Motif Masyarakat Pembaca Tabloid POSMO ( Studi Deskriptif Motif Masyarakat Surabaya Membaca Tabloid Posmo).

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh Gelar Sarjana pada FISIP UPN : “Veteran” Jawa Timur

Oleh :

M. Imam Muklas NPM : 0643010395

YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGDI ILMU KOMUNIKASI JAWA TIMUR

(2)

Nama : M. Imam Muklas

NPM : 0643010395

Progdi : Ilmu Komunikasi

Fakultas : Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Telah Disetujui Untuk Mengikuti Ujian Skripsi Menyetujui,

Pembimbing Utama

Ir. H. Didiek Tranggono, MSi NIP. 195812251990011001

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

(3)

pemberi nafas hidup pada seluruh makhluk. Hanya kepadaNya-lah syukur dipanjatkan atas selesainya skripsi ini. Sejujurnya penulis akui bahwa pendapat sulit ada benarnya, tetapi faktor kesulitan itu lebih banyak datang dari diri

karena itu, kebanggaan penulis bukanlah pada selesainya skripsi ini melainkan kemenangan dicapai tidak lepas dari bantuan berbagai pihak selama proses

penyelesaian skripsi ini.

Keberhasilan dalam penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis

sampaikan kepada Bapak Ir. H. Didiek Tranggono, MSi selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan perhatian untuk memberikan bimbingan, pengarahan dan masukan yang berarti kepada penulis selama masa

penyusunan skripsi ini. Selain itu penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang turut mendukung tersusunnya skripsi ini, antara

lain:

1. Bapak Prof. DR. Ir. Teguh Soedarto, MP Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Ibu Dra. Ec.Hj. Suparwati, MSi Dekan Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik UPN “Veteran” Jawa Timur.

(4)

5. Bapak dan Ibu beserta keluarga yang selalu berdoa untuk kesuksesan Penulis dalam meraih cita-cita.

6. Terakhir namun sangat berarti bagi penulis, ucapan terima kasih kepada

teman angkatan 2005 Progdi Ilmu Komunikasi.

Sungguh penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna dan

penuh keterbatasan. Dengan harapan bahwa skripsi ini akan berguna bagi rekan-rekan di Progdi Ilmu Komunikasi, maka saran serta kritik yang membangun sangatlah dibutuhkan untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Surabaya, Maret 2011

(5)

HALAMAN JUDUL……….. i

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI …………... Ii HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI …… iii

KATA PENGANTAR ………. Iv

2.1.3 Teori Kebutuhan Terhadap Media Massa... 10

2.1.4. Pengertian Motif... 13

2.1.5. Model Uses and Gratifications... 15

2.1.6. Isi Tabloit Posmo ... 18

2.1.7. Pembaca Tabloit Sebagai Khalayak Aktif media Massa ... 21

(6)

3.1.1. Motif... 26

3.2 Populasi, Sampel, dan Metode Penarikan Sampel... 33

3.2.1 Populasi... 33

3.2.2. Sampel dan Teknik Penarikan Sampel... 34

3.3. Teknik Pengumpulan Data... 36

3.4. Teknik Analisis Data... 36

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 37

4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian ... 37

4.1.1 Tabloit Posmo ... 37

4.2 Penyajian Data dan Analisis Data ... 41

4.2.1 Identitas Responden ... 41

4.2.2 Motif Responden Pembaca Tabloit Posmo ... 47

4.2.2.1 Motif kognitif 47 4.2.2.2 Motif diversi 55

4.2.2.3 Motif Identitas Personal 60 4.2.3 Motif responden keseluruhan dalam membaca tabloid Posmo 66 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 67

5.1 Kesimpulan ... 67

5.2 Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 70

(7)
(8)

Tabel 2. Jenis Kelamin Responden……… 35

Tabel 3. Pendidikan Responden... 36

Tabel 4. Pernah membaca tabloid POSMO... 37

Tabel 5. Frekuensi membaca tabloid Posmo dalam satu bulan... 38

Tabel 6. Memperoleh informasi mengenai fenomena, peristiwa maupun kejadian di lihat dari sudut pandang mistik maupun klenik... 39 Tabel 7. Mengetahui siapa dan bagaimana fenomena atau peristiwa kejadian di lihat dari sudut pandang mistik maupun klenik... 40

Tabel 8. Mengetahui segala informasi keperluan untuk cari jodoh, cari penglarisan, agar naik kelas, agar disegani orang, ingin cepat punya anak, sembuh dari penyakit, banyak rejeki, naik jabatan, bahkan sampai hal yang negatif dan merusak seperti santet, tenung, gendam... 41 Tabel 9. Mempercayai segala informasi fenomena atau peristiwa kejadian di lihat dari sudut pandang mistik maupun klenik... 42

Tabel 10. Skor motif kognitif responden... 50

Tabel 11. Membaca tabloid Posmo hanya sebagai hiburan saja... 52

Tabel 12. Membaca tabloid Posmo hanya sekedar mengisi waktu luang 53 Tabel 13. Membaca tabloid Posmo saya dapat melepaskan diri dari kejenuhan dalam melakukan aktivitas sehari-hari... 54

Tabel 14. Membaca tabloid Posmo saya dapat pencerahan dalam menyelesaikan masalah-masalah pribadi saya... 55

Tabel 15. Skor motif diversi responden... 56

(9)
(10)
(11)

Deskriptif Motif Masyarakat Surabaya Membaca Tabloid Posmo)

Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana motif masyarakat Surabaya pembaca tabloid Posmo. Tabloid posmo merupakan tabloid khusus yang membahas berbagai hal mengenai klenik. Tabloid posmo mengupas berbagai hal, fenomena, peristiwa maupun kejadian di liat dari sudut pandang mistik maupun klenik. Tabloid posmo berisikan kolom kontak batin, off print, majelis gaib posmo, laput, sufi, pakuwon, alternatif, lapsus, horoskop, bali, muhibah, serat, pasugihan, kejawen, pakeliran, meditasi, pasundan dan iklan. Dari penelitian ini dapat diketahui bagaimana motif masyarakat Surabaya dengan indikator tinggi, sedang dan rendah terhadap tabloid Posmo.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah model uses and gratifications menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak. pengklasifikasian motif digunakan kategori motif Blumler yaitu :Motif Cognitif (kebutuhan akan informasi) Motif Diversi (hiburan), Motif Identititas Personal (Personal Identity)

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah masyarakat Surabaya yang pernah membaca tabloid Posmo dengan batasan usia responden adalah 30 tahun sampai 70 tahun Teknik sampling dalam penelitian ini adalah teknik non probability sampling yaitu purposive sampling. Orang yang menjadi sampel dalam penelitian diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu berdasarkan tujuan penelitian.

(12)

1. Latar Belakang Masalah

Salah satu kebutuhan yang cukup penting bagi masyarakat adalah kebutuhan akan informasi. Pada umumnya masyarakat selalu mencari

informasi yang dianggapnya perlu untuk mereka ketahui. Masyarakat dapat mengikuti peristiwa-peristiwa yang terjadi disekitarnya maupun ditempat lain

melalui informasi yang diperolehnya. Melalui informasi masyarakat dapat memperluas pandangan dan wawasan, serta dapat meningkatkan kedudukan dan peranannya dalam strata sosial di masyarakat. Peristiwa-peristiwa atau

informasi yang terjadi disekitarnya tersebut dapat diketahui melalui media massa seperti media cetak. Kehidupan media cetak juga ditentukan oleh kondisi dimana media cetak tersebut muncul, yakni adanya sistem politik,

sistem kekuasaan, serta kultur kekuasaan. Dari sisi lain sesuai dengan sifat media yang selalu kenyal dan dinamis, media cetak di Indonesia berkembang

dengan segala sisinya. Selain mengikuti waktu periodik terbitnya setiap pagi atau petang, sebagai media harian, mingguan atau bulanan dan sesekali menerbitkan edisi khusus. Pengaruh unsur khalayak dalam media cetak juga

sangat penting. Segala upaya penerbitan media cetak, sejatinya tertuju pada pemenuhan kebutuhan dan kepentingan publik. Media cetak melakukan

(13)

psikologi pembaca. Psikologi disini tertuju pada dorongan hati, selera,

kepuasan, mimpi, popularitas, kehidupan modern, kesulitan hidup.

