• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat syarat Pesarta Didik Pendidikan R

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Syarat syarat Pesarta Didik Pendidikan R"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Judul Makalah:

PESERTA DIDIK PENDIDIKAN RUHIYAH

Materi:

SYARAT-SYARAT PESERTA DIDIK PENDIDIKAN RUHANI/SPIRITUAL

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individu Mata Kuliah Kajian Islam Profesi

Dosen Pengampu: Ir, KH. Toto Santi Aji, M.Ag

Nama : Intan Nur Sahara

NIM : 130641226

Kelompok : 6

Kelas : SD13-A5

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON

CIREBON

(2)

A. Pengertian Pendidikan

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan Susana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalikan diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.1

Pendidikan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata didik. Pendidikan ialah proses perubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan. Dalam bahasa Arab, istilah pendidikan disebut tarbiyah yang berasal dari kata ‘rabba’. Tuhan disebut juga sebagai Rabb karena Ia Yang Memperbaiki, Yang Mengatur, Yang Berkuasa Mutlak, Yang Tegak, yang Menjadi Sandaran, Yang Memelihara, Yang Meluruskan, dan Yang Memberi Nikmat.2

Pendidikan merupakan upaya dalam mempengaruhi individu agar berkembang menjadi manusia yang sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam pendidikan, terjadi proses perkembangan potensi manusiawi dan proses pewarisan kebudayaan.3 Pendidikan merupakan usaha yang dilakukan secara sadar dan jelas memiliki tujuan.4

Pendidikan dalam arti umum mencakup segala usaha dan perbuatan dari generasi tua untuk mengalihkan pengalamannya, pengetahuannya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda untuk memungkinkannya melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama, dengan sebaik-baiknya.5 Pendidikan dalam arti khusus hanya dibatasi sebagai

1 Tim Redaksi Sinar Grafika, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia

(UU No.20 Tahun 2003), (Jakarta : Sinar Grafika, 2011), pasal 1 ayat 1, cet.ke 4, hal. 1.

2 Kaelany HD, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2000),

Jilid II, hal.240.

3 Surya M, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004),

Jilid II, hal.4.

4 Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),

hal. 15.

(3)

usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Setelah anak menjadi dewasa dengan segala cirinya, maka pendidikan dianggap selesai.6

Pendidikan diartikan sebagai suatu proses, dimana pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaannya dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugas hidupnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakiki dan ciri-ciri kemanusiaannya.7

Jadi, pendidikan adalah pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pengembangan pribadi adalah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh lingkungan, dan pendidikan oleh orang lain (guru). Seluruh aspek mencakup jasmani, akal, dan hati.8

Ada tiga unsur utama yang harus terdapat dalam proses pendidikan, yaitu: 9

a. Pendidik (orangtua, guru/ustadz/dosen/ulama/pembimbing). b. Peserta didik (anak/santri/mahasiswa/mustami).

c. Ilmu atau pesan yang disampaikan (nasihat, materi pelajaran atau kuliah atau bimbingan).

B. Pengertian Ruhani/Spiritual

Ruh adalah nama bagi nafsu yang dengannya mengalir kehidupan, gerakan, upaya mencari kebaikan, dan upaya menghindarkan keburukan dari

6 Uyoh sadulloh, Pedagogik ilmu mendidik, (Bandung: Alfabeta, 2014), cet.ke-3, hal. 5.

7 Jalaluddin dan Idi A, Filsafat Pendidikan. (Jakarta : Gaya Media Pratama, 1997), Jilid I,

hal.15

8 Ahmad tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung:PT. Remaja Rosda Karya,

2010), hal. 26.

9 Heri Juhaeri Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2005), Jilid I,

(4)

dari dalam diri manusia.10 Ruh itulah yang disebutkan dalam firman Allah SWT:11

          

“Dan meraka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Q.S Al-Israa’:85).

Ruhani/roh adalah sesuatu kekuatan yang tidak terlihat dan tidak kita ketahui materi dan cara kerjanya, ia adalah alat untuk mengadakan kontak dengan Allah. Sesuai dengan fitrahnya yaitu alat yang membawa kita kepada Tuhan. Ia sesungguhnya merupakan sebagian dari roh Allah yang telah diberikannya kepada segumpal tanah.12

Ruh adalah bagian manusia yang paling mulia karena ia adalah tiupan dari Allah SWT. Ia harus dididik dengan tujuan untuk mempermudah jalan di hadapannya untuk bermakrifat kepada Allah SWT dan membiasakannya serta melihatnya untuk melaksanakan benar-benar ibadah kepada Allah.13 Perkembangan spiritual merupakan proses individu untuk menjawab pertanyaan tentang indentitas, tujuan dan makna kehidupan14.

Menurut pandangan Islam, rohani adalah pusat eksistensi manusia dan menjadi titik perhatian pandangan Islam. Rohani adalah landasan tempat sandaran eksistensi itu selalu ruhnya serta dengan rohani itulah seluruh alam ini saling berhubungan. Ia merupakan pemelihara kehidupan manusia. Ia merupakan penuntun kepada kebenaran, pendeknya merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhan. 15

10 Ali Abdul Halim Mahmud, at-Tarbiyyah ar-Ruuhiyyah, (Jakarta : Gema Insani Press, 2000),

cet.ke 1, hal. 65.

11 Hikmah, Quran Dan Terjemaahnya, (Bandung: CV Penerbit Diponogoro, 2000) Q.S

Al-Israa’:85.

