13
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Teori Atribusi
Menurut Fritz Heider Sebagai pencetus teori atribusi, teori atribusi merupakan teori yang menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori atribusi menjelaskan mengenai proses bagaimana menentukan penyebab dan motif tentang perilaku seseorang. (Robbins & Judge, 2013) menyebutkan “attribution theory is to explain the ways in which we judge people differently, depending on the meaning we attribute to given behavior”. Artinya bahwa teori atribusi mencoba menjelaskan cara kita menilai seseorang secara berbeda, tergantung pada maksud dari tindakan yang diberikan. Hal ini memberikan kesan bahwa kita mengamati perilaku individu, kita mencoba menentukan apakah perilaku individu tersebut dipengaruhi secara internal atau eksternal. Pengaruh internal adalah pemicu yang berada dibawah kendali pribadi individu, sementara pengaruh eksternal dilihat sebagai situasi yang ada memaksa individu berperilaku terntentu. (Hanjani &
Rahardja, 2014) menyebutkan bahwa teori atribusi menjelaskan tentang pemahaman akan reaksi seseorang terhadap peristiwa di sekitar mereka, dengan mengetahui alasan-alasan mereka atas kejadian yang dialami. Teori atribusi dijelaskan bahwa hanya melihat perilakunya akan dapat diketahui sikap atau karakteristik orang tersebut serta dapat diketahui sikap atau karakteristik oranag tersebut serta dapat juga memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu.
Dapat disimpulkan bahwa teori atribusi adalah teori yang mengamati individu perilaku maupun sikap seseorang, dengan cara mengamati baik secara internal maupun eksternal. Mengamati secara internal adalah kendali dari individu itu sendiri sedangkan secara eksternal faktor dari luar individu seperti lingkungan yang memaksa seseorang bertindak atau berperilaku dalam berperilaku tertentu.
2.1.2. Pengertian Kecurangan Akuntansi (Fraud)
Menurut Association Of Cerrtified Fraud Examiners (ACFE, 2016) fraud adalah perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu (manipulasi atau memberikan laporan keliru terhadap pihak lain) dilakukan orang-orang dari dalam atau luar organisasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok yang secara langsung atau tidak langsung merugikan pihak lain.
Fraud merupakan konsep hukum yang memiliki cakupan luas istilah fraud diartikan sebagai penipuan atau kecurangan di bidang keuangan. Menurut Hall (2007) dalam (Ika Ruly, 2012) sebagai kebohongan yang disengaja, ketidakbenaran dalam melaporkan aktiva perusahaan atau manipulasi data keuangan bagi keuntungan pihak yang melakukan manipulasi tersebut, fraud dapat terjadi di berbagai sektor, baik sektor swasta maupun sektor pemerintahan.
Tunggal (2011) dalam (Soleman, 2013) fraud adalah penipuan yang disengaja, umumnya diterangkan dalam berbagai kebohongan, penjiplakan, pencurian dan kecurangan ini dapat dilakukan oleh pelanggan, kreditor, investor, pemasok, banker penjamin asuransi atau pihak pemerintah. Ini berarti bahwa,
kecurangan tidak hanya dilakukan oleh orang didalam organisasi tetapi juga pihak luar (eksternal) memiliki peluang yang sama untuk melakukan kecurangan.
Dapat disimpulkan kecurangan akuntansi atau fraud merupakan tindakan kecurangan atau kejahatan yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan secara illegal untuk memperoleh kekayaan atau memperoleh manfaat terhadap pihak lain dengan penyajian yang palsu.
A. Segitiga Kecurangan (Fraud Triangle)
(Kennedy & Siregar, 2017) Teori Fraud yang mendasar adalah fraud triangle theory. Konsep segitiga kecurangan pertama kali diperkenalkan oleh Cressey (1953) menyimpulkan bahwa: “Orang yang dipercayai menjadi pelanggar kepercayaan ketika ia melihat dirinya sendiri sebagai orang yang mempunyai masalah keuangan tidak dapat diceritakan kepada orang lain, sadar bahwa masalah ini secara diam-diam dapat diatasinya dengan menyalahgunakan kewenangannya sebagai pemegang kepercayaan di bidang keuangan, dan tindak sehari-hari memungkinkannya menyesuaikan pandangan mengenai dirinya sebagai seseorang yang biasa dipercaya dalam menggunakan dana atau kekayaan yang dipercayakan Hasil dari penelitian itu memunculkan faktor-faktor pemicu kecurangan yang saat ini dikenal dengan istilah “Fraud Triangle”. Berdasarkan penelitian Donal Cressey, orang yang melakukan aktivitas curang akibat interaksi dorongan yang berasal dari dalam kepribadian individu terkait dan dari lingkungan eksternal. Dorongan ini diklasifikasikan ke dalam tiga kategori umum yaitu pressure, opportunity dan rationalization (Widarti, 2009). Menurut IAI dalam buku (Tuanakotta, 2015) faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya
kecurangan ada dua, akan tetapi menurut Statements on Auditing Standar 99 yang menjadi acuan dalam SA seksi 316, faktor tersebut terdiri dari tiga hal berikut ini yang disebut Fraud Triangle. Layaknya sebuah segitiga yang saling berhubungan antara satu sudut dengan sudut lainnya, ketiga faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecurangan tersebut saling terkait satu dengan lainnya. Ketiga faktor tersebut adalah sebagai berikut, dimana menurut IAI hanya mencakup dua faktor yang pertama saja.”
1. Tekanan (Pressure)
Adanya tekanan atau dorongan untuk melakukan kecurangan berdasarkan alasan ini manajemen atau pegawai bisa melakukan kecurangan dalam pelaporan keuangan karena berada di bawah tekanan untuk, misalnya, mencapai target laba tertentu atau untuk memenuhi kebutuhan tertentu, sehingga mempunyai motif untuk melakukan kecurangan.