Usaha media cetak untuk mempertahankan dan menjaring pembaca

mengindikasikan adanya khalayak yang beragam, khalayak pembaca biasanya teralokasi ke spesifikasi kelompok publik tertentu. Khalayak media cetak mempunyai banyak keragaman jenis dan karakteristik, karena media cetak kini

sudah demikian penting bagi hidup bermasyarakat. Maka kerap yang dimaksud khalayak media adalah menyangkut suatu populasi yang luas, namun kini

khalayak massa itu berpilah kedalam penggolongan khalayak tertentu (a specialized audience). Hal ini mengakibatkan perlunya membedakan antara

khalayak dari sebuah media massa dengan khalayak berita dari sebuah media

khusus sifat penerbitannya. (Santana,2005:211)

Media massa cetak memiliki keunggulan dalam hal informasi yang

disajikan, salah satunya bentuk tulisan yang dapat mudah dipahami karena dapat dibaca berulang-ulang sehingga berita atau pesan yang disampaikan dapat dimengerti, selain informasi yang dikemas dalam bentuk tulisan juga

sangat mudah didokumentasikan. Dalam hal ini media massa cetak yang diambil oleh peneliti adalah media cetak yang berbentuk tabloid. Tabloid

(14)

mingguan, dwimingguan) yang terfokus pada hal-hal yang lebih “tidak serius”,

terutama masalah selebritas, olah raga, kriminal maupun masalah budaya. Salah satu tabloid yang terbit di Indonesia adalah tabloid Posmo,

dengan slogan “membuka mata batin”. Tabloid posmo diterbitkan oleh

PT. Ubede Media Ahiwarta Surabaya, dengan Surat ijin (SIUPP) no; 1142/SK/Menpen/SIUPP/199 tanggal 31 Maret 1999. Tabloid posmo

merupakan tabloid khusus yang membahas berbagai hal mengenai klenik. Tabloid posmo didistribusikan di pulau jawa maupun di luar pulau jawa.

Tabloid posmo mengupas berbagai hal, fenomena, peristiwa maupun kejadian di liat dari sudut pandang mistik maupun klenik. Tabloid posmo berisikan kolom kontak batin, off print, majelis gaib posmo, laput, sufi, pakuwon,

alternatif, lapsus, horoskop, bali, muhibah, serat, pasugihan, kejawen, pakeliran, meditasi, pasundan dan iklan. (Posmo,2010:edisi 609)

Relevansi isi tabloid posmo dengan masyarakat secara umum bahwa

posmo (post modernisme) didefinisikan sebagai suatu pemikiran/filosofi yang menisbikan segala kebenaran, tidak ada kebenaran mutlak. Semua relatif,

tergantung siapa yang mengintrepretasikan kebenaran. Konsekuensi posmo yang merelatifkan kebenaran adalah bentuk-bentuk spiritualisme yang bersifat panteistik. Masyarakat Indonesia adalah salah satu negara yang mempercayai

klenik. Di semua tempat selalu ada orang maupun benda atau makhluk apapun itu yang jadi tujuan orang-orang untuk meminta sesuatu. Mulai dari

(15)

benda-benda bertuah. Klenik yang bisa diartikan mempercayai suatu kekuatan di luar

kuasa manusia yang diwujudkan dalam bentuk benda-benda atau hapalan-hapalan, termasuk juga di dalamnya santet, susuk, jimat-jimat. Klenik adalah

bagian dari syirik yang sifatnya bisa samar, maupun terang. Masyarakat Indonesia telah begitu terbiasa dengan perilaku ini, mulai dari rakyat kecil sampai pejabat, pengusaha dan politikus juga melakukannya. Mulai dari

keperluan untuk cari jodoh, cari penglarisan, agar naik kelas, agar disegani orang, ingin cepat punya anak, sembuh dari penyakit, banyak rejeki, naik

jabatan, bahkan sampai hal yang negatif dan merusak seperti santet, tenung, gendam. Seolah masyarakat tidak bisa hidup bila tidak melakukan klenik.

Klenik pada dasarnya tidak bisa dinalar dengan logika. Klenik bekerja

berdasarkan salah satu atau gabungan dari sugesti, adanya pihak ketiga dan faktor nasib. (http://www.henriwiratsongko.co.cc/2009/01/perilaku-klenik-politikus.html)

Dalam terbitannya, tabloid posmo lebih mengembangkan cerita human interest. Khalayak pembaca diajak mengenali persoalan dengan ringan,

mengalir dan tidak rumit. Tiap soal menjelaskan melalui peristiwa. Peristiwa demi peristiwa yang menjalin kisah yang membingkai tema besar kemanusiaan. Human interest berarti berbagai hal yang terkait dengan

ketertarikan dan minat orang-seorang. Kisah-kisah human interest bisa menyangkut tentang people dan things, orang-orang dan pikirannya.

(16)

kisah-kisah tentang pikiran orang. Terlebih kisah-kisah tentang orang-seorang itu lebih

disukai yang bersifat tidak biasa dibanding yang lazim terjadi. Akan tetapi, ketidak biasaan orang itu bukan hal yang utama. Pada hakikatnya bukan people

atau orang-seorang yang diburu, tapi ketidakbiasaan peristiwa itu penting, segala sesuatu yang menyangkut orang ialah sesuatu yang hidup titik berat terletak pada peristiwa-peristiwa hidup. Ketidakbiasaan peristiwa merupakan

penarik cerita berikutnya. Kisah-kisah feature tidak muncul dari tempat yang bersifat formal. Cerita bersifat human interest tidak terjadi di tempat yang

sudah solid kejadiannya. Kisah human interest tidak terdeteksi pola dan rincian kejadiannya. (Santana, 2005:35-37)

Dalam hubungannya dengan penggunaan media massa termasuk di

dalamnya tabloid posmo, tentu saja tidak terlepas dari adanya kebutuhan serta dorongan yang timbul dan berkembang dalam diri individu sehingga seseorang

menggunakan tabloid posmo sebagai sumber informasinya. Dorongan inilah yang sering disebut motif, tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempertahankan eksistensinya. (Effendi, 1984 : 45). Kebutuhan yang

terkait dengan munculnya motif seseorang dalam membaca media massa cetak dibagi menjadi 3, yaitu kebutuhan kognitif (kebutuhan akan informasi),

(17)

Adanya kebutuhan untuk membaca tabloid posmo, sebagai jawaban

dari adanya motif membaca. Kebutuhan inilah yang mendorong individu untuk bersikap dan bahkan berperilaku. Namun kebutuhan pada setiap individu

tidaklah sama, kebutuhan yang tidak sama ini sesuai dengan keingintahuan individu tersebut yang tumbuh sejalan dengan tingkat perkembangannya. Dengan adanya kebutuhan tersebut, maka peneliti akan tahu apa yang

mendasari pembaca dalam membaca tabloid posmo, dimana motif merupakan dorongan, keinginan, hasrat, dan tenaga penggerak yang berasal dari dalam diri

individu dalam melakukan sesuatu.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana motif masyarakat tentang tabloid posmo tersebut.

Beberapa hal yang menjadi latar belakang penelitian salah satunya bahwa tabloid posmo telah sampai pada tahun ke 11 dalam terbitannya dan telah

mencapai edisi 609 maka dapat diasumsikan bahwa tabloid posmo banyak di konsumsi masyarakat sebagai media informasi yang menarik. Jaringan distribusi yang tersebar diseluruh pelosok nusantara menjadikan tabloid posmo

mempunyai distribusi meliputi pulau jawa dan luar pulau jawa. Masyarakat dalam penelitian ini adalah masyarakat surabaya yang membaca tabloid posmo

(18)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Bagaimana motif masyarakat

Surabaya membaca Tabloid Posmo”.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motif masyarakat Surabaya dalam membaca tabloid Posmo.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Kegunaan teoritis yaitu :

a. Menerapkan teori komunikasi massa mengenai motif

pembaca dalam membaca tabloid.

b. Sebagai bahan acuan serta menambah referensi perpustakaan khususnya ilmu komunikasi kepada

peneliti yang lain.

2. Kegunaan praktis yaitu penelitian ini diharapkan memberikan

masukan tentang minat pembaca terhadap tabloid dimana pembaca selalu mencari informasi apapun yang sedang terjadi di

(19)

2.1. Landasan Teori

2.1.1 Sifat Berita

Dalam setiap pesannya, pelaporan jurnalisme mesti membawa muatan

fakta. Setiap keping informasi mengimplikasikan realitas peristiwa

kemasyarakatan. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk penafsiran

subyektif, yang tak berkaitan dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat.

Berita bersifat stabil dan bisa diperkirakan. Sifat stable dan predictable, terkait

dengan standarisasi pesan. Tiap bahasa berita punya ciri yang dikenali

masyarakat, acuan simboliknya diketahui. Tiap media memiliki pedoman untuk

menyampaikan pemberitaan. Setiap pesan jurnalistik bersifat massal, bahasa

berita ialah bahasa komoditas yang memiliki nilai tukar simbolik dan ekonomi.

Nilai tukar simboliknya mengacu kepada unsur-unsur “component of the story”.

Sifat berita adalah sebagai berikut; (a) Akurat, keakurasian adalah ketepatan dan

kepastian mencatat: pertanyaan, nama, waktu, umur, kutipan, kata definitif, atau

ekspresi kalimat dan seterusnya. (b) Seimbang (balanced), ialah keseimbangan

dalam meletakkan perhatian, kelengkapan data, penekanan, perhubungan dengan

kehidupan sosial serta perluasan kepentingannya kepada sejumlah khalayak. Agar

pembaca dapat mengkontruksi kembali peristiwa-berita secara netral. (c)

(20)

yang mengandung opini dan sifat emosional. (d) Ringkas dan Jelas, ialah

mengupayakan sajian pemberitaan secara ringkas, jelas dan sederhana; melalui

gaya penulisan yang langsung, pendek, tepat, dan koheren dan menghindari frase

klise, diksi sembrono dan kedangkalan. (e) Aktual, ialah soal “kehangatan”

waktu-peristiwa mengikuti dinamika perubahan peristiwa yang terjadi dan harus

dilaporkan kepada khalayak.

