PUSTAKA EKSPRESI
GBP Suka Arjawa
(Analisis Dua Tahun Pertama Pemerintahan Joko Widodo)
“ALA” INDONESIA
DEMOKRASI “ALA” INDONESIA
(Analisis Dua Tahun Pertama Pemerintahan Joko Widodo)
© GPB Suka Arjawa
Design Sampul & Layout : Gus Ryan
Illustrator : Donbull Penerbit:
Pustaka Ekspresi
Banjar Lodalang No 54, Desa Kukuh Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali Kode Pos 82181
HP/WA: 081338722483
Email: [email protected] Cetakan Pertama: Tahun 2019 ISBN : 978-623-7606-11-6
Hak Cipta @ 2019 pada penulis
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, tanpa seizin tertulis dari penulis
SUDAH diputuskan oleh rakyat Indonesia melalui pemilu bulan April 2019 yang lalu, bahwa Joko Widodo tetap dipercaya menjadi presiden Indonesia. Ini merupakan periode kedua darinya untuk menjabat sebagai presiden Indonesia. Keberhasilannya kali ini kembali dengan mengalahkan kompetitornya lima tahun yang lalu, yaitu Prabowo Subianto. Ini bukanlah hasil yang sembarangan. Dilihat dari sisi kompetitor, Joko Widodo berhasil menang menghapi saingan yang sebelumnya sudah tahu bagaimana karakter yang melekat. Melalui persiapan yang telah dilakukan, para kandidat pasti sudah tahu gaya, kelebihan dan kelemahan dari competitor mereka sebelumnya. Dalam proses pembelajaran, kelebihan lawan dapat dipelajari sehingga dapat diungguli. Sebaliknya, kelemahannya dapat terus dieksploatasi sehingga mampu memberikan nilai lebih pada “pertandingan” nanti. Persis seperti permainan sepakbola.
Tahun 2014 merupakan awal dari Joko Widodo menjadi presiden, dan boleh dikatakan sebagai sebuah kejutan. Titik pandang kejutan ini terletak pada fenomena bahwa Joko Widodo adalah orang biasa. “Hanya” seorang sarjana, yang dalam ukuran cara pandang di Indonesia, merupakan hal biasa.
Dia bukan jenderal, bukan pula konglomerat, apalagi kemudian seseorang yang menyandang jabatan fungsional professor. Tetapi justru itulah yang menjadi ketertarikan membahas presiden ini, yang dipilih secara langsung oleh masyarakat. Perolehan suaranya pada saat itu adalah …..Jika dikaitkan dengan perjalanan politiknya sebagai seorang Walikota Solo, dan kemudian menjadi gubernur Jakarta, justru disitulah juga terlihat sisi fenomena dari seorang Jokowi. Artinya ia adalah seseorang yang dipandang mempunyai kekhasan tersdiri oleh masyarakat.. Pilihan rakyat kepadanya merupakan fenomena sosial.
PENDAHULUAN
Dari sisi kemasyarakatan, orang kemudian menafsirkan bahwa kekuatan politik Joko Widodo adalah penampilan dan kebiasannya. Penampilannya boleh dikatakan biasa-biasa saja, apa adanya, sebegitu saja tidak berupaya menutupi kekurangannya. Dari penampilannya itulah kemudian (ketika menjadi presiden) muncul pakaian putih yang dipakai para birokrat di Indonesia. Semakin memperlihatkan bahwa pakaian putih polo situ sebagai sebuah sesuatu yang biasa yang alami. Dan yang barangkali tidak disadarinya adalah kebiasaannya untuk melakukan kunjungan lapangan, sampai ke jarak yang paling dekat dengan obyek yang dituju. Itulah yang disebut blusukan.
Jelas blusukan ini berbeda dengan incognito , yang konon pernah dilakukan oleh Jendral Soeharto. Blusukan merupakan kunjungan kerja nyata ke lapangan dengan menyentuh obyek yang paling dekat. Incognito adalah kunjungan ke lapangan, tetapi dilakukan dengan cara menyamar. Tujuannya keduanya ada juga persamanannya, dalam arti melihat perilaku masyarakat dari dekat, mendengarkan keluhan masyarakat terhadap kebijakan pemerinah, sekaligus juga seberapa kritik masyarakat kepada pemerintah. Namun, lewat incognito juga bisa dipakai sebagai upaya mata-mata. Blusukan merupakan kunjungan lapangan dengan cara terbuka, tidak melakukan penyamamaran.
Untuk melakukan sikap memata-matai masyarakat agak sukar karena secara psikologis, masyarakat tidak akan berani secara terbuka melakukan kritik di depan pemimpin negaranya. Tetapi jelas dapat melihat dari dekat bagaimana kondisi masyarakat dan bagaimana kondisi pembangunan yang sudah dilakukan.
Dalam konteks politik, kunjungan ke lapangan ini jelas terlihat baik.
Akan tetapi dari sisi manajemen politik, dapat saja dikatakan sebagai sebuah kelemahan karena dapat berupa ungkapan tidak memercayai bawahan terhadap tanggung jawabnya. Atau gagal dalam menangkap kesimpulan- kesimpulan dari laporan yang diberikan oleh bawahan. Apapun namanya, apabila blusukan itu juga dipandang memiliki kelemahan seperti yang diungkapkan diatas, maka kelemahan itulah yang justru menjadi kelebihan Joko Widodo di mata masyarakat, yang kemudian memilihnya menjadi presiden tahun 2014 (dan kemudian tahun 2019 lagi).
Karena dipandang sebagai orang biasa itulah yang kemudian membuat cukup banyak kritik yang muncul ke permukaan pada saat pertama
kali menjadi presiden. Ini dapat dilihat secara jelas dari kritik terhadap tenggang waktu pemilihan menteri (menyusun cabinet). Harus juga diakui, beberapa pilihannya keliru. Meski dalam konteks perundangan, dibolehkan mengumumkan cabinet dua pecan setelah pelantikan, tetapi itulah yang kemudian menjadi kritik awal yang diterima Joko Widodo sebagai presiden.
Dikaitkan dengan fenomena diatas, sasaran kritik ini adalah tentang arah kebijakan presiden baru. Ada nuansa upaya pembuktian kalau presiden itu memang tidak mempunyai kemampuan untuk membuat dan memilih kebijakan untuk negara seluas Indonesia. Apabila diperpanjang lagi, mungkin juga ada pesan yang menyatakan bahwa tidak cukup pengalaman sebagai walikota dan gubernur ibukota Indonesia itu, untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkan juga dapat ditafsirkan bahwa kririk-kritik itu mencoba memberikan pesan kepada rakyat kalau mereka keliru memilih presiden. Namun, harap diingat.
Dalam demokrasi langsung itu, apalagi liberal, kekeliruan pemenang pilihan rakyat tidak ada. Jadi tidak ada kekeliruan dalam pilihan dari rakyat karena itulah suara hati mereka, itulah pilihan terbanyak dari rakyat. Yang boleh dikritik kemudian adalah sistem yang diterapkan pada politik tersebut.
Sebagai presiden Joko Widodo membutuhkan waktu dua minggu untuk membentuk kabinet. Dan yang kemudian terjadi adalah adanya menteri yang dipandang tidak beres dalam bekerja. Sebelum menyusun kabinet seorang presiden Indonesia harus tahu kondisi sosial dan budaya bangsa.
Artinya titik besar dalam memilih menteri adalah reprrsentasi dari wilayah Indonesia, termasuk suku bangsanya. Dan itulah yang dijadikan patokan oleh para presiden di Indonesia termasuk Joko Widodo. Ketika kemudian ada kesalahan dalam memilih menteri, maka tidak bisa lain presiden harus melakukan tindakan, baik berupa peringatan maupun pemecatan yang lebih halus dikatakan sebagai perombakan. Inilah yang dilakukan Joko Widodo pada awal pemerintahannya, dan berhasil.
Memecat anggota kabinet yang secara politis mempunyai basis sosial dan bahkan juga partai, memerlukan nyali. Dan presiden berhasil melakukan itu.
Dari sinilah mulai kelihatan kepercayaan Joko Widodo sebagai presiden. Dan rakyat telah pula bertambah keraguannya terhadap kemampuan presidennya untuk melakukan tindakan tegas kepada anakbuahnya. Sebagai pemegang hak prerogative, presiden berhak untuk melakukan itu. Dengan pemecatan dan
pergantian yang dilakukan tersebut, tingkat kepercayaan masyarakat kepada Joko Widodo sebagai presiden semakin tinggi. Cara ini ternyata juga mampu menghilangkan keraguan sebelumnya dengan pengalaman yang dimilikinya sebagai walikota Solo dan Gubernur Jakarta.
Apa yang diperlihatkan oleh Joko Widodo, dapat dijelaskan secara politik. Bahwa politik tersebut selalu bergerak dan terutama digerakkan oleh para kompetitornya. Joko Widodo tidak hanya mendapat tantangan pada pembentukan kabinet saja tetapi juga pada masa tuntutan-tuntutan terhadap kecurangan dalam pemilu. Ini cukup lama berlangsung sebelum pelantikan.
Banyak yang kurang dipertimbangkan oleh para pengritik Joko Widodo dalam pemerintahannya. Ketika ia menjaba sebagaai presiden pada periode pertama, dunia sedang diguncang oleh desrupsi teknologi yang dimotori oleh perkembangan teknologi komunikasi. Di Indonesia Gojek sedang menamcapkan pengaruhnya dan membuat banyak orang terheran- heran dengan perkembangan teknologi tersebut. Pada bidang pendidikan, pengenalan teknologi ke berbagai proses sudah sedang berlangsung, termasuk juga dengan urusan kenaikan pangkat. Kemajuan teknologi yang demikian pesat itu, pada akhinrya juga aberpengaruh pada bidang politik, seperti kebohongan dan sebagainya. Mau tidak mau hal ini harus direspon oleh presiden, yang seperti telah diutarakan diatas, mempunyai pengalaman yang tidak demikian mentereng.
Faktor inilah yang kelihataan membuat Joko Widodo kelihatan
“gagap” pada masa awal jabatannya sebagai presiden. Tentu saja disamping diakibatkan oleh hal-hal yang sifatnya manusiawi dan psikologis, bahwa setiap orang pasti akan kaku mengerjakan tugasnya yang pertama.
