• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRES REPORT HASIL PENELITIAN PENELITIAN PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRES REPORT HASIL PENELITIAN PENELITIAN PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

1

PROGRES REPORT HASIL PENELITIAN

PENELITIAN PEMBINAAN/PENINGKATAN KAPASITAS

POLA INTERAKSI KOMUNITAS MBOJO DENGAN MASYARAKAT SASAK (Studi pada komunitas Mbojo di Desa Peresak Kecamatan Narmada

KIbrahimpaten Lombok Barat)

Oleh:

H. MUHAMMAD SYARIFUDIN, M.Pd.

NIP. 197609152011011006

PUSAT PENELITIAN DAN PUBLIKASI ILMIAH

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LP2M) UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

2018

No. Reg:201509760108000 / PPKD

(2)

2

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya, manusia selalu ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya, karena setiap orang yang hidup dalam masyarakat sejak ia baru lahir hingga ia menutup mata, secara kodrati senantiasa terlibat dalam berinteraksi, terjadinya interaksi adalah sebagai konsekuensi hubungan sosial masyarakat, paling sedikit dua orang yang saling berhubungan satu sama lainnya yang menimbulkan sebuah interaksi sosial (SocialInteraction), terjadinya interaksi sosial disebabkan interkomunikasi.1 Interaksi sangat penting peranannya bagi kehidupan sosial, budaya, politik dan pendidikan, karena interaksi merupakan proses dinamik transaksional yang mempengaruhi perilaku, yang mana sumber dan penerimaannya sengaja menyandi (simbol) perilaku mereka untuk menghasilkan pesan yang mereka salurkan melalui suatu saluran guna merangsang atau memperoleh sikap atau perilaku tertentu sebagai konsekuensi dari hubungan sosial.2

Tampaknya tak dapat dipungkiri lagi bahwa proses interaksi ini sangat vital dan mendasar bagi interaksi sosial, dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan individu yang lainnya, dengan begitu menetapkan kredibilitasnya sebagai seorang anggota masyarakat dan dikatakan mendasar karena manusia baik yang primitif maupun yang modern berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai hal aturan sosial interaksi.Oleh karena itu yang harus ditekankan adalah bagaimana interaksidapat berjalan efektif dan efisien sehingga pesan yang diterima, ditafsirkan sama antara komunikator dan

1Onong Uchajana, Dinamika Komunikasi (Bandung, PT Remaja Rosda Karya: 1993) hal 3

2Deddy mulyana dkk, Komunikasi Antar Pribadi (Bandung, PT Remaja Rosda Karya:1990) hal 15

(3)

3

komunikan. Artinya interaksi yang baik dan efektif, terjadi tidak hanya sekedar saat seseorang telah melekatkan arti tertentu terhadap perilaku orang lain tetapi juga pada persepsinya yang sesuai dengan pemberi pesan atau informasi.

Salah satu cara untuk menjamin hal itu adalah dengan menghindarkan pesan yang tidak jelas atau tidak spesifik serta dengan meningkatkan frekuensi umpan balik (feedback) guna mengurangi tingkat ketidakpastian dan tanda tanya, yakni dengan cara memahami bagaimana polainteraksi dari lawan tatap muka kita nantinya, sehingga salah tafsir dari penyampaian pesan dapat dihindarkan meskipun mempunyai latar belakang kehidupan yang hampir sama dengan kita.Jika dihubungkan dengan pola interaksi adalah model dari hubungan antar individu dengan individu atau individu dengan kelompok atau kelompok dengan individu dengan memberikan timbal balik antara pihak satu dengan yang lain dengan maksud atau hal-hal tertentu guna mencapai tujuan.

Dari interaksi iniakan menghasilkan produk-produk interaksi, yaitu tata pergaulan yang berupa nilai dan norma yang berupa kebaikan dan keburukan dalam ukuran kelompok atau komunitas tersebut. Pandangan tentang apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk tersebut mempengaruhi perilaku komunitas sehari-hari. Seperti cara kita berbicara dan berpakaian, makanan yang kita makan dan cara kita menyiapkannya dan mengkonsumsinya, cara kita membagi waktu dan ruang, nilai-nilai yang kita sosialisasikan kepada anak-anak kita dan semua secara rinci lainnya yang membentuk kehidupan sehari-hari.

Perspektif tentang pola interaksi ini mengimplikasikan bahwa tak ada interaksi yang secara inheren lebih unggul dari interaksi yang lainnya dan bahwa pola interaksi tidak ada kaitannya sama sekali dengan status ekonomi, interaksi sebagai kehidupan sehari-hari merupakan idea yang tetap demokratis.3Dalam hal ini komunitas Mbojo dalam berinteraksi sangat dipengaruhi oleh tradisi mereka yang sangat khas, mulai dari logat bahasa,

3James Lull, Media, Komunikasi dan Kebudayaan (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia :1998) hal.

77

(4)

4

cara mereka bertutur kata, menyampaikan pesan yang ada dalam pikiran mereka sampai pada pengungkapan atau pengekspresian perasaan mereka.

