• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

Ada 29 artikel ilmiah/ penelitian (dari 18 penulis) yang berkaitan dengan disertasi ini. Artikel ilmiah/ penelitian tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga:

(i) yang berkatian dengan pengembangan dan penerapan Basic Linguistic Theory dan Tata Bahasa Leksikal Fungsional; (ii) yang berkaitan dengan konsep argumen dan pergeseran argumen, dan (iii) berkaitan dengan pelesapan. Ringkasan tiap-tiap artikel/ penelitian akan disampaikan pada alinea-alinea berikut.

1. Konsep dan Penerapan Basic Linguistics Theory

Basic Linguistic Theory adalah konsep yang digunakan oleh Dixon untuk menamai teorinya (Dixon, 1994, 2010a, 2010b, 2012). Teori tersebut dikembangkan dari penelitiannya tentang bahasa Dyirbal (Dixon, 1972), dirumuskan dalam sebuah teori yang diberi judul Ergativity (1994), dan dilengkapi dengan buku-buku yang diberi judul Basic Linguistic Theory (2010a, 2010b, dan 2012). Yang diambil dari teori tersebut untuk disertasi ini adalah yang berkaitan dengan tipologi sintaksis.

Teori tersebut dibawa ke Indonesia oleh Artawa (1997, 1998a, 1998b, 1998c). Tulisan Artawa (1997) membicarakan ergativitas bahasa Bali, bahasa Sasak, dan bahasa Indonesia. Pada artikel ini, Artawa menyimpulkan bahwa ketiga ketiga bahasa tersebut memiliki keergatifan sintaktik. Di akhir tulisannya, beliau mengajukan persoalan yang harus dicermati lebih jauh dalam menganalisis konstruksi zero (pasif zero) seperti pada kalimat Buku itu saya baca. Pada analisis-analisis sebelumnya, konstruksi seperti itu dianalisis sebagai pasif.

Problemnya, apakah konstruksi tersebut dianalisis sebagai pasif atau ergatif. Bila konstruksi itu dianggap sebagai pasif, agen pada konstruksi tersebut tidak dapat dilesapkan, dan bentuk verbanya secara morfologis adalah sederhana dibandingkan dengan bentuk yang umum disebut pasif. Bila konstruksi tersebut

(2)

disebut ergatif, imbangan dari bentuk tersebut adalah bentuk nasal yang umum disebut aktif, Dia membaca buku, dan agennya tidak bermarkah.

Artikel Artawa (1998a, 1998b, 1998c) adalah tulisan yang detil tentang bahasa Bali. Beliau membicarakan tentang gramatika bahasa Bali dari perspektif teori Basic Linguistic Theory dan dari teori Tata Bahasa Relasional. Berkaitan dengan pelesapan argumen, Artawa (1998c) menunjukkan bahwa bahasa Bali memiliki perilaku ergatif dengan aturan pelesapan S=O (S/O pivot).

Arka (2000) membicarakan perilaku keterpilahan bahasa-bahasa nusantara. Bahasa yang dibahas adalah bahasa Kolana, bahasa Bali, bahasa Lamaholot, bahasa Tetun, bahasa Aceh, bahasa Sikka. Menurut Arka, keterpilahan morfologis mudah dilacak. Perilaku ini ditampakkan pada pembedaan Sa/ So pada verbanya seperti pada bahasa Bali dan Bahasa Lamaholot, dapat juga ditampakkan pada argumen S-nya seperti pada bahasa Kolana.

Keterpilahan morfologi juga diiringi keterpilahan sintaksis seperti tampak pada bahasa Aceh. Keterpilahan secara tipologi merupakan campuran antara dua kutub pada kontinuum akusatif ergatif. Bahasa bertipe isolasi seperti bahasa Sikka memperlihatkan perilaku keterpilahan dengan tata urut . Keterpilahan tidak terkait dengan peran semantis semata, tetapi juga dengan aspek dan semantik leksikal seperti keberadaan unsur keadaan akhir, kesengajaan, dan makna kausalitas.

Model teori Tata Bahasa Leksikal Fungsional disodorkan sebagai alternatif untuk menjelaskan fenomena keterpilahan tersebut.

Sawardi (2002) membahas tentang tipologi morfologis (sebagai terjemahan morphologycal ergativity) bahasa Jawa. Dalam tulisan tersebut ditunjukkan adanya fenomena keterpilahan morfologis (Split-S) pada bahasa Jawa.

Keterpilahan ditunjukkan pada verba yang menyatakan kontrol, verba yang menyatakan emisi, dan verba yang menyatakan motion. Di samping masalah keterpilahan morfologis, bahasa Jawa juga menunjukkan perilaku subjek alir (Fluid-S) (Sawardi, 2007). Artikel Sawardi (2011) sudah mengarah pelesapan dengan tipologi. Persoalan yang muncul adalah rumusan pivot yang mencakup kalimat koordinatif dan subordinatif. Simpulan bahwa bahasa Jawa tidak memiliki mekanisme pivot (no pivot mechanism) berdasarkan data yang masih tentatif.

(3)

Sawardi (2009) membahas masalah fenomena pemarkahan semantik dalam bahasa Jawa. Menurut Dixon (2004) bahasa yang menggunakan pemarkahan semantis tidak dapat ditipekan ke bahasa ergatif maupun bahasa akusatif.

Djunaidi (2003) membahas tentang objek ganda dalam bahasa Indonesia.

Tulisan ini bersifat mengembangkan teori tipologi Dixon. Bila Dixon mengembangkan tipologi berdasarkan tiga jenis argumen S, A, dan O, Djunaidi mengembangkan adanya tiga jenis objek. Ketiga jenis objek tersebut adalah objek verba transistif, objek 1, objek langsung verba dwitransitif, dan objek 2, objek tak langsung verba dwitransitif (bandingkan juga tulisan Haspelmath, 2011). Djunaidi tidak melihat hubungan ketiga jenis objek, tetapi mengidentifikasikan tiga jenis objek berdasarkan ciri (i) pemasifan, (ii) enklitik, (iii) refleksifisasi, (iv) posisi setelah predikat, (v) dapat diganti dengan pronomina penanya, (vi) mungkin untuk dilesapkan, (vii) dapat dibelah oleh ajung, (viii) dapat diberi preposisi, (ix) pengendali dalam FN-sama. Djunaidi berkesimpulan ada tiga jenis OBJ dalam bahasa Indonesia. Dengan parameter tersebut ketiga jenis objek dibandingkan dihitung dengan persentase. OBJ memiliki perilaku sintaktik sama dengan OBJ1 adalah 66,7 %, sendang OBJ memiliki perilaku sintaktik yang sama dengan dengan objek 2 sejumlah 44,4 %. Hanya satu perilaku sintaktik yang menjadi milik bersama ketiga jenis objek, yaitu refleksifisasi bila dihitung dengan persentase 11,1%. Kecenderungan menganggap objek sama dengan objek 1 adalah paling masuk akal karena memiliki kesamaan perilaku yang paling tinggi.

Haspelmath membuat aliansi antara tiga jenis objek tersebut. Ada tiga aliansi yaitu objek diperlakukan sama dengan objek 1, objek diperlakukan sama dengan objek 2, dan masing-masing objek berdiri sendiri. Ketiga jenis aliansi itu oleh Haspelmath (2011: 541) disebut indirect aligment, secundative aligment, dan neutral aligment.

Jufrizal (2006; 2007a; 2007b; 2012, 2013) menggunakan teori tipologi gramatikal (istilah beliau untuk basic linguistic theory) untuk membahas bahasa Minangkabau. Jufrizal (2006) membahas fenomena perilaku akusatif dan ergatif dalam bahasa Minangkau. Simpulannya, ragam baku atau ragam tulis bahasa Minangkabau cenderung bertipe bahasa akusatif. Sebaliknya, bahasa ragam tidak

(4)

resmi, atau ragam lisan cenderung bertipe ergatif. Jufrizal (2007a) membahas bahasa Minangkabau cukup detil, berangkat dari pendeskripsian klausa secara dasar, kalimat kompleks, dan diakhiri dengan pembahasan masalah tipologi gramatikal. Berkaitan dengan pelesapan argumen, penelitian ini membahasnya dalam konstruksi verba non-finite, pemerlengkap jusif, klausa koordinatif, dan klausa subordinatif (Jufrizal, 2007a: 207-221). Hal yang sesuai dengan pembahasan masalah tipologi gramatikal, pelesapan pada klausa tersebut selalu dikaitkan dengan pengendalinya dalam hal fungsi S, A, O Dixon. Dari segi pelesapan argumen, bahasa Minangkabau termasuk bahasa yang bertipe bahasa akusatif. Dari bukti struktur kalimat tanya bahasa Minangkabau, beliau mengklaim bahasa Minangkabau sebagai bahasa akusatif dengan S/A pivot (Jufrizal, 2007b). Jufrizal (2013) menunjukkan bahwa tipe bahasa akusatif bahasa Minangkabau tersebut merupakan perkembangan dari bahasa ergatif.

Haspelmath (2011) membuat artikel konseptual tentang konsep tipologi aliansi. Argumen S (intransitif), A (agent verba transitif), P (pasien verba transitif), T (theme pada verba ditransitif) dan R (Resipient/ penerima pada verba ditransitif) dibahas secara mendalam dari tiga pendekatan. Tiga pendekatan yang disebutkan oleh Haspelmath adalah pendekatan model Dixon (Dixonian), pendekatan model Comrie (Comrian), dan pendekatan model Bickel (Bickelian).

Ketiga pendekatan dilihat dari hakikat (nature), cakupan (scope), dan tujuan (purpose). Ketiga pendekatan tersebut dibuat tabel seperti berikut.