Menilai kebijakan presiden, tidak adil kalau hanya melihat bagaimana awal dari sikap ketika menduduki jabatan. Tetapi yang lebih penting, dalam kasus Joko Widodo adalah bagaimana ia mendapatkan kepercayaan yang demikian tinggi di masyarakat. Lompatan yang dilakukannya untuk menjadi presiden, hanya “beberapa langkah”, mulai dari walikota Solo dan kemudian menjadi gubernur Jakarta. Titik yang harus menjadi perhatian adalah keberhasilannya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Perjalanan untuk menjadi gubernur DKI Jakarta boleh dikatakan relative mudah oleh pemimpin yang
berasal dari kota yang boleh dikatakan jauh dari Jakarta, atau katakanlah untuk masyarakat Jakarta, disebut dengan daerah Jawa. Ada konotasi yang sedikit mengkritisi Jawaa sebagai komunitas yang lambat. Ini juga sering terlihat pada olok-olokan pelawak. Sedangkan Jakarta adalah ibukota negara yang dalam hal ini boleh dikatakan sebagai orang-orang yang gerakannya cepat dan mampu memecahkan persoalan dengan cara yang lebih cepat pula.
Tetapi kenyataannya, Joko Widodo justru berhasil menang di daerah yang dikatakan pekerja cepat itu. Ini artinya kepercayaan masyarakat terhadap individu dan pribadi Joko Widodo memang ada, dan besar. Dan masyarakat itu adalah orang-orang yang berdiam di ibukota negara. Boleh dikatakan ia berbeda dari politisi atau kandidat lainnya. Bahwa kemudian belum tuntas menjabat gubernur Jakarta, ia kemudian dicalonkan menjadi presiden, dan menang, ini merupakan kepercayaan seluruh masyarakat Indonesia kepada Joko Widodo untuk memimpin negara. Ini merupakan campuran antara pilihan masyarakat yang “bekerja cepat” dengan orang-orang yang mungkin bukan
“bekerja cepat”, antara Jakarta dengan bukan orang Jakarta. Jadi, kepercayaan itu sudah didapatkan dari dua belah pihak. Ketika Joko Widodo belum menyelesaikan tugasnya menjadi gubernur Jakarta secara tuntas, ada kritik yang mengatakan bahwa tidak terbukti ia mampu menyelesaikan masalah Jakarta sehingga tidaka pantas dicalonkan menjadi presiden yang mengurus Indonesia. Namun demikian, masyarakat Indonesia tidak memedulikan hal ini dan kemudian membuktikan bahwa Joko Widodo kemudian terpilih menjadi presiden tahun 2014, dan kemudian untuk kedua kalinya tahun 2019.
Ketika pertama kali Joko Widodo naik sebagai presiden, bahkan sebelumnya sebagai gubernur DKI Jakarta, banyak yang mengatkan bahwa ini fenomena mengejutkan. Ada yang menyebutkan pada kalimat yang terasa kurang mengenakkan, dari mana dia datang dan jadi apa sebelumnya?
Kalau dilihat dari sisi demokrasi, dan lebih khusus lagi demokrasi di Indonesia, kemunculan Joko Widodo ini bukanlah hal yang aneh. Sama juga dengan pernyataan, mengapa demokrasi bisa diterapkan di Indonesia.
Demokrasi sebagai sebuah pilihan sistem politik di sebuah negara, merupakan upaya untuk mencari pemimpin yang paling representative menurut penduduk wilayah tersebut. Jika negara yang menjadi lokusnya, maka penduduk tersebut adalah seluruh warga yang ada di negara yang bersangkutan. Cara memilih
pemimpin seperti ini mengandung makna bahwa akan tercapai kesadaran kepada warga, bahwa sang pemimpin terpilih tersebut merupakan pilihan warga. Disini, rakyat harus sadar dengan kemenangan dan kekalahan dan menghargai hal itu. Jika memang menang, maka pilihannya itu sesuai dengan pilihan orang banyak, dan sebaliknya jika kalah harus juga paham bahwa pilihannya tidak sesuai dengan pilihan orang banyak. Kesadaran inilah yang akan memberikan kedewasaan kepada masyarakat dan tidak menimbulkan konflik. Tetapi sebelum mencapai kesadaran tersebut ada faktor lain yang harus dimiliki, yaitu tingkat pengetahuan. Lebih khusus lagi, pengetahuan tentang politik dan pengetahuan tentang calon dari pemimpin itu.
Disnilah barangkali yang menjadi kelemahan dari politik kemasyarakatan Indonesia. Politik kemasyarakat yang dimaksudkan ini adalah pemahaman warga kepada kualitas dari calon pemimpin dan tingkat melek masyarakat kepada politik. Dan itu sangat dipengaruhi oleh tingkat kebijakan publik, sampai pembuatan keputusan. Masyarakat Indonesia sangat jarang melakukan hal seperti ini. Pada tingkat pendidikan, sebagian besar warga Indonesia tamatan sekolah menengah pertama. Dari titik ini sangatlah sukar untuk melakukan upaya eksploratif kepda calon pemimpin pada tingkat manapun.
Warga tidak ada usaha untuk mendiskusikan bagaimana latar seorang calon pemimpin atau bagaimana mendiskusikan kualitas calon pemimpin yang bersangkutan. Di tingkat lebih jauh, sukar bagi masyarakat untuk mencoba mempelajari makna dari pembuatan keputusan, apalagi kualitas keputusan yang dikeluarkan oleh pemimpin bersangkutan.
Seharusnya, pengetahuan juga bisa didapatkan dari informasi. Media massa, media sosial merupakan tempat yang paling baik untuk menyebarkan informasi dan masyarakatlah yang kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan. Akan tetapi, informasi yang muncul di masyarakat, tidak dapat diharapkan menjadi pengetahuan yang baik bagi warga untuk menambah wawasan politiknya. Media cetak yang masih beredar di Indonesia tidak semuanya mampu memberikan tingkat pengetahuan politik yang bagus karena sebagian besar isinya tentang konflik yang ada. Televisi yang muncul sebagai media elektronik, hanya memberikan informasi hiburan dan inilah yang paling popular di masyarakat. Kemudian, sebagai sebuah media baru, internet juga tidak banyak dapat diakses oleh warga kebanyakan dan media
sosial lebih banyak isinya informasi politik yang saling bertentangan, saling menjelek-jelekkan atau menjatuhkan lawan.
Akibat dari semua itu, masyarakat tidak mampu menyarikannya untuk menjadi pengetahuan politik yang positif untuk menganalisis tingkat kemampuan politik dari calon pemimpin mereka, sekali lagi pada tingkat apapun. Yang muncul kemudian adalah pengetahuan politik figur, populis lokal, dan politik pengaruh (tekanan) dari elit. Politik figure dapat dijelaskan bahwa warga tidak tahu, dan tidak peduli bagaimana kemampuan dari politisi atau calon pemimpin itu, asal figurnya menjanjikan, maka mereka akan memeilihnya. Figur ini bisa dalam bentuk penampilan fisik, sikap, cara berbicara, penampilan, cara berjalan serta lelakon yang merupakan gabungan dari semua unsur tersebut. Jika kemudian semuanya dipandang sesuai dengan budaya dan kebiasaan yang berlaangsung di lintas budayanya, maka itulah yang menjadi pilihan rakyat. Padahal, figure sangat berbeda dengan kemampuan politis dari seorang politisi.
Tidak adanya pengetahuan pada warga, membuat populis lokal menjadi pertimbangan tersendiri dalam melakukan pilihan. Populis lokal ini maksudnya adalah mereka popular di wilayah tertentu, dengan akar popular apapaun juga, entah seniman, anak kiyai, orang kaya dan sebagainya. Tidak ada hubungan popularitas itu dengan kemampuan politik seseorang. Tetapi popularitas tersebut terlihat melekat dengan kesatuan diri dari warga yang memilih. Kesatuan diri itu artinya sesuai dengan pandangan masyarakat lokal, kesesuaian dengan rasa hati dan kesenangan. Cara yang lain adalah faktor pengaruh atau tekanan dari elit. Ini biasanya muncul dari politisi atau pemimpin yang mempunyai kemampuan finansial, kekuatan dan faktor budaya. Mereka memaksakan kepada warga untuk memilih kandidat dengan cara membayar, mengimingi dengan janji-janji, melakukan ancaman sampai dengan mengaitkannya dengan faktor sejarah dan budaya. Yang terakhir biasa muncul pada wilayah feodal, kekuasaan raja atau sekte keagamaan.
Joko Widodo sebagai calon pemimpin munculnya relatif mendadak.
Berawal dari mobil “Esemka” yang dibuat oleh anak-anak SMK di Solo, yang membuat dia popular di media massa. Tetapi masuknya ia menjadi walikota Solo tidak dapat dilepaskan dari (kemungkinan) kemampuan finasialnya sebagai seorang pemilik usaha furnitur. Diperkuat dari munculnya
media yang memopulerkan mobil “Esemka”, harus diakui bahwa itulah yang mendorong popularitas Joko Widodo sebagai pemimpin di Solo. Mobil
“Esemka” itu boleh dikatakan pangkap politis dari popularitas lanjutan Joko Widodo. Di tengah demikian banyaknya mobil buatan Jepang dan Eropa di Indonesia, munculnya kendaraan buatan anak-anak SMK, jelas merupakan kegembiraan tersendiri, bukan oleh masyarakat Solo semata tetapi juga masyarakat Indonesia. Apalagi kemudian itu muncul di Solo, salah satu pusat kekuasaan dan kebudayaan Jawa, yang juga menjadi pusat dari kekuasaan dan kebudayaan Indonesia.
