36
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
Bab ini berisi dua hal sebagaimana judul dalam bab ini. Pertama dikemukakan hasil penelitian dan yang kedua adalah analisis atas hasil penelitian tersebut. Dalam bagian Hasil Penelitian, Penulis gambarkan kembali secara lengkap Putusan 1887, objek analisis Penelitian dan Karya Tulis Kesarjanaan Penulis ini.52 Kemudian, di bagian kedua dikemukakan analisis itu sendiri. Analisis dilakukan oleh Penulis dengan cara melakukan pembedahan dengan menggunakan pisau analisis berupa prinsip-prinsip hukum yang berkaitan dengan nemo dat rule yang sudah Penulis kemukakan di dalam Bab II terhadap hasil penelitian. Adapun tujuan dari pemaparan, terutama analisis itu adalah dalam rangka tindak lanjut, usaha Penulis untuk menjawab perumusan masalah sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab I.
3.1. Transaksi Perdagangan Internasional di Depan Hukum
Sama halnya dengan transaksi perdagangan lokal maupun nasional, apabila timbul permasalahan hukum atau sengketa daripadanya, maka penyelesaiannya bisa dimulai dengan mekanisme penyelesaian (commercial dispute settlement) oleh para pihak, dan atas dasar persamaan di depan hukum, maka at the last resort, penyelesaian masalah dapat menempuh jalur litigasi (litigation). Demikian
52
37 pula dengan kasus yang berdimensi transaksi perdagangan internasional di dalam Putusan 1887 dan yang menjadi hasil penelitian skripsi ini, penyelesaian sengketa berujung pada proses litigasi yang diuraikan di bawah ini.
Sengketa pada Putusan 1887 bermula pada akhir tahun 1982 dan awal tahun 1983. Pada waktu itu, PT. Gespamindo dalam hal ini merupakan suatu perusahaan yang berkedudukan di Indonesia membeli pupuk dari Phosphate Mining Co. di Australia sebanyak 3000 metric ton. Nilai uang di balik pupuk 3000 metric ton tersebut adalah seharga US $195.000,-. Pupuk tersebut dipesan oleh tiga subjek hukum lainnya, yakni PT. Putra Buana, PT. Kapuas Dua Belas dan PT. Sinar Mulia Buana. Adapun pesanan masing-masing pihak tersebut adalah sebanyak 1000 metric ton pupuk.
Merupakan kelaziman di dalam transaksi perdagangan internasional, bahwa setiap pembayaran yang dilakukan biasanya tidak dilakukan dengan tunai oleh pemesan barang itu sendiri namun dibeli tunai oleh Bank yang menerbitkan Letter of Credit (L/C). Pembayaran dengan nilai yang besar seperti yang terjadi dengan pembayaran harga pupuk dalam cerita di balik Putusan 1887 itu adalah menggunakan L/C, suatu surat berharga (negotiable instrument). Pembayaran transkasi perdagangan internasional dengan menggunakan surat-surat berharga sudah barang tentu harus dilakukan dengan menggunakan jasa pihak perbankan. Bank yang digunakan jasanya juga bukanlah bank biasa, namun bank yang memiliki kemampuan membayar dengan valuta asing (hard currency).53 Oleh
38 sebab itulah PT. Gespamindo kemudian membuka tiga buah L/C di PT. Sejahtera Bank Umum melalui the Chartered Bank (Confirming Bank) di Jakarta untuk membayar harga pembelian atas 3000 metric ton pupuk kepada Phosphate Mining Co. melalui the Chartered Bank (Corresponding Bank) yang berada di Australia. Nilai uang ketiga buah L/C yang hendak dibayarkan oleh pihak bank kepada Phosphate Mining Co. tersebut adalah US $195.000,-. Dengan demikian maka L/C tersebut merupakan bukti adanya perjanjian atau suatu kontrak (a contract) yang dibuka di antara subyek-subyek hukum (parties to contract) dalam hal ini yaitu pihak PT. Sejahtera Bank Umum sebagai „the issuing bank’ dengan pihak PT. Gespamindo.
Pihak berikutnya (the other party to contract) di dalam Putusan 1887 adalah
PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia”. Pihak tersebut juga
39 Penulis, dalam hal ini Putusan 1887, 3000 metric ton pupuk tersebut diangkut dari Australia, tepatnya dari Melbourne tertanggal 24 Maret 1983. Adapun tujuan pengangkutan 3000 metric ton pupuk hasil produksi Phosphate Mining Co. dari Australia tersebut adalah Pelabuhan Tanjung Priok yang ada di Jakarta. Biarpun belum saatnya di sini Penulis melakukan analisis, namun agar jelas pemahaman tentang nemo dat rule, maka Penulis berpendapat bahwa dengan dimuatnya 3000 metric ton pupuk di Melbourne dan di atas kapal milik PT. Perusahaan Pelayaran
Samudera “Samudera Indonesia”, maka sejatinya pupuk itu sudah menjadi millik
dari pihak yang membeli, dalam hal ini pihak Bank (the Standard Chartered Bank) di Australia yang membayarkan uang harga pupuk itu kepada Phospate Mining Co. selaku eksportir.
40 (proceeds) akan dipakai untuk melunasi hutang PT. Sejahtera Bank Umum kepada the Chartered Bank di Jakarta tersebut.
Hal itu berarti bahwa berdasarkan semangat nemo dat rule, maka PT.
Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” kemudian menerbitkan
B/L, suatu bukti kepemilikan yang nantinya dipegang oleh pihak Bank di Australia yang membayar harga 3000 metric ton pupuk kepada Phosphate Mining Co. Bukti kepemilikan tersebut, yang dalam hal ini diwakili oleh suatu dokumen yang bernama B/L tersebut akan diteruskan ke Jakarta, lalu kemudian diberikan kepada PT. Sejahtera Bank Umum sehingga dengan modal B/L tersebut, PT. Sejahtera Bank Umum dapat mengambil pupuk dari kapal PT. Perusahaan
Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia”.