12 Salman Harun, Sistem Pendidikan Islam, (Bandung : PT. Alma’arif, 1993), Jilid III, hal.56 13 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), Jilid I,

hal.69

14 Aliah B Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada, 2008), hal.287

(5)

Masalah ruh dan hakikatnya telah menjadi bahan pemikiran para cerdik cendekia sejak zaman lampau. Karena, dengan jelas dapat ditangkap bahwa di dalam tubuh manusia yang hidup ada sesuatu selain tubuh itu. Dengannya, manusia menjadi dapat menangkap pemahaman dan kemampuan untuk menangkap pemahaman. Dengan itu, diketahui bahwa di dalam tubuh manusia ada sesuatu selain anggota tubuh yang tampak dan tidak tampak. Karena ditemukan dengan jelas bahwa ketika tubuh mayat dibedah, tidak ada suatu anggota tubuh bagian dalamnya yang hilang yang ada saat ia masih hidup.16

Manusia ini harus dididik, diajar, dan dituntun menuju kebenaran. Karena manusia adalah ruh, akal, dan tubuh. Kebutuhan atas ketiga kekuatan ini harus diseimbangkan dan masing-masing diberikan kemampuan serta kesempatan untuk mengungkapkan energi ini dalam naungan syarat yang telah pasti.17

Agama adalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik di atas dunia. Dengan kata lain, spiritual atau ruhiyah memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu (keberadaan dan kesadaran), sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang (perilaku atau tindakan). Seseorang bisa saja mengikuti agama tertentu, namun tetap memiliki spiritualitas. Orang-orang juga dapat menganut agama yang sama, namun belum tentu mereka memiliki jalan atau tingkat spiritualitas yang sama.18

C. Pengertian Pendidikan Ruhani/Spiritual

Menurut Al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi Pendidikan spiritual mengajarkan untuk dapat menjadi umat yang memiliki kesalehan individu dan kesalehan sosial (jama’ah), selalu dinamis dan dapat menyandingkan antara tawaran-tawan kenikmatan tertentu dengan Tuhan dan sekaligus dapat

16 Ali Abdul Halim Mahmud, at-Tarbiyyah ar-Ruuhiyyah, (Jakarta : Gema Insani Press, 2000),

cet.ke 1, hal. 67.

17 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), Jilid I,

hal.69

18 Aliah B Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

(6)

menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat semasa di dunia.19

Pendidikan Spiritual merupakan pendidikan pribadi, dengan mengasah pikiran, hati, dan tubuh dalam menapaki pengalaman-pengalaman sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan (Marifatullah). Menurut Dr. Abdul Munir Mulkhan, SU, Pendidikan Spiritual dikenal sebagai pendidikan kepribadian yang didasarkan kepada kecerdasan emosional dan spiritual (ruhaniah) yang bertumpu pada masalah diri.20

Dengan demikian, pendidikan rohani adalah usaha merubah, mengarahkan serta mempengaruhi unsur-unsur rohani manusia tersebut menuju ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Pendidikan rohani dalam Islam adalah merubah, mengarahkan, melatih dan membimbing serta mempengaruhi unsur-unsur kerohanian yang bersifat dinamis itu menuju ke arah terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.21

Pengertian pendidikan Ruhani (at-Tarbiyyah ar-Ruhiyyah) ini mencakup beberapa hal berikut: Interelasi antara hati, jiwa, akal, dan ruh, pengertiannya saling keterkaitan, saling bergantian tempat dan bermiripan satu sama lain dalam berbagai hal. Hanya ulama yang ahli dan memiliki kedalaman pengetahuan agama saja yang mengetahui perbedaan antara satu dan lainnya.22

Orang-orang yang tidak mengetahui interelasi dan kemiripan antara keempat hal tadi sering kali terperosok ke dalam kesalahan. Bahkan, ada yang sampai terjerumus dalam kesesatan dan kerusakan akidah. Seperti yang terjadi pada orang-orang yang dikenal dengan “Ahli kebatinan”. Sikap

19 Kasiono, Pendidikan Spiritual Dalam Tradisi Mujahadah Kaum Santri Pondok Pesantren

Luqmaniyah Yogyakarta, (Yogyakarta: FK Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2010), Pdf, hal.12

20 Kasiono, Pendidikan Spiritual Dalam Tradisi Mujahadah Kaum Santri Pondok Pesantren

Luqmaniyah Yogyakarta, (Yogyakarta: FK Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2010), Pdf, hal.12

21 M. Amir Langko, Metode Pendidikan Rohani Menurut AgamaIslam , Jurnal Ekspose, Vol.

23, No. 1, (Juni 2014), hal. 48.

22 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), Jilid I,

(7)

mereka itu diakibatkan oleh kesalahanpahaman tentang interelasi dan kemiripan antara keempat hal tadi.23

Dalam pendidikan ruhiyah ini mencakup keimanan kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Nabi/Rasul, Hari Akhir dan Takdir. Termasuk di dalamnya adalah materi tata cara ibadah, baik ibadah mahdlah seperti sholat, zakat, shaum atau puasa, dan haji. Maupun ibadah ghair mahdlah seperti berbuat baik kepada sesama.24

Akal juga harus mendapatkan pendidikan islami yang bertujuan untuk mengajarkannya bagaimana berpikir, melihat, dan merenung sehingga dengan itu ia sampai kepada keimanan kepada Allah SWT, Malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, qadha dan qadar, serta dapat menangkap sunnah Allah di alam semesta ini. Jika akal telah mendapatkan petunjuk, ia akan terjaga dari sikap pembangkangan, penyimpangan, kesesatan, dan tenggelam dalam kesesatan di duni yang membuat ia tersesat dari kebenaran dan kehilangan akhirat.25