Pada umumnya komunitas Mbojo dalam pengungkapan perasaan dan pola pikir mereka akan suatu hal cenderung tidak pakai basa basi, langsung pada pembicaraan utama, hal ini dikarenakan masyarakat Mbojo lebih menghargai waktu daripada kemasan pesan yang akan disampaikan. Namun berbeda dengan komunitas mbojo yang ada di Desa Peresak. Yang lebih menghargai lawan bicara mereka sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin memperhalus kemasan pesan mereka agar tidak sampai menyinggung perasaan lawan bicaranya. Meskipun mereka tidak perlu merangkai kata-kata yang indah, tapi enak di dengar, mereka lebih mengutamakan inti pesan, agar pesan tersebut bisa dengan mudah dipahami oleh lawan bicaranya. Kadang kala komunitas Mbojo terlihat sangat emosional dengan nada bicara yang agak tegas, meskipun pesan yang disampaikan mempunyai makna atau arti yang biasa (tidak marah), dan itu merupakan kebiasaan masyarakat Mbojo pada umumnya namun tidak dengan komunitas Mbojo di Peresak. Dalam berinteraksi dengan sesama maupun dengan orang di luar komunitas Mbojo mereka tetap meggunakan bahasa yang halus walaupun kebiasaan bicara dengan nada tinggi masih tetap saja melekat yang sudah menjadi ciri khas orang Mbojo sehingga orang yang diajak bicara harus paham makna pesan yang disampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman

Hal inilah yang memotivasi peneliti untuk mengkaji bagaimana Pola atau polainteraksikomunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak khususnya di Desa PeresakKecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat dalam berinteraksi dengan masyarakat pribumi yang terkesan Sopan, Ramah, Lemah lembut bahkan sebagian besar dari mereka mampu berbahasa Sasak krama yang mungkin belum tentu orang Sasak lakukan, hal inilah yang menarik perhatian peneliti untuk mengkaji hal ini.

B. RUMUSAN MASALAH

(5)

5

Dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian ini merumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah pola interaksi komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak

di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat?

2. Bagaimanakah proses interaksi komunitas Mbojo dengan masyarakat

Sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat?

D. TUJUAN PENELITIAN

Bertitik tolak pada rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pola interaksi komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat.

2. Untuk mengetahui proses interaksi komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat.

E. MANFAAT PENELITIAN

Adapun kegunaan dari penelitian ini diharapkan berdaya guna sebagai berikut:

a. Secara teoritis

1. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap

pengembangan masyarakat terutama tentang pola interaksi masyarakat.

2. Diharapkan dapat memperkaya kajian tentang komunitas masyarakat

khususnya di bidang pengembangan Masyarakat Mbojo dan Sasak.

b. Secara Praktis

1. Hasil Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu informasi

dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya kajian yang ada hubungannya dengan Pengembangan masyarakat.

(6)

6

2. Untuk membantu masyarakat demi menghindari kesalahpahaman

persepsi dari sebuah interaksi yang disampaikan yang berbeda latar belakangkomunitas dalam masyarakat.

F. KAJIAN PUSTAKA

1) Kajian Hasil Penelitian Terdahulu

Dalam penelitian ini, penelitian terdahulu yangdianggap relevan dan penting untuk dipelajari sebagai referensi dan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam lagi bagi peneliti, yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Yanuarita pada tahun 2009, Universitas Negeri Yogyakarta, dengan judul “Interaksi Sosial dan Belajar Mengajar Anak Tunagrahita di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) “Kartini” Temanggung”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi sosial dan belajar anak tunagrahita di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) “Kartini”

Temanggung”. 4

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa interaksi sosial dan belajar mengajar merupakan proses penting dalam membimbing dan mengembangkan potensi penerima manfaat (anak tunagrahita) di BBRSBG “Kartini” Temanggung.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Saian Muhtadi pada tahun 2015, IAIN Tulungagung,dengan judul “Interaksi Sosial Hindu dan Islam (Studi kasus di Desa Bendosewu Kecamatan Talun KIbrahimpaten Blitar)”.5 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk keharmonisan relasi sosial dalam pluralitas kehidupan beragama antara umat Hindu dan umat Islam di Desa Bendosewu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjalinnya interaksi sosial yang harmonis antara

4 Yanuarta.2009.Interaksi sosial dan belajar mengajar anak tunagrahita di balai besar rehabilitasi sosial bina grahita kartini,Temenggung. Skripsi UNY.

5Saian Muhtadi.2015. Interaksi Sosial Hindu dan Islam (Studi kasus di Desa Bendosewu Kecamatan Talun Kabupaten Blitar).skripsi IAIN Tulungagung

(7)

7

umat Hindu dan umat Islam karena adanya peran penting dari keluarga dan orang yang paling dekat dengan individu atau kelompok.

Penelitian yang akan peneliti lakukan dalam penelitian ini adalah

“polainteraksikomunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak khususnya di Desa PeresakKecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat” yang terfokus pada pola dan proses interaksi komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak yang berada di Desa Peresak.

2) Kajian Teoritik a) Pola interaksi

Pola dan interaksi merupakan dua konsep yang berbeda makna. M.

Ali dalam Kamus lengkap Bahasa Indonesia menyatakan bahwa pola adalah gambar yang dibuat contoh atau model. Sedangkan interaksi artinya hal yang saling melakukan aksi, berhubungan, mempengaruhi, dan antar hubungan.Dengan demikian pola interaksi adalah model-model dalam proses terjadinya interaksi. Pusat perhatian pola dan interaksi dalam kajian ini terletak pada model atau cara manusia berhubungan melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial. Pelintasan hubungan ini menggunakan kode – kode atau simbol, baik secara verbal maupun nonverbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam konteks interaksi.

Dalam hal ini juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola- pola tindakan dan bagaimana makna serta pola – pola itu di artikulasi dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik, proses pendidikan bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia.

Dalam penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran yakni teori Interaksi Simbolik milik Herbert Blumer, istilah interaksi simbolik diciptakan oleh Herbert Blumer sendiri pada tahun 1937 dan dipopulerkan oleh Blumer juga,6meskipun sebenarnya Mead-lah yang paling popular sebagai peletak dasar teori tersebut.Esensi dari teori Interaksi simbolik

6Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004) hal. 194

(8)

8

adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna Blumer mengkonseptualisasikan manusia sebagai pencipta atau pembentuk kembali lingkungannya, sebagai perancang dunia obyeknya dalam aliran tindakannya, alih–alih sekedar merespons pengharapan kelompok.

Perspektif interaksionisme simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subyek, perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan keberadaan orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka.Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, obyek dan bahkan pada diri mereka sendiri yang menentukan perilaku mereka.