Dixonian Comrian Bickelian

Nature syntactic function syntactic function generalized role Scope (only subclas of verbs) only subclas of verbs all verbs

Purpose comparative + descriptive

comparative comparative + descriptive Haspelmath (2011: 539)

Yang dibahas dalam hakikat argumen S, A, P, T, R adalah apakah jenis argumen tersebut termasuk fungsi gramatikal atau masuk dalam peran semantik. Ada perbedaan dalam memperlakukan jenis-jenis argumen tersebut. Ada yang memperlakukan S, A, P, T, R sebagai konsep sintaktik dan ada yang memperlakuan S, A, P, T, R sebagai konsep semantis. Pendekatan Dixon dan

(5)

Comrie menganggap S, A, P, T, R adalah fungsi sintaktik, dan Bickel menganggap S, A, P, T, R sebagai peran sintaktis. Berkaitan dengan cakupan (scope), yang dibahas adalah batas klausa intransitif dan klausa transitif pada bahasa Lezgian yang problematik. Karena itu, problem yang muncul adalah apakah konsep S, A, P, T, R akan diberlakukan untuk semua verba atau sebagian verba saja? Dixon dan Comrie menganggap bahwa konsep S, A, P, T, R hanya berlaku sebagian verba, khususnya verba aksi fisik saja, sedang Bickel menganggap konsep S, A, P, T, R berlaku untuk semua jenis verba. Tujuan ketiga pendekatan berbeda. Berkaitan dengan tunjuan penggunaan konsep itu, bagi Dixon dan Bickel, konsep S, A, P, T, R digunakan untuk komparatif linguistik dan pendeskripsian bahasa, sedang Comrie menganggap konsep S, A, P, T, R bertujuan untuk komparatif saja. Ada tiga klaim yang disampaikan oleh Haspelmath. Pertama, ada tiga cara yang agak berbeda dalam menentukan argumen-argumen yang digunakan dalam literatur: pertama, sebagai fungsi sintaktik universal berdasarkan transitivitas (pendekatan Dixon); kedua, sebagai konsep komparatif pada dua argumen klausa bertipe aksi; sebagai ketiga sebagai peran semantis yang digeneralisasikan. Kedua, menurut Haspelmath, pendekatan Comrie dinilai merupakan pendekatan yang paling bagus untuk pernyataan generalisasi lintas bahasa dalam kaitannya dengan fenomena aliansi klasik.

Ketiga, istilah-istilah linguistik (dalam hal ini S, A, P, T, R) memiliki kecenderungan mengalami perubahan arti secara signifikan dari satu ahli ke ahli lain, atau dari salah satu aliran pemikiran ke aliran pemikiran yang lain.

Ibrahim (2013) membahas tiga tataran ergativitas pada bahasa Tae‟

(bahasa yang digunakan di Sulawesi Selatan) : tataran morfologi, tataran sintaksis, dan tataran wacana. Hasil penelitian beliau menunjukkan bahwa bahasa Tae‟

memiliki perilaku ergatif pada ketiga tataran tersebut. Pada tataran morfologis, perilaku ergatif tersebut ditunjukkan dengan enklitifk persona untuk memarkahai S dan O, dan menggunakan proklitik persona untuk memarkahi A. Pada tataran sintaksis penggabungan dua klausa menganut sistem ergatif: Dua klausa pada bahasa Tae‟ hanya dapat digabungkan bila frase nomina yang berkoreferensi dalam kedua klausa tersebut masing-masing dalam fungsi sintaksis S atau O.

(6)

Bahasa Tae‟ juga memiliki perilaku keergatifan wacana. Pola pengenalan dan pelanjutan partisipasi dalam bacana Tae‟ menganut sistem ergatif wacana.

Partisipan dalam wacana lebih cenderung diperkenalkan dan dilanjutkan dalam fungsi-fungsi relasi S atau P. Partisipan dalam fungsi A dilanjutkan bila partisipan tersebut ditempatkan sebagai topik.

Teori yang dibuat Dixon atas dasar bahasa Dyirbal (bahasa di Australia) tersebut dapat digunakan untuk meneliti berbagai bahasa, tidak terkecuali bahasa- bahasa di Indonesia. Seperti telah disebutkan di awal bagian ini (bab II. A.1) Basic Linguistic Theory sudah diterapkan untuk meneliti bahasa bahasa di Indonesia. Penelitian bahasa Bali, bahasa Sasak, dan bahasa Indonesia dilakukan oleh Artawa (1997, 1998). Penelitian bahasa Kolana, bahasa Bali, bahasa Lamaholot, bahasa Tetun, bahasa Aceh, bahasa Sikka dilakukan oleh Arka (2000).

Penelitian tentang objek bahasa Indonesia dilakukan oleh Djunaidi (2003).

Penelitian tentang bahasa Minangkabau dilakukan oleh Jufrizal (2006; 2007a;

2007b; 2012, 2013). Penelitian tentang bahasa Tae‟ dilakukan oleh Ibrahim (2013). Khusus tentang bahasa Jawa sudah dilakuan oleh Sawardi (2002, 2007, 2009, 2011).

Walaupun teori tersebut mendapat berbagai kritikan bahkan konsep S, A, O dianggap membingungkan (lihat komentar Sudaryanto pada diskusi Pellba 10, hal. 151-153), substansi teori tersebut diakui oleh para ahli dan terus dikembangkan. Tulisan Hasplemath (2011) menunjukkan bahwa teori tersebut berkembang dengan tiga pendekatan: Dixonian, Comrian, dan Bickelian yang masing-masing pendekatan mempunyai pengikut. Karena itu, teori ini tetap relevan untuk mendeskripsikan bahasa Jawa.

2. Argumen

Analisis klausa dari segi predikat dan argumen sudah banyak digunakan para ahli baik pada bahasa Jawa maupun pada bahasa-bahasa di dunia. Pada bagian ini akan disajikan pembahasan tulisan yang menggunakan dasar predikat dan argumen untuk membahas bahasa Jawa, dan diikuti tulisan secara lintas bahasa yang membahas masalah batas argumen dan bukan argumen. Pembahasan

(7)

tentang argumen secara sintaktik menyangkut fungsi subjek dan objek. Oleh karena itu, pembahasan tentang subjek termasuk dalam pembahasan pada bagian ini. Pada 2.a berikut akan diulas tulisan-tulisan yang bahasa Jawa dari dasar predikat dan argumen, dan pada 2.b akan dibahas masalah masalah batas argumen dan bukan argumen.

a. Pembahasan Argumen dalam Bahasa Jawa

Pada bagian ini, akan dibahas tiga artikel yang membahas bahasa Jawa dengan dasar predikat dan argumen, dan satu artikel yang membahas tentang subjek bahasa Jawa. Ketiga artikel itu masing-masing ditulis oleh Davies (1993), Jauhari (2003), dan Nurhayani (2015). Satu artikel tentang subjek ditulis oleh Sumarlam (2006). Pembahasan masing-masing artikel akan disajikan secara kronologis pada alinea-alinea berikut.

Davies (1993) mengambil objek bahasa Jawa dalam pengembangan teori tata bahasa relasional dan teori pemetaan Gerdts (1992). Beliau membahas klausa adversatif bahasa Jawa seperti Siti keciprantan banyu panas Bambang „Siti kena percikan air panas oleh Bambang” dengan membandingkan teori tata bahasa relasional dan teori pemetaan (Mapping Theory Gerdts). Dalam menganalisis, Davies membandingkan pasif (kanonis) dengan pasif adversatif. Dikatakan bahwa pasif adversatif sama memiliki kemiripan dengan pasif aksidental dalam hal (i) agen melakukan tindakan dengan tidak sengaja, dan (ii) keduanya dapat memiliki penanda aspek yang sama, isa „bisa‟, dan mari „telah‟ dan tidak dapat memiliki penanda aspek arep „akan‟, lagi „sedang‟, wis „sudah‟. Dalam hal pemetaan, dari bukti klausa adversatif bahasa Jawa, Davies menyatakan bahwa teori pemetaan lebih mudah menjelaskan struktur klausa adversatif dibandingkan dengan model tata bahasa relasional. Yang didiskusikan adalah dari bentuk klausa dasar seperti apa dan proses sintaktik seperti apa sehingga terbentuk klausa adversatif tersebut.

Dalam membahas masalah tersebut, Davies menggunakan teori tata bahasa relasional dan dibandingkan dengan dari teori pemetaan (Mapping Theory).

Davies menunjukkan keterbatasan teori tata bahasa relasional untuk menentukan struktur dasar (kernel) bentuk adversatif seperti Siti kecipratan banyu, dan proses

(8)

sintaktik dalam pergeseran relasi argument sehingga membentuk klausa adversatif tersebut. Menurut teori Mapping Gerds, ada tiga informasi nomina yang disandikan yaitu : (i) relasi tematik; (ii) relasi gramatikal dan relasi MAP (morphological-licensed argumen position). MAP berkaitan dengan argumen langsung subjek dan objek. Bahasa umumnya memiliki maksimum dua atau tiga MAP tergatung proses morfosintaktiknya. Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa merupakan bahasa yang memiliki dua MAP yang disimbolkan dengan posisi A dan B. Karena itu, pemasifan, perpindahan relasi 3 ke 2, dan pasif adversatif digambarkan dengan pemetaan seperti berikut.

(1) pasif

(1) Passive

θRs : agent theme

GR : 1 2

MAP : A B

(2) 3-2 Advancement

θRs : agen theme goal

GR : 1 2 3

MAP : A B

(3) Adversatives

θRs : agen theme goal

GR : 1 2 3

MAP : A B

(9)

Menurut Davies, pada pasif adversatif suffiks –an memarkahi pasif aksidental dan ke- memarkahi argumen lokatif/ goal menduduki posisi A.

