TESIS
OLEH:
EKA SYAHRINI NIM: 147041174
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK DEPARTEMEN DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran Klinik dalam
Program Magister Kedokteran Klinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Oleh
EKA SYAHRINI NIM: 147041174
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK DEPARTEMEN DERMATOLOGI DAN VENEREOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan seluruh rangkaian penyusunan tesis yang berjudul “Profil Infeksi Menular Seksual yang Dideteksi dengan Pemeriksaan Serologi pada Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL)”
sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran Klinik dalam bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Dalam menjalani pendidikan magister ini dan penyelesaian tesis ini, berbagai pihak telah turut berperan serta membantu memberikan saran, kritik yang membangun dan memberikan dorongan kepada saya sehingga terlaksana seluruh rangkaian kegiatan pendidikan ini. Oleh karena itu pada kesempatan yang berbahagia ini, saya sampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Yang terhormat dr. Richard Hutapea, Sp.KK(K), FINSDV, FAADV, selaku pembimbing utama tesis ini yang telah bersedia membimbing, meluangkan waktu pikiran dan tenaga, menyemangati, dan mendukung serta dengan penuh kesabaran dan kasih sayang selalu membimbing, memberikan nasehat, masukan, koreksi dan motivasi kepada saya selama proses penyusunan tesis ini.
2. Yang terhormat dr. Kristina Nadeak, SpKK, FINSDV, FAADV, selaku pembimbing kedua tesis ini, yang juga telah bersedia meluangkan waktu, pikiran dan tenaga serta dengan penuh kesabaran selalu membimbing, memberikan nasehat, masukan, koreksi dan motivasi kepada saya selama proses penyususnan tesis ini.
3. Yang terhormat Dr. dr. Nelva K. Jusuf, SpKK(K), FINSDV, FAADV selaku Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, yang telah memberikan bimbingan dan motivasi selama menjalani pendidikan di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4. Yang terhormat Dr. dr. Imam Budi Putra, MHA, SpKK, FINSDV, FAADV selaku Ketua Program Studi Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin yang telah memberikan semangat kerja keras dan nasehat selama menjalani pendidikan di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5. Yang terhormat dr. Kristo A Nababan, SpKK(K), Mked(DV), FAADV, FINSDV, dr. Riyadh Ikhsan, SpKK, MKed(KK), FINSDV dan dr. Nova Zairina Lubis, MKed(DV), SpDV sebagai anggota tim penguji yang telah memberikan bimbingan, masukan dan koreksi untuk penyempurnaan tesis ini.
6. Yang terhormat para Guru Besar Prof. Dr. dr. Irma D. Roesyanto Mahadi, SpKK(K), FINSDV, FAADV dan dr. Chairiyah Tanjung, SpKK(K), FINSDV, FAADV, yang telah memberikan saya kesempatan kepada saya untuk mengikuti
dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah membantu dan membimbing saya selama mengikuti pendidikan magister ini.
7. Yang terhormat Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, M.Ked(Oph), SpM(K) sebagai Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
8. Yang terhormat Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MHum yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat melaksanakan studi pada Universitas yang Bapak pimpin.
9. Yang terhormat Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, SpS(K), yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Magister Kedokteran Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
10. Yang terhormat Direktur RSUP. H. Adam Malik Medan, RSU Universitas Sumatera Utara, RSUD. Dr. Pirngadi Medan yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada saya selama menjalani pendidikan magister ini.
11. Yang terhormat seluruh staf/pegawai dan perawat di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, baik di RSU Universitas Sumatera Utara, RSUP. H. Adam Malik Medan, dan RSUD Dr. Pirngadi Medan atas bantuan, dukungan, dan kerjasama yang baik selama ini.
12. Yang terhormat seluruh peserta penelitian yang tidak dapat disebutkan satu persatu, tanpa kesukarelaan bapak/ibu tesis ini tidak akan dapat terselesaikan.
13. Yang paling saya cintai dan sayangi, Papa (Alm. H. Ir. Imsyahrial), terima kasih atas semua pengorbanan, jerih payah, doa, kasih sayang dan keikhlasan yang sudah papa berikan selama ini khususnya dalam proses saya menempuh pendidikan ini
14. Yang paling saya cintai, Ayah (H. Drs.Desra Ediwan Anantanur, M.M) dan Mama (Hj. Irianiwati), terima kasih atas semua pengorbanan, jerih payah, doa, kasih sayang, keikhlasan, yang ayah dan mama berikan untuk saya selama ini, khususnya dalam proses saya menempuh pendidikan ini memotivasi saya untuk terus melanjutkan pendidikan dengan semangat. Semoga suatu saat saya dapat membalas semua kebaikan Mama dan Ayah, tetapi untuk saat ini saya hanya dapat mempersembahkan gelar ini dan doa semoga Mama dan Ayah selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Mama dan Ayah.
pendidikan ini. Semoga dengan gelar ini, masa depan kita akan lebih baik lagi.
16. Anak-anak saya tersayang Rastra Wira Dzakiarfa dan Diandra Rania Azzahra, terima kasih sudah sabar menunggu Mama selesai sekolah. Semua jerih payah ini untukmu anakku sayang.
17. Kepada Ayah mertua (H.dr.Azman Tanjung Sp.M) dan Ibu mertua (Alm. Hj.
Rosdiana) yang saya cintai, terima kasih atas pengertian, kesabaran dan kasih sayangnya selama pendidikan ini.
18. Adik saya tercinta, (Alkadri Imsyah, SH.M.Hum) terima kasih telah mendoakan dan memberi semangat selama pendidikan ini. Kepada nenek tersayang, semua om, tante, dan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah mendoakan, dan senantiasa menjadi pendorong semangat saya untuk menyelesaikan pendidikan ini.
19. Semua teman-teman seperjuangan PPDS Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara terutama dr. Dewi Sartika, dr, Cut Mirshella, dr. Erty W.L. Toruan, dr. Tengku Noorsharifa Dayang, dr. Rudi Chandra, dr. Lovena Sari, dr. Benjamin Tobing, dr. Fitri Puspita, dr. Ramayanti B.S terima kasih telah memberikan kesempatan kepada saya menjadi bagian dari kalian dan semua teman PPDS yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan, dukungan, kerjasama, kebersamaan dan kenangan kepada saya selama menyelesaikan pendidikan dan tesis ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Saya menyadari bahwa tesis ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan tesis ini.
Kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Akhir kata, dengan penuh kerendahan hati, izinkanlah saya untuk menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya atas segala kesalahan, kekhilafan dan kekurangan yang telah saya lakukan selama proses penyusunan tesis dan selama saya menjalani pendidikan. Semoga segala bantuan, dorongan dan petunjuk yang telah diberikan kepada saya selama menjalani pendidikan, kiranya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa.
Medan, Oktober 2019 Penulis
Eka Syahrini
Program Magister Kedokteran Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Medan-Indonesia ABSTRAK
Latar belakang : Infeksi menular seksual adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Pemeriksaan serologi adalah pemeriksaan darah untuk melihat respon pejamu terhadap infeksi lewat proses antigen-antibodi. Infeksi menular seksual yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologi adalah infeksi HIV, sifilis dan herpes genitalis. Laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) merupakan kelompok berisiko tinggi terkena infeksi menular seksual.
Tujuan : Untuk mengetahui profil infeksi menular seksual yang dideteksi dengan pemeriksaan serologi pada LSL
Subjek dan metode: Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif dengan rancangan potong lintang yang melibatkan 50 orang laki-laki yang pernah berhubungan seks dengan sesama laki-laki. Terhadap subyek penelitian dilakukan pemeriksaan VDRL/TPHA, pemeriksaan IgM/IgG HSV-2 dan pemeriksaan rapid test HIV.
Hasil : Total subyek penelitian adalah 50 orang, dengan distribusi terbanyak pada kelompok usia 17-25 tahun (46%), tingkat pendidikan SMA (70%) dan belum menikah (90%). Dijumpai infeksi sifilis pada subyek penelitian sebanyak 10 orang (20%), infeksi herpes genitalis 6 orang (12%), infeksi HIV 33 orang (66%), koinfeksi sifilis dan HIV 8 orang (16%), koinfeksi sifilis dan herpes genitalis 2 orang (4%), koinfeksi herpes genitalis dan HIV 5 orang (10%) sedangkan koinfeksi sifilis, herpes genitalis dan HIV 2 orang (4%).