Tubuh juga harus dididik dengan pendidikan Islami yang membuat tubuh berjalan seiring dengan hukum-hukum syariat sehingga ia menjalankan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT dan menjauhi apa yang diharamkan oleh-Nya.26

Kekurangan dalam mendidik ruhani atau kurangnya perhatian dalam bidang ini akan merusak manusia, baik dari sisi ruh, akal, tubuh, maupun bangunan sosial seluruhnya. Karena ruh adalah bagian manusia yang paling penting jika kami telah katakan bahwa ia juga bermakna hati maka kebaikan hati adalah kebaikan manusia sendiri, sementara kerusakan hati adalah kerusakan manusia seluruhnya. Oleh karena itu, ruh harus didik dengan

23 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), Jilid I,

hal.61

24 Heri Juhaeri Muchtar, Fikih Pendidikan, (Bandung : PT. Remaja Rosda Karya, 2005), hal. 16. 25 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), Jilid I,

hal.69

26 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), Jilid I,

(8)

pendidikan Islam sehingga manusia menjadi baik. Jika manusianya baik, baiklah masyarakatnya.27

Unsur-unsur global yang harus dikandung oleh pendidikan ruhani, yaitu sebagai berikut:28

1. Agar ruh ini diberikan wirid, zikir, dan aturan.

2. Agar dilatih, diajar, dan dibuat senang terhadap apa yang memperkuat hubungannya dengan Allah SWT.

3. Agar menenpati sifat insan beriman, dalam diam, berbicara, berbuat, dan dalam meninggalkan sesuatu.

D. Pengertian Peserta Didik

Anak didik secara filosofis merupakan objek para pendidik dalam melakukan tindakan yang bersifat mendidik. Anak didik merupakan subjek pendidikan, yaitu orang yang menjalankan dan mengamalkan metode pendidikan yang diberikan oleh pendidik.29 Anak didik atau peserta didik adalah manusia sebagai individu atau pribadi (manusia yang seutuhnya).30

Menurut Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 4 menjelaskan bahwa perserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.31

Sebutan untuk para peserta didik beragam, di lingkungan rumah, peserta didik disebut anak. Di sekolah atau madrasah, peserta didik disebut siswa. Pada tingkat pendidikan tinggi, peserta didik disebut mahasiswa. Dalam lingkungan pesantren, peserta didik disebut santri. Sedangkan di majelis taklim, peserta didik disebut jamaah (anggota).32

27 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000). Jilid I,

hal.71

28 Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000). Jilid I,

hal.72

29 Aliet Noorhayati S, Filsafat pendidikan, (Yogyakarta: Deepublish, 2014), cet.ke-1, hal. 21.

30 Uyoh sadulloh, Pedagogik ilmu mendidik, (Bandung: Alfabeta, 2014), cet.ke-3, hal. 86. 31 Tim Redaksi Sinar Grafika, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia

(UU No.20 Tahun 2003), (Jakarta : Sinar Grafika, 2011), cet.ke 4, hal. 1.

(9)

Dalam bahasa Arab juga terdapat trem yang bervariasi. Diantaranya thalib, muta’alim, dan murid. Thalib berarti orang yang menuntut ilmu. Muta’alim berarti orang yang belajar, dan murid berarti orang yang berkehendak atau ingin tahu.33

Peserta didik cangkupannya lebih luas daripada anak didik. Jika anak didik di khususkan untuk seseorang yang berusia kanak-kanak, sementara peserta didik tidak hanya melibatkan anak-anak tetapi juga orang dewasa. 34 Pengertian anak didik sendiri ialah anak yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai mahluk tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masayarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu.35

Peserta didik dalam pendidikan islam adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan dunia akhirat kelak. 36 Dengan dimikian, istilah

peserta didik ini bukan hanya orang-orang yang belum dewasa dari segi usia, melainkan juga orang-orang yang dari segi usia sudah dewasa, namun dari segi mental, wawasan, pengalaman, keterampilan, dan sebagainya masih memerlukan bimbingan.37

E. Syarat-syarat Peserta Didik Pendidikan Ruhiyah Disebutkan dalam firman Allah SWT, berbunyi :38

        

Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu

33 Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara , 2011), cet.ke-2, hal. 103. 34 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2010), hal.173.

35 Abu Ahmadi,Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), hal.251.

36 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

2006), cet.ke-1, hal.103.

37 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2010), hal.173.

38 Al-Hikmah, Al-Quran Dan Terjemaahnya, (Bandung: CV Penerbit Diponogoro, 2000), Q.S

(10)

(untuk menjadi) petunjuk?”. dan Dia menjawab: "Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersama aku”(Q.S al-Kahfi: 66-67).