2. Peluang (Opportunity)
Adanya peluang atau kesempatan untuk melaksanakan kecurangan berdasarkan alasan ini seseorang di dalam organisasi akan melakukan apabila ia merasa yakin bahwa dirinya dapat menghindari pengendalian intern atau sistem dianggapnya tidak akan menemukan kecurangan yang dilakukannya.
3. Pembenaran (Rationalization)
Adanya rasionalisasi atau alasan pembenaran berdasarkan alasan ini seseorang di dalam organisasi yang melakukan tindakan kecurangan tersebut membuat pembenaran terhadap perilaku untuk berbuat kecurangan yang dilakukannya. Artinya, orang yang melakukan kecurangan tersebut
memiliki sikap, karakter atau nilai-nilai etika tertentu yang membuatnya secara sadar dan paham betul untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji.
B. Teori GONE (GONE Theory)
Selain itu kecenderungan kecurangan akuntansi juga dapat dipicu dan di pengaruhi oleh beberapa faktor perusahaan (eksternal) dan faktor dalam diri (internal) sebagai pelaku kecurangan itu sendiri (Aranta, 2013). Teori yang dikemukakan oleh Jack Bologna dalam (Karyono, 2013) terdapat empat faktor pendorong seseorang melakukan tindakan kecurangan, atau yang lebih dikenal sebagai teori GONE, yaitu:
1. Greed (Keserakahan)
Berkaitan dengan perilaku serakah yang potensial ada dalam diri setiap orang.
2. Opportunity (Kesempatan)
Berkaitan dengan keadaan organisasi, instansi, masyarakat yang sedemikian rupa sehingga terbuka bagi seseorang untuk melakukan kecurangan terhadapnya.
3. Need (Kebutuhan)
Berkaitan dengan faktor-faktor yang dibutuhkan oleh individu untuk menunjang hidupnya secara wajar.
4. Exposure (Pengungkapan)
Berkaitan dengan kemungkinan dapat diungkapnya suatu kecurangan dan sifat serta beratnya hukuman terhadap pelaku kecurangan. Semakin besar
kemungkinan suatu kecurangan dapat diungkap, semakin kecil dorongan seseorang untuk melakukan kecurangan tersebut, semakin besar hukuman kepada pelaku kecurangan akan semakin kurang dorongan seseorang untuk melakukan kecurangan.
C. Fraud di Sektor Pemerintahan
Korupsi merupakan jenis kecurangan (fraud) yang sering terjadi di sektor pemerintahan. Korupsi berasal dari bahasa latin, Corruptio-Corrumpere yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, atau menyogok. Secara harfiah korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri yang memperkaya diri sendiri atau memperkaya orang lain yang dekat dengannya secara tidak wajar, tidak legal, dan dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka (Ika Ruly, 2012).
Faktor penyebabnya korupsi bisa dari internal pelaku korupsi, tetapi juga bisa dari faktor lingkungan yang kondusif untuk melakukan korupsi. Sebab-sebab seseorang melakukan tindakan korupsi dapat berupa dorongan dari dalam dirinya, yang dapat pula dikatakan sebagai keinginan, niat, atau kesadaran untuk melalukan korupsi antara lain sifat tamak manusia, moral yang kurang kuat menghadapi godaan, gaya hidup konsumtif, tidak mau atau malas bekerja keras (Siregar, 2017). Kasus korupsi di pemerintahan tidak hanya melibatkan orang- orang yang mempunyai jabatan tinggi tetapi juga orang-orang yang berada dibawahnya, tindak korupsi yang sering dilakukan diantaranya adalah memanipulasi pencatatan, penghilangan dokumen, dan mark-up yang merugikan keuangan dan perekonomian negara (Aksa, 2018)
D. Komponen Kecurangan
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, 2016). The ACFE membagi Fraud (Kecurangan) dalam tiga jenis atau tipologi berdasarkan perbuatan yaitu:
1. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation);
Asset misappropriation meliputi penyalahgunaan atau pencurian aset atau harta perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur atau dihitung (defined value).
2. Kecurangan Laporan Keuangan (Fraudulent Statements);
Fraudulent statements meliputi tindakan yang dilakukan oleh pejabat atau eksekutif suatu perusahaan atau instansi pemerintah untuk menutupi kondisi keuangan yang sebenarnya dengan melakukan rekayasa keuangan (financial engineering) dalam penyajian laporan keuangannya untuk memperoleh keuntungan atau mungkin dapat dianalogikan dengan istilah window dressing.
3. Korupsi (Corruption)
Jenis fraud ini yang paling sulit dideteksi karena menyangkut kerja sama dengan pihak lain seperti suap dan korupsi, dimana hal ini merupakan jenis yang terbanyak terjadi di negara-negara berkembang yang penegakan hukumnya lemah dan masih kurang kesadaran akan tata kelola yang baik sehingga faktor integritasnya masih dipertanyakan. Fraud jenis ini sering kali tidak dapat dideteksi karena pihak yang bekerja sama menikmati keuntungan termasuk di dalamnya adalah penyalahgunaan
wewenang/konflik kepentingan (conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan yang tidak sah/illegal (illegal gratuities), dan pemasaran secara ekonomi (economic extortion).
2.1.2. Pengertian Pengendalian Internal
Menurut (BPK, 2008) Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 sistem pengendalian internal pemerintah yang selanjutnya disebut SPIP adalah sistem pengendalian intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam sistem pengendalian internal pemerintah, di dalamnya terdapat pengawasan intern. Pengawasan intern adalah seluruh proses kegiatan audit, review, evaluasi, pemantauan, dan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai tolak ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik.
Pengendalian internal adalah proses yang dirancang untuk memberikan kepastian yang layak mengenai pencapaian tujuan manajemen tentang realibilitas pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi, dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku (Arens et al., 2008) dalam (Dewi, 2016).
Menurut (Mulyadi, 2002) pengendalian internal sebagai proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain yang di desain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan yaitu keandalan laporan keuangan, kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, efektivitas dan efisiensi operasi.