Perilaku mereka tidak dapat digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan impuls, tuntutan budaya atau tuntutan peran, manusia bertindak hanya berdasarkan pada definisi atau penafsiran mereka atas obyek-obyek di sekeliling mereka.Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok, dalam konteks ini, maka makna dikontruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan peranannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial dan kekuatan sosial.Bagi penganut interaksi simbolik memungkinkan mereka menghindari problem-problem struktulisme dan idealisme dan mengemudikan jalan tengah dari problem tersebut.

Menurut teori Interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia yang menggunakan simbol-simbol, mereka tertarik pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Dan juga pengaruh yang ditimbulkan dari penafsiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pihak-pihak yang terlihat dalam

(9)

9

interaksi sosial.7Penganut interaksi simbolik berpandangan, perilaku manusia pada dasarnya adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia dari sekeliling mereka jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan sebagaimana dianut teori Behavioristik atau teori struktural.

Secara ringkas Teori Interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut,8 pertama individu merespons suatu situasi simbolik, mereka merespon lingkungan termasuk obyek fisik (benda) dan Obyek sosial (perilakumanusia) berdasarkan media yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka.Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melihat pada obyek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa, negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu mewarnai segala sesuatu bukan hanya obyek fisik, tindakan atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran obyek fisik, tindakan atau peristiwa itu) namun juga gagasan yang abstrak.Ketiga, makna yang interpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial, perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri

b) Komunitas dan masyarakat

Kriteria utama bagi adanya suatu komunitas adalah adanya social relationship antara anggota suatu kelompok, faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih besar diantara para anggotanya, dibandingkan dengan individu di luar kelompok. Disimpulkan bahwa komunitas adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial yang tertentu.9Menurut bahasa komunitas berasal

7Arthur Asa Berger, Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, terjemahan oleh M. Dwi Mariyanto, Sunarto, (Jogyakarta, Tiara Wacana Yogja: 2000) hal. 14

8Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004) hal. 199

9 Soerjono Soekanto. 2002. Teori Sosiologi Tentang Pribadi Dalam Masyarakat.Jakarta : Ghalia Indonesia.hal 133

(10)

10

dari bahasa latin, yaitu communitas yang berarti "kesamaan". Komunitas (community) adalah masyarakat setempat yang mendiami suatu “space”

atau ruang tertentu. Komunitas juga dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values.10Sedangkan masyarakat tidak begitu saja muncul seperti sekarang ini, tetapi adanya perkembangan yang dimulai dari masa lampau sampai saat sekarang ini dan terdapat masyarakat yang mewakili masa tersebut.

Masyarakat ini kemudian berkembang mengikuti perkembangan zaman sehingga kemajuan yang dimiliki masyarakat sejalan dengan perubahan yang terjadi secara global, tetapi ada pula masyarakat yang berkembang tidak seperti mengikuti perubahan zaman melainkan berubah sesuai dengan konsep mereka tentang perubahan itu sendiri.

Berdasarkan pemaparan di atas, ukuran suatu komunitas dalampenelitian ini adalah hubungan warga masyarakat dalam satu lingkungan, hubungan warga masyarakat dalam satu lokasi atau tempat tinggal, dan hubungan warga masyarakat yang membentuk suatukelompok sosial.Dalam penelitian ini komunitas Mbojo adalah masyarakat yang tinggal dan hidup di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat, Di mana dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa mbojo dalam berinteraksi serta memiliki keturunan orang mbojo asli yang berasal dari Bima meskipun mereka tidak dilahirkan di Bima.

10Koencoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1981)h. 16

(11)

11

G. ALUR PIKIR

Adapun alur pikir pada penelitian ini penulis paparkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

Bagan 1. Alur Pikir

H. METODE PENELITIAN a) Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Pada intinya penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan pada kondisi objek

KOMUNITAS MBOJO

KOMUNIKASI KONTAK

INTERAKSI SOSIAL

POLA INTERAKSI KOMUNITAS MBOJO

INTERAKSI DALAM KOMUNITAS MBOJO

INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT SASAK

DAMPAK POSITIF DAMPAK NEGATIF

(12)

12

yang alamiah. Disini peneliti menggunakan instrument kunci.11 Pada penelitian ini, peneliti menyajikan hasil penelitian secara kualitatif yaitu data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Data tersebut mungkin berasal dari nakah wawancara, catatan lapangan, foto, video, dokumen pribadi, arsip, dan dokumen resmi lainnya.12 Peneliti berusaha untuk mendeskripsikan mengenai pola interaksikomunitas mbojo dengan masyarakat sasak di Desa Peresak dengan menggunakan pendekatan kualitatif diharapkan peneliti dapat menggali lebih dalam mengenai tema penelitian ini.

b) Jenis Penelitian

Penelitian ini, menggunakan jenis deskriptif dan fenomenologi.

Alfred Schutz sebagai salah satu tokoh teori fenomenologi ini berpendirian bahwa tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberi arti atau makna tertentu terhadap tindakannya itu, dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti.13Sedangkan jenis deskriptif pada hakekatnya adalah mencari teori, bukan menguji teori. Metode ini menitik beratkan pada observasi dan suasana alamiah. Peneliti bertindak sebagai pengamat. Ia hanya membuat kategori pelaku, mengamati gejala dan mencatatnya dalam buku observasi.

Dengan suasana alamiah berarti peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha memanipulasi variabel karena kehadirannya mungkin mempengaruhi gejala, peneliti harus berusaha memperkecil pengaruh tersebut.14

c) Lokasi dan Situs Penelitian

Lokasi penelitian yang dijadikan obyek atau sasaran dalam penelitian ini. Sebagaimana dijelaskan dalam konseptualisasi penelitian

11I Made Wirartha. 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Yogyakarta :Andi Offset.hal 134

12Moleong Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung :Remaja Persada Karya.hal 11

13George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (Yogyakarta: Kanisius, 1992), h.