Dalam pemahaman al-Qur’an surat al-Kahfi ayat 66-67 diatas, peserta didik harus: Menunjukkan minat yang tinggi, Tawadhu, Tha’at, Berambisi untuk memperoleh ilmu, Sopan santun,sabar,optimis dan ikhlas. Dengan demikian, seorang peserta didk dalam dalam ayat al-Qur’an tersebut, harus:39

1. Peserta didik dalam melaksanakan proses belajar mengajar harus memiliki niat yang lurus.

Niat yang lurus, merupakan langkah awal untuk membangun unsur psikologi manusia yang kokoh, tangguh, tidak mudah patah semangat, sehingga suatu aktivitas dilalui dengan penuh keyakinan. Dalam pendidikan Islam, niat yang lurus itu terpusat pada Allah SWT sebagai sumber ilmu dan kebahagiaan. Oleh karena itu, niat dalam belajar terkonsentrasi pada upaya untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. 40

2. Peserta didik dalam melaksanakan proses belajar mengajar harus memiliki kesucian hati.

Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT, sehingga dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dituntut untuk mensucikan jiwanya dari akhlak yang rendah dan watak yang tercela (Takhalli) dan mengisi dengan akhlak yang terpuji.41

Sifat-sifat yang dituntut dalam mencari ilmu tersebut dalam pendidikan Islam mengarah pada konsekuensi untuk mensucikan hatinya dari sifat kotor, hasud, dan akidah yang lemah agar ia mampu menangkap ilmu dan menghapalnya serta menyingkap berbagai rahasianya. Dalam pendidikan Islam, ilmu itu datang dari Allah, sehingga untuk mendapatkannya perlu mendekatkan diri kepada Allah. Untuk dapat dekat

39 Salamet, Karakter Peserta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal Pelopor

Pendidikan,Vol. 3, No. 1, (Sumenep, Januari 2012), hal.40-41.

40 Salamet, Karakter Peserta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal Pelopor

Pendidikan,Vol. 3, No. 1, (Sumenep, Januari 2012), hal.40.

(11)

dengan Allah, tiada lain yaitu dengan cara membersihkan hati dari sifat-sifat yang hina dan kotor. 42

Sama halnya dengan shalat, ia tidak sah bila tidak suci dai hadist dan najis. Menyemarakan hati dengan ilmu tidak sah kecuali setelah hati itu suci dari kotoran akhlak. Intinya di sini ialah peserta didik itu jiwanya harus suci.43

3. Peserta didik dalam proses belajar mengajar harus memiliki akhlak yang mulia.

Peserta didik yang sedang belajar harus bersikap tawaddu’ rendah hati pada ilmu dan guru.44 peserta didik harus bersikap rendah hati dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya. Sekalipun ia cerdas, tetapi ia bijak dalam menggunakan kecerdasan itu pada pendidikanya, termasuk juga bijak kepada teman temannya yang Iqnya lebih rendah.45 Serta Menjalin hubungan yang harmonis dengan guru merupakan salah satu akhlak terpuji yang harus dilakukan peserta didik. 46

Selanjutnya, peserta didik harus menyenangkan hati guru, memuliakan hati guru, menunjukan sikap sopan dan santun terhadap guru, tekun dan bersunggung-sungguh dalam belajar, dan memiliki tekad belajar sepanjang hayat.47

4. Peserta didik dalam proses belajar mengajar harus menyempurnakan ikhtiar.

Ikhtiar merupakan kewajiban setiap insan dalam rangka menggapai pertolongan Allah Swt. dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Artinya kesucian hati dan kemuliaan akhlak tidak terpisah dari keharusan berikhtiar dalam mendapatkan pertolongan Allah Swt. Kesempurnaan ikhtiar seorang siswa terlihat dan sejauh mana kerelaan berkorban dan

42 Salamet, Karakter Peserta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal Pelopor

Pendidikan,Vol. 3, No. 1, (Sumenep, Januari 2012), hal.40.

43 Ahmad Tafsir ,Filsafat Pendidikan Islami, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm 166. 44 Salamet, Karakter Peserta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal Pelopor

Pendidikan,Vol. 3, No. 1, (Sumenep, Januari 2012), hal 40.

45 Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara , 2011), cet.ke-2, hal. 105.

(12)

meluangkan waktu yang cukup untuk tercapainya ilmu yang diinginkan. Peserta didik harus siap mencari ilmu walaupun dengan jarak yang jauh dan memerlukan perjalanan yang sulit. 48

Sedangkan, Ali bin Abi Thalib memberikan syarat bagi peserta didik dalam ungkapannya:

“ Ingatlah Engkau tidak akan bisa memperoleh ilmu kecuali dengan enam syarat, aku akan menjelaskan kepadamu dengan jelas, yaitu kecerdasan (akal), motivasi atau kemauan yang keras, sabar, alat(sarana),petunjuk guru, dan terus menerus (kontinu), atau tidak cepat bosan dalam mencari ilmu”.49

Dari ungkapan tersebut, dapat dipahami bahwa syarat-syarat pencari ilmu mencangkup enam hal, yaitu: 50

1. Memiliki kecerdasan (dzaka)

Individu mendapatkan kecerdasan tertentu bukan hanya karena faktor kelahiran semata, melainkan juga karena perkembangan dan pengalamannya.51 Kecerdasan adalah bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan di mana orang itu dilahirkan, merupakan alat untuk belajar, menyelesaikan masalah dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia.52 Kecerdasan seseorang merupakan peranan yang penting di dalam kehidupannya.53

Seorang peserta didik harus memiliki kecerdasan, seperti penalaran, imajinasi, wawasan, pertimbangan dan daya penyesuaian

48 Salamet, Karakter Peserta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal Pelopor

Pendidikan,Vol. 3, No. 1, (Sumenep, Januari 2012), hal.41.

49 Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara , 2011), cet.ke-2, hal. 107. 50 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.115-119..

51 Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Kependidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2002), hal.54.

52 Linda Campbell dkk, Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, (Depok:

Intuisi Press, 2006), hal.2.