Dengan teori Lexical Mapping Theory (Bresnan dan Moshi, 1988; Bresnan dan Moshi, 1990; Arka, 1998), Jauhari (2003) membahas pasif bahasa Jawa, khususnya pasif yang berkaitan dengan prefiks di-, prefiks tak-, dan prefiks kok-.

Aspek yang dilihat hanya berkenaan dengan (i) karakteristik pasif, (ii) mekanisme pasivisasi itu terjadi, dan (iii) pemetaannya berdasarkan lexical mapping theory.

Persoalan yang gayut dengan disertasi ini terutama masalah kedua dan ketiga, terutama berkaitan dengan peran argumen yang menduduki fungsi inti terutama subjek. Disebutkan bahwa mekanisme pasivisasi bahasa Jawa dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori. Pertama, jika peran teta tertinggi itu berupa (1J), maka mekanisme pasivisasi itu terjadi sebagai berikut: (i) peran teta tertinggi mengalami penurunan status dari [+inti] menjadi [-inti], (ii) turunnya status itu diikuti juga oleh naiknya argumen inti nonagen menjadi a-subject, (iii) serempak dengan itu, verba mengalami perubahan, dari N-verb menjadi di-verb. Kedua, jika peran teta tertinggi berupa persona (1T) atau berupa (2T/J), maka pasivisasi itu terjadi dengan mekanisme sebagai berikut: (i) peran teta tertinggi mengalami supresi, (ii) supresi itu diikuti dengan naiknya argumen inti nonagen menjadi a- subject, (iii) verba mengalami perubahan bentuk dari N-verb menjadi tak-verb jika peran teta tertinggi itu berupa (1T) dan menjadi kok-verb jika peran teta tertinggi itu berupa (2T/J). Ketiga, jika peran teta tertinggi itu berupa persona (3T/J), pasivisasi itu terjadi dengan mekanisme sebagai berikut: (i) peran teta tertinggi bisa turun statusnya dari [+inti] menjadi [-inti], bisa juga mengalami supresi, (ii) bersamaan dengan itu, argumen inti nonagen mengalami penaikan status menjadi a-subject, (iii) verba mengalami perubahan bentuk dari N-verb menjadi di-verb.

Konstruksi pasif bahasa Jawa memiliki tiga macam pemetaan: (i) peran teta tertinggi mendapat properti [+r], (ii) peran teta tertinggi mendapat properti [], (iii) peran teta tertinggi memiliki dua alternasi, yaitu [+r] atau []. Sementara itu, pemetaan terhadap verba ditransitif menunjukkan bahwa bahasa Jawa termasuk bahasa asymmetrical object.

(10)

Pembahasan subjek bahasa Jawa dilakukan oleh Sumarlam (2006).

Walaupun tidak menggunakan istilah argumen, subjek adalah argumen (inti).

Pembahasan menyangkut masalah (i) konsep tentang subjek, (ii) posisi subjek;

(iii) kategori pengisi fungsi subjek; dan (iv) peran semantis subjek. Pembahasan ini menggunakan teori Verhaar tentang fungsi kategori dan peran. Berkaitan dengan konsep tentang subjek, ada istilah subjek psikologis, subjek gramatikal, dan subjek logis masing-masing merupakan analisis dari segi pragmatis, gramatikal, dan semantis. Yang dibahas dalam artikel tersebut adalah subjek gramatikal. Dari segi posisi, subjek menempati posisi paling kiri dalam kalimat dasar bahasa yang bertipe SPO. Subjek dapat juga menempati sebelah kanan predikat pada struktur pasif, kalimat inversi, kalimat yang predikatnya diisi oleh konsituen ana atau wonten , dan kalimat imperatif. Fungsi pengisi subjek adalah nomina/ frasa nomina, verba atau verba + pronomina, dan adjektiva. Peran subjek meliputi pelaku, sasaran, pemanfaat, penerima, proses, posisi, kekuatan, alat, lokasi, temporal, arah, asal, dan identitas.

Selain dibahas oleh Davies, masalah adversatif pasif bahasa Jawa juga dibahas oleh Nurhayani (2015). Dengan menggunakan dasar adversatif yang disampaikan oleh Kubo (1992) dan Pykkisänen (2002), Nurhayani menunjukkan problem yang adversatif pasif bahasa Jawa. Problemnya adalah adversatif pasif pasif bahasa Jawa tidak dapat dijelaskan dengan pergeseran argumen dari bentuk aktifnya (lihat juga Davies, 1991). Dua simpulan disampaikan oleh Nurhayani.

Pertama, agen dari pasif tersebut tidak bermaksud untuk mempengaruhi argumen lain seperti yang dikehendaki verba. Aksidental semantik dimarkahi dengan prefiks ke- pada verbanya. Prefiks tersebut dapat dikenakan pada verba transitif maupun intransitif, kecuali bentuk unergative yang harus dikenai dengan sirkumfiks ke-/-an. Kedua, bentuk adversatif bahasa Jawa lebih tepat dianalisis sebagai kombinasi prefiks ke- dan sufiks –an. Prefiks ke- sebagai pemarkah pasif dan aksidental, sedang sufiks –an sebagai pemarkah aplikatif (bandingkan juga dengan Davies)

Pembahasan argumen bahasa Jawa tersebut menggunakan konsep klausa dasar menjadi klausa turunan. Yang didiskusikan adalah bagaimana argumen-

(11)

argumen verba tersebut bergeser dari posisi klausa dasar ke dalam klausa turunan dengan rumusan-rumusan sintaktik yang sudah dipolakan dalam teori pemetaan Gerds maupun Bresnan dan Moshi, 1988; Bresnan dan Moshi, 1990. Dengan teori yang ada, bentuk pasif dan adversatif bahasa Jawa dirumuskan. Penelitian itu gayut dengan disertasi ini dalam hal pergeseran argumen yang menduduki fungsi tertentu dalam fungsi sintaktik. Tulisan Davies dan Jauhari lebih menekankan proses pergeseran argumen tersebut dalam suatu model tata bahasa.

Tulisan Sumarlam membahas subjek dengan teori fungsi, kategori, dan peran (Verhaar). Subjek merupakan salah satu argumen yang penting/istimewa (Kroeger menyebutnya sebagai privilege argument). Dalam studi tata bahasa, setidaknya ada tiga dasar untuk menentukan subjek. Pertama, dengan menggunakan dasar proyeksi dari peran (Mateu, 2014, Butt 2005, Greenberg, 1963). Bila orang mengatakan subjek adalah agen, dan objek adalah pasien, orang tersebut berpikir dengan menggunakan dasar proyeksi. Kedua, menggunakan dasar pengkodean/ coding properties (van Valin, 2004). Dalam kerangka berpikir seperti ini, subjek dirumuskan sebagai nomina yang dimarkahi dengan kasus nominatif, atau letaknya sebelum predikat. Ketiga, menggunakan dasar perilaku sintaktik/ behavioral properties (van Valin, 2005). Dengan dasar ini, subjek dirumuskan sebagai (frasa) nomina yang nomina yang dapat dikontrol pada klausa sematan, dapat direlatifkan, dapat dikenai dengan penjangka kambang, dst.

Tulisan Sumarlam menggunakan dasar, pengkodean dan proyeksi dari peran.

Ketika proyeksi itu tidak dibatasi pada klausa dasar, secara teoretik, semua peran dapat menduduki fungsi subjek (lihat van Valin, 2004: 32), atau dalam teori pemetaan Lexical Functional Grammar diberi fitur [-r] „unrectrected‟.

b. Batas Argumen dan Bukan Agumen

Jurnal Linguistics Discovery No. 12 tahun 2014 mengangkat issu tentang pembedaan argumen dan adjunct (bukan argumen) atau batas argumen dan bukan argumen. Dalam pengantarnya Whichman (2014) mengatakan bahwa pembedaan argumen dan bukan argumen sebenarnya sudah berakar dalam teori tata bahasa kontemporer. Pertanyaan yang muncul berkaitan dengan pembedaan kedua

(12)

konsep tersebut adalah: (i) apakah pembedaan argumen dan bukan argumen itu secara tipologis berguna; (ii) apakah pembedaan itu dapat diterapkan secara universal; dan (iii) apakah pembedaan itu diperlukan dalam pendeskripsian suatu bahasa. Pertanyaan bagaimana membedakan argumen dan bukan argumen sudah ada sejak tahun 1970-an dan sulit diselesaikan. Bila penyelesaian yang universal tidak dapat didapatkan, sulit untuk menyatakan dengan tegas bahwa pembedaan argumen dan bukan argumen itu relevan. Pernyataan berikutnya adalah pembedaan argumen dan bukan argumen itu relevan secara lintas bahasa, tetapi kriteria penentuannya ada pada masing-masing individu bahasa. Linguistics Discovery No. 12 tahun 2014 mengangkat lima tulisan yang masing-masing akan disajikan pada alinea-alinea berikut, ditambah tulisan Arka (2017) tentang pembedaan inti dan oblik.

Pertama, Haspelmath (2014a) dalam tulisan berjudul Arguments and Adjuncts as Language-Particular Syntactic Categories and as Comparative Concepts menggunakan dua kata kunci penting yaitu language-particular categories dan comparative concept dalam membedakan argumen dan bukan argumen. Istilah argumen dan adjunct berasal dari Tesnière (1959) yang kemudian diikuti sampai sekarang. Dalam membedakan dua istilah itu, Tesnière membuat metafora bahwa argumen adalah aktor yang membuat aksi dan adjunct adalah figuran yang melatarbelakanginya. Pada kalimat sederhana Kim sings folk songs in the bath jelas kelihatan yang mana argumen dan yang bukan argumen. Ketika diminta menentukan kriteria sintaktiknya apa yang menentukan argumen dan bukan argumen, problemnya muncul dan sebenarnya sudah dibahas sejak tahun 1970-an. Argumen dapat ditentukan berdasarkan kriteria semantik maupun sintaktik tetapi Hasmpelmath memilih penentuan argumen secara sintaktik.

