• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Pembiasaan Akhlak Mulia Anak Usia Dini Pada Era Digital

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "View of Pembiasaan Akhlak Mulia Anak Usia Dini Pada Era Digital"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Pembiasaan Akhlak Mulia Anak Usia Dini Pada Era Digital

1 Ahmad Syauki, UIN Sunan Kalijaga, Indonesia

2Rohinah, UIN Sunan Kalijaga, Indonesia

3 Errifa Susilo. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

[email protected] 1, [email protected] 2, [email protected] 3.

Received: 16 Desember 2022 Reviewed:19 Desember 2022

Accepted:02 Januari 2023

Abstract

This research aims to see how the role of the habituation of noble character in early childhood in preventing the misuse of gadgets in the digital world was as it is today. This research is a library research, where the data collection technique is through the review of books, literature, notes and various reports related to the problem to be solved. The results obtained in this study indicate that to prevent moral deviations caused by the advancement of the digital age, parents must give their children complete supervision and provide them with habits that can keep them away from the digital age

Keywords: Habituation Noble Morals, Early Childhood, Digital Age

Abstrak

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat bagaimana peran pembiasaan akhlak mulia kepada anak usia dini dalam mencegah penyalah gunaan gadget pada era digital seperti pada saat sekarang. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, yang dimana teknik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Hasil yang di dapat dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dalam mencegah penyimpangan akhlak yang disebabkan kemajuan era digital hendaklah orang tua memberi pengawasan penuh terhadap anak serta memberikan pembiasaan-pembiasaan yang bisa menjauhkan anak dari pengaruh era digital.

Kata Kunci: Pembiasaan Akhlak Mulia, Anak Usia Dini, Era Digital

Pendahuluan

Perkembangan teknologi di era modern ini telah mencapai puncaknya.

Seiring berjalannya waktu, teknologi semakin canggih. Hal ini memudahkan

(2)

manusia dalam segala aspek dengan adanya alat-alat teknologi canggih yang dapat membantu menyelesaikan segala macam pekerjaan (Rahayu, 2019). Teknologi disini pada dasarnya untuk memberikan fasilitas atau kemudahan kepada penggunanya. Seperti pada masa Covid-19, dimana anak usia dini bisa bersekolah secara daring dengan sistem berani. Selain itu, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan aspek perkembangan anak usia dini. Di era digital saat ini, teknologi tidak hanya memberikan dampak positif, namun juga membawa dampak negatif bagi penggunany (Maulidin, 2020).

Gadget merupakan salah satu kemajuan teknologi yang tidak dapat dihindari oleh perkembangan zaman. Gadget pada anak usia dini (4-6 tahun) memiliki dampak negatif. Ini karena tidak ada komunikasi dua arah. Komunikasi harus dua arah, tetapi tidak demikian halnya dengan anak-anak yang menggunakan perangkat satu arah. Anak-anak yang sudah terlanjur terobsesi dengan gadget cenderung kesal saat diganggu saat bermain gadget (Puspita, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa balita yang bergantung pada perangkat bisa sangat sulit untuk diajak berkomunikasi, mudah tersinggung, dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan perangkatnya daripada bermain dengan teman sebayanya. Di masa kanak-kanak, anak-anak harus memiliki watak yang lembut, baik dan sopan kepada teman sebaya dan orang dewasa, serta lebih suka bermain dengan teman-temannya.

Akhlak merupakan salah satu dari tiga pilar ajaran Islam, maka peran konvensi akhlak anak usia dini sangat diperlukan. Aqidah, Syariah dan Moralitas saling berkesinambungan dan tidak dapat dipisahkan. Akhlak merupakan hasil dari proses penegakan Aqidah dan Syariah. Ibarat sebuah bangunan, moralitas adalah keutuhan bangunan tersebut, dan bila pondasinya kokoh, maka bangunan itu kuat.

Menurut para ahli salah satu darurat krisis moral yang terjadi di masyarakat adalah karena lemahnya pengawasan sehingga menimbulkan kurang respon terhadap agama. Krisis moral ini menunjukkan kualitas penddidikan agama yang diberikan seharusnya memberikan nilai spiritual, tetapi tidak sesuai sebagaimana mestinya karena kurangnya pemahaman mendalam mengenai agama dan cara menyampaikannya (Manan, 2017).

Hal ini sesuai dengan sifat masa kanak-kanak, dimana masa kanak-kanak merupakan peniru ulung. Anak-anak suka meniru semua gerakan orang tua mereka di sekitar mereka. Maka jangan heran jika cara bicaranya, kata-kata yang keluar dari bibir mungilnya, emosi yang ia tunjukkan, dan tindakan yang ia lakukan mirip dengan kedua orang tuanya. Anak-anak belajar dengan melihat dan mendengar.