Tulisan ini kemudian memandang bahwa munculnya “Esemka” dengan berbagai pemberitaannya yang menasional itu, mau tidak mau kemudian membawa “penampilan” Joko Widodo menuju kancah nasional. Tidak hanya media cetak tetapi media nasional juga menampilkan Joko Widodo sebagai walikota yang sukses. Bahwa dia sukses sebagai walikota juga mendapatkan ekspos, dan ini bertemali dengan kesuksesan mobil “Esemka”. Jadilah kemudian Joko Widodo sebagai public figur. Pembawaannya sederhana, njawani, halus, berbicara pelan terukur, penampilannya biasa saja, terlihat jujur, dan ditambah dengan kebiasaan untuk turun langsung ke masyarakat (blusukan), ia kemudian menjadi figur nasional. Dalam sebuah kesempatan kunjungan menuju salah satu media nasional di Bali, Joko Widodo dikatakan duduk di pojokan, meski saat itu sudah menjadi walikota. Kalau dibandingkan dengan pemimpin lain sebelumnya, tidak ada yang sesederhana itu, atau boleh dikatakan tidak ada sepolos itu. Susilo Bambang Yudoyono jelas kharismatis, tetapi jelas juga ia seorang tentara yang sukses, pernah menjabat sebagai menteri dan seterusnya. Megwati Sukarnoputri, adalah anak presiden, anak seorang proklamator, yang bagaimanapun kondisi politisnya saat Megawati muda, pasti pernah mengenyam rasa kemewahan. Gus Dur merupakan cucu pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan ia sendiri menjadi pemimpinnya. Habibie adalah seorang menteri popular dan sering kali diidentikkan dengan kecerdasan di Indonesia.
Dari kontels itu, Joko Widodo yang polos dan sederhana itu, adalah figur yang bertolak belakang dengan berbagai prerdikat dari pendahulunya.
Ia juga seorang yang biasa-biasa saja. Perpaduan inilah yang kemudian ia menjadi figur nasional dan merakyat. Pada saat yang sama, demokrasi juga
sedang berkembang pemahamannya di Indonesia. Bagi rakyat kebanyakan, demokrasi adalah hak rakyat dan berdekatan dengan rakyat. Sesederhana itu pemahaman demokrasi oleh rakyat Indonesia, meski pemahaman demokrasi tidak sesederhana itu. Mungkin pemahaman tradisional dari demokrasi itu yang “dari, oleh, dan untuk rakyat”, telah melekat pada seluruh masyarakat Indonesia dan cara paling mudah untuk menghafalkannya.
Maka, yang muncul kemudian adalah bahwa demokrasi itu adalah hak rakyat untuk memilih, dan siapapun yang melekat dihati rakyat, dialah yang dipilih. Joko Widodo kira-kira mendapatkan pilihannya dari konteks ini. Masyarakat membacanya dari orang yang polos, sederhana, sudah mampu menghasilkan “Esemka”, berhasil di Solo, suka berkunjung langsung ke bawah, blusukan menyalami rakyat dimana-mana. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya figur Joko Widodo lah yang paling dominan dalam pemilihan tersebut. Bukan berarti masyarakat tidak bisa berpolitik.
Mereka menjatuhkan pilihan itu juga merupakan politik. Tetapi harus juga dilihat bahwa jangan-jangan warga Indonesia telah berpolitik luar biasa dengan memilih tokoh yang bertolak-belakang (seperti yang diutarakan diatas) apabila dibandingkan dengan pemimpin dan presiden-presiden lain di Indonesia. Mungkin juga ini merupakan protes tersembunyi dari rakyat Indonesia dengan memilih alternatif baru yang berbeda dari presiden sebelumnya. Mungkin juga mereka protes karena memandang pemimpin sebelumnya kurang berhasil mengembangkan Indonesia.
Jadi, jika ada yang mengatakan, “dari mana datangnya Joko Widodo ini yang munculnya tiba-tiba saja?”. Uraian diatas itulah yang kemudian menjadi jawabannya.
Di masa akhir pemerintahan Presiden Soeharto dulu, ada klausa- klausa yang mengatakan “satrio piningit”. Frase ini dikaitkan dengan model pergantian kekuasaan ala Indonesia dan ala Jawa. Masyarakat dan siapapun juga tidak tahu, siapa yang akan tampil sebagai pemimpin di tanah Jawa di Indonesia. Ini disebabkan karena seorang pemimpin itu harus dipingit dulu, tidak boleh ada yang tahu. Siapa yang memingit? Tidak pernah ada jawaban tegas dari penguasa atau minimal dari intelektual pada jaman Orde Baru. Tetapi Indonesia mengenal bahwa kuasa yang paling atas itu adalah Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi. Maka, tidak bisa lain, yang memingit dari
calon pemimpin ini adalah Tuhan. Bisa jadi, masyarakat Indonesia yang kebanyakan bertani, nelayan dan berkebun ini, sangat memercayai hal itu.
Hasil pertanian, perkebunan dan nelayan, sangat tergantung dari alam. Para pelakunya (petani dan nelayan itu) tidak mampu mengubah takdir jika tiba- tiba hujan mengguyur tanaman atau hasil tangkapan ikan menjadi terganggu.
Dan akhirnya berserah kepada Tuhan tentang rejeki yang didapatkan.
Satrio Piningit yang sempat berkumandang pada jaman Orde Baru itu pun, kalau dijelaskan secara politik, sangat terkait dengan budaya dan upaya menciptakan stabilitas nasional. Gaya kepemimpinan Presiden Soeharto adalah menjaga stabilitas nasional. Pembentukan ASEAN di awal pemerintahnnya, ada unsur pemeliharaan stabilitas nasional, juga pengangkatan pimpinan (daerah) yang berasal dari TNI. Karena itu, apabila kemudian ada upaya- upaya untuk mengungkat ungkin pimpinan di tengah berkuasanya Orde Baru, maka strategi politik yang dipakai adalah meminjam mitos sebagai pemenuhan tujuan, yaitu stabilitas nasional. Dan mitosnya adalah “satrio piningit” itu. Banyak stabilitas dan ketundukan rakyat berhasil diciptakan melalui mitologi. Salah satu yang paling terkenal adalah Ratu Pantai Selatan sebagai penguasa laut. Padahal mungkin saja itu diciptakan agar masyarakat hati-hati dalam beraktifitas di pantai selatan karena mempunyai ombak besar dan masyarakat kita, kurang memahami pengetahun soal gelombang pasang tersebut. Di Bali ada ungkapan “samar” atau “orang cantik” sebagai penguasa lubuk sungai. Tentu saja maksudnya agar masyarakat hati-hati jika mandi di lubuk yang memang dalamnya melebihi tinggi manusia. Semuanya tujuannya adalah ketertiban sosial dan kepatuhan sosial.
Dengan demikian, munculnya mitologi bahwa pemimpin itu sedang dipingit, merupakan upaya untuk menertibkan masyarakat agar tidak terlalu mempersoalkan siapa yang akan menjadi pengganti Soeharto. Atau tidak menggangu Soeharto pada masa sedang memangku jabatan. Cara kultural seperti ini mengalami kecocokan juga untuk meredam isu tentang kroni- kroni dan nepotisme yang dilakukan penguasa Orde Baru pada saat itu.
Bahwa kemudian Soeharto berkuasa selama 32 tahun, itu boleh dikatakan bahwa mitologi memegang peran penting untuk menjaga stabilitas.
Bagaimana dengan kemunculan Joko Widodo? Seperti yang disebutkan diatas, bahwa munculnya Joko Widodo ke panggung politik nasional itu,
terkesan tiba-tiba. Bukan pemimpin yang dipersiapkan sejak awal atau malah juga pemimpin yang mempunyai pengalaman di pemerintahan sebelumnya.
Disini, boleh dikatakan mitos satrio piningit itu, masuk pada kalangan rakyat kecil. Paling tidak ada kemungkinan seperti itu. Kemunculan Joko Widodo sebagai pemimpin nasional ibarat satrio piningit yang sebelumnya memang tidak dikenal, bahkan pada waktu kuliah pun tidak dikenal. Saat ia kuliah di Universitas Gadjah Mada, pada Fakultas Kehutanan, Amin Rais sudah menjadi dosen dan sudah terkenal sebagai ilmuwan yang kritis. Juga Susilo Bambang Yudoyono sudah mulai kelihatan panggungnya di kancah politik nasional. Tidak pula Joko Widodo dikenal sebagai mahasiswa demostran dan kemudian menjadi tokoh reformasi. Bahkan pada saat reformasi pun masih belum kelihatan sosoknya sebagai politisi. Karena itulah, bisa jadi para pemilih ini menjatuhkan pilihanya, bukan sekedar karena figurnya yang polos dan jujur itu, tetapi juga karena percaya akan adanya mitos itu, bahwa ia merupakan jelmaan strio pingitan.
Di Jawa, mitos sebagai upaya menstabilkan masyarakat pernah juga terjadi saat Kedung Ombo diresmikan sebagai waduk. Pemindahan sekian penduduk dari belasan desa, menimbulkan geger di wilayah itu. Tetapi ada mitos yang mengatakan bahwa jika ikan dapat memakan bunga kelapa, maka itu menjadi cirri masyarakat akan menjadi makmur. Dibangunnya waduk tersebut membuat banyak tegalan dan kebun kelapa yang tenggelam sehingga memungkinkan ikan memakan bunga kelapa. Waduk Kedung Ombo pun kemudian dibangun dan dibuka, dan banyak masyarakat dipindahkan sampai juga ada yang ditransmigrasikan. Secara perlahan konflik Kedung Ombo ini pada decade delapanpuluhan mulai berhenti.
Jadi, pertanyaan tentang dari mana Joko Widodo dan apa kemampuan sebelumnya itu, mendapat jawaban pada kultural, dan mitologi. Tidak bisa kita menjawab bagaimana munculnya dia karena masyarakat melihatnya dari figur. Ini masuk dalam ranah budaya Indonesia yang sulit dihilangkan. Bukan tidak mungkin pula itu merupakan bagian dari mitologi yang dipercaya oleh rakyat, bahwa ia masuk dalam katagori satrio piningit. Disini, tidak perlu mempertanyakan latar belakang politis, keluarga maupun silsilah dari pemimpin ini.
Dibawa menuju ranah demokrasi, munculnya Joko Widodo sebagai
presiden, inilah jawaban demokrasi di Indonesia. Para penentang dan pengkritisinya tidak dapat berbuat banyak karena kenyataanya ia telah terpilih lagi sebagai presiden untuk jabatan periode kedua tahun 2019-2024.
