BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia perekonomian erat keterkaitannya dengan pasar uang dan pasar modal. Pasar modal merupakan salah satu cara bagi perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan jangka panjangnya dengan cara menjual saham. Pasar modal harus bersifat likuid dan efesien agar dapat menarik minat pembeli dan penjual untuk ikut berpartisipasi. Pasar modal dianggap efisien jika harga dari surat berharga mencerminkan penilaian investor terhadap prospek laba perusahaan di masa depan dan kualitas manajemennya. Saat calon investor meragukan kualitas dari manajemen, keraguan tersebut dapat mengakibatkan turunnya harga surat berharga. Pasar modal juga dapat digunakan sebagai sarana tidak langsung untuk mengukur kualitas manajemen (Hartono, 2010).
Informasi menjadi hal yang penting untuk diperhatikan pada pasar modal. Informasi yang didapatkan oleh para investor dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Hal ini karena informasi dapat menggambarkan hasil atau risiko yang akan investor hadapi dalam berinvestasi dan juga sebagai bahan pertimbangan agar investor mendapatkan hasil yang maksimal dengan risiko minimal. Semakin banyak informasi yang calon investor tersebut dapatkan, maka mereka akan memperoleh gambaran mengenai hasil dan risiko yang lebih jelas (Hartono, 2010).
Informasi terkait pasar modal disajikan dalam tiga macam bentuk yaitu informasi masa lalu, informasi masa sekarang yang sedang dipublikasikan dan informasi privat. Informasi masa lalu merupakan informasi yang telah terjadi. Informasi masa lalu tidak berkaitan dengan nilai
sekarang (Hartono, 2010). Informasi yang sedang dipublikasikan dapat mempengaruhi harga- harga sekuritas sejumlah perusahaan (Hartono, 2010).
Pengumuman masuknya COVID-19 ke Indonesia merupakan contoh informasi masa sekarang yang sedang dipublikasikan yang dapat memberikan dampak kepada pasar modal di Indonesia. Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus positif COVID-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020 yaitu sebanyak 2 orang. Pada pengumuman COVID-19 pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada poin 91 poin atau 1,68 persen ke level 5.36. Saat itu tren IHSG memang sedang bearish. Hal ini terjadi karena telah ditetapkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh Gubernur DKI Jakarta sehingga berdampak pada pasar modal yang bereaksi negatif yang kemudian menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah.
Harga saham melemah pada saat pandemi COVID-19 terjadi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah seperti social distancing, work from home, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dapat berpengaruh negatif
terhadap pasar modal di Indonesia. Berbagai kebijakan pembatasan interaksi tersebut secara relatif berdampak negatif terhadap pasar modal di Indonesia.
Berita masuknya COVID-19 ke Indonesia juga memberikan dampak pada perusahaan indeks LQ-45. Perusahaan indeks LQ-45 bergerak turun 20,21 poin atau 2,3 persen menjadi 859,33. Perusahaan indeks LQ-45 sebelum masuknya COVID-19 mampu bertumbuh sebesar 3,23% pada akhir tahun 2019, pada bulan Februari 2020 setelah COVID-19 telah memasuki wilayah Indonesia beberapa saham perusahaan indeks LQ-45 mengalami penurunan sebesar 15%
(cnbcindonesia.com). Hal ini tentu memberikan dampak pada perekonomian Indonesia terutama
pada perdagangan saham di Indonesia dan mempengaruhi reaksi para investor dan situasi pasar yang ada di Bursa Efek Indonesia.
Pengumuman masuknya COVID-19 ke Indonesia juga berdampak terhadap perekonomian di Indonesia, hal ini berpengaruh pada reaksi para investor. Investor akan merasa aman dalam menanamkan modalnya di pasar modal apabila terjadi kestabilan pada perekonomian di Indonesia dan sebaliknya, apabila terjadi ketidakstabilan perekonomian maka investor akan merasa tidak aman dan merasa risiko yang didapatkan jauh lebih tinggi. Pasar akan bereaksi pada pengumuman yang didalamnya terdapat informasi seperti pengumuman pandemi COVID-19 di Indonesia. Efesiensi pasar dapat diuji dengan melihat abnormal return (imbal hasil tidak normal) yang terjadi. Pasar dikatakan tidak efesien jika satu atau beberapa pelaku pasar dapat menikmati abnormal return dalam jangka waktu yang lama (Hartono 2010).
Abnormal return digunakan untuk mengukur selisih dari hasil yang sesungguhnya terjadi
terhadap hasil yang diinginkan oleh investor, baik itu hasil yang memiliki bentuk nilai positif atau bahkan dalam bentuk nilai yang negatif. Investor melakukan investasi jangka panjang akan berekspektasi dan mengharapkan untuk mendapatkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan risiko saham yang didapatkan oleh investor tersebut. Investor lebih cepat bereaksi pada perubahan harga saham yang terjadi dikarenakan adanya perubahan makroekonomi. Ketika perubahan makroekonomi terjadi, maka para investor akan memperhitungkan dampaknya baik dalam bentuk positif maupun negatif terhadap kinerja perusahaan beberapa tahun kedepan, kemudian mengambil keputusan membeli, menjual atau menahan saham yang bersangkutan. Reaksi harga dan tingkat keuntungan dapat diuji menggunakan security return variability (SRV). Security return variability digunakan untuk melihat suatu peristiwa menjadi hal yang informatif bagi
pasar secara agregat, artinya apakah informasi tersebut mengakibatkan perubahan pada distribusi return saham pada waktu peristiwa terjadi (Diantriasih 2018). Aktivitas yang paling penting
yang harus diperhatikan investor melakukan investasi dipasar modal yaitu pergerakan harga saham.