41 pihak PT. Gespamindo, yang secara hukum masih harus “membeli” B/L dari PT. Sejahtera Bank Umum.
Ternyata, seluruh pupuk yang diangkut oleh PT. Perusahaan Pelayaran
Samudera “Samudera Indonesia” telah diserahkan kepada PT. Gespamindo.
Sehingga dalam perspektif nemo dat rule, maka terdapat pelanggaran terhadap asas tersebut. Dalam Putusan 1887 yang menjadi satuan amatan penelitian ini, PT.
Gespamindo „mengaku‟ bahwa ia adalah pihak pembeli dari 3000 metric ton
42 rangkap tiga.54 Inilah yang menjadi sebab, mengapa Sukma Masawet di dalam skripsinya mengatakan bahwa ada conversi lanjutan yang dilakukan oleh PT. Gespamindo, yang setara dengan perbuatan melawan hukum, seperti yang dipergunakan oleh para hakim yang mengadili Putusan 1887.
Sementara itu, Documentary Credit yakni satu paket dokumen dalam pembayaran internasional yang di dalamnya juga terdapat B/L copy-an lainnya masih dikuasai oleh PT. Sejahtera Bank Umum sebagai the issuing bank. Dengan kata lain bahwa L/C belum dilunasi oleh PT. Gespamindo. Adapun nilai total sisa pinjaman yang harus dilunasi PT. Gespamindo seluruhnya adalah sebesar US $169.000,-. Berhubung PT. Gespamindo dalam pandangan pengacara penggugat (PT. Sejahtera Bank Umum) dalam Putusan 1887 terbukti tidak melakukan pembayaran atas sisa kewajibannya, maka menurut para pengacara penggugat tersebut, PT. Gespamindo telah melakukan perbuatan melawan hukum. Pengacara PT. Sejahtera Bank Umum juga menyeret pengangkut, dalam hal ini adalah PT.
Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia”. Tuduhan PT. Sejahtera
Bank Umum adalah bahwa PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera
Indonesia” sebagai pengangkut terikat dalam perikatan tanggung-menanggung
dengan PT. Gespamindo untuk memenuhi pelunasan kewajiban mereka kepada PT. Sejahtera Bank Umum. Hakim yang berhasil diyakinkan oleh Penggugat, kemudian menghukum untuk secara renteng. PT. Perusahaan Pelayaran Samudera
“Samudera Indonesia” dan PT. Gespamindo secara tanggung renteng membayar
kepada PT. Sejahtera Bank Umum secara tunai dan sekaligus, masing-masing
43 setengah bagian dari US $ 169.000,- dan bunga sebesar US $ 36.378,72,-. Menurut para Hakim yang memutuskan perkara itu, adil apabila resiko atas gagal bayar oleh PT. Gespamindo dan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera
Indonesia” ditanggung secara bersama-sama karena perbuatan melawan hukum.
Kedua pihak itu oleh Hakim, masing-masing dihukum untuk membayar kepada PT. Sejahtera Bank Umum uang sejumlah US $ 84.500,-. Dalam Putusan 1887 yang dijadikan dasar hukum para Hakim dalam mengadili perkara tersebut adalah perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) sebagaimana ada dalam Pasal 1365 KUHPerdata. Dalam rangka gambaran suatu Hasil Penelitian yang lebih berstruktur kontrak, maka uraian Putusan 1887 di bawah ini dimulai dengan para pihak (the parties to contract).
3.2. Para Pihak dalam Transaksi Perdagangan Internasional
44 sebagai kaidah lex mercatoria seharusnya diperhatikan dalam mengatur sengketa itu.
Para pihak (the parties to contract) dalam kasus yang berdimensi transaksi perdagangan internasional itu, seperti telah secara ringkas Penulis kemukakan di Bab I skripsi ini. Lengkapnya para pihak itu adalah PT. Perusahaan Pelayaran
Samudera “Samudera Indonesia”, berkedudukan di Jakarta, Jalan Kalibesar Barat
No.43, yang diwakili oleh dan memilih domilisi di kantor kuasanya Loekman Wiriadinata, SH., dan kawan-kawan, Advokat dan Pengacara, Jalan Veteran III/7A Jakarta berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 28 Februari 1986 selaku Pemohon Kasasi. Pemohon Kasasi dahulu adalah pihak Tergugat I-Pembanding. Pihak Termohon Kasasi yang dahulu adalah Penggugat-Terbanding yaitu PT. Sejahtera Bank Umum, berkedudukan di Jakarta, Jalan Tiang Bendera No.15 Jakarta Barat, dalam hal ini diwakili oleh kuasanya Herman Widjaja, SH., dan kawan, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 10 Maret 1986. Pihak Termohon Kasasi berikutnya adalah PT. Gespamindo, berkedudukan di Jakarta, Jalan Mangun Sarkoro No.8 Jakarta Pusat, Pihak Turut Termohon kasasi dahulu adalah pihak Tergugat II-Turut Terbanding.
3.3.
Pokok
Perselisihan
dalam
Transaksi
Perdagangan
Internasional
45 Pada akhir tahun 1982 permulaan tahun 1983, PT. Gespamindo telah melakukan impor pupuk dari Phosphate Mining Company of Christmas Island Ltd. Canberra, Australia. Seperti beberapa kali telah dikemukakan di atas, jumlah pupuk yang diimpor oleh PT. Gespamindo adalah sebanyak 3000 metric ton seharga seluruhnya US.$ 195.000,-. Import pupuk yang dilakukan oleh PT Gespamindo tersebut dilakukan atas pesanan PT. Putra Buana, PT. Kapuas Dua Belas dan PT. Sinar Mulia Buana, masing-masing sebanyak 1000 metric ton.