A. Tujuan pengendalian Internal
Menurut (Mulyadi, 2002) tujuan pengendalian internal adalah untuk memberikan keyakinan memadai dalam pencapaian tiga golongan tujuan yaitu:
1. Keandalan informasi keuangan
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku 3. Efektivitas dan efesiensi operasi
Karena tidak semua tujuan pengendalian intern tersebut relevan dengan audit atas laporan keuangan, tanggung jawab auditor dalam mematuhi standar pekerjaan lapangan kedua sebagaimana disajikan di atas, hanya dibatasi pada golongan tujuan pertama keandalan laporan keuangan. Oleh karena itu, auditor berkewajiban untuk memahami pengendalian intern yang ditunjukan untuk memberikan keyakinan memadai bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip auntansi umum di Indonesia.
B. Keterbatasan Pengendalian Internal
Dalam Mulyadi (Mulyadi, 2002) menyatakan bahwa pengendalian internal setiap entitas memiliki keterbatasan bawaan. Oleh karena itu, diatas telah disebutkan bahwa pengendalian internal hanya memberikan keyakinan memadai, bukan mutlak, kepada manajemen dan dewan komisaris tentang pencapaian entitas. Berikut ini adalah keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap pengendalian intern:
1. Kesalahan dalam pertimbangan
Seringkali manajemen dan personel lain dapat salah dalam mempertimbangkan keputusan bisnis yang diambil atau dalam melaksanakan tugas rutin karena tidak memadainya informasi, keterbatasan waktu, dan tekanan lain.
2. Gangguan
Gangguan dalam pengendalian yang telah ditetapkan dapat terjadi karena personel secara keliru memahami perintah atau membuat kesalahan karena tidak adanya perhatian, atau karena kelalaian. Perubahan yang bersifat sementara atau permanen dalam personel atau dalam sistem dan prosedur dapat pula mengakibatkan gangguan.
3. Kolusi
Tindakan bersama beberapa individu untuk tujuan kejahatan disebut dengan kolusi (collusion). Kolusi dapat mengakibatkan bobolnya pengendalian internal yang dibangun untuk melindungi kekayaan entitas dan tidak terungkapnya ketidakberesan atau tidak terdeteksinya kecurangan oleh pengendalian internal yang dirancang.
4. Pengabaian oleh manajemen
Manajemen dapat mengabaikan kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti keuntungan pribadi manajer, penyajian kondisi keuangan yang berlebihan, atau ketaatan semua.
Contohnya adalah manajemen melaporkan laba yang tinggi dari jumlah sebenarnya untuk mendapatkan bonus lebih tinggi bagi dirinya untuk menutupi ketidakpatuhannya terhadap peraturan perundangan yang berlaku.
5. Biaya lawan manfaat
Biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan pengendalian internal tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian internal tersebut.
Karena pengukuran secara tepat baik biaya maupun manfaat biasanya tidak mungkin dilakukan, manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan secara kuantitatif dan kualitatif dalam mengavaluasi biaya dan manfaat suatu pengendalian internal.
C. Komponen Pengendalian Internal
Menurut Internal Control Integrated Framework yang dikeluarkan COSO dalam ( Arens, 2014), yaitu kerangka kerja pengendalian internal yang palig luas diterima di Amerika Serikat, menguraikan lima komponen pengendalian internal COSO meliputi hal-hal berikut ini:
1. Lingkungan Pengendalian
Tindakan, kebijakan, dan prosedur yang mencerminkan sikap manajemen puncak, direktur, dan pemilik entitas secara keseluruhan tentang pengendalian internal dan arti pentingnya.
Subkomponen lingkungan pengendalian, anatara lain:
a. Integritas dan nilai-nilai etis adalah produk dari standar etika dan perilaku entitas, serta bagaimana standar itu dikomunikasikan dan diberlakukan dalam praktik. Subkomponen ini meliputi tindakan manajemen untuk menghilangkan atau mengurangi dorongan dan godaan yang mungkin membuat karyawan melakukan tindakan tidak jujur, illegal, atau tidak etis. Ini juga meliputi pengkomunikasian nilai-
nilai entitas dan standar perilaku kepada para karyawan melalui pernyataan kebijakan, kode perilaku, dan teladan
b. Komitmen pada kompetensi adalah pengetahuan dan keterampilan yang dipelukan untuk menyelesaikan tugas mendefinisikan pekerjaan seseorang komitmen pada kompetensi meliputi pertimbangan manajemen tentang tingkat kompetensi bagi pekerjaan tertentu, dan bagaimana tingkatan tersebut diterjemahkan menjadi keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan.
c. Partisipasi dewan komisaris dan komite audit berperan penting dalam tata kelola korporasi yang efektif karena memikul tanggungjawab akhir untuk memastikan bahwa manajemen telah mengimplementasikan pengendalian internal dan proses pelaporan keuangan yang layak. Dewan komisaris yang efektif dan independen dengan manajemen, dan para anggotanya terus meneliti dan terlibat dalam aktivitas manajemen. Dewan komisaris harus secara teratur menilai pengendalian selain itu dewan yang aktif dan objektif sering kali juga dapat mengurangi kemungkinan bahwa manajemen mengesampingkan pengendalian yang ada. Untuk membantu melakukan pengawasan dewan membentuk komite audit yang diserahi tanggungjawab untuk melakukan komunikasi yang berkelanjutan dengan auditor eskternal maupun internal, termasuk menyetujui jasa audit dan nonauditor dan direktur memebahas berbagai masalah yang mungkin berhubungan dengan hal-hal seperti intergritas dan tindakan manajemen.
d. Filosofi dan gaya operasi manajemen melalui aktivitasnya, memberikan isyarat dan jelas kepada para karyawan tentang pentingnya pengendalian internal. Sebagi contoh, apakah manajemen mengambil risiko yang cukup besar, atau justru mengindari risiko itu.