Kesimpulan : Proporsi infeksi menular seksual pada LSL adalah sifilis 20%, herpes
genitalis 12%, HIV 66%. Proporsi koinfeksi sifilis dan HIV sebesar 16%, koinfeksi sifilis dan herpes genitalis 4%, koinfeksi herpes genitalis dan HIV 10% dan koinfeksi sifilis, herpes genitalis dan HIV 4%.
Kata kunci : LSL, Infeksi menular seksual, pemeriksaan serologi
Programme of Clinical Medical Magister Dermatovenereology Department
Faculty of Medicine University of Sumatera Utara Medan-Indonesia
ABSTRACT
Background : Sexually transmitted infections are infection which transmitted mainly through sexual contact. Serological test is a blood test to see response of host through the process of antigen-antibody. Sexually transmitted infections that detected by serology are HIV, syphilis and genital herpes. Men who have sex with men (MSM) are the high risk group exposed to sexually transmitted infections.
Aim : To determine profile of sexually transmitted infections detected by serological test on men who have sex with men.
Subject and method : This was a cross-sectional descriptive study which involved 50 men who have sex with men. We conducted blood sampling and measurement of VDRL/TPHA, IgM/IgG HSV-2 and rapid test HIV to them.
Results : Total 50 subjects with the highest distribution was in the age group 17-25 years (46%), senior high school (70%) and unmarried (90%). Syphilis was found in 10 subjects (20%), genital herpes in 6 subject (12%) and HIV in 33 subjects (66%). Syphilis and HIV coinfection was revealed in 8 subjects (16%), syphilis and genital herpes coinfection in 2 subjects (4%), genital herpes and HIV coinfection in 5 subjects (10%).
There was 2 subjects (4%) with co infection of syphilis, genital herpes and HIV.
Conclusion : The proportion of sexually transmitted infections in MSM were syphilis (4%), genital herpes (2%) and HIV (46%). The proportion of syphilis and HIV coinfection was 12%, syphilis and genital herpes coinfection was 4% genital herpes and HIV coinfection was 10% and syphilis, genital herpes and HIV coinfection was 4%.
Keywords : MSM, sexually transmitted infection, serological test
KATA PENGANTAR………i
ABSTRAK……….iv
ABSTRACT………...v
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR SINGKATAN ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ...1
1.2 Rumusan masalah ...5
1.3 Tujuan penelitian ...5
1.3.1 Tujuan umum ...5
1.3.2 Tujuan khusus ...5
1.4 Manfaat penelitian ...6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifilis ...8
2.1.1 Definisi ...8
2.1.2 Epidemiologi ...8
2.1.3 Etiologi dan patogenesis ...9
2.1.4 Gambaran klinis ...10
2.1.5 Diagnosis...13
2.2 Herpes genitalis ...14
2.2.1 Definisi ...14
2.2.2 Epidemiologi ...15
2.2.3 Etiologi dan patogenesis ...15
2.2.4 Gambaran klinis ...16
2.3.1 Definisi ...18
2.3.2 Epidemiologi ...18
2.3.3 Etiologi dan patogenesis ...18
2.3.4 Gambaran klinis ...20
2.3.5 Diagnosis...22
2.4 Laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) ...23
2.4.1 Sejarah homoseksual ...23
2.4.2 Definisi laki-laki seks dengan laki-laki...25
2.4.3 Infeksi menular seksual pada laki-laki seks dengan laki-laki ...27
2.5 Kerangka teori ...30
2.6 Kerangka konsep ...31
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain penelitian ...32
3.2 Waktu dan tempat penelitian ...32
3.3 Populasi dan sampel penelitian ...32
3.3.1 Populasi target ...32
3.3.2 Populasi terjangkau ...32
3.3.3 Sampel penelitian ...33
3.4 Kriteria inklusi dan eksklusi ...33
3.4.1 Kriteria inklusi ...33
3.4.2 Kriteria eksklusi ...33
3.5 Besar sampel ...34
3.6 Cara pengambilan sampel penelitian ...34
3.7 Identifikasi variabel ...34
3.8 Definisi operasional ...34
3.9 Alat, bahan dan cara kerja ...38
3.9.1 Alat dan bahan ...38
3.9.2 Cara kerja ...39
3.12 Etika penelitian ...45
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik demografi subyek penelitian………46
4.2 Infeksi sifilis pada subyek penelitian……….49
4.3 Infeksi herpes genitalis pada subyek penelitian……….51
4.4 Infeksi HIV pada subyek penelitian………...53
4.5 Ko-infeksi sifilis dan HIV pada subyek penelitian………55
4.6 Ko-infeksi sifilis dan herpes genitalis pada subyek penelitian…………..57
4.7 Ko-infeksi herpes genitalis dan HIV pada subyek penelitian………58
4.8 Ko-infeksi sifilis, herpes genitalis dan HIV pada subyek penelitian…….60
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………62
5.2 Saran………..63
DAFTAR PUSTAKA ...64
LAMPIRAN...69
AIDS : Acquired Immunodeficiency Syndrome ARC : AIDS Related Complex
CCR 5 : Chemokine receptor 5 CD4 : Cluster of differentiation 4 CD8 : Cluster of differentiation 8
CDC : Center for Disease Control and Prevention CXCR 4 : Chemokine receptor type 4
DNA : Deoxyribonucleic Acid EIA : Enzyme immunoassay
ELISA : Enzyme-linked Immunosorbent Assay
FTA-abs : Fluorescent Treponemal Antibody absorption test gp : glycoprotein
HIV : Human Immunodeficiency Virus HSV : Herpes Simplex Virus
IFN : Interferon
IgG : Immunoglobulin G IgM : Immunoglobulin M
IL : Interleukin
IMS : Infeksi Menular Seksual KPA : Komisi Penanggulangan AIDS
KPAN : Komisi Penanggulangan AIDS Nasional LSL : Laki-laki seks dengan laki-laki
MSM : Man who have sex with man
Pusyansus : Pusat Pelayanan Khusus RNA : Ribonucleic acid
RPR : Rapid Plasma Reagen RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat SCP : Survey Cepat Perilaku
STBP : Surveilans Terpadu Biologi Prilaku
Th : T helper
TPHA : Treponema Pallidum Hemagglutination Assay TPPA : Treponema pallidum Particle Agglutination Assay VDRL : Veneral Diseases Research Laboratory
Halaman
Gambar 2.1 Stadium klinis sifilis ...10
Gambar 2.2 Patogenesis infeksi HIV ...18
Gambar 2.3 Diagram kerangka teori penelitian ...30
Gambar 2.4 Kerangka konsep penelitian ...31
Gambar 3.1 Kerangka operasional penelitian ...44
Tabel 4.1 Distribusi karakteristik demografi subyek penelitian ...46 Tabel 4.2 Karakteristik demografi subyek penelitian dengan infeksi sifilis ...49 Tabel 4.3 Karakteristik demografi subyek penelitian dengan infeksi herpes
genitalis ...51 Tabel 4.4 Karakteristik demografi subyek penelitian dengan infeksi HIV...53 Tabel 4.5 Karakteristik demografi subyek penelitian dengan ko-infeksi sifilis dan
HIV ...56 Tabel 4.6 Karakteristik demografi subyek penelitian dengan ko-infeksi sifilis dan
herpes genitalis...57 Tabel 4.7 Karakteristik demografi subyek penelitian dengan ko-infeksi herpes
genitalis dan HIV ...58 Tabel 4.8 Karakteristik demografi subyek penelitian dengan ko-infeksi sifilis,herpes
genitalis dan HIV ...60
Lampiran 1 Naskah penjelasan kepada subjek penelitian ...69
Lampiran 2 Lembar persetujuan setelah penjelasan ...70
Lampiran 3 Status penelitian ...71
Lampiran 4 Surat persetujuan komite etik……….73
Lampiran 5 Master data penelitian………74
Lampiran 6 Data SPSS………. 76
Lampiran 7 Foto penelitian………...83
Lampiran 8 Daftar riwayat hidup………..84
1.1 Latar Belakang
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama melalui hubungan seksual. Cara hubungan seksual tidak hanya terbatas secara genito-genital saja, tetapi dapat juga secara orogenital, anogenital sehingga kelainan yang timbul ini tidak terbatas hanya pada daerah genital, tetapi juga pada daerah ekstra genital.1 Seiring dengan perkembangan di bidang sosial, demografi serta meningkatnya migrasi penduduk, populasi berisiko tinggi tertular IMS juga meningkat pesat. Infeksi menular seksual menimbulkan beban morbiditas dan mortalitas terutama di negara berkembang dengan sumber daya yang terbatas, baik secara langsung berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan reproduksi serta secara tidak langsung melalui perannya dalam mempermudah transmisi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).2
Lebih dari 30 patogen dapat ditularkan melalui hubungan seksual dengan manifestasi klinis yang bervariasi.2 Identifikasi patogen penyebab lewat pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam penegakan diagnosis dan manajemen pasien IMS. Beberapa IMS dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologi yaitu melihat respon pejamu terhadap infeksi lewat proses antigen-antibodi diantaranya adalah infeksi HIV, sifilis dan herpes genitalis. Kelebihan dari tes serologi adalah dapat digunakan tidak hanya
untuk tujuan diagnostik tetapi juga untuk surveillance karena relatif murah dan memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang baik.3 Sedangkan IMS yang lain dapat didiagnosis dengan identifikasi langsung lesi karena manifestasi klinisnya yang khas ataupun lewat pemeriksaan kultur patogen penyebab.