2.1.2 Nilai Berita

Nilai berita (news values), menurut Downie Jr Dan Kaiser dalam Santana,

merupakan istilah yang tidak mudah didefinisikan. Istilah ini meliputi segala

sesuatu yang tidak mudah di konsepsikan. Ketinggian nilainya tidak mudah untuk

dikonkretkan. Nilai berita juga menjadi tambahan rumit bila dikaitkan dengan

sulitnya membuat konsep apa yang disebut berita. Maka, elemen-elemen nilai

berita ialah; a) Immediacy, immediacy kerap diistilahkan dengan timelines.

Artinya terkait dengan kesegeraan peristiwa yang dilaporkan. b) Proximity,

khalayak berita akan tertarik dengan berbagai peristiwa yang terjadi didekatnya.

Proximity ialah keterdekatan peristiwa dengan pembaca atau pemirsa dalam

keseharian hidup mereka. c) Consequence, berita yang mengubah kehidupan

pembaca adalah berita yang mengandung nilai konsekuensi. d) Conflict,

perseteruan antar individu, antar tim atau kelompok, sampai antar negara

merupakan elemen-elemen natural dari berita-berita yang mengandung konflik. e)

(21)

segera oleh masyarakat. f) Sex, kerap sex menjadi satu elemen utama dari sebuah

pemberitaan. Tapi sex sering pula menjadi elemen tambahan bagi pemberitaan

tertentu. g) Emotion, elemen emotion ini kadang dinamakan dengan elemen

human interest. Elemen ini menyangkut kisah-kisah yang mengandung kesedihan,

kemarahan, simpati, ambisi, cinta, kebencian, kebahagian atau humor. h)

Prominance, elemen ini adalah unsur yang menjadi dasar istilah “names make

news” nama membuat berita. i) Suspense, elemen ini menunjukkan sesuatu yang

ditunggu-tunggu, terhadap sebuah peristiwa oleh masyarakat. j) Progress, elemen

ini merupakan elemen perkembangan peristiwa yang ditunggu masyarakat.

2.1.3. Teori Kebutuhan Terhadap Media Massa

Kebutuhan melalui media massa dipenuhi melalui surat kabar,

majalah, radio, televisi, dan film, baik dalam isinya maupun melalui daya

terpaannya (exposure) serta konteks sosial tempat dimana terpaan

berlangsung.

Secara umum Katz Gueviricht dan Haas (Effendy,1993:294)

berkeyakinan terhadap tipologi kebutuhan manusia yang berkaitan dengan

media yang diklasifikasikan dalam lima kelompok, yaitu :

a. Kebutuhan Kognitif

Yaitu kebutuhan–kebutuhan yang berkaitan dengan usaha–usaha untuk

memperkuat informasi, pengetahuan, serta pengertian tentang

(22)

mengerti dan menguasai lingkungan. Kebutuhan kognitif juga dapat

dipenuhi oleh adanya dorongan–dorongan seperti keingintahuan

(curiosity) dan penjelajahan (explaratory) pada diri kita.

b. Kebutuhan Afektif

Yaitu kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan usaha–usaha

untuk memperkuat pengalaman-pengalaman yang bersifat keindahan,

kesenangan dan emosional. Mencari kesenangan dan hiburan

merupakan motivasi yang pada umumnya dapat dipenuhi oleh media.

c. Kebutuhan Integratif Personal

Yaitu kebutuhan-kebutuhan yang berhubungan dengan usaha–usaha

untuk memperkuat kepercayaan, kesetiaan dan status pribadi.

Kebutuhan seperti ini dapat diperoleh dari adanya keinginan setiap

individu untuk meningkatkan harga diri.

d. Kebutuhan Integratif Sosial

Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk

memperkuat kontak dengan keluarga, teman-teman dan dengan alam

sekelilingnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut didasarkan oleh adanya

keinginan setiap individu untuk berafiliasi.

e. Kebutuhan Akan Pelarian

Yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan hasrat untuk melarikan diri

(23)

Dan pada pendapat McQuail (2002:72) terhadap tipologi kebutuhan

manusia yang berkaitan dengan media yang diklasifikasikan dalam 4 kelompok

sebagai berikut :

1. Motif Kognitif

Kebutuhan akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat

tertentu yang diinginkan, yang terdiri dari :

a. Mencari berita tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan

lingkungan terdekat, masyarakat dan dunia.

b. Mencari bimbingan menyangkut berbagai masalah praktis, pendapat

dan hal-hal yang berkaitan dengan penentuan pilihan.

c. Memuaskan rasa ingin tahu dan minat umum.

d. Keinginan untuk belajar (pendidikan terhadap diri sendiri).

2. Motif Identitas Pribadi (Personal Identity)

Kebutuhan menggunakan isi media untuk memperkuat atau

menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan atau situasi

khlayak sendiri, yang terdiri dari :

a. Menemukan penunjang nilai-nilai pribadi.

b. Menemukan model perilaku, panutan atau figur untuk dicontoh.

c. Mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media).

d. Meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri.

3. Motif Integrasi dan Interaksi Sosial (Personal Relationships)

(24)

a. Memperoleh pengetahuan tentang keadaan orang lain; empati social.

b. Menemukan bahan percakapan dan interaksi sosial.

c. Memperoleh teman selain dari manusia (media).

d. Memungkinkan individu untuk dapat menghubungi sanak-keluarga,

teman, dan masyarakat.

4. Motif Hiburan (Diversi)

Kebutuhan akan pelepasan dari tekanan dan kebutuhan akan hiburan,

yang terdiri dari:

a. Melepaskan diri atau terpisah dari permasalahan.

b. Bersantai.

c. Memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis.

d. Mengisi waktu.

2.1.4. Pengertian Motif

Dalam melakukan suatu tindakan atau perbuatan pasti didasarkan pada

motif–motif tertentu. Pengertian motif tidak dapat dipisahkan daripada kebutuhan

(need). Seseorang atau suatu organisme yang berbuat atau melakukan sesuatu,

sedikit banyak adanya kebutuhan di dalam dirinya atau ada sesuatu yang hendak

dicapai.

Motif menurut W. A Gerungan adalah :

“Motif merupakan suatu pengertian yang

(25)

dorongan–dorongan dalam diri manusia yang

menyababkan individu berbuat sesuatu. Motif

manusia merupakan dorongan, keinginan, hasrat,

dan tenaga penggerak lainnya yang berasal dari

dirinya, untuk melakukan sesuatu. Motif–motif itu

memberikan tujuan dan arah kepada tingkah laku

kita”. (Gerungan, 1991 : 140).

Menurut Teevan dan Smith mengatakan bahwa motivasi

merupakan konstruksi yang mengaktifkan perilaku, sedangkan komponen

yang lebih spesifik dari motivasi yang berhubungan dengan tipe perilaku

tertentu disebut motif. Selanjutnya mereka berpendapat bahwa motif

mempunyai dua fungsi, yaitu memberi daya untuk menggerakkan perilaku

dan fungsi yang lain adalah menggerakkan perilaku. Sedangkan menurut

Purwanto motif adalah sebagai seluruh aktifitas mental yang dirasakan

atau dialami yang memberikan kondisi sehingga terjadi suatu perilaku.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya motif

itu timbul karena adanya kebutuhan, atau dengan kata lain motif

merupakan ciri dari kebutuhan, dan berfungsi menggerakkan serta

mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan tertentu.

Ada beberapa pengklasifikasian motif dari berbagai ahli

komunikasi, tetapi dalam penelitian ini digunakan kategori motif Blumler

(26)

1. Motif Kognitif (kebutuhan akan informasi)

Motif ini berkenaan dengan individu untuk mencari berita atau

informasi tentang peristiwa atau kondisi yang berkaitan dengan

lingkungan terdekat, masyarakat dan dunia, dorongan mencari

konfirmasi untuk menentukan pendapat suatu pilihan. Dorongan rasa

ingin tahu, dorongan belajar serta dorongan untuk memperoleh rasa

aman melalui pengetahuan yang didapat.

2. Motif Diversi (hiburan)

Motif ini berkenaan dengan dorongan individu untuk melepaskan diri

dari permasalahan atau ketegangan, dorongan bersantai, memperoleh

kenikmatan jiwa dan penyaluran emosi.

3. Motif Identititas Personal (Personal Identity)

Motif ini berkenaan dengan dorongan individu untuk memperkuat atau

menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan atau situasi

khalayak sendiri menemukan model perilaku diri dengan nilai-nilai,

meningkatkan harga diri, dan meningkatkan pemahaman diri.

2.1.5. Model Uses and Gratifications

Model Uses and Gratifications menunjukkan bahwa yang menjadi

permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku

khalayak, tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial

(27)

media untuk mencapai tujuan khusus (Effendy, 2003 : 289). Dalam pengertian ini

tersirat pengertian bahwa komunikasi berguna (utility), bahwa konsumsi media

diarahkan oleh motif (itentionality), bahwa perilaku media mencerminkan

kepentingan dan preferensi (selectivity), dan bahwa khalayak sebenarnya kepala

batu (stubborn). (Rakhmat, 1999 : 65). Sedangkan asumsi dasar dari model ini

adalah :

1. Khalayak dianggap aktif, artinya sebagian penting dari penggunaan

media massa diasumsikan mempunyai tujuan.