Apakah target penjualan dan laba tidak realistis dan apakah karyawan didorong untuk melakukan tindakan yang agresif guna mencapai target tersebut? Dapat manajemen digambarkan sebagai “gemuk dan birokratis,” “ramping dan picik,” yang didominasi oleh satu atau segelintir individu, ataukah “pas”? memahami aspek ini serta aspek- aspek serupa dalam filosofi dan gaya operasi manajemen akan membuat auditor dapat merasakan sikap manajemen tentang pengendalian internal.
e. Struktur organisasi struktur organisasional entitas menentukan garis- garis tanggung jawab dan kewenangan yang ada. Dengan memahami struktur organisasi klien, auditor dapat mempelajari pengelolaan dan unsur-unsur fungsional bisnis serta melihat bagaimana pengendalian diimplementasikan.
f. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia aspek paling penting dari pengendalian adalah personil. Jika karyawan kompeten dan bisa dipercaya, pengendalian internal lainnya dapat diabaikan, dan laporan keuangan yang andal masih akan dihasilkan. Orang-orang yang tidak kompeten atau tidak jujur bisa merusak sistem meskipun ada banyak pengendalian yang diterapkan. Orang-orang jujur dan efisien mampu mencapai kinerja yang tinggi meskipun hanya ada segelintir
pengendaluan yang lain untuk mendukung mereka. Akan tetapi, orang-orang kompeten dan terpercaya sekalipun bisa saha memiliki kekurangan, sebagai contoh, mereka dapat menjadi bosan atau tidak puas, masalah pribadi dapat menggangu kinerja mereka, atau sasarannya mungkin berubah. Karena pentingnya personil yang kompeten dan terpercaya dalam mengadakan pengendalian yang efektif, metode untuk mengangkat, mengevaluasi, melatih, mempromosikan, dan memberi kompensasi kepada personil itu merupakan bagian yang penting dari pengendalian internal. Setelah memperoleh informasi tentang setiap subkomponen lingkungan pengendalian, auditor menggunakan pemahaman ini sebagai dasar untuk menilai.
2. Penilaian Risiko
(Arens, 2014) Pengidentifikasian dan analisis oleh manajemen terhadap risiko yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan kerangka kerja akuntansi yang tepat seperti GAAP atau IFRS.
Sebagai contoh, jika suatu perusahaan sering menjual produk dengan harga di bawah harga pokok persediaan karena pesatnya perubahan teknologi, perusahaan harus menyelenggarakan pengendalian yang memadai untuk mengatasi risiko melebihsajikan persediaan. Demikian pula, kegagalan untuk memenuhi tujuan sebelumya, mutu personil, penyebaran geografis operasi perusahaan, signifikansi dan kompleksitas proses bisnis inti, pengenalan teknologi informasi yang baru, dan munculnya pesaing yang
baru, semuanya merupakan contoh faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko.
Proses penilaian resiko:
a. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi risiko b. Menilai signifikasi risiko dan kemungkinan terjadinya
c. Menentukan tindakan yang diperlukan untuk mengelola risiko Kategori asersi manajemen yang harus dipenuhi:
a. Asersi tentang kelas transaksi dan peristiwa lain b. Asersi tentang saldo akun
c. Asersi tentang penyajian dan pengungkapan 3. Aktivitas Pengendalian
Menurut (Arens, 2014) aktivitas pengendalian (control activities) adalah kebijakan dan prosedur, selain yang sudah termasuk dalam empat komponen lainnya, yang membantu memastikan bahwa tindakan yang diperlukan telah diambil untuk menangani risiko guna mencapai tujuan entitas. Sebenarnya ada banyak aktivitas pengendalian semacam ini dalam entitas manapun, termasuk pengendalian manual dan terotomasi. Aktivitas kebijakan prosedur yang telah ditetapkan manajemen untuk mencapai tujuannya bagi pelaporan keuangan.
Jenis aktivitas pengendalian khusus:
a. Pemisahan tugas yang memadai ada empat pedoman umum menyangka pemisahan tugas yang memadai untuk mencegah baik kecurangan maupun kekeliruan yang terutama penting bagi auditor.
b. Pemisahan penyimpanan aset dari akuntansi untuk melindungi perusahaan dari penyelewengan, seseorang yang ditugaskan menyimpan aktiva secara permanen ataupun temporer tidak boleh mencatat aset itu. Jika satu orang dibiarkan melaksanakan fungsi tersebut, risiko bahwa orang itu mengeluarkan aset demi demi keuntungan pribadi dan menyesuaikan catatan untuk menutupi pencurian itu akan meningkat.
c. Pemisahan otorisasi transaksi dari penyimpanan aset terkaitsebaknya, orang yang mengotorisasi transaksi tidak boleh memegang kendali atas aset terkait, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penyelewengan. Sebagai contoh, orang yang sama tidak boleh mengotorisasi pembayaran faktur vendor dan juga menandatangani cek pembayaran tagihan itu.
d. Pemisahan tanggung jawab operasional dari tanggung jawab pencatatan untuk memastikan bahwa informasi tidak bias, pencatatan bisanya dimasukkan dalam departemen terpisah di bawag kontroler.
Sebagai contoh, jika setiap departemen atau divisi menyiapkan catatan dan laporannya sendiri, departemen atau divisi itu bisa saja mengubah hasilnya untuk memperbaiki kinerja yang dilaporkan.
e. Pemisahan tugas TI dan departemen pemakai apabila tingkat kompleksitas sistem TI meningkat, peisahan otorisasi, pencatatan, dan penyimpaan sering kali menjadi tidak jelas. Sebagai contoh, agen penjualan boleh memasukkan pesanan pelanggan secara online.
Komputer megotorisasi penjualan itu berdasarkan perbandingan batas
kredit pelanggan dengan file induk, lalu mebukukan semua penjualan yang disetujui ke dalam jurnal siklus penjualan. Karena itu, komputer memainkan peran yang penting dalam mengotorisasi dan mencatat transaksi penjualan.
4. Informasi dan Komunikasi
(Arens, 2014) Metode yang digunakan untuk memulai, mencatat, memproses, dan melaporkan transaksi entitas serta mempertahankan akuntanbilitas aset terkait.
