URBANISASI merupakan ciri yang paling kentara dari ketidakadilan pembangunan antara kota dengan desa. Fenomena ini mencirikan adanya kesempatan untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan lebih banyak di kota dibandingkan di desa. Padahal, masyarakat Indonesia yang mempunyai basis pertanian, seharusnya lebih banyak tinggal di desa dengan mengolah berbagai hasil pertanian yang dimiliki. Akan tetapi, wacana yang menyebutkan kota-kota macet telah membuktikan bahwa urbanisasi memang tidak bisa dicegah. Bahwa banyak yang terkejut apabila Yogyakarta macet dan kemudian tambah terkejut lagi jika Denpasar jalan raya semrawut, bukan oleh macet saja tetapi “pembangunan”
gorong-gorong yang bersamaan di segala wilayah, menandakan kerja itu seolah hanya ada di kota saja. Dalam kasus “pembangunan” gorong-gorong yang dilakukan bersamaan itu, memcerminkan sampai jenis pekerjaan seperti itu juga diborong oleh kota. Fenomena inilah yang seharusnya menjadi perhatian bagi pemerintahan Joko Widodo untuk tahap-tahap waktu berikutnya.
Ada beberapa pertimbangan yang mesti dilihat untuk menghentikan laju urbanisasi tersebut. Dalam konteks konsepsi pembangunan di Indonesia, kota tidak pernah menjadi titik sentral. Di masa Orde Baru, yang menjadi diskusi adalah pembangunan pertanian. Ini artinya penggerakan perekonomian masyarakat mesti dimulai dari desa karena basis pertanian tersebut ada di desa.
Sistematika pelita yang dirancang sejak tahun 1969 itupun, sebagian besar berbasis pertanian. Tidak terlalu jelas konsepsi pembangunan setelah Orde Baru jatuh, sampai kemudian munculnya ide memaksimalkan laut di jaman Presiden Joko Widodo ini. Laut pun pada hakekatnya bukan pembangunan kota karena laut berada di pesisir, dan pola kehidupan sosial para nelayan lebih banyak menyerupai kehidupan di desa. Eksplorasi laut yang dicita-citakan tentu saja bukan sekedar nelayan tradisional, tetapi juga modern.
Berkaca dari Orde Baru, seharusnya pemerintah banyak mendapat pelajaran dari “pengobrakabrikan” konsepsi pertanian yang ada pada tahapan-tahapan pelita tersebut. Sebelum Indonesia mampu secara tuntas membangun
sektor teknologi pertanian pertengahan dekade delapanpuluhan, tiba-tiba muncul keinginan untuk membangun industri pesawat terbang. Bahkan sebelumnya kelihatan ada tanda-tanda pembangunan atas bantuan Jepang pada pertengahan dekade tujuhpuluhan. Pembangunan industri pesawat terbang, jelas bukan merupakan pembangunan kultural dan jauh menyimpang dari budaya pertanian bahkan melebihi konsepsi pembangunan kota. Seperti yang sudah diketahui, industri ini sangat tidak berkembang, meskipun coba dipaksakan untuk berkembang. Konon bantuan dana dari luar negeri, seperti Jepang itu, lebih banyak untuk membangun sarana jalan raya di perkotaan. Mungkin ini disebabkan oleh banyaknya kendaraan produk Jepang yang diekspor ke Indonesia sejak dekade tujuhpuluhan. Akibat dari pola pembangunan yang menyentralkan kota ini, masyarakat Indonesia tidak pernah mempunyai tabungan yang utuh untuk membangun kesejahteraan keluarga.
Dua fenomena pergeseran cara pandang pembangunan yang menyimpang dari kasanah sosial dan budaya Indonesia, seperti yang diuraikan diatas, ternyata tidak mampu memberikan rasa sejahtera kepada masyarakat. Malah, yang terjadi adalah alienasi dan keterkejutan budaya.