Kegiatan peniruan ini terus berlanjut hingga anak beranjak dewasa (Ani Rusilowati, 2021). Oleh sebab itu dalam menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak usia dini metode pebiasaan dianggap hal yang tepat karena mengenali sifatnya anak adalah sang peniru ulung.

(3)

Permasalahan yang terjadi pada saat ini yakni terjadinya penyalah gunaan gadget pada anak usia dini, dampak negatif gadget kepada anak usia dini, dan bagaimana peran pembiasaan akhlak mulia pada anak usia dini dalam mencegah kecanduan gadget. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya solusi dalam memecahkan permasalahan akhlak yang pada anak usia dini yang merupakan dampak dari era digital (gadget). Supaya anak usia dini memiliki pedoman yang dapat digunakan dalam menjalani tantangan hidup pada masa sekarang maupun mendatang. Agar anak usia dini bisa memfilter antara perilaku terpuji dan perilaku tercela. Oleh sebab itu peneliti berupaya untuk melakukan penelitian literatur terkait Pembiasaan Akhlak Mulia Pada Anak Usia Dini Pada Era Digital untuk mendapatkan solusi yang tepat dalam menjawab permasalahan yang ada.

Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Syaepul Manan dengan judul pembinaan akhlak mulia melalui keteladanan dan pembiasaan. Dalam penelitiannya Syaepul menjelaskan bahwa peran publik figur sangat mempengaruhi pengetahuan dan tingkah laku seorang anak, Hal ini dikarenakan setiap pengetahuan atau tingkah laku yang didapat dari kebiasaan publik figur akan sangat sulit diubah atau menghilangkannya. Dalam hal ini orang tua memiliki peran dalam pendidikan akhlak anak, orang tua sebagai motivator, orang tua sebagai teladan, dan orang tua sebagai penegak aturan (Arifin & Tjahjono, 2019). Persamaannya kedua penelitian membahas tentang akhlak, digiital dan metode akhlak, Akan tetapi tentu memiliki perbedaan dalam objek penelitian, dimana penelitian dari Saepul Manan membahas anak pada tingkatan MTS sedangkan dalam pembahasan ini membahas anak pada tingkat Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) yang memiliki rentan usia 0-6 tahun.

Sebagai penguat dalam penelitian perlu adanya suatu teori yang berkaitan dengan sesuatu yang ingin dikaji agar pembahasan lebih terarah. Dimana teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep anak usia dini, pembiasaan akhlak, dan era digital. konsep anak usia dini mencakup pengertian anak usia dini dan karakteristik anak usia dini. Konsep pembiasaan akhlak mencakup pengertian akhlak, ruang lingkup pembiasaan akhlak, metode pembiasaan akhlak, dan pada konsep era digital mencakup pengertian era digital dan dampak era digital pada anak usia dini.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei kepustakaan. Penelitian kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data dengan cara meninjau buku, literatur, catatan, dan berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang akan dipecahkan (M. Sari, 2020). Berdasarkan metode penelitian yang

(4)

digunakan, peneliti mengumpulkan data dari buku, catatan, dan ulasan dari berbagai sumber yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.

Hasil Dan Pembahasan Pembiasaan Akhlak Mulia

Pembiasaan adalah upaya berulang-ulang untuk membentuk karakter anak atau siswa sehingga menjadi kebiasaan. Pembiasaan dilakukan agar siswa mampu berpikir, bertindak dan melakukan segala aktivitas sesuai dengan ketentuan ajaran Islam (PRISMAYANI, 2018).

Sebagaimana Hadist nabi tentang metode pembiasaan:

نع وِرْمَع ِنْب بْيَعُش ْنَع ِهيِبَأ ْنَع ِهِ دَج َلاَق َلاَق ُلوُسَر َِللّا ىلص الله هيلع ملسو اوُرُم : ْمُكَءاَنْ بَأ ِةَلاَصلِبِ

ِعْبَسِل

َيِنِس ْمُهوُبِرْضاَو اَهْ يَلَع

ِرْشَعِل َيِنِس اوُقِ رَ فَو ْمُهَ نْ يَ ب ِف ِع ِجاَضَمْلا

هاور حأ د

Artinya:

Dari 'Amr ibn Syu'aib dari bapaknya dari kakeknya, Rasulullah saw.

berkata: “Suruhlah anakmu mendirikan salat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkannya ketika ia berumur sepuluh tahun.

(Pada saat itu), pisahkanlah tempat tidur mereka. (H.R, Ahmad)

Pembiasaan dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk membentuk kepribadian anak sejak dini. Karena anak pada usia ini memiliki daya ingat yang kuat dan kepribadian yang belum matang, mereka mudah terhanyut oleh rutinitas sehari-hari (Manan, 2017). Hal ini sesuai dengan sabda Rasullah SAW. Secara tidak langsung, anak-anak lebih baik ketika orang tua mereka dengan baik hati mengajari mereka. Sebaliknya, apa pun yang orang tua ajarkan, disadari atau tidak, mereka akan mengikutinya.

