• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Anak yang merupakan bagian dari generasi muda biasanya amat besar perhatiannya terhadap persoalan di masyarakat, karena pada usia tersebut mulai tumbuh dan cenderung mengharapkan kesempurnaan. Perlindungan anak Indonesia berati melindungi potensi sumber daya insani dan membangun manusia Indonesia seutuhnya,menuju masyarakat yang adil dan makmur,materil spriritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.1

Upaya-upaya perlindungan anak2 harus telah dimulai sedini mungkin,agar kelak dapat berpatisipasi secara optimal bagi pembangunan bangsa dan negara.Dalam pasal 2 ayat (3) dan (4) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak,ditentukan bahwa: “ Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan baik semasa kandungan maupun sesudah dilahirkan. Anak berhak atas perlindungan-perlindungan lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau kedua ayat tersebut memberikan dasar pemikiran bahwa perlindungan anak bermaksud untuk mengupayakan perlakuan yang benar dan adil, untuk mencapai kesejahteraan anak.3

Perlindungan terhadap anak pada suatu masyarakat bangsa,merupakan tolak ukur peradaban bangsa tersebut, karenanya wajib diusahakan sesuai dengan

1 Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana Anak Di Indonesia, (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada 2014) Hlm. 1.

2 Menurut pasal 1 butir 2 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,perlindungan adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup,tumbuh,berkembang,dan berpatisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan,serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

3 Kesejahteraan anak adalah suatu tatanan kehidupan dan penghidupan yang dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang wajar,baik secara rohani,jasmani,maupun sosial.UU No. 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan Anak).

(2)

2

kemampuan nusa dan bangsa. Kegiatan perlindungan anak merupakan suatu tindakan hukum yang berakibat hukum. Oleh karena itu, perlu adanya jaminan hukum bagi kegiatan perlindungan anak. Kepastian hukum perlu diusahakan demi kegiatan kelangsungan perlindungan anak dan mencegah penyelewengan yang membawa akibat negatif yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan kegiatan perlindungan anak.4

Akan tetapi fakta-fakta sosial yang belakangan ini terjadi dalam kehidupan bermasyarakat adalah permasalahan terkait anak,dimana dalam kehidupan sosial yang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor kita dihadapan dengan permasalahan penanganan anak yang diduga melakukan tindak pidana.

Setyo Wahyudi mengemukakan bahwa apa yang dimaksud dengan sistem peradilan pidana anak adalah sistem penegakan hukum peradilan pidana anak yang terdiri atas subsistem penyidikan anak, subsistem penuntutan anak, subsistem pemeriksaan hakim anak, subsistem pelaksanaan sanksi hukum pidana anak yang berlandasakan hukum pidana materil anak dan hukum pidana formal anak dan hukum pelaksanaan sanksi hukum pidana anak.5

Jika di perhatikan pengertian Sistem Peradilan Anak sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 1 UU No. 11 tahun 2012, maka dapat diketahui bahwa Sistem Peradilan Anak yang diatur dalam UU No. 11 tahun 2012 adalah sistem menegenai proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum. Anak yang berhadapan dengan hukum yang dimaksud oleh UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, menurut Pasal 1 angka 2 UU No. Tahun 2012 terdiri atas:

1. Anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak adalah yang telahberumur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun yang diduga melakukan tindak pidana ( pasal 1 angka 3)

2. Anak yang menjadi korban tindak pidana yang selanjutnya disebut anak korban adalah anak yang belum berunur 18 tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana ( pasal 1 angaka 4)

4Arief Gosita, Masalah Korban kejahatan, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1993),hlm. 222.

5 Setyo Wahyudi, Implementasi ide diversi, (Yogyakarta: Ganta publishing , 2011) Cetakan ke-1 hlm.16

(3)

3

3. Anak yang menjadi saksi tindak pidana yang selanjutnya disebut anak saksi adalah anak yang belum berumur 18 tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang di dengar, dilihat dan dialaminya sendiri ( pasal 1 angka 5)

Semakin maraknya anak yang berhadapan dengan hukum merupakan hal yang sangat miris, karena anak merupakan generasi yang harus yang harus dilindungi dan merupakan salah satu bagian dari penerus bangsa yang dapat memajukan bangsa ini.

