BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.1. Tempat Dan Waktu Penelitian Tempat dilaksanakanya penelitian yaitu : Nama Instansi : PT. ALUS
Alamat : Jl. Raya Lintas Sumatera Km 33, Desa Bandar Dalam, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung (Gambar III.1.).
Adapun pelaksanaan pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dengan waktu maksimal 1 bulan, yaitu pada tanggal 1 Agustus –31 September 2021.
Gambar III.1. Peta lokasi PT. ALUS (Sumber : PT. ALUS).
Secara geografis lokasi ini terletak pada koordinat 105027’57.619” - 1050 28’51.336” Bujur Timur dan 5032’11.271” – 5032’58.201” Lintang Selatan. Lokasi penelitian ini dapat ditempuh melalui jalur darat dengan kendaraan roda dua (selama ± 1 jam perjalanan) atau roda empat (selama ± 2 jam perjalanan) dari kota Bandar Lampung. Rute perjalanan yang dilalui yaitu: Kota Bandar Lampung- Panjang-Tarahan-PT. ALUS.
III.2. Lokasi Pengambilan Data
Pengambilan dan pengukuran data di lakukan pada 2 lereng yang berada di dalam area pit 2 PT. ALUS. Gambar III.2 menunjukkan 3D model PT. ALUS yang mencakup bagian area lereng yang diakukan pengukuran. Pada 3D model tersebut terlihat bahwa pit 2 masih dalam kondisi sekarang dan belum di desain.
Gambar III.2. Lokasi pengambilan data lereng (Sumber : PT. ALUS).
Pengukuran dan pengambilan data pada setiap lereng dilakukan dengan membentangkan meteran sepanjang 50 meter. Pengukuran dan pengambilan data dilakukan terhadap parameter-parameter klasifikasi RMR antara lain spasi diskontinuitas, kemenerusan diskontinuitas, bukaan diskontinuitas, material pengisi diskontinuitas, kekasaran diskontinitas, pelapukan, dan kondisi air tanah serta kedudukan diskontinuitas pada setiap interval 1 meter. Parameter tersebut digunakan untuk melakukan klasifikasi massa batuan RMR. Sedangkan kedudukan diskontinuitas di gunakan sebagai data untuk analisis potensi bentuk longsoran yang kemungkinan terjadi pada setiap lereng. Data yang sudah diperoleh digunakan dalam perhitungan dan pemodelan untuk mencari nilai faktor keamanan lereng.
Data lereng yang digunakan merupakan data primer dimana dalam setiap pengambilan data dilakukan secara langsung (Gambar III.3). Lereng pada pit 2 memiliki tinggi sekitar 15 meter dari permukaan ke bagian paling dasar pit. Pada gambar III.4 merupakan sketsa pengambilan data diskontinuitas pada lereng 1.
Gambar III.3. Pengambilan data diskontinuitas pada lereng 1 di interval 20-25 m
Gambar III.4. Sketsa pengambilan data diskontinuitas pada lereng 1 di interval 20-25 m
III.3. Data Sekunder
Data sekunder yang di peroleh dari PT. ALUS merupakan data survey topografi area PT. ALUS (Tabel III.1.). Data tersebut merupakan data xyz titik-titik elevasi yang dapat digunakan dalam pembuatan 3D model desain pit 2 yang akan dibuat.
Pembuatan desain yang diperoleh dari data sekunder tersebut menggunakan bantuan perangkat lunak Geovia Surpac 6.2.. Perangkat ini dapat membentuk, dan memodelkan desain sesuai dengan hasil analisis dan perhitungan yang sudah dilakukan.
Tabel III.1. Data topografi P.T. ALUS
III.4. Pengujian Kuat Tekan Batuan
Pengujian kuat tekan batuan menggunakan 1 batuan utuh pada sampel yang di peroleh dari lokasi penelitian yaitu di pit 2 PT. ALUS (Gambar III.5.).
