1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam persaingan dunia industri yang semakin kompetitif, setiap perusahaan perlu memperhatikan kualitas dari produk yang dihasikan untuk tetap dapat bertahan dalam menjalankan usahanya. Persaingan yang ketat dan kebutuhan serta keinginan customer yang semakin beragam telah memacu seluruh industri dan organisasi untuk terus meningkatkan kualitas dari produk dan jasa mereka dengan tujuan untuk memperoleh sebuah strategi keunggulan kompetitif (Ploytip dkk, 2014). Perkembangan dunia industri sendiri merupakan salah satu penunjang keberhasilan pembangunan di indonesia, dengan semakin ketatnya persaingan yang dihadapi sebuah perusahaan harusnya lebih responsif dalam menghadapi persaingan tersebut salah satunya dengan menciptakan dan meningkatkan produk yang berkualitas (Sunardi dan Suprianto, 2015: 6). Kualitas sangat erat kaitannya dengan profitabilitas perusahaan yang dapat mempengaruhi keberlangsungan dari perusahaan itu sendiri. Semakin banyak produk cacat yang dihasilkan maka semakin sedikit produk bernilai jual tinggi yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Banyaknya produk tidak berkualitas yang dihasilkan menandakan kegiatan operasional perusahaan tersebut kurang baik. Oleh karena itu, Semakin baik (efisien) kegiatan operasional akan menghasilkan harga pokok lebih rendah daripada penjualan sehingga semakin besar pula profitabilitas yang didapat (Irham Fahmi, dalam Faridatun dkk, 2019). Kualitas akan memberikan dampak terhadap biaya produksi. Dampak yang terjadi terhadap biaya produksi adalah proses produksi itu sendiri yang dapat menghasilkan produk bebas dari tingkat kerusakan sehingga dapat menekan biaya kualitas seperti biaya rework (harus dikerjakan kembali) dan produk terbuang karena sudah tidak bisa dibentuk (Tannady,2015).
Perusahaan yang memiliki daya saing tinggi tentunya akan dapat bertahan dengan mengutamakan perbaikan dan peningkatan kualitas secara berkesinambungan.
Dalam peningkatan kualitas tidak terlepas dari pengendalian kualitas itu tersendiri. Karena dengan melakukan pengendalian terhadap penyimpangan
2
kualitas akan menekan defect ataupun variasi-variasi yang timbul sehingga resiko kegagalan produk dapat di cegah dan kualitas produk dapat ditingkatkan. Menurut Buffa dalam Baguna dkk, (2018; 4) pengendalian merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan cara memonitor keluaran (output), membandingkan dengan standar-standar, menafsirkan perbedaan-perbedaan dan mengambil tindakan untuk menyesuaikan kembali seluruh proses tersebut sehingga sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Sedangkan kualitas menurut Gaspersz dalam Ekawati dan Rachman (2017) adalah totalitas dari karakteristik suatu produk yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasi atau diterapkan.
Jadi, pengendalian kualitas adalah alat bagi manajemen untuk mempertahankan, memperbaiki, dan menjaga kualitas dengan cara mengurangi jumlah produk yang rusak sehingga memberi manfaat dan memuaskan keinginan pelanggan (Mizuno, dalam Sirine dan Kurniawati, 2017: 256). Pengendalian kualitas dimaksudkan untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan sedapat mungkin untuk tetap mempertahankan kesesuaian kualitas tersebut dengan standar yang ada. Ada beberapa metode dalam pengendalian kualitas antara lain:
TQM, Seven Tools, Taguchi, dan Six Sigma . Six Sigma sebagai salah satu metode yang paling populer merupakan salah satu alternatif dalam prinsip pengendalian kualitas yang merupakan terobosan dalam bidang manajemen kualitas (Gaspersz, dalam Paschalis, dkk, 2014: 1).