2. Dalam proses komunikasi massa banyak inisiatif untuk nmengaitkan

pemuasan kebutuhan dengan pemilihan media terletak pada anggota

khalayak.

3. Media massa harus bersaing dengan sumber–sumber lain yang

memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan yang dipenuhi media hanyalah

bagian dari rentangan kebutuhan yang lebih luas. Bagaimana

kebutuhan ini terpenuhi melalui konsumsi media amat tergantung

kepada perilaku khalayak yang bersangkutan.

4. Banyak pemilih media massa disimpulkan dari data yang diberikan

anggota khalayak artinya, orang dianggap cukup mengerti untuk

melaporkan kepentingan dan motif pada situasi–situasi tertentu.

5. Penilaian tentang arti cultural dari media massa harus ditangguhkan

(28)

Dengan model ini yang diteliti ialah (1) sumber sosial dan psikologis dari

(2) kebutuhan, yang melahirkan (3) harapan-harapan dari (4) media massa atau

sumber-sumber yang lain, yang menyebabkan (5) perbedaan pola terpaan media

(atau keterlibatan dalam kegiatan lain), dan menghasilkan (6) pemenuhan

kebutuhan dan (7) akibat-akibat lain, bahkan seringkali akibat–akibat yang tidak

dikehendaki (Rakhmat, 1999 : 65).

Untuk lebih jelasnya Model Uses and Gratifications dalam Rakhmat

(1999: 66) digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. Model Uses And Gratifications

Asumsi dari teori ini adalah khalayak yang aktif yang sengaja

menggunakan media karena didorong oleh motif-motif tertentu untuk mencapai

tujuan khusus. Pembaca dalam membaca tabloid Posmo karena ingin memenuhi

kebutuhannya akan informasi, hiburan, dan identitas personal, dikarenakan tabloid

Posmo berisikan kolom kontak batin, off print, majelis gaib posmo, laput, sufi, Anteseden Motif Penggunaan Media Efek

1. Variabel 1. Personal 1. Hubungan 1.Kepuasan

Individual 2. Diversi 2. Jenis Isi 2. Pengetahuan 2. Variabel 3. Identitas 3. Hubungan 3. Kepuasan

(29)

pakuwon, alternatif, lapsus, horoskop, bali, muhibah, serat, pasugihan, kejawen,

pakeliran, meditasi, pasundan dan iklan

Pembaca tabloid Posmo juga ingin memenuhi kebutuhannya untuk

menggunakan isi media guna memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting

dalam kehidupan/situasi khalayak sendiri misalnya, dengan membaca tabloid

Posmo maka para pembaca dapat saling bertukar informasi dengan teman-teman

di lingkungan sekitarnya.

Jadi jelaslah individu menggunakan media massa karena didorong oleh

motif-motif tertentu. Artinya, individu mencari pemuasan sejumlah kebutuhan

dari penggunaan media karena didorong oleh sejumlah motif yang

mempengaruhinya. Ada berbagai kebutuhan yang dapat dipuaskan oleh media

massa. Kita ingin mencari kesenangan, media massa dapat dapat memberikan

hiburan. Kita mengalami goncangan batin, media massa memberikan kesempatan

untuk melarikan diri dari kenyataan. Kita kesepian dan media massa juga dapat

berfungsi sebagai sahabat. (Rakhmat, 1999 : 207)

2.1.6. Isi Tabloid Posmo

Tabloid posmo merupakan tabloid khusus yang membahas berbagai hal

mengenai klenik. Tabloid posmo didistribusikan di pulau jawa maupun di luar pulau jawa. Tabloid posmo mengupas berbagai hal, fenomena, peristiwa maupun

(30)

meditasi, pasundan dan iklan. (Posmo,2010:edisi 609)

Relevansi isi tabloid posmo dengan masyarakat secara umum bahwa

posmo (post modernisme) didefinisikan sebagai suatu pemikiran/filosofi yang menisbikan segala kebenaran, tidak ada kebenaran mutlak. Semua relatif, tergantung siapa yang mengintrepretasikan kebenaran. Konsekuensi posmo yang

merelatifkan kebenaran adalah bentuk-bentuk spiritualisme yang bersifat panteistik. Masyarakat Indonesia adalah salah satu negara yang mempercayai

klenik. Di semua tempat selalu ada orang maupun benda atau makhluk apapun itu yang jadi tujuan orang-orang untuk meminta sesuatu. Mulai dari paranormal, buku-buku primbon, tempat-tempat yang dikeramatkan, benda-benda bertuah.

Klenik yang bisa diartikan mempercayai suatu kekuatan di luar kuasa manusia yang diwujudkan dalam bentuk benda-benda atau hapalan-hapalan, termasuk juga di dalamnya santet, susuk, jimat-jimat. Klenik adalah bagian dari syirik yang

sifatnya bisa samar, maupun terang. Masyarakat Indonesia telah begitu terbiasa dengan perilaku ini, mulai dari rakyat kecil sampai pejabat, pengusaha dan

politikus juga melakukannya. Mulai dari keperluan untuk cari jodoh, cari penglarisan, agar naik kelas, agar disegani orang, ingin cepat punya anak, sembuh

dari penyakit, banyak rejeki, naik jabatan, bahkan sampai hal yang negatif dan

merusak seperti santet, tenung, gendam. Seolah masyarakat tidak bisa hidup bila tidak melakukan klenik. Klenik pada dasarnya tidak bisa dinalar dengan logika.

(31)

ringan, mengalir dan tidak rumit. Tiap soal menjelaskan melalui peristiwa. Peristiwa demi peristiwa yang menjalin kisah yang membingkai tema besar

kemanusiaan. Human interest berarti berbagai hal yang terkait dengan ketertarikan dan minat orang-seorang. Kisah-kisah human interest bisa menyangkut tentang people dan things, orang-orang dan pikirannya. Pengisahan

tentang orang-seorang lebih diminati khalayak daripada kisah-kisah tentang pikiran orang. Terlebih kisah tentang orang-seorang itu lebih disukai yang bersifat

tidak biasa dibanding yang lazim terjadi. Akan tetapi, ketidak biasaan orang itu bukan hal yang utama. Pada hakikatnya bukan people atau orang-seorang yang diburu, tapi ketidakbiasaan peristiwa itu penting, segala sesuatu yang menyangkut

orang ialah sesuatu yang hidup titik berat terletak pada peristiwa-peristiwa hidup. Ketidakbiasaan peristiwa merupakan penarik cerita berikutnya. Kisah-kisah feature tidak muncul dari tempat yang bersifat formal. Cerita bersifat human

interest tidak terjadi di tempat yang sudah solid kejadiannya. Kisah human

interest tidak terdeteksi pola dan rincian kejadiannya. (Santana, 2005:35-37)

Dalam hubungannya dengan penggunaan media massa termasuk di dalamnya tabloid posmo, tentu saja tidak terlepas dari adanya kebutuhan serta dorongan yang timbul dan berkembang dalam diri individu sehingga seseorang

menggunakan tabloid posmo sebagai sumber informasinya. Dorongan inilah yang sering disebut motif, tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan

(32)

diversi (kebutuhan akan hiburan) dan kebutuhan identitas personal (kebutuhan untuk memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam kehidupan situasi

khalayak sendiri).

Adanya kebutuhan untuk membaca tabloid posmo, sebagai jawaban dari adanya motif membaca. Kebutuhan inilah yang mendorong individu untuk

bersikap dan bahkan berperilaku. Namun kebutuhan pada setiap individu tidaklah sama, kebutuhan yang tidak sama ini sesuai dengan keingintahuan individu

tersebut yang tumbuh sejalan dengan tingkat perkembangannya. Dengan adanya kebutuhan tersebut, maka peneliti akan tahu apa yang mendasari pembaca dalam membaca tabloid posmo, dimana motif merupakan dorongan, keinginan, hasrat,

dan tenaga penggerak yang berasal dari dalam diri individu dalam melakukan sesuatu.

2.1.7 Pembaca Tabloid Sebagai Khalayak Aktif Media Massa

Pembaca menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai orang

yang membaca. Pembaca majalah berarti orang yang membaca majalah. Pembaca

majalah dapat diklasifikasikan menurut segmen–segmen demografis, ataupun

secara geografis, psikografis, dan dari kebijakan editorial.

Salah satu prinsip teori Uses and Gratifications adalah bahwa khalayak

secara aktif memanfaatkan media. Artinya, anggota khalayak secara aktif

(33)

Little John (2002 : 577) lebih jelas mengungkapkan empat karakteristik khalayak

aktif, yaitu :

1. Selectivity : khalayak yang aktif melakukan pertimbangan

dan seleksi untuk menentukan media yang

digunakan.

2. Utilirianism : khalayak yang aktif menggunakan media untuk

memenuhi kebutuhan dan untuk mencapai

tujuannya.

3. Intentionality : menunjukan bahwa salah satu kegunaan media

adalah mememberi kepuasan.

4. Involvement or effort : khalayak mengikuti dan berpikir dengan aktif

dan aktif menggunakan media. Dengan kata lain

khalayak tidak begitu mudah dipengaruhi oleh

media.