Aktivitas pergerakan saham menunjukkan kinerja emiten. Apabila kinerja emiten semakin baik maka keuntungan yang dihasilkan akan semakin besar. Pada kondisi ini, harga saham emiten yang bersangkutan cenderung menunjukkan kenaikan. Sebaliknya, apabila kinerja emiten memburuk, maka keuntungan yang dihasilkan dari operasi usaha akan semakin kecil.
Selain harga saham, trading volume activity (volume perdagangan saham) sangat mempengaruhi jumlah saham yang beredar, jika trading volume activity yang besar maka saham tersebut dinyatakan sebagai saham yang aktif.
Saham yang memiliki trading volume activity yang besar terjadi karena transaksi saham tersebut sangat aktif dan menarik minat banyak investor. Trading volume activity merupakan hal yang penting bagi seorang investor, karena trading volume activity menggambarkan kondisi efek yang diperjualbelikan di pasar modal (Febriyanti, 2020). Transaksi saham yang sangat aktif dan return saham yang positif menyebabkan investor tertarik dan berminat menanamkan modalnya
ke perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut. Investasi saham dan semua aset keuangan lainnya memiliki dua parameter dasar yakni risiko dan return (Biswas, 2015).
Return dapat berupa return realisasi (actual return) yang telah terjadi dan return ekspektasi yang belum terjadi atau diharapkan terjadi dimasa mendatang. Return realisasi (actual return) dipakai sebagai salah satu faktor untuk mengukur kinerja perusahaan yang dimana return
realisasi (actual return) juga bekerja sebagai dasar penentuan return ekspektasi dan risiko masa mendatang. Diketahuinya return realisasi (actual return) dan return ekspektasi bermanfaat untuk mengetahui abnormal return. Abnormal return bisa bernilai positif maupun negatif, para investor selalu berharap memperoleh abnormal return positif dari investasi yang telah mereka lakukan sebab abnormal return merupakan suatu kelebihan return dari return yang seharusnya terjadi (Kusdarmawan dan Abudanti 2015).
Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi acuan pada penelitian ini disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1.1 Penelitian Rujukan
No. Nama Penulis Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. Pinglin He,
Yulong Sun, Ying Zhang &
Tao Li (2020)
COVID–19’s Impact on Stock Prices Across Different Sectors—
An Event Study Based on the Chinese Stock Market
Pandemi COVID-19 berdampak negatif pada harga saham di Bursa Efek Shanghai dan berdampak positif pada harga saham di Bursa Efek Shenzen.
Pandemi COVID-19 sangat mempengaruhi industri transportasi, pertambangan, listrik dan pemanas serta lingkungan.
2. Libo Xu (2021)
Stock Return and the COVID-19 pandemic:
Evidence from Canada and the US
Pandemi COVID-19 memberikan dampak negatif pada pasar saham secara umum dan mengakibatkan penurunan return saham.
3.
Adrian Fernandez- Perez, Aaron Gilbert, Ivan Indriawan,
Nhut H.
Nguyen (2021)
COVID-19
pandemic and stock market response: A culture effect
Pandemi COVID-19 mengakibatkan adanya penurunan pada pasar saham terutama pada negara-negara dengan tingkat individualisme yang lebih rendah.
4. Monita Khoiriah, Moh. Amin, Arista Fauzi Kartikasari (2020)
Pengaruh Sebelum Dan Saat Adanya Pandemi COVID- 19 Terhadap Saham LQ-45 Di
Bursa Efek
Indonesia Tahun 2020
Average abnormal return (ARR) dan average trading volume activity (ATVA) menunjukkan pengaruh yang signifikan sebelum dan saat pandemi COVID-19 terhadap perusahaan indeks LQ-45.
5. Deasy Lestary Kusnandar, Vivi Indah Bintari (2020)
Perbandingan Abnormal Return Saham Sebelum dan Sesudah Perubahan Waktu Perdagangan
Selama Pandemi COVID-19
Adanya perbedaan abnormal return yang signifikan sebelum dan sesudah pengumuman perubahan waktu perdagangan pada transaksi bursa selama pandemi COVID-19.
6. Galuh Artika Febriyanti (2020)
Dampak pandemi COVID-19
terhadap harga saham dan aktivitas volume
perdagangan (Studi kasus saham LQ-45 di Bursa Efek Indonesia)
Terdapat perbedaan signifikan antara abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman kasus pertama pasien COVID-19 di Indonesia.