14M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, h. 22

(13)

13

yaitu Pola Interaksi Komunitas Mbojo dengan Masyarakat Sasak studi di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat, Alasan dipilihnya desa ini adalah karena komunitasnya masih kuat mempertahankan identitas kulturalnya melalui berbagai ritualitas, meskipun mereka tidak tinggal di Bimaa. Kuatnya identitas kultural tersebut diperkuat dengan masih mentradisinya bentuk – bentuk folklor dalam realitas kehidupan sehari – hari.

d) Data dan Sumber data

Data dalam penelitian ini dibagi dalam bentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data yang tertulis.Sedangkan sumber data dalam penelitian ini, disesuaikan dengan apa yang dikonsepsikan oleh Lofland dan Lofland, bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.15Berikut ini akan peneliti jelaskan mengenai data yang berbentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data yang tertulis.

1. Kata-kata dan Tindakan

Dalam upaya mengumpulkan sumber data yang berupa kata- kata dan tindakan dengan menggunakan alat (instrumen) penelitian seperti tersebut di atas merupakan konsep yang ideal, tetapi dalam konteks ini, ketika peneliti melakukan proses wawancara dalam upaya menggali data atau informasi yang berkaitan dengan penelitian ini, peneliti hanya menggunakan alat bantu yang berupa referensi sebagai pisau bedah di lapangan dan buku tulis serta bolpoint untuk mencatat informasi yang disampaikan oleh informan yakni tokoh – tokoh masyarakat dan ketua adat dalam komunitas Mbojo yang cukup berpengaruh.

2. Sumber Tertulis

Dalam konteks ini, upaya untuk menggali data informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti mencari sumber

15Moleong Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung :Remaja Persada Karya.hal 122

(14)

14

data tertulis untuk memperkuat hasil penelitian. Dalam hal ini peneliti mendapatkan sumber data tertulis berupa buku yang berkaitan dengan kajian Pola Interaksi Komunitas Mbojo dengan Masyarakat Sasak studi di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat dalam angka dan berbagai buku penunjang lainnya.

e) Metode Penentuan Subyek

Subyek penelitian adalah sumber data untuk menjawab masalah penelitian.

Subyek penelitianini disesuaikan dengan keberadaan masalah. Subyek penelitian ini adalah komunitas Mbojo yang berada di Desa Peresak yang memiliki interaksi sosial dengan masyarakat Sasak. Untuk mendapatkan subjek penelitian, peneliti menggunakan teknikpurposive sampling, yaitu pengumpulan subjek dengan pertimbangan tertentu.16 Karena penelitian ini akan melihat pola interaksi sosial komunitas mbojo dengan masyarakat sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat.

f) Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data adalah langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan untuk menguji hipotesa yang sudah dirumuskan.17

Dalam penelitian ini, pengumpulan data akan dilakukan langsung oleh peneliti dalam situasi yang sesungguhnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yang digunakan adalah data dokumentasi, wawancara mendalam yang berhubungan dengan data yang diperlukan dan observasi.

1. Dokumentasi

Penggunaan data dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan data-data tentang berbagai hal yang berhubungan dengan pola interaksi sosial komunitas mbojo dengan masyarakat sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat Seperti peta wilayah, foto-foto dokumenter

16Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :Alfabeta. Hal 35

17Moh. Nazir, Metode Penelitian, Cet. IV (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999), h. 211

(15)

15

aktivitas masyarakat mbojo khususnya di Desa Peresak. Teknik dokumentasi ini juga digunakan untuk mendapatkan informasi dan data- data sekunder yang berhubungan dengan fokus penelitian.

2. Wawancara

Sedangkan penggunaan wawancara mendalam (dept interview) dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data primer dari subyek penelitian dengan cara wawancara mendalam yang tidak berstruktur, dengan pertimbangan supaya dapat berkembang sesuai dengan kepentingan penelitian.

3. Observasi

Metode ini menggunakan pengamatan atau penginderaan langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau perilaku.

Pengumpulan data dengan menggunakan alat indera dan diikuti dengan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala/fenomena yang diteliti.

g) Metode Analisis Data

Metode analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran, dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademik dan ilmiah.Analisis dalam penelitian ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan.Tahap analisis data dalam penelitian kualitatif secara umum di mulai sejak pengumpulan data 1) reduksi data,yang diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan – catatan tertulis di lapangan; 2) penyajian data (display data) dilakukan dengan menggunakan bentuk teks naratif dan 3) penarikan kesimpulan serta verifikasi.18

h) Uji Keabsahan Data

uji keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini, seperti yang dirumuskan ada tiga macam yaitu, antara lain :

18Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 192

(16)

16

1. Perpanjangan Keikutsertaan

Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti pada latar penelitian.19 Dalam upaya menggali data atau informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti selalu ikut serta dengan informan utama dalam upaya menggali informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian. Misalnya peneliti selalu bersama informan utama dalam melihat lokasi penelitian.

2. Ketekunan Pengamatan

Ketekunan pengamatan dilakukan dengan maksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.Dalam konteks ini, sebelum mengambil pembahasan penelitian, peneliti telah melakukan pengamatan terlebih dahulu secara tekun dalam upaya menggali data atau informasi.

3. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Dalam konteks ini, upaya yang dilakukan oleh peneliti dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data dalam penggaliannya, baik itu sumber data primer yang berupa hasil wawancara maupun sumber data sekunder yang berupa buku, majalah dan dokumen lainnya. Sedangkan metode atau cara yang digunakan dalam analisis data adalah metode analisis kualitatif.