Sifilis adalah IMS yang disebabkan oleh Treponema pallidum subspecies pallidum dan memiliki beberapa sifat yaitu perjalanan penyakit bersifat kronis dan sistemik, selama perjalanan penyakit dapat menyerang seluruh organ tubuh, memiliki masa laten serta dapat ditularkan dari ibu ke janinnya sehingga menimbulkan kelainan kongenital.4,5 Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh Herpes Simplex virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren.6 Human Immunodeficiency Virus merupakan suatu retrovirus limfotropik manusia, yang sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual. Imunosupresi akibat dari infeksi HIV merupakan hasil dari deplesi progresif dari limfosit T CD4+. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala atau infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi HIV.7
Infeksi menular seksual dengan manifestasi klinis berupa ulkus seperti sifilis dan herpes genitalis akan meningkatkan transmisi HIV. Ulkus yang terjadi akan menjadi porte d’entrée virus. Selain itu, respon inflamasi yang terbentuk disekitar ulkus akan meningkatkan jumlah limfosit T teraktifasi di sekitar entry site.7
Berdasarkan data dari Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) Tahun 2011 ditemukan bahwa prevalensi HIV diantara populasi berisiko yaitu 3,6%-25% pada Wanita Pekerja Seks Langsung, 8,8% pada Wanita Pekerja Seks Tidak Langsung, pada Waria 14-31%, pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki 2.4%-17%, serta pada pengguna napza suntik 25%-56%.8 Kecenderungan epidemi HIV di masa depan menggambarkan perubahan pola penularan HIV, dimana selain populasi kunci yang sudah ditangani selama ini, penting pula memperhatikan peningkatan infeksi HIV pada LSL, hal ini tampak dari STBP 2011 dimana rerata peningkatan prevalensi HIV pada kelompok LSL yaitu dari 5% pada tahun 2007 menjadi 12% pada tahun 2011.8,9 Laki-lakiseks dengan laki-laki (LSL) didefinisikan sebagai laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki lainya tanpa memandang orientasi seksual atau identitas gender, dan apakah ia juga berhubungan seksual dengan perempuan.2,10
Tidak ada data resmi mengenai jumlah LSL di dunia. Namun diperkirakan rata-rata 1-3% dari populasi laki-laki dewasa usia 15-59 tahun mempraktikkan hubungan seks sesama lelaki.11 Hasil estimasi nasional terdapat 695.026 orang LSL di Indonesia.12 Di kota Medan, berdasarkan data yang didapat dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Medan pada Tahun 2011 jumlah LSL sebanyak 1.699 orang.13
Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2015, sekitar 75% infeksi sifilis primer dan sekunder ditemukan pada populasi LSL.1 Di Indonesia, data dari STBP tahun 2011 menunjukkan bahwa
prevalensi sifilis pada kelompok risiko LSL sebanyak 9%.8 Penelitian Harahap tahun 2017 di Puskesmas Teladan Medan menunjukkan bahwa LSL merupakan faktor risiko terbesar untuk infeksi sifilis dengan proporsi sebanyak 68,6%.13
Pada tahun 2012, HSV-2 diperkirakan menginfeksi 417 juta orang diseluruh dunia dengan global prevalensi sebesar 11,3%.14 Penelitian Mohammed et al tahun 2014 di Inggris, menunjukkan bahwa prevalensi herpes genitalis pada LSL sebesar 10,1%.15 Secara global dilaporkan bahwa prevalensi HIV pada LSL tahun 2012 di Amerika, Asia Tenggara, Asia Selatan dan kawasan Sub sahara Afrika berkisar antara 14-18%.16 Berdasarkan data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2017 faktor risiko terbanyak untuk infeksi HIV yaitu LSL.17 Hal ini juga berbanding lurus dengan laporan dari dinas kesehatan kota Medan tahun 2016, persentase kasus HIV/AIDS menurut faktor risiko tertinggi pada LSL yaitu sebesar 46,3%.28
Untuk dapat memahami IMS pada LSL memerlukan pendekatan multi disiplin ditinjau dari aspek medis, mikrobiologis dan sosial. Meskipun gerakan gay telah ada sejak dulu tetapi pasien LSL masih enggan menyatakan dirinya sebagai LSL pada petugas kesehatan. Hal ini karena stigma negatif pada komunitas LSL. Berbagai IMS yang mengenai mulut dan anus cenderung asimptomatik dan menetap. Tanpa pemeriksaan laboratorium yang tepat di lokasi tersebut menyebabkan beberapa IMS menjadi tidak terdeteksi.
Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian mengenai profil IMS yang dideteksi dengan pemeriksaan serologi pada LSL.
1.2 Rumusan Masalah
“Bagaimana profil Infeksi Menular Seksual yang dideteksi dengan pemeriksaan serologi pada Laki-laki Seks dengan Laki-laki?‖
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui profil IMS yang dideteksi dengan pemeriksaan serologi pada LSL.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran demografik LSL (Usia, Status Pernikahan, Pendidikan)
2. Mengetahui proporsi infeksi sifilis pada LSL 3. Mengetahui proporsi infeksi herpes genitalis 4. Mengetahui proporsi infeksi HIV pada LSL
5. Mengetahui proporsi ko-infeksi sifilis dan HIV pada LSL
6. Mengetahui proporsi ko-infeksi herpes genitalis dan HIV pada LSL
7. Mengetahui proporsi ko-infeksi sifilis dan herpes genitalis pada LSL
8. Mengetahui proporsi ko-infeksi sifilis, herpes genitalis dan HIV pada LSL
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi bidang akademis, khususnya Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sebagai literatur kepustakaan di bidang penelitian mengenai profil IMS yang dideteksi dengan serologi pada LSL.
2. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat digunakan sebagai perbandingan atau bahan referensi bagi penelitian dengan objek yang sama di masa mendatang.