Demokrasi di Indonesia dengan demikian, harus dikaitkan denga budaya dan kepercayaan yang ada di negara ini. Pengetahuan dan juga intelektualitas yang menjadi prasyarat demokrasi Barat, tidak cocok dengan Indonesia. Demokrasi sesungguhnya berbahaya jika tidak berlandaskan pada intelektualitas dan pengetahuan. Tetapi itu kiranya tidak berlaku di Indonesia. Dalam kancah sosial ada teori kesan yang dapat mendukung demokrasi. Jika kesan itu sudah melekat, maka orang akan percaya. Disitulah kemudian demokrasi Indonesia itu bekerja. Tetapi jangan lupa, bahwa pengalaman akan membuat orang mampu dan dapat menyesuaikan diri. Apa yang terlihat tahun 2019, kiranya membuktikan hal itu. Joko Widodo kembali memenangkan persaingannya dengan Prabowo Subianto dalam memperebutkan kursi presiden. Joko Widodo terasa lebih dekat dengan masyarakat, dan karena itulah kemudian orang memilihnya. Demokrasi di Indonesia sebagian juga harus dilihat dari sisi ini.
Ada fenomena lain pada tahun 2019 ini yang juga mendekati ciri dari demokrasi Indonesia itu. Sebagian besar anggota masyarakat tidak menduga jika Prabowo Subianto akan masuk menjadi anggota kabinet Indonesia dibawah kepemimpinan Joko Widodo. Dasar pertimbangannya terletak pada kompetisi sengit dari keduanya dan kedua kubu. Dalam setiap kompetisi, apalagi yang sengit, sangat sulit untuk menggabungkan kedua pihak untuk melakukan kerjasama. Ada cukup alasan untuk mengatakan persaingan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto itu berlangsung sengit. Dari sisi kontestasi saja, mereka dua kali beradu kekuatan politik, yaitu tahun 2014 dan 2019. Prabowo kalah dalam dua kompetisi tersebut. Tahun 2014, kekalahan itu berujung pada Mahkamah Konstitusi dan Jokowi lah yang kemudian jadi presiden. Tahun 2019, konflik berbentuk kekerasan terjadi di Jakarta ketika KPU mengumumkan kemenangan Joko Widodo. Ini saja sudah memperlihatkan bagaimana sengitnya kompetisi mereka berdua. Belum lagi apabila dilihat dari persaingan di tingkat akar rumput berikut pernyataan- pernyataan yang dikeluarkan.
Tetapi, politik Indonesia itu berbeda. Pada kenyataannya Prabowo
Subianto masuk ke dalam jajaran anggota kabinet pemerintahan Joko Widodo dengan menjabat sebagai menteri pertahanan. Mungkin sebagian orang geleng-geleng kepala, sebagian lagi tertawa dan sebagian biasa-biasa saja. Politik adalah upaya untuk mencapai tujuan. Politik juga merupakan seni untuk mencapai tujuan. Ada juga yang menyebutkan politik tersebut merupakan akomodasi. Tetapi politik jungkir balik juga menjadi salah satu bagian dari pemahaman, sepanjang jabatan pemerintahan dapat dipegang.
Itulah barangkali yang dilakukan oleh Prabowo Subianto dan itu juga yang dilakukan Joko Widodo untuk mengakomodasi tuntutan yang ada.
Tetapi jangan dilupakan, sebagai manusia yang mempunyai naluri dan rasa, psikologi politik juga megenal adanya pembiasaan terhadap berbagai tekanan-tekanan yang ada. Selama lima tahun menjalankan kekuasaan di Indonesia, dan terutama dengan kejadian tahun 2014, itu merupakan pengalaman tersendiri bagi Joko Widodo. Ditekan dalam bentuk hujatan, dilecehkan dan dikritisi manakala berkuasa, barangkali merupakan bagian tidak terpisahkan dari dunia politik. Akan tetapi sebagai orang “baru”
berkecimpung di politik dan boleh dikatakan melesat menjadi presiden, tekanan-tekanan tersebut ternyata memberikan pembiasaan bagi Joko Widodo.
Secara real, ia kemudian biasa menghadapi berbagai hujata tersebut dan kemudian benar-benar memandangnya sebagai hal yang biasa saja. Dengan pandangan seperti itu, ia menjalankan tugas pemerintahan juga menjadi enteng dan tidak merasa terlalu diberati. Maka yang harus diperhatikan disini adalah fenomena tekanan itu pada diri Joko Widodo, justru menjadi simpati pada masyarakat. Simpati adalah power politik yang tidak dapat dipandang enteng.
Megawati Soekarnoputri adalah simbol politisi tertekan di jaman Soeharto dan kemudian mendapat simpati dari masyarakat. Demikian juga dengan PDI (Perjuangan). Joko Widodo sebagai calon presiden mendapat simpati itu dari masyarakat, dan PDI Perjuangan sebagai kendaraan politik yang dipakainya, juga mendapatkan hal yang sama karena faktor sejarah.
Dengan demikian, boleh dikatakan rasa percaya diri Joko Widodo sebagai presiden untuk periode yang kedua, jauh meningkat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Disamping sudah kebal dengan berbagai tekanan, charisma diri dan kemudian juga faktor simpati dengan uraian yang disebutkan tadi, menjadi pendorong dirinya untuk tampil percaya diri. Ini
misalnya terlihat manakala di depan para pimpinan daerah, dengan penuh percaya diri agar para aparatur daerah tidak banyak-banyak lagi membuat perda. Dia juga mengatakan tahu “isi” jika harus membuat perda tersebut.
Di tengah kepercayaan diri itulah kemudian dapat dilihat latar dari politik konsolidasi yang diterapkannya. Konsolidari adalah upaya untuk menstabilkan diri, dalam hal ini politik, setelah sebelumnya terjadi guncangan- guncangan. Seluruh rakyat Indonesia tahu dan memahami apa guncaangan tersebut. Dari sisi keaktoran, guncangan bisa jadi disebabkan oleh simbol yang terusik atau tujuan yang terancam. Maka, Prabowo Subianto boleh dikatakan sebagai seorang sosok yang mempunyai pengikut. Joko Widodo mendekati ini dan kemudian berhasil. Bergabungnya Prabowo Subianto ke dalam jajaran kabinet pimpinan Joko Widodo adalah sebuah keberhasilan Joko Widodo, betatapun itu dikritik dari kedua sisinya. Tetapi secara nasional, ini merupakan konsolidasi untuk memperbaiki kondisi politik tanah air yang diharapkan menjadi salah satu tonggak untuk stabilitas ke depan bagi bangsa dan negara. Mungkin tindak tanduk tokoh Partai Nasdem yang berpelukan kepada tokoh PKS merupakan salah satu bentuk kekecewaan. Tetapi toh Surya Paloh mengatakan tetap setia kepada Joko Widodo, juga kepada Megawati Sukarnoputri.
Tetapi apabila dilihat dari sisi kedemokrasian “ala” Indonesia, justru langkah-langkah dari Joko Widodo tersebut memperlihatkan sumbangan penegasan baru kepada pemikiran sosiologi politik di Indonesia, bahwa Indonesia bukanlah Barat, demokrasi Indonesia bukanlah pengembangan demokrasi Yunani tetapi merupakan demokrasi “mandiri” yang basisnya gotong-royong. Ketersediaan atau ditariknya Prabowo Subianto masuk ke dalam kabinet dan pada sisi lain kesediaan Prabowo Subianto untuk masuk jajaran itu, menandakan ada sikap kegotongroyongan dalam membangun sebuah lembaga, sebuah tatanan kenegaraan. Gotong-royong tidak melihat musuh, atau di dalam tradisi gotong-royong, musuhpun bersedia untuk melakukan kerja bersama untuk membangun komunitas. Pesan yang paling jelas disini adalah bahwa tidak boleh memaksakan demokrasi ala Barat karena Indoenesia telah mempunyai jiwa demokrasi sendiri, yaitu demokrasi yang didasari oleh gotong-royong. Demokrasi seperti ini tidak mengenal kekerasan. Penyimpangan demokrasi gotong-royong di Indonesia, semisal
memaksakan masuknya demokrasi Barat, akan menimbulkan kekerasan. Dan kekerasan adalah bencana bagi masyarakat Indoensia.
Buku yang sederhana ini, memuat tentang langkah-langkah Joko Widodo pada awal menjabat sebagai presiden, sampai akhir masa jabatannya. Tulisan yang dimuat sebagian besar di Harian Balipost ini, dapat menggambarkan bagaimana secara gradual, bahwa sesungguhnya Joko Widodo mempraktikkan demokrasi “ala” Indonesia dengan pikiran-pikiran yang berlandaskan gotong- royong tersebut.****
PENDAHULUAN iii 1
KABINET DENGAN SEGALA
WARNA-WARNINYA 1 2 KRITIK DAN POPULARITAS
MULAI TERUSIK 35
3
KEBIJAKAN POPULIS 71
4
KEKUATAN SEMAKIN
BULAT DAN SOLID 98
5
CATATAN AKHIR:
DEMOKRASI
“ALA” INDONESIA 129
DAFTAR ISI
KABINET 1
DENGAN SEGALA
WARNA-WARNINYA
P
ADA bagian ini, yang menjadi sorotan Joko Widodo sebagai presiden adalah pemilihan anggota kabinet. Praktik politik di Indonesia selalu menyembunyikan status sosial sebagai bagian penampilan dari politik. Maka, di dalam proses tersebut, anggota kabinet menjadi bagian penting untuk dilihat. Adalah benar apabila personal kabinet akan menentukan bagaimana jalannya pemerintahan suatu negara kelak karena pada kabinetlah terjemahan dari kebijakan presiden.Sebagai presiden, bahkan dengan penagalaman yang boleh dikatakan melompat, sorotan masyarakat dan juga elit kepada Joko Widodo adalah siapa yang menjadi anggota kabinetnya. Ada yang menginginkan agar nama- nama itu dimunculakn saja ke permukaan, biar sedikit terkuat siapa yang akan menduduki jabatan tersebut. Untuk hal ini Joko Widodo menolaknya. Bahwa presiden baru Indonesia berani mengungkap penolakan, ini merupakan sebuah “keberanian” awal darinya.
Apabila dicermati, sesungguhnya jabatan menteri merupakan jabatan politik, yang belum tentu mampu secara profesional menerjemahkan kebijakan presiden. Karena itu, demikian banyaknya tuntutan pada tahun 2014 agar presiden mempercepat pengumuman, kiranya ada faktor tersembunyi di dalamnya. Artinya pada tingkat elit, hal ini akan menjadi sebuah pengakuan status akan dirinya, entah sebagai politisi atau sebagai profesional. Di tengah persaingan elit, ststus sosial juga penting karena menambatkan eksistensi diri.
Bahwa ternyata perjalanan kehidupan sosialnya lebih “unggul” dibanding yang lain (sesama elit). Ada keunggulan tersendiri.