Tujuan audit yang berhubungan dengan transaksi yang harus dicapai:
a. Keterjadian b. Kelengkapan c. Keakuratan
d. Posting dan pengikhtisaran e. Klasifikasi
f. Penetapan waktu 5. Aktivitas Pengawasan
(Arens, 2014) Berhubungan dengan penilaian mutu pengendalian internal secara pengendalian itu telah beroperasi seperti yang diharapkan, dan telah dimodifikasi sesuai dengan perubahan kondisi. Informasi yang dinilai ini berasal dari berbagai sumber, termasuk studi atas pengendalian internal yang ada, laporan auditor internal, pelaporan pengecualian tentang aktivitas pengendalian, lapiran dari pembuat peraturan seperti badan pengatur bank, umpan balik dari personil operasional, dan keluhan pelanggan tentang jumlah tagihan.
2.1.3. Pengertian Kompetensi
Definisi menurut (Hutapea, 2008), yaitu:
“Kompetensi didefinisikan sebagai kapasitas yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu memenuhi apa yang diisyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu organisasi sehingga organisasi tersebut dapat mencapai hasil yang diharapkan.”
Menurut Kepala Badan Kepegawaian Negeri Nomor: 46A 2003 definisi kompetensi sumber daya manusia adalah:
“Kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, efektif dan efesien.”
Menurut (Mulyadi, 2002) mengemukakan:
“Kompetensi menunjukan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkatan pemahaman dan pengetahuan yang memungkinkan seseorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan.”
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan kemampuan dan karakteristik yang dimiliki seseorang berupa pengetahuan atau keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaannya sehingga pekerja dapat menyelesaikan pekerjaan yang baik secara efesien dan efektif.
Warisno (2009) dalam (Firdaus et al., 2015) mengemukakan bahwa dalam rangka pengelolaan keuangan daerah yang baik SKPD harus memiliki kualitas sumber daya manusia yang didukung dengan latar belakang pendidikan akuntansi,
sering mengikuti pendidikan dan pelatihan, dan mempunyai pengalaman di bidang keuangan dalam pengelolaan keuangan daerah yang baik.
Dalam (Mulyadi, 2002) mengemukakan bahwa kompetensi menunjukan terdapatnya pencapaian dan pemeliharaan suatu tingkat pemahan dan pengetahuan yang memungkinkan seseorang anggota untuk memberikan jasa dengan kemudahan dan kecerdikan. Dalam penguasaan professional melebihi kompetensi anggota atau perusahaan, anggota wajib melakukan konsultasi atau menyerahkan klien kepada pihak lain yang lebih kompeten. Setiap anggota bertanggung jawab untuk melakukan kompetensi masing-masing atau menilai apakah pendidikan, pengalaman, dan pertimbangan yang diperlukan memadai untuk tanggung jawab yang dipenuhinya.
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seyogyanya tidak menggambarkan dirinya memiliki keandalan dan pengalaman yang tidak mereka punyai. Dalam semua penugasan dan dalam semua tanggung jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya untuk mencapai tingkatan profesionalisme tinggi seperti diisyaratkan oleh prinsip etika. Kompetensi dibagi menjadi atas dua fase terpisah yaitu:
A. Pencapaian Kompetensi Professional
Pencapaian kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan khusus, pelatihan dan ujian profesional dalam subjek-subjek yang relevan, dan pengalaman kerja. Hal ini menjadi pola pengembangan yang normal untuk anggota.
1. Pemeliharaan Kompetensi Profesional
a. Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalaui komitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
b. Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, termasuk di antaranya pernyataan akuntansi, auditing dan peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan.
c. Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.
A. Komponen Kompetensi
Menurut (Hutapea, 2008) mengungkapkan bahwa ada tiga komponen utama pembentukan kompetensi yaitu sebagai berikut:
1. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki seorang pegawai untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab sesuai bidang yang digelutinya. Ilmu atau informasi yang dimiliki seorang pegawai dapat digunakan dalam kondisi nyata dalam suatu pekerjaan. Pengetahuan pegawai turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup meningkatkan efisiensi perusahaan.
2. Keterampilan (Skill)
Keterampilan adalah suatu upaya untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab yang diberikan perusahaan kepada seorang pegawai dengan baik dan maksimal. Misalnya keterampilan bekerja sama dengan memahami dan memotivasi orang lain, baik secara individu atau kelompok keterampilan ini sangat diperlukan pegawai yang sudah menduduki jabatan tertentu, karena keterampilan ini dalam berkomunikasi, memotivasi, dan mendelegasi. Selain pengetahuan dan keterampilan pegawai, hal yang perlu diperhatikan adalah sikap atau perilaku pegawai.
3. Sikap (Attitude)
Sikap adalah pola tingkah laku seorang pegawai di dalam peran melaksanakan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan peraturan perusahaan. Apabila pegawai mempunyai sifat mendukung pencapaian organisasi, maka secara otomatis segala tugas yang dibebankan kepadanya akan dilakukan sebaik-baiknya.
2.1.4. Pengertian Locus of Control
Menurut (Setiawan et al., 2016) dalam (Busro, 2017) locus of control atau lokus pengendalian merupakan suatu kendali individu atas pekerjaan sendiri dan kepercayaan pribadi terhadap keberhasilan pribadi. Locus of control mengacu pada suatu pemahaman bahwa seseorang individu memiliki kemampuan untuk
menghubungkan faktor eksternal yang berhubungan dengan deposisi (pengendapan) persepsi setiap indvidu.
Dari segi istilah, locus berarti tempat, sedangkan control adalah kendali.
Jadi secara harafiah, locus of control adalah tempat kendali. Locus of control merupakan aspek kepribadian yang kontinum (Lefcourt, 1982) dalam (Busro, 2017) sehingga setiap individu memiliki locus of control baik internal maupun eksternal. (Brownell, 2014) menyatakan bahwa locus of control merupakan tingkatan di mana seseorang menerima tanggungjawab personal terhadap apa yang terjadi pada diri mereka.
