• Tidak ada hasil yang ditemukan

Membangun Kewirausahaan di Sekolah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Membangun Kewirausahaan di Sekolah "

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Membangun Kewirausahaan di Sekolah

Muh. Ali Mukhtar

Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jejen Musfah

[email protected]

Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah

Abstract

Educational institutions need to improve various superior competencies. One of the competencies that must be built is entrepreneurial competence in realizing the independence of conducting education, while at the same time answering the challenges of the digital era and the demands of competition for the ASEAN Economic Community (MEA). The purpose of this study was to analyze the importance of developing entrepreneurship in schools. The method that used is a qualitative method with literature study. The results of this research showed that entrepreneurial competence is one of the abilities possessed by a leader in realizing entrepreneurial values in school. Entrepreneurship in schools can be realized when a headmaster has competent competencies, with the following characteristics: innovative, hardworking, strong motivation, never giving up, entrepreneurial instincts, courageous decision-making, visionary, and able to give example to the school community. Entrepreneurship competencies of principals will be able to create independent and superior schools and be able to realize graduates with entrepreneurial spirit.

Keywords: Competence, Entrepreneurship, Characteristics, School

Lembaga pendidikan perlu meningkatkan berbagai kompetensi unggul. Salah satu kompetensi yang harus dibangun adalah kompetensi kewirausahaan sebagai upaya dalam mewujudkan kemandirian penyelenggarakan pendidikan, sekaligus menjawab tantangan era digital dan tuntutan persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pentingnya pengembangan kewirausahaan di sekolah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi kewirausahaan adalah salah satu kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin dalam mewujudkan nilai-nilai kewirausahaan di sekolah. Kewirausahaan di sekolah dapat diwujudkan manakala seorang kepala sekolah memiliki kompetensi yang mumpuni, dengan karakter sebagai berikut: inovatif, bekerja keras, memiliki motivasi yang kuat, pantang menyerah, memiliki naluri kewirausahaan, berani mengambil keputusan, visioner, dan mampu memberi keteladanan bagi warga sekolah. Kompetensi kewirausahaan kepala sekolah akan mampu menciptakan sekolah yang mandiri dan unggul serta mampu mewujudkan lulusan yang berjiwa kewirausahaan.

Kata Kunci : Kompetensi, Kewirausahaan, Karakteristik, Sekolah.

URL: http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/hikmatuna/article/view/1379 DOI: https://doi.org/10.28918/hikmatuna.v4i2.1379

Published by: Postgraduate of State Institut for Islamic Studies Pekalongan

(2)

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah agen perubahan. Pendidikan harus mampu mewujudkan perubahan besar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Perubahan yang diharapkan dari pendidikan adalah perubahan yang mengarah kepada peningkatan kompetensi pelaku pendidikan, baik di kalangan pendidik, maupun peserta didik.

Masyarakat Indonesia belum menunjukkan semangat kewirausahaan. Menteri Koperasi dan UKM, Agung Gede Ngurah Puspayoga dalam acara Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) 2017 di IPB Bogor pada 11 Maret 2017 menyatakan, bahwa Rasio wirausaha masyarakat Indonesia saat ini hanya mencapai 3,1% dari jumlah sekitar 252 Juta penduduk berdasarkan data BPS tahun 2016 , yang dua tahun sebelumnya lebih sedikit yakni 1,6%. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan peningkatan yang dialami negara-negara ASEAN lainnya yang peningkatannya mencapai 5 % untuk Malaysia, dan 7 % untuk Singapura (Humas Kemenkop, 2017).

Jumlah wirausahawan di Indonesia, tercatat hingga Februari 2014, ada hanya berkisar 44,2 juta orang yang berusaha membuka lapangan kerja secara berdikari.

Sementara, total penduduk bekerja di republik ini mencapai 118,1 juta orang. Bila dikaji lebih dalam lagi, wirausahawan di Indonesia terdiri dari jumlah penduduk yang berwirausaha secara mandiri sebanyak 20,32 juta orang; berwirausaha dibantu buruh tidak tetap 19,74 juta orang, dan berwirausaha dibantu buruh tetap 4,14 juta orang. Jumlah wirausahawan baru mencapai 1,56 persen dari total populasi (Ardiyan, 2014).

Fenomena lain yang melatarbelakangi pentingnya membangun nilai-nilai kewirausahaan adalah lemahnya mutu lembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, dan pesantren) karena tidak memiliki kemampuan dalam mengelola dan membiayai berbagai kegiatan.