Mengapa perlu membedakan argumen dan bukan argumen? Pembedaan argumen nonargumen lebih disebabkan masalah praktis daripada masalah teoretis.

Dorongan pembedaan itu berasal dari pengajaran bahasa. Kamus bahasa German Helbig & Schenkel‟s (1969) menyatakan argumen bahasa German diturunkan dari kebutuhan pengajaran bahasa German sebagai bahasa asing. Para penulis buku menyadari murid-muridnya secara sistematis salah dalam menyampaikan jumlah

(13)

argumen. Hal ini mendasari pembedaan argumen dan bukan argumen. Argumen dan bukan argumen lebih banyak bersifat sistematik daripada spesifik.

Dalam buku-buku sintaksis dan karya-karya teoretik, ada berbagai kriteria yang bersifat khusus untuk membedakan argumen dan bukan argumen.

Haspelmath menunjukkan beberapa bahasa yang adjungta (adjunct) dan argumennya dibedakan dengan tempat (tata urut), pemarkah dalam perelatifan, dan ada tidaknya preposisi. Para penulis yang hanya mengusulkan pembedaan argumen-adjungta dengan kriteria khusus, mereka tidak memiliki konsep bawaan secara generatif. Kriteria mereka hanya kategori khusus bahasa yang bersangkutan.

Untuk penelitian secara lintas bahasa, orang perlu konsep komparatif, konsep yang sama dapat diterapkan pada semua bahasa. Haspelmath mengusulkan konsep argumen dan cara pengetesannya dengan verba anaporiknya seperti berikut.

“An argument of a verb is a phrase whose occurrence is made possible by a specific verb, and which therefore cannot occur with a generic verb. This can be tested by attempting to move a phrase into a neighbouring clause with an anaphoric verb, as shown in (1a, 1c). Adjuncts, by contrast, are not tied to particular verbs and can therefore be moved out into a clause with an anaphoric verb (1b, 1d):

(1)

a. I wrote a letter. > *I wrote, and I did a letter.

b. I wrote with a pen. > I wrote, and I did it with a pen.

c. I put the book on the table.

*I put the book, and this happened on the table.

d. I wrote the letter on the table. >

I wrote the letter, and this happened on the table.”

(Haspelmath, 2014: 8-9)

„Argument dari sebuah verba adalah frasa yang keberadaanya dimungkinkan oleh suatu verba tertentu. Argument ini dapat diuji dengan mencoba memindah ke sekitar klausa dengan verba anaforik, seperti terlihat pada contoh (1a), dan (1c). Sebaliknya adjungta bukan merupakan argumen verba, dan karena itu dapat dipindah ke dalam verba anaforik seperti (1c) dan (1d).

Konsep dan cara penentuan tersebut, oleh Haspelmath dianggap konsep komparatif yang universal walaupun kadang-kadang bertentangan dengan konsep

(14)

argumen secara semantis. Dicontohkan dalam bahasa German, ekspresi datif yang menyatakan beneficiary dan keberadaanya tidak tergantung pada verba, dengan kriteria tersebut dinyatakan bukan sebagai argumen. Diakui oleh Haspelmath, dari tujuh konsep tentang argumen yang disampaikan oleh Jacob (1994), penentuan argument tersebut hanya merupakan satu aspek yang disebut sebagai spesifitas formal. Jika pembedaan argumen adjungta ini dapat ditentukan secara jelas dan tidak ambigu, pertanyaan selanjutnya adalah apakah verba tertentu cenderung mempunyai lebih banyak argumen di suatu bahasa dibandingkan dengan bahasa yang lain.

Kedua, Schaefer & Egbokhare (2014) dalam tulisan berjudul “Emai‟s Variable Coding of Adjuncts‟ membicarakan adjungta pada bahasa Emai (bahasa di Congo). Yang dibicarakan adalah: (i) bagaimana perbedaan pengkodean antara argumen dan adjungta?; dan (ii) apakah semua adjungta dikodekan dengan cara yang sama? Pada bahasa Emai, adjungta dibedakan dengan argumen dalam hal kehadirannya. Kehadiran argumen bersifat wajib, dan kehadiran adjungta bersifat opsional. Pada kalimat tanya yang menanyakan adjungta dan bentuk kontras fokus, predikat harus ditambah dengan verba laten (latent verb) seperti se, ra, te, vbi tergantung dari jenis adjungtanya, dan pada posisi yang bervariasi sebelum atau sesudah predikat. Sebaliknya, pada kalimat tanya yang menanyakan argumen, tidak perlu ada penambahan verba laten.

Dalam membahas pengkodean adjungta, Schaefer & Egbokhare menentukan tipe kalimat yang diamati. Tipe kalimat yang diamati adalah kalimat berita (declarative), kalimat perintah (imperative), kalimat tanya (interogative), kalimat berfokus (contrastive focus), dan respon kalimat tanya. Jenis adjungta diamati adalah keterangan cara (manner) seperti dengan sembrana, keterangan waktu (temporal extent) seperti secara lengkap, keterangan frekuensi (tempral frequency) seperti tiga kali, keterangan ordinal (temporal ordinal) seperti pada hari ketiga, dieksis waktu (temproral diexis) seperti kemarin, pengikatan temporal (temporal bound), lokasi (locative), dan alasan. Dari segi tata urut, letak adjungta pada kalimat berita adalah sesudah verba intransitif atau sesudah objek pada klausa transitif. Berkaitan dengan persoalan apakah semua adjungta memiliki

(15)

status yang sama, ternyata tidak. Ada adjungta yang berkaitan dengan verba matriks, dan ada adjungta yang tidak berkaitan dengan verba matriks, tetapi berkaitan dengan tambahan verba yang oleh Schaefer disebut verba laten.

Hubungan verba laten dan verba matriks mirip dengan verba serial. Dari penelitian itu, dihasilkan simpulan bahwa berbagai jenis adjungta yang diamati tidak dikodekan dengan tanda yang sama. Ada adjungta yang ditandai dengan verba laten dan karena itu kehadirannya ditentukan oleh verba laten, seperti kehadiran ópìà „gergaji‟ pada kalimat (4b) sangat ditentukan oleh verba laten ré

„ambil‟. Kata ópìà merupakan adjungta/ instrumen. Pada kalimat (4a) tanpa adjungta ópìà kalimat berterima. Kalimat (4b) menggunakan adjungta dengan menggunakan verba laten ré. Kalimat (4c) menggunakan verba laten tanpa adjungta ópìà (dilesapkan), ternyata tidak gramatikal.

(4) a. òjè híán óràn. / *òjè híán.

Oje PRP.cut wood /Oje PRP.cut

„Oje cut wood. / Oje cut.‟

b. òjè ópìà híán óràn.

Oje PRP.take cutlass cut wood „Oje used a cutlass to cut wood.‟

c. *òjè ré híán óràn.

Oje PRP.take cut wood

„Oje cut wood.‟

Temuan penting dari Schaefer & Egbokhare adalah distribusi adjungta dalam urutan pengkodean. Yang paling komprehensif adalah adjungta-alasan (REASON) karena pengkodeannya selalu menggunakan verba laten re pada segala posisi (kalimat berita, kalimat tanya, kalimat fokus kontras, dst.). Berikutnya adalah adjungta lokasi (LOCATIVE), yang menggunakan verba laten za pada kalimat interogatif dan kontrastif fokus di samping verba vbi. Adjungta-cara (MANNER) merupakan adjungta yang tidak menggunakan verba laten. Adjungta temporal (TEMPORAL) merupakan adjungta yang tidak tertatur, karena adjungta frekuensi dan temporal ordinal tidak menggunakan tidak menggunakan verba laten, sedang verba dieksis dan temporal ikatan menggunakan verba laten re pada

(16)

klausa interogatif dan imperatif. Kecenderungan tersebut disusun dalam suatu pemeringkatan seperti berikut.

(5) MANNER < TEMPORAL < LOCATIVE < REASON

Dari pemeringkatan adjungta tersebut tergambar bahwa adjungta alasan (REASON) berada di ujung paling kanan, merupakan adjungta yang paling jelas dan selalu dimarkahi sedang adjungta cara (MANNER) berada di ujung paling kiri, dan sedikit ditandai. Perbedaan kecil membuat adjungta tersebut pemeringkatan seperti dirumuskan pada (5).

Ketiga, Forker (2014) dalam tulisan berjudul “A Canonical Approach to the Argument/Adjunct Distinction” membahas pembedaan argumen dan adjunct dengan menerapkan pendekatan kanonikal (canonical approach). Beliau mengidentifikasi lima kriteria: kewajibhadiran nomina dalam klausa (obligatoriness), ketidakhadiran dalam nomina dalam klausa (latency), keterbatasan keberadaan (co-occurrence restrictions), relasi gramatikal (grammatical relations), dan kehadiran yang berulang (iterability). Di samping itu, beliau menggunakan tujuh kecenderungan diagnostik yaitu (i) pengkodean morfologis (tetap/ seragam > bervariasi); (ii) pemarkahan kasus (kasus gramatikal

> kasus semantis atau spasial); (iii) pemarkahan dengan kasus > pemarkahan dengan adposisi; (iv) terindeks pada verba (terindeks > tidak terindeks); (v) keteraksesan terhadap perubahan valensi: terakses > tidak terakses; (vi) posisi (terbatas > tidak terbatas); kedekatan dengan verba (dekat > kurang dekat).