Perlindungan anak yang berhadapan dengan hukum merujuk ke dalam UU No.

11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak. Subtansi UU No. 11 Tahun 2012 ini antara lain mengenai penempatan anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di lembaga pembinaan khusus anak (LPKA). Substansi yang paling mendasar paling undang-undang ini adalah pengaturan secara tegas mengenai keadilan restoratif dan diversi yang dimaksudkan untuk menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali dalam lingkungan sosial secara wajar.

Menurut pasal 1 ayat 7 UU No. 11 Tahun 2012 menyatakan bahwa diversi dapat diartikan sebagai pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Pengertian diversi, diketahui bahwa setiap kasus anak yang berhapan dengan hukum terlebih dahulu harus diselesaikan melalui jalur non litigasi. Disinilah sebenarnya peran pemuka lingkungan dan agama dapat memainkan peran untuk mengisi bentuk-bentuk penyelesaian kasus anak yang berhadapan dengan hukum yang dapat dilakukan sesuai dengan nilai-nilai agama dan lokal setempat. Kebiasaan adat di anggap memberikan nilai positif terhadap penyelesaian kasus perkara anak secara bermartabat dan dapat menciptakan kepuasan tersendiri bagi pelaku,korban maupun lingkungan sekitar.

Jika melihat ketentuan yang terdapatr dalam pasal 7 ayat 1 dikaitan dengan pasal 7 ayat 2 UU No. 11 tahun 2012,maka dapat diketahui bahwa perkara anak yang wajib di upayakan diversi pada waktu dilakukan penyidikan,penuntutan dan pemeriksaan sidang di pengadilan negeri adalah perkara anak yang tindak pidananya adalah:

(4)

4

1. Diancam dengan pidana penjara dibawah 7 tahun dan penjelasan pasal 7 ayat 2 huruf a UU No. 11 tahun 2012 menyebutkan bahwa ketentuan

“pidana penjara di bawah 7 tahun” mengacu pada hukum pidana 2. Bukan merupakan pengulangan dan tindak pidana

Penjelasan pasal 7 ayat 2 huruf b UU No. 11 tahun 2012 menyebutkan bahwa pengulangan tindak pidana dalam ketentuan ini merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh anak, baik tindak pidana sejenis maupun tidak sejenis, termasuk tindak pidana yang diselesaikan melalui diversi. Dengan demikian,perkara anak yang tidak wajib diupayakan diversi adalah perkara anak yang tidak pidananya dilakukan:

1. Diancam dengan pidana penjara diats 7 tahun atau 2. Merupakan pengulangan tindak pidana

Pengertian tidak wajib diupayakan diversi tersebut adalah tidak bersifat imperatif atau fakultatif. Artinya perkara anak yang tindak pidananya diancam pidana penjara di atas 7 tahun atau merupakan pengulangan tindak pidana dapat saja di upayakan diversi.

Menurut Frasa, anak yang berhadapan dengan hukum dalam pasal 1 angka 2 diambil dari ketentuan yang terdapat dalam pasal-pasal sebagai berikut:

1. Pasal 59 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menyebutkan:

Pemerintah dan lembaga negara lainya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum.

2. Pasal 64 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak, menyebutkan:

a. Ayat 1: perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 meliputi anak yang

(5)

5

berkonflik dengan hukum dan anak korban tindak pidana, merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.

b. Ayat 2: perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan melalui:

1. Perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak

2. Penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini 3. Penyediaan sarana dan prasarana khusus

4. Penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik untuk anak.

5. Pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang berhadapan dengan hukum

6. Pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan orangtua atau keluarga

7. Perlindungan dan pemberitaan identitas melalui media masa untuk menghindari labelisasi

Untuk pembahasan Sistem Peradilan Pidana Anak itu sendiri,yang menjadi pembahasan utama dan selanjutannya adalah Keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum,mulai tahap penyidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana. Sistem Peradilan Pidana Anak terdiri atas komponen atau subyek sistem yang berupa:

a. Penyidikan yang dilakukan oleh Penyidik, yaitu pejabat polisi negara RI sebagaimana yang dimaksud oleh UUNo. 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara RI.

b. Penuntutan yang dilakukan oleh penuntut Umum, yaitu Jaksa sebagaimana yang dimaksud oleh UU No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan RI.

c. Pemeriksaan di sidang yang dilakukan oleh pengadilan Negeri sebagai Pengadilan Tingkat Pertama dan Pengadilan Tinggi sebagai Pengadilan Tingkat Banding,yaitu sebagaimana di maksud oleh pasal 50 dan pasal 51 ayat (1) UU No. 2 Tahun 1986 Tentang Peradilan Umum.

