• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR LAIN YANG MESTI DIPERHITUNGKAN DALAM MEMBERANTAS PUNGLI

PRESIDEN Joko Widodo menegaskan bahwa pungli harus dihentikan di Indonesia. Pernyataan ini diungkapkan beberapa waktu lalu, saat melakukan rapat terbatas di Jakarta. Adanya pernyataan presiden seperti itu menandakan bahwa di Indonesia pungli ini masih ada dan meluas. Jika tidak demikian, tidak akan mungkin presiden berbicara seperti itu, apalagi kemudian menyatakan pegawai negeri yang terbukti melakukan, akan dipecat. Terhadap hal yang terakhir ini, presiden seharusnya hati-hati mengeluarkan kalimat karena bisa jadi pungli oleh pegawai negeri itu terpaksa dilakukan karena gaji mereka kecil, tidak terstandar untuk memenuhi kebutuhan minimal keluarga. Jika demikian halnya, haruslah diperbaiki dan dirancang dulu sistem penggajian pegawai negeri di Indonesia. Akan tetapi, bagaimanapun proses pemberantasan pungli ini harus dilakukan.

Sebagai sebuah tindakan yang menyalahi aturan, pungli mempunyai kesamaan dengan korupsi. Dalam konteks penyuapan, baik pungli maupun korupsi mempunyai pemaknaan sama, yaitu memakai uang pelicin untuk mempercepat mendapatkaan sesuatu. Korupsi akan memungkinkan bagi sesorang untuk mendapatkan proyek tertentu, dan pungli juga mempunyai tujuan yang sama. Akan tetapi apabila dilihat dari rentangannya, korupsi jauh lebih tinggi dari sisi jumlah uang sogokan, mencapai milyaran rupiah.

Sedangkan pungli lebih banyak terjadi pada instansi-instasi publik, dengan uang suap yang lebih kecil. Membikin surat yang misalnya nilai biaya aslinya hanya 50.000 rupiah, akan lebih cepat urusan surat-menyurat itu apabila ada uang lebih menjadi 75.000. Dilihat dari sini, maka sebagian besar rakyat Indonesia seolah-olah memaklumi hal seperti itu, dan kemudian akhirnya muncul sebagai kebiasaan. Pungli menjadi sebuah kebiasaan dan dilakukan oleh berbagai lapisan struktur sosial di Indonesia. Oknum tukang parkir misalnya sengaja memungut uang 2000 rupiah untuk parkir sepeda motor, atau tidak memberikan karcis parkir.

Mencegah pungli jelas merupakan keharusan, akan tetapi mencegah

tindakan yang sudah menjadi kebiasaan, mestinya dilakukan secara berproses yang bertahap. Pelanggaran yang sudah mempunyai nilai kebiasaan itu, tidak mudah dihapuskan. Sebab, munculnya kesalahan yang sudah menjadi kebiasaan itu, secara sosial bukan semata-mata kesalahan oleh masyarakat yang melakukannya tetapi juga dilakukan oleh aparatur pemerintah. Dalam arti pelanggaran-pelanggaran itu dibiarkan dalam rentang waktu yang sudah berlangsung lama. Ini adalah kelalaian pemerintah atau aparatur pemerintah.

Dengan demikian, menyalahkan tindakan itu semata kiranya juga sebuah kekeliruan. Pungli bisa jadi arahnya timbale-balik. Pemerintah lalai karena seolah memberikan peluang atas fenomena ini, oknum yang ada di masyarakat juga salah keasyikan dengan fenomena tersebut. Jika hal itu kemudian dilakukan semata-mata untuk memenuhi keperluan dasar dari keluarga, lagi-lagi standar penggajian pegawai harus diperhatikan, terutama untuk golongan yang lebih kecil. Karena itu, pemecatan kepada pegawai negeri yang kedapatan melakukan pungli, harus dipikirkan masak-masak. Mereka layak dihukum dengan cara yang lain, seperti skorsing, penurunan pangkat dan sejenisnya.

Kebijakan pemerintah untuk mengontrol harga-harga bahaan kebutuhan pokok juga harus diperhatikan. Harga yang tidak terkontrol, mempunyai potensi besar bagi masyarakat untuk melakukan penyalahgunaan itu.