Dapat disimpulkan bahwa locus of control merupakan pengendalian pribadi atas kendali individu – individu dalam suatu peristiwa yang dapat menentukan nasib atau kejadian yang terjadi pada diri mereka dengan individu locus of control eksternal,sedangkan seseorang dengan locus of control internal cenderung meyakini bahwa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan merka didasarkan pada usaha atau upaya yang dilakukan sendiri.
A. Konsep Locus of Control
Menurut (Busro, 2017) Konsep tentang Locus of Control pertama kali dikemukakan oleh Rotter pada tahun 1996 yang merupakan seorang ahli teori pembelajaran sosial. Locus of control merupakan salah satu variable kepribadian yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib (destiny) sendiri. Locus of control (Rotter, 1960) dalam (Busro, 2017) disebut juga istilah kendali atau kontrol. Istilah ini sangat berhubungan dengan pendekatan kognitif Rotter memandang locus of control sebagai variable sentral dalam struktur kepribadian yang implisit
dalam proses belajar, dan mempengaruhi tingkah laku actual, mewarnai sikap dan perasaan, pusat hirarki dalam pola pikir, serta mendasari tingkah lau, penyesuaian diri maupun antisipasi, termasuk dalam konteks tingkah laku atau perilaku dalam membuat keputusan.
B. Macam-Macam Atribusi Locus Of Control
Menurut (Rotter, 1996) dalam (Busro, 2017), locus of control atau lokus pengendalian ini terbagi menjadi dua yaitu:
1. Lokus pengendalian internal yang mencirikan seseorang memiliki keyakinan bahwa mereka bertangungjawab atas perilaku kerja mereka di organisasi.
2. Lokus pengendalian eksternal yang mencirikan individu yang mempercayai bahwa perilaku kerja dan keberhasilan tugas mereka lebih dikarenakan faktor di luar diri yaitu organisasi.
a. Internal Locus of control
Locus of control yang bersifat internal dan eksternal adalah istilah yang digunakan oleh Heider (Ikhsan, 2005) untuk menggambarkan jenis-jenis atribusi. Dari kedua locus of control ini akan muncul salah satu locus of control yang paling kuat sehingga ketika ia menampilkan suatu tingkah laku dalam lingkungannya akan menggunakan salah satu aspek kepribadiannya baik itu internal locus of control maupun eksternal locus of control. Locus of control yang bersifat internal, mengacu pada persepsi terhadap kejadian baik positif
maupun negatif sebagai konsekuensi dari tindakan atau perbuatan diri sendiri dan berada di bawah pengendalian dirinya.
External locus of control mengacu pada keyakinan bahwa suatu kejadian tidak memiliki hubungan langsung dengan tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri dan berada diluar kontrol dirinya.
b. External Locus of control
Locus of control eksternal berkeyakinan bahwa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka ditentukan oleh nasib, kesempatan dan kekuatan-kekuatan lain yang tidak dapat mereka kendalikan Jones dan Kavanaghdalam (Busro, 2017) Individu yang memiliki keyakinan bahwa lingkunganlah yang mempunyai kontrol terhadap nasib atau event-event yang terjadi dalam kehidupannya dikatakan individu tersebut memiliki external locus of control (Wiriani, 2011) dalam (Busro, 2017).
Menurut (Trevino, 1986) berpendapat bahwa seseorang dengan locus of control eksternal mungkin kurang bertanggungjawab atas konsekuensi perilaku etis atau tidak etisnya dan lebih berhubungan dengan kekuatan dari luar. Sebaliknya, seseorang dengan locus of control eksternal lebih bertanggungjawab dengan pihak-pihak lain dan faktor-faktor situasional, oleh karena itu mereka cenderung terlibat dalam perilaku tidak etis.
C. Indikator Locus of control
Johnson, G.H. dan McGill, G.A (1988) dalam (Busro, 2017) indikator locus of control adalahsebagai berikut:
a. External locus of control, persepsi atau pandangan individual terhadap sumber-sumber diluar dirinya yang mengontrol kejadian dalam hidupnya, seperti nasib, keberuntungan, kekuasaan atasan, dan lingkungan sekitar
b. Internal locus of control, persepsi atau pandangan individual terhadap kemampuan menentukan nasib sendiri.
Alat ukur locus of control bisa juga dikembangkan dari (Rotter, 1966) memilki aspek sebagai berikut:
a. Independensi (power full), pada individu yang memiliki independensi cenderung mampu membuat keputusan dan menyelesaikan tugas- tugas tanpa bergantung pada orang lain atau kekuatan dari orang lain atau kekuatan dari luar dirinya.
b. Believed of volition (will power), yakni kemauan yang mengandung unsur atau nuansa kemampuan untuk memilih, atau motivasi yang menyangkut pada alasan untuk memilih dengan antusias, yakni adanya semangat yang bisa juga disebut sebagai obsesi terhadap sesuatu yang ingin dicapai.
c. Belivied individual control (kontrol atas kepercayaan diri), adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu
tindakan, dan cenderung meyakini bahwa dirinya sendiri yang menentukan hidupnya.
d. Believed of individual change (responsibility), adalah kesanggupan seseorang untuk melihat apa yang telah dilakukan dan belajar bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Seseorang menyadari dan percaya bahwa segala sesuatu yang dilakukan harus bertanggung jawabkan secara moral maupun sosial. Believed of individual change juga menyangkut kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan mempersiapkan segala sesuatu dari kehidupan di masa datang.