Kelemahan lembaga pendidikan dalam membiayai kegiatannya disebabkan beberapa faktor. Pertama, terbatasnya anggaran pendidikan yang bersumber dari pemerintah. Kedua, lahirnya Permendikbud RI Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, dimana pada Pasal 12 menyebutkan dengan tegas larangan kepada Komite Sekolah untul melakukan pungutan biaya pendidikan kepada wali murid. Ketiga, tidak memiliki unit usaha karena lemahnya nilai-nilai kewirausahaan kepala sekolah dan lainnya.

Dunia pendidikan harus membangun kemandirian sekolah melalui kegiatan kewirausahaan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang

(3)

Standar Kepala Sekolah/madrasah menyebutkan bahwa setiap kepala sekolah/madrasah harus memiliki 5 (lima) kompetensi dasar, yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, supervisi, sosial, dan kewirausahaan.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi pustaka. Penulis mengumpulkan informasi terkait tema baik berupa karya ilmiah seperti tesis, skripsi, buku, maupun berita cetak dan daring. Data-data tersebut dikelompokkan sesuai pokok-pokok bahasan yang ditentukan setelah membaca kumpulan data. Kemudian data tersbut dianalisis berdasarkan teori dan pengalaman penulis.

PEMBAHASAN

Wirausaha dalam KBBI diartikan sama dengan wiraswasta, yaitu orang yang pandai atau berbakat mengenal produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya serta mengatur permodalan operasinya.

Karakter diri seorang wirausahawan adalah memiliki watak berani, bersungguh-sungguh, dan mengerahkan segenap kemampuan dalam mencapai dan memenuhi tujuannya.

Menurut Gitosardjono (2013: 204), wirausaha adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil tindakan yang tepat dan mengambil keuntungan dalam rangka meraih sukses. Kewirausahaan mengacu kepada suatu hasil kreativitas baru yang dibuat oleh seseorang dan dilakukan secara pribadi.

Kewirausahaan adalah kemampuan melihat sebuah situasi yang didalamnya terdapat berbagai peluang untuk memperoleh keuntungan, ataupun memperoleh sebuah solusi dalam menghadapi berbagai kendala/masalah dengan mengedepankan keberanian, kesungguhan, dan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bermanfaat.

A. Entrepreneurship di Sekolah

Lingkungan pendidikan sebagai wahana untuk mempersiapkan generasi bangsa harus membekali lulusannya dengan menambah kompetensi keterampilan berwirausaha. Pemikiran ini menjadi sebuah pekerjaan baru bagi kepala sekolah sebagai leader di sekolah untuk menyusun kembali sebuah misi sekolah yang mampu

(4)

mengantarkan peserta didiknya menjadi wirausahawan di masa mendatang.

Dibutuhkan pengelolaan dan sistem manajerial yang baik di lingkungan sekolah.

Gaffar (1994: 44) menjelaskan bahwa pertumbuhan sistem pendidikan tanpa memfungsikan pengelolaan pendidikan tidak mungkin dapat membina pertumbuhan sekolah. Pengelolaan sekolah harus dirancang sebaik mungkin dengan memperhatikan kebutuhan kompetensi peserta didik dan juga penerapannya dilakukan secara sistematis, agar pembinaan pertumbuhan sekolah tetap dapat dilakukan dengan sebaik mungkin.

Pengelolaan sekolah harus mengedepankan asas kebersamaan, artinya proses penentuan kebijakan hingga pelaksanaannya harus melibatkan warga sekolah.

Pengelolaan seperti ini akan menjadikan sekolah menjadi sekolah yang menerapkan kepemimpinan partisipatif. Menurut Suparlan (2013: 50), dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah (MBS), kepala sekolah harus menerapkan kepemimpinan partisipatif, yaitu kepemimpinan dengan prinsip memberikan pelibatan secara luas kepada semua pemangku kepentingan yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah secara demokratis.

Dalam mengelola kegiatan sekolah menuju kepada sebuah kemandirian, kepala sekolah harus memiliki kompetensi kewirausahaan. Dengan demikian, dia akan mampu melakukan beberapa hal berikut. 1) Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah, 2) Bekerja keras mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang efektif, 3) Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai pemimpin sekolah/madrasah, 4) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik (Oktavia, 2014: 597).

