Volume 2 | Halaman 286 – 290 | 28 Desember 2021 ISSN: 2746 - 9018
JAMU: HISTORIMU SEDARI DULU HINGGA DI MASA PANDEMI INI
* Kartika Nuringsih Editor: Frangky Selamat
Jamu sebagai produk kejeniusan lokal diwariskan oleh leluhur dengan manfaat sangat beraneka ragam. Sebagai minuman suplemen untuk menjaga kebugaran tubuh mulai balita, anak-anak, remaja, ibu hamil dan menyusui, pria dewasa sampai orang tua. Bahan baku utamanya merupakan hasil alam Indonesia sehingga melalui local genius ini empon-empon diolah menjadi aneka jamu seperti kunyit asam, beras kencur, cabe puyang dan lainnya. Dalam Purwaningsih tahun 2013 disebutkan istilah jamu mulai ada memasuki abad 15-16 Masehi dengan sebutan djamoe dari Bahasa Jawa yang terdiri djampi dan oesodo. Kata djampi berarti doa (pengobatan) sedangkan oesodo berarti sehat. Cerita ini membuktikan jamu sebagai cara penyembuhan serta harapan adanya kesembuhan dengan minum jamu tersebut.
Jamu juga diuraikan dalam sejumlah naskah Jawa Kuno sehingga sebagai alasan penting mempertahankannya sebagai warisan budaya. Penggunaan ramuan tradisional dan proses penyembuhan digambarkan pada relief Karmawibhangga Candi Borobudur pada masa Dinasti Syailendra. Bukti lainnya ditemukan pada relief Candi Penataran dan Prambanan sekitar abad 8-9 Masehi. Selanjutnya tahun 991-1016 Masehi terdapat manuskrip Lontar Bali atau Usada Bali berbahasa Jawa Kuno, Sansekerta dan Bahasa Bali. Naskah ini sebagai referensi penyembuhan menggunakan obat tradisional. Pada tahun 1720 tertulis manuskrip berisikan 2.100 tulisan pengobatan tradisional Jawa. Metode pengobatan masyarakat Jawa Kuno diceritakan pada Serat Centhini tahun 1814. Tahun 1858 tertulis “Serat Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi” berisikan 1.734 resep jamu serta cara penggunaan jamu tersebut. Naskah ini sebagai referensi cara pengobatan tradisional masyarakat Jawa yang tersimpan di Perpustakaan Keraton Surakarta Jawa Tengah.
Istilah jamu ditulis di Serat Primbon tahun 1875 berbunyi: “djampi ingkang sampoen kangge ing salami-laminipoen”. Cerita ini menggambarkan bahwa jamu sudah digunakan oleh leluhur kita sedari dulu dan hingga sekarang masih dipertahankan dengan baik oleh masyarakat.
Konon sejalan dengan perkembangannya, jamu bukan sekadar sebagai produk untuk menjaga kebugaran tetapi mengandung simbol atau filosofi yang diperkenalkan kepada masyarakat umum
Volume 2 | Halaman 286 – 290 | 28 Desember 2021 ISSN: 2746 - 9018
oleh Raja Sultan Agung pada masa Kerajaan Mataram Islam. Ada delapan jenis jamu yang diselaraskan dengan simbol arah angin atau melambangkan Surya Majapahit (Wilwatikta), yaitu:
“Kunyit Asam, Beras Kencur, Cabe Puyang, Pahitan, Kunci Suruh, Kudu Laos, Uyup- Uyup/Gepyokan, dan Sinom”. Bahkan delapan jenis jamu tersebut juga memiliki gambaran sebagai siklus kehidupan manusia atau harapan dengan urutan bahwa kehidupan manusia diawali dengan kondisi yang terasa manis dan asam, kemudian sedikit rasa pedas-hangat, beralih pada rasa pedas, mulai merasakan kepahitan kemudian menjadi tawar dan akhirnya kehidupan akan kembali manis.
