori dengan metode survei dan pendekatan
Cross Sectional
Variabel terikat: sisa makanan Variabel bebas: jadual makan, jenis kelamin, kelas
perawatan, mutu makanan, cara penyajian, suasana lingkungan RS, makanan dari luar RS
Kuesioner
1) Ada hubungan antara jadual makan dengan sisa makanan
(X2hit=14,41>X 2
tab=9,49)
2) Tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan sisa makanan (X2
hit-=0,22<X2tab=5,99)
2005
RS Banyumanik Semarang
Penelitian penjelasan dengan metode survei dan pendekatan
Cross Sectional
Variabel Terikat: sisa makanan
Variabel Bebas: persepsi pasien meliputi Besar porsi, rasa, tekstur, variasi makanan
Variabel Pengganggu: sikap petugas,
pengetahuan gizi pasien, lama hari perawatan,
lingkungan/ketenagaan ruang perawatan, penunggu pasien, makanan dari luar RS
Kuesioner pendekatan cross sectional
Variabel terikat: sisa makanan biasa Variabel bebas: mutu makan, kebiasaan makan,tata cara penyajian makanan RS, jadual penyajian, kelas perawatan, makanan dari luar RS
7 porsi dengan sisa makanan
3) Ada hubungan kelas perawatan dengan sisa makanan (X2
hit-=9,54>X2tab=9,49)
4) Ada hubungan mutu makanan dengan sisa makanan (X2
hit-=15,2>X2tab=9,49)
5) Ada hubungan cara penyajian makanan dengan sisa makanan (X2hit=10,96>X2tab=9,49)
6) Ada hubungan makanan dari luar RS dengan sisa makanan (X2
hit-=10,71>X2tab=5,99)
7) Tidak ada hubungan suasana lingkungan RS dengan sisa makanan (X2hit=0,51<X
4) Ada hubungan rasa makanan dengan sisa makanan (p=0,001)
2) Ada hubungan kebiasaan makan pasien di rumah dengan sisa makanan (p=0,023) 3) Ada hubungan
jadual makan luar RS dengan sisa makanan (p=0,465)
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu:
1. Penelitian ini berjudul faktor yang berhubungan dengan terjadinya sisa
makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang.
2. Waktu penelitian dilakukan pada tahun 2009.
4. Variabel bebas mencakup persepsi pasien mengenai tata cara penyajian
makanan RS, jadual penyajian makanan RS, suasana lingkungan tempat
perawatan, makanan luar RS, dan mutu makanan RS.
5. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner, pengukuran dengan alat
timbangan makanan, dan formulir pengamatan sisa makanan.
1.6Ruang Lingkup Penelitian 1.6.1 Ruang Lingkup Tempat
Tempat penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Semarang yang berada di daerah Ketileng Semarang.
1.6.2 Ruang Lingkup Waktu
Penelitian ini dilakukan selama 3 hari yaitu pada tanggal 4-6 Mei 2009.
1.6.3 Ruang Lingkup Materi
Penelitian bidang Ilmu Gizi yang meneliti mengenai faktor yang
10
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS)
Rumah sakit adalah sarana pelayanan kesehatan yang terus diupayakan
pengembangannya. Salah satu bentuk pelayanan yang dilaksanakan adalah
pelayanan gizi (Tjaronosari, dkk., 2005:9).
Tujuan pelayanan gizi adalah memberikan makanan yang sesuai dengan
kebiasaan dan kondisi pasien, melalui penyediaan makanan yang memenuhi
kebutuhan gizi dan cita rasa dalam upaya mempercepat penyembuhan dan
mencapai kondisi gizi optimal serta memperpendek hari perawatan (Nursiah A
Mukrie, dkk., 1990:7).
2.1.2 Kegiatan Pokok Pelayanan Gizi
Menurut Depkes RI., (1991:6), berdasarkan mekanisme kerja pelayanan gizi di rumah sakit maka kegiatan PGRS dapat dikelompokkan menjadi empat
kelompok kegiatan yaitu kegiatan pengadaan makanan, pelayanan gizi di ruang
rawat inap, penyuluhan atau konsultasi gizi, serta kegiatan penelitian dan
pengembangan gizi terapan.
2.1.2.1 Kegiatan Pengadaan Makanan
Pengadaan makanan adalah serangkaian kegiatan dimulai dari perencanaan
penyediaan makanan matang bagi pasien dan karyawan di rumah sakit (Depkes
RI., 1991:84). Kegiatan Pengadaan makanan dalam pelayanan gizi rumah sakit
membutuhkan biaya sangat besar, sekitar 20-40 % anggaran rumah sakit
digunakan untuk membeli bahan makanan, sehingga perlu mengelola biaya
dengan baik agar dapat efisien dan efektif. Makanan yang menarik dan memenuhi
cita rasa, sangat berpengaruh terhadap citra rumah sakit (Meriwati dan Setya
Haksama, 2002:84).
2.1.2.2 Kegiatan Pelayanan Gizi di Ruang Rawat Inap
Pelayanan gizi di ruang rawat inap adalah rangkaian kegiatan yang dimulai
dari pengumpulan data pasien untuk penyediaan diet yang sesuai dengan kondisi
dan keadaan penyakit pasien hingga pemenatauan dan evaluasi diet melalui
pengamatan konsumsi makanan pasien (Depkes RI., 1991:115).
2.1.2.3 Konsultasi Gizi
Konsultasi gizi bertujuan membuat perubahan pengetahuan, sikap dan
perilaku makan, serta pola makan sesuai dengan kebutuhan pasien. Hal ini dapat
terlihat dari seberapa jauh kepatuhan pasien untuk melaksanakan diet yang telah
ditentukan. Penyuluhan dan konsultasi gizi dapat diberikan secara perorangan
maupun secara kelompok berdasarkan kesamaan terapi diet pasien (Depkes RI.,
2003:21).
2.1.2.4 Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Gizi Terapan
Kegiatan penelitian dan pengembangan gizi terapan merupakan
menerus dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan gizi rumah sakit. Kegiatan
penelitian dan pengembangan gizi terapan diupayakan dengan mendayagunakan
sarana, fasilitas, dan dana yang tersedia (Depkes RI., 2003:40).