(6)

6

d. Petugas kemasyarakatan yang terdiri atas: 1. Pembimbing Kemasyarakatan, 2. Pekerja sosisal Profesional, 3. Tenaga kesejahteraan sosial sebagaimana dimaksud oleh pasal 63 UU No. 23 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Komponen atau subsistem dari sistem peradilan pidana anak tersebut dalam melaksanakan tugas dan wewenang saling berhubungan satu sama lain dalam suatu pola saling bergantungan seperti yang ditentukan dalam mengikuti hukum acara peradilan anak, yaitu dalam Bab III dari UU No. 11 Tahun 2012.6 Muladi mengemukakan bahwa sistem peradilan pidana merupakan suatu jaringan peradilan yang menggunakan hukum pidana materil, hukum pidana formil, maupun hukum pelaksanaan pidana. Namun kelembagaan ini harus dilandasi hanya untuk kepentingan kepastian hukum saja akan membawa bencana berupa ketidak adilan.

Keseluruhan Sistem Peradilan Anak lebih dari sekedar penjumlahan dari komponen- komponennya, dalam pengertian Sistem Peradilan Anak yang terpenting bukanlah soal kuantitas suatu komponen Sistem Peradilan Anak, tetapi soal kualitas dari komponen suatu Sistem Peradilan Anak secara keseluruhan. Mardjono reksodipoetra mengemukakan bahwa empat komponen dalam sistem peradilan pidana ( kepolisian. Kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan ) diharapakan dapat berkerjasama dan dapat membentuk suatu integrated criminal juistice system (sistem peradilan pidana).

Hak-hak tersangka/terdakwa anak diatur dalam bab 1 huruf B telah diuraikan hak-hak yang di inginkan untuk diatur dalam ketentuan mengenai anak yang mempunyai masalah hukum menurut Arief Gosita.7 Hak-hak tersangka/terdakwa anak dalam Undang-Undang pengadilan anak di atur dalam pasal 45 ayat (4), dan pasal pasal 5 ayat (1) dan (3). Selain itu hak-hak juga diatur dalam bab IV pasal 40 sampai dengan pasal 68 KUHAP, kecuali pasal 64 nya.8 Anak tetaplah anak, dengan segala ketidak mandirian yang ada mereka sangatlah membutuhkan perlindungan dan kasih sayang dari orang dewasa di sekitarnya.

Anak mempunyai berbagai hak yang harus diimplementasikan dalam kehidupan dan penghidupan mereka. Pada bagian ini diuraikan bagaimana sebenarnya Undang-Undang memberikan perlindungan hukum terhadap anak yang berhadapan dengan hukum, baik ia menjadi tersangka maupun ketika telah didakwa dalam persidangan anak.

6 Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana, ( Bandung: Binacipta, 1996), cetakan ke-II, Hlm. 15-16

7 Arif Gosita, Masalah perlindungan Anak, ( Jakarta: Akademika Presindo,1985). Hlm. 56.

8 Pasal 64 KUHAP berbunyi: terdakwa berhak untuk diadili disidang pengadilan yang terbuka untuk umum.

(7)

7

Dalam hukum positif Indonesia, perlindungan hukum terhadap hak-hak anak dapat ditemui di berbagai peraturan perundang-undangan, seperti yang tertuang dalam keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990 pada tanggal 25 agustus 1990, yang merupakan ratifikasi dari konvensi PBB Konvensi tentang hak-Hak Anak: undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak: dan Undang-undang No. 23 tahun 2002 Jo 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Hak-hak anak dalam konvensi PBB (kepres No. 36 tahun 1990) anatara lain sebagai berikut:

1. Memperoleh perlindungan dari bentuk diskriminasi dan hukuman

2. Memperoleh perlindungan dan perawatan seperti untuk kesejahteraan,keselamatan dan kesehatan

3. Tugas negara untuk menghormati tanggung jawab, hak dan kewajiban orang tua serta keluarga.

4. Negara mengakui hak hidup anak serta kewajiban negara menajamin perkembangan dan keberlangsungan hidup anak

5. Hak memperoleh kebangsaan, nama, serta hak untuk mengetahui dan di asuh orangtua

6. Hak untuk tinggal bersama orangtua

7. Kebebasan menyatakan pendapat atau pandangan

8. Memperoleh perlindungan akibat kekerasan fisik, mental, penyalahgunaan atau perlakuan salah (eksploitasi) serta penyalahgunaan seksual

9. Memperoleh perlindungan hukum terhadap gangguan (kehidupan pribadi, keluarga, surat menyurat atas serangan yang tidak sah)

10. Perlindungan anak yang tidak mempunyai orangtua menjadi kewajiban negara 11. Larangan penyiksaan, hukuman yang tidak manusiawi

12. Hukum acara peradilan anak

13. Hak memperoleh bantuan hukum baik didalam atau diluar pengadilan

Setiap anak mempunyai harkat dan martabat yang patut di junjung tinggi dan setiap anak yang terlahir harus mendapatkan hak-haknya tanpa anak tersebut meminta. Hal ini sesuai dengan ketentuan konvensi hak anak yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990 yang mengemukakan tentang prinsip-

(8)

8

prinsip umum perlindungan anak, yaitu non diskriminas, kepentingan terbaik anak, keberlangsungan hidup dan tumbuh kembang, dan menghargai partisipasi anak.9

Penjelasan umum tentang undang-undang Nomor 11 tahun 2012, maka baik langsung maupun tidak langsung Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 merupakan penjabaran dari konvensi Hak-hak anak. Oleh karena itu untuk menerapakan Undang-Undang Nomor 11 Tahun2012 harus memperhatikan pula ketentuan yang terdapat dalam konvensi hak- hak anak.

Pasal 2 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 Jo Undag-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang perlindungan anak menentukan bahwa asas atau prinsip konvensi hak-hak anak meliputi

1. Nondiskriminasi

Dalam hal ini yang dimaksud dengan asas non diskriminasi adalah semua hak yang di akui dan terkandung dalam konvensi hak-hak anak harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa perbedaan apapun.10

2. Kepentingan yang terbaik bagi anak

Dalam hal ini yang dimaksud dengan asas kepentingan yang terbaik bagi anak adalah bahwa dalam semua tindakan yang menyangkut anak yang dilakukan oleh pemerintah,masyarakat, badan legislatif dan badan yudikatif, maka kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.11

3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan

Dalam hal ini yang dimaksud dengan asas hak untuk hidup,kelangsungan hidup, dan perkembangan adalah hak asasi yang paling mendasar bagi anak yang dilindungi oleh negara, pemerintah, masyarakat, keluarga dan orangtua.12

4. Penghargaan terhadap anak

9 Rika Saraswaty, Hukum Perlindungan Anak Di Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2009.hlm. 1.

10 Hadi Supeno, Kriminilisasi Anak,( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), Cetakan ke-1, hlm. 54.

11 Penjelasan Pasal 2 huruf b UU No. 23 tahun 2002

12 Penjelasan pasal 2 huruf c UU No. 23 tahun 2002

(9)

9

Dalam hal ini yang dimaksud adalah penghormatan atas hak-hak anak untuk berpatisipasi dan menyatakan pendapatnya dalam pengambilan keputusan, terutama jika menyangkut hal-hal yang mempengaruhi kehidupannya.13

Untuk mengetahui mengenai apa saja hak-hak tersangka/terdakwa anak, dapat dilihat pada berikut ini:

1. Setiap anak nakal sejak saat ditangkap atau ditahan berhak mendapat bantuan hukum dari seseorang arau lebih penasihat hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan

2. Setiap anak nakal yang ditangkap atau ditahan berhak berhubungan langsung dengan penasihat hukum dengan diawasi tanpa didengar oleh pejabat berwenang 3. Selama anak ditahan, kebutuhan jasmani, rohani dan sosial anak tetap dipenuhi 4. Untuk mempersiapkan pembelaan, tersangka anak berhak untuk diberitahukan

dengan jelas dengan bahasa yang di mengerti olehnya tentang apa yang disangkakan padanya pada waktu pemeriksaan dimulai

5. Pada tingkat penyidikan dan pengadilan tersangka atau terdakwa anak berhak memberitahukan keterangan secara bebas kepada penyidik atau hakim.

6. Untuk mendapatkan penasihat hukum, tersangka atau terdakwa anak berhak memilih sendiri penasihat hukumnya

7. Tersangka atau terdakwa anak yang dikenakan penahanan berhak menghubungi dan menerima kunjungan dari pihak yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau lainya dengan tersangka atau terdakwa guna mendapatkan jaminan bagi prnangguhan penahanan ataupun untuk usaha mendapatkan bantuan hukum

8. Tersangka atau terdakwa anak berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi atau seseorang yang mempunyai keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi dirinya

9. Terdakwa anak berhak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat

10. Tersangka atau terdakwa anak berhak menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi sebagaimana diatur dalam pasal 95 KUHAP14

13 Penjelasan pasal 2 huruf d UU No. 23 tahun 2002

(10)

10

Dengan diaturnya hak-hak diatas walaupun tersangka atau terdakwa adalah anak-anak petugas pemeriksa tidak boleh untuk menghalangi dipenuhinya hak-hak tersebut, bahkan sebaiknya sejak awal pemeriksaan hak-hak anak tersebut diberitahukan kepada si anak.

Adanya hak-hak anak seperti yang di jelaskan di atas maka dari itu harus sangat di perhatikan di dalam proses persidangan, petugas yang berwenang tidak boleh untuk menghalangi dipenuhinya hak-hak tersebut agar hak-hak anak terpenuhi.

Penangan anak dalam hukum dalam tingkat peyidikan yang berwenang untuk melakukan penyidikan terhadap anak berdasarkan UU pengadilan adalah penyidik anak.

Penyidikan Adalah serangkainan tindakan penyidik dalam hal dan menunrut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangka. Artinya, Undang-Undang telah merumuskan bahwa terhadap proses penyidikan dilakukan oleh seorang penyidik yang khusus melakukan penyidikan terhadap anak yang melanggar hukum.

Dengan demikian penyidik anak mempunyai ruang lingkup tugas melakukan penyidikan, yaitu serangkaian tindakan penyidik dalam hal tata cara yang di atur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.15

Menurut Pasal 27 UU No. 11 tahun 2012, dalam melakukan penyidikan terhadap perkara anak korban atau anak saksi, penyidik wajib meminta pertimbangan atau saran dari pembimbing kemasyarakatan setelah tindak pidana dilaporkan atau diadukan. Dalam hal dianggap perlu, penyidik dapat meminta pertimbangan atau saran dari ahli pendidikan, psikolog, psikiater, tokoh agama, perkerja sosial profesional atau tenaga kesejahteraan sosial dan tenaga ahli lainya. Selanjutnya hasil penelitin kemasyarakatan wajib diserahkan oleh BAPAS kepada penyidik dalam waktu paling lama 3 x 24 jam (tiga kali dua puluh empat) jam setelah permintaan penyidik diterima.

Dalam proses penyidikan, penyidik wajib mengupayakan diversi dalam waktu pa;ing lam 7 hari setelah penyidikan dimulai. Proses diversi sebagaimana dimaksut pada ayat 1

14 Pasal 95 KUHAP menyangkut hak untuk menuntut ganti kerugian karena di tangkap, di tahan, dituntut dan diadili atau dikenakan tindakan lain, tanpa alasan yang berdasarkan undang-undang atau karena kekeliruan mengenai orangnya atau hukum yang diterapkan

15 Pasal 1 angka 2 UU Nomor 8 Tahun 1981 tentang kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Berdasarkan bab V pasal 40 UU pengadilan anak bahwa hykum acara yang berlaku diterapkan pula dalam acara pengadilan anak, kecuali di tentukan lain dalam undang-undang ini.

