• Tidak ada hasil yang ditemukan

KINERJA KARYAWAN UNIT PRODUKSI PT.KEN PUTRA PASURUAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KINERJA KARYAWAN UNIT PRODUKSI PT.KEN PUTRA PASURUAN."

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Jurusan Manajemen

Oleh:

Eko Ir ianto 0812010195 / FE /EM

FAKULTAS EKONOMI

(2)

PUTRA PASURUAN

Disusun Oleh :

Eko Ir ianto 0812010195/FE/EM

Telah dipertahankan dihadapan Dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur Pada tanggal : 31 MEI 2013

Pembimbing : Tim Penguji :

Pembimbing Utama Ketua

Dr s.Ec. Bowo Santoso.MM Dr . Pr asetyohadi,MM

Sekretaris

Dr a.Ec. Mei Retno A. Msi

Anggota

Dr s.Ec.Bowo Santoso.MM

Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi

(3)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan

berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang

berjudul “KINERJ A KARYAWAN UNIT PRODUKSI PT. KEN PUTRA

PASURUAN” dapat diselesaikan dengan baik.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi satu syarat

penyelesaian Program Studi Pendidikan Strata Satu, Fakultas Ekonomi, Jurusan

Manajemen, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya.

Dalam penyusunan skripsi, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan

selesai dengan baik tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis

menghaturkan rasa terima kasih yang mendalam kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Progdi Manajemen Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Bapak Drs.Ec.Bowo Satoso.MM, selaku Dosen Pembimbing Utama yang

(4)

5. Staff Dosen Fakultas Ekonomi (Manajemen) Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan ilmunya kepada

penulis.

6. Keluarga besar “H.SUTOMO” Abah Sutomo dan Umik Siti Chujaimah

tercinta Beserta nenek Selamah dan tak lupa kekasihku Estika Rahmadani

Putri Indriyatna yang tak henti-hentiya memberikan dukungan terus menerus

kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini baik secara langsung

maupun tidak langsung

7. Semua teman-teman Kosagrah Setiawan, BRS 68 (beni racing speed), WRM

(warior modified), SSC (Soerabaja Scoopy Community), Remas Nurul Jannah

yang selalu memberikan dukungan dan semangat.

8. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah

membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih banyak.

Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih

jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat

penulis harapkan. Akhir kata penulis berharap, semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi semua pihak.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(5)

DAFTAR TABEL ... vi

2.2.2.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian... 14

2.2.2.3 Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Keberhasilan Pelatihan ……… ... 17

2.2.3.2Prinsip-Prinsip Motivasi ... 25

(6)

2.2.4.2Jenis-Jenis Lingkungan Kerja ... 34

2.2.4.3Faktor-Faktor Terbentuknya Lingkungan Kerja .. 37

2.2.4.4Indikator Lingkungan Kerja ... 39

2.2.5 Kinerja Karyawan ... 39

2.2.6 Pengaruh Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan ... 46

2.2.7 Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan ... 47

2.2.8 Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan 48 2.3 Kerangka Konseptual ... 49

3.3 Metode dan Prosedur Pengumpulan Data ... 55

(7)

4.2 Analisis Karakteristik Responden ... 65

4.2.1 Deskripsi Variabel Pelatihan (X1) ... 67

4.2.2 Deskripsi Variabel motivasi (X2) ... 69

4.2.3 Deskripsi Variabel lingkungan kerja (X3) ... 71

4.2.4 Deskripsi Variabel kinerja (Y) ... 72

4.3 Analisis Data ... 73

4.3.1 Evaluasi Outlier ... 73

4.3.2 Intrepretasi Hasil PLS ... 75

4.3.2.1 Pengujian Model Pengukuran (Outer Model) ... 75

4.3.2.2 Analisis Model PLS ... 79

4.3.2.3 Evaluasi Pengujian Struktur Model (Inner Model) 80 4.4 Pembahasan ... 82

4.4.1 Pengaruh Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan ... 82

4.4.2 Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan ... 83

4.4.3 Pengaruh Lingkungan kerja Terhadap Kinerja Karyawan 84 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 86

5.1 Kesimpulan ... 86

5.2 Saran ... 86

(8)

Tabel 4.1 arakteristik responden berdasarkan jenis kelamin ... 67

Tabel 4.2 Karakteristik Responden berdasarkan Usia ... 67

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan ... 68

Tabel 4.4 Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Pelatihan ... 68

Tabel 4.5 Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Motivasi ... 70

Tabel 4.6 Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Lingkungan Kerja . 72 Tabel 4.7 Frekuensi Hasil Jawaban Responden Mengenai Kinerja ... 73

Tabel 4.8 Outlier Data ... 75

Tabel 4.9 Outer Loanding ... 77

Tabel 4.10 average variance axtracted(AVE) ... 78

Tabel 4.11 Reliabilitas Data ... 79

Tabel 4.12 R-Square ... 81

(9)

Gambar 3.1 Model Struktur pengukuran ... 60

(10)

Lampiran 3 : Hasil Uji Outlier, Tabel Frekuensi

Lampiran 4 : Hasil Outer Loading(Model Pengukuran dan Validitas), Inner Model

(11)

Oleh:

Eko Ir ianto

Abstr aksi

PT. KEN PUTRA yang merupakan perusahaan PMA Jepang bergerak di bidang Industri Pengolahan Ikan (Marine Product) yang berlokasi di Beji - Pasuruan Jawa Timur. Produk utama perusahaan kami pengolahan Sirip Ikan Hiu (Dry / Frozen Shark Fins), dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan permintaan sirip ikan hiu, yang dimana hasil produksinya sebagian besar di pasarkan ke pasar iternasional, oleh karena itu dibutuhkan karyawan yang mampu memberikan kontribusi yang terbaik. Berdasarkan observasi yang telah dilakukan sebelumnya ditemukan fenomena yang terjadi pada perusahaan. Rendahnya kesadaran karyawan dalam memenuhi tuntutan kerja yang diberikan serta ketidak mampuan atasan dalam memberikan pelatihan, motivasi dan sarana lingkungan kerja yang baik menunjukan dampak negatif pada perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari data hasil absensi yang dikumpulkan selama lima tahun terakhir 2007 – 2011 dimana setiap tahunnya jumlah absensinya meningkat. Adanya kekurangan-kekurangan tersebut mengindikasikan terjadinya penurunan kinerja karyawan pada perusahaan PT. KEN PUTRA Pasuruan dan tidak sesuai dengan harapan perusahaan untuk menjadikan pegawai yang kreatif, inovatif, berkualitas dan tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kinerja Karyawan Unit Produksi PT. KEN PUTRA Pasuruan.

Peneltian ini menggunakan data primer yang diperoleh dengan menyebarkan kueisioner kepada 205 responen dan layak olah 136 responden

dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling. Teknik analisis yang di

gunakan adalah Partial Least Square (PLS) untuk mengetahui kausalitas antar

variabel yang di analisi.

Berdasarkan hasil pengolahan data, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Faktor pelatihan berpengaruh positif terhadap faktor kinerja, dapat diterima atau signifikan (positif), faktor motivasi berpengaruh positif terhadap faktor kinerja, dapat diterima atau signifikan (positif). Dan faktor lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap faktor kinerja, dapat diterima atau signifikan (positif). Artinya, model konseptual yang dikembangkan dan dilandasi oleh teori tidak sepenuhnya didukung oleh fakta.

(12)

1.1 Latar Belakang

Sebagai negara produsen ikan dunia, posisi Indonesia berada diperingkat

empat, sementara China berada di urutan pertama. Mungkin di bandingkan dengan

China masih dalam batas wajar, namun jika dibandingkan dengan empat Negara

lainnya, maka agak kurang wajar. Pasalnya, bila tolak ukurnya adalah luas wilayah

laut, maka wilayah Indonesia jauh lebih luas. Terlebih Indonesia merupakan Negara

kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah kurang lebih 17.480 pulau (sekitar 6000

pulau di antaranya pulau berpenduduk), dan memiliki garis pantai terpanjang di dunia

sepanjang 95.191km yang merupakan 14% dari garis pantai yang ada di seluruh

dunia. Sedangkan luas laut Indonesia 5,8 juta km2, atau mendekati 70% dari luas

keseluruhan Negara Indonesia.

Dengan wilayah laut yang begitu luas, maka hal yang wajar jika Negara ini

memiliki kekayaan laut yang berlimpah. Data yang ada menyebut, laut Indonesia di

dalamnya memiliki lebih dari 350 fauna, 28.000 flora dan 110.000 mikroba. Selain

itu juga ada 600 spesies terumbu karang dan 40 genera, termasuk ikan udang,

moluska, kerang mutiara, kepiting, rumput laut, mangrove/hutan bakau,hewan karang

dan biodata laut lainnya. Khusus potensi ikan tangkap di laut, potensi yang dimiliki

(13)

dihasilkan baru mencapai angka 10,86 juta ton (2010), itu artinya potensi tersebut

belum tergarap secara maksimum.