5) memiliki pandangan yang jauh kedepan (visioner) sehingga pengelolaan sekolah bisa dilakukan dengan cermat, 6) Memiliki ketepatan dalam mengambil keputusan, dan, 7) Memberikan keteladanan kewirausahaan bagi warga sekolah.

B. Karakteristik Entrepreneurship Kepala Sekolah

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah/madrasah, karakteristik kompetensi kewirausahaan yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah adalah Pertama, menciptakan inovasi

(5)

yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah. Kedua, bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif.

Ketiga, memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah. Keempat, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi masalah/kendala yang dihadapi seklah/madrasah. Kelima, memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.

Karakteristik kompetensi kewirausahaan yang harus dimiliki kepala sekolah adalah: Pertama, Memiliki rasa percaya diri yang meliputi keyakinan, ketidaktergantungan, individualitas, dan optimisme. Kedua, Berorientasi tugas dan hasil yang meliputi kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, enerjik dan inisiatif. Ketiga, Pengambil resiko yang meliputi : berani dan mampu mengambil resiko, dan suka pada tantangan.

Keempat, Kepemimpinan yakni bertingkah laku sebagai pemimpin dan bergaul dengan orang lain, menanggapi saran dan kritik. Kelima, Keorisinilan yang meliputi inovatif, kreatif, fleksibel, banyak sumber, serba bisa dan banyak wawasan. Keenam, Berorientasi ke masa depan yakni visioner dalam prospektif dan perseptif (Permana dan Kesuma, 2011: 356).

Tabel 1. Kartakteristik Kewirausahaan Permendiknas No 13 tahun

2007

Mulyasa Johar Permana dan Darma Kesuma

Inovasi Percaya Diri Percaya Diri

Pekerja keras Memiliki Inisiatif Berorientasi tugas dan hasi

Memiliki Motivasi Kuat Motivasi Prestasi Pengambil Resiko Pantang Menyerah Kepemimpinan Kepemimpinan Naluri Kewirausahaan Berani mengambil

keputusan

Orisinil

- - Berorientasi ke masa

depan

Sumber: Sumber: Sumber:

(6)

www.simpuh.kemenag.go.id (Mulyasa, 2011:180- 190)

(Permana & Kesuma, 2011:356).

Berikut adalah penjelasan singkat mengenai defenisi karakteristik kompetensi kewirausahaan di atas. 1) inovasi merupakan Segala sesuatu yang baru atau pembaharuan; 2) pekerja keras merupakan kegiatan yang dikerjakan secara sungguh- sungguh tanpa mengenal lelahsebelum target tercapai; 3) motivasi kuat adalah dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan; 4) pantang menyerah adalah kemampuan bangkit kembali dari situasi sulit dan berusaha tidak menjadi korban dari ketidakberdayaan; dan 5) naluri kewirausahaan merupakan Pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang memunculkan keberanian, kesungguhan serta keinginan menciptakan sesuatu baru demi sebuah keuntungan atau kemanfaatan.

Penelitian Mutriani menyebutkan bahwa kompetensi kewirausahaan kepala sekolah di Kabupaten Bantul menunjukkan sebuah hasil yang sangat baik, sebagaimana dalam tabel 2 berikut.

Tabel 2. Karakteristik Kepala Sekolah

No Sub Variabel Perolehan Skor Rata-Rata

Prosentase (%)

Kategori

1 Inovatif 189,5 82,39 Sangat Baik

2 Kerja Keras 198,5 86,30 Sangat Baik 3 Motivasi yang Kuat 197,56 85,90 Sangat Baik 4 Pantang Menyerah 196,09 85,26 Sangat Baik 5 Memiliki Naluri

Kewirausahaan

193,67 84,20 Sangat Baik

Total 975,32 424,05 Sangat Baik

Rata-Rata 195,06 84,81 Sangat Baik Sumber: Mutiarani , Kompetensi kewirausahaan kepala Sekolah

Menengah Pertama Negeri (SMPN) Se-Kabupaten Bantul, 2015 : 84).

(7)

C. Upaya Membangun Kewirausahaan di Sekolah

Kompetensi kewirausahaan kepala sekolah di Kabupaten Bantul menunjukkan sebuah hasil yang sangat baik, akan tetapi apakah data tersebut bisa mewakili banyaknya jumlah kepala sekolah di Indonesia? Menurut hemat penulis, data tersebut belum bisa menjadi barometer kompetensi kewirausahaan kepala sekolah di Indonesia, karena beberapa alasan berikut, pertama, masih banyaknya kepala sekolah yang belum bisa sepenuhnya menerapkan karakteristik kewirausahaan di lingkungan sekolahnya.

