• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III STUDI KASUS. Unit OT (Okupasi Terapi) di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III STUDI KASUS. Unit OT (Okupasi Terapi) di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

17 BAB III

STUDI KASUS

A. Identitas Anak

Anak berinisial An. Hd berjenis kelamin laki-laki, lahir pada tanggal 17 Maret 2017, dan merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara.

Usia kronologis 3 tahun 9 bulan 24 hari dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tanggal 11 Januari 2021. Anak beragama Islam dan beralamat di Jl Kartowinangun Talang Betutu, Sukarami, Palembang. Anak dirujuk ke Unit OT (Okupasi Terapi) di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dengan diagnosis medis Autism Spectrum Disorder, diagnosis topis dan kausatif tidak ditemukan data, sedangkan diagnosis OT anak pada area Activity Daily Living (ADL) yaitu anak mengalami kesulitan dalam aktivitas berpakaian berupa memakai kaos secara mandiri.

B. Data Subjektif

1. Initial Assessment

Berdasarkan hasil interview dengan ibu anak yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2021 diperoleh bahwa anak lahir pada tangal 17 Maret 2017 melalui proses persalinan normal di Rumah Sakit dengan dibantu oleh dokter. Ibu tidak memiliki riwayat diabetes, perokok, hipertensi, dan alkoholik. Selama kehamilan ibu mengkonsumsi vitamin dari bidan. Tidak ada riwayat penyakit, infeksi, trauma, dan kecelakaan selama kehamilan.

(2)

Perkembangan anak berjalan dengan baik, namun ketika anak berumur 1,5 tahun orang tuanya merasakan kejanggalan karena anaknya belum dapat berbicara. Saat ini orang tua An. Hd berharap anaknya mampu tumbuh dengan baik seperti anak seusianya.

2. Observasi Klinis

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2021 diperoleh informasi bahwa anak mempunyai badan yang tambun dan mampu mobilitas secara mandiri dengan berjalan. Selama sesi terapi berlangsung anak kooperatif, belum lancar dalam melakukan komunikasi dua arah secara verbal dan pengucapannya masih belum jelas. Terkadang anak masih echolalia ketika tidak mampu menjawab pertanyaan yang diberikan. Anak dapat memahami perintah sederhana, namun sesekali masih berperilaku impulsive dan mengabaikan perintah/instruksi dari terapis serta mudah sekali emosi ketika tidak dapat melakukan suatu aktivitas. Rentang konsentrasi anak sedang karena mampu kembali ke aktivitas tanpa perintah, dan toleransi terhadap frustasi anak sedang karena mampu menyelesaikan aktivitas dengan perintah.

Anak mampu mengenal dan mengidentifikasi warna, anggota tubuh, dan angka. Meskipun memiliki badan yang tambun, anak sangat bersemangat ketika melakukan kegiatan yang membutuhkan aktivitas motorik seperti melompat, naik turun tangga, dan berlari.

(3)

3. Screening Test

Berdasarkan blangko screening pediatric yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2021 diperoleh informasi bahwa anak lahir pada tangal 17 Maret 2017 melalui proses persalinan normal di Rumah Sakit dengan dibantu oleh dokter. Ibunda anak tidak memiliki riwayat diabetes, perokok, hipertensi, dan alkoholik. Selama kehamilan ibu mengonsumsi vitamin dari bidan. Tidak ada riwayat penyakit, infeksi, trauma, dan kecelakaan selama kehamilan.

Perkembangan anak berjalan dengan baik, anak mampu duduk pada usia 6 bulan, berdiri diusia 10 bulan, dan berjalan diusia 14 bulan.

Namun ketika anak berumur 1,5 tahun orang tuanya merasakan kejanggalan karena anaknya belum dapat berbicara. Anak dapat melakukan aktivitas makan dan minum secara mandiri meskipun sedikit tercecer. Dalam aktivitas berpakaian anak masih memerlukan bantuan. Saat ini orang tua berharap anaknya mampu tumbuh dengan baik seperti anak seusianya.