3. Bagi masyarakat, sebagai pembuka wawasan tentang IMS pada LSL.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Infeksi menular seksual (IMS) adalah sejumlah sindrom klinis atau infeksi disebabkan oleh patogen tertentu yang ditransmisikan lewat aktivitas seksual.1 Cara hubungan seksual tidak hanya terbatas genito-genital saja, tetapi dapat juga secara oro-genital dan ano-genital sehingga kelainan yang timbul ini tidak terbatas hanya pada daerah genital tetapi juga daerah ekstra genital.20
Penyebab IMS dapat berupa bakteri, virus, jamur, protozoa atau ektoparasit. Penyakit-penyakit yang termasuk kedalam kelompok IMS adalah sifilis, gonore, HIV/AIDS, ulkus mole, limfogranuloma venereum, granuloma inguinale, uretritis non gonore, kondiloma akuminata, herpes genitalis, kandidosis, trikomoniasis, bakterial vaginosis, moloskum kontagiosum, skabies dan lain-lain. Sejumah IMS memiliki gejala klinis hampir sama sehingga pemeriksaan laboratorium mikrobiologi sangat dibutuhkan untuk menentukan organisme penyebab infeksi.3,20-22
Beberapa IMS dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologi yaitu melihat respon pejamu terhadap infeksi lewat proses antigen-antibodi diantaranya adalah infeksi HIV, sifilis dan herpes genitalis. Kelebihan dari tes serologi adalah dapat digunakan tidak hanya untuk tujuan diagnostik tetapi juga untuk surveillance karena relatif murah dan memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang baik.3 Sedangkan IMS yang lain dapat didiagnosis dengan
identifikasi langsung lesi karena manifestasi klinisnya yang khas ataupun lewat pemeriksaan kultur patogen penyebab.
2.1 Sifilis 2.1.1 Definisi
Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum subspecies pallidum.5, Penyakit ini bersifat menahun dan dapat menyerang hampir seluruh organ tubuh. Gambaran klinis sifilis sangat bervariasi dan dapat menyerupai berbagai macam penyakit kulit lainya sehingga disebut the great imitator disease. Penyakit ini melewati empat stadium klinis yang berbeda yaitu stadium primer, stadium sekunder, periode laten dan stadium tersier 23,24
2.1.2 Epidemiologi
Sekitar dua pertiga kasus sifilis primer dan sekunder di Amerika Serikat terjadi pada LSL, terutama mereka yang berasal dari kelompok etnis minoritas. Beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kejadian sifilis pada LSL meliputi penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan bergonti- ganti pasangan seksual.5,16
Berdasarkan data STBP tahun 2013 pada kelompok berisiko tinggi dilaporkan, prevalensi sifilis di beberapa daerah bervariasi. Prevalensi sifilis cenderung meningkat pada LSL yakni sebesar 11,3% pada tahun 2013 apabila
dibandingkan dengan hasil survey sebelumnya pada tahun 2009 yang hanya sebesar 8.6%.25
2.1.3 Etiologi dan patogenesis
Treponema pallidum subspecies pallidum adalah bakteri berbentuk spiral dengan 8-20 lilitan, panjang 4-10µm dan lebar 0,25 µm. Treponema pallidum sulit dikultur pada medium buatan, namun dapat dikultur pada jaringan testis kelinci. Bakteri ini membelah secara transversal setiap 30 jam, akan cepat mati oleh panas (41-42OC), deterjen dan desinfektan, serta tidak dapat bertahan lama diluar lingkungannya.23
Sifilis ditularkan melalui kontak langsung dengan lesi di mukosa atau kulit selama hubungan seksual. Penularan dari ibu ke anak baik secara transplasental dan perinatal dapat menyebabkan sifilis kongenital.24,26
Treponema pallidum masuk ke dalam sel melalui mikrolesi dan menimbulkan inflamasi pada endotel dan jaringan sekitarnya. Sel endotel mengalami proliferasi, vakuolisasi dan edema yang disebut endarteritis obliterans. Akibatnya aliran darah menuju tempat infeksi berkurang sehingga terjadi nekrosis yang secara klinis tampak sebagai lesi ulkus (sifilis primer).
Ulkus pada sifilis (chancre) tidak nyeri karena terjadi kerusakan pada akson di sekitar ulkus.24
Pada masing-masing chancre, spirochete yang berkembang biak dikelilingi oleh sel-sel kekebalan tubuh, termasuk sel T CD4+ dan cluster of differentiation 8 (CD8+), sel plasma, dan makrofag, yang menghasilkan
sitokin Interleukin (IL)-2 dan Interferon (IFN)-γ, yang mengindikasikan respons T helper (Th)-1. Nekrosis dan ulserasi jaringan terjadi akibat vaskulitis pembuluh darah kecil, dan pergerakan sel imun menyebabkan limfadenopati regional yang tidak nyeri. Dalam waktu 3-8 minggu, chancre akan sembuh yang memperlihatkan adanya pembersihan T. pallidum secara lokal. Namun pada saat ini, T. pallidum telah menyebar secara sistemik ke beberapa jaringan dan organ memasuki stadium sifilis sekunder.26
Respon imun seluler dan humoral berperan dalam mengeradikasi T.pallidum dan sekaligus menyebabkan kerusakan jaringan maupun infeksi laten. Stadium dan manifestasi sifilis ditentukan oleh keseimbangan antara respon hipersensitivitas tipe lambat dan imunitas humoral.27
2.1.4 Gambaran klinis
Masa inkubasi sifilis 9-90 hari. Berdasarkan penularannya sifilis dibagi menjadi dua yaitu sifilis yang didapat dan sifilis kongenital. Stadium sifilis didapat berdasarkan waktu terinfeksinya dibagi menjadi dua stadium yaitu, stadium sifilis dini bila infeksi terjadi ≤ 1 tahun dan stadium sifilis lanjut bila infeksi terjadi ≥ 1 tahun. Sifilis stadium dini terdiri atas sifilis primer, sifilis sekunder dan sifilis laten dini. Sifilis stadium lanjut terdiri atas sifilis laten lanjut dan sifilis tersier.5,19,24,26
Setiap stadium sifilis memiliki manifestasi klinis yang berbeda.
Manifestasi klinis awal sifilis adalah papul kecil soliter, kemudian dalam satu sampai beberapa minggu, papul ini berkembang menjadi ulkus. Lesi klasik
dari sifilis primer disebut dengan chancre, ulkus yang keras dengan dasar yang bersih, tunggal, tidak nyeri, merah dan berbatas tegas. Chancre dapat ditemukan dimana saja tetapi paling sering di penis, serviks, dinding vagina, rektum dan anus. Masa inkubasi chancre bervariasi dari 3-90 hari dan sembuh spontan dalam 4 sampai 6 minggu.24,26
Apabila tidak diobati, gejala sifilis sekunder akan mulai timbul dalam 2 sampai 6 bulan setelah pajanan, 2 sampai 8 minggu setelah chancre muncul.
Sifilis sekunder adalah penyakit sistemik dengan treponema yang menyebar dari chancre dan kelenjar limfe ke dalam aliran darah dan ke seluruh tubuh, dan menimbulkan beragam gejala yang jauh dari lokasi infeksi semula. Organ tubuh yang paling sering terkena adalah kulit, limfe, saluran cerna, tulang, ginjal, mata, dan susunan saraf pusat. Tanda tersering pada sifilis sekunder
Gambar 2.1. Stadium klinis sifilis.
Dikutip sesuai aslinya bedasarkan kepustakaan 19.
adalah ruam kulit makulopapular yang terjadi pada 50%-70% kasus. Lesi biasanya simetris, tidak gatal dan dapat meluas. Treponema pallidum dapat menginfeksi folikel rambut yang menyebabkan alopesia pada kulit kepala.
Sekitar 10% pasien mengidap kondiloma lata. Lesinya berukuran besar, muncul di daerah yang hangat dan lembab termasuk di perineum dan anus.
Inflamasi lokal dapat terjadi di daerah membran mukosa mulut, lidah dan genital.5,19
Sifilis laten atau asimtomatik adalah periode hilangnya gejala klinis sifilis sekunder sampai diberikan terapi atau gejala klinik tersier muncul.
Sifilis laten dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu sifilis laten dini dan lanjut.
Sifilis laten dini terjadi kurang satu tahun setelah infeksi sedangkan sifilis laten lanjut setelah satu tahun dari infeksi.4,5
Sifilis tersier dapat muncul sekitar 3-15 tahun setelah infeksi awal dan dapat dibagi dalam tiga bentuk yaitu; sifilis gumatous sebanyak 15%, neurosifilis lanjut (6,5%) dan sifilis kardiovaskular sebanyak 10%.
