• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMILIH BERDIPLOMASI DIBANDING BERADA DI PUTARAN KONFLIK

PRESIDEN dalam kunjungan kerjanya ke negara-negara ASEAN, telah melakukan pembicaraan dengan beberapa kepala negara dan pemerintahan. Yang menarik, di Malaysia presiden Joko Widodo diajak ikut mendukung keinginan negara itu menjadikan Proton sebagai mobil resmi ASEAN. Ajakan ini memperlihatkan ambisi negara itu secara pelan-pelan mempengaruhi negara yang ada di kawasann regionl. Di Filipina, Presiden memesankan kepada para pekerja migrant Indonesia, untuk tidak melakukan konflik di negara lain. Ini mungkin ditujukan agar para pekerja itu membawa kultur Indonesia yang mencoba menekan permasalahan. Akan tetapi mungkin juga untuk menyindir para pekerja lain yang suka membuat konflik di negara luar. Di Brunei, presiden melakukan pembicaraan dengan Sultan Brunei.

Lantas, apakah manfaat diplomasi presiden itu di saat Indonesia sedang

“genting” dengan adanya fenomena “Cicak versus Buaya Jilid II” ?

Dalam kebiasaan politik, pertentangan bisa dikatakan sebagai sebuah kebiasaan, apalagi dalam konteks politik nasional. Dalam kasus-kasus pertentangan yang berat, kepala negara biasanya menunda kunjungannya untuk beberapa waktu, atau ketika telah berada di luar negeri, maka akan mempersingkat kunjungannya. Raja Abdullah dari Yordania melakukan hal ini setelah pilotnya dibakar hidup-hidup oleh milisi NIIS beberapa waktu lalu. Persitiwa demikian pasti mendatangkan konflik genting dan kemarahan di Yordania, karena itu raja harus pulang lebih awal. Dari konteks pemikiran itu, dapat dikatakan konflik “Cicak vs Buaya Jilid II” ini boleh dikatakann sebagai hal biasa, setidaknya dalam pandangan politik secara umum. Ketika berada di Filipina, Presiden Joko Widodo merasa tidak terlalu tertekan dengan kondisi tanah air dan optimis bahwa masalah penunjukan Kapolri ini akan selesai dengan baik.

Politik secara definitif adalah “siapa mendapatkan apa dengan cara apa”. Disini yang diperebutkan adalah posisi jabatan politik, yang dalam kepemerintahan tidak lain berupa struktur jabatan. Konflik akan muncul pada

ranah “siapa” itu dan kemudian “dengan cara apa”. Konflik yang muncul pada ranah-ranah seperti itu, boleh dikatakan biasa dalam bidang politik secara umum. Bahkan bukan saja antar negara juga antar lembaga di dalam negara tersebut. Posisi sebagai kepala bagian keuangan di sebuah kantor, bisa dikatakan sebagai incaran politis karena memerlukan orang yang tepat dan mungkin saja ada kepentingan-kepentingan tertentu bagi penunjuknya.

Kesalahan dan kecemburuan terhadap terpilihnya orang yang menduduki struktur tersebut, mampu mencipta dan mendorong konflik.

Dalam konteks demikian, posisi struktural kepala kepolisian di berbagai negara, jelas sangat strategis. Dengan posisi itu sesorang jelas dekat dengan istana, mempunyai kewenangan untuk menunjuk posisi pimpinan di daerah, termasuk menyetujui pemindahan pejabat-pejabat kepolisian. Disamping pengaruh demikian, posisi ini jelas juga mempunyai nilai tersendiri, misalnya mampu memberikan inspirasi kepada anggota keluarga, rekan, kerabat sampai dengan masyarakat. Di Indonesia, dengan budaya paternalistis yang tinggi, jabatan tersebut pasti banyak yang mengincar. Tentu kemudian konflik akan muncul tentang “siapa” dan “dengan cara apa” itu menjadi demikian meluas.

Masalahnya, Budi Gunawan yang memasuki “siapa” tersebut, ternyata telah dinyatakan sebagai tersangka oleh KPK. Dan Budi Gunawan dalam ranah

“dengan cara apa” dicurigia sebagai hasil lobi-lobi politik antara kelompok, individu dan partai tertentu. Maka, sempurnalah konflik tersebut, dan menjadi biasa dalam hal gejala politik secara umum.

Bagi presiden, kemungkinan besar juga ini menjadi hal yang biasa, apalagi apabila dilihat cara Presiden Joko Widodo membuat kebijakan. Salah satunya, ketika membuat keputusan untuk merelokasi pedagang di sebuah pasar di Solo, selama satu tahun Joko Widodo melakukan lobi dengan melakukan pendekatan minggu per minggu atau bulan per bulan kepada pedagang. Hasilnya pasar memang dapat direlokasi. Bukan tidak mungkin juga demikian caranya dalam menghadapi kasus “Cicak vs Buaya Jilid “ ini.

Rakyat juga sudah mulai bosan dengan pertentangan demi pertentangan di tingkat elit tersebut.

Faktor kedua yang mesti dilihat adalah, jika memang demikian pandangan Presiden Joko Widodo terhadap kasus ini, sangat mungkin ia menguasai sumber daya politiknya selama ini. Pandangan tidak ada beban itu

muncul dari pemahaman atas sumber daya politiknya. Tidak lain, sumber daya politik itu ada pada dirinya yang kharismatis, dan kemudian mendapatkan pilihan oleh rakyat melalui pemilihan umum langsung. Mayoritas rakyat memilih Joko Widodo sebagai presiden. Inilah yang menjadi sumber daya dan modal politiknya dalam menghadapi problem dalam menjalankan tugasnya sebagai presiden. Tidak juga dapat dikesampingkan bahwa rakyat sudah semakin muak dengan segala konflik elit yang demikian berkepanjangan yang dengan demikian, justru kembali berpihak kepada Joko Widodo sebagai simbolisasi orang tertekan. Secara kultural, orang Indonesia akan semakin berpihak kepada mereka yang dipojokkan. Kini yang seolah dipojokkan adalah presiden yang coba ditekan kanan kiri. Presiden juga kemungkinan mengetahui budaya ini. Disamping itu, suara rakyat cenderung berpihak kepada KPK dalam perseteruan antara lembaga ini dengan kepolisian.

Dengan catatan-catatan seperti itu, tidak ada alasan bagi presiden untuk tidak pergi melakukan kunjungan ke negara tetangga, terutama di kawasan ASEAN. Sudah menjadi kebiasaan bahwa di dalam organisasi negara-negara Asia Tenggara ini, setiap kepala pemerintahan melakukan perjalanan keliling untuk memperkenalkan diri dan saling berkenalan. Bagi Joko Widodo yang sedang hangat-hangatnya membuat kebijakan kejutan untuk laut dan kemaritiman, kunjungan ke negara tetangga ini penting untuk menjelaskan kebijakan kemaritiman Indonesia sekarang agar kapal-kapal nelayan negara tetangga tidak berani main-main menangkap ikan sembarangan. Tentu juga agar mereka paham kalau kapal-kapal ikan itu diledakkan kalau melanggar.

Jadi, lebih utama berdiplomasi dari pada bersilat lidah tidak henti. ****

Ditulis, 9 Februari 2015