Berdasarkan historis tersebut tersimpulkan jamu sebagai aset budaya bangsa, terkandung kearifan lokal bangsa Indonesia sehingga harus dipertahankan tradisi tersebut supaya dapat dipelajari dan dimanfaatkan oleh generasi mendatang. Apresiasi ini akan selaras dengan upaya mempertahankan keberlanjutan jamu di masa mendatang.
Jamu tidak lepas dari keanekaragaman hayati alam Indonesia. Terbuat dari bahan baku alami yang segar berupa daun, akar, bunga, buah, cabang, biji, rimpang, atau seluruh bagian tanaman.
Rimpang disebut empon-empon seperti: kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber officinale), temu lawak (Curcuma xanthorrhiza), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga), temu kunci (Boesenbergia pandurata), bangle (Zingiber purpureum), temu giring (Curcuma heyneana), temu ireng (Curcuma aeruginosa), lempuyang (Zingeiber aromaticum), dan kunci pepet (Kaempferia augustifolia).
Gambar 1. Aneka Bahan Baku Jamu
Rasa jamu bervariasi dari manis hingga asam untuk kunyit asam. Beras kencur rasanya sedikit manis, pedas, dan hangat. Cabe puyang rasanya pedas dan pahit. Pahitan rasanya pahit atau
Volume 2 | Halaman 286 – 290 | 28 Desember 2021 ISSN: 2746 - 9018
sangat pahit. Kunci suruh rasanya hambar dan sedikit tidak enak. Kudu laos memiliki rasa hangat.
Uyup-uyup berupa campuran rasa pahit, asam, dan manis. Sinom rasanya asam dan manis. Rasa manis ditambahkan dengan menggunakan gula merah/gula jawa atau gula aren, sedangkan rasa asam ditambahkan dengan menggunakan buah asam (Tamarindus indica). Rasa pahit ditambah dengan menggunakan brotowali (Tinospora tuberculata) atau sambiloto (Andrographis paniculata).
Pedasnya ditambah menggunakan cabe Jawa (Piper rectofractrum) dan ditambah rasa kurang enak seperti rasa sepet dengan menggunakan daun sirih (Piper betle) atau buah manjakan (Querqus lusitania). Perasan air jeruk nipis dapat ditambahkan untuk memberikan rasa segar. Bahan-bahan tersebut diambil secara alami yang memberikan efek baik bagi kesehatan dan kebugaran sehingga dilarang mencampur bahan kimia yang dapat menghilangkan khasiat pada jamu tersebut.
Dalam studi Maria Costanza Torri tahun 2013 disebutkan World Health Organization (WHO) mendefinisikan jamu “as the sum of knowledge, skills, and practices based on the theories, beliefs and experience of different culture that are used to maintain health, as well as to prevent, diagnose, improve or treat physical and mental illness. Di tingkat akar rumput usaha jamu gendong atau “jamu peddler” berperan dalam mendistribusikan jamu kepada konsumen. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia No. 006 Tahun 2012, Usaha Jamu Gendong (UJG) didefinisikan: ”Usaha yang dilakukan oleh perseorangan dengan menggunakan bahan obat tradisional dalam bentuk cairan yang dibuat segar dengan tujuan dijajakan langsung kepada konsumen.” Sejalan dengan peraturan UJG merupakan salah satu bentuk usaha perseorangan atau rumah tangga (household scale industry) yang membuat jamu dengan cara sederhana kemudian menjadikannya untuk menjaga kebugaran masyarakat. Hal ini menunjukkan aspek sosial dan ekonomi dalam sektor jamu. Aspek tersebut menggiring pada aktivitas entrepreneurial dalam pengembangan kreativitas dan inovasi sehingga stakeholder bertanggung jawab dalam pendampingan komunitas.
Lebih lanjut, Torri (2013) menuturkan
“Traditional jamu makers also care about hygiene, sanitation and chemical contaminations from biological or non-biological sources. They try to protect raw materials and products from contamination, although this is far from international industrial standards. The way of preparation is
Volume 2 | Halaman 286 – 290 | 28 Desember 2021 ISSN: 2746 - 9018
often different from producer to producer, and production steps like selection of raw materials, sorting, grating, scraping, crushing, mixing and cooking, followed by boiling of the plant material in a hygienic way can differ significantly”.