Karakteristik pada stadium ini ditandai dengan adanya guma kronik, lembut, seperti tumor yang inflamasi dengan ukuran yang berbeda-beda. Guma ini biasanya mengenai kulit, tulang dan hati tetapi dapat juga muncul dibagian lain.4,5,19
Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini dan sifilis kongenital lanjut. Sifilis kongenital dini terjadi dalam 2 tahun awal dengan manifestasi tersering berupa ruam, rhinitis hemorragik, limfadenopati generalisata, hepatosplenomegali, kelainan tulang, kondiloma lata, fisura
perioral, glomerulonephritis, serta kelainan neurologis serta mata. Sifilis kongenital lanjut terjadi pada bayi diatas 2 tahun dengan tanda yang terbentuk sebagai hasil inflamasi kronis dan persisten menyerupai guma pada orang dewasa, stigma dari kelainan kongenital berupa keratitis interstitial, sendi Clutton, gigi Hutchinson, dan molar Mulberry, tuli sensorineural, deformitas saddlenose, serta keterlibatan neurologis.4,5,25
2.1.5 Diagnosis
Diagnosis sifilis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti sifilis dapat ditegakkan apabila ditemukan Treponema pallidum dengan mikroskop lapangan gelap atau pada pemeriksaan PCR. Diagnosis presumtif sifilis ditegakkan bila hasil pemeriksaan tes non treponema dan tes treponema reaktif.21,22
Tes serologi sifilis terdiri atas dua jenis yaitu tes non treponema dan tes treponema. Tes non treponema yang sering digunakan adalah Rapid Plasma Reagin (RPR) dan Veneral Diseases Research Laboratory (VDRL).
Tes ini menjadi reaktif selama 6 minggu setelah infeksi, atau 10-15 hari setelah timbul lesi primer. Tes VDRL dan RPR tidak spesifik karena antigen yang digunakan adalah kardiolipin namun sensitif sehingga dapat digunakan untuk penapisan. Kenaikan dan penurunan titer tes ini berkorelasi dengan aktivitas penyakit, sehingga dapat digunakan untuk menilai respon pengobatan.24 Nilai sensitifitas tes VDRL pada stadium sifilis primer, stadium
sifilis sekunder, laten dan tersier masing-masing adalah 77%, 100%, 95% dan 71%.19,24
Tes spesifik treponema diantaranya adalah Treponema Pallidum Hemagglutination Assay (TPHA), Enzyme Immunoassay (EIA), Treponema pallidum Particle Agglutination assay (TPPA), Fluorescent Treponemal Antibody absorption test (FTA-abs) dan Treponema pallidum immunoblot.24
Tes spesifik treponema yang sering digunakan adalah TPHA. Tes ini spesifik karena antigen yang digunakan adalah antigen treponema. Titer tes TPHA tidak berkorelasi dengan aktifitas penyakit. Selain itu pada sebagian besar pasien sifilis yang telah diterapi, hasil tes treponema tetap reaktif dan hanya 15-25% kasus yang akan menjadi non reaktif setelah 2-3 tahun. Tes TPHA hanya digunakan untuk konfirmasi pada pasien dengan hasil tes non treponema yang reaktif dan tidak digunakan untuk menilai respon pengobatan.5,24,27
Nilai sensitivitas tes TPHA pada stadium sifilis primer, stadium sifilis sekunder, laten dan tersier masing-masing adalah 77%, 100%, 99% dan 100%, Nilai spesifisitas tes TPHA 96%-99%. Positif palsu dapat ditemukan pada treponematosis endemik seperti yaw, pinta dan penyakit bejel.24
2.2 Herpes Genitalis 2.2.1 Definisi
Herpes genitalis adalah infeksi pada genitalia yang disebabkan oleh HSV dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren.6,28
2.2.2 Epidemiologi
Pada tahun 2012, perkiraan prevalensi global infeksi herpes genitalis sebesar 11.3% di seluruh dunia. Seroprevalensi bervariasi pada setiap negara berkisar 10% hingga 70% dengan angka seroprevalensi tertinggi berasal dari benua Afrika. Herpes simplex virus – 2 merupakan penyebab utama ulkus genital di Amerika serikat dan seluruh dunia. Sejumlah penelitan berbasis Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dilaksanakan di Amerika Serikat, Afrika dan Asia menunjukkan bahwa HSV ditemukan pada 60% ulkus genital.29 Penelitian Lubis et al tahun 2012, menunjukkan prevalensi infeksi HSV-2 pada LSL di Jakarta sebanyak 23,7%.30 Tahun 2017, Niode et al mendapatkan 23,3% LSL di Manado dengan seropositif untuk HSV-2.31
2.2.3 Etiologi dan patogenesis
Herpes genitalis sebagian besar disebabkan oleh HSV tipe 2 sedangkan herpes labialis disebabkan oleh HSV tipe 1.36
Bila seseorang terpajan HSV, maka virus dapat masuk kedalam tubuh hospes. Kemudian terjadi penggabungan Deoxyribonucleic Acid (DNA) hospes di dalam tubuh hospes tersebut dan mengadakan multiplikasi atau replikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit. Pada waktu itu hospes
sendiri belum ada antibodi spesifik, hal ini dapat mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi yang berat. Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional (ganglion sakralis) dan dormant disana serta bersifat laten. Bila ada faktor pencetus, virus akan mengalami reaktivasi sehingga terjadilah infeksi rekuren.
Pada saat ini didalam tubuh hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya tidak seberat infeksi primer.28,32
2.2.4 Gambaran klinis
Gambaran klinis dapat dipengaruhi oleh faktor hospes, pajanan HSV sebelumnya, episode terdahulu dan tipe virus. Manifestasi herpes genitalis umumnya ditandai dengan munculnya lesi di kulit berupa vesikel berkelompok diatas kulit yang eritematosa. Vesikel ini mudah pecah dan menimbulkan erosi multipel. Lesi umumnya terasa nyeri atau gatal. Dapat dijumpai gejala konstitusi seperti malaise, demam dan nyeri otot. Pembesaran kelenjar getah bening inguinal dapat menyertai infeksi herpes genital primer.
Pada infeksi primer gejala cenderung lebih berat dan berlangsung lebih lama.
Sedangkan pada infeksi rekuren gejala umumnya lebih ringan dan berlangsung lebih cepat karena telah ada antibodi spesifik. Tempat predileksi pada pria biasanya preputium, glans penis, batang penis dapat juga di uretra dan daerah anal terutama pada pria homoseksual.6,28,29,32
2.2.5 Diagnosis
Diagnosis suatu infeksi HSV dapat ditentukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekuren.6
Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah pemeriksaan tes Tzank yang dwarnai dengan pengecatan Giemsa atau Wright akan terlihat sel raksasa berinti banyak tetapi sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan ini umumnya rendah.28
Deteksi antibodi spesifik dengan teknik Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mengkonfirmasi infeksi HSV umum dilakukan di praktik klinis. Pemeriksaan serologi untuk menentukan adanya infeksi HSV juga untuk diagnosis infeksi primer jika titer antibodi terjadi peningkatan 4 kali atau lebih. IgM HSV-2 antibodi muncul pada infeksi primer atau reaktivasi. IgM pada infeksi primer dapat bertahan sampai dengan 9 bulan pada beberapa pasien. Pemeriksaan IgG anti HSV-2 berguna untuk mendeteksi status imun pasien apakah sudah pernah mengalami infeksi HSV- 2 sebelumnya.29 Pemeriksaan dengan cara ELISA memiliki sensitivitas 95%
dan sangat spesifik.28
Cara yang paling baik adalah dengan melakukan kutur jaringan, karena paling sensitif dan spesifik dibandingkan cara lain. Pertumbuhan virus dalam sel ditunjukkan dengan terjadinya granulasi sitoplasmik, degenerasi
balon dan sel raksasa berinti banyak. Namun cara ini memiliki kekurangan karena waktu pemeriksaan yang lama dan biaya yang mahal.28,29
2.3 Human Immunodeficiency Virus (HIV) 2.3.1 Definisi
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menyebabkan AIDS. Infeksi HIV dan AIDS merupakan suatu spektrum dari penyakit infeksi pada sistem imun yang disebabkan oleh HIV sehingga menyebabkan imunodefisiensi. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah suatu kumpulan gejala berkurangnya kemampuan pertahanan diri yang disebabkan oleh masuknya virus HIV dalam tubuh seseorang. Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) adalah orang yang telah terinfeksi virus HIV.32,33
2.3.2 Epidemiologi
Lebih dari 20 juta orang meninggal karena infeksi HIV dan diperkirakan lebih dari 60 juta terinfeksi HIV. Lebih dari 5 juta infeksi baru ditemukan tiap tahun, sekitar 800 ribu diantaranya adalah anak-anak.34,35
Di Indonesia jumlah kasus HIV kumulatif sampai maret 2017 adalah 242.699 kasus. Sedangkan jumlah kumulatif AIDS sampai maret 2017 adalah 87.453 kasus. Faktor risiko HIV tertinggi adalah hubungan seks berisiko pada LSL sebanyak 28%, heteroseksual 24%, lain-lain 9%, pengguna narkoba suntik 2%.36
2.3.3 Etiologi dan patogenesis
HIV merupakan retrovirus human limfotropik, termasuk famili lentivirus yang ditularkan melalui hubungan seksual, pajanan darah yang terinfeksi dan secara vertikal dari ibu kepada anaknya selama kehamilan, kelahiran atau menyusui. HIV-1 merupakan penyebab umum infeksi HIV secara luas, sedangkan HIV-2 terutama dideteksi di Afrika Barat.33,35
Tahap interaksi HIV pada sel pejamu diawali dengan terbentuknya ikatan HIV external envelope glycoprotein gp120 dan gp41 ke reseptor CD4 pada sel. Glikoprotein gp120 mengikat koreseptor chemokine receptor 5 (CCR5) atau chemokine receptor type 4 (CXCR4) tergantung tipe sel pejamu.