Di sisi lain KKP (kementrian, kelautan dan perikanan) terus berupaya

menggejot produksi ikan nasional. Saat ini, produksi hasil perikanan yang di

targetkan KKP pada 2010 adalah sebesar 10.760.880 ton. Hasilnya hingga akhir

tahun 2010 sebesar 10,86 juta ton melebihi target yang telah ditetapkan. Pada tahun

berikutnya, tahun 2011 hingga tahun 2014, KKP bertekat untuk terus meningkatkan

angka produksi ikan nasional, yang diproyeksikan pada tahun 2014 angka

produksinya mencapai 22 juta ton. Pada tahun 2015 KKP bertekat untuk

meningkatkan target produksi ikan nasional sebesar 27 juta ton, dan Indonesia

menjadi penghasil ikan terbesar di dunia ( BISNIS INTERNASIONAL vol X

edisi75/15 Mei 2010 – 15 Juni 2011).

Selain dari pada itu dalam suatu perusahaan atau organisasi, sumber daya

manusia (SDM) memegang peranan yang sangat penting karena factor manusia (man)

menentukan kelangsungan hidup dari suatu perusahaan atau organisasi sehingga tidak

ada satupun perusahaan yang tidak melibatkan manuisia dalam merealisasi tujuannya.

Manajemen sumber daya manusia merupakan bagian dari manajemen keorganisasian

yang memfokuskan diri pada unsur sumber daya manusia. Manajemen sumber daya

manusia adalah mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja

yang puas akan pekerjaannya. Di dalam organisasi, manusia merupakan salah satu

(14)

berbagai factor yang dibutuhkan itu telah tersedia, organisasi tidak akan pernah

berjalan. Karena manusia merupakan penggerak dan penentu jalannya suatu

organisasi. Oleh karena itu hendaknya organisasi memberikan arahan yang positif

demi tercapainya tujuan organisasi.

PT. KEN PUTRA yang merupakan perusahaan PMA Jepang bergerak di

bidang Industri Pengolahan Ikan (Marine Product) yang berlokasi di Beji - Pasuruan

Jawa Timur. Produk utama perusahaan kami pengolahan Sirip Ikan Hiu (Dry /

Frozen Shark Fins) yang diolah menjadi bahan setengah jadi untuk diolah kembali

menjadi makanan, suplement tubuh, obat-obatan, dan lain-lain. Bahan baku sirip ikan

hiu dipasok oleh beberapa distributor rekanan di Indonesia, nelayan-nelayan, atau

didatangkan langsung dari induk perusahaan di Jepang sesuai dengan permintaan. PT.

KEN PUTRA dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik akan permintaan

para pelanggannya, yang dimana hasil produksinya sebagian besar di pasarkan ke

pasar internasional, oleh karena itu dibutuhkan karyawan yang mampu memberikan

kontribusi yang terbaik agar perusahaan ini tetap dipercaya oleh para pelanggannya.

Akan tetapi berdasarkan observasi pendahuluan yang telah dilakukan peneliti

sebelumnya ditemukan fenomena yang terjadi pada perusahaan adalah menurunya

kinerja perusahaan yang disebakan tidak maksimalnya kinerja dari para karyawan

dibagian produksi. Selain itu rendahnya kesadaran karyawan dalam memenuhi

tuntutan kerja yang diberikan serta ketidak mampuan atasan dalam memberikan

(15)

negative yang dapat menyababkan penurunan kinerja karyawan. Hal ini dapat dilihat

dari data hasil absensi yang dikumpulkan selama lima tahun terakhir

Tabel 1.1 Absensi karyawan PT. KEN PUTRA Th. 2007- 2011

TAHUN J UMLAH

Sumber Data : PT. KEN PUTRAPasur uan

Berdasarkan tabel 1.1 diatas diketahui bahwa selama satu tahun pada tahun

2007 jumlah absensi karyawan mencapai 199 karyawan dengan perincian SD (surat

dokter) sebanyak 101 karyawan, karena S (sakit) sebanyak 25 karyawan, karena M

(mangkir) sebanyak 30 karyawan, karena I (ijin) 27 karyawan dan yang C (cuti) 16

orang. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan pihak manajer PT. KEN PUTRA,

pihak manajemen menetapkan bahwa adanya peningkatan jumlah absensi karyawan

pada tahun 2010 mencapai 271 karyawan dan tahun 2011 mencapai 297 karyawan.

Dari data tersebut mengindikasikan bahwa tingkat kepuasan kerja karyawan yang

renda, serta bagaimana cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya,

(16)

tersebut nantinya akan berimbas pada kinerja karyawan, karena karyawan yang tidak

hadir pada jam kerja akan menghambat proses kerja organisasi dalam pencapaian

tujuan perusahaan dan karyawan tidak dapat menghasilkan kinerja yang maksimal

Selain itu didapat informasi dari pegawai bahwa adanya ketidak puasan yang terjadi

disebabkan oleh lingkungan kerja yang kurang kondusif.

Lingkungan kerja kurang kondusif yang dimaksud adalah adanya masalah

interent antara satu karyawan dengan karyawan lain dan kurang luasnya tempat

produksi, sehingga berdampak langsung pada komitmen karyawan yang menurun.

Hal ini tentu saja membawa dampak yang sangat tidak menguntungkan bagi

perusahaan, karena karyawan yang mempunyai komitmen yang rendah akan

menghasilkan prestasi kerja dan produktivitas yang rendah pula. Kondisi karyawan

seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena dengan komitmen yang rendah,

karyawan tidak bisa mencurahkan seluruh jiwa, perasaan dan waktu mereka untuk

kemajuan perusahaan yang pada akhirnya perusahaan tersebut akan kehilangan daya

saing. Simamora (2004), menyatakan bahwah perusahaan yang mempunyai

lingkungan kerja yang baik dan nyaman akan memberikan motivasi bagi

karyawannya untuk meningkatkan kinerjanya.

Dari fenomena di atas menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi oleh PT.

KEN PUTRA adalah bagaimana cara meningkatkan kinerja karyawan di bagian

produksi agar kinerja mereka meningkat dan target produksi terealisasi kembali.

(17)

karyawan, dikarenakan apabila di suatu lingkungan kerja terdapat kondisi yang

nyaman baik pada segi karyawan maupun kondisi dalam kantor atau perusahaan itu

sendiri secara tidak langsung akan menjadikan karyawan tersebut nyaman untuk

beraktivitas di perusahaan tersebut seperti dikemukakan oleh (Sariyathi, 2007: 66)

Lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang positif dalam membentuk kinerja dan

perilaku karyawan. Dari teori diatas mengindikasikan bahwa lingkungan kerja sangat

penting untuk perkembangan kinerja karyawan di suatu perusahaan.

Kinerja karyawan merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan oleh suatu

perusahaan, karena kinerja karyawan merupakan salah satu faktor yang

menyukseskan suatu program atau tugas yang di berikan oleh pimpinan perusahaan.

Menurut (Mangkunegara 2001:67) Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan

kuantitas yang dicapai oleh para karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai

dengan tanggung jawab yang diberikan padanya. Selain itu, perusahaan juga dapat

mengevaluasi kinerja karyawan melalui aktivitas karyawan tersebut dalam setiap

tahun yang melalui mekanisme daftar hadir dan data produksi setiap tahun sesuai

dengan teori yang dikemeukakan oleh Sedarmayanti (2007:88) kinerja merupakan

sistem yang digunakan untuk menilai dan mengetahui apakah seorang karyawan

melaksanakan pekerjaannya secara keseluruhan, atau merupakan perpaduan dari hasil

kerja (apa yang harus dicapai seseorang) dan kompetensi (bagaimana mencapainya).

Menurut Hasibuan (2005), berpendapat kinerja adalah suatu hasil kerja yang

(18)

didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Kinerja

karyawan yang baik dipengaruhi dengan Pelatihan menurut Williams (2001:64)

pelatihan memberikan pengalaman langsung kepada karyawan yang dapat

diimplementasikan dalam proses kerja sehari-hari, sehingga akan meningkatkan

kinerja karyawan tersebut. Vera Parlinda dan M. Wahyuddin (2004:41), menyatakan

bahwa pelatihan terhadap kinerja mempunyai pengaruh positif dalam peningkatan

kinerja karyawan. Milkovich dan Boudreau yang diterjemahkan oleh Suwatno dan

Priansa (2011:118) bahwa pelatihan adalah poses yang sistematis dari perubahan

perilaku, kesesuaian antara karakteristik karyawan dengan standar pekerjaan.