4. Model Treatment/Kerangka Acuan yang Digunakan

Kerangka acuan yang digunakan pada kondisi ini yaitu kerangka acuan perilaku. Kerangka acuan perilaku bertujuan untuk merubah perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif. Perilaku maladaptif yang ditunjukkan oleh pasien yaitu mudah emosi dan frustasi ketika melakukan suatu aktivias, dan terkadang sering mengabaikan instruksi

(4)

atau perintah dari teerapis. Strategi yang digunakan yaitu modeling, shapping dan positive reinforcement.

C. Data Objektif

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan pada tanggal 11 Januari 2021 dipeoleh hasil sebagai berikut

Pemeriksaan Gilliam Autism Rating Scale (GARS) diperoleh informasi bahwa nilai baku untuk perilaku stereotip mendapat skor 20, komunikasi mendapat skor 27, interaksi sosial mendapat skor 25, dan gangguan perkembangan mendapat skor 5. Standart jumlah nilai 41 yang menunjukkan quotient autisme 102 yang artinya probabilitas autisme rata- rata. Berdasarkan pemeriksaan GARS dapat disimpulkan bahwa anak mengalami problem pada area komunikasi dan interaksi sosial, perilaku yang menonjol yaitu anak sering mengulang-ulang ucapan (echolalia) dan mengabaikan orang di sekitarnya.

Pada Pemeriksaan WeeFIM diperoleh bahwa pada sub self care mendapat total nilai 34, sub mobilitas mendapat total nilai 31, sub kognisi mendapat total nilai 24, dan total nilai WeeFIM yaitu 89 yang berarti setara dengan anak di bawah usia 3 tahun.

Pada Penilaian Tahapan memakai kaos, anak membutuhkan bantuan saat memasukkan kepala ke lubang kaos, dan pada saat memasukkan kedua lengan ke dalam lubang lengan kaos.

Pada Pemeriksaan Motorik Kasar yang dilakukan sesuai dengan usia anak, didapatkan hasil bahwa anak mampu melangkah kedepan pada garis lurus, mampu berlari tanpa terjatuh, melompat kebawah, berjalan diatas papan titian, melempar dan mengangkap bola dengan posisi lengan lurus, serta menendang bola. Namun anak belum mampu berjalan ke belakang, naik & turun tangga, berdiri dengan satu kaki, meloncat, melompat pada satu kaki dan melompat ke depan dikarenakan badannya yang tambun sehingga anak kesulitan mempertahankan keseimbangannya.

(5)

Perencanaan gerak masih kurang, dan masih memerlukan bantuan saat mengawali gerakan. Hal ini dikarenakan anak kesulitan untuk memulai aktivitas karena terhambat ukuran badannya yang tambun, sehinggga anak juga mengalami kesulitan ketika diminta melakukan aktivitas yang memerlukan keseimbangan serta aktivitas kompleks.

Pada Pemeriksaan Motorik Halus didapatkan hasil bahwa kemampuan anak masih tertinggal yaitu berada pada usia 2 tahun. Pada pemeriksaan tersebut diperoleh informasi anak mampu meraih, menggenggam, melepas dan menempatkan benda dengan baik. Anak mampu menarik kertas sampai robek, namun belum mampu membalik satu halaman buku. Anak hanya mampu membuat 6 menara balok yang seharusnya 10, dan mampu mengimitasi serta mengkopi garis vertikal.

Anak belum mampu mengimitasi dan mengkopi garis horizontal, lingkaran, tambah, garis miring, persegi, silang dan segitiga.

D. Assessment/Pengkajian Data

1. Rangkuman Data Subjektif dan Objektif

An. Hd lahir pada tangal 17 Maret 2017 melalui proses persalinan normal di Rumah Sakit dengan dibantu oleh dokter. Perkembangan anak berjalan dengan baik, namun ketika anak berumur 1,5 tahun orang tuanya merasakan kejanggalan karena anaknya belum dapat berbicara. Atensi dan konsentrasi anak cukup baik, namun mudah sekali emosi ketika melakukan aktivitas yang sulit. Anak dapat melakukan aktivitas makan dan minum secara mandiri meskipun sedikit tercecer, dan dalam aktivitas berpakaian ia masih memerlukan bantuan.