Six Sigma telah muncul sebagai salah satu strategi bisnis yang paling efektif didalam organisasi besar diseluruh dunia (Desai dan Prajawati, 2017). Keberhasilan yang telah diraih oleh perusahaan Motorola adalah menjadi pemimpin dalam area kualitas dan kesempurnaan finansial, serta telah menunjukan potensinya dengan memenangkan Malcolm Baldrige National Quality Award pada tahun 1998 (Pyzdek dalam Patyal dan Maddulety, 2015). Perusahaan Motorola, dibawah kepemimpinan badan tertinggi eksekutif (CEO) Bob Galvin, mempelopori filosofi Six Sigma pada tahun 1980 an, yang mana terus menjadi revolusi kualitas (Patyal dan Maddulety, 2015). Six Sigma mengusung ciri khas metode yang sistematis, mudah dipahami, serta mudah diaplikasikan dalam perbaikan kualitas. Hal ini mendorong banyak perusahaan menerapkan konsep Six Sigma berkat banyaknya
3
perusahaan yang telah sukses dalam menekan tingkat kerusakan produk ataupun variasi yang berujung pada penghematan biaya produksi serta pengurangan pemborosan dengan menerapkan konsep Six Sigma dalam perusahaan mereka.
Sebagai contoh para pelopor awal Six Sigma yang telah sukses antara lain: pada tahun 1992 telah tercatat perusahaan Motorola berhasil mengurangi variasi-variasi ataupun cacat baik produk ataupun proses sebanyak 150 kali, dan ditahun 1999 telah tercatat dapat mengemat biaya produksi sebesar $ 15 milyar dalam kurun waktu 11 tahun, selanjutnya ada perusahaan besar lainnya yang telah berhasil mendapatkan keuntungan signifikan dari penerapan konsep Six Sigma yaitu General Electric yang mana pada tahun 2004 berhasil mengurangi atau menghemat biaya proses sebesar $ 2 milyar (Mehrjerdi, 2011). Dengan banyaknya perusahaan yang telah terbukti sukses membawa bisnis mereka ke arah yang lebih baik dengan menggunakan konsep Six Sigma maka metode ini patut untuk di kembangkan dan bisa dijadikan acuan dalam hal pengendalian kualitas juga perbaikan berkelanjutan.
Six Sigma dapat diartikan sebagai sebuah sistem untuk mencapai, mempertahankan dan memaksimalkan kesuksesan bisnis yang secara cepat telah memperoleh popularitas sebagai konsep yang sangat berguna untuk menghemat biaya dan meningkatkan efisiensi dan juga saat ini telah di terapkan oleh banyak perusahaan untuk perbaikan proses (Nashmi dkk, 2017). Secara sederhana Six Sigma dapat diartikan sebagai suatu proses yang mempunyai kemungkinan (probabilitas) kecacatan sebesar 0,00034% atau 3,4 unit kecacatan dalam satu juta unit yang diproduksi (Gaspersz, 2017: 7) atau dengan kata lain rasio produk ok yang berasasal dari proses produksi tersebut sebesar 99,9997%. Six Sigma berfokus pada karakteristik kritikal yang relevan terhadap pelanggan. Berdasarkan karakteristik tersebut Six Sigma mengidentifikasi dan menghilangkan cacat, kesalahan, atau kegagalan yang berpengaruh terhadap proses atau sistem (Jose dkk, 2014). Dalam hal perbaikan kualitas, Six Sigma memiliki pendekatan khusus yang disebut DMAIC sistem yaitu define, measure, analyze, improve, dan control yang dalam setiap tahapnya akan dilakukan pengolahan masalah guna mendapat solusi terbaik dari masalah tersebut. Six Sigma dijadikan ukuran suatu industri dalam meraih kesuksesan akan kualitas dari produksi yang dihasilkan. berdasarkan pencapaian
4
Six Sigma yang hanya terdapat 3.4 cacat per sejuta kesempatan, semakin tinggi target sigma yang dicapai maka kinerja sistem industri dikatakan semakin membaik (Gaspersz, 2017: 7).