Milkovich dan Boudreau pun menjelaskan bahwa investasi dalam pelatihan tidak

kalah dengan investasi peralatan maupun modal. Pelatihan merupakan komponen

yang sangat penting untuk meningkatkan kinerja karyawan. Kemudian menurut

Rachmawati (2008:114) terdapat dua metode pelatihan yaitu On The Job Training

dan Off The Job Training.

Adapun Motivasi juga dapat meningkatkatkan kinerja karyawan menurut

Stanfor dalam Mangkunegara (2008:93) Motivasi adalah suatu kondisi yang

menggerakkan manusia ke arah tujuan tertentu dengan memperhatikan beberapa

kebutuhan pribadi yang sangatlah berpengaruh dan haruslah dipenuhi antara lain

kebutuhan berprestasi, kebutuhan berafiliasi, dan kebutuhan berkekuatan. Hasil

penelitian yang dilakukan Binawar Nur Tjahjono dan Tri Gunarsih (2008:40),

(19)

dalam peningkatan kinerja karyawan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh

Musafir (2009:2384) motivasi memiliki pengaruh yang positif dan signifikan

terhadap kinerja karyawan.

Peningkatan kinerja karyawan juga dapat di ukur dengan adanya lingkungan

kerja. Lingkungan kerja yang baik dan kondusif juga tidak dapat dipisahkan dalam

tujuan meningkatkan kinerja karyawan. Lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang

positif dalam memembentuk kinerja dan perilaku karyawan (Artoyo dalam

Sariyathi,2007: 66). Sedangkan penelitian yang dilakukan Vera Parlinda dan M.

Wahyuddin (2004:41), menyatakan bahwa lingkungan kerja terhadap kinerja

mempunyai pengaruh yang signifikan dalam peningkatan kinerja karyawan.

Menurunya kinerja karyawan bagian produksi perlu mendapatkan perhatian

khusus dari pihak perusahaan untuk mengetahui pengaruh pelatihan, motivasi dan

lingkungan kerja dalam meningkatkan kinerja karyawan bagian produksi.

Berdasarkan pernyataan diatas, maka saya sebagai peneliti tertarik melakukan

penelitian dan kajian mendalam dengan judul “Kiner ja Ka ryawan Unit Pr oduksi

PT. KEN PUTRA Pasur uan”

1.2 Per umusa n Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan sebelumnya maka

perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah ada pengaruh pelatihan terhadap kinerja karyawan pada PT. KEN

(20)

2. Apakah ada pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan pada PT. KEN

PUTRA Pasuruan ?

3. Apakah ada pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada PT.

KEN PUTRA Pasuruan?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis pengaruh pelatihan terhadap kinerja karyawan pada PT.

KEN PUTRA Pasuruan?

2. Untuk menganalisis pengaruh motivasi terhadap kinerja karyawan pada PT.

KEN PUTRA Pasuruan?

3. Untuk menganalisis pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada

PT. KEN PUTRA Pasuruan?

1.4. Manfaat Penelitihan

1. Bagi perusahaan

Hasil penelitihan ini dapat memberikan suatu masukan yang bermanfaat untuk

membantu perusahaan dalam mnganbil langkah-langkang dengan tujuan

meningkatkan kinerja karyawan yaitu dengan cara memberikan

pelatihan,motivasi dan lingkungan kerja yang baik bagi karyawan agar karyawan

(21)

2. Bagi peneliti

Penelitian ini merupakan suatu kesempatan untuk menerapkan teori yang

diperoleh dengan keadaan dilapangan serta dapat menjadi acuan bagi

penelitian-peelitian berikutnya.

3. Bagi Fakultas Ekonomi UPN Veteran Jatim

Hasil penelitihan ini diharapkan segai sumbangan karya ilmiah yang dapat

memperkaya koleksi perpustakaan serta mungkin dapat bermanfaat bagi

mahasiswa yang akan melakukan penelitihan pada bidang yang sama dimasa yang

(22)

BAB II

TINJ AUAN PUSTAKA

2.1. Hasil penelitian ter dahulu

Dari hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Adhitya Nur Pratama

(2011) dengan judul “Pengaruh Pelatihan Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan

Bagian Penjualan PT.ASTRAGRAPHIA TBK” Dari hasil penelitian secara simultan,

dapat diketahui bahwa pelatihan kerja dan motivasi secara bersama-sama

berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.

Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Septianto (2010) dengan judul “ Pengaruh

Lingkungan Kerja dan Stres Kerja Terhadap Kinerja karyawan Study Pada PT.

Pataya Raya Semarang” Dari hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Lingkungan

kerja berpengaruh positif terhadap knerja karyawan, dan Stres Kerja berpengaruh

negative terhadap kinerja karyawan.

Penelitian lain yang di lakukan oleh Binawan Nur Tjahjono dan Tri Gunarsih

(2008) dengan judul “Pengaruh Motivasi Kerja dan Budaya Organisasi terhadap

Kinerja Karyawan Pegawai di Lingkungana Dinas Bina Marga Propinsi Jawa Tengah”

Dari hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Variabel bebas motivasi kerja, dan

budaya organisasi secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap

Kinerja Pegawai.

(23)

Pelatihan Terhadap Kinerja Karyawan pada Unit Produksi Di PT. Maju Jaya Sarana

Grafika Semarang” Dari hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa motivasi kerja,

kepemimpinan, lingkungan kerja, pelatihan secara bersama-sama berpengaruh postif

terhadap kinerja karyawan.

2.2 Tinjauan Teor i

2.2.1 Manajemen Sumber Daya Manusia

Banyak istilah yang dipakai untuk menyebut Manajemen Sumber Daya

Manusia, beberapa ahli mendefinisikan Manajemen Sumber Daya Manusia, Handoko

(2000 : 4) dalam, bukunya yang berjudul “ Manajemen Personalia dan Sumber Daya

Manusia” mendifinisikan MSDM sebagai suatu proses penarikan seleksi,

pengembangan, pemeliharaan, dan pengunaan sumber daya manusia untuk mencapai

tujuan-tujuan individu maupun organisasi. Hasibuan (2001 : 4) Manajemen Sumber

Daya Manusia adalah ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan perana tenaga kerja

agar efektif dan efesien membantu terwujudnya tujuan perusahaan. Simamora

(2006:4) mendifinisikan Manajemen Sumber Daya Manusia adalah pendaya gunaan,

pengembangan, penilaian, pemberian jasa, dan pengelolaan individu anggota

organisasi atau kelompok karyawan.

Dari definisi- definisi yang telah disebutkan para ahli di atas, dapat diambil

suatu kesimpulan bahwan manajemen sumber daya manusia merupakan ilmu seni

dan proses dalam aktivitas-aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan

pengawasan terhadap pengadaan, pengembangan, pemberian balas jasa,

(24)

orgaisasi individu, dan tercapai kepuasan pada diri idividu. Manajemen Sumber

Daya Manusia juga menyangkut desain dan implementasi system perencanaan,

penyusunan karyawan, pengembangan karyawan, pengelolaan karir, evaluasi kinerja,

kompensasi karyawan, dan hubungan ketenagakerajan yang baik. Jadi tugas dari

Manajemen Sumber Daya Manusia seputar usaha untuk mengelolah manusia (tenaga

kerja) dengan segala potensi yang dimiliki se efektif mugkin, sehingga dapat

diperoleh sumber daya yang puas dan memuaskan organisasi. Lingkup Manajemen

Sumber Daya Manusia meliputi semua aktifitas yang berhubungan dengan Sumber

Daya Manusia dalam organisasi.

2.2.2. Pelatihan

2.2.2.1 Penger tian Pelatihan

Pelatihan menurut Nawawi (2003:125) dalam yamin (2005:233) adalah

program-program memperbaiki kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan secara

individu, kelompok, dan berdasarkan jenjang jabatan dalam organisasi perusahaan.

Sedangkan menurut Hamalik (2001:100), pelatihan adalah suatu proses yang meliputi

serangkaian tindakan atau upaya yang dilakukan dalam segala bentuk pemberian

bantuan kepada karyawan yang dilakukan tenaga professional kepelatihan dalm

satuan waktu yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuam kerja peserta dalam

bidang pekerjaan tertentu guna meningkatkan efektifitas dan produktivitas dalam

(25)

Sedangkan menurut Mutiara.s (Dalam buku Manajemen Sumber Daya

Manusia, 2002:41), pelatihan dapat didefinisikan sabagai suatu cara yang di gunakan

untuk memberikan atau meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan untuk

melaksanakan pekerjaan. Pelatihan sebagai bagian pendidikan yang menyangkut

proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan diluar system

pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relative singkat yang lebih

mengutamakan praktik dari pada teori. Sementara itu keterampilan meliputi

pengertian physical skill, intelektual skill, social skill, managerial skill dan

lain-lain(Rivai,2005:226)

2.2.2.2 Tujuan dan Manfaat Pelatihan

Flippo (2004) menjelaskan bahwa pelaksanaan pendidikan dan pelatihan

bukan hanya meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), tetapi

termasuk sikap kerja (attitude).

