• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEROBOSAN PENDIDIKAN UNTUK MENGHADAPI PERUBAHAN SOSIAL

PRESIDEN Joko Widodo telah atau baru dua tahun menjalankan pemerintahannya. Saat periode itu dilalui, konstelasi politik Indonesia jika dibandingkan dengan pertengahan tahun 2014, sudah jauh berbeda. Partai Golkar kini malah telah mendukung dan berpihak kepada Joko Widodo. Di awal-awal berkuasanya, partai ini sangat berseberangan. Pada pihak lain, pola pembangunan yang dilakukan presiden, kiranya ada perbedaan antara pemerintahan sebelumnya dengan apa yang dilakukan sekarang. Informasi paling baru terlihat bahwa di Papua kini harga bahan bakar umum diturunkan menjadi hampir sama dengan bahan bakar di Jawa. Harga premium yang dulunya mencapai ratusan ribu per liter, kini menjadi sama denga apa yang ada di Jawa. Disamping kebijakan presiden, hal ini dapat dicapai karena telah diperbaikinya landas pacu bandara sehingga memungkinkan bagi kemudahan penyaluran bahan bakar itu lewat udara. Artinya pesawat yang berbadan besar telah mampu mendarat di bandara tersebut. Ada kemungkinan juga tidak semua masyarakat mendapat harga seperti ini.

Akan tetapi kebijakan yang dilakukan oleh presiden, boleh dikatakan sebagai sebuah terobosan yang mendasar. Belum pernah sebelumnya, bahkan tidak terpikirkan apabila harga minyak di Papua dapat disamakan dengan apa yang ada di Jawa. Ini disebabkan disamping ongkos angkut yang mungkin mahal, infrstruktur untuk mengangkut bahan bakar itu ke pelosok masih sederhana bahkan bisa jadi tidak ada. Dengan demikian, penyamaan harga itu sebuah terobosan penting dalam dua tahun pemerintahan Joko Widodo.

Memang, sekarang sudah banyak energi terbarukan yang sudah dipakai oleh negara-negara maju. Akan tetapi, minyak tetap merupakan bahan dasar untuk dinamika dan kesejahteraan masyarakat. Dengan minyak, interaksi antar manusia menjadi lebih mudah karena alat angkut lebih banyak dengan biaya murah, demikian juga mampu mengangkut segala macam keperluan hidup manusia. Minyak juga yang mampu secara lebih cepat mewujudkan pemenuhan keperluan dasar manusia. Memakai minyak akan lebih

memudahkan masyarakat untuk memasak. Minyak merupakan penggerak dasar dari sistem perekonomian, dan perekonomian yang lacar menjadi penopang kesejahteraan manusia. Jadi, kemampuan pemerintah Joko Widodo untuk menekan harga minyak ini merupakan terobosan mendasar. Terobosan ini harus dipelihara agar ke depan masyarakat Papua bisa menikmati kesejahteraan seperti juga masyarakat lain di Indonesia.

Akan tetapi, betatapun terobosan yang dilakukan itu telah bermakna positif, tetap harus dipertimbangkan faktor lain yang akan menunjang terobosan itu agar terjadi keseimbangan sosial. Terobosan dasar yang dilakukan Joko Widodo merupakan unsur utama yang pasti akan mendorong perubahan sosial. Efek perubahan sosial inilah yang harus diperhatikan benar oleh pemerintah. Sebuah perubahan sosial akan dapat dikontrol dengan baik, apabila ada sektor dasar yang juga harus diperbaiki, Sektor dasar yang paling penting untuk mengantisipasi perubahan sosial itu adalah pendidikan. Lebih jelas lagi adalah penyerapan pengetahuan agar manusia menjadi cerdas dan bijaksana. Artinya untuk membentuk manusia menjadi cerdas dan bijaksana, tidak hanya pendidikan yang diperlukan, tetapi juga kemampuan manusia untuk menyerap pengetahuan yang didapat di luar sektor formal agar mampu bergerak lebih bijaksana. Secara sederhana, mampu mengerti tentang perubahan sosial itu, akan menyaringnya untuk membimbing kehidupan mereka agar tidak meleset, melenceng, menyimpang, lalu tumbang sendiri.