Dengan kata lain untuk memenuhi sebagian kebutuhannya,

khalayak bebas untuk memilih dan menggunakan sejumlah media beserta

isinya atau sumber-sumber rujukan lainnya (non media) sepanjang itu

media dapat menunjang atau memperteguh (reinforcement) nilai, sikap,

dan pengalamannya terhadap suatu obyek tertentu. Berkaitan dengan jenis

medium dan isi yang dipilih, konsep khalayak aktif memiliki kaitan

dengan motif dan juga berarti bahwa khalayak mempunyai kecenderungan

(34)

2.2. Kerangka Berpikir

Tabloid merupakan salah satu media cetak. Media ini adalah suatu media

yang statis dan mengutamakan pesan-pesan visual, terdiri dari sejumlah kata,

gambar, atau foto dalam tata warna. Tabloid lebih menspesialisasikan produknya

untuk menjangkau konsumen tertentu, yang pada umumnya memuat iklan

berlingkup nasional dan dengan produk bermutu tinggi untuk mencapai sasaran

menengah ke atas (Kasali, 1992 : 109).

Pernyataan bahwa majalah adalah sebagai media massa yang mampu

memenuhi sejumlah kebutuhan khalayak yang berangkat dari asumsi teori

Uses and Gratification, dimana teori tersebut didasarkan pada setiap

individu yang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.

Kebutuhan-kebutuhan inilah yang memunculkan motif menggunakan media massa,

khususnya tabloid sehingga menimbulkan ketertarikan untuk membacanya.

Tabloid dapat memenuhi dari sejumlah kebutuhan yang dimiliki

khalayak melalui rubrik-rubrik yang disajikan. Menitik beratkan isi media

pada apa yang diinginkan khalayak, berarti mengasumsikan khalayak

menggunakan media (memilih isi) bukan merupakan kegiatan yang

kebetulan atau dipengaruhi faktor eksternal, melainkan suatu perilaku yang

didorong oleh motif-motif tertentu. Blumler dalam Rakhmat (1999 : 66)

(35)

1. Motif Kognitif (kebutuhan akan informasi) motif ini berkenaan

dengan individu untuk mencari berita atau informasi tentang

peristiwa atau kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat,

masyarakat dan dunia, dorongan mencari konfirmasi untuk

menentukan pendapat suatu pilihan. Dorongan rasa ingin tahu,

dorongan belajar, serta dorongan untuk memperoleh rasa aman

melalui pengetahuan yang didapat.

2. Motif Diversi (kebutuhan akan hiburan) motif ini berkenaan dengan

dorongan individu untuk melepaskan diri dari permasalahan atau

ketegangan, dorongan bersantai, memperoleh kenikmatan jiwa dan

penyaluran emosi.

3. Motif Identitas Personal (personal identity) motif ini berkenaan

dengan dorongan individu untuk memperkuat atau menonjolkan

sesuatu yang penting dalam kehidupan atau situasi khalayak sendiri

menemukan model perilaku diri dengan nilai-nilai, meningkatkan

harga diri, dan meningkatkan pemahaman diri.

Pengklasifikasian diatas dapat diartikan sebagai keinginan untuk

menambah pengetahuan baru, keinginan untuk mencari hiburan, dan keinginan

untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar.

Dalam hal ini peneliti berusaha melihat bagaimana motif pembaca tabloid

(36)

Gambar 2 : Kerangka Berpikir Penelitian Tentang Motif Pembaca Tabloid

(37)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan

menggunakan tipe penelitian deskriptif, yakni bermaksud memberikan gambaran

tentang : Bagaimana motif masyarakat Surabaya membaca tabloid Posmo ?

3.1. Definisi Operasional

3.1.1. Motif

Untuk memudahkan pengukuran, maka dalam penelitian ini

digunakan kategori motif menurut Blumler dalam Rakhmat (2001 : 66),

dimana motif tersebut meliputi :

1. Motif Kognitif

Kebutuhan individu dalam menggunakan media massa untuk

mendapatkan informasi yentang informasi terdekat. Pembaca dalam

membaca tabloid Posmo diasumsikan mempunyai tujuan mencari

hal-hal yang baru antara lain :

a. Mencari informasi yang dibutuhkan.

b. Mencari tambahan pengetahuan atau wawasan.

c. Mengetahui informasi terbaru.

d. Mencari bimbingan yang berkaitan dengan masalah kehidupan

(38)

2. Motif Diversi

Kebutuhan individu dalam menggunakan media massa untuk

mencari hiburan antara lain :

a. Mengisi waktu luang.

b. Bersantai.

c. Penyaluran emosi, dengan membaca hal-hal yang disukai

membuat perasaan lebih tenang

d. Melepaskan diri dari kejenuhan

3. Motif Identitas Personal

Kebutuhan individu dalam menggunakan media massa untuk

memperkuat/menonjolkan sesuatu yang penting dalam

kehidupan/situasi khalayak sendiri. Dalam hal ini berkaitan dengan

keinginan untuk mengikuti keadaan disekitarnya, antara lain :

a. Ikut-ikutan teman/orang lain yang membaca tabloid Posmo.

b. Dapat memberikan berbagai macam informasi yang diperoleh

kepada teman/orang lain.

c. Dapat menjadikan segala informasi yang diperoleh sebagai bahan

pembicaraan (masukan) dengan teman/orang lain.

d. Dapat mendiskusikan berbagai macam informasi yang diperoleh

(39)

Indikator untuk motif pembaca di Surabaya dapat ditunjukkan melalui

total skor dari seluruh jawaban responden atas pernyataan-pernyataan yang

diajukan dalam kuisioner, sehingga untuk mempermudah dapat diuraikan sebagai

berikut :

STS (Sangat Tidak Setuju) diberi skor 1

TS (Tidak Setuju) diberi skor 2

S (Setuju) diberi skor 3

SS (Sangat Setuju) diberi skor 4

Dalam penelitian ini tidak digunakan alternatif jawaban ragu-ragu

(undecided), alasannya menurut Hadi (1981 : 20) adalah sebagai berikut:

a. Kategori undecided memiliki arti ganda, bisa diartikan belum dapat

memberikan jawaban netral dan ragu-ragu. Kategori jawaban yang

memiliki arti ganda (multi interpretable) ini tidak diharapkan dalam

instrument.

b. Tersedianya jawaban di tengah menimbulkan kecenderungan

menjawab ke tengah (central tendency effect), terutama bagi mereka

yang ragu-ragu akan kecenderungan jawabannya.

c. Disediakan jawaban di tengah akan menghilangkan banyaknya data

penelitian sehingga mengurangi banyaknya informasi yang dapat

dijaring oleh responden.

Motif pembaca dalam membaca tabloid Posmo digolongkan tiga

(40)

jawaban masing-masing responden. Jumlah skor yang menjadi batasan skor untuk

lebar interval tingkat rendah, sedang, dan tinggi menggunakan rumus :

Skor jawaban tertinggi – skor jawaban terendah

Jenjang yang diinginkan

Berdasarkan rumus tersebut maka diperoleh lebar interval untuk

mengetahui motif pembaca dalam membaca tabloid Posmo, untuk lebih jelasnya

dapat digambarkan sebagai berrikut :

1. Pada motif Kognitif terdapat 4 pernyataan tentang responden yang

membaca tabloid Posmo akan mencari informasi yang dibutuhkan,

responden ingin tambahan pengetahuan, responden mengetahui

informasi terbaru, responden ingin mencari bimbingan yang

berkaitan dengan permasalahan yang membutuhkan penyelesaian,

maka :

(4 x 4) – (4 x 1) 16 - 4 12

Motif Kognitif = = = = 4

3 3 3

Batasan skor untuk mengetahui motif kognitif responden yang

membaca tabloid Posmo adalah rendah (tidak bagus), sedang

(netral), tinggi (bagus) :

Jumlah skor 4 – 8 dalam kategori penilaian rendah

(41)

Jumlah skor 13 – 16 dalam kategori penilaian tinggi

Responden yang mempunyai penilaian rendah mereka dianggap

tidak membutuhkan informasi tertentu dalam membaca tabloid

Posmo.

Responden yang mempunyai penilaian sedang dalam kategori ini

adalah mereka yang tidak terlalu membutuhkan informasi tabloid

Posmo.

Responden yang mempunyai penilaian tinggi dalam kategori ini

adalah responden yang sangat membutuhkan dan antusias terhadap

segala informasi yang ada didalam tabloid Posmo.

2. Pada motif Diversi terdapat 4 pernyataan tentang responden yang

membaca tabloid Posmo untuk mengisi waktu luang, responden

ingin bersantai, responden ingin menyalurkan emosi dengan

membaca hal-hal yang disukai dapat membuat perasaan lebih tenang,

responden ingin melepaskan diri dari kejenuhan dalam melakukan

aktivitas, maka :

(4 x 4) – (4 x 1) 16 – 4 12

Motif Diversi = = = = 4

3 3 3

(42)

Batasan skor untuk mengetahui motif diversi responden yang

membaca tabloid Posmo adalah rendah (tidak bagus), sedang

(netral), tinggi (bagus) :

Jumlah skor 4 – 8 dalam kategori penilaian rendah

Jumlah skor 9 – 12 dalam kategori penilaian sedang

Jumlah skor 13 – 16 dalam kategori penilaian tinggi

Responden yang mempunyai penilaian rendah mereka dianggap

tidak mempunyai motif diversi terhadap tabloid Posmo yaitu

membaca tabloid Posmo untuk mengisi waktu luang, bersantai,

menyalurkan emosi dengan membaca hal-hal yang disukai dapat

membuat perasaan lebih tenang, melepaskan diri dari kejenuhan

dalam melakukan aktivitas mencari informasi tertentu.