Pada tingkat sosial-nasional, hal ini juga menyembunyikan sesuatu, yang bukan tidak mungkin juga status. Masyarakat Indonesia merupakan kumpulan dari etnik dan berbagai sub yang mengikutinya. Disamping itu juga ada berbagai pulau yang membentuk Indonesia. Maka, keterpilihan menteri akan dapat juga mengangkat ststus sosial atau keterwakilan dari masyarakat itu pada kancah nasional. Yang ini memang menjadi penting dalam sosiologi dan antropologi politik di Indonesia.***
MENGHARGAI PRESIDEN MEMILIH ANGGOTA KABINET
KRITIK awal kepada pemerintahan Presien Joko Widodo (Jokowi) adalah kelambatannya dalam menyusun dan memilih anggota kabinet.
Seperti biasa, para pengritik ini kebanyakan dari mereka yang sebelumnya berseberangan dari pemikiran dan ide-ide praksis politik Jokowi. Apabila dibandingkan dengan presiden sebelumnya, kelambatan menyusun kabinet sampai sekitar 3 x 24 jam setelah pelantikan, memang termasuk lama. Akan tetapi, normanya presiden memang dibolehkan melakukan penyusunan (dan perenungan) kabinet itu sampai dengan waktu dua minggu. Dengan demikian, sesungguhnya tidak apa-apa apabila presiden memakai rentang waktu tersebut memilih calon menteri yang akan mendampinginya memerintah. Jokowi pun tahu persoalan ini. Terlihat misalnya dari “kecamannya” kepada pers yang memuat terlebih dahulu nama-nama menteri dan kemudian ternyata itu salah.
Kurang lebih Jokowi menggarisbawahi bahwa tidaklah etis menyebutkan nama-nama demikian kepada umum karena hal itu menyangkut nama dan prestise perseorangan. Etika menjadi perhatian dari presiden Indonesia.
“Hardikan” Jokowi kepada pers itu kelihatan kecil, tetapi mempunyai makna tersembunyi yang penting bagi masyarakat. Inti dari pesan itu adalah etika dan saling penghargaan kepada manusia dan kemanusiaan. Etika merupakan persoalan sosial mendasar bagi bangsa Indonesia saat ini, di kala menghadapi berbagai tantangan jaman. Dalam konteks hubungan sosial, etika itu ada pada ranah penghargaan dan pengakuan kepada pihak lain, termasuk lingkungan. Karena masuk ke dalam ranah penghargaan maka etika itu menjadi faktor menentukan bagaimana kehidupan sosial itu berlangung. Pada intinya, hubungan sosial akan bisa berjalan mulus, dan stabilitas terjamin kalau ada saling penghargaan tersebut. Landasan dasarnya adalah pengetahuan.
Masalah yang kemudian menjadi ganjalan di Indonesia, sejujurnya boleh dikatakan justru orang-orang yang memiliki pengetahuan itulah yang tidak mampu memberikan penghargaan kepada pihak lain. Malah, mereka yang mempunyai pengetahuan tingkat tinggi, tidak mampu memberikan
penghargaan dan menjadi pelanggar etika bagi masyarakat. Dalam bidang politik, secara mudah bisa diambil contoh itu. Reformasi tahun 1998 jika dicari dari konteks inipun sesungguhnya bisa terlihat bagaiamana kurangnya perhargaan yang bisa disumbangkan kepada masyarakat. Ketika reformasi sedang ada di puncak-puncaknya, mahasiswa sampai menaiki gedung MPR/
DPR tanpa tahu kalau kekuatan gedung itu terbatas. Pantas apabila kemudian ada peringatan dari arsitek pembangun gedung tersebut. Yang juga kurang diketahui adalah penghargaan terhadap masa depan politik. Pada reformasi tahun 1998, kelihatan bagaimana prediksi budaya politik Indonesia tidak dipahami secara bagus oleh para tokoh-tokoh reformasi itu sehingga ketika sekarang dinilai menyimpang, tiba-tiba muncul pertentangan dengan berbagai varian seperti memilih presiden lewat MPR, kembali ke UUD 45, atau pemilihan bupati lewat DPRD. Mereka tidak mau menghargai budaya politik Indonesia yang menyukai ketenangan dan kesederhanaan pada sosok. Semuanya ini mempunyai kaitan dengan tidak adanya penghargaan- penghargaan tersebut sehingga etika dilanggar. Dan itu justru dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pengetahuan banyak. Sudah jelas juga apabila dilihat bagaimana dengan penembakan yang terjadi di Jembatan Semanggi tahun 1998, penculikan tokoh-tokoh dan sebagainya. Ini semuanya merupakan pelanggaran etika.
Pada bidang sosial yang lain, korupsi jelas merupakan wujud dari ketidakadaan penghargaan kepada usaha, kepada kerja keras, prestasi atau kepada karya. Justru ketidakadaan penghargaan kepada hal-hal inilah yang membuat negara menjadi bangkrut di segala bidang, mulai dari PSSI U-19 yang gagal, Asian Games 2014 yang terpuruk sampai dengan begitu banyaknya penganguran di Indonesia. Banyaknya anak muda yang sok tahu memakai ponsel sambil berkendara, juga tidak lepas dari rendahnya kesadaran dan etika berperilaku tersebut.
Dalam kerangka “gaduh” menjelang pengumuman kbinet ini, sesungguhnya juga kita lihat tidak adanya penghargaan kepada waktu, hak dan norma presiden untuk menyusun kabinet secara baik (menurut pandangan Jokowi). Cukup banyak komentar yang muncul mengecam dan tidak sabar dengan cara Jokowi melakukan pilihan kepada menteri. Dan itu jutsru dilakukan oleh mereka-mereka yang mempunyai level pengetahuan
tinggi. Padahal, yang paling nyata bahwa presiden mempunyai kesempatan selama dua minggu untuk menyusun kabinetnya. Fakta inilah yang mestinya dilihat oleh para pengecam tersebut untuk memelihara situasi sosial yang sudah mendukung ketertiban dan kenyamanan (kondusif) setelah kehadiran Prabowo di Gedung MPR saat pelantikan Jokowi.
Ada dua hal yang mesti dipertimbangkan manakala melihat penyusunan anggota kabinet ini agar bisa memberi penghargaan kepada Presiden. Yang pertama, diskusi yang dilakukan kepada KPK jelas diperlukan dan merupakan penghargaan kepada lembaga tersebut untuk ikut serta memberikan sumbangan terbaik kepada negara ini untuk mendapatkan orang-orang terbaik, tidak korup dan berintegritas tinggi. Bagi Jokowi hak prerogatifnya jelas masih melekat karena KPK hanya memberikan semacam nasihat kepada para calon menteri tersebut. Warna merah dan kuning itu hanyalah rambu bagi Jokowi untuk pemilihannya. Jadi keberadaan KPK justru menambah positifnya hasil pemilihan.
Kedua, tantangan ke depan sangat besar bagi Indonesia yang sekarang berada dalam sorotan dari berbagai pihak. Di kalangan internal sendiri (dalam negeri) kekhawatiran muncul karena rivalitas antara eksekutif dan legislative, masih belum surut benar. Di kalangan luar negeri, para investor masih menunggu-nunggu bagaimana wajah pemerintahan Jokowi ke depan.
Apalagi kemudian beberapa menterii di jaman Susilo Bambang Yudoyono telah masuk kedalam hitungan koruptor. Maka pantaslah kemudian dengan pertimbangan tersebut, pemilihan menteri ini menjadai agak lama demi mendapatkan orang-orang yang tepat. Jadi, memang semuanya logis. Harus sabar menanti agar jalannya negara bisa berjalan lebih baik. ****
Ditulis, 23 Oktober 2014.
JALAN TENGAH AGAR SEMUANYA BERLANGSUNG LANCAR
ADA yang memang harus berbeda dalam pemilihan anggota kabinet Indonesia di masa pemerintahan Jokowi. Kondisi politik, tantangan ekonomi sampai tantangan masa depan Indonesia menjadi pertimbangan paling penting. Kita harus maklum dan mampu memahami mengapa pemilihan anggota kabinet ini terasa agak lama dibanding dengan presiden terdahulu.
Seperti yang kita ketahui, iklim politik Indonesia sekarang boleh dikatakan masih belum menentu. Disaat kelihatan sudah mencairnya hubungan antara dua pihak yang bersaing dalam pemilihan presiden, lembaga legislatif dan eksekutif masih terkesan bersaing. Karena itulah, sebagai jabatan politik yang telah mengkhusus untuk menangani bidang tertentu, seorang menteri harus memiliki kecakapan lebih. Ia tidak hanya tahu tentang kebijaksanaan tetapi juga politik, lebih khusus lagi mampu berkomunikasi dengan lembaga- lembaga legislative yang sudah pasti menantangnya nanti saat memberikan keterangan di depan DPR. Jelas seorang menteri juga mesti cerdas dan professional.
Secara ekonomi, Indonesia masih terpuruk, mudah digoyang oleh iklim ekonomi asing. Padahal alam Indonesia sebenarnya mempunyai sumber daya banyak yang kalau diolah dapat menghasilkan pendapatan berlipat.
Pendapatan ini juga mampu menghidupkan perekonomian Indonesia.
Disamping itu, perekonomian Indonesia juga diganggu oleh adanya kasus korupsi oleh berbagai pejabat. Maka, keterlibatan KPK dalam memilih menteri, kita nilai wajar dalam hal ini. Tetapi lembaga ini jelas hanya boleh memberikan rekomendasi saja atau memberikan tanda-tanda tentang rekam jejak dari calon menteri. Semuanya haruslah presiden yang memilih sesuai dengan hak prerogative yang dimiliki.
Demikian juga masa depan Indonesia benar-benar memerlukan pandangan yang pasti. Diperlukan ahli dan cendekiawan yang mampu meneropong apa yang menjadi masa depan negara kita, dari segala sisi. Tidak lain, bukan sekedar untuk menghadapi tantangan globalisasi tetapi juga
memberikan solusi terhadap berbagai tantangan tersebut.
Dalam konteks dan proses itulah maka kita pandang, wajar kiranya presiden menimang-nimang berbagai masukan untuk memilih orang yang tepat, masuk akal dan siap menghadapi segala resiko tugas ke depan.