Menurut etimologi akhlak ialah budi pekerti, sedangkan menurut terminologi ialah kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikir dan direnungkan lebih dahulu (Luth et al., 2010). Dalam kBBI, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan. Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa arab yang biasa berarti tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama, kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al-Al-Qur’an. Yang ditemukan hanyalah khuluq yang tercantum dalam Al-Al-Qur’an surah Al-Qalam ayat 4 (Purnamasari, 2017).

Akhlak mulia diartikan sebagai hubungan baik antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia lainnya dan manusia dengan Alam. Yang apabila diperhatikan lebih luas akhlak dalam agama tidak dapat disamakan dengan etika karena etika mengarah kepada perilaku sopan santun antar sesama dan bersifat

(5)

lahiriyah, sedangkan akhlak mulia berdasarkan konsep Al-Al-Qur’an dan hadist (Arisanti, 2017).

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak mulia merupakan pembawaan seseorang yang disampaikan melalui perbuatan dan tabi’at yang dilaksanakan dengan spontan tanpa didahului pemikiran dan pertimbangan.

Sedangkan pembiasaan akhlak mulia ialah upaya seseorang dalam mencapai sifat dan perilaku yang sempurna yang sesuai dengan Al-Al-Qur’an dan hadist.

Ruang lingkup pembiasaan akhlak

Pembiasaan akhlak anak usia dini meliputi beberapa hal, menurut Muhammad Daud Ali menyatakan secara garis besar akhlak terbagi menjadi dua bagian, pertama akhlak kepada Allah dan kedua akhlak kepada semua makhluk ciptaannya (Ali, 2000). Sedangkan menurut Abu Ahmadi dan Noor Salimi membagi ruang lingkup akhlak menjadi akhlak kepada Allah, akhlak diri sendiri, akhlak terhadap keluarga, akhlak kepada masyarakat, akhlak terhadap alam (Salimi, 2008).

Oleh karena itu ruang lingkup pembiasaan akhlak dalam penelitian ini mencakup empat poin penting yaitu:, akhlak kepada Allah SWT.., akhlak terhadap orang tua, akhlak pada diri sendri, akhlak kepada manuisia lainnya.

1. Akhlak kepada Allah

Akhlak kepada Allah ialah pola berhubungan antara manusia dengan sang khaliq, yaitu dimana manusia bersikap dan berkelakuan sebagaimana mestinya antar makhluk dan sang pencipta, Titik tolak berakhlak kepada Allah ialah mengaku dan sadar bahwa tiada tuhan Melainkan Allah SWT. dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dalam menunjukkan sikap berakhlak kepada Allah, manusia hendaklah beriman hanya kepadanya, taat akan perintah dan menjauhi larangan, ikhlas dalam melaksanakan perintah tanpa mengharapkan sesuatu selain hanya ridhonya, bersikap husnudzan atas apa saja yang telah Allah berikan, bersyukur, sabar dan selalu Berdo’a hanya kepadanya (Syarifah Habibah, 2015).

Sebagaimana firman Allah Dalam Al-Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 83

َل َنوُدُبْعَ ت َلِإ َه َللا ِنْيَدِلاَوْلِبَِو ًناَسْحِإ

يِذَو ىَبْرُقْلا ىىَماَتَ يْلاَو ِيِكاَسَمْلاَو

اوُلوُقَو ِساَنلِل اًنْسُح

Artinya:

Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia

Akhlak kepada Allah dapat dibiasakan kepada anak usia dini dengan cara anak dibiasakan ketika mau beribadah selalu bersih dan suci, terhindar dari

(6)

hadas besar dan kecil dan selalu menggunakan pakaian sopan ketika hendak beribadah kepadanya. Kemudian didalam hal bersyukur dapat dibiasakan untuk senantiasa mengingat nikmat Allah dengan cara setiap selesai makan selalu mengucapkan hamdalah.

2. Akhlak kepada orang tua

Akhlak kepada kedua orang tua ialah bagaimana adab seorang anak terhadap kedua orang tuanya baik dari kesopanan, sabar, jujur, rendah hati, tutur kata yang lembut dan santun dan taat akan segala yang orang tua katakan, karena diantara akhlak terpuji yang harus dimiliki seorang muslim ialah berbakti dan taat kepada apa yang orang tua katakan selama tidak terlepas dari apa yang telah Allah larang (L. E. Sari et al., 2020). Dalam Al-Qur’an surah AL- Luqman ayat 14-15 menjelaskan agar taat kepada kedua orang tua terutama ibu yang telah mengandung dalam keadaan lemah lalu melahirkan dengan susah payah bahkan bangun ditengah malam untuk menyusui ketika manusia lain tertidur nyenyak. Dan janganlah mengikuti mereka ketika mereka menyuruh untuk mempersekutukan Allah (Shihab, 2006).