Kriteria dan kecendrungan kanonis itu diterapkan pada bahasa Hinug (bahasa di Nakh-Daghestanian di republik Chechnya). Yang menjadi titik perhatian utama adalah dua jenis kasus spasial adjungta yang disebut dengan AT-essive , dimarkahi dengan -qo, dan SPR-essive, dimarkahi dengan -ƛ'o, keduanya menyatakan tempat/ lokasi/ waktu. AT-essive dapat disejajarkan dengan preposisi bahasa Inggris at, near, sedangkan SPR-essive sejajar dengan on. Ada enam perbedaan dari dua jenis adjungta tersebut berkaitan dengan status keargumenan. Pertama, berkaitan dengan fungsi menyatakan temporal spasial dan cara: AT-essive lebih mengacu ke waktu/ spasial yang tidak ditentukan secara pasti (seperti suatu pagi), sedang SPT-essive menunjukkan tempat yang tidak selalu kontak, misalnya pada

(17)

gambar dan waktu yang pasti (misalnya, jam 9). Kedua, kedua jenis adjungta digunakan untuk perluasan intransitif: AT-essive digunakan pada kata-kata seperti enekezi -iq- „listen/mendengarkan‟, -uƛ'- „fear/takut‟, -iɬi- „be similar/ mirip‟;

sedang SPR-essive berkaitan dengan verba seperti boži iq-„believe/ percaya‟, šakɬezi -iq- „doubt/ragu‟. Penggunaan tersebut ditentukan berdasarkan properti leksikal. Jarang sekali verba yang menggunakan kedua adjungta tersebut. Ketiga, berkaitan dengan perluasan verba transitif, AT-essive digunakan perluasan yang tidak derivasional. Keempat, berkaitan dengan kopula, AT-essive menyatkan kepemilikan sementara, sedang SPR-essive menyatakan nama. Kelima, AT-essive menyatakan agen nonkanonis (agen melakukan suatu tindakan secara tidak sengaja). Keenam, SPR-essive menyatakan harga, tujuan, dan beberapa konstruksi lain. Dua catatan penting yang disampaikan oleh Forker adalah (i) bahasa Hinuq cenderung menghilangkan argumen yang dapat diacu dari konteks, (ii) empat relasi gramatikal tidak dapat diterapkan dalam bahasa Hinuq sehingga tidak dikenal istilah subjek, objek, oblik, dalam bahasa Hinuq. Frasa nomina yang menyatakan keterangan cara, spasial dan sirkumstansi, secara semantik dan sintaktik tidak dibutuhkan sebagai pelengkap predikat sehingga bila konstituen tersebut dilesapkan tidak bermasalah. Konstituen tersebut tidak menduduki fungsi subjek karena keberadaannya pada satu klausa dapat berisi lebih dari satu keterangan (iterable). Karena sifat-sifat itu, konstituen-konstituen tersebut dapat disebut adjungta kanonis. Di ujung lain, ada frasa nomina yang mengacu nonkanonikal agen dan pemilik temporer. Frasa nomina tersebut secara semantis dan sintaktis kehadirannya bersifat wajib. Bila dilesapkan, makna klausa ada yang kurang/ hilang. Karena sifat itu, konstituen tersebut lebih tepat disebut sebagai argumen daripada adjungta. Dari segi kelatenan (latency), konstituen tersebut tidak dapat disebut adjungta. Dari kalimat-kalimat yang disajikan, disusun kecenderungan, bahwa klausa dengan konsituen spasial/ temporal/ dan cara menduduki ujung adjungta kanonis sedang argumen memiliki kecenderungan seperti argumen kanonis. Kecenderungan itu dikuatkan dengan tes diagnostik.

Agen yang tidak sengaja melakukan dan pemilik temporer dimarkahi dengan AT-

(18)

essive sedang adjungta lain dimarkahi dengan SPR-essive. Agen dan pemilik temporer tersebut lebih dekat sebagai argumen dibandingkan dengan yang lain.

Keempat, Creissels (2014) dalam tulisan berjudul “Cross-Linguistic Variation in the Treatment of Beneficiaries and the Argument vs. Adjunct Distinction” membicarakan beneficiary dari sudut keargumenan. Artikel konseptual ini membahas secara komparatif peran beneficiary yang status keargumenannya dianggap bervariasi pada sembilan bahasa: bahasa Mandinka (di Sinegal), bahasa Georgia, bahasa Bantu (di Kamerun), bahasa Indonesia (di Indonesia), bahasa Yup‟ik (di Eskimo-Aleut, Alaska), bahasa Tswana (di Botswana and Africa Utara), bahasa Akhvakh (di Rusia), bahasa Shuswap (di Salish, British Columbia), dan bahasa Inggris. Problem yang dibahas adalah beneficiary termasuk argumen atau adjungta secara lintas bahasa. Dari berbagai bahasa tersebut, beneficiary diperlakukan (i) seperti-adjungta pada bahasa Mandinka dan bahasa Georgia; (ii) seperti-argumen pada bahasa Inggris, bahasa Eton. Bila dikaitkan dengan aplikatif, beneficiary merupakan konstituen yang bersifat opsional yang dapat diaplikatifkan seperti pada bahasa Indonesia, bahasa Yup‟ik. Tipe lain adalah konstituen beneficiary merupakan wajib yang dapat diaplikatifkan seperti pada bahasa Tswana, bahasa Shuswap.

Simpulannya, Creissel menunjukkan perilaku morfosintaktik argumen beneficiary yang bervariasi dibandingkan dengan nomina yang berstatus sebagai argumen maupun adjungta. Variasi itu tidak masuk akal bila dianalisis sebagai cerminan peran beneficiary. Pada beberapa bahasa, argumen oblik dikodekan sama dengan argumen adjungta. Bahasa yang beneficiary-nya diperlakukan sama dengan objek pada konstruksi aplikatif, menujukkan ketidaksesuaian antara kewajibhadiran vs. opsionalitas semantis dengan status inti dan tidak inti secara sintaktik. Pada pengamatan konstruksi aplikatif yang melibatkan pasien dan beneficiary, status argumen inti dan bukan inti sensitif terhadap faktor selain kewajibhadiarna dan ketidakwajibhadiran partisipan.

Kelima, Arka (2014) dalam tulisan berjudul “Locative-Related Roles and the Argument-Adjunct Distinction in Balinese” membahas peran lokatif dalam bahasa Bali termasuk argumen atau adjunct. Lokatif bahasa Bali tidak dapat

(19)

disimpulkan sebagai argumen atau adjungta. Tidak semua lokatif argumen namun tidak semua lokatif adjungta. Berbagai hal yang diperhitungkan untuk menentukan status keargumenan peran lokatif adalah: kebernyawaan, ketemaan (thematiciy), keterpengaruhan dan keindividuan, kelas kata dan dieksis spasial.

Hal-hal tersebut membuat argumen lokatif tidak dapat dipisahkan secara tegas (clear-cut distinction) tetapi lebih sebagai hal yang berjenjang dari argumen ke adjungta. Dalam kasus ini, perilaku keargumenan bukan merupakan properti predikat dan bahwa pendekatan yang diproyeksikan dari predikat pada struktur argumen tidak dapat dipertahankan. Lokatif ada yang dapat dimasukkan sebagai argumen, ada yang dapat dimasukkan pada adjunct.

Agak berbeda dengan issue yang disampaikan pada Linguistic Discovery, Arka (2017) dalam tulisan berjudul “Core-Oblique Distinction in Some Aurtronesian Languages of Indonesia and Beyond” membahas masalah pembedaan argumen inti (core) dan oblik (oblique) pada bahasa-bahasa di Indonesia. Berbeda dengan tulisan Arka (2014) yang membahas masalah batas argumen dan bukan argumen, tulisan Arka (2017) membahas masalah batas argumen inti dengan oblik. Argumen memilik properti-antara yang disebut dengan semi-inti (semi-core) terutama bahasa yang tidak tidak menunjukkan batas jelas antara inti dan oblik, seperti bahasa Indonesia. Mengidentifikasi argumen merupakan inti atau bukan sering menjadi masalah. Hal ini sebagian karena kurangnya bukti untuk membedakan kedua hal tersebut. Kurangnya bukti disebabkan tidakadanya deskripsi bahasa secara detil dan metodologi yang bagus.

Arka mengusulkan indeks keintian untuk mengatasi ketidakpastian status inti atau tidak. Indeks keintian itu meliputi subkategori, kewajibhadiran, pemarkahan kategorial, generalisasi secara tematik, penjangka kambang, topikalisasi frase kepemilikan, pelesapan, imperatif, pengikatan, kontrol pada argumen kompleks, partisipan pada diatesis agentif dan diatesis pasientif, posisi struktural ketat atau tidak ketat. Dari indeks itu dibuat persentase keintian argumen. Dengan indeks itu Arka menunjukkan indeks keintian beberapa bahasa seperti bahasa Bali, Bahasa Indonesia.

(20)

Batas argumen dan bukan argumen tersebut yang dipersoalkan tersebut terutama di luar argumen inti, subjek dan objek, atau peran semantis agen dan pasien. Subjek objek atau agen dan pasien dalam bahasa apa pun dianggap sebagai argumen inti dan tidak diragukan lagi bahwa konstituen tersebut merupakan argumen. Sebaliknya peran-peran seperti beneficiary, lokasi, merupakan batas yang tidak dapat ditentukan secara pasti argumen dan bukan argumen. Konsep tentang batas argumen dan adjungta bergradasi dan bervariasi dari berbagai berbagai bahasa merupakan konsep yang diterima banyak pihak.