(6)

Pemeriksaan Gilliam Autism Rating Scale (GARS) diperoleh standart jumlah nilai 41 yang menunjukkan quotient autisme 102 yang artinya probabilitas autisme rata-rata. Nilai WeeFIM anak mendapat total nilai 89 yang menunjukkan kemampuan anak berada pada usia dibawah 3 tahun. Kemampuan berpakaian berupa memakai kaos masih membutuhkan bantuan ketika memasukkan kepala ke lubang kaos dan memasukkan kedua lengan ke lubang lengan kaos. Motorik kasar anak belum baik, hal ini dikarenakan anak mempunyai badan yang tambun sehingga kesulitan mempertahankan keseimbangan. Terlihat saat anak belum mampu melakukan aktivitas berjalan ke belakang, naik & turun tangga, berdiri dengan satu kaki, meloncat, melompat pada satu kaki dan melompat ke depan. Perencanaan gerak masih kurang, dan masih memerlukan bantuan saat mengawali gerakan. Hal ini dikarenakan anak kesulitan untuk memulai aktivitas karena terhambat ukuran badannya yang tambun, sehinggga anak juga mengalami kesulitan ketika diminta melakukan aktivitas yang memerlukan keseimbangan serta aktivitas kompleks. Pada pemeriksaan motorik halus didapatkan bahwa anak mampu meraih, menggenggam, melepas dan menempatkan benda dengan baik. Mampu membuat 6 menara balok, dan mengimitasi serta mengkopi garis vertikal. Namun anak belum mampu membalik satu halama buku, mengiimitasi dan mengkopi garis horizontal, garis miring, lingkaran, persegi, silang, dan segitiga. Ketika

(7)

mengerjakan aktivitas yang dianggapnya sulit, anak mudah sekali emosi namun anak dapat kembali pada aktivitas ketika diperintah.

2. Aset

Aset yang dimiliki anak yaitu mampu mengikuti perintah sederhana, atensi dan konsentrasinya cukup baik serta kooperatif selama mengikuti sesi terapi. Dalam aktivitas makan dan minum, anak mampu melakukannya secara mandiri. Mampu berlari, berjalan di atas papan titian, lempar tangkap bola dengan lengan lurus dan menendang bola. Anak mampu meraih, menggenggam, melepas dan menempatkan benda dengan baik.

3. Limitasi

Perencanaan gerak anak belum baik, serta masih memerlukan bantuan saat mengawali gerakan. Anak belum mampu menjaga keseimbangan saat berdiri, meloncat, naik turun tangga, melompat pada satu kaki, dan melompat ke depan. Koordinasi bilateral anak juga belum baik. Anak belum mampu melakukan aktivitas ADL (berpakaian) seperti memakai kaos secara mandiri. Anak mudah emosi dan frustasi ketika melakukan aktivitas yang dianggapnya sulit, sehinggga masih memerlukan perintah untuk melanjutkan aktivitas tersebut.

4. Prioritas Masalah

Berdasarkan aset dan limitasi diperoleh prioritas masalah yaitu anak mudah emosi dan frustasi sehingga mengalami kesulitan dalam aktivitas berpakaian berupa memakai kaos.

(8)

5. Diagnosis OT

Diagnosis OT berdasarkan areanya anak mengalami masalah dalam area Activity Daily Living (ADL) dalam hal berpakaian yaitu memakai kaos.

E. Perencanaan Terapi

1. Tujuan Jangka Panjang

Anak mampu mengontrol emosi dan frustasi sehingga dapat memakai kaos dengan posisi duduk secara mandiri dalam 11 kali sesi terapi.

2. Tujuan Jangka Pendek

a. Anak mampu mengontrol emosi dan frustasi sehingga dapat memasukkan kaos melewati kepala dan turun ke leher secara mandiri dengan posisi duduk dalam 2 kali sesi terapi.

b. Anak mampu mengontrol emosi dan frustasi sehingga dapat memasukkan kaos ke salah satu lengan secara mandiri dengan posisi duduk dalam 3 kali sesi terapi

c. Anak mampu mengontrol emosi dan frustasi sehingga dapat memasukkan kaos ke kedua lengan secara mandiri dengan posisi duduk dalam 3 kali sesi terapi.

d. Anak mampu mengontrol emosi dan frustasi sehingga dapat menurunkan kaos dari dada ke bawah secara mandiri dengan posisi duduk dalam 3 kali sesi terapi.