2.2. Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai kecurangan akuntansi telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya dan digunakan sebagai rujukan atau acuan dalam melakukan penelitian ini. Berikut ringkasan penelitan terdahulu:
Tabel II. 1
Penelitian Terdahulu
No Peneliti/
Tahun Judul Persamaan Perbedaan Hasil
1 Deni Ahriati, dkk (2015)
Analisis Pengaruh Sistem Pengendalian Internal, Asimetri Informasi, Perilaku Tidak Etis Dan Kesesuaian Kompensasi Terhadap Kecenderungan KecuranganAkuntansi
Deni Ahriati dan Penulis menggunakan variable yang sama pengendalian internal dan kecenderungan kecurangan akuntansi
Perbedaan dalam variable ini penulis tidak
menggunakan asimetri informasi, perilaku tidak etis dan kesesuaian kompensasi
Pengendalian Internal dan kesesuaian kompenasai tidak terdapat pengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.
Sedangkan asimetri informasi, perilaku tidak
etis tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.
2 Anastasia &
Sparta (2014)
Pengaruh Keefektifan Pengendalian Internal, Persepsi Kesesuaian Kompensasi, dan Moralitas Individu Terhadap
Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
Persamaan dalam penelitian ini menggunakan variabel pengendalian internal, dan kecenderungan kecurangan akuntansi
Perbedaan penelitian ini tidak
menggunakan variabel persepsi kesesuaian kompensasi dan moralitas individu
Hasil penelitian efektivitas pengendalian internal dan persepsi kesesuaian kompensasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.
Moralitas individu mempengaruhi terjadinya kecurangan akuntansi.
3 Muchammad Ichsan Siregar &
Mufid Hamdani (2018)
Pengaruh Kesesuaian Kompensasi,
Keefektifan Sistem Pengendalian Internal, Budaya Organisasi, dan Kompetensi Terhadap Fraud
Persamaan yang diteliti adalah menggunakan variabel sistem pengedalian internal, kompetensi terhadap fraud
Perbedaan penelitian ini tidak
menggunakan variabel kesesuaian kompensasi, dan budaya organisasi
Hasil penelitian menunjukan keefektifan sistem pengendalian internal, dan budaya organisasi berpengaruh negatif terhadap fraud.
Sedangkan kesesuaian kompensasi dan kompetensi
tidak berpengaruh terhadap fraud.
4 Agus Artha
& Gerianta Wirawan (2016).
Efek moderasi locus of control pada hubungan otoritas atasan dan
kecurangan akuntansi
Persamaan dalam penelitian ini menggunakan variable locus of control dan kecurangan akuntansi
Perbedaan penelitian ini tidak
menggunakan variable hubungan otoritas atasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara otoritas atasan pada kecurangan akuntansi yang semakin tinggi pada individu dengan locus of control eksternal dalam kondisi ada otoritas atasan untuk melakukan kecurangan dan rendah pada individu dengan locus of control internal dalam kondisi tanpa otoritas atasan untuk
melakukan kecurangan.
5 Novita Wening Tyas (2011)
Pengaruh Locus of Control Terhadap Hubungan Sikap Manajer, Norma- Norma Subyektif, Kendali Persepsian, Dan Intensi Manajemen Dalam Melakukan Kecurangan Penyajian Laporan Keuangan.
Persamaan penelitian ini sama sama meneliti variabel locus of control
Perbedaan penelitian ini tidak
menggunakan variabel hubungan sikap manjer, norma-norma subyektif, kendali intensi.
Hasil penelitian locus of control signifikan memoderasi pengaruh sikap ke arah perilaku dan norma-norma subyektif terhadap intensi manajer dalam melakukan kecurangan penyajian laporan keuangan.
Namun demikian, locus of control tidak signifikan memoderasi pengaruh kendali perlaku persepsian terhadap intensi manajer dalam melakukan kecurangan penyajian laporan keuangan.
Sumber: Dikumpulkan peneliti (2019)
2.2.1. Keterkaitan Pengendalian Internal terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
Pengendalian internal yang baik memungkinkan manajemen siap menghadapi perubahan dan persaingan global secara tepat untuk kemajuan yang akan datang. Sebaliknya jika pengendalian internal lemah maka kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecurangan semakin besar (Paranoan et al., 2018) Keefektifan pengendalian internal mempunyai pengaruh yang besar dalam upaya pencegahan kecenderungan kecurangan akuntansi, dengan adanya pengendalian internal maka pengecekan akan terjadi secara otomatis terhadap pekerjaan seseorang oleh orang lain (Lestari & Supadmi, 2017). Instansi pemerintah penting untuk menerapkan Sistem Pengendalian Internal untuk mencegah terjadinya tindak kecurangan yang dapat merugikan instansi. Penerapan sistem pengendalian internal yang baik diharapkan dapat memotivasi dan meningkatkan kepuasan kerja karyawan
(Wirakusuma & Setiawan, 2019). Penelitian yang dilakukan (Deni, 2016) pengendalian internal tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi karena sistem pengendalian internal dijalankan dengan baik dilingkup tempat penelitian.
2.2.2. Keterkaitan antara Kompetensi terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
Kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang berkaitan dengan efektivitas kinerja individu dalam pekerjaannya atau karakteristik dasar individu yang memiliki hubungan kausal atau sebagai sebab akibat dengan kriteria yang dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior di tempat kerja atau pada situasi tertentu (Wirakusuma & Setiawan, 2019). Kompetensi sumber daya manusia sebagai pilar penyangga utama sekaligus penggerak roda organisasi dalam mewujudkan visi misi serta tujuan organisasi (Indriasih, 2014). Sumber daya yang tidak memiliki kompetensi tidak akan menyelesaikan pekerjaan secara efesien, efektif dan ekonomis (Wati et al., 2014). Kompetensi yang rendah akan mengakibatkan kegagalan dalam audit karena auditor kesulitan dalam menemukan temuan- temuan yang berkenaan dengan terjadinya penyimpangan (Rokosu, 2015) Semakin tinggi penggunaan sumber daya akan dapat mencegah terjadinya kecurangan akuntansi (Fazini & Suparno, 2018). Penelitian yang dilakukan (M. I. Siregar & Hamdani, 2017) kompetensi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.