Artinya analisis kualitatif dilakukan dengan memanfaatkan data (kualitatif) dari hasil observasi dan wawancara mendalam, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan pemahaman yang lebih luas atas hasil data yang dikumpulkan. Dan kemudian peneliti melakukan langkah membandingkan

19Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif,h. 175

(17)

17

atau mengkorelasikan hasil penelitian dengan teori yang telah ada. Hal itu dilakukan untuk mencari perbandingan atau hubungan antara hasil penelitian dengan teori yang telah ada.

i) Sistematika Pembahasan

Untuk memudahkan dalam mengkaji dan memahami secara keseluruhan penelitian ini, peneliti akan menguraikan tentang sistematika pembahasan sebagai berikut : Bab I. Pendahuluan terdiri dari; Konteks penelitian, fokus masalah, tujuan dan manfaat penelitian, setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teoritik, metode penelitian dan sistematika pembahasan. Bab II. Paparan Data dan Temuan, akan diuraikan mengenai setting penelitian di empat orang Tokoh Mbojo Desa Peresak Kecamatan Narmada. Bab III. Pembahasan, Dalam hal ini akan diuraikan tentang : proses analisis terhadap temuan penelitian. Bab IV.

Penutup, pada bagian akhir ini akan memuat simpulan, saran-saran dan daftar pustaka.

(18)

18

BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Paparan Data

1. Profil dan Letak Geografis Desa Peresak

Desa Peresak adalah salah satu Desa dari 21 Desa yang ada di Kecamatan Narmada yang berdiri sejak Tahun 1906 yang wilayahnya sampai dengan Desa Sedau.Mengingat wilayahnya sangat luas dan semakin bertambahnya jumlah penduduk maka untuk memudahkan dalam pelayanan dibidang Pemerintahan,Pembangunan, dan pembinaan Kemasyarakatan,tahun 1955 Desa Peresak dimekarkan menjadi dua Desa yaitu Desa Peresak dan Desa Sedau, dan pada tahun 2011 Desa Peresak dimekarkan kembali menjadi dua desa yaitu Desa Peresak dan Desa Golong dengan luas Wilayah 294 Ha.

Pada awalnya Desa Peresak merupakan kawasan hutan,pada suatu waktu datang seorang musyafir yang berasal dari Lombok Timur yang bernama amaq Muhammad dan mendirikan sebuah pondok atau bebalek dan menetap seorang diri ( yang dalam bahasa sasaknya mesak-mesak) dari kata mesak-mesak itulah hingga kini kawasan hutan tempat tinggal tersebut dikenal dengan nama “ PERESAK ” yang bersemboyankan TRIAS (ASAH ASIH ASUH).

Asah artinya dalam kehidupan bermasyarakat tentunya kita selalu dalam keadaan tidak sempurna,tentunya dengan kekurangan itu selalu kita saling mengasah,bukannya menggosok,menggesek bahkan saling menggasak. Asih artinya sebagai insan yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa,maka seyogyanya kita saling mengasihi dan mencintai sesama tanpa memandang suku,ras dan agama. Asuh artinya sebagai insan yang hidup dibawah satu kesatuan hukum, tentunya tidak terlepas dari yang namanya Pemerintah baik dari tingkat dusun sampai ke tingkat Pusat,maka seyogyanyalah kita saling mengasuh yang

(19)

19

kalau boleh diibaratkan orang tua dengan anaknya,begitulah dengan Pemerintah demi terjalinnya hubungan yang harmonis dengan masyarakat,maka Pemerintah merupakan orang tua dari masyarakatnya terutama dalam pemerataan pembangunan sehingga terciptanya masyarakat yang adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan.

Dalam usianya yang ke 97 Desa Peresak dipimpin oleh 8 orang Kepala Desa yaitu :

1. Haji Abdul Latif 2. Haji Arifin

3. Haji Ahmad Akarudin 4. Haji Nurudin

5. Jama’ah

6. Haji Ahmad Asy’ari 7. Haji Suhaimi

8. Kamarudin,SIP,MH

Sejak dimekarkannya Desa Peresak Tahun 1955 dan Tahun. 2011, hingga saat ini Desa Peresak terdiri dari 6 Dusun :

1. Dusun Peresak Selatan 2. Dusun Peresak Utara

3. Dusun Tanak Tepong Selatan 4. Dusun Tanak Tepong Utara 5. Dusun Tebao

(20)

20

6. Dusun Tebao Eat

Dengan batas-batas desa pada saat itu adalah sebagai berikut :

▪ Sebelah Utara : Desa Narmadadan Lembuak

▪ Sebelah Selatan : DesaTanak Beak

▪ Sebelah Timur : Desa Desa Golong

▪ Sebelah Barat : Desa Narmada dan Desa Batu Kuta

1. Demografi

Desa Peresak memiliki Jumlah penduduk keseluruhan 6.885 jiwa dengan jumlah penduduk laki – laki 3.322 jiwa, jumlah penduduk perempuan sebanyak 3.563 jiwa serta jumlah Kepala Keluarga sebanyak 2008 Kepala Keluarga. Jumlah tersebut tersebar di 6 Dusun, dengan rincian jumlah penduduk di setiap dusun tertera pada tabel berikut :

Tabel 1 : Jumlah Penduduk Perdusun

No. Nama Dusun

Jumlah Penduduk

Laki Perempuan Total

1 PeresakSelatan 480 498 978

2 Peresak Utara 482 486 968

3 Tanak Tepong Sel. 848 877 1725

4 Tanak Tepong Utr. 585 632 1217

5 Tebao 579 720 1299

6 Tebao Eat 348 350 698

Jumlah Total Penduduk 3322 3563 6885

(21)

21

2. Klimatologi

Secara garis besar kondisi iklim di wilayah Desa Peresak tidak jauh berbeda dengan kondisi iklim wilayah Kecamatan Narmada dan KIbrahimpaten Lombok Barat secara umum yaitu dengan dua musim, yaitu musim kemarau yang berlangsung antara bulan April sampai dengan bulan September, dan musim hujan antara bulan Oktober sampai dengan Maret, dengan temperatur / suhu udara pada tahun 2016 berkisar antara 17,00ºC sampai 33,80 ºC dan suhu maksimum terjadi pada bulan Oktober dan Nopember dengan suhu 33,80 ºC serta suhu minimum 17,00 ºC yang terjadi pada bulan Agustus.