2.1.3 Sumber Daya Pelayanan Gizi RS
Untuk kelancaran kegiatan pelayanan gizi rumah sakit dalam upaya
pelayanan gizi paripurna yang berperan dalam mendukung fungsi-fungsi rumah
sakit dalam aspek pengobatan, pemulihan, pencegahan, dan peningkatan perlu
ditunjang oleh sumber daya yang memadai meliputi tenaga, dana, dan sarana atau
peralatan (Nursiah A Mukrie, dkk., 1990:8).
2.1.3.1 Dana
Anggaran belanja untuk penyelenggaraan makanan rumah sakit dapat
terlaksana secara efektif dan efisien bila direncanakan penyusunan anggaran
dengan seksama. Dalam penyusunan anggaran belanja hal-hal yang diperlukan
adalah data tentang macam dan jumlah bahan makanan, jumlah konsumen atau
pasien, kalkulasi total biaya dan pengusulan anggaran belanja selama setahun
(Murni I Prakoso, 1990:7).
2.1.3.2 Tenaga
Mutu makanan yang baik adalah bila makanan yang disajikan mempunyai
cita rasa yang tinggi dan dapat dihabiskan oleh pasien. Hal ini dapat dicapai bila
terdapat tenaga yang profesional dan tersedia dalam jumlah yang memadai
(Depkes RI., 2003:7).
2.1.3.3 Sarana atau Peralatan
Kebutuhan akan peralatan atau sarana di instalasi gizi harus sesuai dengan
yang tersedia sesuai dengan jumlah pasien dan menu yang direncanakan, maka
diharapkan dapat dihasilkan makanan yang berkualitas baik (Murni I Prakoso,
1990:20).
2.1.4 Penyelenggaraan Makanan RS
Penyelenggaraan makanan rumah sakit adalah suatu rangkaian kegiatan
mulai dari perencanaan menu sampai dengan pendistribusian makanan kepada
pasien, dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui
pemberian diet yang tepat. Sasaran penyelenggaraan makanan di rumah sakit
adalah pasien maupun karyawan rumah sakit tersebut. Dalam penyelenggaraan
makanan rumah sakit standar masukan atau input meliputi biaya, tenaga, metode,
sarana dan prasarana. Standar proses meliputi penyusunan anggaran belanja bahan
makanan, perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, pembelian
bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan bahan makanan, persiapan bahan
makanan, serta pengolahan makanan dan pendistribusian makanan. Sedangkan
standar keluaran atau output adalah kepuasan konsumen (Depkes RI., 2003:26).
2.1.4.1 Bentuk Penyelenggaraan Makanan di RS
Bentuk penyelenggaraan makanan di rumah sakit di bagi menjadi dua,
yaitu:
2.1.4.1.1 Penyelenggaraan Makanan Sistem Swakelola
Jika penyelenggaraan makanan dilakukan dengan sistem swakelola maka
instalasi atau unit pelayanan gizi bertanggung jawab untuk melaksanakan semua
kegiatan penyelenggaraan makanan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.
Yaitu penyelengaraan makanan dengan memanfaatkan perusahaan jasa
boga atau catering. Sistem Out-Sourcing dibagi menjadi dua kategori yaitu semi
out sourcing dan full out sourcing. Pada sistem semi out sourcing, pengusaha jasa
boga selaku penyelenggara makanan menggunakan sarana dan prasarana milik
rumah sakit. Sedangkan sistem full out sourcing pengusaha jasa boga tidak
menggunakan sarana dan prasarana milik rumah sakit melainkan milik
perusahaannya sendiri.
Dalam penyelenggaraan makanan dengan sistem semi out sourcing
maupun full out sourcing, fungsi ahli gizi rumah sakit adalah sebagai perencana
menu, penentu standar porsi, dan pemesanan makanan (Depkes RI., 2003:26).
2.1.4.2 Mekanisme Kegiatan Penyelenggaraan Makanan
Mekanisme kegiatan penyelenggaraan makanan meliputi:
2.1.4.2.1 Perencanaan Anggaran Belanja
Perencanaan anggaran belanja merupakan suatu kegiatan penyusunan
anggaran biaya yang diperlukan untuk pengadaan bahan makanan bagi konsumen
atau pasien yang dilayani, dengan tujuan tersedianya taksiran anggaran belanja
makanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan macam dan jumlah bahan
makanan bagi konsumen atau pasien yang dilayani sesuai dengan standar
kecukupan gizi (Depkes RI., 2003:27).
2.1.4.2.2 Perencanaan Menu
Menu adalah rangkaian dari beberapa macam hidangan atau masakan yang
disajikan untuk seseorang atau kelompok orang untuk setiap kali makan (Nursiah
kegiatan menyusun hidangan dalam variasi yang serasi. Perencanaan menu
merupakan salah satu fungsi manajemen dalam pengadaan makanan, oleh karena
itu perencana menu harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan tentang
semua segi pelayanan makanan dan tanggung jawabnya. Kegiatan ini dilakukan
untuk melayani banyak orang atau pasien dan dalam kurun waktu yang cukup
lama, oleh sebab itu perlu adanya perencanaan menu yang baik (Wiwik Suminarti,
1997:15).
2.1.4.2.3 Perhitungan Kebutuhan Bahan Makanan
Perhitungan kebutuhan bahan makanan adalah kegiatan penyusunan
kebutuhan bahan makanan yang diperlukan untuk pengadaan makanan, yang
bertujuan supaya tercapainya anggaran dan kebutuhan bahan makanan untuk
pasien dalam satu tahun anggaran.
2.1.4.2.4 Pemesanan dan Pembelian Bahan Makanan
Merupakan kegiatan penyusunan permintaan bahan makanan berdasarkan
menu atau pedoman menu dan rata-rata jumlah konsumen atau pasien yang
dilayani. Tujuan dari pemesanan dan pembelian bahan makanan adalah
tersedianya daftar pesanan bahan makanan sesuai standar atau spesifikasi yang
ditetapkan pada rumah sakit tersebut.