Tujuan utama Six Sigma adalah mengurangi cacat produk (Nashmi dkk, 2017), Six Sigma tidak hanya menitik beratkan pada control kualitas yang akan disajikan pada end customer tapi juga sangat menekankan pada kesesuaian proses dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu Six Sigma memiliki dua fokus arah yang sangat penting yaitu internal dan eksternal suatu perusahaan.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan bahwa PT. Standard Indonesia Industri melakukan pengendalian kualitas dengan menetapkan batas toleransi maksimum produk cacat yang dihasilkan sebesar 3% (Iman; Foreman &
CR Quality Control PT. Standard Indonesia Industri, 2020). Peneliti melakukan observasi terhadap produk cosmetik series karena dinilai produk yang paling rentan terhadap segala bentuk kerusakan dan dapat menjadi peluang penghasil produk cacat yang tinggi. Produk cosmetic adalah produk dengan toleransi cacat terkecil atau mengharuskan part dibagian permukaan tertentu tanpa cacat sedikit pun (Iman; Foreman & CR Quality Control PT. Standard Indonesia Industri, 2020).
Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti pengendalian kualitas pada produk Hopper Plate Cassette (HPC-1729385) yang merupakan produk dengan tingkat cacat tertinggi dari kelas produk cosmetik yang sejenis. Berdasarkan data produksi perusahaan tahun 2019 tingkat kecacatan yang terjadi yaitu sebesar 18%
dimana jumlah produk cacat ini sangat jauh dari target perusahaan yang hanya memberikan toleransi cacat produksi sebesar 3 %. Rasio tingkat kecacatan tertinggi terjadi dibulan Mei 2019 yaitu sebesar 49% dan rasio tingkat cacat terendah terjadi dibulan Desember 2019 yaitu sebesar 6%. Cacat produk pada tingkat tertinggi seharusnya dapat di tekan, hal ini dibuktikan dengan adanya rasio cacat terendah.
Beberapa cacat yang sering terjadi berdasarkan hasil observasi lapangan adalah cacat scrath, dented dan juga rusty.
Rincian rasio produk cacat yang terjadi pada tahun 2019 dapat dilihat pada tabel berikut:
5
Tabel 1.1 Hasil produksi part HPC-1729385 tahun 2019
BULAN Total
Defect
Total Produksi
Rasio Defect
Price @pcs
(RP) QUALITY COST Januari 1060 10771 10% 18,600 Rp 19,716,000.00 Februari 603 4143 15% 18,600 Rp 11,215,800.00
Maret 874 6714 13% 18,600 Rp 16,256,400.00
April 2417 11874 20% 18,600 Rp44,956,200.00
Mei 1745 3540 49% 18,600 Rp 32,457,000.00
Juni 1927 7387 26% 18,600 Rp 35,842,200.00
Juli 3212 11654 28% 18,600 Rp 59,743,200.00
Agustus 2728 11426 24% 18,600 Rp 50,740,800.00 September 2315 6925 33% 18,600 Rp 43,059,000.00 Oktober 2637 18077 15% 18,600 Rp 49,048,200.00 November 3256 24840 13% 18,600 Rp 60,561,f600.00 Desember 835 14760 6% 18,600 Rp 15,531,000.00
Total 23609 132111 18,600 Rp 439,127,400.00
Sumber : Departemen Quality Control PT. Standard Indonesia Industri (data diolah peneliti), 2020.
Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 1.1 diatas, dapat terlihat bahwa kerugian yang diakibatkan dari kegagalan proses dalam menekan tingkat kecacatan sangatlah besar, hal ini berdampak pada pengurangan keuntungan perusahaaan.
Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan tindakan pengendalian kualitas sesegera mungkin pada proses produksi tersebut untuk meningkatkan kapabilitas proses dan menekan defect yang terjadi secara general.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode Six Sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, And Control), yang bertujuan untuk mencari dan mengurangi akar permasalahan penyebab terjadinya cacat produk.
Dengan tahapan DMAIC dapat ditentukan akar penyebab dari CTQ (Critical To Quality) dengan menggunakan alat bantu diagram sebab-akibat (fishbone) dan teknik Failure Mode Effect Analysis (FMEA).
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas, maka penulis termotivasi untuk melakukan penelitian dengan menuangkannya dalam skripsi yang berjudul
“Analisis Quality Control Melalui Pendekatan Six Sigma -DMAIC Terhadap Produk HPC-1729385 Di PT. Standard Indonesia Industri”.