Jadi, kemampuan menekan harga minyak di Papua itu harus diimbangi dengan pembenahan pendidikan yang baik, pembenahan pengajaran dan mungkin juga penyuluhan-penyluhan di tingkat masyarakat. Mumpung belum terlambat, ini harus dilakukan Joko Widodo. Berhasil menggenjot perubahan sosial akan angat percuma apabila sektor pendidikan tidak dibenahi. Dalam konteks perubahan sosial, pemahaman terhadap budaya, interaksi sosial, dan keagamaan perlu mendapatkan penekanan yang lebih tinggi karena inilah yang akan menentukan stabilitas sosial di masyarakat.

Dengan kekayaan alamnya yang masih terpendam banyak, dengan kulturnya yang unik, perluasan bandara, penekanan harga minyak pasti akan mendatangkan urbanisasi. Dengan infrstruktur yang bagus dan harga yang terjangkau, perekonomian Papua akan menggeliat. Papua akan menjadi

“gula” baru di Indonesia, dan dimana ada gula pasti aka nada semut. Agar

tidak menimbulkan persoalan sosial, masyarakat Papua harus mampu menangani perubahan itu, mampu menggerakkan dinamika tersebut dan kemudian mampu bersaing dengan para urbanis yang bisa jadi pendidikannya lebih tinggi. Ketimpangan tentang hal ini akan memicu kriris sosial. Disitulah pentingnya pendidikan harus diperbarui dan diterobos juga di Papua agar terjangkau oleh masyarakat banyak. Papua kelak mampu menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri.

Dalam batas tertentu, Bali mungkin bisa dijadikan pembelajaran.

Penganut paham tradisionalis di Bali, boleh dikatakan ketinggalan dalam menghadapi demikian deras dan globalnya sektor pariwisata. Pariwisata adalah industri raksasa berskala global yang memerlukan kecanggihan dan kebijakan berfikir. Akan tetapi, kemungkinan di masa lalu, masyarakat belum sadar betul dengan akibat perubahan sosial ini sehingga masyarakat yang beraliran tradisionalis ketinggalan mengdapai globalisasi pariwisata. Dengan kata lain, di masa lalu, pendidikan belum menyentuh tentang bahaya dan efek negatif dari industri pariwisata. Padahal, secara jujur harus diakui, tradisionalitas di Bali mengandung pembebanan waktu, tenaga dan biaya (uang) yang besar kepada masyarakat. Masyarakat menanggung hal ini, dengan berbagai konsekuensinya.

Pada sisi lain, pariwisata justru juga memerlukan tenaga dan waktu itu agar dapat bersaing secara global. Masyarakat betul-betul berbenturan dengan dua hal ini yang membuat banyak masyarakat lokal hanya dapat memegang pekerjaan pada struktur rendah di sector pariwisata, menjadi penonton, penjual tanah atau sekedar menjadi konsumen saja. Harapan agar para elit lokal untuk menjadikan contoh soal penyederhanaan, tinggal harapan saja, malah saling konflik satu dengan yang lain. Padahal pengetahuan dan pencerahan agar tenaga, waktu dan biaya yang terbuang ditelan ritual itu sangat diperlukan.

Dengan demikian, fenomena sosial di Bali ini bisa dipakai pembelajaran, tidak saja dalam membuat terobosan di Papua tetapi juga di tempat lain.

Jangan juga dilupakan, di tengah demikian berjejalnya proyek di Pulau Jawa (dan Bali), masih tetap dijumpai kemiskinan dan infrstruktur yang kurang. Intinya, membuat terobosan yang mendasar, harus juga dilakukan terobosan peembenahan di bidang pendidikan agar masyarakat lokal tidak tertinggal dengan laju pembangunan itu.****

Ditulis, 19 Oktober 2016