2.1.4.2.5 Penerimaan Bahan Makanan
Penerimaan bahan makanan merupakan suatu kegiatan yang meliputi
pemeriksaan, pencatatan dan pelaporan tentang macam, kualitas dan kuantitas
bahan makanan yang diterima sesuai dengan pesanan serta spesifikasi yang telah
2.1.4.2.6 Penyimpanan Bahan Makanan
Penyimpanan bahan makanan merupakan suatu tata cara menata,
menyimpan, memelihara keamanan bahan makanan kering dan basah baik
kualitas maupun kuantitas di gudang bahan makanan kering dan basah serta
pencatatan dan pelaporannya. Tujuan dari kegiatan ini adalah tersedianya bahan
makanan siap untuk diolah dan digunakan dengan kualitas dan kuantitas yang
tepat sesuai dengan perencanaan.
2.1.4.2.7 Persiapan Bahan Makanan
Persiapan bahan makanan merupakan kegiatan mempersiapkan
bahan-bahan makanan serta bumbu-bumbu sebelum dilakukan kegiatan pemasakan.
2.1.4.2.8 Pengolahan Bahan Makanan
Pengolahan bahan makanan merupakan suatu kegiatan mengubah atau
memasak bahan makanan mentah menjadi makanan yang siap dimakan,
berkualitas dan aman untuk dikonsumsi.
2.1.4.2.9 Pendistribusian Makanan
Pendistribusian makanan adalah serangkaian kegiatan penyaluran
makanan sesuai dengan jumlah porsi dan jenis makanan konsumen atau pasien
yang dilayani baik itu pasien dengan menu makanan nasi maupun makanan
khusus.
Sistem penyaluran makanan yang digunakan sangat mempengaruhi
makanan yang disajikan, tergantung pada jenis dan jumlah tenaga, peralatan dan
perlengkapan yang ada. Ada 3 sistem penyaluran makanan yang biasa
dilaksanakan di rumah sakit, yaitu sistem yang dipusatkan (sentralisasi) dimana
makanan., sistem yang tidak dipusatkan (desentralisasi) yaitu makanan pasien
dibawa dari tempat pengolahan ke dapur ruang perawatan pasien, dalam jumlah
banyak atau besar, untuk selanjutnya disajikan dalam alat makan masing-masing
pasien sesuai dengan permintaan makanan, dan sistem kombinasi antara
sentralisasi dan desentralisasi dimana penyaluran makanan kombinasi dilakukan
dengan cara sebagian makanan ditempatkan langsung ke dalam alat makanan
pasien sejak dari tempat produksi atau dapur, dan sebagian lagi dimasukkan ke
dalam wadah besar, pendistribusiannya dilaksanakan setelah sampai di ruang
perawatan (Depkes RI., 2003:39).
2.1.5 Sisa Makanan dan Faktor yang Mempengaruhi 2.1.5.1 Sisa Makanan
Sisa makanan adalah volume atau persentase makanan yang tidak habis
termakan dan dibuang sebagai sampah dan dapat digunakan untuk mengukur
efektivitas menu (Dewi Komalawati dkk., 2005:38).
2.1.5.2 Faktor yang Mempengaruhi Sisa Makanan
Sisa makanan terjadi karena makanan yang disajikan tidak habis dimakan
atau dikonsumsi. Faktor utamanya adalah nafsu makan, tetapi ada faktor lain yang
menyebabkan terjadinya sisa makanan antara lain faktor yang berasal dari luar
pasien sendiri atau faktor eksternal dan faktor yang berasal dari dalam pasien atau
faktor internal.
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri pasien sendiri yang
meliputi: sikap petugas ruangan, jadual makan atau waktu pembagian makan,
suasana lingkungan tempat perawatan, makanan dari luar RS, dan mutu makanan
2.1.5.2.1 Sikap Petugas Ruangan
Daya tarik penyajian makanan tidak hanya dari makanan yang disajikan
tetapi juga dari aspek petugas pada saat menyajikan, cara penyajian dan
kebersihannya. Sikap yang ramah dan penyajian yang rapi dari petugas sangat
berpengaruh terhadap daya terima pasien tentang makanan yang disajikan.
2.1.5.2.2 Jadual makan
Waktu pembagian makanan yang tepat dengan jam makan pasien serta
jarak waktu yang sesuai antara makan pagi, siang dan malam hari dapat
mempengaruhi habis tidaknya makanan yang disajikan. Bila jadual pemberian
makan tidak sesuai maka makanan yang sudah siap akan mengalami waktu
penungguan sehingga pada saat makanan akan disajikan ke pasien, makanan
menjadi tidak menarik karena mengalami perubahan dalam suhu makanan.
2.1.5.2.3 Suasana Lingkungan RS
Lingkungan yang menyenangkan pada saat makan dapat memberikan
dorongan pada pasien untuk menghabiskan makanannya. Suasana yang bersih dan
tenang diduga dapat mempengaruhi kenikmatan pasien dalam menyantap
makanan yang disajikan.
2.1.5.2.4 Makanan dari luar RS
Makanan yang dimakan oleh pasien yang berasal dari luar RS akan
berpengaruh terhadap terjadinya sisa makanan. Rasa lapar yang tidak segera
diatasi pada pasien yang sedang dalam perawatan, timbulnya rasa bosan karena
makanan tambahan dari luar RS atau jajan, sehingga kemungkinan besar makanan
yang disajikan kepada pasien tidak dihabiskan. Bila hal tersebut selalu terjadi
maka makanan yang diselenggarakan oleh pihak RS tidak dimakan sehingga
terjadi sisa makanan.
2.1.5.2.5 Mutu Makanan RS
Menurut Sjahmien Moehji (1992:93), cita rasa makanan ditimbulkan oleh
terjadinya rangsangan terhadap berbagai indera dalam tubuh manusia, terutama
indera penglihatan, indera pencium, dan indera pengecap. Makanan yang
memiliki cita rasa yang tinggi adalah makanan yang disajikan dengan menarik,
menyebarkan bau yang sedap, dan memberikan rasa yang lezat. Cita rasa makanan
mencakup dua aspek utama, yaitu penampilaan makanan sewaktu dihidangkan
dan rasa makanan waktu dimakan.
Penampilan makanan sewaktu disajikan ditentukan oleh beberapa faktor
yaitu warna, bentuk, dan besar porsi makanan yang dihidangkan atau disajikan.