53 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013),

(13)

sebagai proses metal yang dilakukan secara cepat dan tepat.54 Kecerdasan kemudian berkembang dalam tiga definisi, yaitu: 55

a. kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif

b. kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengkritik

c. kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.

Kecerdasan peserta didik adalah mencakup hal-hal berikut:56

a. Kecerdasan intelektual Adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain.

b. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.

c. Kecerdasan spiritual adalah pemahaman tentang kedirian manusia itu sendiri yang muaranya menjadi ma’rifat kepada Allah swt.

d. Kecerdasan qalbiyah atau ruhiyah adalah sejumlah kemampuan diri secara cepat dan sempurna, untuk mengenal kalbu dan aktivitas-aktivitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu untuk membina hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah dengan Tuhan.

e. Kecerdasan moral kemampuan seseorang dalam membedakan sesuatu yang benar atau salah atas dasar etika dalam menempatkan mereka ke sebuah tindakan.

54 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.116.

(14)

Kelima kecerdasan ini harus dimilki peserta didik sebagai persyaratan pertama dan utama dalam mencapai keberhasilan pendidikannya.57

2. Memiliki Hasrat (hirsh)

Sorang peserta didik harus memiliki Hasrat (hirsh), seperti kemauan, gairah, moril, dan motivasi yang tinggi dalam mencari ilmu, serta tidak merasa puas terhadap ilmu yang diperolehnya. Hasrat ini sangat penting sebagai persayaratan dalam pendidikan, sebab persoalan manusia tidak sekedar mampu (qudrah) tetapi juga mau (iradah).58

Motif adalah suatu pernyatan yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku atau perbuatan ke suatu tujuan atau perangsang.59 Motivasi adalah sebagai pendorong, pengerak, dan sebagai suatu pengarah terhadap tujuan. Dengan adanya motivasi, segala bentuk kesimpangsiuran dalam menjalankan suatu aktifitas akan bisa terminimalisir.60 Banyak para ahli motivasi megatakan dasar motivasi adalah menghindari apa yang tidak disukai dan mengejar apa yang diinginkan.61

Dalam pendidikan, motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha, keinginan, menentukan arah dan menyeleksi tingkah laku pendidikan.62 Banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga.63

57 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.116.

58 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.116.

59 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013),

cet.ke-26, hal. 60.

60 Oemar hamalik ,Perencanaan Pengajaran Berdasar Pendekatan Sistem,(Jakarta:PT bumi

aksara,2005), cet.ke-3, hal.154.

61 Popi sopiatin dan sahori Saharani, Psikologi Belajar dalam Perspektif Islam, (Bogor: Ghalia

Indonesia,2011), cet.ke-1, Hal.173.

62 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.117.

63 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013),

(15)

Kemampuan adalah tenaga, kapasitas, atau keanggupan untuk melakukan sesuatu perbuatan dari pengalaman. Usaha adalah penyelesaian suatu tugas untuk mencapai keinginan. Sedangkan keinginan adalah suatu harapan, kemauan, atau dorongan untuk mencapai sesuatu atau untuk membebaskan diri dari suatu perangsang yang tidak menyenangkan.64

Motivasi belajar dalam islam tidak semata-mata untuk berprestasi, berafiliasi, berkompetensi, berkekuasaan, tetapi lebih dari itu, belajar memiliki motivasi beibadah, yang mana dengan belajar seseorang dapat mengenal (ma”rifah) pada Allah SWT.65

3. Memiliki sabar dan tabah (istibah)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sabar berarti tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu).66

Sabar berarti memiliki ketabahan dan daya tahan yang sangat kuat untuk menerima beban, ujian atau tantangan tanpa sedikitpun mengubah harapan untuk menuai hasil yang ditanamkannya.67 Sabar adalah menahan (al-habs) diri, atau lebih tepatnya mengendalikan diri, yaitu menghindari seseorang dari perasaan resah, cemas, marah, kekacauan terutama dalam proses belajar.68

Seorang peserta didik harus memiliki kesabaran dan tabah serta tidak mudah putus asa dalam belajar, walaupun banyak rintangan dan hambatan, baik hambatan ekonomi, psikologi, sosiologi, politik, bahkan administrasi. Sabar menjadi kunci bagi keberhasilan dalam belajar, karena sabar merupakan inti dari kecerdasan emosional. Banyak orang yang

64 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.117.

65 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.117.

66 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaaan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta :

Balai Pustaka, 1993), hal. 763.

67 Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, (Jakarta : Gema Insani Press, 2001), hal. 30.

68 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

(16)

memiliki kecerdasan intelektual yang baik, tetapi tidak di barengi oleh kecerdasan emosional (sabar) maka ia tidal memperoleh apa-apa.69

4. Mempunyai seperangkat modal dan sarana (bulghah)

Seorang peserta didik harus memiliki seperangkat modal dan sarana yang memadai dalam belajar. Dalam hali ini, biaya dana pendidikan menjadi penting, yang digunakan untuk kepentingan honor pendidik, membeli buku,dan peralatan sekolah, dan biaya pengembangan pendidikan secara luas. 70 Keuangan dan pembiayaan merupakan salah satu sumber daya yang secara langsung menunjang efektivitas dan efesiensi pengelolaan pendidikan.71

Perolehan ilmu bukan didapat secara geratis, karena profesionalisme pendidikan melibatkan sejumlah kegiatan dan sarana yang membutuhkan banya biaya. Bahkan akhir-akhir ini, sekolah yang mahal adalah sekolah yang diminati oleh masyarakat. Memang benar, dari sudut material, investasi yang dikucurkan untuk dana pendidikan tidak akan memperoleh laba yang besar bahkan boleh jadi merugi. Namun secara spiritual, justru inilah investasi hakiki dan abadi yang dapat dinikmati untuk jangka panjang dan masa depan di akhirat.72

5. Adanya petunjuk pendidik (irsyad ustadz)

Dalam Kamus Bahasa Indonesian dinyatakan, bahwa pendidik adalah orang yang mendidik. Dalam pengertian yang sering digunakan, pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan pada peserta didiknya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu mandiri dalam memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT, dan mampu

69 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.117-118.