Kedua, dalam aspek pembiayaan kegiatan belajar mengajar dan kegiatan sekolah pada umumnya masih bergantung pada sumber dana yang berasal dari Pemerintah dan komite sekolah. Ketiga, kepala sekolah belum mampu membangun kewirausahaan mandiri yang dapat memberikan income bagi sekolahnya. Keempat, sekolah dan lembaga pendidikan lainnya banyak yang belum berhasil menanamkan jiwa kewirausahaan kepada output-nya, sehingga lulusan dari berbagai lembaga pendidikan banyak yang belum mampu mendirikan sebuah usaha mandiri. Upaya membangun nilai-nilai kewirausahaan di lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut.

1. Kerjasama Berwirausaha

Corporation Entrepreneur adalah sebuah inisiatif yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah untuk membangun kewirausahaan di sekolah dengan cara melakukan kerjasama dengan beberapa penggiat wirausaha di sekitar lingkungan sekolahnya, misalnya bekerjasama dengan perusahanaan atau pengusaha tertentu untuk mengadakan kegiatan amal, kerjasama dalam pengadaan alat praktek dan buku siswa, kerjasama dengan perusahaan asuransi, kerjasama dengan Bank dalam bidang biaya pendidikan dan lain sebagainya.

2. Membangun School Mart (Sekolah swalayan)

Dengan mendirikan toko di lingkungan sekolah yang menyiapkan segala kebutuhan siswa dan guru terkait kegiatan belajar mengajar; pembuatan kantin atau kafe kejujuran yang menyiapkan beraneka jajanan yang sehat dan lezat tentunya. Semua itu dilakukan dengan sistem bagi hasil atau sebagaimana yang disepakati. Jenis kewirausahaan ini penulis mendapati di beberapa SMK yang ada

(8)

di DKI Jakarta, di antaranya SMK 57 Jakarta. Sekolah ini memiliki restoran mini, mini market, dan aula pertemuan yang representatif untuk beberapa kegiatan publik seperti seminar, pelatihan, maupun acara mini lainnya.

3. Menanamkan jiwa berwirausaha kepada siswa

Upaya ini dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan, misalnya Bazar Ramadhan, menghasilkan karya seni siswa yang memiliki nilai jual, pameran, kegiatan amal peduli bagi siswa yang kurang beruntung ataupun untuk pembiayaan kegiatan siswa yang belum terbackup dalam dana BOS atau dana sekolah lainnya.

4. Baitul Maal wat Tamwil (BMT)

Salah satu upaya membangun kemandirian sekolah dalam mensejahterakan warganya sekaligus menopang biaya pendidikan di sekolahnya adalah melalui pembentukan koperasi dalam hal ini baitul maal. Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) adalah balai usaha mandiri terpadu yang isinya berintikan bayt al-mal wa al-tamwil dengan kegiatan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil ke bawah dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Baitul Maal Wat Tamwil juga bisa menerima titipan zakat, infak, dan sedekah, serta menyalurkannya sesuai dengan peraturan dan amanatnya.

Selain itu, yang mendasar adalah bahwa seluruh aktivitas BMT harus dijalankan berdasarkan prinsip muamalah ekonomi dalam islam (Widodo, dkk, 2000: 82).

BMT adalah lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuhkembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir dan miskin. Selain mengadopsi beberapa sistem dan prinsip-prinsip koperasi, BMT juga mengadopsi beberapa prinsip-prinsip baitul mal, yakni mensejahterakan masyarakat melalui pengelolaan zakat, infaq dan shodaqoh dari berbagai elemen masyarakat khususnya ummat Islam. Dalam pelaksanaannya BMT menjunjung tinggi prinsip-prinsip mensejahterakan masyarakat dengan beberapa prinsip penting yaitu, penumbuhan (kehadirannya murni dari masyarakat), profesionalitas,

(9)

berasas pada konsep ekonomi Islam. Salah satu contoh sekolah yang memiliki BMT adalah SMK Al-Amanah Tangerang Selatan.

5. Menggagas “Pendidikan Cerdas dengan Sampah”

Ide ini terinspirasi dari kisah sukses seorang dokter muda di Malang Jawa Timur. Gamal Albinsaid, seorang dokter muda berusia 24 tahun. Pria yang merupakan alumni Universitas Brawijaya Malang ini membuat program yang cemerlang dalam bidang kesehatan yakni mengelola klinik kesehatan yang pembayarannya menggunakan sampah. Program ini ia namakan dengan Klinik Asuransi Sampah (KAS), (Yatimul, 2014).