Untuk melaksanakan impor tersebut, atas permintaan PT. Gespamindo, pihak PT. Sejahtera Bank Umum melalui the Chartered Bank di Jakarta telah membuka tiga buah L/C untuk dibayar kepada pihak eksportir di Canberra Australia. Keseluruhan L/C tersebut berjumlah US.$ 195.000,-. Pupuk impor tersebut telah dikirim dan diangkut oleh pihak PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” sesuai B/L dari Melbourne tertanggal 23 Maret 1983.
Setelah ditebus oleh PT. Sejahtera Bank Umum dari the Chartered Bank Jakarta, semua lembar dari B/L dibuat rangkap tiga ada pada PT. Sejahtera Bank Umum. Meskipun demikian, sesuai jawaban dari PT. Perusahaan Pelayaran
Samudera “Samudera Indonesia”, ternyata seluruh pupuk impor tersebut oleh PT.
Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” telah diserahkan kepada
46
3.4. Sisa Pembayaran Ukuran
Nemo Dat Rule
Sesuai dengan ketentuan, maka PT. Gespamindo untuk kepentingan pembukuan L/C tersebut di atas masih mempunyai kewajiban pembayaran kepada PT. Sejahtera Bank Umum sejumlah yang rinciannya adalah sebagai berikut: pertama, untuk L/C tanggal 31 Januari 1983 No. 901/0475/83 dan tanggal 31 Januari 1983 No. 901/076/83 sebesar: 2 x US.$ 65.000,- = US.$ 130.000,-, baru dibayar 10% = US.$ 13.000,-, sisa = US.$ 117.000,-. Kedua, untuk L/C tanggal 14 Februari 1983 No. 901/0691/83, sejumlah :1 x US.$ 65.000,- = US.$ 65.000,-, baru dibayar 20% = US.$ 13.000,-, sisa = US.$ 52.000,-.
47
3.5. Perbuatan Melawan Hukum
PT. Gespamindo tidak melakukan pembayaran atas sisa kewajibannya kepada PT. Sejahtera Bank Umum, maka dari itu menurut hukum, demikian menurut keterangan yang tertera di dalam Hasil Penelitian atas Putusan 1887, PT. Gespamindo telah melakukan perbuatan melawan hukum (PMH).55 Demikian juga dengan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” atas tindakannya yang secara tanpa hak menurut para Hakim, menyerahkan pupuk yang diangkutnya kepada pihak yang tidak dapat menunjukkan B/L dari pupuk tersebut, adalah merupakan perbuatan yang melawan hukum. Perbuatan melawan hukum tersebut adalah pelanggaran terhadap Pasal 507,56 508,57 50958 dan atau 51059 KUHDagang.
55
Seperti telah Penulis kemukakan di atas (Bab I), hal ini oleh penelitian terdahulu dinilai sebagai suatu kesalahan sebab seharusnya merupakan wanprestasi, sementara menurut penilaian penelitian yang lain, kurang memiliki dimensi hukum perdagangan internasional karena seharusnya kaedah yang diberlakukan adalah konversi. Tidak ada yang salah dengan penilaian atau analisis-analisis sebelumnya itu. Skripsi ini melihat dari perspektif lain, yaitu nemo dat rule.
56 Konosemen dikeluarkan dalam dua lembar yang dapat diperdagangkan, yang di dalamnya dinyatakan berapa lembar seluruhnya yang dikeluarkan, berlaku semua untuk satu dan satu untuk semuanya. Lembar-lembar yang tidak dapat diperdagangkan harus dinyatakan sebagai demikian. Terhadap tiap lembar yang di dalamnya tidak terdapat pernyataan jumlah lembar yang dikeluarkan dan yang tidak ditandai bahwa tidak dapat diperdagangkan, pengangkut wajib melakukan penyerahan kepada orang yang memperolehnya dengan itikad baik dan menjaminnya dengan imbalan.
57
Konosemen atas-tunjuk dipindahtangankan dengan endosemen dan penyerahan naskahnya. Endosemen itu tidak usah memuat harga yang telah dusahakmati, begitu pula tidak usah ditentukan atas-tunjuk. Satu tanda tangan pun di halaman belakang konosemen sudah cukup.
58 Bila telah dikeluarkan konosemen, tidak dapat dituntut penyerahan barang sebelum tiba di tempat tujuan selain dengan penyerahan kembali semua lembar konosemen yang dapat diperdagangkan atau, bila tidak semua diserahkan kembali, dengan jaminan untuk semua kerugian yang mungkin diderita karenanya. Bila timbul perselisihan tentang jumlah dan sifat jaminan, maka hal itu diserahkan kepada putusan hakim.
59
48
3.6. Ganti Rugi yang Dituntut
Dengan adanya perbuatan melawan hukum dari PT. Gespamindo dan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” tersebut, PT. Sejahtera Bank Umum berhak menuntut pembayaran dari PT. Gespamindo dan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” secara tanggung renteng sejumlah US.$ 169.000,- ditambah ganti rugi, bunga 13% per tahun terhitung mulai tanggal 24 Maret 1983 sampai dengan 15 November 1984 = US.$ 36.378,72, sehingga jumlah seluruhnya US.% 205.738,72,-. Disamping ganti rugi, dalam Putusan 1887 juga diajukan suatu sita jaminan. Untuk menjamin pelaksanaan putusan dalam perkara, PT. Sejahtera Bank Umum mohon kepada Majelis Hakim yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara tersebut agar terhadap barang-barang bergerak milik PT. Gespamindo dan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia”, diletakkan sita jaminan (conservatoir beslag). PT. Sejahtera Bank Umum menuntut kepada Pengadilan Negeri Jakarta Barat untuk memutus di dalam provisi supaya para hakim dimaksud meletakkan sita jaminan atas barang-barang bergerak berupa alat perlengkapan kantor. Sita jaminan juga dimintakan kepada para hakim terhadap tanah berikut bangunan milik PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” yang terletak di Jalan Let. Jen. S. Parman No. 35 Jakarta Barat.