3. Pelesapan

Ada empat artikel ilmiah/ penelitian yang berkaitan dengan pelesapan.

Yang pertama adalah penelitian Sugono (1988), penelitian Partana (2003), Suwandi (2003) , Agustina (2006), dan penelitian Kesuma (2011).

Penelitian Sugono (1988) tentang pelesapan subjek dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini cukup detil dan sengaja membatasi diri pada pelesapan subjek. Walau yang diamati pelesapan subjek, hubungan antara subjek yang dilesapkan dan pengendalinya juga diamati. Hanya hubungan antara pelesapan dan pengendali tidak dikaitkan perlakuan sintaksis dalam sebuah bahasa, tidak dikaitkan dengan tipe perilaku bahasa akusatif ataupun bahasa ergatif. Pelesapan subjek pada penelitian ini khusus pada klausa yang identifikasinya jelas, dan keterpulihan menjadi penentu utama tentang adanya pelesapan tersebut. Pelesapan yang tidak dapat dipulihkan seperti pelesapan pada BJ kalimat (24) (lihat halaman 18), dan pelesapan pada klausa relatif seperti pada kalimat (25) (halaman 18), atau pelesapan pada verba beruntun, seperti pada kalimat (20) (21) Bab I, tidak dibicarakan.

Kedua, senada dengan penelitian Sugono (1998), adalah penelitian Partana (2003) tentang pelesapan objek dalam BJ. Penelitian ini sudah membatasi diri yang dilesapkan adalah objek. Penelitian menguraikan antara pelesapan objek langsung dan objek tak langsung. Penelitian ini tidak mendefinisikan objek langsung dan objek tak langsung. Di samping itu, penelitian ini juga tidak mengaitkan perilaku sintaksis dan pentipean bahasa.

(21)

Ketiga, penelitian Suwandi (2003). Penelitian ini mengaitkan pelesapan dengan masalah wacana. Beliau membahas tentang kohesi dalam bahasa Indonesia yang di dalamnya menyinggung masalah pelesapan. Pelesapan dianggap sebagai salah satu piranti kohesi di samping piranti lain seperti pronomina, penyulihan, dan konjungsi. Pembahasan masalah pelesapan tersebut terutama dikaitkan dengan pengendali pada kalimat sebelumnya. Dengan pelesapan tersebut, kalimat yang mengalami pelesapan memiliki kohesi dengan kalimat sebelumnya. Penelitian ini tidak mengidentifikasi fungsi konstituen yang dilesapkan maupun fungsi pengendali yang menjadi acuan konstituen yang dilesapkan. Penelitian ini lebih ke arah penelitian wacana dibandingkan dengan penelitian sintaktik.

Keempat, Agustina (2006) dalam tulisan berjudul “Klausa Relatif dalam Bahasa Indonesia: Sebuah Fenomena Kontroversial?” membahas masalah keanehan klausa relatif bahasa Indonesia. Kaitan klausa relatif bahasa Indonesia dengan pelesapan adalah strategi yang digunakan dalam perelatifan. Strategi perelatifan bahasa Indonesia adalah dengan menggunakan obliteration/ gap, yaitu perelatifan dengan melesapkan nomina pada klausa relatifnya (bandingkan Comrie, 1989; Song, 2001; Sawardi, dkk., 2015). Simpulan yang ditarik dari pembahasan Agustina adalah adanya keanehan tentang klausa relatif bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia dapat merelatifkan predikat nomina, objek, pelaku, dan keterangan. Walau strategi perelatifan dalam bahasa Indonesia menggunakan pelesapan atau gap, tetapi yang menjadi fokus pembicaraan ini adalah klausa relatifnya sehingga pelesapannya tidak dibahas.

Kelima, Kesuma (2011) dalam tulisan berjudul “Verba Transitif dan Objek Dapat Dilesapkan dalam Bahasa Indonesia” membahas masalah pelesapan objek dalam bahasa Indonesia. Penelitian ini membahas pelesapan objek bukan karena masalah sintaktik tetapi lebih karena masalah semantik/wacana. Ada dua alasan mengapa objek dilesapkan yaitu: (i) objek telah disebutkan sebelumnya; (ii) objek tertentu, secara spesifik ditentukan oleh watak verba (bandingkan konsep kelatenan/latency yang disampaikan oleh Arka, 2017). Misalnya verba melahirkan dapat dipastikan objeknya bayi/ anak, verba menjahit dapat dipastikan objeknya

(22)

baju, celana, kain, dst. Pelesapan tersebut juga tidak berkaitan dengan masalah tipologi.

B. Landasan Teori

Teori yang digunakan dalam disertasi ini adalah Basic Linguistics Theory yang dicetuskan oleh Dixon (1994, 2010a, 2010b, 2012). Di Indonesia teori tersebut dikembangkan oleh Artawa (1997; 1998a; 1998b;199c), Djunaidi (2000), Jufrizal (2006, 2007a, 2007b), dan Ibrahim (2013).

Basic Linguistic Theory merupakan salah satu teori ilmu bahasa yang menganggap dirinya sebagai cabang ilmu alam (natural sience) seperti geologi, biologi, dan kimia. Tugas ilmu bahasa adalah menjelaskan hakikat bahasa manusia melalui keterlibatan aktif dalam mendeskripsikan bahasa-bahasa sebagai sistem yang terintegrasi dengan menjelaskan mengapa setiap bahasa seperti itu.

Menurut Dixon, ada dua unsur yang dalam membuat deskripsi gramatika setiap bahasa yaitu kata dan klausa (2010a: 90). Teori yang diambil dalam disertasi ini adalah teori yang berkaitan dengan klausa, bagaimana klausa dideskripsikan, dan bagaimana klausa ditipekan.

Setiap klausa memiliki struktur internal yang terdiri atas predikat (umumnya verba) dan sejumlah argumen. Dalam melihat argumen ada yang disebut dengan argumen inti (dalam bahasa Inggris : core/term) dan periferal.

Argumen inti adalah argumen yang harus dinyatakan dalam klausa dasar atau dipahami dari konteks, dan argumen periferal sifatnya opsional. Bagian berikut akan menguraikan tentang konsep argumen.

1. Argumen

Dalam membuat deskripsi sintaktik, pada umumnya kalimat dengan predikat verba yang diamati dan dirumuskan lebih dahulu. Dari predikat verba, misalnya verba pukul, untuk menjadi klaus dasar diperlukan dua partisipan yaitu orang yang memukul dan sesuatu yang dipukul, misalnya menjadi Ali memukul anjing. Rumusan tersebut berlaku untuk semua bahasa. Bagaimana dua partisipan itu diurutkan dan ditandai itu ditentukan oleh bahasa tertentu. Bahasa Indonesia

(23)

mengurutkan bahwa yang melakukan disebutkan di awal kalimat, diikuti predikat, dan sesuatu yang dikenai pekerjaan. Ada bahasa yang menggunakan tata urut bebas, ada bahasa yang menggunakan tata urut ketat. Pada umumnya bahasa yang menggunakan tata urut bebas memiliki pemarkah morfologis untuk menandai partisipan yang melakukan tindakan dan partisipan yang dikenai tindakan. Dua partisipan tersebut disebut argumen. Seperti disebutkan pada pendahuluan, Matthews (1997: 24-25), argumen dirumuskan sebagai berikut.

“Any syntactic element seen as required by a verb: e.q. love takes two arguments, represented she and me in She loves me. Thence generally of elements required by word of other categories: e.g. the adjective happy has the argument She in She is happy.

The term is borrowed from mathematical logic: e.g. in the expression P (x,y) the variables of x and y are the arguments of a two place *predicate P. The argument structure of verb or other lexical unit is the range of arguments that it may or must take.

„Unsur sintaktik apa pun yang dipandang sebagai kebutuhan verba:

misalnya verba bahasa Inggris love „mencintai‟ memerlukan dua argumen, yang direpresentasikan dalam she „ia (perempuan)‟ dan me

„saya‟ pada kalimat She loves me „Ia (perempuan) mencintai saya‟.

Kemudian, umumnya ada unsur yang dibutuhkan kata selain verba:

misalnya adjektif happy „senang‟ mempunyai argumen She „dia (perempuan)‟ pada kalimat She is happy „Ia (perempuan) senang‟.

Istilah argumen dipinjam dari logika matematis: misalnya pada ekspresi P (x,y) variabel x dan y merupakan argumen dari predikat verba transitif. Struktur argumen verba atau unit leksikal yang lain merupakan rentangan argumen yang mungkin atau harus diambil (oleh verba tsb)).‟

Pada klausa tunggal seperti dicontohkan oleh Matthews tersebut, kedua argumen dari verba love direpresentasikan semua dalam kata She dan me. Dalam klausa berurutan salah satu argumen yang sama dapat dilesapkan, seperti pada kalimat bahasa Inggris I asked Mary to come. Istilah argumen umum digunakan di dalam buku-buku sintaksis. Konsep argumen pada umumnya mencakup fungsi gramatikal subjek dan objek. Seperti dirumuskan Matthews pada kalimat She loves me, argumen dari verba bahasa Inggris love mencakup dua unsur she dan me, masing-masing menduduki fungsi subjek dan objek. Dilihat dari segi jumlah argumen, ada verba yang hanya perlu satu argumen (verba intransitif), ada verba yang membutuhkan dua argumen (verba transitif), dan ada verba yang membutuhkan tiga argumen (verba dwitransitif).