Sedangkan rasa makanan merupakan faktor kedua yang menentukan cita rasa
makanan setelah penampilan makanan itu sendiri. Rasa makanan ditentukan oleh
beberapa faktor yaitu aroma, rasa, temperature atau suhu dari makanan yang
disajikan.
Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri pasien sendiri
meliputi faktor psikis, faktor fisik, kebiasaan makan, dan jenis kelamin (Sjahmien
2.1.5.2.6 Faktor Psikis
Faktor psikis adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan kejiwaan.
Keadaan psikis disebabkan menurunnya aktivitas fisik selama dirawat, rasa takut
terhadap penyakit yang diderita, suasana sendiri karena jauh dari keluarga atau
keadaan penyakit yang menghambat kebebasan gerak akan menimbulkan rasa
sedih dan putus asa, sehingga keadaan tersebut mengurangi selera makan pasien.
2.1.5.2.7 Faktor Fisik
Keadaan fisik pasien berhubungan erat dengan keinginan serta
kemampuan pasien dalam mengkonsumsi makanan. Faktor fisik biasanya
dipengaruhi oleh berat ringannya penyakit, jenis obat-obatan dan pengobatan yang
diberikan secara tidak langsung menimbulkan rasa mual sehingga dapat
mengurangi selera makan pasien.
2.1.5.2.8 Kebiasaan Makan
Perbedaan pola makan di rumah dan pada saat di RS akan mempengaruhi
daya terima pasien terhadap makanan. Hal ini ditunjukkan melalui perbedaan
waktu makan, keadaan dimana pasien harus makan seorang diri pada saat dirawat,
penampilan makanan, maupun besar porsi makanan yang disajikan. Bila pola
makan pasien tidak sesuai dengan makanan yang disajikan RS, akan
2.1.5.2.9 Jenis Kelamin
Jenis kelamin kemungkinan dapat menjadi faktor penyebab terjadinya sisa
makanan. Hal ini disebabkan perbedaan kebutuhan energi antara perempuan dan
laki-laki, dimana kalori basal perempuan lebih rendah sekitar 5-10% dari
kebutuhan kalori basal laki-laki. Perbedaan ini terlihat pada susunan tubuh,
aktivitas, dimana laki-laki lebih banyak menggunakan kerja otot daripada
perempuan, sehingga dalam mengkonsumsi makanan maupun pemilihan jenis
makanan, perempuan dan laki-laki mempunyai selera yang berbeda.
2.1.6 Cara Penentuan Sisa Makanan
Ada dua cara dalam menentukan sisa makanan yaitu:
2.1.6.1PenimbanganSisa Makanan
Menurut Dewi Komalawati, dkk., (2005:37), data sisa makanan dapat
diperoleh dengan cara menimbang makanan yang tidak dihabiskan oleh pasien,
kemudian dirata-rata menurut jenis makanan. Prosentase sisa makanan dihitung
dengan cara membandingkan sisa makanan dengan standar porsi makanan rumah
sakit kali 100% atau dengan rumus:
%
2.1.6.2Cara Taksiran Visual
Menurut Comstock, cara taksiran visual yaitu dengan menggunakan skala
pengukuran yang dikembangkan oleh Comstock dengan menggunakan skala 6
1. Skala 0 : dikonsumsi seluruhnya oleh pasien (habis dimakan)
2. Skala 1 : tersisa ¼ porsi
3. Skala 2 : tersisa ½ porsi
4. Skala 3 : tersisa ¾ porsi
5. Skala 4 : hanya dikonsumsi sedikit (1/9 porsi)
6. Skala 5 : utuh atau tidak dikonsumsi (Candrasari Ratnaningrum, 2005:17).
2.2 Kerangka Teori
Berdasarkan teori di atas, dalam penelitian ini dibuat kerangka teori
Gambar 1
Kerangka Teori
Sumber: Sjahmien Moehji, 1992; Nursiah A Mukrie, 1990; Depkes RI., 2003 Pelayanan Gizi di ruang rawat inap
3. Kegiatan Penyuluhan atau konsultasi dan rujukan gizi 4. Kegiatan 2. Jadual penyajian
makanan RS 3. Suasana
lingkungan tempat perawatan 4. Makanan luar RS 5. Mutu makanan
RS
24
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep
Kerangka Konsep dalam penelitian ini menggambarkan variabel-variabel
yang diukur dalam penelitian tersebut. Adapun variabel-variabel yang diukur
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut (Gambar 2).
Variabel Bebas Variabel Terikat
Variabel Pengganggu
Gambar 2
Kerangka Konsep
Keterangan:
: tidak diteliti Persepsi pasien meliputi:
1. Tata cara penyajian makanan RS
2. Jadual penyajian makanan RS
3. Suasana lingkungan tempat perawatan 4. Makanan luar RS 5. Mutu makanan
Sisa Makanan
1. Jenis kelamin pasien 2. Kebiasaan makan
3.2 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, maka hipotesis dari
penelitian ini adalah:
1. Ada hubungan antara persepsi pasien mengenai tata cara penyajian makanan
dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD
Kota Semarang.
2. Ada hubungan antara persepsi pasien mengenai jadual makan rumah sakit
dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD
Kota Semarang.
3. Ada hubungan antara persepsi pasien mengenai suasana lingkungan tempat
perawatan dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di
RSUD Kota Semarang.
4. Ada hubungan antara makanan luar rumah sakit dengan terjadinya sisa
makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang.
5. Ada hubungan antara persepsi pasien mengenai mutu makanan yang disajikan
dengan terjadinya sisa makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD
Kota Semarang.
3.3 Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori yaitu menjelaskan
variabel yang saling berhubungan melalui pengujian statistik (Masri Singarimbun,
sectional, karena data-data yang berhubungan dengan masalah dikumpulkan pada
waktu yang bersamaan dan sesaat (Masri Singarimbun, 1989:25).