3. Akhlak Terhadap Diri Sendiri

Akhlak kepada diri sendiri ialah kewajiban manusia terhadap dirinya yang dimana harus ditunaikan segala haknya baik secara jasmani maupun rohani (Muhrin, 2020). Sebagaiman kebutuhan jasmani ialah membutuhkan konsumsi makanan yang baik secara nutrisi dan bersifat halal, dan jika dalam mengkonsumsi makanan tidak dipilah dan dipilah asal usul perolehannya, dan bersifat haram berarti kita telah mencoba merusak diri sendiri. Sedangkan upaya seorang muslim dalam mewujudkan akhlak terhadap dirinya sendiri secara rohani ialah berakhlak terhadap akal dengan cara menuntut ilmu, memiliki spesialisasi ilmu yang dikuasai, mengajarkan ilmu kepada orang lain dan mengamalkan ilmu (Muhrin, 2020)

Pembiasaan akhlak kepada diri sendiri dapat dibiasakan dengan cara anak diajari senantiasa menjaga kebersihan sebagaiman islam mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, menjaga makan dan minum dengan cara sebelum harus makan mencuci tangan, tidak makan dan minum secara berlebihan, dan apa yang di konsumsi harus bersifat halal. Sebagaimana firman Allah

َنوُدُبْعَ ت ُهَيَِّإ ْمُتْ نُك ْنِإ َِللّا َتَمْعِن اوُرُكْشاَو اًبِ يَط ًل َلاَح َُللّا ُمُكَقَزَر اَِمِ اوُلُكَف

Artinya :

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni'mat Allah, jika kamu

(7)

hanya kepada-Nya saja menyembah.(QS. An Nahl:114). Kemudian berakhlak kepada diri sendiri dengan menjaga kesehatan seperti melakukan olahraga yang teratur.

4. Akhlak kepada Sesama Masyarakat

Akhlak kepada masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk memuliakan tamu, menghormati nilai-nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat, saling menolong dalam melakukan kebajikan, dan taqwa, menganjurkan anggota masyarakat, dan diri sendiri berbuat baik, dan mencegah perbuatan keji, dan mungkar, memberi makan fakir miskin, dan berusaha melapangkan hidup, dan kehidupannya, bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama

Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan sebutan untuk anak usia 0-6. Pada masa ini, anak memiliki perkembangan yang cukup pesat dan merupakan rentang perkembangan manusia secara keseluruhan. Sebagaimana dinyatakan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional nomor 20 tahun 2003, bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang diajukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Ariyanto, 2021).

Di indonesia anak usia dini ditunjukan kepada anak yang berusia 0 sampai 6 tahun. Dalam proses pendidikannya, biasanya mereka dikelompokkan menjadi beberapa tahap berdasarkan golongan usia. Misalnya untuk usia 2-3 tahun masuk Kelompok Taman Penitipan Anak, usia 3-4 tahun untuk Kelompok Bermain, dan 4- 6 tahun Untuk Taman Kanak-Kanak atau Raudatul Athfal. Sementara itu, The National Asoociation For The Education For Young Children (NAECY), membuat klasifikasi rentan usia dini yaitu sejak lahir sampai dengan usia 8 tahun, dengan beberapa varian tahapan pembelajaran (Ariyanto, 2021).

Pada masa ini anak lebih dikenal dengan masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali pada setiap perkembangan manusia. Proses pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini tentu tidak hanya dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya akan tetapi perlu di arahkan kepada aspek-aspek perkembangan anak usia dini agar terbentuknya pribadi yang sempurna (Sa et al., 2021)

Karakteristik anak usia dini

Anak usia dini memiliki karakteristik yang unik disebabkan proses tumbuh kembang mereka yang sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan berikutnya.

Secara psikologis karakteristik yang dimiliki anak usia dini berbeda dengan anak

(8)

yang usianya berada diatas delapan tahun. Masa usia dini ialah masa ketika seorang anak kecil yang memiliki bentuk tubuh mungil yang berperilakuan lucu membuat orang dewasa gemas, senang, dan terkesan akan tingkah lakunya. Akan tetapi tidak terkadang anak yang bertubuh mungil bisa membuat orang dewasa merasa kesal jika tingkah lakunya berlebihan dan sudah tidak bisa dikendalikan.

Setiap bentuk kegiatan yang ditampilkan seorang anak pada hakikatnuya merupakan fitrah, karena pada masa usia dini anak masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Anak usia dini belum mengetahui apa yang ia lakukan apakah berbahaya atau tidak, bermanfaat atau merugikan bahkan benar ataupun salah yang terpenting bagi anak usia di dalam setiap kegiatannya mereka merasa senang dan nyaman dalam melakukannya. Oleh karena itu orang tua dan pendidik berperan penting dalam mengarahkan dan membimbingnya dalam melakukan setiap aktivitas agar apa yang anak usia dini lakukan bermanfaat baginya dalam pembentukan kepribadian yang baik (Khairi, 2018).