Pada akhirnya, desa semakin berjarak dengan kota dan urbanisasi menjadi outcome dari model pembangunan yang lepas dari budaya dan sistem sosial tersebut. Bentuk-bentuk keterkejutan budaya itu terlalu banyak di kota, dan itu membikin tidak jelas bagaimana pola kehidupan sosial di Indonesia saat ini. Bukan saja menimbulkan peningkatan kejahatan tetapi juga keanehan pola hidup. Misalnya, di depan toko yang mentereng di kota, ada warung kaki lima yang seenaknya memasak makanan dengan asap yang mengepul kemana-mana. Lalu mencuci dan membersihkan piring juga di depan toko yang mentereng tersebut. Malam hari, manakala orang kota harus istirahat dan bisa tidur nyenyak, tiba-tiba saja harus berdampingan dengan kompleks buruh yang main game sambil tertawa-tawa bermain gitar.
Perbedaan pola perilaku ini secara sosial mengganggu, kontras dan sangat berpotensi menimbulkan konflik. Fenomena seperti ini seharusnya dapat ditekan, dengan cara memperhatikan pola pembangunan di desa. Sebagai sebuah konsep pembangunan desa, bukan berarti Indonesia menghentikan impor teknologi. Hal ini dapat dilakukan, dengan lebih memusatkan impor pada teknologi pertanian. Dan tentu saja kemudian pembangunan yang
mendukung industri kelautan.
Karena itulah kemudian, ketika harus melihat pola pembangunan ke depan dari Presiden Joko Widodo, konsep dasar pembangunan desa ini mesti diperhatikan. Yang pertama, jelas tujuannya untuk memberikan kesempatan kepada desa untuk lebih berkembang sehingga mampu mengerem laju urbanisasi ke kota. Secara demikian, maka pelaksanaan undang undang desa ini (UU No. 6 tahun 2014), mesti mendapat perhatian lebih bagus. Ini merupakan cara membangun yang realistis dan rasional bagi masyarakat Indonesia.
Realistis mempunyai arti bahwa itulah yang senyatanya ada pada sebagian besar masyarakat. Mereka hidup di desa, melihat secara langsung sumber daya itu dan hidup berdamingan dengan mereka. Rasional mempunyai makna bahwa manfaat paling bagus dan menguntungkan justru terjadi melalui pembangunan ini. Menggerakkan rakyat untuk bekerja di sekitar rumahnya, bukan saja mengirit biaya operasional tetapi juga memanfaatkan waktu secara maksimal.
Secara sosial psikologis, juga dapat berdekatan dengan keluarga inti, dan mampu menyimpan tenaga fisik. Bandingkan misalnya kalu orang desa yang bekerja di kota, jauh dari keluarga inti, melelahkan dan bahkan dikuasai dan dikejar-kejar oleh waktu. Kedua, pembangunan desa ini apolitis. Artinya tidak dibuat-buat karena memang demikianlah adanya bagi masyarakat Indonesia.
Presiden Joko Widodo tidak perlu mencari keuntungan politis dari kebijakan ini karena yang didapatkan nanti adalah keuntungan riil dari kebijakannya.
Mungkin yang mesti dipertimbangkan adalah proyek percontohan.
Membuat pembangunan seperti ini tidak akan semudah membalik telapak tangan.
Satu priode pemerintahan Joko Widodo tidak akan mampu memberikan hasil secara langsung terhadap pembangunan desa ini. Akan tetapi, sebagai sebuah kebijakan, maka lajunya memerlukan contoh kesuksesan. Indonesia terdiri dari ratusan ribu desa. Pasti ada diantara desa-desa tersebut yang telah menerapkan secara bagus pola pembangunan desa yang mampu mencegah penduduknya pergi ke kota. Desa inilah yang mesti diperkenalkan presiden ke permukaan.
Kiat pembangunannya harus diketahui oleh masyarakat Indonesia, termasuk juga tingkat kesejahateraannya. Jika diantara ratusan ribu desa itu, ternyata tidak ada desa yang melakukan pembangunan dengan memanfaatkan sumber dayanya, boleh dikatakan pembangunan Indonesia sudah pasti gagal.****
Ditulis, 21 Oktober 2015