PT. Sejahtera Bank Umum juga memohon agar para Majelis Hakim tersebut menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang telah diletakkan sebelumnya.
49 Selanjutnya PT. Sejahtera Bank Umum kemudian meminta supaya para hakim menyatakan bahwa PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” telah melakukan perbuatan melawan hukum. Adapun perbuatan melawan hukum yang dimaksud adalah dalam kedudukannya sebagai pengangkut dan/atau sebagai agen pelayaran telah menyerahkan barang berupa 3000 metric ton pupuk kepada pihak ketiga tanpa penyerahan B/L asli,60 sehingga merugikan kepentingan Penggugat sejumlah US.$ 205.738.72.
PT. Sejahtera Bank Umum juga menuntut kepada Pengadilan untuk menyatakan bahwa PT. Gespamindo telah melakukan perbuatan melawan hukum, yaitu dengan telah tidak memenuhi kewajibannya kepada PT. Sejahtera Bank Umum sehubungan dengan pembukaan tiga buah L/C: yaitu pertama, L/C No.901/0475/83 sebesar US.$ 65.000,-; kedua, L/C No. 901/0476/83 sebesar US.$ 65.000,- + US.$ 130.000,- sudah dibayar 10% US.S 13.000,- US.$ 117.000,- ; ketiga, L/C No. 901/0691/83 sebesar US.$ 65.000,- , dibayar 20% US.$ 13.000,- US.$ 52.000,- US.$ 169.000,-. Dengan bunga (24 Maret 1983 sampai dengan 15 November 1984); 602 hari x 13% p.a US.$ 36.738,72. Jadi jumlah berikut bunga sebesar US.$ 205.738,72.
PT. Sejahtera Bank Umum juga meminta Pengadilan Negeri Jakarta Barat supaya menghukum Tergugat I dan Tergugat II secara tanggung renteng untuk membayar kepada Penggugat secara tunai dan sekaligus uang sejumlah US.$ 205.738,72 atau dengan nilai lawan dengan kurs US.$ 1 = Rp 1.072,- yakni berjumlah 205.738,72 x Rp 1.072 = Rp 220.551.908,- (dua ratus dua puluh juta
50 lima ratus lima puluh satu ribu sembilan ratus delapan rupiah), ditambah dengan bunga yang berlaku bagi suatu pemberian kredit dan jumlah tersebut. Adapun bunga yang dituntut adalah sebesar 2,5% per bulan, sejak mulai didaftarkannya gugatan itu sampai dibayar lunas jumlah tersebut di atas.
PT. Sejahtera Bank Umum memohon Pengadilan supaya menyatakan putusan dalam perkara itu dapat dijalankan lebih dahulu, meskipun andaikata PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” dan PT. Gespamindo naik banding atau kasasi atau mengadakan verzet. Selain itu, PT. Sejahtera Bank Umum juga memohon kepada Pengadilan supaya biaya-biaya menurut hukum atau setidak-tidaknya Pengadilan memberi putusan yang seadil-adilnya sebagaimana layaknya suatu pengadilan yang baik.
3.7. Dalil Pengangkut dan Putusan Hakim
52 para hakim tersebut melakukan perbaikan atas Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat sehingga berbunyi mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian. Amar putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Barat adalah menyatakan sah dan berharga sita jaminan yang diletakkan dalam perkara tersebut; Menyatakan bahwa Tergugat I, PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” dalam kedudukannya sebagai pengakut dan sebagai agen pelayaran dengan menyerahkan barang berupa 3000 metric ton pupuk Phospate kepada pihak ketiga tanpa penyerahan B/L asli dan Tergugat II, PT. Gespamindo yang telah meminta agar 3000 metric ton pupuk itu diserahkan tanpa B/L asli, telah melakukan PMH. Hakim menghukum Tergugat I dan Tergugat II secara tanggung renteng untuk membayar kepada Penggugat secara tunai dan sekaligus, uang sejumlah US.$ 169.000,- dengan nilai tukar rupiah pada saat pembayaran dilakukan, ditambah dengan ganti rugi sebesar 6% setahun dari jumlah tersebut, mulai dari gugatan didaftarkan sampai dibayar lunas. Disamping itu, hakim juga menyatakan perkara itu dapat dijalankan lebih dahulu, meskipun Tergugat I dan Tergugat II mengajukan upaya-upaya hukum seperti perlawanan, banding atau kasasi dan menolak gugatan Penggugat selebihnya. Hakim juga menghukum Tergugat I sekarang Pembanding membayar biaya perkara 17.750.
3.8. Perkara Kasasi di Mahkamah Agung
53 lisan pada tanggal 3 Maret 1986 sebagaimana ternyata dari akta permohonan kasasi No. 014/Srt. Perdata/1986 yang dibuat oleh Panitera Kepala Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Permohonan Kasasi tersebut kemudian disusul oleh memori kasasi yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kapaniteraan Pengadilan Negeri tersebut pada tanggal 14 Maret 1986. Setelah itu oleh Penggugat-Terbanding yang pada tanggal 15 Maret 1986 telah diberitahu tentang memori kasasi dari Tergugat I-Pembanding, diajukan jawaban memori kasasi, diterima Kapaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Barat tanggal 5 April 1986. Baik pemberitahuan isi putusan maupun permohonan kasasi dilakukan sesudah Undang-Undang No.14 tahun 1985 berlaku, maka terhadap perkara kasasi tersebut diberlakukan tenggang-tenggang waktu kasasi menurut Undang-Undang No.14 tahun 1985. Permohonan kasasi a quo beserta alasan-alasan yang telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang-undang, maka oleh karena itu permohonan kasasi tersebut secara legal dapat diterima.