Karakteristik anak usia dini ialah sebagai berikut:

1. Anak suka meniru

Entah sadar atau tidak, apa yang kita ucapkan, kita lakukan, tentu akan ditiru oleh anak-anak. Makanya kita sebagai orang tua atau pendidik harus memberikan contoh nyata keteladanan yang baik kepada anak-anak. Memang anak-anak adalah cerminan orang tuanya, tetapi bukan hanya dari orang tua saja, anak-anak akan meniru dari lingkungan sekitar atau media lain seperti televisi, games, play station, gadget juga teman sebaya, dan saudara- saudaranya yang lebih dewasa. Kita harus selektif dalam hal ini. Kita dapat menunjukan peran yang lebih besar dari orang dewasa lain di rumah. Tidak ada salahnya jika kita ikut terlibat dalam aktivitas bermain anak, baik sebagai pengamat, pengawas, dan pendidik (Susanto, 2014).

2. Anak Bersifat Egosentris

Anak yang bersifat egosentris lebih cenderung melihat dunia berdasarkan sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Hal ini sering terjadi ketika anak-anak saling berebut mainan atau menangis ketika keinginan yang dimintanya kepada orangtua tidak diberikan (Suryana, 2007).

3. Memiliki rasa ingin tahu yang besar

Pada umumnya anak usia dini terlahir dengan rasa ingin tahu yang tinggi, pertanyaan yang muncul dari mulut mungilnya menggambarkan keingintahuannya. Rasa ingin tahu anak usia dini muncul karena pada masa usia dini anak sangat memperhatikan, membicarakan, dan mempertanyakan hal yang telah dia lihat dan dia dengarkan, terutama tentang hal-hal yang baru baginya (Lestari et al., 2021).

(9)

Era Digital

Era digital merupakan suatu masa di mana sebagian besar masyarakat pada era tersebut menggunakan sistem digital dalam kehidupan sehari-harinya (Rahayu, 2019). Istilah era digital merupakan perkembangan dari dunia teknologi yang terdiri atas seperangkat media yang tentunya tidak akan berfungsi bilamana hanya berdiri sendiri. Sedangkan yang disebut sebagai media digital merupakan salah satu bentuk dari media elektronik yang disetiap data tersimpan dalam format digital (Andriyani, 2018).

Perkembangan teknologi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat, ditandai dengan kemajuan pada bidang informasi dan teknologi. Bangsa Indonesia merupakan salah satu bagian bangsa yang ikut terlibat dalam kemajuan media informasi dan teknologi. Meningkatnya penggunaan gadget atau alat-alat yang dapat dengan mudah terkoneksi dengan internet, mengalami peningkatkan dari waktu ke waktu. Saat ini kurang lebih 45 juta menggunakan internet, dimana sembilan juta diantaranya menggunakan ponsel untuk mengakses internet. Padahal tahun 2001, jumlah pengguna internet di Indonesia hanya setengah juta penduduk.

Jumlah ini semakin bertambah karena semakin mudah didapat serta terjangkaunya harga dari ponsel cerdas (Marpaung, 2018).

Meningkatnya penggunaan gadget di Indonesia dikarenakan banyaknya gadget yang dijual dengan harga yang relatif murah yang sudah berbasis Android ataupun IOS, dan juga fitur-fitur pada gadget yang dapat digunakan sebagai media hiburan untuk menonton video, mendengarkan musik dan untuk mengabadikan momen melalui kamera .Tetapi, semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi terdapat dampak negatif dalam penggunaan gadget bila digunakan dengan cara yang salah ataupun berlebihan khususnya bagi anak-anak (Simamora et al., 2016).

Faktor penyalah gunaan gadget pada anak usia dini tidak terlepas dari peran orang tua. Melihat fitur-fitur yang ada pada gadget, kebanyakan orang tua seakan tak perlu khawatir dengan cara menghibur dan menenangkan anak ketika mereka rewel. Karena menurut mereka dengan memberikan gadget dan membiarkan anak menonton video-video yang mereka senangi, anak akan merasa senang dan bahagia padahal kesenangan dan kebahagiaan yang ada pada gadget bersifat sementara.

Terkadang para orang tua yang biasa memberikan anaknya gadget merasa tugas mereka sebagai teman bermain anak sudah terpenuhi dengan memberikan gadget.(Nawangsari, 2019)

Pemberian gadget kepada anak usia dini dengan dalih gadget bisa membahagiakan anak dengan mendengarkan musik, nonton video bahkan berjoget- joget mengikuti apa yang ia lihat pada video (Youtube, Tiktok, Facebook dan

(10)

lainnya) akan menjadikan anak cenderung menirukan apa yang biasa anak lihat, karena anak usia dini memiliki sifat yang egosentris, rasa ingin tahu yang besar, dan suka meniru. Melihat kebanyakan video yang ada pada fitur-fitur tersebut mengandung unsur kedewasaan, kekerasan bahkan pornografi, sehingga tidak menutup kemungkinan Anak usia dini akan mengikuti apa yang telah ia lihat dari tayangan-tayangan yang ada pada fitur-fitur gadget tadi seperti berpakaian menyerupai orang dewasa, berperilaku seperti orang dewasa bahkan memungkinkan mempraktekkan kekerasan kepada temannya.