6 1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah proses produksi HPC-1729385 sudah terkendali dengan baik?
2. Apakah faktor-faktor yang menjadi penyebab utama defect pada proses produksi HPC-1729385 berdasarkan analisa menggunakan metode Six Sigma-DMAIC?
3. Apakah usulan-usulan perbaikan yang tepat dan sesuai dalam mengatasi cacat produk pada proses produksi HPC-1729385 berdasarkan analisa menggunakan metode Six Sigma-DMAIC?
4. Apakah tingkat Sigma proses produksi HPC-1729385 sudah mencapai rata- rata industri kelas dunia? Dan berapa besar nilai Six Sigma yang dimiliki saat ini?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka dapat ditentukan tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah proses produksi HPC1729385 sudah terkendali dengan baik atau tidak.
2. Untuk mengetahui penyebab utama defect produk HPC-1729385 di PT.
Standard Indonesia Industri dengan menggunakan metode Six Sigma - DMAIC.
3. Untuk memberikan usulan-usulan perbaikan proses yang tepat dan sesuai dalam mengatasi cacat produk produk HPC-1729385 di PT. Standard Indonesia Industri dengan menggunakan metode Six Sigma -DMAIC.
4. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat proses produksi HPC-1729385 di PT. Standard Indonesia Industri.
1.4 Manfaat Penelitian
Penulis berharap penelitian ini menyuguhkan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis kepada semua pihak yang membaca :
1. Manfaat Teoritis, harapan secara teoritis dari penelitian ini adalah memberikan wawasan pengetahuan dibidang managemen produksi
7
khususnya yang berkenaan dengan quality, Six Sigma -DMAIC, control chart, fishbone diagram, dan konsep atarimae dalam suatu perusahaan.
2. Manfaat Praktis, harapan secara praktis dari penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai sumber informasi tambahan yang bermanfaat tentang menganalisis pendekatan six-sigma-DMAIC terhadap pengendalian kualitas pada PT. Standard Indonesia Industri dan dapat menjadi tambahan acuan bagi pembaca yang ingin menerapkan sistem ini di perusahaannya masing-masing.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi yang akan dilakukan peneliti berdasarkan acuan terhadap Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Pelita Bangsa (2020), dengan uraian sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan, yaitu bab yang mengantarkan pembaca untuk dapat menjawab pertanyaan apa yang diteliti. Pada bab ini memaparkan tentang (1) latar belakang, (2) perumusan masalah, (3) tujuan dan manfaat penelitian, serta (4) sistematikan penulisan.
Bab II : Tinjauan pustaka, pada bab ini menguraikan tentang (1) landasan teori yang digunakan dalam penelitian, (2) penelitian terdahulu yang relevan, serta (3) hipotesis dan model penelitian (jika ada).
Bab III : Metode penelitian, pada bab ini mencakup pokok-pokok bahasan, antara lain : (1) jenis dan desain penelitian, (2) definisi operasional dan pengukuran variabel, (3) populasi dan metode pengambilan sampel, (4) jenis, sumber, dan metode pengumpulan data, (5) metode analisis yang meliputi tahap pengolahan data kuantitatif dengan Six Sigma -DMAIC.
Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan, pada bab ini menguraikan (1) hasil penelitian yang terdiri dari deskripsi data yaitu menguraikan tentang sejarah atau deskripsi dari objek penelitian, struktur organisasi dan kegiatan operasional dari objek penelitian, selanjutnya menjelaskan tentang karakteristik responden, (2) hasil analisis dari uji hipotesis meliputi hasil tahapan Six Sigma -DMAIC beserta interpretasi data atau pembahasan.
8
Bab V : Penutup, pada bab ini menguraikan tentang (1) kesimpulan dari hasil penelitian yaitu rangkuman hasil yang dicapai dan merupakan jawaban atas tujuan penelitian, serta (2) saran yaitu berisi saran-saran yang perlu diperhatikan berdasarkan keterbatasan yang ditemukan dan asumsi yang dibuat, termasuk saran untuk pengembangan lebih lanjut.