Responden yang mempunyai penilaian sedang dalam kategori ini

adalah mereka yang tidak terlalu mempunyai motif diversi terhadap

tabloid Posmo.

Responden yang mempunyai penilaian tinggi dalam kategori ini

adalah responden yang sangat membutuhkan dan antusias terhadap

tabloid Posmo yaitu membaca tabloid Posmo untuk mengisi waktu

luang, bersantai, menyalurkan emosi dengan membaca hal-hal yang

disukai dapat membuat perasaan lebih tenang, melepaskan diri dari

(43)

3. Pada motif Identitas Personal terdapat 4 pernyataan tentang

responden yang membaca tabloid Posmo karena ikut-ikutan

teman/orang lain, responden ingin menceritakan informasi yang

diperoleh kepada teman/orang lain, responden ingin menjadikan

informasi yang diperoleh sebagai bahan pembicaraan (masukan)

dengan teman/orang lain, responden ingin mendiskusikan informasi

yang diperoleh kepada teman/orang lain, maka :

(4 x 4) – (4 x 1) 16 – 4 12

Motif Identitas Personal = = = = 4

3 3 3

Batasan skor untuk mengetahui motif Identitas Personal responden

yang membaca tabloid Posmo adalah rendah (tidak bagus), sedang

(netral), tinggi (bagus) :

Jumlah skor 4 – 8 dalam kategori penilaian rendah

Jumlah skor 9 – 12 dalam kategori penilaian sedang

Jumlah skor 13 – 16 dalam kategori penilaian tinggi

Responden yang mempunyai penilaian rendah mereka dianggap

tidak membutuhkan Identitas Personal dalam membaca tabloid

(44)

Responden yang mempunyai penilaian sedang dalam kategori ini

adalah mereka yang tidak terlalu ingin menunjukkan identitas

personal mereka apabila membaca tabloid Posmo.

Responden yang mempunyai penilaian tinggi dalam kategori ini

adalah responden yang sangat membutuhkan dan antusias terhadap

segala informasi yang ada didalam tabloid Posmo. Motif mereka ini

dalam membaca tabloid Posmo karena ikut-ikutan teman/orang lain,

responden ingin menceritakan informasi yang diperoleh kepada

teman/orang lain, responden ingin menjadikan informasi yang

diperoleh sebagai bahan pembicaraan (masukan) dengan

teman/orang lain, responden ingin mendiskusikan informasi yang

diperoleh kepada teman/orang lain

3.2. Populasi, Sampel, dan Metode Penarikan Sampel

3.2.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Surabaya.

Berdasarkan data yang tercatat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, sampai

dengan Bulan Desember 2007. Jumlah penduduk Kota Surabaya yang terdaftar di

Kartu keluarga hingga Desember 2007 adalah 2.861.928 jiwa atau sebanyak

755.914 Kepala keluarga.

Komposisi penduduk Kota Surabaya pada Tahun 2007 berdasarkan jenis kelamin

(45)

penduduk perempuan. (http://www.surabaya.go.id/demografis.php). Selain karena

merupakan kota besar kedua di Indonesia dan terbesar di Jawa Timur, kota

Surabaya mempunyai penduduk heterogen yang mayoritas terbagi dalam tiga

kategori budaya daerah yaitu “Surabaya” (Suroboyoan), “Madura” (Maduraan),

dan “Mataraman” (Kulonan). Sehingga secara demografis masyarakat yang

tinggal di Surabaya dapat menjadi representasi dari beberapa daerah atau kota di

Jawa Timur. (www.wikipedia.org).

3.2.2. Sampel dan Teknik Penarikan Sampel

Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah masyarakat Surabaya

yang berumur 30-70 tahun. Akan tetapi karena mengingat populasi yang terlalu

besar yaitu 2.861.928 orang. Maka peneliti akan menetapkan sampel yang

dianggap mewakili populasi dengan jumlah yang lebih kecil. Jumlah sampel yang

dihitung dengan rumus Yamane (Rahmat, 2001 : 82) sebagai berikut :

N

n =

Nd² + 1

Keterangan :

N = Ukuran / besar populasi

n = Ukuran / besar sampel

(46)

Jadi

N

n =

N.(d)² + 1

2.861.928 n =

2.861.928 (0,1) + 1

n = 100

Teknik yang digunakan dalam penarikan sampel adalah teknik non

probability sampling yaitu purposive sampling. Orang yang menjadi sampel

dalam penelitian diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu berdasarkan tujuan

penelitian. Maka sampel yang akan diteliti adalah masyarakat Surabaya yang

membaca tabloid Posmo minimal tiga kali dan yang berumur 30-70 tahun. Usia

30 tahun sampai 70 tahun adalah usia dimulainya tahap kemasakan (maturity)

sampai pada tahap tua (senility) secara umum tahap ini ditandai dengan

kesibukan, kebahagian, dan produktivitas. Pada tahap usia pertengahan antara 50

tahun sampai 70 tahun ada perubahan penyesuaian dalam kepribadian sebagai

respon terhadap perubahan fisik, sosial dan psikologikal. Pada tahap usia akhir

melibatkan penyesuaian sejumlah kehilangan keluarga dan sahabat, pensiun

kehilangan status di masyarakat mengikuti perasaan kesendirian dan tidak aman.

(47)

motif masyarakat dalam membaca tabloid Posmo berkaitan dengan psikologi

kepribadian responden.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan sumber-sumber,

yaitu :

a. Data Primer

Diperoleh melalui daftar pertanyaan dan pernyataan berstruktur kepada

responden yang ada dalam kuisioner.

b. Data Sekunder

Diperoleh melalui bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan masalah

yang diteliti. Bahan-bahan pustaka yang digunakan bisa berupa

buku-buku, internet, atau informasi lain.

3.4. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini data yang diperoleh dari hasil kuisioner dimasukkan

ke dalam tabel frekuensi yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Pengolahan

data dari kuisioner terdiri dari : mengedit, mengkode dan memasukkan data

(48)

4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian

4.1.1 Tabloid Posmo

Tabloid posmo diterbitkan oleh PT. Ubede Media Ahiwarta Surabaya,

dengan Surat ijin (SIUPP) no; 1142/SK/Menpen/SIUPP/199 tanggal 31 Maret 1999. Tabloid posmo merupakan tabloid khusus yang membahas berbagai hal

mengenai klenik. Tabloid posmo didistribusikan di pulau jawa maupun di luar pulau jawa. Tabloid posmo mengupas berbagai hal, fenomena, peristiwa maupun kejadian di liat dari sudut pandang mistik maupun klenik. Tabloid

posmo berisikan kolom kontak batin, off print, majelis gaib posmo, wuku-wuku, laput, sufi, pakuwon, alternatif, lapsus, horoskop, bali, muhibah, serat, pasugihan, kejawen, pakeliran, meditasi, pasundan dan iklan.

Salah satu kolom yang menarik perhatian pembaca menurut informasi yang didapatkan melalui deep interview dengan redaksional di Tabloid Posmo

adalah kolom wuku-wuku. Contoh artikel wuku-wuku yang dimuat pada Periode: Minggu Wage-Sabtu Kliwon (16-22 Juli 2010) Dewa: Bathara Kuwera. Keris yang cocok: Pandhawa, Rarasindhuwa, Sempana Badhong,

Semar Mesem, Semar Getak, Semar Tinandu dan Brojol. Perwatakan: Ludiro kumukus angganda arum : berwibawa, tegas, jujur, waspada, dermawan pada

(49)

pemberani, optimis. Burung Gagak : senang menyepi, menyenangi hal-hal ghaib. Gedhong di depan; berwibawa, suka pamer dan pemboros. Siaga dengan

keris terhunus: waspada dan tajam nalurinya. KASO 23 Juni -2 Agustus Sorog Rotasi + 5 Mongso Kaso dipengaruhi Wuku Wuye Umum: Peluang emas kembali melayang, hambatan besar gencar menerjang. Gerak cepat kontrol

emosi, dasar sial menuai rugi. Perjalanan luar kota sangat menggoda, hati ditata harus ditunda.Keuangan : Sumber pendapatan harian tak menggembirakan.