3.4 Variabel Penelitian 3.4.1 Variabel Bebas
Menurut Sugiyono (2005:3), variabel bebas adalah variabel yang menjadi
sebab timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
1. Persepsi pasien mengenai tata cara penyajian makanan RS
2. Persepsi pasien mengenai jadual penyajian makanan RS
3. Persepsi pasien mengenai suasana lingkungan tempat perawatan
4. Makanan luar RS
5. Persepsi pasien mengenai mutu makanan
Sedangkan variabel mengenai faktor fisik, psikis dan jenis kelamin serta
kebiasaan makan pasien saat di rumah tidak diteliti. Faktor fisik pasien rata-rata
dalam kondisi yang sama. Faktor psikis tidak diteliti karena keterbatasan ilmu dan
kemampuan peneliti untuk mengukur kondisi psikis pasien. Variabel jenis
kelamin tidak diteliti karena sudah pasti ada perbedaan antara besar porsi laki-laki
dan perempuan namun demikian standar porsi di RSUD untuk laki-laki dan
perempuan tidak dibedakan yaitu sama sebesar 2000 Kkal per hari. Sedangkan
kebiasaan makan pasien pada saat di rumah dan selama dirawat di RS sudah pasti
ada perbedaan baik itu susunan hidangan ataupun jadual makan.
3.4.2 Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat
karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2005:3). Variabel terikat dalam
yang disajikan rumah sakit dan tidak habis dimakan, meliputi makanan pokok
berupa nasi atau bubur, lauk hewani, lauk nabati, sayur, dan buah.
3.5 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel
Definisi operasional memuat segala sesuatu yang dimaksudkan dalam
penelitian, baik status variabel sebagai variabel bebas maupun variabel terikat,
definisi, instrumen maupun skala pengukuran (Tabel 2).
Tabel 2
Definisi Operasional dan Skala Pengukuran
Variabel Definisi Operasioanal Ukuran Skala Instrumen
1 2 3 4 5
Jumlah kalori dari makanan yang tidak terkonsumsi oleh pasien yang disajikan RS, yang dihitung dengan
membandingkan antara kalori dari makanan yang tidak terkonsumsi dengan kalori dari makanan yang direncanakan oleh instalasi gizi
Penilaian pasien terhadap kelengkapan dan kebersihan peralatan makanan yang disajikan, serta sikap petugas penyaji makanan meliputi keramahan dan
kebersihan penyaji pada saat menyajikan makanan
Persepsi pasien mengenai jadual pembagian
makanan oleh penyaji kepada pasien baik makan pagi, siang maupun malam
1. Tinggi bila >20% dari ketetapan kalori per hari di RSUD
2. Rendah bila ≤20% dari ketetapan kalori per hari di RSUD
2. Kurang baik (jika skor ≤12)
(Saifuddin Azwar, 2005:109)
1. Tepat (jika skor >5)
2. Tidak tepat (jika skor ≤5)
1 2 3 4 5 tempat pasien dirawat yang meliputi
kebersihan dan ketenangan pada saat pasien makan
Pasien
mengkonsumsi makanan yang bukan disajikan dari rumah sakit
Persepsi pasien mengenai rasa, suhu, variasi, penampilan dan besar porsi makanan yang disajkan RS
1. Baik (jika skor >8) 2. Kurang baik (jika
skor ≤8)
(Saifuddin Azwar, 2005:109)
1. Baik (jika skor >11) 2. Kurang baik (jika
skor ≤11)
3.6 Populasi dan Sampel Penelitian 3.6.1 Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien rawat inap di kelas III
dengan jumlah pasien sebanyak 82 orang, yang terdiri dari ruang Parikesit
sebanyak 25 orang, Prabu Kresna sebanyak 18 orang, Yudistira sebanyak 23
orang, dan Dewi Kunti sebanyak 16 orang.
3.6.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random
sampling, yaitu bahwa setiap anggota dari populasi mempunyai kesempatan yang
sama untuk diseleksi sebagai sampel (Soekidjo Notoadmodjo, 2005:85). Sampel
diperoleh dari semua sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sebagai
berikut:
1. Usia 18-55 tahun
2. Telah menjalani perawatan minimal 2 hari
3. Pasien mendapat makanan pokok (nasi atau bubur) dari RS
4. Pasien tidak mengalami gangguan pencernaan
5. Pasien bersedia menjadi responden
Kriteria Eksklusi:
1. Responden tidak bersedia mengikuti penelitian
2. Responden tidak ada ditempat selama proses penelitian
Untuk perhitungan besar sampel minimal menggunakan rumus sebagai
berikut:
n = Perkiraan besar sampel
Z =1,960 (tingkat kepercayaan 95%)
N = Jumlah populasi
P = 0,5 proporsi keadaan yang akan dicari (berdasarkan survey pendahuluan)
d = Presisi jarak (10%) atau 0,01 (Lamenshow Stanley, 1997:54).
Berdasarkan rumus tersebut besar sampel minimal dalam penelitian ini adalah:
77 , 1
72 , 78 =
47 , 44
= dibulatkan menjadi 45
Jadi jumlah sampel keseluruhan dalam penelitian ini sebanyak 45 orang.
Penentuan jumlah sampel per ruang rawat inap khususnya kelas III dipilih secara
proporsional sehigga didapatkan jumlah sampel yang seimbang di setiap ruangan,
dimana ruangan yang dijadikan pemilihan sampel ada tiga ruangan yang
memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi yaitu ruang Yudistira sebanyak 15
orang, ruang Dewi Kunti sebanyak 15 orang dan ruang Prabu Kresna sebanyak 15
orang
3.7 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah perangkat yang digunakan untuk mengungkap
data (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:48). Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
3.7.1 Kuesioner
Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau
hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 2002:128).
Kusioner dalam penelitian ini berupa sejumlah pertanyaan tertulis yang
digunakan untuk memperoleh data mengenai karakteristik pasien dan faktor yang
mempengaruhi terjadinya sisa makanan meliputi tata cara penyajian makanan,
jadual penyajian makanan, suasana lingkungan tempat perawatan, makanan luar
RS, dan mutu makanan RS.
Sebelum dilakukan penelitian perlu dilakukan uji coba kuesioner yang
karakteristik yang hampir sama dengan sampel penelitian. Tujuan dari uji coba
kuesioner adalah untuk mengetahui validitas dan reliabilitas kuesioner yang akan
digunakan pada penelitian.
3.7.1.1 Validitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur tersebut dapat
mengukur apa yang diukur. Sedangkan untuk mengetahui valid atau tidaknya
kuesioner, maka perlu diuji korelasi antar tiap item pertanyaan dengan skor total.