(11)

11

dilaksanakan paling lama 30 hari setelah dimulainya diversi. Dalam hal proses diversi berhasil mencapai kesepakatan penyidik menyampaikan berita acara diversi berserta kesepakatan diversi kepada ketua pengadilan negeri untuk dibuat penetapan. Jika hal diversi gagal, penyidik wajib melanjutkan penyidikan dan melimpahkan perkara ke penuntut umum dengan melampirkan berita acara diversi dan laporan penelitian kemasyarakatan.

Pada dasarnya, dengan bertitik tolak pada ketentuan pasal 7 KUHAP, maka penyidik anak dalam melaksanakan kewajibannya mempunyai wewenang berupa:

a. Menerima laporan atau pengaduan dari sesorang tentang adanya tindak pidana b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian

c. Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal dari tersangka

d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan e. Melakukan pemerikaan dan penyitaan surat

f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang

g. Memanggil orang utnuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi h. Mendatangkan seorang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan

pemeriksaan penyidkan,

i. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, ada beberapa hal yang dapat diuraikan pada berikut:

a. dalam proses penyidikan perkara anak yang berhapan dengan hukum wajib dirahasiakan. Hal ini dipertegasdalam pasal 42 ayat3 UU pengadilan anak.

Namun sayangnya, undang-undang tidak merumuskan sanksi apabila terjadi pelanggaran terhadap pasal ini. Artinya, apabila penyidik tidak merahasiakan atau memberi penjelasan terhadap pers atau pihak mana pun terkait dengan kasus anak yang masih dalam penyidikan undang-undang pengadilan anak tidak memberikan sanksi apabila terjadi pelanggaran.

b. Penyidik wajib memeriksa tersangka anak dalam suasana kekeluargaan.

Secara autentik, dalam hal yang dimaksud adalah pada waktu pemeriksaan tersangka anak, penyidik tidak memakai pakaian dinas dan melakukan pendekatan secara efektif dan simpatik. Efektif dapat dimaksudkan bahwa pemeriksaan tidak memakan waktu lama, dengan menggunakan bahasa

(12)

12

yang mudah dimengerti oleh anak dan dapat mengajak tersangka untuk memberikan keterangan sejelas-jelasnya. Sedangkan simpatik dapat dimaksudkan bahwa pada saat pemeriksaan penyidik bersikap sopan dan ramah serta tidak membuat takut si tersangka anak. Suasana kekluargaan juga berati tidak ada pemaksaan, intimidasi atau sejenisnya.

c. Dalam melakukan penyidikan, penyidik wajib meminta pertimbangan dari pembimbing kemasyarakatan (pasal 42 ayat 2 UU pengadilan anak.

d. Dalam melakukan penyidikan terhadap anak yang melakukan tindak pidana bersama dengan orang dewasa, maka berkasnya harus dipisah.

e. Pemeriksaan perkara oleh penyidik anak berdasarkan ketentuan KUHAP, karena dalam pasal 41 dan 42 UU pengadilan anak, tidak mengatur sedikitpun tentang pemberkasan perkara anak. Artinya, ketentuan tentang pemberkasan perkara anak dikembalikan kepada kektentuan KUHAP sebgai ketentuan umumnya. Berdasarkan pasal 8 ayat 1 KUHAP, penyidik diperintahkan membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan- tindakan dalam rangka penyidikan.

Berita acara itu sendiri dibuat oleh pejabat pemeriksa (dalam perkara anak adalah penyidik anak) dan perbuatanya atas kekuatan sumpah jabatan. Setelah pemberkasan selesai, selanjutnya penyidik anak menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum, menurum.

Menurut ketentuan pasal 8 ayat 3 KUHAP, penyerahan berks perkara anak kepada penuntut umum. Menurut ketentuan pasal 8 ayat 3 KUHP, penyerahan berkas perkara anak kepada penuntut umum dilakukan sebagai berikut:

1. Pada tahap pertama, penyidik hanya menyerahkan berkas perkara

2.Dalam hal penyidikan dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggungjawab tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum.