Tekanan udara yang ditandai dengan dua musim tersebut berkisar antara 1.009,20 mbs – 1.013,60 mbs. Sedangkan keadaan curah hujan pada tahun 2013 sebesar 174,92 mm dengan curah hujan terendah bulan September sebesar 0,00 mm dan curah hujan tertinggi pada bulan Desember sebesar 472,00 mm.

3. Keadaan Kesehatan Masyarakat

Untuk angka kematian ibu dan bayi dapat dinyatakan relatif kecil, bahkan dapat dikatakan nol, dikarenakan kader posyandu, bidan desa dan tenaga kesehatan secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan masyarakat, baik di posyandu maupun di Pustu yang ada. Tenaga kesehatan yang ada sangat pro aktif dan perduli terhadap kesehatan masyarakat. Desa Peresak mempunyai 1 unit Puskesmas Pembantu (Pustu) yang dikelola oleh tenaga keperawatan dan 1 unit Polindes yang dikelola oleh Bidan Desa, serta dimasing-masing dusun terdapat Posyandu.

4. Pembagian Wilayah Desa Peresak

Desa Peresak terbagi atas 6 dusun yang terdiri dari Dusun PeresakSelatan, Dusun Peresak Utara, Dusun Tanak Tepong Selatan, Dusun Tanak Tepong Utara,Dusun Tebao, Dusun Tebao Eat.

(22)

22

Setelah melakukan identifikasi lokasi dari segi pemerintahan dan keadaan masyarakat sekitar Desa Peresak pelaksanaan kegiatan survai kemudian dilanjutkan dengan melakukan identifikasi persiapan yang harus dilaksanakannya Penelitian Pola Interaksi Komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat untuk mengetahui permasalahan yang ada untuk dijadikan bahan kajian dan arahan dalam mengerucutkan temuan penelitian di lapangan, observasi dilakukan selama beberapa kali sebelum identifikasi masalah dan pendataan terkait dengan tema penelitian. Sedangkan teknik-teknik yang digunakan dalam menemukan pemetaan kegiatan penelitian ini adalah teknik Direct observasi (observasi langsung) dan Semi Structured Interviewing ( Direct observation yaitu kegiatan observasi

Gambar. Peta Pembagian Wilayah Administrasi Desa Peresak

(23)

23

langsung pada obyek-obyek tertentu, kejadian, proses hubungan-hubungan masyarakat. Wawancara semi terstruktur dapat dilakukan bersama individu yang di anggap mewakili informasi, wanita, pria, anak-anak, orang-orang yang dianggap mempunyai pengetahuan tertentu dimana pengetahuan itu tidak dimiliki oleh orang lain, misalnya petani/peternak, petugas kesehatan, staf atau perangkat desa. Dapat juga dilakukan oleh kelompok, dalam rangka memperoleh informasi dari semua level masyarakat.

Tindakan yang telah dilakukan pada penelitian ini adalah pengkajian dan pendataan yang melalui wawancara yang dijalankan seperti : pendataan penduduk Desa Peresak, kegiatan ini berkaitan dengan masyarakat umum yang wawancara dengan meliputi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada setiap kepala keluarga, Kemudian gaya dan cara yang dilakukan untuk memperoleh informasi ini dilakukan dengan adat bertamu ke setiap kepala keluarga, tokoh remaja, tokoh masyarakat dan warga sekitar dengan waktu yang terstruktur yakni dari tanggal 20 Juli sampai dengan 31 Agustus 2018.

B. Temuan Penelitian

Selama melakukan penelitian, baik selama observasi maupun wawancara mengenai Pola Interaksi Komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat terdapat temuan- temuan yang pokok di dalam penelitian, temuan tersebut antara lain sebagai berikut :

A. Pola Interaksi Komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat.

Komunitas Mbojo di Desa Peresak dalam berinteraksi mereka menganut dan bersandar pada maja la bo dahu. Hal ini dapat di lihat ketika mereka berinteraksi, baik itu antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok.

1. Antar Individu

Komunitas Mbojo yang masih memegang teguh adat-istiadat senantiasa menanam perilaku toleransi dan tepo selero terhadap sesama masyarakat. Dalam

(24)

24

berinteraksi di masyarakat, mereka menjadikan lingkungan sebagai alat utama pembentuk sikap toleransi. Walaupun ada beberapa pandangan yang menganggap bahwa sikap itu sudah di bawah sejak lahir, tetapi masih membutuhkan lingkungan sebagai tempat sosialisasi dalam mengembangkan sikap toleransi tersebut. Komunitas Mbojo sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi sikap toleransi dan merupakan suatu norma dalam hubungan antar individu (masyarakat) membuat perilaku toleransi tidak asing bagi masyarakat Sasak.

Mustamin (57 Tahun) selaku warga masyarakat Mbojo mengatakan bahwa:

“masyarakat adat Mbojo sangat menjunjung tinggi perilaku toleransi dan tepo selero, hal ini dibuktikan ketika ada seseorang warga yang bertemu dan atau berpapasan di jalan atau di lingkungan sekitar, maka komunita Mbojo dengan masyarakat Sasak, mereka dengan ramah dan penuh sopan santun menegur sapa.

Sama halnya dalam bertemu saat solat berjamaah di Musola ataupun di masjid, komunitas Mbojo selalu bersalaman dengan di ikuti senyuman dan diiringi percakapan yang hangat di kedua belah pihak. Oleh karena itu mereka selalu toleransi dan tepo selero dalam bergaul atau berkomunikasi dengan siapa saja.

Komunitas Mbojo juga lebih banyak berinteraksi dengan sesama orang Mbojo, dalam hal itulah yang mengakibatkan masyarakat Mbojo mengalami hambatan saat berinteraksi sosial dengan partisipan yang berbeda etnik/suku. Proses komunikasi sesama masyarakat Mbojo dalam terdengar khas dan kurang mengalami hambatan sebab masyarakat Mbojo dalam menggunakan bahasa yang sama yaitu (bahasa Mbojo).