Meskipun secara tradisional, kesadaran menjaga kebersihan dalam proses pengolahan sudah dimiliki pedagang namun masih sangat berbeda antara pedagang satu dengan lainnya. Dalam praktiknya juga ditemukan faktor higienitas pribadi, kondisi dapur serta penggunaan perlengkapan seperti panci, botol dan peralatan melayani pelanggan juga berbeda antara pedagang satu dengan lainnya. Dengan adanya variasi tersebut diperlukan kepedulian stakeholder untuk turut mendampingi komunitas UJG agar menghasilkan jamu sesuai atau mendekati harapan Permenkes serta WHO.
Gambar 2. Jamu Budhe Sum
Sebagai potensi ekonomi dipastikan sektor jamu memberikan peluang ekonomi sehingga banyak remaja atau wanita dari Kabupaten Boyolali, Wonogiri, Karanganyar mencoba menopang keberlanjutan ekonomi keluarga melalui jamu gendong. Salah satu di antaranya adalah Budhe Sumi yang selama puluhan tahun menjalankan UJG di Kelurahan Beji Timur Kota Depok. Seperti halnya
Volume 2 | Halaman 286 – 290 | 28 Desember 2021 ISSN: 2746 - 9018
pedagang jamu lainya, Budhe Sumi menjalankan usaha secara berkeliling sekitar Beji Timur. Namun pandemi Covid-19 mengubah realitas dan ekspektasi yang telah dijalankan selama ini. Sebagian pedagang pulang kampung untuk mengerjakan aktivitas pertanian karena jamu kurang memberikan pendapatan. Di antara pedagang ada yang masih menjalankan usahanya meskipun penjualannya tidak seperti sebelumnya. Ada yang masih mempertahankan dengan sepeda atau digendong tetapi sebagian besar dari mulai berjualan online secara personal. Metamorfosis terjadi dari jamu gendong menjadi jamu online melalui WhatsApp sehingga pendekatan ini sebagai bentuk adaptasi dengan pandemi Covid-19. Mbak Jamu mengurangi kontak dengan konsumen sehingga mampu menjaga dirinya sendiri secara protokol kesehatan dengan tetap mempertahankan keamanan dan higienitas jamu dengan tanpa mengurangi keramahan pedagangnya. Salah satu dari usaha jamu tersebut di- branding-kan dengan nama Jamu Budhe Sum. Inovasi ini membantu pedagang untuk mendapatkan penghasilan dalam situasi pandemi.
Untuk mendorong penjualan dipromosikan melalui pamflet kemudian dikirimkan melalui WhatsApp kepada pelanggannya. Sementara itu untuk membantu dalam pengelolaan kualitas diperkenalkan kartu pendampingan jamu berisikan enam langkah memahami kualitas dalam menjalankan usaha jamu tradisional. Diharapkan kinerja penjualan mengalami peningkatan serta pedagang mendapatkan pengetahuan tentang pengelolaan kualitas di masa pandemi. Enam langkah pengelolaan kualitas jamu meliputi menjaga higienitas pribadi, menjaga kebersihan mulai persiapan bahan baku, pengolahan, penyajian, menjaga kualitas layanan dan menjaga hubungan baik dengan lingkungan termasuk di dalamnya protokol kesehatan. Mereka juga diingatkan agar memperhatikan kualitas dan keamanan bahan baku yang digunakan dalam pengolahan jamu. Bahan baku dalam bentuk segar/kering sehingga penting memperhatikan proses pengeringan dan penyimpanan bahan jamu tersebut. Diharapkan terdapat konsistensi menjalankan aktivitas tersebut sehingga turut membantu mempertahankan kinerja usaha jamu tradisional di masa pandemi.
* Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tarumanagara