Dalam hal penyidikan, sikap penyidik terhadap anak di bawah umur 8 tahun telah di uraikan bahwa yang dapat diajukan ke sidang anak adalah yang telah berumur di atas 8 tahun sampai berumur 18 tahun dan belum pernah kawin. Dari ketentuan tersebut timbul pertanyaan, bagaimana apabila si pelaku kenakalan adalah anak yang berusia di bawah 8 tahun? Apakah terhadap anak tersebut dapat diajukan ke sidang anak? Karena memang suatu hal yang tidak mungkin apabila hal tersebut terjadi. Ternyata hal ini di atur secara tegas dalam UU Pengadilan anak.

(13)

13

Maka dari itu seperti halnya orang dewasa, anak sebagai pelaku tindak pidana juga akan mengalami proses hukum yang identik dengan orang dewasa yang melakukan tindak pidana, arti identik disini mengandung arti “hampir sama”, yang berbeda hanya lama serta penanganannya.

Menghadapi dan menangani proses peradilan anak yang terlibat tindak pidana, maka hal yang pertama yang tidak bolehdilupakan adalah melihat kedudukan sebagai anak dengan semua sifat dan ciri-cirinya yang khusus, dengan demikian orientasi adalah bertolak dari konsep perlindungan terhadap anak dalam proses penangananya sehingga hal ini akan berpijak pada konsep kesejahteraan anak dan kepentingan anak tersebut, Penanganan anak dalam proses hukumnya memerlukan pendekatan, pelayanan, perlakuan, perawatan serta perlindungan yang khusus bagi anak dalam upaya memberikan perlindungan hukum terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.

Menurut Retno Sutianto perlindungan anak merupakan suatu bidang pembangunan Nasional,melindungi anak adalah melindungi manusia, dan membangun manusia seutuhnya mungkin. Hakekat pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berbudi luhur. Maka dari itu jika mengabaikan masalah perlindungan anak berati tidak akan memantapkan pembangunan nasional16. Akibat tidak adanya perlindungan anak akan menimbulkan berbagai permasalahan sosial yang dapat mengganggu penegakan hukum, ketertiban, keamanan, dan pembangunan nasional. Maka, ini berati bahwa perlindungan anak harus diusahakan apabila kita ingin mengusahakan pembangunan nasional yang memuaskan.

Perlindungan dalam proses penyidikan kepada anak terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak adalah sebagai bentuk perhatian dan perlakuan khusus untuk melindungi kepentingan anak. Perhatian dan perlakuan khusus tersebut berupa perlindungan hukum agar anak tidak menjadi korban dari penerapan hukum yang salah yang dapat menyebabkan penderitaan mental, fisik dan sosialnya. Maka dari itu dalam proses tahadapan penyidikan anak yang berhadapan dengan hukum tidak hanya sekedar mencari bukti serta penyebab kejadian, akan tetapi juga diharapkan dapat mengetahui latar belakang anak tersebut sebagai pertimbangan dalam menentukan tuntutan terhadap tersangka.

16 Romli Atmasasmita, Peradilan Anak Di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1997), hlm. 166

(14)

14 B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi anak yang berhadapan dengan hukum dalam tingkat penyidikan di Polres Salatiga?

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi anak yang berhadapan dengan hukum dalam tingkat penyidikan.

D. MANFAAT PENELITIAN

Penelitian Ini diharapkan dapat berguna baik secara teoritis dan secara praktis yang dapat dikemukakan sebai berikut:

1. Secara Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis sekurang- kurangnya dapat berguna sebagai sebagai sumbangan pikiran atau memperkaya wawasan konsep umum ilmu hukum khususnya dalam bidang hukum pidana dalam hal bentuk perlindungan hukum bagi anak yang berhadapan dengan hukum dalam tingkat penyidikan.

2. Secara Praktis

a. Bagi pembaca

Menambah wawasan mengenai perlindungan hukum bagi yang berhadapan dengan hukum di tingkat penyidikan.

(15)

15 b.Bagi praktisi dan instansi terkait

sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan kualitas instansi yang ada dan sebagai penentu kebijakan dalam instansi terkait, serta pemerintah secara umum terutama dalam mewujudkan perlindungan hukum anak yang berhadapan dengan hukum tingkat penyidikan.