1. Peningkatan pengetahuan (knowledge imporovement) yakni segenap pemahaman

pegawai akan fakta-fakta, peraturan-peraturan, berbgai macam prosedur,

proses-proses dan sejenisnya.

2. Peningkatan ketrampilan (skill improvement) yaitu segenap penguasaan teknis

pegawai secara manual, mesin dan peralatan, hubungan interpersonal,

(26)

3. Perubahan sikap kerja (changing attitude) yakni segenap kualitas pegawai

terhadap pekerjaan, lingkungan kerja, orang-orang lain dan atau taraf kesediaan

pegawai untuk menampilkan prilaku kerja tertentu, dan keterampilan.

John H.Proktor dan Wiliam M Thorton dalam Moekijat(2001) setelah

mengikuti pendidikan dan pelatihan yang dapat dirasakan adalah.

1. Kepuasan pegawai bertambah.

2. Pemborosan dan kerusakan menjadi berkurang.

3. Ketidak hadiran dan perpindahan tenaga kerja menjadi berkurang.

4. Metode-metode dan sistem-sistem diperbaiki.

5. Tingkat produktivitas yang bertambah.

6. Beban pengawasan yang berkurang.

7. Biaya uang lembur yang berkurang.

8. Biaya pemeliharaan mesin yang berkurang.

9. Keluhan-keluhan yang berkurang.

10.Tingkat luka seseorang yang berkurang.

11. Komunikasi yang lebih baik.

12.Kecakapan (dalam berbagai pekerjaan) pegawai yang lebih besar,.

13.Moril pegawai.

(27)

Menurut Simamora (2004:278), pelatihan mempunyai andil besar dalam

menetukan efektifitas dan efesiensi perusahaan. Beberapa manfaat nyata dari program

pelatihan adalah :

1. Memperbaiki kinerja

Karyawan-karyawan yang bekerja secara tidak memuaskan karena kekurangan

keterampilan, merupakan calon utama pelatihan.

2. Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan kemajuan teknologi.

Melalui pelatihan. Perusahaan dapat memastikan bahwa karyawan dapat

mengaplikasikan teknologi baru secara efektif.

3. Mengurangi waktu pembelajaran bagi karyawan baru agar kompeten dalam

pekerjaan.

Seorang karyawan baru acapkali tidak menguasai keahlian dan kemampuan yang

dibutuhkan untuk menjadi ”job complement” yaitu mampu mencapai output dan

standart mutu yang diharapkan.

4. Membantu memecahkan masalah oprasional

Para manajer harus mencapai tujuan mereka dengan kelangkaan dan kelimpahan

sumber daya, baik sumber daya finansial dan sumber daya teknologis manusian

(28)

5. Mempersiapkan karyawan untuk promosi

Salah satu cara untuk menarik, menahan, dan memotivasi karyawan adalah

melalui program pengembangan karir yang sistematik. Pelatihan memberdayakan

karyawan untuk menguasai keahlian yang dibutuhkan untuk pekerjaan berikutnya

di jenjang atas dan mempermudah mentransisi pekerjaan karyawan saat ini (posisi

pekerjaan) yang melibatkan tanggung jawab yang lebih besar.

6. Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi

Selama beberapa hari bekerja karyawan baru membentuk kesan pertama mereka

terhadap organisasi dan tim manajemen. Kesan ini dapat meliputi kesan yang

menyenangkan sampai tidak menyenangkan dan dapat mempengarui kepuasan

kerja. Oleh karena itu penyelenggara orientasi melakukan upaya bersama dengan

tujuan dengan mengorientasikan para karyawan baru terhadap organisasi dan

pekerjaan secara benar.

7. Memenuhi kebutuhan pertumbuhan pribadi

Pelatihan dapat memainkan peran ganda dengan menyediakan aktivitas-aktivitas

yang menghasilkan efektivitas organisasional yang lebih besar dan meninggalkan

pertumbuhan pribadi bagi semua karyawan.

2.2.2.3 Faktor -Faktor yang ber pengar uh ter hadap Keber hasilan Pelatihan

Mangkunegara (2003:195), bahwa untuk mendukung suksesnya pelaksanaan

(29)

1. Tujuan dan sasaran pendidikan dan pelatihan harus jelas dan dapat diukur.

2. Para pelatih (trainers).

3. Materi pendidikan dan pelatihan harus disesuaikan dengan tujuan yang

hendak dicapai.

4. Metode pendidikan pelatihan.

5. Peserta pendidikan dan pelatihan (trainers) harus memenuhi persyaratan

yang ditentukan.

Moekijat (2001), menguraikan bahwa faktor yang dapat berpengaruh terhadap

penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan mencakup :

1. Orang-orang yang dilatih.

2. Instructor.

3. Periode (masa latihan).

4. Bahan latihan.

5. Penilaian program latihan

Hal yang senada juga di utarakan oleh Veitzal (2004) bahwa faktor yang

berperan dalam pelatihan adalah:

1. Pelatih.

2. Materi pelatihan

3. Waktu pelatihan

(30)

5. Evaluasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan

2.2.2.4 J enis Pelatihan

Jenis-jenis pelatihan yang dapat di selenggarakan di dalam perusahaan atau

organisasi menurut simamora, (2004:278) yaitu :

1. Pelatihan keahlian

Pelatihan keahlian merupakan pelatihan yang sering di jumpai di dalam

organisasi. Program pelatian ini relatif sederhana, kebutuhan dan kekurangan di

identifikasi melalui penilaian yang jeli.

2. Pelatihan ulang

Pelatian ulang adalah jenis pelatihan dengan menitik beratkan pada masalah yang

sudah dihadapi dalam suatu kondisi kerja, pelatihan ini bertujuan untuk berupaya

memberikan kepada karyawan keahlian-keahlian yang mereka butuhkan untuk

menghadapi tuntutan kerja yang berubah-ubah dan masalah yang sama.

3. Pelatihan lintas fungsional

Pelatihan lintas fungsional melibatkan karyawan untuk melakukan aktivitas kerja

dalam bidang lainnya selain dari pekerjaan yang ditugaskan.

4. Pelatihan tim

Tim adalah sekelompok individu yang bekerja sama demi tujuan bersama. Oleh

karana itu pelatihan tim tetaplah penting. Pelatihan tim hanyalah sebagian solusi,

sehingga interaksi inilah yang membuat pelatihan antara anggota tim harus

(31)

5. Pelatihan kreativitas

Pelatihan kreativitas berdasarkan pada asumsi bahwa krativitas dapat dipelajari.

Ada beberapa cara untuk mengajarkan kreativitas yang semuanya berusaha

membantu orang-orang dalam memecahkan masalah dengan kiat baru. Salah satu

rancangan yang lazim diterapkan adalah brainstorming dimana para partisipan

diberikan peluang untuk mengeluarkan gagasan sebebas mungkin. Setelah

gagasan dianggap cukup banyak para partisipan diminta memberikan penilaian

rasional dari biaya dan kelayakan.

2.2.2.5 Metode-Metode pelatihan

Menurut Hariandja (2002:184) pada prinsipnya ada dua metode pelatihan

yang dapat digunakan, yaitu metode on the job training dan metode off the job

training.

• Beberapa metode penelitian on the job training :

1. Job instruction training (latihan instruksi jabatan)

pelatihan dimana ditentukan seseorang (biasanya manajer atau supervisor)

bertindak sebagai pelatih untuk mnginstruksikan bagaimana melakukan

pekerjaan tertentu dalam proses kerja

2. Coaching

bentuk pelatihan diman biasanya dilakukan tempat kerja oleh atasan dengan

bimbingan petugas melakukan pekerjaan secara informal dan biasanya tidak

(32)

3. Job rotation

program yang direncanakan secara formal dengan cara menugaskan pegawai

pada beberapa pekerjaan yang berbeda dan dalam bagian yang berbeda

dengan organisasi untuk menambah pengetahuan mengenai pkerjaan dalam

organisasi.

4. Apprentisenceship/internship

Pelatihan yang mengkombinasikan antara pelajaran di kelas dengan praktek di

lapangan.

• Beberapa jenis metode pelatihan off the job training :

1. Lectur/kuliah

Presentasi atau ceramah yang diberikan oleh pelatih kepada sekelompok,

pendengar, biasanya kelompok yang cukup besar.

2. Video presentation

Presentasi atau pelajaran yang disajikan melalui film, televisi, atau video

tentang pengetahuan atau bagaimana melakukan suatu pekerjan.