(24)

Subjek dan objek umum disebut sebagai argumen. Pada bahasa yang menggunakan kasus, argumen ditandai dengan kasus tertentu, misalnya nominatif untuk subjek dan akusatif untuk objek. Pada bahasa yang tidak mengenal kasus, argumen diekspresikan dengan (frasa) nomina,sebaliknya bukan argumen ditandai dengan preposisi (Kroeger, 2005: 57). Jadi, bila ada kalimat Ali memukul anjing di kebun, predikat memukul mempunyai dua argumen yaitu Ali, dan anjing, sedang kebun bukan argumen karena ditandai dengan preposisi di. Dalam hal ini Bahasa Jawa sama dengan bahasa Indonesia. Argumen adalah (frasa) nomina yang tidak ditandai sedang bukan argumen ditandai dengan preposisi. Misalnya, kalimat (6) berikut.

(6) Sumantri ng-gèrèt kursi nèng kamar.

Sumantri AKT-tarik kursi di/ke kamar

„Sumantri menarik kursi ke kamar‟

Predikat pada kalimat (6) adalah ng-gèrèt „menarik‟ dengan argumen Sumantri, dan kursi „kursi‟. Unsur kamar pada kalimat tersebut bukan argumen karena ditandai dengan preposisi nèng „di/ke‟ yang menyatakan lokatif.

Argumen yang karena proses sintaktik menjadi ditandai dengan preposisi, kehilangan sifat keargumenannya. Karena itu, Sumantri pada kalimat (6) berikut bukan merupakan kehilangan sifat keargumenannya.

(7) Kursi-né di-gèrèt déning Sumantri nèng kamar Kursi-nya pas-tarik oleh Sumantri di/ke kamat

„Kursinya ditarik oleh Sumantri ke kamar‟

Karena proses sintaktik pemasifan, Sumantri kehilangan sifat keargumenannya dan ditandai dengan preposisi déning, tetapi konstituen kursi tetap menjadi argumen karena tetap tidak dimarkahi dengan preposisi. Sebalinya, kamar tetap bukan argumen karena tetap ditandai dengan preposisi. Dalam teori Dixon, Sumantri pada kalimat (7) disebut dengan periferal (bukan inti). Di samping argumen, ada istilah E (extention) yang digunakan untuk mengacu objek kedua pada verba dwitransitif, atau konstituen-konstituen yang dapat menjadi argumen pada verba intranstif.

Seperti disampaikan pada kajian pustaka, bila diteliti secara mendalam batas argumen dan bukan argumen sebenarnya tidak tegas (clear cut) tetapi

(25)

merupakan sebuah kesinambungan (continuum) yang batas tidak bisa ditentukan secara tegas. Erat kaitannya dengan argumen, Hopper dan Thompson mengukur transitivitas verba dengan persentase dari sejumlah ciri (Montolalu, 1985). Dari ciri tersebut, tidak ada batas yang tegas antara transitif dan intransitif dalam hal ini berargumen satu dan berargumen dua. Transitivitas diukur menjadi 40%, atau 50%, atau 80 %, tetapi tidak pernah 100%. Untuk penentuan batas argumen dan bukan argumen, tidak dapat secara tuntas ditentukan, untuk desertasi ini keberadaan pemarkah preposisi sebuah nomina termasuk argumen atau bukan argumen. Penentuan seperti yang disampaikan oleh Haspelmath pada kajian pustaka, masih agak sulit diterapkan dalam bahasa Jawa.

2. Tipe Bahasa

Struktur klausa dibedakan menjadi dua yaitu predikat intransitif dengan satu argumen inti, dan predikat transitif dengan dua argumen inti. Pembedaan atas intransitif dan transitif ini ada yang bersifat kaku, tetapi ada yang bersifat lentur.

Pada bahasa yang sifatnya kaku, semua verba intransitif terpilah secara tegas dan tidak pernah ada verba yang memiliki dua perilaku (intransitif dan transitif).

Sebaliknya, bahasa yang bersifat lentur memiliki mekanisme sintaktik untuk membuat verba intransitifnya menjadi transitif.

Argumen-argumen tersebut membentuk relasi gramatikal dasar. Satu- satunya argumen pada verba intransitif akan dipetakan menjadi S1. Bila verba berargumen dua, salah satu argumennya akan dipetakan menjadi A (agen) dan yang lain akan dipetakan menjadi O (objek)) berdasarkan peran semantiknya. A adalah argumen yang menginisiasi atau mengontrol aktivitas. Prinsip dasarnya:

peran yang sangat relevan dalam mensukseskan aktivitas adalah A. Bisa jadi argumen tersebut tidak bernyawa seperti The wind pada kalimat The wind wrecked the house, tetapi sebagian besar yang mengisi A adalah manusia yang „relevan untuk menyukseskan aktivitas‟. The wind disamakan dengan „mengontrol atau

1 Dixon menyebut ini sebagai subjek, Artawa (1998) menyebut sebagai subjek semantis. Penulis sependapat dengan pendapat Manning (1996), Song (2001) dan Djunaidi (2000), S tersebut adalah singel argument. Untuk tidak mengacaukan dengan subject atau sentence Song (2001) menulis S tersebut dengan italic (S).

(26)

menginis=iasi aktivitas‟. Argumen A mencakup peran-peran seperti agen pada verba AFFECT, donor pada verba GIVING, speaker pada verba SPEAKING dan peran perciever pada verba ATTENTION.

Pada verba yang memiliki dua argumen inti, yang bukan A dapat diidentifikasi sebagai O. Nomina the nut „kacang‟ pada kalimat John fetched the nut „John mengambil kacang‟ adalah O. Pada verba berargumen tiga, satu argumen dipetakan menjadi A, dan salah satu dari argumen lain yang bukan A dipetakan menjadi O tergantung dari akibat yang diterima. Dicontohkan pada kalimat John hit the vase with a stick „John memukul vas dengan tongkat‟, the vase adalah O karena yang paling banyak menerima akibat dari tindakan hit

„memukul‟.

Jadi, ada tiga jenis argumen inti (core) yang menjadi perhatian dalam teori ini. Dua argumen pada verba transitif adalah A dan O, dan satu-satunya argumen inti pada verba intransitif, S. Argument A dan O ditentukan berdasarkan peran semantisnya, dan argumen S ditentukan berdasarkan keintian pada verba intransitif. Tiga jenis argumen S, A, dan O ini oleh Arka (2017) disejajarkan dengan fungsi (sintaktik) yang umum dikenal sebagai subjek objek. Unsur-unsur lain pada klausa/ kalimat tidak menjadi perhatian pada teori ini disebut sebagai periferal.

Dari segi pemarkahan, ada tiga cara memarkahi argumen inti (Dixon, 2010: 125-126). Pertama pemarkahan pada nomina yang bersangkutan dengan afiks yang menyatakan kasus, adposisi, atau klitik. Pemarkah-pemarkah tersebut dapat di awal atau di akhir kata. Kedua, pemarkahan dengan pronomina terikat.

Umumnya pemarkah ini melekat pada verba atau verbal auxiliary atau klitika pada konstituen klausa. Pemarkahan tersebut mencakup persona : orang orang pertama, orang kedua, atau untuk orang ketiga, informasi tentang gender, dan jumlah. Ketiga, dengan tata urut dalam klausa, misalnya ada bahasa yang menggunakan tata urut secara ketat AVO (Agen, Verba, Objek/ Subjek, Predikat, Objek), seperti bJ.

Dixon menyebutkan ada bahasa yang tidak menggunakan salah satu cara pemarkahan yang beliau sebutkan, misalnya bahasa Thai. Pada bahasa Thai, tidak

(27)

ada pemarkah yang menunjukkan argumen yang menduduki fungsi A dan pemarkah argumen yang menduduki fungsi O. Penentuan argumen A dan O semata-mata ditentukan oleh konteks wacana. Bila ada dua argumen bernyawa seperti buaya dan anjing, berdasarkan konteksnya, buaya lebih sering menduduki A, mengontrol/ menginisiasi tindakan, dibandingkan anjing pada verba menyerang. Orang lebih menafsirkan menjadi Buaya menyerang anjing dibandingkan dengan Anjing menyerang buaya. Konteks menentukan siapa yang menjadi A dan siapa yang menjadi O. Pada bahasa Lisu (Djunaidi, 2000), A dan O tidak dibedakan dengan jelas. Dicontohkan bila ada argumen orang dan anjing pada predikat verba menggigit, anjing-lah yang kemungkinan menjadi A dan orang akan menjadi O berdasarkan konteksnya. Hanya pada klausa-klausa yang tidak dapat dipecahkan dengan konteksnya, pemarkah untuk membedakan argumen A dan O dimunculkan. Bila ada dua argument, harimau dan anjing pada verba menggigit, keduanya dapat berpotensi menjadi A maupun O. Pemarkah A atau O diperlukan pada kalimat seperti itu.

Pada klausa transitif, argumen A harus dibedakan dengan argumen O untuk membedakan siapa melakukan tindakan terhadap, dan apa/siapa yang menjadi sasaran. Tata bahasa umumnya memiliki cara untuk membedakan argumen yang melakukan tindakan dari argumen dikenai pekerjaan. Jadi, suatu bahasa akan membedakan dua jenis argumen tersebut dengan pemarkah tertentu.