Gambar III.5. Pengujian kuat tekan batuan
5, 9374057.604, 553707.708, -15.000, 5, 9374057.650, 553707.561, -15.000, 5, 9374057.977, 553707.387, -15.000, 5, 9374058.041, 553707.337, -15.000, 5, 9374058.110, 553707.102, -15.000, 5, 9374058.308, 553706.914, -15.000, 5, 9374058.905, 553706.509, -15.000, 5, 9374059.044, 553706.484, -15.000, 5, 9374059.232, 553706.384, -15.000, 5, 9374059.334, 553706.275, -15.000, 5, 9374059.580, 553706.184, -15.000, 5, 9374059.696, 553706.082, -15.000, 5, 9374059.952, 553706.041, -15.000, 5, 9374060.109, 553705.917, -15.000, 5, 9374060.232, 553705.828, -15.000, 5, 9374060.350, 553705.742, -15.000, 5, 9374060.506, 553705.610, -15.000, 5, 9374060.888, 553705.503, -15.000, 5, 9374060.896, 553705.500, -15.000, 5, 9374061.240, 553705.367, -15.000, 5, 9374061.732, 553705.373, -15.000, 5, 9374061.748, 553705.367, -15.000, 5, 9374061.762, 553705.367, -15.000, 5, 9374061.810, 553705.353, -15.000, X Y Z
Pengukuran dilakukan metode lereng tunggal karena batuan yang ada pada pit 2 merupakan batuan homogen. Sampel batuan yang ada pada lokasi penelitian di ambil dengan memukul batuan beberapa kali pada lereng tersebut menggunakan palu geologi. Batuan pada lereng tersebut retak ketika di pukul sebanyak 1 kali pukulan. Artinya, satu pukulan palu geologi memiliki nilai 5-15 Mpa, nilai tersebut dikonfirmasi dengan dilakukanya uji kuat tekan batuan di laboratorium (Tabel.I.1).
Pengujian di lakukan di Laboratorium Geomekanika Teknik Geologi ITERA, menggunakan alat UCS.
Preparasi batuan dilakukan dengan membentuk batuan menjadi balok dengan Panjang = 10cm
Lebar = 10cm Tinggi = 16cm
Preparasi dengan membentuk balok dilakukan karena keterbatasan alat yang digunakan.
III.5. Deskripsi Batuan
Batuan pada pit 2 P.T. ALUS memiliki kenampakan warna abu-abu gelap hingga abu-abu terang, batuan sangat kompak dengan ukuran butir 0,02-0,5 mm struktur masif (Gambar III.6.). Batuan tersebar merata pada seluruh bagian di pit 2 dengan kondisi segar.
Gambar III.6. Sampel batuan
Pada pengamatan sayatan tipis batuan yang berada di pit 2, batuan tersebut memiliki
komposisi yang terdiri dari gelas 60%, Kristal 40% dan fragmen litik 10% (Gambar III.7.). Berdasarkan komposisi batuan nama batuan tersebut merupakan tuf gelas (Petthijohn, 1975). Karakteristik di lapangan menunjukan bahwa batuan tersebut keras dan terelaskan.
Gambar III.7. Sayatan tipis pada sampel batuan
Setelah mengetahui jenis batuan dapat di cari nilai bobot isi batuan tersebut.
Perolehan nilai bobot isi batuan tersebut mengacu pada referensi yang dilakukan pada penelitian sebelumnya. Hal ini dikarenakan tidak melakukan uji laboratorium untuk mengetahui bobot isi batuan. Welded tuff atau tuf terelaskan memiliki bobot isi batuan 25 Kpa/m3 berdasarkan (Asniar dkk., 2019). Hasil uji laboratorium, menunjukkan bahwa perilaku dari lereng batuan telah diperkuat secara nyata karena bagian atas lereng terdiri dari tuf padu yaitu keras dengan kepadatan tinggi (Nakashima dkk., 2008).