Teknik korelasi yang digunakan adalah korelasi “product moment”. Menurut
Furqon (2002:94) istilah product moment didasarkan kepada hasil kali antara X
dan Y sebagai skor simpangan dari rata-rata masing-masing peubah. Adapun
rumus yang digunakan yaitu:
(
) (
)
X : Skor pertanyaan yang diuji
Y : Skor total
XY : Skor pertanyaan yang diuji dikalikan dengan skor total (Suharsimi
Arikunto, 2002:146).
Kuesioner diuji cobakan kepada responden yang memiliki karakteristik
hampir sama dengan calon sampel penelitian maka dipilih pasien rawat inap di
RSUD Kota Semarang sebagai tempat uji coba kuesioner penelitian, oleh karena
tempat uji validitas kuesioner dan tempat penelitian sama, adapun pertimbangan
berbeda. Agar diperoleh distribusi nilai hasil pengukuran mendekati normal maka
jumlah responden sebanyak 30 orang.
Kuesioner dinyatakan valid jika setelah dilakukan uji validitas dengan
menggunakan rumus “product moment” diperoleh hasil r hitung > r tabel, dan
kuesioner dikatakan tidak valid jika r hitung < r tabel. Diketahui r tabel pada tabel
“product moment”, untuk jumlah responden {N} = 30, pada α = 5% adalah 0,361.
Setelah dilakukan penghitungan atau uji dengan program SPSS versi 12.0,
diperoleh hasil bahwa dari 26 item pertanyaan yang diujikan terdapat 3 item
pertanyaan yang tidak valid, yaitu item pertanyaan D4, D5 dan F7 karena r hitung
< r tabel yaitu 0,227, 0,244 dan 0,119. Sedangkan 23 item pertanyaan lainnya
dinyatakan valid karena r hitung > r tabel.
3.7.1.2 Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur
dapat diandalkan. Kuesioner yang dinyatakan valid untuk selanjutnya perlu
dilakukan reliabilitas dengan rumus ”Alpha Cronbach”, dengan menggunakan
program SPSS versi 12.0. Adapun uji reliabilitas menurut Sugiyono (2005:283)
dengan rumus sebagai berikut :
(
)
⎪⎭Jika nilai ri > r tabel berarti instrumen tersebut reliabel. Nilai Cronbach’s
Alpha pada penelitian ini sebesar 0,905 sehingga 23 item pertanyaan tersebut
dinyatakan reliabel karena nilai alpha > 0,361.
3.7.2 Pengukuran
Pengukuran dengan cara penimbangan dengan menggunakan alat
timbangan makanan kapasitas 2 kg yang dilakukan untuk mengetahui jumlah sisa
makanan pada pasien rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang.
3.7.3 Formulir Pengamatan Sisa Makanan
Formulir pengamatan sisa makanan digunakan untuk mencatat jenis
makanan apa saja yang tidak terkonsumsi oleh pasien dalam sehari sehingga dapat
dihitung jumlah kalori dari makanan yang tidak terkonsumsi.
3.8 Sumber Data Penelitian
Sumber data penelitian ini, yaitu data primer diperoleh melalui kuesioner
untuk mengetahui informasi mengenai karakteristik pasien, serta faktor-faktor
yang mempengaruhi kaitannya dengan terjadinya sisa makanan di RSUD Kota
Semarang. Adapun untuk memperoleh informasi ini perlu adanya suatu
wawancara dengan responden yang dipandu oleh seorang guide kuesioner.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari tata usaha rumah sakit dan data dari
Instalasi Gizi di RSUD Semarang.
3.9Teknik Pengambilan Data 3.9.1 Penyebaran Kuesioner
Penyebaran kuesioner dilakukan untuk memperoleh data mengenai
karakteristik pasien dan faktor yang mempengaruhi terjadinya sisa makanan pada
makanan RS, jadual penyajian makanan RS, suasana lingkungan tempat
perawatan, makanan luar RS, dan mutu makanan RS. Penyebaran kuesioner
dilakukan sesudah pasien selesai mengkonsumsi makanan yang disajikan oleh
petugas RS.
3.9.2 Pengukuran
Pengukuran dilakukan untuk mengetahui jumlah sisa makanan pada pasien
rawat inap kelas III di RSUD Kota Semarang selama tiga hari dimana dalam
penelitian ini terdapat tiga ruangan yang dapat diteliti, sehingga satu hari untuk
satu ruangan. Pengukuran dengan menggunakan timbangan. Timbangan yang
digunakan adalah timbangan makanan dengan kapasitas 2 kg, setelah sisa
makanan ditimbang lalu dicatat dengan menggunakan formulir pengamatan sisa
makanan. Kemudian membandingkan antara kalori dari makanan yang tidak
terkonsumsi dengan kalori dari makanan yang direncanakan oleh instalasi gizi di
RSUD Kota Semarang. Namun untuk mengetahui sisa makanan tersebut berasal
dari tempat makan responden atau tidak, peneliti menempelkan kertas skotlet yang
telah diberi kode yang ditempelkan sebelum makanan tersebut didistribusikan
oleh petugas penyaji makanan kepada pasien atau responden.
3.9.3 Dokumentasi
Pengambilan data yang diperoleh dari data instalasi Gizi di RSUD Kota
Semarang mengenai jumlah pasien, jadual pembagian makanan dan menu makan
pasien.
3.10 Analisis Data
Setelah data terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data, mulai dari
analisis data. Teknik analisis data pada penelitian ini diolah secara statistik dengan
menggunakan program SPSS versi 12.0. Adapun analisisnya sebagai berikut:
3.10.1 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian.
Analisis ini menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap-taip variabel yang
kemudian disajikan dengan mendiskripsikan semua variabel sebagai bahan
informasi dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi (Soekidjo Notoadmojo,
2005:188).
3.10.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menganalisis hubungan variabel bebas
dengan variabel terikat. Uji statistik yang dipergunakan dalam penelitian ini
adalah uji chi square dan jika tidak memenuhi syarat uji tersebut, maka uji yang
dipakai adalah uji fisher untuk tabel 2×2 dan penggabungan sel sebagai langkah
alternatif uji chi square untuk tabel selain 2×2 serta tabel 2×k, sehingga terbentuk
tabel baris×kolom (B×K) yang baru. Taraf signifikansi yang digunakan adalah
95% atau taraf kesalahan 0,05%, dimana rumus Chi square sebagai berikut:
Rumus:
Sedangkan untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara variabel
bebas dengan variabel terikat, maka digunakan koefesien kontingensi.