Sesungguhnya hal ini pasti telah juga dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya, juga oleh pemimpin pemerintahan di negara lain. Tetapi dalam hal Presiden Jokowi, kita tangkap ada nuansa lain. Nuansa itu adalah harapan masyarakat yang terlalu besar untuk keberhasilan kinerja presiden bersama dengan pendampingnya. Sesungguhnya tidak salah juga apabila harapan demikian besar. Masyarakat Indonesia telah merasakan kelebihan di negaranya tetapi tidak mampu menjadi diri sendiri di dalam negaranya. Inilah barangkali yang membuat rasa menasaran rakyat itu tinggi.
Maka, baiknya kita harus mencari jalan tengah itu. Di satu sisi kita berikan kesempatan kepada presiden untuk memilih sendiri para menteri yang menjadi pendampingnya. Dan pada pihak lain, presidenpun harus melakukan tugas yang baik agar memilih orang-orang yang pantas dan dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Kita berharap di masa inilah Indonesia akan mampu memperlihatkan jati dirinya sebagai negara yang besar, melebihi dari negara-negara lain dan membuktikan kehebatan masa lalunya. Marilah kita dukung pemerintahan ini agar mereka mampu bekerja demi nusa dan bangsa.****
Ditulis, 23 Oktober 2014.
MENTERI YANG MAMPU BEKERJA KERAS TANPA PAMRIH
SETELAH enam hari dilantik menjadi Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengumumkan susunan anggota kabinet. Dan dalam beberapa wacana disebutkan kalau Senin ini kabinet itu akan langsung bekerja setelah dilantik. Tentu saja kita paham bahwa pelantikan merupakan titik tolak untuk memulai pekerjaan. Akan tetapi dalam hal Presiden Jokowi, para anggota kabinet ini harus mengerti sendiri bagaimana cara mereka bekerja. Presiden telah merancang metode tugas dengan konsep wacana bekerja, bekerja dan bekerja. Kita sepakat hanya dengan cara itulah Indonesia mampu melaksanakan cita-citanya untuk mencapai negara sejahtera. Yang kemudian ditunggu oleh masyarakat Indonesia, bagaimana masing-masing menteri dan kementeriannya menterjemahkan wacana prinsip kerja, kerja dan kerja tersebut. Diperlukan kejelasan dan transparansi bagi menteri untuk melaksanakan kerja itu. Transparansi diperlukan agar masyarakat dapat menilai bagaimana kinerja mereka.
Seperti yang telah berkali-kali diungkap, antara kecaman dengan dukungan kepada Presiden Jokowi mempunyai komposisi yang hampir seimbang. Tidak hanya saat ia dicalonkan menjadi presiden, juga ketika sedang berkampanye bahkan ketika sedang menyusun kabinetnya ini.
Orang-orang membandingkan dengan masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudoyono yang begitu cepat dalam mengumumkan anggota kabinet. Jokowi dinilai lambat karena sampai sekian hari belum juga tuntas. Padahal wacana soal menteri ini, yang didukung oleh berdirinya tim transisi, telah jauh berkumandang sebelum dilantik menjadi presiden. Kerja tim transisi konon tidak hanya memformulasikan model kerja Presiden Jokowi kelak, tetapi juga membantu menyeleksi menteri. Jika memang benar demikian, maka wajarlah kemudian orang bertanya, ada apa sesungguhnya dengan pemilihan menteri ini. Mengapa waktu begitu lama diperlukan. Atau adakah negosiasi dan konflik dikalangan pendukung sendiri, atau justru ini menandakan seteru Jokowi saat pemilihan presiden melunak dan bersedia ikut dalam jajaran
kabinet. Semuanya memang tidak mampu dijawab dengan baik.
Pada sisi lain, terhadap kelambatan itu tetap ada dukungan bahwa toh juga undang-undang membolehkan presiden memanfaatkan waktu 14 hari setelah pelantikannya untuk memilih anggota kabinet. Maka waktu yang melebihi dibandingkan dengan presiden pendahulunya, tentu sah-sah saja.
Disini yang ditekankan adalah melakukan pemilihan yang terbaik untuk masyarakat. Seperti yang kita tahu, syarat menjadi menteri di Indonesia, oleh rakyat dituntut sangat ideal. Tidak boleh korupsi, tidak boleh melanggar HAM, sederhana dan mau dekat dengan rakyat. Inilah syarat yang keluar dari masyarakat. Maka, lamanya presiden menggodog calon menteri kemungkinan besar bersumber dari sulitnya memilih orang-orang yang sesuai dengan syarat tersebut.
Ketika sekarang menteri telah terpilih, kita harapkan masyarakat mengerti dengan kondisi sosial tersebut. Mungkin memilih sampai seratus persen sesuai dengan kehendak rakyat, merupakan sesuatu yang mustahil.
Kita harus sadar, pada bidang kehidupan apapun, tidak akan mungkin dapat memenuhi criteria seratus persen. Selalu ada kelamahannya. Jadi, kalau ada ketidakpuasan terhadap keterpilihan persinil dalam kabinet ini, harus dimaklimii sebagai sebuah kewajaran dalam kehidupan manusia. Kita akan memakai cara dan sarana lain untuk menyadarkan para menteri yang mungkin kelak melakukan tindakan keliru.
Para menteri terpilih juga haruslah merasa sangat terhormat karena mendapat kepercayaan yang hampir sesuai dengan kehendak rakyat. Maka, bekerjalah dengan keras, hindari praktik-praktik yang dikecam masyarakat seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Tidak melanggar HAM dan tidak banyak berbicara. Kerjalah yang diuyamakan. ****
Ditulis, 26 Oktober 2014.
MEMBERIKAN KESEMPATAN KABINET UNTUK BEKERJA, BEKERJA DAN BEKERJA
PEMBENTUKAN Kabinet Kerja, seperti yang dinamakan oleh Jokowi, memerlukan waktu enam hari untuk menyelesaikannya. Ini merupakan peristiwa berbeda dibanding dengan pemilihan personil kabinet presiden- presiden sebelumnya. Tetapi presiden mempunyai alasan mengambil waktu lebih dari satu hari untuk mengumumkan. Apabila dilihat bahwa pembicaraan pemilihan menteri telah jauh-jauh hari diutarakan, dengan terbentuknya Tim Transisi, maka dapat dikatakan bahwa pemilihan menteri itu sangat mungkin lebih dari dua minggu. Ketika kemudian presiden mengumumkan nama- namanya tanggal 26 Oktober 2014 yang lalu, ada pihak terkejut tetapi juga ada yang memahami personil yang muncul. Ada beberapa dipandang tidak mempunyai kapasitas pengalaman dan intelektual untuk jabatan menteri.
Bahkan menyoroti tentang kredibilitas diri yang konon pernah melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Beberapa malah pernah disebutkan berurusan dengan KPK. Padahal, Jokowi telah melakukan konsultasi dengan KPK dan PPATK sebelum membuat keputusan memilih menteri, sesuai dengan hak yang dimiliknya sebagai presiden.
Ada beberapa persoalan dasar mesti dilihat manakala melihat dan menilai hasil kerja nasional, tidak hanya dalam pemilihan menteri. Dalam konteks pemilihan menteri, tantangaan besar yang dilakukan oleh pemimpin cukup banyak. Yang pertama adalah representasi nasional. Mau tidak mau, dengan memperhatikan soal representasi nasional ini, kualitas intelektual, keterampilan dan professional harus dikompromikan. Menteri di Indonesia harus mereprestasikan budaya, etnik, agama, pemeluk agama dan sebagainya.
Dengan tuntutan seperti ini, pemilihan seorang menteri harus melihat pada keterwakilan mereka disamping keahlian yang dimiliki. Disini ia mesti dipandang sebagai sebuah representasi, keterwakilan yang kemudian dapat diarahkan menjadi dua bagian. Seorang calon menteri yang benar-benar matang, profesional dan intelek, harus mengalah tidak mendapatkan tempat apabila keterwakilan mereka lemah. Ia harus memberikan kesempatan tersebut
kepada calon yang memang merepresentasikan keindonesiaan. Pada sistem politik kontemporer Indonesia, keterwakilan itu harus juga dikompromikan dengan politik dan partai politik. Selanjutnya, ada banyak calon menteri yang matang dan professional, akibat tidak mempunyai representasi etnik, agama, politik dan sebagainya sebagian tidak muncul di permukaan sebagai menteri, tetapi difungsikan sebagai dirjen, staf ahli atau staf khusus lainnya.
Karena itu, masyarakat seharusnya memahami konteks keindonesiaan ini dari sisi keragaman dan politiknya sehingga dapat menerima jajaran anggota kabinet seperti yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo.
Lamanya pemilihan anggota kabinet itu sesungguhnya dapat dipahami dari logika kebhinekaan dan realitas politik kontemporer. Menteri sebagai petugas negara, dengan demikian, memang benar seorang petugas politik. Kinerja menteri akan sangat ditentukan oleh bawahan yang membantunya. Inilah yang harus lebih professional, lebih matang dan tahu arah perkembangan jaman yang cocok untuk Indonesia. Dari situlah kemudian muncul pembenaran bahwa tidak perlu seorang menteri itu membawahi departemen sesuai dengan
“nomenklatur” ijazah perguruan tinggi atau ijazah sekolah menengahnya.
Menteri harus mau belajar, mengerti keahlian bawahan, dan meyerapnya ke dalam pembuatan keputusan.
Dengan telah disumpah dan dimulainya sidang Kabinet Kerja Senin yang lewat, maka paling tidak Joko Widodo sebagai presiden telah membuktikan kata-katanya untuk segera “mempekerjakan pembantunya”
itu untuk membangun Indonesia sesuai dengan missi yang ditetapkan untuk mencapai visi negara, setidaknya tahun 2045.
Dalam model pencapain sekarang, secara internasional condong dipakai skala kuantitatif untuk mengukur keberhasilan seorang presiden.