2. Individu dengan Kelompok

Komunitas Mbojo yang masih kental akan adat-istiadat yang mengikat komunitasnya secara turun temurun dalam kehidupan sehari-hari. Ibrahim, (57 Tahun), Warga Peresak, Wawancara, 19 Agustus 2018 adalah salah satu warga komunitas Mbojo yang sudah sepuh dan dituakan oleh komunitasnya bagi warga Mbojo yang sangat dihormati dan dipatuhi oleh masyarakat Mbojo. Rasa hormat dan penghargaan terhadap tokohnya, sangat terlihat dalam kehidupan sehari-hari komunitas Mbojo. Bukan hanya orang dewasa yang sangat menghormati

(25)

25

tokohnya, tetapi para anak kecil juga mengetahui bagaimana seharusnya bersikap kepada sesepuhnya komunitas Mbojo tersebut.

Dalam berinteraksi komunitas Mbojo di Desa Peresak tetap memegang prinsip hidup dari leluhurnya maja la bo dahu (malu dengan takut). Para orang tua di komunitas Mbojo hidup maja bermula dari seorang pemukanya, pemukanya inilah yang memberikan panutan atau yang dicontohi di komunitas dan hidup dengan maja la bo dahu. Maja la bo dahu tersebutlah yang menjadi pedoman dan perilaku hidup komunitast Mbojo yang juga di dalamnya mengajarkan bahwa masyarakat harus lebih bersahaja dari pada pemimpinnya. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Bapak Musa (62 Tahun) mengatakan bahwa: “kalau interaksi terjadi (percakapan/dialog) di jalan, maka orang yang pertama menegur sapa adalah tokohnya. sebaliknya, jika interaksi terjadi di suatu pertemuan, maka para masyarakat komunitas Mbojo yang harus lebih dahulu dipersilahkan untuk mengutarakan pemikirannya, tokohnya kemudian belakangan. Sikap kepemimpinan yang dicontohkan oleh komunitas Mbojo di Desa Peresak tentunya berbanding terbalik dengan sikap pemimpin masyarakat pada umumnya”.

Ibrahim, (57 Tahun), Wawancara, 25 Juli 2018

B. Proses interaksi Komunitas Mbojo dengan masyarakat Sasak di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat

Proses interaksi komunitas Mbojo merupakan segala bentuk aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh komunitas Mbojo di Desa Peresak Kecamatan Narmada KIbrahimpaten Lombok Barat. Setiap hari berinteraksi komunitas Mbojo menggunakan bahasa Mbojo sebagai bahasa sehari-hari yang berkembang dalam suatu komunitas masyarakatnya. Menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi membuat mereka lebih nyaman saat berkomunikasi dan kecil kemungkinan tidak terjadi kesalahpahaman saat berkomunikasi dengan masyarakat sasak. Sedangkan ketika komunitas Mbojo menggunakan bahasa mbojo mereka mengalami kesulitan memaknai kata dan merasa tidak nyaman di saat berkomunikasi dengan masyarakat Sasak. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, masyarakat adat Mbojo memegang teguh ajaran leluhur yang disebut

(26)

26

”maja la bo dahu” yang berarti malu dengan takut. Namun, pesan yang dimaksud bukanlah sembarang pesan, “maja la bo dahu” adalah keseluruhan pengetahuan dan pengalaman tetang segala aspek dan lika-liku yang berkaitan dengan kehidupan yang dipesankan secara lisan oleh nenek moyang kepada seluruh masyarakat adat Mbojo. Ajaran tersebut wajib ditaati, dipatuhi, dan dilaksanakan oleh komunitas Mbojo. Proses kehidupan keseharian komunitas Mbojo terbagi menjadi tiga kategori, yaitu segi pekerjaan, segi kekeluargaan dan segi adat- istiadat.

1. Segi Pekerjaan

Sebagian besar komunitas Mbojo mempunyai beragam pekerjaan. Mata pencaharian komunitas Mbojo seperti yang diceritakan ibu Ratna (55 tahun) selaku warga komunitas Mbojo mengatakan bahwa: “sebagian besar warga Mbojo setahu saya dik banyak pekerjaannya, ada yang kerja di sawah tanam padi, ada juga yang kerja sebagai guru. Ada juga selain menjadi ibu rumah tangga bekerja sebagai pedagang. Ada juga yang kerja ternak hewan seperti ayam, sapi, kerbau dan ada yang kerja di pasar buruh.” Dari data wawancara diatas dengan ibu Ratna, beliau menyebutkan bahwa rata-rata komunitas Mbojo mempunyai bermacam- macam profesi. Lebih lanjut ibu Ratna menjelaskan bahwa komunitas Mbojo ada yang bekerja di sektor pertanian seperti menanam padi dan jagung. Sedangkan di sektor peternakan ada masyarakat yang bekerja beternak sapi dan ayam. Ada juga ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pedagang. Sedangkan sebagian lainnya menurut ibu Ratna ada yang berprofesi sebagai buruh di pasar. Selama meneliti, peneliti juga mewawancarai orang yang berprofesi sebagai petani yang bernama Musa, berikut petikan wawancara dengan bapak Musa: “saya bekerja sebagai petani. biasanya setiap pagi kalo musim tanam padi. Pergi ke sawahku untuk tanam padi dan membajak sawah. Kalo tanam padi biasanya kerja saling membantu sama warga yang lain. Biasanya saya kerja dari pagi sampe siang.

Selain itu kerjaku juga tanam cabe dan palawija. Cuma ituji pekerjaanku untuk saya hidupi keluargaku”.