O= nilai observed
E= nilai ekspeted
Signifikasi dari hasil pengujian ditetapkan ρ < 0,05.
Kriteria Keeratan hubungan menggunakan koefesien kontingensi menurut
Sugiyono (2005:216) yaitu sebagai berikut:
1. 0,00 – 0,199 = hubungan sangat lemah
2. 0,20 – 0,399 = hubungan lemah
3. 0,40 – 0,599 = hubungan cukup kuat
4. 0,60 – 0,799 = hubungan kuat
37
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Univariat 4.1.1 Karakteristik Umum
Responden dalam penelitian ini adalah pasien rawat inap kelas III di
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang ketika dilaksanakan penelitian
jumlah responden sebanyak 45 orang. Adapun karakteristik responden dalam
penelitian ini antara lain:
4.1.1.1 Karakteristik Responden menurut Kelompok Umur
Dalam penelitian ini untuk menentukan rentang nilai dalam kelompok
umur menurut Sugiyono (2005:29) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
i = R/m
m = 1+3,3 log n
Keterangan :
i : Panjang kelas
m : Kelas interval
n : Jumlah pengamatan
R : Rentang data
Berdasarkan rumus di atas diperoleh rentang nilai pada kelompok umur adalah 7.
Hasil data penelitian di RSUD Kota Semarang, dapat diketahui bahwa
persentase terbesar kelompok umur responden adalah pada umur 26-33 tahun
kelompok umur responden pada umur 18-25 tahun yaitu sebanyak 3 orang atau
6,7% (Tabel 3).
Tabel 3
Distribusi Responden berdasarkan Umur
No Interval Umur (tahun) Frekuensi (%)
1. 18-25 3 6,7
2. 26-33 17 37,8
3. 34-41 12 26,7
4. 42-49 9 20,0
5. >=50 4 8,9
Jumlah 45 100,0
4.1.1.2 Distribusi Responden berdasarkan Tata Cara Penyajian Makanan di RS
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Kota Semarang, dapat diketahui bahwa persentase persepsi responden terhadap tata cara penyajian makanan di RS yang menyatakan persepsi baik sebanyak 37 orang atau 82,2%, sedangkan responden yang menyatakan kurang baik terhadap tata cara penyajian makanan di RS sebanyak 8 orang atau 17,8% (Tabel 4).
Tabel 4
Distribusi Responden berdasarkan Tata Cara Penyajian Makanan
No Tata Cara Penyajian Frekuensi (%)
1. Baik 37 82,2
2. Kurang Baik 8 17,8
Total 45 100,0
4.1.1.5 Distribusi Responden berdasarkan Jadual Penyajian Makanan di RS
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Kota Semarang, dapat diketahui
bahwa persentase persepsi responden terhadap jadual penyajian makanan di RS yang menyatakan persepsi tepat waktu sebanyak 14 orang atau 31,1%, sedangkan responden yang menyatakan tidak tepat waktu atau terlambat terhadap jadual penyajian makanan di RS sebanyak 31 orang atau 68,9% (Tabel 5).
Distribusi Responden berdasarkan Jadual Penyajian Makanan
No Jadual Penyajian Frekuensi (%)
1. Tepat Waktu 14 31,1
2. Tidak Tepat atau Terlambat 31 68,9
Total 45 100,0
4.1.1.6 Distribusi Responden berdasarkan Suasana Lingkungan Tempat Perawatan di RS
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Kota Semarang, dapat diketahui
bahwa persentase persepsi responden terhadap suasana lingkungan tempat
perawatan di RS yang menyatakan persepsi baik sebanyak 23 orang atau 51,1%,
sedangkan responden yang menyatakan persepsi kurang baik terhadap keadaan
lingkungan tempat perawatan di RS sebanyak 22 orang atau 48,9% (Tabel 6).
Tabel 6
Distribusi Responden berdasarkan Suasana Lingkungan Tempat Perawatan
No Suasana Lingkungan Tempat
Perawatan Frekuensi (%)
1. Baik 23 51,1
2. Kurang Baik 22 48,9
Total 45 100,0
4.1.1.7 Distribusi Responden berdasarkan Makanan Luar RS
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Kota Semarang, dapat diketahui
bahwa persentase persepsi responden terhadap makanan luar RS yang menyatakan
persepsi ada atau mengkonsumsi makanan luar RS sebanyak 24 orang atau 53,3%,
sedangkan responden yang menyatakan persepsi tidak ada atau tidak
mengkonsumsi makanan luar RS sebanyak 21 orang atau 46,7% (Tabel 7).
Tabel 7
Distribusi Responden berdasarkan Makanan Luar RS
No Makanan Luar RS Frekuensi (%)
1. Ada 24 53,3
2. Tidak ada 21 46,7
4.1.1.8 Distribusi Responden berdasarkan Mutu Makanan RS
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Kota Semarang, dapat diketahui
bahwa persentase persepsi responden terhadap mutu makanan RS yang
menyatakan persepsi baik sebanyak 19 orang atau 42,2%, sedangkan responden
yang menyatakan persepsi kurang baik terhadap mutu makanan RS sebanyak 26
orang atau 57,8% (Tabel 8).
Tabel 8
Distribusi Responden berdasarkan Mutu Makanan RS
No Mutu Makanan RS Frekuensi (%)
1. Baik 19 42,2
2. Kurang Baik 26 57,8
Total 45 100,0
4.1.1.9 Distribusi Responden berdasarkan Sisa Makanan
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Kota Semarang, dapat diketahui
bahwa persentase responden yang meninggalkan sisa makanan yang termasuk ke
dalam kategori tinggi sebanyak 27 orang atau 60%, sedangkan responden yang
meninggalkan sisa makanan dengan kategori rendah yaitu sebanyak 18 orang atau
40% (Tabel 9).