Oleh karena itu dampak dalam pemberian gadget kepada anak usia dini orang tua perlu memperhatikan, mengawasi dan membatasi anak dalam menggunakan gadget. Karena gadget akan memberikan dampak negatif kepada anak. Menurut (Sunita & Mayasari, 2018), anak yang selalu menggunakan gadget akan menyebabkan aktivitas membaca dan menulis menurun, penurunan kemampuan bersosialisasi, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, sikap keegoisan yang tinggi, pemarah bahkan bisa berbau unsur pornografi.

Menurut Puji, sesuai dengan hasil seminar pada tanggal 25 September 2016 oleh Suwarsi ada beberapa perilaku anak terkait dengan gadget ini yang harus diwaspadai orang tua yaitu: (1) Ketika keasyikan dengan gadget anak jadi kehilangan minat dalam kegiatan ini. (2) Anak tidak lagi suka bergaul atau bermain di luar rumah dengan teman sebaya. (3) Anak cenderung bersikap membela diri dan marah ketika ada upaya untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan game.

(4) Anak berani berbohong atau mencuri-curi waktu untuk bermain (Chusna, 2017).

Dari berbagai problema dampak penggunaan gadget diatas, salah satu cara dalam mengurangi kebiasaan buruk atau negatif anak secara Islam dengan memberikan pengasuhan akhlak yang tidak hanya diajarkan saja, tetapi dari itu pengasuhan akhlak harus di contohkan melalui proses pengasuhan. Pola asuh keluarga sebagai salah satu bentuk pendidikan pertama bagi anak merupakan media yang tepat untuk bagi setiap orang tua untuk.

Pembiasaan akhlak mulia pada era digital

Islam mengajarkan bahwa anak berada dalam kondisi fitrah (suci, bersih, belum berdosa) sejak lahir sampai balig. Fitrah tersebut akan berkembang secara baik dalam lingkungan yang terbina secara agama. Fitrah memerlukan pengembangan melalui usaha sadar dan teratur serta terarah yang secara umum disebut pendidikan. Akan tetapi, untuk anak usia dibawah 10 tahun, pembiasan merupakan metode yang terbaik dalam pembentukan akhlak mulia seorang anak agar ketika mereka beranjak dewasa anak tetap pada konsep kefitrahan menurut ajaran islam (Jamaluddin, 2013).

(11)

Proses pemebentukan anak menjadi seseorang yang berakhlakul karimah tidak terlepas dari peranan orang tua, karena orang tua merupakan sumber pertama yang memberikan pendidikan kepada anak sebelum guru. oleh karena itu orang tua hendaklah memberikan contoh dan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak usia dini mengingat pada karakteristik anak usia dini bahwa anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan anak memiliki sifat suka meniru. Jadi hendaklah orang tua menjadi teladan yang baik bagi anak, karena apabila anak biasa melihat teladan mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik tidak menutup kemungkinan anak akan mengiuti kebiasaan-kebiasaan baik yang ia lihat dari orang tua sebagai teladan. Pembiasaan akhlak mulia pada anak usia dini pada era digital merupakan metode yang sangat efektif dalam membentuk anak usia dini guna menjadi seseorang yang berakhlakul karimah, karena pada masa ini anak belum mengetahui apa yang disebut baik-buruk dan anak belum memiliki kewajiban-kewajiban layaknya orang dewasa. Sehingga mereka perlu dibiasakan dengan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, dan pola pikir yang sesuai dengan ajaran islam.

Anak perlu dibiasakan pada sesuatu yang baik seperti, pembiasaan dalam kedisiplinan, mengajarkan pengalaman-pengalaman agama, membiasakan menjaga kesehatan dan berbuat baik sesama manusia lainnya. sehingga mereka akan mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Akan tetapi bila orang tua membiasakan anak mengikuti perkembangan zaman dengan mengikuti perkembangan yang terjadi pada era digital seperti memberikan anak keleluasaan dalam menggunakan gadget maka anak akan menjadi pribadi yang jauh dari kata seseorang yang berakhlakul karimah.