(9)

3. Strategi/Teknik

Strategi atau teknik dalam KA perilaku yaitu modelling merupakan metode pembelajaran cepat dengan melihat aksi orang lain. Shapping merupakan penguatan perilaku yang dikehendaki melalui teknik rekayasa aktivitas dan lingkungan. Positive reinforcement yaitu pemberian penghargaan ketika anak mampu melakukan aktivitas dengan benar.

4. Frekuensi

Pelaksanaan terapi dilakukan 2 kali dalam 1 minggu 5. Durasi

Satu kali sesi terapi berdurasi 30-45 menit 6. Media Terapi

Media terapi yang digunakan yaitu bola, barel, pegboard, puzzle warna, vestibular board, dan kartu bergambar edukatif.

7. Home Program

Program terapi yang disarankan bagi orang tua di rumah yaitu dengan mengajarkan anak tahapan berpakaian mulai dari pakaian atas dan bawah agar dapat meningkatkan kemandiriannya. Untuk menunjang program terapi, orang tua diharapkan dapat memberikan aktivitas bermain yang melibatkan koordinasi bilateral anak seperti menyusun lego atau mainan keatas, merangkak, dan lempar tangkap bola. Selain itu, juga mengajarkan orang tua untuk memberikan positive reinforcement kepada anak setiap mempu melakukan aktivitas agar anak bersemangat dan tidak mudah emosi. Serta menyarankan orang tua untuk menerapkan diet pada anak untuk mengurangi berat

(10)

badan yang bertujuan agar motorik kasar dan keseimbangannya lebih baik.

F. Pelaksanaan Terapi

1. Adjunctive Therapy

Tahap adjunctive therapy merupakan tahap awal dalam pelaksanaan terapi. Pada tahap ini anak diberikan aktivitas pemanasan, anak diposisikan berdiri berhadapan dengan terapis kemudian anak diminta untuk menirukan gerakan yang dicontohkan oleh terapis.

Aktivitas ini dimulai dengan memberikan instruksi “angkat tangan kanan”, “angkat tangan kiri” dan “angkat kedua tangan”. Kemudian terapis mencontohkan dan meminta anak untuk melompat ke depan dan ke belakang. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman anak mengenai orientasi arah, pemahaman persepsi serta kemampuan meniru. Setelah melakukan kegiatan tersebut terapis memberikan positive reinforcement berupa tos karena telah berhasil melakukan aktivitas yang diminta terapis.

Gambar 3.2 Melompat ke depan Gambar 3.1

Angkat kedua tangan

(11)

Safety precaution pada tahap ini yaitu sebelum memulai

aktivitas diatas hendaknya menjauhkan benda-benda atau mainan yang berada disekitar matras agar tidak terinjak dan membahayakan ketika anak melakukan aktivitas melompat.

2. Enabling

Enabling merupakan aktivitas yang mengarah pada tujuan terapi

dan melibatkan media terapi, dimana tahapan ini bertujuan untuk kontrol emosi dan frustasi, mengikuti instruksi, meningkatkan kemampuan koordinasi bilateral, keseimbangan, koordinasi mata tangan, atensi dan konsentrasi anak. Pada tahap ini anak diberikan aktivitas merangkak, menyusun pegboard, lempar tangkap bola, dan bermain kartu bergambar edukatif.

a. Menyusun puzzle warna dengan merangkak melewati barel

Aktivitas ini bertujuan untuk kontrol emosi dan frustasi, mengikuti instruksi, meningkatkan koordinasi bilateral, koordinasi mata tangan, atensi konsentrasi, pemahaman warna, serta problem solving. Aktivitas ini dilakukan dengan cara anak duduk di salah

satu sisi, lalu terapis memberikan puzzle kepada anak satu persatu dan memintanya merangkak melewati barel serta menyusun puzzle pada tempattnya di sisi yang lain. Strategi modeling diterapkan untuk mencontohkan cara merangkak melewati barel dan menyusun puzzle pada tempatnya. Selanjutnya strategi shaping dilakukan secara terus menerus hingga pasien mampu melakukan