Selanjutnya terjadi fusi antara membran virus (envelope) dan membran sel.
Terjadi uncoating sehingga kapsid HIV masuk kedalam sitoplasma sel. Enzim reverse transcriptase mengintegrasi materi genetik di dalam genom sel pejamu dan melakukan copy RNA virus menjadi DNA virus. DNA virus masuk ke nukleus sel, terjadi splicing DNA virus ke dalam DNA sel T oleh enzim integrase. Nukleus sel menggunakan DNA virus sebagai template untuk membuat RNA membentuk virus baru. Materi genetik virus kemudian ditranskripsikan menjadi partikel virus baru yang dipotong-potong oleh enzim protease dan keluar dari sel yang terinfeksi dan menginfeksi sel yang lain.35,36 HIV menginfeksi limfosit T CD4+ sehingga menyebabkan imunosupresi.
Selain limfosit T CD4+, limfosit B, monosit, makrofag dan sel-sel yang mengekspresikan reseptor CD4 dan koreseptor tersebut dapat terinfeksi HIV.33,37
Gambar 2.2. Patogenesis infeksi HIV Dikutip sesuai asli berdasarkan kepustakaan 37
2.3.4 Gambaran klinis
Infeksi HIV mempunyai gambaran klinis yang tidak spesifik dengan spektrum yang lebar. Mulai dari infeksi tanpa gejala pada stadium awal sampai pada gejala-gejala yang berat pada stadium yang lebih lanjut.
Perjalanan penyakit lambat dan gejala-gejala AIDS rata-rata baru timbul 10 tahun sesudah infeksi atau bahkan lebih lama.1,38
Untuk kepentingan klinis, khususnya berkaitan dengan pengobatan dan prognosis maka dibuat klasifikasi dengan memakai hitungan sel CD4 karena perkembangan jumlah sel CD4 dalam darah sangat berkaitan dengan status imunitas penderita. Gambaran klinis yang sesuai dengan perjalanan penyakit infeksi HIV adalah sebagai berikut:36,38
i) Infeksi akut (CD4 750-1000)
Gejala infeksi akut biasanya timbul sesudah masa inkubasi selama 1-3 bulan. Gejala yang timbul umumnya seperti influenza (flu like syndrome), gejala kulit (bercak-bercak merah, urtikaria), gejala saraf (sakit kepala,
nyeri retrobulber, radikulopati, gangguan kognitif dan afektif), gangguan gastrointestinal (nausea, vomitus, diare, kandidiasis orofaring). Pada fase ini penyakit tersebut sangat menular karena terjadi viremia. Fase ini berlangsung selama 1-2 minggu. Serokonversi terjadi pada fase ini dan antibodi virus mulai dapat dideteksi dalam 3-6 bulan sesudah infeksi.
ii) Infeksi kronis asimptomatik (CD4 >500/ml)
Kadar virus umumnya rendah dan kekebalan tubuh masih cukup bagus sehingga belum muncul gejala. Pada beberapa penderita mengalami pembengkakan kelenjar limfe menyeluruh disebut limfedenopati generalisata persisten. Saat ini sudah mulai terjadi penurunan jumlah sel CD4 sebagai petunjuk menurunnya kekebalan tubuh penderita, tetapi masih berada pada tingkat 500/ml.
iii) Infeksi kronis simtomatik
Fase ini dimulai rata-rata sesudah 5 tahun terkena infeksi HIV. Pada tahap ini kekebalan tubuh sudah mulai terganggu sehingga muncul beberapa gejala. AIDS didefinisikan sebagai individu seropositif HIV dengan sel T CD4+ <200/uL, persentase sel T CD4+ <14 atau munculnya gejala akibat defek imunitas seluler yang berat.Fase ini terdiri atas sub-fase penurunan imunitas sedang (CD4 200-500) dan penurunan imunitas berat (CD4<200). Keadaan yang disebut AIDS dapat terjadi pada subfase penurunan imunitas sedang. Pada sub-fase ini juga terjadi AIDS Related Complex (ARC) yaitu keadaan yang ditandai oleh paling sedikit dua gejala dari gejala-gejala berikut: 1)Demam yang berlangsung > 3 bulan
2)Penurunan berat badan > 10% 3)Limfadenopati berlangsung > 3 bulan 4)Diare 5)Kelelahan dan keringat malam. Selain itu juga disertai paling sedikit dua kelainan laboratorium berikut: 1)T4 < 400/ml 2)Ratio T4/T8 <
1.0 3)Leukotrombositopenia dan anemi 4)Peningkatan serum immunoglobulin 5)Penurunan blastogenesis sel limfosit 5)Tes kulit anergi.
Sedangkan pada subfase penurunan imunitas berat terjadi infeksi oportunistik berat yang sering mengancam jiwa penderita. Viremia terjadi untuk kedua kalinya.
2.3.5 Diagnosis
Diagnosis HIV ditegakkan melalui anamnesis secara keseluruhan, identifikasi adanya faktor risiko dan temuan klinis pada pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Tes diagnostik HIV yang sering digunakan yaitu Enzyme Linked Immunosorbent Assay(ELISA), Western Blot, Rapid Test, dan Polymerase Chain Reaction(PCR).1,7
Pemeriksaan laboratorium HIV berdasarkan panduan nasional menggunakan strategi III dilakukan setelah konseling baik dengan menggunakan rapid test atau ELISA. Rapid test adalah suatu tes cepat, kualitatif untuk mendeteksi antibodi dari seluruh isotipe (IgG, IgM, IgA) yang spesifik terhadap HIV-1 termasuk subtype-0 dan HIV-2 secara simultan dalam serum, plasma atau darah manusia.39
2.4 Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) 2.4.1 Sejarah homoseksual
Homoseksual ada di semua budaya dan lapisan masyarakat.
Homoseksual merupakan istilah yang diciptakan pada tahun 1869 oleh bidang ilmu psikiatri di Eropa untuk mengacu pada suatu fenomena yang berkonotasi klinis. Homoseksual adalah istilah yang digunakan untuk orang dengan orientasi seksual kepada jenis kelamin yang sama. Homoseksual yang dilakukan sesama pria dinamakan gay, sedangkan homoseksual yang dilakukan oleh sesama wanita disebut dengan lesbian. Kedua perilaku seksual tersebut, baik dalam ranah agama maupun ranah sosial disebut sebagai bentuk seks menyimpang.8
Orientasi seksual seseorang lebih banyak ditentukan oleh kombinasi antara faktor genetika, hormonal, kognitif dan lingkungan. Sebagian besar ahli dalam bidang homoseksualitas berpendapat bahwa tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan seseorang menjadi homoseksual dan bobot masing- masing faktor berbeda dari satu orang ke orang yang lain. Sehingga, tidak diketahui secara pasti penyebab seseorang menjadi homoseksual.40
Teori tentang homoseksual yang berkembang saat ini pada dasarnya dibagi menjadi dua golongan yaitu esensialisme dan kontruksionis.