2.2.3. Keterkaitan antara Locus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi
Locus of control dapat dikatakan sebagai cara pandang seseorang terhadap suatu peristiwa yang terjadi padanya (Lee, 2013). Untuk menjadi seorang akuntan dalam melaksanakan tugas profesionalnya juga dipengaruhi oleh locus of control yang berkaitan dengan adanya takdir, kepercayaan diri dan usaha atau kerja keras dari akuntan itu sendiri atau sering dikatakan sebagai locus of control eksternal (Rubin et al., 2009). Locus of control eksternal berkeyakinan bahwa peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka ditentukan oleh nasib, kesempatan dan kekuatan-kekuatan lain yang tidak dapat mereka kendalikan atau berasal dari kekuatan luar Jones dan Kavanagh dalam buku (Busro, 2017). Seseorang dengan locus of control eksternal mungkin kurang bertanggungjawab atas konsekuensi perilaku etis atau tidak etisnya dan lebih berhubungan dengan kekuatan luar (Trevino, 1986). Hal tersebut di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Wirakusuma & Setiawan, 2019) yang menunjukan hasil penelitian bahwa locus of control berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi.
2.3 Kerangka Pemikiran
Kecurangan (fraud) adalah suatu tindakan yang sengaja dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk menggunakan sumber daya dari suatu organisasi secara tidak wajar (tindakan melawan hukum) dan salah menyajikan fakta (menyembunyikan fakta) untuk memperoleh keuntungan pribadi (Damanik,
2016). Tindakan fraud akan merugikan negara dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi suatu daerah sehingga proses pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menjadi terhambat (Pratama, 2018). Fraud di Kabupaten Bandung masih terjadi dalam beberapa tahun, kenyataannya masih banyak terjadi kecenderungan kecurangan akuntansi dalam laporan keuangan pemerintah yang sedang menjadi sorotan masyarakat (Damanik, 2016). Kecenderungan kecurangan akuntansi dipicu oleh faktor perusahaan (eksternal) dan faktor dalam diri (internal) sebagai pelaku kecurangan itu sendiri (Ade, 2017). Teori Fraud Triangle yang dijabarkan Cressey (1953) mengatakan bahwa korupsi juga disebabkan oleh 3 faktor, yaitu tekanan (Pressure), peluang (Opportunity), dan rasionalisasi (Rationalization) variable yang digunakan merupakan proksi dari unsur-unsur Faud Triangle.
Pengendalian internal menurut (BPK, 2008) Peraturan Pemerintah Nomor 60 sistem pengendalian internal pemerintah yang selanjutnya disebut SPIP adalah sistem pengendalian intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sistem pengendalian internal meliputi struktur, organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian, dan keandalan data akuntansi. Sistem pengendalian internal di Kabupaten Bandung masih lemah dan kurangnya pengawasan sehingga masih terjadinya kasus kecurangan akuntansi, dengan adanya pengendalian internal maka tindakan tidak etis akan berkurang, jika keefektifan pengendalian internal tinggi maka perilaku tidak etis akan menurun (Bestari, 2016). Pengendalian internal tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Jika pengendalian internal telah dirancang
dengan baik dan efektif, maka pengedalian internal dapat melindungi dari adanya kecurangan termasuk apabila ada karyawan yang berniat melakukan kecenderungan kecurangan akuntansi (Deni, 2016).
Kompetensi merupakan suatu karakteristik seseorang yang memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan (Purwanda & Harahap, 2015).
Keberadaan kompetensi sumber daya manusia dalam suatu organisasi merupakan aset yang berharga bagi organisasi itu sendiri. Kompetensi sumber daya manusia yang ada di Kabupaten Bandung masih perlu ditingkatkan dengan cara melakukan seminar atau pelatihan khusus untuk meingkatkan skill atau kompetensi para pegawai untuk menambah wawasan dan mengurangi nya suatu tindakan kecurangan (fraud) yang khususnya ada di pemerintahan. Kompetensi sumber daya manusia dapat diukur dengan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku (Hutapea, 2008).
Namun ada faktor lain yang menyebabkan kecurangan akuntansi yaitu locus of control menurut (Brownell, 2014) menyatakan bahwa locus of control merupakan tingkatan di mana seseorang menerima tanggungjawab personal terhadap apa yang terjadi pada diri mereka. Locus of control dibedakan menjadi dua, yaitu locus of control internal dan locus of control eksternal. Locus of control internal yaitu individu merasa merasa bahwa mereka dapat mengendalikan nasib sendiri, sedangkan locus of control eksternal yaitu beranggapan bahwa peristiwa yang terjadi pada diri individu dipengaruhi oleh faktor yang ada diluar dirinya seperti nasib dan keberuntungan (Fadila, 2016).
(Raiyani & Suputra, 2014) Locus of control eksternal juga dapat dikatakan sebagai situasi dimana individu dengan lokus kendali eksternal merasa tidak
mampu dalam mendapat dukungan kekuatan yang dibutuhkannya untuk bertahan dalam suatu organisasi, maka mereka akan memiliki potensi untuk coba memanipulasi rekan atau objek lainnya sebagai kebutuhan pertahanan mereka
Berdasarkan penelitian terdahulu dan kerangka pemikiran yang telah dijelaskan, maka model kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar II.1 Kerangka Pemikiran
Gambar II.1 Kerangka Pemikiran Keterangan:
: Uji secara parsial : Uji secara simultan
2.4 Hipotesis
(Sugiyono, 2017) mengemukakan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Jadi hipotesis juga dapat diartikan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban empiris. Berdasarkan kerangka pemikiran yang sudah disampaikan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Pengendalian internal, Kompetensi, dan Locus of control di Pemerintahan Kabupaten Bandung Kurang Baik.
2. Terdapat pengaruh signifikan antara pengendalian internal terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntasi pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung.
3. Terdapat pengaruh signifikan antara Kompetensi terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung.
4. Terdapat pengaruh signifikan antara Locus of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan akuntansi pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung.
5. Terdapat pengaruh yang signifikan antara Pengendalian Internal Kompetensi dan Locus Of Control terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi pada Badan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bandung.