(12)

aktivitas tersebut dengan baik. Memberikan positive reinforcement berupa tos dan pujian “iya bagus, kamu pintar”

b. Menyusun pegboard warna

Aktivitas ini bertujuan untuk kontrol emosi dan frustasi, mengikuti instruksi, meningkatkan koordinasi bilateral, koordinasi mata tangan, atensi konsentrasi, dan pemahaman persepsi warna. Aktivitas ini dilakukan dengan cara anak berdiri, terapis memberikan peg kepada anak dan memintanya untuk menyusun peg kedalam lubang board yang diletakkan dengan posisi lebih tinggi dari anak. Strategi modeling diterapkan untuk mencontohkan cara menyusun pegboard dengan posisi yang lebih tinggi menggunakan tangan kanan, tangan kiri, dan kedua tangan. Selanjutnya strategi shaping dilakukan dengan instruksi “ayo ambil lagi peg nya susun diatas” aktivitas ini dilakukan secara terus menerus hingga anak mampu melakukan aktivitas tersebut dengan baik.

Gambar 3.3 Merangkak melewati barel

Gambar 3.4 Menyusun puzzle warna

(13)

Memberikan positive reinforcement berupa tepuk tangan dan tos dengan anak.

c. Lempar tangkap bola

Aktivitas ini bertujuan untuk kontrol emosi dan frustasi, mengikuti instruksi meningkatkan koordinasi bilateral, keseimbangan, atensi konsentrasi, dan meningkatkan keterampilan motorik kasar anak yang dilakukan dengan cara anak berdiri berhadapan dengan terapis pada jarak yang telah ditentukan. Kemudian anak diminta untuk melempar dan menangkap bola dengan posisi berdiri dan tangan berada di depan dada. Strategi modelling diterapkan dengan mencontohkan cara melempar dan menangkap bola agar pasien lebih mudah memahaminya. Lalu strategi shaping diterapkan dengan meminta anak untuk melempar dan menangkap bola sebanyak 10 kali pengulangan. Jika pasien

Gambar 3.6 Menyusun pegboard dengan tangan kanan Gambar 3.5

Menyusun pegboard dengan tangan kiri

(14)

berhasil menyelesaikan aktivitas lempar tangkap bola sesuai dengan perintah terapis, maka terapis akan memberikan positive reinforcement yaitu berupa pujian dan tos

d. Melempar bola ke kolam bola dari papan keseimbangan

Aktivitas ini bertujuan untuk kontrol emosi dan frustasi, mengikuti instruksi, pemahaman persepsi warna, keseimbangan, koordinasi bilateral, dan problem solving.

Aktivitas ini dilakukan dengan cara anak diminta untuk berdiri di atas papan keseimbangan dan melempar bola ke dalam kolam sesuai instruksi warna dari terapis. Strategi modelling diterapkan untuk menyontohkan anak cara berdiri di atas papan keseimbangan dan melempar bola ke dalam kolam bola sesuai warna yang diinstruksikan. Strategi shaping diterapkan dengan meminta anak untuk melempar bola sesuai instruksi warna ke dalam kolam bola sebanyak 10 kali pengulangan. Positive reinforcement diberikan berupa pujian dan tos apabila anak mampu menyelesaikan aktivitas dengan benar.

Gambar 3.7 Melempar bola

Gambar 3.8 Menangkap bola

(15)

e. Bermain kartu bergambar edukatif

Aktivitas ini bertujuan untuk kontrol emosi dan frustasi, mengikuti instruksi, meningkatkan atensi konsentrasi, dan pemahaman persepsi depan belakang serta gambar yang dilakukan dengan cara anak diposisikan duduk berhadapan dengan terapis. Kemudian terapis menunjukkan kartu pada anak dan memintanya untuk menyebutkan gambar apa yang terdapat pada kartu tersebut. Strategi shaping diterapkan dengan menginstruksikan anak untuk menyebutkan gambar pada kartu. Positive reinforcement diberikan pada anak ketika ia mampu menyebutkan gambar pada kartu dengan memberikan senyuman dan melakukan tos.