E. METODE PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah empiris. Adapun datanya bersifat deskriptif. Penelitian ini dimaksudkan untuk eksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial, dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenan dengan masalah dan unit yang diteliti. Penelitian empiris atau degan kata lain adalah jenis penelitian hukum sosiologis dan dapat pula disebut penelitian lapangan yaitu mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataan di masyarakat.

2. Metode Pendekatan

Berdasarkan permasalahan yang diteliti oleh peneliti, maka pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan sosiologis atau socio- legal research, yaitu pendekatan penelitian yang mengkaji presepsi dan perilaku hukumorang (manusia atau badan hukum) yang terjadi di lapangan.

3. Jenis dan teknik pengumpulan data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini mencakup:

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum mengikat. Dalam penelitian ini, bahan hukum primer yang digunakan terdiri dari:

1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Jo 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

2. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

(16)

16

3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.

4. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia 5. Kitab undang-undang hukum acara pidana

6. Undang-undang dasar 1945

b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang erat hubunganya dengan hukum primer dan dapat membantu untuk menganalisa serta memahami dari bahan hukum primer, misalnya rancangan praturan perundang-undangan, hasil karya ilmiah para sarjana, hasil-hasil penelitian. Dalam peneltian ini, bahan hukum sekunder yang digunakan yaitu seperti media masa seperti koran, majalah, buku-buku, artikel, jurnal-jurnal yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini.

c. Bahan hukum tresier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder yang lebih dikenal dengan nama acuan bidang hukum, seperti :

a. Kamus besar bahasa indonesia b. Literatur-literatur dan hasil penelitian

c. Media massa, pendapat sarjana dan ahli hukum, surat kabar , sebsite, buku dan hasil karya ilmiah

F. SISTEMATIKA PENULISAN

Hasil penulisan akan disusun dalam format tiga bab untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai apa yang akan penulis uraikan dalam penelitian ini.

Adapun sistematika penulisan adalah sebagai berikut:

BAB I berisi tentang pendahuluan yang terdiri atas uraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode

penelitian.

(17)

17

BAB II berisi tentang kajian pustaka, dalam bab ini penulisan akan menguraikan mengenai perlindungan hukum bagi anak yang berhadapan dengan hukum dalam tingkat penyidikan yang mecakup pengertian anak, pengertian anak yang berhadapan dengan hukum, penyidikan anak dan Perlindungan hukum terhadap anak yang tingkat penyidikan

BAB III Berisi tentang penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

Referensi

Dokumen terkait

 Jika data yang dianalisis tidak memenuhi ketentuan-ketentuan persyaratan menggunakan analisis statistik parametrik tersebut di atas (misalnya data yang ada

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan peneliti terhadap penelitian maupun tulisan yang sejenis dengan penelitian yang peneliti lakukan, maka ditemukan

Akan tetapi, tidak semua orang masuk ke dalam parpol sehingga DPR tidak mewakili "seluruh" rakyat Maka diadakanlah badan yang lebih besar yaitu MPR, yang terdiri dari

a.) Bagi pihak TRANS 7 dalam acara komedi Indonesia Lawak Klub, bisa menjadi masukan dalam hal isiatau lainnya agar acara tersebut dapat menjadi lebih baik ke depannya.

Dari penelitian tersebut dapat diketahui tingkat kebugaran jasmani peserta putra UKM karate UNS dalam kondisi baik sebanyak 44% atau 11 orang, dalam kondisi sedang sebanyak 52% atau

Pada pengujian Granger Causality,seperti pada Gamber 3.8, user juga tidak perlu memasukkan variabel, karena variabel yang dipilih sudah ditentukan pada penguijan Lag Optimal.

Falakiah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Pustaka Agung Harapan.. Lakitan, Benyamin, 1994, Dasar-dasar Klimatologi, Jakarta: Rajawali Pers. Maqdisiy, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad

Penulisan hukum ini membahas tentang apakah pengajuan kasasi penuntut umum terhadap putusan bebas perkara perkosaan dengan alasan adanya kesalahan penerapan hukum