54 dalam perkara tersebut tidak ada hal-hal yang bersifat eksepsional. Lagipula terhadap barang-barang milik Tergugat Asal 1 telah diletakkan sita jaminan yang nilainya melebihi nilai gugatan.
Menurut dalil Pemohon Kasasi terlihat bahwa dalam gugatan, yang menjadi pokok perkara bukan karena telah diserahkannya barang yang diangkut oleh Tergugat Asal I yang in casu atas permintaan Tergugat Asal II, kepada pemesan sebagaimana terlihat dalam B/L nya. Melainkan karena masih adanya kewajiban pembayaran oleh Tergugat Asal II kepada Penggugat asal, uang sejumlah US.$ 169.000,- sebagai akibat dibukanya L/C untuk mengimpor pupuk dari Australia.
Dengan adanya kenyataan tersebut, maka menurut pemohon kasasi Judex Facti seharusnya mempertimbangkan, siapa yang dibebani tanggung jawab. Pengadilan Tinggi menganggap telah terbukti bahwa Tergugat Asal II melakukan perbuatan melawan hukum yang mengakibatkan kerugian bagi Penggugat asal, maka sesuai dengan bunyi ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata, yang wajib mengganti kerugian adalah Tergugat Asal II.
Di samping itu menurut pemohon kasasi, Judex Facti juga tidak mempertimbangkan akan hak dan kewajiban masing-masing pihak terhadap perjanjian yang dibuatnya, yang dalam perkara a quo adalah adanya L/C yang dibuat oleh dan di antara Penggugat asal dengan Tergugat Asal II dan adanya B/L yang dibuat oleh dan di antara Tergugat Asal II dengan Tergugat Asal I.
55 yang menyamakan dengan konosemen atau Surat Berharga dalam mana pengangkut menerangkan bahwa ia telah menerima barang tertentu untuk diangkut ke suatu tempat tujuan yang ditunjuk dan disana menyerahkannya kepada orang yang ditunjuk (Penerima) disertai dengan janji-janji apa penyerahan akan terjadi dan dalam perkara a quo kedua perjanjian itu merupakan perjanjian yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri. Sehingga menurut Pasal 1338 (1) dan Pasal 1340 KUHPerdata, hak-hak dan kewajiban-kewajibannya juga terpisah satu sama lain, karena perjanjian hanya mengikat bagi para pihak yang membuatnya dan tidak dapat membawa rugi kepada pihak ketiga. Mengenai hal ini dapat dilihat tentang asas kepribadian dalam KUHPerdata, asas Kepribadian adalah asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan kontrak hanya untuk kepentingan perorangan Pasal 1315 dan 1340 KUHPerdata.
56 Asal I dan II secara tanggung renteng membayar ganti rugi kepada Penggugat Asal sebesar US.$ 169.000,- adalah melanggar Pasal 1282 KUHPerdata yang
berbunyi; “tiada perikatan dianggap tanggung-menanggung, melainkan jika hal itu
dinyatakan secara tegas”.
57 Tergugat Asal I dengan Penggugat Asal ada suatu hubungan hukum. Dengan demikian telah tidak terbukti pula bahwa antara Tergugat asal I dengan Penggugat asal ada perjanjian mengenai bunga. Dari Putusan Mahkamah Agung tanggal 7 Agustus 1975 No. 1114 K/Sip/1972 dapat diketahui dengan jelas bahwa tuntutan bunga harus diperjanjikan dalam perjanjian, tanpa ada diperjanjikan, tuntutan bunga harus ditolak. Dalam perkara a quo, bunga yang dituntut sebagai ganti rugi tersebut tidak diperjanjikan dalam perjanjian L/C dan tuntutan bunga ganti rugi sebesar 13% per tahun bukan merupakan bunga bank sebagaimana lazimnya.
3.9.
Letter of Credit
Surat Kredit Bernilai Tunai
58 hukum bahwa Tergugat asal II mempunyai kekurangan pembayaran kepada Penggugat Asal sejumlah US.$ 169.000,- hingga dengan demikian tuntutan Penggugat asal sepanjang Tergugat Asal II tidak memenuhi kewajibannya kepada Penggugat asal sejumlah US.$ 169.000,- harus dikabulkan. Akan tetapi dalam amarnya, apa yang telah dipertimbangkan itu sama sekali tidak tercantum.
Sewaktu dalam tingkat Banding, terhadap hal tersebut telah diajukan keberatan oleh Tergugat Asal I dalam memori bandingnya, sehingga Pengadilan Tinggi hendak memperbaiki Putusan Pengadilan Negeri tentunya hal tersebut dipertimbangkan. Akan tetapi, kenyataannya hal tersebut tidak dipertimbangkan oleh Pengadilan Tinggi. Andaikata Pengadilan Tinggi hendak mengadili sendiri, menurut Pemohon Kasasi seharusnya Pengadilan Tinggi membatalkan Putusan Pengadilan Negeri lebih dahulu dan kemudian dengan pertimbangannya sendiri memberikan putusannya. Putusan Pengadilan Negeri mengenai ganti rugi dan tanggung renteng adalah tepat. Sehingga, Tergugat Asal I tidak memperoleh lagi dalam memori bandingnya, akan tetapi kenyataannya Pengadilan Tinggi telah meninjau Putusan Pengadilan Negeri yang tidak dibanding itu dan mengubahnya dengan mengabulkan tuntutan Penggugat Asal akan bunga ganti rugi dan tanggung renteng. Sehingga menurut Pemohon Kasasi dalam hal ini Pengadilan Tinggi telah menyimpang dari Putusan Mahkamah Agung tanggal 2 Desember 1975 No.261 K/Sip/1973.