3. Simulation

latihan yang diberikan disebuah tempat khusus dirancang menyerupai tempat

kerja, yang dilengkapi dengan berbagai peralatan seperti di tempat kerja.

4. Role playing

(33)

5. Case study

Studi khusus yang dilakukan dengan memberikan beberapa kasus tertentu,

kemudian peserta diminta memecahkan kasus tersebut melalui diskusi di

kolompok belajar.

6. Self-study

meminta peserta untuk belajar sendiri melalui rencana materi yang disusun

dengan baik, seperti melalui bahan bacaan, video, dan kaset.

7. Program learning

Bentuk lain self study, yaitu dengan menyiapkan seperangkat pertanyaan dan

jawabannya secara tertulis dalam buku, atau dalam sebuah program computer.

8. Laboratory training

Latihan untuk meningkatkan kemampuan hubungan antar pribadi, melalui

sharing pengalaman, perasaan, presepsi, dan perilaku di antara beberapa

peserta.

9. Action learning/belajar berteriak

proses belajar melalui kelompok kecil dalam memecahkan berbagai

persoalaan dalam pekerjaan, yang dibantu oleh seorang ahli, bisa dari dalam

(34)

2.2.2.6 Indika tor Pelatihan

Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja

pegawai pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya.

Variabel pelatihan diukur atas dasar (Faustino Cardoso Gomes, 2003:43).

1. Peningkatan kenampuan karyawan dalam mengembangkan minat dan bakat

2. Frekuensi pelatihan kerja

3. Ketepatan materi pelatihan dengan pekerjaan job yang ditekuni

4. Isi progam pelatihan yang sesuai dengan bidang

2.2.3 Motivasi

2.2.3.1 Penger tian Motivasi

Istilah motivasi, dalam kehidupan sehari-hari memiliki pengertian yang

beragam baik yang berhubungan dengan prilaku individu maupun prilaku organisasi.

Namun, apapun pengertiannya motivasi merupakan unsur penting dalam diri

manusia, yang berperan mewujudkan keberhasilan dalam usaha atau pekerjaan

manusia. Dasar utama pelaksanaan motivasi oleh seorang pimpinan adalah

pengetahuan dan perhatian terhadap perilaku manusia yang dipimpinnya sabagai

suatu faktor penentu kebebrhasilan organisasi.

Motivasi menurut Hasibuan (2001;219) adalah pemberian daya penggerak

yang menciptakan kegairahan kerja seorang, agar mau bekerja sama, bekerja efektif

dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Pengertian

(35)

dalam diri manusia yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah

lakunya.

Motivasi mempersoalkan bagaiman caranya mendorong gairah kerja

bawahannya, agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan

dan keterampilannya untuk mewujudkan tujuan perusahaan.

Menurut Malthis ( 2006:114), motivasi adalah keinginan dalam diri seseorang

yang menyebabkan orang tersebut bertindak. Biasanya orang bertindak karena suatu

alasan untuk mencapai tujuan. Memahami motivasi sangatlah penting karena kinerja,

reaksi terhadap kompensasi dan persoalan sumber daya manusia yang lain

dipengaruhi dan mempengaruhi motivasi. Pendekatan untuk memahami motivasi

berbeda - beda, karena teori yang berbeda mengembangkan pandangan dan model

mereka sendiri.

Pada dasarnya perusahaan bukan saja mengharapkan karyawan yang mampu,

cakap, dan terampil, akan tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan

berkeinginan untuk mencapai hasil kerja yang optimal. Kemampuan, kecakapan dan

keterampilan karyawan tidak ada artinya bagi perusahaan, jika mereka tidak mau

bekerja keras dengan mempergunakan kemampuan, kecakapan dan keterampilan

yang dimilikinya.

Motivasi penting karena dengan motivasi ini diharapkan setiap individu

(36)

ini hanya dapat diberikan kepada orang-orang yang mampu untuk mengerjakan

pekerjaan tersebut, bagi orang-orang yang tidak mampu mengerjakan pekerjaan

tersebut tidak perlu di motivasi karena hasilnya akan percuma.

2.2.3.2 Pr insip-Pr insip Motivasi

Prinsip-prinsip dalam motivasi kerja pegawai di golongkan menjadi empat

golongan, yaitu : (Mangkunegara, 2002:100).

1. Prinsip Partisipasi

Dalam upaya memotivasi kerja pegawai memberikan kesempatan ikut

berpatisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai pemimpin.

2. Prinsip Komunikasi

Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha

pencapaian tugas, dengan informasi yang jelas, pegawai lebih mudah memotivasi

kerjanya.

3. Prinsip Mengakui Adil Bawahan

Prinsip mengakui bahwa bawahan atau pegawai mempunyai adil dalam usaha

pencapain tujuan.

4. Prinsip Pendelegasian Wewenang

Pemimipin yang memberikan wewenang pada pegawai bawahan, akan

(37)

2.2.3.3 Teknik Motivasi Ker ja

Berdasarkan teknik memotivasi kerja karyawan, antara lain sebagai berikut

(Mangkunegara, 2002:100) :

1. Teknik Pemenuhan Kebutuhan Karyawan

Pemenuhan kebutuhan karyawan merupakan fundamen yang mendasari

perilaku kerja. Abraham Maslow mengemukakan hierarki kebutahan karywan

sebagai berikut :

a. Kebutuhan fisiologi

b. Kebutuhan rasa aman

c. Kebutuhan sosial atau rasa memiliki

d. Kebutuhan harga diri

e. Kebutuhan aktualisasi diri

2. Teknik Komunikas Persuasif

Teknik komunikas persuasif merupakan salah satu teknik memotivasi kerja

karyawan yang dilakukan dengan cara mempengaruhi karyawan secara

ekstralogis. Teknik ini dirumuskan “AIDDAS”.

A = Attention (Perhatian)

I = Interest (Minat)

D = Desire (Hasrat)

D = Decision (Keputusan)

(38)

S = Satisfaction (Kepuasan)

Penggunaannya, pertama kali pemimpin harus memberikan perhatian kepada

karyawan tentang pentingnya dari suatu pekerjaan agar timbul minat pegawai

terhadap pelaksanaan kerja, jika telah timbul minatnya maka hasratnya kuat untuk

menganbil keputusan dan melakukan tindakan kerja dalam mencapai tujuan yang

diharapkan oleh pemimpin. Dengan demikian pegawai akan bekerja dengan motivasi

tinggi dan merasa puas terhadap hasil kerjanya.

2.2.3.4Teor i Motivasi

Menurut Rois, Amirullah dan Fauziah (2003 :63) ada banyak teori motivai

yang berusaha menjelaskan tentang hubungan anratara dan hasilnya. Teori yang

menyangkut tentang motivasi dapat dikelompokokan dalam dua kategori yaitu.

a. Teori kepuasan menekankan pada faktor-faktor dalam diri seseorang yang

menguatkan,mengarahkan, mendukung dan menghentikan

b. Teori proses yang menguraikan dan menganalisa bagaimana perilaku itu

dikuatkan,

c. diarahkan, didukung dan dihentikan.

Diantara berbagai teori motivasi dikemukakan oleh para ahli, terdapat dua

nama besar yang paling menonjol dan mempengarui jalan pikiran para ahli yang

berhubungan dengan teori kepuasan meraka adalah David Mc Celland dan Federich

(39)

a. Teori Motivasi David Mc Celland

Hasil penelitian yang d lakukan oleh David Mc Celland menujukan bahwa

kebutuhan yang kuat untuk berprestasi, dorongan untuk berhasil untuk berhasil

berhubungan dengan sejauh mana orang tersebut dalam termotivasi dalam

mengerjakan tugasnya. Tiga kebutuhan yang dikemukakan oleh David Mc Celland

adalah kebutuhan (Need for achivemant,-nach), kebutuhan akan afiliasi (Need for

affiliation,-naff), dan kebutuhan akan kekuasaan (power,-nPow), orang dengan

kebutuhan yang tinggi cenderung suka bertanggung jawab untuk memecahkan

berbagai macam persoalan, mereka cenderung menetapkan sasaran yang cukup sulit

untuk mereka sendiri dan mengambil resiko yang sudah diperhitungkan untuk

mencapai sasaran tersebut.

David Mc Celland sebenarnya ingin mengingatkan, bahwa karyawan yang

memiliki kebutuhan prestasi yang tinggi cenderung termotivasi dengan situasi kerja

yang penuh tantangan dan persaingan, sebaiknya jika orang mempunyai kebutuhan

prestasi yang rendah cenderung berprestasi jelek dalam situasi kerja yang sama.

Kebutuhan terhadap kekuatan dalam pandangan David mc Celland

menyangkut tingkat kendali yang diinginka seseorang atas situasi yang dihadapinya.