Menurut (Mhd. Habibu Rahman, 2020), dalam mencegah penyalah gunaan gadget pada anak, hendaklah orang tua membatasi penggunaan gadget dan jangan memberi akses penuh kepada anak. Akan tetapi hendaklah orang tua menjadikan gadget sebagai sarana edukasi dalam pembiasaan akhlak anak dengan cara memberikan konten edukasi berupa video-video islami, dan lagu-lagu islami seperti, video-video yang mengajarkan penyebutkan huruf hija’iyah ataupun video-video yang mengajak untuk menghafal ayat-ayat pendek. Sedangkan dalam pembiasaan akhlak mulia terhadap dampak gadget melalui lagu-lagu islami dapat dibiasakan dengan cara anak mendengarkan Lagu-lagu shalawatan ataupun lagu-lagu religi.

Simpulan

Pembiasaan berisi tentang pengalaman yang diamalkan secara berulang- ulang. Pembiasaan dalam pendidikan hendaknya dimulai sejak usia dini. Jika pada usia dini sudah terbentuk, maka untuk mengubahnya akan sangat sulit. Adapun pembiasaan akhlak muia dapat dilaksanakan secara terprogram, rutin dan insidental atau spontan dalam kegiatan sehari-hari. pembiasaan akhlak mulia pada anak usia

(12)

dini diharapkan dapat mewujudkan perilaku anak usia dini yang sesuai dengan ajaran agama islam dan diharapkan mampu menjadi bekal seorang anak dalam menghadapi permasalahan-permasalahan dari perkembangan dan perubahan zaman yang akan datang.

Daftar Pustaka

Andriyani, I. N. (2018). Pendidikan Anak dalam Keluarga di Era Digital. Fikrotuna, 7(1), 789–802. https://doi.org/10.32806/jf.v7i1.3184

Ani Rusilowati, D. (2021). Pengembangan Instrumen Karakter Dalam Pembelajaran IPA. In Pengembangan Instrumen Karakter Dalam Pembelajaran IPA (p. 224).

https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=ySA3EAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&

dq=Pengembangan+Instrumen+Karakter+dalam+Pembelajaran+IPA&ots=oEkremJmAl

&sig=bkOkB6YnjK3JDRCt77nFoLyqP9k&redir_esc=y#v=onepage&q=Pengembangan Instrumen Karakter dalam Pembelajaran IPA&f=false

Arifin, F. A. R., & Tjahjono, A. B. (2019). Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Akhlak Anak Di Keluarga The Role Of Parents In The Child’s Moral Education In The Family.

Konferensi Ilmiah Mahasiswa Unissula (Kimu) 2, 456–464.

Arisanti, D. (2017). Implementasi Pendidikan Akhlak Mulia di SMA Setia Dharma Pekanbaru. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 2(2), 206–225.

https://doi.org/10.25299/althariqah.2017.vol2(2).1046

Ariyanto, B. (2021). DASAR-DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI - Google Books.

Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini.

https://www.google.co.id/books/edition/DASAR_DASAR_PENDIDIKAN_ANAK_USI A_DINI/yCgqEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=KONSEP+DASAR+PENDIDIKAN+

ANAK+USIA+DINI+(PAUD)&printsec=frontcover

Chusna, P. A. (2017). Pengaruh Media Gadget Pada Perkembangan Karakter Anak.

Dinamika Penelitian: Media Komunikasi Sosial Keagamaan, 17(2), 316.

Jamaluddin, D. (2013). Paradikma Pendidikan Anak Usia Dini.

Khairi, H. (2018). Karakteristi Perkembangan Anak usia Dini 0-6.

Lestari, E., Suci, R., Program, W., Pendidikan, S., Anak, P., & Dini, U. (2021).

MEMBANGKITKAN RASA INGIN TAHU ANAK USIA DINI DENGAN CINTA DAN CERDIK. QURROTI : JURNAL PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI, 3(2), 2721–1509.

Luth, T., Makmur, S., Hana, M., Hamid, H., Fathoni, K., Rofi’i, A. H., Arifin, S., & Hasby, S. (2010). Pendidikan Agama Islam. 238.

Manan, S. (2017). Pembinaan Akhlak Mulia Melalui Keteladanan dan Pembiasaan. Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim, XV(2), 49–65.

Marpaung, J. (2018). Pengaruh Penggunaan Gadget Dalam Kehidupan. KOPASTA: Jurnal

Program Studi Bimbingan Konseling, 5(2), 55–64.

https://doi.org/10.33373/kop.v5i2.1521

Maulidin, F. M. M. (2020). Peran Keluarga Pada Pembentukan Perilaku Sosial Remaja Akibat Dampak Era Digital (Studi Kasus di Secang dan Wangkal Kalipuro

(13)

Banyuwangi). Central Library Of Maulana Malik Ibrahim State Islamic University Of Malang, 69.

Mhd. Habibu Rahman, R. K. (2020). Pengembangan Nilai Moral Dan Agama Anak Usia Dini. EDU PUBLISHER.

Muhrin. (2020). Akhlak Kepada Diri Sendiri. Tarbiyah Islamiyah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Agama Islam, 10, 1–7.

Nawangsari, D. (2019). Pola-Pola Sophistikasi dalam Penyalahgunaan Gadget di Kalangan Anak. An-Nisa, 12(1), 31–48.