70 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

2006), cet.ke-1, hal.118.

71 E.Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014),

Cet.Ke-15, Hal 47.

72 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

(17)

melakukan tugas sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk individu yang mandiri.73

Pendidik merupakan orang dewasa yang bertanggung jawab membimbing anak untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan.74 Pendidik mempunyai peran penting untuk berlangsungnya pendidikan. Baik buruk suatu tindakan pendidik akan berpengaruh besar terhadap hasil peendidikan.75

Dalam kegiatan belajar, harus adanyanya petunjuk pendidk, sehingga tidak terjadi salah pengertian terhadap apa yang di pelajari. Dalam belajar, seseorang dapat melakuaknan metode autodidak, yaitu belajar secara mandiri tanpa bantuan siapa pun. Sekalipun demikian, pendidikan masih tetap berperan pada pesrta didik dalam menunjukan bagaimana metode belajar yang efektif berdasarkan pengelaman sebagai seorang dewasa. Dalam hal ini, interaksi pendidikan tidak dapat digantikan dengan membaca, melihat dan mendengar jarak jauh, tetapi dibutuhkan face to face antara kedua belah pihak yang didasarkan atas suasana psikologis penuh empati, simpati, atensi, kehangatan, dan kewibawaan.76

6. Masa yang panjang (thuwl al-zaman)

Masa yang panjang (thuwl al-zaman), yaitu belajar tiada henti dalam mencai ilmu (no limits to study) sampai pada akhir hayat, min mahdi ila lahdi ( dari perbuatan sampai liang lahat).77

Pendidikan sepanjang hayat adalah prinsip yang menekankan, agar setiap orang dapat harus belajar dan meningkatkan dirinya sepanjang hayat. alasannya karena setiap ilmu yang di pelajari suatu saat akan hilang atau lupa dari ingatan, hal ini disebabkan tidak pernah di pelajari lagi, serta ilmu pengetahuan setiap saat akan mengalami perkembangan, pembaruan,

73 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2012), Jilid II, hal.159 74 Uyoh sadulloh, Pedagogik ilmu mendidik, (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm 85 75 Aliet Noorhayati S, Filsafat pendidikan, (Yogyakarta: Deepublish, 2014), hlm 20

76 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

2006), cet.ke-1, hal.119.

77 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

(18)

bahkan pengertian, mengingat data yang digunakan ilmu pengetahuan tersebut sudah berubah.78

Memiliki tekad yang kuat untuk belajar sepanjang hayat merupakan ahlak terpuji. Untuk setiap peserta didik agar bertekad untuk belajar hingga akhir hayat, tidak meremehkan suatu cabang ilmu, tetapi hendak menganggap bahwa setiap ilmu ada faedahnya, jangan meniru-niru apa yang didengarnya dari orang-orang yang terdahulu yang mengkritik dan merendahkan sebagian ilmu seperti ilmu mematik dan filsafat.79

Syarat ini berimplikasi bahwa belajar tidak hanya di bangku kelas atau kuliah, tetapi semua tempat yang menyediakan informasi tentang pengembangan kepribadian, pengetahuan, dan ketrampilan adalah termasuk juga lembaga pendidikan.80

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat Peserta didik dalam pendidikan ruhiyah menurut pemahaman al-Qur’an khususnya surat al-Kahfi ayat 66-67, yaitu : Menunjukkan minat yang tinggi, Tawadhu, Tha’at, Berambisi untuk memperoleh ilmu, Sopan santun,sabar,optimis dan ikhlas.

Sementara menurut Ali bin Abi Thalib syarat bagi peserta didik , yaitu kecerdasan (akal), motivasi atau kemauan yang keras, sabar, alat(sarana),petunjuk guru, dan terus menerus (kontinu), atau tidak cepat bosan dalam mencari ilmu.

Dalam kecerdasan, peserta didik diharuskan: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyesuaikan dirinya sendiri terhadap situasi apapun, (2) kemapuan menggunakan konsep dalam memahami, mengontrol, mengkritik dan berpendapat.

78 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2010), hal.106. 79 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2010), hal.185.

80 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

(19)

Peserta didik harus memiliki motivasi/ minat yang tinggi untuk mencari ilmu. Dengan adanya motivasi atau minat yang tinggi, peserta didik akan terus menuntut ilmu dan tidak akan merasa puas dengan apa yang ia dapatkan. Jika tidak ada motivasi atau minat yang tinggi, peserta didik akan cepat merasa bahwa apa yang ia cari itu sudah cukup dan tidak akan mencari lagi ilmu-ilmu lainnya.