Dilihat dari sejarahnya, kritik soal pungli tidak hanya datang pada saat ini. Di jaman Orde Baru, pada akhir dekade tujuhpuluhan, pungli ini sudah demikian marak. Seniman serba bisa (pelawak, penyanyi, pencipta lagu, pemain film), Benyamin S. sampai menyanyikan lagu yang berjudul

“Pungli”. Lagu ini populer di hampir seluruh struktur masyarakat sesuai dengan penyanyinya yang di terima dari berbagai kalangan. Tetapi pungli tetap juga berjalan. Dekade tersebut, dikenal sebagai masa keemasan perminyakan di Indonesia, dan masa awal pembangunan nasional yang mendapatkan bantuan asing. Bahwa pungli masih terdengar nyaring sampai sekarang, ini menandakan bahwa memberantas korupsi dan pungli itu, benar-benar memerlukan tantangan.

Lalu, bagaimana dengan pemberantasan pungli tersebut?

Pungli adalah tindakan yang merugikan masyarakat. Yang paling awal harus dilakukan secara sosial adalah gerakan penyadaran. Ini sesungguhnya sudah dan telah diupayakan oleh pemerintah, dengan memasang

spanduk-spanduk yang berpesan efisiensi. Di kantor polisi misalnya, petugas telah memasang berbagai poster yang memuat tentang alur dan peryaratan untuk mencari SIM. Juga di kantor pajak. Bahkan sampai dengan durasi waktu yang diperlukan untuk mengurus pun telah dicantumkan. Maka jika memang ada pihak yang tidak memenuhi persyaratan itu, haruslah digugurkan permohonannya. Pengguguran ini menjadi pembelajaran bagi anggota masyarakat sehingga akan berupaya untuk memenuhi berbagai syarat yang ditentukan. Pemenuhan syarat itu secara perlahan akan mencegah pungli.

Yang perlu dilakukan dalam kasus ini adalah sosialisasi yang lebih luas.

Pemasangan poster tidak hanya di kantor polisi tetapi juga di tempat umum lain dengan bahasa yang ringkas. Juga perlu dimasyarakatkan melalui SMS atau yang lain. Jika perusahan makanan cepat saji dapat nyelonong masuk ke wilayah privat melalaui SMS tanpa ijin, seharusnya instansi pemerintah harus juga bisa demi sosialisasi ini.

Yang kedua adalah pemberian penghargaan. Yang inipun sesungguhnya sudah dilakukan. Badan Pemeriksa Keuangan misalnya memberikan rentang predikat kepada instansi tertentu sesuai dengan “tingkat kebersihan” instansi itu dalam mengelola keuangan. Predikat seperti ini seharusnya tidak hanya berhenti sampai disana saja tetapi memberikan penghargaan fisik kepada sub bagian dari instansi itu. Penghargaan itu dapat saja berupa sertifikat atau wujud piala tertentu atas keberhasilannya menjaga transparansi keuangan.

Pelayan jasa kepada masyarakat pun seharusnya mendapatkan penghargaan seperti itu. Instansi yang mampu menyelesaikan KTP, Kartu Keluarga dalam waktu satu jam misalnya, mendapatkan penghagaan dari pemerinah.

Selanjutnya adalah pembinaan bagi lembaga-lembaga yang sudah berhasil mempertahankan prestasi-prestasinya itu dalam satuan waktu tertentu. Pembinaan ini bertujuan agar keberhasilan untuk mempertahankan cara kerjanya berkelanjutan dan mampu memberikan pengaruh serta inspirasi kepada instansi lain. Seluruhnya itu dilakukan secara konsisten dan dalam satu-satuan waktu. Setelah lima tahun, apabila kemudian terjadi pelanggaran-pelanggaran lagi, barulah kemudian hukuman mulai diberlakukan. Artinya, pemerintah telah melakukan sosialisasi yang lebih luas sehingga penjatuhan hukuman terasa lebih adil.****

Ditulis, 12 Oktober 2016

PEMBERANTASAN PUNGUTAN LIAR