PRISMAYANI, R. (2018). Pengaruh pembiasaan membaca Al-Al-Qur’an Jus 30 Terhadap Minat Mengkhatamkan Al-Al-Qur’an dalam 1 semester siswa kelas VIII di SMP.

http://repository.radenfatah.ac.id/id/eprint/6177%0Ahttp://repository.radenfatah.ac.id/61 77/1/BAB 1 .pdf

Purnamasari, D. (2017). Pendidikan Karakter Berbasis Al-Al-Qur’an. Islamic Counseling:

Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 1(1), 1. https://doi.org/10.29240/jbk.v1i1.233

Puspita, S. (2020). MONOGRAF : Fenomena Kecanduan Gadget Pada Anak Usia Dini. In

Cipta Media Nusantara (pp. 14–15).

https://www.google.co.id/books/edition/MONOGRAF_Fenomena_Kecanduan_Gadget_

Pada/iI0OEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1&dq=definisi+anak+pra+sekolah&pg=PA15&pri ntsec=frontcover

Rahayu, P. (2019). Pengaruh Era Digital Terhadap Perkembangan Bahasa Anak. Al-Fathin:

Jurnal Bahasa Dan Sastra Arab, 2(1), 47. https://doi.org/10.32332/al-fathin.v2i2.1423 Sa, M., Email, K., Prof, J., Tawar, A., Kec, B., Utara, P., Padang, K., & Barat, S. (2021).

Pelaksanaan Stimulasi Kemampuan Sosial Anak Usia. 5(1), 89–97.

Sari, L. E., Rahman, A., & Baryanto, B. (2020). Adab kepada Guru dan Orang Tua: Studi Pemahaman Siswa pada Materi Akhlak. Edugama: Jurnal Kependidikan Dan Sosial Keagamaan, 6(1), 75–92. https://doi.org/10.32923/edugama.v6i1.1251

Sari, M. (2020). Penelitian Kepustakaan (Library Research) dalam Penelitian Pendidikan IPA. Penelitian Kepustakaan (Library Research) Dalam Penelitian Pendidikan IPA, 6(1), 41–53.

Shihab, M. Q. (2006). Tafsir Al-Misbah: Pesan,Kesan dan Keserasian Al-Al-Qur’an. Lentera Hati.

Simamora, A. S. M. T., Suntoro, I., & Nurmalisa, Y. (2016). PERSEPSI ORANGTUA TERHADAP DAMPAK PENGGUNAAN GADGET PADA ANAK USIA PENDIDIKAN DASAR. Jurnal Kultur Demokrasi, 4(6).

Sunita, I., & Mayasari, E. (2018). Pengawasan Orangtua Terhadap Dampak Penggunaan Gadget Pada Anak. Jurnal Endurance, 3(3), 510. https://doi.org/10.22216/jen.v3i3.2485 Suryana, D. D. M. P. (2007). Dasar-Dasar Pendidikan TK. Hakikat Anak Usia Dini, 1, 1–65.

Susanto, A. (2014). Perkembangan anak usia dini : Pengantar Berbagai Aspeknya. Cetakan ketiga. 6.

Syarifah Habibah. (2015). Akhlak dan Etika dalam Islam. Jurnal Pesona Dasar, Vol.1(4), 81.

Referensi

Dokumen terkait

Algoritma C4.5 dianggap sebagai algoritma yang sangat membantu dalam melakukan klasifikasi data karena karakteristik data yang diklasifikasi dapat diperoleh dengan jelas,

Seksi Tata Pemerintahan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagai fungsi Kecamatan di bidang tata pemerintahan yaitu:.. Penyusunan rencana dan program kerja Seksi

Dalam setiap penerbitan Profil Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah, selalu dilakukan berbagai upaya perbaikan, baik dari segi materi maupun tampilan fisiknya, sesuai

RSU Bangkatan Binjai merupakan rumah sakit tipe C, yang menggunakan KIUP secara manual sehingga perlu adanya sistem yang dapat mempermudah penggunaan KIUP agar

Sasaran strategis untuk mencapai tujuan ketiga (tercapainya pelayanan prima yang memenuhi standar pelayanan minimum) adalah:.. 90% unit pelayanan di perpustakaan sudah

Secara geografis Pusat Pemerintahan Desa Terong terletak di 07°53'30 garis Lintang Selatan dan 110°27'32" Bujur Timur dan secara administratif termasuk satu dari 6 (enam) desa

Berdasarkan peningkatan hasil belajar yang dicapai pada pembelajaran pra siklus, siklus 1 dan siklus 2, dapat diketahui perbandingan hasil belajar tema Berbagai

Sebagaimana telah disinggung pada hasil penelitian terdahulu, pada awal tulisan ini, bahwa kawasan karst di Pegunungan Selatan Jawa terutama di Gunung Sewu dan