Tabel 9
Distribusi Responden berdasarkan Sisa Makanan
No Sisa Makanan RS Frekuensi (%)
1. Tinggi 27 60,0
2. Rendah 18 40,0
Total 45 100,0
Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan rumus Chi square Jika
tidak memenuhi syarat uji tersebut, dimana syarat uji Chi square adalah tidak ada
sel yang nilai observed yang bernilai nol dan tidak ada sel yang nilai expeted
kurang dari 5, jika syarat uji Chi square tidak terpenuhi maka uji alternatif yang
dipakai adalah uji fisher.
4.2.1 Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Tata Cara Penyajian Makanan Rumah Sakit dengan Terjadinya Sisa Makanan
Pengkategorian tata cara penyajian makanan dalam penelitian ini, meliputi
baik dan kurang baik. Sedangkan sisa makanan dikategorikan menjadi 2, yaitu
tinggi dan rendah. Berdasarkan hasil analisis uji crosstab yang pertama diperoleh
hasil yang tidak memenuhi syarat untuk dilakukan uji chi square, yaitu terdapat 2
sel yang nilai expectednyakurang dari 5, maka dilakukan uji fisher diperoleh nilai
p value sebesar 1,000 sehingga nilai p>0,05 dan Ho diterima, yang artinya tidak
ada hubungan antara persepsi pasien mengenai tata cara penyajian makanan
dengan terjadinya sisa makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang.
Tabel 10
Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Tata Cara Penyajian Makanan dengan Terjadinya Sisa Makanan
Tata cara penyajian
Sisa makanan Jumlah Nilai
p Tinggi Rendah
n % n % N %
Kurang Baik 5 62,5 3 37,5 8 100
1,000
Baik 22 59,5 15 40,5 37 100
Jumlah 27 60,0 18 40,0 45 100
Pengkategorian jadual makanan dalam penelitian ini, meliputi tepat dan
tidak tepat. Sedangkan sisa makanan dikategorikan menjadi 2, yaitu tinggi dan
rendah. Berdasarkan hasil analisis uji crosstab diperoleh hasil yang memenuhi
syarat untuk dilakukan uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,010,
sehingga nilai p<0,05 dan Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara persepsi
pasien mengenai jadual penyajian makanan dengan terjadinya sisa makanan di
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang. Serta diperoleh koefesien
kontingensi (cc=0,396) artinya ada hubungan yang lemah antara jadual penyajian
makanan dengan terjadinya sisa makanan di RSUD Kota Semarang.
Tabel 11
Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Jadual Penyajian Makanan dengan Terjadinya Sisa Makanan
Jadual penyajian Sisa makanan Jumlah Nilai
p
CC
Tinggi Rendah
n % n % N %
Kurang tepat 23 74,2 8 25,8 31 100
0,010 0,396
Tepat 4 28,6 10 71,4 14 100
Jumlah 27 60,0 18 40,0 45 100
4.2.3 Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Suasana Lingkungan Tempat Perawatan RS dengan Terjadinya Sisa Makanan
Pengkategorian suasana lingkungan tempat perawatan dalam penelitian ini,
meliputi baik dan kurang baik. Sedangkan sisa makanan dikategorikan menjadi 2,
yaitu tinggi dan rendah. Berdasarkan hasil analisis uji crosstab diperoleh hasil
yang memenuhi syarat untuk dilakukan uji chi square diperoleh nilai p value
hubungan antara persepsi pasien mengenai keadaan lingkungan tempat perawatan
dengan terjadinya sisa makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang.
Tabel 12
Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Suasana Lingkungan Tempat Perawatandengan Terjadinya Sisa Makanan
Suasana Lingkungan
Tempat Perawatan
Sisa makanan Jumlah Nilai
p
4.2.4 Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Makanan dari Luar Rumah Sakit dengan Terjadinya Sisa Makanan
Pengkategorian makanan dari luar RS dalam penelitian ini, meliputi ada
dan tidak ada. Sedangkan sisa makanan dikategorikan menjadi 2, yaitu tinggi dan
rendah. Berdasarkan hasil analisis uji crosstab diperoleh hasil yang memenuhi
syarat untuk dilakukan uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,002,
sehingga nilai p<0,05 dan Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara persepsi
pasien mengenai makanan dari luar RS dengan terjadinya sisa makanan di Rumah
Sakit Umum Daerah Kota Semarang. Serta diperoleh koefesien kontingensi
(cc=0,454) artinya ada hubungan yang cukup kuat antara makanan luar RS dengan
terjadinya sisa makanan di RSUD Kota Semarang.
Tabel 13
Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Makanan Luar RS dengan Terjadinya Sisa Makanan
Makanan Luar RS
Sisa makanan Jumlah Nilai
p
CC
Tinggi Rendah
n % n % N %
Tidak ada 7 33,3 14 66,7 21 100 0,002 0,454
Jumlah 27 60,0 18 40,0 45 100
4.2.5 Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Mutu Makanan Rumah Sakit dengan Terjadinya Sisa Makanan
Pengkategorian mutu makanan RS dalam penelitian ini, meliputi baik dan kurang baik. Sedangkan sisa makanan dikategorikan menjadi 2, yaitu tinggi dan rendah. Berdasarkan hasil analisis uji crosstab diperoleh hasil yang memenuhi syarat untuk dilakukan uji chi square diperoleh nilai p value sebesar 0,000 sehingga nilai p<0,05 dan Ho ditolak, yang artinya ada hubungan antara persepsi pasien mengenai mutu makanan RS dengan terjadinya sisa makanan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang. Serta diperoleh koefesien kontingensi (cc=0,562) artinya ada hubungan yang cukup kuat antara mutu makanan RS dengan terjadinya sisa makanan di RSUD Kota Semarang.
Tabel 14
Hubungan antara Persepsi Pasien Mengenai Mutu Makanan RS dengan Terjadinya Sisa Makanan
Mutu Makanan RS
Sisa makanan Jumlah Nilai
p
Berdasarkan hasil penelitian di RSUD Kota Semarang, diperoleh hasil
analisis bivariat dengan analisis statistik dengan menggunakan uji chi square (X2) dan koefesien kontingensi sebagai berikut:
Tabel 15
Rangkuman Hasil Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Sisa Makanan pada Pasien Rawat Inap Kelas III di RSUD Kota Semarang
No. Faktor Nilai p value CC