59 masih harus dibayar oleh Tergugat Asal II sebesar US.$ 169.000,-, tetapi dilain pihak menyatakan bahwa Tergugat I telah melakukan perbuatan melanggar hukum dan dihukum untuk membayar kerugian yang diderita Penggugat Asal sebesar US.$ 169.000,- secara tanggung renteng, meskipun Penggugat asal tidak dapat membuktikan bahwa kerugian yang dideritanya itu adalah akibat perbuatan Tergugat Asal I.
Kemudian ternyata pula bahwa Putusan Pengadilan Tinggi telah melanggar Pasal 181 (1) HIR jo. Pasal 184 (1) HIR tentang biaya perkara, yaitu dalam putusannya, Pengadilan Tinggi telah memutuskan bahwa Tergugat Asal I dan II telah melakukan perbuatan melawan hukum dan karenanya menghukum Tergugat Asal I dan II secara tanggung renteng membayar kepada Penggugat asal uang sejumlah US.$ 169.000,- sehingga ini berarti bahwa Tergugat Asal I dan II dinyatakan sebagai pihak yang kalau dan berdasarkan Pasal 181 (1) HIR jo 184 (1) HIR harus dihukum untuk membayar biaya perkara. Akan tetapi kenyataannya dalam amar, yang dihukum untuk membayar biaya perkara hanya Tergugat Asal I. Judex Facti baik dalam proses pemeriksaan dan dalam putusannya terdapat keanehan-keanehan dan ketidaktertiban dalam beracara.
60 Asal tidak dapat membuktikan bahwa kerugian yang dideritanya adalah akibat perbuatan Tergugat Asal I.
Pada waktu putusan diucapkan jelas dinyatakan oleh Majelis Pengadilan Negeri bahwa biaya perkara dibebankan kepada Tergugat Asal II, demikian pula sebagaimana tercantum dalam akta banding, tetapi dalam amar putusan, yang dihukum membayar biaya perkara adalah Tergugat Asal I.
Putusan Pengadilan Tinggi terdapat kontradiksi dan kabur, karena di satu pihak menyatakan bahwa kerugian yang diderita Penggugat Asal adalah karena belum dilunasinya sisa pembayaran L/C oleh Tergugat Asal II dan karena itu tuntutan tersebut dapat dikabulkan. Akan tetapi anehnya Tergugat Asal I juga turut dihukum secara tanggung renteng, meskipun Penggugat asal tidak dapat membuktikan bahwa kerugian yang dideritanya adalah akibat perbuatan Tergugat Asal I. Lebih aneh lagi, menurut Pemohon Kasasi bahwa berkas perkara dikirim oleh Pengadilan Negeri tanggal 21 November 1985, tetapi telah diterima oleh Pengadilan Tinggi pada tanggal 19 November 1985.
3.10. Pertimbangan-pertimbangan Mahkamah Agung
62 salah menerapkan hukum, sebab dalam tingkat banding, perkara diperiksa lagi secara keseluruhan. Tergugat Asal I dan II telah dinyatakan kalah dalam perkara ini, maka Tergugat Asal I dan II harus dihukum untuk membayar ongkos perkara. Pengadilan Tinggi Jakarta tidak salah menerapkan hukum, kecuali mengenai tanggung renteng. Menurut pendapat Mahmakah Agung, cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon kasasi. PT.
Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” tersebut di atas, dan untuk
membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta tanggal 8 Januari 1986. No. 554/PDT/1985/PT. DKI, yang menguatkan dan memperbaiki Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat tanggal 11 September 1985 No. 009/Pdt/G/1985/PN. Jkt. Bar. Sehingga Mahkamah Agung mengadili sendiri dengan amar sepanjang mengenai tanggung renteng dan ongkos perkara bahwa dalam perkara tersebut Pemohon kasasi/ Tergugat Asal I dan Turut Termohon Kasasi/ Tergugat Asal II sebagai pihak yang dikalahkan harus membayar semua biaya perkara, baik yang jatuh dalam tingkat pertama dan tingkat banding, maupun yang jatuh dalam tingkat kasasi, masing-masing separo-separo.
Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang No.14 Tahun 1970 dan Undang-Undang No.14 Tahun 1985 yang bersangkutan Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PT. Perusahaan Pelayaran
Samudera “Samudera Indonesia” tersebut dan membatalkan Putusan Pengadilan
63 tanggung renteng dan ongkos perkara. Mahkamah Agung RI yang mengadili sendiri perkara di tingkat Kasasi itu memutuskan bahwa Menolak Eksepsi Tergugat II. Selanjutnya Mahkamah Agung juga menyatakan sah dan berharga conservatoir beslag yang dilaksanakan oleh Panitera Pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Barat tanggal 29 Januari 1986 No. 009/Pdt/1985/PN. Jkt. Bar atas sebidang tanah beserta dua buah bangunan yang berdiri diatasnya yang terletak di Jalan Let. Jen. S. Parman No.35 (Slipi) Jakarta Barat. Tergugat I dan Tergugat II telah melakukan perbuatan melawan hukum. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II membayar kepada Penggugat secara tunai dan sekaligus, masing-masing setengah bagian dari US.$ 169.000,- atau masing-masing-masing-masing sejumlah US.$ 84.500,- ditambah dengan bunga sebesar 6% setahun dari jumlah tersebut mulai dari gugatan didaftarkan sampai dibayar lunas serta menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya. Mahkamah Agung dalam putusan atas perkara tersebut menghukum Pemohon Kasasi dan Turut Termohon Kasasi untuk membayar biaya perkara, baik yang jatuh dalam tingkat pertama dan tingkat banding maupun yang jatuh dalam tingkat kasasi masing-masing separo-separo dan biaya dalam tingkat kasasi ini ditetapkan sebanyak Rp 20.000,-.