Peserta didik harus memiliki sikap tawadhu, Sopan santun, sabar, optimis dan ikhlas. Peserta didik harus memiliki sikap tersebut baik untuk dirinya sendiri dan kepada siapapun dalam menuntut ilmu. Sikap tawadhu, contohnya: senang bergaul dengan semua orang tanpa membedakan setatus sosial, menghormati dan menghargai teman dan guru, bertutur kata dengan baik, dan lain-lain. Sikap sopan santun, contohnya: sopan santun terhadap orang yang lebih tua dan teman sebaya. Sikap sabar, contohnya : sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, sabar dalam menahan diri dari keinginan menguasai pelajaran dengan cepat dan beralih ke materi lain sebelum matang, dan lain-lain. Sikap optimis, contohnya selalu optimis dengan apa yang ia kerjakan dan hasilnya akan bagus. Sikap ikhlas, contohnya: ikhlas dengan apa yang dilakukan hari ini, ikhlas dalam menolong teman yang kesusahan, ikhlas menolong guru yang meminta bantuan dan lain-lain

Peserta didik harus mempunyai Mempunyai seperangkat modal dan sarana. Karena untuk memperoleh ilmu tidak didapat secara geratis. Melainkan dengan modal yang besar untuk menunjang kegiatan dan sarana dalam pendidikan.

Dalam proses belajar, peserta didik perlu adanya petunjuk guru. karena dengan adanya petunjuk guru, peserta didik tidak akan terjadi salah pengertian terhadap apa yang di pelajari. Seorang peserta didik juga harus memilki tekad yang kuat untuk mencari ilmu sepanjang hayat. karena dari waktu kewaktu perkembangan ilmu pengetahuan, ketrampilan, teknologi dan sebagainya akan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Untuk itu peserta didik harus bertekad untuk mencari ilmu hingga akhir hayat.

(20)

tidak ada dalam peserta didik, maka tujuan pendidikan ruhiyah tidak akan tercapai secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2006.

Abin Syamsudin Makmun, Psikologi Kependidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002.

Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Prenada Media, Jakarta, 2010.

Al-Hikmah, Al-Quran Dan Terjemaahnya, CV Penerbit Diponogoro, Bandung, 2000.

Aliah B Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008.

(21)

Aliet Noorhayati S, Telaah Filsafat Pendidikan (Edisi Refisi), Deepublish, Bandung, 2014.

Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002.

Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2011.

E.Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014.

Heri Juhaeri Muchtar, Fikih Pendidikan, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2005.

Linda Campbell dkk, Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences, Intuisi Press, Depok, 2006.

Jalaluddin dan Idi A, Filsafat Pendidikan. Gaya Media Pratama, Jakarta, 1997. Kaelany HD, Islam dan Aspek-Aspek Kemasyarakatan, PT Bumi Aksara, Jakarta,

2000.

Kasiono, Pendidikan Spiritual Dalam Tradisi Mujahadah Kaum Santri Pondok Pesantren Luqmaniyah Yogyakarta, Fakultas Tarbiyah, Pdf UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2010.

M. Amir Langko, Metode Pendidikan Rohani Menurut Agama Islam , Jurnal Ekspose, Vol. 23, No. 1, Juni, 2014. Tersedia Online (E-jurnal) : http://e-jurnal.stainwatampone.ac.id/index.php/Ekspose/article/download/11/15 (Diakses Pada Tanggal 16 Maret 2016)

M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013.

Oemar hamalik, kurikulum dan pembelajaran, PT bumi aksara, Jakarta,2005. Popi sopiatin dan sahori Saharani, Psikologi Belajar dalam Perspektif Islam,

Ghalia Indonesia, Bogor, 2011.

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2012.

(22)

http://docplayer.info/175828-Karakter-peserta-didik-dalam-perspektif-pendidikan-islam.html (Diakses Pada Tanggal 16 Maret 2016)

Salman Harun, Sistem Pendidikan Islam, PT. Alma’arif, Bandung, 1993.

Surya M, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Pustaka Bani Quraisy, Bandung, 2004

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaaan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1993.

Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, Gema Insani Press, Jakarta, 2001. Uyoh sadulloh, dkk, Pedagogik (Ilmu Mendidik), Alfabeta, Bandung,2011. Undang-Undang Sisdiknas RI No 20 Tahun 2003, Sinar Grafika, Jakarta, 2011. Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta,1995.

LAMPIRAN

PERTANYAAN DAN JAWABAN

1. Maghni Tasya (130641225)

Dalam pendidikan Islam, dikatakan peserta didik itu ialah seseorang yang belum dewasa dan seseorang yang sudah dewasa. Bagaimana menentukan syarat-syarat dalam pendidikan ruhiyah agar dapat disesuaikan porsinya? JAWAB:

Dalam pendidikan islam, peserta didik adalah individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik, psikologis, sosial, dan religius dalam mengarungi kehidupan dunia akhirat kelak. 81 Dengan dimikian, istilah

81 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media,

(23)

peserta didik ini bukan hanya orang-orang yang belum dewasa dari segi usia, melainkan juga orang-orang yang dari segi usia sudah dewasa, namun dari segi mental, wawasan, pengalaman, keterampilan, dan sebagainya masih memerlukan bimbingan.82

Jadi menurut penulis, seseorang bisa diatakan peserta didik apabila dari segi mental, wawasan, pengalaman, ketrampilan dan sebagainya masih memerukan bimbingan baik itu orang dewasa maupun orang yang belum dewasa. Tidak ada perbedaan porsi dalam syarat peserta didik dalam pendidikan ruhiyah. Yang namanya syarat, antara syarat yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan, maka setiap peserta didik harus memiliki syarat-syarat diatas. Penentuan syarat dilihat dari segi mental, pengalaman, ketrampilan dan sebagainya. Namun tetap aja setiap peserta didik harus memiliki syarat-syarat diatas hanya saja penentuan tersebut sebagai alat ukur untuk pendidik agar mengetahui setiap peserta didiknya sehingga dapat membimbingnya dengan benar.