Satuan waktu yang dipakai biasanya tiga bulan (100 hari). Akan tetapi, skala demikian biasanya dilakukan oleh negara-negara maju yang telah mempunyai perangkat jelas. Sesungguhnya model kuantitatif ini, di negara maju tidak hanya dilakukan untuk mengukur keberhasilan kinerja pemerintahan, tetapi juga sektor lain seperti perguruan tinggi, perusahan, kekayaan korporat dan sebagainya. Tetapi untuk mengetahui itu harus mempuyai perangkat indikator yang jelas. Amerika Serikat, Inggris atau Perancis mempunyai skala untuk melihat seberapa banyak pengangguran yang terserap selama tiga bulan
pertama pemerintahannya bekerja. Didukung oleh manajemen yang handal, penyerapan tenaga kerja itu akan dipakai memprediksi perkembangan ekonomi pada tiga bulan berikutnya, untuk kemudian membangun perkiraan terhadap sektor kesehatan keluarga pada tiga bulan berikut. Dengan demikian ukuran keberhasilan itu “diimplankan” dengan segala indikator dengan alat-alat yang jelas agar tidak menimbulkan berbagai kontraversi di masyarakat. Sebab kontraversi ini justru akan berpotensi memperlambat kinerja pemerintah.
Di Indonesia, ukuran-ukuran yang bersifat kuantitatif demikian sebaiknya tidak terlalu dipaksakan untuk mengukur keberhasilan pemerintahan presiden baru. Atau disamping indikator kuantitatif itu, juga mesti dipakai pendekatan kualitatif. Inti dari pendekatan kualitatif ini adalah merasakan dalam kehidupan sehari-hari, menghubungkan dengan stabilitas politik dan stabilitas sosial dan kemungkinan harapan di masa depan. Dengan cara pandang seperti ini maka keberhasilan pemerintahan baru untuk mencairkan kebekuan antara Koalisi Merah Putih dengan Koalisi Indoensia Hebat sudah merupakan langkah positif. Bagaimanapun ini telah mampu mengurangi ketegangan sosial. Terepresentasikannya anggota kabinet ke dalam ragam etnik, agama, wilayah, professional, politik, dan gender itu sudah merupakan kerja bagus. Jadi, marilah berikan mereka bekerja, bekerja dan bekerja untuk membuktikan kemampuannya terlebih dahulu. ****
Ditulis, 27 Oktober 2014
BEKERJA SISTEMATIS DI AWAL TUGAS, TIDAK “GRASA-GRUSU”
MUNGKIN sebaiknya anggota kabinet baru Indonesia, yang dinamakan Kabinet Kerja itu, memulai pekerjannya secara pelan-pelan.
Bagus apabila Presiden Joko Widodo mengungkap dengan kalimat “bekerja, berkerja dan bekerja’. Filosofi hidup memang demikian. Akan tetapi budaya Indonesia menyebutkan kerja yang grasa grusu jelas tidak baik. Tidak akan mampu menghasilkan kualitas yang bagus apabila pekerjaan tidak dilakukan dengan hati-hati. Pemetaan program dan perencanaan sosial sangat perlu dilakukan menjelang bekerja selama lima tahun ke depan. Kita garis bawahi pada konteks perencaaan sosial tersebut karena kerja kabinet pada hakekatnya adalah bekerja untuk sosial, untuk masyarakat. Tujuannya tidak lain memberikan kehidpan yang lebih baik, kesejahteraan lebih baik kepada masyarakat.
Kita paham bahwa kabinet Indonesia sebelumnya “diguncang” oleh berbagaii skandal, apabila kita boleh mengatakan demikian. Beberapa menteri telah terindikasi korupsi. Demikian juga pembantu-pembantu menteri. Dari sini haruslah kemudian dipikirkan bagaimana agar keguncangan tersebut tidak melukai rakyat, dalam arti menteri mesti membangun kepercayaan diri terlebih dahulu. Untuk membangun itu diperlukan kerja sistematis dan tidak bisa lain, sitimatisasi itu memerlukan perencanaan yang bagus. Dalam perencanaan ini, departemen tidak hanya mmerlukan nasihat atau ahli- ahli yang berasal dari nomenklatur departemen tersebut. Misalnya menteri koperasi tidak hanya perlu ahli koperasi. Tetapi juga peru ahli pertanian agar memahami bagaimana kemampuan petani membangun koperasi. Jelas perlu ahli sosiologi untuk mengetahui karakter dan bentuk interaksi masyarakat.
Perlu juga ahli budaya untuk menggali kearifan-kearifan lokal yang ada.
Demikianlah, dengan bergabungnya banyak ahli tersebut, akan didapat keputusan terbaik dalam membuat kebijakan.
Satu yang sering dilupakan oleh banyak ahli di Indonesia adalah interaksi langsung dengan masyarakat. Komunitas masyarakat inilah sesungguhnya
paling pintar, paling tahu keadaan di lapangan dan sangat mungkin paling tahu cara “mengobati” penyakit mereka. Rakyat hanya tidak mempunyai otoritas dan legitimasi. Maka, para ahli itu haruslah bertanya langsung ke masyarakat.
Berinteraksi, mengambil kesimpulan dari masyarakat merupakan bagian dari perencanaan sosial tersebut. Presiden Joko Widodo telah memberi contoh dan memiliki modal untuk itu, yakni praksis blusukan tersebut.
Kita juga melihat perkembangan baru dalam kementerian sekarang, seperti adanya penggabungan beberapa menteri menjadi satu atau sebaliknya ada pemecahan satu kementerian menjadi dua kementerian. Jelas ini memerlukan pemikiran strategis untuk melaksanakan kinerjanya. Sebab aka nada beberapa ahli yang akan “lompat” kementerian atau sebaliknya malah ada beberapa ahli yang keluar kementerian.
Untuk itulah diperlukan kehati-hatian dan kecermatan menyusun beberapa kerangka kerja. Kita tidak usah terlalu tergiur dengan kata-kata
“lari”, “melompat”, “melesat” dan sebagainya. Mungkin kata itu penting untuk menyemangati rakyat. Tetapi jauh yang lebih penting adalah pencapaian usaha tersebut. Mustahil kita mengatakan visi akan tercapai dalam lima tahun. Visi, yang merupakan cita-cita idealis itu, baru akan bisa tercapai dalam puluhan tahun. Mungkin paling cepat belasan tahun. Tetapi visi itu akan berhasil sebagai respon dari missi yang dilakukan. Missi inilah yang harus dijalankan oleh para menteri tersebut sebagai langkah dasar dan awal untuk mencapai visi. ****
Ditulis, 27 Oktober 2014
MUDAH-MUDAHAN BUKAN SEKADAR
MEMPERBAIKI KESEIMBANGAN KEKUATAN
PRESIDEN Joko Widodo akhirnya melakukan perombakan kabinet Hari Rabu lalu terhadap enam jabatan menteri dan pejabat setingkat menteri.
Perombakan ini dinilai sebagai langkah untuk mengatasi berbagai persoalan baik pada bidang politik maupun ekonomi. Secara sosial, hal itu telah memunculkan berbagai diskusi dan tafsiran di masyarakat baik pada tingkat bawah maupun elit. Seperti yang sudah disaksikan melalui siaran televisi dan media sosial, kritik dan dukunganpun dialamatkan terhadap perombakan ini. Mungkin hal ini lumrah adanya. Dan yang cukup mengkhawatirkan, di saat pengumuman perombakan itu, harga rupiah terhadap mata uang asing tetapi terpuruk. Keadaan ini membuat beberapa pihak tetap khawatir dengan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah. Bagaimanapun, setiap langkah yang dilakukan oleh presiden, sebagai elit politik, mempunyai berbagai makna dan tentu saja penafsiran tersendiri.
Bagi Presiden Joko Widodo, perombakan kabinet ini mempunyai makna politis tersembunyi yang cukup penting diketahui masyarakat. Dilihat dari peristiwanya perombakan ini terkesan mendadak, tetapi juga mempunyai kesan mengulur waktu. Disinilah kira-kira makna politik yang hendak dipesanakan oleh Joko Widodo sebagai presiden. Dikatakan mendadak karena tidak ada sinyal besar dua atau tiga hari sebelumnya tentang perombakan ini, dimana tiba-tiba hari Rabu yang lalu, siang hari dipastikan resufle tersebut terjadi, dilaksanakan dan kemudian langsung ada pelantikan. Bahwa peristiwa ini mengandung unsur penguluran waktu, itu juga kelihatan. Dilihat ke belakang, isu paling mengedepan saat tiga bulan presiden menjalankan tugasnya, adalah tentang perombakan kabinet. Itu pula yang terjadi manakala terjadi kesalahan pengetikan pidato presiden.
Namun harus dilihat peristiwa perombakan hari Rabu itu berpesan dalam bahwa presiden merupakan pemegang hak prerogatif dalam menentukan komposisi kabinet. Tetapi, bukan berarti presiden diam saja tidak bersedia mendengar masukan-masukan. Itulah sebabnya presiden seolah membiarkan
saja segala berita tentang dan isu tentang perombakan kabinet sebagai sebuah
“isu” mengambang di tengah masyarakat. Dengan kondisi itu ditekankan bahwa urusan kabinet adalah urusan presiden dengan berbagai pertimbangan yang dilakukan. Bahwa penggantiaan kabinet hanya tiga bulan setelah menjabat, akan mempunyai konotasi negative bagi lembaga kepresidenan dan bagi Joko Widodo sendiri sebagai presiden. Kalau itu dilakukan hanya 90-an hari setelah menjabat mempunyai arti bahwa lembaga ini dan Joko Widodo tidak mampu memilih orang untuk mengurus negara, tentu juga termasuk para pembantu-pembantunya yang dipandang negatif. Jika kemudian perombakan dilakukan di saat-sat sepi berita tentang perombakan itu, memberikan makna bahwa presiden telah menyadari adanya kelemahan dalam kabinet, menerima masukan dari rakyat dan kemudian melaksanakan hal itu melalui hak prerogatifnya. Jadi, tidak ada pihak-pihak yang boleh memaksakan untuk segera melaksanakan perombakan itu. Harus ada norma-norma yang mesti diperhatikan, baik secara internal kelembagaan dan juga norma yang ada di masyarakat. Lebih lanjut dimaknai bahwa sesungguhnya presiden tidak ingin orang terlalu ramai, bergemuruh bersuara. Silakan mengeluarkan pendapat tetapi lebih baik dengan cara yang biasa-biasa saja, presiden akan memperhatikan. Tetapi haruslah dilihat norma-norma yang ada, seperti hak prerogative, budaya masyarakat serta kepantasan yang ada. Presiden adalah pilihan rakyat Indonesia, bukan pilihan sekelompok elit.