Esensialisme berpendapat bahwa homoseksual berbeda dengan heteroseksual sejak lahir. Teori ini menyiratkan bahwa homoseksualitas merupakan sebuah penyakit. Sebaliknya, konstruksionis berpendapat bahwa homoseksualitas adalah sebuah peran sosial yang telah berkembang secara berbeda dalam
budaya dan waktu yang berbeda.40,41 Beberapa pendekatan juga dikemukan oleh para ahli untuk memaparkan latar belakang terjadinya homoseksual diantaranya adalah:41
1. Pendekatan Biologi
Perbedaan orientasi seksual disebabkan oleh adanya perbedaan secara fisiologis. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh genetik, hormon, atau sifat (trait) fisik sederhana. Hal ini didukung oleh sejumlah penelitian yang membandingkan kadar hormon androgen.
Terbukti bahwa pria homoseksual memiliki tingkat hormon androgen yang lebih rendah daripada pria heteroseksual.
2. Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis melihat perkembangan perilaku homoseksual sebagai hasil dari dorongan sosial. Freud memandang heteroseksualitas pria sebagai hasil pendewasaan yang normal dan homoseksualitas pria sebagai akibat Oedipus complex yang tidak terselesaikan. Kelekatan pada ibu yang intens ditambah dengan ayah yang jauh akan membuat anak berpindah dari ketertarikan pada ibu menjadi identifikasi ibu, sehingga mencari objek cinta yang dicari oleh ibunya yaitu pria. Freud juga melihat homoseksual sebagai bentuk autoerotis dan narsisistik. Tetapi pandangan ini ditolak oleh psikoanalisis lainnya. Sandor Rado, mengatakan bahwa manusia tidak biseksual secara lahiriah dan homoseksualitas adalah keadaan psikopatologis. Pandangan inilah yang kemudian menjadi standar
bagi profesi psikiater hingga tahun 1970. Selain pendekatan psikoanalitis, teori behavioral yang menganggap bahwa perilaku homoseksual adalah perilaku yang dipelajari dan dapat memberikan efek yang menyenangkan bagi pelakunya hal ini dikuatkan oleh sejumlah pria atau wanita yang lebih memilih perilaku homoseksual karena memiliki pengalaman hubungan homoseksual yang lebih menyenangkan dibandingkan hubungan heteroseksual. Interaksi kelompok teman sebaya juga berperan terhadap tumbuhnya homoseksualitas. Menurut Storm bahwa orang-orang yang tumbuh lebih cepat mulai tertarik secara seksual sebelum mereka memiliki kontak yang signifikan dengan lawan jenis. Teori ini didukung oleh fakta bahwa homoseksual cenderung melaporkan kontak seksual yang lebih dini jika dibandingkan heteroseksual, selain itu dorongan seksual pria cenderung lebih cepat jika dibandingkan wanita.
3. Pendekatan sosiologis
Pendekatan sosiologis mencoba menjelaskan bagaimana dorongan sosial dapat menghasilkan homoseksualitas didalam masyarakat.
Gaya hidup homoseksual dianggap sebagai suatu bentuk kebebasan dalam berekspresi dalam kehidupan tatanan masyarakat modern.
Sejumlah sosiolog juga mengaitkan apakah seseorang itu homoseksual atau heteroseksul dengan cara berpikir yang berubah seiring dengan keadaan sosial. Selain itu arus informasi yang tidak terbendung pada saat ini juga mempermudah akses terhadap konten
yang berbau pornografi sehingga menyebabkan pergeseran terhadap norma dan perilaku seksual di masyarakat.42,43
2.4.2 Definisi laki-laki seks dengan laki-laki (LSL)
Homoseksual pada awalnya dibagi menjadi dua kategori yaitu gay dan lesbian. Namun muncul pola perilaku baru yang tidak tercakup dalam dua kelompok tersebut yaitu laki-laki yang sebenarnya heteroseksual tetapi melakukan hubungan seks dengan sesama laki-laki. Istilah LSL memiliki pengertian Laki-laki berhubungan Seks dengan Laki-laki. Istilah ini merupakan adaptasi dari istilah asing Man Who Have Sex With Man yang disingkat MSM. Nomenklatur ini mulai popular pada pertengahan 1980-an.
Terminologi ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai perilaku seksual laki- laki yang berhubungan seks dengan laki-laki lain tanpa melihat orientasi seksual, identitas gender, motivasi terlibat dalam hubungan seks dan identifikasi dirinya dengan komunitas tertentu.1,2,8,44
Orientasi seksual merupakan cara seseorang menentukan arah pola ketertarikan romantis, seksual dan emosional terhadap laki-laki, perempuan atau kombinasi laki-laki dan perempuan. Istilah yang umum digunakan untuk merujuk orientasi seksual adalah heteroseksual, homoseksual dan biseksual.
Heteresoksual adalah individu yang memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.
Sedangkan homoseksual adalah istilah untuk individu yang tertarik pada sesama jenis. Istilah ini cenderung merujuk pada laki-laki yang tertarik dengan laki-laki lainnya.8,42
Identitas gender adalah cara dimana seseorang mendefinisikan dan mengkonseptualisasi diri mereka sendiri sebagai seseorang dengan jenis kelamin tertentu, biasanya berupa pria, wanita atau waria. Identitas gender mengacu pada ciri-ciri sosial dan karakteristik yang terkait dengan setiap seksualitas biologis. Istilah "maskulin" dan "feminin" biasanya digunakan untuk merujuk pada gender. Gender merupakan suatu konstruksi sosial dan apa yang dipertimbangkan sebagai maskulin atau feminin bervariasi pada setiap budaya. Tidak hanya aturan berpakaian tetapi juga pola perilaku juga dapat dinilai berbeda dalam berbagai lingkungan budaya.8
Jadi dengan kata lain pengertian LSL tidak dilihat dari latar belakang identitas dan orientasi seksualnya melainkan dilihat dari perilaku dan pasangan seksualnya. Hal tersebut berarti tidak memikirkan apakah seseorang adalah gay, biseksual, maupun laki-laki heteroseksual, ketiganya dapat dimasukkan dalam kategori LSL, apabila mereka sudah pernah melakukan hubungan seksual (oral maupun anal seks) dengan laki-laki lainnya baik karena alasan finansial, hasrat sensual, karena coba-coba dan berbagai motif seksual lainnya.42
Pada survei yang dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) yang dikategorikan sebagai LSL dalam Survey Cepat Perilaku (SCP) merupakan laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual dengan laki-laki minimal satu kali.11
2.4.3 Infeksi menular seksual (IMS) pada laki-laki seks dengan laki-laki (LSL)
Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya peningkatan angka IMS dan perilaku berisiko IMS pada populasi LSL bila dibandingkan dengan laki-laki atau perempuan heteroseksual, meskipun tidak ada jenis penyakit yang spesifik untuk LSL.42
Laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) sering dikaitkan dengan risiko penularan IMS. Hal ini dengan cara berhubungan seksual dan faktor risiko lainnya yang menjadikan kelompok LSL merupakan kelompok yang berisiko tinggi atau menjadi populasi kunci dalam penularan dan penyebaran IMS.