3.11. Analisis
Nemo Dat Rule
dalam Putusan 1887
64 Mining Co. (eksportir), merupakan akibat dari perbuatan PT. Perusahaan
Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” sebagai pengangkut yang telah
menyerahkan 3000 metric ton pupuk tersebut kepada PT. Gespamindo tanpa B/L. Kemudian, 3000 metric ton pupuk tersebut dijual kembali kepada tiga subjek hukum pemesan pupuk yakni PT. Putra Buana, PT. Kapuas Dua Belas dan PT. Sinar Mulia Buana oleh PT. Gespamindo. Disisi lain, PT. Gespamindo terbukti belum melunasi kewajibannya kepada PT. Sejahtera Bank Umum. Adapun nilai total harga pupuk yang harus dilunasi PT. Gespamindo seluruhnya adalah sebesar US $169.000,-. Sehingga hakim mengadili dan memutus perkara dengan menggunakan hukum positif Indonesia yaitu KUHPerdata Pasal 1365 yakni Perbuatan Melawan Hukum (onrechtmatige daat), dan menghukum PT. Gespamindo dan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” bertanggungjawab secara renteng, masing-masing untuk membayar kepada PT. Sejahtera Bank Umum secara tunai dan sekaligus uang sejumlah US $ 84.500,.
Meskipun pada dasarnya Hakim hanya memutuskan sesuai dengan apa yang menjadi gugatan oleh Penggugat, namun putusan akan menjadi lebih bermanfaat dan adil apabila Hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara dalam Putusan 1887 tersebut seharusnya berusaha menemukan kaidah ataupun asas yang sejalan dengan hakikat dari suatu hubungan hukum dan hakikat atau inti dari suatu hubungan hukum yang terletak pada faktor-faktor yang menyebabkan hubungan hukum itu menjadi khas karakteristiknya.
65 Pengadilan Negeri Jakarta Barat No. 009/PDT/1985/PN.JKT.BAR., yaitu putusan tanggal 18 September 1985, menyatakan bahwa PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” telah melakukan perbuatan melawan hukum, yakni dalam kedudukannya sebagai pengangkut dan/atau sebagai agen pelayaran telah menyerahkan barang berupa 3000 metric ton pupuk kepada pihak ketiga tanpa penyerahan B/L. Sehingga penyerahan pupuk tersebut merugikan Penggugat (PT. Sejahtera Bank Umum) sebesar US.$ 169.000,-. Pengadilan juga menghukum PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” untuk membayar dengan tunai dan sekaligus dengan penerimaan surat tanda pembayaran yang sah kepada PT. Sejahtera Bank Umum sebesar US.$ 169.000,-, atau dengan nilai lawan dengan kurs US.$ 1 = Rp. 1.072,- atau kurs yang sedang berlaku pada saat pembayaran dilakukan. Putusan PN Jakarta Barat No. 009/PDT/G/1985/PN. JKT. BAR., di atas memang telah diperbaiki oleh Pengadilan Tinggi Jakarta dengan putusannya tanggal 8 Januari 1986 No. 544/PDT/1985/PT. DKI. Adapun amar Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta itu adalah menguatkan Putusan PN Jakarta Barat tanggal 11 September 1985 No. 009/PDT/G/1985/PN. JKT. BAR., yang dimohonkan Banding ini. Akan tetapi, dengan perbaikan bahwa PT.
Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” dalam kedudukannya
66 renteng untuk membayar kepada PT. Sejahtera Bank Umum secara tunai dan sekaligus uang sejumlah US.$ 169.000,- dengan nilai tukar rupiah pada saat pembayaran dilakukan, ditambah dengan ganti rugi sebesar 6% setahun dari jumlah tersebut mulai dari gugatan didaftarkan sampai dibayar lunas.
Putusan pada tingkat Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang telah dikemukakan diatas menunjukkan bahwa yang menjadi pokok perkara adalah kerugian yang dialami oleh PT. Sejahtera Bank Umum yang disebabkan oleh perbuatan PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” dalam kedudukannya sebagai pengangkut dan/atau sebagai agen pelayaran telah menyerahkan barang berupa 3000 metric ton pupuk kepada pihak PT. Gespamindo tanpa penyerahan B/L. Kemudian oleh PT. Gespamindo 3000 metric ton pupuk tersebut diserahkan kepada PT. Putra Buana, PT. Kapuas Dua Belas dan PT. Sinar Mulia Buana. Disisi lain bahwa PT. Gespamindo belum melunasi kewajibannya kepada PT. Sejahtera Bank Umum. Menurut penulis, apabila diperhatikan perkara tersebut mengandung perbuatan pelanggaran atas asas dan kaidah dalam hukum perdagangan internasional yaitu nemo dat rule. Maka dalam penerapan hukum yang lebih berlaku dalam transaksi, seharusnya akan lebih bermanfaat dan adil apabila Hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut menerapkan asas dan kaidah hukum perdagangan internasional yaitu nemo dat rule.
67 transaksi yang ada dalam Putusan 1887 telah memenuhi karakteristik/ciri-ciri transaksi perdagangan internasional. Adapun karakteristik/ciri-ciri transaksi perdagangan internasional yang dimaksud adalah (1) adanya pergerakan barang ataupun jasa yang berpindah dari suatu negara ke negara lain; (2) kedudukan tempat berusaha para pihak dalam transaksi berada di negara yang berbeda; dan (3) hibrida.