Seperti telah disebutkan pada alinea sebelumnya, di samping ada argumen A dan O, ada argumen S. Argumen S bebas dari peran semantis, bisa berperan seperti A, menginisiasi/ mengontrol kegiatan seperti pada verba lari, tertawa, tersenyum, terbang, berenang, tetapi dapat juga seperti argument O, tidak mengontrol/

menginisiasi pekerjaan, tetapi dikenai pekerjaan, seperti pada verba jatuh, sakit, gila, tuli, dan bisu. Pemarkahan argument S juga bermacam-macam. Cara pemarkahan tiga jenis argumen tersebut yang menjadi dasar munculnya pentipean struktur klausa. Sedikit sekali bahasa yang memarkahi argumen S, A, dan O tersebut secara berbeda: A diberi pemarkah secara berbeda dengan O, dan S diberi pemarkah secara berbeda dengan A maupun O. Ketiga jenis argumen tersebut memiliki pemarkah sendiri-sendiri. Bahasa yang demikian dianggap tidak

(28)

ekomomis. Kecenderungannya adalah S diberi pemarkah sama dengan pemarkah A, atau S diberi pemarkah sama dengan pemarkah O, atau campuran sebagian S diberi pemarkah sama dengan A, dan sebagaian S diberi pemarkah sama dengan pemarkah O. Pemarkahan tiga jenis argumen tersebut menjadi dasar penentuan tipe bahasa. Shibatani menyebut tipologi jenis ini sebagai tipologi organisasi klausa. Dengan demikian, ada tiga tipe bahasa: pertama, bahasa yang S-nya diberi pemarkah sama dengan pemarkah A; kedua, bahasa yang S-nya diberi pemarkah sama dengan pemarkah O, dan ketiga, bahasa yang S-nya diberi pemarkah secara campuran (sebagaian diberi pemarkah sama dengan pemarkah A, dan sebagaian diberi pemarkah sama dengan pemarkah O).

Tipe bahasa pertama, bahasa yang argumen S-nya diberi pemarkah sama dengan argumen argument A, dan argumen O-nya diberi pemarkah secara berbeda dari pemarkah argumen S dan A. Salah satu bentuk pemarkahnya adalah kasus morfologis. Contohnya adalah bahasa Inggris. Pronomina bahasa Inggris yang menduduki argumen S diberi pemarkah sama dengan argumen pemarkah A:

sama-sama menggunakan bentuk nominatif (misalnya he „ia laki-laki‟), dan argumen O-nya menggunakan bentuk akusatif (misalnya him „ia laki-laki‟).

Bahasa yang memperlakukan argumen S sama dengan argumen A (dengan pemarkah kasus, misalnya) disebut dengan bahasa yang menggunakan sistem aliansi nominatif-akusatif, atau bahasa bertipe akusatif, bahasa akusatif (Dixon, l994, Arka, 2000). Dalam bahasa Inggris, pemarkahan tersebut tampak pada bentuk morfologis pronominanya, misalnya he untuk S dan A dan him „ia/dia laki- laki‟ untuk O. Pada kalimat intransitif bahasa Inggris, He danced „ia menari‟, he adalah argumen S (satu-satunya argumen) dari verba intransitif danced „menari‟.

Pada kalimat transitif He hit him „Dia memukul dia‟, bentuk he digunakan untuk memarkahi argumen yang mengontrol pekerjaan/ melakukan tindakan, argumen A, dan bentuk him digunakan memarkahi argumen yang tidak mengontrol pekerjaan/ dikenai pekerjaan, argumen O. Bentuk he digunakan untuk memarkahi argumen S pada klausa intransitif He danced, dan juga digunakan untuk memarkahi argumen A pada klausa transitif He hit him. Bentuk him digunakan untuk memarkahi argumen O. Argumen O dimarkahi dengan bentuk him berbeda

(29)

dengan S dan A. Karena itu, argumen he digunakan untuk memarkahi S dan A, sedan him untuk memarkahi O. He disebut dengan kasus nominatif, dan him disebut dengan kasus akusatif. Karena itu, bahasa Inggris menggunakan kasus nominatif akusatif. Pemarkahan dengan kasus tersebut digambarkan seperti (1) berikut.

(8) Perlakuan contoh (bahasa Inggris)

S He (*Him) danced

A O He hit him

Argumen S dan A digambar dalam satu lingkaran karena kedua jenis argumen tersebut diberi kasus yang sama yaitu kasus nominatif dan argumen O digambarkan di luar lingkaran karena tidak diberi kasus yang sama dengan argumen A dan S. Argumen O diberi kasus yang berbeda dengan A dan S.

Kasusnya disebut dengan akusatif.

Tipe bahasa kedua, bahasa yang memarkahi argumen S-nya sama dengan argumen O. Tipe bahasa yang kedua ini disebut tipe bahasa ergatif. Model pemarkahan bahasa ergatif berbeda dengan yang digambarkan pada (8).

Contohnya adalah bahasa Dyirbal. Pada bahasa Dyirbal, argumen A dimarkahi dengan sufiks –ηgu, sedang argumen S dan O keduanya tidak diberi markah apa- apa atau disebut absolutif. Pemarkah –ηgu disebut dengan ergatif diberi gloss ERG, sedang argumen yang tidak diberi pemarkah disebut absolutif diberi gloss ABS. Karena itu, tipe (9) berikut dikenal dengan sistem aliansi ergatif-absolutif, atau ergatif, yaitu bahasa yang argumen S-nya dimarkahi sama dengan argumen O.

Sistem perlakuan semacam ini diperlihatkan oleh bahasa Dyirbal (Dixon, l994).

Perilaku bahasa ergatif digambarkan dengan (9) berikut.

(9) Perlakuan Contoh (bahasa Dyirbal)

S a. ŋuma banaga-nyu

Ayah (ABS) kembali „Ayah kembali‟

A O b. Yabu ŋuma-ηgu bura-n

Ibu(ABS) ayah-ERG lihat-NONFUT

„Ayah melihat ibu‟

(30)

Pada contoh klausa (9a) dan (9b) terlihat bahwa argumen S, ŋuma „ayah‟ pada klausa (9a) dimarkahi sama dengan argumen O, yabu „ibu‟ pada klausa transitif (9b), keduanya tidak diberi pemarkah apapun dan diberi gloss ABS (absolutif).

Sementara itu, A (agen) pada klausa verba transitif (9b), ŋuma „ayah‟ diberi pemarkah -ηgu di belakangnya dan diberi gloss ERG (ergatif), untuk membedakan dari S dan O.

Tipe bahasa ketiga adalah campuran atau bahasa terpilah (Split-S). Bahasa mencampurkan kedua jenis pemarkahan tersebut, pemarkahan bahasa akusatif dengan pemarkahan bahasa ergatif. Percampuran terjadi pada argumen S.

Sebagian argument S diberi permarkah sama dengan pemarkah A, dan sebagian argument S diberi pemarkah sama dengan pemarkah O. Percampuran dua sistem pemarkahan itu dimotivasikan oleh empat hal: (i) berkaitan dengan kondisi semantik verba; (ii) berkaitan dengan semantik nomina; (iii) berkaitan dengan kala/ aspek/ mood; dan (iv) kedudukan klausa.

Pertama, keterpilahan dikondisikan oleh semantik verba. Kondisi semantik verba membuat kecenderungan percampuran dua sistem pemarkahan tersebut.

Logikanya seperti berikut. Pada verba transitif, dua argumennya dibedakan menjadi argumen A dan O. Hal itu tidak mengherankan karena argumen A yang memprakarsai atau mengontrol aktivitas sedang argumen O yang dikenai pekerjaan. Tanpa ada pembedaan kedua jenis argumen, pemaknaan akan menjadi kacau. Masuk akal, dua jenis argumen tersebut dibedakan dengan pemarkah yang berbeda. Pada verba intransitif, satu-satunya argumen adalah S. Argumen S tersebut secara semantis memiliki dua perilaku. Ada kelompok verba intransitif tertentu, yang argumen S-nya memprakarsai atau mengontrol pekerjaan sehingga seperti argumen A pada verba transitif. Argumen pada verba lari, terbang, berjalan, berenang, dst. merupakan contoh kelompok verba ini. Kelompok verba intransitif lain, satu-satunya argumen S, tidak memprakarsai pekerjaan sehingga mirip dengan argumen O pada verba transitif. Argumen dari verba jatuh, sakit, pusing, adalah kelompoknya. Argumen S yang berperilaku seperti A disimbolkan dengan Sa, dan argumen S yang berperilaku seperti O disimbolkan dengan So.

Dalam BJ, verba intransitif yang argumennya seperti A dimarkahi dengan nasal,

Gambar

gambar  dan  waktu  yang  pasti  (misalnya,  jam  9).  Kedua,  kedua  jenis  adjungta  digunakan untuk perluasan intransitif: AT-essive digunakan pada kata-kata seperti  enekezi  -iq-  „listen/mendengarkan‟,  -uƛ'-  „fear/takut‟,  -iɬi-  „be  similar/  mir

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Berdasarkan tataran sintaksis bahasa Jepang, kalimat bahasa Jepang dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Kalimat non verbal adalah kalimat yang dibentuk dari kategori nomina atau

Sementara itu, Fasold menjelaskan kalau seseorang menggunakan satu kata atau frase satu bahasa dan dia memasukkan kata tersebut ke dalam bahasa lain yang digunakannya dalam

Kesalahan sintaksis berdasarkan beberapa pengertian di atas adalah kesalahan, penyimpangan, pelanggaran, kekhilafan terhadap suatu kaidah yang ditentukan dalam

Orang tua: mempunyai dua bahasa yang berbeda, satu sama lain memahami bahasa pasangannya pada tingkat tertentu. Masyarakat: salah satu bahasa orang tua adalah bahasa

Polisemi sering juga diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, biasanya juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu (Chaer, 1989) seperti kata kepala dalam Bahasa Indonesia

Konjungsi (kata sambung) adalah partikel yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau

Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebjek adalah pokok atau bagian klausa yang berwujud nomina atau frasa nomina yang menandai apa yang dikatakan oleh

Dapat disimpulkan dari pakar bahasa dalam Bahasa Indonesia bahwa kata konjungsi merupakan kata yang berfungsi sebagai kata penghubung baik dalam kalimat,klausa, frasa maupun