Berdasarkan wawancara diatas dengan bapak Musasa. Beliau menuturkan bahwa setiap hari dia bekerja sebagai petani. Setiap pagi selama musim tanam padi dia

(27)

27

menanam padi dibantu oleh masyarakat sekitar dari pagi hingga siang hari. Lebih lanjut bapak Musaa menjelaskan bahwa selain bekerja menanam padi dia juga bekerja di kebun menanam palawija.

2. Segi Kekeluargaan

Komunitas Mbojo benar-benar memupuk rasa kekeluargaan dan saling memuliakan, komunitas Mbojo juga diajarkan untuk bertindak tegas, sabar dan tawakal, karna mereka betul-betul memegang teguh agama dalam berperinsip hidupnya menyimpan pesan-pesan leluhur, yakni komunitas di Desa Peresak harus senantiasa ingat kepada Tuhan. Dalam keluarga masyarakat adat Mbojo mengajarkan untuk taat pada aturan dan melaksanakan semua aturan itu sebaik- baiknya. Sesuai dengan pernyataan informan yang bernama Usman (59 tahun), berikut petikan wawancaranya: “sebagai masyarakat Mbojo tidak hanya diwajibkan patuh terhadap ajaran agama, tetapi sesama masyarakat kami juga harus saling menghormati dan toleransi satu sama lain, kaum laki-laki wajib patuh terhadap kaum perempuan terutama kepada Ibu. Salah satu contoh adalah apabila didalam perjalanan berpapasan maka kita saling menegur yang terutama lebih dewasa menyapa adik-adiknya untuk memberi contoh sekaligus. Begitu juga dalam meneguru sapa lain jenis yaitu kaum perempuan dan kaum pria harus dengan penuh etika dalam bertegur sapa yang jangan sampai ada yang tersinggung atau terlebih tersakiti hatinya. Sesuai dengan pernyataan informan diatas menyatakan bahwa dalam segi kekeluargaan mereka sangat saling menghormati satu sama lain, mereka menjunjung tinggi kemulian dan saling toleransi.

3. Segi Adat-Istiadat

Komunitas Mbojo di Desa Peresak mengartikan adat-istiadat sebagai sesuatu yang telah menjadi kebiasaan terus menerus yang berlaku dalam masyarakat dan menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat adat Mbojo mempraktekkan cara hidup yang sangat tahu tata krama yang merupakan salah satu prinsip hidup yang terkandung dalam “maja la bo dahu” yang artinya malu dengan takut. Prinsip hidup maja la bo dahu berarti tahu diri dalam pergaulan tidak ceplas ceplos dalam pergaulan dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari, baik kepada orangtua maupun dalam hubungan

(28)

28

bermasyarakat luar. Komunitas Mbojo berinteraksi juga dalam segala sesuatu yang berbau teknologi seperti HP dan lainnya harus memenuhi prinsip maja la bo dahu, bagi mereka benda-benda teknologi dapat membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan mereka. Abdullah (51 Tahun), Wawancara, 25 Juli 2018.

(29)

29

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur, 2004, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya).

Arthur Asa Berger, Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, terjemahan oleh M. Dwi Mariyanto, Sunarto, 2000 , (Jogyakarta, Tiara Wacana Yogja).

Deddy mulyana dkk, 1990, Komunikasi Antar Pribadi (Bandung, PT Remaja Rosda Karya).

George Ritzer, 1992,Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (Yogyakarta: Kanisius).

Imam Suprayogo dan Tobroni, 2001, Metodologi Penelitian Sosial-Agama (Bandung: Remaja Rosdakarya)

I Made Wirartha. 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Yogyakarta :Andi Offset.

James Lull, 1998, Media, Komunikasi dan Kebudayaan (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia)

Koencoroningrat, 1981, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama,)

Moh. Nazir, 1999, Metode Penelitian, Cet. IV (Jakarta: Ghalia Indonesia,).

Moleong Lexy J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung :Remaja Persada Karya.

M. Iqbal Hasan, 2002, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Cet. 1 (Jakarta: Ghalia Indonesia,)

Onong Uchajana, 1993. Dinamika Komunikasi (Bandung, PT Remaja Rosda Karya:)

Saian Muhtadi.2015. Interaksi Sosial Hindu dan Islam (Studi kasus di Desa Bendosewu Kecamatan Talun KIbrahimpaten Blitar).skripsi IAIN Tulungagung

Soerjono Soekanto. 2002. Teori Sosiologi Tentang Pribadi Dalam Masyarakat.Jakarta : Ghalia Indonesia.

(30)

30

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Yanuarta.2009.Interaksi sosial dan belajar mengajar anak tunagrahita di balai besar rehabilitasi sosial bina grahita kartini,Temenggung. Skripsi UNY.

Referensi

Dokumen terkait

Program PLPBK (Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas) merupakan kegiatan masyarakat untuk merencanakan dan membangun tatanan kehidupan warga berdasarkan visi masa

Program PLPBK (Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas) merupakan kegiatan masyarakat untuk merencanakan dan membangun tatanan kehidupan warga berdasarkan visi

Berdasarkan pemaparan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu : 1)Berdasarkan pemahaman di Desa Getas masyarakat dapat menerima pluralitas agama karena menurut warga

Kampanye Warga Berdaya diinisiasi oleh masyarakat Yogyakarta yang tergabung dalam berbagai komunitas yang bergerak di bidang lingkungan untuk merespon masifnya pembangunan

Berdasarkan hal tersebut, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat - Kemenristekdikti bekerjasama dengan Universitas Negeri Padang mengundang Saudara untuk

Berdasarkan hal tersebut, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat - Kemenristekdikti bekerjasama dengan Universitas Hang Tuah Surabaya mengundang Saudara untuk

Kampanye Warga Berdaya diinisiasi oleh masyarakat Yogyakarta yang tergabung dalam berbagai komunitas yang bergerak di bidang lingkungan untuk merespon masifnya pembangunan

Gambar 23 Sumber pendapatan warga Desa Aek Nangali. Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa roda ekonomi masyarakat Aek Nangali digerakan dari hasil pertanian dan