Safety precaution pada tahap ini yaitu memperhatikan anak ketika memasukkan peg kedalam board yang diletakkan di atas agar tidak

Gambar 3.9 Melempar bola dari papan

keseimbangan

Gambar 3.10

Identifikasi gambar pada kartu

(16)

jatuh mengenai anak, pelan-pelan ketika melempar bola ke anak agar tidak menyakiti badan anak, dan memperhatikan papan keseimbangan yang dinaiki oleh anak agar anak tidak terjatuh dari papan tersebut.

3. Purposeful Activity

Purposeful activity merupakan aktivitas yang bertujuan agar anak

mampu melakukan aktivitas dengan tetap mempertahankan kontrol emosi dan frustasi, mengikuti instruksi, atensi konsentrasi, melatih kemampuan problem solving, dan koordinasi bilateral. Pada tahap ini anak diberikan aktivitas memakai kaos dengan posisi duduk. Terapis memposisikan anak duduk berhadapan dan memberikannnya kaos serta memintanya untuk memakai kaos tersebut dengan metode forward chaining. Terapis menerapkan strategi modeling dengan

menyontohkan anak cara memakai kaos dengan tetap mempertahankan koordinasi bilateral dan atensi konsentrasi serta memintanya untuk mengikuti tahapan yang telah dicontohkan terapis. Strategi shaping juga diterapkan dengan mengulang-ulang setiap tahapan memakai kaos sampai anak memahami tahapan tersebut. Tidak lupa positive reinforcement diberikan pada saat anak mampu menyelesaikan tiap tahapan memakai kaos yang berupa pemberian pujian, tepuk tangan, dan tos.

(17)

Safety precaution pada tahap ini yatu bila anak mengalami

kesulitan saat melakukan aktivitas memakai kaos maka akan diberikan bantuan, sehingga anak tidak merasa tertekan atau menyerah untuk melakukan aktivitas tersebut. Kemudian saat melakukan aktivitas memakai kaos diusahakan anak dalam posisi duduk yang stabil sehingga anak tidak akan jatuh saat melakukan aktivitas tersebut.

Gambar 3.12 Memasukkan kaos ke salah

satu lengan Gambar 3.11

Modelling memasukkan kaos ke salah satu lengan

Gambar 3.14 Memasukkan kaos ke kedua

lengan Gambar 3.13

Modelling memasukkan kaos ke kedua lengan

Gambar 3.16

Menurunkan kaos dari dada ke bawah

Gambar 3.15 Modelling menurunkan kaos

dari dada ke bawah

(18)

4. Occupation Performance

Tahapan occupation merupakan tahapan tertinggi dalam penatalaksanaan terapi di dalam lingkungan fisik maupun sosial anak mampu melakukan occupation (aktivitas) secara mandiri. Aktivitas yang dilakukan dalam tahap occupation performance yaitu anak melakukan aktivitas berpakaian berupa memakai kaos secara mandiri baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sosial lainnya.

Safety precaution pada tahap ini yaitu mengawasi anak ketika

melakukan aktivitas berpakaian dan memberikan pakaian yang longgar agar anak tidak kesulitan dalam memakai pakaian tersebut.

G. Reevaluasi

1. Reevaluasi Data Subjektif

Setelah dilakukan 11 kali sesi terapi, orang tua An. Hd mengatakan bahwa anak mengalami peningkatan dalam aktivitas berpakaian dalam hal memakai kaos dan anak mulai mampu mengontrol emosinya ketika melakukan suatu aktivitas.

2. Reevaluasi Data Objektif

Setelah dilakukan 11 kali sesi terapi diperoleh data sebagai berikut.

Pemeriksaan GARS terjadi perubahan pada item perilaku stereotip yang awalnya mendapat nilai baku 20 menjadi 18, pada item interaksi sosial yang awalnya mendapat nilai baku 26 menjadi 24, dan pada item komunikasi serta gangguan perkembangan tidak terjadi perubahan.

(19)

Dengan begitu diperoleh standart jumlah nilai berubah dari 42 menjadi 38 dengan quotient autisme 97. Meskipun quotient autisme mengalami penurunan namun anak masih masuk dalam kategori probabilitas autisme rata-rata.

Penilaian Tahapan Memakai Kaos, pada pemeriksaan awal anak membutuhkan bantuan saat memasukkan kepala ke lubang kaos dan memasukkan kedua lengan ke dalam lubang lengan kaos menjadi mampu melakukannya secara mandiri.