Hal tersembunyi kedua yang harus dilihat adalah upaya keseimbangan kekuatan. Politik pada segala level, pada hakekatnya merupakan upaya perebutan kekuasaan. Jika kekuasaan sudah terpegang, maka yang tersisa adalah perebutan kekuatan. Nampanya itupun terlihat dalam konstelasi politik Indonesia saat ini. Dalam konteks itu, Joko Widodo boleh dikatakan telah berhasil memperoleh kekuasaan. Namun, kekuatan-kekuatan pengaruh yang ada di baliknya belum tentu mampu dikuasasi oleh Joko Widodo. Kekuatan merupakan sumber daya yang mampu merebut dan mempertahankan kekuasaan. Joko Widodo bolehlah dikatakan kini sedang mempertahankan kekuasaannya.
Jauh sebelum perombakan kabinet ini dilaksanakan oleh presiden, telah banyak muncul pendapat yang mensinyalir banyaknya kelompok-kelompok di tubuh pemerintahan yang nada-nadanya saling bersaing. Yang paling
besar tentu saja antara Koalisi Merah Putih dengan Koalisi Indonesia Hebat, dimana pada awalnya Joko Widodo diposisikan ada disini. Tetapi dalam perjalanannya Joko Widodo kemudian dipandang tidak mempunyai posisi harmonis dengan Koalisi Indonesia Hebat. Konon koalisi ini tidak sependapat terhadap personil yang ditempatkan pada posisi sekretaris kabinet yang dipegang oleh Andi Widjajanto. Juga banyak diributkan dengan kehadiran Luhut Binsar Pandjaitan di posisi kepala Staf Presiden. Rini Suwandi yang ada di kabinet juga sering disebut-sebut. Padahal mereka itu boleh dikatakan sebagai “orangnya” Joko Widodo. Konon juga, Megawati Sukarnoputri tidak sepaham dengan persoanil-personil itu. Inilah yang menyebabkan komunikasi politik antara Koalisi Indonesia Hebat dengan pihak kepresidenan tidak jalan.
Padahal pendukung Joko Widodo sebagai presiden adalah PDI Perjuangan (Koalisi Indonesia Hebat).
Jika kemudian sekarang posisi Andi Widjayanto digantikan oleh Pramono Anung Wibowo yang memang merupakan orang PDI Perjuangan menempati posisi Sekretaris Kabinet, dan Luhut Binsar Pandjaitan menempati posisi Menko Politik, Hukum dan Keamanan, maka boleh dikatakan posisi politiknya sama kuat. Luhut secara politis boleh dikatakan sebagai “rekan”
dari Joko Widodo dan Pramono Anung merupakan “rekan” PDI Perjuangan/
Megawati. Posisi Rini Suwandi tetap tidak tergeser. Keseimbangan politik kiranya ada pada posisi ini sehingga stabilitas dan komunikasi politik bisa terjaga. Akan bahaya jadinya ke depan, apabila posisi ini tidak mencapai keseimbangan kekuatan.
Hal ketiga yang mesti ddiperhitungkan adalah sebuah kekhawatiran.
Jika kemudian pasar dan dunia internasional hanya melihat perombakan kabinet seperti yang dikemukakan diatas, yaitu sebagai penegasan terhadap hak prerogative presiden dan upaya mempertahankan keseimbangan kekuatan politik semata, maka boleh dikatakan Indonesia masih dalam keadaan mengkhawatirkan. Rupiah mungkin saja tidak akan mampu diperbaiki secara memuaskan dan upaya-upaya untuk saling mempertahanakan kekuatan terus berlanjut ke masa depan. Negara yang dikelola hanya dengan cara seperti ini tidak akan mampu melaksanakan missi secara maksimal dan visi negara bisa berantakan. Mudah-mudahan saja ke depan tidak demikiaan yang terjadi.
Ditulis, 13 Agustus 2015.
AGAR MENTERI DAPAT MENJALANKAN TUGASNYA DENGAN BAIK
MASYARAKAT berharap agar resufle kabinet yang berlangsung hari Rabu yang lalu, mampu memberikan pengaruh signifikan kepada perekonomian Indonesia. Rupiah masih terpuruk di bawah harga 13 ribu.
Ini tentu bukan perkembangan menarik bagii perekonomian nasional karena harga-harga cenderung naik. Sampai pada tingkat masyaraktpun akan membuat harga barang keperluan pokok menjadi meningkat. Jika dilihat perkembangan sebelumnya, suara masyarakat hanya menginginkan adanya perbaikan pada bidang ekonomi. Ini pula yang menjadi tujuan mereka mendatangi bilik-bilik pemilih baik memilih anggota legislatif maupun presiden. Jika itu memang tidak tercapai, seolah-olah pemilu dan perombakan kabinet ini percuma belaka.
Maka, elit politik yang kini telah menduduki posisinya di dalam jajaran kabinet yang baru harus benar-benar berjuang untukk memulihkan hal itu.
Tidak ada alasan lain. Memang terasa, bagi mereka yang mengamati proses politik sejak awal, perombakan kabinet ini sepertinya menjadi upaya saling menjaga pengaruh, menjalin keseimbangan antara kelompok-kelompok yang mungkin ada di lingkungan pemerintah. Tetapi, yang paling utama adalah bagaimana para elit yang baru menduduki posisi yang baru itu mampu memaksimalkan potensi yang ada demi menstabilkan harga rupiah. Dengan posisi di bawah 13 ribu rupiah sekarang, kondisinya sangat tidak nyaman untuk pembangunan ke depan.
Dilihat dari logika makro, memang pada akhirnya nilai rupiah seperti itu mempunyai pengaruh besar kepada impor kita kepada barang dari luar negeri yang banyak dibayar dengan uang dolar. Kita tahu bahwa impor Indonesia masih lebih banyak dibandingkan dengan ekspornya. Barang elektronik mungkin merupakan yang terbesar dan menjadi kepentingan masyarakat.
Akan tetapi, akhir-akhir inipun kita harus mengimpor daging dari luar negeri.
Belum lagi soal impor bahan bakar yang sudah lama dilakukan. Ujung- ujungnya harga yang demikian tinggi tersebut akan ikut mempengaruhi
kenaikan harga barang primer rakyat, seperti sayuran, beras dan lainnya.
Bisa dibayangkan, bagaimana rakyat menjadi tersiksa oleh keadaan seperti ini. Jika itu terus-terusan terjadi, rakyat benar-benar hanya sebuah obyek yang bahkan teralienasikan dari posisi politik pemerintah. Ketika ada hajatan politik, para politisi ramai-ramai merayu dengan berbagai janji. Pada hari “H” pemilu, rakyat juga diintimidasi untuk memilih kelompok tertentu.
Tetapi manakala pemilu sudah berjalan dan pemerintah sudah terbentuk, rakyat seolah dijauhi. Ketika kemudian terjadi stagnasi ekonomi dan politik di pusat, maka harga rupiah terpojok, menurun drastis yang pada akhirnya kembali menekan rakyat.
Perombakan keanggotaan kabinet haruslah diperhitungkan secara matang maksud dan tujuannya. Tentu agar tidak terjadi lagi suara-suara untuk mendesakkan kepentingan-kepentingan tertentu di dalam lingkaran politik negara. Masih lebih dari empat tahun Joko Widodo harus menjalankan tugas kepresidenan. Dan selama tenggang waktu itu ke depan, seyogyanya tidak ada lagi perombakan-perombakan kabinet. Bukan saja agar politik nasional itu tidak gaduh tetapi juga agar platform kebijakan politik dan ekonomi yang dilakukan benar-benar mantap dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Terlalu banyak pergantian kabinet akan membuat kesan pemerintahan tidak stabil. Padahal, kekuasaan presiden hanya lima tahun. Tidak banyak yang dapat dikerjakan presiden dalam jangka waktu tersebut. Kita harapkan, apa yang dilakukan presiden benar-benar sesuai dengan keperluan dan para menteri yang menempati posnya yang baru dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik. ****
Ditulis, 13 Agustus 2015.
HAK PREROGATIF MEMERLUKAN
KETEGASAN DAN KEKUASAAN YANG KUAT
SETELAH beberapa bulan melakukan pergantian menteri, setahun pemerintahan Joko Widodo kembali dogoyang isu reshuffle. Kali ini konon mengincar menteri-menteri perempuan di kalangan kabinet. Jika ini benar, sangatlah merugikan secara politik. Kerugian citra merupakan hal pertama karena hanya dalam setahun telah dua kali melakukan pergantian menteri. Dan itu terjadi bukan hanya pada satu menteri tetapi lebih dari tiga! Presiden yang melakukan pergantian menteri sampai sekian banyak, menyiratkan ketidakmampuan menjalankan fungsi politis, yaitu memilih anggota kabinet yang menjadi patron untuk menjalankan kekuasaan. Padahal, kekuasaan merupakan hal paling “diincar” oleh politisi dan menjadi media utama untuk menjalankan pemerintahan. Disamping itu, citra negative yang muncul adalah bahwa presiden telah tidak mampu secara maksimal memanfaatkan hak prerogatif yang dimiliknya.
Terjadinya pergantian anggota kabinet mempunyai beberapa latar belakang. Dari konteks pemerintahan sekarang, sangat jelas bahwa gonta- ganti anggota kabinet ini disebabkan oleh melemahnya hak prerogatif presiden. Dan lemahnya itu disebabkan oleh adanya politik akomodasi dalam pembentukan pemerintahan. Padahal, di dalam sistem presidensial dimana presidennya mempunyai hak prerogative memilih pembantunya, seharusnya politik akomodasi tersebut tidak terjadi. Politik akomodatif dapat dilakukan di dalam kebijakan pemerintahan, bukan pada personil kabinet. Ini merupakan kekeliruan dari pemerintah sekarang. Politik akomodatif itu diobolehkan, akan tetapi lebih baik apabila dilakukan di dalam kebijakan. Secara teoritik, akomodasi dalam kebijakan akan lebih menguntungkan rakyat.
Gaya pemerintahan pasca-Orde Baru terlihat pada politik akomodatif yang yang menjurus pada “kerjasama” antar partai politik. Akibatnya kabinet yang tersusun itu berasal dari berbagai partai politik yang dinilai kuat, dan hal ini berpotensi mengganggu pemerintahan. Padahal, jika dilihat secara lebih utama, pemerintah itu dijalankan oleh eksekutif dan legislatif. Padahal ganggaun yang potensial dilakukan oleh partai politik itu lebih banyak di