2. Fuji Alfiani (130641172)

Sekarang banyak sekali anak yang niat bersekolah hanya untuk mendapatkan ijasah, bagaimana cara membenarkan niat siswa tersebut agar menjadi niat yag lurus ?

JAWAB:

Niat yang lurus, merupakan langkah awal untuk membangun unsur psikologi manusia yang kokoh, tangguh, tidak mudah patah semangat, sehingga suatu aktivitas dilalui dengan penuh keyakinan. Dalam pendidikan Islam, niat yang lurus itu terpusat pada Allah SWT sebagai sumber ilmu dan kebahagiaan. Oleh karena itu, niat dalam belajar terkonsentrasi pada upaya untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat yang dianugerahkan oleh Allah SWT. 83

(24)

Jadi menurut penulis jika dilihat dari pernyataan diatas, cara membenarkan sebuah niat siswa yang bersekolah hanya untuk mendapatkan ijasah menjadi memiliki niat yang lurus, yang terkonsentrasi pada upaya memperoleh ilmu dari Allah SWT, dengan memberikan suatu dorongan atau motivasi dari orangtua dan guru bahwa menuntut ilmu itu tidak hanya untuk mendapatkan ijasah saja, melainkan mendapatkan manfaat yang sangat besar untuk kehidupan. Pemberian suatu dorongan dari orang terdekat khususnya orang tua sangat mempengaruhi pemikiran anak.

3. Yunita Hapsari (13064214)

Bagaimana menimbulkan hasrat kepada peserta didik yang tidak sepenuhnya memiliki hasrat itu sendiri, sedangkan di lingkungan keluarganya tidak menumbuhkan hasranya karena orangtuanya sibuk ?

JAWAB:

Sorang peserta didik harus memiliki Hasrat (hirsh), seperti kemauan, gairah, moril, dan motivasi yang tinggi dalam mencari ilmu, serta tidak merasa puas terhadap ilmu yang diperolehnya. Hasrat ini sangat penting sebagai persayaratan dalam pendidikan, sebab persoalan manusia tidak sekedar mampu (qudrah) tetapi juga mau (iradah).84

Dalam pendidikan, motivasi berfungsi sebagai pendorong kemampuan, usaha, keinginan, menentukan arah dan menyeleksi tingkah laku pendidikan.85 Banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga.86

83 Salamet, Karakter Peserta Didik Dalam Perspektif Pendidikan Islam, Jurnal Pelopor

Pendidikan,Vol. 3, No. 1, (Sumenep, Januari 2012), hal.40.

84 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.116.

85 Abdul Mujid dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada

Media, 2006), cet.ke-1, hal.117.

86 M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013),

(25)

Dari pernyataan di atas, penulis mengambil kesimpulan seseorang yang tidak sepenuhnya memiliki hasrat untuk menuntut maka tidak akan tercapai tujuan pendidikan. Karena hasrat merupakan persyaratan terpenting dalam pendidikan. Motivasi atau hasrat itu berasal dari dalam diri peserta didik. Jika dari dalam dirinya tidak ada hasrat untuk menuntut ilmu, tidak ada yang bisa mengubahnya karena suatu hasrat itu berasal dari diri peserta didik, yang dapat di ubah oleh orang di sekitaranya seperti orang tua atau guru adalah cara pandang mereka terhadap hasratnya sendiri. Berikan cara pandang yang menarik yang membuat si peserta didik tersebut berfikir untuk merubah hasratnya, sehingga akan menumbuhkan suatu hasrat untuk menuntut ilmu.

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi, sebagaimana diperlihatkan oleh Deleuze, Guattari, Lyotard, Foucault, dan Baudrillard, fondasi dari dunia penampakan itu telah beralih pada hasrat dan kehendak

digunakan oleh masyarakat tutur Jawa dalam bertutur dengan sesama masyarakat tutur Jawa. Dalam masyarakat tutur Jawa di daerah Jatibening , terdapat dua ragam bahasa

Peran Profitabilitas dalam Memoderasi Pengaruh Leverage terhadap Nilai Perusahaan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas tidak mampu memoderasi pengaruh

Laporan yang dapat dipilih adalah Laporan yang dihasilkan oleh sistem tersebut adalah Penerimaan Barang, Transaksi Penjualan per Bulan, Transaksi Pembayaran

Saat ini kerap terjadi pelanggaran privasi di media sosial berbasis ojek online, timbulnya pelanggaran privasi pada ojek online ini karena aplikasi

Judi Pat#l#gis ditandai dengan judi maladaptif yang erulang dan menetap dan menimulkan masalah ek#n#mi serta gangguan yang signifikan di dalam fungsi  priadi,

Kondisi lalu lintas eksisting memiliki skor pelayanan ruas jalan 150 yang berarti memiliki tingkat pelayanan lebih dari cukup, dengan rincian untuk Jam sibuk

c. Memenuhi persyaratan teknis minimal dan berlabel. Lahan bera atau tidak ditanami dengan tanaman yang satu familli minimal satu musim tanam. Untuk tanaman rimpang lahan yang