Pemeriksaan WeeFIM mengalami perubahan pada sub selfcare yang awalnya total skor 34 menjadi 36, yaitu pada aktivitas memakai pakaian atas yang awalnya mendapat skor 3 berubah menjadi 5. Pada sub mobility dan cognition tidak terjadi perubahan. Skor total mendapat 91 yang berarti kemampuan anak masih setara usia dibawah 3 tahun.

Pemeriksaan Motorik Kasar mengalami beberapa perubahan dan peningkatan. Di awal pemeriksaan anak belum mampu melakukan beberapa aktivitas, namun setelah mendapatkan intervensi anak sudah mampu berdiri pada satu kaki selama 3 detik, turun tangga dengan kedua kaki pada tiap langkah tidak dibantu, dan menangkap bola dengan posisi siku menekuk.

Pemeriksaan Motorik Halus mengalami beberapa perubahan dan peningkatan. Diawal pemeriksaan anak hanya mampu menyusun 5 menara balok, setelah mendapatkan intervensi anak mampu menyusun

(20)

8 menara balok. Selain itu anak juga sudah mampu dalam mengimitasi garis horizontal.

3. Reevaluasi Hasil Terapi/Pencapaian

Setelah dilakukan 11 kali sesi terapi diperoleh hasil bahwa tujuan jangka panjang dari An. Hd telah tercapai yaitu anak mampu memakai kaos dengan posisi duduk secara mandiri dalam 11 kali sesi terapi.

Semua STG telah tercapai dan anak mampu melakukannya dengan baik. Keberhasilan program terapi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu sifat kooperatif anak, dukungan dan motivasi dari keluarga, serta intervensi OT yang tepat dalam meningkatkan kemampuan kooordinasi bilateral, keseimbangan, atensi konsentrasi dan koordinasi mata tangan yang merupakan aspek penting dalam aktivitas memakai kaos.

H. Follow Up

Tujuan terapi yang diberikan kepada An. Hd telah tercapai yaitu anak mampu memakai kaos dengan posisi duduk secara mandiri dalam 11 kali sesi terapi. Sebagai tindak lanjut program terapi yang disarankan kepada orang tua yaitu dengan membiasakan anak untuk memakai kaos secara mandiri dengan pengawasan. Selain itu juga mengajarkan anak untuk melakukan aktivitas berpakaian yang lain seperti melepas dan memakai celana secara mandiri untuk menunjang kemandirian anak dalam hal berpakaian.

Gambar

Gambar 3.2 Melompat ke depanGambar 3.1
Gambar 3.6 Menyusun pegboard dengan tangan kananGambar 3.5
Gambar 3.7 Melempar bola
Gambar 3.9 Melempar bola dari papan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Selanjutnya untuk kepentingan pelaporan terkait rekening keuangan yang dimiliki oleh kami dan Warga Negara atau Penduduk atau Institusi Amerika Serikat

Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan yang terintegrasi, yakni melalui usaha restorasi dan konservasi hutan dan tetumbuhan beserta fungsinya, RENTANG diharapkan

Banjarbaru yang tertib, indah dan nyaman sesuai dengan tata ruang kota, etika dan estetika berkaitan ketentuan-ketentuan penyelenggaraan pemasangan Reklame

Tipe pesan pool data value merupakan tipe pesan yang digunakan untuk meneruskan pesan dari cluster head menuju node lain yang kemudian akan diteruskan menuju sink node..

Kadar kalsium dalam sirkulasi darah kira-kira konstan sekitar 10 mg/100ml. Dan kalaupun bervariasi tidak sampai 10%. Kurang dari 50% kalsium darah dan cairan lainnya berada

Ketika membangun Masjid atau Mushalla dimana sudut kiblatnya ada yang berpedoman kepada arah matahari tenggelam, ada pula dengan bantuan kompas untuk menunjuk ketitik barat dan ke

Penerapan metode Problem Based Learning dalam pembelajaran statistika lanjut mampu meningkatkan minat belajar mahasiswa baik minat belajar di dalam maupun di luar kelas

Jika mereka melakukan penolakan, mereka bisa dituduh menghambat pembangunan dan resikonya cukup serius, sehingga tidak mengherankan banyak masyarakat yang