Pemasukan tak terduga tanpa kejutan. Atur pengeluaran sesuai kemampuan.Remaja : Cerita lama masih tersisa, diluar duga selalu menggoda. Lembaran baru perlu dibuka, hilang satu mendapat dua. Hati-hati kala bicara,

lepas kendali buyar semua. Kesehatan : Rawan gangguan influenza, liver, reumatik dan pencernaan. Hindari es, air dingin, daging berlemak daun-daunan berwarna hijau. Atur istirahat, senam ringan jalan pagi. Permata :

Zamrud-Aquamarin-Mata Kucing-Kristal.Asmara : Yang berkeluarga gencatan senjata. Yang berpacaran damai tapi gersang. Yang baru naksir cemburu buta. Hari

buruk: Senin Kliwon. KARO 3 Agustus-25 Agustus; Sorog Rotasi + 5 Mongso Kaso dipengaruhi Wuku WuyeUmum : Peluang emas mendadak hilang, hambatan besar datang menerjang. Kontrol emosi penuh strategi, dasar

sial untung berlari. Perjalanan luar kota menggiurkan, usah tergoda lupakan semua.Keuangan : Sumber pendapatan harian merosot tajam. Pemasukan tak

(50)

kembali. Biar saja hati bicara, kala senja tiba saatnya.Kesehatan : Rawan gangguan pusing kepala, stress dan jantung. Hindari makanan berlemak, es,

strop, sirup, teh dan kopi pahit. Jaga kondisi atur istirahat senam ringan jalan pagi.Permata : Kristal-Biduri Bulan-Aquamarin-Topaz Kuning.Asmara : Yang berkeluarga waspadai pihak ketiga. Yang berpacaran rawan godaan. Yang baru

naksir dapat pandangan baru. Hari Buruk : Senin Kliwon. KATELU 26 Agustus-18 September Sorog Rotasi + 5 Mongso Kaso dipengaruhi Wuku

Wuye.Umum: Peluang emas datang bertadang, hambatan besar pergi menghilang. Tata emosi atur strategi, untung di tangan tinggal menanti. Perjalanan luar kota penuh harapan, tetap waspada hati-hati di jalan.Keuangan :

Sumber pendapatan harian menggebirakan. Pemasukan tak terduga penuh kejutan. Atur pengeluaran sesuai rencana. Remaja: Yang diimpi jadi, yang diharap dapat. Jauh mengantri, dekat merapat. Jaga emosi bahagia didapat, o

lalaaa hati bahagia. Kesehatan: Waspadai gangguan pernapasan, nyeri otot syaraf dan nyeri lambung. Tata pola makan, hindari: es, strop, sirup, makanan

berlemak dan daun daunan warna hijau. Atur istirahat jaga kondisi, senam ringan jalan pagiPermata : Giok-Aquamarin-Zamrud-Onix Hitam.Asmara : Yang berkeluarga kembali damai. Yang berpacaran kembali mesra. Hari buruk:

Senin Kliwon. KAPAT 19 September-13 Oktober Sorog Rotasi + 5 Mongso Kaso dipengaruhi Wuku Wuye.Umum : Peluang emas dikiri kanan, hambatan

(51)

waspada.Keuangan : Sumber pendapatan harian melonjak tajam. Pemasukan tak terduga penuh kejutan. Atur pengeluaran sesuai rencana. Remaja : Ada

dusta di balik cinta, hati merana dikhianati. Patah tumbuh hilang berganti, putus satu cari lagi. Sama yang baru, lebih nyaman. Kesehatan: Waspadai gangguan batuk, pernapasan dan nyeri otot syaraf. Tata pola makan, hindari :

es, strop, sirup, makanan berlemak daun-daunan berwarna hijau. Atur istirahat jaga kondisi, olah napas medhitasi.Permata : Berlian-Zamrud-Onix Hitam-

Mutiara. Asmara : Yang berkeluarga gencatan senjata. Yang berpacaran perang syaraf. Hari buruk : Senin Kliwon. KALIMO 14 Oktober – 9 November Sorog Rotasi + 5 Mongso Kaso dipengaruhi Wuku Wuye.Umum : Kesempatan emas

dalam jangkauan, hambatan besar tinggal kenangan. Bertindak cepat tanpa strategi, untung besar telah menanti. Perjalanan luar kota menjanjikan, bila dicoba bawa suasana baru.Keuangan : Sumber pendapatan harian melonjak

tajam. Pemasukan tak terduga penuh kejutan. Atur pengeluaran sesuai rencana.Remaja : Hati -hati kala bicara, lupa daratan lahir derita. Kata manis

penuh puja, hati terbelah cinta merana. Harga diri lebih berarti, undur diri mencari ganti.Kesehatan : Waspadai gangguan Ginjal, Stress dan jantung. Tata pola makan, hindari: daun-daunan, kopi pahit daging berlemak. Atur istirahat

(52)

Buruk : Senin Kliwon.

4.2 Penyajian Data dan Analisis Data

Sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya, sampel penelitian ini berjumlah 100 orang. Dengan alat ukur yang digunakan adalah dengan

menggunakan kuisioner dan disebar pada seluruh sampel penelitian sebagai responden. Setelah diisi dan ditabulasi, keadaan data yang diperoleh dianalisa

secara deskriptif berdasarkan tabel frekuensi.

4.2.1 Identitas responden

Identitas responden dari penelitian ini adalah identitas responden berdasarkan wilayah yang telah ditentukan dalam penelitian meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan responden

Tabel.1 Usia Responden

(n =100)

Kelompok Usia Responden F %

1 30-35 Tahun 17 17

2 36-40 Tahun 26 26

3 41-45 Tahun 25 25

4 46-50 Tahun 21 21

5 51-55 Tahun 9 9

6 56-70 Tahun 1 1

Total 100 100

(53)

Dari tabel usia responden yang diolah berdasarkan hasil survei

dilapangan menunjukkan bahwa kelompok usia responden 30 tahun sampai 35

tahun mempunyai prosentase sebesar 17 persen, kemudian kelompok usia 36

tahun sampai 40 tahun sebesar 26 persen, kelompok usia 41 tahun sampai 45

tahun sebesar 25 persen, kelompok usia 46 tahun sampai 50 tahun mempunyai

prosentase sebesar 21 persen, kelompok usia 51 tahun sampai 55 tahun

mempunyai prosentase sebesar 9 persen dan kelompok usia 56 tahun sampai 60

tahun hanya 1 persen. Mayoritas responden dari hasil penelitian ini adalah 26

persen dengan kelompok usia 36 tahun sampai 40 tahun.

Dari data peneliti menyebutkan bahwa komposisi kelompok

umur/struktur usia pada tahun 2007 penduduk Kota Surabaya

(www.surabaya.go.id) dapat dijelaskan bahwa proporsi terbanyak adalah pada

kelompok usia 36-45 Tahun (524.829 jiwa) dan 46-59 Tahun (464.205 jiwa).

Dari data inilah salah satu alasan peneliti memfokuskan batasan usia responden

dalam penelitian ini. Peneliti membatasi usia responden sebagai sampel dalam

penelitian dengan batas usia 30 tahun sampai 70 tahun, pembatasan ini dengan

dilihat dari segi psikologis bahwa seseorang pada umur tersebut memulai

tahapan kemasakan (maturity) sampai pada tahap tua (senility), secara umum

tahap ini ditandai dengan kesibukan, kebahagian dan produktivitas. Pada tahap

(54)

dalam kepribadian sebagai respon terhadap perubahan fisik, sosial dan

psikologikal. Pada tahap usia akhir melibatkan penyesuaian sejumlah

kehilangan keluarga dan sahabat, pensiun kehilangan status di masyarakat

mengikuti perasaan kesendirian dan tidak aman. Peneliti mengamati pada sisi

kehidupan budaya responden, pada umumnya responden ini masih sangat

kental dengan dengan budaya atau norma budaya yang dianut, responden yang

di tinggal Surabaya terdiri dari tiga klan, yaitu mataraman, suroboyoan dan

kulonan. Pada umumnya mereka sangat peka terhadap religi dan hal yang sifat

klenik.

Dari hasil penelitian ini pula dapat diketahui segmentasi pembaca

tabloid Posmo yang tertuju pada usia diantara 30 tahun sampai 70 tahun.

Pembaca usia ini yang masih percaya dengan adanya hal bersifat mistik, klenik

bahkan diantara sebagai penganut aliran budaya jawa. Mereka membutuhkan

media Posmo sebagai jembatan informasi yang memberikan nilai-nilai tambah

terhadap pemahaman budaya yang dipercaya.

Tabel.2

Jenis Kelamin Responden (n =100)

Jenis kelamin responden F %

1 Laki-laki 35 35

2 Perempuan 65 65

Total 100 100

(55)

Dari hasil tabel menunjukan bahwa mayoritas responden yang didapat

dalam survei di lapangan adalah berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 65

persen dan responden dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 35 persen.

prosentase yang sangat jauh ini diasumsikan bahwa ketika responden

mengobservasi lingkungan dan data dilapangan banyak ditemui kaum

perempuan, mereka mempunyai aktifitas yang sangat beragam seperti ibu

rumah tangga, pemilik warung, toko dan untuk kaum laki-laki ditemui

dilapangan dengan kondisi sebagai pensiunan dan beberapa diantaranya

berprofesi sebagai tukang becak, dilihat dari tingkat SES responden yang

ditemui ini mereka yang masih percaya terhadap budaya dan pandangan yang

bersifat klenik dan mistik rata-rata adalah masyarakat dengan tingkat

perekonomian yang dibawah rata-rata. Mereka ini mencari tambahan nilai-nilai

kehidupan dari membaca tabloid Posmo sebagai panduan kehidupan sehari-hari

mereka. Kaum perempuan yang paling banyak ditemui dan sebagai responden

ini mempunyai waktu luang yang cukup banyak untuk membaca media

ataupun menonton televisi.