Perilaku seksual berisiko yang dimaksud adalah berhubungan anal seks dengan tidak menggunakan kondom dan pelicin serta kecenderungan kelompok LSL untuk berganti-ganti pasangan seksual. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya hubungan atau ikatan dan status yang jelas diantara kelompok LSL.40,42,43
Di Indonesia sendiri menurut STBP tahun 2011 mengatakan bahwa penggunaan kondom konsisten masih tetap rendah untuk setiap tipe pasangan seksual dan LSL yang mengalami kondom robek pada saat berhubungan seksual cenderung meningkat.12
Anal seks merupakan teknik hubungan seks yang paling berisiko menularkan HIV/AIDS dan IMS. Pria dengan peran reseptif (mengalami penetrasi) memiliki risiko lebih besar terinfeksi dibandingkan pria dengan peran insertif (melakukan penetrasi), hal ini dikarenakan anus tidak didesain
untuk berhubungan seksual hingga akan mengalami perlukaan saat melakukan anal seks dan memudahkan masuknya HIV dan patogen IMS lainnya kedalam tubuh.2
Selain kebiasaan berganti-ganti pasangan seksual, penyalahgunaan obat terlarang dan dinamika jejaring seksual dari LSL meningkatkan risiko HIV dan IMS pada populasi ini.1,4
2.5 Kerangka Teori
Perilaku berisiko:
- Anal seks
- Tidak konsisten menggunakan kondom - Banyak pasangan seksual
T.pallidum
- teori behavioral
- interaksi kelompok sebaya LSL
Mikrolesi Pendekatan biologi
-Genetika
-Ketidakseimbangan hormon
HSV-2 HIV
Inflamasi endotel &
jaringan sekitar
Endoarteritis obliterans
Chancre (sifilis primer)
Menyebar lewat aliran darah (sifilis sekunder)
Pemeriksaan VDRL/TPHA
Infeksi sifilis
Penggabungan DNA virus dan DNA host
Virus bermultiplikasi
Virus masuk ke ganglion saraf
Pemeriksaan ELISA IgM-IgG HSV-2
Infeksi herpes genitalis
Terbentuk ikatan HIV external envelope gp120 dan gp41 ke CD4
Fusi membran virus dan membrane sel host
uncoating
Kapsid HIV masuk ke dalam sitoplasma sel
Enzim reverse trancriptase mengubah RNA menjadi DNA
DNA virus masuk ke nukleus sel host
Pemeriksaan HIV dengan Rapid Test
Infeksi HIV
koinfeksi
Pendekatan sosiologi - Kebebasan berekspresi - Perubahan pola pikir
- Arus infomasi dan pergeseran norma
terbentuk antibody spesifik aliran darah
Aliran drah
2.6 Kerangka Konsep
LSL Infeksi Sifilis, Herpes
genitalis, HIV
Gambar 2.4. Kerangka konsep penelitian
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan suatu studi deskriptif dengan rancangan potong lintang (cross-sectional).
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
1. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember 2018 sampai Juni 2019, bertempat di Poliklinik Divisi Infeksi Menular Seksual dan Treponematosis SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP H.
Adam Malik Medan, pusyansus RSUP H. Adam Malik, puskesmas Teladan, puskesmas Padang Bulan.
2. Pengambilan dan pemeriksaan sampel darah dilakukan di SMF Patologi Klinik RSUP H. Adam Malik Medan, Laboratorium Kesehatan Daerah dan Laboratorium Klinik Global Health.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi target
Seluruh laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki.
3.3.2 Populasi terjangkau
Pasien LSL yang mengalami Infeksi menular seksual yang berobat ke Divisi Infeksi Menular Seksual dan Treponematosis
SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP H. Adam Malik Medan, pusyansus RSUP H. Adam Malik, puskesmas Teladan, puskesmas Padang Bulan pada bulan Februari 2019 sampai dengan Maret 2019.
3.3.3 Sampel penelitian
Populasi terjangkau yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi 3.4.1 Kriteria inklusi
1. Laki-laki yang pernah melakukan hubungan seksual dengan laki-laki berdasarkan anamnesis
2. Berusia diatas 18 tahun
3. Terdapat riwayat melakukan hubungan seksual secara anogenital dan atau orogenital
4. Bersedia ikut serta dalam penelitian dan menandatangani informed consent
3.4.2 Kriteria eksklusi
1. Laki-laki yang secara anamnesis dan catatan medis pernah atau sedang menderita penyakit treponematosis lainnya (frambusia, yaws, patek)
3.5 Besar Sampel
Untuk menghitung besar sampel, maka digunakan rumus berikut:
Zα = deviat baku alfa 1,96
P = proporsi berdasarkan kepustakaan31 = 0,23 Q = 1-P = 1-0,23 = 0,77
d = tingkat ketepatan absolut yang diinginkan = 0,1 n = 34,7
Dengan demikian maka besar sampel minimal pada penelitian ini adalah 35 orang.
3.6 Cara Pengambilan Sampel Penelitian
Cara pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan menggunakan metode consecutive sampling.
3.7 Identifikasi Variabel
Laki-laki seks dengan laki-laki, sifilis, herpes genitalis, infeksi HIV, koinfeksi
3.8. Definisi Operasional
1. LSL (Laki-laki Seks dengan Laki-laki) adalah Laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki lain tanpa melihat orientasi
seksual, identitas gender, motivasi terlibat dalam hubungan seks dan identifikasi dirinya dengan komunitas tertentu.
Cara ukur : wawancara Skala ukur : nominal
Hasil ukur : LSL atau bukan LSL
2. Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum.
Cara ukur : pemeriksaan spesimen darah Alat ukur : pemeriksaan VDRL dan TPHA Skala ukur : nominal
Hasil ukur : reaktif atau non reaktif
3. Herpes genitalis adalah penyakit yang umumnya disebabkan oleh herpes simpleks virus tipe 2.
Cara ukur : pemeriksaan spesimen darah Alat ukur : pemeriksaan IgM dan IgG HSV-2 Skala ukur : nominal
Hasil ukur : reaktif apabila nilai uji serologis diatas nilai cut- off >11 IU atau non reaktif bila dibawah nilai cut-off <11 IU.
4. Infeksi HIV adalah infeksi yang disebabkan oleh virus HIV atau Human immunodeficiency Virus yang dapat menurunkan dan merusak sistem kekebalan (imunitas) dalam tubuh manusia.
Cara ukur : pemeriksaan spesimen darah
Alat ukur : rapid test HIV Skala ukur : nominal
Hasil ukur : reaktif atau non reaktif
5. Koinfeksi sifilis dan infeksi HIV adalah dijumpai infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum disertai dengan infeksi yang disebabkan oleh Immunodeficiency Virus pada satu orang pasien.
Cara ukur : pemeriksaan spesimen darah
Alat ukur : pemeriksaan VDRL TPHA dan rapid test HIV Skala ukur : nominal
Hasil ukur : reaktif atau non reaktif
6. Koinfeksi herpes genitalis dan infeksi HIV adalah dijumpai infeksi yang disebabkan oleh HSV tipe-2 disertai dengan infeksi yang disebabkan oleh Immunodeficiency Virus pada satu orang pasien.
Cara ukur : pemeriksaan spesimen darah
Alat ukur :pemeriksaan IgM dan IgG HSV-2 secara ELISA dan rapid test HIV
Skala ukur : nominal
Hasil ukur : reaktif atau non reaktif
7. Koinfeksi sifilis dan herpes genitalis adalah dijumpai infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan HSV-tipe 2 pada satu orang pasien.
Cara ukur : pemeriksaan spesimen darah
Alat ukur : pemeriksaan VDRL/TPHA dan pemeriksaan IgM-IgG HSV-2 secara ELISA
Skala ukur : nominal
Hasil ukur : reaktif atau non reaktif
8. Koinfeksi sifilis, herpes genitalis dan HIV adalah dijumpainya infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan HSV-tipe 2 serta HIV pada satu orang pasien.
Cara ukur : pemeriksaan spesimen darah
Alat ukur : pemeriksaan VDRL/TPHA, pemeriksaan IgM-IgG HSV-2 secara ELISA dan pemeriksaan rapid test HIV
Skala ukur : nominal
Hasil ukur : reaktif atau non reaktif
9. Usia dihitung berdasarkan tanggal lahir sesuai rekam medis apabila lebih dari 6 bulan dilakukan pembulatan ke atas dan apabila lebih kecil dari 6 bulan dilakukan pembulatan ke bawah.
Cara ukur : wawancara Skala ukur : ordinal
Hasil ukur : dikategorikan berdasarkan sebaran data sampel penelitian dalam persentil
10. Pendidikan adalah pendidikan formal yang sedang dijalani atau yang terakhir diselesaikan oleh pasien dari rekam medis.
Cara ukur : wawancara