Gagasan ini dapat diaplikasikan juga di dunia pendidikan melalui program Pendidikan Cerdas dengan Sampah (PCdS). Dalam hal ini sekolah bekerjasama dengan komite sekolah untuk membuat pengelolaan sampah melalui membuat kerajinan tangan, dan pengumpulan sampah Non Organik berupa botol plastik dan sisa minuman-minuman kaleng untuk dikumpulkan dan selanjutnya dijual kepada pengepul sampah. Hasil keuntungan dari penjualan kerajinan tangan dan penjualan botol bekas tersebut digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan pendidikan di sekolah.

Program ini sudah dilaksanakan dengan sukses di Taman Kanak-kanak dan PAUD Al-Kausar, Kota Jambi. Para siswa membiayai pendidikan mereka sendiri dari sampah. Uang sumbangan pembinaan pendidikan di sekolah itu Rp 40.000 per bulan cukup dibayar dengan cara menyetor sampah ke sekolah. Barang-barang bekas itu selanjutnya dikelola menjadi kerajinan dan alat peraga pendidikan yang cukup menghasilkan keuntungan finansial bagi sekolah tersebut (Irma, 2016).

D. Sekolah dan Unit Kewirausahaannya

Beberapa sekolah berhasil mengembangkan kewirausahaan sehingga bisa dijadikan contoh. Pertama, SMKN 57 Jakarta. Salah satu sekolah yang terletak di pasar minggu Jakarta Selatan. Unit kewirausahaan yang dimiliki sekolah ini diantaranya Aula Graha 57, Hotel Training Perdana, Travel Agency “Vida Toor and Travel”, Restoran New Ragoon dan Minimarket New Ragoon (www.smkn57jkt.sch.id).

(10)

Kedua, SMP Negeri 2 Gunung Wungkal Kabupaten Pati. Sekolah ini merupakan salah satu Sekolah Standar Nasional (SSN) yang terletak di Kabupaten Pati, Propinsi Jawa Tengah. Usaha yang dikembangkan adalah Koperasi yang menyelenggarakan usaha-usaha sebagai berikut:

a) Unit usaha pertokoan, menyediakan alat tulis menulis, buku-buku siswa, pakaian seragam sekolah, alat-alat praktik sekolah, misalnya alat menggambar, alat olah raga, alat praktik biologi, alat praktik kimia dan lain-lain.

b) Unit usaha kafetaria atau kantin, menyediakan makanan dan minuman ringan yang diperuntukkan bagi guru dan siswa.

c) Unit usaha simpan-pinjam, mewajibkan para anggota (siswa dan guru) untuk membayar simpanan wajib secara teratur dan menggiatkan anggota untuk menabung atau menyimpan sukarela secra teratur agar mudah pengelolaannya.

Bagi Siswa dan guru yang membutuhkan pinjaman juga dilayani sesuai dengan kebutuhan yang diatur dalam komitmen bersama.

d) Unit usaha jasa, misalnya foto copy, jasa penjilidan, jasa pengetikan untuk melayani kepentingan guru dan siswa sehingga tidak perlu keluar dari sekolah (Prasetyo, 2013:13).

Ketiga, SMK ITACO Bekasi. Sekolah ini terletak di Bekasi dan merupakan sekolah kejuruan jurusan teknik komputer jaringan. Sekolah ini diperuntukkan bagi siswa pra sejahtera yang merupakan komunitas wirausaha siswa untuk membantu mereka dalam memenuhi kebutuhannya. Adapun usaha yang dilakukan adalah lebih bergerak di bidang usaha jasa, yakni: mug printing, jasa desain, pembuatan PIN, menulis buku wirausaha, jasa input data, jasa man power untuk event, servis komputer, admin sosial media, konten writer dan sablon (Winarta, 2015).

SIMPULAN

Kompetensi kewirausahaan adalah salah satu kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin dalam mewujudkan nilai-nilai kewirausahaan di sekolah. Kewirausahaan di sekolah dapat diwujudkan manakala seorang kepala sekolah memiliki kompetensi yang mumpuni, dengan karakter sebagai berikut: Inovatif, bekerja keras, memiliki motivasi yang

(11)

kuat, pantang menyerah, memiliki naluri kewirausahaan, berani mengambil keputusan, visioner, dan mampu memberi keteladanan bagi warga sekolah. Kompetensi kewirausahaan kepala sekolah akan mampu menciptakan sekolah yang mandiri dan unggul serta mampu mewujudkan lulusan yang berjiwa kewirausahaan.