(56)

Dari hasil tabel menunjukkan bahwa mayoritas pendidikan responden

adalah SMU dengan prosentase sebesar 59 persen. Selanjutnya dengan

prosentase sebesar 28 persen adalah berpendidikan sarjana maupun diploma,

13 persen responden dengan pendidikan terakhir adalah SMP. Banyaknya

responden dengan pendidikan akhir Sekolah Menengah Umum atau dahulu

disebut sebagai Sekolah Menengah Atas, disebabkan banyak hal salah satunya

adalah masalah perekonomian. Berkaitan dengan prosentase mayoritas usia

responden dan prosentase mayoritas perempuan, diasumsikan bahwa nilai

budaya lama yang kurang benar masih dianut, khusus untuk perempuan ‘tidak

perlu sekolah tinggi karena nantinya juga menjadi ibu rumah tangga nilai ini

lah yang kurang sesuai dengan kondisi perekonomian sekarang ini’. Mayoritas

para perempuan ini sekarang mencoba bertahan hidup dengan berwirausaha

seperti usaha warung maupun toko kelontong. Keterbatasan kemampuan

pendidikan terkadang juga menjadi hambatan bagi mereka untuk bertahan di

kondisi seperti sekarang ini.

Tabel. 4

Pernah membaca tabloid POSMO ( n =100 )

Dari hasil survei menunjukkan bahwa 100 persen responden

(57)

menunjukkan bahwa eksistensi dan citra dari tabloid Posmo sebagai tabloid

yang membahas supranatural, mistik, klenik masih bagus dan hal ini dapat

dibuktikan bahwa 100 persen responden menyatakan pernah membaca tabloid

Posmo. Dari hasil survei ini juga diasumsikan bahwa jaringan maupun jalur

distribusi tabloid Posmo sangat luas, masyarakat dari seluruh pelosok dapat

mengkonsumsi tabloid ini sebagai bagian dari kebutuhan media mereka. Selain

ini dari sisi lain mengapa responden mengkonsumsi tabloid ini karena dilihat

dari sisi bentuk percetakan yaitu berbentuk tabloid, ilustrasi halaman depan

atau cover yang menarik, tema atau judul setiap terbitan bersifat bombastis dan

selalu dikaitkan dengan fenomena yang sedang terjadi di kehidupan manusia,

cara penulisan yang bersifat feature juga menarik bagi pembaca usia 30 tahun

keatas dimana mereka membaca informasinya lugas dan tidak perlu

pemahaman yang rumit.

Tabel .5

Frekuensi membaca tabloid Posmo dalam satu bulan ( n =100 )

Sumber: Kuisioner B no 6

Dari hasil tabel menunjukkan bahwa mayoritas responden yang

membaca posmo dalam satu bulan dengan prosentase tertinggi yaitu 37 persen

(58)

adalah responden yang membaca 2 kali dalam satu bulan. Kemudian 30 persen

responden menyatakan membaca tabloid Posmo 3 kali dalam satu bulan, 26

persen responden menyatakan membaca 1 kali dalam satu bulan. Dan 7 persen

responden menyatakan membaca 4 kali dalam satu bulan. Dari keseluruhan

hasil tabel dapat diasumsikan bahwa frekuensi responden dalam membaca

tabloid Posmo dikategorikan tinggi, rata-rata responden membaca 1 kali

sampai 3 kali dalam satu bulan. Tinggi frekuensi ini berkaitan dengan

informasi yang disediakan oleh tabloid posmo sangat dibutuhkan, mereka para

responden ini merupakan responden perempuan dengan pendidikan yang tidak

terlalu tinggi namun mereka membutuhkan media untuk bagian dari

kehidupannya, terlepas dari isi tabloid yang merupakan manfaat bagi

responden atau tidak.

4.2.2 Motif responden membaca tabloid Posmo

4.2.2.1 Motif Kognitif

Tabel.6

( n =100 )

Sumber: Kuisoner C no. 7

Memperoleh informasi mengenai fenomena, peristiwa maupun kejadian di lihat dari sudut pandang mistik maupun klenik

(59)

Dari hasil tabel mengenai motif kognitif responden membaca tabloid

Posmo adalah untuk memperoleh informasi mengenai fenomena, peristiwa

maupun kejadian di lihat dari sudut pandangan mistik maupun klenik mayoritas

responden menyatakan setuju dengan jumlah prosentase sebesar 66 persen.

sebanyak 34 persen responden menyatakan sangat setuju bahwa mereka

dengan membaca tabloid Posmo mereka memperoleh informasi tersebut. Dari

hasil kognitif ini dapat diasumsikan bahwa mereka yang menjawab sangat

setuju adalah responden yang sangat antusias terhadap fenomena maupun

peristiwa mistik dan klenik. Mistik adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat

dirambah dan dipahami manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan

Yang Maha Kuasa. Dalam agama Islam ruang mistik untuk memahami

sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah tasawuf. Mistik lebih fleksibel jika

dibandingkan dengan agama, sebab mistik tidak mempersoalkan apa latar

belakang ajaran, agama, budaya orang yang ingin menghayati. Hal itu tidak

menimbulkan resiko terjadinya benturan nilai-nilai, karena dalam tradisi mistik

yang sesungguhnya, keberagaman akan dikupas, lalu mengambil sisi

maknawiahnya yang bersifat hakekat atau esensial. Klenik merupakan

pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan hukum sebab

akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak lain

bersumber dari Tuhan Yang Maha Suci dan di dalam agama manapun unsur

(60)

negatif. Walau bermakna sama, namun perbedaan bahasa dan istilah yang

digunakan, terkadang membuat masyarakat dengan mudah terjerumus ke

dalam pola pikir yang sempit. Masyarakat seperti yang direpresentasikan oleh

responden yang menjawab sangat setuju, beranggapan bahwa kehidupan

sehari-hari merupakan sebuah bagian dari fenomena mistik maupun klenik dan

selalu mengait-ngaitkan suatu masalah atau kejadian dengan hal-hal yang

berbau klenik dalam berbagai kisi kehidupannya. Seolah-olah jika tidak

mengkaitkan dengan klenik dan mistik, hidup mereka ada yang kurang. Bahkan

tidak jarang untuk melakukan sesuatu atau mengambil satu keputusan penting

pun, mereka menunggu wangsit atau mimpi terlebih dulu dan fenomena

semacam inilah yang paling banyak berada di sekitar kita.

Berbeda dengan mayoritas responden yang menyatakan setuju bahwa

mereka memperoleh informasi mengenai klenik dan mistik berawal dari

membaca tabloid posmo, mereka ini termasuk golongan yang menganggap

biasa perihal mistik maupun klenik namun mereka ini juga percaya mengenai

hal tersebut, hal ini dapat diasumsikan bahwa meski mereka menganggap hal

tersebut biasa namun mereka tetap saja menjadi bagian dari responden yang

menyatakan pernah membaca tabloid Posmo. Responden ini merupakan masuk

juga seperti kategori responden yang sebelumnya namun dalam kategori ini

(61)

Tabel.7

( n =100 )

Sumber: Kuisoner C no. 8

Dari hasil tabel diatas dapat diketahui bahwa mayoritas responden

menyatakan setuju sebesar 62 persen, dan yang menyatakan sangat setuju

sebesar 38 persen. Pernyataan responden ini semua mengarah kepada

pernyataan yang positif dimana dengan membaca tabloid Posmo mereka dapat

mengetahui siapa dan bagaimana fenomena atau peristiwa kejadian dilihat dari

sudut pandang mistik maupun klenik. Responden yang menyatakan sangat

setuju merupakan responden dalam kelompok antusias atau fanatik perihal

fenomena klenik, responden ini biasanya masuk dalam responden dengan usia

antar 40 tahun keatas, didasari dengan rendahnya tingkat pendidikan dan

mereka biasanya menganggap apa yang fenomena mistik dan klenik

merupakan acuan norma dan menjadi simbol tersendiri bagi kehidupan mereka.

Alam gaib, mistik dan klenik memang selalu menarik perhatian, lantaran ada

lorong-lorong misteri yang membuat orang penasaran. Sebuah dunia yang tidak

terang benar, tetapi mengusik keingintahuan. Tak terhitung berapa banyak Mengetahui siapa dan bagaimana fenomena atau peristiwa kejadian di lihat

dari sudut pandang mistik maupun klenik

Figur

Gambar .2  Kerangka Berpikir………………………………….....................

Gambar .2

Kerangka Berpikir…………………………………..................... p.7
Tabel Tabulasi ......................................................................

Tabel Tabulasi ..

.................................................................... p.10
Gambar 2 : Kerangka Berpikir Penelitian Tentang Motif Pembaca Tabloid

Gambar 2 :

Kerangka Berpikir Penelitian Tentang Motif Pembaca Tabloid p.36
Tabel. 3 Pendidikan Responden
Tabel. 3 Pendidikan Responden p.55
Tabel. 4 Pernah membaca tabloid POSMO
Tabel. 4 Pernah membaca tabloid POSMO p.56
Tabel .5 Frekuensi membaca tabloid Posmo dalam satu bulan

Tabel .5

Frekuensi membaca tabloid Posmo dalam satu bulan p.57

Referensi

Memperbarui...