Kebutuhan itu dapat di kaitkan dengan bagaimana orang menghadapi kegagalan dan

keberhasilan. Takut gagal dan erosi kekuatan seseorang dapat menjadi motivator kuat

(40)

dapat menjadi motivator baginya. Saran utama yang diberikan oleh berdasarkan hasil

penelitianya adalah para manajer pada tingkat tertentu harus dapat meningkatkan

kebutuhan berprestasi dari para karyawan dengan menciptakan lingkungan yang

nemadai.

b. Teori dua factor Herzberg

Yang d maksud dengan dua factor tentang motivasi yang dikemukakan oleh

Herzberg adalah factor yang membuat orang merasa puas (satisfiers) dan factor yang

membuat orang tidak puas (disaatifiers). Dalam panduan lain, dua factor yang

dimaksud dalam teori motivasi Herzberg adalah adanya dua rangkaian kondisi.

Kondisi pertama dimana orang merasa sehat dan factor yang memotivasi dan factor

eksterinsik dan interinsik, sesuai dengan bagaimana cara pandang orang yang

membahasnya.

Walaupun para ahli banyak yang mndukung model dua factor namun banyak

juga para ahli yang memberikan kritik terhadapnya. Semua kritik terhadap model itu

umumnya menyanggah gagasan tentang adanya dua factor terpisah yang

mempengarui motivasi. Meskipun Harzberg memperoleh banyak kritikan model itu

tetap bermanfaat karena model ini mencoba membedakan factor yang memotivasi.

Perkembangan yang penting dari gagasan dua factor Herzberg adalah pemerkayaan

(41)

c. Teori pengharapan Vroom.

Menurut Victor Vroom, dalam teori pengharapan menjelaskan bahwa

motivasi adalah sebuah proses untuk menentukan pilihan yang membuat seseorang

marasa sukarela atas pekerjaanya. (Liliweri,1997:329).

Teori pengharapan beragumen bahwa kekuatan dari kecendrungan untuk

bertindak dengan cara tertentu bergantung pada kekuatan pengharapan bahwa

tindakan itu akan di ikuti oleh output tertentu dan bergantung pada daya tarik output

itu bagi individu tersebut. Dalam istilah yang lebih praktis, teori pengharapan

mengatakan, karyawan dimotivasi untuk melakukan upaya yang lebih keras bila ia

meyakini upaya itu akan menghasilkan penilaian kinerja yang baik. Penilaian yang

baik akan mendorong imbalan organisasi seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi.

Dan imbalan itu akan memenuhi sasaran pribadi karyawan itu. Oleh karena itu, teori

tersebut berfokus pada tiga hubungan.

a. Hubungan upaya-kinerja

Probabilitas yang dipersepsikan oleh individu yang mengeuarkan sejumlah

upaya tertentu itu akan mendorong kinerja.

b. Hubungan kinerja-imbalan

Sampai sejauh mana individu itu meyakini bahwa berkinerja pada tingkat

(42)

c. Hubungan imbalan-sasran pribadi

Sampai sejauh mana imbalan-imbalan organisasi memenuhi sasaran atau

kebutuhan pribadi individu serta potensi daya tarik imbalan tersebut bagi

individu tersebut.

Teori pengharapan membantu menjelaskan mengapa banyak sekali pekerja

tidak termotivasi pada pekerjaannya dan semata-mata melakukan hal yang minimal

sekedar menjalankan kewajiban. (Robbins,2008:238)

Sebagian ringkasan, kunci untuk teori pengharapan adalah pemahaman sasarn

individu dan keterkaitan upaya dan kinerja, antara kinerja dan imbalan, dan akhirnya

antara imbalan dan dipuaskannya masing-masing sasaran. Sebagian model

kemungkinan, teori pengharapkan mengakui bahwa tidak ada asas yang universal

untuk menjalankan motivasi semua orang. Di samping itu, hanya karena kita tau

bahwa kebutuhan yang dicari oleh seseorang di penuhi tidaklah memastikan bahwa

individu itu sendiri mempersepsikan kinerja tinggi akan menghasilkan pemenuhan

kebutuhan-kebutuhan ini. (Robbins,2008:239)

d. Teori hanyut (Flow) dan motivasi interinsik

Pengalaman flow. Suatu unsur penting dari pengalaman Flow adalah bahwa

motivasinya itu tidak berkaitan dengan sasaran akhir. Kegiatan yang dilakukan

manusia ketika meraka mempercayai perasaan yang tidak dibatasi waktu itu berasal

(43)

demikian ketika seorang mengalami persaan hanyut (flow), dia benar-benar

termotivasi secara interinsik.

Apakah orang biasa nerasa bahagia bila merekan mengalami flow ? jawabban

yang mungkin mengerankan adalah tidak. Mereka terlalu tenggelam dalam

konsentrasi yang dalam. Tetapi tugas yang mengakibatkan flow itu selesai, dan orang

melihat kembali apa yang terjadi, maka dia dia dipenuhi rasa sukur karena

pengalaman itu. Selanjutnya, kepuasan yang diterima dari pengalaman itu disadari.

Dan keinginan untuk mengulangi pengalaman itulah yang menciptakan motivasi yang

berkelanjutan.

Apakah ada kondisi yang menghasilkan (flow) ?. ketika orang

menggambarkan pengalaman flow,meraka berbicara tentang karakteristik umum

tugas-tugas yang mereka lakukan. Tugas itu menantang dan menutut penggunaan

ditingkat ketrampilan yang tinggi. Tugas-tugas itu di arahkan berdasarkan sasaran

dan mempunyai umpan balik tentang tugas-tugas itu dijalankan. Namun perlu

diperhatikan lagi bahwa walaupun tugas itu diarahkan berdasarkan sasaran namun

yang bukanlah sasaran yang memberi motivasi, melakukan tugas itu sendiri.

Salah satu dari temuan-temuan riset paling mengejutkan yang terkait dengan

flow adalah bahwa flow itu tidak diasosiasikan dengan relaksasi. Memang,

pengalaman flow jarang dilaporkan orang ketika meraka melakukan kegiatan

relaksasi. kejutan lain adalah bahwa pengalamn itu lebih mungkin dialami pada saat

(44)

2.2.3.5 Indika tor Motivasi

Motivasi adalah keinginan untuk sebagai kesediaan untuk mengeluarkan

tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh

kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual. Di ukur dengan

mengunakan 6 (enam) indicator (Siagian 1995:30) dalam Tjahjono dan Gunarsih

(2008:2).

1. Tingkat kompensasi

2. Kondisi kerja

3. Perasaan diikutsertakan

4. Pemberian penghargaan

5. Tugas pekerjaan yang sifatnya menarik

6. Pendisiplinan kerja yang manusiawi.

2.2.4 Lingkungan Ker ja

2.2.4.1 Penger tian Lingkungan Ker ja

Beberapa ahli medifinisikan lingkungan kerja antara lain sebagai berikut.

Menurut Nitisemito (2000:183) ”lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang

ada disekitar para pekerja yang dapat mengetahui dirinya dalam menjalankan

tugas-tugas yang dikembangkan”. Menurut Supardi dalam Subroto, (2005) “lingkungan

kerja merupakan keadaan sekitar tempat kerja baik secara fisik maupun non fisik

yang dapat memberikan kesan yang menyenangkan, mengamankan, menemtramkan,

(45)

(2010 : 301), mendifinisikan “lingkungan kerja sebagai segala situasi, peristiwa,

manusia, dan lainya yang dapat memperngaruhi seseorang itu hidup atau bekerja, saat

kerja didefinisikan sebagai suatu pekerjaan dimana kau dibayar untuk melakukan

suatu kegiatan secara rutin untuk mendapatkan uang”.

Kohum (1992) dalam Taiwo (2010:301) mengatakan bahwa keseluruhan yang

terdiri dari totalitas dari kekuatan, tindakan, dan faktor-faktor lain yang berpengaruh

sekarang ini dan atau berpotensi pada kepuasan dengan kinerja dan aktivitas

karyawan.

Dari beberapa pendapat di atas, disimpilkan bahwa lingkungan kerja

merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat bekerja salah

satunya tercipta suatu lingkungan yang kondusif yang dapat menemtramkan dan

betah dalam bekerja.

2.2.4.2 J enis-jenis Lingkungan Ker ja

Ada dua tipe lingkungan kerja menurut Keyko (2005) dalam Taiwo

(2010:302), yaitu lingkungan kerja yang kondusif dan lingkungan kerja toxic (tidak

kondusif), lingkungan kerja yang kondusif memberikan pengalaman yang

menyenangkangkan kepada karyawan dan memungkikan mereka mengaktualiasikan

kemampuan dan perilaku mereka, sedangkan lingkungan kerja toxic memberikan

pengalaman yang buruk dan waktu yang sama, karyawan tidak dapat

(46)

Sedamaryati (2001:21) menyatakan bahwa secara garis besar, jenis

lingkungan kerja terbagi menjadi dua yakni : lingkungan kerja fisik, dan lingkungan

kerja non fisik.