68 dengan memperhatikan jual-beli ekspor (export sales). Transaksi dalam Putusan 1887 jelas memperlihatkan bahwa transaksi yang diadakan merupakan transaksi perdagangan berkarakteristik internasional, sebab jual beli tersebut melibatkan pihak Phosphate Mining Co. yang bertindak sebagai eksportir yang berkedudukan di negara Australia dan PT. Gespamindo yang bertindak sebagai importir yang berkedudukan di negara Indonesia dan melibatkan pergerakan barang berupa pupuk dari negara Australia berpindah ke negara Indonesia.
Analisis demikian memperlihatkan bahwa transaksi ini adalah suatu transaksi perdagangan internasional. Sehingga, seperti yang telah dikemukakan di atas, idealnya apabila transaksi yang ada adalah transaksi perdagangan internasional, maka akan lebih bermanfaat dan adil, hukum yang diterapkan untuk menyelesaikan perkara dalam Putusan 1887 adalah hukum yang mengatur perdagangan internasional. Seperti yang telah beberapa kali dikemukakan oleh Penulis bahwa asas dan kaidah yang dimaksud adalah nemo dat rule.
Nemo dat rule pada hakikatnya suatu kontrak tersebut, apabila dipergunakan oleh para Hakim yang memeriksa perkara dalam Putusan 1887 itu maka Putusan 1887 itu akan menjadi suatu penemuan hukum yang lebih berkualitas. Hal itu akan terlihat seperti analisis berikut di bawah ini:
69 pemuatan pupuk di Australia yang bisa dibaca dalam Putusan 1887 dilakukan dengan cara memuat barang-barang (subject-matter of the contract) atau obyek perjanjian berupa pupuk di atas premis atau kapal milik dari pihak PT. Perusahaan
Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” sesungguhnya adalah penyerahan dari
orang atau pihak (the party to contract) berhak atas barang yang dijual. Tidak dapat disangkal lagi, bahwa 3000 metric ton pupuk yang dimuat di atas Kapal PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” itu adalah Pupuk milik Phosphate Mining Co. di Australia, suatu subyek hukum berkebangsaan Australia. Sehingga dapat dikatakan bahwa di sini, nemo dat rule juga berdimensi internasional mengingat asas atau kaedah hukum itu dalam Putusan 1887 mengatur suatu transaksi yang berdimensi internasional.
Hanya saja, penguasaan (possesion) pihak PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” atas 3000 metric ton pupuk, mengingat pupuk itu tidak terelakan berada di atas Kapal milik atau dalam penguasaan PT.
Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia”, dalam perspektif nemo
dat rule, tidak dapat dikatakan sebagai suatu penguasaan barang yang memenuhi syarat sebagai seorang pemilik, namun seperti telah dikemukakan dalam Bab II hal tersebut adalah agency yang bersifat apparent. Itu berarti bahwa penerbitan B/L oleh PT. Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” itu, apabila B/L berfungsi sebagai tanda terima penyerahan barang dari Phospate Minging Co. kepada Bank yang membayar, dilakukan oleh PT. Perusahaan Pelayaran
Samudera “Samudera Indonesia” atas nama (on behalf of) pihak yang membayar
70 dipastikan seharusnya adalah the Chartered Bank di Jakarta, dan bukan PT. Sejahtera Bank Umum. Hanya saja, Penulis perlu kemukakan di sini bahwa sangat disayangkan, bahwa the Chartered Bank di Jakarta itu tidak menjadi pihak dalam Putusan 1887 sama sekali. Bisa jadi, PT. Sejahtera Bank Umum telah melunasi docummentary credit dari tangan the Chartered Bank di Jakarta. Sehingga dari perspektif nemo dat rule, sudah cukuplah untuk dapat dikatakan bahwa sesungguhnya PT. Sejahtera Bank Umum sudah dapat menjadi pemilik dari 3000 metric ton pupuk tersebut, meskipun dalam kenyataanya bank tidak berurusan dengan barang namun hanya berurusan dengan dokumen dalam suatu transaksi seperti pembayaran internasional yang terjadi dalam Putusan 1887 itu.
Kedua, dari perspektif nemo dat rule, merujuk kepada analisis pertama yang baru saja Penulis kemukakan di atas, maka dapat dibenarkan apabila para hakim menganggap bahwa barang, dalam hal ini 3000 metric ton pupuk itu sebetulnya sudah menjadi milik dari PT. Sejahtera Bank Umum. Dengan demikian bahwa hanya PT. Sejahtera Bank Umum yang bebas berbuat apapun terhadap 3000 metric ton pupuk tersebut termasuk mengalihkan kepemilikan pupuk tersebut. Sehingga penguasaan atas barang-barang itu oleh PT. Perusahaan Pelayaran
Samudera “Samudera Indonesia” sejatinya adalah penguasaan berdasarkan
71
“Samudera Indonesia” kepada ketiga pemesan itu, hanya berdasarkan perintah
dari PT. Gespamindo adalah pelanggaran terhadap nemo dat rule, dalam pengertian seseorang tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan miliknya. PT. Gespamindo seharusnya di mata para Hakim Agung yang mengadili dalam Putusan 1887 haruslah dilihat telah melakukan pelanggaran terhadap asas yang berdimensi hukum perdagangan internasional (lex mercatoria), tidak semata-mata hanya menerapkan Pasal 1365 KUHPerdata yaitu perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) yang sudah dinyatakan oleh para Hakim itu dalam Putusan 1887.
Ketiga, analisis juga perlu diarahkan kepada perpindahan barang dari PT.
Perusahaan Pelayaran Samudera “Samudera Indonesia” yang pada galibnya
72 menurut Penulis, telah menguasai pupuk itu secara bonafit (bona fide) atau beriktikad baik (in good faith).