Terdapat perbedaan signifikan antara trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman kasus pertama pasien COVID-19 di Indonesia.
7. Agung Pratama, Chandra Wijaya (2020)
The Impact of Ramadhan Effect On Abnormal Return
Tidak adanya pengaruh Ramadhan pada abnormal return terhadap subsektor yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
8. Ryan Rizki Ramadhan (2020)
Reaksi Pasar Sebelum dan Sesudah Peristiwa Pengumuman Virus COVID-19 oleh Presiden Joko
Terdapat perbedaan abnormal return dan security return variability sebelum dan sesudah pengumuman Virus COVID-19 oleh Presiden Joko Widodo pada saham Aneka Industri di Bursa Efek Indonesia.
Widodo Tidak terdapat perbedaan trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman Virus COVID-19 oleh Presiden Joko Widodo pada saham Aneka Industri di Bursa Efek Indoensia.
9. Ni Komang Diantriasih, I Gusti Ayu Purnamawati, Made Arie Wahyuni (2018)
Analisis Komparatif
Abnormal Return, Security Return Variability Dan Trading Volume Activity Sebelum Dan Setelah Pilkada Serentak Tahun 2018
Tidak terdapat perbedaan abnormal return dan security return variability sebelum dan setelah peristiwa pilkada serentak tahun 2018.
Terdapat perbedaan trading volume activity sebelum dan setelah peristiwa pilkada serentak tahun 2018.
Sumber : diolah dari penelitian terdahulu
Berdasarkan penelitian terdahulu dari He (2020), menyatakan bahwa pandemi COVID-19 berdampak negatif pada harga saham di Bursa Efek Shanghai, sedangkan pandemi berdampak positif pada harga saham di Bursa Efek Shenzhen. Sejalan dengan penelitian dari Xu (2021) dan Fernandez (2020), menyatakan bahwa Pandemi COVID-19 memberikan dampak negatif pada pasar saham secara umum dan mengakibatkan penurunan return saham.
Penelitian Khoriah (2020) dan Febriyanti (2020) menunjukkan bahwa adanya perbedaan abnormal return dan trading volume activity sebelum dan sesudah pengumuman kasus pertama
pasien COVID-19 di Indonesia. Sejalan dengan penelitian Kusnandar (2020) menyatakan bahwa terdapat perbedaan abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman perubahan waktu perdagangan pada transaksi bursa selama pandemi COVID-19.
Penelitian ini mengacu kepada penelitian He (2020) yang meneliti secara empiris kinerja pasar dan trend respon industri di Cina terhadap pandemi COVID-19 dengan menggunakan
pendekatan event study. Persamaan penelitian ini dengan penelitian He (2020) adalah sama-sama meneliti return saham sebelum dan sesudah COVID-19 dengan menggunakan studi peristiwa.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian He (2020), antara lain yaitu sampel yang digunakan adalah pasar saham Shanghai dan Shenzen yang terdiri dari 2.895 perusahaan sedangkan pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah pasar saham Indonesia yang perusahaannya berindeks LQ-45 di BEI yang terdiri dari 45 perusahaan. Periode penelitian yang digunakan oleh penelitian He (2020) yaitu 3 Juni 2019 – 13 Maret 2020 sedangkan pada penelitian ini, periode penelitian yaitu 26 November 2019 – 9 Maret 2020.
Penelitian ini dilakukan untuk menguji seberapa besar pengaruh sebelum dan pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama terhadap perusahaan yang terdaftar sebagai anggota indeks LQ-45. Event study (studi peristiwa) digunakan untuk menganalisis besar pengaruh COVID-19 terhadap perusahaan menggunakan abnormal return, trading volume activity, dan security return variability dari sekuritas yang mungkin terjadi di sekitar pengumuman dari suatu
peristiwa.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Abnormal Return Saham, Trading Volume Activity dan Security Return Variability Sebelum dan Pada Saat Pengumuman Kasus COVID-19 Pertama di Indonesia Pada Perusahaan Indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat perbedaan abnormal return sebelum dan pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia
?
2. Apakah terdapat perbedaan trading volume activity sebelum dan pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia ?
3. Apakah terdapat perbedaan security return variability sebelum dan pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia ?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui tentang perbedaan abnormal return sebelum pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui tentang perbedaan trading volume activity sebelum dan pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui tentang perbedaan security return variability sebelum dan pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia pada perusahaan indeks LQ-45 di Bursa Efek Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak, antara lain:
1. Bagi penulis
Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru mengenai dampak COVID-19 terhadap pasar modal.
2. Bagi masyarakat
Menambah masukan informasi kepada masyarakat secara umumnya dan investor pada khususnya untuk melihat dampak yang diberikan sebelum dan pada saat pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia menggunakan abnormal return, trading volume activity, dan security return variability di perusahaan indeks LQ-45.
3. Bagi dunia pendidikan
Dapat dijadikan sebagai alat pembanding riset selanjutnya bagi para akademisi yang berkaitan dengan abnormal return, trading volume activity, dan security return variability.