• Lingkungan Kerja Fisik

Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang mendapat

disekitar tempat kerja yang dapat mempengarui karyawan baik secara langsung

maupun secara tidak langsung. Lingkungan kerja fisik dapat dibagi dalam dua

kategori, yakni:

1. Kinerja yang langsung berhubungan dengan karyawan seperti pusat kerja, kursi,

meja dan sebagainya

2. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja

yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya : penerangan/cahaya,

temperature/suhu udara, kelembapan, sirkulasi udara, kebisingan, getaran

mekanis, bau-bauan, tata warna, dekorasi, music, dan keamanan tempat kerja.

• Lingkungan Kerja Non Fisik

Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan

dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama

rekan kerja, ataupun, hubungan dengan bawahan.

Menurut Kzlowsky dan Doherty dalam Trianasari (2005) mengungkapakan

(47)

a. Struktur organisasi dan struktur kerja

Kejelasan struktur organiasi dan kejelasan hubungan staf antara karyawan satu

dengan karyawan yang lain, serta jabatan deskripsi jabatan masing-masing

karyawan.

b. Deskrpsi kerja

Kejelasan detail dan perincian pekerjaan yang harus dikerjakan sehingga

keryawan dapat saling bekerja sama dengan baik.

c. Tanggung jawab kerja

Kejelasan pemisahan pertanggung jawaban antara karyawan satu dengan

karyawan lain sehingga tidak terjadi pelemparan atau penghindaran tanggung

jawab atas pekerjaan yang tidak selesai.

d. Tekanan kerja

Bersama beban kerja yang diberikan kepada setiap karyawan haruslah

disesuaikan dengan kemampuan fisik atau akademik yang seimbang anatara

karyawan satu dengan yang lain.

e. Kebebasan mengambil keputusan

Kesempatan dalam mengambil keputusan dengan kebebasan bertanggung jawab

tanpa ada tekanandari pemimpin.

f. Peluang menciptakan kebersamaan

Kesempatan untuk berinteraksi antara karyawan didalam menciptakan kerja sama

(48)

g. Perhatian dan dukungan pimpinan

Pemimpin beperan sabagai sosok yang mendukung akan memberikan perhatian

terhadap karyawan dalam rangka kesuksesan kerja.

h. Kebersamaan

Interaksi antara karyawan satu dengan karyawan yang lainnya dimana karyawan

menganggap karyawan lain sebagai patner untuk mencapai tujuan kerja dan

sesuatu yang harus dikuasai.

i. Komunikasi

Interaksi antara karyawan satu dengan karyawa yang lain secara terbuka sehingga

tercipta keterbukaan dalam masalah kerja dan kondisi yang mendukung

kelancaran kerja.

2.2.4.3 Faktor -Faktor Ter bentuk nya Lingkungan Ker ja

Menurut sedarmayanti (2001:21) bahwa faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi terbentuknya lingkungan kerja adalah sebagai berikut.

1. Penerangan cahaya

2. Suhu udara

3. Suara bising

4. Keamanan kerja

5. Hubungan karyawan

Menurut Nitisemito (1999) menyatakan ada beberapa faktor lingkungan kerja

(49)

a. Kebersihan

Lingkungan yang bersih mempengaruhi semangat dan gairah kerja. Dengan

lingkungan yang bersih, selain menyehatkan juga menimbulkan rasa senang,

sehingga akan memicu karyawan dalam melaksanakan tugasnya.

b. Penerangan

Penerangan cukup, tetapi tidak menyilaukan. Penerangan disini tidak terbatas

pada penerangan listrik, tetapi juga termasuk penerangan matahari. Dalam

melaksanakan tugas sering kali karyawan membutuhkan penerangan yang

cukup. Apalagi bila pekerjaan yang dilakukan menuntut ketelitian.

c. Pertukaran Udara

Pertukaran udara yang cukup terutama dalam ruang kerja sangat diperlukan

apabila dalam ruang tersebut penuh karyawan. Pertukaran udara yang cukup

ini akan menyebabkan kesegaran fisik dari para karyawan. Sebaliknya

pertukaran udara yang kurang akan menimbulkan kelelahan pada karyawan.

d. Kebisingan

Kebisingan mengganggu konsentrasi. Dengan adanya kebisingan maka akan

mengganggu konsentrasi karyawan, sehingga akan menimbulkan kesalahan

atau kerusakan.

e. Pewarnaan

Pewarnaan harus dihubungkan dengan kejiwaan dan tujuan yang ingin dicapai.

(50)

Oleh karena itu ruang kerja hendaknya dipilih warna yang dingin/lembut

misalnya coklat muda, krem, abu-abu muda, hijau muda dsb.

f. Jaminan Keamanan

Jaminan terhadap keamanan menimbulkan ketenangan. Rasa aman akan

menimbulkan ketenangan dan akan mendorong semangat dan gairah kerja

karyawan. Yang dimaksud rasa aman ini adalah rasa aman menghadapi hari

tua. Oleh karena itu, perlu jaminan masa depan, salah satunya dengan pensiun.

2.2.4.4Indika tor Lingkungan Ker ja

Lingkungan kerja adalah keadaan di mana tempat kerja yang baik

meliputifisik dan nonfisik yang dapat memberikan kesan menyenangkan, aman,

tentram, perasaan betah/krasan. Variabel lingkungan kerja diukur atas dasar (Vera

Parlinda dan M. Wahyuddin, 2004:42).

1. Perlengkapan kerja yang menunjang sarana dan prasarana

2. Hubungan personal yang meliputi kerjasama antar pegawai

3. Pelayanan kepada karyawan atau penyediaan tempat ibadah, sarana kesehatan,

koperasi sampai pada kamar kecil

2.2.5 Kiner ja Karyawan

2.2.5.1 Penger tian Kiner ja Kar yawan

Kinerja adalah sebuah kata dalam bahasa Indonesia dari kata dasar “kerja”

yang menerjemahkan kata dari dari bahasa asing yaitu prestasi, bias pula berarti hasil

(51)

di artikan untuk mencaoai tujuan yang diharapkan. Menurut bebrapa ahli

menyebutkan sebagai berikut :

Kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh

para karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang

diberikan padanya (Mangkunegara 2001:67). Menurut Anwar Prabu Mangkunegara

(2000:67) dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,

mengemukakan pengertian kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas

yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan

tanggung jawab yang diberikanya.

Menurut Rivai (2005:14) kinerja merupakan hasil tingkat keberhasilan

seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksankan tugas

dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standart hasil kerja, target atau

sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama

Kinerja karyawan dalam organisasi merupakan jabawan dari berhasil atau

tidaknya tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Para atasan atau manajer sering

tidak memperhatikan kecuali sudah amat buruk atau segala sesuatu jadi serba salah.

Terlalu sering manajer tidak mengetahui beberapa buruknya kinerja karyawan telah

merosot sehingga perusahaan menghadapi kritis yang serius. Berdasarkan uraian

tersebut di atas mengungkapkan bahwa dengan hasil kerja yang dicapai oleh seorang

(52)

pegawainya, maka kinerja karywan harus dapat ditentukan dengan pencapaian target

selama periode waktu yang telah ditentukan perusahaan.

2.2.5.2 Faktor -faktor kiner ja

Ada banyak faktor yang mempengaruhi kinerja, salah satunya dari beberapa

pendapat dibawah ini, salah satunya sebagai berikut :

Tiga faktor yang mempengaruhi kinerja individual menurut Mathis dan Jackson

(2006:113) faktor-faktor tersebut adalah :

1. Kemampuan individual untuk malukan pekerjaan, termasuk di dalamnya adalah

bakat, minat, faktor kepribadian

2. Tingkat usaha yang curahkan, termasuk di dalamnya adalah motivasi, etika kerja,

kehadiran, rancangan tugas.

3. Dukungan organisasi, termasuk di dalamnya adalah pelatihan dan pngembangan,

peralatan dan teknologi, standart kinerja, manajemen dan rekan kerja.

Menurut Gibson (1997:68) ada tiga faktor yang bepengaruh terhadap kinerja.

1. Faktor individu : kemampuan, keterampilan, latar belakang keluarga,

pengalamankerja, tingkat social dan demografi seseorang

2. Faktor psikologis : persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan kepuasan

kerja.

3. Faktor organisasi : struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan system

(53)

Sedangkan menurut Dharma (2001:9-11) faktor-faktor kinerja melipututi :

1. Pegawai, berkenan dengan kemampuan dan kemauan dalam melaksanakan

pekerjaan.