REFERENSI

Ardiyan, M. “Sistem Pendidikan Biang Kerok Indonesia Minim Wirausaha”, dalam www.merdeka.com, 12 Juli 2014. Diakses 16 April 2018.

Gaffar M. F. 1994. Visi: Suatu Inovasi dalam Proses Manajemen Strategi Perguruan Tinggi.

Bandung: IKIP.

Gitosardjono, S. S. 2013. Wirausaha; Berbasis Islam dan Kebudayaan. Jakarta: Jurnalindo Aksara Grafika.

Irma, T. “Setorkan Sampah untuk Nikmati Sekolah”, dalam Kompas.com., 21 September 2016. Diakses pada 16 April 2018.

Permana, J. dan D. Kesuma. 2011. Kewirausahaan dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Mulyasa, H. E. 2011. Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.

Mutiarani, W. 2015. “Kompetensi Kewirausahaan Kepala SMPN Se-Kabupaten Bantul”, Skripsi. Yogyakarta: UNY.

Prasetyo, A. 2013. “Pengembangan Kewirausahaan SMP Negeri 2 Gunung Wungkal Kabupaten Pati”, Tesis, Surakarta: UMS (universitas Muhammadiyah Surakarta).

Suparlan. 2013. Manajemen Berbasis Sekolah; Dari Teori Sampai Dengan Praktik. Jakarta:

Bumi Aksara.

Oktavia, Reni. “Kompetensi Kewirausahaan Kepala Sekolah pada SMPN di Kecamatan Hiliran Gumanti Kabupaten Solok”, dalam Bahana Manajemen Pendidikan, Jurnal Administrasi Pendidikan. Volume 2 Nomor 1, 2014.

Humas Kemenkop. “Ratio Wirausaha Indonesia”, dalam www.depkop.go.id, 11 Maret 2017. Diakses pada 10 April 2018.

Widodo, H. Ak, dkk. 2000. Panduan Praktis Operasional Baitul Mal Wat Tamwil (BMT), Cet ke-2. Bandung: Mizan.

Winarta. “Sukses Hadapi MEA 2015 Bersama Komunitas Siswa Wirausaha”, dalam www.liputan6.com, 09 Januari 2015. Diakses pada 12 April 2018.

(12)

Yatimul, A. 2014. “Berobat di Klinik Ini, Warga Cukup Bayar dengan Sampah”, dalam Kompas.com., 19 Maret 2014. Diakses pada 16 April 2018.

---, “Unit Usaha Sekolah”, dalam www.smknmanado.sch.id., 03 Desember 2016.

Diakses pada Sabtu 04 November 2017.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh Proses Perencanaan Partisipatif Dan Kinerja Manajerial Kepala Sekolah Terhadap Efektivitas Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Pada Sekolah Dasar Di

Lebih lanjut, Fauzan juga mengemukakan, MBS sebenarnya ingin menjawab pola pikir pengembangan manajemen sekolah yang semula manajemen berbasis kepala sekolah bergeser menjadi

DBE1 telah menerapkan program MBS yang meliputi Rencana Kerja SekolahRencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah, Penguatan Komite Sekolah, Sistem Database Sekolah, dan

Ukuran keterlaksanaan MBS dikaji berdasarkan 7 (tujuh) komponen manajemen, yaitu Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Berbasis Sekolah, Manajemen Peserta Didik Berbasis

pada implementasi Manajemen Berbasis Sekolah tahun 2013-3015. Kapasitas Manajerial Kepala Sekolah Dasar Negeri 18 Pekanbaru Pada Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah

Hasil penelitian; (1) kepala sekolah yang menerapkan kepemimpinan kewirausahaan dapat dilihat dari kompetensi kewirausahaan telah dituangkan di dalam KTSP dan renstra sekolah,

mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah (MBS) melalui penguatan budaya mutu sekolah; (2) meningkatkan kemampuan pengawas dan kepala sekolah dalam mengelola kurikulum

Peran kepemimpinan kepala sekolah dalam implementasi MBS di SDN Sobontoro 1 Manajemen berbasis sekolah MBS yang diterapkan di SDN Sobontoro 1 terdapat 7 komponen diantaranya,