2. Pekerjaan, menyangkut desain pekerjaan, uraian pekerjaan dan sumber daya

untuk melaksanakan pekerjaan.

3. Mekanisme kerja, mencakup system, prosedur pendelegasian dan pengendalian

serta struktur organisasi.

4. Lingkungan kerja, meliputi faktor-faktor lokasi dan kondisi kerja, ilkimorganisasi

dan komunikasi.

2.2.5.3 Pengukur an Kiner ja

Untuk dapat menilai kinerja karyawan secara obyektif dan akurat adalah

dengan mengukur tingkat kinerja karyawan. Pengukukuran kinerja dapat juga

berfungsi sebagai upaya pengukuran infomasi yang dapat digunakan mengarahkan

upaya karyawan melalui serangkaian prioritas tertentu, seperti komunikasi

selanjutnya ukuran-ukuran dari kinerja karyawan yang dikemukakan oleh Stoner dan

Freeman dalam Darma (2001:554) yaitu sebagai berikut :

a. Kuntitas kerja : jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode yang

ditentukan.

b. Kualitas kerja : kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian

(54)

c. Pengetahuan mengenai pekerjaan : luasnya pngetahuan mengenai pekerjaan dan

ketrampilan.

d. Kreativitas : keaslian gagasan-gagasan yang di munculkan dan tindak-tindakan

untuk mnyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul.

e. Kerja sama : kesedian untuk bekerja sama dengan orang lain atau sesama

organisasi.

f. Ketergantungan : kesadaran untuk dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan

pnyelesaian kerja.

g. Inisiatif : semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam

memperbesar tanggung jawabnya.

h. Kualitas pribadi : menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramah tamahan,

dan integritas pribadi.

Sedangkan kinerja karyawan menurut Mathis dan Jackson (2006:113) yang

umum untuk kebanyakan pekerjaan meliputi elemen sebagai berikut :

1. Kuantitas dari hasil : seberapa banyak atau sedikit hasil kerja yang dihasilkan

karyawan atas tanggung jawab yang diberikan dalam satu periode yang

ditentikan.

2. Kualitas dari hasil : sebarapa baik atau buruk hasil kerja yang dihasilkan

karyawan atas tanggung jawab yang diberikan perusahaan dalam satu periode

(55)

3. Ketepatan waktu dari hasil : seberapa cepat atau lambat hasil kerja yang

dihasilkan karyawan atas tanggung jawab yang diberikan dalam satu periode yang

ditentukan.

4. Kehadiran : tingkat absensi karyawan dalam melaksankan semua tanggung jawab

yang diberikan dan mengikuti semua program-program kerja yang telah

ditentukan.

5. Kemampuan bekerjasama : kemampuan seseorang tenaga kerja untuk bekerja

sama dengan orang lain menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang telah ditentukan

sehingga mencapai daya guna yang sebesar besarnya.

2.2.5.4 Indika tor Kiner ja

Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang dalam suatu

organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya dalam rangka mencapai

tujuan organisasi yang bersangkutan, secara legal, tidak melanggar aturan dan sesuai

dengan moral serta etika. Variabel kinerja diukur atas dasar

(Joko Purnomo, 2008:42)

1. Penggunaan waktu kerja

2. Kemampuan merealisasikan rencana kerja

3. Kemampuan menyelesaikan pekerjaan

(56)

2.2.5.5 Penilaian Kiner ja

Penilaian kinerja (performace appraisal) pada dasarnya merupakan faktor

pengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efesien, karena adanya kebijakan

atau program yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi.

Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbungan organisasi

secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisi

sebenarnya tentang bagaimana kinerja karyawan. Bagi seorang atasan, penilaian

kinerja bertujuan untuk mengukur kinerja karyawan sehingga bisa menjadi bahan

masukan untuk meningkatkan performa kerja karyawan yang bersangkutan pada

masa yang akan datang. Penilaian kinerja juga menjadi alat bantu bagi atasan dalam

mengambil keputusan yang terkait dengan promosi, penurunan pangkat, kompensasi,

ataupun pemecatan seorang karyawan, Gomes, Faustino Cardoso (2000) .

Menurut Wahyudi (2002:101) penilaian kinerja adalah suatu evaluasi yang

dilakukan secara periodik dan system sistematis tentang prestasi kerja atas jabatan

seorang tenaga kerja, termasuk potensi pengembangannya. Menurut Simamora

(20004:338) penilaian kinerja adalah proses yang dipakai oleh organisasi untuk

mengevaluasi pelaksanaan kerja individu jkaryawan.

Robbins (2001:185) dalam Nurmawilis (2008) menyatakan bahwa yang dapat

menyatakan penilaian adalah

(57)

2. rekan kerja.

3. evaluasi diri.

4. bawahan langsung dan pendekatan meyeluruh.

Sedangkan menurt Gary Dessler (2000:96) mengatakan bahwa yang dapat

melakukan penilaian adalah

1. atasan langsung.

2. penilaian rekan kerja.

3. penilaian oleh panitia.

4. penilaian diri sendiri.

5. penilaian oleh bawahan.

2.2.6 Pengar uh Pelatihan Ter hadap Kiner ja Kar yawan

Pelatihan adalah setiap usaha memperbaiki dan meningkatkan kinerja

karyawan pada suatu pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggung jawabnya.

Hasil penelitian yang dilakukan Vera Parlinda dan M. Wahyudin (2004:21),

menyatakan bahwa pelatihan terhadap kinerja mempunyai pengaruh positif dalam

peningkatan kinerja karyawan. Sedangkan menurut Gomes (2001:198),

mengemukakan bahwa pelatihan yang efektif dapat meningkatkan kinerja,

memperbaiki moral, dan meningkatkatkan suatu potensi perusahaan. Dalam

penelitianya Adhitya Nur Pratama(2011) pelatihan berpengaruh positif terhadap

kinerja karyawan. Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :

(58)

2.2.7 Pengar uh Motivasi Ter hadap Kiner ja Ka ryawan

Motivasi adalah konsep yang menjelaskan tentang kekuatan-kekuatan yang

ada didalam diri manusia yang memualai dan mengarahkan prilaku untuk memuaskan

kebutuhannya. Motivasi menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi

kinerja karyawan. Hal ini yang memotivasi semangat bekerja seseorang untuk

memenuhi kebutuhan dan kebutuhan material maupun non material yang

diperolehnya dari hasil pekerjaannya. Jika kebutuhan dan kepuasannya semakin

terpenuhi maka semangat kerjanya pun akan semakin baik pula. Hasil penelitian yang

dilakukan Binawar Nur Tjahjono dan Tri Gunarsih (2008:2), menyatakan bahwa

motivasi terhadap kinerja mempunyai pengaruh yang signifikan dalam peningkatan

kinerja karyawan. Motivasi yang di berikan oleh pimpinan atau perusahaan memiliki

peran yang penting guna mencapai tujuan suatu organisasi. Dorongan diri karyawan

perlu di tingkatkatkan secara optimal sehingga memacu pegawai untuk bekerja

dengan kemampuan tinggi dan dengan motivasi yang tinggi menjadikan karyawan

mampu meningkatkan kinerja dan apabila motivasi rendah, maka karyawan akan

bekerja seperlunya atau bekerja dibawah kemampuan seperlunya saja. Dalam

penelitianya Musafir (2009:2384) menyatakan bahwa motivasi memiliki pengaruh

yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Maka hipotesis dalam

penelitian ini adalah :

Gambar

Tabel 1.1 Absensi karyawan PT. KEN PUTRA Th. 2007- 2011
2.4Gambar 2.1  Hipotesis
Gambar 3.1
Tabel 4.1.karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian pada peningkatan kemampuan problem posing siswa didapat peningkatan kelas eksperimen berada di kategori rendah begitupun

“On this PC” refers to music files actually on your machine, while “in the cloud” lists songs you’ve bought from Microsoft’s online music store; they’re held for you in

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yang bertujuan untuk Untuk mengetahui strategi

Tujuan penelitian kolaboratif ini adalah (1) mendeskripsikan langkah- langkah penerapan model inkuiri terbimbing dengan media kertas lipat, (2) meningkatkan

dalam buku tanah yang bersangkutan sebagai pemegang hak atau pihak lain yang

Agama islam adalah wahyu dari Allah yang diturunkan pada rosul-Nya sebagai suatu sistem keyakinan dan tata aturan yang mengatur segala pri kehidupan dan kehidupan manusia

Untuk menjaga kredibilitas hasil penelitian ini dapat dilakukan validasi sebagai berikut: (1) trianggulasi, (2) member check, dan (3) pendapat para ahli. HASIL

Penyusunan strategi yang terletak pada step ketiga dalam proses managemen strategik, tidak terpisahkan dengan kegiatan step pertama dan kedua, yaitu pembentukan